Medan Gelar Kejurnas Panjat Tebing Kapolda Sumut Cup 2019, Juara Dunia Aspar Jaelolo Turun Berlaga

Polda Sumut akan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Open Panjat Tebing bertajuk 'Kapolda Sumut Cup 2019' pada 1-5 Februari 2019, di Lapangan Mako Brimob Polda Sumut, Medan. Juara dunia panjat tebing Indonesia, Aspar Jaelolo, dipastikan tampil pada Kejurnas Open Polda Sumut ini. (FPTI)

Medan- Polda Sumut akan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Open Panjat Tebing bertajuk ‘Kapolda Sumut Cup’ pada 1-5 Februari 2019, di Lapangan Mako Brimob Polda Sumut, Medan. Terdapat empat kelas putra dan putri yang akan dipertandingkan pada Kejurnas ini yakni kelas speed WR, speed klasik, lead, dan boulder. Ketua II Panitia Panjat Tebing Kapolda Sumut Cup, Junet Iskandar mengungkapkan, jika salah satu juara dunia panjat tebing Indonesia, Aspar Jaelolo, dipastikan tampil pada Kejurnas Open Polda Sumut ini. “Atlet Asian Games kemarin juga akan turun, seperti Rajiah Salsabillah dan Abu Dzar Yulianto. Kejurnas ini event pertama yang diadakan tahun ini juga menjadi hitungan peringkat berjalan. Karena untuk seleksi Asian Championship, pada November 2019,” terangnya pada Kamis (25/1), di Mako Brimob Polda Sumut, Medan. Aspar berhasil meraih medali emas pada kategori speed di Piala Dunia Panjat Tebing, bertajuk IFSC Climbing Worldcup di Wujiang, Tiongkok, pada Oktober 2018. Sementara Salsabillah dan Abu Dzar, merupakan atlet peraih emas di nomor speed relay putra dan putri, di Asian Games 2018. Junet menjelaskan hadirnya juara dunia dan Asian Games ini akan membuat para climbers Sumut, belajar dari atlet pencetak rekor dunia. “Kami ingin kasih semangat buat atlet kita (Sumut) biar lebih kerja kerasnya. Hadirnya uara dunia dan Asian Games ini juga akan mendongkrak gengsi dan kemeriahan event ini,” tegasnya. Ia menerangkan akan ada 300 atlet yang berasal dari berbagai daerah serta negara tetangga, berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Setidaknya, tercatat sembilan provinsi yang telah mendaftar untuk mengikuti Kejurnas Poldasu Cup ini. Ia menargetkan 200 atlet panjat tebing akan berlaga di Kejurnas ini. “Sudah ada delapan daerah yang telah mendaftar, seperti Aceh, Lampung, Sumbar, Bengkulu, Padang, lalu dari Jawa ada Bandung, Surabaya, Jawa Timur dan Jakarta. Hingga hari ini sudah ada 41 atlet yang mendaftar dan akan terus bertambah,” jelas pria kelahiran Medan, 17 Juni 1974 ini. Ketua Pengcab Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Medan ini memastikan jika 30 atlet panjat tebing FPTI Sumut, akan berlaga pada kejurnas kali ini. Bahkan kejuaraan Poldasu Cup ini juga menjadi tolak ukur sebelum menghadapi Popwil, sebagai kualifikasi menuju PON 2020. “Sekitar 30 atlet panjat tebing Sumut nanti akan berlaga disini. Atlet-atlet dari Sumatera memang rata-rata semua ikut Kejuaraan. Sehingga nantinya menjadi barometer mereka, jelang persiapan menghadapi Popwil Sumatera, pada November 2019, di Lampung,” tegasnya. Lebih lanjut, kejuaraan ini berlangsung berkat kepedulian Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto, untuk memajukan olahraga panjat tebing di Sumut. “Ini bukti kepedulian Pak Kapolda menghidupkan kembali olahraga panjat tebing ini, dengan membangun sarana baru dengan standar track speed wr dengan rekor dunia,” pungkasnya. (Adt)

Pertajam Teknik Grapling, Atlet Sambo 18 Tahun Bidik Emas Seleknas Timnas SEA Games 2019

Atlet beladiri Sambo yang baru berusia 18 tahun, Rio Tirtono asal Kalimantan Barat (Kalbar), membidik medali emas di ajang seleknas (seleksi nasional) untuk timnas (tim nasional) SEA Games 2019. (ilustrasi/tirto.id)

