Pecahkan Rekor Pendahulu, Zohri Sprinter Indonesia Tercepat di Olimpiade

Pecahkan Rekor Pendahulu, Zohri Sprinter Indonesia Tercepat di Olimpiade

Zohri memang belum berhasil menyumbang medali untuk Indonesia pada Olimpiade Tokyo 2020. Pelari asal Lombok itu kalah cepat dengan atlet kelas dunia lainnya. Namun, ada rekor lain yang berhasil terpecahkan oleh Lalu Muhammad Zohri. Ia mencatat sejarah baru sebagai sprinter Indonesia tercepat di ajang Olimpiade. Zohri sukses menjadi atlet tercepat di nomor 100 meter putra di pesta olahraga terbesar sedunia tersebut. Pada babak pertama heat keempat, Zohri finis di urutan ke-5 dengan catatan waktu 10,26 detik. Lalu, siapa sajakah mantan pelari Indonesia yang mampu dilampaui rekornya oleh Zohri? Yang pertama ada nama Jalal Gozal. Pada Olimpiade Melbourne 1956, Jalal Gozal memiliki catatan waktu 11,45 detik. Kemudian berlanjut di Olimpiade Roma 1960, ada Johannes Gosal yang mencatatkan waktu 10,90 detik. Lalu, pada ajang Olimpiade Los Angeles 1984, Indonesia memiliki dua wakil di nomor 100 meter putra. Yang pertama Mohamed Purnomo dengan catatan 10,51 detik, kemudian ada Christian Nenepath yang dengan waktu 10,66 detik. Berlanjut di Olimpiade Seoul 1988, Indonesia diwakili Mardi Lestari dengan mencatatkan waktu 10,39. Masuk ke Olimpiade Sydney 2000, terdapat tiga wakil, yakni John Herman Murray mencatatkan 10,68 detik, Yanes Raubaba lebih cepat dari John, dirinya berhasil catat 10,54 detik. Lalu Erwin Heru Sutanto menempati posisi enam dengan waktu 10,87 detik. Di Beijing 2008, ada Suryo Agung yang mampu mencatatkan waktu 10,46 detik. Sementara di London 2012, ada Fernando Lumain dengan catatan 10.90 detik yang lolos ke perempat final namun finish kedelapan. Di Olimpiade Rio 2016, Sudirman Hadi terhenti di putaran pertama. Dia mencatatkan waktu 10,70 dan menempati posisi sembilan. Dengan pencapaian yang terbilang luar biasa ini, tentu saja ini bisa menjadi harapan ke depan bagi Indonesia untuk Zohri bisa tampil lebih baik lagi di Olimpiade Paris 2024, mengingat usianya yang masih sangat muda yakni 21 tahun. Sumber: Sindonews.com

FPTI Tentukan 10 Atlet Pelatnas Hasil Promosi dan Degradasi untuk Perebutkan Tiket Olimpiade 2020 Tokyo

Atlet panjat tebing Rivaldi Ode R (Bali) menjadi salah satu atlet yang disiapkan untuk memperebutkan tiket Olimpiade 2020. (FPTI)

