Indonesia Night Run 2019, Beri Kesempatan Mantan Atlet Bernostalgia Kenang Masa Keemasan

Indonesia Night Run 2019 menghadirkan olahraga berkonsep pesta sehat. (Adt/NYSN)

Jakarta- Event lari Indonesia Night Run (INR) 2019 bakal dihelat di Q-Big, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten, pada Sabtu, 30 November mendatang. Kompetisi lari ini memberikan kesempatan pada mantan atlet untuk bernostalgia mengenang masa keemasan. “Terus terang, ini bukan lomba lari biasa,” ujar Gary Topher Sumanti, Project Coordinator Indonesia Night Run dari Bias Event, di Aloft Hotel, Jakarta, Rabu (3/7/2019). Disebutkannya, event ini akan menggabungkan kegiatan olahraga lari, zumba party, workout dengan beragam aktivitas yang bersifat menghibur seperti bazzar, penampilan DJ, bahkan terdapat pertunjukan LED-light. “Kami ingin menjadikan INR 2019 sebagai pesta akhir tahun bagi para pelari yang berpartisipasi,” lanjut Gary. Event yang memperebutkan hadiah total ratusan juta rupiah untuk lebih dari 100 pemenang itu menargetkan 5.000 peserta yang akan mengisi di tiga kategori jarak, yaitu dengan komposisi 2.500 pelari dikategori 5K dengan batas usia minimal 15 tahun, dan 1.750 pelari dikategori 10K dengan usia di atas 50 tahun, serta 750 pelari untuk jarak 21K (half marathon) dengan usia minimal 17 tahun. Menariknya, selain kategori pemenang berdasarkan umur, master, the best costume, CEO, dan over all, INR 2019 juga menyediakan satu kategori untuk para mantan atlet. Ini bisa menjadi kesempatan bagi mantan atlet untuk bernostalgia saat masa-masa keemasannya. “Bagi para mantan atlet yang belum meraih medali, mungkin karena harus bersaing dengan atlet muda, di sini lah kesempatannya. Karena mereka akan bersaing dengan pelari-pelari yang seusianya,” cetus Gary. Senada, Riena Tambunan, Penanggung Jawab Event, mengatakan untuk kategori mantan atlet diberikan mengingat mereka sudah sangat sulit untuk mencapai podium, sehingga pihaknya memberikan peluang untuk mengenang masa-masa mereka dulu saat menjadi atlet. “Ide untuk kategori mantan atlet ini saat saya bertemu dengan seorang mantan atlet ketika mengikuti sebuah kompetisi. Dan atlet ini kebingungan bagaimana caranya bisa ikutan event seperti ini. Mungkin sudah tua. Dia juga pesimis karena lawannya masih muda, jadi kalah cepat untuk sampai finish,” jelas Riena. Sementara itu, pemilihan Q-Big BSD City menjadi lokasi lomba, ungkap Riena, karena dianggap memiliki lingkungan yang nyaman, rute jalan yang baik, arus lalu-lintas kendaraan bermotor yang mudah dikendalikan, serta kawasan yang mampu menampung 5.000 peserta. “Kami berharap semua pelari yang berpartispasi dapat menikmati lomba lari yang aman dan nyaman, serta mendapatkan pengalaman berlomba yang mengesankan,” tukas Riena. Dan, untuk para peserta yang ingin mengikuti INR 2019, dapat mendaftarkan diri melalui website www.indonesianightrun.co.id. Biaya yang dipatok untuk setiap pendaftar bervariasi mulai dari Rp400 hingga Rp650 ribu. (Adt)

Second Chance Foundation, Ajak Masyarakat Sebar Virus Positif Bagi Warga Binaan LP Lewat Kompetisi Lari

Second Chance Foundation mengajak masyarakat menyebarkan semangat positif melalui Second Chance Charity Run 2019. (Adt/NYSN)

Jakarta- Second Chance Foundation (SCF), berkolaborasi dengan United Nations Office on Drugs and Crime dan Kedutaan Besar (Kedubes) dari Afrika Selatan (Afsel) di Indonesia, siap menggelar kompetisi lari dengan konsep Charity Run. Sebagai salah satu program untuk mengajak masyarakat menyebarkan semangat positif dan dukungan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang ada di Lembaga Permasyarakatan (Lapas). Event ini dihelat di Lot 16, SCBD (Sudirman Central Business District) Jakarta, pada 21 Juli 2019. Kesempatan kedua adalah hak setiap manusia. Hal itulah yang melatar belakangi Yayasan Second Chance, Yayasan nirlaba yang memiliki visi dan misi pemberdayaan WBP untuk menjadi mandiri, produktif, dan dapat diterima kembali oleh masyarakat sebagai warga yang bermartabat, untuk meningkatkan kualitas hidup para WBP dengan melakukan pelatihan dan pendampingan bagi WBP yang ada di Lapas seluruh Indonesia. Evy Syamsudin, Founder Second Chance Foundation, mengatakan pihaknya ingin mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama membantu proses rehabilitasi warga binaan di Lembaga Permasyarakatan dengan mengikuti Second Chance Charity Run 2019 ini. “Harapan kami masyarakat tahu bahwa di dalam Lembaga Permasyarakatan banyak hal-hal positif yang dilakukan sehingga stigma negatif yang ada di luar terhadap Lembaga Permasyarakatan bisa sirna,” ujar Evy, di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Selasa (2/7/2019). Dijelaskannya, Second Chance Foundation mengajak masyarakat untuk ikut serta menyebarkan semangat positif melalui event Second Chance Run 2019, yakni ajang lomba lari dengan konsep charity run atau berlari dan menggalang dana dengan dua kategori jarak tempuh, yaitu 5 km dan 10 km. Di event itu, ungkap Evy, terdapat penggalangan dana berupa donasi, dan nantinya donasi yang diterima akan diberikan untuk proses pelatihan bagi warga binaan di dalam Lembaga Permasyarakatan. “Kita sudah ke berbagai tempat di Lembaga Permasyarakatan dan di bebeberapa titik, tapi memang belum sampai seluruh Indonesia karena ada banyak sekali Lembaga Permasyarakatan,” lanjut Evy. Disisi lain, event Charity Run yang dihelat Second Chance Foundation ini merupakan bagian dari peringatan Mandala Day yang jatuh pada 21 Juli guna meningkatkan kesadaran tentang kondisi para WBP. “Dukungan terhadap Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners, yang dikenal juga sebagai sebagai ‘Nelson Mandela Rules’, untuk menghormati peninggalan mendiang Presiden Nelson Mandela yang menghabiskan 27 tahun hidupnya di dalam penjara dalam upayanya menegakkan hak asasi menuasi dan demokrasi,” terang Hilton Fisher, Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia dan Asia Tenggara. Sementara itu, Sandiaga Salahuddin Uno, menyatakan bawah waraga binaan memerlukan kesempatan kedua. “Insha Allah ini akan membawa efek bagus untuk mengubah warga binaan lebih cerah,” tukas Sandiaga Uno. (Adt)

