Kadek Asih/Raji’ah sabet perak speed relay putri seri Chongqing

Raji'ah Sallsabillah dan Kadek Adi Asih

Pasangan atlet panjat tebing Indonesia, Raji’ah Sallsabillah dan Kadek Adi Asih berhasil menyabet medali perak nomor speed estafet (relay) putri dalam World Climbing Series Chongqing 2026 di China, Minggu. “Kunci keberhasilan kami adalah konsistensi, berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap pemanjatan karena tidak ada hal yang tidak mungkin,” kata Raji’ah dalam keterangan tertulis di Jakarta, seusai menerima medali. Dia mengaku bersyukur bisa membawa pulang medali perak untuk Indonesia. Perempuan yang kerap disapa Billah itu juga menyebut bahwa dirinya siap bila dipasangkan dengan siapa pun ketika harus turun di nomor speed relay. Sebab, siapa pun pasangannya, jika tampil dengan maksimal pasti akan mendapatkan hasil terbaik. Kadek Adi Asih menambahkan, kedisiplinannya dalam mengikuti setiap program latihan dari pelatih telah membuahkan hasil melalui medali perak tersebut. Namun, dia menyadari masih banyak aspek yang perlu diperbaiki untuk lebih bagus ke depannya. “Kalau saya, yang harus ditingkatkan lagi mungkin fokus saat pemanjatan agar pikiran saya tidak ke mana-mana saat memanjat, serta harus lebih konsisten lagi dalam latihan,” tambah dia. Pasangan Raji’ah Sallsabillah /Kadek Adi Asih menyabet perak dalam seri tersebut setelah kalah cepat melawan wakil tuan rumah, Jingyue Fan dan Shaoqin Zhang. Kadek membukukan waktu 6,7 detik, sedangkan Rajiah 8,6 detik sehingga waktu total yang diraih 15,3 detik. Sementara Fan mengemas waktu 6,43 detik dan Zhang 6,54 detik sehingga waktu total tercatat 12,97 detik. Pada awal lomba, semua berjalan dengan ketat. Namun sayang, Billah yang menjadi pemanjat kedua sempat terpeleset sehingga dia kehilangan momentum. Adapun medali perunggu diraih pasangan dari Italia yang diperkuat Giulla Randi dan Beatrice Colli. Mereka berhasil mengalahkan wakil Prancis yang diperkuat Louise Fountaine dan Capucine Viglione. Pada nomor speed relay putra, Indonesia diperkuat Antasyafi Robby Al Hilmi dan Raharjati Nursamsa. Namun langkah mereka harus terhenti di babak perempat final. Pada akhirnya, medali emas diraih pasangan atlet asal Ukraina, sedangkan perak dan perunggu masing-masing diraih wakil Amerika Serikat dan China. Selain turun di nomor speed relay putra maupun putri, Indonesia juga turun di nomor speed individu putra, speed individu putri, dan speed relay campuran. Tetapi, atlet Tanah Air belum berhasil membawa pulang medali.

Raharjati/Rajiah sabet emas speed relay campuran seri Guiyang

Raharjati Nursamsa dan Raji'ah Sallsabillah

Pasangan atlet panjat tebing Indonesia, Raharjati Nursamsa dan Raji’ah Sallsabillah menyabet medali emas nomor speed relay mixed (estafet campuran) dalam World Climbing Series Guiyang di China, Sabtu. Berdasarkan statistik World Climbing, keduanya yang mewakili Tim Indonesia 1 berhasil membukukan waktu 11,35 detik guna menundukkan pasangan tuan rumah, Mengli Zhang dan Ziyu Zhou, yang mencatatkan waktu 14,85 detik dalam babak final (big final). Sementara dalam perebutan tempat ketiga (small final), pasangan Amerika Serikat Samuel Watson dan Emma Hunt berhasil mengalahkan wakil Prancis, Jerome Morel dan Capucine Viglione. Watson/Hunt menorehkan 11,85 detik, sedangkan lawannya 13,4 detik. Dalam nomor speed relay mixed, Indonesia menurunkan dua tim. Tim Indonesia 2 diperkuat Antasyafi Robby Al Hilmi dan Kadek Adi Asih. Namun keduanya berhenti di babak perempat final. Pasangan menorehkan catatan waktu 11,97 dan kalah melawan Watson/Hunt yang mengemas 11,46 detik. Keberhasilan Raharjati Nursamsa dan Raji’ah Sallsabillah, memperpanjang pencapaian yang sama oleh Antasyafi Robby Al Hilmi yang sebelumnya meraih emas dalam nomor speed perseorangan putra. Perjuangan Indonesia masih berlanjut dalam nomor speed relay putra dan putri, yang masih berlangsung Sabtu malam.

Robby sabet medali emas World Climbing Series Guiyang 2026

Antasyafi Robby Al Hilmi

Atlet panjat tebing Indonesia, Antasyafi Robby Al Hilmi menyabet medali emas kejuaraan World Climbing Series Guiyang 2026 kategori speed putra di Guizhou Caihu International Climbing Center, Guiyang, Jumat waktu setempat. Bertarung pada partai perebutan medali emas, Jumat, Robby dapat menjadi yang tercepat mengungguli dua atlet China Ling Yongzhi, Chu Shouhong dan satu atlet Jepang Ryo Omasa, demikian catatan World Climbing. Robby meraih medali emas berkat torehan waktu tercepat dengan 4,65 detik, diikuti Ling Yongzhi (4,75 detik) meraih medali perak dan Shouhong Chu (4,80 detik) mendapatkan medali perunggu. Medali emas tersebut menjadi pencapaian tertinggi bagi Robby dalam World Climbing Series 2026 karena sebelumnya mendapatkan medali perak pada edisi Madrid dan Chamonix. Atlet berusia 19 tahun tersebut memulai World Climbing Series Guiyang 2026 dari babak kualifikasi dan berhasil mencatatkan waktu 4,831 detik sehingga lolos ke babak 16 besar. Pada babak 16 besar, Robby berhasil menjadi atlet tercepat dengan catatan waktu 5,19 detik mengalahkan Reza Alipour Shenazandifard (Iran), Luca Robbiati (Italia) dan Francesco Ponzinibio (Italia). Memasuki babak perempat final, Robby kembali menjadi yang tercepat di atas Reza Alipour Shenazandifard, Matteo Zurloni (Italia) dan Qihang Xu (China) dengan waktu 4,84 detik. Robby kembali menjadi yang tercepat ketika melakoni babak semifinal dengan waktu 4,82 detik mengungguli Ryo Omasa, Ziyu Zhou (China) dan Reza Alipour Shenazandifard, yang membuat dirinya melenggang ke final dan meraih medali emas.

