Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022, Agar Bibit Baru Terus Tumbuh

Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022, agar Bibit Baru Terus Tumbuh

Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) terus mempersiapkan diri jelang digelarnya Kejuaraan Dunia Wushu Junior pada Desember 2022. Apalagi ini juga menjadi ajang yang juga penting untuk pembinaan calon atlet-atlet berprestasi. Kejuaraan Dunia Wushu Junior akan diselenggarakan di ICE BSD Tangerang pada 2-11 Desember 2022 mendatang. Ajang itu rencananya akan diikuti atlet dari 70 negara. Indonesia sendiri menurunkan 28 atlet terbaiknya. Mereka diharapkan merebut empat medali emas sesuai dengan target yang dicanangkan oleh Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI). Ketua PB WI Airlangga Hartarto mengatakan ajang ini sebagai bagian dari upaya peningkatan prestasi wushu dengan tujuan ke depan, yaitu Olimpiade. “Pemahaman terhadap pembinaan olahraga yang berjenjang dan berkesinambungan, program regenerasi atlet, dan peningkatan kualitas pelatih menjadi prioritas dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan prestasi wushu di masa yang akan datang,” kata Airlangga Hartarto dalam ketetangan tertulisnya, Jumat (21/10/2022). “PB Wushu Indonesia senantiasa memberikan perhatian yang seimbang, antara atlet senior dan atlet junior. Pembinaan atlet junior merupakan jaminan akan terwujudnya pencapaian prestasi dunia yang berkesinambungan,” imbuh Airlangga. Sejauh ini, Ketua Umum PB WI Airlangga Hartarto sendiri disebut cukup sukses memunculkan bibit-bibit atlet usia muda di Tanah Air. Hal itu tak lepas dari banyaknya stok atlet junior potensial yang dapat diterjunkan menghadapi single dan multievent. Mereka muncul dari sasana-sasana di Indonesia yang mengikuti berbagai kejuaraan yang diselenggarakan PB WI. “Apa yang telah dibangun Pak Airlangga Hartarto itu bukan hanya Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) tetapi juga menyambut wushu yang akan dipertandingkan pada Olimpiade 2032,” kata Ketua Pengprov WI DKI Jakarta, Gunawan Tjokro, yang juga Direktur Eksekutif 8th World Junior Wushu Championship 2022. Tercatat selama beberapa tahun terakhir, atlet wushu Indonesia meraih banyak prestasi pada ajang internasional. Mulai dari SEA Games 2017 di Malaysia, Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, SEA Games 2019 Filipina dan SEA Games 2021 Vietnam. Berkat motivasi yang diberikan oleh Airlangga, tim wushu Indonesia berhasil membawa pulang 3 medali emas, 3 perak dan 3 perunggu di Kuala Lumpur. Begitu pun tahun berikutnya, 2018, berbagai prestasi berhasil diciptakan. Mulai dari Moscow Wushu Stars, Rusia (3 emas, 2 perak, 1 perunggu), The 7th World Junior Championship, Brazil (2 emas, 10 perak, 7 perunggu) hingga Asian Games 2018 Jakarta – Palembang. Kemudian kejuaraan bertajuk The 15th World Wushu Championship di Shanghai, China, 17-24 Oktober 2019. Tim wushu Merah Putih mampu membawa pulang 3 emas dan 1 perunggu. Begitu pula saat Festival Wushu bertajuk The 5th China – Asean Wushu Festival 2019. Atlet Indonesia sukses meraih 4 emas, 1 perak dan 7 perunggu. Kemudian pada SEA Games 2019 di Manila, Filipina, Indonesia meraih 9 medali. Rinciannya, 2 emas, 5 perak dan 2 perunggu. Pada Kejuaraan Dunia Wushu 2019 di China, Indonesia juga patut berbangga karena mampu membawa pulang 3 medali emas dan 1 perunggu. Ini semua tak lepas dari terus bergulirnya kejuaraan dan regenerasi berjalan dengan baik. Di SEA Games 2021 Vietnam, wushu Indonesia juga berhasil memenuhi target pemerintah dengan sumbangan 3 emas, 9 perak dan 3 perunggu.

Alinskha Hanamaira Sukses Meraih Emas Wushu All Games 2021, Jadi Pertandingan Paling Berkesan

Alinskha Hanamaira Sukses Meraih Emas Wushu All Games 2021, Jadi Pertandingan Paling Berkesan

Alinskha Hanamaira atlet muda wushu Indonesia mampu melampaui prestasi kakaknya, Achmad Hulaefi yang berhasil meraih perunggu di nomor Daoshu-Gunsu putra pada Asian Games 2018. Melalui akun Instagram pribadi miliknya @alinskha, dia membagikan momen kemenangannya pada pertandingan Indonesia Wushu All Games 2021. Saat itu, adik ipar dari atlet wushu, Lindswells Kwok ini menjadi juara pertama dan mampu membawa pulang emas pada pagelaran nasional yang digelar di GBK, Senayan. Wanita yang biasa disapa Chika ini mengatakan, pertandingan itu merupakan pertandingan yang paling berkesan dalam hidupnya. “Itu adalah kejuaraan pertama kali aku mendapatkan gold medal selama ikut pertandingan. Dari kecil aku belum pernah dapat gold medal,” katanya ketika ditemui di gedung iNews, belum lama ini. Tak hanya itu, dia juga mengaku kerap mendapat medali perunggu dan perak dalam setiap pertandingan. “Aku selalu dapat perak dan perunggu. Tapi baru tahun 2021 kemarin, aku akhirnya dapat gold medal pertama untuk kejuaraan nasional,” ujarnya. Atlet muda ini juga punya target-target yang ingin dicapai untuk kedepannya. Chika akan mengikuti seleksi PON (Pekan Olahraga Nasional) nantinya. “Kalau masuk seleksi PON, ikut pertandingan PON dulu, abis itu mungkin kalau menang, InsyaAllah lanjut ke Sea Games biasanya gitu,” ucapnya. Dia juga memiliki wishlist target yang membuatnya makin semangat dengan seni bela diri ini. “Pasti target-targetnya menang di ajang-ajang internasional, itu wishlist-ku. Dan kalau itu sudah tercapai, aku udah bersyukur banget dan mungkin akan memutuskan pensiun,” ujar Chika. Biodata Nama: Alinskha Hanamaira Panggilan: Chika Lahir: Jakarta, 5 November 2001 Pendidikan: Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Sasana: Yayasan Inti Bayangan Pelatih: Achmad Hulaefi, Rizki, dan Ahmad Rifai Idola: Zhao Hua (Tiongkok) dan Achmad Hualefi Prestasi: – 2 Perak Kejurnas Wushu Bangka Belitung 2019 – 1 Perak, 1 Perunggu Kejurnas Wushu Yogyakarta 2018

