SBY Didedikasikan untuk Pembinaan Anak Usia Dini

SBY Didedikasikan untuk Pembinaan Anak Usia Dini

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mendukung penuh tumbuhnya atlet olahraga sepak bola yang berkualitas di Kabupaten Jayapura. Namun tentunya butuh dukungan sarana prasarana agar harapan itu bisa terwujud. Ini merupakan bentuk dukungan dari pemerintah Kabupaten Jayapura terhadap pengembangan sepak bola di Kabupaten Jayapura, sehingga menyerahkan pemanfaatan Stadion Barnabas Youwe (SBY) untuk pembinaan anak usia dini. “Stadion Barnabas Youwe ini didedikasikan untuk anak usia dini. Itu arahan langsung dari bapak bupati,” ujar Kepala Dinas Olahraga kabupaten Jayapura, Yaan Yoku kepada Cenderawasih Pos, Kamis (2/6). Oleh karena itu pihaknya sedang merancang jadwal untuk anak-anak usia dini, yang tergabung di beberapa SSB di Kabupaten Jayapura untuk bisa bertanding di stadion tersebut. “Pembinaan SSB tetap jalan di masing-masing klub. Kami hanya memfasilitasi untuk ada sparing antar SSB,” imbuhnya. Terkait rencana itu, pihaknya sudah membangun komunikasi dengan sejumlah pelatih dan dipastikan dalam waktu dekat jadwal sparing itu sudah bisa dijalankan di stadion tersebut. Pihaknya memastikan pemanfaatan lapangan itu bagi anak-anak di SSB di Kabupaten Jayapura diberikan waktu dari Hari Senin sampai Jumat. Sementara untuk Hari Sabtu dan Minggu akan dipakai untuk umum, yang kemudian didorong adanya pemasukan PAD dari pemanfaatan stadion tersebut. Di Kabupaten Jayapura sendiri sejauh ini ada sekitar 13 SSB yang sudah ada komunikasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jayapura. Ini merupakan dukungan dari pemerintah Kabupaten Jayapura untuk pengembangan talenta sepak bola muda Papua yang dibina mulai dari usia dini. Selama ini sejumlah SSB ini tetap menjalankan kegiatan berlatih dengan memanfaatkan dana atau dukungan seadanya. “Ada SSB yang mungkin dia mengalami kesulitan karena tidak ada lapangan latihan. 13 SSB yang ada ini berdasarkan data kami mereka bertahan dari semangat sendiri dan dukungan dari orang tua,” pungkasnya.

