Empat Atlet Junior Indonesia Latihan di Belanda, Bidik Olimpiade Paris

Empat Atlet Junior Indonesia Latihan di Belanda, Bidik Olimpiade Paris

Sebanyak empat atlet sepeda BMX junior Indonesia akan mengikuti BMX World Championship U-18 di Papendal, Belanda 17-22 Agustus 2021. Kemudian, setelah tampil di BMX World Championships U-18, empat atlet junior tersebut akan melanjutkan program pelatihan (staycamp) selama tiga tahun di Belanda demi mengumpulkan poin dan mempersiapkan Olimpiade Paris 2024. Empat atlet Indonesia tersebut adalah Aditya, Alfauzan, Jasmine Azzahra, dan Amellya Nur Sifa. Rencananya, para atlet junior ini akan berangkat ke Belanda pada Senin (16/8/2021) pagi dengan didampingi dua pelatih, Toni Syarifudin dan Ari Kristanto. “Target mereka di BMX World Championship U-18 adalah untuk memperbaiki peringkat dunia secara individu dan negara,” ujar Sekjen PB ISSI, Parama Nugroho. “Setelah hampir 1,5 tahun tidak mengikuti kompetisi, peringkat para atlet pun ikut terdampak. Selain itu, juga untuk menambah jam terbang perlombaan para atlet junior yang untuk pertama kali menjajal Sirkuit BMX Supercross di Belanda,” tuturnya. Melalui program ini, diharapkan para atlet mampu meningkatkan performa dan skill mereka dalam bersepeda BMX. Keempat atlet juga akan mendapatkan pengalaman latihan yang berbeda dan didukung oleh beragam fasilitas olahraga standar internasional. Kompetisi yang diagendakan untuk diikuti keempat atlet tersebut adalah World Cup, European Series, dan C1 Series. “Selama di Belanda para atlet juga diharapkan bisa menaikkan performasnce dan skill mereka dengan sistem kepelatihan modern di sana,” kata Parama menambahkan. “Sebab, target utama dari staycamp itu adalah supaya atlet BMX junior Indonesia bisa lolos ke Olimpiade Paris 2024,” tuturnya. Sebagai informasi, saat ini Belanda menjadi negara terbaik di dunia untuk balap sepeda. Di Olimpiade Tokyo 2020 lalu, misalnya, Belanda berhasil meraih medali perunggu BMX putri dan medali emas BMX putra. Jelang keberangkatan, para atlet dan pelatih terlebih dahulu diterima Ketua Harian PB ISSI, Wahyu Hadiningrat. “Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh atlet atas semangat dan dedikasinya dalam mengikuti setiap program pelatihan,” ujar Wahyu. “Saya menitipkan pesan supaya atlet selalu semangat dalam menjalankan seluruh proses latihan sehingga dapat memberikan performa terbaiknya di setiap kompetisi yang diikuti. Di situasi pandemi Covid-19, para atlet juga harus selalu menjaga kesehatan dan selalu waspada akan penyebaran virus Covid-19 di mana pun berada,” ia memungkasi. Sumber: Skor.ID

Pecahkan Rekor Pendahulu, Zohri Sprinter Indonesia Tercepat di Olimpiade

Pecahkan Rekor Pendahulu, Zohri Sprinter Indonesia Tercepat di Olimpiade

Zohri memang belum berhasil menyumbang medali untuk Indonesia pada Olimpiade Tokyo 2020. Pelari asal Lombok itu kalah cepat dengan atlet kelas dunia lainnya. Namun, ada rekor lain yang berhasil terpecahkan oleh Lalu Muhammad Zohri. Ia mencatat sejarah baru sebagai sprinter Indonesia tercepat di ajang Olimpiade. Zohri sukses menjadi atlet tercepat di nomor 100 meter putra di pesta olahraga terbesar sedunia tersebut. Pada babak pertama heat keempat, Zohri finis di urutan ke-5 dengan catatan waktu 10,26 detik. Lalu, siapa sajakah mantan pelari Indonesia yang mampu dilampaui rekornya oleh Zohri? Yang pertama ada nama Jalal Gozal. Pada Olimpiade Melbourne 1956, Jalal Gozal memiliki catatan waktu 11,45 detik. Kemudian berlanjut di Olimpiade Roma 1960, ada Johannes Gosal yang mencatatkan waktu 10,90 detik. Lalu, pada ajang Olimpiade Los Angeles 1984, Indonesia memiliki dua wakil di nomor 100 meter putra. Yang pertama Mohamed Purnomo dengan catatan 10,51 detik, kemudian ada Christian Nenepath yang dengan waktu 10,66 detik. Berlanjut di Olimpiade Seoul 1988, Indonesia diwakili Mardi Lestari dengan mencatatkan waktu 10,39. Masuk ke Olimpiade Sydney 2000, terdapat tiga wakil, yakni John Herman Murray mencatatkan 10,68 detik, Yanes Raubaba lebih cepat dari John, dirinya berhasil catat 10,54 detik. Lalu Erwin Heru Sutanto menempati posisi enam dengan waktu 10,87 detik. Di Beijing 2008, ada Suryo Agung yang mampu mencatatkan waktu 10,46 detik. Sementara di London 2012, ada Fernando Lumain dengan catatan 10.90 detik yang lolos ke perempat final namun finish kedelapan. Di Olimpiade Rio 2016, Sudirman Hadi terhenti di putaran pertama. Dia mencatatkan waktu 10,70 dan menempati posisi sembilan. Dengan pencapaian yang terbilang luar biasa ini, tentu saja ini bisa menjadi harapan ke depan bagi Indonesia untuk Zohri bisa tampil lebih baik lagi di Olimpiade Paris 2024, mengingat usianya yang masih sangat muda yakni 21 tahun. Sumber: Sindonews.com

Kisah Perjuangan Riley Day, Dari Supermarket Hingga Olimpiade

Kisah Perjuangan Riley Day, Dari Supermarket Hingga Olimpiade

Pelari muda Australia, Riley Day, mungkin gagal membawa pulang medali dari Olimpiade Tokyo 2020. Akan tetapi, tampil di Olimpiade Tokyo 2020 merupakan prestasi tersendiri bagi Day yang bekerja sebagai pegawai supermarket. Day berkompetisi di nomor 200 meter putri Olimpiade Tokyo 2020 nomor 200. Penampilannya pun cukup baik. Atlet berusia 21 tahun itu menembus semifinal. Akan tetapi, Day tidak bisa melanjutkan kiprahnya ke final karena hanya berada di urutan keempat. Namun, daya tarik dari atlet muda itu bukan pencapaiannya di Olimpiade Tokyo 2020, melainkan latar belakangnya. Day adalah seorang pegawai sebuah supermarket di Australia Day telah menghabiskan tiga tahun bekerja di salah satu supermarket ternama, Woolies. Dia ditempatkan di salah satu cabang, di Queensland. Dalam rutinitasnya sehari-hari, Day hanya libur pada Minggu. Meski sangat sibuk dengan pekerjaannya, atlet asal Negeri Kangguru itu tidak patah semangat. Day berlatih kurang lebih tiga jam sehari, enam kali seminggu. Selain itu, dia juga mengikuti kuliah di Universitas Griffith. “Saya menjalani banyak latihan dan aktivitas lainnya. Itu sangat melelahkan,” ujar Day dilansir dari News, Sabtu (6/8/2021). Day tampil di Olimpiade Tokyo 2020 tanpa sponsor. Dia sempat meminta para penggemar barunya untuk mem-follow media sosialnya. Menariknya, para suporter sempat ingin mencarikan Day sponsor untuk membantunya meraih medali. Akan tetapi, satu-satunya sponsor yang tetap setia bersama Day adalah kantornya sendiri, Woolies. Selama Day berada di Tokyo, pihak supermarket telah menyatakan, bahwa atlet muda itu tetap menerima gaji meski dirinya absen. Dengan demikian, semoga segala bentuk dukungan yang diterima Riley Day dapat membantunya melangkah lebih jauh lagi. Day diharapkan konsisten tampil apik dalam setiap ajang yang diikutinya. Meski gagal di Tokyo, Day masih punya peluang untuk meraih medali di Olimpiade Paris 2024. Sumber: Okezone