Sabet Emas, Celine Everly Siap Tampil di Kejuaraan Dunia

Sabet Emas, Celine Everly Siap Tampil di Kejuaraan Dunia

Sirkuit Nasional Taolu 2022 Stage 1 yang digelar secara virtual oleh Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) pimpinan Airlangga Hartarto cukup menarik. Ternyata atlet wushu asal Sasana Xiao Yao Surabaya, Celine Everly yang merebut medali emas pada nomor Chang Quan C Putri punya dua saudara kembar lelaki yang kini sudah tercatat sebagai atlet pelatnas junior. Dengan hasil tersebut, Celine Everly membuka kesempatannya untuk tampil dalam final stage bersama Ayrton Jones dan Bradley Jason pada final Stage yang digelar September 2022 dalam rangka memperebutkan tiket menuju Kejuaraan Dunia Junior di ICE BSD City Tangerang, Banten, Desember 2022 mendatang. “Ya, Celine Everly memang punya dua saudara kembar lelaki, Ayrton Jones dan Bradley Jason yang sudah lebih dulu masuk dalam pelatnas junior saat juara pada Sirkuit Nasional Taolu 2021. Celine Everly memang memimpikan bisa tampil bersama dua saudara kembarnya di Kejuaraan Dunia Junior 2022. Karena, mereka mulai latihan wushu bersama-sama sejak berusia 4 tahun,” kata ibunya, Vera Widjaya di Jakarta, Sabtu (23/4/2022). Ketiganya yang saat ini berusia 9 tahun memang bisa tampil bersamaan memperkuat Tim Nasional Wushu Junior Indonesia pada Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022. Pasalnya, mereka masing-masing mahir dalam nomor berbeda. Ayrton Jones di nomor Chang Quan dan Jian Shu (pedang), Bradley Jason – Chang Quan dan Gun Shu (toya utara), dan Celine Everly – Chang Quan dan Jian Shu (pedang). “Ketiganya memang bisa saja tampil memperkuat Tim Wushu Indonesia karena mereka masing-masing berbeda spesialisasinya. Dan, saya juga berharap mereka bisa membawa harum nama bangsa dan negara jika memang terpilih nanti,” kata Probo Muljono, pelatih kepala Sasana Xiao Yao Surabaya. Lebih jauh Vera Widjaya menceritakan ketiga anak kembarnya hobi menonton film silat mandarin sejak kecil. Saat melihat anak-anak berlatih wushu di vihara, ungkapnya, mereka minta mempelajari wushu. “Saya itu memang hobi nonton film silat mandarin. Dan, setiap saya nonton mereka bertiga selalu ikut nonton eh taunya mereka minta belajar wushu. Jadi, saya terpaksa bawa mereka ke sasana Xiao Yao untuk belajar wushu,” kenang Vera Widjaya. Sementara itu, Sasana Rajawali Sakti Pluit Jakarta kembali menambah 1 medali emas melalui Agni Agustine Dimonim di nomor Nan Gun Grup B Putri. Dengan hasil ini, Rajawali Sakti Pluit terus memimpin dengan mengoleksi 8 emas, 7 perak, dan 3 perunggu. “Saya sangat senang dan bangga bisa menyumbangkan 1 emas bagi sasana Wushu Rajawali Sakti Pluit karena ini tahun pertama saya di kategori B dan saya akan berlatih lebih keras untuk mempertahankan hasil ini pada sirkuit nasional wushu taolu berikutnya,” kata Agni Agustine, pelajar kelas 6 SD Katolik Santo Paulus Sunter, Jakarta Utara. Sedangkan Sasana Garuda Jember sukses merebut 2 medali emas melalui Ghisna Maulana Magfuri (Dao Shu Grup C Putra) dan Kai Rafael Wijaya (Chang Quan Grup C Putra). Hasil Lengkap Sirkuit Nasional Wushu Taolu 2022 Stage 1: Chang Quan Grup C Putri: 1. Celine Everly (Xiao Yao Surabaya – 8.95 poin) 2. Billie Karina The (Wushu Rajawali Sakti Pluit Jakarta – 8.94 poin) 3. Evangeline Sofie Cia (Harmony Wushu Indonesia Kota Bogor – 8,92 poin) Dao Shu Grup C Putra: 1. Ghisna Maulana Magfuri (Wushu Garuda Jember – 8,73 poin) 2. Jah Bregas Jethro Sipayung (Wushu Rajawali Sakti Kelapa Gading Jakarta Utara – 8,69 poin) 3. Elliot Zachary Sridjaja (Wushu Rajawali Sakti Kelapa Gading Jakarta Utara – 8,66 poin) Dao Shu Grup C Putri: 1. Aluna Syakira Hasahatan (Rahmat Wushu Jakarta – 8,95 poin) 2. Billie Karina The (Wushu Rajawali Sakti Pluit Jakarta Utara – 8,94 poin) 3. Kezia Nathania Setiawan (Pengkot Kediri – 8,92 poin) Nan Gun Grup B Putra: 1. Mikael Nugroho Wibisono (Garuda Emas Semarang – 9,05 poin) 2. Claudio Iaquinta Wahyudi (Wushu Garuda Jember – 9,00 poin) 3. I Made Erlangga Wiryasaputra (Yayasan Inti Bayangan Jakarta – 8,98 poin) Nan Gun Grup B Putri: 1. Agni Agustine Dimonim (Wushu Rajawali Sakti Pluit Jakarta Utara – 9,04 poin) 2. Utiqo Romadlona Ummi’ Auna (Yasanis Surabaya – 9,03 poin) 3. Vania Meiliana (Yayasan Wushu Indonesia Sinduadi, DIY – 9,00 poin) Chang Quan Grup C Putra: 1. Kai Rafael Wijaya (Wushu Garuda Jember – 8,86 poin) 2. Ecclesio Ryuu Erdest (Laba Laba Sakti Jakarta Utara – 8,81 poin) 3. Leonard Kimi Anggoman (Garuda Emas Semarang – 8,78 poin) Chang Quan Grup C Putri: 1. Celine Everly (Xiao Yao Surabaya – 8.95 poin) 2. Billie Karina The (Wushu Rajawali Sakti Pluit Jakarta – 8.94 poin) 3. Evangeline Sofie Cia (Harmony Wushu Indonesia Kota Bogor – 8,92 poin)

Mengenal Alisya Mellynar. Pemegang Dua Medali Emas Dunia Wushu Taichi Bulgaria 2018

Alisya Mellynar adalah atlet wushu nomor taiji quan (tangan kosong) dan taiji jian (pedang) yang baru pertama kali mengikuti SEA Games 2021. Meski baru pertama kali mengikuti SEA Games Alis, sapaan akrab Alisya, tidak berkecil hati. Mengikuti pelatnas wushu sejak 2020 cukup untuk memberinya kepercayaan diri memberikan performa terbaiknya. “Untuk persiapan pribadi, saya lebih ke persiapan mental. Karena ini baru pertama kali saya turun ke SEA Games,” kata Alis panggilannya saat ditemui usai melakukan simulasi pertandingan wushu di lantai 8 Gedung GBK Arena, Senayan, Jakarta, Jumat (22/4) pagi. “Saya berharap bisa mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa Indonesia,” tambah dara asal Surabaya, Jawa Timur ini. Awalnya Alis hanya ikut-ikutan berlatih wushu. Ia tak menyangka di wushu ia memiliki keluarga baru dan belajar banyak hal. “Awalnya ikut-ikutan diajak kakak sepupu dan coba-coba saja, tetapi malah kelanjutan dan keterusan,” kata putri 161 cm ini.  Peraih dua emas pada Kejuaraan Dunia Wushu Taichi Bulgaria tahun 2018 ini (junior) mengaku sejak Kelas IV Sekolah Dasar (SD) sudah mengenal dan turut berlatih wushu.  “Saya awal ikut wushu di umur 11 tahun di tahun 2012 lalu waktu kelas 4 atau 5 SD. Syukur orang tua dan keluarga mendukung meski mereka bukan dari atlet,” tambah Alis yang sekarang kuliah semester VI di Unair. Alis merasa senang di lingkungan tempatnya berlatih yang mendukung dirinya untuk berkembang. Hal itu juga yang membuat anak pertama dari dua bersaudara ini jatuh hati pada cabang olahraga wushu.  “Yang membuat saya suka sama wushu itu lebih karena lingkungan dan orang-orang sekitar. Teman sepelatihan, pelatih, ofisial yang mendukung saya berkembang di olahraga ini dan akhirnya nyaman,” urai dara kelahiran Surabaya, 25 Oktober 2001 ini. “Saya mengalami banyak kemajuan khususnya di jurus, saya tetap mempersiapkan mental saya,” pungkas peraih medali emas PON Papua 2021 ini. Biodata: Nama         : Alisya Mellynar Panggilan    : Alis Tempat lahir : Surabaya, Jawa Timur Tanggal lahir: 25 Oktober 2001 Umur         : 20 Tahun Status       : Mahasiswa Unair, Semester VI Tinggi Badan : 161 cm Berat Badan  : 55 kg Prestasi: 1. Dua Medali Emas (Kejuaraan Dunia Wushu Taichi Bulgaria (2018) 2. Medali Emas PON Papua (2021)

Menpora Amali Siap Dukung Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022