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

“Saya mulai detik ini menjadi atlet Papua.” Kalimat itu kembali ditekankan oleh Btari Bela Swatitis, seorang atlet muda cabang olahraga wushu yang baru pertama kali ikut serta di Pekan Olahraga Nasional. Btari unjuk kebolehan memperagakan jurus taiji tangan kosong dan pedang ketika menjalankan tugasnya mewakili tuan rumah di cabang olahraga wushu PON XX Papua klaster Merauke. Menjadi debutan tak membuat gentar perempuan kelahiran Surabaya pada 14 November 1998 itu menantang atlet-atlet wushu lebih berpengalaman dan yang datang dari berbagai daerah yang notabene merupakan unggulan di kompetisi seni beladiri asal negeri Tirai Bambu itu. “Tak akan gentar, karena kita semua sama-sama makan nasi lalu kenapa harus merasa gentar. Enggak ada yang perlu ditakutkan,” kata Btari saat ditemui setelah bertanding di GOR Futsal KONI, Merauke, Papua. Meski harus puas finis di peringkat paling buncit untuk nomor kombinasi taolu, namun tak semburat rasa kecewa di raut wajah sosok perempuan yang telah mengenal wushu sejak usia 12 tahun itu. Bagi Btari, kekalahan di ajang pesta olahraga multi cabang ini bukanlah akhir segalanya. Ia justru melihat momentum di Merauke ini menjadi titik awal untuk menata diri guna mengukir prestasi di ajang-ajang kompetisi wushu berikutnya. Berbekal pengalaman perdana di PON kali ini, semangat putri dari drs. Pujianto dan Siti Zuhaini itu justru semakin membara menatap kejuaraan selanjutnya. “Dari sini saya tahu lawan-lawannya seperti apa, saya semangat lagi karena sudah tahu kekurangannya,” kata dia. Perempuan yang lahir dan besar di Surabaya itu sekarang berdomisili di Merauke setelah dipanggil untuk membela tim wushu Papua pada 2018 silam. Ia pun baru menjalani setumpuk porsi latihan di Bumi Cenderawasih pada 2020 sebelum gejolak pandemi Covid-19 memukul dunia olahraga pada khususnya dan bahkan wabah virus corona ini membuat penyelenggaraan PON terpaksa mundur satu tahun. Cabang olahraga wushu itu sendiri sebenarnya masih tergolong jenis olahraga yang terasa asing di Tanah Papua dan Btari pun mengakui hal itu. “Wushu masih tergolong olahraga baru di sini, rata-rata orang di sini pun tidak tahu wushu itu apa,” kata Btari. Warga setempat yang penasaran dengan jurus-jurus wushu dapat menyaksikan Btari dan rekan-rekannya berlatih di pantai Lampu Satu, salah satu spot wisata favorit di Merauke. Akan tetapi dengan keterbatasan fasilitas seperti arena dan pelatih teknik, tim wushu taolu Papua harus terbang ke luar kota untuk memperdalam ilmu dan menyempurnakan jurus-jurus mereka. “Di Papua wushu memang termasuk jenis olahraga yang masih baru, sehingga kami tidak disediakan (arena) di Merauke, jika kami mau latihan teknik maka kami harus terbang ke Jawa Timur. Jadi di sini kami latihan fisik saja,” kata Btari. Meski wushu tergolong baru di Papua, tak sedikit warga setempat yang menyempatkan diri untuk menonton pertandingan nomor taolu di PON, dan tribun semakin semarak ketika nomor sanda dipertandingkan pada sesi siang. Sejumlah dari mereka bahkan memboyong sejumlah perangkat drum yang ditabuh untuk menyemangati atlet Papua yang bertanding dan tak jarang pula menghaturkan respek kepada atlet daerah lain apabila mereka mengalahkan wakil tuan rumah. Semangat para suporter mermbuat Btari punya keyakinan jika cabang olahraga wushu akan kian berkembang dan digandrungi masyarakat Papua terutama di kalangan generasi muda. Momen pesta olahraga empat tahunan nasional ini, menurut Btari adalah saat yang tepat untuk lebih mengenalkan wushu dan ia juga mengutarakan harapannya untuk ikut mempopullerkan wushu dan memajukan olahraga seni beladiri di bumi cendrawasih. “Harapan saya mulai hari ini dan seterusnya warga Papua, warga Merauke sudah lebih tahu wushu itu seperti apa. Jadi, untuk ke depannya saya berharap adik-adik saya yang junior itu dapat ikut latihan, jadi di Papua ini tidak cuma segelintir orang saja yang bisa berolahraga wushu,” ujar Btari. Apabila wushu mendapat tempat hati di warga setempat, Papua juga memiliki peluang mengirimkan wakil-wakil yang lebih banyak di kejuaraan tingkat nasional. “Jadi saya menyimpan harapan juga nantinya anak-anak kecil ini dibina, kita jadikan atlet wushu yang top dan mumpuni,” kata Btari. Wushu juga merupakan olahraga yang asyik, ungkap Btari, karena banyak mengajarkan gerakan-gerakan akrobatik yang memukau. Selain itu, wushu juga bisa dijadikan olahraga di masa senja, khususnya taiji yang banyak dipraktekkan oleh mereka yang rata-rata berusia di atas 60-70 tahun, dan bahkan masih bisa mengikuti kejuaraan di rentang usia tersebut. “Bukan hanya untuk prestasi tapi kebanggaan dan kesehatan juga. Dan rata-rata orang yang ikut wushu itu dia panjang umur karena dari kecil sudah diajarkan hidup sehat, bagaimana cara mengolah badan mereka sendiri,” pungkasnya.

