Indonesia Night Run 2019, Beri Kesempatan Mantan Atlet Bernostalgia Kenang Masa Keemasan

Indonesia Night Run 2019 menghadirkan olahraga berkonsep pesta sehat. (Adt/NYSN)

Jakarta- Event lari Indonesia Night Run (INR) 2019 bakal dihelat di Q-Big, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten, pada Sabtu, 30 November mendatang. Kompetisi lari ini memberikan kesempatan pada mantan atlet untuk bernostalgia mengenang masa keemasan. “Terus terang, ini bukan lomba lari biasa,” ujar Gary Topher Sumanti, Project Coordinator Indonesia Night Run dari Bias Event, di Aloft Hotel, Jakarta, Rabu (3/7/2019). Disebutkannya, event ini akan menggabungkan kegiatan olahraga lari, zumba party, workout dengan beragam aktivitas yang bersifat menghibur seperti bazzar, penampilan DJ, bahkan terdapat pertunjukan LED-light. “Kami ingin menjadikan INR 2019 sebagai pesta akhir tahun bagi para pelari yang berpartisipasi,” lanjut Gary. Event yang memperebutkan hadiah total ratusan juta rupiah untuk lebih dari 100 pemenang itu menargetkan 5.000 peserta yang akan mengisi di tiga kategori jarak, yaitu dengan komposisi 2.500 pelari dikategori 5K dengan batas usia minimal 15 tahun, dan 1.750 pelari dikategori 10K dengan usia di atas 50 tahun, serta 750 pelari untuk jarak 21K (half marathon) dengan usia minimal 17 tahun. Menariknya, selain kategori pemenang berdasarkan umur, master, the best costume, CEO, dan over all, INR 2019 juga menyediakan satu kategori untuk para mantan atlet. Ini bisa menjadi kesempatan bagi mantan atlet untuk bernostalgia saat masa-masa keemasannya. “Bagi para mantan atlet yang belum meraih medali, mungkin karena harus bersaing dengan atlet muda, di sini lah kesempatannya. Karena mereka akan bersaing dengan pelari-pelari yang seusianya,” cetus Gary. Senada, Riena Tambunan, Penanggung Jawab Event, mengatakan untuk kategori mantan atlet diberikan mengingat mereka sudah sangat sulit untuk mencapai podium, sehingga pihaknya memberikan peluang untuk mengenang masa-masa mereka dulu saat menjadi atlet. “Ide untuk kategori mantan atlet ini saat saya bertemu dengan seorang mantan atlet ketika mengikuti sebuah kompetisi. Dan atlet ini kebingungan bagaimana caranya bisa ikutan event seperti ini. Mungkin sudah tua. Dia juga pesimis karena lawannya masih muda, jadi kalah cepat untuk sampai finish,” jelas Riena. Sementara itu, pemilihan Q-Big BSD City menjadi lokasi lomba, ungkap Riena, karena dianggap memiliki lingkungan yang nyaman, rute jalan yang baik, arus lalu-lintas kendaraan bermotor yang mudah dikendalikan, serta kawasan yang mampu menampung 5.000 peserta. “Kami berharap semua pelari yang berpartispasi dapat menikmati lomba lari yang aman dan nyaman, serta mendapatkan pengalaman berlomba yang mengesankan,” tukas Riena. Dan, untuk para peserta yang ingin mengikuti INR 2019, dapat mendaftarkan diri melalui website www.indonesianightrun.co.id. Biaya yang dipatok untuk setiap pendaftar bervariasi mulai dari Rp400 hingga Rp650 ribu. (Adt)

Second Chance Foundation, Ajak Masyarakat Sebar Virus Positif Bagi Warga Binaan LP Lewat Kompetisi Lari

Second Chance Foundation mengajak masyarakat menyebarkan semangat positif melalui Second Chance Charity Run 2019. (Adt/NYSN)

Jakarta- Second Chance Foundation (SCF), berkolaborasi dengan United Nations Office on Drugs and Crime dan Kedutaan Besar (Kedubes) dari Afrika Selatan (Afsel) di Indonesia, siap menggelar kompetisi lari dengan konsep Charity Run. Sebagai salah satu program untuk mengajak masyarakat menyebarkan semangat positif dan dukungan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang ada di Lembaga Permasyarakatan (Lapas). Event ini dihelat di Lot 16, SCBD (Sudirman Central Business District) Jakarta, pada 21 Juli 2019. Kesempatan kedua adalah hak setiap manusia. Hal itulah yang melatar belakangi Yayasan Second Chance, Yayasan nirlaba yang memiliki visi dan misi pemberdayaan WBP untuk menjadi mandiri, produktif, dan dapat diterima kembali oleh masyarakat sebagai warga yang bermartabat, untuk meningkatkan kualitas hidup para WBP dengan melakukan pelatihan dan pendampingan bagi WBP yang ada di Lapas seluruh Indonesia. Evy Syamsudin, Founder Second Chance Foundation, mengatakan pihaknya ingin mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama membantu proses rehabilitasi warga binaan di Lembaga Permasyarakatan dengan mengikuti Second Chance Charity Run 2019 ini. “Harapan kami masyarakat tahu bahwa di dalam Lembaga Permasyarakatan banyak hal-hal positif yang dilakukan sehingga stigma negatif yang ada di luar terhadap Lembaga Permasyarakatan bisa sirna,” ujar Evy, di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Selasa (2/7/2019). Dijelaskannya, Second Chance Foundation mengajak masyarakat untuk ikut serta menyebarkan semangat positif melalui event Second Chance Run 2019, yakni ajang lomba lari dengan konsep charity run atau berlari dan menggalang dana dengan dua kategori jarak tempuh, yaitu 5 km dan 10 km. Di event itu, ungkap Evy, terdapat penggalangan dana berupa donasi, dan nantinya donasi yang diterima akan diberikan untuk proses pelatihan bagi warga binaan di dalam Lembaga Permasyarakatan. “Kita sudah ke berbagai tempat di Lembaga Permasyarakatan dan di bebeberapa titik, tapi memang belum sampai seluruh Indonesia karena ada banyak sekali Lembaga Permasyarakatan,” lanjut Evy. Disisi lain, event Charity Run yang dihelat Second Chance Foundation ini merupakan bagian dari peringatan Mandala Day yang jatuh pada 21 Juli guna meningkatkan kesadaran tentang kondisi para WBP. “Dukungan terhadap Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners, yang dikenal juga sebagai sebagai ‘Nelson Mandela Rules’, untuk menghormati peninggalan mendiang Presiden Nelson Mandela yang menghabiskan 27 tahun hidupnya di dalam penjara dalam upayanya menegakkan hak asasi menuasi dan demokrasi,” terang Hilton Fisher, Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia dan Asia Tenggara. Sementara itu, Sandiaga Salahuddin Uno, menyatakan bawah waraga binaan memerlukan kesempatan kedua. “Insha Allah ini akan membawa efek bagus untuk mengubah warga binaan lebih cerah,” tukas Sandiaga Uno. (Adt)

Terpilih Jadi Ketua Umum Periode 2019-2023, Marciano Norman Jadikan KONI Profesional dan Modern

Marciano Norman terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023 secara aklamasi. (Adt/NYSN)

