SKO Ragunan 42 Tahun Berdiri, Dispora DKI Jakarta: 2019 Segera Direvitalisasi

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) DKI Jakarta Ratiyono, menegaskan jika Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta, segera direvitalisasi. Pihaknya tengah mengusulkan anggaran agar awal 2019, proses revitalisasi bisa direalisasikan. (tempo.co)

Jakarta- Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) DKI Jakarta Ratiyono, menegaskan jika Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta, segera direvitalisasi. Ia mengatakan, saat ini pihaknya tengah mengusulkan anggaran sehingga awal 2019, proses revitalisasi SKO dan kompleks olahraga Ragunan bisa direalisasikan. “SKO Ragunan diresmikan pada 1976 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Saatnya sudah direhab total. Masterplan-nya sudah dibuat pada 2011. Baru satu yang sudah direnovasi yakni tempat makan atlet. Kita berharap 2018 kita usulkan, tahun 2019 bisa langsung dieksekusi,” kata Ratiyono pada Jumat (12/10). Ratiyono mengatakan, pada tahap revitalisasi atau modernisasi, SKO Ragunan tetap mengedepankan lingkungan yang hijau. Dengan fasilitas yang modern, yang baru, tapi tidak meninggalkan sisi lingkungannya. Dengan harapan atlet bisa berlatih di tempat yang rindang, dan suplai oksigen yang cukup,” ucapnya, dilansir tribunews.com. SKO Ragunan, yang mempunya luas 20 hektare, lanjut Ratiyono, nantinya akan direvitalisasi secara serentak dengan menghabiskan dana yang tak terlalu besar, namun tetap memperhatikan kenyamanan, dan keunggulannya. “Akan direnovasi secara serentak. Dari 20 hektar, 30 persennya bangunan. Supaya nanti kalau selesai, atlet serentak juga berlatihnya. Ketika nanti saat renovasi, atlet kita pindahkan lebih dahulu, ke gelanggang-gelanggang yang ada di Jakarta,” bebernya. Ratiyono meyakini, renovasi SKO Ragunan yang dilakukan pada 2019 nanti tak akan menghambat persiapan atlet DKI Jakarta pada persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua 2020. “Kami memiliki sejumlah gelanggang-gelanggang yang tersebar di beberapa wilayah. Saya rasa ini tidak akan menghambat mereka,” ucapnya. Di sisi lain, Fasilitas SKO Ragunan saat ini semakin memburuk tanpa adanya sentuhan renovasi. Seperti di hall badminton, yang tampak bagian dindingnya sudah berlubang, begitu juga dengan kondisi alas lapangan badminton, baik karpet maupun kayu, yang terlihat sangat tak terurus. Persoalan infrastruktur venue di komplek GOR Ragunan jadi kewenangan Pemprov DKI, sehingga Pemprov harus lebih memperhatikan fasilitas yang ada. Terlebih berdasarkan data, banyak atlet berprestasi lahir dari komplek itu, termasuk fakta 40 persen atlet SKO Ragunan, telah menyumbang medali di ajang SEA Games dan 60 persen di PON. (Adt)

Pelajar SKO Ragunan Ikut Kejuaraan Asia Remaja Angkat Berat di Uzbekistan, Sinyal Positif Pembibitan Junior

