Pebulutangkis Muda Jaya Raya Berhasil Amankan Medali Emas Dari Empat Nomor Berbeda

Pebulutangkis tunggal putra Jaya Raya U-17 Muhammad Sultan Nurhabibu sukses meraih medali emas Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Grand Prix 2019. (Istimewa)

Jakarta- Pebulutangkis nomor tunggal putri U-17, Tasya Farahnailah berhasil memberikan kejutan pada babak final turnamen Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Grand Prix 2019. Lewat persaingan sengit, ia berhasil meraih medali emas setelah membungkam wakil Hong Kong, Cheng Sin Yan Happy Serena, straight game, dengan skor 21-13, 21-17. Ini sekaligus menjadi catatan rekor tersendiri bagi Tasya, sebab untuk pertama kalinya dia berhasil memenangkan turnamen tersebut. Sebelumnya pada 2018, ia hanya mampu mencapai babak semifinal setelah dikalahkan Pitchamon Opatniput (Thailand), straight game, dengan skor 18-21, 12-21. Pada gim pertama, Tasya berhasil mendominasi jalannya pertandingan. Hal itu tidak terlepas dari kesalahan yang sering dilakukan Cheng, dimana pukulan bolanya selalu out. Namun, saat memasuki gim kedua, pola permainan Cheng langsung berubah. Ia berhasil membalikkan keadaan pada menit-menit awal gim kedua. Bahkan ia mampu bermain seimbang melawan Tasya. Alhasil, kejar-mengejar angka tidak dapat dihindari. Beruntung, Tasya berhasil mengatasi permasalahan, sehingga ia mampu memastikan kemenangannya. “Gim kedua sulit, saling kejar mengejar. Soalnya pas diakhir-akhir itu inginya cepat-cepat selesai, tinggal dikit lagi. Alhamdulillah bisa menang,” jelas pebulutangkis kelahiran 2004. Disadari Tasya bahwa masih ada yang kurang dari pola permainanya. Ia mengaku harus melatih mental dan lebih menguatkan kekuatan pukulannya. Hal senada diungkapkan pelatih PB Jaya Raya, Taufiq Hidayat Akbar. Ia menilai meskipun dapat meraih hasil positif, tetapi Tasya masih memiliki kekurangan dalam hal pukulannya. “Alhamdulillah penampilannya di final sudah bagus. Namun tadi dia sempat menurun, terutama di serangan-serangannya. Dia harus meningkatkan fisik dan powernya,” terang Taufiq. Tidak hanya di nomor tunggal putri U-17 saja, PB Jaya Raya juga mampu mendulang medali emas di nomor tunggal putra U-17. Keberhasilan itu didapat setelah Muhammad Sultan Nurhabibu Mayang mampu membungkam pebulutangkis asal Malaysia, Justin Hoh Shou Wei, straight game, dengan skor 21-14, 23-21. Bukan perkara mudah bagi Sultan untuk dapat meraih kemenangan tersebut. Sebab Justin mampu memberikan perlawanan yang cukup sengit pada gim kedua. Dia mampu membuat Sultan kewalahan dengan bermain poin secara deuce. Padahal pada gim pertama Sultan mampu menangani perlawanan Justin dengan sangat baik. Ia dapat dengan mudah mengatasi tembakan-tembakkan tajam yang dikeluarkan oleh lawannya. “Kesulitan di poin akhir, soalnya dia mampu keluar dari strategi saya. Sebaliknya saya justru terbawa oleh strategi dia di akhir gim kedua. Saya harus tingkatkan fokus dan pola permainan saya,” tegas Sultan. Selain kedua pebulutangkis tersebut, wakil PB Jaya Raya di nomor ganda putra U-15, Jonathan Farel Gosall/Adrian Pratama juga mampu mendulang hasil yang sama. Jonathan/Adrian berhasil membuktikan kemampuannya setelah melewati pertarungan melawan sesama wakil Indonesia, Muhammad Al Farizi/Yuke Gamereza Radjasa. Pada laga itu, Jonathan/Adrian yang menjadi unggulan pertama dapat menuntaskan pertandingan dengan mudah melalui dua gim langsung. Mereka mampu meraih keberhasilan setelah unggul dengan skor 21-17, 23-21. Hasil positif juga diraih pasangan ganda putri U-15, Alya Ardelia/Ariella Naqiyyah. Pasangan asal PB Jaya Raya ini sukses mengalungkan medali emas usai menundukkan Intan Nabila Kusuma/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, rubber game, dengan skor 15-21, 21-17, 21-12. Disamping pebulutangkis dari Jaya Raya, terdapat lima wakil Indonesia lainnya yang berhasil meraih medali emas pada masing-masing nomor yang dipertandingkan. Mereka adalah Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin (ganda putra U-19), Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil (ganda campuran U-19), Rahmat Hidayat/Febi Setianingrum (ganda campuran U-17), Alwi Farhan (tunggal putra U-15), dan Shiva Nabila Putri/Vijayanda Bintang Racketa (ganda putri U-17), Adapun pebulutangkis asing yang berhasil meraih medali emas diantaranya adalah, Dai Wang asal Cina (tunggal putri U-19), Li Yunze asal Cina (tunggal putra U-19), Lin Fangling/Zhou Xinru asal Cina (ganda putri U-19), Pitchamon Opatniput asal Thailand (tunggal putri U-15), dan Pyeong Kang Choi/Yong Jin asal Korea Selatan (ganda putra U-17). (Adt)

Merpati Putih Open 2019 Piala Panglima TNI Resmi Ditutup, Pecahkan Rekor MURI

Abdul Kharis Almasyhari (Ketua Umum Panitia MP Open 2019), mengatakan kejuaraan pencak silat MP Open 2019 berjalan sukses. (Adt/NYSN)

Jakarta- Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencak Silat Merpati Putih (MP) Open 2019, resmi ditutup, pada Sabtu (4/5), di Lapangan Olahraga Ciracas, Jakarta Timur. Event pencak silat nasional ini diikuti 1.615 pesilat dari 26 perguruan silat dari seluruh Indonesia serta perwakilan dari mancanegara yakni Singapura. Tim pencak silat Pelatda DKI Jakarta berhasil meraih juara umum kategori dewasa usai mengoleksi 7 medali emas dan 2 perak. Posisi kedua dihuni PPOP DKI Jakarta dengan 3 medali emas dan 1 perak. Dan PPLD NTT berhak menempati peringkat tiga dengan 2 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu. Atas prestasinya, Pelatda DKI Jakarta mendapatkan Piala Bergilir Panglima TNI serta uang pembinaan Rp 15 juta. Untuk pesilat dewasa putra terbaik diraih Ronaldo Neno pesilat kelas F putra PPLD NTT. Ia berhak menerima Piala Tetap Kepala Staf TNI AU dan uang pembinaan Rp 2,5 juta. Sedangkan pesilat terbaik putri diraih Widya Faranisa pesilat kelas A putri dari PPOP DKI Jakarta yang berhak menerima Piala Tetap Kepala Staf TNI AL dan uang pembinaan Rp 2,5 juta. Dan untuk Piala Tetap Kepala Staf TNI AD diberikan kepada juara umum I, II, dan III. “Bagi para pemenang untuk tidak bangga dan tinggi hati. Sedangkan yang belum juara harus berlatih lebih keras lagi untuk menjadi yang terbaik di masa depan,” demikian amanat tertulis Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dihadapan ribuan pesilat yang hadir di acara penutupan MP Open 2019. Sementara itu, Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Umum Panitia MP Open 2019, menyebut pelaksanaan kejuaraan pencak silat MP Open 2019 berjalan lancar. “Kejuaraan MP Open 2019 sudah berlangsung sejak Rabu (1/5), dan penutupan Sabtu (4/5). Alhamdulillah kejuaraan nasional ini berjalan lancar,” terang Abdul Kharis. Dijelaskannya, MP Open 2019 merupakan kejuaraan silat tingkat nasional yang dikuti peserta tak hanya dari Indonesia, tapi juga mancanegara seperti Singapura yang mengirimkan 20 atlet pencak silat. Menurut Abdul Kharis, event ini sebagai ajang pembibitan atlet disamping untuk memupuk persatuan dan persaudaraan antar perguruan silat yang ujungnya adalah untuk pembinaan prestasi demi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. “Even ini untuk mencari bibit atlet pencak silat tangguh dari berbagai daerah di seluruh Indonesia,” lanjut pria yang menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR RI. Selain menggelar kejuaraan pencak silat, event ini juga memasukan unsur entertainment dengan menggelar marching band, reog Ponorogo, sisingaan, dan silat bercerita. Dan, sebagai puncak acara dilakukan pencatatan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia), dimana sebanyak 1.500 pesilat secara serentak melakukan peragaan Jurus Tunggal Tangan Kosong IPSI dari berbagai perguruan silat di Tanah Air. “Ini bukan hanya memecahkan rekor MURI, tapi juga tercatat sebagai rekor dunia,” tukas perwakilan MURI. (Adt)