Jakarta- Setelah melalui tahap pemusatan latihan nasional (Pelatnas) sejak awal Februari 2019 serta melakoni beberapa laga di luar negeri, tim pelatih dan manajemen Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) telah menentukan 10 atlet yang akan memperebutkan tiket ke Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Dibagian putra terpilih lima atlet yang akan mewakili Indonesia. Yakni Alfian M Fajri (Jawa Tengah), Aspar Jaelolo (DKI Jakarta), Fathur Roji (Jawa Timur), Rivaldi Ode R (Bali), dan Sabri (Kalimantan Utara). Dan dibagian putri yaitu Aries Susanti Rahayu (Jawa Tengah), Nurul Iqamah (Nusa Tenggara Barat), Fitria Hartani (Jawa Timur), Salsabila (Jawa Barat), dan Choirul Umi (Jawa Timur). Selama berlatih, para atlet ini akan didukung dua atlet sebagai sparring partner yakni Jamal Alhadad (Kalimantan Timur) dan Rahmayuna Fadillah (Daerah Istimewa Yogyakarta). Ada pula atlet yang terdegradasi yakni Temi Teli Lasa (Bali) dan mengundurkan diri yakni Agustina Sari (Jawa Tengah). Sehingg terpilih atlet berbakat dengan kriteria yang sudah ditetapkan serta terukur, misalnya catatan prestasi dan peringkat nasional. Pristiawan Buntoro, Manajer Tim Panjat Tebing Indonesia, mengatakan 10 atlet tersebut terpilih seiring berjalannya Pelatnas sejak Februari dan try out di empat seri Worldcul di Swiss, Rusia, dan China. “Pelatnas ini konsentrasinya untuk prakualifikasi Olimpiade. Laga di luar negeri kemarin untuk mengukur kemampuan para atlet setelah berlatih keras di Pelatnas,” ujar Pristiawan. Tim panjat tebing telah kembali ke Indonesia dan langsung disambung latihan yang lebih intensif. Fokus tim panjat tebing dalamberlatih adalah mempertahankan keunggulan di nomor speed, sembati memperkuat nomor lead dan boulder lantara Olimpiade Tokyo mempertandingkan nomor combined. Dijelaskannya, tiga event penentu lolos atau tidaknya telah menghadang di depan mata yakni seleksi di World Championship pada Agustus 2019, prakualifikasi Olimpade pada November, dan satu event lagi pada Mei 2020. “Untuk Agustus nanti kami bisa mengirimkan lima atlet putra dan putri untuk ikut event. Untuk single event di November ada syarat khusus yakni hanya atlet yang masuk peringkat 20 dunia di kategori speed, atau lead, atau boulder yang berhak ikut seleksi,” lanjutnya. Dan, berdasarkan peringkat dunia, baik di nomor speed world record putra dan putri Indonesia telah mengamankan masing-masing tiga dan dua atlet. Di kategori putra atlet yang masuk peringkat 20 besar dunia yakni Alfian M Fajri di peringkat lima, Aspar Jaelolo peringkat tujuh, dan Fathur Roji peringkat sembilan. Sementara, di nomor putri Aries Susanti Rahayu bertengger di peringkat empat dunia dan Nurul Iqamah di peringkat 20. (Adt)

Pertajam Rekor Nasional di Jepang, Lalu Muhammad Zohri Lolos Olimpiade 2020

Sprinter berusia 18 tahun Lalu Muhammad Zohri lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang setelah meraih medali perunggu di Seiko Grand Prix 2019, Minggu (19/5). (idntimes)

Jakarta- Sprinter muda Indonesia Lalu Muhammad Zohri berhasil lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. Torehan itu didapat setelah ia meraih medali perunggu nomor 100 meter di ajang Seiko Grand Prix 2019, Osaka, Jepang, pada Minggu (19/5), dengan catatan waktu 10,03 detik. Hasil itu sekaligus mempertajam rekor nasional (Rekornas) yang selama ini dipegangnya yakni 10,15 detik. Rekornas sendiri dipecahkan pria kelahiran Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), 1 Juli 2000 itu pada Kejuaraan Atletik Asia 2019, di Doha, Qatar, Senin (21/4). Rekor sebelumnya dipegang Suryo Agung dengan catatan waktu 10,17 detik serta bertahan selama 10 tahun. Sedangkan medali emas Seiko Grand Prix 2019 diraih Justlin Gatlin (Amerika Serikat). Sprinter dunia pemegang medali emas Olimpiade 2004 dan medali perak Olimpiade 2016 itu membukukan catatan waktu 10,00 detik. Diikuti Yoshinide Kiryu (Jepang) yang mencetak waktu 10,01 detik, dan berhak atas medali perak. Dengan prestasi gemilang yang dicetak Zohri tersebut membuat dirinya dipastikan berlaga di Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. “Lalu Zohri fix lolos ke Tokyo karena catatan waktunya di Osaka masuk limit. Limit Olimpiade itu 10,05 detik. Kejuaraan di Osaka masuk kualifikasi Olimpiade,” ungkap Hendri Firzani, Humas PB (Pengurus Besar) PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), pada Minggu (19/5). Zohri telah membuktikan dirinya mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Jika konsisten, bukan tidak mungkin, anak didik Eni Nuraeni itu berpulang memberikan medali bagi Indonesia di ajang pesta olahraga terbesar sejagat di Negeri Sakura pada 2020. (Adt)

PODSI Kirim Mayoritas Atlet Junior, Bidik Juara Umum SEA Games 2019 Filipina

Hifni Hasan (Ketua Bidang Organisasi PB PODSI), usai pembukaan Rakernas menyebut dengan menurunkan mayoritas atlet junior, cabor dayung membidik gelar juara umum SEA Games 2019. (Adt/NYSN)

