BNI Tennis Open 2019, Optimisme Aldila Menuju Manila

Aldila Sutjiadi

Petenis unggulan teratas, Christopher ‘Christo’ Rungkat (29 tahun) dan Aldila Sutjiadi (24) keluar sebagai juara tunggal BNI Tennis Open 2019. Christo menjadi yang terbaik di kelompok putra setelah mengalahkan Muhammad Rifqi Fitriadi (20), sedangkan Aldila menguasai sektor putri dengan mengandaskan perlawanan Fadona Titalyana Kusumawati (19). Pada laga final turnamen berhadiah total Rp 250 juta yang berlangsung di lapangan The Sultan Hotel Jakarta, Jumat (22/11), Aldila menang 6-1 6-3, Christo unggul 6-4 6-4. Keduanya tak kehilangan satu set pun, selalu menang lewat pertarungan straight set dalam perjalanan menuju gelar juara tunggal. “Saya bermain lebih bagus, lebih agresif dibandingkan semi final. Servis pertama juga bagus sehingga bisa menekan lawan dari awal,” tutur petenis yang akan menjadi andalan Tim Merah Putih di SEA Games 2019 Filipina ini. Pada pesta olahraga antar negara Asia Tenggara itu, Dila akan tampi di nomor tunggal putri dan ganda campuran bersama juara tunggal putra BNI Tennis Open 2019, Christopher Rungkat. “Gelar ini menjadi modal berharga menuju SEA Games 2019 di Manila, Filipina. Ini menjadi lanjutan dari hasil bagus selama mengikuti turnamen internasional sebelumnya,” ujarnya. “Target? Tentu saja ingin membawa pulang medali emas dari dua nomor, singles dan mix doubles,” lanjut peraih medali emas ganda campuran Asian Games 2018 bersama Christopher Rungkat itu. Di nomor ganda, gelar juara BNI Tennis Open 2019 ini juga menjadi milik unggulan teratas. Pada sektor putra, duet kakak beradik David Agung Susanto dan Anthony Susanto memenangi laga final atas Iqbal Bilal Saputra/Wisnu Adi Nugroho 6-4 6-4. Pasangan Beatrice Gumulya/Jessy Rompies memboyong gelar juara ganda putri dengan mengandaskan Deria Nur Haliza/Fadona Titalyana 6-2 6-4. Sementara itu seusai turnamen, Rildo Ananda Anwar selaku Ketua Umum PP Pelti melepas Tim Pelatnas Tenis yang akan berlaga di pesta olahraga negara Asia Tenggara. Indonesia mengirim 10 petenis terdiri dari Christopher Rungkat, David Agung Susanto, Anthony Susanto, Muhammad Rifqi Fitriadi dan Ari Fahresi (putra) serta Jessy Rompies, Beatrice Gumulya, Aldila Sutjiadi, Rifanty Kahfiani dan Priska Madelyn Nugroho. Laga tenis SEA Games memperebutkan lima medali emas dan akan berlangsung di hard court Rizal Merorial Sport Complex di Manila, Filipina. “Kami yakin mampu memenuhi target, merebut dua medali emas tenis SEA Games 2019 dari nomor ganda campuran dan ganda putri,” tekad Rildo, yakin. Hasil Akhir Jumat (22/11) Final Tunggal Putra 1-Christopher Rungkat (Jawa Timur) v 3-M. Rifqi Fitriadi (Jawa Timur) 6-4 6-4 Ganda Putra 1-Anthony Susanto/David Agung Susanto (Jawa Timur) v 2-Iqbal Bilal Saputra (Kalimantan Timur)/Wisnu Adi Nugroho (Jawa Tengah) 6-4 6-4 Tunggal Putri 1-Aldila Sutjiadi (Jawa Timur) v 2-Fadona Titalyana (Kalimantan Selatan) 6-1 6-3 Ganda Putri 1-Beatrice Gumulya/Jessy Rompies (Jawa Timur) v 4-Deria Nur Haliza (DKI)/Fadona Titalyana (Kalimantan Selatan) 6-2 6-4

