Remaja 18 Tahun Asal Lombok Utara, Jadi Kampiun 100 Meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20

Singkirkan Sprinter Amerika Serikat, Lalu Muhammad Zohri (tengah) yang baru berusia 18 tahun asal Lombok, Raih Emas Kejuaraan Dunia Atletik Junior. (bbc.com)

Jakarta- Prestasi sensasional ditorehkan sprinter Lalu Muhammad Zohri pada Kejuaraan Dunia Atletik Under (U) 20 tahun, di Stadion Ratina, Tampere, Finlandia, Rabu (11/7). Turun di nomor lari bergengsi 100 meter, remaja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 18 tahun silam ini sukses masuk finish pertama dengan membukukan catatan waktu 10.18 detik. Torehan ini sekaligus memecahkan rekor nasional (rekornas) atas namanya yakni 10.25 detik. Bahkan, Lalu yag berlari di lintasan 8 itu, menciptakan catatan waktu yang mendekati rekornas yang masih menjadi milik Suryo Agung Wibowo yakni 10.17 detik. Ia pun menumbangkan sprinter terbaik Amerika Serikat (AS) sekaligus favorit juara, yakni Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang mencetak waktu 10.22 detik. “Saya sangat gembira dengan catatan waktu terbaik saya dan rekor junior nasional. Sekarang, saya akan mempersiapkan diri untuk Asian Games bulan depan. Ini adalah sebuah pengalaman luar biasa dan ini sangat bagus untuk karier saya,” ujar Lalu usai lomba. Penampilan gemilang Lalu sudah terlihat sejak babak kualifikasi di hari pertama. Lalu turun di heat pertama bersama wakil Jepang Daisuke Miyamoto berhasil lolos ke semifinal dengan catatan waktu 10.30 detik. Di babak semifinal, atlet berjuluk ‘bocah ajaib dari Lombok’ itu turun di heat 1 dari 3 heat lolos bersama Schwartz dengan torehan 10.24 detik. Selanjutnya, Lalu, Anthony, dan Daisuke berhasil melenggang ke babak final. Sementara itu, Tigor M. Tanjung, Sekertaris Umum (Sekum) Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), mengatakan keberhasilan Lalu mencetak prestasi terbaik di ajang Kejuaraan Dunia Atletik Junior di Finlandia merupakan hasil dari ketekunannya berlatih dan berjalan dengan baik. (Adt)

Tanpa Sekalipun Menang, Usai Melawat ke Malaysia Timnas U-16 Segera Evaluasi Pemain

Lakoni dua laga persahabatan melawan Timnas U-16 Malaysia dan Johor Darul Takzim U-17, Timnas U-16 (putih) justru gagal meraih kemenangan. (tribunnews.com)

Jakarta- Menghadapi skuat muda klub elit Negeri Jiran, Johor Darul Takzim U-17, hasil imbang 1-1 didapat Timnas U-16 di Johor Bahru, Malaysia, Minggu (8/7). Catatan ini menutup laga lawatan skuad besutan Fachri Husaini ke negara tetangga, setelah sebelumnya takluk 3-4 dari Timnas Malaysia U-16, pada Jumat (6/7). Secara teknis, meski menghadapi tim dengan level usia diatasnya, namun dari sisi permainan Timnas U-16 bisa lebih baik dari penguasaan bola. Sempat kecolongan gol pada menit 16, garuda muda akhirnya mampu menyamakan kedudukan, lewat aksi Andre Oktaviansyah pada menit 54. “Tim bermain bagus, baik saat bertahan, menyerang maupun transisi. Kami menguasai permainan sepanjang laga, memiliki banyak peluang, sayang karena penyelesaian akhir kurang tenang, peluang terbuang percuma. Penyelesaian akhir akan menjadi perhatian kami,” ujar Fachri usai uji coba. Dua uji coba dijalani Timnas U-16 untuk persiapan tampil di dua event penting. Selain tampil di ajang AFC U-16 Youth Championship 2018, di Malaysia dari 20 September – 7 Oktober, juga saat menjadi tuan rumah AFF U-15 Youth Championship 2018, di tanah air. Event yang dijadwalkan berlangsung di Sidoarjo dan Gresik 29 Juli-11 Agustus, Indonesia masuk satu grup bersama Vietnam, Myanmar, Cambodia, Timor-Leste dan Filipina. Meski hanya sekawasan Asia Tenggara, tapi Piala AFF U-15 ini penting, mengingat Indonesia belum pernah juara. “Secara umum, kami segera lakukan evaluasi terhadap semua aspek baik teknik, taktik, fisik dan mental. Begitu juga dengan beberapa pemain, yang penampilannya belum sesuai harapan,” terang pria asal Aceh ini. Sedangkan tampil di AFC U-16 Youth Championship 2018, juga mengusung target guna mengamankan satu tiket ke FIFA U-17 World Cup 2019, di Peru. Di Malaysia nanti, tim merah putih remaja berada di grup C bersama Iran, Vietnam dan India. (Dre)

Dari Kaki Gunung Ciremai, CAC Kuningan Sanggup Konsisten Cetak Atlet Atletik Nasional Berprestasi

Menpora Imam Nahrawi bangga CAC di kabupaten Kuningan, Jawa Barat, fokus melakukan pembinaan cabang atletik guna melahirkan atlet nasional. (Kemenpora)

Kuningan- Cilimus Atletik Club (CAC) merupakan salah satu klub olahraga yang konsisten mencetak atlet atletik nasional untuk Indonesia. CAC terletak di Desa Kaliaren, Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bahkan, desa ini berada tak jauh dari kawasan kaki Gunung Ciremai. Diantaranya, atlet tolak peluru Eki Febri Ekawati. Ia peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012, Riau. Juga, medali emas Singapore’s AUG 2014, serta medali emas SEA Games 2017, Malaysia. Lalu, atlet Tresna Puspita. Ia pernah tampil di Kejuaraan Dunia Atletik Remaja 2013, dan pemegang rekor nasional (Rekornas) lempar cakram pada 2015 (44,50 meter), serta pemegang Rekornas lontar martil pada 2013 (51,20 meter). Sekedar catatan, ada 14 Atlet Atletik asal Kabupaten Kuningan, turut memperkuat Kontingen Atletik Jawa Barat, pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik 2018, yang berlangsung pada Mei lalu, di Jakarta. “Ini luar biasa. Di sebuah desa di Kabupaten Kuningan, ada klub yang mengembangkan olahraga atletik. Kebanyakan di daerah adalah klub sepak bola, tapi ini ada klub atetik yang bisa melahirkan atlet-atlet nasional,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Rabu (11/7). Ia meminta atlet yang bernaung di CAC untuk terus semangat berlatih agar bisa menjadi atlet nasional yang bisa mengharumkan nama bangsa. “Jangan pernah letih. Terus terapkan apa yang diajarkan pelatih dengan baik. Saya juga ingin kepada adik-adik untuk menyebarkan CAC ini melalui media sosial,” cetusnya. Sementara itu, Asep Ismanto, Ketua CAC Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mengaku bangga mendapat dukungan langsung dari Menpora. “Kami di sini terus mencoba melakukan pembinaan kepada atlet-atlet muda di Kabupaten Kuningan agar bisa berprestasi dan memberikan kontribusi untuk olahraga Indonesia,” tukas Asep. (Adt)

Tampil Dari Jalur Kualifikasi, Petenis 20 Tahun Asal Bandung Sukses Tumbangkan Unggulan Dua

Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 di Solo, Rifanty Kahfiani (20 tahun), sukses menggusur petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, dua set langsung 6-2 dan 6-4. (bolasport.com)

