Sapu Bersih Seluruh Partai Perdana, Putra UB Tekuk Tim Debutan Unitri

Universitas Brawijaya tampil cemerlang di pertandingan pertama LIMA Badminton EJC Malang 2018 usai menekuk Universitas Tribhuwana Tunggadewi 5-0. (LIMA)

Malang- Liga Mahasiswa (LIMA) Badminton: McDonald’s East Java Conference (EJC) Malang Subconference 2018 resmi, pada Minggu (1/4). Malang menjadi kota keempat yang disinggahi LIMA dalam event LIMA Badminton di musim keenam ini. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menjadi tuan rumah. Laga antara pemenang musim lalu, Universitas Brawijaya (UB), melawan tim debutan, Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) menjadi pembuka kompetisi badminton antarmahasiswa ini. Tak diragukan, UB tampil cemerlang di pertandingan pertamanya dengan skor maksimal, 5-0, atas Unitri. Pertandingan di partai pertama telah menampilkan ketangguhan UB. Lewat tunggal putra pertama, Ilham Yudha, UB mencuri poin. Murni Hariyanto, tunggal pertama Unitri tak mampu menahan Ilham. Alhasil, Ilham memenangi laga dengan skor telak, 21-6 dan 21-8. UB kembali tampil apik di partai kedua. Pasangan Achmeddieo Maulana/Misbachul Ulum Akbar, yang mewakili UB, kembali menyumbang poin. Ganda UB ini menang atas Joni Iskandar/Rahmad Suhindra dengan skor 21-7 dan 21-11. Di partai ketiga, Adhika Ariyadi/Aditya Chelievan/Iqval Anggi kembali menambah pundi-pundi poin untuk UB. Tripel UB ini berhasil mengungguli Alpian/Herwindi/Murni Hariyanto, tripel Unitri, dengan skor 21-10, dan 21-14. Tunggal UB kembali bermain impresif. Kali ini, UB menurunkan tunggal putra unggulannya, Achmad Rizal Lullah untuk berhadapan dengan Joni Iskandar, tunggal kedua Unitri. Mengantungi gelar juara tunggal putra di kategori perseorangan musim lalu, tak mengherankan jika Rizal mampu memberi poin tambahan untuk UB. Rizal mengalahkan 21-13 dan 21-14. Duet ganda kedua, Aditia Chelievan/M. Zulfa Risyad menyempurnakan poin UB. Kemenangan ini dipertegas UB di partai terakhir saat melawan Hasim/Kusnadiansyah, ganda Unitri, dengan skor 21-10 dan 21-10. Dengan ini, UB berhasil memenangi seluruh partai dengan skor akhir 5-0 atas Unitri. (Adt)

Venue Asian Games 2018 Dikebut Hingga Ramadan, INASGOC : Semua Tak Ada Kendala

Sekretaris Jenderal (Sekjen) INASGOC, Eris Hariyanto, saat melakukan pemaparan soal Venue Asian Games 2018 di acara World Press Briefing, pada Senin (2/4). (Pras/NYSN)

Jakarta- Panitia penyelenggara Asian Games 2018 Indonesia (INASGOC), menggelar acara ‘World Press Briefing’, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, selama dua hari, pada 2-3 April 2018. Kegiatan ini diikuti puluhan perwakilan media massa nasional dan internasional, baik cetak, elektronik, maupun online. Event ini juga untuk lebih mensinergikan antara media dan INASGOC. Termasuk, mengenai perkembangan pembangunan venue pertandingan dan latihan untuk para atlet dari negara-negara Asia pada penyelenggaraan Asian Games 2018, Agustus-September mendatang. Sejumlah venue tersebar di beberapa lokasi, seperti Jakarta, Sumatera Selatan, Jawa Barat serta Banten. “Saat ini ada 94 venue yang sudah kami siapkan. Dan, ada beberapa venue yang masih dalam fase persiapan untuk pembangunan. Pada April ini, Venue sebagai field of play Asian Games 2018 akan segera rampung,” ujar Eris Hariyanto, Sekretaris Jenderal (Sekjen) INASGOC, Senin (2/4). Eris menyatakan secara umum venue untuk pelaksanaan pesta olahraga terbesar di Asia itu telah siap semua. Mungkin yang belum siap, menurutnya, venue untuk latihan para atlet. “Kami yakin dan optimistis, semua venue, baik untuk pertandingan dan latihan, akan segera siap pada waktunya,” sambungnya. Proses pembangunan yang sangat dekat dengan pelaksanaan Ramadan (puasa) pada Mei hingga Juni mendatang, Eris menegaskan bila hal tersebut tak menjadi kendala. “Pembangunan itu tentu tak bisa berhenti dalam satu bulan itu. Mereka (kontraktor) akan tetap melaksanakan pembangunan, mungkin hanya speed pengerjaan-nya saja rendah, tidak seperti diluar Ramadhan. Tapi, kami pastikan semua tetap berjalan sebagaimana mestinya,” tambah Eris. Sementara, Nasir, Direktur Venue Asian Games 2018, mengungkapkan selain menyediakan venue perlombaan, pihaknya menyiapkan tempat latihan para atlet, yang tersebar di beberapa lokasi, seperti Jakarta, Palembang, Jawa Barat dan Banten. “APM Equestrian Center lokasinya di Tigaraksa, Tangerang akan digunakan sebagai training venue. Lalu, Stadion Universitas Padjajaran Bandung, Lapangan ITB Bandung, GOR Padjajaran serta Gunung Mas Puncak untuk olahraga Paralayang,” papar Nasir. Diketahui, event ‘World Press Briefing’ dimulai pada Senin (2/4) pukul 09.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Berlanjut pada Selasa (3/4), yakni saat para awak media nasional dan internasional akan meninjau sejumlah venue Asian Games 2018 di Jakarta. Beberapa venue yang akan disambangi dari Athlete Village (Kemayoran), Equestrian Park Internasional (Pulomas), Velodrome (Rawamangun), Aquatic Center (Senayan), Istora (Senayan), dan Stadion Gelora Bung Karno (Senayan). (Adt)

