ITDC Resmi Bangun Sirkuit MotoGP di Mandalika, Menpora Janji Beri Dukungan dan Promosi

PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Coporation (ITDC) berencana membangun sirkuit MotoGP, di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada Senin (14/1), PT ITDC melakukan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan investor yakni VINCI Construction disaksikan Menpora Imam Nahrawi (berbaju batik). (Kemenpora)

Jakarta- PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Coporation (ITDC) berencana segera membangun sirkuit MotoGP, yang berada di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) mendukung rencana tersebut. “Senang mendengar kabar baik ini. MotoGP sangat ditunggu masyarakat Indonesia. Jika ini ada di Indonesia, pasti sangat banyak yang menonton, dibandingkan mereka harus ke Malaysia seperti saat ini,” ujar Menteri kelahiran Bangkalan, Madura, Jawa Timur, 45 tahun silam itu, di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, pada Senin (14/1). “Saya akan menemui Menteri Pariwisata dan pihak-pihak terkait, guna memberikan dukungan serta mempromosikan agar rencana ini terwujud,” tambah Menpora yang didampingi Raden Isnanta (Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora). Sementara itu, Abdulbar Mansoer, Direktur Utama ITDC, mengungkapkan rencana pembangunan street race circuit (sirkuit jalan raya) MotoGP di bagian selatan Pulau Lombok yang masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) itu ditandai dengan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan investor yakni VINCI Construction. Dijelaskan Abdulbar, terdapat beberapa alasan mengapa memilih Mandalika. Salah satunya karena areanya yang begitu eksotik. Sehingga, terang Abdulbar, sangat menarik minat wisatawan terutama dari mancanegara atau turis asing. “Kami perlu dukungan dan promosi yang kuat. Kalau mau pada Maret 2021 MotoGP bisa di Indonesia. Investor sudah siap membangun Mandalika. Karena dengan hadirnya sport tourism akan mempercepat recovery Lombok,” tegas Abdulbar. Sementara itu, Direktur Kontruksi dan Operasional PT ITDC, Ngurah Wirawan, menyebut total lintasan sirkuit MotoGP ini mencapai 4,2 kilometer yang dibangun di atas lahan seluas 160 hektare, yang 130 hektare di antaranya diperuntukkan untuk pembangunan sirkuit dan 20 hektare untuk hotel, rumah sakit, dan fasilitas pendukung lain. Ia mengatakan, jalan raya sepanjang 20 kilometer itu kelak memiliki lebar 30-40 meter, namun khusus lintasan MotoGP, jalan yang harus dibangun mencapai 15-90 meter. “Detailnya saya tak terlalu paham karena itu VINCI bersama Dorna selaku investor. Tapi lintasan MotoGP itu ada standarnya, sehingga harus dibangun lebar,” terangnya. VINCI yang bertindak sebagai investor utama pembuatan sirkuit itu, dikabarkan akan mengeluarkan dana sebesar 900 juta euro (sekitar Rp 13,4 triliun). Jika sirkuit di Mandalika rampung, artinya MotoGP akan hadir secara resmi di negara ketiga terbesar di dunia, dalam pasar roda dua. MotoGP saat ini dikelola oleh Dorna Sports sejak 1992, sebagai pemilik penuh semua hak komersial dan penyiaran event tersebut. MotoGP juga merupakan event balap motor utama di dunia. Pada akhir Oktober 2018 lalu, CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta sudah berkunjung ke Mandalika. “Mungkin bakal ada sirkuit jalanan perkotaan di MotoGP. Ada sebuah proyek yang tengah berlangsung di sebuah kota yang hangat,” ucap Ezpeleta. “Secara teorinya, sirkuit tersebut akan berada di sebuah perkotaan dan bagian tempat penonton akan terintegrasi dengan gedung-gedung,” tutur pria kelahiran Barcelona pada 1946. Ezpeleta mengungkapkan, selain bakal digunakan untuk balapan, tempat itu juga bisa digunakan untuk beragam kegiatan. Beberapa waktu lalu Finlandia dan Meksiko berusaha untuk masuk dalam kalender MotoGP 2019. Namun, hal tersebut tidak terjadi dan membuat MotoGP tahun depan tetap berjumlah 19 seri. “Sampai 2021, kami tak akan membuat lebih dari 20 seri balapan dalam setahun. Setelah itu nanti kita akan review ulang. Banyak permintaan untuk sirkuit yang ingin ikut kemeriahan balapan ini,” kata Ezpeleta. Indonesia sempat berharap dapat masuk di kalender MotoGP 2018. Namun, secara mengejutkan, justru Sirkuit Buriram di Thailan,d yang mengumumkan menjadi seri terbaru di 2018 dalam penyelenggaraan MotoGP. (Adt)