BNI Tennis Open 2019, Fadona Mengancam Kemapanan

Fadona Titalyana Kusumawati

Duel unggulan teratas bakal mewarnai laga final tunggal putri BNI Tennis Open 2019. Petenis Jawa Timur, Aldila Sutjiadi (24 tahun) yang menempati seeded pertama bakal terlibat bentrok dengan unggulan kedua, Fadona Titalyana Kusumawati (19) dari Kalimantan Selatan pada turnamen berhadiah total Rp 250 juta ini di lapangan tenis The Sultan Hotel Jakarta, Jumat (22/11). Aldila lolos ke babak akhir setelah melumpuhkan perlawanan unggulan kelima dari Nusa Tenggara Barat, Suryaningsih. Andalan tim Merah Putih di ajang SEA Games 2019 di Manila Filipina, awal bulan depan itu unggul telak dalam laga straight set dengan skor akhir 6-1 6-1. Sedangkan Fadona berhasil mengandaskan penerima junior exempt Priska Madelyn Nugroho (Papua) melalui pertarungan rubber set 6-2 4-6 7-5. “Tentu saja ingin juara lagi. Pokoknya siap berjuang semaksimal mungkin di lapangan,” tekad Fadona, petenis non-Pelatnas yang bulan lalu memboyong gelar tunggal putri sebuah turnamen nasional di arena yang sama. Mahasiswi Ekonomi Manajemen Universitas Surakarta ini juga lolos ke partai puncak ganda putri. Berpasangan dengan Deria Nur Haliza (DKI), duet unggulan keempat itu bakal menguji ketangguhan seeded teratas anggota skuad Pelatnas SEA Games 2019, Beatrice Gumulya/Jessy Rompies (Jawa Timur) setelah menyingkirkan unggulan kedua, Septiana Nur Zahiroh/Novela Rezha Millenia (Papua) 6-2 6-1. Pada semi final tunggal putra, Kamis (21/11), Muhammad Rifqi Fitriadi (20) akhirnya berhasil menyingkirkan unggulan kedua dalam laga sesama wakil Jawa Timur dan anggota skuad Pelatnas SEA Games 2019, David Agung Susanto (28) 6-7(5) 6-4 6-4. Di final, Rifqi bakal menantang seeded teratas yang juga dari Jawa Timur, Christopher Rungkat yang mengandaskan Muhammad Althaf Dhaifullah 6-4 7-5. “Ini merupakan pertemuan pertama di antara kami, dan saya akan berusaha menampilkan permainan yang berkualitas, semaksimal mungkin memanfaatkan kesempatan yang ada,” tutur Rifqi yang menempati posisi seeded keempat itu. Hasil Kamis (21/11) Semi Final Tunggal Putra 1-Christopher Rungkat (Jawa Timur) v 6-Althaf Dhaifullah (Papua Barat) 6-4 7-5 3-M. Rifqi Fitriadi (Jawa Timur) v 2-David Agung Susanto (Jawa Timur) 6-7(5) 6-4 6-4 Ganda Putra 1-Anthony Susanto/David Agung Susanto (Jawa Timur) v M. Althaf Dhaifullah (Papua Barat)/M. Rifqi Fitriadi (Jawa Timur) 2-Iqbal Bilal Saputra (Kalimantan Timur)/Wisnu Adi Nugroho (Jawa Tengah) v Aditya Hari Sasongko/Jeremy Nahor (Bengkulu) 6-4 7-6(3) Tunggal Putri 1-Aldila Sutjiadi (Jawa Timur) v 5-Suryaningsih (Nusa Tenggara Barat) 6-1 6-1 2-Fadona Titalyana (Kalimantan Selatan) v JE-Priska Madelyn Nugroho (Papua) 6-2 4-6 7-5 Ganda Putri 1-Beatrice Gumulya/Jessy Rompies (Jawa Timur) v 3-Kadek Gita Purnami (Papua Barat)/Kintan Pratiwi Anwar (Kalimantan Timur) 6-2 6-0 4-Deria Nur Haliza (DKI)/Fadona Titalyana (Kalimantan Selatan) v 2-Septiana Nur Zahiroh/Novela Rezha Millenia (Papua) 6-2 6-1

BNI Tennis Open 2019, Christo dan Aldila Masih Perkasa

Christopher Rungkat

Unggulan teratas tunggal berhasil melewati babak pembuka BNI Tennis Open 2019 di lapangan tenis The Sultan Hotel Jakarta, Senin (18/11). Pada kelompok putra, Christopher Rungkat yang kini membela Jawa Timur sukses mengalahkan wakil Jawa Tengah, Wisnu Adi Nugroho melalui laga straight set dengan skor akhir 6-4 6-1. “Tidak mudah untuk kembali bermain tunggal, karena dalam satu setengah tahun terakhir ini saya hanya fokus di nomor ganda,” tutur Christo yang kini bercokol di peringkat 97 ganda dunia. Sedangkan di sektor putri, Aldila Sutjiadi (Jawa Timur) masih terlalu tangguh bagi petenis Kalimantan Selatan, Elma Malinda. Aldila unggul dua set langsung 6-1 6-0. Pada babak kedua, Selasa (19/11), Christo bakal meladeni petenis yunior Claudio Renardi Lumanauw (DKI). Sedangkan Aldila akan menghadapi Siti Sarah (Papua Barat). Meski sebagian besar unggulan belum menemui hambatan berarti namun hasil kejutan sudah menghinggapi turnamen berhadiah total Rp 250 juta ini. Seeded ketiga tunggal putri, Anggi Dwi Hidayati (Bengkulu) harus angkat koper setelah kalah dari Monica Putri (Jawa Tengah) 6-0 1-6 3-6. Sementara di sektor putra, Jeremy Nahor (Bengkulu) yang menempati posisi seeded ketujuh dan unggulan kedelapan, Gunawan Trismuwantara juga terganjal di laga perdana. Jeremy kalah dari rekan sedaerahnya, petenis kidal kawakan, Aditya Hari Sasongko 6-2 3-6 6-7(3). Gunawan juga kandas di tangan rekan sedaerahnya, Tegar Abdi 4-6 1-6. Hasil Senin (18/11) Babak Pertama Tunggal Putra 1-Christopher Rungkat v Wisnu Adi Nugroho 6-4 6-1 Claudio Renardi Lumanauw v Owissa Maukta Annas 6-3 6-3 Rifqy Sukma Ramadhan v Indra Adhiguna Utama 6-1 6-2 Tegar Abdi v 8-Gunawan Trismuwantara 6-4 6-1 4-Anthony Susanto v Shaheed Alam (Singapura) 6-0 6-1 Achad Imam Maruf v Rizal Muzaqir 6-0 6-4 Rafly Febi Putra Tri Prasetyo v Justin Kuo 6-3 6-3 6-Althaf Dhaifullah v Ari Fahresi 6-2 7-5 Aditya Hari Sasongko v 7-Jeremy Nahor 2-6 6-3 7-6(3) Hendrawan Susanto v M. Rizky Widianto 6-1 6-0 Sebastian Dacosta v Lucky Chandra Kurniawan 7-5 6-3 3-M. Rifqi Fitriadi v Dibbyaro Hinomaru 6-0 6-0 5-Ega Uneputty v Arief Rahman5-7 6-2 3-0 ret Nauvaldo Jati Agatra v Odeda M Arazza 6-4 6-2 Rindosa Wijaya v M. Ali Akbar 7-5 6-2 2-David Agung Susanto v Tio Juliandi 6-3 3-6 6-1 Tunggal Putri 1-Aldila Sutjiadi v Elma Malinda 6-1 6-0 Siti Sarah v Irma Elita Evania 1-6 7-5 6-1 Novela Reza v Carolina Martha 6-1 6-1 8-Kadek Gita Purnama v Angie Bong 6-4 6-1 Monica Putri v 3-Anggi Dwi Hidayati 0-6 6-1 6-3 Nazwa Syamsabila v Laili Rahmawati Ulfa 7-5 6-4 Nafidiah Dwi v Raihannisa 7-5 6-4 5-Suryaningsih v Silvy Audy 6-1 6-2 6-Deria Nur Haliza v Nadya Dhaneswara 6-2 6-1 Septiana Nur Zahiroh v Ayu Maharani 6-1 6-2 Priska Madelyn Nugroho v Nisrina Dwi Fajarini 6-1 6-1 4-Oxi Gravitasi Putri v Lynelle Lim En Tong 3-6 6-4 6-1 7-Ni Putu Armini v Vita Taher 6-7(3) 6-4 6-2 Niken Ferlyana v Bella Ayu Septiani 6-2 6-0 Rara Sima Kusuma Wardani v Nur Rosida Mega 6-4 6-2 2-Fadona Titalyana v Felicia Halim 6-3 6-3  