Pontianak- Atlet beladiri muda Rio Tirtono asal Kalimantan Barat (Kalbar), membidik medali emas di ajang seleknas (seleksi nasional) untuk timnas (tim nasional) SEA Games 2019. Rio, sapaannya, akan turun di nomor 57 kg Sambo Combat. Seleknas dijadwalkan berlangsung di Bogor, Jawa Barat (Jabar), selama dua hari, pada 25-26 Januari. Guna mewujudkan ambisinya itu, remaja kelahiran Pontianak, Kalbar, 9 Februari 2000 itu, sejak enam bulan terakhir berlatih secara intensif di Pelatnas (pemusatan latihan nasional), di Jakarta. “Saya fokus latihan, selain menambah jam latihan. Saat ini saya fokus latihan di Jakarta untuk mempertajam teknik grapling (kuncian), maupun striking. Di seleknas ini, saya tidak main-main, karena saya mempunyai tekad untuk menjadi juara,” ujar Rio, dikutip tribun, pada Rabu (23/1). Kendati bertekad meraih emas di ajang seleknas, namun diakui, lawan yang bakal dihadapi tak mudah dan memiliki kekuatan lebih. “Lawan yang saya hadapi jauh lebih kuat, pastinya saya latihan lebih keras, dan konsisten untuk mengharumkan nama Kalbar. Target saya di event ini pastinya emas,” lanjut Rio. Selain Rio, terdapat tiga atlet lain yang mengikuti seleknas, yakni Demi Yulianto (kelas 74 kg Sambo Combat), Ariyani (kelas 68 kg Sambo Sport), dan Erik Gustam (kelas 74 kg Sambo Sport). Keempatnya didampingi Junaidi, sebagai pelatih. “Mereka kami harapkan lolos seleknas dan tampil di SEA Games 2019,” cetus Junaidi. (Adt)

Jaring Bibit Muda Berprestasi, Ribuan Pesilat Perebutkan Piala Panglima TNI di Merpati Putih Open 2019

Perguruan Silat Merpati Putih menggelar MP Open 2019, di GOR Ciracas, Jakarta Timur, pada 28 Februari-2 Maret 2019. Abdul Kharis Almasyari (kedua dari kiri) mengatakan event ini bertujuan untuk mencari bibit pesilat tangguh dan berprestasi. (Adt/NYSN)

Jakarta- Perguruan Pencak Silat (PPS) Beladiri Tangan Kosona (Betako) Merpati Putih (MP) akan segera menggelar Kejuaraan Pencak Silat Merpati Putih Open 2019, pada 28 Februari hingga 2 Maret mendatang. Event yang diikuti ribuan pesilat ini, dihelat di Gelanggang Olahraga (GOR) Ciracas, Jakarta Timur, dan memperebutkan Piala bergilir Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tujuannya, yakni mencari bibit pesilat yang tangguh dan berprestasi untuk menjadi atlet nasional yang mengharumkan Indonesia di kancah internasional. Bersamaan dengan event ini, juga akan dilakukan pencatatan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) peragaan jurus tunggal. Aksi peragaan jurus tunggal ini akan melibatkan 2000 orang pesilat sekaligus. Abdul Kharis Almasyari, Ketua Umum Panitia MP Open 2019, mengatakan penyelenggara event ini adalah PPS Betako Merpati Putih Pengurus Daerah (Pengda) Jawa Barat (Jabar) bekerjasama dengan Pengurus Besar (PB) Ikatan Pencak Silat lndonesia (IPSI) dan Korps Lembaga Wasit Juri DKI Jakarta. “Kegiatan Kejuaraan ini adalah Kejuaraan Pencak Silat Nasional dengan sistim pertandingan prestasi dan pemasalan. Juga diadakan pencatatan rekor MURI untuk peragaan Jurus Tunggal Tangan Kosong yang diikuti 2000 pesilat,” ujar Kharis, di Padepokan Pencak Silat Nasional TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Jakarta, pada Kamis (17/1). “Peserta berasal dari perguruan silat seluruh Indonesia. Bahkan beberapa negara mengonfirmasi untuk hadir, seperti Korea, Jepang, Thailand. Dan, biasanya yang tidak pernah absen itu Malaysia serta Singapura. Sedangkan yang juga menyatakan minat untuk hadir, namun belum mengonfirmasi adalah Arab Saudi,” terangnya lagi. Lebih lanjut, pria yang juga menjabat Ketua Komisi I DPR RI itu, akan membatasi jumlah peserta sebanyak 1500 orang. Selain kejuaraan,juga diadakan Seminar Parenting dengan tema ‘Pendidikan Anak melalui Olahraga akan membentuk manusia Indonesia yang berkarakter dan berbudi luhur’. Sedangkan Yuwono Darpito Hudoyo, Ketua Pelaksana MP Open 2019, menjelaskan event bertajuk ‘Kejuaraan antar Perguruan Pencak Silat Nasional Merpati Putih Open 2019 dalam rangka mewujudkan semangat paseduluran, saling hormat dan mental juara’ adalah event persembahan Merpati Putih Pengda Jawa Barat untuk insan Pencak Silat Dunia. “MP Open 2019 adalah pertandingan yang pertama kalinya digelar oleh Perguruan Merpati Putih dan juga pertama kalinya diadakan event pertandingan silat memadukan tiga unsur, yakni kompetisi, edukasi, dan entertainment,” tutur Yuwono. Disebutkannya, untuk kompetisi akan dibagi menjadi dua, yakni pemasalan dan prestasi. Untuk pemasalan terbagi menjadi dua, yakni kategori tanding yang akan diikuti pesilat tingkat SD dan SMP. Sedangkan kategori kedua ialah jurus tunggal tangan kosong. Selain itu, event ini akan memperebutkan total uang pembinaan Rp 50 juta bagi juara, yang penentuannya diperhitungkan dari jumlah medali terbanyak tiap kontingen. “Kategori kanding, pembagian kelasnya akan diklasifikasikan dan disesuaikan dengan data dari surat keterangan dokter, dan formulir pendaftaran. Sementara jurus tunggal tangan kosong, pengelompokan maksimal 3 bagian untuk jenjang SD dan SMP, dengan kuota 100 peserta,” tutur pria yang juga menjabat Ketua Pengda Merpati Putih Jabar itu. Sedangkan untuk nomor prestasi, akan memakai sistim gugur dengan usia 17-27 tahun, atau atlet dengan tahun kelahiran 1992-2002, serta menggunakan sistim bagan dari penyisihan, perempat final, semi final dan final. “Untuk prestasi, Piala Bergilir Panglima TNI diberikan kepada Juara Umum 1, selain Piala Tetap Kepala Staf TNl-AD. Juara Umum II dan III meraih Piala Tetap. Sementara bagi pesilat terbaik putra mendapat Piala Tetap Kepala Staf TNl-AU, dan bagi pesilat terbaik putri diberikan Piala Tetap Kepala Staf-TNl-AL,” tegas Yuwono. (Adt)

