Rangkaian Turnamen IGS Beri Kesempatan Pegolf Muda Tambah Jam Terbang

Rangkaian Turnamen IGS Beri Kesempatan Pegolf Muda Tambah Jam Terbang

Pegolf muda di Indonesia memiliki kesempatan menambah jam terbang dengan adanya rangkaian turnamen bertajuk Intercollegiate Golf Series (IGS) yang bakal memulai seri pertama di Damai Indah Golf, PIK Course, Jakarta, 23-25 November 2021. Pada musim perdananya, ajang yang terselenggara berkat kerja sama Ciputra Golfpreneur Foundation (CGF) dan Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) ini akan bergulir sebanyak tiga seri di Damai Indah Golf. Setelah seri pertama, selanjutnya turnamen akan berlangsung ke seri kedua pada 23-27 Januari 2022 dan berlanjut seri ketiga 13-17 Maret 2022. Rencananya pada musim berikutnya, IGS akan berlangsung selama enam seri. Adapun sebelum rangkaian turnamen berlangsung, penandatangan kerja sama dilakukan oleh Ketua Dewan Pembina CGF Budiarsa Sastrawinata dan Ketua Presidium Himpuni Drs. H. Akhmad Muqowam di Damai Indah Golf, Minggu (21/11). Dalam kesempatan ini turut hadir Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali, perwakilan dari Persatuan Golf Indonesia (PGI), dan Asosiasi Pemilik Lapangan Golf Indonesia. Budiarsa mengatakan IGS membuka kesempatan kepada pegolf muda potensial di Indonesia untuk tidak hanya mengejar prestasi olahraga golf, tetapi juga mendapatkan pendidikan tinggi terbaik di Indonesia melalui jalur prestasi. Selain itu juga menjadi wadah kompetisi golf bagi mahasiswa-mahasiswi berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “Dengan adanya IGS, diharapkan dapat meningkatkan prestasi atlet golf Indonesia di turnamen internasional dan menambah jumlah pegolf muda di Indonesia,” kata Budiarsa dalam keterangan resminya. Hal senada juga diungkapkan Akhmad yang menyebut IGS akan memberikan kesempatan bagi para atlet golf berprestasi itu dapat mengenyam pendidikan berkualitas melalui berbagai PTN di Indonesia. “Dengan 41 organisasi alumni PTN sebagai bagian dari keluarga Himpuni, kami ingin memaksimalkan akses yang kami miliki ke berbagai PTN dari Sabang sampai Merauke sehingga PTN-PTN tersebut berkenan membukakan pintunya bagi atlet-atlet golf Indonesia ini,” katanya. IGS akan mempertandingkan tiga format kompetisi. Pertama beregu yang dalam pelaksanaanya setiap tim terdiri dari empat pemain dan menyertakan elemen alumni dan mahasiswa. Kemudian format individu juga akan dipertandingkan, alumni maupun para mahasiswa akan saling bersaing pada kategori masing-masing. Sementara itu, Junior Golf Competition Series juga akan menjadi bagian dari penyelenggaraan IGS. Mengusung kampanye ”Choose Your Dreams with Golf”, para pegolf dari rentang usia 12-18 tahun akan memainkan format stroke play individual dan memainkan tiga putaran pada 23-25 November 2021. Dengan demikian, kategori pemenang akan terdiri dari tiga tim terbaik, tiga alumnus terbaik, tiga pemain elite individu terbaik, dan tiga pegolf junior terbaik (putra dan putri). Sumber: Antara

BOS Junior Motocross Championship 2021 Sukses Terselenggara

BOS Junior Motocross Championship 2021 Sukses Terselenggara

Kejuaraan balap motocross yang difokuskan untuk pembalap junior, BOS Junior Motocross Championship 2021, telah sukses diselenggarakan. Perhelatan Balap Motocross Junior yang merebutkan piala Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo tersebut, diselenggarakan di Sirkuit MX Gunung Bohong Brigif 15/Kujang II, Cimahi, Jawa Barat. Pada ronde ketiga, Ketua Umum IMI Jawa Barat, Fachrul Sarman turut hadir. “Kami dari Ikatan Motor Indonesia Jawa Barat sangat bersyukur dan mengapresiasi penyelenggaraan event BOS Junior Motocross Championship 2021 yang diselenggarakan oleh Indonesia International Motor Show bersama Blackstone Otomotif Superblok karena telah menyelenggarakan event yang dinanti-nanti di tengah pandemi ini,” ujar Fachrul. Dirinya berharap, event tersebut akan menjadi barometer agar seluruh atlet, riders, maupun crosser dapat terus menyalurkan hobinya dan mencetak prestasi. BOS Junior Motocross Championship 2021 merupakan salah satu rangkaian IIMS Series yang difokuskan untuk pembibitan dan pembinaan para crosser cilik. “Melalui kompetisi ini kami berharap potensi para crosser cilik dapat terlihat. Jadi bagi mereka yang hanya sekadar hobi balapan motor atau memang fokus untuk menjadi atlet balap motocross dapat mengasah skill-nya dengan berpartisipasi pada ajang balap ini,” tutur Presiden Direktur, Dyandra Promosindo, Hendra Noor Saleh. “Semoga dengan adanya event ini bisa turut mendukung pembinaan dan pembibitan crosser muda Indonesia sehingga mereka bisa mencapai kancah internasional,” lanjutnya. Perhelatan motocross tersebut tidak hanya diharapkan memberi dampak positif bagi para crosses cilik, tetapi juga bagi warga disekitar lokasi kejuaraan motocross, Gunung Bohong. “Lewat acara ini semoga semakin banyak yang mengetahui lokasi ini, sehingga dapat menjadi opsi destinasi wisata bagi mereka,” harap Hendra. Lebih lanjut Hendra menjelaskan alasan di balik munculnya IIMS Series di event motocross. Itu karena IIMS mendukung seluruh kegiatan otomotif di Indonesia salah satunya event motocross. Berkat suksesnya penyelenggaraan acara tersebut, Hendra mengucapkan terima kasih kepada Blackstone Otomotif Superblok dan sejumlah sponsor yang telah mendukung kesuksesan event ini yakni Pertamina sebagai Official Sponsor, JNE sebagai Official Logistic Partner, Pirelli sebagai One Make Tyre OMR Class dan sederet sponsor dari brand ternama. “Tidak lupa ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada Ketua Ikatan Motor Indonesia Jabar yang telah hadir, Bapak Fahcrul Sarman,” tukas Hendra.