WTA Future Stars Indonesia 2019, Bentrok Dua Unggulan Teratas

Pada babak empat besar, Kholisa menyingkirkan wakil Gresik, Hasna Raissaneva melalui pertarungan straight set 7-5 6-2.

Final ideal tercipta pada nomor tunggal 14 tahun turnamen kualifikasi Indonesia WTA Future Stars 2019. Dua unggulan teratas bakal terlibat bentrok pada partai puncak, yakni Kholisa Siti Maisaroh Maisaroh asal Kudus (Jawa Tengah) dengan Tiara Naura Nur Azizah dari Pelalawan (Riau) di lapangan tenis The Hilton Hotel & Residence Jakarta, Sabtu (31/8). “Saya optimistis bisa menang di final dan merebut tiket menuju final WTA Future Stars di China, Oktober nanti,” ujar Kholisa yang menempati unggulan pertama usai laga semi final, Jumat (30/8). “Sudah sering bertemu Tiara, hasilnya kalah menang. Namun terakhir menang pada turnamen di Jember (Jawa Timur),” imbuhnya. Pada babak empat besar, Kholisa menyingkirkan wakil Gresik, Hasna Raissaneva melalui pertarungan straight set 7-5 6-2. Sedangkan Tiara yang menempati posisi seeded kedua melaju ke laga final setelah mendepak unggulan keempat, Joanne Lynn Hartono (Bandung) 6-2 6-2. Sementara itu di kelompok 16 tahun, Jessica Christa Wirahadipoernomo harus berjuang susah payah melakoni partai semi final. Seeded ketiga itu harus kerja keras untuk menepiskan perlawanan petenis ibu kota, Felicia Halim. Jessica unggul rubber set 3-6 6-4 6-2. Pada laga final, Jessica akan menantang petenis asal Bali, Anggi Dwi Hidayati yang berhasil mendepat Aurellia Azzahra Putri (DKI) 6-2 6-1. WTA Future Stars Indonesia ini merupakan turnamen kualifikasi untuk memeilih wakil tim Merah Putih yang akan berlaga di final ajang serupa yang berlangsung di Shenzhen, China, Oktober 2019. Lebih dari 20 negara dari kawasan Asia Pasifik mengikuti perhelatan yang mengiringi panggung akhir musim bagi delapan petenis putri terbaik dunia, WTA Finals. “Setiap negara akan diwakili seorang petenis di tiap kelompok umur, baik 14 maupun 16 tahun,” tutur Direktur Turnamen, Susan Soebakti yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen PP Pelti ini. Hasil Jumat (30/8) Semi Final U-14 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v Hasna Raissaneva (Gresik) 7-5 6-2 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) v  4-Joanne Lynn Hartono 6-2 6-2 Semi Final U-16 Anggi Dwi Hidayati (Bali) v Aurellia Azzahra Putri (DKI) 6-2 6-1 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang) v Felicia Halim (DKI) 3-6 6-4 6-2 Jadwal Final, Sabtu (31/8) U-14  : 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) U-16 : Anggi Dwi Hidayati (Bali) v 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang)

WTA Future Stars Indonesia 2019, Joanne Hanya Ingin Terbaik

Petenis asal Bandung, Joanne Lynn Hartono berhasil melangkah ke semi final KU-14 tahun turnamen kualifikasi WTA Future Stars Indonesia 2019.

