Menjadi Pelatih Panahan Merupakan Pilihan Bu Neng Untuk Menyalurkan Bakat dan Pendidikannya Di Olahraga

Bu Neng, pelatih panahan yang sudah mendidik banyak atlet panahan yang mengukir prestasi luar biasa.

Layaknya film box office yang berjudul Avatar pada sosok neytiri selalu menggunakan panah sebagai senjata ampuh melumpuhkan musuh dari jarak jauh. Berbeda dari film avatar yang menggunakan panahan menjadi senjata, pelatih panahan ini mengaplikasikannya dalam cabang olahraga. Sosok ramah yang bernama lengkap Neng Siti Sadiah telah di percaya menjadi pelatih olahraga panahan di SMPN 8 Tangsel, sosok familier ini sudah mengeluarkan banyak atlet-atlet muda panahan dan berhasil berprestasi dari berbagai macam ajang yang di gelar. Wanita yang biasa disapa dengan panggilan Bu Neng ini mulai berlatih panahan ketika duduk di bangku kuliah dan mengambil jurusan olahraga. Bu Neng mengatakan kepada NYSN bahwa di tahun 1991 dirinya sudah tergabung dalam tim panahan. “Sekitar tahun 1991, saya tergabung dalam tim panahan Jawa Barat dan beberapa kali mengikuti kejurnas.” ujar Bu Neng. Dan setelah menikah, Bu Neng mendapatkan pilihan sulit, yaitu berhenti berlatih panahan dan memutuskan untuk mengabdi menjadi PNS di wilayah Banten. Lalu seiring berjalannya waktu, tahun 2000, sudah sekitar 9 tahun berhenti memanah, naluri Bu neng sebagai seorang atlet panahan kembali muncul ketika dinas pemuda dan olahraga (Dispora) mencari atlet panahan untuk mengikuti Porprov Banten pada kali pertamanya. “Sulit mencari atlet panahan karena daerah Banten sama sekali belum ada. Akhirnya saya mencoba dan ternyata memang tehnik panahan itu tidak akan pernah terlupa, saya masih ingat semua tehnik tersebut. Hasilnya saya mendapatkan medali pada Porprov pertama kalinya di Banten.” sambung Bu Neng. Tak pernah lepas dari panahan, ibu ramah ini memaparkan perjuangannya dalam menekuni olahraga panahan. “Saya sempat kembali menjadi atlet sekaligus pelatih panahan. Tetapi karena sudah berkeluarga, saya harus memilih salah satu dari kedua profesi tersebut. Akhirnya, saya konsultasi dengan dosen saya semasa kuliah dulu, sekaligus pelatih panahan di Jawa Barat, karena saya sempat merasa bimbang ingin kembali ke Jawa Barat dan kembali mendalami panahan disana. Tetapi dosen saya melarang dan memotivasi saya untuk mengembangkan panahan di Banten. Akhirnya saya memutuskan menjadi pelatih panahan dan berhenti dari atlet. Karena saya akui saya sendiri tidak dapat lepas dari olahraga tersebut. Istilahnya sudah ketagihanlah.” lanjutnya. Lebih lanjut Bu Neng mengatakan, setelah konsultasi dengan ketua KONI Tangsel, akhirnya di tugaskan kembali untuk mengajar ekskul panahan di SMPN 8 tangsel. Lama kelamaan, peminat olahraga panahan semakin banyak bahkan dari luar sekolah yang dilatih Bu Neng. Tidak tanggung-tanggung akhirnya, Bu Neng membuat club panahan bernama Power Archery yang dibuka untuk umum. Bu Neng mengakui, mengembangkan panahan di Banten memang cukup sulit, salah satunya karena kendala peralatan yang kurang lengkap. Padahal menurut Bu Neng, panahan memiliki efek positif. Karena dapat melatih kesabaran, melatih fokus dan bisa melatih tubuh menjadi tegak. “Ada anak murid saya yang dulu sering bungkuk, selama ikut berlatih panahan dia sudah bisa berdiri tegak. Bahkan, ada salah satu anak murid saya yang punya kekurangan susah berkonsentrasi. Setelah konsultasi ke dokter, disarankan ikut olahraga yang melatih fokus. Akhirnya dia ikut panahan dan sekarang sudah mulai banyak kemajuan.” jelas Bu Neng, menceritakan sisi positif olahraga panahan. Di bawah bimbingan Bu Neng, sudah banyak atlet panahan yang mengukir prestasi luar biasa. Salah satu muridnya bahkan sudah mengikuti kejuaraan dan mendapatkan medali di Malaysia dan Bangkok. Dan sudah banyak muridnya yang dapat masuk ke SMA favorit mereka melalui jalur prestasi panahan yang mereka miliki. Namun, menurut Bu Neng masih ada beberapa kendala dalam olahraga panahan. Salah satunya adalah minimnya peralatan. “Kendala panahan salah satunya pada peralatan yang harganya cukup tinggi. Kalau sekolah alhamdulilah dapat bantuan dari BOSDA, salah satunya berupa busur. Kalau untuk club masih membutuhkan modal sendiri.” ujar Bu Neng. Bu Neng juga memberikan beberapa saran untuk kemajuan olahraga panahan khususnya di daerah tangsel. “Kalau untuk di daerah Tangsel, mungkin dari dinas pemuda dan olahraga masih kurang mengakomodir para pelatih. Contohnya untuk pelatihan khusus para pelatih juga belum ada yang khusus masing-masing cabang olahraga (CABOR). Yang sekarang sudah pernah diadakan adalah pelatihan gabungan para pelatih dari berbagai cabor. Saran saya, kalau bisa dikhususkan tiap cabor. Serta secara materi juga belum terlalu diperhatikan untuk pelatih maupun atlet.” saran Bu Neng.(crs/adt)

Judo: Kejar Beasiswa, Pemuda Ini Ngotot Ingin Masuk Akademi Militer

Dimas sang atlet judo

Judo yang berfocus pada tehnik bantingan dan kuncian yang sering di dengar pada istilah grappling ini di percaya mampu mengalahkan orang yang lebih besar. Dimas Aji Anggoro sudah mendalami olahraga judo sejak tahun 2013, siswa kelas 12 yang bersekolah di SMK Letris Indonesia ini tertarik mengikuti judo karena peminat dan clubnya masih bisa dikatakan sedikit jumlahnya, sehingga masih termasuk mudah untuk mengikuti kejuaraan bahkan sampai tingkat provinsi. Pemuda ini telah berhasil menyabet beberapa prestasi Dimas selama 4 tahun mengikuti judo antara lain: 1. Juara 1 Kejurda Tahun 2015, 2016, dan 2017 2. Juara 1 Jabodetabek Plus 3. Juara 3 Piala gubernur DKI 4. Juara 1 POPDA BANTEN tahun 2017 Prestasi yang sudah didapat oleh Dimas tak luput dari peran keluarganya yang selalu membantu Dimas untuk menyeimbangkan pendidikan dengan latihan judo. “Keluarga saya mendukung penuh. Tetapi pendidikan juga penting. Jadi ketika akan mengikuti ujian sekolah, saya akan tunda sementara latihan judonya.” ujar Dimas. Dimas juga mengakui, selama mengikuti judo, banyak kenangan lucu bersama dengan teman-teman sesama judonya dalam ajang popda. “Ketika saya ikut Popda di Pandeglang, banyak cerita seru bersama teman-teman seperjuangan. Kita bercanda seru sekali.” ungkap Dimas Dimas juga mengatakan kepada NYSN, bahwa dirinya pernah mengalami cidera ketika pertama kali mengikuti perrandingan judo. “Ketika mengikuti kejuaraan Porprov tahun 2014, sekaligus debut saya di kejuaraan judo, saya pernah mengalami cidera menjelang bertanding. Saat itu saya sedang melakukan pemanasan, jari kaki kelingking saya tidak sengaja menabrak kaki teman saya dan hampir patah.” cerita Dimas. Pelajar yang bercita-cita masuk akademi militer melalui jalur beasiswa dari prestasi Judo ini juga berpesan untuk selalu berjuang. “Perjuangan tidak mengkhianati hasil, lebih baik bermandikan keringat ditempat latihan dari pada berdarah-darah di pertandingan.” tutur Dimas.(crs/adt)

