Asa Fransiskus Jekson Ikuti Seleksi Timnas U-16

Asa Fransiskus Jekson Ikuti Seleksi Timnas U-16

Fransiskus Jekson Bofra tidak pernah menyangka dirinya bisa dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-16 di Jakarta. Pemain yang akrab disapa Jekson ini terbang jauh dari wilayah timur Indonesia tepatnya dari kampung Fef, Kabupaten Tambrauw, Sorong, Papua Barat untuk bersaing dengan 39 pemain yang ikut pada sesi kedua seleksi Garuda Muda tahap kedua. Pemain berusia 15 tahun mulai menjadi salah satu dari enam pemain asal Papua dan Papua Barat yang dipanggil mengikuti seleksi. Dirinya sudah mengenal sepak bola sejak berusia tujuh tahun, atau ketika Jekson duduk di bangku kelas satu sekolah dasar (SD). Tidak pernah berlatih di sekolah sepak bola, Jekson kerap berlatih sendiri dengan teman-teman di kampung halamannya, dengan bermain sepakbola mini maupun futsal. “Saya sangat terharu dan bangga karena bisa dipanggil pelatih untuk bisa bergabung di seleksi Timnas U-16 ini. Walaupun belum ada nama-nama pasti yang akan lolos ke timnas, saya bangga sekali bisa mendapat pengalaman latihan bersama semuanya di sini,” ungkap Jekson. Dipanggil mengikuti seleksi di level timnas dan menjejakkan kaki di Jakarta memang menjadi pengalaman baru bagi Jekson. Dirinya mengaku kaget saat melihat 39 pemain lain ketika seleksi dimulai sejak hari pertama pada Sabtu (12/6) lalu. “Pertama kali ke sini, saya kaget melihat postur teman-teman seumuran saya yang tinggi-tinggi, sementara saya pendek. Disitu saya telepon bapak saya dan bilang kalau teman-teman di sini posturnya lebih besar dari saya. Tapi bapak saya mengatakan saya harus berjuang sesuai kemampuan, menunjukkan skill yang saya punya dan fokus selama seleksi,” ujar tambah Jekson sambil menitikkan air mata. Jekson sempat berkaca-kaca sampai akhirnya menitikkan air mata. Jekson sedikit menceritakan tentang keluarganya, dan kemudian mengingat pesan dari sang ayah yang terus memotivasi dirinya yang kini tengah jauh dari keluarga. “Saya anak keempat dari lima bersaudara dan saya satu-satunya anak laki-laki di keluarga yang bermain sepa kbola. Ibu saya sudah meninggal dan kami hanya tinggal dengan bapak. Bapak selalu berpesan, sampai disana (Jakarta) kamu harus giat untuk mengejar mimpi kamu. Itu yang selalu saya ingat,” lanjut Jekson Jekson memang bukan lahir dari keluarga yang bisa bermain sepak bola. Namun, mimpi dan perjuangan Jekson untuk bermain sepak bola dimulai ketika dirinya melihat permainan sang bintang idola Boaz Solossa, pesepakbola asal Papua yang juga merupakan pemain bintang Persipura dan pernah lama bermain bersama Timnas Indonesia. “Harapannya saya bisa menampilkan yang terbaik, latihan sungguh-sungguh dan mendapat ilmu dari seleksi serta latihan ini. Semoga setelah kembali dari sini saya bisa membagi pengalaman saya dengan saudara-saudara saya yang ada di kampung,” tutup Jekson. Hadirnya Jekson dan kelima anak-anak berbakat dari Papua semakin menambah persaingan ketat pada seleksi tahap kedua. “Kami tim pelatih sempat melakukan seleksi di Papua dan Papua Barat, yang artinya hal ini memberikan kesempatan untuk semua anak-anak terbaik di Indonesia untuk bisa ikut seleksi. Dari Sabang sampai Merauke kita berikan kesempatan untuk ikut seleksi agar bisa masuk Timnas U-16. Saya sangat bersyukur ternyata anak-anak dari Papua juga bagus-bagus dan semoga mereka bisa cepat beradaptasi dengan yang lain,” tutup Bima.

Unik, Rekor Pemain Termuda Euro 2020 Bisa Dipecahkan Dua Kali

Unik, Rekor Pemain Termuda Euro 2020 Bisa Dipecahkan Dua Kali

Belum genap satu pekan digelar, Euro 2020 sudah menyajikan banyak peristiwa hingga rekor-rekor baru yang tercipta. Salah satunya adalah setiap rekor pemain termuda di Euro yang baru saja dipecahkan oleh punggawa timnas Inggris, Jude Bellingham. Namun, tahukah Anda, jika rekor milik Jude tersebut masih berpotensi dipecahkan lagi oleh pemain lain? Jude Bellingham memecahkan rekor saat Inggris menghadapi Kroasia, hari Minggu (13/07) kemarin. Masuk pada menit ke-82 menggantikan Harry Kane, Jude resmi sebagai pemain termuda yang pernah bermain di putaran utama Euro, di usianya yang masih 17 tahun 349 hari. Namun, rekor pemain Borussia Dortmund ini bisa saja tergeser, apabila pemain timnas Polandia yang berposisi sebagai gelandang, Kacper Kozlowski bermain. Kacper Kozlowski bisa jadi pemain termuda bila melakukan debut, karena usianya lebih muda 4 bulan dari Bellingham. Sayang, pada laga perdana timnas Polandia melawan Slovakia (Senin, 14 Juni 2021), Kacper Kozlowski urung tampil. Meski demikian, Kacper masih bisa merebut tahta pemain termuda Euro 2020 apabila dimainkan saat melawan Spanyol pada laga pamungkas grup E (Minggu, 20 Juni 2021). Kacper sendiri lahir pada tanggal 16 Oktober 2003 di Koszalin, Polandia. Saat ini ia bermain untuk klub Pogon Szczecin. Selain Jude Bellingham dan Kacper Kozlowski, berikut deretan rekor-rekor pemain termuda yang pernah tercipta pada gelaran Euro. Jose Angel Iribar (Kiper Termuda) Untuk gelar kiper termuda masih dipegang oleh kiper asal Spanyol, Jose Angel Iribar. Iribar memegang rekor kiper termuda di usia 21 tahun 108 hari. Gelar kiper termuda itu dipecahkan di ajang Euro 1964 dan masih bertahan hingga saat ini. Dilansir dari uefa.com, tak hanya sampai di situ, Iribar masih jadi satu-satunya kiper yang bisa menjuari Euro di tahun yang sama dengan ketika dia melakukan debut. Johan Vonlanthen (Pencetak Gol Termuda) Pada Euro 2004 rekor pencetak gol termuda dipecahkan dua kali hanya dalam kurun waktu empat hari saja. Rekor pertama dipecahkan oleh legenda timnas Inggris, Wayne Rooney. Dilansir dari uefa.com, namun rekor itu hanya bertahan empat hari, setelah gelandang asal Swiss, Johan Vonlanthen mencetak gol di usia 18 tahun 141 hari. Gol itu dia ciptakan kala Swiss kalah dengan skor 3-1 dari timnas Prancis. Renato Sanches (Pemain Termuda yang Mampu Tampil di Partai Final) Dilansir dari uefa.com, Euro 2016 adalah momen paling indah bagi timnas Portugal, karena Portugal berhasil menjuarai ajang ini meski bukan termasuk tim unggulan juara pada saat itu. Momen manis ini juga jadi sangat indah bagi Cristiano Ronaldo, karena akhirnya bisa mempersembahkan gelar bergengsi pertama bagi negaranya. Selain Ronaldo, ada pemain Portugal lain juga yang bahagia, yaitu Renato Sanches yang memecahkan rekor pemain termuda yang penah tampil di partai final Euro, pada usianya yang masih 18 tahun 328 hari. Tak hanya sampai di situ, momen manis itu semakin lengkap karena dia bisa membantu Portugal untuk menjadi juara, setelah mengalahkan Prancis pada kala itu dan ia menjadi pemain termuda terbaik pada Euro 2016 versi UEFA. Pietro Anastasi (Pencetak Gol Termuda di Final Euro) Pada partai puncak Euro 1968, Italia menjadi juara setelah mengalahkan musuhnya, Yugoslavia dengan skor 2-0. Salah satu dari dua gol itu dicetak oleh pemain muda, Pietro Anastasi. Dilansir dari uefa.com, gol itu teramat spesial bagi Anastasi, karena berhasil menjadikan dia pemain termuda yang mencetak gol di partai final Euro, di usia 20 tahun 63 hari. Hingga kini rekor itu masih bertahan dan belum ada pemain lain yang memecahkannya.