Gempa Guncang Lombok, Lalu Muhammad Zohri Tegar Berlatih Meski Ingin Pulang

Lalu Muhammad Zohri (berpeci putih) mendapat hadiah berupa umroh gratis dari ustadz Adi Hidayat, Direktur Quantum Akhyar Institute, usai menjadi juara dunia atletik U-20, di Finlandia. (Pras/NYSN)

Jakarta- Gempa bumi berkekuatan 7.0 skala richter (SR) dengan kedalaman 15 kilometer yang berpusat di darat 18 kilometer barat laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengakibatkan jatuhya korban jiwa dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan. Atlet pemusatan latihan nasional (Pelatnas) kelahiran Lombok, NTB, 1 Juli 2000, Lalu Muhammad Zohri sempat terbersit untuk pulang ke kampung halamannya di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Setelah mendapat kabar gempa itu saya sempat kepikiran dan langsung mau pulang. Saya ditelepon kakak dan teman sambil menangis. Mereka bilang masjid dan rumah-rumah sudah rata semua akibat gempa. Tapi Alhamdulilah rumah saya tak mengalami kerusakan,” ujar juara dunia atletik U-20, pada Rabu (8/8), di Stadion Madya Senayan, Jakarta. Meski mengalami kesedihan mendalam akibat musibah gempa yang menimpa kampung halamannya, namun tugas negara sudah menanti remaja yang akrab disapa Badok itu. Ia bakal mewakili Merah Putih di ajang Asian Games XVIII/2018, pada 18 Agustus – 2September mendatang. “Tapi ini ‘kan mau Asian Games. Takutnya malah bikin Indonesia kalah. Mungkin setelah Asian Games, saya segera pulang. Apalagi kakak, juga kasih semangat dan support agar tetap fokus ke Asian Games,” lanjut saudara kandung dari Baiq Fazilah, Lalu Ma’arif, dan Baiq Fujianti itu. Zohri mendapat suntikan semangat dari pemuka agama ustadz Adi Hidayat, Direktur Quantum Akhyar Institute. Ia hadir di Stadion Madya Senayan menepati janji memberikan hadiah berupa umroh gratis bagi Zohri, Eni Nuraeni (pelatih), dan Idan Fauzan Richsan (atlet lompat galah). “Saya datang sebagai putra bangsa dan ingin menepati janji saya untuk memberi hadiah umroh bagi Zohri, pelatih Zohri, dan Idan. Terlebih sebentar lagi ada Asian Games. Tentu perjuangan yang tidak biasa. Momen ini semoga bisa menjadi penambah semangat untuk semua atlet,” tutur Ustadz Adi. Tak hanya itu, Ustadz Adi menjanjikan akan memberikan hadiah bagi peraih medali di ajang Asian Games mendatang. “Untuk yang muslim saya akan hadiahkan umroh, dan untuk yang non muslim saya berikan apresiasi sebesar Rp 30 juta,” ungkapnya. “Terpenting guna menghadapi Asian Games nanti adalah mempersiapkan diri terutam fisik, intelektual, dan spiritual. Perhatikan lawan serta lintasan yang dilalui. Semoga dengan kekuatan spiritual akan memberikan ketenangan sehingga memiliki fokus lebih baik,” tuturnya. Kembali, Zohri mengaku bersyukur dengan apresiasi yang diberikan semua pihak, atas prestasi ia dan rekan-rekannya. “Saya sangat bersyukur sekali, apalagi dapat hadiah umroh gratis lagi. Bagi saya ini sangat luar biasa,” tutup Zohri. (Adt)