Jakarta- Keinginan pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk menurunkan mayoritas atlet junior di ajang multievent SEA Games 2019 Filipina disambut positif oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI). Hal itu ditegaskan Hifni Hasan selaku Ketua Bidang Organisasi PB PODSI usai pembukaan Rakernas (Rapat Kerja Nasional) PB PODSI, di Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpera), Jakarta, pada Rabu (27/2) malam. “Kalau kami di cabang olahraga dayung untuk event seperti PON (Pekan Olahraga Nasional) yang diturunkan adalah atlet junior semua, sedangkan yang senior sudah tidak boleh bertanding. Jadi pembinaan untuk atlet junior sudah mantap dan telah kami lakukan,” ujar Hifni. Ia menegaskan dengan komposisi mayoritas atlet junior di pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara, PB PODSI membidik gelar juara umum. Di SEA Games 2019 Filipina, cabang olahraga (cabor) dayung akan memperebutkan sebanyak 18 medali emas. “Dengan adanya Rakernas ini, PB PODSI atas perintah Ketua Umum agar segenap pengurus menjadikan cabor dayung menjadi juara umum pada SEA Games 2019 dengan meraih 9 medali emas. Artinya kami akan mengambil 50 persen dari total medali yang diperebutkan,” lanjutnya. Selain prestasi tinggi di SEA Games 2019, ungkap Hifni, PODSI juga mematok target di multievent bergengsi lainnya, yakni Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang, dan Asian Games 2022 Hangzhou, China. “Kami menargetkan untuk bisa meloloskan minimal dua atlet pada Olimpiade 2020,” tambah Hifni. Lebih lanjut, mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) KOI (Komite Olimpiade Indonesia) itu, menyebut PODSI berencana memindahkan Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) cabang kano dan kayak dari Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta ke Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebagai persiapan kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020. “Lokasi Pelatnas PODSI di Pangalengan nantinya akan termasuk atlet-atlet kano dan tidak hanya bagi atlet-atlet dayung,” terangnya. Namun, Pelatnas perahu naga, menurutnya, akan tetap berada di Jatiluhur. Ia beralasan pemindahan lokasi Pelatnas cabang kano dan kayak ke Pangalengan dari Jatiluhur dikarenakan atlet-atlet kano juga membutuhkan lokasi latihan dengan ketinggian 1.500 meter hingga 2.000 meter. “Harus ada suasana latihan yang bagus bagi mereka untuk bisa mencapai prestasi,” cetusnya. Sementara itu, Budiman Setiawan, Wakil Ketua Umum PB PODSI, menyatakan selepas Asian Games 2018, Pelatnas cabor dayung terus berlanjut. “Pelatnas tidak pernah berhenti. Setelah Asian Games 2018, kami hanya libur 2 minggu, dan para atlet sudah mulai latihan lagi. Karena kami diberikan anggaran oleh Kemenpora sampai dengan akhir Desember lalu. Jadi kami manfaatkan dengan benar,” terang Budiman. Guna persiapan SEA Games 2019, Budiman menyebut pihaknya mengajukan 35 atlet untuk nomor rowing, 26 atlet nomor kano, dan 52 atlet nomor perahu naga. “Mereka ini kami siapkan sasarannya menuju Asian Games 2022. Jadi jangan sampai di Asian Games 2022 medali kurang dari pencapaian Asian Games 2018,” urainya. Dalam kesempatan itu, Hadi Muljono, Ketua Umum PB PODSI, menuturkan Rakernas ini adalah upaya untuk memantapkan persiapan menuju SEA Games 2019, Olimpiade 2020, dan Asian Games 2022. “Saya kira Rakernas ini akan menyiapkan program kerja, pelatih, dan kesiapan untuk menghadapi event-event internasional maupun nasional seperti juga PON 2020,” tukas Hadi yang juga menjabat Menteri PUPR itu. (Adt)

Pimpin PB FORKI, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto Gerak Cepat Siapkan Atlet ke Olimpiade 2020

Ketua Umum PB FORKI periode 2019-2023 Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama dengan pengurus yang baru akan bergerak cepat menyiapkan atlet ke Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. (Adt/NYSN)

