Wadahi Bakat Generasi Muda, FEB-Universitas Pancasila Gelar Kompetisi Futsal Antar SLTA

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila Jakarta menggelar kompetisi futsal antar sekolah. (Adt/NYSN).

Jakarta- Guna mewadahi bakat generasi muda, terutama dikalangan pelajar, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pancasila (UP), Jakarta, menggelar kompetisi futsal antar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Kompetisi ini digelar selama dua hari, 10-11 Maret 2018, dan diikuti 17 tim yang berasal dari sekolah diwilayah Jakarta dan Depok. Mereka memperebutkan trofi dan hadiah jutaan rupiah. “Tujuan kompetisi ini adalah untuk mewadahi para pelajar sekaligus melampiaskan hobi dan bakat mereka dalam bermain futsal,” ujar Roy Christino Purbatua, Ketua Pelaksana Kompetisi Futsal FEB-UP, Sabtu (10/3). Ia menyebut pada tahun ini antusiasme peserta meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. “Kompetisi ini memang rutin diadakan setiap tahun. Kalau melihat dari jumlah peserta yang meningkat, ini menandakan antusiasme mereka sangat tinggi untuk mengikuti kompetisi futsal ini,” sambungnya. “Event kami gelar pada Sabtu (10/3) dan Minggu (11/3), agar tak mengganggu jadwal sekolah. Dan ini membuat jumlah peserta meningkat. Jika digelar hari biasa, bisa dipastikan kami juga tak akan mendapat izin pihak kampus maupun sekolah,” cetus pria yang juga menjabat sebagai Biro Minat dan Bakat Himpunan Mahasiswa (HIMA) Jurusan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila itu. (Adt)

Kalah 1-3 Dari Rombongan Tim Pelatih Lisensi B, Latihan Timnas Putri Diliburkan

Timnas Putri kalah 1-3 dari tim Pelatih Kursus Lisensi B , di laga uji coba perdana. (bola.com)

Jakarta- Memasuki akhir pekan, seleksi Timnas Putri Indonesia melakukan uji coba perdana versus tim pelatih kursus lisensi B AFC, di lapangan National Youth Training Camp (NYTC), Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (10/3) pagi. Melawan tim yang banyak dihuni mantan pemain timnas semisal Aples Tecuari dan Bonggo Pribadi, Zahra Muzdalifah dkk takluk dengan skor 1-3. Namun, pelatih Timnas Putri, Satia Bagdja mengaku cukup puas dengan permainan anak asuhnya. “Dari sisi pemainan saya puas, kan lawannya laki-laki. Dari uji coba ini, kami ingin melihat penerapan materi latihan. Positif hasilnya, dan cukup baik di pertandingan tadi”, ujar Satia usai laga. Meski puas, namun kekalahan Timnas ini mendapatkan catatan khusus dari sang pelatih. Gol satu-satunya Timnas dicetak oleh Tugyati. “Banyak catatan khususnya, semuanya diperbaiki mulai pekan depan. Kami kan baru terhitung latihan bersama selama 3 hari,” sambungnya. Hal serupa juga disampaikan salah satu kandidat winger dan striker Timnas Putri, Zahra Muzdalifah. Wanita berpostur semampai ini mengaku bila kerjasama tim memang masih sangat minim. “Dari fisik dan cara main, kami sudah kalah. Tapi coach Satia ingin melihat transisi pemainan kami dari menyerang ke defence, berjalan atau tidak. Apalagi, lawan kami nanti punya kemampuan longpass and passing control yang baik,” ujar Zahra. Dara kelahiran Jakarta 4 April 2001 ini memahami jika koordinasi permainan masih perlu waktu untuk beradaptasi. Berlatih bersama dengan 40 pemain selama 4 hari, tentu tak mudah menyatukan visi bermain. “Latihan dan berkumpul bersama selama 4 hari terkahir ini, ya pasti belum optimal mainnya. Tapi, kami bisa kontrol bola dari belakang, serta melakukan pergeseran posisi antar lini, bukti kami sudah mulai menyatu,” bilang winger klub tim jakarta 69 FC ini. Setelah melakukan uji coba melawan pelatih kurus lisensi B AFC, pekan depan Timnas Putri memang dijadwalkan kembali menggelar pertandingan uji coba melawan SSB Pelita Jaya. “Nggak pakai persiapan khusus untuk uji coba. Uji coba itu kami anggap seperti latihan biasa saja”, ujar Beny Van Breukelen, pelatih kipper. Selama proses seleksi hingga 5 April nanti, Timnas Putri rutin mengagendakan laga uji coba, setiap akhir pekan dengan beberapa SSB dan klub remaja. Usai laga uji coba perdana ini, Timnas Putri diliburkan dan kembali berlatih pada Senin (12/3). (Dre)

Timnas Putri Minim Lawan Uji Tanding, Akhirnya Diadu Pelatih Kursus Lisensi B

Timnas Putri akan menghadapi tim pelatih kursus Lisensi B AF, sebagai lawan uji coba. (bola.com)

Jakarta- Kondisi pemain seleksi Timnas Senior Putri saat ini sudah memasuki fase persiapan eliminasi skuad. Pelatih Timnas, Satia Bagja memastikan jika beberapa nama sudah mulai disaring. “Proses pemilihan pemain sudah mulai dilakukan. Secara bertahap, lima pemain akan tereleminasi tiap pekan. Itu rencana yang sedang kami siapkan saat ini,” tutur Satia pada Jumat (9/3), Camp National Youth Training Camp (NYTC), Sawangan. Sejak Selasa (6/3), 40 pemain telah melewati 7 sesi latihan ketat secara simultan. Mulai dari fisik, teknik hingga taktik bermain. Lantaran tingginya tingkat intensitas latihan, beberapa pemain mengalami kesulitan. “Selama ini, mereka memang tidak pernah bertemu dengan program latihan yang rutin. Jadi, wajar kondisi mereka saat masuk TC ini mengalami penyesuaian yang luar biasa,” tukas pria berambut putih ini. Tak memiliki klub permanen dan aktif dalam kompetisi, menyebabkan beberapa pemain mengalami problem seperti mudah lelah, hingga kram kaki akut saat melakukan games. Hal ini juga dipahami Satia. “Sengaja tim pelatih menggeber simulasi latihan yang memainkan situasi pertandingan. Supaya mereka terbiasa dalam menghadapi pertandingan yang sesungguhnya. Maklum, jam terbang mereka ini rata-rata minim,” tegas sosok yang dekat dengan Rahmad Darmawan ini. Selain jarang tampil bertanding secara periodik, Timnas Putri juga kesulitan mencari lawan latih tanding. Tak adanya klub sepakbola putri yang berkualitas, memaksa tim pelatih menyiapkan skema melakukan uji coba melawan Sekolah Sepak Bola (SSB) Putra. Selain itu, pada Sabtu (10/3) pagi, Laskar Srikandi Indonesia yang akan turun di event Asian Games 2018 dan Piala AFF Wanita ini disiapkan menantang rombongan tim Pelatih yang tengah melakukan kursus pelatih lisensi B AFC di NYTC. “Ya itu, karena belum ada lawan yang siap, kami memilih akan menjajal tim pelatih kursus sebagai lawan uji coba,” sebut Benny Van Breuklen, pelatih kiper Timnas Putri. (Dre)