Tampil Superior, Tim Basket Putra U-14 Gading Muda Sabet Titel Juara

Tim Basket Putra U-14 Gading Muda menjuarai Kejuaraan Basket Pengkot Perbasi Jakarta Barat, usai mengalahkan Indonesia Falcons 50-35. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim Basket Putra Usia 14 Tahun (U-14) Gading Muda tampil superior di partai puncak Kejuaraan Basket Pengurus Kota (Pengkot) Perbasi Jakarta Barat, Minggu (1/4). Mereka menuntaskan mimpi meraih gelar juara usai menghempaskan Tim Basket Indonesia Falcons.nysn Melakoni laga di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR), Kebon Jeruk, Jakarta Barat, skuat Gading Muda langsung ‘tancap gas’ di kuarter pertama. Hasilnya, mereka mampu memimpin 7 angka atas lawan pada tiga menit pertama. Berlanjut, 3 point shoot dari pemain bernomor punggung 8, Reumbrant Billyson Chandra, makin memperlebar jarak angka Gading Muda atas Indonesia Falcons, yang sukses menutup kuarter pertama dengan skor 13-5. Pada kuarter kedua, Gading Muda terus memberikan tekanan pada lawan, namun Indonesia Falcons tidak tinggal diam hingga mampu mengantongi 8 angka. Meski tambahan angka tersebut belum cukup untuk mengejar ketertinggalannya dari Gading Muda yang akhirnya mampu membungkus kuarter kedua dengan skor 23-13. Pertarungan ketat terjadi pada kuarter ketiga. Kedua tim saling menggencarkan serangan. Dan, aksi individu yang ditunjukkan Reumbrant mampu menambah dua angka hingga makin mempertegas dominasi Gading Muda. Setelah itu, Indonesia Falcons berhasil membalas dengan raihan 3 point shoot dari penampilan ciamik pemain bernomor punggung 13, Kevin Nathaniel Cahyadi. Lagi-lagi, kuarter ketiga tetap milik Gading Muda dengan skor 37-29. Dikuarter akhir, anak didik Christian itu masih berada di atas angin. Angka demi angka dicetak Reumbrant dkk. Fast break dari pemain bernomor punggung 4, Edgar Dharma Prasadha Suryadi memperkokoh raihan angka Gading Muda. Akhirnya, mereka memastikan diri menjadi kampiun setelah menyudahi perlawanan Indonesia Falcons dengan skor akhir 50-35. Christian, Pelatih Tim Basket Putra U-14 Gading Muda, mengaku shock dengan perubahan transisi yang dipakai tim lawan. Menurutnya, tim lawan berani gambling mengambil keputusan untuk melakukan full court. “Puji Tuhan, anak-anak masih bisa tenang untuk mengantisipasi full court. Tapi, yang belum dimiliki anak-anak adalah setelah lewat setengah lapangan kayaknya mereka masih ragu mau ngapain,” ujar Christian. “Tapi, saya akui karena anak-anak merasa kuda hutam, dan nothing to lose, ya sudah mereka fight dalam pertandingan tadi dengan apapun yang terjadi,” sambungnya. Ia melanjutkan, tidak ada instruksi khusus yang diberikan pada anak didiknya selama pertandingan. Namun, Christian mengaku mengarahkan mereka tetap fokus memberikan tekanan ke bigman. “Sebenarnya posisi awal itu anak-anak banyak peluang ke bigman, tapi bolanya nggak ngalir. Kami tekankan ke bigman, namun rotasi masuk ke dalam wilayah lawan susah,” tambah pria yang akrab disapa Kentung. Meski berhasil menjadi kampiun, namun secara keseluruhan, pria bertubuh gempal itu, mengaku belum puas terhadap penampilan anak asuhnya tersebut. “Dalam sepekan persiapan yakni 60 persen pola permainan tak jalan di pertandingan, juga dengan sistim bermain mereka. Itu yang harus kami evaluasi, dimana mereka murni menjaga zone, lalu transisi dari difensif ke ofensif,” lanjutnya. Untuk persiapan Kejuaraan Daerah (Kejurda) tingkat DKI Jakarta, Christian mengatakan akan melakukan pembenahan terutama pada jam terbang. “Karena pertandingan ini bisa dibilang situasional, gamesnya anak-anak masih kurang. Jadi kalau mendapat pressure, bagaimana solusinya. Kemudian setelah passing terus mesti ngapain. Sebab, nanti di DKI hampir semua tim bagus-bagus karena mereka berasal dari peringkat satu dan dua dari masing-masing wilayah,” tukas Christian. (Adt)

Selain di Malaysia, IJL Mayapada 2018 Siapkan Tim Elite ke Thailand

IJL Mayapada 2018 akan menyiapkan dua tim Elite yang bakal tampil di event internasional pada akhir 2018 nanti. (Ham/NYSN)

Tangerang- Indonesia Junior League (IJL) rutin memberikan apresiasi kepada para pesertanya usai menyelesaikan festival. Pemain potensial di IJL Mayapada 2018 akan tampil di Malaysia dan Thailand. Rezza Mahaputra Lubis, selaku CEO IJL 2018 membeberkan persiapan di dua negara Asia Tenggara. “Kami akan siapkan tim IJL Elite yang siap berlaga di Selangor (Malaysia) dan Bangkok (Thailand). Tim U-11 bermain pada pekan pertama Desember di Malaysia, sedangkan tim U-13 merumput saat pekan ketiga Desember, di Thailand,” jelas Rezza, pada Minggu (1/4). “Pada Agustus, kami sudah tentukan pemain yang akan diberangkatkan. Tiap tim akan berisi 16 pemain terpilih, jadi total ada 32 pemain dari IJL yang akan dibawa ke Malaysia dan Thailand,” tukas Rezza. Ia juga memberikan alasan pihaknya memilih Festival di Malaysia, yakni Royal Selangor Club (RSC), sebagai ajang event internasional untuk skuat IJL Elite. Atmosfer pertandingan yang lebih kompetitif disebut jadi salah satu faktor paling utama. Rezza meyakini RSC adalah turnamen yang cocok untuk meningkatkan kualitas anak-anak IJL Elite. Apalagi, mereka bakal berjumpa dengan negara-negara sepak bola berkualitas Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam jadi salah satu alasannya. “Kami menganggap RSC ajang yang tepat mengasah pemain-pemain terbaik IJL. Ajang ini sudah berlangsung 14 tahun, dan selalu menjadi primadona di Malaysia dan Asia Tenggara,” katanya. “Lawan-lawan kami nantinya selain 70% tim-tim Malaysia, ada juga tim-tim asal Australia, Singapura, Thailand dan Vietnam. Aroma persaingannya agak lebih kompetitif,” sambungnya lagi. Pria berdarah Medan ini menyebut bila sepak bola Malaysia kini sudah mulai memberikan ruang youth development sebagai platform besarnya. Hal itu tak lepas dari dukungan penuh dari pemerintah daerah Malaysia. “Saya melihat pembinaan usia dini di Malaysia sudah selangkah lebih maju, mereka banyak melakukan inovasi dan terobosan mutakhir dalam konsep pembinaannya,” ungkapnya. “Pembinaan mereka juga didukung kerajaan-kerajan bagian dari wilayah Malaysia. Kedah, Sabah, Trenganu, Serawak, Selangor, Kuala Lumpur, Negri Sembilan dan lain-lain memiliki kompetisi yang berjenjang masing-masing. Dan setiap wilayah-wilayah ini juga memiliki keungulan event sepak bolanya masing-masing,” beber Rezza lagi. Rezza yakin momen berlaga di Malaysia tak hanya jadi ajang transfer ilmu bagi para pemain binaannya. Di Negeri Jiran, ia juga punya misi menjalin relasi lebih kuat dengan akademi dan sekolah sepak bola lainnya khususnya dari luar Indonesia. “Ya untuk kerjasama IJL sedang menjajaki langkah kerjasama dengan klub Selangor Royal serta Club Tiger Kids Kuala Lumpur. Kami akan saling bertukar team, jika IJL dan pihak mereka mengadakan event,” pungkasnya. (Dre)