Jakarta- Marciano Norman terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum (Ketum) KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat periode 2019-2023 pada Musornas (Musyawarah Olahraga Nasional), di Ballroom Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (2/7/2019). Pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), 28 Oktober 1954 itu, ditetapkan sebaga Ketua Umum tanpa melalui proses pemilihan karena merupakan calon tunggal dalam pemilihan kali ini. Hal itu dikarenakan kandidat Calon Ketum Muddai Madang tidak memenuhi persyaratan administrasi. Ia tak lolos berdasarkan hasil verifikasi tim Penjaringan dan Penyaringan dalam Musornas. Dan, proses penetapan Marciano sebagai Ketum KONI dilakukan saat Muddai melakukan aksi walk out (WO). Pada Musornas yang diikuti 101 voters dari 34 KONI Provinsi dari 67 cabang olahraga itu sempat terjadi kericuhan. Sejumlah voters sempat mendekati meja pimpinan sidang, baik dari sisi kanan maupun kiri untuk memprotes kepemimpinan sidang sementara yang diisi Wakil Ketua KONI Pusat I Nugroho. Beberapa voters tak terima lantaran pengesahan tatib (tata tertib) tidak berdasarkan pada suara mayoritas anggota. Usai terpilih untuk menahkodai KONI Pusat, Marciano mengatakan siap mengemban amanat tersebut sebagai ladang ibadah baginya. “Terimakasih kepada para peserta Musornas yang mempercayakan saya untuk masa empat tahun kedepan. Bagi saya memimpin ini sebagai ladang ibadah, baik agama maupun bangsa. Tujuan saya menjadikan KONI berwibawa, mandiri, profesional dan modern,” ujar Marciano. Mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) itu menyadari tantangan KONI Pusat ke depan tidak ringan, namun ia meyakini dan optimis akan mampu keluar dari dari tekanan ini, jika semua stakeholder mau diajak bekerjasama. “Saya mengajak semua pemangku kepentingan di bidang olahraga, baik dari wartawan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, KOI, KONIDA, bahkan peserta Musornas ini yang karena dinamika tadi ada hal-hal yang kurang sependapat meninggalkan ruangaan ini. Saya selaku Ketua KONI Pusat yang baru, pintu saya selalu terbuka untuk kembali berkomunikasi dengan mereka,” lanjutnya. Ditambahkan mantan Pangdam Jaya itu, bahwa bicara olahraga adalah bicara Merah Putih, dan suksesnya olahraga karena kebersamaan dengan orang-orang yang berada di dalam organisasi olahraga itu. “Mari kita segera lupakan perbedaan-perbedaan itu dan kita satukan yang sama di antara kita. Mari kita bersatu kembali setelah Musornas ini. Hilangkan hal-hal yang dapat menganggu. Jangan korbankan atlet karena perbedaan pandangan pengurusnya,” tukas Marciano. (Adt)

Indonesia Bawa Pulang 20 Medali Dari SEA Age Group 2019 Kamboja

Kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 20 medali dari kejuaraan renang 43rd SEA Age Group Swimming Championship 2019 di Pnhom Penh, Kamboja

Kamboja-Kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 20 medali dari kejuaraan renang 43rd SEA Age Group Swimming Championship 2019 di Phnom Penh, Kamboja, 28-30 Juni 2019. Dari 20 medali, 10 merupakan medali emas yang disumbang Azzahra dan kawan-kawan. Total Indonesia membawa 10 emas, 3 perak dan 7 perunggu. Di hari terakhir, Minggu (30/06/2019), Indonesia menambah dua medali emas. Adelia menujukan bakatnya dengan meraih emas di nomor 200 meter gaya dada grup 2 (14-15 tahun) dengan catatan waktu 2 menit 38.18 detik. Ini merupakan emas ketiga Adelia, yang sebelumnya juga jadi juara di nomor 50 dan 100 meter gaya dada. “Senang banget, setiap hari dapat satu emas. Ini pencapaian luar biasa, karena mampu menyumbang emas pertama saya untuk Indonesia di SEA Age Group,” ucap Adelia dengan senyum lebar. Emas lainnya dipersembahkan Komang Adinda Nugraha nomor 50 meter gaya punggung grup 2 (14-15 tahun) 30.77 detik. Selain emas juga ada medali perunggu dari Cahya Erinjaya di nomor 200 meter gaya dada grup 2 (14-15 tahun) dengan waktu 2 menit 26.87 detik. Perunggu juga disumbang Rashief Amila Yaqin nomor 1500 meter gaya bebas putra grup 1 (16-18 tahun) 16:04,50 detik. Satu medali perak dipersembahkan Azzahra Permatahani di nomor 200 meter gaya dada putri grup-1 (16-18 tahun) 2:36.85 detik. Sebelumnya Azzahra sudah memperoleh empat medali emas, penyumbang medali terbanyak untuk Indonesia. Pelatih Kepala Tim Indonesia Hartadi Noertjojo menjelaskan hasil yang diraih timnya terbilang baik. “Secara keseluruhan peraihan prestasi adalah cukup baik, namun yang bisa menjadi garis besar adalah bahwa untuk pencapaian prestasi di level Age Group 3 (13 tahun kebawah) perenang kita masih sulit bersaing dengan negara-negara lain di kawasan Asean,” papar Hartadi. Lebih jauh, kata Hartadi, untuk grup 2 (14-15 tahun) hanya beberapa atlet yang memiliki prestasi cemerlang seperti Adelia dari Jawa Barat yang berhasil meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor Kelompok Umur Nasional atas nama dia sendiri yang belum genap berumur 1/2 tahun (tercipta di FAI 2019), Philomena Balinda (Jabar) emas di nomor 100 meter gaya punggung dan Cahya Erinjaya (Jawa Tengah) peraih medali perak serta Elysha Pribadi atlet DKI yang berlatih dan menuntut ilmu di Brisbane, Australia. Sedangkan dominasi penyumbang medali emas untuk tim Merah Putih justru di level 16-18 tahun yaitu Azzahra Permatahani yang sampai hari kedua sudah menumbangkan 4 medali emas di sela-sela persiapannya untuk mengikuti FINA World Junior Swimming Championships bulan Agustus depan di Budapest, juga perenang terbaik Indonesia di nomor 200 meter punggung Farrel Tangkas (Jabar) yang juga dipersiapkan bersama Azzahra ke Budapest. “Kesimpulannya bahwa PB PRSI harus lebih merapatkan barisan dengan Pengprov-pengprov serta Klub-klub renang di daerah untuk menggenjot pembinaan usia muda secara smart dan sistematis guna mengejar ketinggalan di prestasi usia muda mengingat mereka-lah yang kan menjadi generasi penerus di kemudian hari. Ancaman “lost generation” akan menjadi suatu kenyataan yang “mengerikan” jika kita bersama tidak segera melakukan action yang bisa menjadi way-out masalah ini. Basic piramid prestasi harus kita tingkatkan untuk meraih puncak piramida setinggi mungkin,” harapnya.