Laksamana Krido raih perunggu World Climbing Asia Youth Championship

Laksamana Krido Swarnabhumi

Atlet panjat tebing muda Indonesia, Laksamana Krido Swarnabhumi meraih medali perunggu pada nomor speed putra U17 dalam ajang World Climbing Asia Youth Championship Guiyang 2026 di Guiyang, China, Senin. Krido mengamankan podium ketiga setelah mencatatkan waktu 5,43 detik pada babak perebutan medali perunggu, sekaligus menjadi catatan waktu terbaik pribadinya. Hasil tersebut menjadi medali dan podium pertama bagi Krido dalam kiprahnya di kejuaraan panjat tebing tingkat Asia. Krido yang berasal dari Jawa Tengah mulai aktif berkompetisi sejak 2024. Sebelumnya, ia tampil pada IFSC Youth Asian Championships Jamshedpur 2024 dan turun pada nomor boulder serta lead. Tambahan perunggu dari Krido membuat Indonesia sementara mengoleksi dua medali pada World Climbing Asia Youth Championship Guiyang 2026, yakni satu emas dan satu perunggu. Medali emas sebelumnya dipersembahkan Ardana Cikal Damarwulan pada nomor boulder putra U17. Sementara itu, Indonesia juga menurunkan dua atlet pada nomor speed putri U17, yakni Naura Jasmine Rayya Syafiqa dan Keyzia Queenme Candley Riwoe. Naura mengawali babak kualifikasi dengan menempati peringkat ketujuh setelah membukukan waktu 8,89 detik dan 7,833 detik, sementara Keyzia berada di posisi ke-10 dengan catatan 8,326 detik dan 8,516 detik. Pada babak perempat final, Naura mencatatkan waktu 7,84 detik, sementara Keyzia membukukan 8,55 detik. Keduanya belum mampu melaju ke babak perebutan medali. Kompetisi World Climbing Asia Youth Championship Guiyang 2026 masih menyisakan satu hari pertandingan dengan nomor speed relay putra dan putri untuk kelompok usia U17 dan U19. Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirimkan 13 atlet muda untuk tampil pada kejuaraan tersebut. Kontingen Indonesia diperkuat enam atlet putra dan tujuh atlet putri yang bersaing pada kelompok usia U17 dan U19. Indonesia ambil bagian dalam 14 nomor dari total 16 nomor yang dipertandingkan. Kejuaraan tahun ini juga menghadirkan nomor speed relay atau estafet yang untuk pertama kalinya menjadi bagian dari rangkaian Asia Youth Championship.

Cikal Sabet Emas World Climbing Asia Youth Championship

Ardana Cikal Damarwulan

Atlet panjat tebing Indonesia Ardana Cikal Damarwulan mempersembahkan medali emas pertama bagi Indonesia pada ajang World Climbing Asia Youth Championship Guiyang 2026 di Guiyang, China. Cikal, sapaan Ardana Cikal Damarwulan, menjadi yang terbaik pada nomor boulder putra kelompok usia U-17 setelah mencatatkan skor 69,7 pada babak final yang berlangsung di Guiyang, Sabtu. Dalam klasemen final, Cikal mengungguli atlet Jepang Takumi Nakayama yang menempati posisi kedua dengan skor 69,2, serta Jungyoon Choi dari Korea Selatan yang juga membukukan skor 69,2. Sementara itu, atlet China Zerun Mu berada di posisi keempat dengan skor 59,7, diikuti Taketo Saiki dari Jepang (54,7), Heming Huang dari China (44,2), dan Boxuan Chen dari China (39,4). Hasil tersebut menjadi prestasi penting bagi Indonesia dalam kejuaraan yang berlangsung pada 21-25 Agustus 2026 dan mempertandingkan disiplin speed, lead, boulder, serta speed relay. Sebelumnya, Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirimkan 13 atlet muda untuk tampil pada kejuaraan tersebut. Kontingen Indonesia diperkuat enam atlet putra dan tujuh atlet putri yang bersaing pada kelompok usia U-17 dan U-19. Indonesia ambil bagian dalam 14 nomor dari total 16 nomor yang dipertandingkan. Kejuaraan tahun ini juga menghadirkan nomor speed relay atau estafet yang untuk pertama kalinya menjadi bagian dari rangkaian Asia Youth Championship. Cikal sebelumnya juga dipercaya memperkuat Indonesia pada nomor lead putra U-17. Kehadirannya di dua disiplin tersebut menjadi bagian dari upaya FPTI memberikan pengalaman bertanding internasional kepada atlet-atlet muda sekaligus mengukur perkembangan mereka menghadapi persaingan di level Asia.