Jakarta- Kongres XV/2019 PB (Pengurus Besar) Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) resmi ditutup pada Minggu (17/2), di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat.Ketua Umum PB FORKI terpilih 2019-2023, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berbaur dengan para pengurus provinsi (Pengprov) dan perguruan karate di Tanah Air. Dalam sambutannya, mantan KASAU (Kepala Staf TNI Angkatan Udara) 2017-2018 itu, mengajak seluruh Pengprov dan perguruan untuk bekerja keras dalam memajukan FORKI. Ia juga bertekad membawa organisasi ini kearah yang lebih baik, utamanya dalam prestasi, baik di kancah nasional maupun internasional. “Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta Kongres FORKI yang telah memilih saya secara aklamasi. Dan, saya juga memberikan penghormatan kepada Pak Gatot (Nurmantyo) yang telah membawa organisasi ini tampil cemerlang,” tutur Hadi dihadapan peserta Kongres XV/2019 PB FORKI. Hadi mengaku bila dirinya telah meminta doa restu kepada Gatot untuk mengemban amanah sebagai ketua umum selama empat tahun kedepan. “Saya memohon doa restu pada Pak Gatot, dan beliau mengatakan bahwa semua akan berjalan dengan baik. Semoga saya juga bisa menjalankan amanah sesuai keinginan organisasi,” lanjutnya. Pria lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1986 itu, menegaskan pihaknya bersama dengan para pengurus FORKI yang baru akan bergerak cepat dalam menyiapkan atlet menuju Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Dalam waktu dekat kami akan menyiapkan atlet menghadapi Olimpiade. Waktu tersisa hanya tinggal 532 hari, dan saya akan lakukan konsolidasi serta melihat kekurangan yang ada terlebih dahulu untuk kemudian bersama-sama mencari solusi terbaik,” tambah suami dari Nanik Istumawati itu. Guna meraih prestasi di pesta olahraga terbesar sejagat itu, Hadi mengajak semua pihak di FORKI bersama-sama berjuang dan bekerja keras demi meraih prestasi. “Semua harus bisa melaksanakan ini dengan baik. Karena saya memiliki prinsip bahwa kemenangan bisa diraih dengan persiapan diri dengan pola pelatihan yang baik,” jelasnya. Sementara itu, terkait persiapan menuju SEA Games 2019 Filipina, lulusan Sekolah Penerbang TNI AU 1987 itu, menyebut akan terus melanjutkan prestasi yang sudah diraih oleh para pengurus FORKI sebelumnya. “Saya akan terus meningkatkan kemampuan para atlet mempersembahkan prestasi tinggi bagi Merah Putih,” tukas ayah dua anak itu. (Adt)

Terpilih Aklamasi, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto Pimpin FORKI Periode 2019-2023

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto akhirnya resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) periode 2019-2023. (tribunnews.com)

Jakarta- Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) periode 2019-2023. Hasil itu merupakan keputusan Kongres FORKI XV, di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, selama dua hari, atau Jumat (15/2) hingga Sabtu (16/2). Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 November, 55 tahun silam itu, akan melanjutkan kepemimpinan Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo. Hadi diusulkan oleh 26 Pengprov (Pengurus Provinsi) dan 17 perguruan anggota FORKI. Sedianya Hadi akan hadir ke Kongres XV FORKI, namun berhalangan hadir. Ia mendapat tugas dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Semarang, Jawa Tengah. Dan rencananya Kongres XV FORKI yang semula ditutup pada Sabtu (16/2), diundur pada Minggu (17/2) pagi. Sebelumnya, usai membuka Kongres XV FORKI, Gatot menyatakan bersedia maju lagi sebagai Ketua Umum PB FORKI. Dengan syarat, ia hany bersedia jika dipilih melalui musyawarah dan mufakat. Basiruddin sebagai wakil pimpinan sidang, mengatakan kongres kali ini berlangsung lancar, dan memutuskan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Ketua Umum PB FORKI. “Beliau sebelumnya sudah setuju diusung sebagai Ketua Umum PB FORKI, sehingga Pengprov dan perguruan memberi surat rekomendasi keterpilihan Panglima TNI sebagi Ketua Umum yang baru,” ujar Basiruddin, yang juga Ketua Harian FORKI DKI Jakarta. Selanjutnya, Ketua Umum baru akan membentuk struktur kepengurusan dibantu tim formatur. “Ada formatur yang terdiri dari 4 tim, yakni 2 dari Pengprov (Pengprov DKI dan Sumatera Utara), serta 2 perguruan, yaitu KKI (Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia) dan INKANAS,” lanjutnya. “Formatur ini akan membantu Ketua Umum terpilih untuk menyusun struktur kepengurusan dalam jangka 30 hari masa kerja,” tambah Basiruddin. Sementara itu, Ellong Tjandra, Ketua Harian FORKI Sulawesi Selatan, berharap Ketua Umum yang baru dapat membawa organisasi kearah yang lebih baik serta memberikan perhatian lebih kepada pengurus daerah. “Semoga dengan kepengurusan yang baru ini, regenerasi atlet dapat berjalan dengan baik, begitu juga dengan pelatih. Selain itu, Ketua Umum yang baru bisa memberikan perhatian kepada pengurus-pengurus di daerah. Dan, kedepan prestasi FORKI harus lebih baik, bisa melebihi prestasi di Asian Games 2018,” tukas Ellong. (Adt)