Kapolres Jayapura Beri Dukungan Kepada Atlet Timnas U-15 Asal Papua

Kapolres Jayapura Beri Dukungan Kepada Atlet Timnas U-15 Asal Papua

Papua menjadi daerah penyumbang pesepak bola penuh talenta dalam sejarah sepak bola di Indonesia. Banyak pemain yang akhirnya punya nama besar yang berasal dari provinsi paling timur di Indonesia ini. Regenerasi pesepakbola asal Papua pun terus berlangsung. Baru-baru ini, ada 9 wonderkid asal Papua yang tergabung di Timnas Indonesia U-15. Ke-9 pemain tersebut yaitu, Mikael Tata, Rhoben Pulanda, Sewori Aisoki, Marcello Buara, Kosmas Kamarka, Richardo Kaka Youwe, Donny Yoku, Desman Wakerkwa dan Adriano Manuri. Mereka diundangan untuk datang bersama orang tua masing-masing ke Command Centre Polres Jayapura dan dilanjutkan ke Stadion Lukas Enembe di Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, untuk memenuhi panggilan dari Kapolres Jayapura, AKBP Victor Dean Mackbon, Kamis, 28/01 pagi. Menurut Victor, undangan khusus ini sengaja dilakukan untuk memberikan semangat dan motivasi kepada para pemain yang akan kembali menempuh pendidikan umum dan sekolah sepak bola di Bandung Jawa Barat, usai liburan natal 2020. “Ini adalah momen yang tidak datang dua kali, sehingga harus dimanfaatkan dengan baik. Tetap berkarya dan berjuang dengan membawa nama baik keluarga dan Papua pada umumnya,” kata Victor kepada 9 pemain sepak bola U-15 asal Papua. Victor meyakinkan ke-9 atlet muda asal Papua bahwa mereka tak salah jalan dengan membangun karakter yang baik sejak usia remaja. “Pintar saja tidak cukup jika tidak mempunyai karakter yang baik. Sebagai anak Papua harus maju, terus bersaing dengan hal – hal positif dan selalu berdoa. Jika masih ada yang kurang, masih ada yang salah, tetap harus berdoa,” Victor terus memberikan motivasi. Dirinya juga memberikan dukungan kepada orangtua pemain yangtetap berperan aktif untuk mengingatkan apa yang kurang maupun hal-hal positif yang harus dilakukan kepada anak-anaknya dalam berprestasi. Pertemuan yang dilakukan Kapolres Jayapura bersama ke-9 pemain sepak bola muda asal Papua bukan yang pertama kali. Tahun 2019 juga pernah dilakukan pertemuan kepada atlet sepak bola muda Papua sebelum berangkat mengikuti turnamen internasional Iber Cup Estoril di negara Portugal.

Demi Hasil Maksimal PON XX 2020 Papua, 729 Atlet DKI Ikuti Tes Performa POB

Sebanyak 729 atlet dari 34 cabang olahraga, yang tergabung dalam Program Pembinaan Olahraga Berkelanjutan (POB) DKI Jakarta, telah menjalani test performa sejak 16 hingga 22 Oktober 2018 di Rawamangun, Jakarta Timur. (indopos.co.id)