Menpora Amali Siap Dukung Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali menyambut baik ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia Wushu Junior Desember 2022 mendatang. Menpora Amali berupaya mendukung penuh PB WI khususnya terkait payung hukum berupa Instruksi Presiden (Inpres). “Dan untuk Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022 di Indonesia, kita sebagai tuan rumah akan didukung penuh oleh Kemenpora khususnya, dan pemerintah pada umumnya,” kata Menpora Amali usai menghadiri acara Pelantikan Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) Periode 2022-2026 di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Jakarta, Selasa (22/3). Ketum PB WI Airlangga Hartarto secara langsung meminta bantuan dan dukungan Kemenpora khususnya terkait payung hukum terkait pelaksanaan Indonesia sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia Wushu Junior Desember 2022 mendatang. “Sebagai tuan rumah tadi ketua umum menyampaikan, membutuhkan payung hukum berupa Inpres. Saya akan segera mengusulkan ke Bapak Presiden dan Mensesneg untuk kita segera membahas ini,” tambah Menpora Amali. “Biasanya akan dilakukan dulu Rapat Kabinet Terbatas tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, dan dalam waktu yang secepatnya kita berharap supaya ini bisa segera terbit Inpresnya,” urai Menpora Amali menambahkan. Ketum KONI Pusat Marciano Norman juga berharap, saat Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Wushu Junior Desember 2022 tetap bisa mempertahankan perolehan medali emas. “Besar harapan saya dalam kepemimpinan Pak Airlangga Hartarto periode kedua ini program Wushu akan semakin meningkat,” ujar Marciano. “Kita ketahui dalam waktu dekat, Indonesia akan menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Junior, kita harus dukung itu dan tentunya pada perolehan medali wushu tradisi perolehan medali emas tetap bisa didapatkan,” harapnya. Sementara, Ketum PB WI Airlangga Hartarto memiliki target selain sukses menjadi tuan rumah, cabor wushu tanah air mampu memperoleh medali sebagai tradisi yang selama ini telah tercapai. “Targetnya tentunya penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Wushu Junior ini nantinya sukses, perolehan medalinya penting, karena merupakan bagian dari pembinaan atlet-atlet junior di masa depan,” urainya. “Harapan kami untuk atlet-atlet yang saat ini sedang pelatnas meski di tengah pandemi tetap semangat dan tradisi medali emas dipertahankan,” harap Airlangga.

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

“Saya mulai detik ini menjadi atlet Papua.” Kalimat itu kembali ditekankan oleh Btari Bela Swatitis, seorang atlet muda cabang olahraga wushu yang baru pertama kali ikut serta di Pekan Olahraga Nasional. Btari unjuk kebolehan memperagakan jurus taiji tangan kosong dan pedang ketika menjalankan tugasnya mewakili tuan rumah di cabang olahraga wushu PON XX Papua klaster Merauke. Menjadi debutan tak membuat gentar perempuan kelahiran Surabaya pada 14 November 1998 itu menantang atlet-atlet wushu lebih berpengalaman dan yang datang dari berbagai daerah yang notabene merupakan unggulan di kompetisi seni beladiri asal negeri Tirai Bambu itu. “Tak akan gentar, karena kita semua sama-sama makan nasi lalu kenapa harus merasa gentar. Enggak ada yang perlu ditakutkan,” kata Btari saat ditemui setelah bertanding di GOR Futsal KONI, Merauke, Papua. Meski harus puas finis di peringkat paling buncit untuk nomor kombinasi taolu, namun tak semburat rasa kecewa di raut wajah sosok perempuan yang telah mengenal wushu sejak usia 12 tahun itu. Bagi Btari, kekalahan di ajang pesta olahraga multi cabang ini bukanlah akhir segalanya. Ia justru melihat momentum di Merauke ini menjadi titik awal untuk menata diri guna mengukir prestasi di ajang-ajang kompetisi wushu berikutnya. Berbekal pengalaman perdana di PON kali ini, semangat putri dari drs. Pujianto dan Siti Zuhaini itu justru semakin membara menatap kejuaraan selanjutnya. “Dari sini saya tahu lawan-lawannya seperti apa, saya semangat lagi karena sudah tahu kekurangannya,” kata dia. Perempuan yang lahir dan besar di Surabaya itu sekarang berdomisili di Merauke setelah dipanggil untuk membela tim wushu Papua pada 2018 silam. Ia pun baru menjalani setumpuk porsi latihan di Bumi Cenderawasih pada 2020 sebelum gejolak pandemi Covid-19 memukul dunia olahraga pada khususnya dan bahkan wabah virus corona ini membuat penyelenggaraan PON terpaksa mundur satu tahun. Cabang olahraga wushu itu sendiri sebenarnya masih tergolong jenis olahraga yang terasa asing di Tanah Papua dan Btari pun mengakui hal itu. “Wushu masih tergolong olahraga baru di sini, rata-rata orang di sini pun tidak tahu wushu itu apa,” kata Btari. Warga setempat yang penasaran dengan jurus-jurus wushu dapat menyaksikan Btari dan rekan-rekannya berlatih di pantai Lampu Satu, salah satu spot wisata favorit di Merauke. Akan tetapi dengan keterbatasan fasilitas seperti arena dan pelatih teknik, tim wushu taolu Papua harus terbang ke luar kota untuk memperdalam ilmu dan menyempurnakan jurus-jurus mereka. “Di Papua wushu memang termasuk jenis olahraga yang masih baru, sehingga kami tidak disediakan (arena) di Merauke, jika kami mau latihan teknik maka kami harus terbang ke Jawa Timur. Jadi di sini kami latihan fisik saja,” kata Btari. Meski wushu tergolong baru di Papua, tak sedikit warga setempat yang menyempatkan diri untuk menonton pertandingan nomor taolu di PON, dan tribun semakin semarak ketika nomor sanda dipertandingkan pada sesi siang. Sejumlah dari mereka bahkan memboyong sejumlah perangkat drum yang ditabuh untuk menyemangati atlet Papua yang bertanding dan tak jarang pula menghaturkan respek kepada atlet daerah lain apabila mereka mengalahkan wakil tuan rumah. Semangat para suporter mermbuat Btari punya keyakinan jika cabang olahraga wushu akan kian berkembang dan digandrungi masyarakat Papua terutama di kalangan generasi muda. Momen pesta olahraga empat tahunan nasional ini, menurut Btari adalah saat yang tepat untuk lebih mengenalkan wushu dan ia juga mengutarakan harapannya untuk ikut mempopullerkan wushu dan memajukan olahraga seni beladiri di bumi cendrawasih. “Harapan saya mulai hari ini dan seterusnya warga Papua, warga Merauke sudah lebih tahu wushu itu seperti apa. Jadi, untuk ke depannya saya berharap adik-adik saya yang junior itu dapat ikut latihan, jadi di Papua ini tidak cuma segelintir orang saja yang bisa berolahraga wushu,” ujar Btari. Apabila wushu mendapat tempat hati di warga setempat, Papua juga memiliki peluang mengirimkan wakil-wakil yang lebih banyak di kejuaraan tingkat nasional. “Jadi saya menyimpan harapan juga nantinya anak-anak kecil ini dibina, kita jadikan atlet wushu yang top dan mumpuni,” kata Btari. Wushu juga merupakan olahraga yang asyik, ungkap Btari, karena banyak mengajarkan gerakan-gerakan akrobatik yang memukau. Selain itu, wushu juga bisa dijadikan olahraga di masa senja, khususnya taiji yang banyak dipraktekkan oleh mereka yang rata-rata berusia di atas 60-70 tahun, dan bahkan masih bisa mengikuti kejuaraan di rentang usia tersebut. “Bukan hanya untuk prestasi tapi kebanggaan dan kesehatan juga. Dan rata-rata orang yang ikut wushu itu dia panjang umur karena dari kecil sudah diajarkan hidup sehat, bagaimana cara mengolah badan mereka sendiri,” pungkasnya.