Tetesan Air Mata Lalu Muhammad Zohri, Apresiasi dan Beban Berat Di Pundaknya

Sprinter muda Lalu Muhammad Zohri siap berlaga di Asian Games 2018 usai menjadi juara dunia di Tampere, Finlandia. (Kemenpora)

Jakarta- Kedatangan Lalu Muhammad Zohri ke Tanah Air disambut meriah. Kalungan bunga dan uang pembinaan dari pemerintah sebesar Rp 250 juta serta tabungan emas 1 kg dari salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) didapat. Belum lagi beberapa sponsor yang lainnya. Bahkan, orang nomor satu di negeri ini, Presiden Joko Widodo, memerintahkan Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) untuk membangun rumah sprinter muda itu di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Itu semua ‘buah’ keberhasilannya sebagai juara dunia nomor 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20, di Tampere, Finlandia, pekan lalu. Dari catatan resmi Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAAF), dalam 32 tahun penyelenggaraan, prestasi terbaik Indonesia hanya mampu menembus peringkat 8 babak penyisihan, pada 1986. “Saya tak menyangka mendapat sambutan seperti ini. USoal pembangunan rumah, saya banyak kenangan dengan rumah itu, terutama ingat ibu dan bapak saya. Terima kasih kepada semuanya yang menyambut saya,” ujar Zohri lirih seraya meneteskan air mata, di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (17/7) malam. “Saya tidak pernah menyangka (juara). Namun saya percaya diri dan yakin pertolongan Tuhan. Saya bersyukur kepada Allah bisa menjadi juara,” tuturnya. Lahir di Lombok, NTB, 1 Juli 2000, remaja yang akrab disapa Badok ini, merupakan anak ketiga dari Lalu Muhammad (ayah) dan Saeriah (ibu). Pria berpostur tegap itu ditinggal ibundanya sejak bangku SD (sekolah dasar). Dan, setahun yang lalu, ayahnya meninggal dunia. Ia kini tinggal bersama saudaranya yakni Baiq Fazilah, Lalu Ma’arif, dan Baiq Fujianti, di rumah sangat sederhana, di Karang Pangsor. Zohri bergabung di pelatnas atletik pada 2017. Adalah Mohammad Hasan, atau akrab disapa Bob Hasan, orang yang berjasa besar atas prestasi fenomenal Zohri. Ia merupakan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI). Bob Hasan telah membina atletik selama empat dasawarsa. Bekerja denga hati. Menteri Perindustian dan Perdagangan era Presiden Soeharto itu melakuan pencarian talenta muda berbakat ke pelosok, serta pusat pendidikan latihan dan pelajar (PPLP), dan menggelar kejuaraan nasional (Kejurnas). Seluruh biaya dikeluarkan melalui kantong pribadi pria kelahiran 1931 ini. Soal prestasi Zohri, pria asal Semarang, Jawa Tengah itu mewanti-wanti, agar Zohri diberikan dukungan bukan pujian berlebihan. “Jangan dipuji-puji. Nanti kepalanya besar. Jadi tegang, malah kalah,” cetusnya, beberapa waktu lalu. Kini, Zohri menanggung beban berat dipundaknya. Kurang dari satu bulan, ia akan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018. Di pesta multievent empat tahunan itu punya tantangan besar. Sebab, berhadapan dengan pelari-pelari senior sekaligus para pesaingnya. Catatan waktu Zohri yakni 10,18 detik saat di Finlandia, masih kalah jauh dibandingkan Femi Ogunade. Sprinter asal Qatar ini adalah kampiun Asian Games 2014 pada nomor yang sama. Ogunade meraih emas dengan catatan waktu 9,93 detik. Tak hanya emas, tapi ia mencatatkan namanya dalam rekor pelari 100 meter tercepat di Asia. Di peringkat kedua, ada sprinter asal China, Su Bingtian. Rekor Su Bingtian adalah 10,10 detik. Diikuti Kei Takase dari Jepang, yang mendapat medali perunggu dengan waktu 10,15 detik. Dari statistik ini, Zohri belum memiliki catatan waktu yang lebih cepat, dari tiga besar juara nomor 100 meter Asian Games 2014 itu. (Adt) Catatan Prestasi Zohri: 1. Juara 1 Kejuaraan Nasional PPLP (Pusan Pendidikan dan Latihan Pelajar) nomor 100 meter (10,25 detik) 2. Emas Kejuaraan Atletik Asia Junior nomor 100 meter (10,27 detik) di Gifu, Jepang 3. Emas Westwood Rafer Johnson & Jackie Joyner-Kersee Invitational nomor 100 meter (10,36 detik) di Amerika Serikat 4. Perak Test Event Asian Games 2018 nomor 100 meter (10,32 detik) 5. Emas Kejuaraan Dunia Atletik U-20 nomor 100 meter (10,18 detik) di Tempere, Finlandia

