Anak Gawang di Boyong Roadshow ke Spanyol Valencia

Gabriel saat bertugas sebagai Ball Boy pada acara Football For Peace, Minggu 21/05/17. (NYSN Media)

Gabriel Nicolas Honin (12) yang mengawali jejaknya menjadi anak gawang Unipapua tiap waktu makin menampakkan kemajuan yang signifikan. Seiring berjalannya waktu, Gabriel menjadi murid terbaik Unipapua dari 400 anak didikan di NGO Unipapua. Dan mendapatkan kesempatan training di spanyol merupakan kebanggaan tersendiri baginya. “Kecintaan aku di dunia bola sejak usia 10 tahun, meskipun masih terbilang baru namun akhirnya aku mampu berprestasi. Aku bangga menjadi salah satu anak Indonesia yang pernah latihan di Valencia.” Ungkap Gabriel dengan nada lugu. Dengan latihan yang rajin, serta selalu mengikuti instruksi pelatih adalah hal yang selalu gabriel jalankan demi mewujudkan keinginan yang lain. Sementara itu Yana Efendi yang juga merupakan pelatihnya selalu mengajarkan tehnik tehnik baru dalam bermain bola. “Di Unipapua kami selalu mengarahkan sesuai dengan usia si anak tersebut dalam dasar bermain bola, seperti Passing, control, dribble, tehnik dan strategi lainnya yang baru.”Ujar Yana Sedangkan pelatihan yang baik menurut koordinator Unipapua cabang cengkareng adalah kesabaran dalam menghadapi pertandingan adalah hal utama, agar anak anak dapat bermain dengan tenang bebas tanpa tekanan. “Hal yang perlu di perhatikan adalah mood si anak, bagaimana caranya bisa memberikan semangat agar si anak tersebut dapat leluasa bermain dengan sportif.” Di internal Unipapua cabang Cengkareng sampai saat ini berjumlah 80 anak didik. Dan metode pelatihan mengikuti arahan dari Unipapua pusat. (bam/adt)

Martin Tao dedikasikan diri berjuang bersama Unipapua

Martin Tau saat berlaga dalam acara Football for Peace 20/05/17. (NYSN Media)

Samar selalu terngiang dalam telinga ketika mendengar nama Martin tao (38) yang pernah memperkuat tim lokal seperti Arema FC, PSIS Semarang, dan juga Persiam raja ampat. Martin memulai karier sejak usia 19 tahun dan club pertamanya PKT Bontang. Pria yang sudah berpengalaman 15 tahun menjadi pemain pro ini sempat mengalami cedera yang sangat serius di tahun 2012. “Impian sempat pupus ketika saya cidera lutut dan patah kaki di tahun 2012, itu juga bukan karena bermain sepak bola, tapi karena kecelakaan kendaraan.” Ujar Martin. Namun pemilik kulit hitam manis ini bangkit kembali dan sekarang mendedikasikan dirinya menjadi pelatih untuk uni papua junior. Martin juga memberikan motivasi kepada anak didiknya tentang pengalamannya sewaktu perkuat Arema FC yang sempat bertandang laga dengan singapura, malaysia, thailand. “Bagi saya bukan hanya tentang menang yang saya ajarkan kepada Tim, tetapi rasa sabar jika kalah, contohnya sabar jika merasa wasit tidak adil, dengan cara mempercayakan sepenuhnya kepada wasit menjalankan tugasnya.” Ujar Martin (bam/adt)