Dua atlet SKO Ragunan, Jakarta, mengikuti Kejuaraan Remaja Angkat Berat di Uzbekistan, 20-30 April 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Dua atlet pelajar Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan, Jakarta, yakni Muhammad Fathir (56 Kg Putra) dan Juliana Klarisa (53 Kg Putri), akan bertanding di Kejuaraan Asia. Bertajuk ’19th Asian Youth Weightlifting Championship 2018′, mereka tampil di Uzbekistan, 20-30 April. Kejuaraan Asia yang diikuti 28 negara itu jadi kualifikasi Youth Olympic di Argentina, pada Oktober 2018. Mereka berhak tampil di Kejuaraan Asia setelah menjadi juara tingkat nasional di kelasnya. Fathir juara di kelas 56 Kg Remaja Putra pada Kejuaraan Satria Remaja di Yogyakarta, November 2017.Dan Juliana kampiun di kelas 53 Kg Remaja Putri di ajang yang sama. “Saya ingin kedua atlet ini memberikan prestasi untuk Indonesia. Mereka adalah bibit regenarasi angkat besi melapis seniornya seperti Eko Yuli Irawan, Triyatno dan lainnya,” ujar Raden Isnanta, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) saat melepas keberangkatan dua atlet SKO Ragunan itu, di Lapangan Tenis Kemenpora, Senayan, Jakarta, Rabu (18/4). Saat ini, jelas Isnanta, SKO Ragunan cabang olahraga (cabor) angkat besi tengah membina enam atlet yang terdiri dari tiga atlet putra dan tiga atlet putri. Dan, salah satu atlet putri dikelas 48 Kg atas nama Yolanda Putri, kini tengah menjalani Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Asian Games 2018. “Dalam kurun waktu dua tahun berdirinya cabor angkat besi di SKO Ragunan telah menyumbangkan beberapa atlet andalannya untuk Indonesia. Saya harap ini menjadi sinyal positif sebagai pembibitan di Indonesia,” tutup Isnanta. (Adt)

Minim Dana dan Tanpa TC, 10 Atlet Muda Indonesia Turun di Kejuaraan Senam Junior Asia 2018

Jakarta- Sebanyak 10 atlet junior senam Indonesia akan mengikuti 15th Junior Artistic Gymnastics Asian Championships 2018. Event itu dijadwalkan berlangsung di Stadion Istora Senayan, pada 25-28 April. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Senam Indonesia (Kabid Binpres PP Persani), Dian Arifin, mengatakan menyiapkan lima atlet putra dan lima atlet putri berpartisipasi. “Kami berharap, setidaknya satu atlet putra dan satu atlet putri, bisa lolos dalam Kejuaraan Asia Senam Artistik Junior 2018, sehingga dapat mengikuti Olimpiade Junior di Buenos Aires, Argentina, pada Oktober 2018,” kata Dian. Sepuluh atlet junior yang disiapkan PB Persani berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Riau, dan Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan. “Atlet-atlet junior kita selama ini, belum punya peringkat di Asia. Kami memilih dengan ketat atlet-atlet junior untuk mengikuti Kejuaraan Asia tahun ini,” tambahnya. Mereka disebutkan Dian, terpaksa berlatih di daerah masing-masing karena terdapat sejumlah kendala apabila melakukan pemusatan latihan di Jakarta. “Kami belum sanggup memusatkan pelatihan 10 atlet itu di Jakarta, lagi-lagi karena keterbatasan tempat dan dana,” ujar Dian. Atlet-atlet junior Indonesia, lanjut Dian, akan mencoba arena pertandingan di Stadion Istora Senayan pada 21 April. Kesempatan itu mereka dapatkan setelah arena pertandingan selesai didirikan. “Selain kami, atlet-atlet Jepang dan Korea Selatan, akan mencoba arena pertandingan lebih awal dibanding jadwal yang disediakan untuk para peserta pada 22 April,” tutur Dian. Terdapat 23 negara Asia yang diundang dalam Kejuaraan ini. Responsnya pun cukup baik karena 21 negara sudah mengonfirmasi kehadiran. (Art)

Strateginya Buntu, Tunggal Putra Pelatnas U-19 Akhirnya Harus Puas Jadi Runner-Up