PB PASI Puji Antuasiasme Peserta Seleksi di Bima

PB PASI Puji Antuasiasme Peserta Seleksi di Bima

Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), Senin (14/6) kemarin mulai menyeleksi atlet muda berpotensi di Lapangan Atletik Manggemaci, Bima, Nusa Tenggara Barat. Atlet muda ini nanti diharapkan bisa mendukung Indonesia di kancah dunia. Wakil Ketua Litbang PB PASI, Baja Sirait di lokasi seleksi mengatakan, mereka diperintahkan oleh Ketua Umum untuk melihat bibit unggul di sejumlah daerah potensi seluruh Indonesia, salah satunya di Bima. “Kami melihat ada beberapa potensi, terutama pada lari jarak pendek dan menengah di Bima,” katanya. Menurut Baja, ada beberapa poin yang dilihat di lokasi seleksi yakni berangkat dari sejarah bahwa di Bima atau NTB bisa memberikan kontribusi atlet untuk mengikuti jejak Fathurrahman dan Lalu Zohri yang telah mengharumkan negara di tingkat internasional “Yang kami lakukan ini bukan untuk saat ini, tapi pada masa depan,” tegasnya. Indonesia sambungnya, saat ini butuh anak-anak bangsa berpotensi, bukan saja dari kalangan yang dekat dengan ibu kota, tapi juga di daerah pelosok. Maka kehadirannya di Bima, agar bisa langsung melihat proses seleksi atlet. Terpenting supaya tidak lagi ada penyeleksian yang tidak diikuti oleh anak-anak bangsa di pelosok, padahal di ujung negeri ini juga memiliki potensi yang luar biasa. “Ada program dari Ketua Umum PB PASI yang menginginkan daerahdaerah pelosok seperti Marauke, Bima, pedalaman Sumatra agar menyumbangkan bibit unggul untuk mendukung Indonesia di kancah dunia,” terangnya. Mengenai potensi seleksi pada hari pertama tambah Baja, belum tergambar, karena nanti akan dilihat pada final yang akan dilaksanakan besok di Bima dan Mataram. “Tapi yang kami lihat juga, sungguh luar biasa antusias peserta mengikuti seleksi ini. Yakin dan percaya, nanti akan ada bibit unggul yang bisa ke pelatnas,” tambahnya. Sumber: Kahaba.net

Atlet Angkat Berat DKI Jakarta Sabet 2 Medali Emas dan 1 Medali Perak

Atlet Angkat Berat DKI Jakarta Sabet 2 Medali Emas dan 1 Medali Perak

Tim Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) DKI Jakarta sukses unjuk gigi pada event Invitasi Nasional Angkat Berat Remaja Junior Klasik 1 di Pringsewu, Lampung, 6-9 Juni 2021. Tampil tanpa target, Tim PABERSI DKI Jakarta sukses mengemas dua emas dan satu perak. Satu emas dipersembahkan Kintan Adelia C. Dia jadi terbaik pada kelas 84+ Junior Putri. Satu emas lainnya disumbangkan Andre. Dia mendapatkan emas dari kelas 83 Junior Putra. Sementara Jacqueline Donna Gani membawa pulang perak. Jacqueline Donna Gani berstatus runner-up di Kelas 63 Junior Putri. Raihan medali skuad PABERSI DKI Jakarta nyaris bertambah. Karena Sandy Yonathan menempati posisi keempat kelas 74 Junior Putra. Pencapaian ini disambut positif Kemalsyah Nasution selaku Ketua PABERSI DKI Jakarta. Ke depannya ia berharap olahraga angkat berat bisa semakin berkembang. “Kita berharap pembinaan prestasi mulai dari remaja agar ke depan semakin banyak atlet angkat berat yang go internasional dan mengharumkan NKRI,” Kemalsyah Nasution menuturkan. Sementara itu, Bendahara Umum PABERSI DKI Jakarta, Saviera menyebut hasil positif pada ajang Invitasi Nasional Angkat Berat Remaja Junior Klasik 1 merupakan persiapan sebelum menuju Kejuaraan Asia. “Dengan hasil kejuaraan ini, kami akan mempersiapkan para atlet muda ini menuju Kejuaraan Asia pada bulan Desember 2021 di lampung,” kata Saviera. “Semoga ada dukungan dari Disorda dan KONI DKI Jakarta perihal sarana peralatan latihan guna mendukung prestasi mereka,” tambahnya.

Atlet Dansa Gianyar Sabet 3 Emas di Ajang Festival International

Atlet Dansa Gianyar Sabet 3 Emas di Ajang Festival International

Tiga medali emas dan 1 medali perak berhasil diboyong oleh atlet dansa asal Kabupaten Gianyar, Bali, dalam ajang Negeri Sembilan Internasional Online Dancesport Challenge 2021. Even ini digelar secara virtual oleh Negeri Sembilan Dancesport Association Malaysia 1 sampai 8 Mei 2021. “Spirit kompetisi tetap terasa untuk menampilkan yang terbaik. Akhirnya, perjuangan dan kerja keras atlet dansa Gianyar membuahkan hasil yang manis. Atlet dansa berhasil meraih 3 medali emas dan satu medali perak,” kata Ketua Umum IODI Kabupaten Gianyar, Surya Adnyani Mahayastra di Gianyar, Kamis, 10 Juni 2021. Atlet dansa yang meraih medali emas adalah pasangan AA Bagus Wahyu dan Ni Komang Galuh Widiswari yang sukses pada kategori junior U-16 Samba dan Rumba. Kadek Yoga Wiratama yang berpasangan dengan Ni Putu Ardiya Widasari pada kategori Pre Amateur Standar, dan I Made Rio Satya Mahendra yang berpasangan dengan Ida Ayu Cindia Prima Adellia di kategori Junior U-16 Standar. Sedangkan untuk medali perak diraih oleh Ni Kadek Sasya Aprillia pada kategori Solo Waltz U-12. Surya mengaku sangat bangga dengan prestasi yang diraih atlet dansa yang tergabung dalam wadah IODI Kabupaten Gianyar. “Tidak sia-sia latihan yang telah dijalani selama ini,” katanya. Prestasi di tingkat internasional, menurut dia, menjadi bukti olahraga dansa sudah mulai dikenal di Kabupaten Gianyar. “Ke depan, IODI di samping harus mampu menghasilkan bibit-bibit atlet yang berkualitas, juga harus mendukung kemajuan program pemerintah serta mengembangkan minat generasi muda dalam cabang olahraga dancesport,” kata Surya. Adapun Sekretaris IODI Kabupaten Gianyar, I.A Sulasi mengatakan bahwa para atlet dansa tetap terus berlatih selama pandemi. Menurut dia, persiapan tetap penting sebagai pemanasan untuk menghadapi kejuaraan. “Dan terbukti, atlet Gianyar mampu meraih 3 medali emas dan 1 medali perak dalam ajang pada International Negeri Sembilan Online Sport Championship 2021,” pungkasnya.