Baru Berusia 14 Tahun, Atlet Asal Tiongkok Ini Sabet Medali Emas Olimpiade

Baru Berusia 14 Tahun, Atlet Asal Tiongkok Ini Sabet Medali Emas Olimpiade Tokyo 2020

Luar biasa. Mungkin kata itu yang cocok diberikan untuk Quan Hongchan. Ia tidak hanya mampu menyabet medali emas, namun juga meraih skor hampir sempurna dalam cabang olahraga loncat indah di Olimpiade Tokyo 2020 pada Kamis (5/8/2021). Melansir The Straits Times pada Kamis (5/8/2021), Quan melakukan debut internasional yang baik di Tokyo Aquatics Centre. Quan yang baru berusia 14 tahun pada Maret, merupakan atlet termuda yang mewakili Tiongkok di Olimpiade Tokyo, tetapi dia berhasil menyelesaikan lontacan 10 meter putri dengan skor 10 dari ketujuh juri pada ronde kedua dan keempat. Quan melompat dengan postur sempurna dan gerakan tajam saat dia melompat dari papan kolam renang, disebut dalam NBC Olympics ia terlihat seperti seorang penyelam veteran di usia 14 tahun. Di akhir penampilannya disambut sorak-sorai atlet loncat indah Tiongkok lainnya dengan mengibarkan bendera negara, seperti Shi Tingmao, atelt loncat indah papan 3 meter putri, dan Xie Siyi, atelt loncat indah papan 3 meter putra. Quan yang memiliki tinggi 143 cm, terlihat imut menerima medali emas di podium. Quan telah mencetak total 466,20, menjadi wanita termuda kedua yang meraih emas di ajang loncat indah internasional. Sebelumnya, rekan senegaranya Fu Mingxia memenangkan medali emas di usia 13 tahun di Olimpiade Barcelona pada 1992. Disebutkan oleh NBC Olympics, juara muda Olimpiade internasional ini berusaha berprestasi dalam cabang olahraga loncat indah sebagai cara untuk membantu biaya pengobatan ibunya yang memiliki penyakit yang membutuhkan perawatan sepanjang tahun. Quan mengatakan bahwa orang tuanya berpesan, “mengatakan kepada saya untuk tidak gugup, bahwa tidak masalah jika saya mendapatkan medali atau tidak, tetapi tetaplah menjadi diri saya sendiri”. “Kata-kata itu sangat membantu saya,” ujar Quan, mengatakan dia berencana untuk makan latiao, street food Tiongkok yang populer, untuk merayakan malam ini. Quan mengungkapkan dia sangat emosional, “Saya merasa semua usaha saya terbayar,” “Bahkan kalau saya tidak juara, medali perak sangat berarti bagi saya,” ungkapnya. Melissa Wu dari Australia (29 tahun), peraih perunggu dengan skor 371,40 dalam rival Quan, mengatakan dia sangat bangga pada dirinya sendiri dan mengagumi para atlet loncat indah Tiongkok tersebut. “Mereka luar biasa untuk ditonton dan saya selalu mengagumi semua peloncat indah Tiongkok,” ujar Wu. “Saya benar-benar mencoba untuk meniru etos kerja mereka dan saya sangat senang bahwa mereka juga memiliki kinerja yang sangat baik hari ini,” imbuhnya. Tiongkok telah menyabet medali emas di semua cabang loncat indah sejak Olimpiade Beijing 2008.

Menuju Olimpiade Paris 2024, FPTI Bidik 4 Atlet Muda Panjat Tebing

Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid mengaku telah memiliki gambaran calon tim utama di Olimpiade Paris 2024. Pemisahan nomor speed dari kombinasi dengan lead-boulder membuat Yenny Wahid optimistis Indonesia akan meraih prestasi. “Olimpiade 2024 nanti bisa jadi momen bagi insan panjat tebing kita, terutama para atlet kita untuk bisa berjaya, untuk bisa kembali merajai, dan menjadi paling the best,” ujar putri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid tersebut, Rabu (4/8/2021). Setidaknya ada empat nama kandidat yang telah dibidik FPTI untuk masuk dalam skuad utama panjat tebing Indonesia menuju Paris 2024. Yenny Wahid menyebutkan atlet incaran tersebut masih berusia belasan dan akan mencapai usia emas saat Olimpiade Paris, tiga tahun lagi. Siapa sajakah keempat proyeksi atlet tersebut? Yang pertama ialah Rahmad Adi Mulyono asal Jawa Timur. Saat ini Rahmad baru 19 tahun. Ia pernah memenangi IFSC Connected Speed Knockout, pada 2 Agustus 2020 lalu. Selanjutnya, ada duo Veddriq Leonardo (Kalimantan Barat) dan Kiromal Katibin (Jawa Tengah) juga masuk radar FPTI menuju Olimpiade Paris 2024. Duo atlet putra panjat tebing Indonesia itu menorehkan prestasi luar biasa pada IFSC Climbing World Cup 2021 di Amerika Serikat dan Swiss. Bahkan, Veddriq Leonardo meraih back-to-back medali emas untuk nomor speed putra di dua ajang kelas dunia panjat tebing tersebut. And that's it! Veddriq Leonardo wins it! 🇮🇩 Watch more sport climbing on https://t.co/RG08DMKMzK 🧗#VillarsWC #ClimbingSurOllon pic.twitter.com/ot8D7CyoBf — The Olympic Games (@Olympics) July 2, 2021 Satu nama terakhir yaitu atlet putri Desak Made Rita Kusuma Dewi, FPTI membidik Rita yang finis keempat saat berlaga di Swiss, bulan lalu. “Rita itu bisa lebih lagi prestasinya. Pada prakualifikasi angkanya nomor tiga,” tutur Yenny Wahid soal alasan FPTI membidik atlet muda Bali itu dalam rilis FPTI. “Pas pertandingan agak enggak mujur, enggak bisa sampai atas. Tergelincir. Ini nasib. Tapi, secara hitungan, dia sudah dapat waktu. Sudah bisa memecahkan itu,” lanjut Yenny. Untuk tim pelapis kedua dan ketiga, FPTI akan mengincar pemain junior yang akan menuju usia remaja ketika Paris 2024 tiba. “Makin muda saat mendalami olahraga ini, makin terbentuk muscle memory-nya atau memori ototnya,” ia menambahkan. “Misalnya, Katibin, mulai dari usia 8 tahun. Penting sekali. Kalau betul-betul ada bakat dan minat dan ketemu dengan FPTI, pasti bisa kami fasilitasi,” pungkasnya.