Tunggal putra junior Indonesia, Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (baju biru), meraih runner-up usai ditaklukkan Kunlavut Vitidsarn, 14-21 dan 9-21. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tunggal putra junior Indonesia, Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay, harus puas menjadi runner-up turnamen bulutangkis ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex-Sunrise Junior Grand Prix Gold 2018’. Di partai final, Minggu (8/4), pebulutangkis Pelatnas Cipayung itu gagal menaklukkan pemain unggulan satu asal Thailand, Kunlavut Vitidsarn, pada laga berdurasi 37 menit, dengan skor 14-21 dan 9-21. Ikhsan yang menempati unggulan dua mampu mengimbangi wakil Thailand itu di awal-awal gim. Lawan berhasil mengoleksi angka pertama 1-0, setelah bola pengembalian Ikhsan tak berhasil melewati net. Perolehan angka kedua pemain berlanjut. Bola pendek di depan net yang dilakukan Ikhsan gagal dikembalikan dengan sempurna oleh lawan. Skor pun berubah menjadi 3-4. Lalu, kedudukan kembar 5-5 tercipta, setelah siswa Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan Jakarta itu sukses membuat bola bergulir dibibir net tanpa mampu dikembalikan Kunlavut. Smash backhand tajam dari Ikhsan membuat ia unggul 6-5 atas pebulutangkis Negeri Gajah Putih itu. Namun, Kunlavut mampu menutup interval gim pertama dengan skor 11-8. Tekanan yang dilancarkan pebulutangkis Thailand itu terus memberikan ancaman ke jantung pertahanan Ikhsan. Akibatnya, angka demi angka dikumpulkan Kunlavut hingga kedudukan 19-13. Lalu, bola yang tak mampu melewati net dari ikhsan memastikan berakhirnya gim pertama dengan skor 14-21. Memasuki gim kedua, Ikhsan mencoba menerapkan strategi baru. Namun, kematangan yang dimiliki Kunlavut memaksa pebulutangkis asal PB Djarum Kudus itu menyerah di interval gim kedua dengan skor 4-11. Saat kedudukan 4-15, aksi brilian ditunjukkan pebulutangkis Thailand, saat ia mampu mengembalikan bola Ikhsan yang tipis bergulir di depan net, membuat kedudukan berubah menjadi 4-16. Gelar juara untuk Kunlavut makin dekat usai ia mampu melakukan smash keras menyilang yang tak mampu dikembalikan Ikhsan untuk terjadinya game point 20-9. Bola Ikhsan yang melebar jauh dari lapangan akhirnya memastikan Kunlavut menjadi kampiun di turnamen bergengsi junior itu dengan skor 21-9. “Tadi gim pertama angkanya masih kejar-kejaran karena saya sudah tahu pola permainan lawan. Misalkan bolanya mau kemana, terus saya antisipasinya bagaimana,” ujar Ikhsan usai pertandingan. “Pas angka 11 ke atas, lawan tiba-tiba merubah pola. Saya juga ikut merubah. Tapi, strategi saya juga nggak jalan, saya mulai nge-blank,” lanjut pebulutangkis yang juga pernah bermain di ganda campuran bersama Yasnita Enggira itu. Berdasarkan catatan, kedua pemain bertemu empat kali, dua diantaranya di turnamen ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex-Sunrise Junior Grand Prix Gold’. Pada 2016, Ikhsan tumbang dua gim dengan skor 21-23 dan 15-21. Kemudia, pada 2017, ia juga kalah dua gim dengan skor 17-21 dan 7-21. “Dari dulu kalau ketemu dia (Kunlavut) maunya menang. Ya, mungkin kalah jam terbang. Tapi, yang pasti, saya akan terus belajar dari setiap pertemuan dengan dia,” tutup Ikhsan. (Adt) Hasil Pertandingan Final, Minggu (8/4) : Kategori U-15: 1. Tunggal Putra Pranav Rao Gandham (India) vs Justin Shou Wei Hoh (Malaysia) 21-13, 21-16 2. Tunggal Putri Ellena Manaby Yullyana (Indonesia) vs Pitchamon Opatniput (Thailand) 19-21, 22-20, dan 22-20 3. Ganda Putra Pranav Rao Gandham/Sai Vishnu Pullela (India) vs Justin Shou Wei Hoh / Mohamad Razif M Fazriq (Malaysia) 24-22, 23-25, dan 21-16 4. Ganda Putri Mikala Kani/Febi Setianingrum (Indonesia) vs Farica Abela/Ester Nurumi Tri Wardoyo 23-21, 13-21, dan 21-18 Kategori U-17 1. Tunggal Putra Jacky Jing Hong Kok (Malaysia) vs Hak Joo Lee (Korea Selatan) 21-17, 22-20 2. Tunggal Putri Aisyah Sativa Fatetani (Indonesia) vs So Yul Lee (Korea Selatan) 15-21, 21-13, dan 21-19 3. Ganda Putra Rian Cannavaro/Asghar Herfanda (Indonesia) vs Muhammad Satria/Muhammad Haikal Zaki (Indonesia) 21-17, 21-18 4. Ganda Putri Hye Jin Choi/So Yul Lee (Korea Selatan) vs Lanny Tria Mayasari/Tryola Nadia (Indonesia) 18-21, 21-17, dan 21-13 5. Ganda Campuran Muhammad Nendi Novantino/Tryola Nadia (Indonesia) vs Galuh Dwi Putra/Nabila Putri Arsyillah (Indonesia) 21-7, 20-22, dan 21-19 Kategori U-19  1. Tunggal Putra Kunlavut Vitidsarn (Thailand) vs Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (Indonesia) 21-14, 21-9 2. Tunggal Putri Zhiyi Wang (China) vs Zhou Meng (China) 21-15, 21-16 3. Ganda Putra Di Zijian/Wang Chang (China) vs Guo Xinwa/Shiwen Liu (China) 21-13, 22-20 4. Ganda Putri Liu Xuanxuan/Yuting Xia (China) vs Chen Yingying/Zhang Shuxian (China) 21-16, 21-18 5. Ganda Campuran Shang Yichen/Yijing Li (China) vs Wang Chang/Yuting Xia (China) 21-19, 21-19