Menjadi Atlet Bowling Merupakan Langkah Rizal Mencari Kehidupan Yang Lebih Menjanjikan Kelak

Berat bola yang bervariasi dan hampir menyentuh ke semua lapisan umur, bowling menjadi primadona hobby yang menyenangkan. Berbeda dengan hobby, pemuda ini di nobatkan menjadi atlet bowling, ia sudah menggeluti olahraga tersebut sejak tahun 1995, tentunya sudah banyak prestasi yang diraihnya. Pria yang bernama lengkap Devi Rizal ini, bergabung dalam tim bowling provinsi Banten. Rizal mengakui kepada NYSN bahwa ia tertarik pada ruangan dingin dan dapat menarik penikmat bowling itu berlatih berjam-jam. “Yang membuat saya tertarik dengan bowling adalah karena membuat penasaran dan olahraganya dilakukan di dalam ruangan ber AC sehingga betah bermain berjam-jam.” ungkap Rizal. Prestasi Rizal dalam olahraga bowling sudah cukup banyak, mulai dari junior sampai saat terakhir dirinya membela tim bowling Banten pada ajang PON 2016 Jawa Barat. Berikut data yang berhasil di himpun oleh NYSN tentang prestasi Rizal adalah: 1. Juara 3 junior nasional di Kejurnas pekanbaru, Riau 2. Juara 1 Unila Open di Lampung 3. Juara 1 grade B di Spectra Open Bandung 4. Juara 1 Selekda Banten 5. 16 besar PON 2016 Jawa Barat Rizal yang masih menjalankan kuliah S2nya di Helsinki Metropolia UAS, Finlan ini juga tercatat menjadi pelatih bowling di wilayah Banten. Rizal menjelaskan, biasanya ketika awal berlatih bowling, calon atlet sering mengalami beberapa kendala. “Seringkali saat baru belajar bowling, kita akan terpeleset karena licin, atau bolanya tersangkut sehingga terbanting di lane bowling. Cidera juga cukup sering, apalagi saat mempelajari cara melempar yang lebih advance, terkadang jari tangan suka lecet, bahkan kaki terkilir dan banyak cidera lainnya.” jelas Rizal. Namun, Rizal sempat berhenti sementara dari bowling karena merasa jenuh dan masih minim prestasi.Namun ia tetap menekuninya, ia juga sangat bersyukur mempunyai teman-teman dan pelatih yang sangat mendukungnya. “Teman-teman dan pelatih nasional saya, salah satunya David Sitorus, mereka sangat berjasa bagi saya selama saya berjuang dalam dunia bowling.” ujar Rizal. Diakui Rizal, profesi sebagai atlet belum bisa menjanjikan untuk dijadikan pekerjaan tetap. Maka dari itu, Rizal tetap mencari ilmu setinggi-tingginya untuk masa depannya. “Sayangnya memang profesi sebagai atlet bowling belum bisa memberikan penghidupan yang pasti. Oleh karena itu, saya tetap mementingkan pendidikan demi pekerjaan tetap di masa mendatang.” kata Rizal. “Fokus di satu olahraga yang kita cintai, dengan semangat pantang menyerah akan membawa aura positif dalam menggapai cita-cita kita.” tutup Rizal.(crs/adt)

Zuan Sempat Ingin Berhenti Dari Karate Karena Sempat Merasa Di Curangi

Zuan saat sedang menerima medali

Sama seperti sahabatnya yang juga berlatih dalam club yang sama yaitu Bandung Karate Club (BKC) Dizhanajuani Arie Hidayat (17) sudah menggeluti olahraga karate sejak duduk di kelas 4 SD, totalitas membuat Zuan mendapatkan segudang prestasi. Siswa kelas 3 di SMKN 2, Kabupaten Tangerang ini sekarang tergabung dalam Bandung Karate Club (BKC). Zuan mengatakan kepada NYSN bahwa memiliki kemampuan olahraga beladiri itu dapat menjadi benteng pertahanan. “Menurut saya, memiliki kemampuan beladiri itu sangat dibutuhkan, karena itu saya tertarik untuk mengikuti olahraga karate.” kata pelajar yang biasa dipanggil Zuan ini. Zuan menambahkan bahwa dirinya tidak pernah merasa bosan, walaupun saat itu sempat berfikir untuk berhenti menekuni karate. “Saya tidak pernah merasa bosan dengan karate, tapi saya sempat berpikir ingin berhenti, karena pernah merasa dicurangi pada saat bertanding. Namun keluarga dan pelatih terus mendukung saya.” tutur Zuan. Zuan merasa sangat bersyukur karena sampai saat ini belum pernah mengalami cidera dan ia berharap tidak akan pernah mengalami hal tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Zuan juga mengatakan kepada NYSN bahwa ia bercita-cita menjadi atlet nasional. “Saya ingin sekali menjadi atlet nasional agar bisa mengharumkan nama Negara Indonesia. Untuk sekarang, saya sedang fokus berlatih karate untuk persiapan kejuaraan yang akan datang. Tentunya tidak ada prestasi yang bisa dicapai dengan mudah, semua butuh semangat, proses dan kerja keras.” ujar Zuan. Beberapa prestasi yang berhasil di koleksi oleh pelajar kelahiran Tangerang, tanggal 3 agustus, tahun 2000 ini adalah: 1. Juara 1 kumite junior (-55kg) walikota open 2. Juara 1 Kumite (-55kg) kejuaraan wilayah BKC 3. Juara 2 Kumite kelas bebas 02SN smk provinsi Banten 4. Juara 3 Kumite junior (-55kg) POPDA Banten 5. Juara 3 Kumite kadet -55kg Jusho Sha Mansapa Cup.(crs/adt)