Jelang Olimpiade, Tim Dayung Indonesia Genjot Persiapan

Jelang Olimpiade, Tim Dayung Indonesia Genjot Persiapan

Tim dayung Indonesia terus mempersiapkan diri dan fokus untuk memantapkan kondisi fisik serta mental menjelang berangkat ke Olimpiade Tokyo yang rencananya akan digelar pada 23 Juli mendatang. Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Edy Suyono saat menerima kunjungan Deputi Chef de Mission Tim Indonesia Zainal Asikin dan anggota Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Indra Gamulya di pemusatan latihan nasional dayung di Pangalengan, Jawa Barat, Selasa (8/6). “Setelah pulang dari kualifikasi di Tokyo dan menjalani isolasi, kami langsung kembali fokus latihan, terutama untuk meningkatkan daya tahan. Kedua atlet dayung ini belum berpengalaman tampil dalam Olimpiade jadi kami harus mempersiapkan mereka,” kata Edy dalam keterangan tertulisnya, Rabu. Edy juga berterima kasih atas kunjungan dari perwakilan Chef de Mission dan Komite Olimpiade Indonesia karena menurutnya itu menunjukkan perhatian dan menjadi motivasi tambahan bagi atlet. Sementara itu, Anggota Komite Eksekutif KOI Indra Gamulya berpesan kepada para atlet agar terus berlatih dengan serius dan tidak mudah takabur. “Bagi kalian yang sudah meraih sukses di usia yang masih muda, jangan cepat berpuas diri. Tetaplah rendah hati dan hormati orang tua serta pelatih kalian karena merekalah yang memberikan dukungan penuh bagi kalian,” kata Indra. Indonesia lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo pada nomor lightweight double scull putri setelah duet atlet muda, Mutiara Rahma Putri dan Melani Putri menempati peringkat empat dalam kualifikasi rowing zona Asia/Oceania di Tokyo, 5-7 Mei lalu. Kepastian lolosnya Indonesia dinyatakan secara resmi oleh federasi dayung dunia lewat surat resmi kepada PODSI. Mutiara mengaku tidak pernah membayangkan bakal lolos ke Olimpiade Tokyo dan akan berjuang semaksimal mungkin. “Kami tidak pernah terbayang akan lolos karena masih muda. Selain itu, kami juga tidak ditargetkan untuk lolos. Tapi alhamdulillah berhasil. Target kami akan berusaha sebaik mungkin di Tokyo,” kata Mutiara.

Persiapan untuk Prestasi di Masa Depan, Kemenpora Cari Bibit Atlet di Konawe Utara

Persiapan untuk Prestasi di Masa Depan, Kemenpora Cari Bibit Atlet di Konawe Utara

Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) melaksanakan kegiatan pemanduan bakat di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini merupakan salah satu program kegiatan pencarian atlet berbakat dari Asisten Deputi Pembibitan dan IPTEK Olahraga pada Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Mewakili Asdep Pembibitan dan IPTEK Olahraga, Kepala Sub Bidang Pengembangan Bakat, Yuslan Kisra mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan 400 pelajar. Masing-masing dari mereka berusia 12-14 tahun. “Kegiatan berlangsung selama dua hari. Ada sepuluh item tes yang akan dilakukan dalam pemanduan bakat ini dengan melibatkan puluhan instruktur dari guru olahraga serta unsur Dispora setempat,” kata Yuslan, Selasa (8/6/2021). Seluruh rangkaian proses kegiatan ini, lanjut Yuslan, telah disusun dengan baik dan menerapkan protokol kesehatan. “Karena itu, kami mohon kerja sama semua pihak untuk mengikuti kegiatan ini sesuai yang telah ditetapkan,” jelas Yuslan. Sementara itu, Bupati Konawe Utara, Ruksamin saat membuka secara resmi proses pencarian bibit atlet junior di Aula Kantor Kecamatan Asera, Senin (7/6) mendukung penuh kegiatan tersebut. Bupati Ruksamin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kemenpora yang telah memilih daerahnya sebagai tempat pelaksanaan pemanduan bakat atlet. “Kami menyampaikan terima kasih kepada Kemenpora tentunya atas pelaksanaan kegiatan ini. Program ini tentunya sangat sejalan dengan visi daerah kami, yakni sejahtera dan berdaya saing,” terang Ruksamin. Lebih lanjut, Ruksamin bilang, upaya daya saing dibidang olahraga didaerahnya bisa dilihat dari hasil pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) sebelumnya. Diajang tersebut, Konawe Utara unjuk gigi dan mampu bersaing dengan daerah lainnya. “Tentunya kami sangat mendukung penuh kegiatan ini dan saya pastikan, jika ada anak yang terpantau memiliki potensi, saya sendiri yang akan mengawal proses pembibitannya. Tidak hanya itu, akan saya siapkan anggaran untuk pembinaan lebih lanjut,” pungkas Ruksamin.

Dipimpin Langsung Bima Sakti, Timnas Indonesia U-16 Mulai Seleksi Tahap Kedua

Dipimpin Langsung Bima Sakti, Timnas Indonesia U-16 Mulai Seleksi Tahap Kedua

Tim Nasional Sepak Bola Indonesia U-16 memulai rangkaian seleksi tahap kedua di Lapangan D, Senayan, Jakarta, pada Senin (7/6). Sebanyak 34 pemain ikut serta pada sesi latihan yang dipimpin langsung oleh pelatih Bima Sakti. Rangkaian seleksi tersebut akan berlangsung hingga Rabu (16/6) mendatang. Seleksi dimulai sejak pukul 06.00-08.30 WIB, ke-34 pemain yang didatangkan memulai rangkaian seleksi dengan melakukan pemanasan ringan. Adapun sesi pemanasan diawali dengan pembagian dua kelompok besar, dimana masing-masing kelompok harus melakukan jogging dan sesi di atas matras. “Terima kasih kepada Bapak Ketua Umum PSSI beserta jajaran yang sudah memberikan dukungan sehingga seleksi tahap kedua pembentukan Timnas U-16 ini dapat terlaksana. Hari ini kami sudah melaksanakan seleksi hari pertama dan para pemain yang didatangkan merupakan mereka yang sudah melewati seleksi tahap awal di daerah, dengan dibantu oleh 34 Asosiasi Provinsi (Asprov),” kata Bima Sakti. Setelah melakukan sesi pemanasan ringan, pemain pun dibagi menjadi tiga kelompok kecil, dimana masing-masing kelompok fokus pada koordinasi dan komunikasi antar pemain, sambil melakukan pemantapan teknik dasar seperti passing dan dribling. Tak hanya itu, para pemain yang mengikuti seleksi pun kemudian melakukan game kecil pada tiga kelompok kecil tersebut, sebelum akhirnya diakhiri dengan permainan setengah lapangan dan eksekusi tendangan dari titik penalti. “Alhamdulilah seleksi tahap kedua pembentukan Timnas U-16 sudah terlaksana hari ini. Saya sudah memberikan arahan kepada pelatih Timnas U-16 untuk benar-benar melakukan seleksi yang ketat pada tahap ini. Saya harap pemain yang nantinya lolos memiliki sikap disiplin dan pantang menyerah, bukan hanya skill saja yang bagus, tetapi juga sikap yang baik di dalam maupun luar lapangan,” kata Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. Seleksi tahap kedua ini merupakan rangkaian seleksi terakhir sebelum pembentukan kerangka Timnas U-16. Sebelumnya pelatih Bima Sakti sudah melakukan seleksi tahap awal ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, diikuti seleksi tahap pertama yang digelar pada bulan April lalu. Pemain-pemain terbaik pada seleksi tahap pertama kemudian didatangkan kembali pada seleksi tahap kedua ini, diikuti beberapa pemain tambahan yang akan mengikuti sesi kedua seleksi tahap kedua pada pekan depan. Para pemain akan diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik selama lima hari di masing-masing sesi, yang akan digelar pada 7-11 Juni 2021 dan 12-16 Juni 2021.