Buktikan Janji, Priscilla Raih Kemenangan Dalam Kondisi Cedera di Ajang One Championship

Petarung putri Priscilla Hertati Lumban Gaol meraih kemenangan di ajang ONE: For Honor di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (3/5) malam. (Adt/NYSN)

Jakarta- Petarung putri Indonesia Priscilla Hertati Lumban Gaol membuktikan dirinya sebagai seorang petarung sejati Mixed Martial Arts (MMA). Meski mengalami cedera, namun perempuan kelahiran Jakarta, 16 Mei 1988 itu sukses meraih kemenangan di ajang ONE: For Honor di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (3/5) malam. Ia meraih kemenangan unanimous decision setelah menjatuhkan petarung asal Kamboja, Nou Srey Pov, di akhir ronde ketiga di partai kesepuluh One Championship, pada kelas atomweight. Sepekan sebelum laga, ia memang tak sabar dan berjanji akan menghempaskan Nou Srey Pov di atas ring. “Perasaan pasti senang. Karena ini pertama kali Mama (ibu) datang nonton saya selama kurang lebih 13 tahun menjadi atlet. Saya tidak tahu karena ketika saya pulang ke rumah sebelum berangkat ke hotel, saya bilang ke Mama, mau nonton nggak? Tapi, Mama cuma bilang berdoa saja dari rumah. Jadi surprise Mama bisa datang karena tidak kasih tahu saya,” ujar Priscilla usai tarung. Kehadiran sang Mama bersama keluarga, diakui mantan atlet Wushu ini memberikan motivasi besar bagi dirinya dalam mengarungi laga di atas ring. “Kehadiran Mama membuat saya lebih termotivasi. Padahal, kalau mau jujur, dua hari sebelum pertandingan saya cedera, kaki kiri saya tidak bisa napak. Tapi, saya tidak boleh menunjukkan ke lawan kalau saya cedera. Harus saya paksakan bertanding,” lanjutnya. Diakui Priscilla, lawan yang dihadapi memiliki stamina yang kuat, terlebih Nou Srey Pov masih berusia muda, membuat semangatnya masih tinggi. “Saya tahu kemampuan lawan itu dari YouTube. Dia sangat kuat dan masih muda secara usia jauh dari saya,” tuturnya. Bagi Priscilla, ini merupakan kemenangan keenam dari sebelas pertandingannya di ajang kejuaraan tarung bebas One Championship. Kemenangan ini sekaligus menjadi tiket untuk menghadapi pertandingan bergengsi yaitu memperebutkan predikat juara dunia kelas atomweight dimana sebelumnya pada pertandingan di Istora Senayan, Jakarta, Januari lalu, mengalami kekalahan oleh petarung Puja Tomar. “Saya harus berlatih lebih keras lagi. Karena banyak orang yang ingin menjadi juara. Jadi saya harus latihannya lebih dari yang sekarang,” tegas perempuan yang akrab disapa Thathi itu. Sementara itu, dipertandingan lainnya, Adrian Mattheis juga sukses menghempaskan lawan. Petarung dari Indonesia Timur itu mengalahkan petarung asal India Himanshu Kaushik di detik akhir ronde pertama dengan submission. “Ini pertandingan yang sangat melelahkan. Tapi disini, saya punya rumah, ini Indonesia. Jadi apapun yang terjadi saya harus melakukan yang terbaik dan menang,” tutur Adrian. Pria yang akrab disapa Papua Badboy itu menyebut bila kemenanganya ini ia persembahkan untuk saudara-saudaranya di Sentani, Jayapura, Papua, yang belum lama ini dilanda musibah bencana alam banjir bandang. “Saya ingin persembahkan kemenangan ini untuk saudara-saudara saya di Sentani. Semoga mereka juga bisa bergembira dengan kemenangan yang saya dapat malam ini,” tambahnya. Usai laga ini, Adrian menegaskan dirinya akan berlaga lebih keras untuk menghadapi lawan-lawan selanjutnya. “Saya juga belum tahu lawan berikutnya yang akan saya hadapi. Tapi setelah ini saya harus latihan lebih keras dan baik lagi,” tukas Adrian. (Adt)

Esport Asian Cup 2019 Mendapat Dukungan Penuh dari Kemenpora

Ilustrasi Esport

Olahraga jenis baru Esport semakin tumbuh di Indonesia, saat ini ada banyak event-event tournament Esport yang menunjukkan perkembangan positif di Indonesia. Dengan pertumbuhan olahraga ini Kemenpora menyambut baik digelarnya turnamen game FIFA 19 berskala internasional, Asian Cup 2019 yang akan diselegarakan oleh IVPL (Indonesia Virtual Pro League) bekerja sama dengan The AEFA dari Jepang. Gatot S, Dewa Broto, selaku Sekretaris Kementrian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) pun myambut baik hal ini saat menerima kunjungan tim Indonesia Virtual Pro League (IVPL) beberapa waktu lalu yang bertujuan untuk menggandeng pemerintah untuk menggelar turnamen-turnamen bergengsi lainnya. “Sebuah kebanggaan tersendiri, Indonesia melalui IVPL bisa menjadi penyelenggara kompetisi esport berskala internasional seperti Asian Cup,” Ujar Gatot. IVPL yang berdiri sejak tahun 2012 ini sudah mengantongi ijn dari EA Sports untuk menggelar turnamen. IVPL selama ini sudah ikut berpartisipasi untuk mengembangkan industry Esports di Indonesia, salah satu tunrmanen yang sedang berlangsung adalah Asian Cup 2019: FIFA 19 11vs11. “Turnamen Asian Cup dari IVPL ini merupakan hal yang baru bagi saya. Dibutuhkan kerjasama dari masing-masing pemain untuk saling bersinergi dalam meraih kemenangan. Selayaknya menonton pertandingan sepakbola asli,” ujar Gatot. “Maju terus, IVPL. Go ahead. Kemenpora tentu mendukung kegiatan dan turnamen seperti ini, dan semoga bisa membawa prestasi bagi Indonesia,” tambahnya. Sementara Rizki Darmawan, CEO dari IVPL gembira dengan dukungan dari Kemepora tersebut. “Tentunya saya sangat senang dengan hal ini. Semoga ini menjadi titik awal kerjasama antara IVPL dengan Kemenpora. Dengan dukungan Kemenpora, kami berharap bisa membawa IVPL terbang lebih tinggi dan dikenal masyarakat luas, serta membuat turnamen bergengsi lainnya,” kata Rizki. (IHA)

Inilah Susunan Pemain Terbaik Indonesia yang Akan Bertarung di Piala Sudirman 2019

Anthony Sinisuka Ginting (Dok. Humas PBSI)

Piala Sudirman akan segera digelar di Nanning, China, 19-26 Mei 2019, 20 pebulu tangkis putra putri terbaik Indonesia akan tergabung dalam kompetisi tersebut. Tim Indonesia terdiri dari 12 pemain putra dan 8 pemain putri, dari sektor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran masing-masing membawa tiga wakil. Adapun tunggal putri mengirimkan dua wakil. Sedangkan ganda putri hanya membawa satu wakilnya saja yaitu pasangan Greysia Polii/ Apriyani Rahayu sementara satu pemain lainnya adalah Ni Ketut Mahadewi Istarani yang bisa saja diturunkan dengan Greysia atau Apriyani. “Pertimbangan susunan tim ini melihat dari kebutuhan tim seperti apa. Kami perkuat di sektor putra yang memang memiliki peluang untuk mengambil poin lebih besar,” kata Susy Susanti, Manajer Tim Indonesia yang dilansir dari kompas.com “Untuk pemain ganda putri, kami bawa yang terkuat, yaitu Greysia/Apriyani plus cadangan yang bisa cocok dipasangkan dengan Greysia/Apriyani,” tutur Susy. Menurut Susy Indonesia memiliki peluang untuk menjadi juara karena Indonesia berada di urutan 3/ 4 dalam daftar unggulan. “Kami sekarang unggulan 3/4, peluang untuk juara tetap ada. Kami maunya sih kali ini bisa membawa pulang Piala Sudirman ke Tanah Air,” kata Susy. Berikut ini daftar lengkap tim Indonesia pada Piala Sudirman 2019: Putra Jonatan Christie Anthony Sinisuka Ginting Shesar Hiren Rhustavito Kevin Sanjaya Sukamuljo Marcus Fernaldi Gideon Hendra Setiawan Mohammad Ahsan Fajar Alfian Muhammad Rian Ardianto Tontowi Ahmad Praveen Jordan Hafiz Faizal Putri Gregoria Mariska Tunjung Fitriani Greysia Polii Apriyani Rahayu Ni Ketut Mahadewi Istarani Gloria Emanuelle Widjaja Melati Daeva Oktavianti Winny Oktavina Kandow Sparring: Tania Oktaviani Kusumah Pelatih: Hendry Saputra Ho (tunggal putra) Rionny Frederik Mainaky (tunggal putri) Minarti Timur (tunggal putri) Herry Iman Pierngadi (ganda putra) Eng Hian (ganda putri) Richard Leonard Mainaky (ganda campuran) Ary Subarkah (pelatih fisik) Ricky Susiono (pelatih fisik) CDM : Achmad Budiharto Manajer Tim : Susy Susanti . (IHA)