Logo dan Maskot ASEAN School Games 2019 Resmi Diluncurkan, Gambarkan Multi Etnis

Logo dan maskot ASEAN School Games 2019 resmi diluncurkan di Jakarta. (Adt/NYSN)

Jakarta- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan Lembaga Pengelola Dana dan Usaha Keolahragaan (LPDUK), resmi meluncurkan logo serta maskot ASEAN School Games (ASG) 2019, di Jakarta. ASG 2019 akan berlangsung di Semarang, Jateng, pada 17-25 Juli mendatang, dan diikuti para pelajar dari 10 negara di kawasan Asia Tenggara. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), memuji makna dari logo dan maskot ASEAN School Games 2019. Menurutnya, logo dan maskot yang menggambarkan Kota Semarang, yakni ‘Warak Ngendog’ ini adalah keterpaduan yang sangat luar biasa tentang kebersaman dari perbedaan yang ada. “ASEAN School Games ingin mengabarkan pada dunia, khususnya di ASEAN, kalau ingin belajar tentang memaknai penghormatan, tentang perbedaan, maka belajarlah ke Indonesia,” ujar Imam, Selasa (25/6). Sementara itu, Taj Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jateng, menyebut ‘Warak Ngendog’ melambangkan Semarang yang multi etnis dan terdiri atas masyarakat yang heterogen. “Kami dari dulu duduk bersama dan terbiasa hidup dalam Unity, Spirit and Respect (tema ASEAN School Games) untuk membangun peradaban,” ungkap Taj. Taj juga mengucapkan rasa terima kasih-nya karena Semarang, Jateng, dipercaya sebagai tuan rumah ASEAN School Games 2019. “Kami berterima kasih mendapatkan penghormatan karena ditunjuk untuk menjadi lokasi terselenggaranya ASEAN School Games 2019 yang ke-11. Kami sampaikan bahwa Semarang sudah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari dan siap menyambut ini bersama Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Jateng, Sinung N Rachmadi, agar bisa terlaksananya acara ASEAN School Games, dimana seluruh persyaratan kami sudah persiapkan, utamanya tempat-tempat atau lokasi-lokasi diselenggarakannya ASEAN School Games 2019,” lanjut Taj. Ditambahkan Taj, bahwa Spirit, Unity, dan Respect yang diangkat pada tema ASEAN School Games 2019 ini akan memberitahukan kepada dunia bahwa Indonesia, khususnya di Jawa Tengah, sangat menjunjung tinggi persatuan, “Kami juga menjunjung sportifitas yang sudah dilakukan oleh bangsa dan negara Republik Indonesia, sekaligus persahabatan”, tukas Taj. (Adt)

Universitas Brawijaya Tuan Rumah POMDA Jatim Cabang Karate dan Bulutangkis

Universitas Brawijaya tuan rumah POMDA Jatim cabang karate dan bulutangkis. (istimewa)

Malang- Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur (Jatim), menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) tingkat Jawa Timur (Jatim). POMDA menjadi ajang mencari atlet kontingen yang akan berlaga di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) mendatang. Tahun ini, UB menjadi tuan rumah untuk cabang olahraga Karate dan Bulu Tangkis yang mulai dihelat pada 24-30 Juni 2019. Dan, diikuti oleh 162 atlet dari 19 perguruan tinggi di Jatim. Untuk cabang karate berlangsung di Gedung Samanta Krida, sedangkan Gelanggang Olahraga (GOR) Pertamina-UB untuk cabang bulutangkis. Upacara pembukaan POMDA Jatim ini dilaksanakan pada Senin (24/6/2019) di Gedung Samanta Krida. Kepada para kontingen, Sekretaris Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI), Sulistyorini mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya dilakukan di Malang. “POMDA dan SELEKDA juga dilaksanakan di Surabaya, Jember, Kediri, Madiun dan Bangkalan dan terdiri dari 22 cabang olahraga”, ujar Sulistyorini dikutip situs resmi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur (Jatim), Selasa (25/6). Melalui ajang ini, ia berharap dapat menjaring atlet berprestasi untuk POMNAS. Sementara itu, Nuhfil Hanani, Rektor UB, berharap ajang ini dapat menguatkan persaudaraan dan persatuan antar kontingen. “Baik di Jawa Timur maupun di tingkat nasional, semoga POMDA juga bisa menciptakan persatuan dan persaudaraan. Junjung sportivitas dan kejujuran dan ciptakan prestasi Jawa Timur,” tukas Nuhfil. (Adt)

Resmi Terima Laporan APG 2018, Kemenpora Apresiasi INAPGOC

Kemenpora resmi menerima laporan APG 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) resmi menerima hasil laporan akhir dari Tim Penyelesaian Laporan Akhir untuk Indonesia 2018 Asian Para Games, pada Jumat (21/6). Penyerahan itu dilakukan Ketua INAPGOC 2018, Raja Sapta Oktohari kepada Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto. Gatot mengapresiasi INAPGOC yang membuat gelaran Asian Para Games (APG) berlangaung sukses. Selain itu, Indonesia sebagai tuan rumah juga sukses dibidang prestasi olahraga. “Kami mengucapkan terima kasih kepada tim INAPGOC, yang telah menyelesaikan masalah distribusi aset BMN kepada sejumlah pihak terkait. Ini tidak hanya terkait dengan tindak lanjut temuan BPK, tetapi juga menunjukkan pada publik bahwa tim eks INAPGOC mampu membersihkan aset properti Asian Para Games pada pihak yang memang sangat membutuhkan,” ujar Gatot. Dalam kesempatan itu, Okto menyerahkan buku games legacy dan buku official report Asian Para Games 2018 kepada Gatot. Buku tersebut merupakan bagian dari sejarah olahraga Indonesia. “Ini menjadi acara sangat penting. Penyelenggaraan Asian Para Games 2018 berjalan dengan baik. Semoga ke depan ada event olahraga internasional, yang mana Indonesia bisa menjadi tuan rumah. Terima kasih kepada INAPGOC yang sudah bekerja dengan keras. Kami mengapresiasi, semoga jangan kapok untuk membantu Indonesia mempersiapkan event internasional lainnya,” tegas Gatot. Sementara itu, Okto juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan APG 2018. Ia sangat bersyukur pesta olahraga tersebut berjalan dengan baik. “Sampai dititik ini, ada catatan dua hal. Pertama, ini adalah ujian berat. Dan kedua adalah pembuktian. Ujian berat dengan waktu yang terbatas dan pengetahuan yang terbatas dan itu harus menyelesaikannya dengan tanggung jawab yang besar,” tutur Okto. “Kita mendapat hasil yang luar biasa. Pembuktian, Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang baik. Kita siap menjadi tuan rumah pada Olimpiade dan Paralimpiade dimasa mendatang. Terima kasih kepada Bapak Menpora dan Bapak Sesmenpora,” terangnya. Menurutnya, seluruh capaian INAPGOC, utamanya sukses penyelenggaraan dan sukses legacy, dituangkan dalam buku laporan akhir Asian Para Games 2018 dan buku legacy Asian Para Games 2018. “Laporan akhir Asian Para Games 2018 disusun dalam bahasa Inggris sebagai tanggung jawab Indonesia pada Asian Paralympic Commitee. Sedangkan buku legacy Asian Para Games 2018, adalah persembahan untuk bangsa Indonesia, sebagai capaian sejarah baru kita semua dalam menjunjung nilai kemanusian dengan semangat olahraga,” tutup Okto. (Adt)

Siap Tarung, Muddai Madang: KONI dan Olahraga Indonesia Harus Mandiri

Muddai Madang ingin KONI lebih mandiri. (Adt/NYSN)

