British Council Memberikan Kesempatan Kepada Kaum Muda Untuk Membangun Budaya Olahraga.

opening-british-council

Sepertinya masyarakat Indonesia perlu bernafas lega, pasalnya premier skill ini tidak hanya mengakomodir atlet berbakat, tetapi juga akan memfasilitasi para wasit di seluruh indonesia melalui British Council. Perlu di ketahui bahwa Premier Skill kemitraan antara liga premier inggris (premier league) dan British council yang menggunakan sepak bola sebagai alat untuk mengembangkan masa depan potensi kaum muda hingga seluruh dunia. Program ini berawal dari ketertarikan dan keahlian global liga premier inggris yang telah berhasil menyajikan ajang sepakbola bergensi di dunia, premier skills mampu mempengaruhi pendekatan kelembagaan terhadap tindakan sosial melalui sepakbola serta memberikan pelatihan langsung kepada pelatih dan wasit. Terhitung sudah memasuki usia 10 tahun program premier skills ini berjalan, dari jumlah 17.715 pelatih dan wasit yang telah mengikuti pelatihannya di 29 negara. Artinya telah berhasil menjangkau 1,5 juta kaum muda, lalu 6000 guru yang telah mendapatkan pelatihan penggunaan materi bahasa inggris, juga 6,5 juta yang sudah melihat materi online. Semua program itu di berikan secara gratis. British council merupakan wadah atau organisasi intenasional inggris dalam bidang hubungan budaya dan beasiswa pendidikan. Bekerja sama dengan 100 negara di dunia melalui seni budaya telah berhasil menyedot perhatian lebih dari 20 juta orang secara langsung dan 500 juta orang secara online. Di Indonesia sendiri para pengurus British council mengaku telah siap memfasilitasi dan membuka sebanyak banyaknya peluang kepada masyarakat. (adt)

Closing Seremoni Pelatihan Wasit Premier Skills Berlangsung Lancar Di Lapangan ISCI Tangsel.

closing-british-council

Pembinaan dan pelatihan wasit yang di lakukan oleh sebuah organisasi internasional British Council berlangsung lancar, seleksi calon wasit turut di saksikan oleh kementerian terkait dan organisasi nasional seperti PSSI. Pada kesempatan itu, kementerian pemuda dan olahraga melalui Deputi III bidang pembudayaan olahraga, DR Raden Isnanta, MPD mengatakan bahwa wasit itu adalah pemimpin. “Wasit adalah pemimpin, sebagai dirijen di lapangan. Potensi olahraga nasional dan internasional tentang sepak bola sangat besar, kami kementerian pemuda dan olahraga mengakui kekurangan wasit yang berkualitas di dalam negeri.”ujar Isnanta Selain berikan ucapan selamat kepada peserta yang sudah mengikuti pelatihan wasit, dan dirinya berharap wasit indonesia berjiwa berbagi, salah satunya berbagi ilmu. “Salah satu budaya Indonesia adalah berbagi, saya sangat mengapresiasi program Premier Skill ini sebagai wadah peningkatan mental para wasit, dan saya berharap kepada pemuda yang berhasil mendapatkan kesempatan disini semoga bisa berbagi di lingkungan masing masing.”tegas Isnanta. Sementara itu hal senada juga di ungkapkan oleh sekertaris jendral Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Ratu Tisha Destria, di tempat yang sama dia mengatakan moment ini perlu di dukung dan di kembangkan sebagai icon kebangkitan olahraga sepak bola. “Iya, secara filosofi kami di PSSI memakai cara sederhana secara gotong royong, ibarat membangun rumah alangkah lebih baik jika bersama-sama, gotong royong membangun istana nan megah sebagai cita-cita bersama.” Kata Ratu. Ratu juga menambahkan bahwa wasit itu bertugas dan memiliki kewenangan untuk menjaga keindahan dalam sebuah pertandingan. “Wasit itu selain memimpin berjalannya sebuah pertandingan, mereka juga wajib menjaga keindahan olahraga tersebut, jika di ibaratkan sebuah candi, wasit ini memiliki tujuan membangun kerajaan sepakbola, dan para wasit disini juga menjadi gawangnya.” tambah Ratu Program premier skill rutin di selenggaran sebagai bentuk konsistensi demi menjaga hubungan baik kedua negara, antara inggris dan indonesia. Lalu akhirnya tersaji pertandingan bergengsi liga premier inggris di televisi swasta di Indonesia. Acara di tutup dengan pemberian sertifikat secara klasifikasi kelas atau level kemampuan wasit secara individu, di saksikan oleh wasit senior liga Inggris Graham Laws dan juga Clive Oliver. (adt)

Kecintaan Wahyu Terhadap Olahraga Softball Membuat Dirinya Ingin Bermain Sampai Tua

wahyu-softball2

Menekuni olahraga Softball sejak SD, telah membuat Wahyu Alfiansyah mengukir berbagai prestasi. Wahyu saat ini tergabung dalam club Prambors Jakarta. Wahyu menerangkan, ia mulai menekuni olahraga softball berawal dari mengikuti jejak sang ayah yang memang merupakan seorang atlet softball. Beberapa prestasi Wahyu dan tim softballnya antara lain: 1. Atlet Nasional Indonesia 2. Medali emas dalam Porprov Lebak Banten 3. Medali perunggu dalam Porprov Serang Banten 4. Medali perak dalam Test Event Sea Games Palembang 5. Juara 1 dalam Valiant Cup Bandung 6. Juara 2 dalam Partha Cup Jogja 7. Juara 1 dalam Walikota Cup Makassar 8. Juara 2 dalam Walikota Cup Makassar (II) 9. Juara 1 dalam Altras Cup Tangerang 10. Medali perunggu dalam Asia Cup Jepang 11. World Series New Zealand 12. Juara 2 dalam Binus Cup Jakarta 13. Medali perunggu dalam Giant Cup Jakarta Sedangkan beberapa prestasi individu yang telah diraih Wahyu adalah: 1. MVP dalam ALTRAS Cup 2. The Best Hitter dalam ALTRAS Cup 3. The Best Hitter dalam Binus Cup Walaupun bukan termasuk olahraga ekstrim, tetapi Wahyu mengakui bahwa kemungkinan cidera cukup besar. Dirinya sendiri juga sudah mengalami cukup banyak cidera. “Cidera sudah banyak, seperti kuku pada jari tangan terlepas, mata terkena bola, engkel bermasalah, tulang tangan tergeser, bibir terkena bola, dan masih banyak lagi.” ujar Alumni Universitas Bina Nusantara jurusan Sistem Informasi ini. Tapi, berbagai cidera tersebut tidak akan membuatnya berhenti bermain softball. Bahkan Wahyu sudah memutuskan akan menekuni olahraga softball sampai tua. “Saya tidak pernah merasa bosan dengan softball, malah saya akan menggeluti softball sampai saya tua.” kata Wahyu. Pengalaman unik juga pernah dialami oleh Wahyu ketika mengikuti sebuah latihan softball. “Pernah disuruh jogging selama dua jam oleh pelatih. Tetapi karena sedang merasa malas, akhirnya saya dan teman-teman ramai-ramai menyetop mobil pick up dan numpang di mobil tersebut. Tak disangka akhirnya ketahuan pelatih, akhirnya disuruh mengulangi lagi joggingnya dan waktunya ditambah jadi tiga jam.” tutur Wahyu. Kecintaannya pada softball membuat Wahyu sangat ingin mengharumkan nama softball Indonesia di kancah yang lebih tinggi lagi. Sebagai bekal untuk perjuangannya menjadi atlet softball ternama, Wahyu berkata bahwa ia selalu menanamkan sikap yang baik, kedisiplinan, mau belajar dan giat berlatih, hormat kepada pelatih, tidak mudah menyerah, tidak cepat puas dengan apa yang sudah diraih dan yang paling utama baginya adalah tidak menjadi sombong. Itu pulalah pesan Wahyu untuk para calon atlet muda yang ingin berprestasi.(crs/adt)