Terpilih Jadi Ketua Umum Periode 2019-2023, Marciano Norman Jadikan KONI Profesional dan Modern

Marciano Norman terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023 secara aklamasi. (Adt/NYSN)

Jakarta- Marciano Norman terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum (Ketum) KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat periode 2019-2023 pada Musornas (Musyawarah Olahraga Nasional), di Ballroom Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (2/7/2019). Pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), 28 Oktober 1954 itu, ditetapkan sebaga Ketua Umum tanpa melalui proses pemilihan karena merupakan calon tunggal dalam pemilihan kali ini. Hal itu dikarenakan kandidat Calon Ketum Muddai Madang tidak memenuhi persyaratan administrasi. Ia tak lolos berdasarkan hasil verifikasi tim Penjaringan dan Penyaringan dalam Musornas. Dan, proses penetapan Marciano sebagai Ketum KONI dilakukan saat Muddai melakukan aksi walk out (WO). Pada Musornas yang diikuti 101 voters dari 34 KONI Provinsi dari 67 cabang olahraga itu sempat terjadi kericuhan. Sejumlah voters sempat mendekati meja pimpinan sidang, baik dari sisi kanan maupun kiri untuk memprotes kepemimpinan sidang sementara yang diisi Wakil Ketua KONI Pusat I Nugroho. Beberapa voters tak terima lantaran pengesahan tatib (tata tertib) tidak berdasarkan pada suara mayoritas anggota. Usai terpilih untuk menahkodai KONI Pusat, Marciano mengatakan siap mengemban amanat tersebut sebagai ladang ibadah baginya. “Terimakasih kepada para peserta Musornas yang mempercayakan saya untuk masa empat tahun kedepan. Bagi saya memimpin ini sebagai ladang ibadah, baik agama maupun bangsa. Tujuan saya menjadikan KONI berwibawa, mandiri, profesional dan modern,” ujar Marciano. Mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) itu menyadari tantangan KONI Pusat ke depan tidak ringan, namun ia meyakini dan optimis akan mampu keluar dari dari tekanan ini, jika semua stakeholder mau diajak bekerjasama. “Saya mengajak semua pemangku kepentingan di bidang olahraga, baik dari wartawan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, KOI, KONIDA, bahkan peserta Musornas ini yang karena dinamika tadi ada hal-hal yang kurang sependapat meninggalkan ruangaan ini. Saya selaku Ketua KONI Pusat yang baru, pintu saya selalu terbuka untuk kembali berkomunikasi dengan mereka,” lanjutnya. Ditambahkan mantan Pangdam Jaya itu, bahwa bicara olahraga adalah bicara Merah Putih, dan suksesnya olahraga karena kebersamaan dengan orang-orang yang berada di dalam organisasi olahraga itu. “Mari kita segera lupakan perbedaan-perbedaan itu dan kita satukan yang sama di antara kita. Mari kita bersatu kembali setelah Musornas ini. Hilangkan hal-hal yang dapat menganggu. Jangan korbankan atlet karena perbedaan pandangan pengurusnya,” tukas Marciano. (Adt)

Heru Jatmiko, Atlet Lontar Martil Andalan Merah Putih di ASEAN School Games 2019

Heru Jatmiko andalan Indonedia di ajang ASEAN School Games 2019. (Kemenpora)

Jakarta – Segudang prestasi berhasil ditorehkan Heru Jatmiko dari cabang atletik di nomor lontar martil. Berkat prestasinya itu, ia menjadi salah satu atlet muda andalan Indonesia di ASEAN Schools Games (ASG) 2019, yang akan dihelat di Kota Semarang, Jawa Tengah, 17-25 Juli mendatang. Soal persiapan, Heru mengatakan sudah mencapai 80% dan siap diturunkan pada hari pelaksanaan. Remaja yang pernah menyumbangkan medali emas di Thailand Sport Schools Games 2018 itu cukup yakin bisa memberikan yang terbaik pada ASG 2019 nanti. “Persiapan sudah matang pokoknya. 80% lah, jadi tinggal menunggu hari H-nya saja,” ujar Heru. Remaja kelahiran Lampung, 13 Februari 2002 itu, berharap seluruh anak muda dan masyarakat Indonesia dapat memberikan doa dan dukungan bagi dirinya dan seluruh atlet pelajar Indonesia agar sukses dan mampu mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia di pertandingan nanti. “Saya berharap didoakan untuk karir ke depan, semoga makin baik, membanggakan orangtua, dan negara. Bagi anak muda Indonesia, siapapun yang ingin menjadi atlet berlatihlah dengan sungguh-sungguh jangan malas, ingat orangtua, selalu berdoa, bahagiakan mereka, teruslah berlatih, raih mimpimu setinggi-tingginya,” lanjut Heru. Heru merupakan salah satu atlet junior cabang olahraga lontar martil yang kini masih menjalani studinya di Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan, dan duduk di bangku tingkat 3 Sekolah Menengah Atas (SMA) itu. Sejak kelas 1 SMA, Heru sudah mendalami latihan cabang olahraga lontar martil. Sebelumnya, ia pernah menggeluti bidang olahraga serupa namun beda cabang seperti tolak peluru, lempar lembing, lempar cakram, dan terakhir ia mantap menekuni cabor lempar cakram. “Awalnya kelas 2 SMP ikut atletik itu tolak peluru, terus meningkat ke lempar lembing, lempar cakram, dan saat masuk SKO Ragunan saya tertarik ikuti lompar martil,” tutur remaja yang hobi travelling itu. Baginya, mendalami suatu cabang olahraga yang sesuai dengan bidangnya merupakan hal yang penting. Setelah bergabung sebagai siswa di SKO Ragunan, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Heru akhirnya memutuskan fokus di cabang olahraga lontar matil. Ia mengakui bahwa salah satu motivasi besar dirinya memilih untuk menekuni lontar martil adalah karena faktor tubuh. Postur tubuh yang memang tergolong lebih besar dibandingkan remaja lain seusianya, membuat Heru mantap menekuni olahraga lontar martil. Sebab, cabang atletik lain yang sempat ia tekuni sebelumnya seperti lempar lembing justru membutuhkan speed yang tinggi sehingga agak sulit bagi Heru. “Mengenali potensi diri sangat diperlukan. Dengan demikian, kita tidak perlu menunggu orang lain untuk mengarahkan apa yang harus dijalani dalam hidup. Memahami apa yang mampu dilakukan oleh diri sendiri justru mempermudah seseorang untuk menemukan lingkungan dan orang-orang yang tepat untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan,” tukas Heru. (Adt)