Cerita Naura Peraih 5 Emas Sepatu Roda PON XX

Cerita Naura Peraih 5 Emas Sepatu Roda PON XX

Luar biasa. Mungkin ungkapan tersebut yang cocok diberikan untuk Naura Rahmadija Hartanti. Atlet yang baru berusia 15 tahun tersebut sukses menyabet lima emas dari lima nomor yang diperlombakan di cabang olahraga sepatu roda yang diikutinya di ajang olahraga terbesar di Tanah Air, yaitu Pekan Olahraga Nasional XX Papua pada 2-15 Oktober 2021. Di PON Papua, Naura Rahmadija Hartanti atau yang akrab disapa Ola berlaga di lima nomor, yaitu sprint 1.000 meter putri, sprint 500 meter putri, relay 3.000 meter putri (beregu), maraton 42.000 meter putri, dan team time trial 10.000 meter putri (beregu). Semua emas dibabat habis olehnya. ”Alhamdulillah semuanya dapat emas,” ujar Ola, Selasa (19/10/2021), dikutip dari Kompas.id. Perolehan itu membuat Provinsi DKI Jakarta yang diwakilinya menjadi juara umum cabang olahraga sepatu roda di PON Papua. ”Seneng banget, bangga banget, puas. Capek yang selama ini aku jalanin, semuanya terbayar. Hasil enggak mengkhianati usaha,” kata Ola. Sejak awal, Ola memang memasang target tinggi untuk setiap nomor yang diikutinya. Target tinggi atau menjadi yang terbaik itu sudah menjadi prinsip Ola sejak mulai serius menekuni olahraga sepatu roda meski perjalanan untuk memberikan yang terbaik tidak selalu mudah. ”Untuk persiapan PON itu sekitar dua tahun. Harusnya setahun, karena kehambat pandemi, jadinya dua tahun,” kata Ola yang mulai masuk pelatda tahun 2017 saat usianya 11 tahun. Karena pandemi, Ola sempat sampai harus latihan sendiri di rumah melakukan program-program yang diberikan kepadanya. Baginya, hal itu tidak mudah. ”Latihan di rumah itu tantangannya diri kita sendiri. Karena kita dikasih program, tanggung jawabnya ke diri sendiri. Itu susah karena pasti ada cheating-cheating-nya dan lain-lain,” kata Ola yang sempat cedera di masa-masa mempersiapkan diri menghadapi PON. PON yang kemudian mundur karena pandemi memberi waktu bagi Ola untuk menyembuhkan cedera pada kakinya. Empat bulan menjelang PON, jadwal latihan semakin padat. Ola dan atlet-atlet lain harus masuk ke training camp. Mereka dikumpulkan di sebuah mes agar lebih fokus menghadapi PON. ”Itu mulai sangat intensif latihannya. Pagi, siang, malam. Sehari tiga kali latihan,” kata Ola. Selama masa ”karantina”, Ola bergaul dengan sesama atlet yang usianya lebih senior darinya, rata-rata mahasiswa. Namun, mereka cocok-cocok saja. Meski harus jauh dari rumah, Ola sangat menikmati seluruh proses yang tak hanya mematangkan fisik, tetapi juga kondisi mental tersebut. Dalam setiap kompetisi, peperangan psikologis (psy war) kerap kali justru memberi pengaruh besar. ”Sebenarnya kalau mental, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, jadi bisa kena ke kita. Tapi aku kalau sama lingkungan itu kayak ya udah terserah mau apa. Yang penting aku ngelakuin buat aku sendiri, yang terbaik buat aku,” tutur Ola. Bekal-bekal itu kemudian dia bawa saat berlaga, termasuk berupaya untuk selalu mengendalikan diri di lapangan. Jam terbangnya yang cukup tinggi di dunia sepatu roda menjadi bekal untuk mengontrol dirinya saat bertanding. ”Kadang, tuh, kalau udah bermain, body contact sedikit aja emosinya bisa sangat meluap. Tapi aku selalu dikasih tahu untuk tenang. Kalau enggak, malah bisa didiskualifikasi. Jadi lebih nahan emosi aja saat di lapangan,” katanya. Namun, dari semua itu, yang paling penting menurut Ola adalah menjalaninya dengan senang. Tidak perlu terlalu terbeban. ”Yang penting lakukan yang terbaik. Enjoy. Hasil akhirnya apa, ya udah, berarti emang itu kehendak Tuhan,” ucap Ola. Berdoa, bagi Ola, juga menjadi hal penting. ”Tuhan bisa berkehendak apa aja. Bahkan, kalau udah doa sekeras apa pun, kalau Tuhan berkehendak, kita enggak bisa ngapa-ngapain juga. Yang penting tawakal aja, tapi berusaha kerja keras. Kalau enggak ada doa, setiap latihan itu bisa terjadi apa aja, jatuh, cedera, atau apa pun yang kita enggak mau terjadi,” ungkapnya. Sepatu roda sudah menarik perhatian Ola sejak duduk di kelas I SD. Saat itu, tahun 2012, Ola kecil yang tengah berolahraga di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno melihat ada komunitas sepatu roda. Dia lalu tertarik mencoba. ”Anak kecil, kan, sukanya kenceng-kencengan gitu, lari-larian. Wah, ini (sepatu roda) keren juga bisa kenceng-kencengan,” kenang Ola. Mengikuti jejak sang kakak, Ola pun lalu bergabung di Klub V3 (Vini Vidi Vici). Kedua orangtuanya sangat suportif. Selama Ola enjoy melakoninya, mereka mendukung. ”Pas baru masuk, pemula, latihannya tiap weekend. Lalu pas naik ke standar, jadi seminggu empat kali,” ujar Ola. Kala itu, Ola kecil sempat kerap ogah-ogahan. Kadang dia mau latihan, tak jarang juga hanya melihat orang berlatih saja. ”Sampai akhirnya aku kalah di suatu perlombaan. Dari situ aku merasa pengin menang. Akhirnya mulai serius latihan,” papar gadis dengan tinggi badan 165 cm dan berat 56 kilogram ini. Dia menanamkan tekad untuk tak lagi malas atau bermain-main belaka. Apalagi jarak rumahnya di Bekasi kala itu dan tempat latihan di Senayan cukup jauh. Dia tak ingin mengecewakan sang mama yang setia menemaninya latihan. Kemenangan pertamanya diraih dalam sebuah lomba sepatu roda di Serang, Banten. Dari situ Ola mulai ”kecanduan” menang. ”Sekalinya menang, kan, merasa puas sama diri sendiri. Jadi semangat latihan untuk terus menang,” terang Ola. Menjadi atlet kemudian menjadi pilihan Ola. Di klubnya, Ola menjadi anggota yang pertama kali lolos seleksi pelatda. Sayang, saat sudah serius berlatih, Ola terdepak dari pelatda karena alasan usia yang masih terlalu muda. Hal ini sempat membuatnya patah semangat hingga akhirnya Ola dipanggil kembali masuk pelatda. ”Nah, di situ aku bener-bener langsung nunjukin skill. Bahwa aku, tuh, pantas dan mulai pengin ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” kata Ola. Di pelatda, Ola berlatih seminggu enam kali. Praktis istirahat hanya satu hari. Ola tetap semangat. Pengalaman mengikuti training camp di Taiwan tahun 2016 dan 2017 serta bergaul dengan atlet-atlet asal China membuat Ola belajar semakin banyak. Tak hanya soal keterampilan, tetapi juga soal disiplin diri. ”Atlet-atlet China itu, kan, disiplinnya tinggi banget, aku belajar juga dari mereka, lalu juga mulai improve diriku sendiri,” kata Ola. Semua itu dibuktikan di ajang PON XX Papua dengan hasil fantastis. Dengan sepatu rodanya, Ola meluncur seolah tak terbendung menyabet lima emas. Seusai PON, tak ada kata santai. Selain kembali fokus mengejar ketertinggalan di sekolah, Ola juga tengah menantikan seleksi Asian Games 2022 yang akan berlangsung pada Desember 2021. Latihan-latihan ringan sudah mulai dilakukan. Ola menyimpan harapan agar kelak sepatu roda dipertandingkan di Olimpiade. Jika rumor itu terbukti benar, Ola tentu akan bersiap ambil bagian. ”Kalau misalkan memang bener, target jangka panjangnya, ya, … Read more