Jelang HUT ke-52 Funakoshi Indonesia, Panitia Gelar Kejurnas Junior 2019

Memperingati HUT ke-52 Funakoshi Karate-Do Indonesia, diselenggarakan Kejuaraan Nasional (kejurnas) 2019 kategori junior, di GOR Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mulai Sabtu (23/1). Tampak gelaran Turnamen serupa memperebutkan Piala Guberur DKI Jakarta yang berlangsung pada 2018 lalu. (poskotanews.com)

Jakarta- Agar terciptanya kualitas dan prestasi atlet karate, perguruan Funakoshi Karate-Do Indonesia akan menggelar Kejuaraan Nasional (kejurnas) 2019. Perhelatan ini akan diadakan di GOR Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mulai Sabtu (23/1). “Kejurnas Funakasohi 2019 bertujuan mencetak atlet karateka berkualitas, demi memajukan prestasi karate di Indonesia,” ujar Ketua Panitia Funakoshi Kejurnas 2019, Safarudin Harahap, pada Senin (14/1). Adapun tema Kejurnas Funakoshi 2019 yakni membentuk generasi muda karateka Funakoshi yang sehat dan berprestasi. Safarudin menjelaskan ajang ini mempertandingkan mulai kelas kumite, kata perorangan, kata beregu, dan seni, untuk kelompok usia 10 tahun hingga 18 tahun ke atas. Pesertanya merupakan kalangan pelajar SD, SMP, SMA dan sederajat se-Indonesia. Ajang ini juga sekaligus memperingati HUT ke-52 Funakoshi Karate-Do Indonesia. Ia meyakini ajang tersebut merupakan bagian dari pembinaan mental generasi muda Indonesia, dan merangsang aktivitas serta kreativitas remaja. Sebanyak 600 karateka mengikuti kejuaraan ini. “Turnamen Funakoshi menjadi wadah generasi muda berprestasi dalam karate, sehat jasmani rohani, bertanggungjawab dan bahagia,” pungkasnya. (Adt)

Indonesia Koleksi 13 Medali di ATC 2019, PB ISSI Tambah Skuat Atlet

Dalam Asian Track Championship (ATC) 2019 yang diikuti 16 negara, di Jakarta International Velodrom (JIV), Jakarta Timur, Merah Putih finis pada urutan ke-11 di kategori able alias normal. Sementara dari kategori paracycling atau balap sepeda disabilitas, Indonesia finis di urutan tiga dari enam negara yang berpartisipasi. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ajang Asian Track Championship (ATC) 2019 di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur, usai digelar pada Minggu (13/1). Event yang berlangsung sejak 8-13 Januari, Indonesia berhasil meraih total 13 medali dalam kejuaraan eliet Asia tersebut. “Kami tak puas karena persiapan minim. Setelah AG (Asian Games) kami hanya persiapan 2,5 bulan. Tapi hasil ini ada progresnya yang sudah bagus, bukan dari perolehan medali, tapi dari waktu,” kata manajer tim balap sepeda Indonesia, Budi Saputra, di Jakarta Internasional Velodrome (JIV), Jakarta Timur, Minggu (13/1). Dari total 16 negara yang mengikuti kejuaraan bergengsi ini, Merah Putih finis pada urutan ke-11 di kategori able alias normal. Sementara dari kategori paracycling atau balap sepeda disabilitas, Indonesia finis di urutan tiga dari enam negara yang berpartisipasi. Empat medali diraih atlet able, sementara sisanya atlet disable. “Dari waktu yang dicatat mereka semuanya memecahkan rekor AG dan Asian Para Games (APG),” sambungnya. Selepas kejuaraan ini, Budi, menjelaskan seluruh atletnya kembali menjalani latihan setelah diberi libur selama sepekan. Persatuan Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) pun juga akan melakukan evaluasi. Chrismonita yang digadang-gadang menyumbang medali emas di nomor sprint putri belum mampu mewujudkannya. Dia mempersembahkan medali perunggu di nomor individual time trial 500 meter putri. Di kelompok junior, Angga Dwi Prahesta mencuri perhatian setelah mempersembahkan medali emas di nomor balapan scratch. Pebalap berusia 17 tahun itu juga menyumbang medali perak dan perunggu masing-masing di nomor poin race dan omnium. “Ini jadi program berkesinambungan, jangan sampai putus. Mungkin anak-anak akan mendapat libur 1 minggu, lalu langsung masuk Pelatnas lagi,” tuturnya. Evaluasi lainnya adalah akan ada penambahan atlet balap sepeda yang masuk ke dalam skuat pelatnas. “Yang pasti ada tambahan atlet. Soal pengurangan akan diskusikan dengan pelatih. Kami akan evaluasi, tapi penambahan pasti ada,” jelas Budi. Hal itu dilakukan karena PB ISSI mempunyai keinginan agar ada pebalap sepeda Indonesia bisa bermain di kejuaraan dunia balap sepeda dan Olimpiade 2020 di Tokyo. Tak hanya itu, untuk pemusatan latihan nasional di Jakarta International Velodrome nanti, juga diikuti paracycling Indonesia. Budi mengatakan, akan langsung melanjutkan program untuk atletnya, sebab waktunya tinggal 1,5 tahun. “Paracycling juga ikut karena tim paracycling adalah bagian dari federasi, mereka akan latihan disini, tak ada perbedaan,” pungkasnya. (Adt) Atlet Balap Sepeda Indonesia yang Meraih Medali Elite: Chrismonita Dwi Putri: 500 individual time trial (perunggu) Junior: Angga Dwi Wahyu Prahesta: scratch (emas), poin race (perunggu), omnium (perak) Paracyling: M. Fadli Immammuddin: 4.000 meter individual pursuit (emas), team sprint 750 meter (perak) Sufyan Saori: 4.000 meter individual pursuit (perunggu), 1.000 time trial (perak) Sri Sugiyanti: 3.000 meter individual pursuit putri (perak), women sprint (perunggu), 1.000 meter time trial (perak) Triagus Arif Rachman: 3.000 meter individual pursuit putra (perunggu) Marthin Losu: 1 km time trial C4 dan C5 (perak)