Diusung Jadi Calon Ketua Umum PSSI, Rahim Soekasah Fokus Program Usia Muda

Sejumlah mantan pemain tim nasional (Timnas) Indonesia mendorong Rahim Soekasah maju dalam pencalonan Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). (Adt/NYSN)

Jakarta- Sejumlah mantan pemain tim nasional (Timnas) Indonesia mendorong Rahim Soekasah maju dalam pencalonan Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Beberapa nama mantan pemain Timnas Indonesia diantaranya Eli Idris, Yudo Hadiyanto, Patar Tambunan, Aries Renaldi, Johanes Auri, Simson Rumapasal, Nasir Salasa, Robby Binur, Oyong Liza, Sangap Surbakti, Benny Tomasoa, dan Hermansyah. Mereka mendorong Rahim untuk maju dalam perebutan kursi nomor satu induk organisasi sepak bola Tanah Air itu lantaran resah dengan kondisi PSSI yang carut-marut. Mulai dari prestasi Timnas yang tak kunjung membaik hingga kasus pengaturan skor yang melibatkan petinggi PSSI. Benny Tomasoa, salah satu mantan pemain nasional yang mengusulkan Rahim sebagai kandidat Ketua Umum PSSI, mengatakan Rahim memiliki pengalaman yang matang di dunia sepak bola Indonesia. Disisi lain, Benny dkk mengaku kecewa dengan kondisi PSSI saat ini yang terserang kasus pengaturan skor. “Kami ingin Ketua Umum PSSI dari insan sepak bola dan punya pengalaman. Namun yang paling penting kami ingin PSSI bersih,” ujar Benny, di Jakarta, Kamis (2/5). Senada, Nasir Salasa menyebut dirinya bersama para mantan pemain nasional mendorong Rahim lantaran eks Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI era Ketua Umum PSSI Nurdin Halid tersebut adalah orang yang sangat mengerti tentang sepak bola. “PSSI sekarang banyak orang yang tidak pernah berkecimpung di sepak bola. Sehingga kami merasa beliau sangat pantas dan bisa membawa sepak bola Indonesia lebih maju lagi,” tutur Nasir. Menanggapi dukungan tersebut, Rahim menyatakan kesiapannya maju sebagai Ketua Umum PSSI. “Saya siap (dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI), dan semua saya serahkan ke voters (pemilik hak suara). Saya sudah puluhan tahun mengurus sepak bola dan sudah paham betul persepak bolaan nasional,” tutur Rahim. Ditegaskannya, bahwa siapapun berhak untuk menjadi pengurus dan Ketua Umum PSSI, baik itu dari kalangan pengusaha, militer dan politisi. Namun Rahim mengingatkan jangan menjadikan jabatan di PSSI hanya sekadar mencari popularitas. “Di luar negeri, mereka yang menjadi pengurus sepak bola umumnya sudah mengabdi selama 10 sampai 25 tahun tahun. Dan tim penjaringan calon Ketua Umum PSSI harus jujur. Jangan sampai orang yang tidak pernah mengurusi sepak bola dibilang pernah mengurusi sepak bola. Tidak boleh ada lagi yang seperti itu,” cetus Rahim. Jika nantinya terpilih menjadi Ketua Umum PSSI, Rahim akan fokus melakukan pembinaan usia muda. Menurutnya, dalam melahirkan pemain hebat, maka perlu mendapatkan perhatian khusus sejak usia dini. “Saya akan fokus pada program pembinaan usia muda. Mereka harus mendapatkan perhatian khusus. Usia muda kita seperti U-16 dan U-19 perah menjadi juara. Sehingga perlu diberi pengawasan secara berkesinambungan,” tambahnya. “Dahulu, saya termasuk salah satu yang terlibat dalam menyeleksi pemain Primavera (program PSSI tahun 1993) selama kurang lebih 7 bulan. Dari puluhan pemain saya harus menyeleksi menjadi beberapa orang. Yang pasti melahirkan pemain bintang tidak mudah. Jadi pembinanan usia muda menjadi salah satu target saya nantinya,” tukas Rahim. Rahim yang mengawali karir di dunia sepak bola sebagai manajer klub UMS pada 1980-an pernah menjadi manajer Timnas pada 1990-an. Di era kompetisi sepak bola Galatama, ia merupakan manajer tim Pelita Jaya dan sukses mengantarkan klub tersebut juara empat kali. Selain itu, Rahim juga pernah menjadi Wakil Ketua Umum PSSI versi Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) pada 2012 serta Chairman klub sepak bola Brisbane Roar yang merupakan klub Liga Utama Australia. (Adt)

Merpati Putih Open 2019 Piala Panglima TNI Resmi Dibuka

Kejuaraan MP Open 2019 Piala Panglima TNI resmi dibuka oleh Ketua Umum Panitia Pelaksana DR. H. Abdul Kharis Almasyhari, Rabu (1/5). (Istimewa)

Jakarta- Kejuaraan Pencak Silat Merpati Putih (MP) Open 2019 yang diselenggarakan Perguruan Pencak Silat (PPS) Bela Diri Tangan Kosong (Betako) Merpati Putih di Gedung Olah Raga (GOR) Ciracas, Jakarta Timur, resmi dibuka, pada Rabu, 1 Mei 2019. Pembukaan Kejuaraan MP Open 2019 yang dilakukan Ketua Umum Panitia Pelaksana MP Open 2019 DR. H. Abdul Kharis Almasyhari, MM. AK ditandai dengan seremonial pemukulan gong. “Merpati Putih Open 2019 merupakan kejuaraan silat tingkat nasional yang juga diikuti peserta dari luar negeri. Ini merupakan suatu even untuk pembibitan atlet disamping untuk memupuk persatuan dan persaudaraan antar perguruan silat yang ujungnya adalah untuk pembinaan prestasi demi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional,” ujar Abdul Kharis yang juga Ketua Komisi I DPR RI ini usai pembukaan MP Open. Abdul Kharis menegaskan, event MP Open 2019 ini memadukan tiga unsur yaitu Kompetisi, Edukasi dan Entertainment. Unsur Edukasi yang dimasukan dalam ajang ini yaitu dengan menggelar Seminar Parenting oleh psikolog, ahli olahraga dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan sasaran peserta adalah orang tua, guru dan pelatih. “Seminar Parenting ini dilakukan untuk mengarahkan orangtua bahwa anak-anak yang sehat itu berpeluang lebih tinggi berprestasi dibanding anak yang tidak sehat. Sehingga silat sebagai salah satu cabang beladiri dan olah raga dapat juga membuat anak berprestasi,” tegasnya. Sedangkan unsur Entertainment, lanjut Abdul Kharis, dengan menggelar Marching Band, Reog Ponorogo, Sisingaan, Silat Bercerita, Live Music oleh Grup Band disamping pencatatan Rekor MURI atas peragaan jurus tunggal oleh seluruh peserta MP Open. Menurut Abdul Kharis, saat ini jumlah peserta MP Open tercatat ada 1.615 pesilat dari 26 perguruan silat dari seluruh Indonesia disamping satu peserta dari perwakilan Singapura. Sementara itu, 15 provinsi yang berpartisipasi diantaranya: DKI Jakarta, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi, Lampung , Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Rangkaian kegiatan MP Open yang memperebutkan Piala Panglima TNI ini telah mulai dilaksanakan pada Sabtu, 27 April 2019. Dimana pada hari itu telah dimulai pemasalan dilanjutkan pada Selasa, 30 April dengan TM Prestasi. Dan, pada Rabu, 1 Mei ini langsung dilakukan tanding prestasi hingga 2 Mei 2019. Sedangkan pada 3-4 Mei akan dilakukan tanding pemasalan hingga closing ceremony yang juga akan dilaksanakan pada 4 Mei 2019. (Adt)

Open Workout ONE Championship: For Honor, Priscilla Tak Sabar Hadapi Nou Srey Pov

Petarung putri ONE Championship asal Indonesia, Priscilla Hertati Lumban Gaol tak sabar tampil di pentas ONE Championship melawan Nou Srey Pov (Kamboja), bertajuk ONE: For Honor di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (3/5). (Adi/NYSN)