Jakarta- Sebanyak 729 atlet dari 34 cabang olahraga, yang tergabung dalam Program Pembinaan Olahraga Berkelanjutan (POB) DKI Jakarta, telah menjalani test performa sejak 16 hingga 22 Oktober 2018, di Rawamangun, Jakarta Timur. Masih 10 cabang olahraga lagi yang belum melakukan tes perfoma. “Atlet yang belum mengikuti tes performa, akan dipanggil untuk segera mengikuti tes tersebut. Dengan harapan, agar kondisi fisiknya cepat terpantau dari jauh hari,” jelas koordinator technical sport POB, Del Asri, Senin (22/10) di Jakarta. Menurutnya, atlet yang belum mengikuti tes sebagian besar datang dari cabang olahraga beregu, seperti sepakbola dan futsal. Dia berharap, atlet dari cabang yang belum mengikuti tes dalam bulan ini (Oktober) sudah harus ikut tes, agar tetap masuk dalam daftar POB. Sementara itu, salah satu anggota Technical supports POB, Hermanto menegaskan, test yang dilakukan ini hasilnya masih akan dikumpulkan dan didata, oleh tim pengolah data. “Test performa bagi atlet yang tergabung dalam POB ini amat penting artinya demi mengetahui kondisi fisik yang dimiliki. Dan, atlet terus terpompa semangatnya, menyiapkan diri menuju PON XX Papua 2020,” ujar Hermanto. Ia menegaskan, pelaksanaan PON XX Papua 2020, waktunya memang cukup panjang, namun persiapan atlet harus jauh hari. Sebab, setiap atlet yang ditempa di bawah naungan PON harus selalu siap tampil di berbagai event. Begitu juga dengan fisik, teknik, dan psikologi, selalu siap tampil dalam berbagai event. Menurutnya, untuk tes performa dibagi tiga disiplin yakni kesehatan, psikologi dan fisik. Segi fisik test performanya cabang yang satu dan lainnya tidak sama. Seperti halnya catur dan bridge tidak bisa disamakan dengan cabang atletik yang harus memiliki fisik cukup handal. Nantinya, test performa yang dilakukan akan berbeda, antara yang satu atlet dengan lainnnya. Semua tes harus pun disesuaikan dengan cabang yang bersangkutan. Dengan harapan, fisik atlet tetap terjaga saat tampil dalam pertandingan. Saat ini, menurut Hermanto, atlet yang masuk dalam daftar POB berjumlah 1.100 orang. Sementara yang sudah mengikuti Test Performa mencapai 729 atlet. Untuk atlet yang belum mengikuti test, diharapkan segera menyusul dalam waktu dekat ini. Pembinaan Sport Science melalui program POB ini, menerapkan sistem Promosi Degradasi (Promdeg). Dengan waktu yang telah ditentukan, bila atlet yang tergabung dalam POB ternyata gagal menunjukkan peningkatan prestasi, maka ia dapat didegradasi dan digantikan atlet lain. Program Promdeg itu berjalan hingga pembentukan kontingen tim inti, menuju PON XX  Papua 2020. Targetnya adalah kontingen DKI Jakarta meraih juara umum alias menduduki peringkat satu dalam klasemen PON XX nantinya. (art)

Siapkan SDM Berkualitas Jelang POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, Kemenpora Gelar Pelatihan Manajemen Multievent Olahraga

Kemenpora menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Keolahragaan dan Manajemen Penyelenggaraan Multievent Olahraga untuk POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, di Kota Jayapura, pada 16-18 Oktober 2018. (Kemenpora)

Jayapura- Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Keolahragaan dan Manajemen Penyelenggaraan Multievent Olahraga untuk ajang POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, di Kota Jayapura, pada 16-18 Oktober 2018. Akhyar Matra, Ketua Penyelenggara sekaligus mewakili Asisten Deputi (Asdep) Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, mengatakan tujuan kegiatan ini meningkatkan kemampuan manajemen organisasi dan manajemen penyelenggaraan multievent. Pelatihan ini mempunya target khususnya jelang persiapan penyelenggaraan diadakannya event POPNAS (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) 2019 dan ajang PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020, di Papua. “Kegiatan ini diikuti 200 orang peserta yang berasal dari organisasi keolahragaan di Papua, seperti KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), Pengprov Cabor (Pengurus Provinsi Cabang Olahraga), serta instansi terkait lainnya yang akan terlibat di POPNAS dan PON,” ujar Akhyar dalam sambutannya dihadapan ratusan peserta yang hadir. Sementara itu, Timotius Madoan, Ketua Bidang (Kabid) Pembudayaan Olahraga mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Papua, mengaku bersyukur dan Kemenpora memfasilitasi pelatihan ini. “Ini penting sebagai bekal kami sebagai tuan rumah POPNAS dan PON mendatang,” terang Timotius. (Adt)