ITDC Resmi Bangun Sirkuit MotoGP di Mandalika, Menpora Janji Beri Dukungan dan Promosi

PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Coporation (ITDC) berencana membangun sirkuit MotoGP, di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada Senin (14/1), PT ITDC melakukan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan investor yakni VINCI Construction disaksikan Menpora Imam Nahrawi (berbaju batik). (Kemenpora)

Jakarta- PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Coporation (ITDC) berencana segera membangun sirkuit MotoGP, yang berada di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) mendukung rencana tersebut. “Senang mendengar kabar baik ini. MotoGP sangat ditunggu masyarakat Indonesia. Jika ini ada di Indonesia, pasti sangat banyak yang menonton, dibandingkan mereka harus ke Malaysia seperti saat ini,” ujar Menteri kelahiran Bangkalan, Madura, Jawa Timur, 45 tahun silam itu, di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, pada Senin (14/1). “Saya akan menemui Menteri Pariwisata dan pihak-pihak terkait, guna memberikan dukungan serta mempromosikan agar rencana ini terwujud,” tambah Menpora yang didampingi Raden Isnanta (Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora). Sementara itu, Abdulbar Mansoer, Direktur Utama ITDC, mengungkapkan rencana pembangunan street race circuit (sirkuit jalan raya) MotoGP di bagian selatan Pulau Lombok yang masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) itu ditandai dengan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan investor yakni VINCI Construction. Dijelaskan Abdulbar, terdapat beberapa alasan mengapa memilih Mandalika. Salah satunya karena areanya yang begitu eksotik. Sehingga, terang Abdulbar, sangat menarik minat wisatawan terutama dari mancanegara atau turis asing. “Kami perlu dukungan dan promosi yang kuat. Kalau mau pada Maret 2021 MotoGP bisa di Indonesia. Investor sudah siap membangun Mandalika. Karena dengan hadirnya sport tourism akan mempercepat recovery Lombok,” tegas Abdulbar. Sementara itu, Direktur Kontruksi dan Operasional PT ITDC, Ngurah Wirawan, menyebut total lintasan sirkuit MotoGP ini mencapai 4,2 kilometer yang dibangun di atas lahan seluas 160 hektare, yang 130 hektare di antaranya diperuntukkan untuk pembangunan sirkuit dan 20 hektare untuk hotel, rumah sakit, dan fasilitas pendukung lain. Ia mengatakan, jalan raya sepanjang 20 kilometer itu kelak memiliki lebar 30-40 meter, namun khusus lintasan MotoGP, jalan yang harus dibangun mencapai 15-90 meter. “Detailnya saya tak terlalu paham karena itu VINCI bersama Dorna selaku investor. Tapi lintasan MotoGP itu ada standarnya, sehingga harus dibangun lebar,” terangnya. VINCI yang bertindak sebagai investor utama pembuatan sirkuit itu, dikabarkan akan mengeluarkan dana sebesar 900 juta euro (sekitar Rp 13,4 triliun). Jika sirkuit di Mandalika rampung, artinya MotoGP akan hadir secara resmi di negara ketiga terbesar di dunia, dalam pasar roda dua. MotoGP saat ini dikelola oleh Dorna Sports sejak 1992, sebagai pemilik penuh semua hak komersial dan penyiaran event tersebut. MotoGP juga merupakan event balap motor utama di dunia. Pada akhir Oktober 2018 lalu, CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta sudah berkunjung ke Mandalika. “Mungkin bakal ada sirkuit jalanan perkotaan di MotoGP. Ada sebuah proyek yang tengah berlangsung di sebuah kota yang hangat,” ucap Ezpeleta. “Secara teorinya, sirkuit tersebut akan berada di sebuah perkotaan dan bagian tempat penonton akan terintegrasi dengan gedung-gedung,” tutur pria kelahiran Barcelona pada 1946. Ezpeleta mengungkapkan, selain bakal digunakan untuk balapan, tempat itu juga bisa digunakan untuk beragam kegiatan. Beberapa waktu lalu Finlandia dan Meksiko berusaha untuk masuk dalam kalender MotoGP 2019. Namun, hal tersebut tidak terjadi dan membuat MotoGP tahun depan tetap berjumlah 19 seri. “Sampai 2021, kami tak akan membuat lebih dari 20 seri balapan dalam setahun. Setelah itu nanti kita akan review ulang. Banyak permintaan untuk sirkuit yang ingin ikut kemeriahan balapan ini,” kata Ezpeleta. Indonesia sempat berharap dapat masuk di kalender MotoGP 2018. Namun, secara mengejutkan, justru Sirkuit Buriram di Thailan,d yang mengumumkan menjadi seri terbaru di 2018 dalam penyelenggaraan MotoGP. (Adt)