Indonesia Bawa Pulang 20 Medali Dari SEA Age Group 2019 Kamboja

Kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 20 medali dari kejuaraan renang 43rd SEA Age Group Swimming Championship 2019 di Pnhom Penh, Kamboja

Kamboja-Kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 20 medali dari kejuaraan renang 43rd SEA Age Group Swimming Championship 2019 di Phnom Penh, Kamboja, 28-30 Juni 2019. Dari 20 medali, 10 merupakan medali emas yang disumbang Azzahra dan kawan-kawan. Total Indonesia membawa 10 emas, 3 perak dan 7 perunggu. Di hari terakhir, Minggu (30/06/2019), Indonesia menambah dua medali emas. Adelia menujukan bakatnya dengan meraih emas di nomor 200 meter gaya dada grup 2 (14-15 tahun) dengan catatan waktu 2 menit 38.18 detik. Ini merupakan emas ketiga Adelia, yang sebelumnya juga jadi juara di nomor 50 dan 100 meter gaya dada. “Senang banget, setiap hari dapat satu emas. Ini pencapaian luar biasa, karena mampu menyumbang emas pertama saya untuk Indonesia di SEA Age Group,” ucap Adelia dengan senyum lebar. Emas lainnya dipersembahkan Komang Adinda Nugraha nomor 50 meter gaya punggung grup 2 (14-15 tahun) 30.77 detik. Selain emas juga ada medali perunggu dari Cahya Erinjaya di nomor 200 meter gaya dada grup 2 (14-15 tahun) dengan waktu 2 menit 26.87 detik. Perunggu juga disumbang Rashief Amila Yaqin nomor 1500 meter gaya bebas putra grup 1 (16-18 tahun) 16:04,50 detik. Satu medali perak dipersembahkan Azzahra Permatahani di nomor 200 meter gaya dada putri grup-1 (16-18 tahun) 2:36.85 detik. Sebelumnya Azzahra sudah memperoleh empat medali emas, penyumbang medali terbanyak untuk Indonesia. Pelatih Kepala Tim Indonesia Hartadi Noertjojo menjelaskan hasil yang diraih timnya terbilang baik. “Secara keseluruhan peraihan prestasi adalah cukup baik, namun yang bisa menjadi garis besar adalah bahwa untuk pencapaian prestasi di level Age Group 3 (13 tahun kebawah) perenang kita masih sulit bersaing dengan negara-negara lain di kawasan Asean,” papar Hartadi. Lebih jauh, kata Hartadi, untuk grup 2 (14-15 tahun) hanya beberapa atlet yang memiliki prestasi cemerlang seperti Adelia dari Jawa Barat yang berhasil meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor Kelompok Umur Nasional atas nama dia sendiri yang belum genap berumur 1/2 tahun (tercipta di FAI 2019), Philomena Balinda (Jabar) emas di nomor 100 meter gaya punggung dan Cahya Erinjaya (Jawa Tengah) peraih medali perak serta Elysha Pribadi atlet DKI yang berlatih dan menuntut ilmu di Brisbane, Australia. Sedangkan dominasi penyumbang medali emas untuk tim Merah Putih justru di level 16-18 tahun yaitu Azzahra Permatahani yang sampai hari kedua sudah menumbangkan 4 medali emas di sela-sela persiapannya untuk mengikuti FINA World Junior Swimming Championships bulan Agustus depan di Budapest, juga perenang terbaik Indonesia di nomor 200 meter punggung Farrel Tangkas (Jabar) yang juga dipersiapkan bersama Azzahra ke Budapest. “Kesimpulannya bahwa PB PRSI harus lebih merapatkan barisan dengan Pengprov-pengprov serta Klub-klub renang di daerah untuk menggenjot pembinaan usia muda secara smart dan sistematis guna mengejar ketinggalan di prestasi usia muda mengingat mereka-lah yang kan menjadi generasi penerus di kemudian hari. Ancaman “lost generation” akan menjadi suatu kenyataan yang “mengerikan” jika kita bersama tidak segera melakukan action yang bisa menjadi way-out masalah ini. Basic piramid prestasi harus kita tingkatkan untuk meraih puncak piramida setinggi mungkin,” harapnya.

SEA Age Group Swimming Championship 2019, Indonesia Sabet 4 Emas, Azzahra Sumbang 2 Emas

Azzahra - Farrel - Adelia

Kamboja-Kontingen Indonesia menyumbang empat medali emas di hari pertama SEA Age Group Swimming Championship Ke-43 yang berlangsung di Kamboja, Jumat, 28 Juni 2019. Azzahra Permatahani menyumbang dua emas, sedangkan masing-masing satu emas disumbang Philomena Balinda Arkananta dan Adelia. Azzahra yang berada di grup-1 kategori usia 16-18 tahun, meraih emas pertamanya di nomor 400 meter gaya bebas putri dengan catatan 4 menit 26,32 detik. Medali perak juga diraih perenang Indonesia Prada Hanan Farmadini dengan catatan 4:26,45 detik. Emas kedua Azzahra dari nomor 200 meter gaya ganti putri grup-1, dengan catatan 2 menit 19,39 detik. Adelia yang berada di grup-2 (14-15 tahun) meraih medali emas di nomor 50 meter gaya dada putri dengan catatan 33,74 detik, mengalahkan perenang Vietnam dan Singapura. Di grup-2 (14-15 tahun), perenang Indonesia Philomena Balinda Arkananta juga menyumbang emas di nomor 100 meter gaya punggung putri dengan waktu satu menit 06,64 detik. Philo menyisihkan perenang Thailand dan Singapura. Indonesia juga mendapat medali perunggu lewat Azel Zelmi yang menempati posisi ketiga di nomor 100 meter gaya kupu-kupu putra grup-1. Azel mencatat waktu 56,72 detik.

