Pecahkan Rekor Dunia, ‘Laba-laba Grobogan’ Jadi Andalan Panjat Tebing Indonesia

Atlet-panjat-tebing-Indonesia-Aries-Susanti-Rahayu.-Tempo.co_

Jakarta- Lantaran keisengan menjajal olahraga panjat tebing, kini membuatnya menjadi atlet andalan Indonesia. Nama Aries Susanti Rahayu di atas permukaan dinding tak perlu diragukan lagi. Gadis asal Grobogan, Jawa Tengah, kini jadi salah satu andalan tim putri panjat tebing Indonesia. Aries yang duduk di peringkat 13 dunia di nomor speed, awalnya merupakan seorang atlet atletik. “Waktu SD, saya atlet atletik. Dikenalin panjat tebing sama guru waktu SMP, kok ternyata ini menantang. Terus dari kecil juga ya senang manjat-manjat pohon,” kisah bungsu dari tiga bersaudara ini. Keisengan mencoba panjat tebing pun ternyata berbuah manis bagi Aries. Ia dipanggil masuk Pelatnas panjat tebing usai menjuarai Kejurnas pada November 2017, karena pelatih Timnas panjat tebing nomor speed, Hendra Basir, tertarik dengan bakatnya. “Alhamdulillah masuk pelatnas setelah selesai Kejurnas. Saya dimasukkan karena promosi, April 2017 (awal pemusatan Timnas panjat tebing) belum masuk. Dari data prestasi, manajer Pelatnas melihat saya tidak masuk, tapi dari sisi kualitas, oleh pelatih (Hendra Basir) saya dipanggil ikut seleksi dan bisa mengimbangi,” kata Aries. Lajang 23 tahun itu pun menegaskan siap membawa Indonesia berbicara banyak di Asian Games 2018 nanti. Ia tak merasa terbebani dengan target dua emas yang dipatok pemerintah kepada Timnas panjat tebing. “Target dua emas Insya Allah bisa, dan saya yakin juga tim Indonesia bisa. Saya enggak beban, karena itu buat memacu diri sendiri untuk bisa membuktikan tim Indonesia bisa,” tegas mahasiswi Universitas Muhammadiyah Semarang jurusan Manajemen itu. Keoptimisan Aries pun dibarengi dengan hasil catatan waktu yang diraihnya saat mengikuti Pelatnas panjat tebing. Ia mencetak catatan waktu tercepat dengan 6.96 detik di nomor speed. Catatan itu pun rupanya telah memecahkan rekor dunia speed putri yang dipegang atlet Rusia dengan 7.38 detik. Sayang, rekor itu diukir dalam sesi latihan di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, tempat pemusatan latihan nasional (pelatnas) panjat tebing Indonesia untuk Asian Games 2018, sehingga catatan waktu itu belum resmi menjadi rekor dunia. Ia pun berharap targetnya pada 2018 dapat terpenuhi. “Selain ingin podium di Asian Games, semoga bisa pecahkan rekor di kejuaraan dunia dan jadi juara juga. Amin,” tutur Aries. (tha) Nama: Aries Susanti Rahayu Tempat lahir: Grobogan, Jawa Tengah Tanggal Lahir: 22 Maret 1995 Nomor pertandingan: Speed climbing perorangan putri, speed climbing relay putri Orang Tua: S. Sanjaya (Ayah) dan Maryati (Ibu) Sekolah : Universtas Muhamadiyah (Semarang), Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Prestasi internasional: Medali perak di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing di Xiamen – speed perorangan putri (2017) Medali perunggu di Kejuaraan Asia di Iran – speed perorangan putri (2017) Medali emas di Kejuaraan Asia di Iran – speed relay putri (2017)

Novendra Priasmoro, Remaja 18 Tahun Yang Dilarang Bertanding Catur

Pecatur-Novendra-Priasmoro-penyandang-gelar-FIDE-Internastional-Master-IM

Jakarta- “Kalau sudah juara dunia, jangan lupa sama saya”. Begitu kata yang terucap dari Andrei Kovalev, melihat bakat catur yang dimiliki ‘anak ajaib’ Novendra Priasmoro. Kovalev adalah pelatih yang dikontrak Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) selama 2013-2014. Pria asal Belarus itu meraih gelar Internasional Master (IM) pada 1989, serta meraih gelar Grandmaster (GM) pada 1991. Ramalan Kovalev bukan main-main. Novendra tergolong ‘anak ajaib’, remaja 18 tahun itu telah menyandang gelar FIDE Internasional Master dengan rating Elo 2438. Bila syarat dipenuhi, seperti mencapai norma GM sebanyak tiga kali dan menaikkan rating Elo-nya hingga 2500, maka, predikat Grandmaster berada dalam genggaman remaja yang hobi sepak bola itu. “Target saya itu meraih gelar Grandmaster pada 2020. Sekarang, ikut program UT Inspiring Youth (program pembinaan atlet muda berprestasi Indonesia yang disponsori salah satu perusahaan distribusi kendaraan berat), mudah-mudahan segera terwujud,” cetus remaja kelahiran Jakarta, 24 November 1999 itu. Guna memuluskan langkahnya, siswa kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sriwijaya Jakarta itu terus menempa kemampuan di bawah arahan Kristianus Liem, Pembina UT Inspiring Youth sekaligus Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PB Percasi. Termasuk mengikuti beberapa pertandingan internasional secara berkesinambungan, dan dibimbing pelatih terbaik. “Tahun lalu saya ikut turnamen catur di Penang, Malaysia (9th Penang Heritage City Internasional Chess Tournament Kategori Open, 3-10 Desember 2017). Di Penang saya berhasil menaikkan rangking unggulan 3, dari sebelumnya unggulan 7. Sehingga dapat tambahan angka 14,1,” sambung pemilik akun resmi Instagram @noven_99 itu. Kini, ia tengah mempersiapkan diri tampil di  turnamen catur 18th Bangkok Chess Open 2018 di Bangkok, Thailand, 13-21 April mendatang. “Untuk turnamen di Thailand saya mempersiapkan diri dengan baik. Latihan terus biar nanti bisa meraih hasil terbaik,” sebut pecatur yang mengidolakan seniornya, Grandmaster (GM) Susanto Megantara itu. Dengan sederet prestasi tingkat nasional maupun internasional, ternyata memberi cerita lain pada kehidupan peraih juara satu Kejuaraan World School 2014 di Brazil itu. “Kalau ada kejuaraan catur di sekolah atau yang mewakili sekolah, saya nggak boleh ikut. Mungkin karena saya punya gelar IM (Internasional Master), jadi nggak dikasih main. Pokoknya sudah nggak boleh ikut kejuaraan,” cetusnya sambil senyum. Pada usia belia, yakni ketika berumur tujuh tahun, Novendra mulai mengenal catur melalui sosok sang ayah. “Umur tujuh tahun saya pertama kali melihat ayah main catur. Dari situ saya belajar bermain catur. Setahun kemudian saya masuk sekolah catur Utut Adianto (seorang pecatur terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan penyandang Grandmaster Indonesia berperingkat tertinggi di dunia saat ini),” tutur juara satu Kejuaraan Asian Junior U-20 di Philipina pada 2017 itu. Kedepan, Novendra berharap makin banyak remaja sebayanya yang mengikuti jejaknya untuk menggeluti olahraga yang mungkin bagi sebagian orang dianggap membosankan, bahkan disebut bermain dalam sunyi, serta bisa menguras otak. “Semoga makin banyak remaja yang melakukan hal positif, dan kalau bisa makin banyak yang bermain catur. Karena sukses terletak pada mereka yang meraih sesuatu lebih dari diri mereka sendiri,” papar pecatur murah senyum itu. (adt) Nama : Novendra Priasmoro Tempat /Tgl Lahir : Jakarta, 24 November 1999 Usia : 18 Tahun Sekolah : SMK Sriwijaya (Kelas XII) Gelar Saat Ini : Master Internasional (MI) / 2017 Elo Rating Saat Ini : 2438 (Target Elo Rating untuk GM 2500) Target mencapai gelar Grandmaster :Tahun 2020 Instagram : @noven_99 Hobby : Catur, Sepak Bola Prestasi Nasional : 1. Juara satu Japfa Chess Festival U-14 (2012) 2. Juara satu Kejuaraan Nasional U-15 (2014) 3. Juara satu Japfa Chess Festival U-18 (2015) 4. Juara satu Kejuaraan Nasional U-17 (2015) 5. Juara satu Kejuaraan Nasional U-19 (2016) 6. Juara satu Kejuaraan Nasional Senior (2017) Prestasi Internasional : 1. Juara satu APPSO (2012) Indonesia 2. Juara satu Kejuaraan World School (2014) Brazil 3. Juara satu Japfa Internasional Master (2016) Indonesia 4. Juara satu Kejuaraan Asian Junior u-20 (2017) Philipina 5. Juara tiga Penang Open (2017) Malaysia