Jakarta- Muddai Madang secara resmi menyerahkan formulir pencalonan untuk maju dalam pemilihan Calon Ketua Umum (Caketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat pada Musyawarah olahraga nasional (Musornas) KONI Pusat, pada 2 Juli 2019. Muddai mengaku dirinya sudah memenuhi persyaratan minimal untuk maju menjadi calon Ketum KONI Pusat. Dijelaskannya, persyaratan minimal itu adalah bentuk dukungan dari 34 anggota KONI Pusat meliputi induk cabang olahraga (Cabor) serta KONI Provinsi yang telah dikantongi, dari persyaratan minimal yang ditetapkan yakni 10 anggota. “Jadi hari ini, Jumat (21/6) saya resmi mendaftarkan diri menjadi Calon Ketua Umum KONI Pusat, tepat jam 15.10 WIB. Saya datang mendaftar tentunya memenuhi persyaratan, dengan membawa dukungan dari 34 anggota KONI Pusat,” ungkap Muddai. Ia didampingi beberapa perwakilan tim suksesnya di Lantai 11 Gedung Pusat Pengelola Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Jumat (21/6). “Sebanyak 34 anggota KONI Pusat itu tediri dari induk cabor maupun KONI Provinsi. Karena bagi saya mereka itu statusnya sama, yakni sama-sama anggota KONI Pusat. Jadi tidak ada satu di antara dua itu yang punya kekhususan. Sehingga saya tidak membedakannya. Karena kedua-duanya itu sama, seusai Ad/Art,” tambah Muddai. Terkait visi-misi, Muddai menyebutkan ada beberapa yang sangat penting. Namun, yang terpenting baginya adalah menginginkan KONI dan olaharaga di Indonesia bisa lebih mandiri dengan menjadikan olahraga di Tanah Air industri. “Sebenarnya beberapa waktu lalu sudah saya sampaikan (visi-misi). Jadi visi-misi saya itu ada dua yang paling penting, yakni menguasahakan KONI dan olahraga Indonesia itu lebih mandiri dengan menjadikan olahraga di Tanah Air itu industri,” ungkap Muddai. Ia menerangkan visi-misi membentuk olahraga industri itu perlu beberapa tahapan. Namun, menurutnya, dirinya sudah mengantongi strategi untuk menjalankan hal tersebut, di antaranya menghasilkan olahraga prestasi. “Kalau kita bicara olahraga industri, kita perlu tahapan-tahapan, tapi intinya adalah kalau mau jadi industri ada beberapa kondisi yang harus kita penuhi. Pertama olahraga itu harus berkualitas, berkualitsas itu artinya berpretasi, yang kedua kemasannya harus menarik dan mengundang minat masyarakat, terakhir kita harus harmonis sesama pemangku lembaga olahraga dan pemerintah serta KONI itu harus profesional dan berintegritas,” tuturnya. Muddai menyatakan setelah penyerahan berkas, selanjutnya ia akan melakukan konsolidasi dengan tim, agar bisa meyakinkan para pemilik suara. “Tentunya adalah meyakinkan itu dengan visi-misi saya,” urainya. Lebih lanjut, Muddai berharap pada Musornas yang kemungkinan besar digelar di Jakarta itu mendapatkan kepercayaan dari para anggota KONI untuk bisa menjadi orang nomor satu di KONI. Selain itu, ia menghimbau agar demokrasi di KONI Pusat ini berjalan lancar dengan mengedepankan sportifitas. “Saya berharap pada Musornas nanti, bisa mendapatkan kepercayaan, sehingga bisa memimpin KONI Pusat. Saya juga mengimbau, untuk bersama-sama menghormati dan menghargai demokrasi. Kita harus berkompetisi secara sehat, agar menarik. Kita berkompetisi itu di arena bukan di luar arena. Kalah menang itu biasa, yang terpenting, kita itu bisa berkompetisi di arena,” ungkapnya. “Kita ini olahragawan, olahraga itu sportifitas, dan jiwanya harus petarung. kalau petarung ya harus bertarung. Itulah dasar dari olarahraga. Jadi kita harus membiasakan diri berkompetisi secara sehat, bukan dengan cara-cara yang lain, meskipun cara yang lain itu halal, tapi sebagai olahragawan, kita harus mendapatkan medali atau kemenangan itu dari arena bukan dari luar arena,” tukas Muddai. (Adt)

Kembar Ana dan Ani, Petenis Muda Andalan Merah Putih di ASEAN Schools Games 2019

Si kembar Ana dan Ani menjadi andalan Indonesia di ASG 2019, di Semarang, Jawa Tengah. (Kemenpora)

Nama lengkapnya Fitriana dan Fitriani, dua perempuan kembar yang biasa disapa Ana dan Ani ini menjadi salah satu atlet muda yang menjadi andalan Indonesia di cabang olahraga tenis. Salah satu ajang internasional yang akan dihadapi petenis remaja kelahiran Tangerang, Banten, 13 Februari 2001 itu, dalam waktu dekat yakni ASEAN Schools Games (ASG) 2019, di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), pada 17-29 Juli. Berawal dari melihat sang kakak si Ani bermain tenis, Ana pun mulai tertarik dan mengikuti jejak sang kakak pada usia 8 tahun. Di situlah si kembar ini mulai dilatih oleh sang ayah, Nursalim yang juga pelatih untuk mulai menggeluti dunia tenis tersebut. “Motivasi awal terjun ke dunia olahraga tenis ini karena awalnya aku memang suka tenis, terus dilatih oleh ayah. Kemudian melihat aku mainnya bagus, banyak dikenal orang, Ana jadi ikutan main. Dari awal memang kami dilatih oleh Ayah. Ayah itu sabar banget, ngerti kalau kita lagi capek, lagi kurang bagus mood-nya. Nggak pernah dipaksa, cuma disemangatin terus,” ujar Ani dikutip dari situs resmi Kemenpora, Selasa (18/6/2018). Semenjak itu, di bawah bimbingan sang Ayah mulai mengikuti sejumlah kejuaraan tenis pada nomor ganda putri. Pada usia 15 tahun, Ana dan Ani berkesempatan mendalami karir sebagai atlet junior profesional di bawah binaan PPLP (Pusat Pembinaan dan Pelatihan Pelajar) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Saat ini, si kembar Ana dan Ani sudah tercatat sebagai atlet junior lapis satu. Bakat yang dibina dan terus diasah sejak kecil akhirnya mulai menampakkan hasil yang gemilang. Pada usia 17 tahun Ana dan Ani menyumbangkan medali emas bagi Indonesia pada ajang multievent atlet pelajar ASG 2018, di Malaysia, pada nomor ganda putri. Sebelumnya, remaja kembar ini juga tercatat sebagai Finalist Double Women Circuit 15. Sampai sekarang remaja kembar tersebut mengaku masih dilatih dan terus dibimbing oleh Nursalim. Karena bagi Ana dan Ani apa yang mereka raih hari ini barulah awal dari sebuah perjuangan yang sebenarnya. Perjuangan yang lebih berat dan lebih panjang, sebab mereka memiliki cita-cita yang tinggi untuk mengharumkan nama Indonesia, khususnya melalui olahraga tenis lapangan. Sebagai salah satu langkah mewujudkan cita-cita tersebut, tahun ini Ana dan Ani dikabarkan akan kembali bertanding pada ajang ASG 2019 yang akan digelar pada Juli nanti di Semarang, Indonesia. “Kalau ASEAN School Games (ASG) mungkin persiapannya udah 90 persen ya, kebetulan 2 bulan besok (Juni sama Juli) kita juga ada tanding. Mungkin ASG itu penutupan,” tutur Ana. Hingga saat ini, keduanya konsisten untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. Ana dan Ani optimis dapat kembali menyumbangkan medali emas bagi Indonesia. Mereka mengaku bahwa sejauh ini persiapannya sudah matang, kendala-kendala selama latihan juga dapat teratasi dengan baik. Ana dan Ani menyatakan sudah siap diminta turun pada ASG 2019. Ke depannya, petenis kembar ini bercita-cita terus bermain bersama hingga go internasional. Keduanya juga berharap dapat bermain di salah satu kompetisi WTA (Women’s Tennis Association) serta menyumbangkan sebanyak mungkin medali emas untuk Indonesia.