Tim Putri U-12 Gading Muda Jadi Runner-Up, Pelatih : Ini Pencapaian Luar Biasa

Putri U-12 Gading Muda (hitam) meraih runner-up usai kalah dari Cakrasakti dengan skor 22-42, di partai final, Minggu (1/4). (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim Putri U-12 Gading Muda gagal mewujudkan impian meraih gelar juara pada Kejuaraan Basket Usia 12 Tahun (U-12) Pengurus Kota (Pengkot) Perbasi Jakarta Barat, di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR), Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Minggu (1/4). Gading Muda harus puas menjadi runner-up setelah di partai pamungkas tak mampu membendung ketangguhan Tim Basket Cakrasakti, dengan skor 22-42. Di kuarter pertama, kedua tim bermain impresif. Sayang, Belva dkk hanya mampu mencetak satu angka, sedangkan Tim Cakrasakti berhasil mengoleksi 13 angka. Memasuki kuarter kedua, anak asuh Stanly Indarto itu masih belum berhasil keluar dari tekanan lawan. Cakrasakti akhirnya mampu menjaring 10 angka, dan menutup kuarter kedua dengan skor 23-4. Tak patah semangat, Gading Muda terus memberikan tekanan pada Hillary dkk. Namun, perjuangan pasukan hitam-kuning itu hanya mampu menambah 5 angka sebelum pertandingan di kuarter ketiga berakhir dengan skor 9-34. Pertarungan ketat justru terjadi di kuarter keempat. Kedua tim saling ‘jual-beli’ serangan. Hasilnya, Gading Muda berhasil meraup tambahan 13 angka. Meski begitu, belum mampu mengejar ketertinggalannya dari Cakrasakti. Hingga wasit meniup pertandingan usai, Cakrasakti tetap unggul dengan skor akhir 42-22. Sang arsitek Gading Muda, Indarto mengatakan menghadapi kejuaraan ini persiapan yang dilakukan timnya sangat minim. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi performa anak didiknya tersebut. “Secara umum kami memang gagal meraih juara. Tapi, dibilang gagal 100 persen juga tidak. Karena inikan anak-anak U-12, dan rata-rata mereka kelas 6 SD (Sekolah Dasar), dimana mereka menghadapi ujian di sekolah,” ujar Stanly usai pertandingan. “Tapi, dengan persiapan yang minim dan kami bisa masuk final, jujur saja ini diluar ekspektasi kami. Bisa sampai ke final itu pencapaian luar biasa,” sambungnya. Pada pertandingan kali ini, ia mengaku puas dengan penampilan beberapa skuatnya. Salah satunya adalah Belva. “Ada beberapa pemain yang bermain di atas ekspektasi saya. Tapi ada juga yang di bawah ekspektasi saya. Misalnya Belva. Kalau latihan jujur mainnya tidak seperti dipertandingan tadi. Mungkin karena dia pingin menang dan fighting spirit-nya juga sangat tinggi. Yang pasti kemampuannya di pertandingan ini keluar semua,” bebernya. Sang juru ramu tim menambahkan bila kompetisi belum berakhir. Pasalnya, menurut Stanly, timnya bakal berlaga di Kejuaraan Daerah (Kejurda) antar wilayah. “Karena kami peringkat dua, tetap lolos untuk mewakilkan Jakarta Barat di event antar klub se-DKI, yang tiap wilayah diambil 2 tim. Lalu, tiap tim diadu untuk persiapan ke kejuaraan selanjutnya,” terangnya. “Untuk selanjutnya, kami akan evaluasi dari pertandingan hari ini. Fokus yang kami perbaiki soal difensif, kemudian ofensif untuk bermain secara tim. Individual juga makin kita asah,” ujar pria bertubuh gempal itu. (Adt)

Sandang Juara Dunia Pencak Silat, Ratu Febia Ingin Masuk Pelatnas

Pesilat Ratu Febia Tanama Muthi berharap masuk Pelatnas membela Merah Putih di turnamen internasional. (Adt/NYSN)

Jakarta- Usianya baru 18 tahun, namun dara manis bernama lengkap Ratu Febia Tanama Muthi, merupakan penyandang gelar juara dunia pencak silat. Ia menorehkan prestasinya di Kejuaraan Dunia Silat Junior 2015, di Stadion Titiwangsa, Kuala Lumpur, Malaysia. Harapannya sederhana, gadis bertinggi 158 itu ingin suatu saat nanti ia terpilih masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) membela Merah Putih di pentas internasional. “Target pribadi setelah lulus Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, bisa ikut Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah). Dan pelatih memotivasi supaya masuk Pelatnas. Harapannya bisa membela Indonesia di dunia internasional,” ujar Ratu disela-sela Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Al-Azhar Seni Bela Diri Ke-2, di Jakarta, Sabtu (31/3). Guna mewujudkan harapannya tersebut, anak pasangan Nur Ali Rachmat (Ayah) dan Neneng Ijah (Ibu) itu terus menempa kemampuan ilmu bela dirinya. “Latihan setiap hari, mulai dari pagi dan sampai sore hari. Juga latihan-latihan tambahan. Selain itu juga sering mengikuti pertandingan biar mental makin kuat, biar tidak gentar juga kalau ketemu lawan-lawan baik di kejuaraan nasional maupun internasional,” sambung pehobi games itu. Diakui Ratu, bila saat ini perkembangan bela diri, terutama pencak silat sangat pesat. Ia menjelaskan saat dirinya meraih gelar juara dunia, persaingan yang dihadapi sangat ketat. “Waktu itu persaingannya ketat. Bagus-bagus semua lawannya. Apalagi yang dari Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Speed mereka cepat banget. Jadi saya harus lebih intensif berlatih. Supaya bisa terus meraih hasil terbaik,” tutupnya. (Adt) Biodata : Nama : Ratu Febia Tanama Muthi Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 8 Februari 2000 Hobi : Main Games Sekolah : SKO Ragunan Jakarta Tinggi/Berat : 158 Cm/56 Kg Nama ayah : Nur Ali Rachmat Nama Ibu : Neneng Ijah Prestasi : 1. Juara Tiga Kejurnas PPLP Kalimantan Timur 2013 2. Juara Dua Popnas Jawa Barat 2013 3. Juara Satu Kejurnas PPLP Jawa Tengah 2014 4. Juara Satu Jakarta Open 2014 5. Juara Satu Kejuaraan Dunia Silat Junior 2015 6. Juara Satu Kejurnas Maluku Utara 2015 7. Juara Satu Kejurnas Remaja 2016

Demi Emas Beruntun, Maria Londa Nekad Curi Ilmu di Negeri ‘Paman Sam’

Maria Natalia Londa akan menjalani latihan di Amerika Serikat (AS) mulai April 2018 demi medali emas Asian Games 2018, Jakarta-Palembang. (Adt/NYSN)