Kenal Catur di Pos Ronda, Bocah SD Bernama Aditya Kini Menjadi Candidate Grandmaster Catur

Aditya-Bagus-Arfan-Catur

Jakarta – Beranilah bermimpi. Kata itu mungkin punya makna bagi Aditya Bagus Arfan. Melalui catur, olahraga yang digelutinya sejak berusia 4,5 tahun, ia memiliki mimpi besar menjadi Grandmaster di tahun 2025. Adit, begitu sapaan akrabnya, kini menyandang gelar Candidate Master dengan Elo rating 2.023. Dan, untuk bisa meraih titel Grandmaster, pecatur berusia 11 tahun itu harus mencapai norma GM sebanyak tiga kali serta menaikkan rating Elo-nya hingga 2.500. Mimpi siswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD) Islam Terpadu (IT) Global Insani, Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar) itu sepertinya tanpa hambatan. Sebab, salah satu perusahaan distribusi kendaraan berat di Tanah Air siap memuluskan langkahnya. Kini, Adit tengah bersiap mengikuti turnamen catur internasional ‘Asian Youth Chess Championship’ di Chiang Mai, Thailand, 13-21 April 2018, dan ‘World School Chess Championship’ di Durres, Albania, 20-29 April 2018. “Target mau-nya sih juara April nanti. Selain itu ingin menjadi Grandmaster. Persiapannya paling belajar dan melihat video permainan pecatur dunia,” ujar pecatur kelahiran Bekasi, Jabar itu saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu. Perkenalan pertama Adit dengan catur bermula dari melihat warga yang bermain catur di pos ronda yang berjarak tak jauh dari rumah sang Kakek. Selepas itu, ia memaksa sang Kakek untuk mengajarinya bermain catur. “Pertama melihat catur langsung senang. Mainnya juga saling menyerang. Terus pakai strategi juga. Jadi makin ketagihan,” sambung anak pertama dari dua bersaudara itu. Keseriuasan menggeluti catur ia tunjukkan dengan belajar dari berbagai sumber. Mulai dari buku, bermain catur di komputer, hingga menonton aksi pecatur kelas dunia di YouTube. Sampai akhirnya, Eka Prasaja, sang ayah, memasukkan Adit ke sekolah catur Utut Adianto. Mengikuti berbagai turnamen catur baik tingkat nasional maupun internasional membuat kemampuannya makin teruji. Meski, diakui, dirinya kerap mengalami kekalahan di awal-awal mengikuti turnamen, namun itu dijadikan pelajaran berharga untuk terus mengasah kemampuannya hingga bisa meraih hasil yang terbaik. “Awal-awal ikut kejuaraan kalah terus. Lalu saya belajar terus dan akhirnya bisa menang di beberapa turnamen catur,” papar pehobi renang itu. Seiring berjalannya waktu, prestasi Adit makin bersinar. Di tingkat nasional, ia meraih juara 1 Kejuaraan Nasional U-9 pada 2013, hingga juara 1 Japfa Chess Festival U-14 pada 2016. Sementara, di level internasional, ia menyabet juara 1 Penang Int Challengger U-10 di Malaysia, pada 2016, serta juara 2 dan 3 Kejuaraan Asian School U-13 di China, pada 2017. “Turnamen yang paling berkesan itu di Olimpiade Children of Asia kelompok U-16 tahun 2016. Karena saya waktu itu masih umur 9 tahun dan menjadi atlet termuda disitu,” cetus pemilik akun instagram @pecaturcilik_aditya itu. (adt) Nama : Aditya Bagus Arfan Tempat / Tgl Lahir : Bekasi, 31 Oktober 2006 Sekolah : SD IT Global Insani (Kelas V) Gelar Saat Ini : Candidate Master Elo Rating Saat Ini : 2023 (Target Elo Rating untuk GM 2500) Website / Instagram : www.adityabagusarfan.net / @pecaturcilik_aditya Hobby : Catur dan Renang Prestasi Nasional : Juara 1 Kejuaraan Nasional U-9 (2013) Juara 1 Kejuaraan Nasional U-11 (2015) Juara 1 Festival Catur Pelajar U-11 (2016) Juara 1 Japfa Chess Festival U-14 (2016) Prestasi Internasiuonal : Juara 1 Penang Int Challenger U-10, Malaysia (2016) Juara 1 Kejuaraan ASEAN +Age U-10, Thailand (2016) Juara 2 dan 3 Kejuaraan Asian School U-13, China (2017)

Puas Jadi Striker, Risky Merintis Karir Timnas di Posisi Kiper

Risky muhammad Sudirman kiper villa 2000 saat tampil di Turnamen Nivea U-16. (Rizal/NYSN)