Arista Perdana, Petembak Muda Sarat Prestasi

Arista Perdana, Petembak Muda Sarat Prestasi

Meski masih berusia belia, prestasi Arista Perdana Putri Darmoyo boleh diadu. Atlet menembak perempuan dari Kota Semarang, Jawa Tengah tersebut memiliki sederet prestasi yang membanggakan. Hingga kini lebih dari 20 medali ia koleksi dari berbagai kejuaraan baik tingkat daerah sampai internasional. Tak heran, sebab gadis berusia 16 tahun ini sudah memilih jalan hidup menggandrungi olahraga menembak sejak duduk di kelas 2 SD. Semua itu berawal dari kebiasaan Arista mengikuti sang kakek sebagai pelatih olahraga menembak di Kota Semarang. Sering melihat kakeknya dan para atlet menembak berlatih, ia lama kelamaan tertarik di cabang olahraga tersebut. “Dulu tiap kakek mau melatih saya selalu pengen ikut. Selama ikut dan melihat orang menembak kok seru ya, akhirnya sejak kelas 2 SD saya diajari juga sama kakek olahraga menembak ini,” tuturnya, dikutip dari IDN Times, Jumat (22/10/2021). Saat itu ia mulai memegang senjata jenis pistol dibandingkan rifle. Hal itu karena menyesuaikan dengan postur tubuhnya yang mungil. “Ya, sebenarnya saya tertarik jenis senjata laras panjangan seperti rifle, tapi tubuh saya kecil. Tinggi saya sekarang saja cuma 146 cm. Jadi, sampai sekarang pun tetap pegang pistol,” ungkapnya. Meskipun bertubuh kecil tapi tidak membuat generasi Z ini kecil hati. Arista justru tertantang untuk menekuni olahraga yang penuh adrenalin ini. Mulai kelas 5 SD, remaja asli Semarang ini sudah mengikuti berbagai kompetisi olahraga. Bahkan, di masa itu ia sudah membawa nama Kota Semarang di kejuaraan menembak tingkat nasional. “Namun, baru berhasil meraih juara dan dapat medali emas tuh saat kelas VII SMP. Meski juara di kategori tim tapi seneng banget karena itu kompetisi tingkat nasional. Dari situ saya semakin tertarik dan menekuni menembak hingga meraih skor dan bisa menjadi atlet,” kata atlet binaan Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) dan KONI Kota Semarang itu. Ketekunan terus berusaha, berlatih, dan berdoa ini akhirnya membuahkan prestasi lainnya. Belum lama ini, siswa kelas XI SMA 1 Semarang itu mendulang prestasi yang sangat bergengsi. Putri sulung pasangan Citro Darmoyo dan Retno Wijayanti ini berhasil mengumandangkan lagu Indonesia Raya dalam ajang ‘14th Asian Air Gun Championship’ di Kazakhstan bulan September 2021. Arista meraih medali emas di kategori putri individu dan kategori mix team atau ganda campuran ia bersama rekannya Muhammad Iqbal meraih meraih medali emas. Tidak berselang waktu lama, pada ajang PON XX Papua 2021 mewakili Jawa Tengah ia kembali merebut medali emas untuk cabang olahraga menembak di nomor 10 meter air pistol beregu campuran bersama Muhammad Iqbal. Mengalahkan kontingen dari Bali. “Saya senang sekali dalam waktu berdekatan meraih medali emas dan membawa harum nama Indonesia dan Jawa Tengah melalui olahraga yang saya cintai ini. Apalagi, kejuaraan di Kazakhstan adalah pengalaman pertama saya di luar negeri. Ini tidak bisa terlupakan,” kata Arista. Si kecil-kecil cabe rawit yang bercita-cita sebagai polwan ini pun tidak jera untuk terus berlatih dan mengikuti kejuaraan-kejuaraan lainnya. “Saya pengen ikut dan menang di Sea Games dan Asian Games. Semoga ada kesempatan untuk bertanding di ajang tersebut,” tandasnya.

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

“Saya mulai detik ini menjadi atlet Papua.” Kalimat itu kembali ditekankan oleh Btari Bela Swatitis, seorang atlet muda cabang olahraga wushu yang baru pertama kali ikut serta di Pekan Olahraga Nasional. Btari unjuk kebolehan memperagakan jurus taiji tangan kosong dan pedang ketika menjalankan tugasnya mewakili tuan rumah di cabang olahraga wushu PON XX Papua klaster Merauke. Menjadi debutan tak membuat gentar perempuan kelahiran Surabaya pada 14 November 1998 itu menantang atlet-atlet wushu lebih berpengalaman dan yang datang dari berbagai daerah yang notabene merupakan unggulan di kompetisi seni beladiri asal negeri Tirai Bambu itu. “Tak akan gentar, karena kita semua sama-sama makan nasi lalu kenapa harus merasa gentar. Enggak ada yang perlu ditakutkan,” kata Btari saat ditemui setelah bertanding di GOR Futsal KONI, Merauke, Papua. Meski harus puas finis di peringkat paling buncit untuk nomor kombinasi taolu, namun tak semburat rasa kecewa di raut wajah sosok perempuan yang telah mengenal wushu sejak usia 12 tahun itu. Bagi Btari, kekalahan di ajang pesta olahraga multi cabang ini bukanlah akhir segalanya. Ia justru melihat momentum di Merauke ini menjadi titik awal untuk menata diri guna mengukir prestasi di ajang-ajang kompetisi wushu berikutnya. Berbekal pengalaman perdana di PON kali ini, semangat putri dari drs. Pujianto dan Siti Zuhaini itu justru semakin membara menatap kejuaraan selanjutnya. “Dari sini saya tahu lawan-lawannya seperti apa, saya semangat lagi karena sudah tahu kekurangannya,” kata dia. Perempuan yang lahir dan besar di Surabaya itu sekarang berdomisili di Merauke setelah dipanggil untuk membela tim wushu Papua pada 2018 silam. Ia pun baru menjalani setumpuk porsi latihan di Bumi Cenderawasih pada 2020 sebelum gejolak pandemi Covid-19 memukul dunia olahraga pada khususnya dan bahkan wabah virus corona ini membuat penyelenggaraan PON terpaksa mundur satu tahun. Cabang olahraga wushu itu sendiri sebenarnya masih tergolong jenis olahraga yang terasa asing di Tanah Papua dan Btari pun mengakui hal itu. “Wushu masih tergolong olahraga baru di sini, rata-rata orang di sini pun tidak tahu wushu itu apa,” kata Btari. Warga setempat yang penasaran dengan jurus-jurus wushu dapat menyaksikan Btari dan rekan-rekannya berlatih di pantai Lampu Satu, salah satu spot wisata favorit di Merauke. Akan tetapi dengan keterbatasan fasilitas seperti arena dan pelatih teknik, tim wushu taolu Papua harus terbang ke luar kota untuk memperdalam ilmu dan menyempurnakan jurus-jurus mereka. “Di Papua wushu memang termasuk jenis olahraga yang masih baru, sehingga kami tidak disediakan (arena) di Merauke, jika kami mau latihan teknik maka kami harus terbang ke Jawa Timur. Jadi di sini kami latihan fisik saja,” kata Btari. Meski wushu tergolong baru di Papua, tak sedikit warga setempat yang menyempatkan diri untuk menonton pertandingan nomor taolu di PON, dan tribun semakin semarak ketika nomor sanda dipertandingkan pada sesi siang. Sejumlah dari mereka bahkan memboyong sejumlah perangkat drum yang ditabuh untuk menyemangati atlet Papua yang bertanding dan tak jarang pula menghaturkan respek kepada atlet daerah lain apabila mereka mengalahkan wakil tuan rumah. Semangat para suporter mermbuat Btari punya keyakinan jika cabang olahraga wushu akan kian berkembang dan digandrungi masyarakat Papua terutama di kalangan generasi muda. Momen pesta olahraga empat tahunan nasional ini, menurut Btari adalah saat yang tepat untuk lebih mengenalkan wushu dan ia juga mengutarakan harapannya untuk ikut mempopullerkan wushu dan memajukan olahraga seni beladiri di bumi cendrawasih. “Harapan saya mulai hari ini dan seterusnya warga Papua, warga Merauke sudah lebih tahu wushu itu seperti apa. Jadi, untuk ke depannya saya berharap adik-adik saya yang junior itu dapat ikut latihan, jadi di Papua ini tidak cuma segelintir orang saja yang bisa berolahraga wushu,” ujar Btari. Apabila wushu mendapat tempat hati di warga setempat, Papua juga memiliki peluang mengirimkan wakil-wakil yang lebih banyak di kejuaraan tingkat nasional. “Jadi saya menyimpan harapan juga nantinya anak-anak kecil ini dibina, kita jadikan atlet wushu yang top dan mumpuni,” kata Btari. Wushu juga merupakan olahraga yang asyik, ungkap Btari, karena banyak mengajarkan gerakan-gerakan akrobatik yang memukau. Selain itu, wushu juga bisa dijadikan olahraga di masa senja, khususnya taiji yang banyak dipraktekkan oleh mereka yang rata-rata berusia di atas 60-70 tahun, dan bahkan masih bisa mengikuti kejuaraan di rentang usia tersebut. “Bukan hanya untuk prestasi tapi kebanggaan dan kesehatan juga. Dan rata-rata orang yang ikut wushu itu dia panjang umur karena dari kecil sudah diajarkan hidup sehat, bagaimana cara mengolah badan mereka sendiri,” pungkasnya.