Youth eSport Piala Menpora 2021 Sukses Digelar, Menpora Beri Apresiasi

Youth eSport Piala Menpora 2021 Sukses Digelar, Menpora Beri Apresiasi

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indoensia (Menpora RI), Zainudin Amali, memberikan apresiasi saat menutup Youth Esport Piala Menpora 2021 yang digelar Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Jawa Timur (Jatim) di Surabaya, Sabtu (5/6). Dalam sambutannya, Menpora Amali menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia pelaksana, pengurus DPD AMPI Jawa Timur, DPP AMPI, PB Esports Indonesia serta para sponsor yang telah ikut mensukseskan acara tersebut. “Apresiasi dan terimakasih kepada AMPI Jatim dan seluruh panitia yang telah mengembang amanah dari Kemenpora, amanah dari sponsor dan kepecayaan publik terhadap anda semua. Saya atas nama pemerintah mengapresiasi dan terimakasih. Karena ini sudah berkahir, maka dengan senantiasa mengharapkan ridho dan rahmat Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa dengan ucapan syukur alhamdulillah rabilamain Youth eSport Piala Menpora 2021 saya nyatakan ditutup,” kata Menpora Amali. Menpora Amali menilai eSport merupakan salah satu tempat penyaluran bakat bagi anak-anak muda ketimbang mereka melakukan hal-hal yang ada di jalur negatif. “Maka kemudian diwadahi dengan eSport Indonesia, saya juga akhirnya baru tahu tujuan pak Budi Gunawan (Ketum PB eSport Indonesia) sangat baik, sangat mulia sehingga anak-anak muda terwadahi. Dan perputaran uang kalau dhitung sleuruh dunia bukan bicara juta tapi milaiaran dollar di dalam olahraga ini,” ujar Menpora Amali. Selain itu, menurut Menpora Amali olahraga ini pesertanya dapat bertanding dari mana saja dan juaranya bisa siapa saja karena sangat menjunjung sportifitas dan fairness serta hasilnya tidak dapat diatur seperti olahraga yang dilakukan seperti olahraga lainnya. Hal itu terbukti saat 2019 lalu. Kala itu, Indonesia menjadi tuan rumah eSport Piala Presiden yang pesertanya 170 ribuan dari berbagai negara. “Olahraga ini olahraga yang menjung sportifitas fairness bukan karenan kita tuan rumah lalu kita juara. Hari ini kita buktikan penyelengaraan di Surabaya, Jawa Timur. Tapi yang lolos 4 besar tidak ada satupun tim dari Surabaya. Padahal pesertanya paling banyak di Surabaya,” jelasnya. Dengan demikian, Menpora Amali meyakini panitia penyelenggara serius mengurus kegiatan tersebut. Dia pun berharap penyelenggara terutama AMPI Jawa Timur untuk merawat hubungan hubungan dan komunikasi dengan para sponsor yang telah terlibat dalam acara ini. “Tanpa bantaun sponsor tIdak akan ada kegiatan ini. Dijaga kepercayaan sponsor, supaya kalau tahun depan AMPI Jawa Timur masih mau melaksanakan lagi karena sudah kredibel, trust sudah dapat. Maka pasti sponsor memberi lagi turnamen eSports ini,” jelasnya. Menurutnya, turnamen eSports kedepan tidak harus menggunakan nama Menpora dan dipersilakan menggunakan title kejuaraan lainnya. “Menpora hanya di awal saja silakan bawa nama title yang lain. Yang penting kesuksesan Youth Epsort Tournament 2021 yang sudah anda lakukan itu bisa menjadi benchmark untuk AMPI di daerah lainnya,” harapnya. Menpora Amali pun menyampaikan terimakasih atas partisipasi 14 ribuan tim yang telah mengikuti acara ini. “Saya ucapkan terimakasih atas partisipasi Anda. Tanpa kehadiran anda Youth eSport Piala Menpora 2021 ini tidak akan berarti apa-apa dan kepada yang sudah masuk 4 besar atau final saya ucapkan selamat,” tukasnya. Sementara itu, Ketua DPD AMPI Jawa Timur Pranaya Yudha Mahardika mengatakan acara ini digelar sejak tanggal 17 April 2021 dan diikuti 14 ribu peserta dari seluruh Indonesia. Total hadiah senilai 200 juta dan Piala Menpora. “Youth eSport Piala Menpora alhamdulillah diikuti oleh 14 ribu pendaftar. Ini adalah suatu yang luar biasa yang mana sebelumnya kami tidak menyangka bahwa peminat dari eSport di Indonesia secara nasional bisa sebanyak ini dalam waktu yang singkat kami susun kepanitiaan dan kami iklankan,” ujarnya. Menurut dia, 14 ribu tim tersebut telah bertanding hingga menyisahkan 4 tim dalam laga final. 4 tim yang masuk 4 besar antara lain dari Jakarta sebanyak 2 tim, Bandung 1 tim dan 1 tim dari Malang Jawa Timur. “Alhamdulillah semua sudah selsai dan kami sudah melengkapi seluruh juara yang ada di Youth eSport Piala Menpora 2021. Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya terutama kepada pak Menpora RI beserta seluruh jajaran,” jelasnya. Sementara itu, Dewan Pembina AMPI Jatim, M. Sarmuji turut merasa bangga karena turnamen e-sport berjalan lancar. Apalagi antusiasme masyarakat juga terbilang besar, terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 70 ribu orang. “Turnamen eSport yang diselenggarakan oleh AMPI ini adalah pekerjaan gila. Bayangkan 14.000 tim atau 70.000 orang mengikuti pertandingan tentu bukan pekerjaan mudah untuk mengelolanya. Dibutuhkan dukungan manajerial yang rapi. Belum lagi waktu penyelenggaraan yang cukup panjang karena jumlah peserta yang luar biasa banyak membutuhkan energi yang sangat besar,” katanya. Pada grand final Youth eSport Piala Menpora 2021, Tim Victim dinyatakan sebagai juara usai menyudahi perlawanan DNPro dengan skor 2-0 dalam permainan best of three tersebut. Grand Final ini diikuti oleh empat peserta, yakni Victim eSport dan Kings eSport dari Jakarta, Next Level eSport dari Bandung, serta DNPro dari Malang. Hadir dalam penutupan Youth eSport Piala Menpora 2021antara lain, Deputi bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta, Kadispora Jawa Timur Supratomo, Dewan Pembina DPD AMPI Jawa Timur, Sarmuji, perwakilan PB eSports Indonesia, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sahat Tua Simanjuntak, Dewan Kehormatan AMPI Dave Laksono dan Ketum DPP AMPI Dito Ariotedjo.

Kisah Inspiratif Petinju Wanita Indonesia Pertama yang Menjadi Finalis Kejuaraan Asia