Sampai di Jakarta, Zohri disambut Menpora Dengan seremonial di Bandara Soekarno-Hatta

Menpora Imam Nahrawi secara resmi menyambut kedatangan juara dunia lari 100 meter U-20 Lalu Muhammad Zohri di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Selasa. (Antaranews.com)

Jakarta- Kedatangan juara dunia lari 100 meter U-20, Lalu Muhammad Zohri disambut secara seremonial di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/7) dan dipimpin langsung Menpora Imam Nahrawi. Zohri tiba di Tanah Air menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia pada pukul 23.10 WIB. Setelah turun dari pesawat dan pengurusan imigrasi, pria yang disapa Badok ini dan rombongan, langsung ke lokasi penyambutan yang juga melibatkan kesenian dari Lombok. Menpora Imam Nahrawi yang sudah menunggu langsung bersalaman dan merangkul Zohri yang saat itu memakai jaket merah. Masyarakat yang berada di bandara juga antusias menyambutnya. Begitu juga dengan perwakilan PB PASI. Kalungan bunga melati juga tidak lupa disematkan ke Zohri oleh menpora. Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, sang pelatih Eni Nuraini juga menyambut langsung atlet yang dalam satu pekan terakhir menjadi pantauan oleh masyarakat Indonesia itu. Meski terlihat lelah, Zohri tetap bersemangat untuk terlibat dalam penyambutan. Bendera Merah Putih juga tidak lepas dari pegangannya. Diatas panggung, Zohri langsung mendapat penghargaan dari Kemenpora serta predikat pemuda hebat. Penghargaan juga diberikan kepada pelatih Eni Nuraini serta pihak PB PASI. “Terima kasih kepada PASI. Kami berharap Zohri tetap konsisten untuk berlatih karena Asian Games sudah dekat. Saya berharap Zohri tetap rendah diri,” kata Menpora Imam Nahrawi. Zohri merupakan atlet Indonesia pertama yang sukses menjadi juara dunia lari 100 meter, meski untuk kategori U-20. Walau berada di lintasan delapan, Atlet berusia 18 tahun ini mampu menggebrak atlet negara lain yang selama ini menguasai nomor tersebut. Salah satu atlet yang disiapkan untuk Asian Games 2018 ini membukukan catatan waktu 10,18 detik. Zohri mampu mengalahkan dua sprinter asal Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang masing-masing mencatatkan perolehan waktu 10,22 detik. Waktu yang dicatatkan oleh atlet asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Timur ini hanya terpaut tipis, dengan catatan waktu mantan sprinter Indonesia, Suryo Agung Wibowo yaitu 10,17 detik, yang ditorehkan pada SEA Games 2009 di Laos. Atas prestasi tersebut, Zohri banyak mendapatkan apresiasi termasuk dari Presiden Joko Widodo. Bonus juga terus mengalir pada atlet yatim piatu ini. Kementerian Pemuda dan Olahraga memberi bonus Rp250 juta, selaih itu juga perbaikan rumahnya di Lombok Utara. (Ham)

Tampil di Nomor Sprint 100 Meter Asian Games 2018, Ini ‘Gilanya’ Catatan Waktu Para Pesaing Zohri

Catatan waktu 10,18 dari atlet muda Indonesia, Lalu Muhammad Zohri (merah), di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 cabang 100 meter putra, ternyata kalah jauh dari rekor Asian Games 2014 milik sprinter asal Qatar, Femi Ogunade. (thejakartpost.com)