Petenis asal Bandung, Joanne Lynn Hartono berhasil melangkah ke semi final KU-14 tahun turnamen kualifikasi WTA Future Stars Indonesia 2019. Di perempat final, Kamis (29/8), unggulan keempat itu sukses memenangi duel Jawa Barat untuk menyisihkan Nazwa Syamsabila (Ciamis). Joanne yang bercokol di peringkat nasional (PNP) keempat itu unggul dalam laga rubber set, 4-6 7-5 6-4. Pada babak empat besar perhelatan yang digelar untuk memilih wakil tim Merah Putih pada ajang puncak WTA Future Stars di Shenzhen, China ini, siswi kelas VII SMP Tri Mulia Bandung itu bakal menantang seeded kedua, Tiara Naura Nur Azizah dari Pelalawan (Riau). “Rekor pertemuan dengan Naura, saya masih tertinggal 1-2. Namun pada pertemuan terakhir di Bantul, tahun lalu, saya berhasil mengalahkan Tiara. Tentu saja, saya ingin mengubahnya jadi sama kuat 2-2 dengan memenangi pertandingan semi final di ajang ini,” ucap Joanne di arena kejuaraan, lapangan tenis The Sultan Hotel & Residence Jakarta. Namun belia kelahiran 17 April 2007 ini mengaku tak mematok target apapun di ajang bergengsi ini. “Saat ini saya hanya ingin menampilkan permainan terbaik saja di ajang ini. Perjalanan masih panjang, saya masih bisa bermain di kelompok umur ini hingga dua tahun ke depan,” tuturnnya. Partai empat besar KU-14 lainnya, Jumat (30/8) akan mempertemukan unggulan teratas, Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) dengan kuda hitam asal Gresik, Hasna Raissaneva. Kholisa yang berperingkat nasional pertama itu melaju ke semi final setelah menang atas Bunga Nuraini (Surabaya) 6-3 6-2. Sedangkan Hasna unggul atas Fransisca Heidi Tan (Purworejo) 6-0 6-2. Pada KU-16, Jessica Christa Wirahadipoernomo menjadi satu-satunya petenis unggulan yang masih bertahan hingga semi final WTA Future Stars Indonesia setelah membekap Justmin Da Costa 6-1 6-0. Pada babak empat besar, Jessica akan meladeni tantangan non-unggulan asal DKI Jakarta, Felicia Halim yang menyingkirkan seeded kedua, Niken Ferlyana (Pati) 6-4 7-5. Wakil ibukota, Aurellia Azzahra Putri membuat kejutan menyingkirkan unggulan teratas, Rara Sima Kusuma Wardani asal Semarang. Aurel menang rubber set 2-6 6-1 7-5 untuk menghadapi wakil Bali, Anggi Hidayati di semi final. Anggi juga membuat kejutan dengan menepiskan perlawanan seeded keempat Keila Mangesti Paath (Depok) 6-0 7-5. Hasil Kamis (29/8) Perempat Final U-14 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v Bunga Nuraini (Surabaya) 6-3 6-2 Hasna Raissaneva (Gresik) v Fransisca Heidi Tan (Purworejo) 6-0 6-2 4-Joanne Lynn Hartono v Nazwa Syamsabila (Ciamis) 4-6 7-5 6-4 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) v Cylova Zuleyka Hukmasabiya (Banten) 6-2 6-3 Perempat Final U-16 Aurellia Azzahra Putri (DKI) v 1-Rara Sima Kusuma Wardani (Semarang) 2-6 6-1 7-5 Anggi Dwi Hidayati (Bali) v 4-Keila Mangesti Paath (Depok) 6-0 7-5 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang) v Justmin Da Costa (Tangerang Selatan) 6-1 6-0 Felicia Halim (DKI) v 2-Niken Ferlyana (Pati) 6-4 7-5 Jadwal Jumat (30/8) Semi Final U-14 1-Kholisa Siti Maisaroh (Kudus) v Hasna Raissaneva (Gresik) 4-Joanne Lynn Hartono v 2-Tiara Naura Nur Azizah (Pelalawan) Semi Final U-16 Aurellia Azzahra Putri (DKI) v Anggi Dwi Hidayati (Bali) 3-Jessica Christa Wirahadipoernomo (Semarang) v Felicia Halim (DKI)

Combiphar Tennis Open 2019, Jepang Kuasai Jakarta

Petenis Jepang, Jumpei Yamazaki (22)

Petenis Jepang, Jumpei Yamazaki (22) berhasil memboyong gelar juara tunggal pekan ketiga Combiphar Tennis Open 2019. Pada laga final turnamen berlabel ITF World Tennis Tour ini, Minggu (25/8), unggulan ketiga berperingkat ke-517 dunia itu mengalahkan wakil Amerika Serikat, Dusty H Boyer. Jumpei unggul straight set, 6-3 6-1. “Saya senang sekali. Ini gelar juara tunggal ITF pertama kali di luar Jepang. Sebelum ini saya telah mengoleksi gelar juara tunggal turnamen serupa ini di Kofu dan Kashiwa,” tuturnya usai laga puncak di lapangan tenis The Sultan Hotel & Residence Jakarta. Sebagai juara tunggal turnamen yang menyediakan total hadiah 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta per pekan ini, Jumpei berhak menerima 2.160 dollar AS atau sekitar Rp 30 juta dan tambahan 10 poin peringkat internasional. Kemenangan petenis yang bergegas mengikuti turnamen level Challenger di China itu mengokohkan dominasi wakil Negeri Samurai pada pekan ketiga Combiphar Open 2019. Sebelumnya, duet Jepang yaitu Hiroyasu Ehara/Sho Shimabukuro telah menyabet gelar juara ganda, Sabtu (24/8). Dalam tiga pekan turnamen bertajuk Combiphar Tennis Open 2019 ini, tuan rumah hanya mampu menyabet satu gelar juara ganda melalui pasangan gado-gado Indonesia dan Afrika Selatan, Justin Barki dan Ruan Roelofse di pekan kedua. Bahkan di nomor tunggal hasil terbaik hanyalah lolos babak kedua pekan ketiga oleh David Agung Susanto. “Persaingan tenis internasional di kelompok putra memang semakin sengit. Petenis Indonesia membutuhkan lebih banyak turnamen seperti Combiphar Tennis Open ini agar bisa bersaing dengan petenis mancanegara,” tutur Direktur Turnamen, Susan Soebakti yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen PP Pelti ini. Hasil Minggu (25/8) Final Tunggal 3-Jumpei Yamazaki (Jepang) v Dusty H. Boyer (AS) 6-3 6-1

MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2, Kejutan Luar dan Dalam Lapangan

Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Sport City Palembang, menghadirkan kejutan di dalam dan luar lapangan.

Kejutan mulai mewarnai Kejurnas Tenis Yunior bertajuk MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2 di Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Sport City, Palembang, Kamis (25/7). Petenis non-seeded asal Lampung, Andhixa Izzadin Brillian berhasil menyingkirkan unggulan teratas Kelompok Umur (KU) 14 putra, Achmad Zidan (Palembang). Peringkat nasional (PNP) ke-142 itu memenangi babak perempat final melalui laga straight set atas andalan tuan rumah, 7-5 6-2. “Inilah menariknya sebuah kejuaraan tenis, dimana perhitungan di atas kertas bisa berbeda dengan hasil di lapangan. Petenis dengan peringkat lebih rendah mampu mengalahkan peringkat yang lebih tinggi,” komentar Direktur Turnamen, August Ferry Raturandang di arena pertandingan. Namun di KU lainnya, hampir semua petenis yang menempati posisi unggulan teratas sukses bertahan di turnamen seri kedua MedcoEnergi Junior Tennis Champs yang masuk dalam kalender kompetisi resmi PP Pelti (TDP) berkategori J5 ini. Diantaranya adalah Owissa Makuta Annas dari Bangka Belitung (KU-18), Rafli Zulkarnain asal Sidoarjo (KU-16) dan wakil Musi Banyuasin, Jackquilynn Zavio A Yoza (KU-12) serta Reifan Mu’izzataya Martadiredja dari Banten (KU-10). Sementara itu muncul pula kejutan di luar lapangan yakni tidak tersedianya aliran listrik untuk menyalakan lampu penerangan di stadion tenis yang menjadi arena Asian Games 2018 itu. Sepuluh partai ganda yang telah dijadwalkan berlangsung sore hari pun terpaksa harus tertunda karena gelap mulai menyelimuti kawasan Jakabaring. “Sungguh sayang bila arena tenis yang menjadi kebanggaan Indonesia ini tidak dirawat dengan baik. Kami terpaksa menggunakan genset sebagai sumber listrik selama turnamen,” tutur pria yang akrab disapa AFR ini.