Berlatih Silat Lantaran Iseng, Pesilat Khansa Avissa Kini Pemegang Titel Dunia

Khansa Avissa Salsabila penyandang gelar juara dunia silat di ajang Malaysia Open 2018 (Adt/NYSN)

Jakarta- Tak ada yang menyangka bila perempuan yang terlihat lemah lembut, Khansa Avissa Salsabila, adalah pemegang gelar juara dunia silat 2018. Pada awalnya, ia mengenal olahraga pencak silat dari sang guru di Sekolah Dasar (SD). Dari guru beladiri pertamanya yang akrab dipanggil Kang Ujang itu, dara manis yang hobi bermain games ini terus menempa kemampuannya di pencak silat. “Cuma iseng awalnya belajar beladiri. Lalu, ikut pertandingan, dan Alhamdulillah juara. Dan tampil di pertandingan se-DKI Jakarta, dan juara lagi. Dari situ, pelatih ngomong jika saya berbakat di beladiri silat,” tutur Avissa, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kini, tugas siswi kelas 10 Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta itu terus berlatih dan menambah teknik-teknik terbaru memainkan silat, sebagai salah satu olahraga tradisional Indonesia. Sebab, menurut perempuan berkulit kuning langsat itu, negara-negara lain di dunia juga telah mengembangkan silat sebagai olahraga yang diperhitungkan di pentas internasional. “Silat di luar negeri itu, menurut saya lebih cepat perkembangannya. Apalagi, pesilat luar negeri dilatih sama pelatih dari Indonesia. Kemampuan mereka pasti sama dengan pesilat Indonesia, bahkan lebih,” sambungnya. Remaja berpostur 160 centimeter itupun membagi pengalamannya ketika menjadi juara dunia dalam event 9th UPSI International Silat Championship 2018, di Perak, Malaysia. “Waktu kejuaraan dunia itu ramai banget, sebab yang datang dari seluruh dunia. Saat pembukaan, panitia kasih pengumuman ini pertama dan rekor di Malaysia, yang pesertanya bisa sampai 1.000 pesilat,” cetus pelajar berusia 15 tahun ini. “Karena pesertanya juga ribuan, jadi deg-degan juga pas mau bertanding waktu itu. Tapi, karena latihan terus, mungkin deg-degannya bisa berkurang,” lanjut dara yang bercita-cita menjadi dokter itu. Avissa akhirnya meraih emas di kategori E Putri Remaja kelas 55-59 Kg. Avissa mengaku, bila lawan terberatnya di partai puncak kejuaraan dunia itu adalah Malayasia. Negara serumpun Melayu itu ternyata mempersiapkan para pesilatnya dengan baik. “Di tingkat remaja, mereka sudah membentuk tim khusus tampil di kejuaraan dunia. Mereka juga sering melakukan ujicoba. Jadi, memang Malaysia persiapannya lebih bagus dari Indonesia,” tutup Avissa. (Adt) Biodata  Nama : Khansa Avissa Salsabila Tempa/Tgl Lahir : Jakarta, 30 April 2002 Hobi : Main Games Ayah : Nur Ali Rachmat Ibu : Neneng Ijah Sekolah : Kelas 10 SKO Ragunan, Jakarta Tinggi : 160 Cm Cita-cita : Dokter Prestasi : 1. Juara Satu Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) se-DKI Jakarta 2015 2. Juara Satu Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2016 3. Juara Satu Kejuaraan Nasional (Kerjurnas) Remaja Jakarta 2016 4. Juara Satu Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2017 5. Juara Satu Dunia 9th UPSI International Silat Championship 2018