Jakarta- Darah sepak bola mengalir deras dalam tubuh Risky Muhammad Sudirman. Bisa jadi, lantaran sang Ayah, Sudirman adalah mantan Kapten tim nasional (Timnas) yang memperkuat pasukan Garuda era 90-an. Kala anak-anak sebayanya menghabiskan waktu untuk bermain, Risky kecil sudah fokus berlatih si kulit bundar. Hingga kini, ia terus mengasah kemampuannya di bawah naungan klub Villa 2000. “Saya suka sepak bola sejak SD (Sekolah Dasar). Ayah pemain sepak bola dahulunya, tapi bermain sepak bola itu karena keinginan sendiri, jadi bukan paksaan dari orang tua,” beber penyuka ikan lele itu. Meski kini mantap menempati posisi kiper, namun remaja berusia 16 tahun itu sempat bermain sebagai penyerang. Pilihannya itu bukan tanpa alasan. Sebab, penikmat musik dangdut itu terinspirasi sang idola yakni kiper timnas Jerman Manuel Neuer. Penjaga gawang andalan Bayern Munchen itu telah lima kali meraih penghargaan sebagai kiper terbaik UEFA. Bahkan, Gianluigi Buffon (kiper Juventus) pernah memberikan pujian untuk Neuer dengan menyebut pria 31 tahun itu sebagai pionir dari peran sweeper-keeper, yang kerap ditunjukkan saat membawa Jerman meraih gelar juara Piala Dunia 2014. “Kalau ngelihat dia (Neuer) senang aja. Posturnya juga tinggi, pokoknya ideal banget kalau jadi kiper. Apalagi pernah terpilih jadi kiper terbaik dunia. Keren banget dah,” tambah adik dari Nandita Ayu Salsabila, spiker timnas bola voli Indonesia. Risky memang menjadi sosok ideal di bawah mistar gawang. Kemampuan dalam membaca serangan lawan jadi kekuatan yang terus diasahnya. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, pemilik tinggi di atas 170 centimeter itu terpilih dalam seleksi timnas U-16 yang dinahkodai Fakhri Husaini. “Nggak nyangka aja lolos seleksi timnas U-16. Kedepannya juga nggak tahu seperti apa. Ya, mudah-mudahan bisa memberikan yang terbaik untuk tim,” tutup siswa SMA Atthairin, Ciledug, Kota Tangerang, Banten itu. (adt) Nama : Risky Muhammad Sudirman Tempat/Tgl. Lahir : Jakarta, 2 Februari 2002 Klub : Villa 2000 Posisi : Penjaga Gawang Sekolah : SMA Atthairin, Kota Tangerang, Banten Nama Ayah : Sudirman Nama Ibu : Tri Wahyuni Kakak : 1. Nandita Ayu Salsabila 2. Tasya Aprilia Putri

Singapore Intercultural School Bona Vista

SIS Bonavista Football CLub. (SIS)

Singapore Intercultural School Bona Vista ini pada awalnya dikenal dengan nama Singapore International School (SIS) dan telah berdiri sejak tahun 1996 di Jakarta. SIS BV begitu singkatan sekolah mereka, adalah bagian dari SIS Group of Schools yang mengoperasikan 7 sekolah di Indonesia, yakni SIS Bona Vista, SIS Pantai Indah Kapuk, SIS Kelapa Gading, SIS Cilegon, SIS Semarang, SIS Palembang dan SIS Medan. Mengadaptasi kurikulum pendidikan Singapura lebih dari 21 tahun, SIS Group of Schools memiliki berbagai keunggulan yang diakui sebagai lembaga pendidikan internasional. SIS telah memenuhi syarat melalui Sertifikasi Internasional untuk Pendidikan Menengah Umum (IGSCE), Cambridge, dan Baccalaureate Program (IB). SIS Bona Vista Academy SIS Bona Vista Academy pertama kali didirikan, atas gagasan Bapak Jaspal Sidhu dan Bapak Tony Kasim, yang juga merupakan anggota Dewan Gubernur dari Grup Sekolah-Sekolah di Singapura. Mereka menawarkan program beasiswa latihan sepak bola profesional, untuk anak laki-laki dan anak perempuan di tingkat SD dan SMP, di tiga sekolah SIS yang ada di Jakarta yakni di SIS Bona Vista, SIS Kelapa Gading, dan SIS Pantai Indah Kapuk. Selama 6 tahun terakhir, SIS Bona Vista Academy menawarkan beasiswa pada peserta didiknya yang berusia 10, 12, 14 dan 16 tahun. Akademi ini dipimpin seorang pelatih berpengalaman asal Inggris, Gareth Jones, yang juga berperan sebagai penanggungjawab program ini. Kriteria beasiswa untuk dapat bergabung di SIS Academy : •Absensi kehadiran minimal 85% dari total keseluruhan pelatihan dan pertandingan, selama Juli s/d Mei, •Laporan komprehensif dari Pelatih tentang keterampilan fisik, mental dan teknis, serta laporan akademis yang positif dari guru bidang akademis. Tim pembinaan, saat ini terdiri dari pelatih asing (expatriate) (pelatih dari Luar negeri) dan pelatih lokal dengan kualifikasi lisensi FA, AFC, PSSI, LMA dan Coerver, yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun menangani program sepak bola remaja yang berkualitas di seluruh Indonesia, serta bekerja sama dengan beberapa LSM, klub-klub Eropa dan Perusahaan Swasta. Berikut ini adalah testimoni dari beberapa anggota kami yang sudah mengikuti latihan rutin di SIS Bona Vista Academy : Jason Bohannon JC1 “Program pelatihan ini telah mendidik saya untuk disiplin dan semangat untuk mencapai tujuan”. Joel Faus S2 “Saya bertemu dengan teman baru dari sekolah lain dan terikat atas kesamaan minat”. Sangha Lee P6 “Saya sangat senang, bahkan jika kami kalah dalam pertandingan, kami akan latihan lebih keras lagi”. Pablo Munoz P4 “Saya telah mempelajari teknik-teknik baru dan pelatihan ini membuat saya mengerti tentang arti kerjasama tim”. Jika tertarik untuk bergabung dengan kami di SIS Bona Vista Academy dan ingin merasakan suasana berlatih bersama dengan pelatih-pelatih dari Liga Inggris dan S & C (Asosiasi Pelatih-pelatih di Amerika), melakukan turnamen rutin ataupun liga, serta mendapatkan pendidikan sepak bola kelas satu, maka segera hubungi kami. Contact Person: Mr. Gareth Jones (Bahasa Inggris) Email: gareth@sisschools.org Ibu Monika (Bahasa Indonesia) Email: monika@sisschools.org

Hilman Rajai Kelas RX King di Satlantas Tangsel Drag Bike

BalapMotor-Hilman

Tangsel-Event Satlantas Tangsel Drag Bike yang berlangsung selama dua hari, terhitung dari Sabtu (27-28/1), berhasil mengundang ratusan pembalap drag dari berbagai daerah. Ada 19 kelas yang dilombakan pada event Satlantas Tangsel Drag Bike. Tak terkecuali kelas RX King. Tetapi, untuk kelas RX King, nama Hilman Subagya masih menjadi yang terbaik di kelas RX King. Pemuda kelahiran 28 Februari 1998 ini, berhasil meraih dua gelar di kelas RX King yakni kelas sport RX King 140cc frame standart dengan catatan waktu 8.206 detik, dan sport RX King 140cc standart pemula dengan catatan waktu 8.403 detik. Hilman Ompong begitu sapaan akrabnya yang bergabung dengan tim Byson Racingstar, merasa bangga dengan raihannya di Satlantas Tangsel Drag Bike. “Pastinya senang bisa juara, usaha temen-temen dari mulai setting motor gak sia-sia. Pokoknya senang, bisa dapet juara,” tuturnya, Minggu (28/1) malam di Lapangan Sunburst BSD. Hilman yang sudah menggeluti balap motor ini khususnya di lintasan lurus ini, sudah merasakan juara di baik event di Tangsel maupun luar Tangsel. Hilmam juga menjelaskan, bahwa event ini sangat baik untuk menyalurkan bakat atau hobi bagi para pembalap drag dan menambah jam terbang. “Ini sangat bagus, saya setuju jika event ini bisa rutin diadakan. Setidaknya, bisa ngurangin balapan liar,” jelasnya. Hilman juga berharap, agar Tangsel mempunyai lintasan balap drag yang layak agar pembalap bisa menjajal motornya dengan baik. (pah)