MedcoEnergi Panaskan Palembang

MedcoEnergi Junior Tennis Championships kini bergulir di Stadion Tenis Bukit Asam, Jakabaring Sport City, Sumatera Selatan.

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis Yunior berlabel MedcoEnergi Junior Tennis Championships 2 bakal memanaskan agenda olahraga di Palembang (Sumatera Selatan), 24-28 Juli 2019. Stadion Tenis Bukit Asam di Jakabaring Sport City bakal menjadi arena kejuaaraan yang masuk dalam kalender kompetisi resmi Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) ini. Perhelatan ini menggelar pertandingan tunggal dan ganda, baik putra maupun putri untuk Kelompok Umur (KU) 10, 12, 14 dan 16 serta 18 tahun. Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, merupakan tuan rumah pertama di luar Pulau Jawa setelah seri pembuka turnamen ini berlangsung di Bandung, Maret 2019. “Dengan dukungan sponsor dari MedcoEnergi ini, PP Pelti mengupayakan adanya persebaran turnamen tenis yunior mampu menjangkau hingga ke seluruh wilayah Tanah Air,” tutur Sekretaris Jenderal PP Pelti, Lani Sardadi, Rabu (24/7). “Hal ini penting sebagai sarana pembinaan dan ajang pencarian bibit baru yang berbakat serta berpotensi sebagai petenis Indonesia pada masa yang akan datang,” imbuhnya. Lebih lanjut, Sekjen induk organisasi tenis nasional ini menyatakan bahwa terpilihnya Palembang sebagai kota penyelenggara MedcoEnergi Junior Tennis Championships ini adalah karena memiliki fasilitas lapangan tenis yang sangat layak, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. “Terlebih lagi, Provinsi Sumatera Selatan ini merupakan salah satu pusat kegiatan perusahaan yang menjadi sponsor event ini, yakni PT Medco Energi Internasional Tbk. Hal ini juga untuk mengakomodir petenis yunior di wilayah Sumatera agar dapat mencicipi turnamen level nasional,” pungkasnya.

Kembar Ana dan Ani, Petenis Muda Andalan Merah Putih di ASEAN Schools Games 2019

Si kembar Ana dan Ani menjadi andalan Indonesia di ASG 2019, di Semarang, Jawa Tengah. (Kemenpora)

Nama lengkapnya Fitriana dan Fitriani, dua perempuan kembar yang biasa disapa Ana dan Ani ini menjadi salah satu atlet muda yang menjadi andalan Indonesia di cabang olahraga tenis. Salah satu ajang internasional yang akan dihadapi petenis remaja kelahiran Tangerang, Banten, 13 Februari 2001 itu, dalam waktu dekat yakni ASEAN Schools Games (ASG) 2019, di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), pada 17-29 Juli. Berawal dari melihat sang kakak si Ani bermain tenis, Ana pun mulai tertarik dan mengikuti jejak sang kakak pada usia 8 tahun. Di situlah si kembar ini mulai dilatih oleh sang ayah, Nursalim yang juga pelatih untuk mulai menggeluti dunia tenis tersebut. “Motivasi awal terjun ke dunia olahraga tenis ini karena awalnya aku memang suka tenis, terus dilatih oleh ayah. Kemudian melihat aku mainnya bagus, banyak dikenal orang, Ana jadi ikutan main. Dari awal memang kami dilatih oleh Ayah. Ayah itu sabar banget, ngerti kalau kita lagi capek, lagi kurang bagus mood-nya. Nggak pernah dipaksa, cuma disemangatin terus,” ujar Ani dikutip dari situs resmi Kemenpora, Selasa (18/6/2018). Semenjak itu, di bawah bimbingan sang Ayah mulai mengikuti sejumlah kejuaraan tenis pada nomor ganda putri. Pada usia 15 tahun, Ana dan Ani berkesempatan mendalami karir sebagai atlet junior profesional di bawah binaan PPLP (Pusat Pembinaan dan Pelatihan Pelajar) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Saat ini, si kembar Ana dan Ani sudah tercatat sebagai atlet junior lapis satu. Bakat yang dibina dan terus diasah sejak kecil akhirnya mulai menampakkan hasil yang gemilang. Pada usia 17 tahun Ana dan Ani menyumbangkan medali emas bagi Indonesia pada ajang multievent atlet pelajar ASG 2018, di Malaysia, pada nomor ganda putri. Sebelumnya, remaja kembar ini juga tercatat sebagai Finalist Double Women Circuit 15. Sampai sekarang remaja kembar tersebut mengaku masih dilatih dan terus dibimbing oleh Nursalim. Karena bagi Ana dan Ani apa yang mereka raih hari ini barulah awal dari sebuah perjuangan yang sebenarnya. Perjuangan yang lebih berat dan lebih panjang, sebab mereka memiliki cita-cita yang tinggi untuk mengharumkan nama Indonesia, khususnya melalui olahraga tenis lapangan. Sebagai salah satu langkah mewujudkan cita-cita tersebut, tahun ini Ana dan Ani dikabarkan akan kembali bertanding pada ajang ASG 2019 yang akan digelar pada Juli nanti di Semarang, Indonesia. “Kalau ASEAN School Games (ASG) mungkin persiapannya udah 90 persen ya, kebetulan 2 bulan besok (Juni sama Juli) kita juga ada tanding. Mungkin ASG itu penutupan,” tutur Ana. Hingga saat ini, keduanya konsisten untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. Ana dan Ani optimis dapat kembali menyumbangkan medali emas bagi Indonesia. Mereka mengaku bahwa sejauh ini persiapannya sudah matang, kendala-kendala selama latihan juga dapat teratasi dengan baik. Ana dan Ani menyatakan sudah siap diminta turun pada ASG 2019. Ke depannya, petenis kembar ini bercita-cita terus bermain bersama hingga go internasional. Keduanya juga berharap dapat bermain di salah satu kompetisi WTA (Women’s Tennis Association) serta menyumbangkan sebanyak mungkin medali emas untuk Indonesia.