Berikut hasil dari SEA Age Group di Kamboja

Phillo - Azzahra - Adelia

SEA Age Group Swimming Championship 2019 Indonesia Sabet 4 Emas, Azzahra Sumbang 2 Emas Kamboja, Kontingen Indonesia menyumbang empat medali emas di hari pertama SEA Age Group Swimming Championship Ke-43 yang berlangsung di Kamboja, Jumat, 28 Juni 2019. Azzahra Permatahani menyumbang dua emas, sedangkan masing-masing satu emas disumbang Philomena Balinda Arkananta dan Adelia. Azzahra yang berada di grup-1 kategori usia 16-18 tahun, meraih emas pertamanya di nomor 400 meter gaya bebas putri dengan catatan 4 menit 26,32 detik. Medali perak juga diraih perenang Indonesia Prada Hanan Farmadini dengan catatan 4:26,45 detik. Emas kedua Azzahra dari nomor 200 meter gaya ganti putri grup-1, dengan catatan 2 menit 19,39 detik. Adelia yang berada di grup-2 (14-15 tahun) meraih medali emas di nomor 50 meter gaya dada putri dengan catatan 33,74 detik, mengalahkan perenang Vietnam dan Singapura. Di grup-2 (14-15 tahun), perenang Indonesia Philomena Balinda Arkananta juga menyumbang emas di nomor 100 meter gaya punggung putri dengan waktu satu menit 06,64 detik. Philo menyisihkan perenang Thailand dan Singapura. Indonesia juga mendapat medali perunggu lewat Azel Zelmi yang menempati posisi ketiga di nomor 100 meter gaya kupu-kupu putra grup-1. Azel mencatat waktu 56,72 detik.

Indonesia Akan Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2034?

Stadin Utama Gelora Bung Karno. Foto:Prass/NYSN

Indonesia saat ini memiliki rencana untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 bersama Australia. Perihal ini diskusi sudah mulai dilakukan antara pihak PSSI dan Federasi Sepakbola Australia (FFA) untuk mewujudkan hal ini. Akan tetapi tentunya yang akan menjadi sorotan pastinya adalah fasilitas dan ketersediaan stadionnya, karena itu adalah tempat para pesepakbola top kelas dunia yang nantinya akan berlaga. Karena FIFA memiliki standar khusus untuk stadion-stadion yang akan dipakai, jika merujuk pada buku panduan Bidding Piala Dunia 2026 yang digelar di Meksiko, Kanada dan Amerika Serikat, ada berbagai macam syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah terkait dengan kapasitas. FIFA memiliki standar untuk stadion yang akan dipakai baik dari prosesi pembukaan hingga pertandingan final adalah minimal berkapasitas 80 ribu kursi. Sedangkan untuk pertandingan fase grup, babak 32 besar, 16 besar dan perempatfinal, stadion yang dipakai harus berkapasitas minimal 40 ribu kursi. Untuk pertandingan semifinal, stadionnya minimal berkapasitas 60 ribu. Sementara perebutan tempat ketiga minimal 40 ribu, dan laga puncak atau final minimal 80 ribu kursi. Sampai saat ini, jika diperhatikan Indonesia belum memiliki stadion yang berkapasitas minimal 80 ribu, bahkan sekelas Stadion Utama Bung Karno yang menurut design awal bisa menampung hingga 90 ribu tetapi sudah berubah menjadi 77 ribu, karena renovasi besar-besaran demi ajang Asian Games 2018 lalu. Walaupun begitu Indonesia punya beberapa stadion yang memang memiliki daya tampung minimal 40 ribu, yaitu Stadion Palaran, Gelora Bung Tomo, Stadion Kanjuruhan, dan Stadion Batakan. Walaupun stadion tersebut butuh renovasi akan tetapi masih layak untuk digunakan. Selain persyaratan stadion, FIFA juga mensyaratkan tuan rumah untuk menyiapkan fasilitas lainnya seperti hotel dan juga pusat latihan, jika melihat jumlah peserta di Piala Dunia 2024, maka Indonesia harus menyiapkan minimal 48 hotel dan pusat latihan. Selain itu, FIFA juga meminta venue latihan di masing-masing kota penyelenggara. Menilik Piala Dunia 2018 di Rusia, tiap kota punya 3 kompleks latihan. Sementara untuk Piala Dunia 2026, FIFA meminta antara 2 hingga 4 lokasi. Belum sampai di situ, FIFA juga meminta dibuatkan satu hingga 2 venue latihan dan hotel khusus untuk wasit. Diluar itu semua, ada kemungkinan persyaratan FIFA berubah dan beradaptasi dengan kondisi calon tuan rumah, namun dengan banyaknya fasilitas yang harus disediakan, apakh Indonesia mampu untuk mempersiapkannya?

LIMA Training & Workshop Kembali Digelar di UNJ

Ryan Gozali selaku CEO Liga Mahasiswa saat memberikan materi tentang Industri dan Management Olahraga

Liga Mahasiswa kembali menggelar acara untuk Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta melalui acara LIMA Training and Workshop (LTW) yang digelar di pusat Kajian Pengembangan Olahraga (Pusbangkor) selasa lalu (25/6). Tujuan LIMA pada acara ini adalah untuk memberi tambahan ilmu kepada para mahasiwa perihal industri olahraga sekaligus untuk mengembangkan potensi diri baik dari sisi hard skill maupun softskill. Kegiatan yang dibuka oleh Prof. Dr. Ahmad Sofyan Hanif, M.Pd., selaku Wakil Rektor III UNJ ini diisi oleh dua pembicara, yaitu Ryan Gozali selaku CEO LIMA dan Achmad Lanang selaku General Manager Umbro Indonesia. Ryan Gozali memberikan sesi pertama seputar Industri dan Manajemen Olahraga, dimana materi tersebut secara garis besar dibagi menjadi tig aspek, yaitu Sport Management, Sport Marketing, dan Sport Industry. Sementara pada sesi kedua Achmad Lanang bergiliran untuk menyampaikan materi tentang publikasi dan sponsorship. Pada materi ini beliau menjelaskan tentang publikasi melalui social media dan cara untuk mendapatkan sponsorship, “Jika ingin memiliki sponsorship, Anda harus memiliki daya jual,” ujar Achmad Lanang dalam presentasinya. Walaupun kegiatan ini bukanlah yang pertama kalinya diadakan di UNJ, tetapi acara ini tetap disambut secara antusias oleh para mahasiswa, selain UNJ LIMA akan juga menyambangi kampus-kampus lain di Indonesia.