Cetak Medali Perak di Hari Terakhir, Pebalap Sepeda 17 Tahun Selamatkan Wajah Indonesia

Pebalap sepeda kelahiran Lumajang, 15 Agustus 2001, Angga Dwi Wahyu Prahesta, meraih perak dari nomor omnium junior putra, di hari terakhir Asian Track Championships (ATC) 2019, pada Minggu (13/1). Perak dari nomor omnium, jadi medali ketiga bagi atlet binaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Timur ini. (Tribunnews.com)

Jakarta– Pebalap sepeda junior putra Indonesia, Angga Dwi Wahyu Prahesta, kembali meraih medali saat turun di hari terakhir ajang Asian Track Championships (ATC) 2019, pada Minggu (13/1). Teraktual, Hesta, sapaaanya, berhasil meraih perak dari nomor omnium junior putra. Remaja kelahiran Lumajang, 15 Agustus 2001 ini meraih medali perak nomor omnium, usai mencatatkan 129 poin dari empat nomor balapan, yakni scratch, tempo, elemination, dan point race. Omnium merupakan nomor balapan track, yang menggabungkan empat balapan sekaligus. Dari nomor scratch, ia mengumpulkan 32 poin, tempo 38 poin, elemination 30 poin, serta point race 29 poin. Menurutnya, point race adalah balapan paling krusial hingga dirinya berhasil menggondol medali perak. Medali emas di nomor omnium diraih atlet Kazakhstan, Danill Pekhotin dengan jumlah 133 poin. “Pertandingan tadi sangat berat. Karena ada empat lomba (balapan sekaligus). Race terakhir yang tadi (point race) adalah balapan paling krusial,” ungkapnya di paddock Tim Indonesia, di Jakarta Internasional Velodrome (VIJ), Minggu (13/1). Perak dari nomor omnium, jadi medali ketiga, bagi atlet binaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Timur, khusus balap sepeda, yang berlokasi di Malang ini, di ATC 2019. Sebelumnya, pebalap sepeda berusia 17 tahun itu meraih satu medali emas, dari nomor scratch dan satu perunggu dari nomor point race. Hesta pun mengaku sangat puas dengan raihan total tiga medali di ATC 2019. Selain menandai debut gemilangnya dengan prestasi, emas yang diraih Hesta menghantarkannya mencetak sejarah. Ia menjadi pebalap junior Indonesia pertama yang berhasil meraih medali emas di ajang balap sepeda track tingkat Asia. Selain itu, medali emas miliknya juga menyelamatkan wajah Indonesia di kategori able ATC 2019. Selain Hesta, para pebalap elit Tanah Air gagal mempersembahkan medali emas. Hanya pebalap putri, Crismonita Dwi Putri, yang berhasil menyumbangkan medali perunggu di nomor 500 individual time trial. Sejatinya, Hesta bukanlah pebalap yang menekuni disiplin track. Ia justru turun di nomor downhill dan road race. Namun, hasil tiga medali tersebut, ia menuturkan tak menutup kemungkinan akan mulai berkonsentrasi di nomor track. “Di semua nomor saya bisa. Dengan hasil ini, saya akan fokus menekuni nomor track ini. Saya kurangnya pengalaman, kalau fisik ya semuanya sama. Mudah-mudahan kedepan di beri trainnig camp lagi, di Eropa atau di mana saja,” tutupnya. (Adt)

Sabet Gelar Juara, Pegolf 12 Tahun Asal Bali Kampiun Kejurnas Golf Junior 2019

Pegolf belia asal Bali, Ni Putu Mayvil Widya Handayani, akhirnya sukses menjuarai kejurnas golf junior 2019, untuk kategori usia 12-13 tahun, di Lapangan Golf Gading Raya, Serpong, pada Rabu (9/1). (balipost.com)

