Sabet 14 Emas Dan Juara Umum, INASGOC Bantah Tudingan Kecurangan di Cabor Silat Asian Games 2018

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PB IPSI, Prabowo Subianto, sempat dipeluk pesilat Hanifan Yudani Kusumah, yang meraih emas di kategori tarung kelas C (55-60) kg putra, di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (29/8). (KOMPAS.com)

Jakarta- Pihak Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) membantah tudingan curang di cabang olahraga pencak silat yang dilontarkan Presiden Pencak Silat Asia, Sheikh Alauddin Yacoob Marican. Alauddin sempat melontarkan kecurangan, terkait wasit dan juri pencak silat yang dinilainya berat sebelah. Ia lantas meminta agar perangkat pertandingan harus konsisten dan transparan. “Saya kecewa, sejak hari pertama kecurangan wasit dan juri terlihat. Kami sudah beritahu  jangan ada yang coba berat sebelah, harus konsisten, bersih, dan transparan,” kata Alauddin yang juga manajer timnas pencak silat Singapura pada Rabu (29/8). “Kami harus mengevaluasi wasit juri untuk lebih netral dan transparan. Mungkin dengan memakai body detector, seperti yang ada di taekwondo, supaya lebih fair. Kalau seperti ini tidak fair, saya kecewa sekali,” ujar Alauddin, yang pernah meraih gelar juara dunia pencak silat, pada 1990 dan 1994 itu. Namun, Deputi Games and Sport INASGOC, Harry Warganegara, menganggap tudingan Alauddin ini tidak mendasar. “Semua sudah kami serahkan ke federasi (pencak silat) Asia untuk pertandingan. Delegasi teknis juga dari Asia. Saya tak bisa banyak komentar, karena saya tak mengerti yang dimaksud curang itu, yang mana,” ujar Harry. Harry menilai tidak benar jika ada kecurangan, karena terbukti Indonesia bisa menang bukan hanya di nomor seni, tapi juga di nomor tarung. Merah Putih total meraih 14 medali emas, dari 16 nomor yang dipertandingan, di cabor pencak silat. “Apa (maksud) nomor tanding curang? Kalau begitu, mereka evaluasi lah. Kalau seni subjektif. Pertanyaan saya, berapa komposisi medali tanding dan seni dari Indonesia?” tegas Harry dengan maksud membandingkan lebih banyak nomor tanding, dibandingkan seni. “Saya rasa juri punya standar, bukan? Karena kita (Indonesia) sendiri kalau dilihat nomor, ini olahraga kita. Pertanyaannya kelihatan enggak kecurangan itu?,” Harry pun menegaskan semua penyelenggaraan cabor Asian Games 2018 secara teknis berdasarkan persetujuan federasi Asia. “Kami tidak lihat TD (Delegasi Teknis) ini dari negara mana. Kalau dari kita (Indonesia), kami serahkan mereka (untuk menyeleksi). Jurinya juga banyak orang Singapura, Thailand, dan mungkin juga ada Malaysia. Kalau dia [Alauddin] berkata begitu [ada kecurangan], harus dibuktikan,” ucap Harry. Pesilat putri asal Ciamis, Wewey Wita, menutup perolehan emas tim Indonesia pada cabor pencak silat di ajang Asian games 2018. Wewey mengalahkan pesilat Vietnam, Thi Them Ram dengan skor telak 5 – 0, di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (29/8). Kemenangan Wewey menjadikan Indonesia jadi juara umum cabang pencak silat Asian Games 2018. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, 14 medali emas diantaranya dimenangkan atlet asal Indonesia. Delapan emas pertama berhasil dimenangkan, saat Indonesia sapu bersih pada final hari pertama Senin (27/8). Sedangkan, hari ini silat menyumbang enam emas tambahan. Dua emas yang lepas dari Indonesia ada di nomor tarung pria, kelas J dan F.  Indonesia hanya sukses mendapatkan satu medali perunggu. Pertandingan final hari ini, amat menyedot animo penonton. Hampir tak tersedia bangku kosong, di tribun Padepokan Pencak Silat TMII. Dan laga hari terakhir cabor pencak silat ini juga diminati elit politisi. Selain dihadiri Ketua Gerindra Prabowo Subianto yang juga ketua umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), hadir juga Ketua umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarno Putri, bersama sang Sekjen, Hasto Kristiyanto. Mega hadir untuk menemani anaknya Puan Maharani yang jadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Tak lama, datang Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang hadir secara terpisah. (Ham) Klasemen akhir pencak silat di Asian Games 2018 Negara      Emas   Perak    Perunggu Indonesia    14        0               1 Vietnam         2         7               3 Malaysia        0          4               4 Thailand        0          2               5 Singapura      0          2               3

Sabet 8 Emas Asian Games Dalam Sehari, Indonesia Sikat Habis Nomor Final Cabor Pencak Silat Dan Cetak Sejarah