4 Pebiliar Muda Indonesia Ikuti Turnamen Internasional di Amerika Serikat

4 Pebiliar Muda Indonesia Ikuti Turnamen Internasional di Amerika Serikat

Sebanyak 4 atlet junior biliar Indonesia akan mengikuti turnamen internasional biliar di Las Vegas, Amerika Serikat. Keempatnya diikutsertakan oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI). Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB POBSI, Achmad Fadil Nasution mengatakan empat atlet muda biliar telah diikutsertakan dalam pertandingan berskala internasional di Las Vegas, Amerika Serikat. Menurut penuturannya, para atlet telah berlatih di daerah masing-masing dengan pemantauan dari pelatih nasional PB POBSI. “Dalam situasi PPKM ini atlet sementara berada di daerah masing-masing dalam pemantauan dan tetap berkordinasi dengan pelatih nasional dari PB POBSI. Seminggu menjelang keberangkatan PB POBSI akan melaksanakan pemantapan dengan pemusatan latihan penuh di Puslatnas POBSI,” kata Achmad Fadil Nasution. Empat atlet muda biliar kini sedang serius berlatih menyiapkan diri sebelum berlaga di 2021 Predator WPA World Junior Championships di Rio All-Suite Hotel & Casino, Las Vegas, Amerika Serikat pada 9-11 September 2021. Adapun keempat atlet muda itu ialah, Derin Asaku Sitorus dari DKI Jakarta, Albert Januarta dari Kepulauan Riau, Brian Axel Ferdian dari Jawa Tengah dan Annabella Putri Yohana dari Jawa Timur. Derin akan bertanding di nomor 9 Ball U-16 Boys di turnamen kali ini. Dia mengaku yakin dapat memberikan prestasi terbaik bagi Indonesia. Derin tetap berlatih serius di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19. Dia pun meminta dukungan dari masyarakat Indonesia. “Tetap berlatih di beberapa tempat biliar yang masih buka dengan protokol kesehatan yang ketat dan juga berolahraga fisik. Latihan mandiri menjaga diri membatasi aktivitas di luar sesuai arahan PPKM pemerintah DKI. Yakin bisa memberikan yang terbaik semoga menjadi juara karena peluang di grup junior terbuka lebar siap bersaing,” ujar Derin Asaku Sitorus. Derin kaya akan prestasi. Di level nasional, dia pernah menyabet gelar Juara 1 Turnamen Bola 9 HC 4 POSH Tangerang, Juara 1 Turnamen Bola 9 HC 4 BALTIC Bekasi dan Juara 1 Turnamen Bola 9 HC4-5 POSH Tangerang. Albert juga akan turun di nomor 9 Ball U-16 Boys. Dia mengatakan, selama pandemi terutama saat PPKM memang ada kendala dalam hal latihan. Namun, dia diuntungkan karena orang tuanya memiliki satu set biliar sehingga bisa memanfaatkan fasilitas itu untuk tetap berlatih secara rutin. “Menghadapi kejuaraan ini saya mendapat latihan khusus dari pelatih yang memungkinkan saya bisa bermain maksimal pada saat kejuaraan dan porsi latihan yang lebih dari biasanya. Saya juga melakukan olahraga seperti jogging untuk membangun fisik saya agar bisa membantu performa saya pada saat kejuaraan nanti,” kata Albert. Albert Januarta adalah atlet biliar muda yang sudah malang melintang di berbagai kejuaraan. Dia menjadi Runner Up Pertandingan Handicap Di Galaxy Surabaya 2 Juni 2021, Juara 3 Ball Handicap Bandung Open 1-13 Juni 2021 dan Juara 3 handicap 5+ Rama Jogja 8-18 Juni 2021. Sama seperti dua rekannya, Brian juga akan berlaga di nomor 9 Ball U-16 Boys. Dia mengatakan akan berusaha tampil maksimal di turnamen ini. Untuk itu, dia menyiapkan diri dengan berlatih mandiri di rumah, setiap hari dari jam 12 siang hingga jam 5 sore. Ketua Pengprov POBSI Jawa Tengah, Willyanto mengatakan, Brian beruntung karena memiliki fasilitas latihan sendiri di rumahnya sehingga bisa tetap berlatih secara rutin pada saat pandemi ini. Dia yakin Brian akan tampil maksimal, tetapi dia tidak mau membebankan target yang muluk-muluk. Menurut Willyanto, ini adalah kali pertama Brian mengikuti turnamen internasional, sehingga bisa masuk 16 besar pun sudah bagus. Sementara itu, satu-satunya atlet biliar putri, Annabella akan turun di nomor 9 Ball U-18 Girls. Dia mengatakan, kesempatan tidak datang dua kali. Sama seperti ketiga kompatriotnya, Annabella tetap berlatih terus, berdoa, dan pasrah akan hasil yang didapatkan nanti di turnamen ini. Namun dia menegaskan, pastinya ingin mendapatkan hasil yang terbaik, yakni menjadi juara. “Jam latihan dilebihkan menjadi sehari 8 jam latihan, lebih disiplin dalam waktu dan latihan. Menjaga kesehatan, olahraga teratur, minum suplemen untuk menjaga imun tubuh dan latihan di karantina UNESA tetap berjalan dengan baik dan tetap latihan setiap hari kecuali hari Minggu libur,” ujar Annabella Putri Yohana peraih Medali Perunggu di Pra PON 2019. Ketum Pengprov POBSI Jawa Timur, Pujo mengatakan, persiapan khusus berjalan sesuai dengan program dari pelatih Puslatda selama ini. “Mungkin ada beberapa hal non teknis yang menyangkut dengan mental dan mindset atlet junior yang harus lebih ditingkatkan. Apalagi bertanding di luar negeri untuk yang pertama, pasti ada nervous yang harus jeli untuk dinetralisir oleh pelatih,” demikian kata Pujo. Pelatih PB POBSI Edy Hartono atau Dino mengatakan, memang sejauh ini sedang dilakukan persiapan fisik. Namun, dia menegaskan persiapan matang akan tetap dilaksanakan menjelang keberangkatan. “Sejauh ini memang sedang dilakukan beberapa persiapan baik fisik maupun teknik. Namun sejak pemberlakuan kebijakaan PPKM maka persiapan tersebut dilakukan secara mandiri. Dan mudah-mudahan satu minggu sebelum keberangkatan akan dilakukan persiapan bersama dengan catatan apabila PPKM sudah selesai,” ujar Dino. Sumber: inews.id

Kabar Terkini Bursa Transfer Pesepakbola Muda Indonesia

Kabar Terkini Bursa Transfer Pesepakbola Muda Indonesia

Beberapa klub luar negeri saat ini tengah sibuk untuk mengamankan tanda tangan pemain anyar maupun incaran mereka. Tak terkecuali bagi para pemain muda Indonesia yang menjadi incaran beberapa klub luar negeri. Kabar pertama datang dari gelandang muda indonesia, Muhammad Yoan Saputra Arifin akan segera berkarir di liga Turki. Setelah sempat menjalani beberapa minggu trial di klub divisi 1 Turki, Alanyaspor, pemain berusia 20 tahun ini dikabarkan akan dikontrak oleh klub divisi 2 yaitu Menemenspor FC. Kabar ini disampaikan oleh agen Yoan. “Yoan tetap kok, tidak pulang (ke Indonesia) pastinya. Yang jelas jika semua beres dan sesuai, kami akan infokan (lebih lanjut). Tapi kemungkinan (ia tidak akan bermain) di Alanyaspor dikarenakan saya memperioritaskan Yoan bisa dapat main di senior team. Jadi sepertinya kita ambil di Liga 2 Turki,” ujar sang agen, dikutip dari Instagram @indonesiaabroad_. Lebih lanjut, menurut sang agen, ia dan Yoan sudah cocok. Tinggal diperkenalkan secara langsung dan resmi saja oleh klub yang akan ia bela. Saat ini Yoan sudah berada di Menemenspor FC untuk mengikuti pre-season dan latihan sebelum Liga 2 Turki bergulir. Muhammad Yoan Saputra Arifin sebelumnya pernah bergabung dalam program Vamos Indonesia di Spanyol. Mantan pemain Barito Putera U-18 ini bergabung dengan klub Palamos CF dalam kompetisi Divisi Juvenile. Yoan sendiri sudah berada di Turki sejak awal 2021. Awalnya, ia bersama Emir Eranoto Dipasena dan Aryandra Senna mendapat kesempatan untuk menjalani trial di Antalya Hal Spor, klub yang bermain di Liga amatir utama di bagian Antalya, Turki atau Divisi Empat Liga Turki yang diisi oleh para pemain muda. Antalya Hal Spor sendiri memiliki akses langsung menyediakan pemain muda untuk klub, Antalyaspor, tempat Yoan menjalani trial beberapa minggu terakhir. View this post on Instagram A post shared by indonesiaabroad (@indonesiaabroad_) Kabar selanjutnya hadir dari William Asido. Ia dikabarkan bergabungnya dengan akademi asal Spanyol, FC Malaga City Academy, melalui program HRC Career Center di High Reaching Club Football Academy dengan ESP Soccer Agency. Semoga dua pemain muda ini dapat menjadi pintu kesempatan bagi pesepakbola muda Indonesia lainnya untuk bisa mencicipi dan menimba ilmu di klub-klub sepakbola luar negeri.