Jakarta- Pegolf belia Bali, Ni Putu Mayvil Widya Handayani, menjuarai kejurnas golf junior 2019, kategori usia 12-13 tahun, di Lapangan Golf Gading Raya, Serpong, pada Rabu (9/1). Sedangkan pegolf Bali lainnya yakni Margoz Marvin Kamengmau, yang turun pada kategori usia 9-10 tahun, harus puas menduduki peringkat keempat. Pada hari kedua, babak final, seluruh peserta kembali menuntaskan 18 hole, dan Mayvil tampil konsisten. Sebab sejak hari pertama, Selasa (8/1), Mayvil terus memimpin. Sedangkan Margoz pada hari pertama, bercokol di urutan kelima, dan finish peringkat keempat. Untuk juara II usia 12-13 tahun direbut Elaine Widjaja (Jateng), kemudian Shaista Ayesha, disusul Richtier Joelle Hanslkie, lalu Ruth Kapisa (Papua), Niquita Audrey Onggo (Banten), Kathleen Gann, Misykah Ausya Kamaratih, dan Ashley Lydra. Sedangkan kategori usia 9-10 tahun, juaranya Teuku Husein M. Danindra. Lalu disusul Davano Haris Gunawan (Palembang), Javeed Abdel Rauf, Margoz, dan peringkat kelima Abdul Jabbar Mustala, Keeran Putra, Hansen Frederick Supian, Dave Matteo Uneputty, dan Brian Christian. Sekum Pengprov PGI Bali, Eddy Pantja, menegaskan, jika keberhasilan Mayvil dan Margoz, di ajang Kejurnas Junior 2019, berkat rutinnya Persatuan Golf Indonesia (PGI) Bali menggelar sirkuit junior. “Melalui event sirkuit tersebut, lalu muncul pegolf potensial yang berbakat dan bertalenta,” kata Eddy. Dikemukakan, selama ini sirkuit golf junior Bali pesertanya mencapai 40 pegolf dan baru menelorkan dua bibit. “Ke depannya, kami berharap akan muncul lagi bibit-bibit pegolf berbakat berikutnya,” harapnya. (Adt)

Indonesia Cetak Sejarah, Atlet 17 Tahun PPLP Jatim Sabet Emas Junior Asia 2019

Atlet balap sepeda junior putra Indonesia yang masih berusia 17 tahun, Angga Dwi Wahyu Prahesta, meraih medali emas pada nomor scratch junior putra, dalam Kejuaraan Asian Track Championship 2019, di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta, Kamis (10/1). (suara.com)

Jakarta- Atlet balap sepeda junior Indonesia, Angga Dwi Wahyu Prahesta, mencetak sejarah perlombaan disiplin track dengan menyabet medali emas, dalam Kejuaraan Asian Track Championship 2019, yang berlangsung di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta, Kamis (10/1). Hesta, sapaannya, meraih medali emas pada nomor scratch junior putra. Atlet binaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Timur, khusus balap sepeda yang berlokasi di Malang ini, menungguli atlet India, Venkappas Kengalagutti pada posisi kedua dan atlet Taiwan, Chih Sheng Chang yang menempati posisi ketiga. “Persiapan saya hanya dua pekan sejak pertengahan Desember 2018. Saya bangga sekali bisa dapet medali emas karena perlombaan sangat ketat,” ujar alumni SMPN 3 Lumajang ini. Ia mengaku dua lap terakhir menjadi momentum untuk menyabet medali emas karena atlet-atlet lain Asia sudah kesulitan untuk melewatinya. “Target awal saya adalah medali perunggu karena ini perlombaan pertama di level Asia bagi saya,” terang remaja kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 15 Agustus 2001 itu. Ia mengaku telah berlatih di India, selama tiga pekan pada Desember 2018, sebelum kembali ke Indonesia pada awal Januari ini. “Saya turun pada nomor point race, omnium, dan scartch pada perlombaan Asia ini,” kata pelajar, yang yang memulai karir dari nomor disiplin sepeda gunung dan road race itu. Pelatih balap sepeda nasional, Dadang Haris Purnomo, mengaku terkejut dengan hasil ini Semula, ia tak mengunggulkan Hesta menyabet medali emas, karena perlombaan Asia di Velodrome menjadi ajang penambah pengalaman bagi atlet-atlet junior. “Saya sempat tak percaya karena hasil yang diraihnya. Itu adalah pembuktian pembinaan PB ISSI yang berhasil mencari atlet-atlet penerus,” kata Dadang. (Adt)

Dua Atlet Golf Muda Indonesia, Tampil di Ajang Australian Master 2019

Pegolf amatir papan atas Indonesia berusia 18 tahun, Naraajie Emerald Ramadhan Putra, bersama Almay Rayhan Yagutah, mengawali 2019 tampil di kompetisi golf amatir bergengsi, Australian Master of the Amateurs, yang berlangsung 8-11 Januari, di Melbourne. (golfinstyle.co.id)