Berkenalan Dengan Pingkan, Calon Atlet Wushu Masa Depan Indonesia

Berkenalan Dengan Pingkan, Calon Atlet Wushu Masa Depan Indonesia

Mungkin nama Pingkan Maretta Siregar masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun, diusianya yang masih muda, Pingkan sudah mulai membuktikan jika ia layak untuk diperhitungkan sebagai atlet wushu masa depan Indonesia. Pingkan merupakan adik dari Seraf Naro Siregar yang merupakan juara dunia wushu China 2019 dan peraih medali emas SEA Games Filipina 2019. Tak heran, ia sangat didukung oleh keluarga untuk menekuni olahraga wushu. Sehari-hari, anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Tigor Parlindungan Siregar dan Nanik Agustin ini berlatih Sasana Yasanis Surabaya di bawah asuhan Kristanto G, Andre Valentinus G, Sherlie Hoediono, Budi Gunawan, dan Xiao HaiDong. Berkat bakat dan ketekunannya, beberapa waktu lalu ia sukses menyabet medali emas di Virtual Wushu Championship Seri II Kategori Nasional untuk nomor Taiji Jian A. “Prestasi yang saya raih ini tidak terlepas dari hasil kerja keras, pantang menyerah dan berusaha tidak merasakan lelah saat berlatih,” kata Pingkan, dilansir dari Nusantara TV. “Saya persembahkan medali emas VWC Seri II ini khusus kepada kedua orangtua yang mendukung dan membimbing saya sejauh ini walau di masa-masa terendah. Tak lupa juga saya mengucapkan terimakasih kepada semua pelatih yang membimbing tanpa lelah dan memberi nasehat serta masukan. Begitu juga dengan teman-teman yang selalu support saya dalam hal apapun itu,” tambahnya. Pingkan mengaku awal ia mengenal olahraga wushu pada tahun 2010 lalu. Kala itu, kedua orang tuanya yang menyuruh untuk berlatih bersama sang kakak yang tak lain adalah Seraf Naro. “Awalnya saya disuruh kedua orang tua ikut latihan bersama bang Seraf Naro. Eh…terakhir saya jadi senang,” ungkap Pingkan. Berbicara masalah target ke depan, Pingkan yang tercatat sebagai pelajar kelas 12 IPS di SMA Negeri 9 Surabaya mengaku masih konsentrasi di Virtual Wushu Championship Seri II dan Sirkuit Wushu 2021 yang menjadi seleksi terakhir menuju pelatnas junior. “Keinginan menyusul abang ke pelatnas pasti ada. Dan, saya juga ingin meraih prestasi sepertinya yang menjadi juara dunia dan juara SEA Games,” katanya. Kebanggaan juga diontarkan orang tua Pingkan atas prestasi yang telah dicapai anaknya tersebut. “Kami bangga Pingkan mampu meraih emas di VWC Seri II. Dan, saya berharap dia tidak cepat puas dan harus lebih terpacu untuk meraih prestasi pada event-even lain,” ujar sang ayah. Biodata Nama: Pingkan Maretta Siregar Tanggal Lahir: 16 Maret 2003 Tempat Lahir: Surabaya Klub: Yasanis Surabaya Idola: Lindswell Kwok dan Ma Jian Chao Prestasi – Emas Taiji Jian Virtual Wushu Championship Seri II 2020 – Emas Taiji Quan Porprov Jatim 2019 – Emas Taiji Jian dan Emas Taiji Quan Sarawak Wuwang Cup 2019 – Emas Taiji Jian Kejurnas Wushu Babel 2019 – Emas Taijin Jian dan Emas Taiji Quan Piala Raja Hamangkubuwono X 2018 – Emas Taiji Jian dan Emas Taiji Quan Kejurnas Yogyakarta 2018 – Emas Taiji Jian dan Emas Taiji Quan Piala Walikota Surabaya 2018 – Perunggu Taiji Jian dan Perunggu Taiji Quan Kejurnas 2017 – 1 Emas Taiji Jian dan Perunggu Taiji Quan BWC 2015 – Perunggu Taiji Jian dan Perunggu Taiji Quan Inti Bayangan OWC 2015 – Emas Taiji Jian BWOC 2014 – Emas Taiji Jian dan Perak Taiji Quan YOWC 2014

Jaring Atlet Junior Terbaik, PB Wushu Indonesia Kembali Siapkan Kejuaraan Virtual

Jaring Atlet Junior Terbaik, PB Wushu Indonesia Kembali Siapkan Kejuaraan Virtual

Pengurus Besar (PB) Wushu Indonesia nampaknya sedang mempersiapkan untuk melakukan pembenahan ulang sistem pembinaan wushu. Salah satunya dengan mengadakan kembali Virtual Wushu Championships Indonesia Seri II. Langkah ini diambil karena berkaca pada kesuksesan saat menggelar Virtual Wushu Championships Indonesia Series – 1 Khusus Taolu. Kali ini, PB Wushu Indonesia tidak hanya siap menggelar Virtual Wushu Championships Indonesia Seri II namun juga mendapat dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan KONI Pusat. Ada pun rencananya kejuaraan tersebut akan digelar pada 1-11 Desember 2020. “Di seri I telah menjaring 190 atlet junior dan di Seri II akan kembali dijaring 190 atlet potensial dari kategori A,B dan C. Mereka nantinya akan diseleksi kembali melalui Virtual Wushu Champipnships Indonesia 2021 untuk menjaring 50 atlet junior terbaik yang akan dipersiapkan tampil pada ajang event internasional,” ujar Sekjen PB Wushu Indonesia, Ngatino, dilansir dari JPNN, Kamis (26/11/2020). “Ini sesuai instruksi Pak Airlangga Hartarto yang ingin adanya program pembinaan atlet berjenjang dan berkesinambungan dalam upaya melahirkan pengganti juara dunia Lindswell Kwok dan Edgar Xavier Marvelo ke depan,” sambungnya. Terbosan yang dilakukan PB Wushu Indonesia ini mendapat sambutan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah atlet dan sasana yang berpartisipasi. Pada Seri I tercatat 632 atlet dari 50 sasana wushu se-Indonesia sedangkan pada Seri II telah tercatat 1.000 atlet (804 atlet wushu nomor Taolu dan 166 atlet wushu tradisional) dari 83 sasana wushu. Virtual Wushu Championships Indonesia Seri II kali ini memang terlihat istimewa. Selain mempertandingkan nomor tradisional untuk memberikan tempat kepada perguruan wushu, 12 atlet terbaik dari tiga sasana pada Seri I yakni Rajawali Sakti Jakarta, Laba-laba Sakti Jakarta dan Yasanis Surabaya akan berlaga dengan atlet sasana wushu dari Singapura, Brunai, Macau, dan Kazakhstan. “Kita memang sengaja mengundang atlet junior wushu negara lain untuk menambah jam terbang atlet junior terbaik di Virtual Wushu Championships Seri I. Sebab, sasana yang kita undang tercatat sebagai sasana yang banyak melahirkan atlet nasional di keempat negara tersebut,” jelasnya. Program Virtual Wushu Championships Indonesia yang diluncurkan PB Wushu Indonesia ini sekaligus menjadikan sasana sebagai ujung tombak pembinaan. Sebab, atlet-atlet junior dari berbagai sasana punya kesempatan untuk bisa menembus. “Lewat Virtual Wushu Championships Indonesia tak ada lagi ýang bisa ditutupi. Keberadaan atlet potensial yang ada di sasana besar atau kecil akan terpantau,” katanya. Lebih jauh Ngatino juga mengungkapkan pihaknya akan mencari format yang tepat untuk mempertandingkan nomor Sanda. “Nomor Sanda sedang dicarikan formatnya. Bisa saja akan digelar tahun depan tanpa penonton. Prinsipnya pertandingan tidak boleh terhenti karena pandemi Covid-19,” tutupnya.