Kandidat Kuat Ketua Umum Forki Periode 2019-2023, Ini Syarat Dari Gatot Nurmantyo

Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo menjadi kandidat kuat untuk menjadi Ketua Umum PB FORKI periode 2019-2023, dalam Kongres yang diselenggarakan di Hotel Peninsula, Jakarta Barat, Jumat (15/2). (breakingNews.co.id)

Jakarta- Masa jabatan Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo sebagai Ketua Umum PB (Pengurus Besar) Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) akan berakhir seiring pelaksanaan Kongres XV PB FORKI, di Ballroom Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, pada Jumat (15/2). Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah (Jateng), 13 Maret, 58 tahun silam itu, menyatakan bersedia maju lagi sebagai Ketua Umum PB FORKI periode 2019-2023, asalkan dengan satu syarat. “Saya akan maju lagi apabila dipilih secara musyawarah dan mufakat. Menurut saya kalo voting itu tidak pancasilais. Jadi kalau forum menginginkan saya untuk maju lagi, harus secara musyawarah dan mufakat. Diluar itu, saya tidak mau,” ujar Gatot yang hadir dan membuka Kongres XV PB FORKI, Jumat (15/2). Jika nanti dirinya terpilih, maka prioritas utama yang akan dijalankan mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) 2014-2015 itu, adalah menyiapkan atlet guna menghadapi pesta olahraga sejagat, atau Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Paling utama adalah menyiapkan atlet untuk Olimpiade. Sebab, menuju ke Olimpiade tidak hanya menyiapkan atlet ‘jagoan’, namun harus juga mengikuti berbagai turnamen internasional,” lanjutnya. Ia menambahkan dalam menyiapkan atlet tak hanya melakukan lewat seleksi, namun mengirimkan mereka untuk mengikuti event internasional. “Selepas Asian Games, kami kirim para atlet ke Chili, Shanghai, Spanyol untuk mereka mengikuti event internasional. Karena itu merupakan bagian dari pengumpulan poin, sehingga atlet bisa mengikuti Olimpiade. Semoga kami bisa mengirimkan minimal 3 hingga 4 atlet, dan itu minimal,” tambah suami dari Enny Trimurti itu. Kongres FORKI akan berlangsung selama dua hari, yakni pada Jumat (15/2) hingga Sabtu (16/2), dan dihadiri perwakilan dari 23 perguruan serta 24 Pengprov (Pengurus Provinsi) untuk menentukan kepengurusan baru. Dalam kesempatan itu, Mayjend TNI (Purn) Suwarno, Wakil Ketua KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat, meminta cabang olahraga karate mempertahankan sekaligus meningkatkan prestasi yang pernah diraih pada ajang Asian Games 2018, Jakarta-Palembang. “Prestasi yang minimum satu emas itu harus bisa dipertahankan, atau bahkan harus lebih ditingkatkan lagi,” tutur Suwarno dalam sambutan pembukaan Kongres. Di era kepemimpinan Gatot, Indonesia pernah menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Kadet-Junior dan U-21 di BSD (Bumi Serpong Damai), Tangerang Selatan, Banten, pada 2015. Tak hanya itu, pada Kejuaraan Dunia resmi Federasi Karate Dunia (WKF), para atlet mempersembahkan 4 medali emas. Medali emas masing-masing diraih Ahmad Zigi Zaresta (kata junior perorangan putra), Faqih Karomi (kumite kadet -70 kg putra), Ceyco Georgia Zefanya (kumite junior 59+ kg putra), dan Muhammad Fahmi Sanusi (kumite junior -76 kg putra). Sedangkan di pesta multievent empat tahunan se-Asia, lagu Indonesia Raya berkumandang oleh torehan membanggakan Rifky Ardiansyah Arrosyiid yang sukses mempersembahkan medali emas. Hasil positif ini sangat menggembirakan bagi FORKI, terlebih cabang olahraga beladiri ini paceklik medali emas setelah era Hasan Basari yang meraih medali emas pada Asian Games 2002. (Adt)