Padatnya Jadwal Ujicoba Villa 2000 Jelang Liga 3 Bergulir

Pertandingan Villa 2000 (Hitam) vs Bogor FC (Kuning). (Dre-NYSN)

Jakarta- Sebelum bergulirnya liga, klub-klub di Indonesia terus mempersiapkan klubnya. Salah satunya Villa 2000, yang musim ini mengikuti ke liga 3 Indonesia. Pada Jumat (2/3), Villa 2000 menggelar laga uji coba dengan Bogor FC di Pamulang, Tangerang Selatan. Bogor FC yang datang sebagai lawannya harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 3-2. Meskipun menang, pelatih Villa 2000, Blitz Tarigan tetap mengkritisi permainan anak asuhnya. “Secara umum sudah bagus dan anak-anak menjalankannya secara organisasi. Tapi, pada saat duel individu, terkadang kita masih kurang beran,” ujarnya. Kesalahan-kesalahan individu juga disesali oleh salah satu pemain Villa 2000, Oktavian Nasril. “Belum puas, karena masih banyak salah, dan itu kesalahan individu. Tapi secara tim kita bagus”, ujar lelaki kelahiran tahun 1999. Selain klub Villa 2000, ungkapan yang sama juga keluar dari suara pemain Bogor FC, Dion Mepahmi. Mesikpun belum puas dengan hasil akhir, ia tetap memuji permainan Villa 2000. “Dari skor sangat belum puas, tapi secara tim sudah lumayan. Villa 2000 bermain bagus sore ini. Kami harus banyak belajar apalagi kami tim baru”, ujar Dion, usai pertandingan. Usai meladeni Bogor FC, pada Jumat (9/3), anak-anak Pamulang akan menghadapi tim Porpov Banten juga di tempat yang sama. Lalu pada Jumat (16/3), giliran tim U-18 Provinsi Banten menjadi lawan berikutnya. (Dre)

Legenda Datang, Kini Stadion Liverpool Hadir di Jakarta!

Legenda Liverpool FC hadir dan mengunjungi Jakarta hingga akhir pekan nanti. (Prast/NYSN)

Jakarta- Tim raksasa sepak bola Inggris, Liverpool, membuka both bertajuk LFC World Tour 2018. LFC World persembahan Standard Chartered secara resmi dibuka untuk umum pada Jumat (9/3) sampai Minggu (11/3) di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat. Para Fans Liverpool di Indonesia atau Big Reds berkesempatan untuk bertemu dengan para legenda club dari Merseyide itu. Big Reds bisa membawa atau sekaligus membeli merchandise yang dijual di booth ini untuk ditanda tangani oleh para Legend seperti, Garry McAllister, Roy Evans, Patrik Berger, dan Jason McAteer. Pada acara ini, para Big Reds juga dapat berkesempatan untuk berfoto di ruang ganti para pemain Liverpool, dan berfoto dengan Piala Liga Champions yang dipajang untuk beberapa hari kedepan. Para pengunjung dapat melihat “Bagian Dalam Anfield” dengan menggunakan teknologi Virtual Reality dengan bantuan perangkat headset dan earphone. Teknologi ini memungkinkan para penggemar untuk merasakan dari sudut pandang pemain dan melihat tempat pribadi para pemain. Satu hal menarik lainnya, para Big Reds juga dapat mengikuti acara nonton bareng (nobar) saat melawan Manchester United pada hari Sabtu (10/3) di Atrium Mall Taman Anggrek. (Dre)

Seleksi Timnas Putri Banyak Usia 19 Tahun, Legenda Indonesia Beri Catatan Khusus

Rahma Wulan (depan), salah satu striker dalam seleksi Timnas Putri Indonesia. (bola.com)

Jakarta- Pelatih Timnas Putri Indonesia, Satia Bagdja, secara bertahap mulai menekankan tentang latihan organisasi permainan serta penguasaan bola yang diberikan pada peserta seleksi. “Ini masih tahap seleksi. Cuma pengenalan taktik dan formasi saja serta mengutamakan penguasaan bola. Postur pemain rata-rata kecil dan ini kelebihannya. Kita punya agility dan kecepatan,” ungkap Satia pada Rabu (8/3) di di kamp pelatihan National Youth Training Centre (NYTC) Sawangan, Depok, Jawa Barat. Namun, di awal pekan tahap seleksi Timnas Putri, masih terkendala adaptasi bermain dan status di klub yang tidak permanen, sehingga jarang latihan. Hal ini disampaikan Papat Yunisal, manajer Timnas Putri Indonesia. “Proses adaptasi antara satu pemain dengan yang lain, masih jadi prolem. Belum lagi status di klub yang tidak permanen, jadi menyesuaikan dulu dengan pola latihan Timnas”, ungkap Papat yang rutin mendampingi proses seleksi ini. Papat menambahkan dengan rataan usia pemain di angka 19 tahun, maka pengamalan berlatih dan bermain dalam tensi tinggi, tentu ini menjadi catatan. Mantan pelatih sepak bola putri Timnas Indonesia, Rully Nere yang hadir di sela-sela latihan pada Selasa (6/3) sore, amat mengkritisi soal ini. “Saran saya, materi timnas kali ini untuk pemain usia muda ya ditahan dulu. Kalau latihan atau seleksi, memang bagus untuk mental. Tapi untuk masuk timnas, terutama untuk event seperti Asian Games dan Piala AFF Wanita 2018, ya nanti dulu,” tegas pria asal Sentani, Papua ini. Ia mengkhawatirkan kondisi psikis pemain muda mudah down, jika bertemu dengan negara lain yang punya jam terbang dan prestasi mapan, seperti Australia, Jepang atau Korea Selatan. “Idealnya, komposisi pemain timnas senior itu usia yang 23 tahun ke atas, supaya mental bermain juga terjaga. Di level sepakbola putri, pengalaman itu salah satu bekal yang utama membangun tim,” tegasnya. (Dre)