Menpora RI Apresiasi Virtual Wushu Championships 2020

Menpora RI Apresiasi Virtual Wushu Championships 2020

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Zainudin Amali, mengapresiasi pelaksanaan Virtual Wushu Championship 2020 sebagai kreativitas sekaligus inovasi Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) dalam melakukan pembinaan atlet di kala pandemi Covid-19. “Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum PB Wushu Indonesia, ditengah kesibukan beliau masih memberikan perhatian dalam pembinaan dan pengembangan Wushu Indonesia. Ini terbukti malam ini memulai virtual wushu champhionship. Apresiasi pemerintah kepada keluarga wushu Indonesia, karena ditengah pandemi mampu menunjukkan kreativitas menggelar kompetisi secara virtual,” kata Menpora seperti dilansir dari laman resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). Menurut Zainudin, untuk menggelar sebuah kejuaraan secara internal di tengah pandemi tidak mudah. Terlebih, pandemi ini membuat banyak kegiatan maupun kejuaraan-kejuaraan olahraga yang tertunda, termasuk pemusatan latihan atlet. Para atlet pun terpaksa harus melakukan latihan secara mandiri agar tetap bugar. Dampaknya, para atlet pasti merasa jenuh karena terus berlatih tanpa adanya kejuaraan. Oleh sebab itu, Kemenpora RI mengapresiasi cabang olahraga yang menggelar kejuaraan secara internal di tengah pandemi Covid-19. “Saya mengapresiasi turnamen ini. Sasana berupaya melakukan latihan bagi atletnya. Tentu Kemenpora mendukung kreativitas cabang olahraga yang melakukan inovasi dan kreativitas. Perbaikan tata kelola yang dilakukan pengurus wushu juga kami apresiasi. Ini juga sejalan dengan kami yang di Kemenpora RI,” jelas Zainudin Menpora berharap, Virtual Wushu Championship 2020 bisa terselenggara dengan lancar dan sukses. Meskipun dilakukan secara virtual, Zainudin juga berharap makna dan semangat bertanding para atlet tidak berkurang. “Bertanding lah dengan semangat, dan sportif. Untuk pelatih, bimbing lah atlet-atlet ini dengan baik. Kepada juri yang bertugas, nilai lah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Semoga kejuaraan ini berjalan dengan sukses dan lancar,” pesannya. Adapun kejuaraan yang berlangsung pada 10-17 Oktober ini diikuti sebanyak 632 atlet yang terdiri dari 319 atlet putra dan 313 atlet putri yang berasal dari 50 sasana di Indonesia dan mempertandingan nomor Taulo. Selain menyediakan Piala Airlangga Hartarto untuk juara umum, kejuaraan yang mempertandingkan kelas A, B dan C ini juga memperebutkan total 156 medali. Lebih lanjut, Virtual Wushu Championships 2020 bertujuan untuk mendata seluruh atlet junior. Harapannya, sasana bisa lebih aktif dalam hal pembinaan atlet muda sekaligus dijadikan ajang seleksi Kejuaraan Wushu Dunia dan Youth Olimpyc Games 2021. Sementara itu, Ketua Umum PB WI, Airlangga Hartarto, berterima kasih atas dukungan dari Kemenpora juga atas kerja keras panitia yang sudah menyelenggarakan kejuaraan wushu kali ini. Ia menjelaskan bahwa Wushu, bagaimanapun, akan terus konsisten dalam pembinaan atlet. Meski suasana pandemi, pembinaan atlet dan latihan akan terus dilakukan. “Saya apresiasi kejuaraan ini. Juga untuk sasana yang ada di provinsi. Saya harap melalui kejuaraan ini dapat lahir atlet pada masa mendatang dan menjadi kebanggaan Indonesia,” ujar Airlangga. “Saya juga berharap, kedepannya atlet wushu tetap konsisten berprestasi dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya dalam event-event internasional yang akan datang. Saya ucapkan selamat bertanding, semoga sukses. Kepada Menpora RI, terima kasih atas dukungan yang diberikan, dan semoga dapat bersinergi terus,” lanjutnya.

Mengintip Kesibukan Atlet Wushu Edgar Xavier Marvelo Selama Pandemi COVID-19

Mengintip Kesibukan Atlet Wushu Edgar Xavier Marvelo Selama Pandemi COVID-19

Di tengah masa pandemi Corona, hampir semua kegiatan yang berada di luar rumah harus dibatasi, terkadang memang perlu ada ide-ide kreatif untuk mengusir rasa jenuh. Salah satu yang mungkin bisa dicontoh adalah hal yang dilakukan Edgar Xavier Marvelo Selama pandemi ini, Edgar sebisa mungkin tetap menyibukkan diri dengan kegiatan yang produktif selain latihan rutin. Salah satu hal yang dilakukan oleh atlet wushu asal DKI Jakarta ini adalah membuat camilan tiramisu. Tak hanya membuat, Edgar juga ternyata menjual tiramisu buatannya tersebut di Instagram. Hal itu terlihat dari salah satu postingannya di Instagram, tampak Edgar memposting foto tiramisu buatannya yang terlihat sangat enak dan menggugah selera lengkap dengan captions berbahasa Inggris. Wah, ternyata Edgar tak hanya handal saat berada di arena pertandingan, namun juga di dapur. Keren, ya! Edgar Xavier Marvelo merupakan atlet wushu kelahiran Jakarta, 16 Desember 1998. Edgar telah berlatih wushu sejak kecil, tepatnya sejak ia masih berusia 6 tahun. Ia mengaku terinspirasi dari film-film laga yang diperankan oleh Jet Li, Jackie Chan, hingga Bruce Lee yang sering ditontonnya ketika masih kecil. Namun, siapa sangka hal itulah menjadi motivasi Edgar untuk menekuni olahraga wushu. Sederet gelar bergengsi pun pernah diraih Edgar diusianya yang tergolong masih muda. Yang terakhir, Edgar berhasil membuat harum Indonesia pada gelaran SEA Games 2019 di Filipina dengan meraih dua medali emas dari wushu nomor taolu kombinasi daoshu dan gunshu. Berikut daftar prestasi yang telah didapatkan oleh Edgar Xavier Marvelo: Medali Emas Chang Quan Kejurnas Junior C 2009 Medali Perak Gunshu Kejurnas Junior C 2009 Medali Emas Gunshu Kejurnas Junior C 2010 Medali Perak Changquan Kejurnas Junior C 2010 Medali Emas Gunshu Kejuaraan Dunia Junior C 2010 Medali Emas Changquan Kejurnas Junior B 2011 Medali Emas Changquan Kejurnas Junior B 2012 Medali Perak Daoshu Kejurnas Junior B 2012 Medali Perak Gunshu Kejurnas Junior B 2012 Medali Emas Changquan Kejurnas Junior B 2013 Medali Emas Daoshu Kejurnas Junior B 2013 Medali Emas Gunshu Kejurnas Junior B 2013 Medali Emas Changquan Kejurnas Junior A 2014 Medali Emas Daoshu Kejurnas Junior A 2014 Medali Emas Gunshu Kejurnas Junior A 2014 Medali Emas Duilien Kejurnas Junior A 2014 Medali Emas Asean School Games Junior A 2014 Medali Emas Changquan Kejurnas Junior A 2015 Medali Emas Daoshu Kejurnas Junior A 2015 Medali Emas Gunshu Kejurnas Junior A 2015 Medali Emas Daoshu Kejuaraan Dunia Junior A 2016 Medali Perak Changquan Kejuaraan Dunia Junior A 2016 Medali Perak Gunshu Kejuaraan Dunia Junior A 2016 Medali Emas Changquan Kejurnas Junior A 2016 Medali Emas Daoshu Kejurnas Junior A 2016 Medali Perak Gunshu Kejurnas Junior A 2016 Medali Emas Changquan PARS Wushu Cup 2017 Medali Perunggu Daoshu PARS Wushu Cup 2017 Medali Perunggu ChangQuan 29th SEA Games 2017 Medali Perak Daoshu Kejuaraan Dunia Senior 2017 Medali Perak ChangQuan ASIAN GAMES 2018 Medali Emas Daoshu Kejurnas Senior 2019 Medali Emas Gunshu Kejurnas Senior 2019 Medali Perak Duilian Kejurnas Senior 2019 Medali Emas Kejuaran Dunia Shanghai China 2019 Medali Emas Gunshu SEA Games 2019 Medali Emas Taolu Duilian SEA Games 2019

Tim Renang Indonesia Sabet 16 Medali Emas di ASEAN University Games, Wushu Sumbang Empat

Tim renang Indonesia sukses menyabet enam belas medali emas, sembilan perak, dan satu perunggu, hingga Jumat (14/12), pada ASEAN University Games 2018 (AUG), yang berlangsung di Myanmar International Convention Center 2, Naypyitaw, Myanmar, 8-12 Desember. (PRSI)