Jakarta- Atlet andalan Indonesia cabang atletik nomor lompat jauh, Maria Natalia Londa, terus menempa kemampuannya jelang pelaksanaan Asian Games 2018. Demi mengejar medali emas beruntun di pesta olahraga negara-negara se-Asia, ia bakal mencuri ilmu di Amerika Serikat (AS). Di negeri ‘Paman Sam’ itu, bersama 12 atlet yang dikirim oleh PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), ia akan digembleng oleh Harry Marra, pelatih terbaik 2016 versi Asosiasi Internasional Federasi Atletik. “Saya ingin curi ilmu atlet-atlet disana. Bagaimana cara pemanasan, persiapan, selama pertandingan dan setelah pertandingan,” ujar Marlon, sapaan atlet asal Bali, akhir pekan lalu. Ia mengaku latihan yang dijalaninya saat ini fokus pada perbaikan lompatan. “Semua latihan yang saya jalani untuk memperbaiki prestasi lompatan. Semoga semua berjalan lancar,” sambung wanita kelahiran Denpasar, 29 Oktober 1990. Diketahui, pada saat test event Asian Games 2018, Februari lalu, catatan terakhir lompatan Marlon adalah 6,43 meter. Soal lawan di Asian Games 2018, anak didik I Ketut Pageh itu mengaku bila Vietnam, China dan Kazakhstan bisa menjadi ‘batu sandungan’ meraih emas beruntun di event olahraga terbesar empat tahunan itu. Bukan tanpa alasan. Buktinya, pada saat Asian Games 2014, Incheon, Korea Selatan, ia harus bersaing dengan atlet asal Vietnam Bui Thi Thu Thai (perak), dan atlet asal China Jiang Yanfei (perunggu). “Tapi Korea dan Jepang juga atletnya bagus-bagus. Saya sekarang latihannya juga masih di fase umum. Nanti sama Harry Marra sudah masuk fase khusus. Di fase ini, titik beratnya selain pada fisik juga mental bertanding,” tukas Maria. (Adt)

Matangkan Asian Games 2018, Timnas Hoki Putri Fokus Daya Tahan

Timnas Hoki Putri terus mematangkan persiapan jelang pelaksanaan Asian Games, Agustus-September 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Cabang hoki terus mematangkan persiapan jelang pesta akbar olahraga negara-negara se-Asia pada Agustus-September 2018. Saat ini, Timnas Hoki Putri Indonesia fokus pada pembenahan daya tahan dan kekuatan. “Tiga bulan pertama kami fokus pembenahan dasar skill, daya tahan, dan kekuatan atlet. Sejauh ini ada perkembangan yang baik dari para atlet, tapi banyak yang perlu diperbaiki,” ujar Yanuar Pribadi, Pelatih Timnas Hoki Putri, di Lapangan Hoki, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Jumat (30/3). Soal kekuatan hoki putri, Yanuar menyebut Indonesia masih jauh tertinggal. “Kekuatan di putri saat ini ada 10 tim. Dan 5 tim diantaranya masuk 10 besar dunia, sedangkan Indonesia ada di urutan 60-an. Negara-negara yang kuat seperti Korea, India, China, dan Malaysia,” sambungnya. “Tapi kami tak menyerah begitu saja dan akan berjuang semaksimal mungkin. Mudah-mudahan kami bisa membuat kejutan di Asian Games 2018,” tambahnya. Ia melanjutkan pihaknya akan melakukan seleksi terakhir untuk para atlet pada akhir April mendatang. “Kami juga akan menjalani try out di Malaysia. Kalau di Indonesia cari lawan khususnya putri itu susah, maka kami cari lawan laki-laki, meskipun ada perbedaan fisik,” terang Yanuar. Soal target, ia mengaku dengan kekuatan yang ada pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi Merah Putih, termasuk mendulang medali emas. “Kami harus akui kekuatan kami ada dimana. Selanjutnya, apa yang mesti kami lakukan untuk meraih hasil terbaik. Semua pasti pingin meraih medali emas. Kami akan berjuang keras di Asian Games nanti,” tutupnya. (Adt)

Dua Kali Uji Coba, Pelatih Timnas Putri U-16 : Terlalu Fokus Hanya Kejar Bola

Penyerang Timnas Putri U-16 Carla Bio Pattinasarany (hijau) mendapat kepungan dari pemain Ngapak FC saat laga uji coba pada Jumat (30/3) di Cijantung. (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas Putri U-16 kembali melakukan uji coba kedua di Stadion Atang Sutresna, Cijantung pada Jumat (30/3) sore. Lawannya kali ini yaitu tim SSB Putri Ngapak FC. Carla Bio Pattinasarany dkk unggul 13-0, dan striker Viranda, menjadi top skorer dengan torehan empat gol. Pelatih Timnas Putri U-16, Rully Nere, mengatakan saat ini ia sedang membentuk kerangka skema permainan dari anak asuhnya. “Bukan skor akhir, bukan banyaknya gol, tapi skema dan cara permainannya, bagaimana mengalirkan bola, membangun serangan, pegang bola, bertahan, dan lainnya,” ujar Rully pada Jumat (30/3). Pada babak pertama berjalan, struktur permainan tim tidak terlihat, bahkan beberapan pemain masih saja fokus mengejar bola, daripada membentuk skema dan sistem permainan. “Baru lewat sepekan kami berkumpul. Masih banyak proses penyesuaian. Termasuk teknik dasar bermain, bermain sebagai tim, hingga komunikasi antar pemain,” jelas eks pelatih Persitoli Tolikara ini, Pada kesempatan yang sama, Salma salah satu pemain Ngapak FC memberi komentarnya perihal uji coba melawan timnas putri. “Andai kami sering latihan, mungkin bisa mengimbangi mereka. Kami tidak intens latihan, jadi lumayan kewalahan. Sekarang, SSB Ngapak FC fokus di laki-laki,” ungkap gadis kelahiran Ternate. Pekan depan agenda sparring kembali dilakukan, dan akan menjajal klub SSB U-13 putra. Rully berharap timnya akan mendapat pressing dari lawan, karena tim putra meski usianya lebih muda, namun ada kecepatan. (Ham) Rekap Hasil Uji Coba Timnas Putri U-16 Sabtu (24/3) Timnas Putri U-16 vs Pro:Direct Academy 6-0 Pencetak gol Timnas 6″ Carla 32″ Sheva Imut 35″ Vinny 48″ Carla 50″ Carla 68″ Hanifah Jumat (30/3) Timnas Putri U-16 vs FC Ngapak Putri 13-0 Pencetak gol Timnas 1″ Vinny 3″ Carla 12″ Carla 23″ Helsa 31″ Vinny 38″ Vinny 43″ Yasmin 52″ Carla 56″ Viranda 63″ Viranda 65″ Viranda 72″ Viranda 83″ Azra

Cetak Bibit Potensial, Ribuan Pesilat Remaja Adu Kekuatan di Kejurnas Al-Azhar Seni Bela Diri