Logo dan Maskot ASEAN School Games 2019 Resmi Diluncurkan, Gambarkan Multi Etnis

Logo dan maskot ASEAN School Games 2019 resmi diluncurkan di Jakarta. (Adt/NYSN)

Jakarta- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan Lembaga Pengelola Dana dan Usaha Keolahragaan (LPDUK), resmi meluncurkan logo serta maskot ASEAN School Games (ASG) 2019, di Jakarta. ASG 2019 akan berlangsung di Semarang, Jateng, pada 17-25 Juli mendatang, dan diikuti para pelajar dari 10 negara di kawasan Asia Tenggara. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), memuji makna dari logo dan maskot ASEAN School Games 2019. Menurutnya, logo dan maskot yang menggambarkan Kota Semarang, yakni ‘Warak Ngendog’ ini adalah keterpaduan yang sangat luar biasa tentang kebersaman dari perbedaan yang ada. “ASEAN School Games ingin mengabarkan pada dunia, khususnya di ASEAN, kalau ingin belajar tentang memaknai penghormatan, tentang perbedaan, maka belajarlah ke Indonesia,” ujar Imam, Selasa (25/6). Sementara itu, Taj Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jateng, menyebut ‘Warak Ngendog’ melambangkan Semarang yang multi etnis dan terdiri atas masyarakat yang heterogen. “Kami dari dulu duduk bersama dan terbiasa hidup dalam Unity, Spirit and Respect (tema ASEAN School Games) untuk membangun peradaban,” ungkap Taj. Taj juga mengucapkan rasa terima kasih-nya karena Semarang, Jateng, dipercaya sebagai tuan rumah ASEAN School Games 2019. “Kami berterima kasih mendapatkan penghormatan karena ditunjuk untuk menjadi lokasi terselenggaranya ASEAN School Games 2019 yang ke-11. Kami sampaikan bahwa Semarang sudah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari dan siap menyambut ini bersama Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Jateng, Sinung N Rachmadi, agar bisa terlaksananya acara ASEAN School Games, dimana seluruh persyaratan kami sudah persiapkan, utamanya tempat-tempat atau lokasi-lokasi diselenggarakannya ASEAN School Games 2019,” lanjut Taj. Ditambahkan Taj, bahwa Spirit, Unity, dan Respect yang diangkat pada tema ASEAN School Games 2019 ini akan memberitahukan kepada dunia bahwa Indonesia, khususnya di Jawa Tengah, sangat menjunjung tinggi persatuan, “Kami juga menjunjung sportifitas yang sudah dilakukan oleh bangsa dan negara Republik Indonesia, sekaligus persahabatan”, tukas Taj. (Adt)

Universitas Brawijaya Tuan Rumah POMDA Jatim Cabang Karate dan Bulutangkis

Universitas Brawijaya tuan rumah POMDA Jatim cabang karate dan bulutangkis. (istimewa)

Malang- Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur (Jatim), menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) tingkat Jawa Timur (Jatim). POMDA menjadi ajang mencari atlet kontingen yang akan berlaga di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) mendatang. Tahun ini, UB menjadi tuan rumah untuk cabang olahraga Karate dan Bulu Tangkis yang mulai dihelat pada 24-30 Juni 2019. Dan, diikuti oleh 162 atlet dari 19 perguruan tinggi di Jatim. Untuk cabang karate berlangsung di Gedung Samanta Krida, sedangkan Gelanggang Olahraga (GOR) Pertamina-UB untuk cabang bulutangkis. Upacara pembukaan POMDA Jatim ini dilaksanakan pada Senin (24/6/2019) di Gedung Samanta Krida. Kepada para kontingen, Sekretaris Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI), Sulistyorini mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya dilakukan di Malang. “POMDA dan SELEKDA juga dilaksanakan di Surabaya, Jember, Kediri, Madiun dan Bangkalan dan terdiri dari 22 cabang olahraga”, ujar Sulistyorini dikutip situs resmi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur (Jatim), Selasa (25/6). Melalui ajang ini, ia berharap dapat menjaring atlet berprestasi untuk POMNAS. Sementara itu, Nuhfil Hanani, Rektor UB, berharap ajang ini dapat menguatkan persaudaraan dan persatuan antar kontingen. “Baik di Jawa Timur maupun di tingkat nasional, semoga POMDA juga bisa menciptakan persatuan dan persaudaraan. Junjung sportivitas dan kejujuran dan ciptakan prestasi Jawa Timur,” tukas Nuhfil. (Adt)

Resmi Terima Laporan APG 2018, Kemenpora Apresiasi INAPGOC

Kemenpora resmi menerima laporan APG 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) resmi menerima hasil laporan akhir dari Tim Penyelesaian Laporan Akhir untuk Indonesia 2018 Asian Para Games, pada Jumat (21/6). Penyerahan itu dilakukan Ketua INAPGOC 2018, Raja Sapta Oktohari kepada Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto. Gatot mengapresiasi INAPGOC yang membuat gelaran Asian Para Games (APG) berlangaung sukses. Selain itu, Indonesia sebagai tuan rumah juga sukses dibidang prestasi olahraga. “Kami mengucapkan terima kasih kepada tim INAPGOC, yang telah menyelesaikan masalah distribusi aset BMN kepada sejumlah pihak terkait. Ini tidak hanya terkait dengan tindak lanjut temuan BPK, tetapi juga menunjukkan pada publik bahwa tim eks INAPGOC mampu membersihkan aset properti Asian Para Games pada pihak yang memang sangat membutuhkan,” ujar Gatot. Dalam kesempatan itu, Okto menyerahkan buku games legacy dan buku official report Asian Para Games 2018 kepada Gatot. Buku tersebut merupakan bagian dari sejarah olahraga Indonesia. “Ini menjadi acara sangat penting. Penyelenggaraan Asian Para Games 2018 berjalan dengan baik. Semoga ke depan ada event olahraga internasional, yang mana Indonesia bisa menjadi tuan rumah. Terima kasih kepada INAPGOC yang sudah bekerja dengan keras. Kami mengapresiasi, semoga jangan kapok untuk membantu Indonesia mempersiapkan event internasional lainnya,” tegas Gatot. Sementara itu, Okto juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan APG 2018. Ia sangat bersyukur pesta olahraga tersebut berjalan dengan baik. “Sampai dititik ini, ada catatan dua hal. Pertama, ini adalah ujian berat. Dan kedua adalah pembuktian. Ujian berat dengan waktu yang terbatas dan pengetahuan yang terbatas dan itu harus menyelesaikannya dengan tanggung jawab yang besar,” tutur Okto. “Kita mendapat hasil yang luar biasa. Pembuktian, Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang baik. Kita siap menjadi tuan rumah pada Olimpiade dan Paralimpiade dimasa mendatang. Terima kasih kepada Bapak Menpora dan Bapak Sesmenpora,” terangnya. Menurutnya, seluruh capaian INAPGOC, utamanya sukses penyelenggaraan dan sukses legacy, dituangkan dalam buku laporan akhir Asian Para Games 2018 dan buku legacy Asian Para Games 2018. “Laporan akhir Asian Para Games 2018 disusun dalam bahasa Inggris sebagai tanggung jawab Indonesia pada Asian Paralympic Commitee. Sedangkan buku legacy Asian Para Games 2018, adalah persembahan untuk bangsa Indonesia, sebagai capaian sejarah baru kita semua dalam menjunjung nilai kemanusian dengan semangat olahraga,” tutup Okto. (Adt)