Masih Sering Terasa Sakit Di Kaki, Gadis Periang Ini Tetap Ngotot Tekuni Judo

Salah satu tujuan kesetaraan gender adalah merupakan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. Seperti yang di lakukan oleh Tri Yuli Andriani, siswi kelas 11 di SMAN 5 Tangsel, sejak tahun 2013 sudah menggeluti olahraga judo yang di identikan olahraga laki laki, Yuli sendiri sudah tergabung dalam Club Rajawali Judo Tangsel. Dalam pandangan Yuli, ketertarikannya terhadap judo karena olahraga judo berbeda dari yang lain. “Bagi saya, olahraga judo berbeda dengan beladiri yang lain. Makanya saya tertarik.” ujar pelajar yang akrab disapa Yuli ini. Eksistensinya terhadap judo sudah berhasil meraih beberapa penghargaan, adapun beberapa Prestasi Yuli dalam olahraga Judo diantaranya: 1. Juara 3 Porprov 2014 tingkat provinsi 2. Juara 2 piala gubernur cup 2015 3. Juara 3 Popda 2016 tingkat provinsi 4. Juara 2 walikota cup 2016 tingkat provinsi 5. Juara 2 Budhi EXPO 2016 6. Juara 3 kejurnas Kartika cup 2017 7. Juara 2 Kejurda 2015 8. Juara 1 Kejurda 2016 9. Juara 1 Kejurda 2017 10. Juara 3 Sambo Nasional 2016 11. Juara 3 jujitsu Nasional 2016 12. Juara 3 jujitsu Nasional 2015 Gadis periang ini juga pernah mengalami kejadian lucu selama mengikuti judo, dirinya pernah secara tidak sengaja buang angin saat sedang randori. “Pengalaman lucu selama ikut judo yang tidak bisa aku lupakan sampai saat ini adalah ketika aku tidak sengaja buang angin ketika randori.” candanya Lebih lanjut siswi yang bercita-cita ingin menjadi TNI ini juga pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kakinya sempat cidera dan hampir patah. “Pernah pada tahun 2014 saat rebutan juara 3, tangan saya hampir patah dan sampai sekarang masih sering kumat kalau latihan.” kata Yuli Wanita tangguh yang lahir pada tanggal 29, tahun 2000 ini juga sempat mengatakan bahwa latihan yang keras terus di lakukan untuk meraih prestasi. “Harus semangat dalam latihan, jangan pantang menyerah. Jika kalah dalam pertandingan jangan putus asa, tetap semangat karna kegagalan adalah kunci kesuksesan dan sebuah pelajaran dimana harus latihan lebih keras lagi.” tutup Yuli.(crs/adt)

Dari Bola Kayu Woodball, Ahris Berhasil Jadi Juara Dunia

Ahris yang telah membawa nama Indonesia dalam kejuaraan woodball tingkat dunia lewat beberapa prestasi terbaiknya, yaitu peringkat 1 pada kejuaraan dunia tahun 2010, 2011 dan 2016

Woodball olahraga yang mirip dengan golf, hanya saja bola yang di pukul ke arah yang di inginkan terbuat dari kayu. Ahris Sumariyanto, merupakan atlet olahraga woodball atau biasa dikenal dengan sebutan bola kayu sejak tahun 2009, disaat duduk di bangku kuliah semester 3. Pria yang sedang menjalani kuliahnya di Universitas Negeri Semarang (UNS) jurusan Magister Olahraga semester akhir ini melihat peluang untuk dapat mengharumkan nama bangsa lewat olahraga tersebut. “Saya tertarik dengan woodball karena saya yakin, saya sangat punya peluang untuk dapat membela merah putih lewat olahraga ini.” tegas Ahris.(10/7) Prestasi Ahris dalam bidang olahraga woodball sudah tidak diragukan lagi. Dirinya termasuk atlet yang telah membawa nama Indonesia dalam kejuaraan woodball tingkat dunia lewat beberapa prestasi terbaiknya, yaitu peringkat 1 pada kejuaraan dunia tahun 2010, 2011 dan 2016. “Saya pernah berpikir untuk berhenti dari woodball, karena ketika itu bagi saya kurang memberikan masa depan. Untuk rasa bosan pasti ada, tapi kalau hanya itu tidak akan membuat saya berhenti.” ujar Ahris. Ahris juga mengakui, bahwa doa seorang ibu adalah hal terkuat yang dapat membuatnya seperti sekarang. “Atas jasa ibu saya, saya jadi bisa melihat dan merasakan semangat api membara secara nyata dan kekuatan doa ibu yang yang dapat mempengaruhi alam.” tutur Ahris. “Begitu juga dengan Drs. Kriswantoro, Bambang Sulistyo dan Sutarno. Mereka adalah para pelatih saya yang sangat berjasa. Serta atlet woodball taiwan dan thailand yang menjadi idola saya. Dan tidak lupa orang-orang yang telah meremehkan saya. Semuanya membuat saya semakin berprestasi.” lanjut pria kelahiran 4 September ini. Ahris juga mengatakan kepada NYSN bahwa dirinya berharap kedepannya woodball terus bisa mengharumkan nama Indonesia dan juga dapat memberikan sumbangsih kepada Negara ini baik dari sisi atlet maupun pelatihnya. Terakhir, Ahris menutup percakapannya bersama reporter NYSN dengan memberikan 5 hal yang dianggapnya adalah kunci untuk menuju sebuah prestasi dan kesuksesan. “Kuncinya adalah disiplin, kerja keras, tanggung jawab, jujur dan selalu menghargai orang tua. Itu adalah hal yang selalu saya pegang dalam hidup.” kata Ahris.(crs/adt)

Berkat Sensasi Bebas Yang Dirasakaan Saat Panjat Tebing, Membuat Remaja Ini Bertekad Menjadi Atlit Profesional

panjat tebing

Konon umumnya mencapai puncak teratas dalam mendaki gunung adalah sebuah kebanggan tersendiri, selain dapat melihat sekelilingnya dari tingkat yang lebih tinggi, ternyata proses pendakiannya yang menjadikan sebuah pelajaran. Beda tipis dengan mendaki gunung, Mohamad Abbiyya Sakha, siswa kelas 3 di SMPN 4 Tangsel ini mengawali karirnya sebagai atlet panjat tebing sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Abbi, begitu biasa ia dipanggil, tergabung dalam club panjat tebing FPTI dan termasuk atlet yang berprestasi di bidang olahraga tersebut. Abbi mengatakan kepada NYSN bahwa berlatar belakang kebebasan jiwa muda yang mendorongnya menekuni olahraga yang satu ini “Yang membuat saya menyukai olahraga ini adalah ketika saya memanjat dan sudah berada di atas, saya merasakan sesuatu yang membuat saya merasa bebas.” ujar Abbi. Abbi mengakui, ia merasa bersyukur karena orang-orang di sekitarnya sangat mendukung dirinya untuk menjadi atlet panjat tebing, terutama keluarganya. “Ayah saya dan pelatih saya adalah orang yang paling berjasa dalam perjuangan saya selama menjadi atlet.” kata Abbi. Abbi pernah mendapat juara 1 di kompetisi PORKOT Kota Tangerang Selatan yang di gelar oleh KONI, dan itu adalah hal yang tidak bisa ia lupakan, dimana dirinya mendapatkan juara 1 untuk pertama kalinya. 5 tahun menggeluti olahraga ekstrim ini, atlet binaan KONI Tangsel ini pernah mengalami cidera pada kaki kanan. “Ya, saya pernah cidera beberapa bulan yang lalu saat latihan pada kaki kanan saya, tepatnya di bagian mata kaki. Lumayan sakit karena memanjat mengutamakan kekuatan kaki juga.” tutur Abbi. Abbi menjelaskan bahwa saat dewasa nanti, ia ingin menjadi pelatih panjat tebing. Maka dari itu, ia selalu giat berlatih agar bisa mewujudkan impiannya.(10/7) “Kelak suatu hari nanti, saya ingin menjadi seorang pelatih panjat tebing.”ungkapnya Selain itu Abbi menitipkan pesan kepada NYSN, untuk menjadi atlet professional kita perlu berjuang dengan sekuat tenaga “Untuk siswa siswi yang ingin menjadi atlet profesional, kejarlah mimpi kalian dengan berjuang menggunakan sekuat tenaga yang kalian miliki.” tutup Abbi.(crs/adt)