FPTI kirim 13 atlet ke Asia Youth Championship di China

Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirim 13 atlet untuk berlaga dalam World Climbing Asia Youth Championship Guiyang 2026 di China, pada 21-25 Agustus, yang mempertandingkan disiplin speed, lead, dan boulder. “Ya benar, kami kirim 13 atlet muda,” kata pelatih kepala timnas panjat tebing Indonesia Galar Pandu Asmoro, saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu. Dia menjelaskan, ke-13 atlet itu terdiri atas enam atlet putra dan tujuh putri. Timnas Indonesia akan bersaing dalam kejuaraan kelompok usia yakni U17 dan U19. Dalam kejuaraan itu, lanjut dia, Indonesia akan bersaing dalam 14 nomor dari total 16 nomor yang dipertandingkan. Khusus speed relay (estafet) untuk pertama kalinya masuk dalam rangkaian pertandingan Asia Youth Championship. Kehadiran nomor estafet menambah peluang bagi atlet-atlet muda Indonesia untuk bersaing memperebutkan prestasi di tingkat Asia. Sejumlah nama kembali memperkuat Tim Merah Putih antara lain Haddan, Naura, Rerynta, Taqiyya, dan Rizky Aditya. Selain nama-nama yang sudah berpengalaman di kelompok usia, Indonesia juga membawa sejumlah atlet baru. Mereka adalah Amirul, Krido, Keyzia, Indie, Mayra, Indah, dan Rizky Sholeh. Keikutsertaan 13 atlet tersebut menjadi bagian dari upaya FPTI memberikan pengalaman bertanding internasional kepada para climber muda, sekaligus mengukur perkembangan mereka menghadapi persaingan Asia. Para atlet itu diharapkan mampu tampil maksimal dan memberikan hasil terbaik dalam ajang yang mempertemukan atlet-atlet muda panjat tebing dari berbagai negara Asia tersebut. Dengan komposisi atlet berpengalaman dan pendatang baru, FPTI berharap kontingen Tanah Air dapat menunjukkan perkembangan kemampuan, sekaligus menjaga peluang meraih prestasi di Guiyang serta menjadi bekal penting menuju kompetisi internasional berikutnya. Berikut daftar nama atlet dan nomor yang diikuti dalam World Climbing Asia Youth Championship Guiyang 2026 di China, pada 21-25 Agustus. Disiplin speed 1. Nomor speed estafet U19 putra: Amirul dan Haddan Malik. 2. Nomor speed perorangan U19 putra: Amirul dan Haddan Malik. 3. Nomor speed perorangan U19 putri: Rerynta. 4. Nomor speed estafet U17 putri: Naura dan Keyzia. 5. Nomor speed perorangan U17 putra: Krido. 6. Nomor speed perorangan U17 putri: Naura dan Keyzia. Disiplin lead 1. Nomor perorangan U19 putra: Rizky Aditya 2. Nomor perorangan U19 putri: Taqiyya dan Indie. 3. Nomor perorangan U17 putra: Ardana Cikal Damarwulan dan Rizky Sholeh 4. Nomor perorangan U17 putri: Mayra dan Indah. Disiplin boulder 1. Nomor perorangan U19 putra: Rizky. 2. Nomor perorangan U19 putri: Indie. 3. Nomor perorangan U17 putra: Ardana Cikal Damarwulan. 4. Nomor perorangan U17 putri: Mayra.

Cikal Masuk Final Boulder, Indonesia Ukir Sejarah

Ardana Cikal Damarwulan

Atlet muda panjat tebing Indonesia, Ardana Cikal Damarwulan berhasil masuk babak final boulder U17 putra World Climbing Youth Championship Arco, Italia. Hasil ini menjadikan pertama kalinya dalam sejarah Indonesia di kompetisi internasional. Di babak semifinal, Cikal bertengger di peringkat enam dengan poin 69,5. Namun, di babak final ia hanya mengumpulkan skor 19,9 dan harus puas di peringkat ketujuh. Nomor boulder U17 dimenangkan atlet Jepang Kazuki Nakata dengan skor 99,3, disusul Taketo Saiki (74,7) dan Hayool Lee dari Korea Selatan (59,5). Pelatih Lead Panjat Tebing Indonesia Amri mengatakan hasil ini sangat menggembirakan dan menjadi sinyal bahwa Indonesia memiliki potensi di nomor boulder. “Ini sangat menggembirakan sekaligus menjadi sinyal bahwa kita memiliki potensi di nomor boulder yang selama ini dianggap tertinggal,” kata Amri dalam keterangan yang diterima RRI, Sabtu 25 Juli 2026. Indonesia kini mulai berbicara di semua disiplin panjat tebing, tak hanya speed tetapi juga lead dan boulder. FPTI mengirimkan dua atlet ke kompetisi 18-25 Juli 2026, yaitu Cikal dan Haddan Malik Baqmuhyibar. Haddan berhasil membawa pulang medali perak di nomor speed U19 putra. Cikal turun di dua disiplin, lead U17 putra dan boulder U17 putra. Capaian Cikal merupakan hal menggembirakan mengingat ia masih atlet muda harapan Indonesia. FPTI berharap ajang ini mampu menambah pengalaman berharga dan jam terbang bagi para atlet. Kompetisi internasional ini juga ditujukan untuk menguatkan mental para atlet muda. Indonesia semakin diperhitungkan di kancah panjat tebing dunia. Prestasi ini menjadi modal berharga untuk pengembangan atlet di masa depan.

Haddan raih perak disiplin speed dalam kejuaraan remaja di Italia

World Climbing Youth Championship Arco.

Atlet panjat tebing disiplin speed putra Indonesia, Haddan Malik Baqmuhyibar meraih medali perak dalam World Climbing Youth Championship Arco di Italia, Rabu. Pelatih timnas panjat tebing disiplin lead Indonesia, Amri, yang turut mendampingi perjuangan Haddan menyatakan pemanjat muda itu menjadi runner-up dalam nomor speed under 19 (U19) putra, setelah kalah melawan wakil dari China Yanze Shi. “Haddan sudah berusaha maksimal, ke depannya masih cukup waktu bagi kami tim pelatih untuk menggemblengnya,” kata dia. Amri menjelaskan dalam babak final, Haddan membukukan waktu 6,21 detik sedangkan lawannya mencatatkan 6,07 detik. Sementara medali perunggu diperebutkan atlet asal Swiss Gilles Meili dan Ruifeng Wang dari China. Gilles Meili menang dengan catatan waktu 4,90 detik sedangkan Wang terjatuh (fall) saat memanjat. Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirimkan dua atlet muda untuk berkompetisi di World Climbing Youth Championship Arco, Italia, pada 18-25 Juli 2026. Kedua atlet yang bertanding yakni Ardana Cikal Damarwulan dan Haddan Malik Baqmuhyibar. Cikal turun di dua disiplin yakni lead under 17 (U17) putra dan boulder U17 putra. Sementara, Haddan dalam nomor speed individual U19 putra. FPTI berharap dengan dikirimnya atlet muda ke ajang internasional mampu menambah pengalaman berharga bagi para atlet. Dengan mengikuti kompetisi internasional, akan mampu menambah jam terbang yang diperlukan atlet untuk berkembang dan menguatkan mental.