Kisah Inspiratif Petinju Wanita Indonesia Pertama Peraih Perak Kejuaraan Asia

Sebuah pencapaian kembali diraih oleh atlet muda Indonesia. Kali ini datang dari atas ring tinju. Adalah Huswatun Hasanah yang mampu mengharumkan nama baik Indonesia di kancah internasional. Petinju berusia 23 tahun itu mencatat sejarah baru sebagai wanita pertama asal Indonesia yang berhasil bertanding di final ASBC Eltire Boxing Championship. Huswatun berhasil meraih medali perak kelas 60 kg pada pertandingan final ASBC Asian Elite Boxing Championship di Dubai, Uni Emirat Arab, pada akhir pekan lalu. Peraih medali perunggu Asian Games 2018 Jakarta itu hanya kalah dari petinju Kazakhstan Rima Volossenko pada partai final yang digelar di Le Meredien, 30 Mei. Dia kalah Referee Stops Contest (RSC). Sebelum memijak partai puncak, petinju kelahiran 27 Januari tahun 1998 tersebut lebih dulu mengalahkan Shoira Zulkaynarova (Tajikistan) di babak semifinal dengan skor 3-2. Meskipun belum berhasil mempersembahkan gelar juara untuk Merah-Putih, medali perak Huswatun sangat bersejarah. Huswatun menjadi petinju wanita pertama Indonesia yang mampu menjadi finalis. Sebelumnya, catatan terbaik petinju wanita Indonesia di Kejuaraan Asia hanya mampu merebut medali perunggu atas nama Rumiris Simarmata (48 kg) dan Veronica Nicolas (50 kg). Sedangkan gelar juara terakhir kali diraih petinju putra Hendrik Simangunsong pada Kejuaraan Asia di Bangkok, Thaiand, 1992. Saat itu ia mengalahkan petinju Korea Selatan Choi Ki-soo di babak final kelas light midlleweight 71 kg. “Akhirnya setelah sekian tahun ada lagi petinju Indonesia yang menembus final Kejuaraan Asia dan ini wanita. Terakhir itu, Hendrik Simangunsong di Bangkok, tapi itu kan putra karena putri saat itu belum ada,” kata Kepala bidang Pembinaan Prestasi PP Pertina, Pahotma Sitompul, dilansir dari detikSport. Huswatun akan diproyeksikan menuju SEA Games 2021 di Vietnam bersama petinju lain yang terbagi dalam dua lokasi, Banten dan Batam. Pertina akan melakukan seleksi kepada sejumlah atlet tinju untuk mendapat 11 petinju terbaik di Jakarta pada 8-9 Juni. “Sekarang ini kan jumlahnya masih 200 persen. Jadi akan ada seleksi lagi untuk diambil 11 atlet terbaik yang terdiri dari 3 petinju putri dan 8 petinju putra,” ungkap pria yang karib disapa Ucok ini. Adapun kelas yang dipertandingkan untuk putri, yaitu 51 kg, 57 kg, 60 kg, sedangkan kelas putra terdiri dari kelas layang, 49 kg, 57 kg, 64 kg, 69 kg, 75 kg, 81 kg, 91 kg. “Saya berharap dengan hasil Huswatun di Kejuaraan Asia, di SEA Games kita mendapat hasil terbaik. Ekspetasi saya sangat tinggi karena Asia saja sudah bisa kita pegang,” Pahotma mengharapkan.

Masih Ingin Meniti Karier di Level Junior, Ini Target Priska Pada Tahun 2021

Masih Ingin Meniti Karier di Level Junior, Ini Target Priska Priska Pada Tahun 2021

Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, mengaku dirinya tak ingin terburu-buru naik kelas ke level pemain profesional. Namun, Priska sudah memiliki target pribadi yang ingin ia capai hingga akhir tahun 2021. Salah satu target dari petenis berusia 18 tahun tersebut adalah menembus top 10 junior. Selain itu, ia ingin fokus di Tur Eropa Junior 2021 sepanjang bulan Juni mendatang. Peraih medali perunggu SEA Games 2019 di Filipina tersebut mengaku tak ingin terburu-buru naik kelas ke level profesional seperti yang dilakukan rekan-rekan seangkatannya. Baginya, setiap atlet memiliki jalan karier yang berbeda dan dia sendiri memilih untuk fokus dulu di level junior. Priska juga menambahkan bahwa dirinya tidak risau jika disebut terlambat melakukan transisi ke jenjang profesional. “Setiap petenis punya jalan masing-masing. Dan saat pandemi ini, pilihan turnamen profesional yang tersedia memang lebih terbatas,” ujar Priska dalam rilis Pelti. Priska saat ini tengah fokus mengikuti Tur Eropa Junior 2021 yang akan berlangsung sepanjang bulan Juni dengan mendatangi berbagai kejuaraan elite dunia, termasuk grand slam. Saat ini Priska sedang berada di Prancis untuk melakukan persiapan menuju French Open Junior yang akan berlangsung pada 6-12 Juni. Kemudian, Priska dijadwalkan untuk mengikuti kejuaraan Wimbledon Junior 2021. Selain turnamen grand slam, petenis peringkat ke-17 dunia ini juga bakal berlaga di ajang tenis Grade 1 di Roethampton, Inggris. “Targetku masuk Top 10 ITF Junior akhir tahun ini,” kata Priska penuh keyakinan. Baginya, menembus top 10 junior akan lebih memudahkan jalan transisi menuju level profesional tahun depan. Pasalnya, sesuai aturan Women’s ITF World Tennis Tour, posisi tersebut akan memudahkan Priska mendapatkan fasilitas Junior Exempt. Yakni, fasilitas untuk menembus turnamen profesional dengan minimal total hadiah 25 ribu dolar AS atau sekitar Rp 360 juta.

Kisah Kadek Agung yang Hampir Berhenti Bermain Sepak Bola Karena Kecelakaan

Kisah Kadek Agung yang Hampir Berhenti Bermain Sepakbola Karena Kecelakaan

Tim Nasional Sepak Bola Indonesia mampu tampil luar biasa saat melawan Thailand pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022, Kamis (3/6/2021) malam WIB. Sempat tertinggal dua kali dari Thailand, dua kali pula Timnas Indonesia mampu bangkit dan menyamakan kedudukan. Salah satu pemain yang mampu tampil luar biasa adalah Kadek Agung. Ia bahkan mencetak gol penyeimbang kedudukan saat tertinggal 1-0. Bersama Evan Dimas, Kadek menjadi sosok sentral dibalik permainan spartan timnas saat melawan Thailand. Namun, mungkin beberapa dari Anda masih banyak yang masih asing dengan sosoknya. Kadek merupakan pesepakbola muda asal Pulau Dewata. Lahir di Luwus, Tabanan. Ia mengaku sudah menyukai sepak bola sejak masih kecil. “Sejak kecil saya sudah belajar bermain sepak bola. Bagi saya sepak bola adalah segalanya. Bapak sering ajak menonton sepak bola dan lingkungan rumah juga olahraga yang populer adalah sepak bola. Hal inilah yang membuat saya suka dengan sepak bola,” kenangnya. Dibalik karirnya saat ini, ternyata ada cerita kurang menyenangkan. Dalam suatu kesempatan, dirinya ada kesempatan mengikuti seleksi kabupaten dan kota untuk Timnas U-19 era Indra Sjafri. Namun, saat sepulang dari sekolah, Kadek mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkannya mengalami cedera parah dan mengharuskannya untuk istirahat total selama satu tahun. “Iya, waktu itu tahun 2014 saya mengalami kecelakaan sepeda motor, harus ada operasi tempurung kaki kiri yang retak, jadi istirahat satu tahun, beberapa waktu tidak sadar, saat dekat rumah tiba-tiba saya sudah tidak ingat lagi dan terbangun sudah di rumah sakit. Begitu tersadar, sudah banyak jahitan dan retak di tangan serta di dagu. Semua operasi pada waktu itu,” ceritanya. Dirinya saat itu sempat terpikir bahwa karirnya di lapangan hijau sudah tamat. Namun semua pikiran itu dilawannya. Motivasi bangkit dari situasi terpuruk, semangat tinggi demi impiannya sejak kecil. Dia dari awal memang bertekad bulat untuk menjadi seorang pemain lapangan hijau yang handal. “Orang tua waktu itu sudah menangis karena mereka tahu jika cita-cita saya ingin menjadi pemain sepak bola. Namun saya tidak putus asa, saya semangatkan diri sendiri, dan dengan tekad yang kuat, saya sembuh dan sedikit demi sedikit kembali bisa berlatih sepak bola. Butuh waktu satu tahun bagi saya untuk tidak bisa bermain sepak bola dan berjuang pulih kembali,” katanya. Sejak itu, fokusnya adalah bermain bola. Setahun tidak bermain sepak bola, tiba-tiba kesempatan bergabung dengan Bali United Youth tiba. Berkat doa orang tua dan keinginan kuatnya, kini I Kadek Agung bukan hanya menjadi bagian klub Bali United yang menjadi kebanggaan warga Bali tempat kelahirannya. Di dalam timnas Indonesia saat ini, dirinya pun sangat serius dan tak pernah main-main dalam menjalani setiap latihan yang diberikan oleh pelatih. Tak heran hasilnya bisa terbukti. Kadek kini menjadi bagian dari skuad Garuda membawa satu hal membanggakan, yaitu berkat golnya ke gawang Thailand, sekaligus pelecut dan bangkitnya semangat bertanding kawan-kawannya untuk terus bertarung hingga wasit meniupkan pluit tanda berakhirnya laga. “Melawan Thailand kemarin memang tidak mudah, walau kita kemasukan gol lebih dahulu, kita mempunyai daya juang tinggi, jadi kita berusaha untuk mendapatkan poin, dengan kerja keras dan penampilan tim yang maksimal di atas lapangan, kami bisa meraih hasil itu. Vietnam adalah lawan berikutnya, saya kira mereka mungkin akan tampil ngotot juga, tapi kita disini juga memiliki daya juang dan semangat yang tinggi, sesudah meraih satu poin lawan Thailand. Itu mungkin menjadi modal dan saya berharap bisa terus tampil baik serta teman-teman semakin kompak untuk bisa meraih tiga poin,” tutupnya. Kini, Kadek Agung mungkin menjadi salah satu pemain harapan para seluruh insan sepak bola di Indonesia untuk membawa timnas bisa berprestasi di masa mendatang. Biodata: Nama Lengkap: I Kadek Agung Widnyana Putra Tempat Tanggal Lahir: Tabanan, 25 Juni 1998 Posisi: Gelandang Klub: Bali United Karir Klub Junior: 2013–2014 (SSB Putra Tresna) 2015–2017 (Bali United Youth) Karir Klub Senior: 2018 – sekarang (Bali United) Tim Nasional: 2019 Indonesia U-23 2021 Indonesia Senior