Ambil S2 Di German, Dara Ini Ingin Menjadi Agen Perubahan Olahraga Cricket

Nurul-Cricket

Seperti layaknya olahraga baseball, olahraga cricket juga mendapatkan tempat di Indonesia, sekilas memang hampir mirip dengan olahraga softball namun perbedaannya ada dalam detail dari peralatan, peraturan, jumlah pemain, ukuran lapangan, bahkan perangkat perlindungannya pun sangat beda. Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini sangat mencintai olahraga, bernama panjang Nurul Naharis Sa’adah, telah mendedikasikan dirinya dalam bidang olahraga cricket selama 4 tahun belakangan ini dan sudah menuai banyak prestasi. Nurul, yang mengambil jurusan Pendidikan Ilmu Keolahragaan di UNJ ini, sebelumnya juga sudah pernah menekuni olahraga softball dan cukup berprestasi juga dalam cabang olahraga tersebut. “Awal ikut olahraga cricket ketika tahun 2013, saya diajak oleh senior di kampus. Sebelumnya saya sempat bergabung di softball, tetapi sekarang saya sudah bergabung di Rawamangun Cricket Club DKI Jakarta.” ujar Nurul. (27/7) Cricket merupakan jenis olahraga yang sangat seru bagi Nurul dan merupakan hal baru yang belum pernah ia coba sebelumnya. “Kalau di softball, saat kita batting itu kita putar urutan memukul bolanya, sedangkan di cricket ketika kita menjadi batter urutan top batsman, kita harus dapat bermain dengan mencetak score sebanyak mungkin selama 20 overs dalam 1 inning dan jangan out pada menit-menit awal, karena akan berpengaruh dengan perfomance individu kita. Disitulah keseruan bermain cricket.” jelas Nurul. Prestasi Nurul bersama timnya dalam cabang olahraga cricket diantaranya adalah Pra Pon 2015 (1 medali emas nomor T20, 1 medali perunggu Super 8’s) dan PON XIX Jawa Barat 2016 (2 medali emas nomor Super 8’s dan T20). “Alhamdulillah tim DKI Jakarta sekarang menjadi daerah terkuat se-Indonesia untuk nomor pertandingan Super 8’s dan T20. Sebelum PON XIX Jabar 2016, kita banyak mengikuti berbagai kejuaraan tingkat nasional dan beberapa kali menduduki peringkat pertama.” pungkas dara yang dinobatkan sebagai The Best Fielding dalam timnya tersebut. Rasa jenuh kala berlatih terus menerus dikatakan Nurul pasti pernah dirasakannya. Bahkan ia menceritakan, bahwa ia pernah ingin keluar karena merasa tertekan dengan timnya sendiri. Tetapi Nurul bersyukur masih mendapatkan dukungan dan motivasi dari keluarganya, apalagi Nurul meluangkan waktunya dengan hal yang positif yaitu berolahraga, bahkan bisa mengukir berbagai prestasi. Selalu memenangkan setiap pertandingan bukan berarti membuat Nurul dan timnya berkecil hati ketika menghadapi kekalahan, melainkan menjadikan kekalahan tersebut sebagai pelajaran untuk bisa kembali menang di pertandingan yang lain. “Sangat lucu ketika kami kalah dalam suatu pertandingan, kami semua malah tertawa dan melupakan kejadian yang sudah lewat. Walaupun kami selalu berada di posisi teratas, tetapi saat kami kalah, kami harus belajar dari hal tersebut.” kata Nurul. “Pernah 2 minggu sebelum PON XIX Jabar berlangsung, saya terpeleset saat berlatih Fielding karena kondisi lapangan yg tidak merata. Akibatnya tendon lutut saya robek. Akhirnya, saya d antar oleh junior saya untuk berobat ke fisiotherapist khusus cidera dan dalam 2 hari saya sudah bisa jogging dan berlatih seperti biasa. Mirisnya adalah ketika pelatih saya tidak mempercayai bahwa saya cidera.” lanjutnya. Nurul memiliki impian besar dalam menjadi agen perubahan olahraga Indonesia. Dirinya mengatakan bahwa ia tetap ingin menjadi atlet dan ingin mengikuti Asian Games 2018 serta ia juga masih memiliki kontrak dengan Pelatda DKI Jakarta untuk mengikuti PON 2020 di Papua nanti. “Prestasi di bidang olahraga adalah hal unik dan sesuatu yang berbeda. Apapun passion kita, tetap geluti sampai kita bisa mendapatkan achievement yang sangat luar biasa. Prestasi olahraga juga dapat membawa kamu mendapatkan beasiswa sekolah ataupun kuliah, begitupun dengan saya ketika kuliah di UNJ. Dan sekarang alhamdulillah saya akan melanjutkan pendidikan Short Course Sports Management di University Leipzig, German pada bulan September 2017 nanti dengan beasiswa dari Universitas tersebut.” tutupnya.(crs/adt)

Dari Prestasi Olahraga Basket, Tertarik Menekuni Dunia Memasak

Daffa-Basket

Atlet olahraga basket berprestasi kali ini bernama Daffa Hafara, yang sudah menggeluti basket sejak masih di bangku SMP lewat ekskul sekolahnya, dan sekarang tergabung dengan club basket Tangsel yang disebut Baliku club. Bagi Daffa, olahraga basket merupakan olahraga yang memiliki nilai kehidupan. “Dengan basket, kita juga bisa belajar tentang nilai kehidupan, misalnya dalam defense, artinya kita diajarkan untuk disiplin. Olahraga Basket juga merupakan olahraga yang mengandalkan kemampuan otak dan fisik, makanya saya tertarik.” kata remaja yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) dan akan segera melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. (27/7) Prestasi Daffa bersama timnya maupun individu adalah: 1. Juara 1 antar sekolah 2. Mengikuti Kejurda mewakili Tangsel dan Kejurnas mewakili Banten KU14 tahun 2013 3. Peringkat 2 Popda KU16 mewakili Tangsel 4. Juara 1 dalam 3 Point contest yang diadakan oleh juara.net 5. Mengikuti kejurnas KU18 mewakili Banten. Pengalaman yang tidak bisa dilupakan oleh Daffa adalah saat ia mendapatkan cidera ketika sedang mengikuti Popda. “Pada saat mengiktui Popda di Cilegon, saya mengalami cidera ankle dalam babak semifinal, akhirnya pada saat babak final saya tidak bisa melanjutkan lagi.” keluh Daffa. Remaja yang mengatakan bahwa ingin bermain basket sampai tua ini juga mengutarakan kepada NYSN bahwa dirinya belum ada rencana untuk menjadi atlet kedepannya, tetapi kalau memungkinkan dan ada kesempatan, ia akan berjuang untuk menjadi atlet profesional. Namun untuk sekarang, Daffa sedang fokus ke pendidikannya saya sebagai seorang chef. “Terus memotivasi diri untuk menjadi lebih baik, cari saingan yang mempunyai kemampuan lebih dari kita dan berusaha melampauinya, tapi jangan lupa untuk bersaing secara sehat. Ayah saya pernah berkata bahwa berlatih basket tidak boleh mengganggu waktu sekolah, begitupun sebaliknya. Jadi untuk kalian yang juga ingin jadi student athlete, kalian harus bisa membagi waktu dengan baik.” pesan Daffa.(crs/adt)

Bagi Gadis Ini, Betapa Berharganya Perjuangan Walaupun Mendapatkan Perunggu Sekalipun Dalam Olahraga Wushu

Sri-Wushu

Meningkatnya peminat olahraga wushu menandakan bahwa kebangkitan olahraga menjadi lebih siap bersaing dalam seluruh ajang internasional. Tidak hanya dari lelaki yang siap menantang lawan tanding dari negara luar Indonesia, bahkan wanita Indonesia juga sudah mempersiapkan merebut gelar juara dari negara pencetus olahraga wushu. Atlet wushu wanita, Sri Yogi Utami, merupakan atlet yang cukup berprestasi dalam bidang olahraga tersebut. Bagi Siswi kelas XI di SMAN 3 Tangerang ini, wushu merupakan olahraga beladiri yang unik. “Saya pertama kali ikut wushu sekitar tahun 2012, waktu itu masih kelas 5 SD. Saya tertarik karena perpaduan seni dan beladirinya unik dan asik.” kata Sri. (26/6) Beberapa gelar yang telah berhasil Sri koleksi diantaranya sebagai berikut: 1. Juara 1 kategori chanquan C dalam Kejurprov Banten tahun 2013 2. Juara 2 kategori nanquan B tingkat propinsi 3. Juara 4 kategori nanquan B National Open 4. Juara 1 dan juara 2 dalam Kejuaraan Kungfu Nasional di Cibubur tahun 2017 Perjalanan Sri sampai bisa berprestasi dalam olahraga wushu juga banyak menemukan halangan. Salah satunya adalah tidak direstui oleh orang tuanya. “Waktu SD sampai SMP terkadang tidak diperbolehkan ikut latihan wushu sama Bapak, tapi saya selalu menunjukan bahwa saya bisa berprestasi di bidang wushu. Sekarang, saya jadi semakin didukung sama orang tua karena prestasi saya, malah kadang suka dimarahin kalau malas latihan.” terang Sri Dalam pandangan Sri, seorang guru, orang tua serta para teman temannya merupakan pendukung yang sangat luar biasa untuk dirinya. Diakui Sri, sang guru sangat sabar mengajarinya bahkan ketika Sri sedang tidak mood untuk berlatih. Juga orang tuanya yang rela meluangkan waktu dan uang untuk Sri selama menekuni wushu serta teman-temannya yang selalu mendukung, menemani dan terus membujuknya ketika Sri mulai tidak niat berlatih. Pengalaman unik juga tak luput mewarnai perjalanan Sri selama mendampingi adik seperguruan pada saat turnamen olahraga wushu di Kota Surabaya. “Waktu itu sekitar pertengahan tahun 2014, saya ikut ke Surabaya untuk mendampingi adik seperguruan. Ketika kesana, kebetulan saya masih berada dalam tingkat wushu kelas chanquan, jadi ketika ada bazaar yang menjual senjata untuk berlatih wushu yang isinya satu set senjata panjang tombak sekaligus tasnya, saya langsung membelinya, ternyata ketika pulang dari sana saya dipindah ke kelas nanquan. Jadi tombaknya tidak terpakai dan harus beli senjata baru lagi.” kata Sri, menceritakan pengalamannya. Terkait masa depannya, Sri mengungkapkan bahwa ia ingin menjadi diplomat sekaligus atlet nasional yang bisa selalu membawa nama indonesia untuk menjadi juara dalam cabang olahraga wushu. Karena baginya, wushu sudah menjadi bagian dari kewajiban yang sudah ia tekuni sejak kecil. “Jangan pernah berhenti kalau merasa capek atau jenuh. Nikmati saja prosesnya, karena itu bisa jadi penopang dalam cerita perjalanan prestasi kita. Karena kalau tidak ada asam, sakit, jenuh, dan capek kalian tidak akan tahu betapa berharganya walau satu medali perunggu sekalipun.” tutup Sri.(crs/adt)