Apresiasi Potensi Atlet, SKO Ragunan Pantau SSB Ke Tulehu di Maluku

SKO Ragunan melakukan pemantauan bibit muda di Kampung Bola Tulehu, Maluku. (net)

Jakarta- Pemerintah berperan aktif dalam melakukan pembinaan terhadap talenta muda. Hal itu dilakukan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, dengan memantau langsung terhadap 10 Sekolah Sepak Bola (SSB) di wilayah Asosiasi PSSI Provinsi Maluku dan 1 Pendidikan dan Latihan (Diklat) Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Maluku. Rudi Alaidin, Kepala Sub Bidang Pengembangan SKO Ragunan, menjelaskan program pemantau yang dilakukan bersama Asosiasi PSSI Provinsi Maluku merupakan bentuk apresiasi terhadap daerah yang memiliki potensi besar bibit sepak bola. Selain itu, lanjutnya, dipilihnya Maluku karena memiliki kontribusi bagi tim nasional (Timnas) Indonesia. Sebab, tambah Rudi, setelah era Abduh Lestaluhu (pesepak bola nasional), tak ada lagi perwakilan Indonesia Timur di SKO Ragunan. “Kendala lain yakni minimnya dana yang dimiliki daerah dan orang tua untuk mengirimkan anaknya mengikuti seleksi nasional SKO Ragunan di Jakarta. Ini juga salah satu alasan kami melakukan pemantauan secara langsung ke Maluku,” beber Rudi, akhir pekan lalu. Senada, Pura Darmawan, Kepala Bidang SKO Ragunan, mengatakan berdasarkan alasan tersebut pihaknya melalui Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Olahraga Ragunan memantau bibit muda di Maluku. “Calon atlet yang terpilih dari pemantauan ini dianggap mampu untuk ikut bersaing pada saat seleksi nasional SKO Ragunan April mendatang di Jakarta,” tukasnya. Pemantauan dilaksanakan selama 2 hari, yakni 3-4 Maret 2018 di lapangan Matawaru Tulehu, Maluku. Dari 10 SSB, terdapat 90 pemain yang datang dari berbagai daerah di wilayah Maluku serta 1 Diklat PPLP Maluku. (Adt)

Perebutan Puncak Klasemen di Pekan Ke-8 JSFL

Mentari Intercultural School Jakarta (hitam) tampil dalam ajang JSFL 2018. (net)

Jakarta- Pekan ke 8 dalam turnamen JSFL (Jakarta School Football League) kembali digelar. Seperti biasa, kejuaraan sepakbola ini digelar dari usia U-8 sampai U-19. Persaingan kelompok dibawah 8 tahun Divisi A, tim Al-Azhar Kembangan menduduki peringkat pertama dengan poin 21. Beralih ke posisi B, puncak klasemen ditempati oleh MISJ (Mentari Intercultural School Jakarta) A dengan poin 14. Sedangkan divisi C, JJC (the Jakarta Japanese Club) mengantongi poin 15 dan disusul oleh Insan Cendekia Madani dengan poin 13. Divisi D, AIS (Australian Independent School) dan GSPM (Global Sevilla Pulo Mas) bersaing ketat untuk menempati puncak klasemen. Aksi ketat juga terjadi di laga U-10. Masing-masing divisi A sampai E diduduki oleh BSJ (British School Jakarta) B, BSJ S, ACS Jakarta, NIS (Netherland Intercommunity School), dan Sekolah Victory Plus. Sedangkan di divisi F, Kinderfield dan BIntan Asia saling berebut posisi pertama dengan sama-sama mengantongi poin 15. Kategori usia dibawah 12 tahun, persaingan menarik terjadi di divisi D, karena tiga tim bersaing untuk menempati posisi puncak dengan sama-sama mengantongi poin 9. Perkembangan di U-14, puncak klasemen di divisi A dan B sama-sama mengantongi poin 15, berbeda dengan divisi C yang unggul satu poin, yakni 16 untuk JJC (the Jakarta Japanese Club). Sedangkan U-16, Madania menempati posisi pertama yang bersaing dengan Dragons. Madania memuncaki klasemen karena menang selisih gol sebanyak 9 gol. Peringkat ketiga diikuti oleh SIS (Singapore Intercultural School) United dengan poin 9 yang juga berpeluang karena hanya berselisih satu poin saja. Kelas U-19, SA Lavenue kokoh dipuncak dengan 12 poin, berbeda 3 poin atas rival dibawahnya. Partai di pekan ke-9 JSFL 2018 akan kembali digelar pada 10 Maret 2018 di Lapangan British School Jakarta. (Dre)

Coret Satu Pemain, Ini Skuat Timnas U-16 Ke Jepang

Timnas U-16 mencoret satu pemain jelang mengikuti turnamen di Jepang. (PSSI.org)

Jakarta- Timnas U-16 siap tampil dalam event Jenesys di Jepang pada 6-15 Maret 2018. Para pemain dan tim pelatih beserta ofisial dijadwalkan bertolak ke Jepang pada Senin (5/3), pukul 23.00 WIB. Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini, pun sudah menetapkan 17 pemain yang dibawa ke Jepang. Penetapan dilakukan usai pelatnas tahap kedua pada akhir Februari. Selama pelatnas timnas U-16 menggelar 3 uji coba. Dua diantaranya diraih dengan kemenangan dan hanya satu kali mengalami kekalahan. Timnas U-16 kalah dari Diklat Ragunan U-17, skor 2-3, berikutnya Persija Barat U-17 dikalahkan 9-0. Terakhir Akademi Babek U-17 dihajar 8-0 “Dalam TC tahap kedua ini, saya merasa pemain sudah siap untuk mengikuti Jenesys. Dari segi pemahaman taktik, teknik, fisik dan mental para pemain sudah bagus,” kata pelatih timnas U-16, Fakhri Husaini. Dari sekian banyak pemain, salah satu yang tak dibawa adalah Amanar Abdillah. Pemain asal Aceh itu gagal berangkat karena mengalami cedera. Dokter timnas U-16, Dicky Muhammad Shofwan, memberi penjelasan terkait Amanar. “Dia mengalami sedikit masalah. Otot hamstring yang tertarik, walaupun ringan, harus dirawat segera untuk mengurangi pembengkakan dan mempercepat penyembuhan,” ujar Dicky. Atas rekomendasi dokter, Fakhri memutuskan mengistirahatkan Amanar. “Kondisi Amanar sulit untuk berangkat, karena mengalami cedera. Menurut dokter dia harus menjalani perawatan. Saya tidak mau ambil risiko,” ujarnya. “Saya katakan bagi pemain yang tak berangkat, jika perjalanan masih panjang. Bukan hanya di Jenesys. Mereka masih punya kesempatan di dua turnamen lagi, Piala AFF U-15 dan Piala Asia U-16 di tahun ini. Jadi jangan berkecil hati,” tutup Fakhri. (Dre) Skuat Timnas U-16 Kiper Ahludz Dzikri Fikri, Ernando Ari Sutaryadi Belakang Ahmad Rusadi, Fadillah Nur Rahman, Muhammad Reza Fauzan, Amiruddin Bagas Kaffa, Muhammad Salman Alfarid, Mochamad Yudha Febrian Tengah David Maulana, Komang Teguh Trisnanda, Brylian Aldama, Rendy Juliansyah, Hamsa Lestaluhu, Mochammad Supriadi, Andre Oktaviansyah, Yadi Mulyadi Depan Sutan Zico