Desak Made sabet emas World Climbing Series Krakow 2026

World Climbing Series Krakow 2026

Atlet panjat tebing disiplin speed putri Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi menyabet medali emas nomor speed individu putri dalam World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia, Sabtu. “Alhamdulillah Desak meraih emas, ini buah kerja keras atlet dan tim secara menyeluruh,” kata Asisten Pelatih Timnas Panjat Tebing Disiplin Speed Indonesia Fitriyani, dikutip dari ANTARA. Berdasarkan laman world climbing, Desak mencatatkan waktu 6,54 detik dalam babak final dengan format 4 lane (jalur) yang diikuti oleh empat peserta. Dalam babak itu, dia bersaing melawan tiga atlet lainnya yakni Natalia Kalucka dan Aleksandra Miroslaw (Polandia), serta Emma Hunt (Amerika Serikat). Untuk posisi kedua ditempati wakil tuan rumah, Kalucka, yang membukukan waktu 6,62 detik. Sementara medali perunggu digenggam Hunt dengan catatan waktu 11,37 detik. Sebelum berjuang di babak semifinal, Desak melawan Hunt, Kalucka, dan Yuju Mou (China) yang juga digelar dengan format empat jalur. Sedangkan di empat jalur lainnya, Natalia Kalucka bersaing melawan Miroslaw, Leslie Adriana Romero Perez (Spanyol), Polina Khalkevych (Ukraina). Dari masing-masing empat jalur tersebut, dua catatan waktu terbaik berhasil melaju ke babak final, yakni Desak dan Hunt serta Kalucka dan Miroslaw. Sementara itu, langkah dua wakil Indonesia lainnya yaitu Raji’ah Sallsabillah dan Kadek Adi Asih terpaksa terhenti di babak perempat final. Mereka sebelumnya lolos dari babak kualifikasi dan 16 besar yang diikuti 32 peserta. Untuk mengikuti World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia, 3-5 Juli, timnas panjat tebing Indonesia membawa tujuh atlet untuk berlaga dalam seri itu. Mereka terdiri atas empat atlet putra dan tiga putri. Selain ketiga atlet putri tersebut, empat putra yang berlaga yaitu Raharjati Nursamsa, Aditya Tri Syahria, Veddriq Leonardo, dan Antasyafi Robby Al Hilmi. Selain nomor individu putra dan putri, ketujuh atlet tersebut juga mengikuti nomor estafet (relay) putra, relay putri, dan relay campuran.

Raharjati rebut perunggu World Climbing Series Krakow 2026

World Climbing Series Krakow 2026

Atlet panjat tebing disiplin speed putra Indonesia, Raharjati Nursamsa, menyabet medali perunggu nomor speed individu putra dalam World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia, Sabtu. “Benar, selain Desak yang dapat emas dari individu putri, Raharjati juga merebut medali untuk posisi ketiga atau perunggu,” kata Asisten Pelatih Timnas Panjat Tebing Disiplin Speed Indonesia Fitriyani, dikutip dari ANTARA. Berdasarkan laman world climbing, Raharjati mencatatkan waktu 4,79 detik dalam babak final dengan format 4 lane (jalur) yang diikuti oleh empat peserta. Dalam babak itu, dia bersaing melawan tiga atlet lainnya yakni Samuel Watson (Amerika Serikat), serta duo asal China, Yicheng Zhao dan Shouhong Chu. Untuk posisi pertama atau medali emas ditempati Watson yang membukukan waktu 4,6 detik. Sementara perak digenggam Zhao dengan catatan waktu 4,69 detik. Sebelum berjuang di babak final, Raharjati melawan rekan senegaranya yaitu Aditya Tri Syahria, Chu, dan Luca Robbiati (Italia) yang juga digelar dengan format empat jalur dalam pertandingan semifinal. Sedangkan di empat jalur lainnya, Watson, Zhao, Ryo Omasa (Jepang), dan Matteo Zurloni (Italia). Dari masing-masing empat jalur tersebut, dua catatan waktu terbaik berhasil melaju ke babak final, yakni Raharjati dan Chu serta Watson dan Zhao. Sementara itu, langkah dua wakil Indonesia lainnya yaitu Veddriq Leonardo dan Antasyafi Robby Al Hilni terpaksa terhenti di babak 16 besar yang diikuti 32 peserta. Untuk mengikuti World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia pada 3-5 Juli, timnas panjat tebing Indonesia membawa tujuh atlet untuk berlaga dalam seri itu. Mereka terdiri atas empat atlet putra dan tiga putri. Selain keempat atlet putra tersebut, tiga putri yang berlaga yaitu Desak Made Rita Kusuma Dewi, Raji’ah Sallsabillah, dan Kadek Adi Asih. Selain nomor individu putra dan putri, ketujuh atlet tersebut juga akan mengikuti nomor estafet (relay) putra, relay putri, dan relay campuran.

Jakarta juara umum Kejurnas Panjat Tebing KU XX FPTI 2026

FPTI Jakarta

Kontingen DKI Jakarta meraih gelar juara umum pada Kejurnas Panjat Tebing Kelompok Umur (KU) XX Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) 2026, setelah mengoleksi empat medali emas, dua perak, dan satu perunggu dalam ajang yang berlangsung di Jakarta, 17-22 Juni. Ketua Bidang Kompetisi Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Anugrah Agung Karokaro menilai hasil kejurnas KU tahun ini menunjukkan perkembangan positif olahraga panjat tebing di daerah, karena dari total 12 medali emas yang diperebutkan, Jakarta hanya merebut empat emas. “Sebaran prestasi yang semakin merata menjadi indikator bahwa kualitas pembinaan atlet muda di berbagai provinsi terus berkembang dan kompetitif,” kata dia di Jakarta, Selasa. Meski Jakarta menjadi juara umum, hasil perolehan emas semakin merata dalam pembinaan atlet panjat tebing usia muda di berbagai daerah. Empat medali emas tuan rumah diraih melalui Rizky Aditya pada nomor boulder U19 putra dan lead U19 putra. Kemudian Keyza Queenme Candley Riwoe pada speed world record (WR) U17 putri dan Amirul Rizqi Febriyansah dari speed WR U19 putra. Selain itu, Jakarta juga memperoleh dua medali perak dari Tristan Andrata dalam nomor boulder U19 putra dan Choirul Alviansyah dari speed WR U17 putra. Sementara satu perunggu disumbangkan Naura Jasmine Rayya Syafiqa dalam nomor speed WR U17 putri. Posisi kedua klasemen akhir ditempati Jawa Tengah (Jateng) dengan torehan dua emas, satu perak, dan tiga perunggu. Sementara Bali berada di peringkat ketiga setelah mengumpulkan satu emas, tiga perak, dan satu perunggu. Ketua Umum Pengprov FPTI DKI Jakarta Dyson Toba mengapresiasi perjuangan seluruh atlet yang tampil pada kejurnas tersebut. “Pencapaian ini menjadi modal penting untuk menyiapkan atlet-atlet muda yang nantinya diharapkan mampu bersaing pada level nasional yang lebih tinggi, termasuk menuju PON 2028,” ujar dia. Sementara itu, sisa lima medali emas lainnya direbut oleh masing-masing Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kejurnas KU XX FPTI 2026 mempertandingkan 12 nomor dari disiplin boulder, lead, dan speed WR untuk kelompok usia U17 dan U19.