Solo– Petenis muda Indonesia non unggulan, Rifanty Kahfiani (20 tahun), membuat kejutan usai menekuk petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, di PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Jawa Tengah, Rabu (11/7). Rifa, sapaannya, yang pada kejuaraan ini tak diunggulkan, justru unggul dua set langsung 6-2 dan 6-4. Pada set pertama, Rifa terus menekan Ozeki, yang mmiliki pukulan komplit baik forehand dan backhand cukup keras itu, sehigga lawan kerap melakukan kesalahan sendiri. Rifa menyudahi set pertama 6-2. Di set kedua, mojang kelahiran Bandung, 19 Februari 1998, kembali mendapat perlawanan ketat dari Ozeki. Dengan strategi penempatan bola sulit, ia sukses menyelesaikan set kedua dengan skor 6-4. Menurut Rifa, unggulan asal Jepang itu lincah dan ulet, tetapi dirinya bermain variasi, sehingga arah bola sulit diprediksi lawan. “Awalnya kesulitan dengan pukulan keras lawan, tetapi saya rubah strategi dengan bermain variasi, dan akhirnya bisa dikalahkan,” ujar Mahasiswa Oregon AS ini usai pertandingan. Pada perempat final, Kamis (12/7), Rifa terlibat bentrok dengan wakil Tiongkok, Zhima Du, yang menyingkirkan unggulan ketujuh, Sai Samhitha Chamarthi (India) 6-2 6-4. “Ini saatnya revans, karena saya belum pernah menang lawan dia sebelumnya,” lanjut petenis yang lolos babak utama lewat kualifikasi ini. Merujuk rekor head to head pada laman ITF, Rifa kalah dari petenis Tiongkok kelahiran 12 September 1999 itu dalam dua pertemuan, yakni kualifikasi turnamen Wimbledon Yunior dan Serawak Chief Minister Cup 2016. Sementara itu andalan Merah Putih lainnya, Aldila Sutjiadi turut melaju ke perempat final turnamen berhadiah total 15.000 dolar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Unggulan keempat berperingkat tunggal ke-751 dunia itu mengalahkan petenis kualifikasi asal India, Bhuvana Kalva 6-4 6-2. Petenis yang bakal tampil di ajang Asian Games 2018 itu meladeni unggulan keenam dari Tiongkok, Zhuoma Ni Ma untuk membidik satu slot di babak semi final. “Di babak delapan besar, saya harus memperbaiki percentage service pertama saya agar lebih percaya diri bermain,” tutur Aldila. Pada nomor ganda, turnamen yang disponsori PT PP (Persero) Tbk, BUMN bidang konstruksi ini, memasuki babak delapan besar. Duet kembar Fitriana ‘Ana’ Sabrina dan Fitriani ‘Ani’ Sabatini (17 tahun) melangkah ke semi final setelah memenangi laga atas duet India, Bhuvana Kalva/Sri Vaishnavi Peddi Reddy (India) 6-1 6-2. Ana dan Ani akan menantang ganda Tiongkok, Zhima Du/Shou Na Mu. Sementara partai semi final lainnya mempertemukan dua pasangan gado-gado Indonesia/Jepang, yakni unggulan utama Mana Ayukawa/Aldila Sutjiadi melawan Ayaka Okuno/Rifanty Kahfiani. (Ham)

Bikin Kejutan, Duet Kembar 17 Tahun Sukses Jungkalkan Unggulan Tiga Women’s Circuit 2018

Duet petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) tumbangkan unggulan ketiga Women’s Circuit 2018, Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok), dengan skor akhir 6-3 6-3. (remaja-tenis.com)

Jakarta- Indonesia membuka babak utama turnamen tenis internasonal bertajuk PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 dengan gemilang. Di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Senin (9/7), wakil Merah Putih berhasil memenangi laga pembuka nomor ganda. Duet kembar petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) menekuk unggulan ketiga turnamen kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF) ini. Ana dan Ani menang straight set atas Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok). Ana-Ani unggul dengan skor akhir 6-3 6-3. Hasil positif juga ditorehkan dua petenis tuan rumah yang berpasangan dengan peserta manca negara. Unggulan teratas Aldila Sutjiadi/Mana Ayukawa (Jepang) mengalahkan Anastasia Shaulskaya (Rusia)/Rishika Sunkara (India) 7-5 6-1, di ajang yang menyediakan total hadiah 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Sedangkan Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno (Jepang) menyisihkan Yu Ting Hsieh (Taiwan)/Saumya Vig (India) 6-2 6-3. “Semoga awal yang indah bagi petenis tuan rumah ini terus berlanjut hingga babak akhir,” ucap Wakil Sekretaris Jendral PP Pelti, Susan Soebakti selaku Direktur Turnamen. Kejuaraan khusus bagi petenis wanita yang disponsori oleh PT PP (Persero) Tbk ini akan menggelar babak utama nomor tunggal mulai Selasa (10/7). Kecuali Aldila Sutjiadi yang akan terlibat duel senegara dengan Priska Madelyn Nugroho, enam wakil tuan rumah bakal meladeni petenis luar negeri. Petenis yang lolos dari babak kualifikasi, Suryaningsih akan menantang unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki . Sedangkan penerima wildcard, Joleta Budiman menghadapi unggulan kedelapan, Zhibek Kulambayeva dari Kazakhstan. Rifanty Kahfiani melawan Yuka Hosoki (Jepang), Arrum Damarsari bentrok dengan Shou Na Mu (Tiongkok) dan Fitriana Sabrina dengan Mana Ayukawa (Jepang) serta Deria Nur Haliza meladeni petenis India yang lolos dari kualifikasi, Bhuvana Kalva. Selain itu di sektor ganda, duet Deria/Joleta yang diproyeksikan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018 akan bertanding melawan pasangan India, Sai Samhitha Chamarthi/Mahak Jain. “Ini penampilan pertama kami sebagai pasangan dalam turnamen resmi internasional. Kami akan berusaha bermain sebaik mungkin, semoga hasilnya juga bagus,” tutur Deria, petenis kelahiran 8 Juni 1997 ini. (Ham)

Atlet 18 Tahun Raih 5 emas SEA Age Group Swimming Championship 2018, Adinda Jadi Perenang Terbaik Wanita

Atlet asal Jawa Timur, Adinda Larasati Dewi, menjadi perenang wanita terbaik kategori U 16-18 tahun dalam event 42nd SEA Age Group Swimming Championship 2018. (istimewa)