Usai Ukir Rekor Dunia, Ini Target Rizki Juniansyah

Usai Ukir Rekor Dunia, Ini Target Rizki Juniansyah

Usai harumkan Indonesia dengan mengukir tiga rekor dunia junior kelas 73 kg pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021 di Uzbekistan, lifter muda Rizki Juniansyah siap naik level. Ia pun membeberkan targetnya ke depan. Diakui lifter kelahiran Banten, 17 Juni 2003 itu, saat ini ia tengah berniat mencoba memecahkan rekor dunia junior di kelas 81 kg. “Karena masih ada kesempatan berlaga di level junior dua tahun ke depan, obsesi saya selanjutnya mampu memecahkan rekor dunia junior di kelas 81 kg. Untuk itu saya berniat pindah ke kelas 81 kg,” papar Rizki saat menjalani karantina sepulangnya dari Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior di Uzbekistan, Minggu (30/5/2021). Untuk bisa tampil di kelas 81 kg, Rizki Juniansyah harus menjaga berat badannya tidak boleh melebihi 80 kg. “Ini juga untuk jaga-jaga jika nantinya saya harus tampil di kelas 73 kg, untuk menurunkan berat badan tidak sulit,” ungkapnya. Rekor dunia junior kelas 81 kg saat ini yang sedang dibidiknya adalah angkatan snatch seberat 168 Kg yang dicetak lifter Tiongkok, Li Dayin dan clean and jerk 208 kg yang ditorehkan lifter Bulgaria, Nasar Karlos Mau Hasan. “Selisihnya tidak jauh dengan rekor dunia di kelas 73 kg yang baru saja saya pecahkan yakni snatch 155 kg dan clean and jerk 194 kg. Tinggal saya harus fokus untuk menambah berat angkatan di kelas baru ini,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Muhammad Yasin dan Yeni Rohaeni itu. Selain itu, Rizki Juniansyah juga membidik untuk memecahkan rekor dunia senior di kelas 73 kg, kelak jika ia sudah beralih ke level senior. “Sekarang ini saya fokus di junior lebih dahulu dengan rencana pindah kelas. Setelah saya memenuhi syarat di level senior saya mencoba untuk memecahkan rekor dunia lagi yang juga selisihnya tidak jauh yakni 169 kg di angkatan snatch dan 198 kg di angkatan clean and jerk. Tinggal fokus saya lebih meningkatkan lagi power angkatan saya,” ujar Rizki Juniansyah. Prestasi yang diraih oleh pemuda yang bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri itu memang sangat membanggakan. Rizki mengenal angkat besi dari ayah dan kakaknya. Ia memulai debutnya dengan meraih medali perunggu di kelas 56 kg pada Kejurnas Angkat Besi Satria Remaja di Bandung 2016 silam. Atas keberhasilannya itu, Rizki Juniansyah kemudian terpilih mengikuti Kejuaraan Angkat Besi Youth & Juniors Asia di Thailand 2018 silam dengan membawa pulang medali perak di kelas 62 kg. “Target saya di angkat besi ingin tercatat sebagai lifter pemecah rekor dunia baik di kelas junior maupun senior. Alhamdullilah, untuk kelas 73 kg junior saya mampu memecahkannya. Selain obesesi saya tampil di ajang Olimpiade berikutnya di Paris 2024 mendatang,” harapnya. Catatan perjalanan prestasi Rizki Juniansyah boleh dibilang cukup meroket. Ia mulai menekuni angkat besi sejak umur 7 tahun. “Waktu itu karena di rumah Ayah saya mendirikan sasana sendiri, saya sudah mulai latihan namun waktu itu tidak dengan keseriusan dan tidak ditekuni. Di usia 8 tahun saya berhenti latihan karena saya belum di izinkan waktu itu untuk latihan dan saya masih takut-takut karena dulu perawakan saya kecil dan pendek dan itu yang ditakutkan kedua orang tua saya, pertumbuhan badan takut keterusan pendek,” ujarnya. Namun, setelah dilihat postur tubuhnya mengalami pertumbuhan, Rizki Juniansyah kemudian diperbolehkan untuk kembali berlatih. “Saya memulai berlatih lagi pada usia 11 tahun, ketika duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Setelah keluarga bermusyawarah untuk menyetujuinya dan darisitulah saya mendapat gemblengan dari Ayah saya yang juga mantan atlet angkat besi,” ungkapnya lagi. Di usianya yang masih sangat muda, Rizki Juniansyah membersnikan diri tampil di Pekan Olahraga Antar Provinsi (Porprov) Banten dan pertama kali mendapatkan emas di kelas 40 Kg dengan angkatan snatch 45 Kg dan clean and jerk 55 kg. “Saya tidak akan merasa puas dengan apa yang saya raih saat ini. Saya ingin lebih meningkstkan lagi prestasi saya hingga ke jenjang Olimpiade. Saya berterima kasih kepada Ayah, seluruh keluarga, tim pelatih selama berada di Pelatnas yang telah membimbing saya hingga mampu memecahkan rekor dunia,” katanya.

Persiapan Olimpiade, Fika Terbang ke Kroasia

Persiapan Olimpiade, Fika Terbang ke Kroasia

Petembak muda Indonesia, Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba atau yang akrab disapa Fika, saat ini tengah mempersiapkan diri jelang keikutsertaannya di Olimpiade Tokyo pada 23 Juli- 8 Agustus mendatang. Guna mematangkan persiapannya tersebut, Fika dijadwalkan mengikuti uji coba di Kroasia pada Juni mendatang. Fika yang bakal turun di nomor 10 meter air rifle putri, tak punya target di Kroasia. Dia mengatakan ingin menambah pengalaman sebagai persiapan di Olimpiade Tokyo 2020. “Saya tidak mematok target medali untuk penampilan di Kroasia. Di sana saya ingin menambah jam terbang sehingga saya bisa lebih siap saat tampil di Olimpiade” ujar Fika, dalam siaran pers Komite Olimpiade Indonesia (KOI) mengutip Antara, Kamis (27/5/2021). Sementara itu Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia, Rosan P. Roeslani, dalam kunjungannya ke pelatnas menembak di Senayan, Jakarta, mengaku terkesan dengan Fika yang bisa lolos kualifikasi dalam usia yang masih muda. “Fika ini atlet muda Indonesia yang luar biasa. Dia lolos kualifikasi Olimpiade pada usia 18 tahun. Semoga ia bisa memberikan penampilan terbaik di Olimpiade Tokyo nanti,” kata Rosan. Fika sebelumnya meraih medali perunggu dalam kejuaraan dunia menembak ISSF World Cup 2021 di New Delhi, India pada 15-26 Maret lalu. Dia menempati posisi ketiga pada nomor beregu 50 meter rifle three positions bersama Audrey Zahra dan Monica Daryanti. Peraih medali emas SEA Games 2019 itu awalnya dijadwalkan mengikuti ISSF World Cup di Baku, Azerbaijan, 21 Juni-2 Juli. Namun panitia penyelenggara telah memutuskan untuk membatalkan kejuaraan yang menjadi turnamen kualifikasi terakhir Olimpiade Tokyo tersebut karena situasi pandemi COVID-19 di negara tersebut. Saat ini, Indonesia hampir dipastikan menurunkan 19 atlet dari enam cabang olahraga ke Olimpiade Tokyo 2020. Keenam cabang olahraga tersebut adalah panahan, menembak, atletik, dayung, bulu tangkis, dan angkat besi. Jumlah itu masih bisa bertambah karena kualifikasi Olimpiade masih berlangsung.