Tito, Remaja 14 Tahun Asal Blora yang Sudah Mengantongi Segudang Prestasi di Olahraga Tenis

M. Tito Zuhda Irhami saat di JITA ketika sedang latihan

Indonesia tak akan kehabisan potensi atlet dari berbagai kota di Indonesia untuk masing-masing cabang olahraga, salah satunya olahraga tenis, ada banyak calon atlet tenis yang memiliki segudang potensi dan prestasi. Salah satunya adalah M. Tito Zuhda Irhami, remaja asal Blora, Jawa Tengah ini rela merantau ke Ibukota demi menekuni olahraga tenis. Berawal dari sang ayah yang juga memiliki hobi serupa, Tito pun mulai menjajal raket tenis di usia 5 tahun. Saat itu Tito masih menggeluti dua cabang olahraga, yakni tenis dan bulutangkis. “Dulu sebelum fokus di tenis saya main badminton juga, tapi karena papah merasa kasihan aku latihan dua kali tenis dan badminton, jadi disuruh pilih salah satu” jelas Tito. Usai memutuskan olahraga tenis sebagai hobinya, remaja berusia 14 tahun tersebut mulai fokus berlatih ketika usianya memasuki 6 hingga 7 tahun. Kejuaraan tingkat nasional yang dijalaninya pertama kali yaitu ketika berada di kota Madiun, meski hanya lolos satu pertandingan saja dan babak berikutnya harus pulang lebih cepat. Namun hal tersebut rupanya tak menyurutkan semangatnya untuk berlatih lebih giat lagi. Saat ini Tito masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sebentar lagi akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Meski masih berstatus siswa, dirinya tetap rutin menjalani latihan. “Kebetulan sekolah saya juga mendukung untuk berlatih tenis, kadang-kadang capek dan lelah juga sih. Kalau ketinggalan pelajaran biasanya nanya ke temen, tugasnya apa aja, kemarin materinya apa. Ya pinter-pinter kita cari teman lah pokoknya” ujar remaja kelahiran 8 Mei 2004 tersebut. Selama bermain di berbagai kejuaraan, Tito sempat mengalami cidera yang cukup parah, karena salah tumpuan pijakan ketika melakukan pertandingan sehingga memaksa dia untuk beristirahat sekitar 2 sampai 3 minggu. Tito mengungkapkan beberapa hal yang membuatnya nyaman dalam menekuni olahraga tenis, seperti teman-teman yang menyenangkan, dukungan dari pelatih dan juga keluarga. Keluarga dan orang tua menjadi alasan kuat bagi dirinya untuk masih bertahan dan menekuni olahraga tenis sampai saat ini, dukungan dan semangat yang terus mengalir menjadi motivasi bagi dirinya. “Target saya di tenis, semoga saya bisa lebih baik dari saat ini, dan juga bisa jadi pemain tenis nomor 1 se-Indonesia” tutupnya kepada NYSN Media. (Ham) Profil Singkat Nama : M. Tito Zuhda Irhami Tempat/Tgl Lahir : Blora, 8 Mei 2004 Nomor Ponsel : 081326915636 Media Sosial : Ig @titozuhda Alamat tinggal : Sekolah duta 5 (mess JITA) Orang Tua : Suharyanto (ayah) Nunuk Sutristianti (ibu) Anak ke 3 dari 3 saudara Pendidikan SD Tempelan Blora SMPN 1 Blora Prestasi 2018 Finalis Tunggal Putra KU 14 New Armada Cup XXII (Magelang, 8-13 Januari) Juara 3 Tunggal Putra KU 16 Totalindo Purwokerto Yunior (Purwokerto, 2-8 April) Juara 3 Ganda Putra KU 16 Totalindo Purwokerto Yunior (Purwokerto, 2-8 April) Peserta Seleknas KU 14 (Yogyakarta, 24-27 Januari) Juara 3 Tunggal Putra KU 16 Sportama Super Series (Banjarnegara, 8-12 Mei) Juara 3 Ganda Putra KU 16 Sportama Super Series (Banjarnegara, 8-12 Mei)

Si Kecil Cabe Rawit, Julukan Untuk Falen Atlet Tenis Berusia 8 Tahun

Falen, murid didik dari Jakarta International Tennis Academy.