Unika Soegijapranata, Semarang Ditunjuk Menjadi Tuan Rumah LIMA Baskteball CJYC Season 7

LIMA Basketball. (Foto:LIMA)

Lima Basketball Season 7 akan segera dimulai pada 9 Juli 2019. Turnamen Central Java and Special Region of Yogyakarta Conference (CJYC) ini akan dilaksanakan di Unika Soegijapranata Semarang selama 8 hari. Keputusan untuk memilih GOR Unika Soegijapranata sebagai tempat pelaksanaan LIMA Basketball CJYC adalah berdasarkan pengalaman dari kompetisi dua tahun terakhir ini di Yogyakarta. LIMA mentargetkan pemerataan pengembangan karakter mahasiswa yang terlibat dalam kompetisi ini, tidak hanya pemain, tetapi juga panitia pelaksana dan panitia pertandingan (Wasit, dll). Melihat bahwa LIMA dan Unika memiliki target yang sama dalam usaha pengembangan karakter dan softskill para mahasiswa di bidang olahraga, dan juga ditunjang oleh Venu Unika yang memenuhi standar penyelengaraan yang sesuai, maka ditetapkan lah GOR Unika Soegijapranata sebagai venue untuk musim ke 7 ini, yang diharapkan dapat bersama-sama meningkatkan karakter mahasiswa di Jawa Tengan dan di Yogyakarta. Sebelum penunjukan venu tersebut Unika juga sudah mengadakan kerjasama dengan PT. Bina Mahasiswa Indoensia yang berfokus pada pembinaan mahasiswa di bidang olahraga dan Pendidikan untuk wilayah Yogyakarta. (IHA)

Seleksi Tahap Kedua Timnas U-16 yang Diikuti oleh 37 Pemain Resmi Digelar

Pelatih TImnas Indonesia U-16, Bima Sakti.

Seleksi tahap kedua Timnas U-16 dimulai. Total 37 pemain dipanggil oleh pelatih Timnas Indonesia U-16, Bima Sakti untuk mengikuti seleksi. Seleksi tahap kedua tersebut diselenggarakan di stadion Wibawa Mukti Cikarang, Rabu (19/6/2019) yang diambil dari Skuat Garuda Muda untuk menghadapi piala AFF U-15 Bima Sakti fous untuk mencari pemain untuk semua posisi, karena Ia ingin memiliki pemain yang punya kemampuan setara. “Seleksi tahap kedua ini diisi gabungan antara pemain yang sudah menjalani seleksi tahap pertama dan beberapa orang pemain baru. Tujuannya adalah untuk melihat dan mencari lagi pemain lain dalam mengisi pos-pos yang saya rasa perlu,” ujar Bima yang dilansir dari situs PSSI. “Hari ini (kemarin) kami latihan penyesuaian, dan pemulihan kondisi. Di sisi lain, saya sudah memiliki kerangka tim. Nantinya saya ingin di setiap posisi di isi dua sampai tiga pemain dengan kualitas dan kemampuan yang setara,” kata dia. Timnas U-16 akan berlaha pada ajang Piala AFF 2019 yang akan diadakan pada 19 Juli hingga 9 Agustus 2019 di Thailand. Indonesia duduk di Grup A yang akan bersaing dengan Myanmar, Vietnam, Timor Leste, Singapura, dan Filipina. Sementara pada bulan September mendatang ada kualifikasi Piala Asia, Indonesia tergabung dalam Grup G bersama China, Brunei Darussalam, Filipina, dan Kepulauan Mariana Utara. Dimana Indonesia yang akan menjamu sebagai tuan rumah. Berikut adalah daftar nama pemain seleksi tahap kedua Timnas Indonesia U-16: Kiper: I Made Putra Kaicen (Bali United), Muhammad Assyurah Al Faqih (PSM) Nevin Geraldo Kosasih (Perseru). Belakang: Marcell Januar Putra, Kadek Arel Priyatna (Bali United), Muhammad Khakim Al Mukhasibi (Bhayangkara FC), Andhika Dwi Kartika (TIRA Persikabo), M Fajar Setiawan (Persija), Mochamad Aditya Rangga Saputra (Borneo FC), Ferre Murari (Binter Football Academy), Isya Alfiah Dattul Kahfi (PPLP Sumbar). Tengah: Resa Aditya Nugraha (TIRA Persikabo), Marselino Ferdinan, Ruy Arianto (Persebaya), Fiore Rafli Alifasyah Zainal, Tangguh Chesta Adabi (Persija), Dimas Juliono Pamungkas, Diandra Diaz Dewari (Persib), Mikael Alfredo Tata, Richardo Kaka Izecson Youwe (Persipura), M Risman Firman (Bontang), Muhammad Syadid Makamirulmu’ayyad (Elite Soccer Academy Jawa Power), Ahmad Athallah Araihan (SKO Ragunan), Ade M Nur Saitua (Binter Football Academy), Muhammad Aulia Abidarda (Tenggarong). Depan: Wahyu Agung Drajat Mulyono (Persebaya), Mochamad Faizal Shaifullah (Persela), Nindya Nur Lukito (PSS), Franciscus Valentino Amaral (PIS), Alexandro Felix Kamuru, Adil Nur Bangsawan, Aditya Daffa Al Haqi (Barito Putera), Achmad Diaz Trianto (Elite Soccer Academy Jawa Power), Muhammad Valeron, Dafa Fikri Maulana (Persib), Wahyu Pratama (Borneo FC), Muhammad Aristya Alfareza (Surabaya).(IHA)

Kembar Ana dan Ani, Petenis Muda Andalan Merah Putih di ASEAN Schools Games 2019

Si kembar Ana dan Ani menjadi andalan Indonesia di ASG 2019, di Semarang, Jawa Tengah. (Kemenpora)