NTB Bersiap Cetak Pembalap Kelas Dunia

NTB Bersiap Cetak Pembalap Kelas Dunia

Pengprov Ikatan Motor Indonesia (IMI) NTB bertekad melahirkan pembalap berprestasi yang bisa bersaing di kancah nasional maupun dunia. “Mimpi besar kami, ada pembalap dari NTB yang ikut dalam perhelatan dunia sekalas MotoGP, Motto2, dan WSBK,” harap Ketua Pengprov IMI NTB, Nur Haedin. Harapan menghasilkan pembalap berbakat mendapat angin segar. Itu menyusul program IMI Pusat bersama FIM dan Dorna Sport akan menyelenggarakan FIM MiniGP 2022 di Sirkuit Mandalika. Menurut pria yang akrab disapa Edo ini, mimpi besar ini harus diikuti dengan kesungguhan menyiapkan pebalap berbakat sejak dini dengan terencana. Strategi yang baik dan dukungan semua pihak. Termasuk meyakinkan sponsor. Juga dukungan dari Pemprov NTB dan Pemda. Untuk mewujudkan harapan itu, ada beberapa hal yang harus disiapkan. Salah satunya anggaran sebagai investasi. Dana itu untuk berlatih, try out, mengikuti kejuaraan nasional, kejuaraan Asia, tour kejuaraan kelas dunia. Bahkan diberi kesempatan training khusus peningkatan skill untuk menjadi pembalap MotoGP. “Kami memiliki puluhan atlet berbakat usia dini. Kini terus berlatih. Mereka sering mengikuti kejuaraan nasional dan ada yang sudah ikut Asia Talent. Saat ini ada beberapa atlet yang mulai mencoba motor sport,” katanya. Ketua IMI Pusat Bambang Soesatyo mengatakan mulai 2022 IMI bersama Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) dan Dorna Sports sebagai penyelenggara MotoGP akan menyelenggarakan FIM MiniGP Indonesia Series-Road to MotoGP di Mandalika. Ini sebagai ajang pencarian bakat pembalap muda Indonesia untuk bisa berlaga dalam ajang MotoGP. Event ini merupakan kejuaraan balap motor dunia yang akan diikuti pebalap muda berusia 10-14 tahun. Negara yang ingin berpartisipasi, harus menyelenggarakan Series FIM MiniGP di negaranya masing-masing terlebih dulu. Pemenang dari masing-masing negara mengikuti final FIM MiniGP World Series, pada 2022 yang rencananya diselenggarakan di Valencia, Italia. Kejuaraan ini menjadi gerbang pembuka bagi para talenta muda Indonesia menuju pentas bergengsi MotoGP. Sumber: Lombok Post/Jawa Post

Tim BMX Junior Indonesia Mampu Menembus Semifinal Kejuaraan Dunia

Timnas BMX junior buat sejarah dengan tembus semifinal Kejuaraan Dunia

Dua dari empat atlet tim nasional BMX junior Indonesia mencetak sejarah dengan menembus babak semifinal dalam 2021 BMX World Championships, Belanda pada 21-22 Agustus lalu. Kedua atlet tersebut adalah Jasmine Azzahra dan Amelia Nur Sifa. Namun, baik Jasmine Azzahra maupun Amelia Nur Sifa belum mampu bersaing di babak final setelah keduanya gagal menempati posisi pertama saat semifinal. Dalam laga semifinal yang berlangsung Minggu (22/8), Jasmine menempati posisi keenam dari delapan peserta yang tergabung dalam Heat 1. Lalu, Amelia finis di urutan kedelapan Heat 2, demikian catatan resmi Federasi Balap Sepeda Internasional (UCI). Hasil tersebut menjadi catatan sejarah bagi Indonesia sebagai satu-satunya negara Asia yang meloloskan atlet junior putri ke semifinal Kejuaraan Dunia. Sementara itu, dua atlet putra timnas BMX junior, yakni Aditya Putu dan Alfauzan kandas sejak babak penyisihan. Adapun gelar juara kelas men dan women junior masing-masing direbut oleh pebalap Prancis Louison Rousseau dan Mariane Beltrado. Di kelas elite, podium utama Kejuaraan Dunia di Papendal diraih oleh pebalap Inggris Raya Bethany Shriever dan pebalap tuan rumah Niek Kimmann yang sebelumnya memenangi medali emas di Olimpiade Tokyo. Selain berlatih di Belanda, para atlet Indonesia juga diagendakan mengikuti berbagai kejuaraan BMX di Eropa, mulai dari kejuaraan level C1 Series, European Series, hingga World Cup dan World Championships. Usai Kejuaraan Dunia, timnas BMX junior tidak akan langsung pulang ke Tanah Air. Mereka akan bermukim selama tiga tahun di Belanda untuk melanjutkan program pelatihan (staycamp) demi mengumpulkan poin supaya lolos kualifikasi Olimpiade 2024 Paris. Belanda dipilih sebagai tempat pelatihan karena merupakan salah satu negara terbaik di dunia untuk balap sepeda. Pada Olimpiade Tokyo 2020, Negeri Kincir Angin itu meraih medali perunggu di kategori BMX putri dan medali emas BMX putra hanya dengan berlatih di sirkuit supercross mereka di Papendal.

Menuju Olimpiade Paris 2024, FPTI Bidik 4 Atlet Muda Panjat Tebing

Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid mengaku telah memiliki gambaran calon tim utama di Olimpiade Paris 2024. Pemisahan nomor speed dari kombinasi dengan lead-boulder membuat Yenny Wahid optimistis Indonesia akan meraih prestasi. “Olimpiade 2024 nanti bisa jadi momen bagi insan panjat tebing kita, terutama para atlet kita untuk bisa berjaya, untuk bisa kembali merajai, dan menjadi paling the best,” ujar putri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid tersebut, Rabu (4/8/2021). Setidaknya ada empat nama kandidat yang telah dibidik FPTI untuk masuk dalam skuad utama panjat tebing Indonesia menuju Paris 2024. Yenny Wahid menyebutkan atlet incaran tersebut masih berusia belasan dan akan mencapai usia emas saat Olimpiade Paris, tiga tahun lagi. Siapa sajakah keempat proyeksi atlet tersebut? Yang pertama ialah Rahmad Adi Mulyono asal Jawa Timur. Saat ini Rahmad baru 19 tahun. Ia pernah memenangi IFSC Connected Speed Knockout, pada 2 Agustus 2020 lalu. Selanjutnya, ada duo Veddriq Leonardo (Kalimantan Barat) dan Kiromal Katibin (Jawa Tengah) juga masuk radar FPTI menuju Olimpiade Paris 2024. Duo atlet putra panjat tebing Indonesia itu menorehkan prestasi luar biasa pada IFSC Climbing World Cup 2021 di Amerika Serikat dan Swiss. Bahkan, Veddriq Leonardo meraih back-to-back medali emas untuk nomor speed putra di dua ajang kelas dunia panjat tebing tersebut. And that's it! Veddriq Leonardo wins it! 🇮🇩 Watch more sport climbing on https://t.co/RG08DMKMzK 🧗#VillarsWC #ClimbingSurOllon pic.twitter.com/ot8D7CyoBf — The Olympic Games (@Olympics) July 2, 2021 Satu nama terakhir yaitu atlet putri Desak Made Rita Kusuma Dewi, FPTI membidik Rita yang finis keempat saat berlaga di Swiss, bulan lalu. “Rita itu bisa lebih lagi prestasinya. Pada prakualifikasi angkanya nomor tiga,” tutur Yenny Wahid soal alasan FPTI membidik atlet muda Bali itu dalam rilis FPTI. “Pas pertandingan agak enggak mujur, enggak bisa sampai atas. Tergelincir. Ini nasib. Tapi, secara hitungan, dia sudah dapat waktu. Sudah bisa memecahkan itu,” lanjut Yenny. Untuk tim pelapis kedua dan ketiga, FPTI akan mengincar pemain junior yang akan menuju usia remaja ketika Paris 2024 tiba. “Makin muda saat mendalami olahraga ini, makin terbentuk muscle memory-nya atau memori ototnya,” ia menambahkan. “Misalnya, Katibin, mulai dari usia 8 tahun. Penting sekali. Kalau betul-betul ada bakat dan minat dan ketemu dengan FPTI, pasti bisa kami fasilitasi,” pungkasnya.

