Jelang Kejurnas Anggar Pada November, IKASI DKI Jaya Gelar Kejurprov 27-28 Oktober

Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi) DKI Jaya di bawah komando Ketua Umum Suradji periode 2018-2022 yang terpilih dalam Musprov, segera menggelar Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) pada 27-28 Oktober. (tribunnews.com)

Jakarta- Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi) DKI Jaya di bawah komando Ketua Umum yang baru, Suradji, periode 2018-2022 yang terpilih dalam Musprov, segera menggelar Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) pada 27-28 Oktober. Ketua Pengprov Ikasi DKI Jaya, Suradji mengatakan tujuan kejurprov ini digelar yakni  persiapan kejuaraan nasional (Kejurnas) pada 1-7 November yang akan berlangsung di Jakarta, dan ajang seleksi atlet pelatda menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua. “Kami harus bergerak cepat, karena kami harus mempersiapkan atlet menghadapi kejurnas yang waktunya sudah dekat. Selain itu, kami harus menggelar pelatda menghadapi PON 2020 mendatang,” kata Suradji, di sela-sela Rapat Persiapan Kejurprov di Jakarta, pekan lalu. Kejurprov mempertandingkan nomor, pra-kadet U-12-14 tahun (foil), kadet 14-17 (foil, EP, saber) putra-putri, yunior 17-20 tahun semua nomor, senior 20 tahun ke atas semua nomor. Sementara untuk pembinaan, akan dilangsungkan nomor usia dini di bawah 12 tahun, khusus untuk nomor foil. Sekretaris Umum Pengrov Ikasi DKI Jaya, Ganefiono mengatakan, diharapkan prestasi para atlet DKI Jaya menjadi barometer daerah lainnya. Ia juga mengatakan, khusus untuk Kejurprov ini, atlet SEA Games dan Asian Games, mendapat fasilitas wild card dalam kejurnas nanti. “Selama ini Ikasi DKI Jaya belum memberikan kontribusi yang maksimal untuk DKI Jaya maupun nasional. Namun, dengan kepengurusan baru ini prestasi akan lebih baik. Dan mudah-mudahan permintaan Ketua Umum Ikasi Pusat, agar DKI Jaya menjadi barometer bisa terjawab,” paparnya. (Adt)

Makasar Sukses Pertahankan Gelar Juara Kejurprov NPC Sulsel

makassar-kembali-jadi-juara-umum-paralympic-se-sulsel

Nasional Paralympic Committee (NPC) Sulsel sukses menggelar ajang Kejuaraan Provinsi (Kerjurprov) Sulawesi Selatan, (30/12) lalu. Sebanyak 135 atlet dari 15 kontingen atlet kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan berpartisipasi dalam ajang Kejurprov bagi para penyandang difabel. Terdapat delapan cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan, yakni atletik, tenis meja, bulu tangkis, catur, show down tunanetra, angkat berat, panahan, dan renang. Kontingen Makasar kembali sukses merengkuh juara dan menobatkan mereka sebagai juara bertahan, dengan perolehan medali 14 medali emas, 11 perak, dan lima perunggu. Diikuti oleh Kabupaten Bantaeng yang berada di posisi kedua dengan perolehan 14 emas, empat perak, dan delapan perunggu. Di posisi ketiga bercokol kontingen Maros dengan perolehan 11 emas, tujuh perak, dan enam perunggu. Ketua NPC Sulsel, Sonny Sandra, dalam sambutannya saat menutup Kejurprov Sulsel di GOR Sudiang, Makassar, mengucapkan selamat kepada kontingen Makasar. “Selamat kepada NPC Makassar yang menduduki juara umum dan tidak ada yang pecahkan rekornya. Bantaeng sukses mempertahankan posisinya dan di posisi ketiga, Maros yang berhasil menyalip Sinjai, ” katanya, seperti dikutip okezone.com. Lanjutnya, pagelaran ini diluar ekspetasinya. Karena, jumlah atlet dan juga tim kabupaten maupun kota terus meningkat. “Tadinya saya prediksi hanya 11 kabupaten/kota yang mengikuti. Tapi, Alhamdulillah mencapai 15 kabupaten/kota. Kemudian atlet yang tadinya saya prediksi hanya sekira 120-an ternyata naik sampai 135 atlet. Ini saya mengapresiasi teman-teman di daerah, dengan keterbatasannya tetap menghadiri acara ini,” ujar Sonny yang juga menjadi ketua panitia penyelenggara kompetisi ini. Sonny juga berharap, ajang ini sebagai pencarian atlet berbakat yang ada di Sulsel. Dengan begitu, akan lebih mudah membina atlet-atlet yang berpotensi membawa nama Sulsel di kancah Nasional. “Karena itu diharapkan kepada NPC kabupaten/kota untuk mencari bibit-bibit muda agar bisa berprestasi hingga ajang nasional,” terangnya. Adanya Kejurprov NPC ini menjadi ajang pemanasan jelang pelaksanaan Pekan Paralympic Provinsi (Pepaprov) di Kabupaten Pinrang 2018. Sementara Official NPC Makassar, Alam Raya, mengapresiasi usaha para atletnya untuk memberikan prestasi yang gemilang bagi Makasar. “Saya berbangga kepada atlet-atlet saya karena mampu memberi prestasi gemilang untuk Makassar,” tukas Alam. (pah/adt)