Tim Senam Junior Indonesia Berpartisipasi pada Kompetisi Gymnastic Internasional di Baku

Tim Senam Junior Indonesia Berpartisipasi pada Kompetisi Gymnastic Internasional di Baku

Indonesia untuk kali pertama mengirimkan delegasi atletnya untuk berkiprah pada kompetisi senam ‘the 9th FIG AER Gymnastics World Age Group Competitions” yang diselenggarakan di National Gymnastics Arena Baku, Azerbaijan. Indonesia merupakan salah satu dari 18 negara yang berlaga dalam kompetisi tersebut. Pada kompetisi yang digelar pada tanggal 23-25 Mei itu, terdapat dua kategori, yaitu kelompok umur 12-14 dan 15-17 tahun. Indonesia diwakili oleh Kaleb Wisnu Christian (14 tahun) dan Wulan Septiani (15 tahun) yang berhasil berhasil lolos kualifikasi dan sampai ke level final untuk pertama kalinya. Pengalaman kali ini tentu berharga bagi tim senam junior Indonesia dalam mempersiapkan pertandingan di ajang kompetisi selanjutnya. Indonesia pernah mengirimkan atlet junior untuk kompetisi senam tingkat Asia dan berhasil sampai di peringkat ke-4. Selanjutnya pada 27-29 Mei 2021, tim senam senior Indonesia juga akan bertanding di ajang 16th FIG Aerobic Gymnastics World Championships di Baku, Azerbaijan.

Hebat! Rizky dan Windy Sama-sama Boyong 3 Emas

Hebat! Rizky dan Windy Sama-sama Boyong 3 Emas

Kabar baik datang dari Tim Angkat Besi Indonesia yang saat ini tengah berjuang di Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021 yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan. Kabar tersebut datang dari dua bintang muda Indonesia yakni Rizki Juniansyah dan Windy Cantika Aisah. Keduanya sukses memborong masing-masing 3 emas pada kejuaraan yang berlangsung sejak 21 Mei tersebut. Rizki turun di kelas 73 kg dan berhak atas tiga medali emas setelah menghasilkan angkatan total 349 kg, dari angkatan snatch 155 kg dan clean and jerk 194 kg, demikian catatan resmi IWF. Catatan tersebut mempertajam rekor sebelumnya yang dibukukan oleh lifter Amerika Serikat, Clarence Cummings Jr. pada 2019 lalu dengan angkatan total 347 kg, dari angkatan snatch 154 kg dan clean and jerk 193 kg. Dalam kejuaraan yang masuk dalam rangkaian kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo itu, Rizki dengan mulus mengangkat angkatan snatch dalam tiga kali percobaan, dimulai dari 142 kg, 146 kg, hingga 155 kg. Ia juga tak mendapati hambatan berarti saat melakukan angkatan clean and jerk dalam tiga kali kesempatan, dimulai dari 180 kg, 189 kg, dan 194 kg. Lifter berusia 17 tahun itu unggul jauh atas para pesaingnya, termasuk atlet angkat besi India peraih perak, Achinta Sheuli, yang meraih total angkatan 313 kg, dan lifter Rusia peraih perunggu Gevorg Serobian dengan angkatan total 308 kg. Namun, kesuksesan Rizki belum bisa diikuti lifter putra lain Indonesia yang bertanding di kelas yang sama, yakni Rahmat Erwin Abdullah gagal memenuhi target menembus angkatan total di atas 335 kg. Rahmat Erwin hanya mampu meraih angkatan total 331 kg, dengan rincian snatch 143 kg dan clean and jerk 188 kg dalam Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021. Sementara itu, lifter muda Indonesia lainnya, Windy Cantika Aisah, juga sukses meraih 3 emas. Windy turun di kelas 49 kg, mencatat total angkatan 191 kg (86 kg snatch dan 105 kg clean and jerk). Lifter 18 tahun ini mengalahkan Mihaela Valentina Cambei (Rumania) dan Elizaveta Zhatkina (Rusia). Dengan 3 emas ini, Windy mampu perbaiki poin dan memantapkan posisi di 8 besar ranking dunia untuk Olimpiade Tokyo 2021. Selain itu, ia juga jadi lifter termuda dalam 5 besar ranking dunia.

Putri KW Juara, Indonesia Borong 4 Gelar

Putri KW Juara, Indonesia Borong 4 Gelar

Wakil tunggal putri Indonesia, yakni Putri Kusuma Wardani berhasil menjadi juara pada turnamen Spain Masters 2021. Ia pun mengukir sejarah dalam kariernya karena ini merupakan titel pertama bagi Putri setelah naik ke level senior. Selain itu, ia menjadi tunggal putri Indonesia pertama yang menjuarai gelar BWF World Tour dalam dua tahun terakhir. Putri mampu memastikan gelar tersebut usai mengalahkan unggulan ketiga asal Denmark, Line Christophersen, pada Minggu (23/5/2021) sore WIB. Tak tanggung, Putri mengandaskan lawannya dalam straight game, dengan skor akhir 21-15 dan 21-10. Selama berjuang di Spain Masters 2021, Putri yang berstatus non unggulan tampil gemilang dengan menumbangkan beberapa unggulan. Tercatat ada tiga unggulan yang menjadi “korban” Putri. Mereka ialah Line Christophersen (unggulan 3), Lianne Tan (unggulan 4) dan kompatriotnya, Ruselli Hartawan, yang merupakan unggulan kelima. Sayang, langkah Putri tak mampu diikuti oleh Chico Aura Dwi Wardoyo. Chico harus puas menjadi runner up tunggal putra Spain Masters 2021 usai kalah dua gim dari wakil Perancis unggulan kedua, Toma Junior Popov. Pada pertandingan lain, pasangan Yulfina Barkah/Febby Valencia Dwijayanti Gani juga berhasil naik podium juara Spain Masters 2021. Yulfina/Febby sukses merebut gelar juara ganda putri Spain Masters 2021 setelah mengalahkan unggulan pertama asal Denmark, Amalie Magelund/Freja Ravn. Selanjutnya, di nomor ganda putra, Indonesia meraih gelar lewat perjuangan keras Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan. Pada partai puncak Spain Masters 2021, mereka menumbangkan sesama wakil Indonesia, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Duel Pramudya/Yeremia vs Sabar/Reza berlangsung sengit dan berakhir lewat drama rubber game berdurasi 51 menit. Terakhir, Indonesia berhasil merengkuh gelar di nomor ganda campuran berkat aksi Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Sepanjang turnamen, Rinov/Pitha yang berstatus unggulan pertama tampil menjanjikan. Mereka selalu menang dua gim langsung dari babak pertama hingga final Spain Masters 2021. Pada partai puncak, Rinov/Pitha menang dua gim langsung atas unggulan kedua, Niclas Nohr/Amalie Magelund. Rinov/Phita hanya membutuhkan 39 menit untuk mengakhiri perlawanan wakil Denmark tersebut. Dengan demikan, Indonesia berhasil menjadi juara umum dengan raihan 4 gelar juara. Berikut hasil lengkap final Spain Masters 2021: Tunggal Putra Chico Aura Dwi Wardoyo vs Toma Junio Popov [2] (Perancis): 15-21, 17-21 Tunggal Putri Putri Kusuma Wardani vs Line Christophersen [3] (Denmark): 21-15, 21-10 Ganda Putra Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan [5] vs Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani: 21-15, 18-21, 21-14 Ganda Putri Yulfira Barkah/Febby Valencia Dwijayanti Gani vs Amalie Magelund/Freja Ravn [1] (Denmark): 21-16, 21-14 Ganda Campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari [1] vs Niclas Nohr/Amalie Magelund [2] (Denmark): 21-18, 21-15