Adjie Loloskan Tim Pelajar Jakarta Lolos Babak Semi Final Voli Pantai

AdjieVoli-Pantai

Berhasil membawa tim ke babak semi final adalah kebanggaan. Terlebih jika mampu mengalahkan tim-tim terbaik dari antar wilayah. Seperti Muhammad Adjie Triantono, salah satu atlet voli pantai Indonesia. Cowok yang akrab di sapa Adjie ini sudah menekuni voli pantai sejak 3 tahun lalu. Salah satu momen yang ia ingat saat turnamen adalah ketika bertanding di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas) 2017. Meski tanpa latihan di pasir, Adjie bersama tim Jakarta tetap lolos kebabak semi final. “Pas POPNas itu kita gak ada persiapan karena kita gak pernah latihan di pasir. Kita latihan di aspal, padahal kan POPNas itu event bergengsi dari kategori usia pelajar. Tapi saya buktiin kalau bisa berprestasi di POPNas walaupun fasilitas kita gak ada,” paparnya Adjie juga menambahkan tekadnya tersebut telah berhasil membawa nama Jakarta ke babak semi final pasca mengalahkan tim dari daerah lain yang ia anggap lebih bagus. “Alhamdulilah di POPNas dapat peringkat 4 padahal aku pesimis karena melihat tim Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Selatan itu lebih bagus. Tapi mereka malah gak masuk semi final makanya aku bersyukur banget dapat peringkat 4,”tambahnya Siswa SMA Negeri Ragunan kelas 3 ini terlahir didalam keluarga yang menekuni voli. Tak hanya kedua kakaknya, tetapi juga orang tua Adjie yang merupakan atlet voli. Pada awalnya, ia menekuni voli indoor. Namun, berdasarkan arahan sang Ayah, Adjie lebih memilih untuk mengikuti voli pantai. “Tadinya sih aku jalankan voli indoor, terus bapak ngarahin aku ke voli pantai. Mungkin karena kalau pemain voli pantai pasti bagus kalau main di voli indoor juga. Tapi cenderung pemain voli indoor belum tentu bisa main di voli pantai. Dari situ aku milih voli pantai saja,”ujarnya Adjie yang lahir di Tangerang 28 Agustus 2001 ini juga menuturkan bahwa ada satu fenomena di Indonesia untuk cabang olahraga voli pantai yang sudah mendunia, tetapi hanya untuk turnamen dalam jumlah kecil yang dipertandingkan pada setiap tahunnya. “Voli pantai di Indonesia masih jarang. Padahal voli pantai lebih bagus prestasinya daripada voli indoor. Voli pantai sudah mendunia dan voli indoor masih asia. Tapi kenapa malah banyakan eventnya voli indoor,”tutupnya (put/adt)

Orangtua Dukung Jadi Atlet Softball, Jadi Modal Tambahan Bagi Monic

Softball-Monica-isella

Keberhasilan anak tak lepas dari dukungan serta doa orang tua. Ini yang di alami oleh atlet softball Indonesia, Monic Isella yang akan berlaga di Asian Games 2018. Anak ketiga dari empat bersaudara ini, beruntung bila orang tuanya selalu mendukung prestasi di bidang olahraga. Meski, orang tuanya bukan dari kalangan atlet, tetapi selalu mendukung sang putri. Ini menjadi semangat tambahan baginya untuk terus berlatih dengan keras. “Orang tua selalu dukung banget olahraga aku (softball). Beruntungnya, punya orang tua yang selalu support aku,” ucapnya, Rabu (24/1). Monic mengawali terjun di dunia olahraga melalui basket. Softball merupakan olahraga baru bagi dirinya. Tak lama, iaa mulai tertarik terjun ke softball. “Ingin coba olahraga baru, sebelumnya di SMP-SMA aku main basket. Pas, lihat softball langsung mikir softball belum banyak atletnya dan berkarir di softball mungkin lebih terbuka. Puji tuhan bisa masuk ke Timnas,” tutur gadis cantik lulusan Universitas Mercu Buana, Jakarta ini. Dari olahraga basket dan terjun ke softball, bukan perkara mudah bagi Monic. Butuh adaptasi yang begitu lama. Namun, berkat dorongan temannya dari alumni SMA Negeri 7 Tangerang membuat dirinya masuk ke klub softball Altras. “Dulu, awalnya alumni dari SMA aku yang ajak di sekolah main softball. Karena, ingin mencoba olahraga baru, aku langsung ikutan dan masuk ke klub Altras terus latihan,” ungkap Monic. Monic konsisten menampilkan performa apik, sejak tampil di arena PON XIX Jawa Barat 2016 dan kejuaraan nasional (Kejunas) 2017 lalu. Monic pun, terus menjaga kondisi fisiknya dan juga mengasah kekuatan tangannya agar di Asian Games 2018, demi memberikan hasil terbaik bagi Indonesia. (pah)

Pertama Kali Masuk Timnas, Monic Incar Status Pitcher Utama

Softball-Monica

Membela Tim Nasional (Timnas) Indonesia tentunya hal yang paling di idam-idamkan, bagi para atlet. Mereka akan sangat bangga, membawa nama Indonesia untuk berprestasi. Juga atlet softball putri yakni Monica Isella. Dara cantik kelahiran, 20 Mei 1992 ini terpilih ke dalam skuad timnas softball yang akan berlaga di Asian Games 2018. Monic sapaan akrabnya, mengatakan, terpilih masuk skuad timnas merupakan prestasi yang membanggakan. Sejak 2007, ia sudah menggeluti olahraga ini. Monic pun, berhasil melewati tahapan seleksi pada bulan Desember 2017 lalu. “Awalnya 40 orang ikut seleksi di Lapangan Lodaya, Bandung, pada 2-4 November lalu. Yang lolos, akan ikut Asia Cup di Taichung, Taiwan 28 November-5 Desember 2017. Dan, aku terpilih. Ini pertama kali jadi pemain Timnas, dan angan-angan berseragam Timnas tercapai,” papar Monic kepada nysnmedia.com, pada Rabu (24/1). Ia pun, terus melalukan persiapan guna membawa nama Indonesia meraih prestasi terbaik di Asian Games. Fokusnya kini menghadapi Training Centre (TC). Meski pertama kali memperkuat Timnas, atlet yang dibesarkan di Club Softball Altras Alam Sutera, Tangerang Selatan ini, tak minder dengan para seniornya. Bahkan, Monic langsung menargetkan menjadi pithcer utama di Timnas. Pitcher utama adalah pelempar yang menjadi andalan tim untuk menghasilkan nilai untuk tim. “Tentunya, target aku bisa jadi pitcher utama dong,” tegasnya. Wanita lulusan Universitas Mercu Buana Jakarta ini, termasuk atlet senior di tim Softball Kota Tangerang Selatan dan kerap memperkuat tim Softball Provinsi Banten. https://www.instagram.com/p/BdDJdFdBFZt/?taken-by=monicaisella “Pertama kali masuk timnas, tapi aku melihat program untuk Asian Games ini sangat luar biasa. Dari mulai pelatih, tim recovery, nutrisionis dan semua adalah orang-orang terbaik. Kami dituntut untuk berkomitmen dalam latihan serta selalu menjadi kondisi,” jelasnya. (pah)