Sejarah Baru Bagi Indonesia Tercipta di World Climbing Series

Putra Tri Ramadani

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet panjat tebing muda Indonesia di panggung internasional melalui capaian gemilang. Putra Tri Ramadani berhasil meraih medali emas nomor lead putra pada World Climbing Series Praha 2026. Keberhasilan tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan olahraga panjat tebing Indonesia di tingkat dunia. Pada partai final yang berlangsung ketat, atlet berusia 20 tahun itu tampil konsisten menghadapi tekanan dari para pesaing utama. Ia berhasil mengumpulkan 43 poin, mengungguli Neo Suzuki yang meraih 39 poin. Sementara Jakob Schubert menempati posisi ketiga dengan torehan 37 poin dalam kompetisi tersebut. Capaian ini mencatatkan sejarah baru bagi Indonesia di cabang olahraga panjat tebing internasional. Putra Tri menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih emas pada nomor lead di ajang dunia. Selama ini, Indonesia lebih dikenal unggul pada nomor speed yang telah banyak menyumbang prestasi global. Prestasi tersebut juga menandai pencapaian penting bagi kawasan Asia Tenggara dalam olahraga panjat tebing dunia. Putra Tri Ramadani menjadi atlet Asia Tenggara pertama yang meraih emas pada nomor lead internasional. Keberhasilan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru dalam cabang olahraga panjat tebing global. Pencapaian ini terasa semakin istimewa mengingat posisi Putra Tri dalam peringkat dunia terus menunjukkan peningkatan. Saat ini, ia berada di peringkat keenam dunia nomor lead putra dengan koleksi poin yang kompetitif. Hasil di Praha menjadi capaian terbaiknya musim ini setelah sebelumnya terhenti pada babak semifinal di Wujiang. Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan tempatnya menempuh studi. Universitas Muhammadiyah Surabaya menyampaikan kebanggaan atas prestasi mahasiswa yang mengharumkan nama bangsa. Pihak kampus juga menyiapkan bentuk penghargaan sebagai apresiasi atas dedikasi dan kerja keras atlet tersebut. Prestasi Putra Tri Ramadani menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berprestasi di tingkat internasional. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kerja keras dan konsistensi mampu menghasilkan capaian luar biasa. Momentum ini diharapkan dapat mendorong pembinaan atlet nasional agar semakin kompetitif di masa mendatang.

Desak Made bawa pulang satu-satunya medali dari Wujiang

World Climbing Series Wujiang 2026

Atlet panjat tebing disiplin speed putri Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, tampil sebagai pelipur lara alias menjadi satu-satunya atlet yang membawa pulang medali bagi Merah Putih dari World Climbing Series Wujiang 2026, China. Dalam putaran final yang diselenggarakan pada Minggu, dia berhasil merebut medali perunggu dalam perebutan tempat ketiga (small final) nomor speed individu putri setelah mengalahkan wakil Polandia Natalia Kalucka. Perempuan asal Bali itu mencatatkan waktu 6,17 detik, sedangkan lawannya 6,39 detik. Sementara medali emas diraih oleh atlet Polandia Aleksandra Kalucka seusai menundukkan Elizaveta Ivanova dalam babak final (big final). Ivanova merupakan atlet netral individu (AIN) yang diizinkan bertanding secara netral, tanpa mewakili negaranya. Atlet itu tidak menggunakan bendera atau lagu kebangsaan negaranya. AIN mayoritas berasal dari Rusia dan Belarus, yang bertanding tanpa identitas nasional. Sementara itu, setelah lolos dari babak kualifikasi, Desak berjuang dalam putaran final atau babak 16 besar dengan melawan rekan senegara yakni Rajiah Sallsabillah. Desak berhasil menang setelah mencatatkan waktu 6,36 detik sedangkan Rajiah 6,53 detik. Perjuangan berlanjut ke perempat final. Saat itu dia melawan wakil Amerika Serikat (AS) Isis Rothfork. Atlet berumur 25 tahun itu kembali menang dengan mencetak 7,61 detik, sedangkan lawannya tercatat fall atau tidak berhasil menorehkan waktu. Perjuangan dia berlanjut ke semifinal. Namun justru babak itu menjadi langkah terakhir Desak di turnamen tersebut. Dia kalah melawan wakil Polandia Aleksandra Kalucka. Desak memperoleh 6,33 detik, sedangkan lawannya 6,09 detik. Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing (PP FPTI) mengirim sebanyak sembilan atlet disiplin speed untuk mengikuti World Climbing Series Wujiang 2026. Sembilan atlet itu terbagi atas lima di sektor putra dan empat putri.