Jakarta- Sebanyak 180 atlet mahasiswa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi, bertanding demi mengharumkan nama Indonesia pada ajang ASEAN University Games (AUG) 2018 yang dilaksanakan di Naypyitaw, Myanmar. Kompetisi itu berlangsung selama 13 hari, mulai 8 -20 Desember 2018, di Myanmar International Convention Center 2. Sejak dimulai pada 1980, ASEAN University Games yang berada di bawah ASEAN University Sports Council (AUSC), Indonesia selalu berhasil mendominasi perolehan medali. Tim atlet Indonesia kali ini, didampingi Direktur Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Didin Wahidin, Ajang olahraga multi cabang tingkat mahasiswa ini mempertandingkan 17 cabang olahraga, memperebutkan total 1897 medali, yang terdiri dari 587 emas, 587 perak, dan 723 perunggu. Sebanyak 201 kompetisi dan diikuti sebanyak 2078 atlet, pelatih, dan manajer dari negara-negara anggota ASEAN. Perolehan medali hingga Jumat (14/12), atlet mahasiswa Indonesia saat ini berada di peringkat dengan raihan 21 Medali Emas, 10 perak dan 15 perunggu, dibawah Thailand. Tim atlet mahasiswa Indonesia mengikuti 13 dari 17 cabang olahraga yang dipertandingkan. Cabang olahraga yang diikuti atlet mahasiswa Indonesia yaitu wushu, badminton, Bola voli, renang, catur, sepaktakraw, atletik, dayung, panahan, bola basket, pentaque, karate, dan vovinam. Prestasi manis pun diraih tim wushu Indonesia, yang sukses menyabet tujuh medali di ajang ini. Empat diantaranya ialah medali emas, satu medali perak dan dua medali perunggu. Manajer tim wushu Indonesia, Novita mengatakan atlet yang menyumbangkan medali emas, ialah Haris Horatius, Adi Rominto Manurung, Rosalina Simanjuntak, dan Erwin Wijayanto. “Haris turun di kelas nanquan. Dia juga menyumbangkan perak di kelas nando+nanguan. Sementara, Adi turun di kelas 56 kg. Rosalina di kelas 48 kg dan Erwin di kelas changquan,” kata Novita, pada Kamis (13/12). Sekjen Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI), Ngatino mengaku, sangat gembira dengan raihan para atletnya. Dia berharap ke depannya, Indonesia bisa terus mendapatkan medali di AUG 2018. Namun, dia juga meminta para atlet dan pelatih mempersiapkan diri dengan maksimal sebelum mengikuti kejuaraan. “Persiapan AUG harusnya lebih maksimal lagi, terutama dalam mempersiapkan atlit,” tukasnya. Sementara, medali perunggu direbut Monica Pransisca Sugianto di kelas daoshu+gunshu, serta atlet putra, Bobie Valentinus Gunawan, dalam nomor taijiquan+taijijian. Torehan luar biasa diukir tim Renang Indonesia, yang mengirim 17 atletnya, terdiri dari 9 Perenang Putra dan 8 Perenang Putri. Renang menjadi cabor ladang emas terbanyak bagi kontingen merah putih. Di hari ketiga, mereka mampu mengoleksi 6 medali emas, 1 perak, 4 perunggu. Total selama tiga hari, tim renang meraih 16 emas, 9 perak dan 1 perunggu. (Adt) Peraih Emas Tim Renang Indonesia • Ressa Kania Dewi (400 m gaya Bebas, 200 m gaya bebas, 200 m IM) • Raina Saumi (800 m gaya bebas) • Vanesa Evato (200 m gaya dada) • Nurul Fajar Fitriyati (50 m gaya kupu kupu, 200m gaya punggung, 100 m gaya punggung) • Siman Sudartawa (100 m gaya punggung, 50 m gaya punggung) • Aflah Fadlan Prawira (200 m gaya kupu kupu, 200 m IM) • Ricky Anggawidjaja (200 m gaya punggung) • 4×100 m estafet gaya ganti putra • 4×100 m estafet gaya ganti putri • 4×100 m gaya bebas estafet putri (Yosita Hapsari, Ressa Kania Dewi, Nurul Fajar Fitriyati, Sagita Putri Krisdewanti)

Lindswell Kwok Rebut Emas Kedua Dari Wushu, Lalu Ingin Pensiun Membela Indonesia

Usai meraih emas di nomor Taijiquan-Taijijian putri Asian Games 2018, atlet wushu Indonesia, Lindswell Kwok, berencana pensiun dari olahraga yang membawanya menjadi peraih empat medali emas Sea GAMES berturut-turut, sejak 2011-2017. (Pras/NYSN)

Jakarta- Atlet Putri wushu Indonesia, Lindswell Kwok, meraih medali emas di Asian Games 2018. Ia menjadi yang terbaik di nomor Taijiquan-Taijijian putri, dalam pertandingan di Hall B JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Senin (20/8). Dalam lomba nomor seni itu, Lindswell menjadi yang terbaik dengan meraih poin 9.75. Atlet Hong Kong, Juanita Mok Eun Ying, merebut perak dengan nilai 9,71. Sedangkan perunggu direbut atlet Filipina, Chrystenzen Wong Agatha, dengan nilai 9,68. Aksi Lindswell di arena disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Setelah berlaga, ia pun mendapat ucapan selamat langsung dari Jokowi. Emas ini menjadi yang kedua yang diraih Indonesia pada Asian Games 2018. Sebelumnya, Indonesia mendapatkan emas cabang taekwondo lewat Defia Rosmaniar. Namun, keputusan besar diambil Lindswell. Ia berencana pensiun usai mengantungi emas Asian Games 2018. “Sudah cukup. Mau rest dulu. Belum tahu mau ngapain,” kata dara kelahiran Medan, 24 September 1991, usai memastikan medali emas Wushu nomor Taijijian dan Taijiquan, pada Senin (20/8). Pernyataan itu terbilang mengejutkan mengingat usia Lindswell masih berusia 26 tahun. Dan performa apiknya, secara rutin masih terus mengharumkan nama Indonesia di ajang olahraga. Dalam kariernya di Wushu, Lindswell mengoleksi lima medali emas dalam gelaran Kejuaraan Dunia sejak 2009. Di level SEA Games, ia merupakan peraih medali emas sejak 2011 di Jakarta, 2013 Myanmar, 2015 Singapura, dan 2017 Malaysia. “Saya itu sudah terjun ke wushu sejak kecil. Jadi, tidak tahu jika tidak di dunia wushu harus bagaimana dan memang tak bisa lepas begitu saja,” ucap Lindswell. “Yang jelas, setiap kali lihat orang tanding atau latihan juga ingin. Kalau untuk benar-benar berhenti tidak mungkin sementara ini rest dulu,” ujarnya. Soal regenerasi di Wushu Indonesia, Lindswell percaya para juniornya perlahan bakal berkembang, salah satunya termotivasi dengan raihan dirinya sejauh ini. “Sekarang mungkin belum kelihatan. Semoga dengan prestasi sekarang, anak-anak bisa terpacu,” ucap atlet andalan Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI). “Saya juga dulu seperti itu, awalnya tidak niat, ya sudah latihan aja. Begitu melihat senior-senior bisa juara dunia, perak juara dunia, lalu angkat nama Indonesia lewat wushu, saya akhirnya jadi semangat,” pungkas Lindswell. (Pras)

Tiba di Jakarta, PB Wushu Indonesia Janjikan Bonus untuk Juara Dunia Junior Usai Asian Games 2018

Tim wushu Indonesia telah tiba di Jakarta, usai bertanding dari kejuaraan dunia junior Brasil dan mampu meraih dua emas, 10 perak dan tujuh perunggu. (Antaranews)

Jakarta- Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) menjanjikan bonus bagi peraih emas pada event 7th World Junior Wushu Championships atau Kejuaraan Dunia Wushu Junior ke-7 di Brasil, 9 – 16 Juli, sebagai apresiasi atas prestasi yang diraih. Data yang dihimpun media dari PB WI di Jakarta, Rabu (18/7) malam, pada kejuaraan dunia itu, Indonesia yang berkekuatan 20 atlet meraih dua medali emas, sepuluh perak dan tujuh perunggu. Untuk emas berhasil diraih Jevon Lionel Koesmoyo dari nomor Taijiquan B, dan Lawrence Dean Kurnia di nomor Daou Shu C. Wakil Ketua Umum I PB WI, Andi S, mengaku sangat bangga dengan hasil para atlet wushu yang tampil di kejuaraan dunia wushu junior itu. Hal itu menunjukkan proses regenerasi atlet berjalan dengan baik.”PB merencanakan bonus, yang akan diberikan bersamaan dengan bonus, dari atlet yang sukses meraih medali Asian Games,” katanya. Menurut Andi, wushu merupakan salah satu cabang olahraga yang diandalkan oleh Indonesia. Ini dibuktikan dari berbagai kejuaraan internasional, saat tim wushu Indonesia meraih medali emas. Saat kejuaraan wushu disiplin sanda di Moskow, Rusia pada 16-20 Februari 2018, tim Merah Putih merebut tiga emas, dua perak, dan satu perunggu. Sebelumnya, pada Kejuaraan Dunia Wushu ke-14 di Kazan, Rusia 28 September-3 Oktober 2017 dengan diikuti sebanyak 60 negara, Indonesia mampu mengumpulkan satu dua emas, 10 perak, dan tujuh perunggu. Capaian itu membuat Indonesia berhasil menempati posisi sembilan di kejuaraan itu. PB WI terus memacu semangat para atlet binaannya agar tetap menjadi kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia. Latihan dengan benar menjadi kunci untuk meraih prestasi tinggi. Masa depan atlet juga sudah ditetapkan. “Mereka adalah pelapis kedua untuk tim wushu Indonesia. Kami akan rutin evaluasi peformanya,” jelas Andi. Sementara, Sekretaris Deputi III Bidang Pemberdayaan Olahraga Syamsudin mengatakan pemerintah juga mengapresiasi keberhasilan para atlet wushu yang sukses mengharumkan nama Indonesia di Brasil. “Pihak Kemenpora akan berkoordinasi terlebih dengan PB WI terkiat apresiasi penghargaan atlet muda wushu Indonesia ini,” tegasnya. (Ham)