Jakarta- Jelang perhelatan ONE Championship: For Honor, properti media olahraga global terbesar dalam sejarah Asia, menggelar sesi latihan terbuka (open workout) bagi para atlet pada Selasa (30/4), di Syena Martial Art Center, Jakarta Selatan. Latihan terbuka itu dihadiri para atlet yang akan tampil di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (3/5), guna menunjukkan berbagai keahlian di antaranya pemegang gelar dunia Muay Thai kelas terbang, Sam-A Gayanghadao (Thailand) dan penantangnya Jonathan Haggerty (Inggris). Adapula Priscilla Hertati Lumban Gaol (Indonesia), Nou Srey Pov (Kamboja), Paul Lumihi (Indonesia), Sunoto (Indonesia), Adrian Matheis (Indonesia), dan Himanshu Kaushik (India). Petarung putri ONE Championship asal Indonesia, Priscilla Hertati Lumban Gaol mengatakan, dirinya telah berlatih keras untuk memperbaiki kelemahan serta memaksimalkan kemampuan terbaik yang dimiliknya. “Saya telah berlatih keras di gym, memperbaiki kelemahan saya, di saat yang bersamaan, juga memperkuat keungguan yang saya miliki. Saya telah semakin baik sejak pertarungan terakhir saya,” ujar Priscilla. Diakui mantan atlet wushu nasional ini, dirinya tak sabar untuk menunjukkan kemampuan terbarunya. Selain itu, ia juga ingin memuaskan para fans pada laga tarung bebas ONE Championship dengan tajuk One: For Honor di Istora Senayan, Jakarta, pekan ini, menghadapi bintang baru asal Kamboja, Nou Srey Pov dalam laga kelas atomweight sebanyak tiga ronde itu. “Saya tak sabar untuk menunjukkan kemampuan saya yang baru dan lebih baik bagi para fans. Lawan saya muda serta kuat dan ia sangat suka menyerang. Namun ini adalah seni bela diri campuran dan saya akan melayani pertarungan tersebut dimana saya memiliki keunggulan. Saya tak sabar untuk segera tampil dan menunjukkan kemampuan terbaik saya,” lanjut petarung yang akrab disapa Thathie itu. Srey Pov sendiri bertekad menjaga rekor dan memantapkan dirinya di panggung global usai menang dalam debutnya melawan Rika Ishige pada awal tahun ini. “Priscilla adalah petarung yang hebat. Dia sangat kuat, namun saya telah mempersiapkan segala hal untuk menghadapinya di atas ring,” tegas Srey Pov. Priscilla mengawali musim ini dengan hasil kurang memuaskan. Ia menderita kekalahan dari wakil India, Puja Tomar di laga ONE: ETERNAL GLORY, yang menjadi laga perdana ONE Championship pada 19 Januari 2019. Padahal, sebelumnya Priscilla berhasil meraih kemenangan secara beruntun sepanjang 2018. Disisi lain, pemegang gelar ONE Flyweight Muay Thai World Champion Sam-A Gaiyanghadao asal Thailand, menegaskan dirinya sangat senang bisa kembali. Menurutnya, memenangkan gelar dunia merupakan salah satu kehormatan bagi Thailand, dan ia pun bangga mewakili Muay Thai di panggung kompetisi global. “Lawan saya kali ini masih muda dan lapar (kemenangan), dan sangat ingin mengambil gelar saya. Tapi saya telah mengalami banyak tantangan sepanjang karir saya,” tutur Sam-A Gayanghadao. “Saya telah menyiapkan diri untuk mempertahankan sabuk juara dan membawa kemenangan bagi negara saya. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya sekali lagi kepada jutaan penggemar di seluruh dunia,” tambahnya. Sedangkan Jonathan Haggerty menyebut bertarung untuk meraih gelar juara dunia melawan seorang legenda seperti Sam-A Gaiyanghadao adalah sebuah kehormatan besar. “Saya telah melihatnya bertarung sejak remaja. Ia adalah petarung hebat layaknya sebuah mesin. Sekarang saya melawannya dan ini adalah hal yang cerdas. Saya berharap ia telah berlatih keras karena saya tidak akan main-main. Saya datang untuk sabuk (juara) tersebut dengan semua yang saya miliki. Saya benar-benar mengincar kemenangan dengan kuncian atau KO, jadi jangan berkedip saat menontonnya,” tukas Jonathan. (Adt)

Festival Akuatik Selesai Digelar, PRSI Umumkan 10 Perenang Pelatnas SEA Games

Adinda Larasati Dewi yang dilantik menjadi perenang terbaik pada festival akuatik 2019. (ANTARA FOTO/INASGOC/M RISYAL HIDAYAT)

Atlet renang yang akan mengikuti pelatnas SEA Games 2019 dan kualifikasi Olimpiade 2020 sudah dikantongi oleh PB RSI (Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia). Hasil ini didapat dari Festival Akuatik Indonesia (FAI) yang usai pekan lalu (28/4/29), pada ajang tersebut Jawa Timur dilantik menjadi juara umum dengan perolehan medali 34 emas, 23 perak, dan 19 perunggu, sedangkan Jawa Barat menyusul di posisi kedua dengan perolehan 21 emas, 21 perak, dan 15 perunggu. DKI Jakarta pun berada pada posisi ketiga dengan 21 emas, 17 perak, dan 27 perunggu. Adinda Larasati Dewi, dari kategori perorangan berhasil menyabet gelar perenang terbaik. Adinda berhasil memecahkan tiga rekor nasional dan merebut tujuh medali emas sekaligus. Tiga rekornas itu dari 200 meter gaya kupu-kupu dengan catatan waktu 2 menit 12,84 detik, yang mempertajam rekornya sendiri 2 menit 12,92 detik. Kemudian, rekornas dari 100 meter gaya kupu-kupu (1 menit 00,55 detik dari sebelumnya 1 menit 00,98 detik miliknya), dan menyamai rekor dia tahun lalu di nomor 50 meter gaya kupu-kupu. Sedangkan Aflah Fadlan Prawira di kategori putra yang dilantik menjadi perenang terbaik, Aflah berhasil menyabet tujuh medali emas dan perunggu. Adinda dan Afla sudah dipastikan lolos seleksi pelatnas renang SEA Games di tahun ini. Selain mereka berdua PRSI juga mengumumkan delapan perenang yang juga lolos ke pelatnas, yaitu , I Gede Siman Sudartawa, Glen Victor, Triady Fauzi Siddiq, Gagarin Nathaniel, Adinda, Nurul Fajar, Fadlan Prawira, Azzahra Permatahani, dan Farrel Armandio Tangkas. “Kami sudah rapatkan untuk atlet-atlet yang lolos seleksi dari kejuaraan kemarin prioritas utama kami untuk pelatnas renang sepuluh atlet,” kata Wakil Ketua PB PRSI, Harlin E. Rahardjo, yang dilansir dari detikSport, Senin (29/4/2019). “Memang nama-namanya tidak jauh dari saat pelatnas Asian Games kemarin. Tapi ada dua nama yang baru seperti Farrel. Dia memecahkan rekornas I Gede Siman Sudartawa nomor 200 punggung dan Muhammad Fachri di 50 meter gaya dada. Dia bagus lah, waktunya juga lebih bagus dari best timnya. Jadi potensi masuk ke 10 nama itu,” Harlin menjelaskan. Para atlet pelatnas tersebut akan melakukan pemusatan latihan di Bali sebelum jadwal training campe dan uji coba di luar negeri. Lokasi uji tanding yang dinilai tepat adalah Amerika Serikat, selain itu juga akan ada tiga kejuaraan besar sebelum SEA Games dimulai, yaitu 43th South East Asia Aage Group Swimming Championship di Phonm Penh, Kamboja, 28-30 Juni, kemudian Kejuaraan Dunia Renang senior di Gwangju, Korea Selatan, 12-28 Juli, Kejuaraan Dunia Renang junior di Budapest, Hungaria, 20-25 Agustus, dan terakhir SEA Games 2019. “Kami sudah list 19 nama yang akan turun di SEA Age, sementara kejuaraan dunia junior sudah pasti Azzahra dan Farel, sisanya berangkat ke Gwangju,” katanya. Walaupun sepuluh atlet tersbeut sudah masuk pelatnas akan tetapi Harlin mengatakan bahwa September mendatang seleksi nasional akan diadakan kembali. “Seleknas ini untuk mempersiapkan menuju SEA Games 2019. Jadi untuk membangun kompetisi lagi di antara mereka,” dia menambahkan. (IHA)

Adinda Larasati Perenang Terbaik FAI 2019, Ukir 7 Medali Emas dan 2 Rekornas

Adinda perenang terbaik putri dan Fadlan perenang terbaik putra bersama Harlin (Wakil Ketua Umum PB PRSI). (Istimewa)