Impian Terbesar Hasbby Adalah Memajukan Olahraga Softball Di Banten

Hasbby-Softball

Mahasiswa Universitas Esa Unggul, Hasbby Akhmal, telah menekuni olahraga softball sejak tahun 2006 dalam ekskul Sekolahnya ketika duduk di bangku kelas 2 SMA. Sekarang, Hasbby merupakan atlet softball yang tergabung dalam Club ALTRAS yang berada di Alam Sutera. “Awal tertarik dengan olahraga softball karena saya melihat olahraga ini belum begitu populer. Jadi saya tertarik untuk mempopulerkannya.” ujar mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual semester 6 ini. (25/6) Hasbby yang sempat mendapatkan The Best Pitcher dalam ALTRAS Cup antar club Banten ini juga sudah meraih berbagai prestasi bersama tim softballnya, beberapa diantaranya adalah: 1. 2013 Timnas Peserta ISF Men’s World Softball Championship New Zealand 2. 2014 Juara 1 Partha Cup di Yogyakarta 3. 2015 Juara 1 walikota Cup antar Club makassar (club Prambors) 4. 2016 Juara 1 2nd South East Asia Softball Championship di Jedah Malaysia 5. 2017 Juara 1 ALTRAS Cup antar Club Banten 6. Juara 1 Walikota Cup Antar Club Samarinda Bermain untuk ( Club Pirates) Dari pihak orang tua, Hasbby mengakui sempat dilarang menekuni softball karena kondisi tubuh yang sempat menurun. “Orang tua dulu melarang karena melihat saya setiap pulang kelelahan dan sering sakit, jadi mereka menyarankan untuk berhenti berlatih softball. Tetapi akhirnya saya bisa menunjukan prestasi saya lewat bermain di timnas tahun 2013 dalam kejuaraan dunia di New Zealand.” kata Hasbby Lebih lanjut Hasbby juga mengatakan bahwa banyak orang disekitarnya yang sangat berperan, seperti teman-teman seperjuangannya ketika Kejurnas di Bali serta orang tua yang membuatnya semangat untuk terus berprestasi. Hasbby menceritakan bahwa ia pernah mengalami cidera yang cukup serius dan juga memiliki kenangan yang lucu selama berlatih softball. “Ketika sedang berlatih untuk persiapan PON Riau, saya pernah cidera di telapak kaki dan pinggang karena over training sampai harus rest satu minggu untuk pemulihan kondisi. Serta pengalaman lucu bagi saya ketika saya mengikuti latihan untuk persiapan PON Banten. Saya latihan fisik angkat beban untuk kekuatan tangan seminggu tiga kali. Hari ketiga saat saya mandi, saya tidak bisa mengangkat gayung dan tangan saya kram. Akhirnya saya harus mandi dibawah keran.” ungkap pemuda kelahiran 13 januari 1994 tersebut. Bagi Hasbby, olahraga softball sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Maka dari itu, Hasbby mengatakan bahwa ia mempunyai impian untuk berjuang mengumpulkan atlet-atlet muda berkualitas terutama di wilayah Banten yang memiliki skill, disiplin dan attitude yang baik agar kelak bisa menunjang prestasi untuk nama baik daerah, bangsa dan negara. “Bagi kalian yang ingin berprestasi dalam olahraga apapun, siapkan niat kalian, berusaha dengan sepenuh jiwa dan raga. Niscaya proses maksimal tidak akan mengkhianati hasil, keep fighting spirit.” tutup Hasbby.(crs/adt)

Olahraga Woodball Memberikan Peluang Bagus, Dan Minim Cidera

Vino-Woodball

Atlet bola kayu woodball bernama Alviano Surya, dirinya sudah menggeluti olahraga tersebut sejak 3 tahun yang lalu merupakan atlet yang cukup berprestasi di cabang olahraga woodball. Vino, begitu biasa ia dipanggil, tergabung dalam club Pamulang Woodball Club (PWBC). Menurut siswa kelas XI di SMAN 6 Tangsel ini, olahraga woodball memberikan banyak peluang positif untuk dirinya. “Pertama, saya tertarik karena woodball adalah olahraga baru. Kedua, saya merasa memiliki kesempatan dalam olahraga ini untuk berkembang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.” kata Vino (25/6) Vino yang juga memiliki prestasi di antaranya pernah menjadi Juara 3 Kejurnas remaja di semarang (double fairway) dan juara 2 beregu serta Juara 3 Mix Double dalam International open di Malaysia. Menurut Vino, olahraga woodball minim kemungkinan cidera yang serius. Bahkan bagi Vino, selama bisa mengikuti aturan atau arahan yang diberikan oleh sang pelatih, cidera akan sangat jarang sekali terjadi. Maka dari itu, peran pelatih terasa sangat penting bagi Vino untuk kemajuannya. Banyak pengalaman unik yang dialami Vino selama menggeluti woodball. Salah satunya terjadi pada saat ia mengikuti sebuah kejuaraan. Walaupun bukan pengalaman pribadinya, tetapi itu dapat dijadikan pelajaran oleh Vino. “Pada saat PON remaja di surabaya, ada seorang atlet Banten yang kebetulan makan udang padahal dia alergi udang. Akibatnya dia dirawat di rumah sakit sehingga terpaksa tidak bisa mengikuti event. Ada juga atlet yang bangunnya terlambat sampai akhirnya diguyur agar terbangun.” tutur Vino. Walaupun mempunyai impian menjadi atlet profesional dan terus menjadi juara di cabang olahraga woodball, Vino tetap mengutamakan kepentingan sekolahnya, karena ia menyadari bahwa ia masih mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu sampai setinggi-tingginya. “Tanpa berlatih secara rutin, dan disiplin, cita-cita menjadi atlet olahraga woodball tidak akan tercapai. Maka dari itu saya harus terus berjuang menjalankannya.” kata Vino.(crs/adt)