Manila- Ajang bertajuk 42nd SEA Age Group Swimming Championship 6-8 Juli 2018 yang berlangsung di Manila, Filipina, memunculkan perenang-perenang muda, harapan masa depan Indonesia. Perenang putri 18 tahun asal Jawa Timur, Adinda Larasati Dewi, sanggup menyumbang 5 emas, juga menciptakan satu rekornas dan rekor SEA Age Group. Adinda memang tengah dipersiapkan menuju Asian Games 2018, serta Olimpiade Remaja 2018 di Argentina. Empat perenang muda Indonesia yang sudah lolos limit-A Youth Olympic Games atau Olimpiade Remaja di Argentina 2018, juga tampil memuaskan. Mereka adalah duo putri Adinda dan Azzahra Permatahani (16 tahun), serta duo putra, Azel Zelmi dan Farrel Armandio Tangkas. Farrel tampil gemilang saat memecahkan rekor nasional 200 meter gaya punggung, milik perenang senior Siman Sudartawa, yang sudah bertahan 7 tahun lalu. Farrel mencatat waktu 2 menit 02,31 detik, sedangkan rekornas Siman tercipta di SEA Games Palembang 2011, yakni 2 menit 02,44 detik. Diprediksi, Farrel berpotensi besar meraih medali di SEA Games 2019 Filipina. Di hari terakhir, Adinda menyumbang 2 emas, pada Minggu (8/7). Medali emas pertamanya didapat dari nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri, dengan catatan waktu tercepat 2 menit 15,71 detik. Ia Mengalahkan perenang Vietnam, Mai Thi Linh 2:18,67 detik dan rekannya Azzahra, yang mendapat perunggu dengan waktu 2:19,24 detik. Emas kedua Adinda, diraih lewat nomor 800 meter gaya bebas putri, dengan catatan 9 menit 00,04 detik. Total Adinda mendapatkan lima emas, setelah sebelumnya ia menyabet emas di nomor 200 dan 400 meter gaya bebas, serta rekornas nomor 100 meter gaya kupu-kupu 1:01,35 detik. Adinda pun terpilih sebagai perenang terbaik wanita kategori U 16-18 tahun, dalam event 42nd SEA Age Group Swimming Championship 2018. Perenang Masa Depan Pada kelompok usia 13 tahun kebawah memunculkan perenang masa depan, Agung Sulaksono Putra Alamsyah (13 tahun), yang menembus dominasi Vietnam. Di hari terakhir, Agung menyumbang emas di nomor 100 meter gaya bebas dengan catatan 56,51 detik. Kedua Tong Yu Jing (Malaysia) 56,56 detik dan ketiga Randal Neo (Singapura) 56,66 detik. Total Agung sudah mengoleksi 2 emas, 2 perak dan 3 perunggu. “Ayah selalu berpesan untuk disiplin, dan fokus dalam berlatih,” ucap Agung dari Jawa Timur. Perenang muda lainnya di kategori putri yakni Komang Adinda Nugraha (13 tahun), yang bisa menebus penasarannya. Komang akhirnya meraih emas di hari terakhir pada nomor 50 meter gaya punggung dengan catatan 31,18 detik. Total selama di Filipina, Komang membawa pulang 1 emas dan 3 perunggu. Di SEA Age pertamanya tahun lalu di Brunei, Komang hanya mampu mengoleksi 3 perak dan 1 perunggu. “Kuncinya giat berlatih dan berlatih. Masih panjang perjalanan saya, doakan bisa membawa nama Indonesia harum di dunia internasional,” jelasnya. Satu perunggu Komang di dapat pada nomor beregu yakni estafet 4×100 meter gaya ganti putri. Komang dengan gaya punggung, Adelia (dada), Azzahra Permatahani (kupu) dan Adinda Larasati (bebas) mencatat waktu 4:24,59 detik. Di kategori putra juga dapat perunggu di nomor estafet 4×100 meter gaya ganti. Tim Indonesia beranggotakan AA Gede Oka Satria (punggung), Kamal Pasya (dada), Azel Zelmi (kupu) dan Agung Putro (bebas) mencatat waktu 3:59,20 detik. Di hari ketiga beberapa perenang yang memperoleh medali perak diantaranya Dwiki Anugrah di nomor 50 meter gaya punggung U 16-18 tahun (27,34 detik), Adinda Larasati Dewi nomor 100 meter gaya bebas (58,02 detik), Azzahra Permatahania nomor 200 meter gaya dada U 16-18 tahun (2:35,56 detik). Sedangkan perenang yang memperoleh perunggu adalah Sofie Kemala nomor 50 meter gaya punggung U 16-18 tahun putri (30,58 detik), Luh Putu Satya Putri nomor 50 M usia 14-15 tahun (31,56 detik), Panda Made Iron Digjaya di nomor 200 meter gaya dada U 16-18 tahun (2:20,59 detik), serta Azel Zelmi nomor 200 meter gaya kupu-kupu U 16-18 tahun (2:05,43 detik). Lalu, Albertus Andhika Bangun 200 M gaya kupu U 14-15 tahun (2:08,56 detik), Vanessa Sanjoyo 200 meter gaya kupu putri U 14-15 tahun (2:25,19 detik), Agung Putro nomor 1500 meter gaya bebas U 13 tahun (17:11,72 detik), Ernest Fabian Wijaya nomor 1500 meter gaya bebas U 14-15 tahun (16:42,16 detik). Tim Indonesia tahun ini, tak diperkuat dua perenang yang terpilih yakni Erick Ahmad Fathoni, dan perenang keturunan Indonesia-Amerika Serikat, Kaikea Putra Boyum Crews, yang tengah latihan dan bertanding di Amerika Serikat. Keduanya tak tampil, karena jadwal SEA Age Group berubah, dari semula bulan Oktober/November, maju menjadi Juli. (Ham)

Mulai Bergulir Di Solo, Remaja 15 Tahun Turut Bersaing Di Women’s Circuit International Tennis 2018

Priska Madelyn Nugroho (15 tahun) menjadi salah satu petenis termuda Indonesia, yang turun dalam turnamen Women's Circuit International Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. (twitter.com)

Jakarta- Turnamen tenis PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit International Tennis 2018, mulai bergulir akhir pekan ini, hingga 14 Juli, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Petenis tuan rumah bersaing dengan petenis lain dari sembilan negara yakni Singapura, Australia, Jepang, China, Taiwan, Kazakhstan, India, Bulgaria, dan Rusia. Susan Soebakti, Direktur Turnamen, mengatakan minat petenis asing sangat tinggi untuk mengikuti turnamen ini. Kejuaraan ini masuk dalam kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF). “Peserta tak hanya dari kawasan Asia. Mereka juga datang dari benua Eropa,” ujar Susan, di Solo, Jawa Tengah, akhir pekan ini. Babak kualifikasi turnamen khusus putri berhadiah total 15 ribu dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 215 juta itu, mulai bergulir pada Sabtu (7/7). Indonesia menurunkan para petenis terbaik yakni Rifanty Dwi Kahfiani, Bilqis Maqbulatullah, Arrum Damarsari, Suryaningsih, Septiana Nur Zahiroh, dan Ni Luh Sintha Eka Putri. Mereka membidik delapan slot babak utama. Sedangkan petenis utama Merah Putih yang tergabung di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Asian Games 2018, berhak berlaga di babak utama mulai Selasa (10/7). Aldila Sutjiadi yang berperingkat tunggal ke-751 dunia jadi unggulan keempat. Dan, Deria Nur Haliza serta Joleta Budiman, memanfaatkan fasilitas wild card bersama Fitriana Sabrina dan Priska Madelyn Nugroho. “Peluang sangat terbuka bagi tuan rumah Indonesia untuk menambah wakil di babak utama,” tukas Susan. Khusus untuk Priska, menjadi catatan tersendiri. Remaja kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003, ini menjadi salah satu petenis termuda skuat garuda pertiwi paling berbakat, yang ikut berpartisipasi. (Adt)

Lompat Setinggi 3,6 Meter, Atlet Pelatnas Putri 15 Tahun Lolos Olimpiade Remaja 2018 Di Argentina

Atlet Pelatnas remaja Diva Renatta Jayadi (kaos puith) raih emas di Bangkok, Thailand, dan lolos ke Olimpiade Remaja, di Argentina, Oktober mendatang. (PB PASI)

Jakarta- Atlet pemusatan latihan nasional (Pelatnas) remaja Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Diva Renatta Jayadi, sukses meraih medali emas nomor lompat galah putri pada ajang Kualifikasi Olimpiade Remaja 2018 zona Asia, di Bangkok, Thailand, pekan ini. Putri mantan pelompat galah nasional Nunung Jayadi dan pelari gawang nasional Dedeh Erawati itu, jadi yang terbaik di antara atlet-atlet remaja zona Asia lainnya usai membukukan lompatan setinggi 3,6 meter. Ia menyingkirkan dua rival terkuatnya. Yakni Yana Toibaye asal Kazakhstan, yang harus puas menempati posisi kedua, dan Cherulin Jia Yi Sia asal Singapura, di urutan ketiga. Hasil ini cukup bagi remaja putri kelahiran Jakarta, 24 Desember 2002 itu lolos ke Olimpiade Remaja, di Buenos Aires, Argentina, pada Oktober 2018. Bahkan, remaja berkulit sawo matang itu menjadi satu-satunya pelompat galah putri yang mewakili Asia, di ajang Olimpiade Remaja. Selain Diva, Indonesia juga meloloskan atletnya di nomor 100 meter, atas nama Adi Ramli Sidiq. Ramli adalah remaja kelahiran Desa Widoro, Kecamatan Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Di final, sprinter 17 tahun dari SMAN 11 Semarang ini, lolos Kualifikasi Olimpiade Remaja finish diurutan 8. Federasi Atletik Internasional (IAAF) mensyaratkan khusus di nomor 100 meter putra dan putri, 8 atlet terbaik masing-masing kategori, berhak mewakili zona Asia ke Olimpiade Remaja. Tigor M. Tanjung, Sekertaris Umum PB PASI, mengapresiasi pencapaian dua atlet remaja yang berhasil lolos ke Olimpiade Remaja ini. “Kami bersyukur. Sebab, dari empat atlet yang dikirim mengikuti kualifikasi, lolos dua atlet untuk berlaga di Olimpiade Remaja di Argentina, Oktober mendatang,” ujar Tigor. (Adt)

Lahir Dari Keluarga Petani Di Puncak Jaya Papua, Yorince Kogoya Mimpi Bela Tim Nasional Indonesia