Remaja 14 Tahun Asal Jawa Timur, Rebut Emas Kejuaraan Dunia Wushu Junior di Brasil

Remaja 14 tahun asal Surabaya, Jawa Timur, Jevon Lionel Koeswoyo, yang turun pada nomor Taijiquan B, merebut medali emas dalam Kejuaraan Wushu Dunia Junior 2018 di Brasilia, Brazil. (Humas PB Wushu Indonesia)

Jakarta- Tim Wushu Indonesia berhasil merebut satu medali emas, empat medali perak, dan lima medali perunggu dalam 7th World Junior Wushu Championships atau Kejuaraan Dunia Wushu Junior ke-VII 2018 di Brasilia, Brasil, 9 hingga 15 Juli Medali emas Tim Wushu Indonesia, dalam keterangan tertulis Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI), pada Sabtu (14/7), dipersembahkan oleh remaja 14 tahun asal Surabaya, Jawa Timur, Jevon Lionel Koeswoyo, yang turun pada nomor Taijiquan B. “Alhamdulillah, sementara ini, tim telah mengumpulkan satu medali emas, empat perak dan lima perunggu,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. yang juga Ketua Umum PB Wushu Indonesia. Airlangga optimistis atlet-atlet wushu Indonesia mampu memberikan penampilan yang terbaik dan dapat menambah perolehan medali. PB Wushu Indonesia mengirimkan 20 atlet wushu junior yang terdiri dari 12 atlet taolu (jurus) dan 8 atlet sanda (tanding). “Mereka adalah atlet-atlet hasil Kejuaraan Nasional Senior dan Junior Piala Raja 2019 di Yogyakarta, pada Maret,” ujarnya. Selain emas, Jevon juga merebut medali perak pada nomor Taiji. Tiga medali perak lain diraih oleh Nadya Permata pada nomor Changquan, Joyceline pada nomor Jianshu, dan Nadya Permata nomor Ginshu A. Lima medali perunggu diperoleh Thalia Marvelina pada nomor Gunshu, Nelson Louis pada nomor Jianshu, Patricia Geraldine pada nomor Jianshu, Ahmad Gifari pada nomor Tombak, dan Joyceline pada nomor Nanquan B. “Tim wushu junior ini akan menjadi cikal bakal pelapis tim senior yang ada sekarang. Kami memberikan kesempatan kepada atlet-atlet junior untuk menimba pengalaman dalam kejuaraan dunia agar tidak ada kesenjangan antara junior dengan senior,” ujar Airlangga. Airlangga mengatakan wushu menjadi salah satu cabang olahraga yang dapat diandalkan oleh Indonesia. Dalam kejuaraan wushu disiplin sanda di Moskow, Rusia pada 16-20 Februari 2018, tim Merah Putih merebut tiga medali emas, dua perak, dan satu perunggu. Sebelumnya pada Kejuaraan Dunia Wushu ke-14 di Kazan, Rusia pada 28 September-3 Oktober 2017 yang diikuti 60 negara, Indonesia mampu mengumpulkan satu medali emas, empat perak, dan satu perunggu. Prestasi ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-4 dengan menurunkan 15 atlet, yang terdiri dari 9 atlet Taoli dan 6 atlet tarung. PB Wushu Indonesia, lanjut Airlangga, akan terus memacu semangat para atlet binaannya agar tetap menjadi kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia. “Sebagai tuan rumah Asian Games 2018, kami harus sukses dalam penyelenggaraan dan prestasi. Wushu akan menjadi salah satu cabang andalan untuk mendulang emas,” katanya. (Ham)

Berlangsung di DIY, Piala Bergilir Presiden Jadi Seleksi Asian Games Wushu

Pada 29 Maret-3 April diadakan Kejurnas Wushu Indonesia Junior & Senior untuk memperebutkan Piala Raja Hamengku Buwono X dan Piala Bergilir Presiden RI di DIY. (Instagram)

Jakarta- Untuk pertama kalinya Piala Bergilir Presiden diperebutkan pada Kejurnas Yunior dan Senior Wushu di GOR Among Raga, Yogyakarta, 29 Maret -3 April. Sebanyak 700 Peserta dari 27 Pengprov WI ikut berpartisipasi pada event yang bertajuk Kejurnas yunior dan senior Piala Bergilir Presiden dan Piala Tetap Raja Sultan Hamengkubuwono X. Sekjen PB Wushu Indonesia (WI) Ngatino mengatakan, jumlah peserta kali ini memecahkan rekor kejurnas sebelumnya. “Peserta kali ini diluar perkiraan biasanya hanya berkisar 600-an karena penggabungan antara yunior dan senior,” ujar Ngatino, pada Senin (26/3). Ngatino mengharapkan dengan diperebutkannya Piala Bergilir Presiden akan lebih memacu perkembangan Wushu di Daerah. “Mudah-mudahan pengprov daerah lebih termotivasi lagi,” jelasnya. Ketua Umum PB Wushu Indonesia Airlangga Hartarto dipastikan akan hadir pada acara pembukaan Kejurnas di GOR Among Raga, Kamsi (29/3) malam. Menurut Ngatino, Ketua Panitia Pelaksana Soekeno didampingi Ketua Pengprov WI Yogyakarta Muwardi, telah bertemu dengan Ketua Umum PB WI. “Panitia juga melalui Ketua Umum meminta kesediaan Presiden bisa hadir, tapi hingga saat ini kami masih menunggu kabar dari protokol Istana,” ujar Ngatino. Kejurnas Wushu Yunior dan Senior Piala Bergilir Presiden dan Piala Raja ini, juga sekaligus merupakan seleksi atlet untuk tim inti Asian Games 2018. Menurut Pelatih Kepala Novita, saat pelatnas Asian Games berjumlah 16 atlet, 9 di nomor Taulo dan 7 Sanda. “Jumlah komposisi tim inti Asian Games 13 atlet, 7 taolu dan 6 Sanda jadi masih harus seleksi untuk menjadi tim inti,” jelas Novita. Adapun yang mengikuti seleksi di nomor Changquan adalah Felda dan Monica. Kemudian nomor Taijiquan + Taijijian putera, Bobie Valentinus dan Nicholas, sedangkan nomor Sanda kelas 52kg puteri ada Rosalina Simanjuntak dan Selviah Pertiwi. (Adt)

Kendalikan Stres Dengan Wushu

Aksi atlet Wushu, Juwita Niza Wasni di Kejuaraan Wushu. (sportourism.id)

Stres bisa bisa menimpa siapa saja. Jika dibiarkan tak terkendali, berpotensi mengundang berbagai penyakit berbahaya, seperti depresi, obesitas, diabetes, bahkan jantung. Untuk mengendalikan stres dapat dilakukan dengan aktivitas olahraga, salah satunya wushu. Seni beladiri asal Tiongkok ini fokus pada kelenturan, kecepatan, jurus, serta penampilan. Melakukan gerakan-gerakan yang seimbang antara gerakan kaki dan tangan, dapat menyinkronkan kerja antara otak kiri dan kanan, dengan begitu otak dapat bekerja secara seimbang, sehingga mampu menghindari diri dari stres. Selain itu, latihan wushu juga mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Gerakan tubuh dan pikiran yang terus dilatih akan membuat tubuh lebih fit dan prima. Beladiri ini juga mampu melatih keseimbangan, yakni dengan cara berdiri dengan satu kaki serta belajar bagaimana menemukan pusat tubuh. Dibandingkan dengan beladiri lainnya, wushu bisa membangun fleksibilitas, dimana bagian tubuh seperti betis, pinggul, dada, punggung, lengan dan bahu, bahkan pergelangan tangan dan pergelangan kaki akan mendapatkan peregangan yang baik. Memang, untuk mendapatkan manfaat dari wushu butuh perjuangan dan latihan serius. Kendali atas diri sendiri sangat diperlukan demi penghayatan atas setiap gerakan, dengan begitu bisa memberikan dampak kesehatan baik fisik ataupun mental bagi yang menekuni beladiri ini. (adt)