Desak Made/Kadek Asih pecahkan rekor dunia di China

Desak Made Rita Kusuma Dewi & Kadek Adi Asih

Pasangan atlet panjat tebing disiplin speed putri Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi/Kadek Adi Asih, berhasil memecahkan rekor dunia (world record) kategori speed women’s relay, saat mengikuti Asian Beach Games Sanya 2026, di China, pada Rabu malam WIB. “Kami tidak menyangka bisa memecahkan rekor karena hanya fokus tampil maksimal,” kata Desak seusai perlombaan. Keduanya berhasil keluar sebagai juara, setelah mengalahkan pasangan Korea Selatan Jimin Jeong/ Hanaerum Sung dalam babak final (big final). Namun pemecahan rekor terjadi bukan saat mereka menjuarai turnamen. Tetapi dalam momen semifinal melawan pasangan China, Yafei Zhou/Lijuan Deng. Pasangan tuan rumah awalnya memecahkan rekor dunia dengan catatan waktu 13,178 detik. Namun sesaat kemudian, pasangan Merah Putih membukukan catatan waktu 13,174 detik alias lebih cepat 0,04 detik. Momen pemecahan rekor tersebut mengantarkan Desak/Kadek melaju ke big final dan akhirnya juga mengalahkan pasangan Korsel. “Saya persembahkan medali ini untuk Indonesia,” ujar dia. Bagi Kadek Adi Asih, keberhasilan itu menjadi titik balik setelah gagal di nomor individu. “Medali emas Ini sangat berarti bagi saya. Terima kasih untuk semua dukungan yang diberikan,” tambah dia. Sementara itu, pasangan atlet panjat tebing disiplin speed putra Indonesia, Raharjati Nursamsa/Antasyafi Robby Al Hilmi, harus puas dengan perolehan medali perak kategori speed relay dalam Asian Beach Games Sanya 2026. Keduanya kalah melawan wakil tuan rumah, Jianguo Long/Yicheng Zhao, dalam babak final (big final). Wakil Indonesia itu mengemas waktu 9,80 detik, sedangkan lawannya lebih cepat 0,05 detik alias mencatatkan waktu 9,75 detik. Untuk mengikuti Asian Beach Games Sanya 2026 di China, Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirim total delapan atlet disiplin speed yang terbagi atas masing-masing empat putra dan putri. Mereka adalah Raharjati Nursamsa, Antasyafi Robby Al Hilmi, Aditya Tri Syahria, dan Ramaski Aswin Kristanto. Sedangkan sektor putri diperkuat Desak Made Rita Kusuma Dewi, Kadek Adi Asih, Puja Lestari, dan Amanda Narda Mutia. Mereka mengikuti dua kategori perlombaan, yakni speed (individu) dan speed relay (tim). Para wakil Tanah Air itu bersaing dengan peserta dari negara lain, di antaranya China, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang. Dalam lomba panjat tebing speed relay (estafet), perhitungan dilakukan berdasarkan total waktu tim dari awal hingga pemanjat terakhir menyelesaikan lintasan. Atlet memanjat secara bergantian (relay). Atlet pertama memulai dari start. Setelah mencapai puncak dan menekan tombol timer, atlet berikutnya langsung memulai. Waktu dihitung terus-menerus dan tidak di-reset setiap pergantian atlet. Jadi yang dihitung adalah waktu kumulatif sejak start pertama sampai atlet terakhir finis. Tim tercepat atau mencatatkan waktu paling rendah dinyatakan sebagai pemenang.

Desak Made raih emas, Indonesia tambah lima tiket Asian Games 2026

Desak Made Rita Kusuma Dewi

Tim panjat tebing Indonesia menambah lima tiket Asian Games 2026 Aichi-Nagoya sekaligus meraih satu medali emas dan satu perunggu pada hari kedua World Climbing Asian Championship 2026 di Meishan, China, Kamis. Desak Made Rita Kusuma Dewi menjadi bintang kemenangan Indonesia setelah merebut medali emas nomor speed putri setelah mengalahkan wakil tuan rumah Zhou Yafei pada final dengan catatan waktu 6,07 detik, lebih cepat dari Zhou yang membukukan 6,47 detik. Selain memastikan podium tertinggi, hasil tersebut juga otomatis mengamankan satu tempat bagi Desak untuk tampil pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Sementara itu, Veddriq Leonardo turut menyumbangkan medali perunggu dari nomor speed putra setelah memenangi small final melawan atlet China Ling Yongzhi yang mengalami fall. Veddriq mencatatkan waktu 5,15 detik dalam laga tersebut. Meski finis di posisi ketiga, Veddriq tetap memastikan diri lolos kualifikasi Asian Games 2026. Selain dua peraih medali tersebut, Indonesia juga mendapatkan tambahan tiket dari sejumlah atlet lain yang tampil kompetitif di nomor speed dan boulder. Aditya Tri Syahria berhasil mengamankan tiket setelah finis di posisi keenam nomor speed putra. Ia sempat mencatatkan waktu 5,37 detik pada perempat final saat menghadapi rekan senegara Veddriq Leonardo yang mencatatkan 5,01 detik. Dari sektor putri, Berthdigna Devi Surya Kusuma juga memastikan tempat setelah menempati peringkat kelima nomor speed putri. Ia mencatatkan waktu 6,73 detik pada perempat final saat berhadapan dengan Desak Made yang membukukan 6,48 detik. Tambahan tiket juga datang dari nomor boulder putra melalui Raviandi Ramadhan. Ia mampu menembus semifinal setelah sebelumnya menempati peringkat ke-22 pada babak kualifikasi dengan nilai 69,4 poin dan kemudian berada di posisi ke-11 pada semifinal dengan 49,9 poin. Hasil tersebut membuat Raviandi menyusul rekannya yang telah lebih dahulu mengamankan tiket Asian Games dari kejuaraan sebelumnya yakni yakni Putra Tri Ramadani (lead putra), Sukma Lintang Cahyani (lead putri), dan Ravianto Ramadhan (boulder putra). Dengan tambahan hasil di Meishan, Indonesia kini telah mengamankan total delapan tiket Asian Games 2026, yang terdiri atas dua atlet speed putra, dua speed putri, dua boulder putra, serta masing-masing satu atlet lead putra dan lead putri. Kejuaraan Asia Panjat Tebing 2026 masih menyisakan pertandingan nomor lead putra dan putri hingga beberapa hari ke depan, sehingga peluang Indonesia untuk menambah jumlah wakil di Asian Games masih terbuka.