Tertarik Dengan Model Kostum, Adit Focus Cari Peluang Di Olahraga Softball

Aditya-Softball

Aditya Aulia Rachman, berlatih olahraga softball sejak tahun 2007 dan tergabung dalam club bernama Sriti Baseball Softball Club Surabaya. Mahasiswa jurusan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini beranggapan bahwa kostum olahraga softball keren dan memiliki peluang besar untuk berprestasi dalam olahraga ini. “Pertama kali saya tertarik dengan olahraga ini karena kostum yang dikenakan saat tanding itu keren menurut saya, dan peluang berprestasi dalam olahraga ini besar.” kata Adit Prestasi Adit dan tim softballnya sudah cukup banyak, beberapa diantaranya adalah: 1. Juara 1 dalam Kejuaraan Daerah Baseball & Softball U-30 Jawa Timur 2015 2. Juara 1 dalam Softball Putra Open Tournamen Walikota cup 2015 di Makassar 3. Medali emas dalam Pra Pekan Olahraga Nasional ke XIX 4. Juara 1 dalam Valiant Cup 2017 (Kejuaraan Softball Putra Antar Club Nasioanal) 5. Juara 1 dalam Telkom University Cup 2017 di Bandung Koleksi prestasi individu Adit dalam olahraga softball juga cukup banyak, diantaranya: 1. The Best Slugger dan The Best Hitter dalam 4th Giants Cup Men’s U-23 di Jakarta 2. The Best Slugger dan MVP Award dalam 34th Partha Anniversary 2013 National Softball Tournament di Yogyakarta 3. Golden Glove dalam Pra Pekan Olahraga Nasional ke XIX 4. Golden Glove dalam Telkom University Cup 2017 Memiliki orang tua, terutama sang ayah yang sangat mementingkan pendidikan membuat Adit selalu berusaha untuk menyeimbangkan waktu antara profesinya sebagai atlet dan kewajibannya menuntut ilmu. “Saya pernah dilarang menekuni softball karena ayah saya memang orientasi pada pendidikan harus bagus juga, jadi waktu mau pelatnas seagames 2011 saya sempat dilarang karena waktu itu kelas 3 SMA mau ujian.” ujar Adit Awal berlatih softball bukanlah hal yang mudah bagi Adit. Ia terus berjuang meskipun harus meminjam alat-alat perlengkapan softball dan bergantian dengan temannya dalam menggunakan alat-alat tersebut. “Dulu setiap kali latihan, alat-alatnya digunakan bergantian, padahal harusnya setiap orang punya sendiri-sendiri. Tetapi karena alat-alat untuk bermain softball seperti Glove misalnya, harganya cukup mahal. Lapangan pun seperti rumah kedua, ketika masih SMP setiap pulang sekolah saya langsung berangkat ke lapangan, kalau sabtu minggu dari pagi latihan bahkan sampai sore baru pulang.” tuturnya. Menurut Adit, menjadi atlet di Indonesia belum bisa menjamin kehidupannya di masa mendatang. Maka dari itu, Adit berencana akan mencari pekerjaan di bidang yang lain. “Menjadi profesional atlet di Indonesia masih bisa dikategorikan jauh jika dibandingkan dengan negara maju yang lain, yang hidupnya terjamin dengan berprofesi sebagai atlet di negaranya. Tetapi saya tetap berharap dapat terus menjadi atlet dan dapat sukses juga dalam karir pekerjaan saya. Untuk bisa berprestasi bukan soal punya bakat atau tidak, tapi soal mau berusaha keras atau tidak.” tutup Adit.(crs/adt)

Menguasai Skill Olahraga Karate, Pemudi Ini Malah Ingin Menjadi Artis

karate-reza

Setelah berhasil mengembangkan olahraga karate, negeri sakura ini yang juga mendapatkan julukan negeri matahari terbit. Yang berhasil mempromosikan tangan kosong adalah senjata ampuh dalam melumpuhkan lawan. Reza Benny Zafira adalah salah satu atlet karate yang berprestasi dan berpotensi, selain itu ia juga merupakan siswi kelas X di SMAN 2 Tangsel. Mengikuti jejak sang kakak sebagai atlet karate, Reza, sapaan akrabnya, telah mengikuti serta menjuarai berbagai kejuaraan karate, dan prestasi-prestasi tersebut antara lain: 1. Juara 3 Nasional SBY Cup 2010 2. Juara 2 Nasional SBY Cup 2012 3. Juara 1 se Jawa – Bali IPB Cup 2012 4. Juara 2 Kejuaraan nasional 2015 5. Juara 3 tingkat Provinsi O2SN 2015 6. Juara 3 tingkat Provinsi O2SN 2016 7. Juara 3 Nasional 2017 Lumban Tobing 8. Juara 2 Porprov 2017 Reza memaparkan awal ia menggeluti olahraga karate semenjak umur 5 tahun. “Saya ikut karate sejak umur lima tahun, kelas satu SD. Awalnya karena melihat kakak pertama saya, dari situ saya tertarik untuk ikut karate sampai sekarang.” ujar Reza. Reza mengatakan, dirinya sempat mengalami cidera di kakinya ketika sedang berlatih, yang menyebabkan ia tidak bisa maksimal lagi dalam berlatih karate. “Saya mengalami cidera di kaki pada saat sedang menjalankan sebuah latihan melompat. Saya sudah mengalami cidera tersebut selama kurang lebih dua tahun. Itu sangat membuat saya gampang menyerah dan ingin berhenti berlatih, apalagi saya sudah mengikuti karate hampir sepuluh tahun lamanya.” Kata Reza, yang mengakui bahwa dirinya selalu didampingi dan di semangati oleh orang tua dan pelatihnya. Reza juga memiliki cerita yang selalu diingatnya ketika mengikuti sebuah kejuaraan karate di Bali. “Ketika saya mengikuti Kerjurnas di Bali tahun 2012, kebetulan disana saya termasuk atlet paling muda yang mengikuti Kejurnas tersebut. Kebetulan juga pada saat kejurnas tersebut, banyak TNI yang menjadi peserta dari tim Banten. Jadinya saya seperti seorang anak atau adik yang disayangi oleh para TNI tersebut.” ungkap siswi kelahiran Tangsel, 13 Desember 2002 tersebut. Ketika membicarakan tentang cita-citanya, Reza mengakui bahwa ia ingin menjadi seorang artis. Tetapi jika dirinya bisa menjadi seorang atlet profesional, maka ia akan memilih profesi tersebut. “Tidak ada kesuksesan jika tidak disertai dengan berusaha dan berdoa. Jangan menyerah jika kalian belum mencapai prestasi yang kalian inginkan. Buatlah orang tua, teman-teman, sekolah dan guru bangga atas prestasi mu. Dan selalu ingat bahwa Tuhan selalu ada disamping kita.” tutupnya.(crs/adt)

Menang Melawan Sang Idola, Andre Semakin Mantap Mengikuti Jejak Seniornya Dalam Dunia Motor Cross

andriansyah-motorcross

Era saat ini merupakan masa dimana segala hal yang menantang di anggap mampu mengatasi segala ketakutan yang membayangi, namun jika di aplikasikan dengan perhitungan yang akurat akan memberikan kebanggan tersendiri saat berhasil menghadapinya apalagi untuk olahraga motor cross. Pria yang bernama Ardiansyah (22), merupakan mahasiswa di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, yang tak lain merupakan atlet balap motor cross yang sudah cukup banyak meraih piala di ajang balap motor cross. Ardhiansyah mengatakan kepada NYSN, bahwa hobbynya ini sudah di mulai semenjak umur 12 tahun “Saya memulai debut balap pada saat duduk di bangku sekolah dasar usia 12 tahun. Menurut saya olahraga balap grasstrack atau motor cross ini mempunyai tantangan yang berbeda dari olahraga balap yang lainnya.” ujar pria yang biasa dipanggil Andre ini. Berbagai prestasi yang pernah diraih oleh Andre salah satunya adalah : 1. Juara umum kategori junior, event club Noval Rb 2014, Tangsel, Banten. 2. Juara umum kategori junior, event club Liman jaya 2015, Garut, Jabar. 3. Juara umum kategori open, event club asbet 2016 pantai Carita Labuan, Banten. 4. Juara umum kategori open, event club PMM 2017, Balaraja, Banten. Dan masih ada yang lainnya. Menang balapan dari idolanya merupakan pengalaman yang paling berkesan dalam hidupnya. “Pengalaman yang paling tidak pernah bisa dilupakan yaitu ketika saya balapan motor dengan salah satu pembalap idola saya, dan saya bisa menang dari idola saya.” tutur Andre. Menggeluti motor cross selama 10 tahun belakangan ini, tentunya cidera sudah pernah dirasakan oleh Andre. “Pernah ketika latihan, saya mengalami cidera di lutut. Tulangnya bergeser, itu cidera saya yang paling parah. Tapi alhamdulillah sampai saat ini belum pernah ada kejadian seperti itu lagi dan saya harap tidak akan pernah mengalaminya kembali.” sambung Andre Pria yang juga mengakui bahwa sang ayah tidak pernah berhenti berikan dukungannya dalam hal apapun termasuk materi, akhirnya Andre semakin mantab mengikuti jejak senior senionya. “Mudah-mudahan saya bisa menjadi seperti para senior saya, dan untuk masa depan saya, mungkin saya akan bekerja di bidang yang berbeda dengan profesi saya sekarang sebagai pembalap motor. Karena untuk balapan bisa dibatasi oleh umur, tidak selamanya bisa ikut balapan. Serta perlu diketahui, semua yang saya raih itu tidak instan, butuh proses, maka dari itu, untuk teman-teman yang lain juga harus banyak berlatih agar memiliki fisik yang bagus dan kuat, karena balapan grasstrack atau motor cross ini tidak hanya memerlukan skill, melainkan perlu memerlukan fisik yang baik.” kata Andre sekaligus mengakhiri perbincangannya bersama reporter NYSN.(crs/adt)