Yola Primadona Jampil (kiri) dan Hendy (kanan) yang turun di nomor seni ganda putra, sukses menyumbang emas ke-14, usai tampil gemilang di Padepokan Silat, TMII, Jakarta, Senin (27/8). Di nomor ganda putra, mereka menjadi yang terbaik di Asian Games 2018 dengan raihan 580 poin. (Ham/NYSN)

Jakarta- Indonesia menyapu bersih delapan medali emas Asian Games 2018 dari cabang pencak silat, yang tampil di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Senin (27/8). Dua emas terakhir direbut Sarah Tria Monita (kelas C Putri 55kg – 60 kg) dan Abdul Malik (kelas B Putra 50 kg – 55 kg). Sarah mengalahkan lawan dari Laos, Nong Oy Vongphakdy. Sedangkan Abdul Malik menekuk lawan dari Malaysia, Muhammad Faizul M Nasir. Panen medali kemungkinan belum akan berakhir. Pada Selasa (28/8), tercatat masih ada enam nonor final, yang akan diikuti Indonesia. Yakni artistik tunggal putra, artistik ganda putri, artistik regu putri, tarung kelas D Putri 60 kg-65 kg (Kamelia Pipiet), tarung kelas C Putra 55 kg – 60 kg (Hanifan Yudani Kusumah), dan tarung kelas B Putri 50 kg – 55 kg (Wewey Wita). Sejatinya, Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) ‘hanya’ menargetkan empat medali emas dalam ajang Asian Games 2018. Selain menembus rekor, para atlet Merah Putih sudah jauh melampaui target total 16 medali emas, yang dicanangkan Kemenpora. Padahal, cabang bulutangkis perorangan sudah pasti menyumbang satu medali emas, karena terjadi all-Indonesian final di nomor ganda putra. Dobel Fajar/Rian menghadapi Marcus Gideon/Kevin Sanjaya. Tunggal putra bulu tangkis pun berpeluang meraih emas jika Jonatan Christie mampu mengalahkan wakil Taiwan, Chou Tien-chen, di final. Tambahan delapan emas dari pencak silat mengantar Indonesia mengoleksi 20 emas, 14 perak, dan 26 perunggu. Kini Tim Merah Putih berada di posisi empat besar klasemen perolehan medali. Menpora Imam Nahrawi pun bersyukur atas capaian kontingen Indonesia di ajang Asian Games 2018 yang mampu pecahkan sejarah baru dengan perolehan medali yakni, 20 emas, 14 perak dan 27 perunggu. Di mana pada Asian Games 1962 merupakan perolehan medali terbanyak dengan 11 emas, 12 perak dan 28 perunggu. “Alhamdulillah, sore hari ini, kita semua diberi nikmat oleh Allah SWT atas pencapaian medali yang diraih oleh pahlawan olahraga Indonesia. Sampai sore ini, berhasil mendapatkan 20 emas, 14 perak dan 23 perunggu, tentu ini pencapaian yang luar biasa dari seluruh atlet,” kata Menpora di ruang Preskon MPC, JCC, Senin (27/8) sore. “Ini jadi sejarah baru emas terbanyak sepanjang keikutsertaan indonesia di Asian Games, per hari ini kita sudah melampaui pencapaian di 1962,” tambahnya. Menteri asal Bangkalan Madura juga menyampaikan perolehan emas Indonesia hingga sore ini, masih bisa bertambah karena ada beberapa pertandingan yang berpotensi meraih medali. (Ham) Daftar atlet Indonesia peraih medali emas pencak silat : • Puspa Arum Sari (artistik perorangan putri) • Yola Primadona & Hendy (artistik ganda putra) • Tim beregu artistik putra (Nunu Nugraha, Asep Wildan Sani, Anggi Faisol Mubarok) • Aji Bangkit Pamungkas (kelas I Putra 85 kg – 90 kg). • Komang Harik Adi Putra (kelas E Putra 65 kg – 70 kg) • Iqbal Chandra Pratama (kelas D Putra 60 kg – 65 kg) • Sarah Tria Monita (kelas C Putri 55kg – 60 kg) • Abdul Malik (kelas B Putra 50 kg – 55 kg) Daftar perolehan medali Asian Games 2018 No       Negara     Emas    Perak   Perunggu 1.    Cina                79         60         40 2.    Jepang            41         34         53 3.    Korea Selatan  28         32         38 4.    Indonesia        20         14         26 5.    Iran                16         15         14

Berlatih Silat Lantaran Iseng, Pesilat Khansa Avissa Kini Pemegang Titel Dunia

Khansa Avissa Salsabila penyandang gelar juara dunia silat di ajang Malaysia Open 2018 (Adt/NYSN)