Indonesia Kirim 16 Atlet Panjat Tebing ke Kejuaraan Asia 2026 di China

Syawalan dan Pelepasan Atlet Timnas Panjat Tebing Indonesia ke World Climbing Asia Championship Meisan 2026

Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) akan menerjunkan 16 atlet ke World Climbing Asia Championship Meishan 2026 pada 8-12 April 2026. Turnamen itu diikuti demi memperbesar peluang panjat tebing Indonesia meraih medali di Asian Games 2026. FPTI baru saja menggelar “Syawalan dan Pelepasan Atlet Timnas Panjat Tebing Indonesia ke World Climbing Asia Championship Meisan 2026” di Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jumat (3/4/2026). “Kita bersyukur para atlet, dengan segala tempaan dan latihan yang telah mereka jalani, saya yakin siap untuk memenuhi tantangan yang diberikan oleh pemerintah maupun harapan dari masyarakat,” ujar Ketua FPTI, Yenny Wahid. “Perjalanan kita juga penuh cerita. Ada air mata yang terkuras, tenaga, pikiran, serta emosi yang bergejolak. Namun pada akhirnya, kita berharap semuanya berujung pada happy ending,” jelasnya. Tim panjat tebing Indonesia di World Climbing Asia Championship 2026 dipimpin Veddriq Leonardo dan Desak Made Rita Kusuma Dewi. Sejauh ini, sudah tiga atlet panjat tebing Indonesia yang lolos ke Asian Games 2026. Ketiganya adalah Ravianto Ramadhan, Putra Tri Rahmadani, dan Sukma Lintang. “Target kita adalah mengirimkan atlet untuk berlaga di Asian Games. Semoga kita bisa memenuhi seluruh kuota, dan para atlet mampu meraih medali emas maupun medali lainnya. Ini tentu menjadi harapan kita semua,” ucap Yenny Wahid. “Kami dari FPTI menyiapkan secara teknis, baik dari sisi kepelatihan maupun atlet, secara maksimal. Sementara itu, pemerintah memfasilitasi dan memberikan berbagai insentif, yang tentu menjadi salah satu penyemangat bagi atlet karena menghargai pencapaian mereka.” “Inilah kehebatan atlet panjat tebing kita, bukan hanya dari sisi kemampuan, tetapi juga mental mereka yang kuat. Semoga mereka bisa meraih prestasi terbaik. Kita akan fokus pada tujuan di ajang mendatang, dan dengan dukungan masyarakat, kita akan tetap bersemangat dan kuat untuk meraih prestasi,” jelasnya. Daftar Atlet Panjat Tebing Indonesia Atlet yang Sudah Lolos ke Asian Games 2026 Ravianto Ramadhan (Boulder Pa) Putra Tri Rahmadani (Lead Pa) Sukma Lintang (Lead Pi) Atlet yang Berangkat ke World Climbing Asia Championship Meishan 2026 Speed Putra Veddriq Leonardo Kiromal Katibin Raharjati Nursamsa Antasyafi Robbi Al-Hilmi Aditya Speed Putri Desak Made Rajiah Salsabilla Kadek Asih Berdigna Diva Lead Putra Musawir Risky Simatupang Ramzi Raviandi Mahesa Caesar Lead Putri Nurdiatul Jannah Alma

Atlet Panjat Tebing Indonesia Termuda Peraih Medali Emas SEA Games 2025

Podium Panjat Tebing SEA Games 2025

Atlet panjat tebing Indonesia, Ardana Cikal Damarwulan, mencuri perhatian publik setelah berhasil meraih medali emas di SEA Games 2025 yang digelar di Thailand. Prestasi ini bukan sekadar kemenangan biasa, karena Cikal merupakan atlet termuda dalam kontingen Indonesia yang tampil di ajang olahraga multievent terbesar Asia Tenggara tersebut. Pada kompetisi SEA Games 2025, Cikal yang masih berusia 15 tahun ini turun di nomor lead putra panjat tebing dan menunjukkan performa yang luar biasa sejak babak awal hingga final. Cikal berhasil mencapai titik pegangan tertinggi di antara para pesaingnya, sehingga memastikan dirinya berada di puncak podium sebagai juara. Hasil ini sekaligus menyumbangkan satu medali emas penting bagi tim panjat tebing Indonesia. Kemenangan remaja asal Bandung, Jawa Barat, ini tak lepas dari persiapan matang dan dukungan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Sejak awal tahun, ia bersama rekan-rekan tim melakukan rangkaian kompetisi persiapan, termasuk berlaga di kejuaraan regional seperti ASEAN Climbing Championship 2025 di Malaysia. Pengalaman tersebut dianggap penting untuk membentuk kesiapan mental dan teknik menghadapi lawan di SEA Games. Untuk Cikal, SEA Games 2025 menjadi ajang debut besar di tingkat regional. Meski usianya masih sangat muda jika dibandingkan dengan atlet senior lain, dia mampu mengatasi tekanan kompetisi dan tampil konsisten di setiap babak. Prestasi ini menunjukkan bahwa regenerasi atlet panjat tebing Indonesia berjalan dengan baik dan mulai menunjukkan tajinya di panggung internasional. Tercatat kontingen panjat tebing Indonesia berhasil mengumpulkan empat medali emas pada SEA Games 2025, termasuk dari Cikal, Alma Ariella Tsany, antasyafi Robby Al Hilmi, dan Puja Lestari. Perolehan ini menjadi bukti dominasi Indonesia di cabang panjat tebing selama pertandingan berlangsung. Usai sukses meraih medali emas SEA Games 2025, Ardana Cikal Damarwulan langsung menatap target berikutnya, yakni kompetisi tingkat dunia. Ia telah menyatakan kesiapan untuk mengikuti kejuaraan dunia panjat tebing 2027 dan terus meningkatkan kualitas serta persiapannya agar bisa bersaing di level yang lebih tinggi. Prestasi Cikal tidak hanya memberikan satu tambahan medali emas bagi kontingen Indonesia, tetapi juga memperlihatkan kedalaman talenta atlet muda di cabang panjat tebing. Regenerasi yang baik menjadi kunci keberhasilan jangka panjang dalam membangun prestasi nasional di cabang olahraga ini. Dengan keberhasilan tersebut, harapan besar pun kini ditujukan agar lebih banyak generasi muda Indonesia terinspirasi untuk menekuni panjat tebing dan membawa nama bangsa lebih tinggi lagi di kompetisi dunia.