Jakarta- Adinda Larasati Dewi dinobatkan sebagai perenang terbaik di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Renang bertajuk ‘Festival Akuatik Indonesia (FAI) 2019, di Stadion Akuatik Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Adinda berhasil memecahkan dua Rekornas dan menyabet tujuh medali emas sekaligus membawa kontingen Jawa Timur (Jatim) sebagai juara umum FAI 2019. “Alhamdulillah bisa capai target dapat tujuh emas dan 2 Rekornas serta satu menyamai Rekornas. Kuncinya harus tetap berlatih, jangan pernah bosan,” ujar Adinda, Minggu (28/4). Sementara itu, Harlin Rahardjo, Wakil Ketua Umum PB (Pengurus Besar) PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia), mengatakan dengan adanya Rekornas dan Rekornas kelompok umur (KU) maka jenjang pembinaan berjalan dengan baik. “Alhamdulillah para perenang kita bisa memecahkan Rekornas dan Rekornas KU dan para pelatih serta pembina masing-masing patut di apresiasi. Di setiap kejuaraan muncul para perenang baru. Mudah-mudahan ini bisa jadi pemicu perenang muda yang lain,” tutur Harlin. Di klasemen umum perolehan medali kontingen Jatim tidak terkejar setelah mengoleksi 34 emas, 23 perak dan 19 perunggu. Kedua dihuni Jawa Barat (Jabar) dengan 21 emas, 21 perak, dan 15 perunggu. Ketiga milik DKI Jakarta dengan 21 emas, 17 perak, dan 27 perunggu. Keempat ditempati Bali dengan 19 emas, 29 perak, dan 20 perunggu. Dan, kelima Riau dengan 5 emas, 5 perak, dan 3 perunggu, serta keenam Jawa Tengah (Jateng) dengan 4 emas, 9 perak, dan 10 perunggu. Di hari terakhir, Minggu (28/4), Adinda mampu memecahkan Rekornas nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri dengan waktu 02 menit 12,84 detik atau mempertajam Rekornas lama miliknya sendiri yakni 02 menit 12,92 detik. Total Adinda mencetak dua Rekornas. Sebelumnya Rekornas 100 meter gaya kupu-kupu dan satu menyamai Rekornas di nomor 50 meter gaya kupu-kupu. Sedangkan perenang terbaik putra adalah Aflah Fadlan Prawira yang menyabet tujuh emas dan satu perunggu. Perenang terbaik grup-2 adalah Agung Sulaksono (14 tahun) asal Jat dengan koleksi lima emas dan dua perak. Untuk perenang terbaik putri grup-2 yakni Adelia (15 tahun) asal Jabar dengan raihan tiga emas serta tiga Rekornas kelompok umur. Perenang terbaik grup-3 putra adalah Bryan Haganta Tarigan (DKI) dengan 4 emas, 4 perak, dan perenang terbaik putri yaitu Ni Putu Pande Lisa Primasari (12 tahun) asal Bali dengan 4 emas, 3 perak. Selain itu, Adinda juga menyumbang emas nomor 1500 gaya bebas putri (Jatim) dengan waktu 17 menit 20,77 detik dan kedua Azzahra Permatahani (Riau) dengan catatan waktu 17 menit 45,42 detik serta ketiga Prada Hanan (Jabar) dengan catatan waktu 18 menit 00,00 detik. Teranyar, Adinda mempertajam Rekornas nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri. Di sesi penyisihan pagi hari, Adinda mencatat waktu Rekornas baru yaitu 2 menit 12,84 detik, mempertajam Rekornas lama miliknya yakni 2 menit 12,92 detik. Sebelumnya, di hari pertama, Adinda juga memecahkan Rekornas di nomor 100 meter gaya kupu-kupu dengan catatan waktu 01 menit 00,55 detik lebih cepat dari Rekornas lama miliknya dengan waktu 01 menit 00,98 detik. Pada nomor 200 meter gaya punggung putra, emas dimenangkan Reza Bayu Prasetyo (Jabar) dengan catatan waktu 02 menit 01,86 detik. Kedua Fadlan Prawira (Jabar) dengan catatan waktu 02 menit 02,62 detik, dan ketiga Joe Aditya (DKI) dengan catatan waktu 02 menit 03,20 detik. Pada nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri, Adinda Kusuma Ningrum (Jabar) meraih emas dengan waktu 02 menit 20,14 detik. Kedua Adinda Larasati Dewi (Jatim) dengan waktu 02 menit 24,84 detik, dan ketiga Desak Made Sri Widyadari (Bali) dengan 02 menit 27,73 detik. Di nomor bergengsi 50 meter gaya bebas putra, emas masih milik Triadi Fauzi (Jabar) dengan catatan waktu 23,39 detik. Kedua Gagarin Nathaniel Yus (DKI) dengan 24,26 detik, dan ketiga I-Gede Siman Sudartawa (DKI) dengan 24,50 detik. Pada nomor 50 meter gaya bebas putri, emas diraih Istri Kania Ratih (Bali) dengan 26,56 detik. Kedua Adinda Larasati Dewi (Jatim) dengan 26,68 detik serta ketiga Patrisia Yosita (DKI) dengan 27,08 detik. Di nomor 200 meter gaya dada putra, medali emas milik Dwiki Rahardjo (Jabar) dengan 02 menit 18,25 detik dan kedua Pande Made Iron Digjaya (Bali) dengan 02 menit 19,98 detik serta ketiga Gerdi Zulfitranto (Jabar) dengan 02 menit 20,03 detik. Di nomor 200 meter gaya dada putri, Ananda Treciel Vannesae Evato (Riau) meraih medali emas dengan catatan waktu 02 menit 36,59 detik dan kedua Azzahra Permatahani (Riau) dengan 02 menit 36,74 detik serta ketiga Ressa Kania Dewi (Jatim) dengan 02 menit 39,42 detik. Pada nomor jarak jauh 1500 meter gaya bebas putra emas dimenangkan Fadlan Prawira (Jabar) dengan waktu 15 menit 52,28 detik dan kedua Rashief Amila Yaqin (Jabar) dengan waktu 16 menit 09,41 detik dan ketiga Joe Aditya (DKI) usai membukukan waktu 16 menit 12,99 detik. (Adt)

Jawa Timur Pimpin Klasemen Medali FAI 2019, Adinda Samai Rekornas

Jawa Timur memimpin perolehan sementara medali Festival Akuatik Indonesia (FAI), di Stadion Akuatik GBK Senayan, Jakarta. (Istimewa)

Jakarta- Kontingen Jawa Timur (Jatim) memimpin perolehan medali emas pada Kejurnas bertajuk Festival Akuatik Indonesia (FAI) 2019, di Stadion Akuatik GBK (Gelora Bung Karno) Senayan, Jakarta, Sabtu (27/4). Hingga hari ketiga, Jatim mengoleksi 27 emas, 17 perak dan 14 perunggu. Kedua DKI Jakarta (17-15-20), ketiga Bali (14-21-15), keempat Jawa Barat (12-14-12). Di nomor 50 meter gaya kupu-kupu putri, perenang Jatim yang menyabet medali emas adalah Adinda Larasati Dewi dengan catatan waktu 27,85 detik. Catatan waktu Adinda menyamai rekornas (rekor nasional) yang dibuatnya pada event SNAG di Singapura, pada 2017. Diikuti oleh A.A Istri Kania Ratih (Bali) dengan catatan waktu 28,83 detik dan posisi ketiga milik Nurul Fajar Fitriyati (Jatim) dengan membukukan waktu 28,45 detik. Di nomor 200 meter gaya bebas putri, Adinda kembali meraih emas dengan catatan waktu 02 menit 04,05 detik. Kedua Ressa Kania Dewi (Jawa Timur) dengan waktu 02 menit 04,79 detik dan ketiga Mai Ushirono (Jepang) dengan 02 menit 06,15 detik. Untuk medali perunggu Kejurnas diraih Prada Hanan Farmadini (Jawa Barat) yang menempati peringkat empat dengan waktu 02 menit 07,51 detik. Untuk medali, perenang Jepang tidak dihitung pada Kejurnas ini. Di nomor 100 meter punggung putri, perenang Jatim Nurul Fajar meraih emas dengan waktu 01 menit 03,87 detik. Kedua Hinata Yamashita (Jepang) dengan 01 menit 04,78 detik dan ketiga Istri Kania Ratih (Bali) dengan 01 menit 06,14 detik serta keempat Ulul Azminia Primidita (Jatim) dengan 01 menit 07,98 detik. Untuk medali kejurnas, medali emas diraih Nurul, perak Istri Kania dan perunggu Ulul. Di nomor 200 meter gaya bebas, Perenang Jabar Fadlan Prawira, finish pertama dengan catatan satu menit 51,09 detik. Kedua Putra M. Randa (DKI Jakarta) dengan 01 menit 52,57 detik dan ketiga Agus Nuarta (Bali) dengan satu menit 54,33 detik. Pada nomor 100 meter gaya punggung putra dimenangkan perenang asal Jepang, Koudai Nishiono dengan waktu 57,54 detik. Kedua Dwiki Anugrah (DKI) dengan 58,20 detik dan ketiga Farrel Armandio Tangkas (Papua) dengan 58,94 detik serta keempat A.A Gede Oka Satria (Bali) dengan 01 menit 00,21 detik. Untuk Kejurnas ini medali emas diraih Dwiki, perak Farrel dan perunggu Gede Oka. Pada nomor 50 meter gaya kupu-kupu putra, perenang Jatim Glen Victor Sutanto memenangi lomba sekaligus meraih emas dengan catatan waktu 24,38 detik. Medali perak Triady Fauzi (Jabar) dengan 24,83 detik dan medali perunggu Muhammad Fauzan Martzah (Bali) dengan 25,49 detik. Pada nomor 400 meter gaya ganti putra, dimenangi Aflah Fadlan Prawira (Jabar) dengan 4 menit 26,88 detik. Kedua Koudai Nishiono (Jepang) dengan 04 menit 27,87 detik dan ketiga Athalarik Maulidio (Jabar) dengan 4 menit 36,46 detik serta keempat I-Putu Wirawan (Bali) dengan 4 menit 37,28 detik. Pada Kejurnas ini medali emas diraih Fadlan, perak Maulidio dan perunggu Putu Wirawan. Di nomor 400 meter gaya ganti putri, lomba dimenangkan Hinata Yamashita (Jepang) dengan 04 menit 52,68 detik. Kedua Azzahra Permatahani (Riau) dengan 05 menit 01,76 detik dan ketiga Inka Nur Fadilah (Jatim) dengan 05 menit 17,55 detik serta keempat Vannesa Sanjoyo (Jateng) dengan 05 menit 18,59 detik. Untuk event Kejurnas ini medali emas Azzahra, perak Inka dan perunggu Vannesa. (Adt)