Idan, Pelajar SMA Yang Ukir Rekor Baru di Kejuaraan Senior 2017

Atletik-Idan

Mengukir sejarah menjadi pemecah rekor merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Sempat gagal dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas), prestasi membanggakan justru diukir Idan Fauzan Richsan pada Kejuaraan Senior yakni Kejuaraan Nasional Atletik 2017. Idan memecahkan rekor dalam kategori senior. Ia bahkan memecahkan rekor nasional setelah melakukan loncatan pada kesempatan kedua setinggi 5,20 m, yang bertahan sejak 2002. “Saya gagal di POPNas Jawa Tengah gak dapat nilai sama sekali. Saya belajar kekalahan, latihan lebih giat, berusaha dan berdoa terus yang saya lakukan tanpa bosan untuk terus lebih baik. Hasilnya, Alhamdulillah pecah rekor nasional. Memang nyata kerja keras, berusaha dan berdoa itu tidak akan mengkhianati hasilnya,”tuturnya Idan sudah menekuni atletik cabang lompat galah selama 4 tahun. Bermula dari mengikuti O2SN saat duduk kelas 5 Sekolah Dasar, Idan ikut seleksi hingga tingkat Provinsi Jawa Barat. Ia mulai latihan dari lari pendek, lari jauh 100 meter gawang dan 400 meter gawang sudah ia tekuni. Sejak saat itu, ia berhasil mengikuti Pelatnas di Jakarta. “Kelas 1 SMP, saya mengikuti test Pelatnas jangka panjang di Jakarta. Disitu saya test lompat galah dan lolos masuk ke Pelatnas. Begitu saya masuk, banyak pengalaman-pengalaman yang belum saya dapat sebelumnya. Belajar mandiri, disiplin, berusaha semaksimal mungkin agar tidak kena degradasi dari Pelatnas,”ujarnya Remaja yang lahir pada 11 Januari 18 tahun silam ini juga sedang menempuh pendidikan di SMAN 6 Bogor. Baginya, perkembangan olahraga atletik di Indonesia sudah cukup bagus. Idan berpendapat bahwa sejak menjadi atlet , ia memberikan suatu kebanggaan untuk bisa membahagiakan orang tua. “Orang tua saya bangga, dan saya juga mau bahagiain mereka. Meski masa remaja saya gak seenak anak-anak lain, yang bisa nongkrong sama teman atau jalan-jalan bareng teman sekolah,”tutupnya.(put)

Josephine Nikita, Atlet Basket Termuda Di PON 2016

basket-Josephine-Nikita

Josephine Nikita merupakan salah satu atlet basket termuda yang mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2016 lalu. Ia bersama tim Jawa Barat berhasil menduduki peringkat 4. Bagi gadis asli Bandung, Jawa Barat ini bukan sebuah masalah menjadi pemain termuda bahkan ia bisa menambah pengalaman dari senior yang sudah lebih dulu menekuni basket. “Waktu PON, aku kan paling muda di tim. Jadi, aku dapat banyak pengalaman dari senior-senior sih,” tukas Nikita. Siswa kelas 12 di SMA Bintang Mulia, Bandung, mengaku tak mudah menjadi seorang atlet dan juga pelajar. Meski tak mendapatkan keringanan dari sekolah, ia tetap semangat mengejar pelajaran. Bahkan, ia harus menambah waktu setelah pulang sekolah untuk ulangan susulan dan sebagainya. “Duka menjadi atlet itu kalau sudah bolos sekolah gara-gara tanding, jadi banyak susulan. Untuk tugas sih gak dikasih keringanan. Tetap ngejar sama kayak murid lain. Selama ini sih gak ada masalah buat ngejar pelajaran. Jadi, harus lebih rajin saja sih,”ungkapnya Nikita yang lahir pada 25 Juli 2000 menyukai basket sejak dibawa sang orangtua yang juga atlet basket Sea Games untuk bermain di lapangan basket. Meski pada awalnya malu-malu bermain basket, Nikita pun semangat mengikuti basket ketika bergabung dalam klub basket Tunas. “Papa Mama atlet basket yang ikut Sea Games. Dari awalnya gara-gara Papa dan Mama terus masih malu-malu ikut latihan di Tunas soalnya paling kecil sendiri. Awalnya Cuma latihan di pinggir lapangan pas latihan. Sampai akhirnya diajak sama 1 pelatih dan terus ikut latihan setiap Minggu,”ucap gadis yang genap berusia 17 tahun Sebagai salah satu atlet wanita di Indonesia, Nikita pun memiliki pandangan tentang perkembangan basket di Indonesia. Menurutnya, basket wanita di Indonesia bisa dikatakan mundur dilihat dari pertandingan yang sudah jarang untuk pebasket wanita di Indonesia. “Buat pemain putri professional malah mundur. Soalnya Wome’s Indonesian Basketball League (WIBL) kan sudah gak ada. Kayak event tertinggi di Indonesia buat cewek sudah gak ada, cumin mereka sekarang hanya bikin cup sendiri gitu,”tutupnya.(put)

Ikut Seleksi Asian Games 2018, Sophie Bertemu Sang Idola

Sophia Rebecca Adventa (no.9) saat tampil dalan event Loop 3x3 pada 2017.

Sophia Rebecca Adventia atau yang akrab disapa Sophie menjadi salah satu atlet basket yang mengikuti seleksi untuk Asian Games 2018. Gadis cantik berusia 16 tahun ini telah mengikuti tahap pertama seleksi yang akan diumumkan Februari mendatang. Saat mengikuti seleksi, ia tak menyangka tampil bersama sang idola, Helena. Helena Tumbelaka atau Helena Maria Elizabeth, adalah shooting guard klub Merpati Bali. Selain piawai tampil di posisi Small Forward, perempuan kelahiran Mei 1992 dan bertinggi 166 cm berat 50kg, juga berparas cantik. “Aku sempat ngefans sama Kak Helena pas aku umur 12 tahun. Eh kemarin kesempatan main bareng pas seleksi asian games 2018. Wah seneng banget, nervous, kaget juga soalnya gak tahu Kak Helena bakal ikut seleksi juga,” ujar Sophie. Prestasi Sophie perlu diacungi jempol. Ia sempat menjadi Most Valuable Player (MVP) dalam beberapa turnamen seperti DBL 3X3 2017, Kejuaraan Nasional 2015 dan masih banyak lagi. Siswa SMAN 28 Jakarta ini, pada mulanya tak menekuni basket hingga ia bergabung dalam Bintang Muda Basketball Academy. “Awalnya aku memang sudah suka olahraga dari TK. Sebelum basket, aku main badminton golf sama renang. Tapi aku gak betah soalnya itu olahraganya perseorangan. Jadi pas kelas 4 SD, Papa masukin aku ke club basket Bintang Muda, soalnya dekat rumah dan waktu itu Papa denger dari temennya bahwa club basketnya juara 1 di wilayah barat,”tutur gadis yang menyukai LeBron James dan Kevin Durant Menjadi atlet memang tak jauh dari kata lelah. Sophie pun mengalami hal yang sama dan sudah menjadi resiko sebagai seorang atlet. “Selama proses latihan buat persiapan bertanding itu cape banget. Aku diwajibkan Papa latihan sendiri di rumah, skipping penguatan shooting dribbling. Kadang kalau aku capek abis sekolah, temen aku lagi jalan-jalan atau tidur, aku harus latihan. Tapi duka yang paling mendukakan sih, pas kalah di babak final,”ungkapnya Namun, dibalik duka itu, Sophie merasa basket di Indonesia sudah sangat maju, melihat berbagai turnamen dari segala usia yang rutin dipertandingkan bahkan hingga mencapai tingkat internasional. Tak hanya itu, berbagai sekolah juga menerima beasiswa untuk atlet berbakat. “Atlet-atlet yang berprestasi di basket juga dapat kemudahan masuk sekolah lewat jalur prestasi seperti aku. Tapi di universitas masih sedikit jalur prestasinya. Seperti UI, karena aku sebenarnya pengen banget masuk Fakultas Hukum UI lewat jalur prestasi,”tutupnya