Peran Lingkungan Menjadi Pusat Ruang Interaksi Publik

taman

Dalam pandangan saya bahwa terciptanya peran serta masyarakat terhadap rasa kepedulian merupakan tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam mengimplementasikan tehnis program secara inovatif terutama untuk lingkungan. Karena pada dasarnya tingkat kepuasan masyarakat merupakan point penting dalam target pelayanan terhadap pengelolaan anggaran yang di lakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Dari catatan tersebut bisa kita garis bawahi, bahwa sebagus apapun program yang di gulirkan oleh pemerintah, tidak akan berhasil menyentuh ke masyarakat bila tidak melibatkan masyarakat itu sendiri. Pandangan ini membuat saya aktivis lingkungan untuk turut mengangkat sebuah tulisan yang berjudul Peran Lingkungan Menjadi Pusat Ruang Interaksi Publik. Dalam hal lingkungan, saya mencoba mengaitkan dengan kebiasaan orang pada umumnya, budaya silaturahmi, bersenda gurau, hingga melakukan rutinitas menjaga kebugaran tubuh di dalam lingkungan yang sama. Pada moment ini pentingnya peran lingkungan terhadap semua isi didalamnya merupakan masalah penting yang kita perhatikan, dari mulai menjaga lingkungan, mengikuti aturan, ataupun memaksimalkan lingkungan tersebut menjadi titik sentral manusia sebagai mahluk sosial seutuhnya. Mengerucut dalam sebuah tempat yang menjadi sumber kesehatan sebuah kota wilayah yang ideal di Indonesia. Salah satunya adalah tersedia Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memadai, karena logika sederhananya adalah “Bagaimana manusianya ingin sehat bila kotanya sedang sakit, dan begitupun sebaliknya jika kota atau lingkungannya sehat, sudah pasti masyarakat di dalamnya akan ikut sehat juga.” demikian menurut saya. Tidak hanya itu fungsi dan peran lingkungan, ada catatan penting yang harus kita ingat bahwa RTH ini di percaya sebagai paru paru kota, sebuah bagian penting dalam kehidupan yang di terapkan untuk semua mahluk hidup yaitu sumber nafas yang di hasilkan oleh beberapa jenis tumbuhan besar yang di percaya dapat menyaring polusi udara dan pemanasan global (global warming) oleh karena itu, terjaganya paru paru kota di yakini sebagai bentuk keberhasilan manusia dalam meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan masing-masing. Dari pantauan saya di salah satu tempat di wilayah Kota Tangerang Selatan yaitu Taman Kota 1, Serpong BSD yang tak lain merupakan fasum fasos peninggalan pengembang perumahan yang menyediakan lahan hunian ideal, ternyata masih terjaga dengan baik hingga saat ini, dimana lahan tersebut di manfaatkan oleh warga sekitar menjadi pusat kebugaran yang menyehatkan. Sudah pasti perbedaannya sangat jelas dengan konsep kebugaran alami, jika banyak pusat kebugaran yang ada saat ini selalu memakai konsep indoor itu untuk kebugaran tubuh, bukan untuk mendapatkan prioritas tersedianya udara yang sehat. Dalam hal ini saya juga tidak menganggap bahwa pusat kebugaran tubuh indoor itu tidak sehat, karena bicara kesehatan adalah alami (natural organic), tercipta dari alam dan kembali bersama alam. Terlepas dari hal tersebut, bahwa Taman Kota bisa di maksimalkan lagi menjadi ruang interaksi publik, dimana marwah manusia sebagai mahluk sosial ini mendambakan sebuah tempat ideal para komunitas, yang berbaur dari satu dengan yang lainnya. Dan dari pantauan saya, Taman Kota belum berhasil menjadi tempat percontohan kebangkitan olahraga, kesenian, budaya, perdagangan seperti yang dambaan masyarakat pada umumnya menuju tempat ideal ruang interaksi publik. Kita dapat belajar dari kebiasaan orang pada umumnya, bahwa generasi yang menyukai olahraga sangat kecil kemungkinan orang tersebut menggunakan barang kimia berbahaya, seperti narkotika dan obat obatan berbahaya (NARKOBA). Karena pada umumnya jika seseorang menggunakan narkoba biasanya cenderung malas, ataupun kata lain yang sering di sebut dalam pelaku narkoba adalah “ngefly”. Alangkah baiknya fungsi taman kota bisa di ramaikan lagi dengan aktifitas lain semua komunitas, seperti komunitas fotography, pencinta lingkungan, ataupun komunitas penyayang hewan, para pelaku UMKM, sampai menjadi tempat wisata murah bagi setiap keluarga sehat. Secara tidak langsung, jika maksimalisasi tempat tersebut berhasil di terapkan, niscaya sarana publikasi menyeluruh dari masyarakat mengangkat nama besar tempat ataupun kota itu mendapatkan pengakuan kota yang sehat secara nasional bahkan internasional. Terbatasnya ruang interaksi publik ini dapat kita cirikan ketika banyaknya kegiatan olahraga yang di kampanyekan oleh pemerintah dengan cara mengajak memfungsikan lahan baru yang bukan peruntukannya menjadi ruang interaksi publik, seperti program rutin “car freeday”. Program ini berlatar belakang dari menjaga lingkungan sehat sampai dengan mengajak masyarakat supaya turut berolahraga dalam program tersebut. Secara otomatis, tempat yang semula menjadi sarana infrastruktur kendaraan berubah sekejap menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam berolahraga sekaligus menjadi pusat masyarakat berinteraksi dan bersilaturahmi. Menjaga lingkungan tidak harus dengan cara ikut turut dalam kegiatan tersebut, tapi juga dengan menilai bahwa program yang sedang di jalankan adalah positif bagi kelangsungan lingkungan ideal. Lalu bagaimana menurut pembaca NYSN? Karena runtuhnya sebuah lingkungan bisa saja terjadi, apabila semua lapisan masyarakat tidak melakukan aksi sukarela kepedulian terhadap lingkungannya masing-masing. Di susun oleh : Tb Ardhiansyah, Wk Ketua Bid Sosial & Politik Dewan Pengurus Agung (DPA) Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI), dan Redaktur Pelaksana nysnmedia.com.

Gadis Belia Ini Menjadi Atlet Balap Motor Wanita Sejak Di Bangku Sekolah Dasar.

Daara-balap-motor

Olahraga ektrsem yang satu ini banyak menuai protes karena dampak negatifnya di luar lintasan, padahal balap motor sesuai standart memakai pelindung khusus dapat melatih reflek dan memacu adrenaline dan memberi kepuasan tersendiri bagi penggilanya. Dara aulia Bahrudin merupakan salah satu atlet balap motor wanita, ia juga terdaftar sebagai siswi kelas 3 di SMP Puspita Bangsa, Tangsel. Remaja yang lahir di Tangerang,19 Oktober 2001 ini sudah menggeluti olahraga ekstrim tersebut sejak duduk di bangku kelas 6 SD atau ketika ia berusia 12 tahun. “Saya tertarik dengan olahraga balap motor ini karena jarang wanita yang bisa atau mau mempunyai hobby seperti ini.” tutur Dara. Beberapa prestasi yang sudah di raih oleh Dara diantaranya: 1. Juara 2 brackt 9 detik Drag Bike Lampung 2. Juara 4 Brigif Cimahi MTC 130 3. Juara 3 kelas 155 wanita di Cicangkal Dara menuturkan, bahwa sang ibunda sempat melarangnya berlatih balap motor, karena Dara sendiri juga baru pertama kalinya mahir menyetir kendaraan roda dua tersebut. Tetapi karena memang sudah menjadi hobby, akhirnya sang ibunda mau tidak mau mengizinkan. Dan juga karena Dara bisa berprestasi dalam bidang olahraga tersebut, akhirnya sampai sekarang sang ibunda mendukungnya untuk terus berlatih. Dara juga mengakui, bahwa ia pernah merasa tidak percaya diri dengan postur tubuhnya dan ingin mengundurkan diri dari olahraga balap motor. Tetapi sang ayah terus mendukungnya sampai akhirnya Dara bisa berprestasi seperti sekarang. “Saya pernah terjatuh tetapi tidak pernah ada rasa trauma. Justru hal tersebut bisa menjadi motivasi agar lebih semangat dan lebih baik lagi.” kata Dara. Ketika di tanya soal cita-citanya, Dara menjawab bahwa saat ini ia masih menekuni berlatih balap motor. “Cita-cita sih ada, tapi untuk saat ini masih suka di motor, masih hobby.” jawabnya. Gadis belia ini juga berpesan kepada pembaca NYSN, bahwa semangat berlatih adalah sumber motivasinya. “Intinya belajar yang rajin dan jangan takut gagal, karena kegagalan yang sesungguhnya ada pada saat kita menyerah. Pokoknya semangat terus.” pesan Dara.(crs/adt)

Ke Luar Negeri Gratis, Haekal Jadikan Tenis Menjadi Ajang Silaturahmi Antar Atlet.