Terdapat 11 talenta muda sepak bola yang tergabung pada Uni Papua UC Football Ambassador Team untuk mengikuti program pelatihan sepak bola secara intensif di Jakarta. (Adt/NYSN)

Jakarta- Yorince Kogoya, memiliki impian bisa membela tim nasional (Timnas) Indonesia di berbagai turnamen sepakbola, baik level nasional maupun internasional. Lahir dari ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, dan ibu yang menjalani kesehariannya sebagai petani, di Distrik Mulia, kawasan Puncak Jaya, Papua. Yorince menjadi salah satu dari remaja yang terpilih dalam program Uni Papua UC Football Ambassador Team, bersama 10 rekannya yang lain. Dan, berhak untuk mengikuti program pelatihan sepak bola secara intensif selama satu minggu guna meningkatkan kemampuan para peserta dalam bermain si kulit bundar. “Harapannya kedepan UC Browser dan Uni Papua tetap bekerjasama dengan kami, sehingga teman-teman bisa mendapat kesempatan untuk bisa menjadi pemain bola profesional, dan suatu saat bisa membela tim nasional,” ujar Yorince, di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/7). Berasal dari pegunungan tertinggi di Papua, Yorince memiliki struktur fisik serta kemampuan menghadapi tantangan. Dara kelahiran Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, 25 November 2001 itu memang memiliki kecintaan terhadap sepak bola. Bahkan ia memiliki kakak pesepak bola profesional. Yorince adalah adik dari Frengky Pare Kogoya, winger 21 tahun yang kini membela Persija Jakarta. Benih-benih kecintaan terhadap olahraga yang sangat populer di dunia itu makin kuat. Niatnya tulus yakni ingin melanjutkan tradisi serta membanggakan keluarga. “Inspirasi saya bermain sepak bola itu dari Frengky. Karena saya melihat kalau kakak bermain sepak bola itu mendapatkan banyak teman,” tuturnya. “Saya ingin terus mengasah kemampuan dan terus berlatih. Sehingga bisa menjadi pemain profesional membela tim Persipura Galanita, serta tim nasional Indonesia,” cetusnya. Yorince mengungkapkan dirinya senang bisa bermain bola di Uni Papua, yang tak sekedar klub berlatih, tapi juga gerakan sosial yang menjadikan sepak bola sebagai tempat bagi anak-anak untuk menyalurkan bakatnya dan menggunakan sepak bola sebagai alat perubahan sosial. “Saya senang bermain bola di Uni Papua. Karena Uni Papua mengajarkan saya semua hal yang baik. Bisa membawa saya lebih mengenal sepak bola, memperkenalkan teknik-teknik dalam sepak bola,” tukas siswi kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Mulia, J. Pattiruhu, Distrik Mulia, Wuyuneri, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. (Adt)

Pebulutangkis Disabilitas 20 Tahun Asal Jabar, Juarai Tes Event Indonesia Para Games 2018

Atlet Disabilitas Bulutangkis asal Jawa Barat, Dheva Anrimusthi (biru), menjuarai Test Event Asian Para Games 2018 cabang Bulutangkis. (Pras/NYSN)

Jakarta- Final cabang olahraga (cabor) bulutangkis kategori SU 5, dalam lanjutan Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (28/6), mempertemukan atlet asal Jawa Barat, Dheva Anrimusthi, melawan Suryo Nugroho dari Jawa Tengah. Pada babak pertama, Dheva langsung menggebrak dari awal pertandingan. Atlit Jabar ini mampu membungkam andalan Jateng 5-0. Namun, Suryo merangkak naik memperkecil ketertinggalan menjadi selisih satu angka pada skor 7-6. Namun, hingga jeda set pertama, Suryo tak mampu melampaui angka Dheva. Skor jeda set pertama yakni 11-9. Selepas itu, Dheva semakin percaya diri dan menjauh hingga selisih empat angka 14-10. Upaya demi upaya memangkas ketertinggalan oleh Suryo terjadi di angka 15-15. Hingga pada akhirnya Suryo unggul 15-16. Persaingan makin ketat lantaran set pertama harus ditentuka deuce point. Dan ketangguhan Dheva di set pertama membuatnya menang dengan skor 24-22. Memasuki babak kedua begitu berbeda dengan babak pertama saat Dehva unggul cepat diawal permainan. Di babak kedua, poin demi poin tak lebih berselisih satu angka dan bertahan hingga jeda set babak kedua dengan skor 11-10. Beberapa menit setelah jeda set kedua, Suryo tancap gas mengambil serangan cepat dengan mengubah skor 14-12. Dheva tak tinggal diam, ia memutarbalikkan keadaan menjadi 18-15. Tetapi, permainan belum berakhir. Set kedua kembali ditentukan lewat drama deuce point. Dheva yang lebih konsentrasi, akhirnya sukses menutup set kedua ini dengan skor kemenangan 23-21. Sebelum melangkah ke final, Dheva menyingkirkan wakil asal Jawa Timur, Oddie W, lewat pertarungan dua set langsung. Sedangkan sang lawan, Suryo, juga unggul dua set langsung atas wakil asal Jawa Barat, Hafiz Briliansyah, dengan skor 21-17 dan 21-16. Usai laga final, Dheva buka suara mengenai hasil pertandingannya. “Alhamdulillah bisa menang. Tapi ya intinya Tes Event ini merupakan ajang uji lapangan buat kami, sebelum tampil di turnamen sesungguhnya nanti”, ujar pemuda kelahiran 5 Desember 1998 ini, Kamis (28/6). Ia mengaku jika pertemuan dengan Suryo ini tak berbeda seperti ajang latihan. Mereka sudah sering melakukannya, di momen latihan maupun turnamen. “Saya sering bertemu dengan Suryo, karena kita juga kan latihan dan main bareng,” pungkas atlit disabilitas binaan Klub bulu tangkis Sangkuriang Graha Sarana (SGS), Bandung, Jawa Barat. (Dre)

Tampil di Turnamen Malaysia Open 2018, Pebulutangkis 18 Tahun Asal Wonogiri Bakal Lalui Jalan Terjal

Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, langsung menghadapi pemain unggulan di Turnamen Malaysia Open 2018. (liputan6.com)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, akan berlaga di turnamen Malaysia Open 2018, pada 26 Juni – 1 Juli mendatang. Dara kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 18 tahun silam itu bakal melalui jalan terjal di Negeri Jiran itu. Sebab, Gregoria harus berhadapan dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil, Carolina Marin, di babak pertama. Berdasarkan catatan, kedua tunggal putri ini belum pernah bertemu di berbagai ajang kejuaraan bulutangkis. Pebulutangkis asal Spanyol itu memiliki peluang lebih besar untuk memenangi laga atas Gregoria. Selain pernah menjadi kampiun Kejuaraan BWF World Championship 2015, di Jakarta, rangking Marin juga jauh berada di atas wakil Indonesia itu. Marin kini bercokol di rangking 6 dunia versi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF), sekaligus menempati unggulan 6 turnamen, sementara Gregoria menempati rangking 37 dunia dan bersatus non unggulan. Namun, bukan suatu hal yang mustahil bila Gregoria bisa memberikan kejutan. Penampilan pemain penghuni pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Cipayung, Jakarta itu menunjukkan grafik yang meningkat. Ini dibuktikan saat membela skuat Garuda di putaran final Piala Uber 2018, di Bangkok, Thailand, beberapa bulan lalu. Peraih medali perunggu SEA Games 2017, di Kuala Lumpur, Malaysia itu tampil nyaris sempurna. Bahkan, wakil Thailand Nitchaon Jindapol (rangking 11) serta Gao Fangjie (rangking 21) asal Tiongkok, ditaklukan hanya dalam dua gim langsung. Mencetak sejarah juara tunggal putri Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017, di Yogyakarta, bisa menjadi bekal untuk menambah kepercayaan diri pebulutangkis asal klub Mutiara Cardinal, Bandung, Jawa Barat itu guna memenangi laga di Malaysia nanti. Senasib Gregoria, tunggal putri Indonesia lainnya, Fitriani, juga akan menghadapi pemain unggulan di babak pertama. Pebukutangkis kelahiran Garut, Jawa Barat, 19 tahun silam itu sudah harus bertemu dengan wakil Korea Selatan, Sung Ji Hyun. Bagi pemain klub Exist Jaya Jakarta itu, menghadapi lawan rangking 9 dunia versi BWF, sekaligus unggulan 7 turnamen itu, ternyata masih jadi tembok penghalang terbesar bagi dirinya, untuk bisa melaju ke babak berikutnya. Fitriani yang kini bercokol diperingkat 42 dunia pernah bertemu dengan pemain Negeri Gingseng itu tiga kali. Dan tak satupun kemenangan diraih Fitriani, yakni di All England 2017 (21-18, dan 21-12), Indonesia Open 2017 (21-10, dan 21-10), serta terakhir di German Open 2018 (21-12, dan 21-16). Mampukah kedua wakil tunggal putri Indonesia ini menghadirkan kejutan di turnamen berhadiah total 700.000 dolar Amerika Serikat (AS) itu? Patut ditunggu aksi mereka pada pekan depan. (Adt)