Menang Telak, Timnas U-16 Tutup Persiapan Jelang Turnamen Jenesys

Timnas U-16 Tutup Persiapan Jelang Turnamen Jenesys di Jepang pekan ini. (pssi.org)

Jakarta- Selesainya TC tahap kedua Timnas U-16 ditutup dengan manis. Timnas U-16 meraih kemenangan telak 8-0 pada laga uji coba melawan tim Akademi Babek U-17 di Stadion Atang Sutresna, Komplek kopassus, Jakarta Timur, Minggu (4/3). Gol diciptakan melalui aksi Rendy Juliansyah, Zidane Pramudya, Muhammad Fajar, Yadi Mulyadi, Hamsa Lestaluhu, dan Brylian Aldama. Sementara dua gol lainnya diciptakan oleh Sutan Zico. Fakhri Husaini, arsitek Timnas U-16 mengaku puas dengan performa anak asuhnya pada hari ini. “Ini hasil positif. Lawan memberikan tekanan pada tiga menit awal pertandingan. Namun pemain bisa melakukan apa yang dikerjakannya selama ini di pemusatan latihan dengan langsung mencetak gol”, kata Fakhri, pada Minggu (4/3). Meskipun TC Timnas U-16 sudah berakhir yang dilaksanakan selama dua pekan, kini Brylian Aldama dan kolega fokus pada turnamen Jenesys yang berlangsung di Jepang pada tanggal 6-15 Maret. Rencananya, pada Senin (5/3) malam punggawa Timnas U-16 siap berangkat dengan pesawat garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Pelatih kelahiran Aceh tersebut juga mengatakan timnya sudah siap tampil di turnamen Jenesys pasca menjalani pemusatan latihan. Nantinya, para pemain tak hanya sekadar bertanding saja, melainkan juga diselingi oleh kegiatan pertukaran budaya di Jepang. (Dre)

Menunggu Wajah Baru Klub “Bayi Ajaib” Persikota Tangerang

wajah-baru-persikota

Setelah luncurnya ‘lahir kembali’ Persikota Tangerang pada Minggu (11/02), klub julukan bayi ajaib tersebut menggelar seleksi terbuka untuk persipaan liga pada 26-28 Februari 2018 di Stadion Benteng, kota Tangerang. Hingga dua hari dilaksanakan, total peserta yang terlibat dalam proses seleksi mencapai 500 peserta dan nantinya akan mengerucut hingga 35 peserta. Mayoritas peserta berdomisili di Tangerang, meskipun beberapa peserta berasal dari luar kota Tangerang, bahkan luar pulau Jawa. Nursaelan, yang dipilih sebagai kepala pelatih untuk mengatasi klub Persikota mengatakan dari 500 peserta, akan memprioritaskan terlebih dahulu bagi peserta di lingkup kota Tangerang. “Kita prioritaskan di ruang lingkup kota Tangerang. Namun, jika ada yang lebih bagus, kita akan cari yang di luar lingkup Tangerang”, ujar pria kelahiran Banyumas tersebut. Proses seleksi juga terdiri dari beberapa kriteria, antaranya mengenai fisik, teknik, taktik, dan mental. “Kriteria seleksi ini kita lihat berdasarkan fisik, teknik, taktik dan mental. Tetapi, sementara ini kita lihat mereka secara skill yang kita lihat di lapangan”, tutupnya. (Dre)

Seleksi Pemain Persikota Tangerang Diwarnai Oleh Peserta Dari Timur

Seleksi-Persikota

Tangerang terus berbenah. Salah satunya adalah melalui dunia sepak bola. Tangerang punya dua klub kebanggan, Persita Tangerang dan Persikota Tangerang. Pada 26-28 Februari, Persikota membuka seleksi untuk para pemain kelahiran 1 Januari 1996 hingga 31 Desember 1997 yang diselenggarakan di Stadion Benteng, kota Tangerang. Sejak hari Senin, peserta telah mendaftarkan dirinya dan mencapai 500 peserta. Peserta datang dari seluruh nusantara. Salah satunya Rozy, peserta yang berasal dari Fak-Fak (Papua Barat). Tekad dan harapannyannya untuk menggapai cita-cita sebagai pemain sepak bola terus dikejar. “Saya berharap bisa lolos ke Persikota Tangerang. Siapa tau ada yang mantau setiap bermain dan itu bisa main ke Timnas Indonesia”, ujar Ozy panggilan akrabnya. Ozy memang lolos ke tahap akhir seleksi, tapi pesaing bukan hanya satu atau dua orang. Tetapi ia tetap berusaha semaksimal mungkin. Baiknya nasib Ozy tidak semulus Adol dan Arsy Londong. Kedua pria asal Nusa Tenggara Timur tersebut tidak bisa mengikuti proses seleksi Persikota Tangerang. Ungkapan kekecewaan dan penyesalan datang dari suara mereka berdua. “Saya kecewa banget. Ya memang informasi telat datang ke saya, dan harusnya Selasa (27/02) saya bisa daftar, tetapi saya telat bangun pagi jadi tidak bisa ikut seleksi Persikota”, ujar Adol yang berasal dari Flores. Ungkapan yang hampir sama juga diutarakan oleh Arsy. “Informasinya baru dapet kemarin sore, niatnya ngejar daftar hari ini (27/02) tapi sampai ke stadion siang dan pendaftaran udah ditutup. Lumayan kecewa sih, tapi ya sudahlah”, ujar pria kelahiran Sumba, NTT tersebut. Meskipun kecewa, mereka berdua tidak patah asa. Mereka justru akan lebih giat lagi berlatih dan akan mengikuti proses seleksi-seleksi sepak bola bersama Persikota atau klub lainnya. (Dre)