Lewat Prestasi Olahraga Panahan, Emirah Bertemu Dengan Sang Presiden

Menarik anak busur yang diarahkan ke target yang di inginkan sangat membutuhkan ketenangan ini sudah menjadi rutinitas latihan Emirah, siswi SMPN 8 Tangsel, sudah berlatih panahan sejak tahun 2014. Remaja yang baru naik ke kelas 9 ini mengikuti ekskul panahan yang ada di sekolahnya dan tergabung terdaftar sebagai anggota Club Power Archery. “Awalnya saya terinspirasi oleh kakak saya yang sudah lebih dulu menggeluti panahan dan banyak memenangkan perlombaan, sehingga saya tertarik untuk bisa berlatih panahan. Selain itu panahan juga termasuk sunah rosul di agama islam.” kata Emirah Gadis belia ini telah meraih banyak prestasi dan berikut beberapa diantaranya adalah: 1. 5 medali emas dalam 5 kategori berbeda di Kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah ( POPDA) Banten 2016 2. 2 medali emas di Binus Indoor National Archery Championship 2016 3. 1 medali emas, 1 medali perak dan 1 medali perunggu di Kejuaraaan Bogor Open 2017 Melalui olahraga panahan, Emirah juga mendapatkan pengalaman yang sangat berharga baginya, yaitu bertemu dengan Presiden Indonesia. “Pada kompetisi Bogor Open 2017, saya mendapatkan kesempatan bertemu dengan Presiden Indonesia, yang tak lain adalah bapak Joko Widodo. Saya juga sempat berfoto bersama dengan beliau. Rasanya senang sekali.” tutur Emirah. Emirah juga mengakui, bahwa kesuksesannya meraih prestasi tak luput dari dukungan dan bantuan dari orang-orang disekitarnya. “Saya sangat bersyukur kepada yang diatas yaitu Allah SWT, karena saya sudah bisa menjadi seperti ini. Dan juga kepada pelatih saya bu Neng Siti Sadiah serta keluarga dan teman teman sesama tim panahan.” ujar Emirah. Emirah juga mengatakan kepada NYSN bahwa ia tidak akan berhenti memanah, dan akan dijadikan sebagai hobby. Karena dirinya tidak terbiasa untuk tidak berlatih panahan dalam waktu yang lama. “Setelah lulus SMA nanti, saya mempunyai keinginan kuliah di Sekolah Tinggi Akutansi Negara, dan olahraga panahan akan saya jadikan sebagai hobby dan mengisi waktu luang saya.” jelas Emirah.(7/7) Lebih lanjut Emirah juga berpesan dalam bahasa inggris yang artinya rancanglah keberhasilan dan jangan pernah berhenti sampai tujuan tercapai. “Set your goals high and don’t stop till you get there” tutupnya.(crs/adt)

Berprestasi Dalam Bidang Olahraga Wushu Membuat Atlet Yang Satu Ini Di taksir Banyak Perempuan

Fatih yang berhasil merebut beberapa penghargaan dalam ajang wushu nasional

Wong Fei Hung, Fong Say Yuk, Huo Yuan Jia, Bruce Lee, dan Jet Lee adalah aktor yang sekaligus mendalami dan mempopulerkan silat yang masuk kategori olahraga Wushu. Mendapatkan banyak perhatian dari pecinta para tokoh film di atas, Atlet wushu muda indonesia, Fatih Fahada Akram (11), sudah menggeluti wushu sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak dan sekarang sudah naik ke kelas 6 SDN Sukasari 5 Tangerang. Agus Sarulloh, yang tak lain adalah ayahanda Fatih, mengakui bahwa Fatih termasuk anak yang sangat aktif. “Pada dasarnya Fatih merupakan anak yang sangat aktif. Fatih tertarik berlatih wushu ketika tidak sengaja melihat latihan wushu di sebuah sekolah yaitu SD Islamic Village. Setelah itu Fatih bergabung dengan club Gelora Wushu Indonesia.” tutur Agus. Agus menjelaskan kepada NYSN, bahwa Fatih sudah mendapatkan cukup banyak prestasi sejak tahun 2012. Beberapa prestasi yang telah dimiliki oleh Fatih antara lain: 1. Penampil Terbaik Acara Eat Bulaga SCTV 2012 2. Juara 2 Aksi Susu Zee Se Panongan 2012 3. Medali Perak Chan Quan D, Medali Perak Dao Su C, dan Gun Su D dalam Kejurda Banten 2015 4. Medali Emas Chan Quan C, Medali Perak Gun Su C dan Medali Perak Dao Su C dalam Kejurnas Kungfu Cibubur Jakarta 2017 Agus menambahkan bahwa selama mengikuti wushu, putranya tidak pernah ketinggalan pelajaran umum. “Selama ikut Wushu, Fatih tak pernah tinggal kelas. Fatih juga tidak ikut bimbel. Alhamdulillah pelajaran juga tidak tertingggal.” ujar Agus.(7/7) Agus juga mengatakan kepada NYSN, bahwa Fatih pernah mengikuti tes kecerdasan ketika berada di karantina pemilihan King and Queen Froggy Edutograpgy. Dan hasilnya kecerdasan fatih adalah Inter Personal. “Saya tidak pernah menjanjikan hadiah ke Fatih. Saya hanya memotivasi untuk terus semangat latihan dan berprestasi. Fatih juga punya kecerdasan kinestetik.” kata Agus Agus mengakui, prestasi wushu anaknya yang bercita-cita menjadi pilot ini membuat Fatih banyak digandrungi oleh teman-teman perempuannya. “Iya, banyak cewek yang naksir, sampai ada yang kasih bunga segala.” cerita Agus seraya tertawa. Menjelang kejuaraan, biasanya Agus memberikan asupan makanan tambahan untuk anaknya seperti susu, keju dan buah-buahan. Dan memberikan pantangan makanan kepada Fatih yaitu minuman yang mengandung soda dan pemanis buatan. Ayah yang satu ini juga berpesan kepada pembaca NYSN, bahwa hal penting bagi anak adalah support dan dukungan. “Untuk para orang tua, berilah dukungan maksimal terhadap potensi yang dimiliki oleh anak kita.” pesan Agus.(crs/adt)

Hebat, Dari Panahan, Siswa SMU Ini Rebut Total 32 Buah Medali

Reza, remaja yang berhasil meraih 32 buah medali panahan dari prestasinya baik di tingkat propinsi maupun nasional