Mutiara Ayu Pastikan Gelar Slovenia International 2021

Mutiara Ayu Pastikan Gelar Slovenia International 2021

Kejutan kembali dihadirkan oleh Mutiara Ayu Puspitasari. Atlet yang baru saja berusia 15 tahun tersebut mampu memastikan gelar juara Slovenia International 2021 usai menaklukkan unggulan tiga asal Hungaria, Agnes Korosi, dalam drama tiga babak dengan skor akhir 21-14, 19-21 dan 21-16. Kejutan tersebut lantaran Mutiara Ayu mengawali turnamen yang berlangsung di Sport hall Centre Dras tersebut dari babak kualifikasi. Selain itu, pemain kelahiran Ngawi, 17 Mei 2006 tersebut juga turun di nomor ganda putri bersama Ruzana. Meski perjuangan keduanya hanya sampai babak kedua saja. Sementara untuk nomor tunggal putri yang merupakan spesialis Mutiara Ayu, dirinya mampu membuktikan diri jadi yang terbaik. Total, Mutiara Ayu menjalani 7 pertandingan hingga babak final. Mutiara Ayu Puspitasari yang merupakan atlet jebolan PB Djarum ini juga pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik karena pernah menjuarai Daihatsu ASTEC regional U-17 di Jakarta pada tahun 2019. Selain itu, Mutiara Ayu juga pernah menghadirkan kejutan pada kejuaraan bulutangkis Liga PB Djarum 2020 dengan merengkuh juara di kategori U-17 pada usianya yang masih 14 tahun. Namun, kesuksesan Mutiara Ayu belum bisa diikuti oleh wakil tunggal putra Indonesia, Panji Ahmad Maulana yang juga berlaga di partai puncak Slovenia International 2021. Tampil menghadapi pebulutangkis Prancis, Arnaud Merkle, Panji harus mengakui keunggulan sang lawan dengan skor akhir 21-8 dan 21-10.

Lifter Indonesia Siap Berjuang di Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior

Lifter Indonesia Siap Berjuang di Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior

Pengurus Besar (PB) Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) kembali mengirim lifter ke Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021 di Tashkent, Uzbekistan, 21-31 Mei 2021 yang diikuti 360 lifter dari seluruh dunia. Total, tim Merah-Putih mengirimkan sembilan wakilnya yang terdiri dari tiga atlet putra dan enam atlet putri. Mereka ialah M. Faathir (61 kg), Rahmat Erwin Abdullah (73 kg), Rizki Juniansyah (73 kg), Najla K (45 kg), Siti Nafisatul (49 kg), Windy Cantika Aisah (49 kg), Juliana Klarisa (55 kg), Nelly (59 kg), dan Restu Anggi (64 kg). Adapun Erwin yang kini berusia 21 tahun mendapatkan undangan khusus dari panitia kejuaraan dunia karena tahun lalu tidak ada event junior dan terjadi pandemi Corona. Usia Erwin saat itu masih masuk level junior, sedangkan saat ini dia sudah naik kelas senior. “Makanya dia mendapat undangan khusus dari panitia untuk menambah poin Olimpiade, yang mana kualifikasinya berakhir Mei 2021,” kata Kepala bidang Pembinaan Prestasi PABSI Hadi Wihardja, dilansir dari detikSport. Erwin saat ini menempati peringkat 24 ranking kualifikasi Olimpiade. Namun, peringkat itu belum memangkas negara-negara lain yang sudah meloloskan atletnya lebih dari satu. Menyesuaikan aturan IWF, masing-masing negara hanya memperbolehkan mengikuti empat nomor dari tujuh kelas putra yang dipertandingkan di Olimpiade. “Semoga Erwin di Kejuaraan Dunia junior ini berhasil dan sangat diharapkan dia bisa menembus angkatan total 335 kg dan lebih baik dari hasil Kejuaraan Asia bulan lalu. Jika Erwin berhasil maka potensi besar untuk mendapatkan tiket Olympic Games 2020,” tutur Hadi. Sementara itu, PB PABSI tetap mengirimkan Windy Cantika Aisah yang belum lama ini sudah memastikan tiket Olimpiade Tokyo 2020. Lifter putri yang turun di kelas 49 kilogram (kg) tersebut berhasil mengamankan tiket Olimpiade Tokyo 2020 Tokyo saat meraih medali perak dengan angkatan terbaik untuk snacth 81 kg, clean and jerk 98 kg, dan total 179 kg pada Kejuaraan Asia Angkat Besi, bulan lalu. Lebih lanjut, alasan PB PABSI tetap mengikutsertakan Windy adalah agar ia dapat memperbaiki ranking dan memanfaatkan Kejuaraan Dunia Junior di Tashkent untuk mengasah kemampuan sebelum turun di Tokyo. “Windy Cantika memang sudah lolos ke Olimpiade. Namun, kami berharap ia terus memperbaiki peringkat,” ucap Hadi. “Sedangkan lifter lainnya Faathir yang baru menginjak tingkat junior (sebelumnya remaja 17 tahun) diharapkan mampu membuktikan diri untuk tetap masuk ranking tiga dunia. Begitu juga dengan Rizki yang selama ini merupakan pemegang rekor remaja dapat menunjukkan prestasi di junior,” pungkas Hadi.

Timnas Indonesia Masuk Pot 3 Kualifkasi Piala Asia U-23 2022

Timnas Indonesia Masuk Pot 3 Kualifkasi Piala Asia U-23 2022

AFC selaku Konfederasi Sepakbola Asia sudah mengumumkan pembagian pot untuk kualifikasi Piala Asia U-23. Timnas Indonesia U-23 dipastikan masuk pot 3 yang didominasi oleh negara-negara Asia Tenggara. Dalam pot 3, hanya satu tim yang berasal dari luar Asia Tenggara, yaitu Hong Kong. Selebihnya, Indonesia tergabung bersama Timor Leste, Kamboja, dan Laos. Sementara itu, dua klub kuat di Asia Tenggara, Vietnam dan Thailand masuk pot 1. Korea Selatan, Korea Utara, dan Australia juga masuk pot 1. Malaysia, Myanmar dan Kamboja berada di pot 2 bersama China dan Jepang. Kualifikasi Piala Asia U-23 2022 akan digelar pada 23-31 Oktober 2021. Pengundian pembagian grup akan dilakukan di AFC House, Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pengundian akan dibagi dalam dua zona, barat dan timur. Indonesia tergabung di Zona Timur, yang terdiri atas negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur. Untuk tuan rumah, AFC telah menunjuk Uzbekistan pada bulan Maret kemarin. Keputusan untuk menjadikan Uzbekistan sebagai tuan rumah diambil melalui pertimbangan bahwa negara ini sudah siap untuk menjadi tuan rumah event AFC, dan terus memperlihatkan perkembangan dalam berbagai kegiatan. Terlebih, sebelumnya Uzbekistan juga batal menjadi tuan rumah untuk Piala Asia U-19 tahun lalu, yang terpaksa gagal digelar lantaran pandemi virus corona melanda dunia. Uzbekistan juga sudah memohon supaya mereka jadi tuan rumah ajang di atas. Pot Undian Kualifikasi Piala Asia U-23 2022 Zona Timur: Pot 1: Australia, Korea Utara, Korea Selatan, Thailand, Vietnam. Pot 2: Jepang, China, Malaysia, Singapura, Myanmar. Pot 3: Indonesia, Hong Kong, Timor Leste, Kamboja, Laos. Pot 4: China-Taipei, Filipina, Kepulauan Mariana Utara, Guam, Makau, Mongolia, Brunei Darussalam.