PON XX Pembuktian Prestasi Atlet Muda, Kemenpora Fokus Pada Cabang Olahraga DBON

PON XX Pembuktian Prestasi Atlet Muda, Kemenpora Fokus Pada Cabang Olahraga DBON

Sesuai dengan isi yang ada dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) terkait pembinaan atlet dan fasilitas olahraga di daerah, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali, berharap fasilitas PON XX bisa terjaga dengan baik agar bisa mewujudkan pembinaan atlet di masa mendatang. Hal itu disampaikan Amali usai meninjau langsung jalanya beberapa pertandingan PON XX Kamis (30/9/2021) petang kemarin. Amali menilai PON ini adalah ajang bagi atlet-atlet muda untuk menunjukkan prestasi yang terbaik sementara untuk atlet senior bisa digunakan untuk menjaga performa. “Sesuai dengan isi DBON, fasilitas yang ada di PON XX Papua ini sudah sangat luar biasa yang memiliki standart internasional. Saya harap setelah PON ini, fasilitasnya bisa terjaga dengan baik dan ada tim khusus yang menangani fasilitas PON,” kata Amali dilansir dari laman resmi Kemenpora.go.id Jumat (1/10/2021). Amali juga ingin ajang PON ini jadi pembuktian bagi atlet-atlet muda seluruh Indonesia untuk menunjukkan prestasi terbaiknya. “Saya ingin ada pecah rekor baru baik nasional atau internasional yang diukir atlet muda Indonesia. Ajang PON ini diharapkan jadi ajang pembuktian bagi atlet muda kita,” paparnya. Amali memang menjadikan DBON sebagai fondasi untuk pembinaan atlet muda Indonesia yang bisa melahirkan prestasi tertinggi di pentas dunia. PON sendiri menurutnya sebagai ajang kompetisi nasional yang diharapkan bisa melahirkan atlet muda berprestasi. Karena itu Amali selama PON akan melihat langsung pertandingan, khususnya cabang olahraga yang masuk dalam DBON. “Saya akan datang ke cabor untuk melihat pertandingan, khususnya pertandingan cabor yang masuk dalam DBON. Saya ingin PON ini digunakan sebagai wadah pembinaan dan pembibitan atlet-atlet muda Indonesia. Dari sini mereka harus bisa melahirkan prestasi agar bisa masuk menjadi atlet pelatnas,” tutup Amali.