Dibalik Olahraga Bela Diri, Wushu Ternyata Punya Segudang Manfaat

Nama Lindswell Kwok menjadi bahan pembicaraan menarik belakangan ini. Termasuk saat Atlet wushu cantik ini berhasil menyumbang medali emas pertama di Sea Games, Myanmar. Tak hanya paras yang cantik, kemampuan dalam gerakan wushu dengan indah, serta berhasil meraih medali emas bagi Indonesia adalah hal yang dikagumi. Jika kita melihat, wushu kerap kali seperti olahraga atau aksi bela diri yang muncul di film-film laga China. Yap, kenyataannya wushu memang seni bela diri yang berasal dari China. Ternyata olahraga seni bela diri ini mempunyai beberapa manfaat yang berbeda dari olahraga lain. Bagi kamu yang penasaran, yuk simak informasi berikut ini: Lalu manfaat apa yang didapat dari jenis olahraga bela diri tersebut? Manfaat wushu dari bela diri lainnya adalah mengutamakan gerakan yang halus, lembut, dan lentur. Berbagai gerakan tersebut bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Dengan melakukan gerakan wushu juga, dapat melatih pernafasan, mengendalikan pikiran, bahkan mengatasi stress. Para pakar kesehatan menyebutkan beberapa manfaat positif yang bisa kamu dapatkan dengan bermain wushu: dampak positif kesehatan mental. gerakan wushu dapat menyeimbangkan gerakan pada kaki dan tangan menjaga sinkronisasi kerja otak kiri dan kanan. Otak pun menjadi sehat. Melakukan olahraga wushu rutin membuat kuat, lincah, lentur, serta koordinasi tubuh, kecepatan, konsentrasi, percaya diri lebih baik. Gerakan wushu ternyata termasuk dalam gerakan aerobik yang sangat baik bagi kesehatan organ kardiovaskular dan saluran pernafasan. Berlatih wushu sendiri butuh latihan yang tidak mudah. Jika kamu ingin menguasai berbagai gerakan indah dari seni bela diri ini, butuh perjuangan dan latihan yang serius. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari wushu yang merupakan seni bela diri. Semoga bisa memacu kamu yang tertarik menjadi penerus atau seperti Lindswell Kwok, seorang atlet wushu.

Brotherhood Siap Mendorong Nasib Atlet Bela Diri Untuk Mendapatkan Hidup Layak

Brotherhood-Siap-Mendorong-Nasib-Atlet-Bela-Diri-Untuk-Mendapatkan-Hidup-Layak

Berlatar belakang ingin membuat standart gaji atau bayaran para atlet bela diri, organisasi yang bernama Brotherhood menjadi wadah perjuangan para atlet bela diri. Brotherhood yang bermarkas di ruko bidex Serpong membuka pendaftaran kepada para atlet dan petarung untuk bersama-sama bergabung menyuarakan dan menggelorakan beladiri dalam negeri. Irwan Taufik yang menggagas Brotherhood mengatakan kepada nysnmedia.com bahwa dirinya sudah menginisiasikan ini sejak tahun 2013. “iya, Brotherhood, merupakan organisasi atau wadah khusus untuk atlet petarung. Saya dan teman-teman sudah punya wacana sejak tahun 2013 lalu, intinya apapun latar belakang beladiri yang di tekuni boleh bergabung, dan mari kita buat menjadi lebih berwarna,” tegas Irwan Irwan menambahkan bahwa di Indonesia belum ada management untuk nasib atlet yang solid, dan stabil. “Menurut saya, di Indonesia sendiri belum ada yang mewadahi itu secara global, dan professional sehingga nasib atlet beladiri semakin tidak jelas, dan kami sedang mengarah kesana,” ucap Irwan. Lebih lanjut Irwan menambahkan dari masing-masing pengurus dan anggota Brotherhood merupakan atlet-atlet berbakat yang pernah mengharumkan nama daerah, wilayah dan negara Indonesia. “Kami yang berhimpun dalam wadah ini diantaranya merupakan atlet bela diri dari berbagai jenis beladiri, diantaranya wushu, MMA, Karate, Taekwondo, tinju, muaythai, kick boxing, hapkido dan pencak silat. Dari situ kita akan melakukan improve, create improve ajangnya misalnya pencak silat, akan kami buat ajang modern pencak silat,” jelas Irwan. Sementara itu Gunawan yang tak lain adalah atlet kebanggaan jawa timur di nobatkan menjadi duta petarung Brotherhood. Sambil mengatakan dengan logat jawanya yang kental, Gunawan juga menjelaskan tentang minatnya bergabung di Brotherhood dan prestasinya yang pernah di capai selama menjadi atlet bela diri wushu. “Terus terang saya sangat senang bergabung dalam keluarga besar brotherhood, disini kami di ajarkan berbagi dan bermanfaat untuk orang banyak yang kebanyakan orang tidak mampu, seperti pemuda jalanan, anak tidak mampu di latih dengan sukarela. Karena saya sendiri juga dari keluarga yang tidak mampu. Tapi alhamdullilah prestasi yang pernah saya capai dari wushu diantaranya, PON 2008 saya mendapatkan perak, pada tahun 2009 saya ikut kejuaraan di Kanada dapat perunggu, Seagame 2009 juga dapat perunggu, 2010 Indonesia Open saya kembali mendapatkan perunggu, PON 2012 dapat perak, 2013 mendapatkan juara nasional, di kejuaraan islamic soledarity games dapat perak, 2014 masuk Kejurnas, 2014 kejuaraan dunia di Jakarta, 2016 saya ikut PON Jabar perunggu, dan kejuaraan dunia di china dapat perunggu,” tutup Gunawan. (adt/rjl)

SEA Games 2017: Wushu Sumbang Tiga Mendali dalam Sehari Pertandingan

Lindswell Kwok, Puan Maharani dan Imam Nahrawi. Foto: Antara/ Wahyu Putro

Indonesia lambat laun mulai merebut posisi peraihan Mendali. Pada pertandingan yang berlangsung Senin (21/08), Cabang Olahraga (cabor) Wushu kembali berhasil menyumbangkan medali untuk Indonesia di SEA Games 2017 yang berlangsung di Malaysia. Pewushu, Felda Elvira sukses menambah pundi-pundi emas kontingen Merah Putih dari nomor Doushu. Prestasi Felda terbilang mengejutkan, menginat dia baru pertama kali tampil di SEA Games. Ini merupakan medali kedua yang dipersembahkan Felda pada SEA Games 2017. Sebelumnya, dia sudah menyabet perunggu dari nomor Gun Shu dengan poin 9,62. Felda mencatatkan nilai tertinggi, 9,67 pada pertandingan yang berlangsung di KLCC Hall 5 kemarin. Medali perak juga jatuh ke tangan atlet wushu Indonesia, Monica Fransisca berada di tempat kedua dengan nilai 9,66 poin. Pada hari yang sama, Indonesia juga meraih perunggu dari nomor Muhammad Dafa Golden Boy dari nomor Qiangshu dengan 9,63 poin. di lansir dari Liputan6.com, dalam sehari Cabor Wushu dapat menyumbang tiga Mendali. Ini merupakan Kebanggan bagi Indonesia dan menjadi Motivasi bagi Atlet dari Cabor lain agar dapat bermain dengan maksimal sehingga dapat menyumbangkan mendali. Sebelumnya, Indonesia juga meraih perak dari wushu atas nama Bobie Valentius Gunawan yang tampil di nomor Taijiquan. Bobie kalah dari atlet tuan rumah, Loh Jack Chang. Sementara itu, hari ini Wushu juga akan mempertandingkan nomor Taijijian Putri. Selain Cindy Martono, Indonesia akan menurunkan juara dunia 2013, Lindswell Kwok.