Lahir Dari Keluarga Petani Di Puncak Jaya Papua, Yorince Kogoya Mimpi Bela Tim Nasional Indonesia

Terdapat 11 talenta muda sepak bola yang tergabung pada Uni Papua UC Football Ambassador Team untuk mengikuti program pelatihan sepak bola secara intensif di Jakarta. (Adt/NYSN)

Jakarta- Yorince Kogoya, memiliki impian bisa membela tim nasional (Timnas) Indonesia di berbagai turnamen sepakbola, baik level nasional maupun internasional. Lahir dari ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, dan ibu yang menjalani kesehariannya sebagai petani, di Distrik Mulia, kawasan Puncak Jaya, Papua. Yorince menjadi salah satu dari remaja yang terpilih dalam program Uni Papua UC Football Ambassador Team, bersama 10 rekannya yang lain. Dan, berhak untuk mengikuti program pelatihan sepak bola secara intensif selama satu minggu guna meningkatkan kemampuan para peserta dalam bermain si kulit bundar. “Harapannya kedepan UC Browser dan Uni Papua tetap bekerjasama dengan kami, sehingga teman-teman bisa mendapat kesempatan untuk bisa menjadi pemain bola profesional, dan suatu saat bisa membela tim nasional,” ujar Yorince, di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/7). Berasal dari pegunungan tertinggi di Papua, Yorince memiliki struktur fisik serta kemampuan menghadapi tantangan. Dara kelahiran Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, 25 November 2001 itu memang memiliki kecintaan terhadap sepak bola. Bahkan ia memiliki kakak pesepak bola profesional. Yorince adalah adik dari Frengky Pare Kogoya, winger 21 tahun yang kini membela Persija Jakarta. Benih-benih kecintaan terhadap olahraga yang sangat populer di dunia itu makin kuat. Niatnya tulus yakni ingin melanjutkan tradisi serta membanggakan keluarga. “Inspirasi saya bermain sepak bola itu dari Frengky. Karena saya melihat kalau kakak bermain sepak bola itu mendapatkan banyak teman,” tuturnya. “Saya ingin terus mengasah kemampuan dan terus berlatih. Sehingga bisa menjadi pemain profesional membela tim Persipura Galanita, serta tim nasional Indonesia,” cetusnya. Yorince mengungkapkan dirinya senang bisa bermain bola di Uni Papua, yang tak sekedar klub berlatih, tapi juga gerakan sosial yang menjadikan sepak bola sebagai tempat bagi anak-anak untuk menyalurkan bakatnya dan menggunakan sepak bola sebagai alat perubahan sosial. “Saya senang bermain bola di Uni Papua. Karena Uni Papua mengajarkan saya semua hal yang baik. Bisa membawa saya lebih mengenal sepak bola, memperkenalkan teknik-teknik dalam sepak bola,” tukas siswi kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Mulia, J. Pattiruhu, Distrik Mulia, Wuyuneri, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. (Adt)

Bentuk Uni Papua UC Football Ambassador Team, Kontribusi Bagi Talenta Muda Sepak Bola Indonesia

Terdapat 11 talenta muda sepak bola yang tergabung pada Uni Papua UC Football Ambassador Team untuk mengikuti program pelatihan sepak bola secara intensif di Jakarta. (Adt/NYSN)