Melbourne- Dua pegolf amatir papan atas Indonesia, Naraajie Emerald Ramadhan Putra dan Almay Rayhan Yagutah, mengawali 2019 dengan mengibarkan bendera Indonesia dalam salah satu kompetisi golf amatir yang bergengsi, Australian Master of the Amateurs, 8-11 Januari, di Melbourne, dilansir portal golfinstyle. Ajang amatir ini layak disebut sebagai salah satu ajang bergengsi. Turnamen digelar di lapangan The Royal Melbourne Golf Club, lapangan yang bakal menjadi tuan rumah untuk Presidents Cup 2019. Lapangan yang dimainkan adalah West Course, lapangan golf terbaik di Australia. Selain itu, turnamen ini pun diikuti oleh para pegolf amatir top dunia. Pekan ini, Justin Suh asal Amerika Serikat, yang berpredikat sebagai pegolf No.1 dunia juga ikut berlaga. Termasuk sang juara bertahan, pemain tuan rumah, David Michelluzi, yang pekan ini berperingkat 7 dunia. Pada hari pertama Senin (8/1), Almay berhasil mencatatkan skor yang lebih baik. Pegolf yang tahun lalu sukses menjuarai Kejuaraan Nasional ini membukukan skor even par 72, dan untuk sementara berada di peringkat T23. Almay memulai turnamen ini dengan bermain dari hole 10. Meski sempat mendapat bogey di hole keduanya, ia lekas bangkit bahkan mendapatkan irama yang sangat baik usai mencatatkan birdie pertamanya di hole 12. Hasil positif di hole itu bahkan berhasil ia bawa di tiga hole berikutnya sehingga dalam empat hole itu, ia sudah bermain 3-under. “Green di The Royal Melbourne West Course ini super keras dan licin. Fairway-nya juga keras, rumputnya juga berbeda sehingga memberi sensasi khusus untuk short game. Ini berbeda jauh dengan di Jakarta, di mana bola biasanya bisa nangkring di atas rumput,” tutur Almay berusaha menggambarkan West Course. Memasuki sembilan hole kedua, pemuda kelahiran Jakarta 8 Agustus 1998 ini kembali membukukan bogey di hole 3, namun bisa bangkit dan mencatatkan birdie kelimanya di hole 4. Sayangnya, di hole 8, ia kembali mendapat bogey sehingga harus puas bermain even par 72. “Hari ini, saya kurang presisi dalam memperhitungkan angin. Bukannya tidak melakukan perhitungan, saya hanya kurang berkomitmen dalam melakukan pukulan. Soalnya angin berembus dengan kencang sehingga saya malah ragu,” tutur mahasiswa jurusan Bisnis Manajemen, Universitas Bina Nusantara. Hasil yang diperoleh Almay, menempatkannya satu stroke lebih baik dari Naraajie, yang mencatatkan empat birdie dengan lima bogey. Dengan skor 73 di hari pertama, untuk sementara Naraajie menempatkan dirinya di peringkat T26. Seperti halnya Almay, Naraajie sebenarnya sempat bermain dengan baik di sembilan hole pertamanya. Ia malah sempat bermain 2-under lantaran menorehkan empat birdie dengan dua bogey. Sayang, di sembilan hole terakhirnya, ia mendapat tiga bogey. “Ini putaran pertama saya setelah jeda dua minggu dari golf. Selain itu, kemarin ini saya sempat sakit juga, jadi saya menerima hasil hari ini,” tutur atlet kelahiran 26 April 2000. (Adt)

Catat Waktu Dibawah 5 Menit, M Fadli Kunci Emas dan Pertajam Rekor Asia

Pebalap para-sepeda Indonesia, M. Fadli Imammudin, meraih emas sekaligus mempertajam rekor Asia, usai berlaga di final nomor individual pursuit putra C4-C5, dalam ajang para-sepeda di Asian Track Championship 2019, di Jakarta International Velodrome, Jakarta, Kamis (10/1). (kompas.com)

Jakarta- Pebalap para-sepeda track Indonesia, M. Fadli Imamuddin memakai “senjata” baru yang membantunya merebut medali emas nomor 4.000 m individual pursuit putra C4-C5 sekaligus memecahkan rekor pribadi di kejuaraan para-sepeda Asian Track Championship 2019, di Jakarta, Kamis. “Saya mempunyai senjata baru yaitu Look R96, yang kastanya jauh dari sepeda terakhir yang saya pakai,” ungkap Fadli, usai menerima medali emas di Jakarta International Velodrome, Kamis. Sepeda buatan Prancis itu memiliki rangka yang terbuat dari serat karbon dan didukung dengan teknologi paling terkini dalam balap sepeda track. Dengan sepeda itu, Fadli sanggup memperbaiki catatan waktunya dari kisaran waktu 5 menit 3 detik, yang dia ciptakan di Asian Para Games 2018 ke angka 4 menit 58,185 detik pada babak kualifikasi di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan waktu ini, pria kelahiran Bogor Bogor 25 Juli 1985 juga memecahkan rekor waktu terbaiknya, di tingkat Asia nomor 4.000 m individu pursuit putra C4-C5 cabang para-sepeda. “Saya mendapat perbaikan (waktu) saat pemusatan latihan dua bulan terakhir ini. Ini lanjutan dari Asian Para Games, jadi memang tidak ada jeda,” ujarnya. “Lima detik dalam waktu dua bulan saya cukup senang dengan hasil ini,” kata dia. Fadli menjadi yang tercepat di babak final perebutan medali emas dengan catatan waktu resmi 4 menit 59,601 detik dan setelah difaktorkan, menjadi 4 menit 56,965 detik menyingkirkan pebalap sepeda Iran, Mahdi Mohammadi di peringkat dua (5:23.920). Selain menggunakan sepeda baru, mantan pembalap motor ini menjalani latihan bersama dua pelatih sekaligus, yaitu pelatih dari PB ISSI dan pelatih dari NPC Para-Sepeda. “Alhamdulillah pada kejuaraan ini saya mendapatkan perbaikan dibandingkan hasil Asian Para Games, karena dua pelatih berkolaborasi,” kata Fadli. Sementara itu, pebalap para-sepeda Indonesia lainnya, Sufyan Saori meraih perunggu (5:13.951) mengalahkan pebalap Malaysia, Zuhairi Ahmad Tarmizi (5:23.920) di final perebutan tempat ketiga. (Adt)