Tenis-Haekal-

Tenis lapangan yang sangat identik dengan lapangan outdoor terkenal dengan sebutan olahraga musim panas, dan jika hujan terpaksa pertandingan ataupun latihan di tunda hingga lapangan kering. Seperti yang sudah di paparkan NYSN sebelumnya bahwa tenis ini merupakan olahraga yang di lakukan oleh para bangsawan dunia. Haekal Ramadhan, adalah salah satu atlet tenis yang baru saja lulus dari SMAN 116 Ragunan, ia sudah menggeluti olahraga tersebut sejak usia 6 tahun. “Saya ikut berlatih tenis dari umur 6 tahun. Berlatihnya di Sri Utaminingsih Tennis School yang pada tahun 2004 berubah nama menjadi Yayuk Basuki Tennis Akademi. Mulai tertarik karena semasa kecil saya sering diajak oleh ayah saya untuk melihat tante Yayuk bermain tenis.” kata Haekal. Haekal telah mengumpulkan banyak prestasi dari olahraga tenis, beberapa diantaranya yaitu: 1. Juara 1 ganda putra ITF juniors AGS (5) 2016 2. Juara 2 ganda putra ITF juniors AGS (6) 2016 3. Juara 3 ganda putra ITF widjojo soedjono Surabaya 2016 4. Medali Perak beregu ASEAN school games 2016 Chiang Mai Thailand 5. Medali perunggu ganda putra ASEAN school games 2016 Chiang Mai Thailand Lewat kegiatan berlatih tenis, Haekal mengakui bahwa ia menjadi lebih sehat baik dari sisi jasmani maupun pergaulan, apalagi di zaman seperti sekarang ini. Keluarganya juga sangat mendukung karena berlatih tenis merupakan kegiatan yang sangat positif. “Pengalaman yang berharga, sih, bisa keluar Negeri gratis, terus bisa kenalan dengan para atlet dari negara lain. Bahkan terkadang bisa naksir.” ujar Haekal sambil tertawa. Bagi pria humoris ini, semua orang disekitarnya sangat berperan dalam mendukung perjuangannya. “Yang pasti Allah SWT, lalu orang tua saya yang tidak lelah memotivasi saya untuk lebih dan lebih lagi dalam berlatih, juga pelatih saya dan sahabat-sahabat saya.” imbuhnya. Menurut Haekal, rasa jenuh yang terkadang datang menghampiri pikiran harus bisa dikalahkan dengan kembali memberikan motivasi untuk diri sendiri, dan selalu mengingat bahwa sudah banyak orang yang berjasa dan berkorban dalam perjuangannya sampai bisa berprestasi sekarang ini. Remaja yang sedang menunggu pengumuman di Universitas Islam Negeri (UIN) tersebut mengatakan kepada NYSN bahwa ia akan fokus kuliah dulu sebagai bekal untuk masa depannya. “Saya realistis dengan keadaan Indonesia sekarang yang bisa dikatakan masih kurang memperhatikan para atlet, jadi saya memilih untuk kuliah terlebih dahulu.” kata Haekal. Ia melanjutkan, untuk teman-temannya yang sedang berjuang dalam meraih prestasi, bahwa harus berlatih keras dan mempunyai komitmen yang kuat. “Ya, berlatih keras dan memiliki komitmen kuat jika memang ingin berprestasi dan membanggakan keluarga di kancah Provinsi, Nasional bahkan tingkat Internasional.” tutupnya.(crs/adt)

Manfaat Kesehatan Yang Didapat Saat Berolahraga Panahan

Olahraga panahan di pandang sebagai olahraga statis oleh sebagian orang, namun nyatanya atlet pemanah atau pemanah kompetitif benar-benar membutuhkan sejumlah besar kekuatan, ketahanan, dan fokus untuk optimal saat pertandingan berlangsung. Jika Anda tidak mengenal dengan olahraga ini, maka Anda akan terkejut untuk mengetahui ada banyak manfaat kesehatan yang ditimbulkan. Selain bermanfaat bagi tubuh, panahan juga dapat meningkatkan kesehatan mental Anda. Yuk langsung kita liat apa sih manfaat olahraga panahan dibawah ini. 10 manfaat berolahraga panahan Berikut adalah 10 manfaat dalam berolahraga panahan, yaitu: Meningkatkan kangkasan tangan dan mata, serta keseimbangan. Meningkatkan fleksibilitas tangan dan jari. Membangun kekuatan tubuh. Meningkatkan kesabaran. Meningkatkan fokus. Membangun kepercayaan diri. Merupakan olahraga sosial. Merupakan bentuk latihan kebugaran. Merelaksasi tubuh. Merupakan olahraga yang dapat dimainkan semua orang. Lima hal yang dibutuhkan dalam olahraga panahan Dalam olahraga panahan ada hal-hal yang harus di perhatikan saat melakukannya, Berikut adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh olahraga panahan, sehingga memberikan manfaat-manfaat yang ada di atas, yaitu: 1. Kekuatan tubuh bagian atas Menarik busur memberikan tekanan pada kedua otot tangan, serta otot dada, bahu, dan punggung. Sama dengan mengangkat beban, tekanan ini biasanya ditahan selama beberapa detik sebelum pemanah melepaskan string untuk melontarkan panah. Dengan terus melakukannya, tekanan saat menarik dan melepaskan busur dapat meningkatkan perkembangan otot di area otot utama tubuh bagian atas. Tingkat perkembangan tergantung kepada jumlah waktu yang dihabiskan untuk berlatih dan bertanding. 2. Keseimbangan Keseimbangan penting untuk keberhasilan pada saat memanah, contohnya Anda harus bisa menahan tubuh untuk membidik dan melepaskan busur. Berlatih memanah dapat membantu Anda untuk memberikan kontrol atas keseimbangan Anda ketika memfokuskan diri untuk membidik target. Semakin banyak Anda berlatih, semakin otot inti Anda terbiasa untuk menyeimbangkan tubuh dan menjaga Anda tetap stabil saat membidik dan melepaskan panah. 3. Koordinasi Koordinasi tangan dan mata merupakan keperluan penting untuk memanah. Olahraga panahan dapat melatih tangan Anda untuk bekerja sama saat melakukan tugas yang berbeda, seperti membidik dan melepaskan panah sesuai dengan pengamatan mata. Semakin sering Anda berlatih, maka akan semakin baik koordinasi Anda. Meningkatkan koordinasi ini akan menghasilkan pembidikan yang lebih akurat dan juga dapat membantu Anda dalam olahraga lainnya. 4. Berjalan Selama pertandingan, pemanah dapat berjalan sejauh 8 km dan bergerak dari sisi ke sisi saat melakukan tugas memanah. Meskipun banyak aktivitas berjalan dalam selang waktu yang pendek, namun efek kumulatif dari berjalan di seluruh pertandingan dapat meningkatkan kesehatan jantung, otot, dan kekuatan kaki. Anda akan mendapatkan beberapa manfaat bahkan selama latihan, karena Anda akan banyak menghabiskan waktu berjalan untuk mengambil kembali panah yang telah dilepaskan. 5. Fokus Fokus adalah hal yang paling penting untuk mendapatkan kesuksesan sebagai seorang pemanah. Selain itu, mengembangkan fokus juga dapat memiliki dampak positif pada kesehatan mental dan kesejahteraan. Semakin Anda fokus terhadap target Anda, maka semakin mudah bagi Anda untuk menjernihkan pikiran, serta berhasil dalam latihan maupun kompetisi. Fokus dapat membantu Anda menipiskan kekhawatiran di luar panahan dan juga akan membantu Anda untuk lebih fokus pada tugas. Belajar tetap fokus dengan olahraga panahan pastinya juga akan mengatasi gangguan. Pertimbangan sebelum memulai bermain panahan Panahan adalah olahraga yang mengutamakan aktivitas fisik, namun banyak orang yang tidak berpartisipasi masih meremehkan olahraga memanah. Karena ini termasuk olahraga yang berat, maka ada baiknya untuk berkonsultasi pada dokter terlebih dahulu sebelum memulai latihan, terutama apabila anda memiliki penyakit. Memakai alat pelindung sangat dibutuhkan, seperti pelindung lengan, jari dan dada dapat melindungi dari luka akibat terkena tali busur atau yang lainnya. Pelajari bentuk dan teknik panahan yang tepat dari pelatih yang berkualitas, untuk mengurangi kemungkinan cedera saat memanah. Jika Anda mengalami rasa sakit yang tajam atau tiba-tiba di bahu, lengan, siku, dada, atau punggung, anda harus segera berhenti untuk mencegah cedera otot. (hs)