KONI Aceh Siap Tancap Gas Persiapan PON 2024

KONI Aceh Siap Tancap Gas Persiapan PON 2024

Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi ke XXI masih sekitar beberapa tahun lagi jelang pelaksanaannya. Namun, KONI Aceh langsung tancap gas. Kini, KONI Aceh mulai menjalankan program pembinan atlet untuk PON XXI/2024. Selain terus melakukan berbagai persiapan sebagai tuan rumah PON, Aceh melakukan pembinaan atlet untuk berprestasi di multi even olahraga nasional itu. “KONI Aceh sudah mengalokasikan dana khusus untuk program atlet binaan yang dipersiapkan menuju PON XXI/2024,” ungkap Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan Prestasi KONI Aceh, Drs H Bachtiar Hasan MPd kepada Serambinews, Minggu (17/7/2021). Bachtiar menyebutkan, KONI Aceh sudah memulai pembinaan 70 atlet muda dengan 22 pelatih. Atlet muda potensial itu berasal dari 26 cabang olahraga melalui Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) desentralisasi. “Para atlet kita bina dalam Pelatda desentralisasi selama tujuh bulan. Latihan sudah dimulai 1 Juni dan akan berlangsung hingga Desember 2021,” sebut Bachtiar yang juga Ketua Pelatda PON Aceh. Menurut Ketua Umum PASI Aceh itu, sebelum menjalani Pelatda, semua atlet telah menjalani tes fisik di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh. “Mereka semua berlatih secara bersama-sama dengan atlet yang sedang menjalani Pelatda menuju PON XX/2021 Papua,” ujarnya Sebutnya, program pembinaan juga berlaku degradasi. Sehingga semua atlet mulai dilihat perkembangan prestasinya saat mengikuti Pra-PORA pada 2021 ini. “Jika nanti ada yang kalah atau gagal, kita ganti dengan atlet atau cabang yang lain,” lanjutnya. Ia mengatakan, ujian terakhir terhadap atlet binaan akan dilihat prestasinya pada saat PORA XIV/2022 di Pidie. Program pembinaan ini berkelanjutan mulai 2021, 2022, hingga 2023. Karena, katanya, pada 2023 juga ada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) Sumatera dan Pra-PON di Aceh. “Kita mengharapkan para atlet yang masih muda ini nantinya bisa berprestasi,” ujarnya. Bachtiar tidak menampik kemungkinan bertambahnya atlet binaan dari cabang olahraga (cabor) lainnya. “Penambahan atlet dan cabor binaan akan kita lihat perkembangan pada 2022. Kalau cabor bertambah, atlet juga bertambah,” katanya. Begitu juga, sebutnya, atlet yang mengikuti PON Papua yang bisa dipertahankan karena faktor usianya masih muda, otomatis masuk Pelatda. “Maka kita bisa lihat di akhir PORA Pidie nanti, baru terjaring atlet yang sebenarnya menuju PON Aceh-Sumut,” ujarnya. Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) telah resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi ke XXI pada tahun 2024. Ini merupakan sejarah bagi perjalanan dunia olahraga di Tanah Air. Karena, untuk pertama kalinya, dua provinsi ditetapkan sebagai tuan rumah bersama. Sejak PON pertama di Kota Solo, Jawa Tengah tahun 1948 hingga PON 2020 di Papua, tuan rumah selalu tunggal. Adapun cabang dan atlet binaan KONI Aceh menghadapi PON XXI/2024 yaitu: Squash (2 atlet) Panahan (3 atlet) Judo (3 atlet) Kurash (1 atlet) Soft tenis (3 atlet) Menembak (2 atlet) Taekwondo (3 atlet) Petanque (7 atlet) Sepatu roda (1 atlet) Tarung derajat (4 atlet) Wushu (2 atlet) Panjat tebing (2 atlet) Pencak silat (3 atlet) Tinju (3 atlet) Karate (3 atlet) Kick boxing (2 atlet) Sambo (1 atlet) Triatlon (1 atlet) Bulu tangkis (1 atlet) Anggar (3 atlet) Angkat besi (3 atlet) Atletik (6 atlet) Balap motor (2 atlet) Hapkido (3 atlet) Muaythay (3 atlet) Kempo (4 atlet)