SEA Games Tak Lagi Bidik Prestasi, Menpora Tegaskan 60% Kontingen Indonesia ke Filipina Diisi Atlet Junior

SEA Games kini menjadi batu loncatan bagi atlet Indonesia menuju Asian Games dan Olimpiade. Itu sebabnya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menegaskan komposisi kontingen Indonesia ke SEA Games 2019 di Filipina, 60 persennya bakal diisi oleh atlet junior berprestasi, seperti sprinter 18 tahun asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri. (asiatimes.com)

Jakarta- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menegaskan komposisi kontingen Indonesia ke SEA Games 2019 Filipina. Sebanyak 60 persen skuat Merah Putih bakal diisi atlet junior. Komposisi antara atlet senior dan junior ke SEA Games 2019 Filipina itu sempat dilontarkan pada medio akhir 2018. Sempat menuai pro dan kontra, Imam bersikukuh, kontingen dihuni pemain muda. “Ini untuk memberikan suasana keunggulan dan kompetisi yang lebih baik lagi bagi atlet junior,” kata Imam, usai menggelar rapat persiapan Pelatnas dan Percepatan Prestasi Olahraga Nasional, Senin (7/1). “SEA Games tak lagi jadi patokan bagi Indonesia untuk juara atau menempati peringkat. SEA Games adalah batu loncatan bagi atlet menuju Asian Games dan Olimpiade,” dia menambahkan. Menpora juga memiliki pertimbangan agar atlet dan cabang olahraga bisa berfokus mencari poin ke Olimpiade 2020 Tokyo. Sebab, pengumpulan poin ke Tokyo sudah dimulai tahun ini. Lagipula, anggaran pelatnas tahun ini menurun ketimbang tahun lalu. Jika tahun lalu APBN menyiapkan dana 735 miliar kini menjadi Rp 500 miliar. Imam berharap anggaran itu juga bisa difokuskan untuk membiayai nomor pertandingan potensial medali pada Olimpiade 2020. “Ini akan menjadi kesempatan untuk nomor-nomor unggulan Indonesia menuju Olimpiade, karena terbiayai dengan baik dan dapat mengikuti sejumlah uji coba ke luar negeri,” kata dia. Kendati menginstruksikan agar kontingen didominasi atlet muda, Imam tak memberikan sanksi kepada cabang olahraga yang bandel. “Yang terpenting, pelatnas segera berjalan. Saya minta Komite Olimpiade Indonesia melakukan klasifikasi. Usai penetapan Surat Keputusan Percepatan Prestasi Olahraga Nasional akan diketahui tingkatan atlet internasional, atlet regional, dan atlet nasional, karena ada catatan mereka meraih gelar juara di mana,” ujar Imam. Menpora menambahkan nomor-nomor pertandingan dalam Asian Games 2018 yang menyumbang medali emas bagi Indonesia, akan mendapatkan prioritas untuk mengikuti kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020. Saat ini, lanjut Menpora, baru 30 persen cabang olahraga, yang mengajukan proposal kegiatan pelatnas 2019. Pada SEA Games nanti, kemungkinan ada 56 cabor yang diusulkan National Olympic Committee Filipina. Jumlah tersebut terbanyak dalam sejarah penyelenggaraan SEA Games. Dengan penambahan itu, bulu tangkis yang sebelumnya tak masuk cabor yang di pertandingan, kembali masuk. Tak hanya bulu tangkis, cabor atletik, taekwondo, karate, dan beberapa cabor unggulan Indonesia untuk mendulang emas di SEA Games, tertarik dengan ide dari pemerintah yang memprioritaskan atlet junior lebih dominan di dalam skuadnya. Sebab Indonesia sangat membutuhkan atlet muda untuk meregenerasi jangka panjang. (Adt)

Persaingan Ketat Nomor Lompat Galah, Atlet 18 Tahun Idan Fauzan Tak Diprioritaskan ke Olimpiade 2020 Tokyo

Atlet lompat galah Idan Fauzan Richsan tak diprioritaskan menuju Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang, namun akan diikutsertakan dalam SEA Games dan Kejuaraan Asia. (antara)