Puas Jadi Striker, Risky Merintis Karir Timnas di Posisi Kiper

Risky muhammad Sudirman kiper villa 2000 saat tampil di Turnamen Nivea U-16. (Rizal/NYSN)

Jakarta- Darah sepak bola mengalir deras dalam tubuh Risky Muhammad Sudirman. Bisa jadi, lantaran sang Ayah, Sudirman adalah mantan Kapten tim nasional (Timnas) yang memperkuat pasukan Garuda era 90-an. Kala anak-anak sebayanya menghabiskan waktu untuk bermain, Risky kecil sudah fokus berlatih si kulit bundar. Hingga kini, ia terus mengasah kemampuannya di bawah naungan klub Villa 2000. “Saya suka sepak bola sejak SD (Sekolah Dasar). Ayah pemain sepak bola dahulunya, tapi bermain sepak bola itu karena keinginan sendiri, jadi bukan paksaan dari orang tua,” beber penyuka ikan lele itu. Meski kini mantap menempati posisi kiper, namun remaja berusia 16 tahun itu sempat bermain sebagai penyerang. Pilihannya itu bukan tanpa alasan. Sebab, penikmat musik dangdut itu terinspirasi sang idola yakni kiper timnas Jerman Manuel Neuer. Penjaga gawang andalan Bayern Munchen itu telah lima kali meraih penghargaan sebagai kiper terbaik UEFA. Bahkan, Gianluigi Buffon (kiper Juventus) pernah memberikan pujian untuk Neuer dengan menyebut pria 31 tahun itu sebagai pionir dari peran sweeper-keeper, yang kerap ditunjukkan saat membawa Jerman meraih gelar juara Piala Dunia 2014. “Kalau ngelihat dia (Neuer) senang aja. Posturnya juga tinggi, pokoknya ideal banget kalau jadi kiper. Apalagi pernah terpilih jadi kiper terbaik dunia. Keren banget dah,” tambah adik dari Nandita Ayu Salsabila, spiker timnas bola voli Indonesia. Risky memang menjadi sosok ideal di bawah mistar gawang. Kemampuan dalam membaca serangan lawan jadi kekuatan yang terus diasahnya. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, pemilik tinggi di atas 170 centimeter itu terpilih dalam seleksi timnas U-16 yang dinahkodai Fakhri Husaini. “Nggak nyangka aja lolos seleksi timnas U-16. Kedepannya juga nggak tahu seperti apa. Ya, mudah-mudahan bisa memberikan yang terbaik untuk tim,” tutup siswa SMA Atthairin, Ciledug, Kota Tangerang, Banten itu. (adt) Nama : Risky Muhammad Sudirman Tempat/Tgl. Lahir : Jakarta, 2 Februari 2002 Klub : Villa 2000 Posisi : Penjaga Gawang Sekolah : SMA Atthairin, Kota Tangerang, Banten Nama Ayah : Sudirman Nama Ibu : Tri Wahyuni Kakak : 1. Nandita Ayu Salsabila 2. Tasya Aprilia Putri

Agar Pinalti berhasil, Perlu Kamu ketahui Tentang Pinalti FIFA

Kata “penalti” dalam permainan sepak bola bukanlah hal asing lagi, yaitu tendangan dari pemain di dalam kotak penalti tanpa ada penjagaan dari pemain lawan. Memang terkesan menguntungkan, mudah dan gampang. Namun, apabila kamu mengulik lebih dalam mengenai apa itu, sejarah, dan peraturan dalam menendang penalti, bisa jadi tidak semudah “pengertian sederhana” tersebut. Tendangan penalti sebenarnya tidak hanya menggunakan skill menendang bola saja, tetapi juga mental yang kuat dari pemain. Pemain bola dunia sekalipun banyak yang menolak melakukan tendangan penalti. Hal ini karena masalah mental, banyak yang kawatir tidak gol. Kenapa Ada Tendangan Penalti? Peraturan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menyatakan tendangan penalti disebut sebagai tendangan hukuman, karena pihak lawan melakukan pelanggaran di dalam area kotak penalti. Tendangan ini dilakukan selama permainan berlangsung dan berjarak 9.1 m. Tak hanya sebagai tendangan hukuman, tendangan penalti juga diterapkan dalam babak adu penalti untuk menentukan tim siapa yang menang. Dalam pelaksanaan, babak adu penalti lebih menguntungkan untuk menjadi gol. Maka dari itu, ada anggapan menurut lansiran dari bolajawara.com, tendangan penalti kadang menjadi strategi dan disalahgunakan wasit, agar memenangkan tim tertentu. Ternyata Tendangan Penalti Pertama Kali Diperkenalkan Pada Abad ke-19 Yap, dilansir dari bolajawara.com, tendangan penalti pertama kali ada pada akhir abad ke-19 di wilayah Britania Raya, pada sebuah laga resmi tim skotlandia, Airdrieonians pada tahun 1891 di Broomfield Park. Pada liga sepakbola, diberikan kepada Wolverhampton Wanderers dalam pertandingan mereka melawan Accrington di Stadion Molineux pada tanggal 14 September 1891. Penalti tersebut berhasil menghasilkan gol bagi Billy Heath dengan skor 5-0. Peraturan yang ada di tendangan penalti versi umum dan FIFA Dalam aksi tendangan penalti, tidak asal menendang bola. Namun juga ada peraturan di dalamnya. Pertama, tentunya tentang posisi bola dan kiper. Bola harus berada di titik tendangan penalti dan posisi kiper harus berada di garis gawang. Kedua, pemain-pemain yang tidak menendang aturannya harus berada 9.15 meter di belakang titik penalti. Ketiga, jika pemain yang melakukan penalti melanggar aturan (misal menendang tidak di titik penalti atau menendang dua kali), maka tendangan tersebut akan di stop oleh wasit. Bahkan, diganti menjadi tendangan bebas untuk tim lawan. Keempat, kiper yang melakukan kesalahan (misal menangkap bola terlalu di depan), maka jika kamu gol, berarti akan tetap disahkan wasit dan jika tidak masuk, boleh melakukan tendangan bebas lagi. Peraturan tendangan penalti versi FIFA yang merupakan federasi sepak bola dunia, menyebutkan peraturan baru untuk penalti. Pemain tidak diperbolehkan melakukan tendangan yang pura-pura. Hal ini karena agar kiper tidak terkecoh saat menghadang ataupun menangkap bola. FIFA selaku  juga memberikan peraturan baru untuk penalti yang telah digunakan juga pada saat piala dunia tahun 2014. Peraturan tersebut ialah tidak diperbolehkan bagi pemain penendang penalti melakukan tendangan pura-pura. Hal ini diberlakukan agar penjaga gawang tidak terkecoh dalam menghadang bola. Bagi pemain yang tetap melanggar akan dikenakan kartu kuning. Sekarang kamu sudah tau mengenai tendangan penalti lebih dalam. Dengan beberapa pengetahuan diatas, kiranya bisa menjadi bekal kamu saat melakukan tendangan bebas di lapangan. hmm, apakah kamu telah siap untuk penalti?   (bolajawara.com, perpustakaan.id)