Dukungan Pada Muddai Madang Sebagai Ketua Umum KONI Kian Menguat

Ketua KOI Erick Thohir memberikan dukungan pada Muddai Madang sebagai Ketua Umum KONI Pusat, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. (Adt/NYSN)

Jakarta- Mendekati pelaksanaan Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI Pusat pada 2 Juli 2019, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, dukungan untuk Muddai Madang sebagai Ketua Umum KONI Pusat makin menguat. Hal itu tampak dari para tokoh olahraga yang hadir pada acara “Silaturahmi Muddai Madang Bersama KONI Provinsi dan Cabang-cabang Olahraga”, di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (17/6) malam. Di antaranya Wakil Ketua I KONI Jawa Timur, La Nyalla Mattallitti, Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto, Mantan Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir. Selain itu, hadir para pengurus dari cabang-cabang olahraga. Yakni Plt Ketua Umum PSSI Gusti Randa, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Cricket Indonesia (PP PCI) Aziz Syamsuddin, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi), GM Utut Adianto, Ketua Pengurus Pusat Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PP PGSI) Trimedya Pandjaitan, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Sambo Indonesia (PP Persambi), Krisna Bayu, dan sejumlah pengurus KONI Provinsi dan berbagai pengurus cabor lainnya. “Mari kita bersama-sama menata olahraga Indonesia lebih baik lagi, tidak ada lagi masalah finansial yang membelit KONI Pusat, saya memiliki solusi. Salah satunya memaksimalkan peran sponsor, sebagai pihak ketiga” ujar Muddai. Sebab, menurutnya, ada beberapa kondisi yang mengharuskan untuk menghindari penggunaan uang negara (APBN). Misal, gaji karyawan. Mengingat, pegawai KONI tidak semua berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil). “Memanfaatkan pihak ketiga ini seperti yang dilakukan di KOI. Biaya operasional KOI itu sudah tidak lagi menggunakan APBN dan patut diterapkan KONI Pusat. Semua bisa dengan maksimalkan peran sponsor,” tuturnya. Dalam melibatkan sponsor, lanjut Muddai, olahraga Indonesia harus bisa dijual. Atmosfernya juga harus kondusif. Ibarat barang, chassingnya harus dibuat cantik. Jika sudah cantik dan menarik, pasti ada yang tertarik. Artinya, olahraga Indonesia harus berprestasi dan menghibur. Disebutkannya, bahwa pencalonan dirinya juga harus mendapat dukungan dari Pemerintah. “Saya maju ini bukan untuk berantem dengan pemerintah. Jadi KONI, KOI, dan Pemerintah harus jalan bersama-sama,” tegas Muddai. Sementara itu, Gatot S. Dewa Broto, mengatakan pemerintah tidak memiliki kewajiban untuk mendanai gaji pegawai KONI Pusat. “Jadi tidak dibenarkan pemerintah membayari gaji karyawan KONI Pusat, karena memang tidak ada aturannya. Untuk itu, kami selaku wakil pemerintah berharap, jika Pak Muddai Madang terpilih menjadi Ketua Umum KONI Pusat, harus bisa memenuhi kewajibannya dan memajukan olahraga Indonesia,” cetus Gatot. Sedangkan Erick Thohir mengaku bila dirinya sudah bersama-sama bekerja dalam memajukan olahraga di Tanah Air bersama Muddai Madang. “Saya berharap sinergi tetap dijalankan oleh Muddai Madang. Saya yakin bisa dilakukan, dan saya tahu kapasitas Muddai Madang dalam mengelola olahraga,” jelas Erick. Senada, GM Utut Adianto menyatakan PB Percasi memberikan dukungan kepada Muddai yang disebutnya sebagai pengusaha karena dinilai mampu membuat olahraga Indonesia maju. Ia yakin Muddai yang saat ini menjabat Wakil Ketua Umum KOI itu bakal mampu merangkul dana sponsor. “KONI Pusat sebaiknya dipimpin kalangan swasta atau pengusaha yang mampu menghimpun dana dari sponsor untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, Muddai memang orang yang pantas memimpin KONI,” tukas Utut. (Adt)

Gelaran SEA Games 2019 Makin Dekat, Pemerintah Belum Tetapkan CdM Kontingen Indonesia

Menpora Imam Nahrawi mengakui pihaknya belum menetapkan nama untuk menjadi CdM SEA Games 2019 Filipina. (Kemenpora)

Jakarta- Hajatan olahraga terbesar se-Asia Tenggara atau SEA Games 2019 bakal dihelat pada 30 November hingga 11 Desember ini di Filipina. Namun, hingga kini, Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) belum menentukan sosok yang akan menjadi Chief de Mission (CdM) atau Ketua Kontingen Indonesia pada pesta multievent dua tahunan tersebut. Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengakui pihaknya belum menetapkan satu nama yang akan dipilih menjadi CdM untuk SEA Games 2019 Filipina. “Untuk CdM belum. Nanti akan secepatnya ditunjuk,” ujar Imam usai menggelar Halal Bihalal bersama keluarga besar Kemenpora, di Auditorium Kemenpora Senayan, Jakarta, Selasa (11/6). Menurut Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, peran CdM sangat strategis sekaligus penting untuk mengkomunikasikan semua hal menyangkut kesiapan kontingen serta berbicara dengan panitia. “Peran CdM sangat penting, terutama kalau nantinya ada kesulitan di lapangan,” lanjutnya. Ditambahkan suami dari Shobibah Rohmah itu, bahwa penunjukan CdM Kontingen Indonesia harus merupakan sosok berpengalaman dalam memimpin cabang olahraga (Cabor). “CdM itu setidaknya pernah memimpin cabang olahraga, biar ada kedekatan emosional. Dengan pengalaman me-manage, sampai tahu tentang kebutuhan tim dan teknis di lapangan,” tukas jebolan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur itu. (Adt)

Maju Jadi Ketum KONI Pusat, Marciano Norman Perketat Standarisasi Pembinaan Atlet Usia Muda

Letjen TNI (Purn) Marciano Norman maju sebagai bakal calon Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023. (Adt/NYSN)