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Al-Azhar Seni Bela Diri Ke-2 di SMPI Al Azhar Pusat diikuti 1017 pesilat dari seluruh Jakarta. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ribuan pesilat dari berbagai daerah beradu kekuatan di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Al-Azhar Seni Bela Diri Ke-2. Event ini berlangsung di Aula Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) Al-Azhar Pusat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 30 Maret hingga 1 April 2018. Kejurnas yang memasuki tahun kedua itu bertujuan mencari bibit-bibit pesilat muda yang berprestasi. Kategori untuk peserta dimulai dari tingkat usia dini, pra-remaja, dan dewasa. “Event ini mencari bibit pesilat yang berprestasi bukan hanya nasional, tapi kedepannya di tingkat internasional. Event dimulai dari tingkatan interen, lalu open turnamen, selanjutnya kejuaraan wilayah, hingga daerah,” ujar Syahrowi Awi, Ketua Pelaksana Kejurnas Al-Azhar Seni Bela Diri, pada Jumat (30/3). Menurutnya, animo para pesilat untuk mengikuti Kejurnas kali ini sangat tinggi. Dibandingkan tahun lalu, terang Awi, untuk tahun ini jumlahnya meningkat drastis. “Kejurnas yang pertama itu jumlah peserta sekitar 900 pesilat, tapi tahun ini mencapai 1.017 pesilat. Itu juga masih banyak yang tak bisa ikut, dengan alasan waktu pelaksanaan dan biaya,” sambungnya. Dikatan Awi, Kejurnas ini juga dimanfaatkan para pesilat sebagai ajang ujicoba sekaligus mengasah mental bertanding. “Semoga dengan Kejurnas ini bibit cabang olahraga silat makin banyak ditambah dengan kemampuan mereka yang makin baik. Apalagi, silat berkembang di seluruh dunia,” tutup Awi. (Adt)

Tolak Timnas Putri, Tiga Pemain Ini Dapat Restu Manajer Bela Futsal

Kapten Timnas Futsal Putri Indonesia, Maulina Novryliani (9), yang menolak bergabung bersama Timas Putri Senior. (bolalob.com)

Jakarta- Pelatih Timnas Putri Senior, Satia Bagja, mengaku ada tiga pemainnya yang menolak bergabung dengan Srikandi Senor mengikuti TC di NYTC, Sawangan, Jawa Barat. Mereka adalah Suciana Yuliani, Rani Mulyasari, dan Maulina Novryliani. Ketiga pemain itu sedang berlaga di Liga Futsal Wanita Profesional Indonesia 2018. Satia menyayangkan penolakan mereka. Menurutnya ketiga pemain itu memiliki kemampuan individu yang baik, dan berpotensi membuat Timnas Putri Senior lebih kuat. “Secara tegas mereka menolak,” ucap Satia. “Jika untuk bangsa dan negara, kenapa menolak. Kami juga butuh pemain bagus lainnya,” ucap Satia menambahkan. Satia tak terlalu mengetahui apa penyebabnya ketiga pemain itu menolak panggilan timnas wanita Indonesia. Mantan asisten Rahmad Darmawan itu menyerahkan permasalahan ini kepada PSSI dan Federasi Futsal indonesia (FFI). “Jangan tanya saya, karena itu urusan antar federasi. Biar mereka yang menindaklanjuti tentang permasalahan ini,” ucap Satia. Namun, kondisi ini tak dipermasalahkan oleh manajer Timnas Putri Senior, Papat Yunisal. Papat menilai bila alasan ketiga pemain ini sudah ia pahami, karena disampaikan lewat keterangan resmi. “Sejak awal, mereka memilih aktif di cabor Futsal. Selain ada rutinitas event, mereka juga sudah terikat kontrak dengan klub,” jelas Papat pada Jumat (30/3). Dosen mata kuliah sepak bola di Kampus STIKP Pasundan, Cimahi ini, bahkan menilai mereka juga sudah ikut mengharumkan negara dalam event internasional. “Saat SEA Games 2017, mereka skuat utama peraih perunggu. Berprestasi artinya. Tak ada masalah. Biar sepak bola putri, mencari pemainnya secara natural lewat ajang sepak bola saja, meski tidak mudah,” tegasnya. (Art)

Pendaki Legendaris Tularkan Semangat ke Atlet Pelatnas Panjat Tebing

Pendaki legendaris Mohammad Gunawan, atau Kang Ogun (duduk di tengah), mengunjungi Pelatnas Panjat Tebing guna memberi semangat para atlet. (FPTI)

Jakarta- Mohammad Gunawan, atau akrab disapa Kang Ogun, mengunjungi pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Panjat Tebing, di Kompleks Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Ia bukan nama asing di dunia panjat tebing Tanah Air. Menjadi pengurus pusat pada periodisasi awal Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) berdiri, Kang Ogun adalah legenda hidup. Kehadirannya di tengah sesi latihan atlet Pelatnas panjat tebing guna memberikan motivasi serta semangat pada mereka. Kepada para atlet, Kang Ogun, mengatakan jangan pernah kehilangan mimpi. Sebab, menurutnya, mimpi bisa menjadi berarti bagi diri pribadi, keluarga, serta negara. Dan, mimpi yang membuat seorang atlet dapat terus berprestasi. Itu pula yang terjadi pada diri Kang Ogun. Sejak divonis dokter menderita kanker Nasofaring pada tiga tahun lalu, ia justru seperti terlahir kembali sebagai pendaki gunung. Bahkan, pria bersahaja itu ingin sekali menjejakkan kakinya di puncak tertinggi dunia, Everest. Baginya, Everest adalah mimpi. Dua kali melakukan pendakian, dua kali pria paruh baya itu mengalami kegagalan. Pendakian pertama pada 1994, Kang Ogun yang tergabung dalam tim internasional pendakian Everest gagal mencapai puncak setelah badai menerjang. Lalu, pendakian kedua pada 1997, mimpinya nyaris terwujud. Puncak Everest hanya tinggal berjarak 200 meter. Sayang, ia yang tergabung dalam tim utara harus turun atas perintah ketua tim ekspedisi. Kehadiran Kang Ogun di Pelatnas panjat tebing diakui para atlet mampu menyuntikkan energi baru untuk semakin keras berlatih. Sabri salah satunya. Atlet panjat tebing asal Kalimantan Utara itu menyebut Kang Ogun adalah pengejawantahan dari semangat pantang menyerah. “Walaupun kena sakit kanker, tapi semangatnya untuk mengejar mimpi tidak pernah padam. Ini yang patut dicontoh para atlet terutama saya,” ujar Sabri seperti dikutip situs resmi FPTI, Kamis (29/3). (Adt)

Diminta Rp 1,4 Miliar Pakai Stadion Madya, PB PASI Batal Gelar Kejurnas Atletik ?