Sejarah Etnis Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia

sutanto-tan

Beberapa bulan yang lalu, dunia politik dikejutkan dengan isu SARA. Terbaru adalah soal pernyataan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Anies Baswedan yang kini menjabat sebagai Gubernur DKI tentang kata ‘pribumi’ menjadi polemik di tengah masyarakat. Ketika dunia politik, isu suku, ras, dan agama menjadi topik hangat, berbeda halnya dengan dunia si kulit bundar –sepak bola-. Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan semboyan dari Negara Indonesia. Frasa yang berasal dari bahasa Jawa Kuno ini diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 ketika zaman kerajaan Majapahit. Mpu Tantular menulisnya untuk mengajarkan sikap yang toleran antara umat Hindu Siwa dan Buddha. Semboyan dan makna frasa “Bhinneka Tunggal Ika” juga dapat berlaku untuk dunia sepak bola, terutama pada zaman ketika etnis Tionghoa masih aktif menjadi bagian dari timnas Indonesia. Sejarah Singkat Etnis Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia Etnis dari keturunan Tionghoa mempunyai sejarah yang sangat panjang di Indonesia, khususnya dalam bidang sepakbola. Etnis Tionghoa mulai bermunculan dan terlibat dalam sepakbola Indonesia seiring lahirnya klub sepakbola yang bernama Union Makes Strength (UMS) pada tanggal 19 Desember 1905. Memang sejatinya sepakbola bukan hanya urusan menendang bola atau mengangkat trofi saja. Sepakbola dapat dijadikan alat pemersatu bangsa dan menunjukan identitas suatu bangsa. Pada 1938 ketika Indonesia menggunakan nama Hindia Belanda dan berhasil “mentas” pada ajang Piala Dunia yang digelar di Prancis, banyak nama-nama etnis Tionghoa yang bermunculan seperti Tan Mo Heng, Tan See Handi, dan Tan Hong Djien. Dalam ajang itu, Hindia Belanda (Indonesia) belum bisa berbicara banyak setelah dikalahkan Hungaria empat gol tanpa balas. Legenda sepakbola Indonesia keturunan Tionghoa, Tan Liong Houw pernah melontarkan kalimat seperti ini “Jangan tanyakan masalah nasionalisme orang-orang Tionghoa. Kami siap mati di lapangan demi membela Indonesia melalui sepakbola,”. Kalimat penuh semangat tersebut ternyata bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Dalam sejarah sepakbola Indonesia sendiri, penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola (2010) karya Bayu Aji, menuturkan bahwa kelompok etnis Tionghoa Surabaya sudah mendirikan sebuah klub sepak bola pada 1915. Pergerakan rintisan etnis Tionghoa pernah berperan membawa negeri ini, meski masih menenteng nama Hindia-Belanda saat itu, berlaga di Piala Dunia 1938 di Perancis. Romantisme etnis Tionghoa dengan sepak bola Indonesia mulai terkubur di awal 1960-an. Hal ini begitu memanas ketika situasi politik tahun 1965. Yang dipuncaki dengan meletusnya Gestapu dan genosida membuat etnis Tionghoa kian terpojok. Sentimen terhadap etnis Tionghoa di lapangan hijau semakin membuat mereka enggan menjadikan sepakbola sebagai pilihan utama. Setelah puluhan tahun peristiwa 1965, dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul kembali pemain etnis Tionghoa ke lapangan hijau di Indonesia, seperti Juan Revi, Kim Jeffrey Kurniawan, dan yang terbaru adalah Sutanto Tan. Kemunculan pemain keturunan etnis Tionghoa di persepakbolaan Indonesia beberapa tahun terakhir, memperlihatkan bahwasanya mampu memberi ruang kepada etnis Tionghoa mampu berbicara di kancah sepak bola Indonesia kembali seperti terdahulu mereka. Semoga ini tetap terjaga dan berlanjut. (Dre) Sumber: panditfootball.com dan fourfourtwo.com

Ditunggu Tiga Event Berdekatan, Timnas U-16 Butuh Pelapis Tim Utama

Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini memberi instruksi pada anak asuhnya. (net)

Jakarta- Pada 2018, Timnas U-16 dibawah asuhan Fakhri Husaini akan mengikuti tiga event yakni turnamen Jenesys di Jepang bulan Maret, Piala AFF U-15 pada Juli hingga Agustus dan Piala AFC U-16 di Malaysia saat September mendatang. Padatnya agenda yang diikuti, membuat Fakhri harus mencari pemain segar guna melengkapi skuad terbaiknya dan akan melakukan pemusatan latihan kedua yang akan digelar pada akhir Februari. “Rencananya pemusatan latihan periode kedua akan kami adakan pada pekan ketiga Februari 2018. Kami masih terus mencari pemain baru lagi karena saya belum mendapatkan pemain untuk melapisi tim utama,” ujar Fakhri Husaini seperti dikuti bola.com. Dalam pemusatan latihan tahap kedua ini, Fakhri hanya memanggil 25 nama pemain. Berbeda pada sebelumnya, di pemusatan latihan tahap pertama yang memanggil 30 nama pemain. “Kami akan memanggil 25 pemain pada TC tahap kedua ini. Untuk nama-nama pemain, kami akan rilis secepatnya. Saat ini saya dan tim pelatih masih memastikannya terlebih dahulu,” lanjutnya. Adapun di pemusatan latihan tahap kedua ini, Fakhri sudah menentukan apa saja yang akan menjadi porsi latihan bagi 25 pemain yang dipanggil. Yakni meliputi empat aspek, yaitu fisik, teknik, taktik, dan mental. “Empat materi akan terus kami latih dan perbaiki dalam TC tahap dua. Saya ingin pemain bisa punya pemahaman karena ini merupakan salah satu fondasi penting dalam persiapan kami mengikuti beberapa ajang pada tahun ini,” ujar Fakhri. (pah)