Jelang PON dan SEA Games 2021, PB WI Gelar Sirnas Virtual

Jelang PON dan SEA Games 2021, PB WI Gelar Sirnas Virtual

Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) dan SEA Games 2021 sudah di depan mata. Untuk menyiapkan atlet, Pengurus Besar (PB) Wushu Indonesia (WI) pimpinan Airlangga Hartarto menggelar Sirkuit Nasional (Sirnas) Wushu Taolu. Sirkuit Nasional Wushu Taolu yang didukung penuh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan digelar dalam tiga seri yang akan digelar pada bulan Maret, Juli, dan Desember 2021. Ajang ini merupakan lanjutan virtual Wushu Championship khusus nomor Taolu dalam dua seri pada tahun 2020. “Sirkuit Nasional Wushu 2021 ini merupakan program kelanjutan dari Virtual Wushu Championship 2020 lalu. Ini merupakan strategi dalam menyiapkan program pembinaan berkesinambungan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan prestasi wushu Indonesia ke depan,” kata Sekjen PB WI, Ngatino di Jakarta, Selasa (16/3/2021). Pada Sirkuit Nasional Wushu Seri I yang digelar secara virtual, 22 – 27 Maret 2021 sebanyak 444 atlet terdiri dari 71 atlet senior (peserta PON dan Pelatnas), 111 atlet Junior A, 152 atlet Junior B, dan 110 atlet Junior C. Mereka berasal dari 10 Provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, DIY, Jawa Barat, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Lampung, Jambi, Sumatera Utara. Sebanyak 373 atlet junior yang tampil di Sirkuit Nasional Wushu itu, kata Ngatino, merupakan atlet terbaik yang dijaring dari Virtual Wushu Championship 2020. Mereka nantinya akan memperebutkan tiket ke pelatnas junior yang akan ditetapkan setelah mengikuti tiga seri. “PB WI akan merekrut 25 persen dari jumlah 373 atlet yang tampil untuk mengisi pelatnas junior. Mereka akan ditentukan sesuai dengan poin dan hasil penilaian Tim Talents Couting (pencarian bakat) yang akan diterjunkan untuk memantau atlet junior yaglng tampil,” jelasnya. Selain menjaring atlet junior potensial, kata Ngatino, Sirkuit Nasional Wushu ini juga dijadikan sebagai ajang uji coba bagi atlet wushu yang akan tampil di PON Papua 2021. “PB WI sengaja melibatkan atlet senior dan atlet pelatnas di Sirkuit Wushu Nasional untuk menjaga kualitas pertandingan di PON Papua 2021 nanti. Mereka kan sudah lama tidak tampil karena pandemi Covid 19. Jadi, mereka yang lolos di PON bisa melihat kelemahan dan kekurangan sebelum tampil di Papua nanti. Begitu juga atlet pelatnas yang akan turun di SEA Games Hanoi 2021,” jelasnya. “Penampilan atlet PON dan atlet pelatnas ini juga bisa dilihat atlet junior yang akan menggantikan posisinya di ajang event internasional,” tambah Ngatino. Sirkuit Nasional Wushu Taolu Seri l akan dibuka secara resmi oleh Menpora Zainudin Amali bersama Ketua Umum PB WI Airlangga Hartarto pada 22 Maret 2021. Lokasi pertandingan akan ditempatkan di 30 titik dimana untuk DKI Jakarta hanya 3 titik ditambah Wisma Serba Guna Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta yang menjadi tempat latihan pelatnas. Sementara jumlah pertandingan sebanyak 898 nomor terdiri dari 149 nomor senior dan 749 nomor junior. Sirkuit ini akan disiarkan secara live streaming @INAWUSHU Channel. Sumber: Liputan6.com

1.800 Atlet Pelajar Berlaga di Solo, Persaingan Ajang Popwil II dan III 2018 Dimulai

Cabang olahraga (cabor) tenis lapangan, dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (POPWIL) II dan III 2018. Cabor Tenis lapangan berlangsung di kawasan arena tenis GOR Manahan, Solo, Jawa Tengah. POPWIL II dan III yang kali ini digabung pelaksanaannya, berlangsung 8-13 November. (TopSkor.id)