Jakarta- Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menyatakan kesiapannya sebagai bakal calon Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat periode 2019-2023. Ia menggantikan Mayjen TNI (Purn) Tono Suratman yang akan mengakhiri masa jabatannya pada Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI 2019 pada Juli nanti. Marciano mendeklarasikan dirinya di Hotel Borobudur, Jakarta, dalam acara silaturahmi dengan sejumlah Ketua Cabang Olahraga (Cabor), pada Senin (10/6) malam, karena mengaku telah mendapatkan surat dukungan separuh lebih dari pemilik suara, dimana total pemilik suara adalah 34 KONI Daerah dan 67 cabang olahraga (Cabor). Sedangkan syarat minimal menjadi bakal calon harus didukung oleh 10 KONI Daerah dan 21 dari cabor sudah diperoleh. Dan, tidak tertutup kemungkinan jumlahnya terus bertambah. “Saya tidak pernah punya keinginan lain. Jika Allah memberikan kesempatan, kesehatan, dan kekuatan, saya hanya ingin mencurahkan tenaga dan pikiran saya untuk membina prestasi olahraga Indonesia,” ujar Marciano. Lebih lanjut, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Taekwondo Indonesia (PBTI) itu, mengatakan butuh komunikasi yang intens antara KONI dengan Cabor demi kemajuan olahraga Indonesia ke depan. Terkait pembinaan, pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), 28 Oktober 1954 itu, akan memperketat standarisasi pembinaan atlet usia muda. Menurutnya, Indonesia selama ini punya prestasi luar biasa. “Bulutangkis, panahan, angkat besi selalu menyumbangkan medali di setiap event seperti SEA Games, Asian Games bahkan Olimpiade,” terang lulusan Akademi Militer (Akmil) 1978 itu. Program lainnya yang tak kalah penting, ungkap Marciano, adalah masalah sarana dan prasarana. Ia ingin menciptakan sarana yang memiliki standar internasional, baik di sekolah-sekolah maupun di kampus-kampus. “Jangan sampai kesalahan waktu di PON Kalimantan Timur (2008), terulang lagi. Dana besar dikeluarkan untuk sarana, tapi setelah PON selesai tidak dijaga dan digunakan dengan baik,” tegasnya. Ditambahkannya, di kampus-kampus seperti halnya Universitas Indonesia (UI) sarana olahraganya perlu ditingkatkan untuk kejuaraan internasional. “Bila perlu kita buat di Indonesia ini universitas khusus olahraga,” tutur mantan Panglima Daerah Militer (Pangdam) Jaya pada 2010-2011 itu. Marciano juga memastikan salah satu prioritas yang tak kalah penting yakni bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga, KONI, KOI (Komite Olimpiade Indonesia) dan Cabor untuk mengantarkan Indonesia sebagai salah satu negara olahraga yang selalu mengukir prestasi dunia. “Ini harus menjadi komitmen kita bersama dalam mewujudkan prestasi olahraga Indonesia di kancah dunia,” tukas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 2011-2015 itu. Dalam bursa pencalonan bakal calon Ketua Umum KONI Pusat, selain Marciano juga terdapat nama Muddai Maddang. Muddai yang menjabat Wakil Ketua Umum KOI ini juga telah mendeklarasikan dirinya beberapa waktu lalu di Jakarta. Adapula mantan Ketua Umum PB Forki (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia) Mayjen TNI (Purn) Hendardji Supandi. (Adt)

Turunkan Atlet Pelapis di SEA Games 2019 Filipina, PBTI Incar Empat Medali Emas

Sejumlah Pengurus Besar Persatuan Taekwondo Indonesia (PBTI) masa bakti 2019-2023 berfoto bersama usai dilantik oleh Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tono Suratman selaku Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) secara resmi melantik Letjen TNI (Purn) H.M Thamrin Marzuki sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Taekwondo Indonesia (PBTI) masa bakti 2019-2023. Acara pelantikan yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Selasa (28/5), dihadiri jajaran pengurus KONI Pusat, seluruh pengurus PBTI masa bakti 2019-2023 serta Ketua Pengprov (Pengurus Provinsi) TI seluruh Indonesia. Usai dilantik, Thamrin Marzuki bertekad meningkatkan capaian prestasi sebelumnya. “Banyak prestasi dunia yang telah ditorehkan oleh pengurus taekwondo Indonesia sebelumnya, oleh karena itu menjadi kewajiban saya untuk melanjutkan capaian prestasi tersebut. Dan yang terdekat adalah SEA Games di Manila (Filipina) tahun ini,” ujar Thamrin. Menurut Thamrin, pesta olahraga dua tahunan terbesar di kawasan Asia Tenggara pada tahun ini (30 November hingga 11 Desember 2019) akan dijadikan sebagai sasaran antara untuk menuju prestasi yang lebih tinggi dan bergengsi yakni Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. “SEA Games nanti kami akan jadikan sasaran antara, dan termasuk program jangka pendek untuk segera kami siapkan atlet. Namun, sesungguhnya kami ingin memastikan bisa berlaga di Olimpiade 2020. Ini program yang harus kami siapkan secara matang dengan melakukan pemusatan latihan,” lanjutnya. Ditegaskannya, pada SEA Games 2019, pihaknya akan menurunkan mayoritas atlet pelapis. Kendati menurunkan atlet pelapis, namun Thamrin menargetkan taekwondo bisa meraih empat medali emas. “Kami turunkan atlet pelapis untuk SEA Games 2019. Tujuannya, agar mereka ini nantinya bisa lebih siap dalam menghadapi Olimpiade mendatang. Kami targetkan di SEA Games bisa meraih empat medali emas,” ungkap Thamrin. Keinginan Thamrin agar atlet taekwondo bisa berprestasi di Olimpiade, bukan tanpa alasan. Sebab, beladiri asal Korea Selatan (Korsel) ini menjadi cabang olahraga (cabor) andalan Indonesia di berbagai event akbar. Terlebih, pada Asian Games 2018, taekwondo berhasil meraih satu medali emas melalui Defia Rosmaniar. Sekaligus medali emas pertama cabang taekwondo Indonesia sepanjang sejarah pelaksanaan Asian Games. Sedangkan pada SEA Games 2017 di Malaysia, cabor taekwondo menyumbang dua medali emas untuk kontingen Merah Putih. Medali emas diraih Mariska Halinda (53 kg putri), dan Ibrahim Zarman (63 kg putra). Sementara itu, Tono Suratman berharap di bawah kepemimpinan Thamrin Marzuki, cabor taekwondo bisa meningkat prestasinya. “Semoga taekwondo Indonesia bisa lebih baik. Kami juga optimistis, di bawah kepemimpinan Pak Thamrin Marzuki yang menggantikan Pak Marciano Norman akan melanjutkan prestasi cabor ini,” tukas Tono. (Adt)

Pemerintah Harap ASEAN School Games 2019 Jadi Spirit Atlet Pelajar Berprestasi

Menpora Imam Nahrawi ketika menerima laporan persiapan ASG 2019 dari jajaran Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora. (Kemenpora)