Tampil di Singapura, Pemuda 20 Tahun Asal Cirebon Pertajam Rekornas 800 Meter gaya Bebas Putra

Aflah Fadlan Prawira, pemuda 20 tahun asal Cirebon sukses mpertajam Rekornas 800 Meter gaya Bebas Putra atas namanya sendiri. (istimewa)

Singapura- Rekor nasional (rekornas) dipecahkan perenang pelatnas jelang bergulirnya Asian Games 2018. Para perenang pelatnas melakukan uji coba di ajang bertajuk NEO Garden 14th Singapura National Swimming Championship 2018, di OCBC Aquatic Center, Singapura, 20-23 Juni 2018. Selain Indonesia, beberapa negara peserta adalah Korea Selatan, Jepang, Thailand, Malaysia, India, tuan rumah Singapura, serta tim Victoria Swimming Australia. Di hari pertama, pada Sabtu (20/6), perenang pelatnas, Aflah Fadlan Prawira, memecahkan rekornas di nomor 800 meter gaya bebas putra. Fadlan mencatat waktu 8 menit 07,50 detik atau mempertajam rekornas lama, atas namanya sendiri, yakni 8 menit 12,54 detik. Menurut Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI), Harlin Rahardjo, Fadlan mengalami perkembangan pesat usai berlatih di Australia. Sehari-hari pemuda kelahiran Cirebon, 13 November 1997, berlatih di Bali, dibawah asuhan pelatih asal Perancis David Armandoni. Masih di nomor 800 meter gaya bebas, perenang Indonesia lainnya, Athalarik Maulidio mencatat waktu 8 menit 31,09 detik di posisi enam. Sementara Reza Bayu Prasetyo, finish ke sembilan, dengan waktu 8 menit 36,36 detik. Lalu, Agus Nuarta dengan waktu 8 menit 41,69 detik di peringkat 11. Nomor gaya bebas 1500 meter gaya bebas putri, perenang Indonesia Ressa Kania Dewi, mencatat waktu 17 menit 26,99 detik di peringkat dua. Perenang Australia Sophie Caldwell di peringkat pertama, dengan catatan 16 menit 51,69 detik. Pada Kamis (21/6), beberapa perenang tampil, diantaranya pada nomor 200 meter gaya bebas putri. Diantaranya Patricia Yosita, Sagita Putri, Adinda Larasati Dewi, Ressa Kania Dewi dan Prada Hanan. Untuk nomor 200 meter gaya bebas putra ada Agus Nuarta, Putra M.Randa, Fadlan, Alexander Damanik. Nomor 200 meter gaya punggung putra, Farrel Armandio Tangkas. Lalu perenang Pande Made Iron Digjaya, turun di nomor 100 meter gaya dada putra. Untuk 100 meter gaya kupu-kupu putri tercatat nama A.A. Istri Kania Ratih. Sementara Alexander Damanik, Reza Bayu, Muhammad Fauzan Martzah Azel Zelmi, Fadlan Prawira dan Danandra Damario, tampil untuk nomor gaya dada putra. (Adt)

Perenang Putri 10 Tahun Asal Indonesia, Borong 9 Emas di Kejuaraan Australia

Joanna Nathania Intan (10 th) jadi satu-satunya perenang asal Indonesia yang tampil di Perth City Classics Swimming Championship di Perth, Australia. (viva.co.id)

Jakarta- Perenang muda Indonesia yang masih berusia 10 tahun, Joanna Nathania Intan, berhasil menyumbang sembilan medali emas dan satu medali perak pada kejuaraan renang di Perth, Australia, bertajuk Perth City Classics Swimming Championship, Sabtu (16/6). Di saat gadis sebayanya berlibur, Joanna, jadi satu-satunya perenang asal Indonesia yang tampil di ajang bertajuk Perth City Classics Swimming Championship di Perth, Australia. Joanna mampu meraih sembilan medali emas pada nomor 50 & 100 meter gaya bebas, 50 dan 100 meter gaya kupu-kupu, 50 dan 100 meter gaya dada, 50 dan 100 meter gaya punggung, serta 200 meter gaya ganti perorangan putri. Joanna nyaris merebut 10 emas, di nomor 200 meter gaya bebas. Namun, Joana harus puas, lantaran finish di peringkat dua. Total selama di Australia, Joanna mengoleksi sembilan emas dan satu perak. Joanna merasa bangga bisa mempersembahkan sebuah prestasi gemilang untuk Indonesia. Selain itu, perenang muda berusia 10 tahun ini juga puas bisa memperbaiki performa di tahun ini. Sebab, sebelumnya, Joanna hanya mampu meraih tiga emas, tiga perak, dan tiga perunggu. “Bangga dan senang sekali mendapatkan sembilan Emas dan satu Perak untuk Indonesia di umur 10 tahun. Karena, tahun lalu waktu umur sembilan tahun di kompetisi yang sama, hanya dapat tiga emas tiga perak dan tiga perunggu,” kata Joanna usai lomba, dalam rilisnya pada Senin (18/6). Joanna sehari-hari berlatih bersama klub JakartaQuatics Antasena (JAQ), di bawah binaan Pelatih Kepala yang juga legenda renang Indonesia, Wisnu Wardhana. Joanna mengakui, dukungan orangtua dan latihan rutin adalah salah satu bentuk kunci suksesnya menjadi yang terbaik di ajang ini. “Saya berlatih rutin di JAQ, di kolam renang Pertamina Simprug, selama 5-7 kali seminggu. Orangtua saya mendukung. Karena, setiap latihan dan kompetisi mereka selalu hadir. Juga, setelahnya mereka selalu memberikan motivasi baik itu di renang maupun sekolah,” ujar Joanna. Sementara itu, Wisnu mengatakan, pertandingan di Perth ini adalah salah satu program untuk pengayaan pengalaman, sekaligus salah satu kegiatan yang dilakukan oleh klub JAQ Aquatics yang berafiliasi dengan Kirby Swim, di Perth, Australia. Wisnu yang juga menjabat Sport Director Panitia Peneyelenggara Asian Games 2018, INASGOC, yakin dengan mengirim atlet Indonesia ke luar negeri akan menjadikan banyak atlet memiliki jam terbang tinggi dan sukses di level internasional. “Dengan berlatih tanding di Australia, saya percaya Joanna mampu menyerap pengalaman yang terbaik. Ini adalah program terobosan yang dilakukan oleh klub sebagai ujung tombak pembinaan yang juga didukung orang tuanya untuk bisa berlatih di Kirby Swim di Australia, saat musim libur berlangsung,” ucap Wisnu. (Dre)

Rekornas Lompat Jauh 33 Tahun Akhirnya Pecah di Korea Selatan Oleh Mahasiswa IKIP Mataram

Rekor nasional (rekornas) cabang olahraga atletik nomor Lompat Jauh yang bertahan selama 33 tahun akhirnya dipecahkan oleh Safwaturahman Sanapiah. (ilustrasi)