Jakarta- Olahraga Tenis mungkin belum sepopuler olahraga lain seperti sepak bola, futsal, basket maupun badminton, meski demikan ada beberapa kalangan yang cukup menyukai cabang olahraga ini. Jakarta International Tennis Academy (JITA) adalah salah satu dari sekian banyak sekolah tenis di Jakarta yang sukses mengantarkan anak didiknya untuk bertanding di ranah nasional maupun internasional. Falen salah satunya, anak berusia 8 tahun tersebut meski terbilang usianya masih amat muda namun kemampuannya dalam memukul bola tenis di lapangan tak perlu diragukan lagi. Menurun dari hobi sang ayah yang juga menjabat sebagai pelatih tenis di JITA, sang anak justru memiliki ketertarikan dengan olahraga tenis saat usianya masih berusia 2 tahun. “Saat itu masih 2 tahun mulai penasaran dia sama raketnya, saya coba lemparkan ke anak bolanya malah dipukul. Akhirnya ketika umur 3,5 tahun baru saya kenalkan pelan-pelan, karena 2 tahun masih terlalu kecil ya” ungkap Sebastian, ayah dari Falen. Sebelum bergabung dengan JITA, Falen mulai berlatih dengan sang ayah dan kakak karena kebetulan sang kakak memiliki hobi yang sama. Mulai bergabung dengan JITA saat umurnya 3 tahun, Falen masih mengikuti latihan sesuai usia dan kemampuannya. Ketika berusia 5 tahun barulah terjun mengikuti turnamen perdananya namun sayang hanya sampai posisi Runner Up saja. “Sekitar umur 4-5 tahun mulai main di turnamen internal kita dulu, anaknya makin senang. Setelah dirasa cukup mumpuni baru terjun kejuaraan” tambah sang ayah. Saat ini anak kelahiran 1 Maret 2010 tersebut masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, namun dalam usia semuda itu Falen ternyata memiliki jadwal yang sangat padat untuk belajar di sekolah sekaligus berlatih Tenis. Selain itu oleh pihak sekolah Falen juga  mengikuti ekstrakulikuler Baske dan Renang “Bisa dibilang sangat sedikit waktu istirahatnya, tapi anaknya senang. Saya suruh istrahat malah marah-marah anaknya” tambah Sebastian. Namun yang dikhawatirkan ketika Falen akan merasa jenuh dengan segudang aktivitasnya, bahkan ketika akhir pekan Falen menghabiskan waktu 6 jam di JITA untuk berlatih, tak ayal lagi bahwa peran orang tua sangat diperlukan dalem menjaga keseimbangan aktivitas dan kesehatannya. Kerap kali sang anak diberikan multivitamin dan makanan yang bergizi agar kondisinya tetap terjaga, dengan waktu latihan dan jadwal aktivitas yang tergolong padat, agar berhasil membuahkan segudang prestasi yang dibawanya pulang. “Sejauh ini masih bisa dikondisikan, aktivitasnya saya atur agar tetap fit. Latihan pun ringan saja paling joging, skiping aja saya suruh 500 dia bisa sampai 3000 kali” ujar pelatih sekaligus ayah Falen seraya bergurau. Harapan yang disampaikan sang ayah adalah semoga Falen bisa menjaga konsistensinya hingga usia 12 tahun, agar Ia bisa bisa menjadi atlet top nasional bahkan internasional. (Ham) Profil Singkat Nama : Rafalentino Ali Da Costa Tempat/Tgl Lahir : Tangerang Selatan, 1 Maret 2010 Orang Tua : Sebastian Ali Da Costa (ayah) Dwi Komala Sri (ibu) Nomor Ponsel : 087771556829 (ibu) Anak kedua, kakak Justmin Ali Da Costa Pendidikan SD Al-Fath BSD, Tangerang Prestasi KU 8: Sportama Orange 2015 – RUNNER Up KU 10: AFR 2017 – SEMIFINAL KU 10: CBR 2017 – SEMIFINAL KU 10: Sportama 2017 – Semifinal KU 10: Thamrin Cup 2018 – SEMIFINAL KU 10:BNI 2017 – RUNNER Up KU 10:AFR 2017- RUNNER Up KU 10:AFR 2017- WINNER KU 10:CBR 2017- WINNER

Rachel, Gadis Blasteran Negri Kincir Angin Ingin Harumkan Nama Indonesia

Jakarta- Menjadi seorang atlet olahraga adalah mimpi bagi sebagian anak di Indonesia. Selain tampil di ajang event nasional, juga bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Rachel Meghan Peters, jadi salah satunya. Gadis berdarah Belanda ini menekuni olahraga Tenis sejak usia 6 tahun. Berawal dari sang ayah yang juga hobi bermain tenis, menurun kepada Rachel, sapaannya. “Hoby main tenis dari ayah, yang sering berlatih di Jakarta International Tennis Academy (JITA). Dan di JITA juga saya bertemu teman-teman baru, meski latihannya cukup berat  ,” ungkap Rachel. Dirinya rutin mengikuti latihan setiap Jumat sore usai jam sekolah, meski waktu sekolah yang cukup padat namun tak meghalangi semangatnya untuk terus berlatih. Rachel yang masih duduk di kelas 3 SMP sekolah internasional ACG School Jakarta, di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sudah memiliki segudang prestasi di level junior, seperti turnamen August Ferry Raturandang (AFR) Remaja, Sportama, hingga Mayapada. “Setelah pulang sekolah aku langsung ke tempat latihan, nanti selesai latihan, baru pulang ke rumah. Kadang capek juga sih” ujar remaja berusia 14 tahun tersebut. Namun Rachel tetap disiplin belajar dan sejenak absen mengikuti latihan, saat musim jian sekaolah tiba. Bahkan, momen akhir pekan digunakannya untuk fokus belajar di rumah. Rachel Pertama kali mengikuti turnamen saat usianya 9 tahun. Tampil di Sportama Tennis Institute Junior 2013, ia sukses menjadi juara level The Future Stars (0-10 tahun). Sejak event ini, Rachel rutin tampil di beberapa turnamen Junior kelas nasional. Target yang ingin dicapainya pun tak main-main ingin menjadi petenis nasional dan kelak tampil di ajang profesional. Rachel kini sudah tampil di turnamen Internasional ITF Junior, mengharuskan Rachel harus rutin sebanyak 2x dalam sesi kualifikasi dan Main Draw. “Kalau menang nanti mendapat poin untuk bermain di ITF Junior series, tapi kemarin aku kalah di Main Draw, dar pemain nasional Indonesia, jadi harus kembali mulai lagi,” jelas Rachel kepada NYSN Media pada Jumat (13/7) sore. Target jangka panjang yang ingin dara yang tinggal di kawasan Kemang, Jakarta Selatan ini, menjadi atlet profesional dan mengharumkan nama Indonesia di event Internasional dari cabang tenis. (Ham) Profil singkat Nama : Rachel Meghan Peters Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 6 Juli 2004 Alamat : Kemang Terusan, Jakarta Selatan Orang Tua : David Pieters (ayah) Andromeda (ibu) Anak ketiga dari tiga saudara Pendidikan Sekolah Dasar Belanda NIS SMP Academic College Grup (ACG) Prestasi KU 10: SPORTAMA 2013 – WINNER KU 10: MAYAPADA 2014 – WINNER KU 10: MAYAPADA 2014 – WINNER KU 12: AFR 2015 – RUNNER UP KU 14: AFR 2016 – WINNER KU 14: AFR 2016 – WINNER KU 12: SPORTAMA 2016 – WINNER KU 14: CBR 2017 – WINNER