Singkirkan Wakil Ukraina, Alfian M. Fajri Raih Medali Emas Kejuaraan Dunia IFSC Climbing Chongqing China

Atlet panjat tebing Alfian M. Fajri meraih medali emas di kejuaraan dunia IFSC Climbing Chongqing, China. (FPTI)

Chongqing- Indonesia kembali meraih medali emas di kejuaraan dunia IFSC Worldcup di Chongqing, China. Gelar juara dunia kali ini dipersembahkan atlet Timnas Alfian M. Fajri dari nomor men’s speed world record. Alfian berhasil mengalahkan lawannya dari Ukraina, Kostiantyn Pavlenko. Pria asal Solo, Jawa Tengah ini menorehkan catatan waktu 5,961 detik, sedangkan Pavlenko hanya mampu membukukan waktu 6,310 detik. Lalu, medali perunggu diraih Sergey Rukin dari Rusia dengan catatan waktu 6,808 detik. Rukin mengalahkan lawannya asal China, Zhong Qixin, yang mengalami fall dalam perebutan medali perunggu. Bagi Alfian ini adalah medali pertamanya di IFSC worldcup dan langsung meraih gelar juara dunia. Sebelumnya Alfian meraih medali emas di Asian Championship di Kurayoshi, Jepang, pada November 2018. “Saya terimakasih kepada semua yang telah mendukung. Syukur Alhamdulillah kepada Tuhan yang Maha Esa saya bisa maksimal,” ujar Alfian, di Chongqing, China, Jumat (26/4). Dijelaskan Alfian, kunci kemenangannya ini adalah perasaan yang lebih tenang dan rileks. Ia juga selalu berdoa agar diberi kelancaran selama bertanding. Faisol Riza, Ketua Umum FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia), menyambut gembira kemenangan Alfian di Chongqing. “Ini awal bagus bagi Timnas. Dan saya percaya pelatih punya strategi agar kita juga bisa bagus di nomor boulder dan lead,” cetus Faisol. Di sisi lain, Aspar Jaelolo gagal melaju ke perempat final setelah dikalahkan Pavlenko, yang peraih medali perak. Di babak perdelapan final, Aspar sempat sedikit terpeleset sehingga catatan waktunya mengendur menjadi 6,286 detik. Pavlenko unggul 0,1 detik dengan catatan waktu 6,130 detik. Di babak perempat final, Pavlenko kembali mengalahkan atlet Indonesia, Fatchur Roji. Roji yang sempat unggul di start justru terpeleset di tengah lintasan dan mencatatkan waktu 7,518 detik. Sedangkan Pavlenko melesat di 5,997 detik. Sementara itu, untuk nomor women’s speed world record, medali emas diraih atlet asal China, Yiling Song dengan catatan waktu 7,673 detik. Medali perak diraih atlet Polandia, Aleksandra Rudzinska yang mengalami fall di babak big final. Untuk medali perunggu diraih atlet asal Rusia, Luliia Kaplina dengan catatan waktu 8,429 detik. Kaplina berhasil mengalahkan atlet Prancis Anouck Jaubert yang mengalami fall. Atlet putri andalan Indonesia, Aries Susanti Rahayu, gagal melaju ke babak semi final. Aries dikalahkan Anouck Jaubert dari Prancis dengan selisih skor tipis 0,02 detik. Aries menorehkan waktu 7,429 detik, sedangkan Jaubert 7,400 detik. Atlet putri Indonesia lainnya, Nurul Iqamah, gagal di babak perdelapan final melawan Rudzinska. Nurul menorehkan catatan waktu 8,724 detik, sedangkan Rudzinska 7,742 detik. Sebelumnya pada 2018, Aries meraih gelar juara dunia pertamanya di IFSC Worldcup Chongqing. Video aksinya berlaga di babak final beredar luas dan sejak saat itulah julukan spiderwomen melekat padanya. Menanggapi hasil pertandingan, Hendra Basyir selaku Pelatih Timnas Panjat Tebing, mengaku bersyukur atas prestasi yang diraih Alfian. Namun, ia menegaskan secara umum performa anak asuhnya kali ini kurang optimal. Fokus latihan yang harus dibagi antara speed, lead, dan boulder, tentu saja bukan hal yang mudah bagi para atlet. “Memang secara hasil kita Alhamdulillah bisa juara dunia kali ini untuk di putranya, hanya secara overall performa kita belum maksimal,” tuturnya. Hendra menerangkan seperti Kejuaraan Dunia di Moscow beberapa waktu lalu, targetnya kali ini adalah mempertahankan keunggulan di speed, sekaligus meminimalisir margin dari kelemahan di lead dan boulder. (Adt)

Persija Jakarta U-16 Ingin Lanjutkan Tren Positif di Elite Pro Academy Liga U-16

Tim Persija Jakarta U-16 ingin melanjutkan tren kemenangan saat bertandang ke markas Perseru Badak Lampung pada lanjutan Elite Pro Academy U-16. (persija.id)

Lampung- Persija Jakarta U-16 melakoni laga tandang ke markas Perseru Badak Lampung pada lanjutan Elite Pro Academy Liga U-16, di Lapangan Yonif 143, Lampung, pada 27-28 April 2019. Young Tiger, julukan Persija Jakarta U-16, ingin melanjutkan tren kemenangan, dimana mereka sukses menyapu bersih dua kemenangan sebelumnya saat bertandang ke markas Semen Padang. Muhammad Arief, Pelatih Kiper Persija Jakarta U-16, mengatakan anak didiknya tersebut tak mau pulang dengan tangan hampa di perjalanan jauh yakni away perdana ke Lampung. “Kami datang melawan tim yang bagus mengingat mereka sempat mencuri poin saat bertemu TIRA yang juga bagus. Kami ingin berusaha sebaik mungkin mengambil poin di Lampung,” ujar Arief, di Wisma Lampung Sakti, Lampung, Jumat (26/4). Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Ghesenk itu menegaskan persiapan Fiore Rafli Cs berjalan dengan baik. Ia juga menyebut tidak masalah ada satu pemain yakni Muhammad Rafli yang absen karena mengalami kartu merah di pertandingan sebelumnya. “Seminggu ini kami sudah persiapan dengan baik, baik itu di tim dan juga melihat kekuatan lawan melalui rekaman video. Total kami membawa 19 pemain dan satu pemain kami absen karena mengalami kartu merah, tapi kami memiliki pemain yang kualitas sama, jadinya kami tidak khawatir akan hal itu,” tutup pria asal Tangerang itu. (Adt)

Langkah Rizki/Della Belum Terbendung, Amankan Tiket Semifinal BAC 2019

Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris sukses mengamankan tiket semifinal BAC 2019. Mereka akan berhadapan dengan ganda tuan rumah unggulan empat Chen Qingchen/Jia Yifan. (PBSI)