Jakarta- Torehan spektakuler sprinter muda Indonesia, Lalu Muhammad Zohri di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 cabang 100 meter putra, membuka peluang Indonesia di Asian Games 2018. Namun, Indonesia punya banyak pesaing, jika berkaca pada Asian Games edisi sebelumnya dan SEA Games 2017. Zohri, yang baru berusia 18 tahun meraih catatan waktu impresif saat finish di urutan pertama 100 meter putra Kejuaraan Dunia, yakni 10.18. Namun, catatan waktunya itu masih kalah jauh, jika dibandingkan dengan sprinter asal Qatar, Femi Ogunade, yang menjuarai Asian Games 2014 pada nomor yang sama. Ogunade keluar sebagai juara pertama dengan catatan waktu 9.93. Tak hanya memboyong medali emas, tapi juga mencatatkan namanya dalam rekor pelari 100 meter tercepat di Asia. Di peringkat kedua ada sprinter asal China, Su Bingtian dengan catatan waktu 10.10. Kemudian diikuti Kei Takase dari Jepang, yang mengamankan medali perunggu dengan waktu 10.15. Dari statistik ini, dapat dilihat Zohri belum memiliki catatan waktu yang lebih cepat, dari tiga besar juara nomor 100 meter Asian Games 2014 itu. Di level Asia Tenggara, catatan waktu pria yang disapa Badok ini, mampu bersaing dengan pelari lainnya. Bukan tanpa alasan, pada SEA Games 2017 lalu, peraih medali emas cabang lari 100 meter asal Malaysia, Khairul Hafiz Jantan, cukup finish dengan waktu 10.38 mengamankan posisi pertama. Setelahnya ada Eric Shauwn Cray dari Filipina dan Kritsada Namsuwun dari Thailand, yang finish di waktu yang bersamaan, yakni 10.43. Indonesia pernah mempunyai sejarah bagus di level Asia Tenggara. Pada SEA Games 2009, sprinter Suryo Agung Wibowo berhasil mencatatkan rekor di nomor 100 meter putra, dengan catatan waktu 10.17. Catatan Suryo lebih cepat 0.01 detik, dibandingkan dengan Zohri. Dan hingga kini, belum ada atlet lari Asia Tenggara, yang mampu melebihi rekor tersebut. Prestasi yang diraih oleh Zohri, membawa angin segar di dunia atletik Indonesia. Bukan tak mungkin, dia masih bisa mempertajam catatan waktunya tesebut pada sisa waktu satu bulan ke depan sebelum Asian Games 2018 bergulir. Cabang olahraga atletik rencananya akan diperlombakan di Stadion Gelora Bung Karno, mulai 25 Agustus 2018. (art)

Jaga Konsistensi Prestasi, Pemerintah Bakal Kawal Lalu Muhammad Zohri Hingga Level Senior

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan mengawal prestasi Lalu Muhammad Zohri hingga ke level senior. (Adt/NYSN)