Selain Persiapan Jelang Kejurnas FORKI, Ini Fokus Vanessa Efendi

Selain Persiapan Jelang Kejurnas FORKI, Ini Fokus Vanessa Efendi

Jelang Kejuaraan Nasional Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Kejurnas FORKI), karateka putri asal Medan, Vanessa Efendi sedang menggenjot persiapan guna mempersiapkan diri mengikuti kompetisi yang rencananya akan digelar di Jakarta dalam waktu dekat ini. Dikatakannya, di antara persiapan itu ia fokus latihan dasar, fisik, dan teknik. Jadwal latihanpun dilaksanakannya setiap hari, di FORKI Sumut dan Medan. “Jelang Kejurnas FORKI nanti, jadwal latihan sebenarnya tergantung pelatih. Biasanya setiap hari, mulai jam 16.00 WIB-18.30 WIB,” ucap Vanessa seperti dilansir Tribun Medan. Selain persiapan jelang kejurnas, atlet karate yang bermain di kelas U21-68 kg ini menyampaikan, ia sangat menjaga kesehatannya. Apa lagi di masa pandemi dan pemberlakuan PPKM. Lebih lanjut diakui Vanessa, pada kompetisi itu ia tidak terlalu mematok target berlebih. Karena, ia hanya fokus memberikan penampilan terbaik. “Medali itu hanya bonus. Kalau prosesnya maksimal, hasilnya mudah-mudahan maksimal juga,” kata ujarnya. Disampaikannya, selain fokus meraih prestasi, Vanessa juga sedang persiapan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Biodata: Nama: Vanessa Efendi Tempat, Tanggal Lahir: Medan , 21 Juni 2003 Ayah: Efran Efendi Ibu: Natasya Viana Dojo: Inkai Tinggi Badan: 173 cm Berat Badan: 61 kg

PB Perpani Sebut Indonesia Punya Masa Depan Cerah di Cabor Panahan

Jumlah atlet panahan Indonesia yang dikirim ke Olimpiade Tokyo 2020 merupakan terbanyak ketiga setelah bulu tangkis dan angkat besi. Dari 28 kontingen Indonesia, empat di antaranya berasal dari cabor panahan. Fakta ini seakan cukup untuk membuktikan bahwa Indonesia punya potensi cukup besar di cabang olahraga panahan. Dilansir dari Antara, Ikhsan Ingratubun selaku manajer Pelatnas mengatakan bahwa masa depan cabor panahan Indonesia memang cukup menjanjikan. Hal ini dikarenakan banyaknya atlet muda potensial yang dimiliki skuad Merah-Putih, diantaranya ialah Arif Dwi Pangestu dan Alviyanto Bagas Prastyadi. Keduanya merupakan dua atlet panahan yang mewakili Indonesia di Olimpiade 2020 bersama para atlet senior, Riau Ega Agatha Salsabila dan Diananda Choirunisa. “Mereka (Arif dan Bagas) sangat menjanjikan. Begitu juga untuk olimpiade berikutnya di Paris 2024. Di sana, mereka sudah lebih matang,” ujar Ikhsan menjelaskan. Ikhsan yang menjabat sebagai Wakil Ketua IV Bidang Hukum, Humas, dan Promosi PB Perpani itu juga mengakui kualitas Arif dan Bagas yang mampu bersaing dengan para senior. “Mereka memang masih junior tetapi angka mereka sudah bisa sejajar atau bahkan melebihi seniornya. Jadi, sangat potensial,” tuturnya. Arif, yang saat ini masih berusia 17 tahun, merupakan atlet yang menyumbang emas untuk Indonesia dalam SEA Games 2019 di Filipina. Saat itu, dia tampil pada nomor beregu putra bersama Riau Ega Salsabila dan Hendra Purnama. Bersama dengan Bagas (19 tahun), Arif lolos ke Olimpiade Tokyo setelah mengantarkan tim panahan putra Indonesia menembus final kualifikasi di Paris, Juni lalu. Keyakinan Ikhsan akan masa depan panahan Indonesia pun makin kuat setelah mendapat lampu hijau dari Kemenpora untuk menggelar Pelatnas lapis kedua. Pelatnas yang akan diikuti oleh banyak pemain muda tersebut rencananya akan dimulai pada awal Agustus mendatang. “Panahan sekarang cabang olahraga yang menjanjikan dan memiliki potensi menjuarai berbagai ajang besar,” ujar Ikhsan memungkasi.

Berkenalan Dengan Shiva, Petembak Muda Sarat Prestasi

Berkenalan Dengan Shiva, Petembak Muda Sarat Prestasi

Meraih prestasi di kompetisi internasional dan masih dalam usia muda tentu saja menjadi kebanggan setiap atlet. Hal ini jugalah yang dirasakan penembak asal Medan, Sumatera Utara, Shiva Awallu Nissa saat tampil di kompetisi bergengsi skala internasional dan berhasil meraih prestasi. Saat usianya masih 19 tahun, Shiva berhasil meraih medali emas pada perhelatan South East Asia Shooting Association (SEASA) dan Indonesia Shooting Championship Open Tournament, tahun 2019 lalu. “Sebenarnya pertandingan tersebut bikin tegang sih, karna lawannya selain dari beberapa daerah juga beberapa negara di Asia Tenggara,” ujarnya kepada Tribun Medan, Kamis (8/7/2021). Pada perhelatan itu, gadis yang akrab disapa Shiva ini mampu menciptakan rekor dengan meraih poin 550 di nomor lomba menembak 10-meter air pistol puteri. Lebih lanjut, Shiva mengatakan, keberhasilannya mengukir prestasi gemilang di usia belia bukanlah sebuah keberuntungan belaka. Proses menuju ke titik ini sudah ia mulai sejak usianya masih terbilang belia. Diakuinya, ia sudah familiar dengan olahraga menembak sejak masih duduk di kelas 3 SMP. Hal itu terjadi, karena ia sering melihat kakak sepupunya, Derli Amalia Putri, yang juga merupakan atlet menembak, berlatih. Selain itu, ia tertarik dengan olahraga membidik target ini karena mempunyai cita-cita sebagai polwan. “Awalnya saya lihat kakak sepupu saya ikut menembak. Dari situ saya mulai tertarik dengan menembak. Setelah saya mengikuti latihan, saya mulai suka menembak dan sekarang menembak jadi bagian dari hidup saya,” ucapnya. Dikatakan Shiva, awalnya aktif sebagai atlet saat masih SMA di Aceh. Ketika kembali ke Medan, ia masuk ke klub menembak Anugerah Shooting Club. Dari sini ia mulai berkembang menjadi atlet profesional. Pertama sekali turun ke gelanggang tahun 2015 mewakili Aceh di kompetisi Jabar Open. Pada kompetisi itu ia langsung menyabet medali emas. Pada tahun 2017 ia kembali ke Medan, dan mengikuti ajang Porkot Medan ke-9. Pada kompetisi ini ia juga menjadi juara satu di nomor lomba 10 m air pistol puteri. “Terbaru, saya akan bertanding di PON Papua, dengan nomor lomba yang sama,” katanya. Biodata: Nama: Shiva Awallu Nissa Tempat, Tanggal Lahir: Medan, 11 April 2000 Prestasi: – Juara 1 Air Pistol Putri Porkot Medan ke-9 tahun 2017 – Juara 1 Air Pistol Putri Porwil Kota Medan IV tahun 2018 – Juara 1 Air Pistol Putri Porkot Medan X tahun 2018 – Juara 3 Air Pistol Putri Sriwijaya Open Championship tahun 2018 – Juara 3 Air Pistol Team Kejurnas Menembak Antarpengprov tahun 2018 – Juara 2 Air Pistol Mix Team Kejurnas Pangdam Jaya tahun 2019 – Juara 2 Air Pistol Putri Porwil Kota Medan V tahun 2019 Sumber: Tribun Medan