Jika kita tarik dalam sejarah tokoh dalam pewayangan, dimana panahan merupakan alat berburu para ksatria seperti Arjuna, Sumantri, Ekalaya, Dipati Karno, Srikandi demikian pula Dorna. Panahan juga sangat populer dan di kemas dalam cerita Mahabharata. Mohammad Reza Maulana Jatmiko, Siswa SMAN 2 Tangsel, merupakan atlet olahraga panahan sejak 4 tahun lalu, dan dirinya tergabung dalam club Power Archery Club. Reza memaparkan kepada NYSN bahwa dorongan orang tua yang menyuruhnya menekuni olahraga panahan.(7/7) “Awalnya, sih ga ada niatan ikut, tapi orang tua saya meminta saya untuk mengikuti kegiatan ini.” ujar Reza. Ternyata, orang tua Reza tidak salah memilih bidang olahraga untuk anaknya. Terbukti dari berbagai prestasi yang telah diraih Reza selama ini. Beberapa diantaranya adalah juara 1 Aduan Putra Binus National Indoor Archery Competition, juara 1 Aduan Putra Pelajar Sirkuit Panahan DKI Jakarta, dan juara 1 Aduan Putra Recurve Popda Banten 2016. Secara keseluruhan Totalnya berjumlah 32 buah medali dan Piala tingkat Provinsi dan Nasional. “Waktu itu saya pernah tidak sengaja menembak target orang dan akhirnya saya malah dikenakan sanksi serta tembakan saya tidak dihitung poinnya. Mungkin saat itu saya kurang fokus makanya menembaknya meleset.” Papar Reza mengutarakan kisah lucu yang pernah di alaminya Reza juga mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami cidera di jari yang membuatnya tidak dapat bertanding secara maksimal. “Ketika saya sedang mengikuti sebuah kejuaraan, saya sedang memperbaiki alat saya sebelum maju untuk bertanding. Dan tidak sengaja jari saya terluka lumayan parah karena terkena cutter. Akibatnya saya jadi tidak bisa bertanding dengan maksimal.” tutur Reza. Reza yang bercita-cita ingin menjadi Dokter ini juga berpesan bahwa kita tidak boleh melakukan setengah hati dalam melakukan sesuatu. “Jangan pernah setengah hati dalam melakukan sesuatu. Karena semua bisa dicapai dengan niat dan terus berlatih.” pesan Reza.(crs/adt)

Taekwondo Yang Mengajarkan Robby Tentang Rasa Takut Berubah Menjadi Pemberani

Robby yang berhasil menyabet juara 1 Popda se-Banten, juara 1 Kejurda, juara 1 Bupati Cup, dan juara 1 Kejurda Kalbar

Pantang menyerah sudah menjadi semboyan perjuangan para atlet indonesia, dan berusaha memberikan terbaik merupakan harapan bagi semua pribadi-pribadi unggul pada umumnya Abdu Robby Rasul Sayyaf Al Thohari sudah menjadi atlet taekwondo sejak kelas 4 SD. Pelajar yang baru lulus dari SMA Muhammadiyah Pamulang ini bercerita kepada NYSN bahwa taekwondo membuat dirinya menjadi seorang pemberani. “Saya ikut taekwondo sejak kelas 4 SD, karena dulunya saya penakut. Sejak masuk taekwondo, saya tidak jadi penakut lagi karena dalam taekwondo kita diajarkan untuk disiplin dan berani dalam menghadapi masalah. Misalnya ketika akan bertanding kita diajarkan untuk berani melawan tanpa rasa takut, karena itu saya suka dengan taekwondo.” kata Robby.(6/7) Robby mengakui, peran orang tuanya sangatlah penting dalam perjalanannya menjadi atlet taekwondo. Orang tuanya jugalah yang selalu menyemangati Robby menghilangkan rasa putus asa yang terkadang datang dalam pikirannya. Semangat dari orang tuanya juga sudah mengantarkannya menjadi atlet taekwondo berprestasi antara lain juara 1 Popda se-Banten, juara 1 Kejurda, juara 1 Bupati Cup, dan juara 1 Kejurda Kalbar.   Selama masa sekolah, Robby juga bersyukur karena mempunyai guru yang mendukungnya dan ia tidak pernah lupa untuk melakukan konsultasi kepada sang guru terkait nilai-nilai sekolahnya agar tetap baik. Robby menambahkan bahwa dirinya juga sering cidera seperti lebam ringan dan sempat pula mengalami pergeseran tulang. Tapi semua hal itu diyakininya tidak akan membuatnya menyerah berlatih taekwondo. “Cidera pernah, tapi itu tidak akan membuat saya kapok untuk berlatih.” ujar calon mahasiswa kelahiran Jakarta, 20 Juli 1998 ini. “Saya ingin menjadi tentara. Saya juga ingin sukses dan membanggakan orang tua. Pastinya saya juga akan mengembangkan taekwondo.” lanjut Robby. Robby juga berpesan bahwa jika ingin berprestasi dalam taekwondo, kuncinya adalah jangan pernah menyerah. “Untuk kawan-kawan taekwondoin yang sedang berjuang, teruskan perjuangan kalian bahkan sampai ke jenjang olimpiade. Jangan menyerah selagi nafas masih berhembus.” tutupnya.(crs/adt)

Menjadi Atlet Sepatu Roda Bukan Prioritas Utama Yang Di Jadikan Pekerjaan Tetap

Aulia yang berhasil merebut juara 1 pada jarak 300 meter dalam V3 Open tahun 2015, peringkat 4 300 meter dalam Pon Jabar 2016, dan peringkat 6 dalam Seleksi Nasional Asian Games

Salah satu atlet sepatu roda bernama Aulia Abdul Gaffar, seorang mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang lahir di Jakarta, pada tanggal 17 November 1996. Mengawali karirnya sejak usia 4 tahun mengakui tertarik dengan olahraga tersebut karena dirasa cukup ekstrim.(6/7) “Saya tertarik karena olahraga ini cukup ekstrim. Kita bisa kebut-kebutan untuk berebut posisi atau menentukan siapa yang juara. Awal latihan saya tergabung dalam Jakarta Inline Cruiser.” ujar mahasiswa yang biasa dipanggil dengan sebutan Aul. Beberapa prestasi yang telah dimiliki Aul dalam olahraga sepatu roda antara lain adalah, juara 1 pada jarak 300 meter dalam V3 Open tahun 2015, peringkat 4 300 meter dalam Pon Jabar 2016, dan peringkat 6 dalam Seleksi Nasional Asian Games. Aul menambahkan kepada NYSN bahwa prioritas pertamanya terjun ke olahraga sepatu roda bukan untuk mengejar gelar juara, tapi lebih untuk menambah jam terbang pengalaman. “Saya sejak kecil langsung diikutkan dalam pertandingan biar dapat banyak pengalaman terlebih dahulu.” ujar Aul. Aul juga mengatakan bahwa orang tuanya mendukung dirinya menjadi atlet sepatu roda, walaupun sebelumnya sempat melarang karena Aul sering terjatuh dan terluka saat berlatih. “Ya, orang tua saya pernah melarang karena saya sering jatuh dan mengalami luka-luka, namun saya tetap bersikeras melakukan apa yang saya mau. Dan pada akhirnya orang tua saya semakin mendukung saya, para pelatih dan senior-senior saya juga sangat membantu saya selama berlatih sepatu roda.” kata Aul, yang telah memasuki semester 4 dalam kuliahnya. “Saya ingin membahagiakan orang tua saya. Mungkin olahraga bukan rencana untuk jangka panjang, pastinya nanti akan mencari pekerjaan tetap seperti pegawai negeri sipil (PNS) atau yang lainnya. Tapi saya tetap ingin menjadi atlet sepatu roda. Sekarang saya sedang mengikuti training camp untuk Sea Games Ice Skating Short Track, semoga kedepannya saya bisa menjadi atlet profesional dan dapat lebih baik lagi.” Tutupnya.(crs/adt)