Perserosi Sidoarjo Kembali Targetkan Juara Umum di Kejurprov 2018 di Tuban

perserosi-yakin-pertahankan-juara-umum-kejurprov-sepatu-roda-radar-surabaya

Setelah sukses menggenggam predikat juara umum pada ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) yang berlangsung di Malang. Kini, Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Sidoarjo kembali menargetkan untuk mempertahankan juara umum Kejurprov 2017 di Tuban. Sekretaris Perserosi Sidoarjo, Masunu mengatakan, para atlet rencanannya akan diikut sertakan dalam semua kategori. Maka dari itu, Perserosi akan intens melakukan seleksi atlet. “Saat ini kami masih proses seleksi,” ujarnya, seperti dikutip oleh Radar Surabaya. Sejumlah persiapan sudah mulai dilakukan akhir tahun ini. Meski banyak kendala fasilitas yang harus dihadapi oleh para atlet dalam hal latihan, tidak menurunkan semangat para atlet untuk berlatih pagi dan sore hari. Selain itu, Perserosi harus berbagi waktu dengan para pedagang di sekitar GOR Sidoarjo dan membuat waktu latihan berkurang. Namun, target juara umum terus ditancapkan Perserosi Sidoarjo. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin,” pungkasnya. (pah/adt)

NPC Sulawesi Selatan Gelar Kerjurprov Paralympic Bagi Atlet Difabel

difabel atlet

Guna mempersiapkan para atlet difabel di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) menghadapi event-event di tahun 2018 mendatang. National Paralympic Commite (NPC) Sulsel menggelar Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Paralympic, pada 29-30 Desember mendatang. Pada pelaksaan Kejurprov Paralympic kali ini, akan menggunakan dua venue yakni di Mattoanging serta di GOR Sudiang dan akan memperlombakan delapan Cabang Olahraga (Cabor) diantaranya atletik, angkat berat, bulutangkis, catur, renang, tenis meja, tenis meja tunanetra, dan Panahan. Ketua Panitia Kejurprov NPC Sulsel 2017, Muh Sonny Sandra mengungkapkan, dengan waktu yang sedikit tak semua kota maupun kabupaten yang akan berpartisipasi. “Diprediksi dari 24 kabupaten/kota, hanya 12 daerah yang mungkin berpartisipasi. Mengingat waktunya yang mepet,” ungkap Sonny kepada SINDOnews, Jumat, (22/12). Kejurprov ini akan menyaring sebanyak 180 atlet beserta official. Sonny menjelaskan, event ini untuk persiapan atlet menyambut event-event yang bakal digelar pada tahun depan. “Kejurprov ini bukan seleksi secara langsung, tapi seleksi secara alami bagi daerah-daerah untuk melihat kekuatan mereka masing-masing. Jadi mereka sudah memprediksi atlet mana yang bakal di boyong ke Pekan Paralimpyc Provinsi tahun depan,” pungkasnya. (pah/adt)