Yecheon- Atlet lompat jauh nasional, Safwaturahman Sanapiah, memecahkan rekor nasional (rekornas) yang bertahan selama 33 tahun usai mencatatkan lompatan sejauh 7,98 meter pada Korea Open 2018 di Yecheon, Korea Selatan, Minggu (17/6), sekaligus meraih medali emas. Pemuda asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini melampaui rekornas, yang sebelumnya dipegang Agus Reza Irawan, dengan lompatan sejauh 7,85 meter pada Kejuaraan Asia 1985 di Jakarta. Berdasarkan informasi dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), saat laga, pria kelahirana Sumbawa 13 Mei 1994 ini, unggul dari atlet Korea Selatan (dengan lompatan 7,75 meter), serta Sri Lanka (7,73 meter). Keberhasilan mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Mataram ini, turut melengkapi keberhasilan sejumlah atlet Indonesia lainnya, yang juga meraih medali di beberapa nomor. Indonesia juga meraih medali perunggu dari nomor tolak peluru putri. Juara SEA Games 2017 Eki Febri Ekawati berhasil menempati posisi ketiga dengan tolakan sejauh 15,16 meter. Sebelumnya, tim estafet Indonesia sukses meraih emas nomor estafet 4 x 100 meter putra. Tim yang berisikan Yaspi Boby, Fadlin, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara itu unggul atas tim Korea Selatan dan Hongkong. Anak-anak asuhan pelatih Eni Sumartoyo tersebut berhasil mencatatkan waktu terbaik 39,76 detik. Sementara itu, dua tim estafet Korea Selatan yang bermaterikan atlet-atlet muda hanya mencatatkan waktu terbaik 40,61 detik dan 41,06 detik. “Seharusnya, tim Hongkong menempati peringkat kedua, tapi mereka didiskualfikasi karena melanggar aturan,” ujar Eni yang mendampingi atletnya di Korea Selatan. Menurut Eni, tim estafet Indonesia meakai formasi yang berbeda dari test event Asian Games 2018, dan training camp di Amerika Serikat. Tanpa Lalu Muhammad Zohri, yang memperkuat tim junior pada Kejuaraan Asia 2018 di Gifu, Jepang, tim estafet Indonesia kembali diperkuat sprinter Yaspi Boby. “Dengan waktu persiapan 1 bulan, saya rasa hasil yang dicapai cukup baik,” kata Eni. Korea Open 2018 berlangsung selama dua hari (16-17 Juni) dan diikuti atlet dari 7 negara Asia yakni Hongkong, Vietnam, Filipina, India, Singapura, Indonesia, serta tuan rumah Korea Selatan. Indonesia tercatat mengirimkan 9 atlet yang dipersiapkan untuk Asian Games 2018 nanti. Mereka adalah tim estafet putra yang terdiri Yaspi Boby, Fadlin, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara. Selain itu ada pula Safwaturahman (lompat jauh), Suwandi Wijaya (lompat jauh), Emilia Nova (100 m Gawang) dan Eki Febri Ekawati (tolak peluru). (art)

Atlet 17 Tahun Sabet Juara, Tim Soft Tenis Indonesia Boyong Lima Emas Di Thailand

Tim Soft Tenis Indonesia berjaya di turnamen internasional The 4th Agel World Tour Soft Tennis Championships, di Pattaya, Thailand, 7-11 Juni 2018. (Humas PP Pesti)

Jakarta- Tim Soft Tenis Indonesia berhasil memboyong lima medali emas, tiga perak dan lima perunggu dari turnamen internasional bertajuk “The 4th Agel World Tour Soft Tennis Championships” di Pattaya, Thailand, 7-11 Juni 2018. Selain itu, pasukan Indonesia juga bertengger di podium tertinggi kategori beregu putra turnamen yang diikuti peserta dari enam negara (Thailand, Indonesia, Filipina, Jepang, Kamboja dan India) ini. Berdasarkan pernyataan resmi Persatuan Soft Tenis Seluruh Indonesia (Pesti), skuat Merah Putih yang akan membela Indonesia pada Asian Games 2018 itu mendulang emas melalui ayunan raket Elbert Sie, di nomor tunggal putra. Lalu, pasangan Prima Simpatiaji/Irfandy Hendrawan, dan ganda campuran Elbert Sie/Dwi Rahayu Pitri, serta tunggal putri yunior U-18, Anadeleyda ‘Anna’ Kawengian. “Hasil ini membuat kami percaya diri jelang Asian Games 2018 di Palembang, Agustus nanti,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pesti, Martuama Saragi. Terutama hasil yang dibukukan Anna, yang terhitung atlet potensial. Siswa SMA Kristen El Fatah, Manado, Sulawesi Utara ini, juga meraih medali emas saat berlaga di Frankfurt, Jerman, di nomor ganda putri. Petenis kelahiran Manado, 28 Agustus 2001, ini bepotensi menjadi andalan Indonesia masa depan. Turnamen yang berlangsung di kawasan wisata Pattaya di Negeri Gajah Putih itu mengakhiri program uji coba pemusatan latihan nasional (pelatnas) Soft Tenis menjelang Asian Games 2018. Sejak awal tahun ini, Prima Simpatiaji dan kawan-kawan telah melakoni uji coba di berbagai kejuaraan internasional. Diantaranya turnamen di Nakhon Ratchasima (Thailand), Hiroshima (Jepang) dan Frankfurt (Jerman). “Setelah ini, kami kembali menjalani training camp di Incheon, Korea Selatan, dari 17 Juni hingga 2 Juli,” tutur pelatih putra Pelatnas Soft Tenis, Ferly Montolalu. Pada pesta olahraga antar negara di kawasan Asia empat tahun silam di Incheon, Korea, soft tenis berhasil menyumbang satu medali perak dari nomor tunggal putra atas nama Edi Kusdaryanto serta satu perunggu dari ganda campuran, pasangan Prima Simpatiaji dan Maya Rosa bagi kontingen Indonesia. PP Pesti mencanangkan target perolehan sekeping medali emas, satu perak dan dua perunggu Asian Games 2018. Berikut raihan tim Indonesia dalam The 4th Agel World Tour Soft Tennis Championships, Pattaya, Thailand, 7-11 Juni 2018, yakni : Lima medali emas (tunggal putra: Elbert Sie, ganda putra: Prima Simpatiaji/Irfandy Heendrawan, ganda campuran: Elbert Sie/Dwi Rahayu Pitri, tunggal putri yunior: Anadeleyda Kawengian, dan beregu putra). Tiga medali perak (tunggal putra: Prima Simpatiaji, tunggal putri: Voni Darlina, beregu putri) Lima medali perunggu (tunggal putra: Irfandy Hendrawan, ganda putra: Hemat Bhakti Anugrah/Gusti Jayakusuma, ganda putri: Dwi Rahayu Pitri/Voni Darlina, ganda campuran: Irfandy Hendrawan/Dede Tari Kusrini, tunggal putri U-21: Anna Lontoh). (art) Tim Soft Tenis Indonesia Putra Irfandi Hendrawan, Prima Simpatiaji, Gusti Jaya Kusuma, Elbert Sie, Hemat Bakti Anugrah Putri Dwi Rahayu Pitri, Dede Tari Kusrini, Anadeleyda Kawengian, Siti Nur Arasy, Voni Darlina

Berlatih Silat Lantaran Iseng, Pesilat Khansa Avissa Kini Pemegang Titel Dunia

Khansa Avissa Salsabila penyandang gelar juara dunia silat di ajang Malaysia Open 2018 (Adt/NYSN)