Panjat Tebing: Meski Senang Dengan Olahraga Ekstrim, Gadis Belia Ini Pun Pernah Menangis Karena Takut

Selain merupakan olahraga yang menantang, panjat tebing juga di percaya dapat meningkatkan fleksibilitas dan juga melatih keseimbangan. Mengangkat beban tubuh sendiri juga terbukti manjur mengontrol berat berat badan. Salah satunya atlet yang tertarik dengan olahraga panjat tebing ini bernama Sabrina Syarifah Calidris (12), yang juga merupakan siswi kelas 1 di SMPN 4 Tangsel yang telah berlatih memanjat sejak duduk di bangku kelas 1 SD, dan saat ini dirinya tergabung dalam club Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Tangerang Selatan. Gadis belia yang akrab di sapa dengan sebutan Sabrina ini mengatakan kepada NYSN, bahwa dirinya tertarik dengan olahraga yang memiliki tantangan tersendiri.(5/7) “Awalnya saya melihat ayah saya yang dulunya adalah pemanjat. Saya juga ikut mencoba-coba sampai akhirnya tertarik dengan olahraga tersebut. Kebetulan saya juga sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan tantangan.” ujar Sabrina. Sudah cukup banyak Prestasi Sabrina di dalam menekuni olahraga panjat tebing, antara lain: 1. Porprov Banten 2014 Peringkat 1 kategori Lead spider kid 2. Kejurprov Banten 2015 peringkat 3 kategori Lead spider kid dan kategori Speed 3. Kejurprov Banten 2016 Peringkat 2 kategori Lead spider kid dan peringkat 1 kategori speed 4. Porkot Kota Tangsel peringkat 2 kategori Lead Spider kid dan kategori Speed Meskipun sibuk berlatih memanjat, Sabrina tidak lupa akan pendidikannya di sekolah. Orang tuanya juga selalu mengingatkan Sabrina untuk membagi waktu sekolah dan latihan dengan baik. “Yang pasti orang tua saya tidak pernah bosan memperingatkan bahwa sekolah itu yang terpenting. Jadi saya selalu membagi waktu latihan memanjat dengan kegiatan sekolah. Allhamdulilah selama ini tidak ada masalah dengan sekolah saya.” tutur Sabrina. Sabrina juga bersyukur bisa mendapatkan teman-teman yang kompak lewat olahraga yang ia geluti. Mereka selalu saling mendukung satu sama lain. “Waktu ikut kejurnas di Yogyakarta, itu adalah pertama kalinya saya pergi tidak bersama dengan orang tua saya. Apalagi umur saya masih sangat muda ketika itu. Dan saya merasa sedih ketika naik kereta saya menangis karena takut. Tapi teman-teman selalu berusaha menghibur saya sampai akhirnya saya terbiasa.” kata Sabrina. Lebih lanjut Sabrina juga mengatakan bahwa olahraga panjat tebing sebagai wujud semangat yang di dedikasikan untuk orang tuanya dan juga untuk mengharumkan nama bangsa. “Saya ingin menjadi atlet panjat tebing profesional sampai tingkat dunia agar saya bisa membanggakan orang tua saya dan juga negara Indonesia.” tutup Sabrina.(crs/adt)

Lakukan 10 Langkah Ini Agar Mudah Menguasai Ice Skating

Bosan dengan olahraga yang anda sering lakukan selama ini yang terasa monoton dan membosankan? Atau butuh suasan ataupun tempat baru untuk berolahraga? mungkin anda bisa mencoba ice skating untuk olahraga selingan supaya bisa memvariasikan olahraga dan aktivitas anda supaya lebih menarik. Suasana yang di dapat di tempat olahraga ini juga berbeda! Di ruangan yang sejuk dengan berlantaikan kubikel-kubikel es beku yang mampu membuat tubuh merasa kedinginan. Untuk anda yang baru ingin mencoba olagraga ini di anjurkan untuk Selalu dalam bimbingan pelatih ahli untuk membantu Anda dengan dasar-dasar ice skating. Seorang pelatih yang baik membantu meminimalkan risiko yang terlibat dan memastikan Anda mempelajari cara yang benar. Penting untuk diketahui bahwa ice skating tidak mudah dikuasai secara alami oleh semua orang. Seorang pemula harus belajar dengan membiasakan diri dengan rinks ice. menyewa sepatu ice skating sebagai pengenalan awal merupakan pilihan yang tepat bagi pemula. Bagi pemula berikut 10 tips dan cara bermain Ice Skating dengan aman 1. Dapatkan Sepatu Yang Baik Berdasarkan pengalaman faktor sepatu ini sangat mempengaruhi, tidak boleh kebesaran atau kekecilan, harus pas, kalau tidak kaki akan terasa sakit karena posisi kaki di sepatu tidak pas. 2. Gunakan Kaos Kaki Yang Tebal Kaos kaki di sini diwajibkan oleh pengelola. Karena suhu arena dingin dan lembab maka otomatis kaki kita juga akan lembab dan basah, akibatnya jika tidak menggunakan kaos kaki yang tebal maka kaki kita akan lecet-lecet atau kapalan, dan itu baru akan terasa di luar arena, ketika suhu kaki kita mulai normal kembali! 3. Gunakan Sarung Tangan Sarung tangan di sini sebenarnya diutamakan bagi pemula, karena kemungkinan besar kalian akan jatuh bangun di es, jangan sampai tangan kalian membeku! 4. Ikat Tali Sepatu Dengan Benar Ikat sepatu yang terlalu ketat akan menimbulkan mati rasa pada kaki. Sedangkan, jika terlalu longgar tidak akan memberikan dukungan yang tepat bagi pergelangan kaki. 5. Pemanasan dan Peregangan Otot Kaki Sebelum memakai sepatu, cobalah untuk melakukan pemanasan seperti lari-lari kecil, dan lainnya. Hal ini cukup penting mengingat suhu arena yang dingin dapat membekukan otot kaki kita 6. Mulai Meluncur Belajarlah meluncur secara perlahan dengan sedikit menekuk lutut dan meletakan tumpuan berat badan di depan. Buka tangan lebar di samping badan untuk mendapatkan keseimbangan di atas es. Lakukan ini di pinggir arena, di mana ada pegangan agar kalian tidak mudah terjatuh. Jika telah merasa agak terbiasa barulah mulai meluncur mengikuti arah. Buat pemula seperti kita jangan coba-coba meluncur mundur, karena masih berbahaya, kita dapat terhempas ke belakang lalu kepala kita membentur es. 7. Eits..Kalo Bisa Meluncur, Harus Belajar Berhenti Untuk berhenti, tekuk lutut, putar jari ke dalam kaki, arahkan tumit kalian keluar, dan dorong keluar tumit kalian. Ini akan memperlambat kalian dan membawa Anda berhenti. 8. Jangan Melihat Ke Bawah Begitu banyak para pemula yang selalu memperhatikan kakinya saat berseluncur, padahal ini adalah salah. Lebih baik kalian melihat ke depan, setidaknya kalian tahu siapa yang akan kalian tabrak. 9. Meluncur Di Arah Yang Benar Biasanya ada aturan untuk mengikuti arah skaters lainnya. Ada yang searah jarum jam tetapi ada juga yang berlawanan arah jarum jam. Jangan coba-coba melawan arah ini karena bisa berakhir melukai diri sendiri bahkan orang lain 10. Jangan Terlalu Serius Ini yang paling penting, saat kalian jatuh maka tertawa lah.. Semua skaters hebat pasti berawal dari jatuh bangun. So don’t worry, just be happy! Itu lah tips dan teknik untuk belajar meluncur diatas es bagi para pemula olahraga Ice skating, semoga dapat bermanfaat.