Jakarta- Muda dan berprestasi. Itulah sosok Lalu Muhammad Zohri. Berangkat ke Tampere, Finlandia, mengikuti Kejuaraan Dunia Atletik Under (U) 20 Tahun, tanpa ekspektasi. Memegang prinsip, berpartisipasi dahulu. Menang kalah soal nanti. Terlebih, ia memulai laga dari lintasan 8. Maklum, bukan favorit juara. Berbeda dengan pesaingnya duo Amerika Serikat (AS), Anthony Schwartz dan Eric Harrison. Mereka berada di lintasan tengah karena memang difavoritkan menjadi kampiun di ajang ini. Usai pistol start diletuskan, semua berjalan biasa, para sprinter tampak bersaing ketat. Namun, di detik-detik akhir, remaja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 1 Juli 2000 itu mampu melesat. Mengukir catatan waktu 10,18 detik, ia finish terdepan. Remaja yang sehari-hari disapa Badok itu sukses menenggelamkan pamor sprinter unggulan Negara Paman Sam itu yang mencetak waktu 10,22 detik. “Tidak hanya disini (Kejuaraan Dunia Atletik U-20 Tahun). Saya ingin terus berprestasi. Alhamdulillah, banyak yang mengapresiasi prestasi saya. Semoga tidak ada yang berubah dengan saya. Saya tetap Zohri yang Insya Allah, tidak sombong. Saya akan terus berlatih meraih prestasi lebih tinggi lagi,” ujar sprinter yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, NTB, lewat sambungan telepon dengan Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Jumat (13/7). Dan, demi menjaga konsistensi prestasi sensasional sprinter berusia 18 tahun itu, pemerintah berjanji mengawal Zohri hingga ke level senior. Zohri juga diharapkan memiliki motivasi tinggi untuk menjadi pelari tercepat di dunia. “Menjaga prestasi hingga seperti ini, Zohri harus dilatih dengan pelatih yang tepat serta program latihan yang baik serta berkesinambungan. Sehingga prestasinya bisa terjaga hingga ke level senior. Pemerintah akan terus mengawal Zohri,” terang Imam. “Harapannya masyarakat terus memberikan dukungan untuk Zohri yang saat ini berada di PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) menjalani Pelatnas (pemusatan latihan nasional) jangka panjang. Selain itu, pelatihan yang dijalani harus menerapkan sport science secara tepat. Sehingga makin termotivasi menjadi pelari tercepat di dunia,” tambah menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu. (Adt)

Tak Mampu Beli Sepatu, Juara Dunia U-20 Asal Kampung Pemenang Ini Kerap Berlatih Di Tepi Pantai

Lalu Mohammad Zohri (tengah) diapit dua pelari asal Amerika Serikat, Eric Harrison dan Anthony Schwartz, usai merebut medali emas nomor lari 100 meter pada Kejuaraan Atletik Junior Dunia 2018 (Twitter IAAF)

Jakarta- Sprinter muda asal Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, mengukir prestasi mengesankan pada IAAF World U20 Championships di Tampere, Finlandia, 10-15 Juli 2018. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini merebut emas pada nomor bergengsi lari 100 meter putra. Di babak final, Zohri finish pertama dengan catatan waktu 10,18 detik. Dia mengalahkan dua pelari asal Amerika Serikat, Anthony Schwartz (10,22) and Eric Harrison (10,22). Sementara urutan ketiga ditempati oleh pelari Afirka Selatan, Thembo Monareng dengan 10,23 detik. Zohri sebenarnya bukan atlet yang diunggulkan pada nomor bergengsi tersebut. Dia tampil mewakili Asia setelah menang pada Kejuaraan Asia U-20 yang berlangsung Juni lalu. Saat itu, ia hanya mampu mencatat waktu terbaik, 10,27 detik. Pemuda yang sehari-hari disapa Badok ini, mulai diperhitungkan, saat di babak semifinal berhasil menempati urutan kedua, di belakang atlet AS, Anthony Schwartz, dengan catatan waktu 10.24, atau 0.05 lebih lambat. Di babak final, Badok menempati lintasan nomor 8. Saat pistol start diletuskan, pemuda asal Lombok Utara ini segera melesat dan bersaing ketat dengan Monareng serta Schwartz. Ia akhirnya berhasil finis pertama mengungguli kedua pelari asal Negeri Paman Sam tersebut. Badok lahir 1 Juli 2000 di  Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Masa kecilnya dihabiskan di Lombok Utara. Dia mengenyam pendidikan di SD Negeri 2 Pemenang Barat, lalu melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Pemenang. Saat SMP, bakat lari Badok sudah mulai menonjol. Kemudian diajak untuk mengikuti beberapa kejuaraan dan berhasil merebut prestasi membanggakan. Badok juga sosok pria mandiri. Dia sudah ditinggal orang tuanya saat masih belia. Ibunya meninggal saat dirinya masih duduk di bangku SD, dan ayahnya menyusul setahun kemudian. Kakak kandung Badok, Baiq Fazilah (29) mengaku langsung menangis dan sujud syukur, begitu mengetahui sang adik menjadi juara dunia setelah tercepat nomor lari 100 meter pada ajang Kejuaraan Dunia Atletik U-20 ini. “Setelah melihat videonya yang dikirim Badok melalui WhatsApp, saya langsung menangis dan sujud syukur kepada Allah,” ujar Baiq, di rumahnya di Karang Pansor Desa Pemenang Barat Kecamatan Pemenang Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (12/7). Baiq mengaku bangga prestasi yang diraih adiknya. Apalagi bila mengingat perjuangan keras adiknya yang berlatih di tengah keterbatasan. Karena untuk berlatih saja, Badok kerap tak menggunakan alas kaki, karena tidak memiliki sepatu. “Badok (Zohri) anaknya pendiam dan tidak pernah menuntut ini, itu. Bahkan, kalau berlatih lari tidak pernah pakai alas kaki (sepatu), karena tidak punya,” ujarnya. “Untuk berlatih sendiri, adik saya suka latihan lari di Pantai Pelabuhan Bangsal, Pemenang,” ucapnya. Badok merupakan anak ke empat dari empat bersaudara Baiq Fazilah (29), Lalu Ma’rib (28), Baiq Fujianti (Almh) dan Lalu Muhamad Zohri. Di pentas nasional, namanya mulai dikenal saat mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) U-18 dan U-20 di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta, April 2017. Dia kemudian dipilih oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) memperkuat timnas di Kejuaraan Dunia Remaja di Kenya, Juli lalu. Tampil di nomor 200 meter, Badok merebut emas dengan catatan waktu 21.96 detik. Dia sempat ikut berlomba di Singapura. Namun batal turun karena mengalami cedera. Kini ia merupakan bagian dari timnas atletik Indonesia yang akan bertanding di Asian Games 2018 nanti. Meskipun catatan waktunya masih kalah dari sejumlah sprinter top Asia saat ini, namun dia bisa menjadi harapan kejayaan Indonesia di masa mendatang. (Adt)