Sandang Juara Dunia Pencak Silat, Ratu Febia Ingin Masuk Pelatnas

Pesilat Ratu Febia Tanama Muthi berharap masuk Pelatnas membela Merah Putih di turnamen internasional. (Adt/NYSN)

Jakarta- Usianya baru 18 tahun, namun dara manis bernama lengkap Ratu Febia Tanama Muthi, merupakan penyandang gelar juara dunia pencak silat. Ia menorehkan prestasinya di Kejuaraan Dunia Silat Junior 2015, di Stadion Titiwangsa, Kuala Lumpur, Malaysia. Harapannya sederhana, gadis bertinggi 158 itu ingin suatu saat nanti ia terpilih masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) membela Merah Putih di pentas internasional. “Target pribadi setelah lulus Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, bisa ikut Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah). Dan pelatih memotivasi supaya masuk Pelatnas. Harapannya bisa membela Indonesia di dunia internasional,” ujar Ratu disela-sela Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Al-Azhar Seni Bela Diri Ke-2, di Jakarta, Sabtu (31/3). Guna mewujudkan harapannya tersebut, anak pasangan Nur Ali Rachmat (Ayah) dan Neneng Ijah (Ibu) itu terus menempa kemampuan ilmu bela dirinya. “Latihan setiap hari, mulai dari pagi dan sampai sore hari. Juga latihan-latihan tambahan. Selain itu juga sering mengikuti pertandingan biar mental makin kuat, biar tidak gentar juga kalau ketemu lawan-lawan baik di kejuaraan nasional maupun internasional,” sambung pehobi games itu. Diakui Ratu, bila saat ini perkembangan bela diri, terutama pencak silat sangat pesat. Ia menjelaskan saat dirinya meraih gelar juara dunia, persaingan yang dihadapi sangat ketat. “Waktu itu persaingannya ketat. Bagus-bagus semua lawannya. Apalagi yang dari Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Speed mereka cepat banget. Jadi saya harus lebih intensif berlatih. Supaya bisa terus meraih hasil terbaik,” tutupnya. (Adt) Biodata : Nama : Ratu Febia Tanama Muthi Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 8 Februari 2000 Hobi : Main Games Sekolah : SKO Ragunan Jakarta Tinggi/Berat : 158 Cm/56 Kg Nama ayah : Nur Ali Rachmat Nama Ibu : Neneng Ijah Prestasi : 1. Juara Tiga Kejurnas PPLP Kalimantan Timur 2013 2. Juara Dua Popnas Jawa Barat 2013 3. Juara Satu Kejurnas PPLP Jawa Tengah 2014 4. Juara Satu Jakarta Open 2014 5. Juara Satu Kejuaraan Dunia Silat Junior 2015 6. Juara Satu Kejurnas Maluku Utara 2015 7. Juara Satu Kejurnas Remaja 2016