Giliran Ginting Sumbang Medali Untuk Indonesia

Giliran Ginting Sumbang Medali Untuk Indonesia

Satu medali lagi untuk Indonesia dari cabang bulu tangkis. Ialah Anthony Sinisuka Ginting yang berhasil meraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 usai mengalahkan pebulutangkis Guatemala, Kevin Cordon lewat permainan dua gim 21-11, 21-13, Senin (2/8) malam WIB. Ginting coba bermain sabar dengan mengajak Cordon bermain reli. Ginting coba menempatkan bola yang membuat Cordon tak leluasa dalam mengeluarkan smes kerasnya. Ginting sempat tertinggal tetapi bisa menyamakan kedudukan jadi 4-4. Ginting kemudian berbalik unggul 7-4 setelah Cordon melakukan tiga kesalahan beruntun. Ginting berhasil menambah satu poin lagi untuk unggul 8-4. Namun, upayanya untuk menjauhkan keunggulan terhenti setelah smes yang dilakukannya membentur net dan membuat kedudukan jadi 8-5. Kesalahan itu tidak diulangi oleh Ginting. Penempatan bola-bola sulit Ginting membuat Cordon kerap membuat kesalahan sehingga Ginting bisa unggul 11-5 di interval gim pertama. Ginting tetap bermain sabar dan tidak terpancing permainan cepat Cordon setelah interval. Kendali penuh permainan yang dipegang Ginting membuatnya bisa unggul dengan margin delapan poin, 15-7. Cordon sempat merebut empat poin tetapi pebulutangkis Guatemala itu tidak mampu membendung Ginting untuk memenangi gim pertama dengan skor 21-11. Ginting bermain lebih menekan di awal gim kedua. Ginting lebih berinisiatif melakukan tekanan dengan melakukan smes yang membuat Cordon kerepotan. Tekanan yang terus diberikan Ginting membuatnya bisa unggul 7-2 atas Cordon. Cordon berhasil memutus perolehan poin Ginting dan merebut dua poin beruntun untuk memperkecil ketinggalan jadi 4-8. Namun, Ginting kembali bisa mengendalikan situasi pertandingan. Tiga poin direbut Ginting untuk membuatnya unggul jauh 11-4 di interval gim kedua. Cordon mampu bangkit dengan merebut enam poin untuk bisa memperkecil kedudukan jadi 10-13. Dalam situasi mulai tertekan, Ginting mampu tetap tampil tenang untuk bisa menjauhkan skor jadi 15-10. Ginting bisa mendulang poin tambahan memanfaatkan kesalahan pengembalian yang dilakukan oleh Cordon hingga unggul 18-11. Ginting kemudian bisa merebut tiga poin krusial untuk menutup gim kedua dengan 21-13. Sekaligus memastikan medali ke-5 bagi Indonesia. Ada rekor unik tercipta, berkat raihan medali perunggu tersebut Anthony Sinisuka Ginting menjadi pebulutangkis pertama yang berhasil mendapatakan medali di Youth Olympic Games dan Olympic Games. Pada tahun 2014 silam, Anthony Ginting berhasil mendapatkan medali perunggu di Youth Olympic Games yang diselenggarakan di Nanjing, Tiongkok. Selain itu, Ginting berhasil mengakhiri ‘kutukan’ wakil tunggal putra di Olimpiade yang tak pernah mencapai babak semifinal dalam kurun waktu 17 tahun kebelakang. Terakhir wakil tunggal putra Indonesia berjaya yakni di Olimpiade 2004. Saat itu ada Taufik Hidayat yang meraih emas dan Sony Dwi Kuncoro yang menyumbangkan medali perunggu.

Sosok Apriyani Rahayu, Pebulutangkis Muda Peraih Medali Emas Olimpiade

Sosok Apriyani Rahayu, Pebulutangkis Muda Peraih Medali Emas Olimpiade

Apriyani Rahayu berhasil mengibarkan bendera Merah-Putih berkibar di podium teratas pada Olimpiade Tokyo 2020. Bersama Greysia Polii, Apriyani berhasil mengandaskan perlawanan Chen Qingchen/Jia Yifan, pada final ganda putri bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020. Sekaligus menghadirkan medali emas pertama bagi Indonesia. Bertanding di Musashino Forest Plaza, Senin (2/7/2021) siang WIB, Greysia/Apriyani berhasil menang atas Chen Qinchen/Jia Yifan, dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-15. Kesuksesan Greysia/Apriyani memastikan Indonesia mendapatkan medali emas pertamanya di Olimpiade Tokyo 2020. Selain itu, mereka juga sukses mencetak sejarah sebagai pasangan ganda putri Indonesia pertama yang meraih medali emas Olimpiade. Jauh sebelum meraih medali emas Olimpiade, terdapat jalan terjal yang harus dilewati Apriyani Rahayu dalam meniti karier sebagai atlet bulu tangkis. Apriyani berjuang meraih mimpi di tengah keterbatasan ekonomi. Fakta ini diungkapkan oleh sang ayah, Amiruddin P dalam wawancara bersama TribunSultra.com. Amiruddin P mengatakan, saat kecil Apriyani sering bermain bulu tangkis menggunakan raket yang dimiliki almarhum ibunya. “Boleh dikata, Apriyani belum lancar bicara sudah bermain bulu tangkis,” beber Amiruddin saat ditemui dikediamannya di Kelurahan Lawulo, Kecamatan Anggaberi, Minggu (01/8/2021) dikutip dari TribunSultra.com. “Almarhum mamanya pemain bulu tangkis, jadi itu ada raket bekas. Mamanya kadang dia wakili Dinas dulu di Provinsi,” kata Amiruddin. Sang ayah juga menjelaskan saat bermain bulu tangkis di masa kecil, Apriyani menggunakan raket yang sudah tak layak pakai milik almarhum ibunya. “Belum bisa beli raket dulu, masih disambung-sambung (tali senar),” lanjut Amiruddin. Melihat anaknya yang mulai hobi bermain bulu tangkis, Amiruddin kemudian membuatkan lapangan di halaman rumahnya untuk tempat latihan putrinya. Berkat raket bekas itu pada akhirnya jadi gerbang pembuka bagi Apriyani untuk menata karier lebih serius di dunia bulu tangkis. Adapun, Apriyani sudah mulai mengikuti turnamen bulu tangkis saat masih usia dini. Ia sudah pernah mengikuti kejuaraan daerah hingga tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari situlah bakat Apriyani mulai tercium oleh pemandu bakat. Dilansir dari Tribun Timur, pada tahun 2011, Apryani Rahayu ke Jakarta dan dibawa ke PB Pelita milik Icuk Sugiarto di kawasan Kosambi, Jakarta Barat. Lalu sejak 2014 hingga 2016, Apriyani Rahayu mendapat kesempatan mewakili Indonesia di berbagai ajang Kejuaraan Dunia Junior. Pada 2017, Apriyani mulai berlatih di Pelatihan Nasional (Pelatnas) Cipayung, Jakarta. Sejak saat itu Apriyani mulai bermain di level senior dan diduetkan dengan Greysia Polii. Padahal, Greysia sejatinya sudah berniat pensiun pada 2017 setelah Olimpiade Rio 2016. Terlebih, pasangan dia saat itu (Nitya Krishinda Maheswari) mengalami cedera. Namun, Greysia akhirnya tak jadi gantung raket usai sang pelatih memintanya menjadi duet Apriyani Rahayu. Dia diminta untuk membuat semakin berkembang. Hingga akhirnya mereka menuai berbagai prestasi dan kini berhasil meraih medali emas di Tokyo 2020. Biodata Apriyani Rahayu Nama lengkap: Apriyani Rahayu Tempat, tanggal lahir: Konawe, Sulawesi Tenggara, Indonesia, 29 April 1998 Usia: 23 tahun Tinggi badan: 163 cm Pegangan raket: Kanan Nomor: Ganda putri Ranking saat ini: 6 (dengan Greysia Polii, 29 Juni 2021) Prestasi: – Olimpiade: Emas (Tokyo 2020) – Kejuaraan Dunia: Perunggu (2015, 2018, 2019) – Piala Sudirman: Perunggu (2019) – Asian Games: Perunggu (2018 ganda putri dan beregu) – SEA Games: Emas (2019 ganda putri), perunggu (2019 beregu) – Kejuaraan Tim Asia: Perunggu (2018)