Cetak Rekor Nasional Tolak Peluru, Eki Febri Raih Emas di Kejuaran Nasional Atletik 2017

Final Kejuaran Nasional Atletik 2017 yang berlangsung Desember 2017 lalu membawa Atlet tolak peluru, Eki Febri Ekawati, menyumbangkan satu medali emas untuk kontingen Jawa Barat. Di lansir dari detiksport, Dalam kejuaraan yang di selenggarakan di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta, Eki sekaligus memecahkan rekor nasional. Ia menjadi yang terbaik setelah melakukan tolakan hingga 15,60 meter. Pada urutan kedua di tempati oleh atlet Nusa Tenggara Barat (NTB), I Dewa Ayu Ita, dengan tolakan hingga 15,25 meter. Adapun peraih perunggu didapat oleh wakil Jawa Tengah, Peryani, setelah membukukan tolakan 11,94 meter. Istimewanya, Eki Febri berhasil memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri, 15,54 meter. Dia melakukannya di Asian Grand Prix 2017, di Jinjiang, China. Eki yang juga peraih medali emas di SEA Games 2017 kemarin, tidak menyangka bakal memecah rekor. Tapi, memang pada kejuaraan ini ia bermain secara lepas saja. Teknik yang dilakukan juga jauh lebih enak, padahal sebelumnya, saat latihan, ia merasa kurang nyaman dan sulit. “Setelah SEA Games 2017 Malaysia sebenarnya latihannya hanya conditioning. Karena dari program Harry Marra (pelatih asal AS yang menjadi konsultan PB PASI) memang masih ringan, jadi berkaitan dengan kondisi fisik sekaligus perbaiki teknik. Kebetulan, tidak disangka, ternyata hampir melebihi,” kata Eki usai perlombaan. Eki mengatakan setelah ini teknik yang sudah dijalankan ke depan akan lebih diperbaiki untuk menyempurnakan lemparan. Ia berharap semoga kedepannya lemparannya bisa tembus angka 16 meter. Menurut rencana dia akan turun di test event atletik pada Februari mendatang di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Rifda Irfanaluthfi, Gadis Muda Yang Berhasil Menyabet Medali Nasional Maupun Internasional

Rifda-Irfanuluthi

Rifda Irfanaluthfi, namanya mungkin masih asing  di telinga masyarakat indonesia, namun prestasinya dapat membuat kita tercengang. Rifda, panggilan akrabnya, lahir pada 16 Oktober 1999. Gadis berusia 18 Tahun ini merupakan atlet Senam Artistik asal Jakarta yang bernaung di bawah asuhan pelatih Eva Novalina Butarbutar. Ia mulai menggeluti dunia Senam artistik sejak kecil dan telah mengumpulkan berbagai macam mendali, namun ia baru mulai mengikuti kejuaraan berkelas Internasional beberapa tahun belakangan ini. Pada 2014 lalu, ia berhasil meraih dua medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja sebagai perwakilian Provinsi Jakarta. Mulai dari sanalah ia bertekad untuk bisa maju ke ajang internasional. Debut internasionalnya dimulai pada Maret 2015 lalu, ketika mengikuti pertandingan Doha World Cup yang di selenggarakan di Qatar. di mana dia bertanding di nomor meja lompat, balok keseimbangan, dan senam lantai. Pada Juni 2015 pada SEA Games yang di selenggarakan di Singapura, ia berhasil meraih medali perak di nomor senam lantai. Tak sampai disitu, pada bulan Juli di Asian Artistic Gymnastics Championships di Tokyo Jepang, ia bertanding lagi, namun tak meraih medali. Hal yang sama terjadi saat ia bertanding di ajang World Artistic Gymnastics Championships Glasgow yang di adakan di Inggris. Pada September 2016 sebelum ia berangkat ke Inggris. Ia mengikuti kejuaraan Pekan Olahraha Pelajar Nasional (POPNas), Rifda meraih tiga medali emas dan Indonesian National Youth Games meraih dua medali emas. Tak puas dengan kesuksesannya di ajang Nasional saja, Rifda terus berjuang meraih emas di ajang Internasionalnya. Pada Mei lalu ia mewakili Indonesia di ajang Islamic Solidarity Games 2017 yang di selenggarakan di Azerbaijan. Ia berhasil meraih perunggu di nomor tim bersama Tazsa Miranda Devira dan Armartiani. Serta medali perunggu di nomor meja lompat. Belum puas hanya mendapatkan mendali perunggu di ajang Internasional, Rifda mencoba peruntungannya di ajang SEA Games 2017 yang di selenggarakan di Malaysia pada bulan Agustus lalu. Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta ini berhasil memborong Lima mendali di SEA Games 2017 lalu, ia berhasil mengumpulkan empat medali yang salah satunya adalah Emas. Mendali yang ia raih dari berbagai nomor pertandingan, yaitu Mendali perak di nomor vault, Perunggu di nomor uneven bars, Emas di nomor balance beam, dan perunggu di nomor floor. Tak hanya itu, Dalam ajang tersebut, Rifda bersama teamnya berhasil meraih medali perunggu untuk nomor team all-around. Namun, Perolehan emas ini merupakan yang pertama bagi Rifda setelah mengikuti berbagai ajang internasional. Pada 21 Desember kemarin, Rifda baru saja menambahkan koleksi mendalinya dengan meraih Perunggu di ajang Voronin Cup 2017 yang di adakan di Moscow, Rusia. Tahun 2017 merupakan tahun gemilang Rifda, ia berhasil mengumpulkan pundi-pundi mendali dari berbagai Ajang perlombaan. Semoga di tahun 2018 nanti, ia dapat menambah koleksi mendali. Yang pada rencananya, ia akan terjun dalam ajang Asian Games 2018 yang akan di adakan di Jakarta dan Palembang.