Mohammad Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI, keluhkan biaya Stadion Madya Senayan, yang jumlahnya miliaran rupiah untuk Kejurnas Atletik, pada Mei 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Jelang pelaksanaan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik Remaja, Junior dan Senior, 6-12 Mei 2018, Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), diharuskan membayar Rp 1,4 miliar untuk penggunaan Stadion Madya, Senayan, Jakarta, selama enam hari. “Kami belum tahu Kejurnas jadi atau tidak. Mengapa? Karena kalau kami memakai Stadion Madya untuk Kejurnas, kami diminta membayar Rp 1,4 miliar. Jadi satu hari itu kami keluar dana Rp 300 juta,” terang Muhammad Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3). Dengan dana sebesar itu, menurut suami dari Pertiwi Hasan, terlalu berat bagi PB PASI. Untuk itu, ia berencana mencari alternatif lain soal tempat pelaksanaan Kejurnas ini. “Jadi untuk apa kami keluarkan begitu banyak uang. Lebih baik kami cari lapangan di kampung saja. Kami menggelar Kejurnas bukan untuk mencari uang. Atletik itu tidak ada uangnya,” sambungnya. Dia menyebut Kejurnas ini bakal mendatangkan atlet-atlet junior, remaja, dan pra-remaja agar PB PASI tidak kekurangan dalam mencari bibit-bibit muda dengan bakat yang baik. “Kalau begini terus nanti Asian Games susah dapat medali. Negara lain terus yang dapat, sedangkan Indonesia makin tertinggal,” tambahnya. Bob Hasan menyebut pelaksanaan Kejurnas akan mendatangkan atlet-atlet yang berasal dari daerah. Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah (Jateng), 87 tahun lalu itu, mengaku pihaknya menanggung biaya penginapan, akomodasi, dan makan atlet selama pelaksanaan Kejurnas. “Kemungkinan atlet yang ikut Kejurnas itu jumlahnya sampai ribuan. Bayangkan biaya yang harus kami keluarkan,” tukasnya. Untuk itu, PB PASI akan meminta bantuan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) guna memecahkan persoalan ini. “Solusinya itu kami harus dibantu Menteri Keuangan. Gelora Bung Karno (GBK) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) itu bukan untuk mencari uang. GBK itu dibangun untuk olahraga,” tutup Bob Hasan. (Adt)

Kejar Medali Emas Asian Games 2018, PB PASI Kirim 13 Atlet TC di Amerika

Sebanyak 13 atlet Pelatnas Asian Games 2018 akan menjalani Training Camp (TC) di Amerika Serikat selama satu bulan mulai April 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Persiapan maksimal dilakukan Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) jelang pelaksanaan Asian Games 2018, Agustus-September mendatang. Demi mewujudkan target medali emas, sebanyak 13 atlet bakal menjalani Training Camp (TC) selama satu bulan mulai April nanti di Amerika Serikat (AS). Selain itu, para atlet juga akan mengikuti serangkaian pertandingan di negara ‘Paman Sam’ tersebut. Keberangkatan atlet Pelatnas Asian Games 2018 ke negara Adikuasa itu bukan tanpa alasan. Mohammad Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI, mengatakan Amerika Serikat memiliki standart yang tinggi dalam cabang olahraga atletik. “Bertanding di Amerika Serikat, anak-anak punya motivasi tinggi, bahkan kemampuan mereka bisa lebih baik. Disana mereka berlatih dengan pelatih AS Harry Marra,” ujar pria yang akrab disapa Bob Hasan di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3). Harry adalah pelatih yang dinobatkan sebagai pelatih terbaik Asosiasi Internasional Federasi Atletik pada 2016. “Harry juga memiliki dua atlet putra dan putri yang merupakan pemegang rekor dunia untuk nomor Dasa Lomba dan Sapta Lomba,” sambungnya. Bob Hasan menyebut sebelum pelaksanaan pesta akbar olahraga negara-negara se-Asia, Harry akan berkunjung ke Indonesia. “Setelah berlatih di Amerika Serikat, nanti Harry datang ke Indonesia pada Juni, hingga pelaksanaan Asian Games 2018,” tukas mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia ini. Berlatih selama satu bulan di negara Presiden Donald Trumph, dinilai pria berusia 87 tahun itu, sangat efektif. “Mereka disana bisa bertemu dengan musuh-musuh dari Universitas California, yang levelnya dunia. Meskipun kalah disana, setidaknya mereka siap. Ini soal mental untuk para atlet,” paparnya. Sebanyak 13 atlet atletik Pelatnas Asian Games 2018 yang mengikuti pelatihan di AS, yakni Atjong Tio Purwanto, Bayu Kartanegara, Eki Febri Ekawati, Eko Rimbawan, Emilia Nova, Fadlin Ahmad, Idan Fauzan Richsan, Lalu Muhammad Zohri, Maria Natalia Londa, Rio Maholtra, Sapwaturrahman, Suwandi Wijaya, dan Yaspi Boby. Sementara, tiga atlet lain yaitu Agus Prayogo, Triyaningsih, dan Hendro tak berangkat ke AS. “Ketiga atlet ini tidak diakomodir, karena Harry bukan pelatih jarak jauh dan jalan cepat 20 dan 50 Km. Di Amerika tak ada pertandingan untuk nomor itu,” tambah Tigor M Tanjung, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB PASI. (Adt)

Ika Resmi Membela Timnas Senior, Manajer : Kami Mau Road Show di Kota Besar

Shafira Ika Putri Kartini, gelandang 14 tahun asal Surabaya yang kini resmi membela Timnas Putri Senior. (Pras/NYSN)