Jakarta- Pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi berharap para pelajar Indonesia yang ikut bertanding di ajang ASEAN School Games (ASG) 2019 bisa menjadi atlet yang berprestasi. Selain itu, Imam meminta para pelajar menunjukkan spirit dan respek dalam mengikuti kejuaraan pelajar Asia Tenggara tersebut. Hal itu ditegaskan Menpora ketika menerima laporan persiapan ASG 2019 dari jajaran pejabat Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (27/5). “Semoga ASG ini menjadi modal penting untuk persiapan prestasi atlet dimasa depan. Segala sesuatu harus disiapkan dengan matang. Saya tidak ingin ini sekadar rutinitas, tapi ada spirit pelajar Indonesia agar bisa menjadi atlet prestasi. Semangat ASG harus digaungkan merebut juara umum agar kita semakin bangga,” ujar Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu. Hadir dalam kesempatan tersebut Sesmenpora (Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahraga) Gatot S Dewa Broto, Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta, Staf Ahli Bidang Politik Yuni Poerwanti, Staf Ahli Bidang Ekonomi Kreatif Jonni Mardizal, Staf Ahli Bidang Hukum dan Olahraga Samsudin, Staf Khusus Pemuda Anggia Erma Rini, serta Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Kerjasama Zainul Munasichin. Sementara itu, Asisten Deputi (Asdep) Pembibitan dan Iptek Olahraga, Washington, dalam pemaparannya menyampaikan rangkaian ASG akan berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, pada 17-25 Juli 2019. Adapun acara pembukaannya bertempat di Holy Stadium. Sedang penutupannya akan diselenggarakan di Lapangan Lumbini, Candi Borobudur. “Kami sampaikan, adapun tag line-nya yaitu unity, spirit, dan respect. Penyelenggaraan ASG kali ke-11 di Semarang yang mengusung tema ‘Menuju Kesatuan melalui Olahraga’ ini menelurkan gagasan ‘Warak Ngendog’ yang merupakan sebuah simbol persatuan tiga etnis dan budaya di Kota Semarang,” cetus Washington. (Adt)

Tim Putri Junior Indonesia Juara Dunia Arung Jeram 2019 di Australia, Pemerintah Siapkan Bonus

Tim putri U-23 Indonesia berhasil menjadi Juara Dunia Arung Jeram 2019, di Tully River, Cairns, Queensland, Australia. (Kemenpora)

Jakarta- Tim putri U-23 Indonesia berhasil menjadi Juara Dunia dalam event IRF R6 World Rafting Championship (WRC) 2019, di Tully River, Cairns, Queensland, Australia. WRC 2019 diselenggarakan oleh International Rafting Federation (IRF) secara berselang seling tiap tahunnya untuk kategori R6 (enam pendayung) dan R4 (empat pendayung). Terdapat 500 atlet yang turun berkompetisi di sungai dengan tingkat kesulitan III sampai IV itu. Tim putri Indonesia baru saja masuk ke tingkatan U-23. Karena, pada kejuaraan dunia tahun lalu, mereka masih bertanding pada kelas U-19. Dan, srikandi Merah Putih yang berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang tersebut yakni Salawati Solihin, Andara Risma, Lista Natasya Peniawat, Nita Karlina, Siwi Widiastuti, Siti Nuranti, dan Dhika Aulia Q. Mereka berasal dari desa disekitar Sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat (Jabar). Keberhasilan menjadi juara dunia dipastikan setelah memperoleh skor 301 di lomba pengarungan sungai jarak panjang (down river race), pada 19 Mei lalu. Pada nomor ini tim memasuki garis finish di urutan ketiga, terpaut 1,61 detik setelah tim tuan rumah Australia. Sebelumnya, tim mendulang emas di nomor Head to Head (H2) atau pertarungan satu lawan satu dan di nomor Slalom. Total skor yang diraih tim wanita U-23 Indonesia yakni 943. Jumlah itu jauh mengungguli tim Selandia Baru yang meraih skor 907, dan tim tuan rumah Australia dengan skor 863. Sedangkan pada nomor H2H, srikandi Indonesia berjuang melawan tim Jepang di babak semifinal dan unggul 11,89 detik di depannya. Di partai pamungkas A tim Indonesia susul menyusul melewati 2 buoy dan akhirnya melaju meninggalkan tim Selandia Baru dengan 15,69 detik di belakangnya. Kemudian di nomor Slalom, tim putri U-23 Indonesia sukses mencapai waktu 4:55,74 detik unggul mutlak 52 detik di depan tim Inggris yang menempuh waktu 5:48,20 menit. Posisi ketiga diraih tim Jepang yang tertinggal 19 detik di belakangnya. Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, mengatakan pemerintah bangga dengan prestasi tujuh Srikandi muda Indonesia. Terlebih, ungkap Isnanta, arung jeram sebagai salah satu jenis olahraga ekstrem yang memanfaatkan alam (sungai) sebagai wahananya. “Kalian ini sudah bukan milik Sukabumi semata, tapi miliknya Indonesia. Jadi teruslah berlatih. Tolong jaga dan tingkatkan,” ujar Isnanta, pada Kamis (23/5) malam. Atas prestasi tersebut, jelas Isnanta, pemerintah akan menyerahkan bonus yang diberikan pada puncak perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2019. “Semoga bonus ini dapat menambah semangat anak-anak Indonesia untuk terus berolahraga dan berprestasi melalui jalur olahraga,” tutur Isnanta. Sementara itu, Amalia Yunita, Ketua Umum Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) sekaligus Official Judge, mengapresiasi serta bangga atas perjuangan Salawati Solihin dan kawan-kawan dalam meraih prestasi tinggi di Negeri Kanguru tersebut. Meski masih muda, namun diakui Amalia, anak didiknya tersebut memiliki mental baja. Begitu juga dengan segala perbedaan cuaca di lokasi lomba serta perbedaan postur tubuh. “Alhamdulillah kami semua sudah berjuang dan inilah hasilnya. Tapi kami tidak boleh berhenti sampai disini. Ke depan, kami masih harus terus berlatih untuk prestasi lebih baik lagi,” tukas Amalia. (Adt)

Kunjungi Sekolah Khusus Olahraga Internasional, Ini Harapan Menpora Imam Nahrawi

Imam Nahrawi (Menpora), mengunjungi Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), di Kota Samarinda, Selasa (21/5). (Kemenpora)

Jakarta- Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengunjungi Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, awal pekan ini. Untuk menjadi atlet sukses, Imam berharap ratusan siswa SKOI Kaltim dapat berlatih dengan keras. Contoh nyata Kesuksesan, menurut menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, yakni sprinter muda Lalu Muhammad Zohri, dan Egy Maulana Vikri, pesepak bola asal Medan yang bermain untuk tim Lechia Gdansk di Liga Polandia. “Sprinter Indonesia Lalu Muhammad Zohri menjadi yang tercepat dan membuat kita semua bangga (lolos kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang). Adapula Egy Maulana Vikri. Prestasi mereka membuat kita bangga,” ujar Imam, Selasa (21/5). Menteri berusia 45 tahun itu menyebut Indonesia sebagai negara yang besar, sehingga atlet muda Indonesia harus yakin dalam meraih kesuksesan. “Bendera merah putih berkibar setelah atlet-altet Indonesia mengukir prestasi di berbagai negara, sama halnya dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan. Tentunya kita semua bangga,” tukas Imam. (Adt)