Walaupun Berlangsung Ketat, Jesslyn Dan Tim Bola Basketnya Berhasil Menyumbang Emas Di Pekan Olahraga Nasional

Basket-Jesslyn

Mendapatkan medali emas memang sangat diidamkan oleh seluruh atlet. Pasalnya pencapaian tertinggi pada kompetisi olahraga adalah nomer satu. Terlebih jika pertandingan tersebut sudah masuk babak final. Tim Jawa Tengah, Jesslyn Rasali atau yang akrab disapa Dhing-dhing, yang merupakan salah satu atlet basket dari wilayah Jawa Tengah. Jesslyn bersama tim Jawa Tengah berhasil menaklukan tim Jawa Timur di babak semi final dan juga mampu mengalahkan tim Jakarta di babak final Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu. “Di PON dapat medali emas. Semi final lawan Jawa Timur, final lawan DKI Jakarta itu ketat banget. Waktu lawan Jawa Timur diawalnya ketat banget skornya juga gak terlalu jauh. Tapi kalau pas lawan DKI Jakarta itu ketat banget sampai akhir pertandingan. Skor akhirnya juga gak jauh hanya 5 atau 7 point gitu,”tuturnya Pertandingan di PON memang berkesan bagi Jesslyn. Selain rasa lelah dan membuatnya belajar mandiri, rasa kekeluargaan dengan tim sangat terasa. Atlet berusia 18 tahun ini juga sudah memenangkan berbagai pertandingan seperti Kejuaraan Nasional, Tim Nasional Divisi 2 dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Mahasiswi Psikologi Universitas Surabaya ini juga menceritakan bagaimana awal mula ia bisa bergabung dengan dunia basket yang sudah ia geluti sejak kelas 3 Sekolah Dasar. “Awal mulanya itu, aku lihat kakak yang lagi latihan basket. Terus ikut main-mainan saja, dan lama-lama jadi suka. Saya merasa kalau saya ada bakat juga ya, eh lanjut deh sampai sekarang,”ujarnya Selain itu, gadis yang mengidolakan pemain basket legendaris Stephen Curry ini memberikan pandangannya tentang perkembangan basket di Indonesia. “Perkembangan basket di Indonesia saat ini maju banget. Ditambah ada pemain-pemain asing yang masuk. Itu juga bisa menambahkan semangat, dan juga memajukan pemain-pemain lokal karena bisa termotivasi untuk lebih baik lagi,”tutupnya(put/adt)

Inspirasi Olahraga Panahan dari Atlet Cilik

Achmad Firdaus Assabil adalah atlet cilik panahan asal Surabaya. Ia tidak hanya terkenal karena banyak prestasi di usia yang masih muda, tapi juga berkesempatan memanah bersama Presiden, Joko Widodo. Awal Mula Ketertarikan Dunia Memanah Seperti yang dilansir dari Tempo.co, awal mula Assabil tertarik dunia memanah, saat Ia menonton Film “The Message” dan melihat prestasi atlet Panahan Indonesia di Olimpiade Rio De Janeiro 2016. Sejak saat itulah Ia mulai mencoba cabang olahraga panahan. Prestasi yang Diraih di Usia Muda Prestasi yang telah diraih Assabil yaitu Juara 1 Surabaya Eksebition Program 2016, dan runner-up  Bogor Open 2017. Pada kesempatan lomba di Bogor itulah, Ia berhasil memanah bersama Presiden Jokowi. Ada juga banyak prestasi lainnya, seperti juara 2 di Surabaya Internasional junior Champhionship Tahun 2017, Juara 1 Piala Walikota Kediri Tahun 2017, dan juara 2 di Surabaya Eksebition Stage 2. Terakhir Ia mendapatkan 2 medali perak dan 1 perunggu pada Pekan Olahraga SD/MI se- Jawa Timur di Lumajang. Tak hanya berprestasi dibidang atletik, ternyata putra Achmad Basjori dan Retno Mardiningsih ini berprestasi juga di bidang akademik, antara lain pernah juara Harapan Olimpiade Science Tahun 2017, juara 3 Lomba Pidato Se-Surabaya, Juara lomba Tahfidz dan cerdas cermat tentang agama, Juara Pildacil (Pemilihan Dai Cilik Se- kecamatan Gayungan), dan Juara 2 Show and Tell yang diselengarakan Lembaga Indonesia Amerika. Kunci dari kesuksesan Assabil adalah fokus. “Jika di sekolah tidak boleh mikir panahan, sebaliknya waktu latihan gak usah mikir sekolah,” katanya yang dilansir dari tempo.co Assabil bisa membagi waktunya antara prestasi bidang akademik dan dunia panahan adalah dengan Pelatih Panahan, Huda Sarbiantoro, memberikan porsi latihan di rumah. Berhubung waktu berlatih di lapangan yang terbatas, menyebabkan ia harus berlatih juga di rumah. Sedangkan untuk waktu latihan di lapangan panahan KONI Jatim hanya 2 kali seminggu. Tentang Panahan Dikatakan Assabil olahraga panahan ini dapat melatih mental para atlet. Berdasarkan pengalamannya, atlet banyak yang berpikir untuk menang dan meraih hadiah di pertandingan. Padahal, hal tersebut malah bisa memecah konsentrasi dalam memanah. Cabang olahraga panahan ini butuh konsentrasi dan fokus. Tidak boleh berpikir tentang hadiah dari kemenangan tersebut, melainkan harus tetap fokus untuk kebanggaan dan kesuksesan tim. Diakui sang pelatih bahwa Assabil merupakan atlet yang memiliki fisik dan mental bertanding yang bagus. Assabil pasti bisa menjadi atlet panahan andalan jika ia terus tekun berlatih.

Babar, Satu dari Segelintir Gadis Yang Berprestasi Dalam Olahraga Futsal

Babar-Futsal

Futsal wanita di Indonesia, bisa dikatakan masih sedikit peminatnya. Salah satunya adalah Bardina Desya Rahmah atau yang akrab disapa Babar. Melihat jumlah pemain futsal wanita yang sedikit, Babar tidak ragu untuk menekuni futsal. Berawal dari bermain sepakbola, Babar pun mencoba untuk terjun ke dunia futsal. “Dari kecil saya sudah suka main bola. Terus mencoba masuk ke dunia futsal dan ternyata sangat berbeda. Dulu juga masih sedikit pemain khusus wanitanya jika dibanding sekarang. Karena tidak banyak peminatnya, makanya saya terjun ke dunia futsal. Ternyata saya suka dan jadi hobi deh,”ujarnya Mahasiswi 20 tahun dari Universitas Negeri Jakarta ini, sudah menekuni futsal sejak duduk dibangku SMP. Sudah banyak turnamen yang ia ikuti, diantaranya, seperti membawa tim UNJ Women Futsal di Kejuaraan Nasional Brawijaya Malang, Liga Mahasiswa tahun 2017 dan 2016, International Sport Fiesta di Malaysia, dan masih banyak lagi. Selain itu, Babar juga memiliki pengalaman dimana ia menjadi anchor yang bisa menentukan kemenangan dari tim. “Selama pertandingan di event International Sport Fiesta, saya sebagai anchor bisa mencetak goal dan sebagai penentu kemenangan tim,”tuturnya Namun, sebagai seorang atlet terutama futsal, Babar tak jauh dari rasa lelah bahkan mendapatkan ejekan jika tidak menjuarai suatu pertandingan. “Ketika tidak menjuarai sebuah kejuaraan, pasti banyak ejekan atau hardikan. Kadang sudah capek abis pertandingan, namun harus latihan lagi. Harusnya refreshing, namanya atlet pasti ada jenuhnya,”tutupnya(put/adt)

Walau Sempat Pesimis, Akhirnya Arya Berhasil Menyabet Medali Dari Ajang Panahan Internasional