Atlet Panjat Tebing Indonesia Juara IFSC World Cup 2021 di Swiss

Atlet Panjat Tebing Indonesia Juara IFSC World Cup 2021 di Swiss

Atlet panjat tebing kebanggaan Indonesia, Veddriq Leonardo, menorehkan prestasi gemilang dalam ajang IFSC World Cup 2021 di Swiss, pada Jumat (2/7/2021) malam waktu setempat. Atlet 24 tahun tersebut sukses menaklukkan wall atau dinding panjang setinggi 15 meter dalam waktu 5,32 detik. Catatan tersebut jauh lebih baik daripada rivalnya di final, Dmitrii Timofeev (Rusia), yang kalah cepat sejak awal dan hanya menorehkan waktu 7,35 detik saja. Veddriq Leonardo mengaku sangat senang karena sukses berdiri di podium utama ajang panjat tebing sekelas IFSC World Cup 2021 lagi. “Saya sangat berterima kasih kepada semua orang yang terus mendukung saya,” ujar Veddriq usai lomba seperti dilansir dari Olympics.com. “Saya sangat senang bisa meraih medali emas. Saya sangat antusias dengan hasil yang saya dapat dalam kompetisi besar seperti ini,” lanjutnya. Ini menjadi gelar juara dunia kedua dalam sebulan terakhir untuk atlet asal Kalimantan Barat setelah kemenangan di ajang Climbing World Cup 2021, Salt Lake City, Amerika Serikat, awal bulan Juni lalu. And that's it! Veddriq Leonardo wins it! 🇮🇩 Watch more sport climbing on https://t.co/RG08DMKMzK 🧗#VillarsWC #ClimbingSurOllon pic.twitter.com/ot8D7CyoBf — The Olympic Games (@Olympics) July 2, 2021 Saat itu, Veddriq mampu mengemas catatan waktu 5,208 detik untuk memastikan medali emas di Salt Lake City. Tidak hanya dari Veddriq, Indonesia juga mendapatkan tambahan medali di ajang yang sama dari Kiromal Katibin. Kiromal Katibin tampil apik di small final hari Jumat kemarin dengan mencatatkan waktu 5,3 detik dan memastikan medali perunggu. Setelah Swiss, kejuaraan dunia panjat tebing masih menyisakan dua turnamen lagi yang akan berlangsung di Prancis dalam waktu dekat sebelum Olimpiade Tokyo resmi dibuka. Panjat tebing akan debut di Olimpiade Tokyo dengan satu nomor yang dipertandingkan, yakni combined antara tiga disiplin speed, bouldering and lead. Baik Veddriq Leonardo maupun Kiromal Katibin berharap mendapat kesempatan untuk tampil di Olimpiade Paris 2024. “Saya dan Veddriq akan terus (berupaya) membawa nama dan prestasi Indonesia ke pentas dunia,” ujarnya bulan Juni kemarin.

Sabet Dua Juara Sekaligus, Petembak Muda Ini Curi Perhatian

Sabet Dua Juara Sekaligus, Petembak Muda Ini Curi Perhatian

Prestasi membanggakan diukir Khansa R. Maani. Diusianya yang baru menginjak 12 tahun, ia mampu meraih prestasi membanggakan pada tournamen menembak Kapolda Sulut Cup yang digelar dalam rangka HUT Bhayangkara Ke–75. Tak tanggung-tanggung, Putri kedua pasangan Santo Maani dan Nadzira Alamri warga Kelurahan Motoboi Kecil ini, menyabet juara di dua kelas berbeda. Masing-masing, Juara I di Kelas 10 Meter Air Rifle Match Women dan Juara II di Kelas Multi Range 18 Meter, 27 Meter, 33 Meter dan 41 Meter Open. Penyerahan hadiah dan trophy kepada para pemenang lomba, dilaksanakan di Halaman Polda Sulut, tepat di Hari Bhayangkara ke-75, Kamis 1 Juli 2021, yang dihadiri Kapolda Sulut Irjen Pol Nana Sudjana. “Lomba menembak ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-75, sekaligus untuk menjalin sinergitas antar instansi dan mencari atlet berbakat dalam menembak,” ujar Kapolda Sulut Irjen Pol Nana Sudjana usai menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba. Sebelumnya, pada tahun 2020 silam, atlet asal Kota Kotamobagu yang tercatat sebagai siswi di SMP Negeri 2 Kotamobagu ini, meraih peringkat 6 dalam kejuaraan Nasional Kelas Air Riffel 10 Meter Match Women Youth. Santo Maani, selaku orang tua sekaligus pelatih Khansa yang saat ini mengantongi lisensi nasional menembak laras panjang dan pendek, berharap adanya dukungan dan perhatian dari pemerintah melalui dinas terkait. Terpisah, saat dihubungi media ini Kepala Dinas pemuda dan olahraga (Dispora) Kota Kotamobagu, Marham Anas Tungkagi, mengaku bangga dengan prestasi yang telah ditorehkan atlet muda asal Kota Kotamobagu ini, sehingga nantinya tetap akan menjadi perhatian pemerintah. “Pada dasarnya Pemkot lewat Dispora sudah mengusulkan anggaran di tahun 2022 untuk semua cabang olahraga termasuk menembak/ Perbakin. Memang tahun ini belum ada, karena anggaran belum memadai ditambah dengan adanya refocusing untuk penanganan dampak pandemi. Namun pada intinya, semua cabor apalagi yang sudah ada prestasi adalah prioritas,” ungkap Anas.

Serius Bina Atlet Muda, Jawa Timur Siap Bangun Sirkuit Motocross Bertaraf Internasional

Serius Bina Atlet Muda, Jawa Timur Siap Bangun Sirkuit Motocross Bertaraf Internasional

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) mendukung pembangunan sirkuit motocross yang akan dibangun di daerah Waru, perbatasan antara Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Dibangun diatas lahan seluar 6 hektar, sirkuit yang terletak di kawasan Blackstone Otomotif Superblok (BOS) Surabaya ini akan menjadi salah satu tempat kegiatan otomotif terbaik dan terlengkap di wilayah Jawa Timur. “Sirkuit didesain memiliki panjang lintasan mencapai 1,4 Km dengan lebar lintasan minimal 10 meter. Sehingga bisa dijadikan salah satu tuan rumah penyelenggaraan MXGP di Indonesia. Menambah semarak pengembangan olahraga motocross, sekaligus pembinaan bibit unggul atlet motocross Indonesia,” ujar Ketua Ikatan Motor Indonesia, Bambang Soesatyo, usai meninjau lahan sirkuit motocross Senin (28/6/21). Pria yang juga menjabat sebagai ketua MPR ini menjelaskan perkembangan motocross di Indonesia semakin pesat. Banyak bibit muda yang memiliki kualitas hebat. Misalnya Ryan Ardiansyah, crosser muda berusia 7 tahun yang berhasil finish di urutan ke-8 dalam Kejuaraan AMA Supercross KTM Junior di San Diego California 2020. “Sebelumnya Diva Ismaya dan Delvintor Alfarizi juga menorehkan prestasi di Kuwait International Motocross 2019. Delvinator finish di posisi ke-3, sementara Diva Ismaya finish di posisi ke 4- Karenanya kita perlu memberikan dukungan dengan memperbanyak sarana sirkuit sekaligus penyelenggaraan kejuaraan, agar para crosser Indonesia bisa semakin meningkatkan prestasinya,” jelas pria yang akrab di sapa Bamsoet. Bamsoet menerangkan keberadaan sirkuit juga akan mendorong pengembangan automotive sport tourism di wilayah Jawa Timur. Sehingga semakin banyak turis berkunjung dan membelanjakan uangnya untuk menggerakan sektor ekonomi rakyat. “UNWTO (United Nations World Tourism Organizations) menyebutkan sport tourism adalah sektor wisata yang pertumbuhannya paling cepat. Bahkan pasca pandemi Covid-19, akan banyak masyarakat yang memilih berwisata di lokasi yang menyiapkan kegiatan olahraga. Potensi ini harus bisa diambil Surabaya melalui sirkuit motocross di kawasan BOS,” pungkas Bamsoet.

Sabet Dua Medali Emas, Ini Target Selanjutnya Kaniya

Sabet Dua Medali Emas, Ini Target Selanjutnya Kaniya

Nama Kaniya Rizki Noviarni melejit usai sukses meraih dua medali emas dari Dao Shu dan Gun Shu Senior Putri pada Sirkuit Nasional Wushu Taolu Seri II yang digelar secara virtual. Usai meraih dua medali emas tersebut, Kaniya pun membeberkan target yang ingin ia capai selanjutnya. “Alhamdulillah terimakasih kepada orang tua, pelatih dan teman-teman yang selalu mendukung usaha aku. Aku bersyukur banget bisa ikut menyumbang medali 2 emas buat DKI. Melalui waktu yang aku korbanin bisa ngehasilin hasil yang baik dan akan lebih baik kedepannya. Buat temen-temen lain yang masih ada tanding, tetep semangat dan selamat bertanding,” ujar Kaniya, Jumat (25/6/2021). Kaniya menekuni olahraga wushu saat duduk di bangku kelas 3 SD pada tahun 2011. Dia berlatih di Sasana Wushu Yayasan Inti Bayangan di bawah asuhan Hulaefi, Rizki, dan Ahmad Rifai. “Ke depan, saya punya target bisa memperkuat Kontingen Indonesia pada SEA Games maupun Asian Games,” tutupnya. Bersama Richard Dean Kurnia, Kaniya merupakan andalan tim DKI Jakarta pada sirkuit yang digelar PB WI pimpinan Airlangga Hartarto dengan dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tersebut. Keduanya sama-sama menyumbang dua medali emas. Richard meraih dua medali emas pada kategori Dao Shu Junior C Putra dan Chang Quan. Berkat sumbangan medali emas dari keduanya, tim DKI Jakarta kian kokoh memimpin klasemen sementara perolehan medali dengan mengoleksi 23 emas, 14 perak, dan 9 perunggu. Biodata Nama: Kaniya Rizki Noviarni Panggilan: Kaniya Lahir: 16 November 2002 Orang Tua: Ir. Raden Ismanadi (ayah) & Ir. Ida Montissori (ibu) Pendidikan: Semester 2 Universitas Bina Nusantara Jakarta Sasana: Yayasan Inti Bayangan Pelatih: Hulaefi, Rizki, dan Ahmad Rifai Idola: Zhao Hua (Tiongkok) dan Achmad Hualefi (Indonesia)