SEA Games 2025: Alma Ariella Memanjat Puncak Asia Tenggara

Alma Ariella

Di Bangkok Sport Climbing Center Stadion SAT, Bangkok, Thailand, Jumat (12/12/2025) malam, Alma memukau nyaris semua orang yang datang. Bagaimana tidak, di antara delapan pemanjat putri dan putra yang berlaga di babak final, hanya Alma yang mampu menggapai puncak. Ketika puncak itu diraih, ketika itu pula medali emas dipastikan ada di tangannya. Prestasi tersebut sekaligus menegaskan potensinya sebagai salah satu bintang masa depan panjat tebing Indonesia di kancah internasional. Meski usianya masih sangat muda, yakni baru berusia 16 tahun, kiprahnya di berbagai kejuaraan menunjukkan kematangan luar biasa. Setahun lalu, Alma tak pernah membayangkan akan berada di puncak Asia Tenggara. Nama Alma baru muncul setelah menggondol lima medali panjat tebing di PON Aceh-Sumut 2024, tiga di antaranya medali emas. Prestasi gemilang itu diraih ketika Alma turun debutan sekaligus salah satu pemanjat termuda di tim Jawa Timur. Total enam pemanjat tebing lead Indonesia yang berlaga di SEA Games Thailand 2025 sudah ditanamkan pola pikir demikian bahwa SEA Games hanya titik awal. Pesta olahraga se-Asia Tenggara ini adalah batu loncatan menuju ke level lebih tinggi, yakni Asia dan dunia. Alma memahami itu. Titik awal itu sekaligus batu loncatan itu telah Alma lalui. Kini, dirinya mantap menatap puncak-puncak lain dengan level lebih tinggi. ”Harus bertahap, tetapi impian aku dan setiap atlet pasti ke Olimpiade,” ujar Alma.

Tiga Pemanjat Tebing Muda Indonesia Tampil di World Cup Koper 2025

Sukma Lintang Cahyani

Tiga pemanjat tebing muda Indonesia akan berlaga pada IFSC Climbing World Cup Koper 2025 nomor lead yang berlangsung di Koper, Slovenia, 5–6 September. Skuad Merah Putih menurunkan dua wakil putra yakni, Putra Tri Ramadani dan Muhammad Rizky Syahrafli Simatupang, serta satu wakil putri, Sukma Lintang Cahyani. Berdasarkan laman resmi Federasi Panjat Tebing Internasional (IFSC), Jumat, ajang ini menjadi seri terakhir Piala Dunia 2025 untuk disiplin lead, sekaligus menjadi panggung penting bagi Indonesia dalam memperluas kiprah di luar nomor speed. Putra adalah pemanjat tebing 19 tahun. Sepanjang 2025, dia telah tampil dalam rangkaian Piala Dunia seperti di Bali dengan menempati peringkat 17, Innsbruck, Austria di posisi 16 dan di Madrid Spanyol juga menempati urutan 16. Sementara Rizky yang berusia 21 tahun juga tercatat tampil di Piala Dunia Wujiang (posisi 32), Bali (8), Innsbruck (12), Chamonix (58), dan Madrid (26). Lalu untuk Sukma yang kini berusia 20 tahun juga tampil di ajang serupa dengan hasil Wujiang (18), Bali (28), Innsbruck (35), Chamonix (28), dan Madrid (31). Sebelumnya, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menyatakan pengiriman atlet ke berbagai kejuaraan internasional merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kekuatan di disiplin lead dan boulder untuk menyongsong Olimpiade Los Angeles 2028. Selama ini, Indonesia dikenal mendominasi nomor speed. Namun dengan format baru Olimpiade Los Angeles 2028, panjat tebing akan mempertandingkan tiga disiplin speed, lead, dan boulder secara terpisah dengan masing-masing memperebutkan dua medali untuk sektor putra dan putri. Dengan demikian, total enam medali akan diperebutkan pada Olimpiade 2028, meningkat dari empat medali pada Olimpiade Paris 2024 yang masih menggunakan format kombinasi (lead dan boulder) serta speed.

IFSC Youth Championships 2025: Emas Pertama Untuk Indonesia!

Podium Speed Putra U17 IFSC Youth Asian Championship Guiyang 2025

Atlet panjat tebing muda Indonesia, Haddan Malik Baqmuhyibar meraih medali emas nomor speed putra U17 dalam IFSC Youth Asian Championship Guiyang 2025 di China, Sabtu. Haddan mengungguli atelt tuan rumah, Zhao Yicheng, dalam final. Atlet berusia 16 tahun asal Jakarta itu mendapatkan wildcard setelah Zhang mengalami false start. Atlet panjat tebing Jepang, Sota Saito, kebagian medali perunggu dengan catatan waktu 5,41 detik, demikian hasil perlombaan yang dicatat federasi panjat tebing dunia IFSC Climbing. Tim panjat tebing muda Indonesia juga meraih dua medali perunggu, masing-masing dipersembahkan oleh Naura Jasmine Rayya dan Antasyafi Robby Al Hilmi. Naura menyumbangkan perunggu dari nomor speed putri U17 setelah mencatatkan waktu tercepat dari wakil Korea Selatan Ham Juyeon. Atlet DKI Jakarta itu mencatatkan waktu 8,96 detik, sementara lawannya 9,08 detik. Untuk medali emas dan perak speed putri U17 diraih China lewat Chunyouxuan Wang dengan 7,25 detik lebih cepat dari atlet Jepang, Natsumi Hara yang mencatat waktu 8,35 detik. Satu medali perunggu lainnya untuk Indonesia dipersembahkan oleh Antasyafi Robby Al Hilmi yang turun dalam speed putra U-19. Pada laga small final, Robby mencatatkan waktu 5,31 detik mengungguli wakil Khazakhstan Damir Toktarov yang menorehkan waktu 7,00 detik. Medali emas dan perak speed putra U19 disabet atlet Korea Selatan, Sangwon Choi, dengan wildcard setelah atlet Jepang, Haku Oishi mengalami false start. Untuk kejuaraan ini Indonesia mengirimkan 15 atlet di berbagai nomor.