Arya-Panahan

Setiap atlet pasti pernah mengalami ketidakpercayaan diri atau pesimis, terlebih saat akan menghadapi kejuaraan. Apalagi melihat lawan-lawan yang memiliki kemampuan yang lebih baik. Seperti yang dialami oleh Arya Dwi Putra Umarella atau yang akrab disapa Arya. Atlet nasional di cabang olahraga panah ini, berbagi cerita kepada nysnmedia.com, tentang pengalamannya ketika mengikuti kejuaraan nasional pelajar ditahun 2015. Ia seakan tidak percaya saat dinyatakan telah berhasil membawa pulang 2 medali emas, 2 medali perak dan 1 medali perunggu. “Jadi pas kejuaraan nasional pelajar di Jawa Tengah 2015, saya kurang pede karena cuma dapat 1 medali perak di tahun 2014. Soalnya faktor lawan-lawannya itu adalah atlet juara nasional pelajar semua. Aku Cuma bisa bedoa dan berusaha. Dan setelah selesai bertanding, Aku gak sadar kalau bisa jadi juara, pas dipanggil nama Arya, saya malah melamun, dan baru sadar setelah dipanggil temen-temen. Alhamdulilah banget,”tutur Siswa Kelas 2 SMA Sekolah Atlet Ragunan Bermula diminta orang tua untuk menjadi atlet, Arya pun sudah menekuni panah sejak 5 tahun lalu. Sang ayah juga merupakan atlet atletik dan sang ibu atlet panah. Selain kejuaraan nasional pelajar, Arya pun pernah menjuarai SKO Open di Thailand tahun 2016 dan 2017 dan Children Open Tournament Di Rusia tahun 2016 lalu. Arya yang juga sempat gugup ketika mengikuti Children Open Tournament Di Rusia, namun berkat motivasi dalam diri, Arya berhasil mendapatkan 2 medali. “Waktu kejuaraan Children Open Tournament Di Rusia, Aku pesimis juga karena melihat lawan yang jam terbangnya lebih banyak dan lebih hebat. Pas disitu Aku berpikir, kalau Aku telah dipilih sama Indonesia buat kesini berarti aku nggak kalah hebat dari lawanku. Mulai dari situ aku mulai optimis,”tuturnya Cowok berusia 16 tahun ini juga memiliki pandangan tentang olahraga panahan di Indonesia. Baginya, pemerintah kurang memberikan perhatian kepada atlet pemanah. “Menurutku, perkembangan olahraga panah di Indonesia kurang pesat, soalnya pemerintah masih kurang peduli. Misalnya menjelang Asean Games tahun ini, sampai sekarang belum ada training center buat panahan,”ujarnya Arya juga menambahkan kurangnya perhatian dalam alat panahan berbeda dengan negara lain yang sangat memperhatikan sarana dan prasarana alat panah. “Alat panah kan mahal banget harganya, dari Negara Indonesia itu kurang memperhatikan. Harus berprestasi banget baru akan diperhatiin. Padahal atlet negara lain kalau soal peralatan sudah dipehatikan banget detailnya,”tutupnya (put/adt)

Setelah 9 Tahun Menekuni Basket, Nikytta Dipercaya Menjadi Kapten Tim Kejuaraan Nasional

Nikytta-Kiki-Philipus-Basket

Terpilih menjadi seorang kapten tim merupakan sebuah tanggung jawab yang besar. Selain memimpin tim, kapten tim harus bisa memberikan semangat kepada seluruh anggota tim. Nikytta Kiki Philipus atau yang akrab disapa Nikytta telah menekuni basket sejak 9 tahun lalu. Di tahun 2017, ia dipilih menjadi kapten tim yang merupakan pengalaman pertama baginya dan ia berhasil membawa tim mendapatkan juara 2. “Saat Kejuaraan Nasional September 2017, pertama kali ditunjuk sebagai kapten tim. Ternyata kapten itu bukan sekedar gelar, tapi punya tanggung jawab besar. Kaget, takut, tapi semangat juga. Kadang ada orang yang dikasih hal baru, lalu jadi tambah semangat,”tuturnya Gadis berusia 18 tahun ini berpendapat bahwa, basket adalah olahraga yang sangat menantang. Tak hanya itu, basket juga mengajarkan rasa kekeluargaan dan menghargai diri sendiri serta orang lain. “Basket itu kalo dipahami bukan sekedar olahraga, apalagi dari club saya sendiri yaitu GMC. Yang mengajarkan basket itu seperti keluarga. Dari basket kita kenal banyak orang, saling membantu, saling memahami karakter orang dan pelatih respect to other paling penting dari basket, menghargai diri sendiri dan juga lawan,”ujarnya Mahasiswi Manajemen Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) ini memiliki pandangan tentang bagaimana perkembangan bola basket di Indonesia. “Ya basket di Indonesia masih lihat “uang”. Bukan pure 100% karena skill personal tapi uang personal,”tutupnya(put/adt)

Awalnya Terpaksa Bermain Voli, Tetapi Dinda Berhasil Raih Juara 1 di Pekan Olahraga Nasional Mahasiswa 2017

Adinda-Wibowo-Voli

Terpaksa mengikuti sesuatu yang awalnya tidak disukai memang tidak menyenangkan. Namun, jika kita tekun menjalankannya, maka kita bisa termotivasi untuk menghasilkan yang terbaik. Wanita belia ini bernama Adinda Wibowo, atau yang diakrab sebagai Dinda. Dinda sudah menjuarai berbagai turnamen seperti Pekan Olahraga Nasional Mahasiswa (POMNas), Kejuaraan Nasional Junior, Livoli Divisi 1, Princess Cup U-19 dan masih banyak lagi. Gadis berusia 19 tahun ini sempat berbagi cerita kepada nysnmedia.com, tentang bagaimana awal mula mengikuti voli. Orang tua dari Dinda merupakan atlet voli, tidak jarang orang tua Dinda mengarahkan agar ia juga mengikuti voli. Awalnya, Dinda terpaksa menjalani voli karena ia menyukai basket. Namun, berkat melihat permainan dari senior-seniornya, Dinda pun menjadi sangat menyukai voli. “Pertama tuh aku itu atlet basket, terus mama papaku atlet voli, mereka pengen aku jadi atlet voli. Padahal dulu aku gak suka voli, dan akhirnya dipaksa latihan. Dan sekarang malah jadi suka sama cabang olahraga voli. Aku melihat kakak-kakak senior mainnya bagus-bagus banget, malah jadi termotivasi untuk bisa kaya kakak senior itu,”ujarnya Dinda sudah menekuni voli sejak 5 tahun lalu. Ia juga menuturkan momen-momen berharga yang ia dapatkan sejak bergabung di cabang olahraga voli. “Banyak momen yang tak pernah terlupakan. Misalnya, saat bermalam bersama dengan teman-teman, saat itu rame-rame, sering ketawa sendiri kalau lagi ngebayangin, cerita-ceritanya seru. Kalau sedang latihan, misalkan 2 atau 3 bulan di mess gitu juga seru, ada saatnya bercanda dan saatnya serius. Bahkan sampai ada yang nangis, perjuangan banget, karena latihan itu di dedikasikan hanya untuk bisa jadi yang terbaik untuk tim,”tutur atlet perwakilan wilayah Jakarta ini Mahasiswi Manajemen Perbanas Institute ini juga sering mengalami kendala ketika harus menjalani pertandingan yang bentrok dengan jadwal kuliah. Namun, Dinda harus bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi atas apa yang ia jalankan. “Kalau waktunya bentrok antara kuliah dan pertandingan, kita harus tanggung jawab sih sebagai mahasiswa dan atlet. Harus rela meninggalkan ujian atau susulan. Kadang juga ada dosen yang gak mengizinkan. Ya kalau begitu harus menerima konsekuensinya baik sebagai atlet atau mahasiswa,”tutupnya(put/adt)