Kisah Haru Dibalik Medali Emas Atlet Termuda Timnas Senam AS

Kisah Haru Dibalik Medali Emas Atlet Termuda Timnas Senam AS

Ada kisah mengharukan sekaligus menginspirasi dari salah satu pesenam putri Amerika Serikat (AS) saat meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, Kamis (29/7). Ialah Sunisa Lee, pesenam yang baru berusia 18 tahun sekaligus merupakan atlet termuda di tim nasional senam AS. Air matanya pecah saat menghubungi keluarganya melalui panggilan telepon. Ia melakukannya setelah seremoni penyerahan medali emas yang ia raih. “Kami semua menangis di telepon. Itu momen yang luar biasa, saya sangat bahagia,” ujar Lee, dikutip Antara dari Reuters. Air mata Lee tumpah begitu melihat wajah-wajah orang yang selalu ada untuknya dalam situasi apapun. Dan, memang, perjuangannya untuk sampai ke Olimpiade 2020 tidaklah mudah. Orang tua Sunisa Lee merupakan pengungsi beretnis Hmong yang datang dari Laos ke Negeri Paman Sam demi mengubah peruntungan hidup. Besar di komunitas Hmong-Amerika, Sunisa Lee tumbuh sebagai putri yang cenderung aktif. Hobinya jumpalitan di sofa rumah. Namun, alih-alih marah dan melarangnya, kedua orang tuanya justru melihat bakat tersembunyi dan mengarahkan anaknya itu untuk berlatih senam mulai umur enam tahun. Dengan upaya keras dan dukungan dari keluarganya, Lee akhirnya bisa tampil di turnamen senam junior bergengsi AS, US Classic, pada tahun 2016. Catatan-catatan baik di setiap turnamen yang diikuti membuat dia dilirik oleh Federasi Senam AS, USA Gimnastics. Dia lalu diikutkan ke turnamen tingkat senior, Kejuaraan Senam Nasional AS pada tahun 2019. Akan tetapi, perjalanan tak semulus rencana. Beberapa saat sebelum mencatatkan debut di tim senam senior, Lee menyaksikan ayahnya lumpuh setengah badan, dari dada ke bawah, akibat jatuh dari tangga. Meski begitu, Sunisa Lee tampil fokus dan berhasil merebut medali emas di nomor palang bertingkat dan perak di nomor ‘all-around’ perorangan putri. Dari sisi prestasi di kejuaraan ini, Lee masih berada di bawah jagoan senam AS Simone Biles yang merebut empat medali emas dari lima nomor yang dipertandingkan di sektor putri. Kemampuan Sunisa Lee mengantarnya lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo. Dia pun menjadi keturunan Hmong-Amerika pertama yang mewakili AS di Olimpiade. Sayangnya, dalam persiapan menuju ke pesta olahraga empat tahunan tersebut, Lee kembali diterpa kabar buruk. Paman dan bibinya meninggal dunia akibat Covid-19. Dunianya hampir runtuh. Lee tidak bisa lupa bagaimana paman dan bibinya rutin membuatkannya teh herbal panas dan memijitnya setelah selesai berlatih. Masih berbalut duka, Lee malah didera cedera. Pikiran untuk berhenti dari dunia senam melintas, tetapi mental juara membawanya bangkit. Tak diunggulkan, keberadaan Simone Biles di tim senam putri AS seakan menenggelamkan Sunisa Lee. Dia sama sekali tidak diunggulkan untuk menjadi yang terbaik di Olimpiade 2020. Akan tetapi, Biles ternyata membuat keputusan yang mengejutkan yakni mundur dari nomor beregu dan semua alat (all-around) Olimpiade 2020. Mau tak mau, beban medali emas berpindah ke pundak Lee, salah satu pesenam muda putri paling berbakat di AS. Dan, saat waktunya tiba, Lee seolah memang dilahirkan untuk menonjol dalam situasi genting dan penuh tekanan. Berlaga di nomor all-around perorangan putri, nomor di mana seharusnya Simone Biles sangat dikedepankan untuk juara, Lee tampil nyaris tanpa cela dan berhasil merengkuh keping emas. Tugas itu dituntaskan Lee di hadapan Biles yang duduk menonton di baris depan. “Saya merasakan banyak tekanan karena pada dasarnya saya selalu berada di urutan kedua di belakang Biles sepanjang musim. Jadi saya mengetahui orang-orang mengandalkan saya untuk merebut peringkat kedua atau medali emas. Saya lalu mencoba untuk tidak fokus ke sana supaya tak gugup,” jelas Lee. Sebelum itu, Lee sudah menyumbangkan perak Olimpiade 2020 bersama tim senam beregu putri AS. Sunisa Lee pantas merayakan keberhasilannya bersama sosok-sosok yang disayanginya, terutama ibu dan ayahnya. Sang ayahlah yang awalnya membawa dia klub senam lokal pada usia enam tahun. “Menjengkelkan melihat ayah tak ada di sini bersama saya. Ini adalah mimpi kami, yang selalu kami bicarakan. Ayah pernah bilang, kalau saya dapat emas, dia akan berdiri di lantai dan menyambut saya. Dia selalu menguatkan dan meminta saya untuk tidak terlalu memerhatikan perolehan poin dan semacamnya karena di dalam hati orang tua saya, saya sudah menjadi juara,” kata Lee.

Dipanggil Pelatnas, Angel Siap Harumkan Basket DIY

Dipanggil Pelatnas, Angel Siap Harumkan Basket DIY

Pebasket putri asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Angelica Jennifer Candra dipanggil mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas) Tim Nasional (Timnas) basket 3×3 Indonesia U-18. Pemanggilan tersebut sebagai persiapan menghadapi Piala Dunia di Hungaria 2021. Pemanggilan tersebut tertuang dalam surat Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) nomor 362/PP/VII/2021. Pebasket binaan sekolah basket Mataram itu akan mengikuti pelatnas selama dua pekan. Mulai 9-21 Agustus di Cirebon, Jawa Barat. Angel mengaku senang dan bersyukur bisa terpilih mengikuti pelatnas. Pebasket 180 cm itu berjanji akan memberikan kemampuan terbaik selama Pelatnas. “Saya akan semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk merah putih. Selama di sana saya juga ingin mengharumkan dunia basket di Yogjakarta,” ujarnya, Kamis (29/7). Yang pasti, Angel bertekad untuk berjuang dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Selama Pelatnas dia akan satu tim bersama Vanesa Renata Siregar dan Syarafina Ayasha dari Jakarta serta Margaret Rachel dari Jawa Barat. Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) PP Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Danny Kosasih mengatakan, Pelatnas akan berlangsung dengan protokol kesehatan (prokes). Dua hari sebelum bertolak ke Cirebon, para atlet wajib menunjukkan hasil swab antigen negatif. “Ketika sampai di Cirebon akan dilakukan swab PCR. Latihan akan dimulai setelah hasil swab PCR negatif keluar,” papar Danny. Angel merupakan salah satu pebasket muda berbakat yang dimiliki Yogjakarta. Pada 2019 silam, dia terpilih mewakili Indonesia di kejuaraan dunia Junior National Basketball Association (NBA). Kala itu, Angel bersama sembilan pemain berhasil mewakili tim Asia Pasifik di ajang NBA Jr yang digelar di Orlando, Amerika Serikat.