Menpora: Peran Media Sangat Penting untuk Kemajuan Prestasi Olahraga Indonesia

Jakarta- Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengatakan media memiliki peran penting untuk kemajuan olahraga Indonesia. “Kita sama-sama memiliki tanggung jawab untuk memajukan olahraga Indonesia,” ujar Imam pada acara Ngabuburit (Ngumpul, Buka Bareng dan Cerita) Media Gathering bersama wartawan, di Hotel Royal, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/5). Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, berharap forum silaturahmi yang diselenggarakan Humas Kemenpora terus dilakukan. “Forum silaturahmi dengan media seperti ini sangat penting. Dan harus terus dilakukan,” lanjutnya. “Wartawan sudah menganggap kami sebagai rekan bahkan saudara dalam menjalankan kegiatan di Kemenpora. Selama ini hungan kita sangat erat sekali, oleh karenanya saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah menyampaikan informasi yang ada di Kemenpora dengan baik,” tambah menteri berusia 45 tahun itu. Menurut Imam, pilar terpenting demokrasi salah satunya adalah media. “Informasi ini menjadi hal yang sangat penting dalam menjalankan demokrasi,” tuturnya. Suami dari Shobibah Rohmah itu menekankan bahwa media yang selama ini bekerjasama dengan Kemenpora terus menyampaikan informasi kepada masyarakat. “Saya baru saja kembali dari Samarinda melihat sekolah olahraga internasional, disana saya melihat para atlet muda kita begitu semangat untuk menjadi atlet yang bisa mengharumkan nama bangsa. Semangat itulah yang harus disampaikan media dan masyarakat,” tegasnya. Ia meminta kepada rekan media untuk tak pernah berhenti untuk menggali inspirasi serta menyampaikan informasi demi kemajuan pemuda dan olahraga Indonesia. “Saya juga menginginkan semua isu yang ada di Kemenpora harus melalui klarifikasi,” cetus ayah 7 anak itu. Sementara itu, Isa Ansyari, Kepala Bagian Humas mengapresiasi kehadiran rekan media dalam menghadiri acara tersebut. “Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai bentuk apresiasi kepada insan media untuk terus menjaga hubungan baik antara Kemenpora dan teman-teman media. Kemenpora dengan media massa merupakan keharusan hingga terbentuk hubungan yang baik,” tukas Isa. (Adt)

FPTI Tentukan 10 Atlet Pelatnas Hasil Promosi dan Degradasi untuk Perebutkan Tiket Olimpiade 2020 Tokyo

Atlet panjat tebing Rivaldi Ode R (Bali) menjadi salah satu atlet yang disiapkan untuk memperebutkan tiket Olimpiade 2020. (FPTI)

Jakarta- Setelah melalui tahap pemusatan latihan nasional (Pelatnas) sejak awal Februari 2019 serta melakoni beberapa laga di luar negeri, tim pelatih dan manajemen Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) telah menentukan 10 atlet yang akan memperebutkan tiket ke Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Dibagian putra terpilih lima atlet yang akan mewakili Indonesia. Yakni Alfian M Fajri (Jawa Tengah), Aspar Jaelolo (DKI Jakarta), Fathur Roji (Jawa Timur), Rivaldi Ode R (Bali), dan Sabri (Kalimantan Utara). Dan dibagian putri yaitu Aries Susanti Rahayu (Jawa Tengah), Nurul Iqamah (Nusa Tenggara Barat), Fitria Hartani (Jawa Timur), Salsabila (Jawa Barat), dan Choirul Umi (Jawa Timur). Selama berlatih, para atlet ini akan didukung dua atlet sebagai sparring partner yakni Jamal Alhadad (Kalimantan Timur) dan Rahmayuna Fadillah (Daerah Istimewa Yogyakarta). Ada pula atlet yang terdegradasi yakni Temi Teli Lasa (Bali) dan mengundurkan diri yakni Agustina Sari (Jawa Tengah). Sehingg terpilih atlet berbakat dengan kriteria yang sudah ditetapkan serta terukur, misalnya catatan prestasi dan peringkat nasional. Pristiawan Buntoro, Manajer Tim Panjat Tebing Indonesia, mengatakan 10 atlet tersebut terpilih seiring berjalannya Pelatnas sejak Februari dan try out di empat seri Worldcul di Swiss, Rusia, dan China. “Pelatnas ini konsentrasinya untuk prakualifikasi Olimpiade. Laga di luar negeri kemarin untuk mengukur kemampuan para atlet setelah berlatih keras di Pelatnas,” ujar Pristiawan. Tim panjat tebing telah kembali ke Indonesia dan langsung disambung latihan yang lebih intensif. Fokus tim panjat tebing dalamberlatih adalah mempertahankan keunggulan di nomor speed, sembati memperkuat nomor lead dan boulder lantara Olimpiade Tokyo mempertandingkan nomor combined. Dijelaskannya, tiga event penentu lolos atau tidaknya telah menghadang di depan mata yakni seleksi di World Championship pada Agustus 2019, prakualifikasi Olimpade pada November, dan satu event lagi pada Mei 2020. “Untuk Agustus nanti kami bisa mengirimkan lima atlet putra dan putri untuk ikut event. Untuk single event di November ada syarat khusus yakni hanya atlet yang masuk peringkat 20 dunia di kategori speed, atau lead, atau boulder yang berhak ikut seleksi,” lanjutnya. Dan, berdasarkan peringkat dunia, baik di nomor speed world record putra dan putri Indonesia telah mengamankan masing-masing tiga dan dua atlet. Di kategori putra atlet yang masuk peringkat 20 besar dunia yakni Alfian M Fajri di peringkat lima, Aspar Jaelolo peringkat tujuh, dan Fathur Roji peringkat sembilan. Sementara, di nomor putri Aries Susanti Rahayu bertengger di peringkat empat dunia dan Nurul Iqamah di peringkat 20. (Adt)

Pertajam Rekor Nasional di Jepang, Lalu Muhammad Zohri Lolos Olimpiade 2020

Sprinter berusia 18 tahun Lalu Muhammad Zohri lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang setelah meraih medali perunggu di Seiko Grand Prix 2019, Minggu (19/5). (idntimes)

Jakarta- Sprinter muda Indonesia Lalu Muhammad Zohri berhasil lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. Torehan itu didapat setelah ia meraih medali perunggu nomor 100 meter di ajang Seiko Grand Prix 2019, Osaka, Jepang, pada Minggu (19/5), dengan catatan waktu 10,03 detik. Hasil itu sekaligus mempertajam rekor nasional (Rekornas) yang selama ini dipegangnya yakni 10,15 detik. Rekornas sendiri dipecahkan pria kelahiran Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), 1 Juli 2000 itu pada Kejuaraan Atletik Asia 2019, di Doha, Qatar, Senin (21/4). Rekor sebelumnya dipegang Suryo Agung dengan catatan waktu 10,17 detik serta bertahan selama 10 tahun. Sedangkan medali emas Seiko Grand Prix 2019 diraih Justlin Gatlin (Amerika Serikat). Sprinter dunia pemegang medali emas Olimpiade 2004 dan medali perak Olimpiade 2016 itu membukukan catatan waktu 10,00 detik. Diikuti Yoshinide Kiryu (Jepang) yang mencetak waktu 10,01 detik, dan berhak atas medali perak. Dengan prestasi gemilang yang dicetak Zohri tersebut membuat dirinya dipastikan berlaga di Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. “Lalu Zohri fix lolos ke Tokyo karena catatan waktunya di Osaka masuk limit. Limit Olimpiade itu 10,05 detik. Kejuaraan di Osaka masuk kualifikasi Olimpiade,” ungkap Hendri Firzani, Humas PB (Pengurus Besar) PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), pada Minggu (19/5). Zohri telah membuktikan dirinya mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Jika konsisten, bukan tidak mungkin, anak didik Eni Nuraeni itu berpulang memberikan medali bagi Indonesia di ajang pesta olahraga terbesar sejagat di Negeri Sakura pada 2020. (Adt)