Jumpa Menpora, Agen Egy Jelaskan Soal Kontrak dan Fasilitas di Lechia Gdansk

Menpora Imam Nahrawi bertemu Agen Egy Maulana Vikri, Dusan Bogdanovic, di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta. (kemenpora)

Jakarta- Dusan Bogdanovic, Agen Egy Maulana Vikri, menemui Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (19/3). Dusan menjelaskan soal kontrak dan fasilitas yang didapat pesepak bola berusia 17 tahun itu di klub Lechia Gdansk, Polandia. Egy, menurut Dusan, sudah mencapai kesepakatan dengan klub-nya, dan akan mendapat kontrak profesional setelah berusia 18 tahun pada 8 Juli 2018. “Egy akan mendapatkan kontrak selama tiga tahun yang dimulai pada 8 Juli 2018. Dan, saya senang membawa dia kesini (Lechia Gdansk) dan saya berharap yang terbaik untuk Lechia Gdansk,” ujar Dusan. Ia menyebut Egy juga mendapatkan sejumlah fasilitas yang terbilang baik usai bergabung dengan klub kasta tertinggi Polandia tersebut. Seperti tempat tinggal, mobil, hingga pendidikan. Semua itu, terang Dusan, telah tercantum dalam perjanjian kontrak. “Tempat tinggal Egy merupakan sebuah flat tingkat dua. Flat itu memiliki fasilitas mewah yang akan membuat Egy Maulana betah tinggal di Gdansk,” cetusnya. Sementara, Imam mengapresiasi perjuangan Dusan dan Ayah angkat Egy Maulana, Subagja Suihan. “Saya mengucapkan terima kasih atas perjuangan Pak Dusan dan Pak Subagja yang sudah mengantarkan Egy Maulana ke Polandia. Bergabungnya Egy Maulana ke klub Polandia ini membuat kami bangga dan gembira. Karena ini sejarah terbesar bagi Indonesia,” tutur Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, didampingi Raden Isnanta (Deputi Pembudayaan Olahraga) Raden Isnanta, Mulyana (Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga), dan Teguh Raharjo (Asdep Pengelolaan Pembinan Sentra dan SKO). Ia menambahkan pekerjaan rumah berikutnya adalah menyiapkan Egy-Egy baru, baik itu dari SKO (Sekolah Khusus Olahragawan) Ragunan, atau PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar). “Kita harus menyiapkan ruang bagi talenta-talenta muda, baik itu dari sisi pelatihannya, kompetisinya, penguatan skill, kamampuan fisik dan sebagainya yang lebih baik lagi,” sambungnya. “Kita tahu kondisi internal kompetisi sepak bola Indonesia seperti ini. Karena itu, kita harus menyiapkan lebih banyak lagi anak-anak kita untuk punya pengalaman lebih. Saya minta kepada Pak Dusan, Pak Isnanta dan Pak Subagja untuk terus menggali lagi anak-anak kita yang bisa mengikuti jejak Egy, ” tutup Imam. (Adt)

Liga Pelajar Gunungkidul 2018 Kelar, Pemerintah Harap Lahir Egy Maulana Vikri Baru

Menpora Imam Nahrawi menutup Liga Pelajar Gunungkidul 2018. (kemenpora)