Pemuda Ini Berharap Kepada Pemerintah Untuk Memperjuangkan Atlet Olahraga Tenis Indonesia

Iswandaru-Tennis

Atlet tenis berprestasi, yang merupakan salah satu siswa SMAN Ragunan (khusus olahragawan) bernama Iswandaru Kusumo Putro, awalnya mengakui tidak ada ketertarikan untuk menekuni olahraga tenis. “Saya mulai bermain tenis ketika umur 8 tahun, dulu latihannya sama bapak terus masuk club di Blora. Sebenarnya, sejak awal tidak tertarik sama sekali, tapi lama kelamaan merasa enjoy dan senang dengan olahraga ini.” ujar Iswandaru. (31/07) Semasa sekolah, Iswandaru juga merupakan murid yang berprestasi. Ia selalu memiliki nilai yang bagus dan selalu menjadi juara kelas. Hal itu menjadikan pihak sekolah juga mendukung kegiatan Iswandaru dalam olahraga tenis. “Waktu SD, saya pulang sekolah jam 5 sore, jadi waktu saya untuk berlatih tenis sangat terbatas. Apalagi ketika mengikuti pertandingan berminggu-minggu, saya harus izin sekolah. Kebetulan saya di selalu ranking 1 dari kelas 1 sampai lulus, jadi gampang kalau mau izin ikut kejuaraan atau mau latihan di siang hari pasti diizinkan. Padahal kalau teman-teman saya mau minta izin pasti sulit sekali karena sekolah saya memang keras dan sangat disiplin. Teman-teman saya sampai heran karena saya mudah mendapatkan izin dari sekolah.” tambah Iswandaru. “Namun, itu semua tetap ada syaratnya, yaitu pada saat nanti ujian nasional, nilai matematika saya harus sempurna. Dan alhamdulillah pada saat ujian nasional nilai matematika saya 100 dan menjadi ranking 1. Jadi menurut saya, tidak ada alasan ketika kita fokus pada tenis atau sesuatu hal lainnya, sekolah tetap harus diutamakan.” lanjut remaja kelahiran 6 Januari 2000 ini. Cidera juga pasti pernah dialami Iswandaru. Salah satunya ketika sedang pertandingan di Perth Australia, ketika usia Iswandaru masih 12 tahun dan diperintahkan untuk bermain dalam kelompok 14 tahun. Selain pukulannya jauh lebih kencang dan postur tubuhnya jauh lebih besar, power yang dimiliki Iswandaru juga tidak sebesar kelompok tersebut. “Karena memang saya tidak main di kelompok yang sesuai dengan usia saya, jadi sangat berbeda. Setelah itu bahu saya cidera lumayan lama, sekitar 3 sampai 4 bulan belum juga sembuh total.” ujarnya. Diakui Iswandaru, olahraga tenis termasuk salah satu olahraga yang membutuhkan modal yang cukup besar. “Bisa dibilang olahraga tenis itu lumayan mahal, butuh pertandingan yang banyak, peralatan yang tidak murah dan semua itu pasti butuh dana. Di Indonesia masih sulit cari sponsor yang mau mendanai, apalagi pemerintah juga kurang memperhatikan tenis. Jangankan saya, yang sudah ikut pelatnas saja masih susah dapat dananya.” kata Iswandaru. Iswandaru juga melanjutkan, sesekali ia berpikir bahwa ingin beralih dari menjadi atlet tenis. “Terkadang terlintas buat banting stir ke dunia akademis karena kalau dipikir, menjadi atlet tenis masih belum ada jaminan dari pemerintah, kecuali kalau juara olimpiade. Tapi tenis, kan beda, tenis itu proses, kalo mau juara dunia ya modalnya harus banyak juga, mahal, harus pertandingan keliling dunia, peralatan juga harus lengkap dan memadai. Kalau bicara juara dunia berat ya, mau biaya sendiripun sulit.” tutur Iswandaru. Berikut beberapa prestasi tenis yang telah dikantongi oleh Iswandaru: 1. Finalis tunggal putra umum kejurnas tenis cbr, jkt 21-26 Maret 2017. 2. Winner double putra umum kejurnas tenis cbr jkt 21-26 maret 2017. 3. Boys double winner AGS-V JUNIOR INTL.CHAMPIONNSHIP. Jkt, 31-05 Juni 2016. 4. Boys Double Finalis AGS- VI JUNIOR INTL CHAMPIONSHIPS, Jkt 4-9 Okt 2016. 5.Semi finalist BOY’S DOUBLE 18 & UNDER ITF JUNIOR WIJOYO SOEJONO PELINDO III -MNC GROUP 35. GROUP 5 INTERNASIONAL JUNIOR TENNIS CHAMPIONSHIP 2016 Oktober 8 -16. 6. LTF Boys Double Winner AGS-IV JUNIOR INTL CHAMPIONSHIPS. Jkt, 4-11, okt 2015. 7.Juara 1 Tenis lapangan ganda campuran POPNAS XIII JABAR. 9-18 Sept 2015. 8. Juara 3 ganda putra POPNAS XIII JABAR 9-18 Sept. 2015. 9. Juara 2 Tunggal putra Tenis Lapangan PON REMAJA I JATIM Surabaya , 9-15 Des 2014. 10. Juara 2 ganda campuran Tenis Lapangan PON REMAJA I JATIM. Surabaya 9 – 15 Des. 2014 Prestasi terbaru Iswandaru adalah beberapa minggu lalu, ia mengikuti Asean School Games di Singapore dan berhasil telah membawa pulang 2 medali perak.(crs/adt)