Luar Biasa! Rahmat Erwin Tambah Koleksi Medali Indonesia

Luar Biasa! Rahmat Erwin Tambah Koleksi Medali Indonesia

Indonesia menambah perunggu dari cabang olahraga angkat besi putra kelas 73 kg putra Olimpiade Tokyo 2020. Rahmat Erwin Abdullah yang menyumbang medali ketiga untuk tim Merah-Putih, Rabu (28/7). Rahmat Erwin meraih perunggu setelah memiliki total angkatan 342 kg. Lifter 20 tahun itu kalah bersaing dengan lifter Tiongkok, Shi Zhiyong yang meraih medali emas dengan total angkatan 354 kg dan Mayora Pernia Julio Ruben dari dari Venezuela di posisi kedua dengan total angkatan 346 kg. Pada pertandingan itu Zhiyong tidak saja meraih medali emas, tetapi juga memecahkan dua rekor Olimpiade, yaitu angkatan snatch 166 kg dan total angkatan 354 kg. Rahmat Erwin sukses dengan medali perunggu usai mengumpulkan 152 kg pada angkatan snatch dan 190 kg pada clean and jerk. Atlet asal Makassar itu gagal pada angkatan kedua clean and jerk dengan beban 190 kg. Pada percobaan ketiganya Rahmat sukses mengangkat beban 190 kg. Sementara itu, Zhiyong melangkah mulus pada angkatan snatch dengan mengumpulkan 166 kg yang juga jadi rekor baru Olimpiade. Sedangkan pada clean and jerk Zhiyong gagal pada angkatan kedua dengan beban 192 kg. Capaian serupa juga dimiliki Pernia yang sempurna pada angkatan snacth dengan 156 kg. Pernia lalu menggenapkan penampilannya dengan sukses pada tiga angkatan clean and jerk sehingga mengumpulkan total angkatan 346 kg. Medali perunggu ini melebihi target yang diusung Rahmat Erwin jelang Olimpiade Tokyo. Sebelumnya Rahmat Erwin hanya membidik posisi delapan besar di kelas 73 kg. Dengan perunggu yang diraih Rahmat Erwin, cabang angkat besi kini mempersembahkan tiga medali bagi kontingen Indonesia. Sebelumnya Eko Yuli Irawan lebih dahulu meraih perak di kelas 61 kg putra dan Windy Cantika Aisah meraih perunggu di kelas 49 kg putri. Sementara itu, Windy Cantika berpotensi meraih perak setelah lifter China Hou Zhihui yang meraih emas diduga menggunakan doping, sehingga Chanu Shaikhtom Mirabai dari India yang meraih perak berpotensi naik dengan mendapatkan medali emas.

Baru Berusia 13 Tahun, Momiji Nishiya Raih Emas Olimpiade

Baru Berusia 13 Tahun, Momiji Nishiya Raih Emas Olimpiade

Skateboarder muda Jepang, Momiji Nishiya, baru saja mencatatkan sebuah prestasi luar biasa. Ia mampu menjadi salah satu juara Olimpiade nomor perseorangan paling muda sepanjang masa ketika menggondol medali emas skateboarding putri dalam usia 13 tahun 330 hari, Senin (26/7/2021). Momiji Nishiya yang merupakan penduduk asli Osaka mencatat skor 15,26 poin, untuk mengklaim emas. Funa Nakayama dari Jepang merebut medali perunggu dengan 14,49. Sedangkan pesaing dari Brasil, Rayssa Leal memperoleh perak dengan skor 14,64 poin. Sedangkan atlet Jepang lainnya, Funa Nakayama yang berusia 16 tahun merebut medali perunggu. Lantas, apakah Momiji Nishiya merupakan atlet termuda sepanjang sejarah olimpiade yang meraih medali emas? Jawabannya adalah tidak. Merujuk pada USA Today dan Olympic.com, peraih emas paling muda dalam sejarah Olimpiade modern adalah Marjorie Gestring, atlet loncat indah asal Amerika Serikat. Marjorie Gestring meraih medali emasnya pada gelaran Olimpiade 1936. Saat itu usianya masih 13 tahun dan 286 hari. Sedikit lebih mudah dibandingkan Momiji Nishiya yang kini berumur 13 tahun dan 330 hari saat meraih emas di Olimpiade Tokyo 2020. Sebenarnya rekor itu bisa saja pecah dalam pertandingan tadi, andaikata Rayssa Leal tidak sekadar meraih medali perak pada hari Senin (26/7) ini. Usianya Leal saat ini adalah 13 tahun dan 203 hari. Sementara itu, untuk rekor atlet peraih medali emas termuda Jepang dipegang oleh perenang Kyoko Iwasaki yang meraih emas di Barcelona pada usia 14 tahun. Baik Momiji Nishiya dan Rayssa Leal sendiri merupakan barisan atlet-atlet belia yang ikut meramaikan gelaran Olimpiade Tokyo 2020. Predikat Olympian paling muda di Olimpiade Tokyo kali ini disandang oleh atlet Tenis Meja, Hend Zaza, yang usianya baru 12 tahun. Dalam sejarah Olimpiade, atlet paling muda yang terkonfirmasi adalah pesenam Dimitrios Loundras asal Yunani. Ia mengikuti Olimpiade modern pertama di Athena 1896, ketika usianya masih 10 tahun dan 2018 hari. Saat itu Loundras meraih medali perunggu bersama timnya.

Windy Sumbang Medali Olimpiade Tokyo Pertama Indonesia

Windy Cantika ke Kejuaraan Dunia Junior Sebelum SEA Games 2021

Luar biasa! Indonesia mendapatkan medali pertama di Olimpiade Tokyo 2020. Adalah lifter putri muda, Windy Cantika Aisah, yang berhasil menjadi atlet pertama yang menyumbangkan medali, Sabtu (24/7/2021) siang WIB. Bertanding di Tokyo International Forum, atlet 19 tahun itu merebut medali perunggu setelah mencatatkan total angkatan seberat 194 kg. Sementara itu, total angkatan snatch terbaik Windy Cantika Aisah adalah 84 kg yang didapat pada kesempatan kedua. Adapun total angkatan clean & jerk terbaik Windy Cantika adalah 110 kg yang didapat pada kesempatan ketiga. Windy Cantika Aisah completes the podium in the #Weightlifting women's -49kg with a total score of 194. Congratulations! 🏋️🥉@iwfnet @komiteolimpiade pic.twitter.com/QhKj8EaYOQ — The Olympic Games (@Olympics) July 24, 2021 Windy Cantika menempati peringkat ketiga tepat di bawah Hoi Zhihui (China) dan Chanu Mirabai (India). Hoi Zhihui berhak mendapat medali emas angkat besi putri kelas 49 kg dengan total angkatan terbaiknya adalah 210 kg. Di sisi lain, Chanu Mirabai sukses mendapatkan medali perak dengan total angkatan terbaiknya adalah 202 kg. Angkatan total Windy di Tokyo 2020 seberat 194 kg ini merupakan peningkatan besar dari event Kejuaraan Asia yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan, pada medio April 2021. Ketika itu, ia mengangkat total berat 189 kg dan berkat keberhasilan tersebut, Windy berhak mendapatkan satu tiket ke Olimpiade Tokyo ini. Windy juga merupakan pemenang medali emas pada SEA Games 2019. Hari Minggu (25/07/2021), kontingen Indonesia masih berpeluang menambah medali dari cabor angkat besi ajang Olimpiade Tokyo 2020. Karena Eko Yuli Irawan dan Deni yang diharapkan menyumbangkan medali bakal turun bertanding. Eko Yuli turun di kelas 61 kg putra, sementara Deni turun di kelas 67 kg putra.

Debut Olimpiade, Ini Wejangan Menteri PUPR Kepada Atlet Dayung Indonesia

Debut Olimpiade, Ini Wejangan Menteri PUPR Kepada Atlet Dayung Indonesia

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono memberikan wejangan kepada dua wakil Indonesia untuk cabang olahraga mendayung di Olimpiade Tokyo 2021 yaitu Mutiara Rahma Putri dan Melani Putri. Keduanya merupakan debutan di ajang Olimpiade dan masih berusia tergolong muda. Basuki meminta dkeduanya untuk tetap bersemangat dan fokus pada perlombaan. Ia pun optimistis Mutiara dan Melani dapat meraih hasil terbaik setelah melakukan serangkaian persiapan, termasuk program latihan di Situ Cileunca, Pengalengan, Jawa Barat. “Kerjakan yang terbaik hasilnya serahkan kepada Allah. Ini adalah kesempatan besar. Saya yakin mereka dapat memberikan yang terbaik, karena saya mengikuti mereka sejak SEA Games 2019 di Manila,” kata Basuki. Basuki Hadimuljono melepas kontingen kedua Indonesia pada Selasa malam, 20 Juli 2021. Menurutnya yang juga merupakan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) itu, bisa tampil di Olimpiade merupakan prestasi membanggakan bagi kedua atlet. “Dengan lolosnya dua pedayung putri di Olimpiade Tokyo, saya berharap mendapatkan prestasi yang baik. Tidak ada target, tapi kita ingin berusaha lebih baik karena meloloskan atlet di ajang Olimpiade tidaklah mudah,” kata Basuki. Mutiara dan Melani adalah dua atlet yang usianya masih relatif muda. Mutiara baru berusia 17 tahun, sedangkan Melani berusia 22 tahun. Namun, pencapaian mereka dinilai luar biasa dengan tampil di Olimpiade Tokyo. Mutiara dan Melani mendapatkan tiket ke Olimpiade setelah mengikuti kualifikasi Olimpiade Zona Asia atau Asian & Oceania Continental Qualification Regatta di Sea Forest Waterway, Jepang, awal Mei lalu. Mereka finis posisi keempat dengan catatan waktu 7 menit 35,71 detik. Adapun atlet tuan rumah Chiaki Tomita/Ayami Oishi tercatat finis tercepat dengan catatan waktu 7 menit 15,84 detik. Di urutan kedua dan ketiga, masing-masing ditempati pasangan atlet dayung asal Vietnam Thi Thao Luong/Thi Hao Dinh (7 menit 17,34 detik) dan Zeinab Norouzi Tazeh Kand/Kimia Zarei dari Iran (7 menit 23,86 detik).