Jakarta- Tak ada yang menyangka bila perempuan yang terlihat lemah lembut, Khansa Avissa Salsabila, adalah pemegang gelar juara dunia silat 2018. Pada awalnya, ia mengenal olahraga pencak silat dari sang guru di Sekolah Dasar (SD). Dari guru beladiri pertamanya yang akrab dipanggil Kang Ujang itu, dara manis yang hobi bermain games ini terus menempa kemampuannya di pencak silat. “Cuma iseng awalnya belajar beladiri. Lalu, ikut pertandingan, dan Alhamdulillah juara. Dan tampil di pertandingan se-DKI Jakarta, dan juara lagi. Dari situ, pelatih ngomong jika saya berbakat di beladiri silat,” tutur Avissa, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kini, tugas siswi kelas 10 Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta itu terus berlatih dan menambah teknik-teknik terbaru memainkan silat, sebagai salah satu olahraga tradisional Indonesia. Sebab, menurut perempuan berkulit kuning langsat itu, negara-negara lain di dunia juga telah mengembangkan silat sebagai olahraga yang diperhitungkan di pentas internasional. “Silat di luar negeri itu, menurut saya lebih cepat perkembangannya. Apalagi, pesilat luar negeri dilatih sama pelatih dari Indonesia. Kemampuan mereka pasti sama dengan pesilat Indonesia, bahkan lebih,” sambungnya. Remaja berpostur 160 centimeter itupun membagi pengalamannya ketika menjadi juara dunia dalam event 9th UPSI International Silat Championship 2018, di Perak, Malaysia. “Waktu kejuaraan dunia itu ramai banget, sebab yang datang dari seluruh dunia. Saat pembukaan, panitia kasih pengumuman ini pertama dan rekor di Malaysia, yang pesertanya bisa sampai 1.000 pesilat,” cetus pelajar berusia 15 tahun ini. “Karena pesertanya juga ribuan, jadi deg-degan juga pas mau bertanding waktu itu. Tapi, karena latihan terus, mungkin deg-degannya bisa berkurang,” lanjut dara yang bercita-cita menjadi dokter itu. Avissa akhirnya meraih emas di kategori E Putri Remaja kelas 55-59 Kg. Avissa mengaku, bila lawan terberatnya di partai puncak kejuaraan dunia itu adalah Malayasia. Negara serumpun Melayu itu ternyata mempersiapkan para pesilatnya dengan baik. “Di tingkat remaja, mereka sudah membentuk tim khusus tampil di kejuaraan dunia. Mereka juga sering melakukan ujicoba. Jadi, memang Malaysia persiapannya lebih bagus dari Indonesia,” tutup Avissa. (Adt) Biodata  Nama : Khansa Avissa Salsabila Tempa/Tgl Lahir : Jakarta, 30 April 2002 Hobi : Main Games Ayah : Nur Ali Rachmat Ibu : Neneng Ijah Sekolah : Kelas 10 SKO Ragunan, Jakarta Tinggi : 160 Cm Cita-cita : Dokter Prestasi : 1. Juara Satu Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) se-DKI Jakarta 2015 2. Juara Satu Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2016 3. Juara Satu Kejuaraan Nasional (Kerjurnas) Remaja Jakarta 2016 4. Juara Satu Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2017 5. Juara Satu Dunia 9th UPSI International Silat Championship 2018

Sandang Juara Dunia Pencak Silat, Ratu Febia Ingin Masuk Pelatnas

Pesilat Ratu Febia Tanama Muthi berharap masuk Pelatnas membela Merah Putih di turnamen internasional. (Adt/NYSN)

Jakarta- Usianya baru 18 tahun, namun dara manis bernama lengkap Ratu Febia Tanama Muthi, merupakan penyandang gelar juara dunia pencak silat. Ia menorehkan prestasinya di Kejuaraan Dunia Silat Junior 2015, di Stadion Titiwangsa, Kuala Lumpur, Malaysia. Harapannya sederhana, gadis bertinggi 158 itu ingin suatu saat nanti ia terpilih masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) membela Merah Putih di pentas internasional. “Target pribadi setelah lulus Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, bisa ikut Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah). Dan pelatih memotivasi supaya masuk Pelatnas. Harapannya bisa membela Indonesia di dunia internasional,” ujar Ratu disela-sela Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Al-Azhar Seni Bela Diri Ke-2, di Jakarta, Sabtu (31/3). Guna mewujudkan harapannya tersebut, anak pasangan Nur Ali Rachmat (Ayah) dan Neneng Ijah (Ibu) itu terus menempa kemampuan ilmu bela dirinya. “Latihan setiap hari, mulai dari pagi dan sampai sore hari. Juga latihan-latihan tambahan. Selain itu juga sering mengikuti pertandingan biar mental makin kuat, biar tidak gentar juga kalau ketemu lawan-lawan baik di kejuaraan nasional maupun internasional,” sambung pehobi games itu. Diakui Ratu, bila saat ini perkembangan bela diri, terutama pencak silat sangat pesat. Ia menjelaskan saat dirinya meraih gelar juara dunia, persaingan yang dihadapi sangat ketat. “Waktu itu persaingannya ketat. Bagus-bagus semua lawannya. Apalagi yang dari Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Speed mereka cepat banget. Jadi saya harus lebih intensif berlatih. Supaya bisa terus meraih hasil terbaik,” tutupnya. (Adt) Biodata : Nama : Ratu Febia Tanama Muthi Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 8 Februari 2000 Hobi : Main Games Sekolah : SKO Ragunan Jakarta Tinggi/Berat : 158 Cm/56 Kg Nama ayah : Nur Ali Rachmat Nama Ibu : Neneng Ijah Prestasi : 1. Juara Tiga Kejurnas PPLP Kalimantan Timur 2013 2. Juara Dua Popnas Jawa Barat 2013 3. Juara Satu Kejurnas PPLP Jawa Tengah 2014 4. Juara Satu Jakarta Open 2014 5. Juara Satu Kejuaraan Dunia Silat Junior 2015 6. Juara Satu Kejurnas Maluku Utara 2015 7. Juara Satu Kejurnas Remaja 2016

Tertantang Ikut Seleksi Timnas 3×3, Ranie Terobsesi Kalahkan Para Bigman

Yusranie Noory Assipalma pebasket cantik asal klub Merpati Bali yang pernah menjadi finalasi Miss Indoneisa 2016. (Pras/NYSN)

Jakarta- Berparas cantik. Tapi, siapa sangka perempuan bernama lengkap Yusranie Noory Assipalma adalah seorang atlet basket. Padahal, dara yang akrab disapa Ranie itu, tak tertarik dengan olahraga asal negara Presiden Donald Trump itu. Namun, guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) menyarankan dirinya untuk mencoba bermain basket. Sejak itu, benih-benih cinta terhadap olahraga yang begitu populer di Amerika Serikat itu mulai tumbuh. “Pertamanya itu Kakak punya bola basket. Terus melihat dia main. Karena pingin mencoba, bola basketnya dikasih ke saya. Coba-coba untuk drible. Dan saya nggak tertarik sama basket. Tahunya itu, baseket itu olahraga. Main basket, justru sama guru olahraga waktu di SMP,” tutur mahasiswi Universitas Trisakti, Jakarta. Pemilik tinggi 174 centimeter itu mengaku mendapat kesenangan saat bermain basket dibandingkan dengan melakukan aktifitas olahraga lain. Baginya, olahraga yang pertama kali dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) Pertama di Solo, Jawa Tengah, pada 1948 itu, terbilang cool serta mengutamakan team work. “Di basket itu segalanya ada. Di bulutangkis hanya mengutamakan fisik, namun tidak body contact. Kalo basket itu, pemain akan melakukan body contact, baik sengaja atau tidak. Juga team work. Karena dalam satu tim berlima maka pasti harus saling bekerjasama,” tukas mahasiswi jurusan desain interior. Malang melintang di basket, sejumlah prestasi pernah diukir anak kedua dari tiga bersaudara itu. Kini, Ranie tengah mempersiapkan diri mengikuti seleksi nasional (Seleknas) tim 3×3 putri Indonesia untuk menghadapi Asian Games 2018, Agustus-September nanti. “Saya merasa tertantang ikut seleknas, dan harus lebih semangat lagi. Jadi targetnya bisa mengalahkan bigman-bigman yang lain,” cetus anak pasangan M. Zari (Ayah) dan Helmiyah (Ibu). Guna mewujudkan targetnya itu, ajang kompetisi basket putri profesioanl Srikandi Cup Seri Ke-3, yang dihelat di GOR Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat, 19-24 Maret 2018, dijadikan sarana latihan untuk persiapan seleknas 3×3. “Di pertandingan Srikandi Cup ini, bisa ketemu sama bigman-bigman dari tim lain. Jadi untuk sarana latihan, sebelum nanti saya mengikuti seleknas,” jelas punggawa Tim Basket Merpati Bali. Masuk timnas membela Merah Putih merupakan suatu kehormatan. Untuk itu, dirinya terus menempa kemampuan dibawah arahan pelatih Merpati Bali, tim profesional tempatnya bernaung saat ini. “Peranan pelatih itu banyak. Mereka pasti prepare apa saja menu latihan untuk saya dan tim. Bagaimana perubahan strategi dalam pertandingan, dimana sifatnya situasional. Lalu, pelatih menekankan challenge yang harus dicapai,” beber Ranie. Pebasket yang hoby travelling itu, mengungkapkan meski nanti dirinya tidak lolos seleknas, dirinya tak akan patah semangat. Karena, bagi perempuan kelahiran Jakarta, 20 tahun silam itu, dipanggil mengikuti seleksi adalah sebuah kebanggaan. “Bila nanti saya tidak terpilih dalam seleknas, ya tetap bersyukur. Sebab, kalau sudah dipanggi untuk ikut seleknas berarti saya pemain pilihan karena bisa mengungguli pemain lain,” tukas Finalis Miss Indonesia 2016. (Adt) Biodata : Nama : Yusranie Noory Assipalma (Ranie) Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 19 Februari 1998 Universitas : Trisakti Jakarta Jurusan : Desain Interior Klub : Merpati Bali Tinggi :174 cm Hoby : Seni, Olahraga dan Travelling Nama Ayah : M. Zari Nama Ibu : Helmiyah Prestasi : 1. Medali Perak PON 2016 (Tim DKI Jakarta) 2. Timnas U-16 FIBA Asia 3. Timnas U-18 FIBA Asia 4. Miss DKI Jakarta 2016 5. Top 15 Miss Indonesia 2016