Pernah Mimisan Karena Tinju, Pemuda ini Tetap Ngotot Kejar Prestasi Demi Masuk Universitas Negeri

Pernah Mimisan Karena Tinju, Pemuda ini Tetap Ngotot Kejar Prestasi Demi Masuk Universitas Negeri

Layaknya petarung sejati dengan istilah man to man, merupakan kebanggaan tersendiri bagi kesatria olahraga tinju, berdiri di atas ring beralaskan matras, juga menggunakan sarung tangan tebal di percaya mampu melindungi tubuh dari pukulan yang berakibat fatal. Rheza Nugroho Widiyanto merupakan seorang atlet tinju muda yang bersinar di belantika sasana kejuaraan tinju, Rheza sudah mengantongi banyak medali berkat prestasinya dalam olahraga tinju. Pelajar yang baru saja naik ke kelas 12 di SMAN 7 Tangsel ini mengatakan kepada NYSN bahwa berlatih tinju karena ingin punya keahlian dan juga untuk beladiri. “Waktu itu sebelum saya masuk SMP saya ikut kelas olahraga. Kebetulan ada olahraga tinju dan kebetulan juga ada teman saya yang ikut. Saya juga ingin punya keahlian dan punya kemampuan beladiri.” ungkap Rheza. “Saya memilih tinju karena tinju itu seni beladiri yang agung. Bagaimana kita bisa memukul lawan tapi lawan tidak bisa memukul kita. Otot saja tidak cukup, tapi kepintaran yang menentukan kemenangan seorang petarung.” lanjut Rheza. Menekuni olahraga tinju sejak kelas 6 SD, dan hingga saat ini Reza telah mengumpulkan berbagai prestasi, diantaranya: 1. Medali perak Kejurda tingkat provinsi 2013 2. Medali emas Popda tingkat Provinsi 2014 3. Medali perunggu Kejurnas PPLP medan 2015 4. Medali perak Popda tingkat Provinsi 2016 5. Medali emas Porkot tingkat Kota 2016 6. Medali perak Kejurnas PPLP tingkat Nasional 2016 7. Medali perak Kejurnas umum se-Indonesia 2016 8. Medali perak Kejurda tingkat Provinsi 2017 9. Medali perunggu Kejurda tingkat Provinsi 2017 10. Medali emas Rookie Fight se-Indonesia 2017 Walaupun kadang jadwal pertandingan bersamaan dengan waktu belajar di sekolah, sehingga Rheza harus meminta izin kepada pihak sekolah untuk mengikuti pertandingan, tetapi bagi Rheza itu bukan masalah dan dirasa tidak mengganggu nilai-nilainya. Rheza menambahkan bahwa dirinya pernah cidera pada saat pertama kali ikut pertandingan. “Waktu pertama kali ikut pertandingan, hidung saya bocor, pecah dan mimisan. Kejadian itu menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan.” kata Rheza menceritakan pengalamannya. Remaja berusia 17 tahun tersebut juga mengatakan kepada NYSN bahwa terkadang ia kurang menyukai jika harus mengontrol berat badannya beberapa minggu sebelum menghadapi pertandingan.(5/7) “Hal yang kurang saya sukai itu biasanya sebelum pertandingan harus mulai mengontrol berat badan. Karena tinju itu olahraga yang menggunakan kategori sesuai berat badan kita dalam pertandingan, jadi setiap kita mau bertanding kita harus mempertahankan berat badan, tidak boleh overweight, karena jika sampai overweight kita harus menanggung resikonya misalnya tidak bisa ikut bertanding.” ujarnya Rheza juga mengatakan, selain harus menjaga berat badan agar tetap stabil, dirinya juga harus jaga pola makan serta latihan yang teratur. Biasanya, beberapa hari sebelum pertandingan, Rheza menghindari nasi dan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan. Menurut remaja yang bercita cita ingin menjadi seorang polisi atau tentara, berprestasi di bidang olahraga tinju bisa membantunya untuk masuk ke Universitas Negeri dengan menggunakan beberapa sertifikat kemenangan yang sudah dimilikinya. Rheza juga berencana akan menggunakannya ketika lulus dari SMA dan mendaftar ke Universitas yang diinginkannya melalui jalur prestasi. “Setelah lulus SMA nanti rencananya mau daftar di UNJ. Sebenarnya masih bingung jurusan apa, tapi kalaupun saya ambil bidang olahraga otomatis saya tetap akan di olahraga tinju. Nanti setelah selesai kuliah saya mau melanjutkan pendidikan wajib militer karena saya ingin menjadi polisi atau tentara.” jelas Rheza. “Jangan takut untuk ikut tinju, tinju itu olahraga seni bukan olahraga yang mematikan dan berbahaya. Semua orang bisa ikut tinju dari anak kecil sampai dewasa, pria maupun wanita semua bisa ikut tinju untuk melatih ketangkasan dan beladiri.” pesannya (crs/adt)

Upaya Orang Tua Dalam Mensupport Semua Kegiatan Baseballnya Berbuah Prestasi

Reagan saat mendapatkan medali emas dalam kejuaraan Mustang U-10 Asia Pacific Series