Ini Target Vidya Rafika di Olimpiade Tokyo

Ini Target Vidya Rafika di Olimpiade Tokyo

Atlet menembak putri Indonesia, Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba, menjadi salah satu andalan tim Merah-Putih pada Olimpiade Tokyo 2021, yang akan berlangsung pada 23 Juli- 8 Agustus. PB Perbakin pun menjelaskan mengenai target yang diberikan kepada atlet berusia 20 tahun tersebut. Menurut PB Perbakin, target dari Vidya Rafika adalah mencapai babak final. Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal PB Perbakin, Firtian Yudit Swandarta, mengatakan target tersebut sudah sesuai perhitungan setelah melihat skor yang dicatatkan Vidya dalam sesi latihan yang kerap menyamai skor petembak kelas dunia. “Perbakin menargetkan Vidya di Olimpiade itu adalah masuk di final. Karena final delapan besar ini nanti skornya menjadi 0 semua dan atlet yang sudah mempersiapkan dirinya dengan mental yang kuat itu yang akan menjadi juara di final nanti,” kata Firtian. “Perhitungan kami menembak ini olahraga terukur jadi kami bisa mengukur sejauh mana Vidya bisa masuk final. Karena skor dia itu sudah skor kelas dunia, jadi kesempatan dapat tiket ke final itu cukup besar,” sambung dia. Terkait dengan persiapan Vidya ke Tokyo, Firtian mengatakan para atlet telah didampingi psikolog demi menjaga kondisi mentalnya sehingga bisa tampil rileks saat bertanding di Olimpiade nanti. Ada beberapa pelatihan yang telah diberikan, salah satunya adalah imagery training yang merupakan teknik untuk membantu atlet memvisualisasikan kegiatan yang akan dilakukan sebagai upaya untuk mempersiapkan mental bertanding. “Psikolog, memang setiap atlet selalu didampingi terutama untuk melakukan imagery training, membayangkan mereka sudah berada di Olimpiade. Fungsinya untuk mengurangi tekanan atlet,” kata dia. Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Zainudin Amali, mendukung dan berharap Vidya bisa sukses pada ajang olahraga internasional tersebut. “Memang di Olimpiade Tokyo ini kan kita juga sudah berhitung ya secara realistis. Nah, dari persiapan yang sudah dilakukan, kami optimis Vidya bisa sukses dan meraih hasil terbaik di Olimpiade nanti,” kata Menpora Amali, Selasa (15/6). Menpora Amali menilai, Vidya Rafika memiliki potensi yang sangat baik. Ini mengingat Vidya masih berusia 20 tahun, namun sudah tampil di kompetisi olahraga terbesar dunia. “Vidya ini kan usianya masih muda ya, dua puluh tahun. Sehingga harapannya kedepan bisa terus berprestasi dan apa yang ditargetkan kedepannya bisa tercapai,” jelasnya.

Kisah Inspiratif Petinju Wanita Indonesia Pertama yang Menjadi Finalis Kejuaraan Asia

Kisah Inspiratif Petinju Wanita Indonesia Pertama Peraih Perak Kejuaraan Asia

Sebuah pencapaian kembali diraih oleh atlet muda Indonesia. Kali ini datang dari atas ring tinju. Adalah Huswatun Hasanah yang mampu mengharumkan nama baik Indonesia di kancah internasional. Petinju berusia 23 tahun itu mencatat sejarah baru sebagai wanita pertama asal Indonesia yang berhasil bertanding di final ASBC Eltire Boxing Championship. Huswatun berhasil meraih medali perak kelas 60 kg pada pertandingan final ASBC Asian Elite Boxing Championship di Dubai, Uni Emirat Arab, pada akhir pekan lalu. Peraih medali perunggu Asian Games 2018 Jakarta itu hanya kalah dari petinju Kazakhstan Rima Volossenko pada partai final yang digelar di Le Meredien, 30 Mei. Dia kalah Referee Stops Contest (RSC). Sebelum memijak partai puncak, petinju kelahiran 27 Januari tahun 1998 tersebut lebih dulu mengalahkan Shoira Zulkaynarova (Tajikistan) di babak semifinal dengan skor 3-2. Meskipun belum berhasil mempersembahkan gelar juara untuk Merah-Putih, medali perak Huswatun sangat bersejarah. Huswatun menjadi petinju wanita pertama Indonesia yang mampu menjadi finalis. Sebelumnya, catatan terbaik petinju wanita Indonesia di Kejuaraan Asia hanya mampu merebut medali perunggu atas nama Rumiris Simarmata (48 kg) dan Veronica Nicolas (50 kg). Sedangkan gelar juara terakhir kali diraih petinju putra Hendrik Simangunsong pada Kejuaraan Asia di Bangkok, Thaiand, 1992. Saat itu ia mengalahkan petinju Korea Selatan Choi Ki-soo di babak final kelas light midlleweight 71 kg. “Akhirnya setelah sekian tahun ada lagi petinju Indonesia yang menembus final Kejuaraan Asia dan ini wanita. Terakhir itu, Hendrik Simangunsong di Bangkok, tapi itu kan putra karena putri saat itu belum ada,” kata Kepala bidang Pembinaan Prestasi PP Pertina, Pahotma Sitompul, dilansir dari detikSport. Huswatun akan diproyeksikan menuju SEA Games 2021 di Vietnam bersama petinju lain yang terbagi dalam dua lokasi, Banten dan Batam. Pertina akan melakukan seleksi kepada sejumlah atlet tinju untuk mendapat 11 petinju terbaik di Jakarta pada 8-9 Juni. “Sekarang ini kan jumlahnya masih 200 persen. Jadi akan ada seleksi lagi untuk diambil 11 atlet terbaik yang terdiri dari 3 petinju putri dan 8 petinju putra,” ungkap pria yang karib disapa Ucok ini. Adapun kelas yang dipertandingkan untuk putri, yaitu 51 kg, 57 kg, 60 kg, sedangkan kelas putra terdiri dari kelas layang, 49 kg, 57 kg, 64 kg, 69 kg, 75 kg, 81 kg, 91 kg. “Saya berharap dengan hasil Huswatun di Kejuaraan Asia, di SEA Games kita mendapat hasil terbaik. Ekspetasi saya sangat tinggi karena Asia saja sudah bisa kita pegang,” Pahotma mengharapkan.