Dari Pelataran Rumah, Marcella Mantap di Bulutangkis Wakili DKI ke Tingkat Nasional

Pebulutangkis tunggal putri Marcella Malinda mewakili DKI ke Tingkat Nasional di Yogyakarta, September 2018. (instagram)

Jakarta- Perawakannya mungil. Tapi soal kemampuan bermain tepok bulu angsa tak perlu diragukan. Lincah dan gesit di lapangan itulah sosok atlet muda bernama lengkap Marcella Malinda. Ia penyandang gelar pertama cabang olahraga bulutangkis di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) SMK Provinsi DKI Jakarta. Prestasi yang ciamik, membawa siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Strada 1 Jakarta Pusat itu mewakili kontingen Ibukota berlaga di O2SN Tingkat Nasional di Kota Yogyakarta, September 2018. Sekalipun senang membawa nama DKI Jakarta ke pentas nasional, namun Marcella tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. “Nervous, nanti disana (Yogyakarta) bagaimana? Belum tahu juga lawan-lawannya. Pasti bagus semua karena sudah terpilih mewakili daerah masing-masing,” terang anak pertama dari dua bersaudara. Baginya, ini adalah pengalaman pertama yang harus dipersiapkan dengan maksimal. Berlatih dan terus mengasah kemampuan jadi santapan wajib bagi juara dua Pekan Olahraga Pelajar Beregu Putri 2016 itu. “Ini pertama kali mewakili DKI ke tingkat nasioal. Terakhir cuma tingkat Provinsi. Harus lebih giat lagi latihan dan fokus untuk hasil yang diinginkan,” sambung anak pasangan Suhariyanto (ayah) dan Meliana (ibu). Ketertarikan Marcella dengan bulutangkis bermula dari keisenganya bermain dipelataran rumah bersama sepupunya, Clara Putri. Akibat keseringan mencoba, ia jatuh cinta pada olahraga bulutangkis. “Main bulutangkis itu mulai kelas 7. Tadinya coba-coba sama Cici (kakak sepupu). Terus dicoba main ke tempat latihan. Lama-lama suka main bulutangkis,” beber juara satu Sanyo Cup Beregu Putri 2014. Keinginan Marcella menekuni bulutangkis sempat tak mendapat restu dari kedua orang tuanya. Namun, keseriusan dan tekad remaja putri berusia 16 tahun itu, membuat hati kedua orang tuanya luluh. Kini, pemilik tinggi 160 centimeter itu makin mantap meniti karier di bidang olahraga yang sangat populer di masyarakat Indonesia. “Main bulutangkis itu keinginan saya sendiri. Dan, diawal-awal sempat nggak didukung sama orang tua. Padahal, Papa pemain bulutangkis, juga dengan Kakek,” tukas kakak dari Natashia Malinda. Soal idola, ia mengagumi pebulutangkis tunggal putri asal China Taipeh, Tai Tzu Ying dan Ratchanok Intanon (Thailand). Menurutnya, kedua pemain ini punya pukulan bola yang bagus dan semangat tinggi. “Yang pasti kedua pemain ini memiliki mental juara. Itu yang sangat penting bagi seorang pemain,” tegas juara satu O2SN Tunggal Putri Tingkat Kota Administrasi Jakarta Utara 2016. Di Tanah Air, Marcella menyukai peraih medali emas Barcelona 1992, Susi Susanti. Bermain ulet, langkahnya yang cepat jadi alasan ingin mengikuti jejak legenda asal Kota Tasikmalaya, Jawa Barat itu. “Ingin banget bisa nurunin cara mainnya Susi Susanti. Dia itu kuat main rally. Nah, saya terkadang tak sabaran, kalau ada kesempatan saya pasti main serang,” urai remaja berkulit kuning langsat. Jalan yang ditempuh memang masih panjang. Ia membentang asa kelak membawa nama Indonesia ke tingkat ASEAN. “Saat ini latihan dan usaha yang giat serta doa. Tiap kesuksesan seseorang selalu ada doa yang menyertainya. Selanjutnya, biar Tuhan yang mengatur,” tutur Marcella. (Adt) Biodata Nama: Marcella Malinda Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 7 Juni 2002 Sekolah : SMK Strada 1, Jakarta Pusat Kelas : 10 Hoby : Badminton Nama Ayah : Suhariyanto Nama Ibu : Meliana Saudara Kandung : Natashia Malinda Instagram : @marcella_malinda Tinggi : 160 Cm Prestasi : 1. Juara 2 POR CC 25 Beregu Putri (2014) 2. Juara 1 Sanyo Cup Beregu Putri (2014) 3. Juara 1 O2SN Tunggal Putri Tingkat Kota Administrasi Jakarta Utara (2015) 4. Juara 1 POR CC 26 Beregu Putri (2015) 5. Juara 1 O2SN Tunggal Putri Tingkat Kota Administrasi Jakarta Utara (2016) 6. Juara 2 Pekan Olahraga Pelajar Beregu Putri (2016) 7. Juara 1 ASTEC Mix Double (2016) 8. Juara 1 Methodist Ganda Putri (2016) 9. Juara 1 SMAK 6(Rapshody) Tunggal Putri (2017) 10. Juara 1 O2SN Tingkat Provinsi DKI Jakarta (2018)

Tebus Kekalahan Greysia/Apriyani, Della Destiara/Rizki Amelia Melaju Ke Babak Kedua

Jakarta- Pada babak pertama All England 2018 di Arena Birmingham, Inggris, Rabu (14/3), Dua Pasangan ganda putri Indonesia mendapat kesempatan hari pertama memanaskan lapangan pertandingan. Dibuka dengan pertandingan Ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu bertemu dengan pasangan wakil Bulgaria, Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva. Greysia/Apriyani kandas dua set dengan perolehan angka 21-11, 21-19. Dengan begitu mereka gagal melaju ke babak kedua. Menebus kegagalan rekannya, Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta, lolos ke babak kedua turnamen bulutangkis All England 2018. Della/Rizki berhasil melumpuhkan pasangan Korea Selatan, Chang Ye-na/Hye Rin-kim lewat tiga set dengan skor 22-10, 18-21, 21-17. Mereka menang setelah melewati pertarungan selama 1 jam 2 menit. Della/Rizki menjadi perwakil Indonesia pertama yang lolos ke babak kedua turnamen kelas dunia ini. Sangat di sayangkan Pasangan Ganda Putri Indonesia sebelumnya, Greysia Poli/Apriyani Rahayu dilumpuhkan pasangan Bulgaria, Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva, dengan skor 11-21, 19-21. Hasil sementara untuk wakil Indonesia: – Greysia Polii/Apriyani Rahayu dikalahkan Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (Bulgaria): 11-21, 19-21 – Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta vs Chang Ye-na/Hye Rin-kim (Korea): 22-20, 18-21, 21-17 Dengan hasil ini, Indonesia masih menunggu permainan memukau dari 12 wakil lain yang akan berlaga dalam 10 partai. Dalam babak pertama ini, ada empat wakil Indonesia yang saling berhadapan. (Nad)