Memantau perkembangan anak kandung yang di sayangi merupakan tanggung jawab orang tua, dan begitupun sebaliknya, berprestasi untuk membanggakan kedua orang tua dan juga membahagiakannya merupakan keseharusan. Reagan Pangea Cherdasa, yang masih duduk di kelas 6 SD di Santa Laurensia, Alam Sutera, Kota Tangerang, sudah mengikuti baseball sejak usia 6 tahun. Jeres Rorym Cherdasa, yang tak lain adalah ayahanda Reagan mengatakan kepada NYSN bahwa ketika itu Reagan baru masuk SD dan sedang memilih ekskul yang hendak ia ikuti. Jeres sempat menawarkan untuk bergabung dalam ekskul baseball, lalu Reagan menyetujuinya.(4/7) Sejak saat itu, Reagan tergabung dalam tim baseball di sekolahnya bernama Lorenz. Latihan demi latihan Reagan jalani bersama anggota tim baseball lainnya, sampai akhirnya mereka dapat mengukir berbagai prestasi di tingkat nasional bahkan sudah sampai pada tingkat internasional. Beberapa prestasi yang telah diraih oleh Reagan dan timnya adalah: 1. Juara 1 PONY Mustang U-10 Asia-Pacific Series di Singapore 2017 2. Juara 2 IBA Nankyu Boys Tournament di Singapore 2015 3. Juara 1 PONY MUSTANG U-10 Indonesia Series 2017 4. Juara 2 KEJURNAS U-12 INDONESIA 2016 5. Juara 1 Jakarta Youth Baseball Association (JYBA) 2017 6. Juara 1 Indonesia Little League (ILL) 2016 Reagan juga beberapa kali mendapatkan penghargaan individu salah satunya adalah Best Pitcher For Accuracy Contest dalam turnamen PONY Mustang U-9 Asia-Pacific Series di Ho Chi Minh, Vietnam. Jeres mengatakan bahwa dirinya memberikan kebebasan untuk mengambil jurusan ekskul yang di sukai oleh Reagan. “Sebenarnya Reagan sangat berpotensi dalam baseball, tetapi semua itu kembali lagi ke Reagan. Saya sebagai orang tua selalu memberikan kebebasan kepada anak saya untuk memilih.” tutur Jeres. Jeres menambahkan bahwa Reagan di percaya menjadi kapten tim di tunjuk oleh coach (pelatih). “Reagan sebagai pemain Utility di dalam team nya dan dipercaya sebagai Kapten. Biasanya Reagan sebagai Lead-Off Batter atau Pemain Pembuka didalam Batting. Tetapi potensi atau bagaimana itu kembali lagi kepada coaches yang melatih dan menilainya, karena kalau pendapat saya sebagai orang tua nantinya akan menjadi subjective ya.” ujar Jeres, yang selalu mendukung dan mendampingi anaknya. Lebih lanjut Jeres mengatakan, walaupun dirinya memberikan kebebasan pada anaknya untuk memilih jalan hidupnya, peran orang tua tetaplah sangat penting. “Dalam memilih sesuatu untuk anak, contohnya olahraga, tetap orang tua mempunyai peran yang penting. Karena anak kita tidak bisa jalan sendiri dan orang tua juga harus mempunyai komitmen. Jika tidak mempunyai komitmen, tidak akan bisa membimbing anak.” kata Jeres. Menurut Jeres, Reagan selama ini tidak pernah dibujuk dengan hadiah agar bersemangat memenangkan pertandingan. Karena bagi Jeres, tidak ada orang yang suka kalah dalam suatu kompetisi, dan kemenangan yang didapatkan pasti akan membuatnya terus berjuang untuk menang lagi dan lagi. “Jika kita menyalurkan kegiatan dengan hal yang positif, insyaallah hasil kedepannya akan selalu positif. Kecewa karena kalah pasti ada, bahkan tidak hanya terjadi sekali, tapi saya selalu menanamkan jika kita gagal, bangkit lagi, latihan lagi. Hal itu juga akan berguna untuk kehidupannya di masa mendatang.” tutup Jeres mengakhiri perbincangan dengan NYSN.(crs/adt)

Remaja Ini Berhasil Membawa Piala Karate Dari Switzerland

Nandra (Kedua dari kiri) saat juara 1 di Basel Open Master di Swiss

Karate merupakan olahraga bela diri yang berasal dari Jepang. Olahraga tersebut sudah berkembang di era modern saat ini. Sudah banyak karateka-karateka bangsa Indonesia yang mengukir banyak prestasi dalam ajang kejuaraan. Salah satunya adalah Nandra Ahmad Saputra (16), siswa SMAN 1 Tangsel yang tergabung dalam club karate Gabdika Shitoryukai. Beberapa prestasi Nandra dalam karate yaitu: Juara 1 kata perorangan cadet putra dan juara 3 kumite -55 kg cadet putra di kejuaraan internasional Basel Open Master (BOM) di Basel Switzerland 2016 Juara 1 kata perorangan putra di O2SN nasional tingkat SMP 2016 Juara 1 kata beregu dan juara 1 kumite -50 kg cadet putra dikejurnas Gabdika shitoryukai di Batam Juara 1 kata dan juara 1 kumite -55 kg putra perorangan cadet putra di kejurnas gabdika di Jakarta. Sementara itu Nandra juga menambahkan kepada NYSN bahwa orang tuanya selalu mendukung kegiatannya.(4/7) “Orang tua saya selalu mendukung segala kegiatan saya asalkan tidak mengganggu kegiatan belajar, termasuk karate, mereka sangat mendukung.” ujar Nandra yang telah berlatih karate sejak kelas 3 SD. Nandra juga mengatakan kepada NYSN bahwa ia terus berjuang untuk meraih impian setinggi-tingginya dan selalu bersemangat dalam berlatih karate. “Saya selalu berusaha fokus dalam berlatih dan selalu mendengarkan masukan dari pelatih saya, Senpai R. Sukma Aji Abimanyu, SH. Pelatih pasti menggendong saya ketika saya menang dalam kejuaraan.” lanjutnya. Berbagai prestasi yang sudah diraih oleh Nandra bukan berarti dirinya tidak pernah mengalami halangan dalam menjalankannya. Nandra pernah mengalami cidera keseleo 5 hari sebelum mengikuti kejuaraan internasional di Swiss. Bahkan 2 hari menjelang kejuaraan tersebut Nandra sempat terkena penyakit campak. “Tapi saya tahu bahwa saya mempunyai tanggung jawab. Saya tetap mengikuti kejuaraan dan alhamdulillah mendapatkan Juara satu kata perorangan cadet putra dan juara tiga kumite -55 kg cadet putra.” tutur pelajar yang mempunyai cita-cita menjadi TNI ini. Nandra berpesan, bila ingin meraih prestasi kita harus mempunyai semangat yang tinggi untuk berlatih dan berjuang, jangan berhenti untuk berlatih setiap saat mau di mana pun kita berada, jangan lupa untuk selalu berdoa dan beribadah kepada yang di atas, dan jangan berhenti untuk bemimpi. Kondisi fisik bagi Nandra juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Fisik harus sehat agar bisa berlatih dengan giat serta menjalankan pola hidup sehat. “Oh iya, jangan lupakan pelatih kita yang sudah mendidik kita dari awal berlatih karate. Kita yang tadinya tidak bisa apa-apa dan sampai menjadi seseorang yang berprestasi. Terakhir, terima kasih banyak untik pelatih saya R. Sukma Aji Abimanyu, SH yang sudah membimbing saya sampai menjadi seperti sekarang ini.” tutup Nandra.(crs/adt)

Baseball: Terinspirasi Oleh Sang Kakak, Ray Berhasil Rebut The Best Pitcher Piala Gubernur Jawa Barat 2017

Ray, murid Sekolah Pelita Harapan yang berhasil merebut The Best Pitcher Piala Gubernur Jawa Barat 2017

Sejak tahun 2008, Ray sudah mengantarkan timnya ke berbagai prestasi baseball. Beberapa prestasi terbaru di tahun 2017 yang telah diraih oleh timnya diantaranya juara 1 Piala Gubernur Jawa Barat, juara 3 Kejurnas Jr U15 Banten, dan juara 2 ILL Senior U16