Wuhan- Langkah ganda putri Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris masih belum terbendung di ajang Badminton Asia Championship 2019. Bertanding di Wuhan Sport Center, Wuhan, China, Jumat (26/4), dobel Merah Putih ranking 16 dunia itu sukses mengamankan tiket semifinal usai menaklukan wakil Taiwan Chang Ching Hui/Yang Chin Tung, straight game, dengan skor 21-12, 21-18. Pada laga yang memakan waktu 38 menit itu, Rizki/Della terus memberikan tekanan pada lawan sejak awal. Bahkan, mereka mampu mengontrol irama permainan Chan/Yang hingga tak mampu mengembangkan permainan. “Memang pasangan Taiwan ini tipe mainnya seperti itu, tidak mudah dimatikan, pertahanannya cukup rapat. Tadi banyak reli-reli panjang. Pada gim pertama, mereka kalau diserang bisa langsung tembus, tapi di gim kedua mereka lebih siap,” tutur Della usai laga. Ditambahkan Rizki, dirinya bersama kolega bisa memenangkan laga dalam dua gim disebabakan lebih siap dibandingkan lawan. “Hari ini bisa menang dua gim langsung, karena kami lebih siap dari lawan,” cetus Rizki. Di babak semifinal BAC 2019, Rizki/Della akan berjumpa dengan wakil Tiongkok Chen Qingchen/Jia Yifan (4) yang menang atas Lee So Hee/Shin Seung Chan (Korea), rubber game, dengan skor 18-21, 21-16, 21-13, dalam tempo 56 menit. Berdasarkan rekor pertemuan, Rizki/Della belum pernah kalah dari ganda putri tuan rumah itu dalam tiga pertemuan mereka. Terakhir, kedua pasangan ini berjumpa di ajang yang sama pada 2018. “Mau ketemu siapa saja pun sama, yang penting dari kami harus lebih siap. Kami sudah setahun nggak pernah ketemu Chen/Jia. Sekarang Chen/Jia sedang naik lagi performanya,” terang Rizki. Senada, Della mengakui meski belum mengetahui permainan Chen/Jia saat ini, namun mereka siap bertemu dengan siapapun lawan. “Sudah lama nggak ketemu Chen/Jia, kami belum tahu permainan yang sekarang. Mau ketemu siapa saja sama, harus siap,” tukas Della. (Adt)

776 Pebulutangkis Dari 13 Negara Panaskan Persaingan Turnamen Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019

Sebanyak 776 pebulutangkis turut meramaikan turnamen bertajuk 'Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019, di GOR PB Jaya Raya Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. (Adt/NYSN)

Jakarta- Sebanyak 776 pemain dari 13 negara akan tampil pada turnamen bulutangkis bertajuk ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019’, di GOR (Gelanggang Olahraga) PB Jaya Raya Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, pada 30 April – 5 Mei 2019. Turnamen yang dibagi dalam tiga kategori kelompok umur (KU), yakni U-15, U-17 dan U-19 tersebut memiliki gengsi yang cukup tinggi. Sebab, hanya diselenggarakan empat kali selama setahun, yakni dua di Asia dan dua di Eropa. Pemain junior papan atas dunia dipastikan akan hadir karena di turnamen ini poin yang didapat nilainya hanya satu level di bawah kejuaraan dunia. PB Jaya Raya sudah dipercaya menjadi tuan rumah sejak 2016 dan kali ini merupakan penyelenggaraan keempat dengan titel turnamen ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019’. “Ini sebuah kepercayaan besar bagi Jaya Raya untuk menjadi salah satu tuan rumah. Tentu kami berharap tidak hanya sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga gemilang dengan prestasi pemain-pemain junior Indonesia, terutama dari Jaya Raya,” ujar R. Tony Soehartono, Ketua Panitia Penyelenggara, di Jakarta, Jumat (26/4). Diungkapkannya, antusias peserta untuk tampil di turnamen ini cukup tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah peserta yang mendaftar lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. “Tahun ini jumlah peserta yang mendaftar sebanyak 1238, sedangkan tahun lalu jumlahnya 1125 peserta. Namun, setelah menyeleksi administrasi, hanya 776 pemain yang akan tampil pada turnamen kali ini,” lanjut pria yang juga menjabat Direktur Eksekutif Yayasan Pembangunan Jaya Raya. Tahun lalu, dikategori U-15, Indonesia mendapat dua gelar dari nomor tunggal putri dan ganda putri. Dan untuk kategori U-17, Indonesia meraih tiga gelar dari nomor ganda campuran, ganda putri dan tunggal putri. Sedangkan di kategori U-19, juaranya didominasi pemain China dengan empat gelar, dan Thailand dengan satu gelar. Sementara itu, Rudy Hartono, Ketua Umum PB Jaya Raya, mengatakan turnamen ini menjadi salah satu barometer kekuatan bulutangkis dunia di masa yang akan datang. Ia berharap dari turnamen ini muncul pemain-pemain potensial masa depan Indonesia. “Kejuaraan ini sangat penting, dimana lingkupnya sudah Asia bahkan dunia, karena kejuaraan junior seperti ini sangat jarang. Dengan adanya kejuaraan ini membuat klub Jaya Raya dan klub-klub bulutangkis lainnya di Indonesia sangat diuntungkan demi memunculkan pemain-pemain potensial di masa depan,” tutur juara All England selama 8 kali pada era 1960-an dan 1970-an. Sedangkan Susy Susanti, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), menegaskan bila PBSI sangat terbantu dengan adanya turnamen junior ini. Istri dari legenda bulutangkis Alan Budikusuma itu menambahkan kejuaraan yang dikhususkan bagi para pemain muda itu merupakan ajang yang tidak hanya sebagai bahan evaluasi, namun juga sebagai gambaran peta kekuatan untuk mengetahui kemampuan lawan di masa yang akan datang, sehingga bisa terpantau bakat yang mereka miliki sedini mungkin. “Turnamen ini juga masuk dalam perhitungan poin BWF, dan tidak banyak yang menggelar kejuaraan junior seperti ini. Jadi sangat bagus bagi para pemain muda untuk mencari pengalaman serta mendulang poin,” cetus peraih medali emas Olimpiade 1992, Barcelona, Spanyol. (Adt)

Persaingan Sektor Ganda Putra Makin Ketat, Kevin/Markus Tak Ingin Jadikan Beban

Kevin/Marcus mengakui persaingan sektor ganda putra saat ini semakin ketat. (PBSI)

Wuhan- Duet andalan Merah Putih Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon memastikan satu tiket ke babak perempat final turnamen Badminton Asia Championship (BAC) 2019, pada laga yang dihelat Kamis (25/4). Melakoni laga di Wuhan Sport Center, Kevin/Marcus hanya butuh waktu 25 menit untuk meraih kemenangan atas dobel Hong Kong Chang Tak Ching/Yeung Ming Nok, straight game, dengan skor 21-18, 21-18. Di ajang ini, Kevin/Marcus tetap diunggulkan di tempat pertama, meski prestasi mereka tengah mengalami penurunan. Dimana dalam beberapa turnamen terakhir yang diikuti seperti All England 2019, Malaysia Open 2019, dan Singapore Open 2019, mereka bermain tak maksimal sehingga gagal meraih gelar. “Memang tiap tanding maunya menang terus, tapi lawannya bagus-bagus. Persaingan sekarang ramai, tapi kami tidak ada beban,” ujar Marcus. Kendati diunggulkan, namun Marcus dan Kevin tetap fokus dan tak ingin terbebani dengan status unggulan yang disandangnya. “Walaupun diunggulkan, tapi kami tidak terbebani, ya dinikmati saja,” lanjut Marcus. Hal serupa diungkapkan Kevin. Pebulutangkis asal PB Djarum Kudus, Jawa Tengah itu, menjelaskan bahwa mereka telah mengeluarkan performa terbaik disetiap turnamen yang mereka ikuti. “Kalau tanding nggak mungkin menang terus juga, yang penting kami fokus di tiap pertandingan,” tutur Kevin. Diakui Kevin, dirinya bersama kolega saat ini fokus untuk mencapai tujuan yang ditargetkan pada tahun ini maupun tahun depan. “Kalau ditanya mau menang, pasti mau menang, tapi kami mau kasih yang terbaik mulai perhitungan Olimpiade,” cetus Kevin. (Adt)

KONI Minta Terus Dilibatkan Kawal Prestasi Olahraga Indonesia

Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman meminta KONI terus dilibatkan dalam mengawal prestasi olahraga di Tanah Air. (Adt/NYSN)