Solo- Sebanyak 1800 lebih atlet dari 13 daerah akan berlaga pada Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (POPWIL) II dan III 2018. Event ini dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kementerian Pemuda dan Olahraga, Mulyana, di Hotel Lorin Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (8/11). Menurut Ketua Panitia Penyelenggara, Bambang Siswanto, penyelenggaraan POPWIL wilayah II dan III untuk tahun ini digabung di Solo, Jawa Tengah, pada 8-13 November. Ia mengaku efisiensi biaya menjadi faktor utamanya. Sebab event ini biasanya bergulir di masing-masing wilayah, dengan peserta terdiri atas tujuh propinsi. Sebelumnya, POPWIL I sudah berlangsung dari 21 hingga 27 Oktober, di Banda Aceh. Saat itu, sebanyak 886 pelajar tampil, yang merupakan utusan dari tujuh provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau (Kepri), Bangka Belitung (Babel) dan Jambi. Bambang, yang juga Ketua Bidang Kompetisi Usia Muda di Kemenpora, dalam laporannya mengatakan, Popwil digelar sebagai babak kualifikasi menuju Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) XV pada 2019, di Papua, seperti halnya Pekan Olahraga Wilayah (PORWIL) untuk kualikasi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON). “POPWIL adalah sarana babak kualifikasi delapan cabor menuju POPNAS XV 2019 di Papua, dan merupakan bagian sistem kompetisi pelajar secara nasional, berjenjang dan berkelanjutan,” kata Bambang. Sementara itu, Mulyana mengatakan, atlet yang tampil di POPWIL adalah cikal bakal atlet yang menjadi investasi masa depan. “Tahun depan, Indonesia menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar ASEAN atau ASG di Semarang. POPWIL ini akan menjadi salah satu ajang seleksi atlet pelajar nasional,” ujar imbuh pria yang juga menjabat Ketua Umum Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi), yang bernaung di bawah Kemenpora . Di wilayah II, akan bersaing komtingen dari Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Kalimantan Barat. Sedangkan di wilayah III, ada tujuh tim yang bersaing yakni Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara. Para atlet pelajar potensial ini akan berkompetisi di delapan cabang olah raga yang dipertandingan. Bola basket, bulutangkis, bola voli, pencak silat, sepakbola, sepak takraw, tenis lapangan dan tenis meja. Adapun venue pada POPWIL II dan III 2018 ini tersebar di beberapa tempat. Tak hanya di Kota Solo, namun juga di Sragen, Karanganyar dan Sukoharjo. Untuk bola basket, digelar di GOR Sritex Arena, Solo dan GOR ATMI, Pabelan, Sukoharjo. Untuk bulutangkis, digelar di GOR Sritex B Solo. Cabang bola voli diselenggarakan di GOR Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Untuk Pencak silat berlaga di ball room Hotel Lorin, sepakbola di Stadion Sriwedari Solo dan Stadion Taruna Sragen, cabor sepak takraw di GOR Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), tenis lapangan di arena tenis Manahan, serta tenis meja di Hartono Trade Center Solo Baru, Sukoharjo. “Basket dan tenis lapangan menjadi cabang sebagai andalan kami,” kata pimpinan kontingen DKI Jakarta, Ondang Gufron. Menurutnya, selain dau cabang itu, Kontingan DKI juga menargetkan untuk dapat meloloskan atletnya pada semua cabang yang dipertandingan. Persiapan matang sepanjang tahun di sekolah olahraga Ragunan menjadi salah satu modal terbaik kontingen ibukota di ajang POPWIL II 2018 kali ini. Oleh karenanya, tak hanya nomor beregu, DKI juga menargetkan meloloskan atletnya di nomor perorangan yang banyak diperlombakan. POPWIL merupakan Sarana dan Babak Kualifikasi delapan cabang olahraga awal evaluasi terhadap pelaksanaan pembinaan olahraga pelajar di daerah, menuju event POPNAS XV tahun 2019 di Papua. Peserta POPWIL adalah pelajar atau sederajat, dan mereka yang tercatat kelahiran 1 Januari 2001 dan sesudahnya. (Adt) Tuan Rumah POPWIL 2018 Wilayah I 1. Aceh (tuan rumah) 2. Sumatra Utara 3. Sumatera Barat 4. Riau 5. Kepulauan Riau 6. Kep. Bangka Belitung 7. Jambi Wilayah II 1. Lampung 2. Sumatera Selatan 3. Bengkulu 4. DKI Jakarta 5. Jawa Barat 6. Kalimantan Barat Wilayah III 1. Banten 2. Jawa Tengah (tuan rumah) 3. DI. Yogyakarta 4. Bali 5. Kalimantan Tengah 6. Kalimantan Selatan 7. Kalimantan Utara Wilayah IV 1. Sulawesi Selatan 2. Sulawesi Tenggara 3. Sulawesi Barat 4. Kalimantan Timur 5. Jawa Timur 6. Nusa Tenggara Barat 7. Nusa Tenggara Timur Wilayah V 1. Sulawesi Selatan 2. Sulawesi Tenggara 3. Sulawesi Barat 4. Kalimantan Timur 5. Jawa Timur 6. Nusa Tenggara Barat 7. Nusa Tenggara Timur

Demi Hasil Maksimal PON XX 2020 Papua, 729 Atlet DKI Ikuti Tes Performa POB

Sebanyak 729 atlet dari 34 cabang olahraga, yang tergabung dalam Program Pembinaan Olahraga Berkelanjutan (POB) DKI Jakarta, telah menjalani test performa sejak 16 hingga 22 Oktober 2018 di Rawamangun, Jakarta Timur. (indopos.co.id)