Bagi Gadis Ini, Betapa Berharganya Perjuangan Walaupun Mendapatkan Perunggu Sekalipun Dalam Olahraga Wushu

Sri-Wushu

Meningkatnya peminat olahraga wushu menandakan bahwa kebangkitan olahraga menjadi lebih siap bersaing dalam seluruh ajang internasional. Tidak hanya dari lelaki yang siap menantang lawan tanding dari negara luar Indonesia, bahkan wanita Indonesia juga sudah mempersiapkan merebut gelar juara dari negara pencetus olahraga wushu. Atlet wushu wanita, Sri Yogi Utami, merupakan atlet yang cukup berprestasi dalam bidang olahraga tersebut. Bagi Siswi kelas XI di SMAN 3 Tangerang ini, wushu merupakan olahraga beladiri yang unik. “Saya pertama kali ikut wushu sekitar tahun 2012, waktu itu masih kelas 5 SD. Saya tertarik karena perpaduan seni dan beladirinya unik dan asik.” kata Sri. (26/6) Beberapa gelar yang telah berhasil Sri koleksi diantaranya sebagai berikut: 1. Juara 1 kategori chanquan C dalam Kejurprov Banten tahun 2013 2. Juara 2 kategori nanquan B tingkat propinsi 3. Juara 4 kategori nanquan B National Open 4. Juara 1 dan juara 2 dalam Kejuaraan Kungfu Nasional di Cibubur tahun 2017 Perjalanan Sri sampai bisa berprestasi dalam olahraga wushu juga banyak menemukan halangan. Salah satunya adalah tidak direstui oleh orang tuanya. “Waktu SD sampai SMP terkadang tidak diperbolehkan ikut latihan wushu sama Bapak, tapi saya selalu menunjukan bahwa saya bisa berprestasi di bidang wushu. Sekarang, saya jadi semakin didukung sama orang tua karena prestasi saya, malah kadang suka dimarahin kalau malas latihan.” terang Sri Dalam pandangan Sri, seorang guru, orang tua serta para teman temannya merupakan pendukung yang sangat luar biasa untuk dirinya. Diakui Sri, sang guru sangat sabar mengajarinya bahkan ketika Sri sedang tidak mood untuk berlatih. Juga orang tuanya yang rela meluangkan waktu dan uang untuk Sri selama menekuni wushu serta teman-temannya yang selalu mendukung, menemani dan terus membujuknya ketika Sri mulai tidak niat berlatih. Pengalaman unik juga tak luput mewarnai perjalanan Sri selama mendampingi adik seperguruan pada saat turnamen olahraga wushu di Kota Surabaya. “Waktu itu sekitar pertengahan tahun 2014, saya ikut ke Surabaya untuk mendampingi adik seperguruan. Ketika kesana, kebetulan saya masih berada dalam tingkat wushu kelas chanquan, jadi ketika ada bazaar yang menjual senjata untuk berlatih wushu yang isinya satu set senjata panjang tombak sekaligus tasnya, saya langsung membelinya, ternyata ketika pulang dari sana saya dipindah ke kelas nanquan. Jadi tombaknya tidak terpakai dan harus beli senjata baru lagi.” kata Sri, menceritakan pengalamannya. Terkait masa depannya, Sri mengungkapkan bahwa ia ingin menjadi diplomat sekaligus atlet nasional yang bisa selalu membawa nama indonesia untuk menjadi juara dalam cabang olahraga wushu. Karena baginya, wushu sudah menjadi bagian dari kewajiban yang sudah ia tekuni sejak kecil. “Jangan pernah berhenti kalau merasa capek atau jenuh. Nikmati saja prosesnya, karena itu bisa jadi penopang dalam cerita perjalanan prestasi kita. Karena kalau tidak ada asam, sakit, jenuh, dan capek kalian tidak akan tahu betapa berharganya walau satu medali perunggu sekalipun.” tutup Sri.(crs/adt)