Zara Menjadi Satu-Satunya Peserta Perempuan Dalam Perlombaan Motor Cross

motor cross zarra

Olahraga ekstreem motor cross sangat identik dengan komunitas atau club trail, selain untuk menjalin persaudaraan olahraga ini sangat membutuhkan respon cepat atau dapat melatih reflek gerakan. Saking kuatnya persaudaraan yang terjalin bahkan ada pemahaman bahwa “satu jalur saudara selumpur”. Lagi lagi wanita mengambil bagian dalam olahraga motor cross, dia adalah siswi kelas 8 di SMPN 02 Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, bernama lengkap Claudya Azzahra (13) menggeluti hobby olahraga yang cukup ekstrim untuk anak seusianya. Sejak kelas 3 SD, pelajar yang akrab dipanggil Zara ini sudah berlatih motor cross. “Aku ikut olahraga tersebut sejak duduk dibangku kelas tiga SD dan sudah bergabung dengan beberapa club. Awalnya memang hobby dan bagiku olahraga tersebut memacu adrenalin.” ungkap Zara. Berikut beberapa prestasi yang berhasil di rebut Zara diantaranya: 1. Juara ke-3 race day gasstrak mini moto sirkuit Cipondoh 17 mei 2015 2. Juara ke-4 kelas khusus decal AMS sirkuit pelopor curug 17 agustus 3. Juara ke-3 Mini Moto Modifikasi pembinaan 10th dalam kejuaraan gasstrak gms cup 2014 4. Juara ke-4 pelajar 15th bersama gasstrak & adventure 5. Juara ke-2 mini moto lokal di circuit parigi Walaupun olahraga ini masih jarang dimainkan oleh anak perempuan seusianya, remaja yang berharap dapat menjadi orang sukses ketika dewasa ini juga mempunyai impian dapat membawa nama Indonesia keluar Negara lewat olahraga motor cross. Bahkan, Zara juga menceritakan bahwa ia kerap kali menjadi satu-satunya anak perempuan yang mengikuti kejuaraan tersebut. “Kebanyakan lawanku anak laki-laki. Jarang ada perempuan, makanya aku sering di anggap tomboy.” kata Zara. Zara juga menceritakan, bahwa sampai sekarang ia tidak bisa melupakan sebuah kejadian ketika sedang mengikuti pertandingan dalam sebuah kejuaraan. “Saat aku mengikuti kejuaraan di sirkuit Curug pelopor, tiba-tiba angin dan hujan bertiup kencang. Sehingga kami satu tim basah kuyup dan hampir sebagian perlengkapan untuk balapan hilang karena terbawa arus air ujan. Tapi meskipun begitu, aku tetap melanjutkan balapan.” ujar Zara. Zara juga menambahkan, bahwa ia pernah mengalami cidera yang cukup serius. “Pada saat mengikuti salah satu lomba, saya terjatuh dan mengalami cidera pinggang yang cukup serius. Rasanya sakit sekali sehingga saya tidak bisa melanjutkan race di babak berikutnya.” tutur Zara. Zara menutup perbincangan dengan NYSN dengan sedikit memberikan saran dan masukannya kepada pembaca NYSN “Jangan pernah mengeluh dalam situasi apapun dan jangan pernah menyerah.” tutup pelajar kelahiran Tangerang, 17 Januari 2004 tersebut.(crs/adt)

Ingin olahraga Dayung Merakyat, Prima Ajak Masyarakat Tangsel Bergabung Di Podsi

prima-olahraga-dayung

Olahraga tertua dalam olimpiade ini masih menjadi daya tarik para remaja pecinta olahraga air. Bergerak bersamaan, mendorong perahu, mengayuh terhadap air di percaya dapat melatih semua otot utama dalam tubuh. Pria bernama lengkap Prima Bara Abdurahman merupakan pelatih olahraga dayung di club dayung PODSI Tangsel. Prima telah menggeluti olahraga dayung sejak kelas 2 SMA dan mulai memiliki beberapa prestasi dalam olahraga tersebut ketika di bangku kuliah. “Saya menggeluti olahraga dayung ini sejak kelas 2 SMA dan mulai ada prestasinya di jenjang perkuliahan karena sudah mulai fokus pada cabang olahraga ini. Pertama kalinya, saya tergabung dalam klub dayung universitas negeri jakarta UNJ.” kata Prima. Prima mengatakan kepada NYSN bahwa awalnya ia merupakan atlet voli, namun postur tubuhnya kurang mendukung. “Awalnya saya dulu atlet voli, tapi karena postur saya dalam olahraga voli kurang tinggi, saya akhirnya diajak oleh salah satu guru untuk mengikuti olahraga dayung, dan ternyata olahraga ini banyak sekali tantangannya serta tidak semudah yang dilihat dan dipikirkan.” lanjutnya. Beberapa prestasi yang telah diraih Prima selama menjadi atlet dan pelatih antara lain: 1. 1 medali emas dan 1 medali perak dalam Kejurnas antar Mahasiswa 2. 1 medali emas dalam Kejurnas di makasar 3. Mendampingi atlet Banten di PON Jawa Barat kemarin bersama rekan sesama oelatih dayung Bapak Abdul Gofur dan atlet tersebut mendapat 2 medali perak dan 1 medali perunggu Awal berlatih dayung, Prima mengatakan bahwa keluarganya melarang untuk menggeluti olahraga tersebut, tetapi mimpi dan motivasi Prima dari kecil memang ingin sekali menjadi atlet. Prima juga menceritakan, bahwa selama berlatih dayung, ia memiliki sebuah pengalaman yang berharga ketika melakukan latihan dengan membutuhkan banyak waktu. “Pengalaman yang paling berharga pastinya pada saat menjadi juara, tetapi ada pengalaman paling berharga dan sangat berkesan, yaitu pada saat dalam sebuah latihan, logikanya kita lomba sekitar 1.45 sampai 2 menit dalam menempuh jarak 500 meter, tapi latihannya untuk mencapai itu butuh waktu mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Bisa dibayangkan para atlet dayung berlatih seperti itu. Setiap pagi, siang dan sore berada di danau. Dan itu hal yang paling berkesan ketika proses menjalankan latihan karena butuh perjuangan yang keras.” ujar Prima. Diakui Prima, kedua orang tua, istri dan anak-anaknya, serta guru yang pertama mengenalkan dayung padanya adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam hidupnya dan dalam perjuangannya menuju sukses di bidang olahraga dayung. Semasa menjadi atlet dayung, Prima pernah mengalami berada dalam titik jenuhnya bahkan sempat membuatnya frustasi. “Pernah suatu ketika saya drop karena sakit dan waktu itu saya harus menyelesaikan tugas kuliah, juga harus berlatih dayung. Dan butuh proses yang lama untuk memulihkan kondisi tubuh saya. Ternyata badan saya. Saat itu saya merasa ada titik jenuh dan merasa frustasi karena memikirkan saya bisa mengejar lagi ketinggalan saya atau tidak. Disitu pula mental saya sebagai seorang atlet diuji. Pengaruh pelatih juga sangat penting pada saat atlet terpuruk untuk memotivasi kembali agar atlet bisa bersemangat.” tutur Prima. Prima juga menuturkan, untuk saat ini dirinya berkeinginan untuk memasyarakatkan olahraga dayung, khususnya di Kota Tangerang Selatan dan wilayah Provinsi Banten agar bisa menjadi barometer untuk daerah lain dalam cabang olahraga dayung. “Kepada masyarakat Kota Tangerang Selatan, terutama para siswa dan siswi, jika kalian berminat mengikuti olahraga ini silahkan bergabung dengan PODSI Tangsel dan mari kita berlatih bersama dan torehkan prestasi setinggi-tingginya. Karena olahraga dayung ini adalah salah satu olahraga andalan Indonesia.” tutup Prima.(crs/adt)

Pertama Kalinya Ikut Turnamen Hockey, Jemmy Di Bantai Dengan Score 9-0

jeremy-hockey

Berada dalam jarak tembak yang sudah di sepakati dalam aturan permainan hockey, olahraga yang satu ini membuat berbeda dari yang lain, tidak asal menembak dari jauh, tetapi harus masuk terlebih dahulu dalam circle lawan. Adalah Jemmy Ananda, yang merupakan siswa kelas 12 SMA Dharma Karya merupakan atlet muda di bidang olahraga hockey. Sejak tahun 2015 saat kelas 10, Jemmy mulai mengikuti ekskul hockey yang ada di sekolahnya. “Pertama ikut berlatih hockey kerena penasaran karena di daerah Tangsel peminatnya masih sedikit.” ujar Jemmy. Walaupun kejuaraan yang diadakan belum terlalu banyak, Jemmy mengatakan bahwa ia ingin terus berjuang dalam meraih prestasi di bidang olahraga hockey dan membanggakan sekolahnya, tempat ia mengenal olahraga tersebut pertama kalinya. Dan ia juga berharap dapat bermain mewakili Tangerang Selatan untuk Porprov 2018. “Saya memang menyukai olahraga. Kalau bosan latihan sering tapi tetap semangat supaya dapat berprestasi lebih baik lagi.” tutur siswa yang sempat mencetak 6 goal dalam turnamen di kejuaraan ISTN Jakarta. “Pengalaman yang tidak bisa dilupakan itu saat pertama mengikuti turnamen di STIE, tim saya dibantai sampai 9-0.” lanjut Jemmy. Tapi hal tersebut tidak akan membuatnya berkecil hati, karena Jemmy dan timnya selalu mendapatkan support dari pelatih dan kepala sekolah mereka. Jemmy sendiri juga selalu didukung oleh orang tuanya, meskipun dikatakan Jemmy, bahwa awal mengikuti hockey, orang tua Jemmy sempat melarang. Cidera ringan seperti luka di tangan dan kaki bagi Jemmy adalah hal yang masih dalam batas wajar. Karena perjuangan memang tidak selalu dilewati hanya dengan jalan yang mulus. Atlet binaan KONI Tangsel ini tetap mengandalkan sang pencipta dalam semua hal yang dilakukan juga selalu diingat oleh Jemmy. “Tetap semangat dan jangan pantang menyerah. Percaya sama diri kita sendiri dan yang paling penting jangan lupa untuk tetap mengandalkan Tuhan.” kata Jemmy.(crs/adt)