Jakarta- Sebanyak 729 atlet dari 34 cabang olahraga, yang tergabung dalam Program Pembinaan Olahraga Berkelanjutan (POB) DKI Jakarta, telah menjalani test performa sejak 16 hingga 22 Oktober 2018, di Rawamangun, Jakarta Timur. Masih 10 cabang olahraga lagi yang belum melakukan tes perfoma. “Atlet yang belum mengikuti tes performa, akan dipanggil untuk segera mengikuti tes tersebut. Dengan harapan, agar kondisi fisiknya cepat terpantau dari jauh hari,” jelas koordinator technical sport POB, Del Asri, Senin (22/10) di Jakarta. Menurutnya, atlet yang belum mengikuti tes sebagian besar datang dari cabang olahraga beregu, seperti sepakbola dan futsal. Dia berharap, atlet dari cabang yang belum mengikuti tes dalam bulan ini (Oktober) sudah harus ikut tes, agar tetap masuk dalam daftar POB. Sementara itu, salah satu anggota Technical supports POB, Hermanto menegaskan, test yang dilakukan ini hasilnya masih akan dikumpulkan dan didata, oleh tim pengolah data. “Test performa bagi atlet yang tergabung dalam POB ini amat penting artinya demi mengetahui kondisi fisik yang dimiliki. Dan, atlet terus terpompa semangatnya, menyiapkan diri menuju PON XX Papua 2020,” ujar Hermanto. Ia menegaskan, pelaksanaan PON XX Papua 2020, waktunya memang cukup panjang, namun persiapan atlet harus jauh hari. Sebab, setiap atlet yang ditempa di bawah naungan PON harus selalu siap tampil di berbagai event. Begitu juga dengan fisik, teknik, dan psikologi, selalu siap tampil dalam berbagai event. Menurutnya, untuk tes performa dibagi tiga disiplin yakni kesehatan, psikologi dan fisik. Segi fisik test performanya cabang yang satu dan lainnya tidak sama. Seperti halnya catur dan bridge tidak bisa disamakan dengan cabang atletik yang harus memiliki fisik cukup handal. Nantinya, test performa yang dilakukan akan berbeda, antara yang satu atlet dengan lainnnya. Semua tes harus pun disesuaikan dengan cabang yang bersangkutan. Dengan harapan, fisik atlet tetap terjaga saat tampil dalam pertandingan. Saat ini, menurut Hermanto, atlet yang masuk dalam daftar POB berjumlah 1.100 orang. Sementara yang sudah mengikuti Test Performa mencapai 729 atlet. Untuk atlet yang belum mengikuti test, diharapkan segera menyusul dalam waktu dekat ini. Pembinaan Sport Science melalui program POB ini, menerapkan sistem Promosi Degradasi (Promdeg). Dengan waktu yang telah ditentukan, bila atlet yang tergabung dalam POB ternyata gagal menunjukkan peningkatan prestasi, maka ia dapat didegradasi dan digantikan atlet lain. Program Promdeg itu berjalan hingga pembentukan kontingen tim inti, menuju PON XX  Papua 2020. Targetnya adalah kontingen DKI Jakarta meraih juara umum alias menduduki peringkat satu dalam klasemen PON XX nantinya. (art)

Siapkan SDM Berkualitas Jelang POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, Kemenpora Gelar Pelatihan Manajemen Multievent Olahraga

Kemenpora menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Keolahragaan dan Manajemen Penyelenggaraan Multievent Olahraga untuk POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, di Kota Jayapura, pada 16-18 Oktober 2018. (Kemenpora)

Jayapura- Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Keolahragaan dan Manajemen Penyelenggaraan Multievent Olahraga untuk ajang POPNAS 2019 dan PON 2020 Papua, di Kota Jayapura, pada 16-18 Oktober 2018. Akhyar Matra, Ketua Penyelenggara sekaligus mewakili Asisten Deputi (Asdep) Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, mengatakan tujuan kegiatan ini meningkatkan kemampuan manajemen organisasi dan manajemen penyelenggaraan multievent. Pelatihan ini mempunya target khususnya jelang persiapan penyelenggaraan diadakannya event POPNAS (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) 2019 dan ajang PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020, di Papua. “Kegiatan ini diikuti 200 orang peserta yang berasal dari organisasi keolahragaan di Papua, seperti KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), Pengprov Cabor (Pengurus Provinsi Cabang Olahraga), serta instansi terkait lainnya yang akan terlibat di POPNAS dan PON,” ujar Akhyar dalam sambutannya dihadapan ratusan peserta yang hadir. Sementara itu, Timotius Madoan, Ketua Bidang (Kabid) Pembudayaan Olahraga mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Papua, mengaku bersyukur dan Kemenpora memfasilitasi pelatihan ini. “Ini penting sebagai bekal kami sebagai tuan rumah POPNAS dan PON mendatang,” terang Timotius. (Adt)