Jakarta- Tak ada yang menyangka bila perempuan yang terlihat lemah lembut, Khansa Avissa Salsabila, adalah pemegang gelar juara dunia silat 2018. Pada awalnya, ia mengenal olahraga pencak silat dari sang guru di Sekolah Dasar (SD). Dari guru beladiri pertamanya yang akrab dipanggil Kang Ujang itu, dara manis yang hobi bermain games ini terus menempa kemampuannya di pencak silat. “Cuma iseng awalnya belajar beladiri. Lalu, ikut pertandingan, dan Alhamdulillah juara. Dan tampil di pertandingan se-DKI Jakarta, dan juara lagi. Dari situ, pelatih ngomong jika saya berbakat di beladiri silat,” tutur Avissa, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kini, tugas siswi kelas 10 Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta itu terus berlatih dan menambah teknik-teknik terbaru memainkan silat, sebagai salah satu olahraga tradisional Indonesia. Sebab, menurut perempuan berkulit kuning langsat itu, negara-negara lain di dunia juga telah mengembangkan silat sebagai olahraga yang diperhitungkan di pentas internasional. “Silat di luar negeri itu, menurut saya lebih cepat perkembangannya. Apalagi, pesilat luar negeri dilatih sama pelatih dari Indonesia. Kemampuan mereka pasti sama dengan pesilat Indonesia, bahkan lebih,” sambungnya. Remaja berpostur 160 centimeter itupun membagi pengalamannya ketika menjadi juara dunia dalam event 9th UPSI International Silat Championship 2018, di Perak, Malaysia. “Waktu kejuaraan dunia itu ramai banget, sebab yang datang dari seluruh dunia. Saat pembukaan, panitia kasih pengumuman ini pertama dan rekor di Malaysia, yang pesertanya bisa sampai 1.000 pesilat,” cetus pelajar berusia 15 tahun ini. “Karena pesertanya juga ribuan, jadi deg-degan juga pas mau bertanding waktu itu. Tapi, karena latihan terus, mungkin deg-degannya bisa berkurang,” lanjut dara yang bercita-cita menjadi dokter itu. Avissa akhirnya meraih emas di kategori E Putri Remaja kelas 55-59 Kg. Avissa mengaku, bila lawan terberatnya di partai puncak kejuaraan dunia itu adalah Malayasia. Negara serumpun Melayu itu ternyata mempersiapkan para pesilatnya dengan baik. “Di tingkat remaja, mereka sudah membentuk tim khusus tampil di kejuaraan dunia. Mereka juga sering melakukan ujicoba. Jadi, memang Malaysia persiapannya lebih bagus dari Indonesia,” tutup Avissa. (Adt) Biodata  Nama : Khansa Avissa Salsabila Tempa/Tgl Lahir : Jakarta, 30 April 2002 Hobi : Main Games Ayah : Nur Ali Rachmat Ibu : Neneng Ijah Sekolah : Kelas 10 SKO Ragunan, Jakarta Tinggi : 160 Cm Cita-cita : Dokter Prestasi : 1. Juara Satu Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) se-DKI Jakarta 2015 2. Juara Satu Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2016 3. Juara Satu Kejuaraan Nasional (Kerjurnas) Remaja Jakarta 2016 4. Juara Satu Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2017 5. Juara Satu Dunia 9th UPSI International Silat Championship 2018

Cetak Bibit Potensial, Ribuan Pesilat Remaja Adu Kekuatan di Kejurnas Al-Azhar Seni Bela Diri

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Al-Azhar Seni Bela Diri Ke-2 di SMPI Al Azhar Pusat diikuti 1017 pesilat dari seluruh Jakarta. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ribuan pesilat dari berbagai daerah beradu kekuatan di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Al-Azhar Seni Bela Diri Ke-2. Event ini berlangsung di Aula Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) Al-Azhar Pusat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 30 Maret hingga 1 April 2018. Kejurnas yang memasuki tahun kedua itu bertujuan mencari bibit-bibit pesilat muda yang berprestasi. Kategori untuk peserta dimulai dari tingkat usia dini, pra-remaja, dan dewasa. “Event ini mencari bibit pesilat yang berprestasi bukan hanya nasional, tapi kedepannya di tingkat internasional. Event dimulai dari tingkatan interen, lalu open turnamen, selanjutnya kejuaraan wilayah, hingga daerah,” ujar Syahrowi Awi, Ketua Pelaksana Kejurnas Al-Azhar Seni Bela Diri, pada Jumat (30/3). Menurutnya, animo para pesilat untuk mengikuti Kejurnas kali ini sangat tinggi. Dibandingkan tahun lalu, terang Awi, untuk tahun ini jumlahnya meningkat drastis. “Kejurnas yang pertama itu jumlah peserta sekitar 900 pesilat, tapi tahun ini mencapai 1.017 pesilat. Itu juga masih banyak yang tak bisa ikut, dengan alasan waktu pelaksanaan dan biaya,” sambungnya. Dikatan Awi, Kejurnas ini juga dimanfaatkan para pesilat sebagai ajang ujicoba sekaligus mengasah mental bertanding. “Semoga dengan Kejurnas ini bibit cabang olahraga silat makin banyak ditambah dengan kemampuan mereka yang makin baik. Apalagi, silat berkembang di seluruh dunia,” tutup Awi. (Adt)