Jakarta- Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), menutup gelaran Liga Pelajar Gunungkidul (Lipeg) 2018, di Stadion Gelora Handayani, Gunungkidul, Yogyakarta, Minggu (11/3). Ia berharap dari kompetisi itu lahir Egy Maulana Vikri baru. Pria berusia 44 tahun itu, mengaku senang dan bangga terhadap Egy Maulana Vikri. Menurutnya, pesepak bola kelahiran Medan, Sumatera Utara (Sumut), 17 tahun silam itu, adalah contoh hasil didikan Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan. “Egy saat ini sedang menandatangani kontrak sebagai pemain sepak bola di Eropa. Salah satu pemain Indonesia yang dipercaya bermain di Negara Polandia,” ujar Imam. Suami dari Shobibah Rohmah itu berharap melalui Lipeg ini lahir Egy-Egy baru yang terus bermimpi dan mewujudkan mimpinya tersebut guna membawa nama baik Indonesia di pentas internasional. “Pemerintah akan terus mendukung semua bakat-bakat terbaik bangsa untuk maju dan tampil di pentas dunia,” tukas ayah 7 anak itu yang meyakini bila Egy adalah salah satu produk pendidikan dan olahraga yang baik. Bersama PSSI, anggota Timnas U-19 dan Timnas U-23 itu bakal menjadi pemain inti skuat Lechia Gdansk, yang tengah berjuang di posisi 12 klasemen sementara di Ekstraklasa, kasta teratas Liga Polandia. (Adt) Juara Liga Pelajar Gunungkidul 2018: 1. SMAN 2 Playen 2. SMAN 1 Tanjung Sari Kidul 3. SMK 1 Nglipar 4. SMK Muhammadiyah 1 Playen

Apresiasi Potensi Atlet, SKO Ragunan Pantau SSB Ke Tulehu di Maluku

SKO Ragunan melakukan pemantauan bibit muda di Kampung Bola Tulehu, Maluku. (net)

Jakarta- Pemerintah berperan aktif dalam melakukan pembinaan terhadap talenta muda. Hal itu dilakukan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, dengan memantau langsung terhadap 10 Sekolah Sepak Bola (SSB) di wilayah Asosiasi PSSI Provinsi Maluku dan 1 Pendidikan dan Latihan (Diklat) Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Maluku. Rudi Alaidin, Kepala Sub Bidang Pengembangan SKO Ragunan, menjelaskan program pemantau yang dilakukan bersama Asosiasi PSSI Provinsi Maluku merupakan bentuk apresiasi terhadap daerah yang memiliki potensi besar bibit sepak bola. Selain itu, lanjutnya, dipilihnya Maluku karena memiliki kontribusi bagi tim nasional (Timnas) Indonesia. Sebab, tambah Rudi, setelah era Abduh Lestaluhu (pesepak bola nasional), tak ada lagi perwakilan Indonesia Timur di SKO Ragunan. “Kendala lain yakni minimnya dana yang dimiliki daerah dan orang tua untuk mengirimkan anaknya mengikuti seleksi nasional SKO Ragunan di Jakarta. Ini juga salah satu alasan kami melakukan pemantauan secara langsung ke Maluku,” beber Rudi, akhir pekan lalu. Senada, Pura Darmawan, Kepala Bidang SKO Ragunan, mengatakan berdasarkan alasan tersebut pihaknya melalui Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Olahraga Ragunan memantau bibit muda di Maluku. “Calon atlet yang terpilih dari pemantauan ini dianggap mampu untuk ikut bersaing pada saat seleksi nasional SKO Ragunan April mendatang di Jakarta,” tukasnya. Pemantauan dilaksanakan selama 2 hari, yakni 3-4 Maret 2018 di lapangan Matawaru Tulehu, Maluku. Dari 10 SSB, terdapat 90 pemain yang datang dari berbagai daerah di wilayah Maluku serta 1 Diklat PPLP Maluku. (Adt)