Tinjau Cabor Senam Trampoline, Menpora Harap Bisa Dipertandingkan di Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2019

Imam Nahrawi (Menpora) berharap cabang olahraga (cabor) senam trampoline dipertandingkan di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2019 dan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua. (Kemenpora)

Jakarta- Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berharap cabang olahraga (cabor) senam trampoline bisa dipertandingkan pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2019 maupun Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua. Hal itu dikatakan menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, saat meninjau kesiapan atlet dan venue pertandingan cabor senam trampoline di Houbii Urban-Adventure Park, Pondok Indah Mall (PIM) 3, Jakarta Selatan, Selasa (31/7). Dalam kesempatan itu, Menpora didampingi Tommy Kurniawan (Staf Khusus Olahraga Kemenpora), Dian Arifin (Manajer Pelatnas Timnas Senam Indonesia), dan Lulu Manurung (Pelatih Senam Trampoline). Saat ini ada tiga atlet yang berlatih di Houbii Urban-Adventure Park yang merupakan official training center untuk atlet gymnastic trampoline kontingen Indonesia Asian Games 2018, yakni Calvin Ponco, Dimas Sindu, dan Yudha Tri Aditya. “Tadi sudah dilihat bagaimana atlet senam trampoline berlatih. Saya juga lihat semangat dan optimisme para atlet, meskipun ini olahraga baru yang belum dipertandingkan di Pekan Olahraga Pelajar Nasional atau Pekan Olahraga Nasional,” ujar Imam. Dengan banyaknya fasilitas trampoline di Jakarta dan daerah, pria 44 tahun itu berharap trampoline bisa dipertandingkan di ajang Popnas 2019 dan PON 2020 Papua. Disisi lain, Imam mengapresiasi pihak Houbii Urban-Adventure Park yang ingin menjadi patner pemerintah. “Ini langkah bagus, karena harus seperti itu. Ada partner yang menyiapkan tempat latihan, seragam dan yang lainnya. Atas partisipasi dari Houbii Urban-Adventure Park saya ucapkan terima kasih,” tegasnya. Dalam kesempatan itu, Menpora mendapatkan keluhan soal keterlambatan honor untuk atlet senam trampoline. “Akan saya tindaklanjuti masalah ini. Saya juga minta kepada PB Persani (Pengurus Besar Persatuan Senam Indonesia) untuk mengajukan ulang soal administrasinya,” urai ayah 7 anak itu. Sementara itu, Lulu berharap masalah ini segera diselesaikan, mengingat atlet merupakan wakil bangsa yang berusaha mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional. “Semoga masalah honor atlet yang terlambat bisa segera diselesaikan dan diberikan secepatnya,” tegas Lulu. (Adt)