6 Atlet Termuda di Olimpiade Tokyo

6 Atlet Termuda di Olimpiade Tokyo

Olimpiade bukan hanya milik para atlet dengan segudang pengalaman. Gelaran olahraga terbesar di dunia ini juga menjadi panggung bagi para atlet belia. Meski masih muda, atlet-atlet belasan tahun ini juga dipercaya untuk mewakili negaranya. Berikut adalah 6 atlet di bawah 17 tahun yang akan bertanding di Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. 1. Brighton Zeuner (16 tahun) – Skateboard Meski masih berusia 16 tahun, pemain skateboard Brighton Zeuner akan menjadi salah satu atlet yang dikirim oleh Amerika Serikat. Olimpiade 2020 di Tokyo ini pun akan menjadi yang pertama baginya. Zeuner sendiri sudah pernah menjadi juara X Games pada tahun 2017 saat masih berusia 13 tahun. 2. Sky Brown (13 tahun) – Skateboard Stok pemain skateboard di Amerika Serikat memang tak pernah habis. Selain Zeuner, AS juga bakal mengikutkan pemain berusia 13 tahun bernama Sky Brown. Brown bahkan melampaui rekor atlet renang Margery Hinton yang berusia 13 tahun 44 hari ketika ia berkompetisi di Olimpiade Amsterdam 1928 lalu. Diberitakan ESPN, sebelumnya telah memenangkan beberapa gelar seperti medali perak di Dew Tour, serta perunggu pada kejuaraan dunia di Rio de Janeiro 3. Katie Grimes (15 tahun) – Renang Sebagai salah satu kandidat juara umum, Amerika Serikat juga mengirim atlet muda berusia 15 tahun. Ia adalah perenang bernama Katie Grimes. Dikutip dari Today.com, ini akan menjadi Olimpiade pertama Grimes. Sebelumnya, AS juga pernah mengirim perenang 15 tahun Katie Ledecky pada Olimpiade 2012 di London lalu. 4. Quan Hongchan (14 tahun) – Menyelam Tak mau kalah dengan Amerika Serikat, Tiongkok juga mengirim atlet belianya. Dikutip dari South China Morning Post, mereka akan mengirim penyelam berusia 14 tahun bernama Quan Hongchan. Quan memulai kompetisi resminya pada tahun usia tujuh tahun saat mewakili Provinsi Guangdong pada perhelatan olahraga nasional. Bahkan, tahun lalu ia memenangkan emas pada kejuaraan nasional. 5. Chen Yuxi (15 tahun) – Menyelam Selain Quang Hongchan, Tiongkok juga memiliki penyelam belia berusia 15 tahun bernama Chen Yuxi. Tak sekadar mencari pengalaman, Yuxi bahkan ditargetkan bisa meraih emas. Ia diyakini mampu menggondol emas dari kelas 10 meter. Maklum jika Tiongkok memasang target tinggi, dua tahun lalu, Yuxi memenangkan gelar dunia. 6. Hend Zaza (11 tahun) – Tenis Meja Predikat atlet termuda pada gelaran Olimpiade 2020 di Tokyo mendatang dipegang oleh petenis meja asal Suriah, Hend Zaza. Dikutip dari website resmi Olimpiade Tokyo, remaja berusia 11 tahun ini memiliki rangking 155 dunia. Ia lolos ke Tokyo setelah mengalahkan petenis meja asal Lebanon, Mariana Sahakian. Rekor pemain termuda Olimpiade sendiri masih dimiliki oleh atlet senam asal Yunani, Dimitrios Loundras. Saat berlaga pada Olimpiade tahun 1896, ia masih berusia 10 tahun dan memenangkan perunggu. Sumber: IDN Times

Selain Persiapan Jelang Kejurnas FORKI, Ini Fokus Vanessa Efendi

Selain Persiapan Jelang Kejurnas FORKI, Ini Fokus Vanessa Efendi

Jelang Kejuaraan Nasional Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Kejurnas FORKI), karateka putri asal Medan, Vanessa Efendi sedang menggenjot persiapan guna mempersiapkan diri mengikuti kompetisi yang rencananya akan digelar di Jakarta dalam waktu dekat ini. Dikatakannya, di antara persiapan itu ia fokus latihan dasar, fisik, dan teknik. Jadwal latihanpun dilaksanakannya setiap hari, di FORKI Sumut dan Medan. “Jelang Kejurnas FORKI nanti, jadwal latihan sebenarnya tergantung pelatih. Biasanya setiap hari, mulai jam 16.00 WIB-18.30 WIB,” ucap Vanessa seperti dilansir Tribun Medan. Selain persiapan jelang kejurnas, atlet karate yang bermain di kelas U21-68 kg ini menyampaikan, ia sangat menjaga kesehatannya. Apa lagi di masa pandemi dan pemberlakuan PPKM. Lebih lanjut diakui Vanessa, pada kompetisi itu ia tidak terlalu mematok target berlebih. Karena, ia hanya fokus memberikan penampilan terbaik. “Medali itu hanya bonus. Kalau prosesnya maksimal, hasilnya mudah-mudahan maksimal juga,” kata ujarnya. Disampaikannya, selain fokus meraih prestasi, Vanessa juga sedang persiapan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Biodata: Nama: Vanessa Efendi Tempat, Tanggal Lahir: Medan , 21 Juni 2003 Ayah: Efran Efendi Ibu: Natasya Viana Dojo: Inkai Tinggi Badan: 173 cm Berat Badan: 61 kg