Remaja 18 Tahun Asal Lombok Utara, Jadi Kampiun 100 Meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20

Singkirkan Sprinter Amerika Serikat, Lalu Muhammad Zohri (tengah) yang baru berusia 18 tahun asal Lombok, Raih Emas Kejuaraan Dunia Atletik Junior. (bbc.com)

Jakarta- Prestasi sensasional ditorehkan sprinter Lalu Muhammad Zohri pada Kejuaraan Dunia Atletik Under (U) 20 tahun, di Stadion Ratina, Tampere, Finlandia, Rabu (11/7). Turun di nomor lari bergengsi 100 meter, remaja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 18 tahun silam ini sukses masuk finish pertama dengan membukukan catatan waktu 10.18 detik. Torehan ini sekaligus memecahkan rekor nasional (rekornas) atas namanya yakni 10.25 detik. Bahkan, Lalu yag berlari di lintasan 8 itu, menciptakan catatan waktu yang mendekati rekornas yang masih menjadi milik Suryo Agung Wibowo yakni 10.17 detik. Ia pun menumbangkan sprinter terbaik Amerika Serikat (AS) sekaligus favorit juara, yakni Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang mencetak waktu 10.22 detik. “Saya sangat gembira dengan catatan waktu terbaik saya dan rekor junior nasional. Sekarang, saya akan mempersiapkan diri untuk Asian Games bulan depan. Ini adalah sebuah pengalaman luar biasa dan ini sangat bagus untuk karier saya,” ujar Lalu usai lomba. Penampilan gemilang Lalu sudah terlihat sejak babak kualifikasi di hari pertama. Lalu turun di heat pertama bersama wakil Jepang Daisuke Miyamoto berhasil lolos ke semifinal dengan catatan waktu 10.30 detik. Di babak semifinal, atlet berjuluk ‘bocah ajaib dari Lombok’ itu turun di heat 1 dari 3 heat lolos bersama Schwartz dengan torehan 10.24 detik. Selanjutnya, Lalu, Anthony, dan Daisuke berhasil melenggang ke babak final. Sementara itu, Tigor M. Tanjung, Sekertaris Umum (Sekum) Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), mengatakan keberhasilan Lalu mencetak prestasi terbaik di ajang Kejuaraan Dunia Atletik Junior di Finlandia merupakan hasil dari ketekunannya berlatih dan berjalan dengan baik. (Adt)