Lima Ultras Suporter Sepakbola di Indonesia

ultras-suporter-Indonesia

Semua khalayak, semua kelas sosial sudah tak asing dengan sepakbola. Sepakbola adalah olahraga yang sangat populer dari zaman kolonial hingga ‘zaman now’. Berbicara dengan sepakbola, pastinya tidak bisa terpisahkan dari suporter. Tak heran, bila suporter disebut dengan pemain ke-12. Bedanya, ‘pemain ke-12’ ini hadir di sektor tribun stadion. Suporter di Indonesia sedang berada dalam periode bertumbuh dan berkembang. Dalam lima tahun terakhir ini, kehadiran kelompok suporter ini sedikit banyak merubah gaya dukung dan pola perilaku penonton di lapangan. Secara keseluruhan, berdampak pada industri sepakbola nasional yang lebih semarak dan berwarna. Tak bisa dipungkiri, aksi-aksi kreatif suporter Indonesia banyak mengadopsi gaya suporter luar negeri. Misalnya suporter dari Barras Bravas (Argentina-Amerika Latin), Die Schwarzgelben (Borussia Dortmund-Jerman), Gate 13 (Panathinaikos-Yunani), Section F (Linfeld-Irlandia Utara) dan tentunya Italian Ultras. Berbicara tentang budaya ultras di Indonesia, ada kelompok yang cukup dikenal di Indonesia bahkan luar Indonesia. Tidak hanya berasal dari tim-tim besar yang berada di kasta tertinggi lokal, beberapa justru berasal dari kasta dibawahnya. Berikut beberapa kelompok ultras klub di Indonesia: North Side Boys 12 (Bali United) North Side Boys 12 atau NSB 12 merupakan ultras dari klub Bali United. Tak pernah mati ide. Inovasi yang terus digencarkan suporter NSB 12 di tribun utara sangat membuahkan hasil dan menjadi tenaga besar bagi Bali United. Sumber foto: northsideboys12.com Curva Nord (Persija Jakarta) Pendukung tim Macan Kemayoran ini memang terkenal fanatik. Tak hanya saat bermain di kendang, pada pertandingan tandang pun mereka rutin mendampingi tim kebanggan ibukota. Aksi-aksinya pun cukup menghibur dan kerap mewarnai dukungan yang dilakukan organisasi supporter terbesar Jakarta yakni The Jak Mania. Sumber foto: google Green Nord 27 (Persebaya Surabaya) Green Nord 27 adalah kelompok ultras yang dimiliki klub Persebaya. Seperti halnya Bali United dan Perdija Jakarta, Green Nord 27 pun dikenal sebagai kelompok supporter yang militan. Dukungan penuh selalu mereka berikan acapkali Bajul Ijo bertanding, dimanapun tempatnya. Sumber foto: greennord27.blogspot.com Brigata Curva Sud (PSS Sleman) Ultras milik PSS Sleman ini bisa dibilang sebagai yang terbaik di Indonesia. Selain populer di Indonesia, nama BCS juga sempat diperbincangkan di media internasional. BCS kerap identik dengan aksi koreo kreatif di tribun stadion saat tim kesayangannya bertanding, yang terus berkumandang selama 90 menit. Sumberfoto: bcsxpss.com Brajamusti (PSIM Yogyakarta) Arti sesungguh nya dari kata Brajamusti adalah Aji-ajian sakti dari Gatotkaca. Bima adalah salah satu dari pandawa lima, mempunyai anak Gatutkaca. Dia adalah raksasa di Mahabharata dan hanya muncul pada saat perang Baratayuda, dijadikan idola pahlawan yang gagah perkasa dalam pewayangan dengan berbagai cerita dan kesaktiannya dengan aji-ajian Brajamusti yang sampai saat ini masih bisa dipelajari dikalangan masyarat Jawa. Maksud dari pengambilan nama Brajamusti untuk wadah suporter PSIM adalah supaya Brajamusti menjadi senjata atau aji-ajian yang ampuh untuk PSIM untuk menghadapi lawan-lawannya dipentas sepak bola Nasional. Jadi Brajamusti selalu ada disamping PSIM dimanapun berlaga. Sumber Foto: google (Dre)

Inilah Pelatih Asing Pertama yang Mengasuh Timnas Indonesia

Sejumlah nama-nama pelatih asing telah hilir mudik mewarnai perjalanan sejarah Timnas Indonesia sejak pertama kalinya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) didirikan pada tahun 1930 hingga sampai saat ini. Luis Milla, Alfred Riedl, Jacksen F Thiago hingga Ivan Venkov Kolev, tak asing di telinga penikmat sepakbola saat ini. Mereka silih berganti manjadi pelatih asing yang pernah dipilih untuk menangani timnas Indonesia. Namun taukah anda Siapa pelatih pertama Indonesia? Siapa sangka, pelatih asing pertama timnas setelah Indonesia merdeka, ternyata datang dari negeri tetangga. Pelatih asing tersebut ialah Choo Seng Quee. Choo lahir dan besar di Singapura. Sebelum menjadi pelatih sepakbola, Choo tercatat pernah tergabung dalam klub asal Singapura, Singapore Chinese FA. Pelatih yang akrab disapa Paman Choo ini mulai mencuri perhatian publik pasca ditunjuk menjadi pelatih Timnas Singapura di era 1949 hingga 1950. Setahun berselang, Paman Choo diboyong oleh PSSI untuk melatih Timnas Indonesia. Timnas Indonesia saat itu ialah Maulwi Saelan dkk. Paman Cho melatih Timnas Indonesia hingga tahun 1953. Gelaran Asian Games perdana yang di selenggarakan di New Delhi, India pada tahun 1951 menjadi tugas pertama Paman Choo untuk melatih timnas kebanggaan bangsa Indonesia tersebut. Asian Games edisi perdana tersebut mempertandingkan tujuh cabang olahraga, yakni atletik, renang loncat indah dan polo air, kesenian (arts), sepak bola, angkat besi, basket, dan balap sepeda. Pada saat itu, Komite Olahraga Indonesia memutuskan hanya mengikuti dua cabang olahraga yaitu atletik dengan mengirimkan 17 atlet dan sepak bola 18 atlet. Ketua Umum PSSI saat itu, Raden Maladi, saat itu menginginkan Timnas Indonesia harus mampu bermain dengan baik pada gelaran Asian Games perdana tersebut. Dengan begitu Paman Choo memiliki tugas berat, karena dirinya dianggap kompeten untuk mampu menukangi timnas. Saat itu, cabang sepak bola di Asian Games perdana tersebut hanya diikuti oleh enam negara, yaitu Afghanistan, Burma, India, Indonesia, Iran dan Jepang. Sayangnya, Tim Merah Putih belum bisa menampilkan permainan yang memuaskan. Pada babak penyisihan, timnas Merah Putih dibungkam oleh India dengan skor 0-3 yang saai itu India tampil tanpa menggunakan alas kaki atau sepatu pada medio 5 Maret 1951. Mengutip data RSSSF (Rec.Sport.SoccerchoocI Statistics Foundation), gawang Maulwi Saelan dijebol Sahu Mewalal di menit ke-27. Dua gol lainnya masuk ke gawang timnas melalui gol bunuh diri dari bek Chaeruddin Siregar di menit ke-42 dan 50. Menang dari Indonesia, India mengamankan medali emas setelah membekap Iran 1-0. Sumber: Superball.id