Sawangan- Ditengah proses seleksi dan TC Timnas Putri Senior, nama Shafira Ika Putri Kartini mendadak ramai diperbincangkan. Pemain bertahan yang multi fungsi ini, sempat ‘diperebutkan’ oleh Pelatih Timnas Putri U-16, Rully Nere dan Pelatih Timnas Putri Senior, Satia Bagja. Maklum peforma Ika, sapaannya, terbilang istimewa. Beposisi natural sebagai pemain bertahan, Ika bisa difungsikan sebagai gelandang bertahan, sekaligus bek kanan, dengan sama baiknya. Banyak yang tak menyangka, bila dara kelahiran Surabaya 21 April 2003 ini, sesungguhnya belum genap 15 tahun usianya. Punya visi bermain yang baik serta kondisi fisik yang cukup prima, untuk level junior yang berlatih ditengah-tengah para senior, adalah kelebihan Ika. “Status Ika permanen membela timnas Putri senior. Kami sudah berkirim surat ke Badan Tim Nasional (BTN), agar Ika berlatih di Sawangan. Namun,kami berharap BTN bisa memberi ruang untuk Ika, dipinjamkan ke Timnas U-16, saat Piala AFF Putri U-16 bergulir,” jelas Papat Yunisal, manajer Timnas Putri, pada Kamis (29/3). Timnas U-16 yang baru sepekan lebih mengadakan seleksi dan TC di CIjantung, akan turun di event AFF U-16 Girls Championship 2018, 1-14 Juni di Stadion Gelora Bumi Jakabaring, Palembang. Salah satu penggawa utamanya adalah eks Kapten Timnas Putri U-15 pada 2017 lalu, yakni Ika. “Jika event AFF Women’s Championship 1-13 Mei selesai, yang juga di Palembang, Ika bisa dipinjamkan ke Timnas U-16. Statusnya dipinjamkan. Semoga, dengan kepastian ini, Ika bisa fokus latihan bersama Senior di Sawangan,” tambah Papat. Selain, memastikan status Ika, Papat juga membeberkan beberapa agenda yang bakal dilakukan Timnas Putri Senior. Yakni menjajal klub sepakbola Putri dari Thailand sebagai lawan uji coba pada pekan kedua bulan April. “Sebelum lawan Klub Thailand, Timnas pada Kamis (5/4), akan beruji coba lawan Legenda Timnas 80’an, seperti Nasir Salasa, Zulkarnaen Lubis, juga Berti Tutuarima, di lapangan ABC, Senayan. Plt Ketum PSSI, Joko Driyono, juga diharapkan ikut bermain,” tukas dosen di STKIP Pasundan, Cimahi ini. Wanita 53 tahun ini juga tengah menyiapkan ajang road show Timnas Putri Senior dan Timnas Putri U-16 ke beberapa kota di Indonesia, seperti Medan, Padang, Bandar Lampung serta Denpasar, untuk mempromosikan gairah Timnas Putri di Indonesia, pada akhir April nanti. “Masyarakat harus mendapatkan informasi, bagaimana Timnas Putri itu terbentuk, darimana Timnas itu mendapatkan pemain, dan apa saja perkembangan kondisi sepak bola Putri di Indonesia saat ini. Itu poin utama road show kami,” tutupnya. (Art)

Timnas Putri Senior Menang 23-0, Satia: Saya Ingin Lawan Tim Putra !

Perbedaan kualitas yang terlalu mencolok, membuat Timnas Putri Senior (hijau) unggul telak 23-0 dari SSB Goal Axis, pada Kamis (29/3). (Pras/NYSN)

Sawangan- Timnas Putri Senior kembali mengadakan laga uji coba yang ke-enamnya di Lapangan NYTC pada Kamis (29/3) sore. Laga kali ini, anak asuh Satia Bagja melawan Sekolah Sepak Bola (SSB) dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Goal Axis. Sayang, lantaran perbedaan kualitas teknik yang terlalu jauh, Zahra Muzdalifah dkk unggul 23-0. Satia mengaku kesulitan menilai hasil pertandingan ini sebagai bahan evaluasi timnya, jika lawan yang bertandang justru tak memiliki kualitas yang cukup seimbang. Dirinya berharap jika timnya bisa melawan tim putra, atau tim putri dari luar negri, agar bisa melihat kemampuan Srikandi Senior yang sesungguhnya. “Kalau tim putri lawan putra, atau tim putri dari luar negri, itu baru ada pressure. Kita bisa lihat mana pemain yang potensial masuk tim utama. Kalau seperti itu kan bagus,” ujar Satia, pada Kamis (29/3). Meski Satia sudah memiliki proyeksi agenda uji tanding dengan tim putri luar negri, namun saat ini rencana itu rasanya sangat sulit terealisir lantaran berbagai hal. “Melawan tim putra itu ada manfaatnya, karena mereka punya kecepatan. Nggak masalah meski masih berumur 14 tahun, tapi mereka cepat larinya. Lini pertahanan kita sudah pasti teruji,” tambahnya. Satia bahkan mendengar bila manajemen Timnas Putri Senior sedang merancang rencana, untuk mendatangkan klub sepakbola putri dari Thailand, untuk beruji coba di Jakarta. “Ya, kit harapkan, agenda uji coba dengan tim berkualitas, bisa terlaksana. Termasuk, jika rencana uji coba dengan klub asal Thailand itu dilakukan di Jakarta,” pungkasnya. (Ham) Rekap Hasil Uji Coba Timnas Putri Timnas Putri vs Tim Pelatih Lisensi B : 1-3 Timnas Putri vs SSB Pelita Jaya : 0-4 Timnas Putri vs SSB Pelita Jaya : 1-4 Timnas Putri vs SSB Akademi Sepak Bola Tangsel Muda (ASTAM) : 3-1 Timnas Putri vs UNJ 50 tahun ke atas: 4-0 Timnas Putri vs SSB Goal Axis: 23-0

Kensuke Takahashi Jadi Pelatih Timnas Futsal, Sekjen FFI : Lagi Disusun Prosesnya

Kensuke Takahashi dikabarkan segera mengikat kontrak dengan Timnas Futsal Indonesia pekan ini. (net)

Jakarta- Nama pelatih asal Jepang, Kensuke Takahashi, dikabarkan segera menduduki kursi pelatih Timnas futsal Indonesia. Kabar itu disampaikan oleh salah satu tim Liga Futsal Jepang, Badral Urayasu, yang menyebutkan jika mantan pelatihnya itu segera menekan kontrak dengan timnas futsal Indonesia. Sebelumnya Kensuke memang dikabarkan menjadi salah satu calon pelatih timnas futsal Indonesia. Hal itu tak lepas dari Badral Urayasu dan federasi sepak bola Jepang (JFA) menawarkan Kensuke sebagai salah satu bentuk kerjasama dengan Federasi Futsal Indonesia (FFI). “Hari Kamis (29/3), saya akan ke Jakarta dan akan menandatangani kontrak dengan Federasi Futsal Indonesia di hari berikutnya,” kata Kensuke seperti dilansir dari laman resmi Bardral. Kensuke sebelumnya pernah datang ke Indonesia pada akhir 2016 untuk memberikan materi kepada dua tim futsal Tanah Air, Vamos Mataram, dan Mataram FC di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Meski belum mengiyakan status Kensuke, Sekjen FFI Edy Prasetyo, tak membantah bila nama pria Jepang 35 tahun itu akan segera menangani Timnas Futsal. “Nanti lah ya.. Kita susun dulu persiapannya. Nanti segera diberitahu,” ujar Edy pada Kamis (29/3), saat dikontak lewat ponselnya. Mantan pemain timnas futsal Jepang itu baru menjadi pelatih pada 2017 setelah memutuskan pensiun. Pada musim 2018, Kensuke akan menangani tiga tim sekaligus yakni AFC Futsal Women Championship, AFF Futsal Championship, dan Kualifikasi AFC U-20 Futsal Championship Zona Asean. (Art)

Jadi Host Kejuaraan Asia Senam Artistik Junior 2018, Bekal Tanding Atlet Muda Indonesia

Aksi salah satu atlet senam junior DKI Jakarta, dalam nomor senam artistik PON Jawa Barat, pada 2016. (liputan6.com)