Jakarta- Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat meminta untuk terus dilibatkan dalam mengawal prestasi olahraga di Tanah Air. Hal itu dikatakan Ketua Umum KONI Pusat, Tono Suratman pada Rapat Anggota KONI Pusat Tahun 2019, di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (24/4), Ia juga mengungkapkan bahwa organisasi yang dipimpinnya berpegang teguh pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 95 Tahun 2017 tentang peningkatan prestasi olahraga nasional. “Sebaiknya KONI terus dilibatkan dalam mengawal prestasi olahraga di Indonesia, karena kami lebih tahu bagaimana kondisi cabang-cabang olahraga yang ada di Tanah Air,” ujar Tono. Pada Rapat Anggota KONI Pusat Tahun 2019, Tono menyebut pihaknya membahas beberapa kegiatan, baik internal maupun eksternal. “Untuk internal kami membahas pembinaan prestasi olahraga dalam rangka menghadapi multievent seperti SEA Games 2019, di Filipina. Selain itu, juga soal PON 2020, di Papua,” lanjut pria lulusan Akmil (Akademi Militer) 1975 itu. Khusus soal PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020 Papua, ungkap Tono, pihaknya akan membahas mengenai kelengkapan infrastruktur dan anggaran yang dimiliki oleh KONI Papua. “Melalui Rapat Anggota KONI Pusat ini bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang terbaik demi suksesnya pelaksaanaan PON 2020,” tambah pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), 16 September, 66 tahun silam itu. Sedangkan untuk kegiatan eksternal, mantan Pangdam (Panglima Daerah Militer) VI/Tanjung Pura, Kalimantan (2008-2010) itu menginginkan agar KONI dan seluruh perangkatnya menjadi kuat dan hebat. “Semua ini adalah demi kepentingan negara dalam meningkatkan prestasi olahraga, baik di level nasional maupun internasional,” tegas Tono. Rapat Anggota KONI Pusat Tahun 2019 sendiri dihadiri perwakilan dari 27 Pengurus Provinsi (Pengprov) serta 47 perwakilan induk organisasi cabang olahraga. (Adt)

Melenggang ke Babak 16 Besar BAC 2019, Pebulutangkis 19 Tahun asal Wonogiri Tak Puas Dengan Performanya

Gregoria Mariska Tunjung lolos ke babak 16 besar BAC 2019 dan berjumpa dengan unggulan satu asal Tiongkok Chen Yufei. (PBSI)

Wuhan- Tunggal putri Merah Putih Gregoria Mariska Tunjung berhasil melenggang ke babak kedua atau 16 besar turnamen Badminton Asia Championship (BAC) 2019, di Wuhan Sport Center, Wuhan, China, pada Rabu (24/4). Kepastian itu didapat usai mengalahkan wakil Hong Kong Cheung Ying Mei, dua gim langsung, dengan skor 21-18, 21-16, dalam duel berdurasi 33 menit. Kendati lolos ke babak selanjutnya, pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus, 19 tahun lalu itu mengaku tak puas dengan penampilannya yang dianggap masih belum stabil. “Saya kurang puas sama mainnya, di gim pertama sempat ramai, lawan banyak dapat poin dari kesalahan saya. Di awal gim kedua, saya bermain cukup baik dan bisa unggul sampai tujuh poin, tapi kemudian mulai lagi, permainan saya masih naik-turun,” ujar Gregoria. Di babak 16 besar, penghuni Pelatnas PBSI sejak 2013 itu akan menantang unggulan pertama asal Tiongkok Chen Yufei. Gregoria bertekad membalas kekalahannya atas tunggal putri tuan rumah itu di ajang World Championship 2018. Ketika itu, ia takluk dua gim langsung, dengan skor 17-21, 20-22. “Pastinya mau revans, karena di pertemuan terakhir saya kalah dan di gim keduanya kalah adu setting. Saya ingin menang, tapi saya mau memikirkan cara main dulu, yang penting saya bisa mengeluarkan permainan saya. Target diri sendiri, mau menang dulu lawan Yufei,” lanjutnya. “Sebetulnya senjatanya tidak terlalu mematikan, tapi dia pemain yang tenang, sabar dan punya timing yang pas untuk mencari celah pada lawan. Saya harus lebih sabar dan bisa mengimbangi dari awal, jangan sampai kecolongan start,” tukas juara dunia junior BWF 2017, di Yogyakarta itu. (Adt)

Anthony dan Jonatan Telan Pil Pahit, Tersingkir di Babak Pertama BAC 2019

Anthony Sinisuka Ginting harus tersingkir di ajang BAC 2019 dari wakil Hong Kong Ng Ka Long Angus, rubber game, 18-21, 21-18, 23-25, di babak pertama. (PBSI)

Wuhan- Tunggal putra utama Indonesia Anthony Sinisuka Ginting (6) dan Jonatan Christie (8) harus menelan pil pahit di turnamen Badminton Asia Championship 2019. Langkah mereka terhenti di babak pertama usai ditaklukan oleh lawan mereka masing-masing di Wuhan Sport Center, Wuhan, China, pada Rabu (24/4). Anthony menyerah dari wakil Hong Kong Ng Ka Long Angus, lewat duel tiga gim langsung, dengan skor 18-21, 21-18, 23-25. Pertandingan berlangsung 74 menit. Ini menjadi kekalahan keenam Anthony atas tunggal putra Hong Kong pemilik ranking 16 dunia itu dari 9 kali pertemuannya. Terakhir mereka berjumpa di ajang All England 2019. Ketika itu, Anthony juga tumbang di babak pertama, rubber game, dengan skor 18-21, 21-13, 21-11. Sedangkan Jonatan harus mengakui ketangguhan wakil Jepang Kenta Nishimoto, rubber game, dengan skor 21-18, 19-21, 21-10, dalam tempo 66 menit. Hasil negatif ini membuat Kenta mampu memangkas rekor pertemuannya dengan peraih medali emas Asian Games 2018 menjadi 6-4. “Sebenrnya bukan nggak cocok dengan permainan lawan, tapi saya yang banyak mati sendiri. Waktu mau reli, mesti jaganya gimana, inisiatif nyerang di poin kritis gimana, ada yang kurang tepat,” ujar Anthony usai laga. “Memang dia pemain yang tidak mudah dimatikan, tipe mainnya reli defense putar serang, jadi harus ikuti dulu, kalau langsung serang bisa jadi bumerang karena dia sudah siap. Sebetulnya serangannya tidak terlalu kencang tapi penempatannya tepat, di sudut-sudut lapangan,” tambah Anthony. Anthony mengaku kecewa dengan hasil yang didapat pada pertandingan ini karena masih belum bisa melewati Ka Long di dua pertemuan terakhir. “Tadi waktu poin kritis, kelihatan sama-sama tegang, karena satu poin itu menentukan, saya sempat leading dan match point, tapi saya belum bisa kontrol,” tutup Anthony. (Adt)

Lumat Wakil Tiongkok, Hafiz/Gloria Melenggang ke Babak 16 Besar BAC 2019

Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaya berhasil melumat wakil Tiongkok Zhang Nan/Li Yinhui, rubber game, 21-11, 19-21, 25-23, di babak 32 besar Badminton Asia Championship 2019, di Wuhan Sport Center, Wuhan, China, Selasa (23/4). (PBSI)

Wuhan- Pasangan ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaya melenggang ke babak kedua atau 16 besar turnamen Badminton Asia Championship (BAC) 2019. Duet Pelatnas PBSI Cipayung itu sukses melumat wakil Tiongkok Zhang Nan/Li Yinhui. Hafiz/Gloria butuh waktu 52 menit untuk menuntaskan laga ketat di Wuhan Sport Center, Wuhan, China, dalam pertarungan melelahkan tiga gim, dengan skor 21-11, 19-21, 25-23, pada Selasa (23/4). Hasil menggembirakan tersebut membuat rekor pertemuan kedua pasangan menjadi imbang 1-1. Pertemuan terakhir mereka terjadi di ajang All England 2018. Ketika itu, Hafiz/Gloria takluk rubber game, dengan skor 14-21, 21-18, 18-21. Usai laga, Gloria mengungkapkan rasa syukur bisa melewati babak pertama (32 besar). Dikatakannya, pada gim kedua ia dan kolega sebenarnya sudah unggul, namun keadaan justru berbalik. “Lawan bermain pelan dan kami terbiasa main cepat, jadi kami tidak siap. Di gim ketiga kami lebih mencoba untuk bisa melawan diri sendiri, harus siap maju dan jangan tegang, lebih berani,” ujar Gloria. Sedangkan Hafiz menjelaskan bahwa permainan Zhan/Li berbeda dari biasanya. “Waktu pertemuan sebelumnya, dari awal mereka langsung mempercepat tempo permainan. Sekarang mereka banyak main bertahan, sebetulnya begini lebih menguntungkan buat kami. Tapi kami kaget dengan perubahan permainan mereka,” tutur Hafiz. “Waktu adu setting di gim ketiga, pasti tegang. Tapi kami yakin dengan diri kami sendiri, yang penting bolanya masuk, karena memang lawan sengaja main bertahan dengan mengangkat bola terus, jadi kami lebih enak untuk menyerang,” tambah Hafiz. Di laga selanjutnya, dobel Merah Putih pemilik ranking 7 dunia itu akan ditantang pasangan yang lolos kualifikasi asal India Utkarsh Arora/Karishma Wadkar. (Adt)