Menginspirasi! Belajar Sepak Bola Dari Eks Striker Timnas Inggris

Michael Owen, mantan striker timnas Inggris datang ke Indonesia dan bercerita mengenai perkembangan sepak bola di tanah airnya. Menurut lansiran dari tempo.co pada Senin (5/2), Owen bercerita di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Inggris menjadi salah satu produsen pemain bola handal dunia. Kunci kesuksesan Inggris yang telah menjadi poros pesepakbola dunia adalah sebuah pembinaan sejak dini. Owen berkata saat masih muda gunakanlah untuk belajar teknik, seperti teknik dasar dan kontrol bola dalam permainaan sepak bola. Setelah itu, di Inggris usia 12-13 tahun, para bibit muda kemudian dilatih teknik dengan aspek-aspek sepak bola yang lebih tinggi dan mendalam. Menurut eks penyerang Liverpool tersebut, kualitas sepak bola di suatu negara akan bertambah baik apabila punya pelatih banyak, daya partisipasi tinggi dan juga ada fasilitas yang memadai. Pada umur 20 tahun, akan menjadi fase ujian. Tingkat keberanian serta mental di lapangan akan banyak teruji di umur tersebut. Owen berkata di Inggris pada zaman ia dulu, Ada banyak, sekitar 15 pemain muda potensial setiap tahunnya. Namun, hanya sedikit yang mampu bertahan dari ujian mental tersebut pada level senior bahkan saat masuk ke tim nasional (timnas). Seperti yang dilansir dari tempo.co, ia mengatakan pemain bola yang sukses berkembang yaitu mampu menjaga talentanya dan memanfaatkan kesempatan. Kedua hal tersebut merupakan kombinasi untuk masuk ke level yang lebih tinggi Eks mantan striker timnas Inggris berkata Indonesia punya peluang mengembangkan sepak bolanya. Hal ini karena masyarakat Indonesia sangat antusias terhadap sepak bola. Sampai-sampai Owen berencana akan membuat sekolah sepak bolanya di Indonesia. Michael Owen Michael James Owen, seorang eks striker timnas Inggris yang punya pengalaman hebat dan menginspirasi. Pemain kelahiran Chester, Inggris 14 Desember 1979, tampil di even tiga Piala Dunia ini menorehkan 40 gol dari 89 penampilan bersama Timnas. Pada 2001, saat menginjak usia 22 tahun, Owen menjadi salah satu pemain termuda yang menyabet gelar pemain terbaik Ballon d’Or. Usai membela Liverpool, Owen sempat berkarir di Real Madrid, Newcastle United, Manchester United, dan Stoke City. Akibat cedera lutut yang diderita, ia harus mengakhiri karirnya cukup cepat. “Kami harus menjadi pemain multitalenta. Ketika kamu ingin sukses, harus belajar dan saya rasa jika sudah ada talenta, akan lebih mudah lanjutnya,” -Michael Owen-

Ajang JSFL 2018, Asah Mental Bertanding Siswa SD Al Fath

JSFL-2018

Tangsel-Ajang tournament sepakbola untuk usia-usia dini, memang sangat diperlukan dengan tujuan dapat menemukan bibit-bibit berbakat yang nantinya dapat menjadi pemain Nasional dan membela timnas Indonesia. Sepertia halnya, JSFL (Jakarta School Football League) yang merupakan liga sepak bola bagi siswa yang mewakili sekolah. Terdapat puluhan sekolah di Jabodetabek ikut bersaing untuk menjadi pemenang. Seperti halnya, SD Al Fath yang baru pertama kalinya mengikuti event JSFL. Pelatih SD Al Fath, Eko Rahmat Hermanto, mengatakan para siswa yang ikut merupakan siswa kelas 3 dan 4. “Ini merupakan tahun pertama kami mengukuti JSFL. Persiapanya kurang lebih 2-3 bulan. Tim kami, terdiri dari siswa kelas 3 dan 4, kelahiran 2007-2009,” ujar Herman, sapaanya kala dihubungi nysnmedia.com, Selasa (30/1) Meski baru pertama kalinya mengikuti JSFL, Al Fath sukses menduduki posisi dua klasemen sementara. Dalam tiga laga, Al Fath meraih dua kemenangan melawan Al Azhar Cikarang dengan skor 6-2 dan menang melawan ACG International dengan skor 9-3. Herman menjelaskan, dengan berpartisipainya Al Fath di JSFL bertujuan untuk meningkatkan mental para siswanya. Selain itu, target tiga besar ingin diraih pasukan Al Fath ini. “Salah satu target kami mengikuti JSFL adalah selain menambah jam terbang bertanding siswa, juga untuk meningkatkan mental bertanding siswa. Target kami bisa peringkat 3 besar di akhir kompetisi,” paparnya. Guna mencapai target tersebut, Herman akan memberikan arahan kepada siswanya disaat bermain agar lebih baik dari segi transisi menyerang dan bertahan. Salah satu orangtua siswa Al Fath, Faiqoh Faqih selalu mendampingi sang anak Moh. Fawwaz Nabih bertanding. Dengan begitu, sang anak akan termotivasi untuk tampil baik. “Tentunya untuk mendukung anak saya dan Al Fath dong. Semoga bisa menjadi juara Al Fath,” ujarnya. (pah)