KONI Aceh Siap Tancap Gas Persiapan PON 2024

KONI Aceh Siap Tancap Gas Persiapan PON 2024

Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi ke XXI masih sekitar beberapa tahun lagi jelang pelaksanaannya. Namun, KONI Aceh langsung tancap gas. Kini, KONI Aceh mulai menjalankan program pembinan atlet untuk PON XXI/2024. Selain terus melakukan berbagai persiapan sebagai tuan rumah PON, Aceh melakukan pembinaan atlet untuk berprestasi di multi even olahraga nasional itu. “KONI Aceh sudah mengalokasikan dana khusus untuk program atlet binaan yang dipersiapkan menuju PON XXI/2024,” ungkap Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan Prestasi KONI Aceh, Drs H Bachtiar Hasan MPd kepada Serambinews, Minggu (17/7/2021). Bachtiar menyebutkan, KONI Aceh sudah memulai pembinaan 70 atlet muda dengan 22 pelatih. Atlet muda potensial itu berasal dari 26 cabang olahraga melalui Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) desentralisasi. “Para atlet kita bina dalam Pelatda desentralisasi selama tujuh bulan. Latihan sudah dimulai 1 Juni dan akan berlangsung hingga Desember 2021,” sebut Bachtiar yang juga Ketua Pelatda PON Aceh. Menurut Ketua Umum PASI Aceh itu, sebelum menjalani Pelatda, semua atlet telah menjalani tes fisik di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh. “Mereka semua berlatih secara bersama-sama dengan atlet yang sedang menjalani Pelatda menuju PON XX/2021 Papua,” ujarnya Sebutnya, program pembinaan juga berlaku degradasi. Sehingga semua atlet mulai dilihat perkembangan prestasinya saat mengikuti Pra-PORA pada 2021 ini. “Jika nanti ada yang kalah atau gagal, kita ganti dengan atlet atau cabang yang lain,” lanjutnya. Ia mengatakan, ujian terakhir terhadap atlet binaan akan dilihat prestasinya pada saat PORA XIV/2022 di Pidie. Program pembinaan ini berkelanjutan mulai 2021, 2022, hingga 2023. Karena, katanya, pada 2023 juga ada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) Sumatera dan Pra-PON di Aceh. “Kita mengharapkan para atlet yang masih muda ini nantinya bisa berprestasi,” ujarnya. Bachtiar tidak menampik kemungkinan bertambahnya atlet binaan dari cabang olahraga (cabor) lainnya. “Penambahan atlet dan cabor binaan akan kita lihat perkembangan pada 2022. Kalau cabor bertambah, atlet juga bertambah,” katanya. Begitu juga, sebutnya, atlet yang mengikuti PON Papua yang bisa dipertahankan karena faktor usianya masih muda, otomatis masuk Pelatda. “Maka kita bisa lihat di akhir PORA Pidie nanti, baru terjaring atlet yang sebenarnya menuju PON Aceh-Sumut,” ujarnya. Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) telah resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi ke XXI pada tahun 2024. Ini merupakan sejarah bagi perjalanan dunia olahraga di Tanah Air. Karena, untuk pertama kalinya, dua provinsi ditetapkan sebagai tuan rumah bersama. Sejak PON pertama di Kota Solo, Jawa Tengah tahun 1948 hingga PON 2020 di Papua, tuan rumah selalu tunggal. Adapun cabang dan atlet binaan KONI Aceh menghadapi PON XXI/2024 yaitu: Squash (2 atlet) Panahan (3 atlet) Judo (3 atlet) Kurash (1 atlet) Soft tenis (3 atlet) Menembak (2 atlet) Taekwondo (3 atlet) Petanque (7 atlet) Sepatu roda (1 atlet) Tarung derajat (4 atlet) Wushu (2 atlet) Panjat tebing (2 atlet) Pencak silat (3 atlet) Tinju (3 atlet) Karate (3 atlet) Kick boxing (2 atlet) Sambo (1 atlet) Triatlon (1 atlet) Bulu tangkis (1 atlet) Anggar (3 atlet) Angkat besi (3 atlet) Atletik (6 atlet) Balap motor (2 atlet) Hapkido (3 atlet) Muaythay (3 atlet) Kempo (4 atlet)

PB Perpani Sebut Indonesia Punya Masa Depan Cerah di Cabor Panahan

Jumlah atlet panahan Indonesia yang dikirim ke Olimpiade Tokyo 2020 merupakan terbanyak ketiga setelah bulu tangkis dan angkat besi. Dari 28 kontingen Indonesia, empat di antaranya berasal dari cabor panahan. Fakta ini seakan cukup untuk membuktikan bahwa Indonesia punya potensi cukup besar di cabang olahraga panahan. Dilansir dari Antara, Ikhsan Ingratubun selaku manajer Pelatnas mengatakan bahwa masa depan cabor panahan Indonesia memang cukup menjanjikan. Hal ini dikarenakan banyaknya atlet muda potensial yang dimiliki skuad Merah-Putih, diantaranya ialah Arif Dwi Pangestu dan Alviyanto Bagas Prastyadi. Keduanya merupakan dua atlet panahan yang mewakili Indonesia di Olimpiade 2020 bersama para atlet senior, Riau Ega Agatha Salsabila dan Diananda Choirunisa. “Mereka (Arif dan Bagas) sangat menjanjikan. Begitu juga untuk olimpiade berikutnya di Paris 2024. Di sana, mereka sudah lebih matang,” ujar Ikhsan menjelaskan. Ikhsan yang menjabat sebagai Wakil Ketua IV Bidang Hukum, Humas, dan Promosi PB Perpani itu juga mengakui kualitas Arif dan Bagas yang mampu bersaing dengan para senior. “Mereka memang masih junior tetapi angka mereka sudah bisa sejajar atau bahkan melebihi seniornya. Jadi, sangat potensial,” tuturnya. Arif, yang saat ini masih berusia 17 tahun, merupakan atlet yang menyumbang emas untuk Indonesia dalam SEA Games 2019 di Filipina. Saat itu, dia tampil pada nomor beregu putra bersama Riau Ega Salsabila dan Hendra Purnama. Bersama dengan Bagas (19 tahun), Arif lolos ke Olimpiade Tokyo setelah mengantarkan tim panahan putra Indonesia menembus final kualifikasi di Paris, Juni lalu. Keyakinan Ikhsan akan masa depan panahan Indonesia pun makin kuat setelah mendapat lampu hijau dari Kemenpora untuk menggelar Pelatnas lapis kedua. Pelatnas yang akan diikuti oleh banyak pemain muda tersebut rencananya akan dimulai pada awal Agustus mendatang. “Panahan sekarang cabang olahraga yang menjanjikan dan memiliki potensi menjuarai berbagai ajang besar,” ujar Ikhsan memungkasi.

Inilah Tips Berprestasi Ala Nyimas Bunga Cinta

Inilah Tips Berprestasi Ala Nyimas Bunga Cinta

Nama Nyimas Bunga mulai mencuat saat ia berhasil meraih medali perunggu pada nomor women’s street pada cabang olahraga skateboard Asian Games 2018. Bukan hanya meraih prestasi, ia juga menjadi atlet termuda yang meraih medali pada gelaran Asian Games 2018. Nyimas Bunga Cinta lahir pada 13 April 2006, putri dari pasangan suami-isteri Didiet Rio dan Ika Damayanti. Ia sulung dari tiga bersaudara. Rasa penasarannya terhadap skateboard berawal karena melihat vidio aksi skateboarder di media sosial sejak kelas 2 SD. Ia kemudian sering mencoba-coba papan beroda itu, berulang kali terjatuh hingga menangis. Namun, Bunga terus bangkit dan bermain lagi. “Skateboard is fun, menyenangkan,” kata Bunga tentang alasannya memilih olahraga itu. Bunga makin serius menekuni skateboard ketika duduk di kelas 5 SD. Bakatnya terus diasah dengan bantuan Anthony Adam Caya, yang menjadi pelatihnya di skatepark Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Anthony adalah salah satu legenda hidup skateboarder Indonesia. Ia lebih dikenal dengan nama Tony Sruntul, dan kini juga menjadi Presiden Skateboard Indonesia. Selain meraih medali pada Asian Games 2018, Bunga juga beberapa kali meraih medali. Diantaranya adalah medali perunggu pada kejuaraan Vans Park Series Asia Continental di Singapura dan medali perak pada SEA Games 2019. Sebagai generasi muda yang namanya sudah mencatat banyak prestasi dalam bidang olahraga, Bunga membagikan tips kepada seluruh remaja Indonesia untuk terus berkarya dan mengukir prestasi di usia muda. Bunga mengajak semua teman-teman remaja lainnya untuk menjadi seorang yang berani untuk mencoba hal baru. Dengan begitu, maka akan lebih mudah untuk mengeksplor bakat apa yang cocok dengan dirimu. “Terus pantang menyerah, berusaha, kerja keras, dan kalau jatuh ya bangun lagi,” pesan Bunga, dilansir Pop Mama. Di usianya yang masih cukup mudah, Bunga juga memiliki motivasi besar demi mencapai target yang ia harapkan. Ketika ditanya, apa target yang ingin ia gapai sebagai seorang atlet muda? Bunga menjawab, “Target aku dari awal main skate itu adalah beli rumah dan sekarang aku lagi mengejar untuk ikut Asian Games, Sea Games dan Olimpiade. Jadi itulah target-target yang mau aku raih.” Untuk mengejar semua target tersebut memang tidaklah mudah, namun Bunga terus berusaha dan meyakinkan dirinya bahwa kelak ia bisa menggapai satu persatu target yang telah ia tentukan. Itulah tips dari Nyimas Bunga Cinta yang memulai suatu hobi menjadi atlet berprestasi. Semoga cerita Bunga di atas bisa menjadi inspirasi bagi anak mama untuk tetap semangat dalam berprestasi di usia muda, ya.