Persiapan Olimpiade, Fika Terbang ke Kroasia

Persiapan Olimpiade, Fika Terbang ke Kroasia

Petembak muda Indonesia, Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba atau yang akrab disapa Fika, saat ini tengah mempersiapkan diri jelang keikutsertaannya di Olimpiade Tokyo pada 23 Juli- 8 Agustus mendatang. Guna mematangkan persiapannya tersebut, Fika dijadwalkan mengikuti uji coba di Kroasia pada Juni mendatang. Fika yang bakal turun di nomor 10 meter air rifle putri, tak punya target di Kroasia. Dia mengatakan ingin menambah pengalaman sebagai persiapan di Olimpiade Tokyo 2020. “Saya tidak mematok target medali untuk penampilan di Kroasia. Di sana saya ingin menambah jam terbang sehingga saya bisa lebih siap saat tampil di Olimpiade” ujar Fika, dalam siaran pers Komite Olimpiade Indonesia (KOI) mengutip Antara, Kamis (27/5/2021). Sementara itu Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia, Rosan P. Roeslani, dalam kunjungannya ke pelatnas menembak di Senayan, Jakarta, mengaku terkesan dengan Fika yang bisa lolos kualifikasi dalam usia yang masih muda. “Fika ini atlet muda Indonesia yang luar biasa. Dia lolos kualifikasi Olimpiade pada usia 18 tahun. Semoga ia bisa memberikan penampilan terbaik di Olimpiade Tokyo nanti,” kata Rosan. Fika sebelumnya meraih medali perunggu dalam kejuaraan dunia menembak ISSF World Cup 2021 di New Delhi, India pada 15-26 Maret lalu. Dia menempati posisi ketiga pada nomor beregu 50 meter rifle three positions bersama Audrey Zahra dan Monica Daryanti. Peraih medali emas SEA Games 2019 itu awalnya dijadwalkan mengikuti ISSF World Cup di Baku, Azerbaijan, 21 Juni-2 Juli. Namun panitia penyelenggara telah memutuskan untuk membatalkan kejuaraan yang menjadi turnamen kualifikasi terakhir Olimpiade Tokyo tersebut karena situasi pandemi COVID-19 di negara tersebut. Saat ini, Indonesia hampir dipastikan menurunkan 19 atlet dari enam cabang olahraga ke Olimpiade Tokyo 2020. Keenam cabang olahraga tersebut adalah panahan, menembak, atletik, dayung, bulu tangkis, dan angkat besi. Jumlah itu masih bisa bertambah karena kualifikasi Olimpiade masih berlangsung.

KOSN Karate SMA Tingkat Kota Tangerang Selatan Telah Sukses Diselenggarakan

Kegiatan Karate Dimasa Pandemi Tetap Berjalan Dengan Menjaga Protokol Kesehatan

KOSN Karate SMA Tingkat Kota Tangerang Seletan Telah Sukses Diselenggarakan di YPI Darussalam Ciputat 21 Mei 2021. Ajang Pertandingan Karate Yang Melibatkan Sekolah SMA SeKota Tangerang Selatan telang dilaksanakan secara tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan baik dari pengukuran suhu tubuh, tidak berkerumun, jaga jarak semua wajib pakai masker dan para peserta hanya didampingi oleh guru atau pelatih sekolah. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pembina YPI Darussalam Bapak H.M. Salman Faris, SE Sekaligus Ketua Umum FORKI Tangsel dan juga Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan, Ketua Harian FORKI Tangsel Dadang Rahayu, SH.MH, Sekum FORKI Tangsel Dr. Ir. I Dewa Ketut Suharjana, Kabid Binpres FORKI Tangsel R. Sukma Aji Abimanyu, SH, Bidang Kepelatihan Erick Iskandar, Para Wasit Juri Wakil Ketua Perwasitan Agung Khutobi, Anggota Wasit dan Juga Bidang Pertanding Marwanto JR, dan Anggota Wasit Roy Kadafi, Selain itu Hadir Juga Dari Guru-guru MGMP Tangsel Bapak Masduki, Bapak Riki, Bapak Julius dan Anggota MGMP yang lain. Sebelum acara dimulai Ketua Umum FORKI Tangsel Bapak H.M. Salman Faris, SE memberikan sambutan sakaligus membuka KOSN Karate SMA Tingkat Kota SeKota Tangerang Selatan, Dilanjut penyerahan Setifikat Sertifikasi Pelatih Karate Propinsi Banten yang diselenggarakan Dispora Provinsi Banten tanggal 30 November s/d 4 Desember 2020 dan juga penyerahan Sertifikat Coaching Klinik Pelatih yang yang diselenggarakan KONI Kota Tangerang Selatan 6 – 7 November 2020. Adapun yang mendapat sertifikat Sertifikasi Pelatih Karate Provinsi Banten : 1. R. Sukma Aji Abimanyu, SH 2. Erick Iskandar 3. Marwanto JR 4. Agung Khutobi dan yang mendapat Sertifikat Coaching Klinik Pelatih yang diselenggarakan KONI Kota Tangerang Selatan : 1. R. Sukma Aji Abimanyu, SH 2. Agung Khutobi Selanjutnya adalah hasil KOSN Karate SMA Tingkat Kota SeKota Tangerang Selatan : Putri – Juara 1 Alaysa Sahidatul dari SMAN 2 Kota Tangerang Selatan – Juara 2 Sabrina Hafizah Dini dari SMAN 11 Kota Tangerang Selatan – Juara 3 Andine Amanda dari SMAN 4 Kota Tangerang Selatan Putra – Juara 1 Bambang Priyambodo dari SMAN 1 Kota Tangerang Selatan – Juara 2 Sohail Ali Adil Hakim dari SMAN 2 Kota Tangerang Selatan – Muhammad Raihan dari SMAN 10 Kota Tangerang Selatan. Partandingan tersebut juga terlaksana dengan baik Sportif dan tidak ada kecurangan karena semua Pejabat FORKI juga menyaksikan juga para pelatih-pelatih senior juga melihat dengan cukup seksama bahwa pertandingan itu cukup netral dan tidak ada titip wasit dan sebagainya apalagi pelaksanaan dilaksanakan dimarkas FORKI Tangsel sendiri sehingga ditunggui langsung oleh Ketua Umum FORKI Kota Tangerang Selatan Bapak H.M. Salman Faris, SE. Hasil dari Kejuaraan tersebut akan dikirim pada KOSN Tingkat Provinsi Banten pada tanggal 29 Mei 2021 dan semoga duta dari Tangsel bisa berlanjut ke KOSN Tingkat Nasional.

Sirnas Wushu Taolu Seri I Lahirkan Juara Baru, Tandai Regenerasi Wushu Indonesia

Sirnas Wushu Taolu Seri I Lahirkan Juara Baru, Tandai Regenerasi Wushu Indonesia

Atlet wushu muda asal Jawa Barat, Tasya Ayu Puspa Dewi, sukses menjadi juara baru Sirkuit Nasional Wushu Taolu Seri I/2021 yang digelar secara virtual, Kamis (25/3/2021). Tasya sukses menyabet medali emas dengan mengalahkan seniornya Juwita Niza Wasni yang tercatat pernah menjadi juara dunia 2015. Ayu yang saat ini baru menginjak usia 20 tahun itu tampil lebih sempurna membawakan Jurus Selatan (Nan Quan). Dirinya sukses meraih emas dengan mengalahkan Juwita yang harus puas dengan medali perak. “Seneng pasti bisa meraih medali emas di Sirkuit Nasional Wushu Taolu Seri I/2021. Boleh dibilang saya memang beruntung karena kak Niza yang sudah banyak meraih gelar juara di ajang internasional lagi masa pemulihan dari cidera jadi tak bisa tampil maksimal,” kata Tasya yang merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Hermanto dan Lenny Wati Tatang itu. Atlet yang mengidolakan bintang kungfu asal China, Wang Di dan mantan atlet nasional Indonesia, Eric Losardi ini mengaku senang dengan digelarnya Sirkuit Nasional Taolu di bawah PB WI pimpinan Airlangga Hartarto dan didukung Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Terlebih, ajang ini dimanfaatkannya sebagai ajang uji coba untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021. “Ya, senang pasti adanya Sirkuit Nasional Wushu Taolu karena sudah setahun tidak ada even akibat pandemi Covid 19,” ucapnya. “Di sini, saya bisa melihat perkembangan prestasi dan lawan-lawan yang bakal dihadapi pada PON Papua nanti,” sambung Tasya yang menargetkan mampu menyumbangkan medali emas untuk Kontingen PON Jawa Barat nanti. Dirinya mengaku berlatih olahraga wushu sejak berusia 9 tahun. Dia berlatih di Sasana Wushu Yayasan Harapan Kasih Bandung di bawah asuhan Andry Hertanton, Ginggi Safitri dan Yadi. “Saya senang dengan olahraga beladiri wushu karena gerakan sangat indah,” pungkas Tasya yang selalu berdoa sebelum tampil dan tetap semangat sesuai pesan kedua orang tuanya. Hermansyah Bio Data Nama: Tasya Ayu Puspa Dewi Panggilan: Tasya Lahir: Bandung, Jawa Barat, 15 Oktober 2000 Klub: Yayasan Harapan Kasih Bandung Prestasi: – 1 Emas Kejurnas Wushu Babak Kualifikasi PON Bangka 2019 – 3 Emas Kejuaraan Wushu Junior Semarang 2019 – 2 Perak Kejuaraan Wushu Junior Yogjakarta 2017 – 3 Emas Kejuaraan Wushu Junior A Bangka 2016