Josephine Nikita, Atlet Basket Termuda Di PON 2016

basket-Josephine-Nikita

Josephine Nikita merupakan salah satu atlet basket termuda yang mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2016 lalu. Ia bersama tim Jawa Barat berhasil menduduki peringkat 4. Bagi gadis asli Bandung, Jawa Barat ini bukan sebuah masalah menjadi pemain termuda bahkan ia bisa menambah pengalaman dari senior yang sudah lebih dulu menekuni basket. “Waktu PON, aku kan paling muda di tim. Jadi, aku dapat banyak pengalaman dari senior-senior sih,” tukas Nikita. Siswa kelas 12 di SMA Bintang Mulia, Bandung, mengaku tak mudah menjadi seorang atlet dan juga pelajar. Meski tak mendapatkan keringanan dari sekolah, ia tetap semangat mengejar pelajaran. Bahkan, ia harus menambah waktu setelah pulang sekolah untuk ulangan susulan dan sebagainya. “Duka menjadi atlet itu kalau sudah bolos sekolah gara-gara tanding, jadi banyak susulan. Untuk tugas sih gak dikasih keringanan. Tetap ngejar sama kayak murid lain. Selama ini sih gak ada masalah buat ngejar pelajaran. Jadi, harus lebih rajin saja sih,”ungkapnya Nikita yang lahir pada 25 Juli 2000 menyukai basket sejak dibawa sang orangtua yang juga atlet basket Sea Games untuk bermain di lapangan basket. Meski pada awalnya malu-malu bermain basket, Nikita pun semangat mengikuti basket ketika bergabung dalam klub basket Tunas. “Papa Mama atlet basket yang ikut Sea Games. Dari awalnya gara-gara Papa dan Mama terus masih malu-malu ikut latihan di Tunas soalnya paling kecil sendiri. Awalnya Cuma latihan di pinggir lapangan pas latihan. Sampai akhirnya diajak sama 1 pelatih dan terus ikut latihan setiap Minggu,”ucap gadis yang genap berusia 17 tahun Sebagai salah satu atlet wanita di Indonesia, Nikita pun memiliki pandangan tentang perkembangan basket di Indonesia. Menurutnya, basket wanita di Indonesia bisa dikatakan mundur dilihat dari pertandingan yang sudah jarang untuk pebasket wanita di Indonesia. “Buat pemain putri professional malah mundur. Soalnya Wome’s Indonesian Basketball League (WIBL) kan sudah gak ada. Kayak event tertinggi di Indonesia buat cewek sudah gak ada, cumin mereka sekarang hanya bikin cup sendiri gitu,”tutupnya.(put)

Walaupun Berlangsung Ketat, Jesslyn Dan Tim Bola Basketnya Berhasil Menyumbang Emas Di Pekan Olahraga Nasional

Basket-Jesslyn

Mendapatkan medali emas memang sangat diidamkan oleh seluruh atlet. Pasalnya pencapaian tertinggi pada kompetisi olahraga adalah nomer satu. Terlebih jika pertandingan tersebut sudah masuk babak final. Tim Jawa Tengah, Jesslyn Rasali atau yang akrab disapa Dhing-dhing, yang merupakan salah satu atlet basket dari wilayah Jawa Tengah. Jesslyn bersama tim Jawa Tengah berhasil menaklukan tim Jawa Timur di babak semi final dan juga mampu mengalahkan tim Jakarta di babak final Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu. “Di PON dapat medali emas. Semi final lawan Jawa Timur, final lawan DKI Jakarta itu ketat banget. Waktu lawan Jawa Timur diawalnya ketat banget skornya juga gak terlalu jauh. Tapi kalau pas lawan DKI Jakarta itu ketat banget sampai akhir pertandingan. Skor akhirnya juga gak jauh hanya 5 atau 7 point gitu,”tuturnya Pertandingan di PON memang berkesan bagi Jesslyn. Selain rasa lelah dan membuatnya belajar mandiri, rasa kekeluargaan dengan tim sangat terasa. Atlet berusia 18 tahun ini juga sudah memenangkan berbagai pertandingan seperti Kejuaraan Nasional, Tim Nasional Divisi 2 dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Mahasiswi Psikologi Universitas Surabaya ini juga menceritakan bagaimana awal mula ia bisa bergabung dengan dunia basket yang sudah ia geluti sejak kelas 3 Sekolah Dasar. “Awal mulanya itu, aku lihat kakak yang lagi latihan basket. Terus ikut main-mainan saja, dan lama-lama jadi suka. Saya merasa kalau saya ada bakat juga ya, eh lanjut deh sampai sekarang,”ujarnya Selain itu, gadis yang mengidolakan pemain basket legendaris Stephen Curry ini memberikan pandangannya tentang perkembangan basket di Indonesia. “Perkembangan basket di Indonesia saat ini maju banget. Ditambah ada pemain-pemain asing yang masuk. Itu juga bisa menambahkan semangat, dan juga memajukan pemain-pemain lokal karena bisa termotivasi untuk lebih baik lagi,”tutupnya(put/adt)