Jakarta- Sepak bola selalu menjadi topik hangat bagi masyarakat Indonesia. Mengingat olahraga ini sangat populer, baik di Tanah Air maupun dunia. UC Browser, platform mobile browser dan content distribution di Indonesia, mengumumkan kerjasama dengan organisasi sosial sepak bola, Uni Papua. Mereka membentuk Uni Papua UC Football Ambassador Team. Progam ini sebagai bagian mendukung talenta-talenta muda untuk bisa mewujudkan mimpi mereka. Program ini juga menyediakan pelatihan sepak bola secara intensif selama satu minggu guna meningkatkan kemampuan para peserta. Setelah tahun lalu sukses membawa anak-anak berbakat dari Tulehu mengikuti pelatihan intensif selama tiga bulan bersama Chelsea FC Soccer School, UC Browser memperluas kontribusi mereka pada komunitas sepak bola dengan memilih 9 anak- anak berbakat dari berbagai daerah di Indonesia. Diantaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, Bali, dan beberapa daerah lainnya untuk disatukan ke dalam tim sepak bola. Tulehu adalah sebuah Desa di Kecamatan Sala Hutu, Maluku Tengah, Provinsi Maluku, yang dikenal sebagai penghasil bakat muda pesepak bola untuk Indonesia. Damon Xi, General Manager of UCWeb Indonesia and India, Alibaba Digital Media and Entertainment Group, mengatakan UCWeb hadir menjadi bagian dari komunitas sepak bola lokal. “Kami ingin terus berkontribusi bagi perkembangan sepak bola di Indonesia. Uni Papua UC Browser Team menjadi tim brand ambassador kami dan mewakili citra UC Football,” ujar Damon, di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/7). Sementara itu, Hirma Amilia Sjarif, Coach Educator Uni Papua, mengapresiasi dukungan yang diberikan UC Browser pada talenta-talenta muda berbakat dari berbagai daerah dengan memilih 11 anak-anak Indonesia terbaik. “Program ini sebagai pembentukan karakter anak-anak dalam bermain sepak bola. Anak-anak muda Indonesia bisajadi pemain sepak bola yang baik sekaligus memiliki karakter kuat,” terang Hirma. “Kami tentu mengucapkan banyak terima kasih untuk dapat diberikan kesempatan berlatih seperti ini,” lanjutnya. Sedangkan Darius Sinathrya, aktor yang konsen terhadap perkembangan sepak bola, mengungkapkan dirinya merasa senang dan bangga bisa memberi dukungan pada program yang baik dengan mengambil sepak bola sebagai program sosial. “Sudah banyak program, tapi program ini menyasar anak-anak yang tak terjangkau. Sangat bagus, sebab memberi kesempatan pada anak-anak dengan bakat yang baik mengikuti pelatihan selama satu minggu secara intensif,” tukas pria yang kerap memandu program sepak bola di stasiun televisi itu. (Adt)

Bola Kuning Ajaib Uni Papua, Ikut Aktif Jaga Perbatasan NKRI

Satgas pengamanan perbatasan RI-Papua Nugini berpose dengan bola unik Uni Papua, yang tak bisa bocor walau ditusuk. (bolapsort.com)