Jakarta- Tigor M. Tanjung, Sekertaris Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), mengatakan atlet lompat galah, Idan Fauzan Richsan, tak diprioritaskan menuju Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Menurutnya, persaingan standar lompatan di nomor lompat galah adalah enam meter. Sedangkan Idan memiliki rekor lompatan 5,30 meter. Diketahui, Idan mempertajam rekor dari 5 meter menjadi 5,30 meter, di ajang ASEAN School Games (ASG) 2018, di Stadion Mini Atletik Bukit Jalil, Malaysia, Juli lalu, dan berhak meraih medali emas. Torehan itu juga memecahkan rekornas (rekor nasional) atas namanya sendiri. Rekor sebelumnya hanya 5,20 meter yang diciptakan Idan pada kejuaraan uji coba Asian Games XVIII/2018. Sebelumnya, di Kejuaraan Atletik Asia Junior 2018, di Gifu, Jepang, Juni lalu, Idan mencetak lompatan 5,15 meter. Hasil itu membuat remaja kelahiran 1 November 2000 itu merebut medali perak. “Kami akan ikutsertakan Idan di kejuaraan lain, seperti SEA Games, maupun Kejuaraan Asia,” ujar Tigor, di Asrama PB PASI, di Kawasan Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (13/9). Diungkapkan pria berkacamata itu, saat ini pihaknya fokus memperbaiki teknik para atlet sebagai program jangka panjang Pelatnas (pemusatan latihan nasional) atletik. “Karena teknik lari cepatnya sudah baik, maka Idan hanya perlu perbaikan pada lompatan. Apalagi, ia baru berumur 18 tahun,” ungkap Tigor. (Adt)

Demi Olimpiade 2020 Tokyo, PB PASI Blusukan ke Daerah Cari Bibit Muda Potensial

Ketua Umum PB PASI, Mohammad Hasan, menyatakan akan blusukan ke daerah-daerah untuk mencari bibit muda potensial. Hal itu dilakukan demi persiapan menuju Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. (Pras/NYSN)

Jakarta- Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) bakal blusukan ke daerah-daerah untuk mencari bibit muda potensial. Hal itu dilakukan demi persiapan menuju Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Masih ada waktu 2 tahun untuk ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. Dengan sisa waktu yang ada, kami akan turun ke daerah-daerah mencari bibit-bibit muda potensial baru. Mereka nanti akan langsung kami panggil masuk Pelatnas,” ujar Mohammad Hasan, Ketua Umum PB PASI, Kamis (13/9). Apakah dengan waktu 2 tahun cukup untuk membina atlet muda? Bob Hasan, sapaan akrabnya, menegaskan sangat cukup. “Waktu 2 tahun cukup. Contohnya Lalu Muhammad Zohri. Dia kami bina sejak Oktober tahun lalu. Mudah-mudahan di daerah banyak bibit,” lanjut suami dari Pertiwi Hasan itu. Ia menyebut syarat mengikuti pesta multievent sejagat di Negara Sakura 2020 sangat berat. “Latihannya harus lebih keras. Misalnya untuk 100 meter itu harus di bawah 10 detik, dan untuk 4×100 meter perlu ditambah lagi kecepatannya. Begitu juga dengan nomor lompat. Nomor-nomor ini sementara yang menjadi andalan,” tambahnya. “Mungkin kami nanti akan tingkatkan ke nomor-nomor baru. Tapi harus kerja keras selama 2 tahun ini. Sebab, kalau tidak masuk kualifikasi Olimpiade sangat berat,” ungkap Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah (Jateng) 1931 itu. “Sehingga pertandingan yang masuk poin kualifikasi Olimpiade harus kami ikuti semua. Salah satunya kejuaraan dunia di Qatar, September tahun depan,” terang penerima Kalpataru 1997 itu. Ia menegaskan untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain, anak didiknya harus memperbaiki teknik. “Seperti bagaimana berdiri, larinya, hingga ayunan tangan. Itu yang harus diperbaiki,” imbuh Bob Hasan, di Asrama Atlet PB PASI, di Kawasan Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. “Untuk nomor jarak pendek, masih dimonopoli atlet-atlet Jamaica, sedangkan jarak jauh itu dominasi Afrika. Belum lagi harus bersaing dengan Jepang, China, dan Korea. Mereka sudah sangat maju sekarang ini,” urainya. Selain itu, ungkap Bob Hasan, para atlet akan dikirim mengikuti berbagai ajang try out (ujicoba) ke luar negeri. “Para atlet terus kami kirim mengikuti try out. Tidak hanya di kawasan Asia, tapi juga Afrika dan Eropa,” urainya. (Adt)