Jakarta- Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Asia Senam Artistik Junior, 25-28 April 2018, di Istora, Komplek Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Bagi pesenam junior Indonesia, ajang ini sekaligus dimanfaatkan untuk menambah pengalaman bertanding di turnamen internasional. Pada kejuaraan senam level Asia itu, untuk kelompok putra dibatasi usia 14-17 tahun (kelahiran 1 Januari 2001-31 Desember 2004). Bagi putri berusia 13-15 tahun (kelahiran 1 Januari 2003-31 Desember 2005). Ilya Avianti, Ketua Umum Persatuan Senam Seluruh Indonesia (Persani), mengatakan pihaknya bangga dipercaya menjadi tuan rumah kejuaraan bertajuk 15th Junior Artistic Gymnastics Asian Championship tersebut. “Kejuaraan ini merupakan single event Gymnastics Internasional pertama di Indonesia,” ujar Ilya, Rabu (28/3). Khusus bagi pesenam junior Indonesia, Ilya menyebut, ajang ini sekaligus digunakan guna mendapatkan pengalaman bertanding di turnamen internasional. “Indonesia akan menurunkan lima pesenam putra dan lima pesenam putri junior. Mereka sampai dengan saat ini masih terus berlatih secara intensif,” sambungnya. Faisal Reza, Manajer Tim Nasional (Timnas) Senam Junior, mengungkapkan pihaknya telah mempersipakan diri dengan baik pada ajang Kejuaraan Asia Senam Artistik itu. Ia berjanji anak didiknya menunjukkan penampilan terbaiknya. “Kami  mempersiapkan tim dengan baik. Kami berusaha akan memberikan penampilan yang terbaik di 15th Junior Artistic Gymnastics Asian Championship,” cetusnya. Event ini sekaligus menjadi prakualifikasi Youth Olympic Games di Argentina. Dan, rencananya 23 negara bakal turut meramaikan persaingan, seperti Kazakhstan, Korea Selatan, Arab Saudi, Vietnam, Iran, Irak, India, China, dan Jepang. (Adt)

Cabor Modern Pentathlon TC Asian Games 2018, Pelatih : Masih Pakai Alat Bekas

Sejumlah atlet timnas modern pentathlon Asian Games 2018, berlatih anggar di Jakarta, Selasa (27/3). (AntaraFoto)

Jakarta– Event Asian Games 2018 kurang dari lima bulan lagi. Sebanyak 40 cabang olahraga (cabor) terus melakukan persiapan untuk menampilkan yang terbaik pada pesta olahraga terbesar di Asia tersebut. Salah satunya adalah cabor yang baru masuk di Indonesia, modern pentathlon. Namun, saat semua cabor sudah fokus untuk mengejar prestasi, modern pentathlon justru masih berkutat dengan permasalahan klasik. Cabor yang merupakan gabungan dari lima disiplin (lari, renang, anggar, menembak, berkuda) ini masih terkendala dengan pengadaan alat. Salah satu pelatih modern pentathlon disiplin anggar, Silvia Kristina mengatakan, para atlet pelatnas masih menggunakan perlatan milik sendiri. Terlebih, disiplin anggar yang memang membutuhkan dana yang cukup besar. Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab atas permasalahan tersebut? Mengingat Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga sudah mengucurkan dana untuk persiapan Asian Games, termasuk pengadaan alat. “Kami masih terkendala dengan pengadaan peralatan. Untuk sementara ada atlet yang  punya alat dan pakai punya pribadi. Saya juga bawa alat-alat bekas saya, yang bisa mereka pakai. Karena kami tidak bisa menunggu,” ujar Silvia di Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan, Jakarta, Selasa (27/3). Sekadar informasi, cabor modern pentathlon membutuhkan dana yang tak sedikit untuk pengadaan perlatan. Sebagai contoh untuk nomor disiplin anggar, pelindung kepala yang dipakai memiliki harga sekira Rp3 juta. Sedangkan untuk pakaian pelindung antara Rp1,5 juta hingga lebih dari Rp5 juta, dilansir Pantau.com. Cabor modern pentathlon memang tak dibebankan target medali di Asian Games 2018. Mengingat, ini kali pertama kontingen Merah Putih mengirimkan wakilnya di multi-event empat tahunan tersebut. Untuk pelatnas saja modern pentathlon hanya diikuti enam atlet (masing-masing tiga pria dan putri), yang baru berjalan awal Februari 2018. Nantinya, keenam atlet ini akan diseleksi menjadi empat (dua putra dan putri) yang akan berlaga di Asian Games 2018. “Kami memang tak ada target. Tapi, kita usahakan agar anak-anak bisa bermain dengan baik,” tambah Silvia. Lebih lanjut, peraih medali perak Asian Games 1990 Beijing ini juga belum mau berkomentar mengenai peluang timnas modern pentathlon Indonesia untuk turun di Olimpiade Tokyo 2020. Ia mengatakan hanya fokus untuk Asian Games 2018. “Kami belum berbicara untuk Olimpiade (2020). Tapi kalau anak-anak punya potensi, mungkin akan kami persiapkan. Kami lihat dulu di Asian Games bagaimana potensinya,” papar Silvia. (Adt)

Ikut Cabor Modern Pentathlon Asian Games 2018, Timnas Indonesia TC di SKO Ragunan

Timnas Indonesia akhirnya memiliki perwakilan untuk cabang olahraga (cabor) modern pentathlon di Asian Games 2018. (net)

Jakarta- Timnas Indonesia akhirnya memiliki perwakilan untuk cabang olahraga (cabor) modern pentathlon di Asian Games 2018. Namun, Indonesia sangat tertinggal dalam melakukan persiapan menuju pesta olahraga terbesar di Asia tersebut. Pelatnas untuk modern pentathlon baru berjalan pada awal Februari 2018. Modern pentathlon sebenarnya bukan olahraga baru. Gabungan dari lima disiplin seperti lari, renang, anggar, menembak, serta berkuda ini sudah terkenal di negara-negara lain, dilansir Pantau.com. “Sejak tahun lalu, kami minta masuk di pelatnas, tapi kan belum disetujui. Baru jalan pelatnas Februari awal. Tapi, kami usahakan agar mereka (para atlet) bisa berkompetisi dengan baik,” ujar salah satu pelatih modern pentathlon, Silvia Kristina di Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan, Jakarta, Selasa (27/3). Silvia yang khusus melatih disiplin anggar melanjutkan, modern pentathlon sebenarnya olahraga yang sangat berat. Pasalnya, setiap atlet harus menjalani lima disiplin dalam satu waktu. Di Indonesia, cabor ini berada dibawah naungan PB Persatuan Modern Pentathlon Indonesia (PMPI). “Jadi satu hari selesai. Misalkan habis renang selesai, dia (atlet) ke anggar. Habis anggar selesai, mereka ke berkuda. Sebelum mereka berkuda, mereka harus melewati anggar yang namanya bonus round. Mereka diberi satu poin, kemudian siapa yang menang, dia bisa milih kuda yang mana,” tambahnya. Saat ini ada enam atlet (masing-masing tiga putra dan putri) yang mengikuti pelatnas modern pentathlon di SKO Ragunan. Nantinya, dipilih masing-masing dua atlet yang akan turun di nomor pertandingan putra-putri. (Adt)