Kisah Awal Pekan Olahraga Nasional (PON) Dimulai Pertama Kali

Kisah-Awal-Pekan-Olahraga-Nasional-(PON)-Dimulai-Pertama-Kali-1

Pekan Olahraga Nasional (PON) merupakan ajang olahraga nasional yang diadakan setiap 4 tahun sekali yang diikuti oleh atlet dari seluruh provinsi di Indonesia. Ajang yang terakhir diadakan di Jawa Barat ini sudah terlaksanakan selama 16 kali. Di tahun 2020, Jayapura di pilih untuk menjadi tempat berlangsungnya perhelatan olahraga terbesar di Indonesia. Namun, bagaimana kisah awal mula terbentuknya PON dan apa saja cerita dibalik PON pertama? Pada awalnya, para atlet Indonesia hendak mengikuti Olimpiade Internasional ke-14  Musim Panas di London, Inggris pada tahun 1948. Ditahun ketiga kemerdekaan Indonesia itu, para atlet Indonesia ditolak dan tidak bisa diberangkatkan ke London karena paspor yang ditahan oleh pihak Inggris. Indonesia dianggap belum diakui kemerdekaannya oleh dunia dan belum memenuhi standar untuk mengikuti Olimpiade bertaraf internasional. Tidak hanya itu, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) juga belum diakui oleh International Olympic Committee(IOC). Semangat Indonesia saat itu sangat menggebu dan tidak terima ditolak untuk bergabung dalam ajang internasional. Oleh sebab itu, PORI mengadakan konferensi  dan sepakat untuk membentuk ajang olahraga nasional untuk Indonesia yaitu Pekan Olahraga Nasional (PON). PON juga dianggap telah menghidupkan kembali pekan olahraga yang pernah diadakan oleh Ikatan Sport Indonesia (ISI) yaitu ISI Sportweek atau Pekan Olahraga ISI pada tahun 1938. PON 1 diadakan di Surakarta, Jawa Tengah pada 9-12 September 1948. Kota Surakarta dianggap kota yang memiliki fasilitas terlengkap ditambah dengan adanya Stadion Sriwedari yang merupakan stadion pertama di Indonesia. Pembukaan PON 1 dilakukan pada tanggal 9 September 1948 yang diresmikan oleh Presiden pertama, Ir. Soekarno dan penutupan PON dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tanggal 9 September memang momentum yang sangat beharga bagi olahraga di Indonesia dan menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Olahraga Nasional. Sebanyak 600 atlet bertanding untuk 9 cabang olahraga yaitu Atletik, Bola Keranjang, Bulutangkis, Tenis, Sepakbola, Panahan, Renang (termasuk Polo Air), Basket dan Pencak Silat. Pada saat itu, atlet yang mengikuti PON tidak diambil dari tingkat provinsi, melainkan dari tingkat kota atau karesidenan. PON 1 diikuti 13 kota atau karesidenan yaitu Karesidenan Surakarta, Karesidenan Yogyakarta, Karesidenan Kediri, Karesidenan  Jakarta, Karesidenan  Kedu, Karesidenan Madiun, Karesidenan Malang, Karesidenan  Madiun, Karesidenan Pati, Karesidenan Surabaya, Bandung, Banyuwangi dan Magelang. Karesidenan Surakarta mendapatkan juara dengan membawa 36 medali. Diposisi kedua adalah Karesidenan Yogyakarta dengan 23 medali dan juara ketiga adalah Karesidenan Kediri sebanyak 12 medali. Pelaksanaan PON 1 sangatlah sederhana dan hanya diikuti oleh para atlet yang berada di pulau Jawa. Para pemenang dalam PON 1 dari seluruh cabang olahraga tidak mendapatkan medali berupa emas, perak dan perunggu bahkan sebuah piala. Pengakuan kemenangan hanya dituliskan pada sebuah kertas berbentuk piagam. Namun, piagam tersebut sangatlah bermakna dan membanggakan bagi para atlet dan wilayah yang menjadi pemenang. Meski ajang PON 1 diadakan karena kondisi yang belum mendukung dan kurang dalam persiapan, perhelatan nasional ini masih terus berlangsung hingga sekarang dan sebagai bentuk dukungan Indonesia terhadap dunia olahraga.