Nama lengkapnya Fitriana dan Fitriani, dua perempuan kembar yang biasa disapa Ana dan Ani ini menjadi salah satu atlet muda yang menjadi andalan Indonesia di cabang olahraga tenis. Salah satu ajang internasional yang akan dihadapi petenis remaja kelahiran Tangerang, Banten, 13 Februari 2001 itu, dalam waktu dekat yakni ASEAN Schools Games (ASG) 2019, di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), pada 17-29 Juli. Berawal dari melihat sang kakak si Ani bermain tenis, Ana pun mulai tertarik dan mengikuti jejak sang kakak pada usia 8 tahun. Di situlah si kembar ini mulai dilatih oleh sang ayah, Nursalim yang juga pelatih untuk mulai menggeluti dunia tenis tersebut. “Motivasi awal terjun ke dunia olahraga tenis ini karena awalnya aku memang suka tenis, terus dilatih oleh ayah. Kemudian melihat aku mainnya bagus, banyak dikenal orang, Ana jadi ikutan main. Dari awal memang kami dilatih oleh Ayah. Ayah itu sabar banget, ngerti kalau kita lagi capek, lagi kurang bagus mood-nya. Nggak pernah dipaksa, cuma disemangatin terus,” ujar Ani dikutip dari situs resmi Kemenpora, Selasa (18/6/2018). Semenjak itu, di bawah bimbingan sang Ayah mulai mengikuti sejumlah kejuaraan tenis pada nomor ganda putri. Pada usia 15 tahun, Ana dan Ani berkesempatan mendalami karir sebagai atlet junior profesional di bawah binaan PPLP (Pusat Pembinaan dan Pelatihan Pelajar) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Saat ini, si kembar Ana dan Ani sudah tercatat sebagai atlet junior lapis satu. Bakat yang dibina dan terus diasah sejak kecil akhirnya mulai menampakkan hasil yang gemilang. Pada usia 17 tahun Ana dan Ani menyumbangkan medali emas bagi Indonesia pada ajang multievent atlet pelajar ASG 2018, di Malaysia, pada nomor ganda putri. Sebelumnya, remaja kembar ini juga tercatat sebagai Finalist Double Women Circuit 15. Sampai sekarang remaja kembar tersebut mengaku masih dilatih dan terus dibimbing oleh Nursalim. Karena bagi Ana dan Ani apa yang mereka raih hari ini barulah awal dari sebuah perjuangan yang sebenarnya. Perjuangan yang lebih berat dan lebih panjang, sebab mereka memiliki cita-cita yang tinggi untuk mengharumkan nama Indonesia, khususnya melalui olahraga tenis lapangan. Sebagai salah satu langkah mewujudkan cita-cita tersebut, tahun ini Ana dan Ani dikabarkan akan kembali bertanding pada ajang ASG 2019 yang akan digelar pada Juli nanti di Semarang, Indonesia. “Kalau ASEAN School Games (ASG) mungkin persiapannya udah 90 persen ya, kebetulan 2 bulan besok (Juni sama Juli) kita juga ada tanding. Mungkin ASG itu penutupan,” tutur Ana. Hingga saat ini, keduanya konsisten untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. Ana dan Ani optimis dapat kembali menyumbangkan medali emas bagi Indonesia. Mereka mengaku bahwa sejauh ini persiapannya sudah matang, kendala-kendala selama latihan juga dapat teratasi dengan baik. Ana dan Ani menyatakan sudah siap diminta turun pada ASG 2019. Ke depannya, petenis kembar ini bercita-cita terus bermain bersama hingga go internasional. Keduanya juga berharap dapat bermain di salah satu kompetisi WTA (Women’s Tennis Association) serta menyumbangkan sebanyak mungkin medali emas untuk Indonesia.

Queendy Masuk Lima Besar Singapore Nations Figure Skating Championship

Queendy Shareefa Adhiesty siswi SDI Al Azhar BSD Kelas 5 yang mengikuti kejuaraan Singapore Nations Figure Skating Championship

Tangerang – Kembali, siswi SD Islam Al Azhar BSD meraih prestasi membanggakan di ajang kejuaraan tingkat Internasional sekaligus membanggakan Indonesia atas raihan prestasinya. Kali ini, Queendy Shareefa Adhiesty siswi SDI Al Azhar BSD Kelas 5 yang mengikuti kejuaraan Singapore Nations Figure Skating Championship meraih lima besar yang diikuti sebanyak 15 negara pada 30-31 Maret lalu. Dalam ajang tersebut, Queendy masuk di kategori future stars girls under 9th. Queendy berhasil masuk kelima besar dengan meraup 14,87 poin. Menurut Queendy, saat menuju rink es dirinya sempat gugup. Namun, dirinya hanya fokus untuk tidak terjatuh dan memberikan hasil yang terbaik bagi Indonesia maupun klub yang dibelanya yakni BX Rink. “Ya kan soalnya di Indonesia itu enggak kaya luar negeri. Kalau di luar negeri sudah punya fasilitas yang lengkap. Tapi berusaha enggak jatuh, kalau jatuh dikurangin lima point,” ujar Queendy, Jumat (14/6/2019). Queendy seakan berdansa di lintasan es yang begitu besar dengan waktu yang diberikan oleh dewan juri 1 menit 30 detik. Putri kedua dari pasangan Mustika Sari dan Didi Nuryanto ini, selalu mendapat dukungan dari orangtua. “Aku dari kecil, dari umur 5 tahun udah suka main ice skating, tapi cuman main-main aja. Fokus mulai kelas 4 SD. Suka sama ice skiting, karena seru aja loncat-loncat di atas es terus pengen nyoba,” ucap siswi kelahiran Tangerang, 14 November 2008. Kini dirinya, memfokuskan diri untuk mengikuti kejuaraan di Malaysia dan Kejurnas yang akan berlangsung dua tahun lagi. “Abis lebaran persiapan buat ikut skating Malaysia, abis lebaran. Nanti bulan puasa juga tetep latihan mendekati lomba. Terus target buat Kejurnas dua tahun lagi, karena kan tahun depan aku ujian. Jadi harus nyiapin buat ujian,” ungkapnya. Prestasi Queendy selain di Singapore yakni di ajang Skating Asia di Bangkok, Thailand juara 1 pada 2018. Skating di Bandung juara 1 dan 2 pada tahun 2015-2016. Kejurnas peringkat 4 tahun 2019. Dan ISSO BX Juara 2 tahun 2019. Kepala SDI Al Azhar BSD, Dedi Hidayat mengaku bangga atas pencapain siswanya yang berhasil menorehkan prestasi di ajang Internasional. “Queendy itu anak baik, prestasi akademik dan prestasi non akademik juga bagus. Saya turut bangga atas prestasi Queendy. Apalagi Queendy ini juga ikut tim OSN Matematika. Jadi prestasi dia sangat seimbang. Pelajaran oke dan olahraga juga oke,” papar Dedi. (Lan)