Pria Ini Beralih Dari Futsal Dan Terjun Ke Bola Basket Karena Pointnya Banyak

abram-basket

Dalam pertandingan olahraga bola basket selain untuk berusaha memasukan bola dengan sebanyak banyaknya, tehnik yang paling populer adalah istilah slam dunk, slam dunk ini yang tak lain adalah cara memasukan bola dengan telak pada jarak dekat pas di bibir ring. Mahasiswa Universitas Esa Unggul semester 2, bernama Abramd Nathan Soedjono sudah menyukai olahraga basket sejak kecil, dan mulai menekuni olahraga bola basket semenjak kelas 2 SMP. “Dari kecil saya memang suka dengan olahraga. Namun bukan berawal dari basket melainkan futsal. Karena dulu saya memiliki postur badan yang cukup tinggi, maka saya diajak buat main basket. Yang membuat saya tertarik dengan bola basket karena ada kepuasan tersendiri kalo bisa scores. Basket itu kan points nya banyak. Selain itu, basket juga bisa membuat saya mengenal banyak orang. Pertama kali saya tergabung di club Gading Muda dan itu bertahan sampai saya umur delapan belas. Sekarang, saya tergabung di club GSBC untuk kategori divisi satu.” ujar Abram, yang juga mengakui bahwa ketika bermain bola basket ia merasa tidak ada beban serta bisa berekspresi di lapangan tanpa halangan. Berikut adalah beberapa prestasi Abram bersama tim nya antara lain: 1. Peringkat 3 SEABA U18 mewakili Indonesia 2. FIBA U18 mewakili Indonesia 3. DBL Allstar 2014 dan 2015 4. Juara 1 PON remaja mewakili Jakarta 5. Peringkat 2 Kejurnas U16 mewakili Jakarta 6. Peringkat 3 POPWIL mewakili Banten 7. peringkat 1 POPDA mewakili Tangerang Selatan Abram mengakui bahwa semula kedua orang tuanya tidak mendukung dirinya dalam menekuni olahraga basket. Dan ia terpaksa melanjutkan hobbynya secara diam diam. “Kedua orang tua saya pada mulanya sangat tidak mendukung, karena khawatir pendidikan akademis saya akan terganggu dan masalah resiko cidera yang parah. Jadi awalnya saya diam-diam ikut club bola basket ini. Lama kelamaan karena timbul prestasi demi prestasi akhirnya mereka malah support banget, sampai melebihi espektasi saya sendiri.” Tutur Abram, yang juga telah mendapat prestasi individu yakni MVP di Saint John’s Cup, Top Scorer di Saint John’s Cup dan JRBL First team. Kejadian lucu juga pernah dialami Abram selama menggeluti olahraga basket. “Jadi, waktu itu ada kejuaraan 3 lawan 3. nah kejuaraan ini diselenggarakan ketika bulan puasa. Saya dan teman-teman saya ikut jadi peserta lomba karena kebetulan sedang hari libur juga. Ketika mau tanding, ternyata jadwal tandingnya itu di atas jam 12 malam. Jadi event tersebut diadakan agar orang-orang bisa langsung sahur. Yang bikin lucu, ketika giliran kita bertanding bawaannya menguap terus dan mata sudah terasa berat. Soalnya ngantuk banget, jadi main basketnya lemas. Tapi syukurlah di pertandingan tersebut kita juara. Kita pulang jam 6 pagi. Tapi karena sudah menang, rasa ngantuk dan lelah jadi lupa. Itu pengalaman yang sangat lucu karena bertanding basket di luar jam normal.” cerita Abram. Diakui Abram, tanpa pelatih basketnya, yaitu Agung Christianto, ia tidak akan bisa seperti sekarang ini. “Karena yang mengajak saya ke club basket itu, ya coach Agung. Disamping itu, tetap orang tua saya yang paling berperan dalam perjuangan saya meskipun awalnya mereka tidak support. Tapi dalam setiap situasi mereka selalu ada disamping saya.” kata Abram. Abram juga mengatakan kepada NYSN, bahwa ia selalu berlatih dengan rasa senang. Jadi, walaupun sering timbul rasa bosan, itu tidak akan berpengaruh untuknya. Abram menuturkan, bahwa ia tetap akan mencari pekerjaan lain untuk masa depan. “Saya pribadi ingin buat fokus masa depan saya yaitu memiliki pekerjaan di luar basket. Karena menurut saya, basket belum bisa untuk menghidupi saya kedepannya. Mungkin basket ini hanya untuk saya menambah network link pertemanan saya dan jadi punya wawasan yang luas.” jelas Abram. Ia juga melanjutkan dengan berpesan kepada pembaca NYSN, jangan malu untuk bertanya kepada orang yang sudah lebih dahulu berhasil dan menjalani setiap proses dengan senang hati. “Untuk orang-orang yang ingin berprestasi, kalian harus bisa keluar dari zona nyaman. Setiap keputusan yang sudah dipilih, harus ditekuni dan yang pasti bekerja keras untuk bisa mencapai goal kalian. Jangan bergantung dengan orang lain, kalian harus punya mindset bahwa kalian bisa lebih dari orang lain. Dan jangan lupa untuk selalu belajar dari orang yang lebih jago. Dalam artian jangan malu untuk bertanya atau mencontoh orang yang lebih jago. Jangan jadikan sebagai beban, namun kamu harus menikmati setiap prosesnya karena kamu sudah berkomitmen.” tutup mahasiswa kelahiran Jakarta, 29 Januari 1998 ini.(crs/adt)

Cabor Senam beri Kejutan di Hari Kedua ASG 2017

Muthia Nur Cahya (Tengah) atlet Senam Sumbang Emas di Asean School Games (ASG) 2017 di Singapura, Minggu (16/7) (Foto: Kemenpora)

Cabang olahraga senam memberi kejutan pada hari kedua terselanggaranya ASEAN School Games (ASG) 2017, Singapura, Minggu (16/7). Target awal hanya medali perunggu, namun senam artisik Indonesia memberi kejutan dengan berhasil meraih satu medali emas melalui atletnya Muthia Nur Cahya yang turun di nomor meja lompat yang digelar di Stadion Bishan, Singapura. Pencapaian Muthia itu membuat cabor senam melampaui target mereka di ASG 2017 Singapura ini. Ia menyingkirkan Vietnam (perak) dan Malaysia (perunggu). Hasil ini sungguh tidak disangka karena dalam kualifikasi sehari sebelumnya, Muthia hanya berada di peringkat kelima. Manajer tim senam Indonesia di ASG 2017, Dian Arifin menyatakan bangga terhadap pencapaian para atlet. Para Atlet menunjukkan semangat yang sangat besar dibuktikan dengan kemenangan yang melampaui target dengan memperoleh medali emas. “Muthia bermain sempurna dan dia masih muda (16 tahun), tapi tahun depan bisa diproyeksikan masuk senior dengan pembinaan lanjutan untuk go internasional yang dipersiapkan untuk SEA Games atau Asian Games. Semoga kemampuannya bisa terus meningkat,” ujar Dian, Kepala bidang pembinaan dan prestasi PB Persani, seperti yang dilansir dari suara pembaruan, Minggu (16/7). Selain Muthia, atlet lain yang mengantongi medali emas di hari kedua ialah Paolo Hernandez (bowling single putra) serta Idan Fauzan Richsan (cabang atletik nomor lompat tinggi galah putra dengan lompatan setinggi lima meter), bahkan lompatannya memecahkan rekor ASG. Hasil mendali yang diperoleh pada hari kedua pelaksanaan ASG 2017, Minggu (16/7) adalah delapan emas, enam perak, Lima perunggu dari berbagai cabang olahraga yang dipertandingkan pada hari kedua ASG 2017. Total keseluruhan Perolehan sementara mendali yang telah di kumpulkan oleh kontingen Indonesia yaitu: 13 emas, 12 perak dan 11 perunggu yang membuat Indonesia berada di peringkat kedua klasemen sementara, di bawah Thailand dengan 14 emas, 11 perak dan 13 perunggu. Posisi ketiga tuan rumah Singapura dengan 12 emas, 14 perak dan 15 perunggu.