Jakarta- Pasca mendapat penghargaan dan apreasiasi, dari dalam negeri maupun luar negeri, Uni Papua terus bersemangat untuk menyebarkan nilai-nilai positif kepada anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui sepak bola sosial. Eksistensi gerakan sepak bola sosial Uni Papua menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan semangat kebhinekaan tak diragukan lagi. Contoh terkini adalah aktivitas anggota TNI yang bertugas di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Tepatnya anggota satgas pengamanan perbatasan RI-Papua Nugini Yonif Raider 323/Buaya Putih Kostrad yang sedang berada di Kampung Bupul 13, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Papua. Para anggota TNI itu menggunakan bola kuning dari Uni Papua, untuk bermain bersama beberapa anak di halaman depan salah satu rumah warga. Bola kuning yang dimainkan adalah bola milik Uni Papua, yang didapatkan dari NGO International One World Play Project, yakni mitra Uni Papua. Padda 2016, Uni Papua mendapatkan sumbangan bola kuning sebanyak 2 kontainer, atau lebih kurang 20.000 buah bola. Bola-bola ini telah dibagikan di hampir seluruh cabang Uni Papua di Indonesia dan juga diberikan bersamaan dengan program “Trauma Healing” di daerah-daerah bencana di Indonesia. Nama lain dari bola kuning itu adalah magic ball karena bola tersebut terbuat dari bahan karet yang tak mudah terkelupas atau rusak sekalipun dimainkan di permukaan yang berbatu ataupun berair. Bola ini juga tidak bisa kempis karena terdapat lubang atau sela keluar masuk udara. Bola ini bahkan tidak akan bocor jika ditusuk dengan kawat atau paku. Itu sebabnya Uni Papua selalu membagikan bola kuning kepada anak-anak di daerah terpencil yang mungkin belum mempunyai lapangan sepak bola standar nasional di lingkungannya. Uni Papua berharap melalui bola yang dibagikan, terutama di wilayah perbatasan NKRI, tidak hanya memberikan sarana bermain bagi anak-anak, namun bersamaan dengan itu menanamkan semangat perdamaian, toleransi, dan kebhinekaan dalam diri anak-anak Indonesia. Uni Papua, yang dirintis sejak 2010 dan berdiri pada 2012 di Papua, melihat potensi itu. UNI Papua merupakan sebuah komunitas yang aktif menggunakan sepak bola untuk aktivitas sosial, khususnya pembentukan karakter anak usia remaja, kisaran 6-21 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Lahirnya Uni Papua dilatarbelakangi keinginan menggunakan sepak bola sebagai media mengajak anak usia remaja menjauhi minuman keras (miras), narkoba, pencegahan HIV, hingga seks bebas. Lebih dari itu, UNI Papua hadir pada anak remaja yang memiliki latar belakang masalah dengan keluarga. Uni Papua sudah diakui oleh FIFA yang memiliki program CSR dalam bentuk Football for Hope. UNI Papua tercatat sebagai anggota Street Football World, yang berstatus rekanan FIFA. Selain itu, Uni Papua juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga lain seperti Coaches Across Continents (yang bermarkas di Amerika Serikat), International Sports Alliance (Belanda), dan banyak lagi. Kerja sama dilakukan dalam bentuk pelatihan relawan, sehingga sebelum terjun ke lapangan, para relawan sudah dibekali ilmu yang bermanfaat untuk membimbing para remaja yang tergabung dalam komunitas. Hingga sekarang sudah ada 28 cabang komunitas Uni Papua di seluruh Indonesia. Meski bernama UNI Papua, komunitas ini hadir di berbagai pelosok Tanah Air. Seperti di NTT, Kalimantan, Sulawesi, Jateng, dan Aceh. (Dre)

Uni Papua: Bangkitnya Gerakan Olahraga Sepak Bola Sebagai Simbol Sportifitas

Moresby, satu relawan Uni Papua saat diminta keterangan oleh NYSN

The International Indonesia Generation Foundation, atau NGO/ Non Governmental Organizations uni papua. Membawa misi penting menyebarkan perdamaian dalam kegiatan olahraga bola. Berdiri pada tahun 2010 yang di pimpin oleh tokoh muda Harry Wijaya uni papua membawa olahraga bola di kombinasikan kegiatan sosial, seperti yang di paparkan oleh salah satu relawan Uni Papua, Moresby yang menyatakan bahwa di tengah konflik iklim perpolitikan masih terus berupaya untuk menggali minat anak bangsa dalam olah raga. Program yang dilakukan oleh Uni Papua adalah membangun kehidupan sosial anak-anak dari usia 6 – 21 tahun, membina mereka dalam wadah Sekolah Sepak Bola usia dini. “Kami terus bergerak di tengah ketidak stabilan kondisi politik papua dan beberapa kota besar lainnya di indonesia pada saat itu dengan mengusung olah raga Sepak Bola sebagai icon perdamaian.” Terang Moresby Moresby juga menambahkan bahwa dengan gerakan olahraga perlahan mendapatkan tempat di hati peminatnya dengan totalitas sportifitas. “Di bawah kepemimpinan CEO Uni Papua bapak Harry Wijaya, 50 Relawan Uni Papua tersebar hingga pelosok Indonesia, tidak hanya itu cabang cabang di luar negeri juga sudah tersebar gerakan sportifitas di negara negara besar.” Ujar Moresby Dan resminya Uni Papua FC / Football Community didirikan berdasarkan Akta Notaris No 10 tertanggal 8 November 2013 Notaris Chandra Lim, S.H., LL.M, sebagai Organisasi Sosial dan Non Government Organisation dengan kategori Social Sport Development. (adt)