Dilema dan Persiapan Liga 2 Yang Akan Dimulai Seminggu Lagi

Liga 2 akan segera bergulir, akan tetapi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) belum bisa memberikan pernyataan khusus tentang ini dikarenakan ada beberapa masalah yang terjadi di badan klub. Rencananya akan ada 23 klub yang akan bermain di kompetisi tersebut yang terbagi menjadi, sebelas klub untuk timur, dan 12 lainnya bermain di wilayah barat. Walaupun kompetisi ini akan digelar pada 22 juni 2019 mendatang akan tetapi baru tiga klub yang sudah menyerahkan data, walaupun terbilang belum sempurna. Tiga klub tersebut adalah Persatu Tuban, PSIM Yogyakarta, dan Persis Solo dan sisanya masih memerlukan komitmen dan pakta integritas perihal kondisi internal masing-masing klub. “Kami belum bisa mengeluarkan rekomendasi karena belum layak. Banyak faktor khususnya bersifat administratif yang harus segera dilengkapi oleh klub,” kata pelaksana tugas Sekretaris Jenderal BOPI, Sandi Suwardi Hasan, yang dilansir dari Detiksports, di Kantor BOPI, Kemenpora, Senayan, Kamis (13/6/2019). “Kebanyakan itu izin usahanya tidak sesuai, beberapa daerah seperti Mitra Kukar. Kalau mau bikin PT kan jelas bergerak di bidang apa biar jelas. Klub sepak bola kan ada klausulnya, kalau Mitra Kukar (perusahaannya bidang) perdagangan barang dan jasa, Persiba Balikpapan ekspor dan impor, Solo perdagangan eceran. Tapi ada beberapa yang tertib seperti Serang badan hukumnya sepakbola. Itu kan sering kali bisa jadi modus mereka bikin-bikin biar dapat proyek di pemerintahan kota dan itu tidak sesuai,” dia menjelaskan. “Yang paling penting surat bebas tunggakan belum semua lengkap karena ada beberapa bermasalah, yang kami tahu kan Sriwijaya FC, PSPS Riau, PSMS Medan, masih kurang. Kami akan cek terus bila diperlukan, kami akan turun ke lapangan, baru diputuskan bakal keluarkan rekomendasi atau tidak,” ujarnya menambahkan. PT LIB selaku operator kompetisi tersebut diminta untuk lebih proaktif untuk menyempurnakan data-data tersebut ke klub masing-masing “Jadi hal-hal sebelumnya yang sudah ditemukan tidak boleh terjadi lagi. Kami ingatkan PSSI dan Komisi Disiplin untuk tidak main-main dengan hal ini. Intinya kami akan monitor itu semua,” kata Sandi mempertegas. (IHA)

Hambali, Atlet Sepakbola SKO Ragunan yang Mendunia

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menerima Ananda M Hambali Tolib di Kantor Kemenpora Senayan, Jakarta. (Kemenpora)

Jakarta- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menerima Ananda M Hambali Tolib, atlet sepakbola muda yang akan mengikuti trail di Eropa. Pesepakbola yang kini bernaung di Persela Lamongan tersebut merupakan jebolan Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan Jakarta binaan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Tak disangka, hasil kerja keras yang merupakan pilihan sendiri sejak kecil, sejak berlatih di SSB Tiga Raksa Soccer School kini bernama Bhayangkara Tiga Raksa Football School yang bermarkas di Kabupaten Tangerang, Banten itu berlanjut ke SKO Ragunan, kini mulai nampak hasilnya dengan pengakuan dunia khususnya dari belahan Eropa. “Pak Menteri tak disangka, Hambali dihubungi agen dari Eropa untuk trial selama satu bulan dari 13 Juni – 20 Juli, Insha Allah besok (Kamis, 13/6) jam 19.00 WIB berangkat. Mohon Pak Menteri berkenan melepas dan memberikan arahan,” pinta Sutrisna, ayah Hambali yang setia mendampingi. Mendengarkan penyampaian orang tua dan Hambali atas undangan uji latih dari Eropa tersebut, Imam menaruh harapan besar agar menorehkan kesuksesan dan sekembalinya dapat menjadi idola baru anak muda di dunia kulit bundar sebagai salah satu cabang olahraga yang sangat populer di masyarakat. “Sukses ya Hambali. Semoga berhasil menjadi pemain sepakbola yang mampu mengharumkan tidak saja keluarga, tapi untuk Merah Putih. Ini bukti dunia mengakui kualitas pemain Indonesia, sukses untuk SSB Tiga Raksa dan SKO Ragunan yang terus melahirkan atlet bertalenta,” tambahnya. “Mari kita lepas dengan doa agar Hambali sukses, dapat berkiprah di Timnas dan semoga dapat merumput di Madrid sebagaimana cita-citanya,” tukas menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu. Sedangkan Hambali menyampaikan terima kasih atas dukungan sekaligus doa dari Menpora dan seluruh yang hadir mengiringi keberangkatannya ke Eropa. (Adt)

Gelaran SEA Games 2019 Makin Dekat, Pemerintah Belum Tetapkan CdM Kontingen Indonesia

Menpora Imam Nahrawi mengakui pihaknya belum menetapkan nama untuk menjadi CdM SEA Games 2019 Filipina. (Kemenpora)

Jakarta- Hajatan olahraga terbesar se-Asia Tenggara atau SEA Games 2019 bakal dihelat pada 30 November hingga 11 Desember ini di Filipina. Namun, hingga kini, Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) belum menentukan sosok yang akan menjadi Chief de Mission (CdM) atau Ketua Kontingen Indonesia pada pesta multievent dua tahunan tersebut. Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengakui pihaknya belum menetapkan satu nama yang akan dipilih menjadi CdM untuk SEA Games 2019 Filipina. “Untuk CdM belum. Nanti akan secepatnya ditunjuk,” ujar Imam usai menggelar Halal Bihalal bersama keluarga besar Kemenpora, di Auditorium Kemenpora Senayan, Jakarta, Selasa (11/6). Menurut Menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, peran CdM sangat strategis sekaligus penting untuk mengkomunikasikan semua hal menyangkut kesiapan kontingen serta berbicara dengan panitia. “Peran CdM sangat penting, terutama kalau nantinya ada kesulitan di lapangan,” lanjutnya. Ditambahkan suami dari Shobibah Rohmah itu, bahwa penunjukan CdM Kontingen Indonesia harus merupakan sosok berpengalaman dalam memimpin cabang olahraga (Cabor). “CdM itu setidaknya pernah memimpin cabang olahraga, biar ada kedekatan emosional. Dengan pengalaman me-manage, sampai tahu tentang kebutuhan tim dan teknis di lapangan,” tukas jebolan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur itu. (Adt)