Bidik 30 Medali Emas, Asian Games 2018 Jadi Pemanasan Jepang Jelang Olimpiade Tokyo 2020

Chef de Mission (CdM) Kontingen Jepang, Yasuhiro Yamashita, saat berbicara pada sesi jumpa wartawan, di Media Press Center (MPC), Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (18/8). (bolapsort.com)

Jakarta- Kontingen Jepang menargetkan meraih 30 medali emas pada penyelenggaraan Asian Games XVIII/2018. Event olahraga empat tahunan ini sekaligus dijadikan ajang ujicoba Jepang menuju tuan rumah Olimpiade 2020, Tokyo. “Kami berharap mencapai target posisi ke-3 di Asian Games 2018, dengan target 30 medali emas. Sebenarnya target kami bukan disini (Asian Games), tapi Olimpiade 2020, di Tokyo,” ujar Yasuhiro Yamashita, Chef de Mission (CdM) Kontingen Jepang, di Media Press Center (MPC), Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (18/8). Pada Asian Games XVII/2014, Incheon, Korea Selatan (Korsel), Jepang finish diurutan ke tiga dalam daftar peraih medali dengann 200 medali, terdiri dari 47 emas, 77 perak, dan 76 perunggu. Jepang berada di bawah China sebagai Juara, dengan 151 emas, 109 perak, dan 85 perunggu. Diikuti Korsel 79 emas, 70 perak, dan 79 perunggu. Menurut Yamashita, terdapat beberapa cabang olahraga yang secara tradisional merupakan keunggulan Jepang pada Asian Games ini seperti judo, gulat, senam dan renang. “Kami juga memiliki potensi di cabang tenis meja, karate, sofbol, badminton, juga bisbol,” lanjutnya. Peraih emas cabang judo pada Olimopiade 1984, Los Angeles, Amerika Serikat (AS) itu, menegaskan Asian Games 2018 ini menjadi ajang ujicoba menuju Olimpiade 2020, saat Jepang bertindak sebagai tuan rumah. “Jika kami meraih hasil terbaik di Asian Games ini maka itu sangat bagus dan kami siap untuk Olimpiade 2020. Tapi, jika nanti hasilnya kurang memuaskan, maka akan menjadi bahan evaluasi untuk persiapan Olimpiade 2020,” terangnya. Ia hanya berharap para atlet Negeri Sakura bisa menampilkan performa terbaik dalam cabaang olahraga terutama yang menjadi unggulan. “Bila mereka mampu melakukannya disini (Asian Games), itu artinya kami punya tim yang menjanjikan untuk dua tahun ke depan,” cetus Yamashita. (Adt)

Legenda Bulutangkis Ingin Prestasi ‘The Minion’ Terjaga Hingga Olimpiade 2020

Legenda bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata berharap performa Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon terjaga hingga Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. (pbdjarum)

Jakarta- Sederet prestasi ditorehkan duet Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Mereka berhasil menjawab 22 tahun penantian adanya ganda putra Indonesia yang mampu menjuarai All England dua kali berturut-turut. Terakhir, sejarah itu dicatat pasangan ganda Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1995 dan 1996). Harapannya, prestasi cemerlang ‘The Minions’ terjaga hingga Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Hal itu dikatakan legenda bulutangkis Tanah Air, Christian Hadinata. “Semoga penampilan mereka tetap terjaga dan puncaknya itu di Olimpiade 2020. Asalkan, mereka mampu mempertahankan performanya seperti yang ditunjukkan saat ini,” ujar Christian, pada Rabu (28/3). Christian adalah salah satu legenda Indonesia yang juga meraih gelar All England di nomor ganda putra, secara beruntun bersama Ade Chandra, pada 1972 dan 1973. Namun, ia memberi catatan jika pertandingan seperti Olimpiade sangat luar biasa. Ditambah, Kevin/Marcus akan menjadi tumpuan Merah Putih dalam meraih medali emas pesta olahraga sejagat itu. Faktor non teknis, disebut pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 68 tahun silam itu, menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan mereka di ajang pesta olahraga empat tahun sekali itu. “Di Olimpiade, pressure mentalnya luar biasa. Atlet yang digadang-gadang meraih medali emas, malah gagal saat di Olimpiade. Contohnya, ganda Korea Selatan (Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong). Juga Lin Dan, tunggal dari Tiongkok,” ungkap peraih juara All England di nomor ganda campuran bersama Imelda Wiguna (1979). (Adt)