Asian Track Championship 2019 Dihelat, Ratusan Pebalap Buru Poin Olimpiade 2020 di Velodrome Rawamangun

Hajatan Asian Track Championship (ATC) 2019 yang akan diikuti 300 pebalap dari 16 negara, siap dihelat di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur, pada 8-13 Januari. Mereka berburu poin poin untuk kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. (Pras/NYSN)

Jakarta- Hajatan Asian Track Championship (ATC) 2019 siap dihelat di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur, pada 8-13 Januari. Indonesia kembali menjadi tuan rumah setelah 10 tahun yang lalu, Kejuaraan Balap Sepeda Track level Asia ini, digelar di Velodrome Tarakan, Kalimantan Timur, pada 2008. Event ke-39 ini akan diikuti 16 negara, dengan estimasi jumlah peserta sebanyak 300 pebalap. Ajang Pengurus Besar (PB) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) sekaligus menjadi rangkaian Para Asian Track Championship ke-8, dan Junior Track Championship ke-26. Tujuannya menjadi ajang pengumpulan poin untuk kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang, yang akan dimulai dari awal 2019 hingga awal 2020, atau sebelum batas akhir penutupan poin kualifikasi Olimpiade oleh UCI (Union Cycliste Internationale). Parama Nugroho, Ketua Penyelenggara ATC 2019, mengaku persiapan hampir mencapai 100 persen. Khusus penyelenggaraan ATC 2019 ini, pihaknya kaget dengan jumlah peserta yang melebihi target. “Kami hanya melihat dari entry by name yang kami terima yaitu 255 pebalap, dan ternyata yang hadir 297 pebalap,” ujar Parama, pada Senin (7/1). Dengan jumlah peserta yang melebihi target itu, membuat pihaknya harus menyiapkan akomodasi lain. “Pastinya bagi kami, ini menjadi tantangan yang sangat menyenangkan,” lanjutnya. Sedangkan, Terry Yudha Kusuma, pebalap Indonesia, mengungkapkan telah melakukan persiapan selama kurang lebih tiga bulan guna menghadapi event ini. “Saya sangat antusias, apalagi untuk menambah poin Olimpiade 2020. Di event ini saya fokus team sprint dan 1000 meter. Karena spesialisasi saya 1000 meter. Tapi, di nomor keirin, saya juga turun,” terang alumni SMA Negeri Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Ia pun berharap sanggupu memecahkan rekor nasional. “Saya memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 1 menit, 3 detik pada waktu Asia Championship di Malaysia, tahun lalu. Kalau bisa, disini (ATC 2019), lebih tajam catatan waktunya, inginnya 1 menit, 1 detik. Semoga bisa terwujud,” cetus pemuda kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 14 Maret 1999. Disisi lain, Wahyu A. Harun, Direktur Operasi PT Jakarta Propertindo (Jakpro), menyebut pihaknya bangga bisa menjamu dan turut berpartisipasi aktif dalam perhelatan ATC 2019. “Gelaran sport sepeda internasional ini penting sebagai bagian dari pengumpulan poin atlet menuju Olimpiade 2020 Tokyo,” tutur Wahyu. Dia menjelaskan JIV memiliki sertifikasi standar internasional yang ditetapkan UCI. “Venue ini terbaik untuk perhelatan sepeda internasional seperti ATC 2019, JIV kini menjadi salah satu ikon dunia sepeda internasional,” tukas Wahyu. (Adt)

Tak Melulu Soal Produksi Atlet, Indonesia Little League Pupuk Bibit Baseball dan Softball Sejak 1990

Indonesia Little League 2019 digelar di dua kota yakni Jakarta dan Surabaya. Event pertama pada 2-6 Januari, berlangsung di Senayan, Jakarta. Turnamen yang diikuti 150 anak usia 10 hingga 14 tahun, bertujuan mengasah mental dan membentuk kepribadian. (liputan6.com)

Jakarta- Tak populer, itu gambaran sederhana untuk olahraga baseball dan softball. Dua olahraga ini terbatas kalangannya dan belum terlalu populer di Indonesia hingga 2019 ini. Tidak heran jika nama Indonesia tak terlalu moncer di pentas internasional dalam dua olahraga tersebut. Kondisi ini tak menjadi hambatan bagi Indonesia Little League untuk menggelar turnamen. Justru, mereka setia menggelar kompetisi level usia dini. Sejak 1990, Indonesia Little League sudah bergulir. Para relawan pecinta olahraga baseball dan softball di Indonesia, secara rutin menggelar turnamen ini. Tujuannya cuma satu, yakni memupuk rasa sportivitas di level junior lewat olahraga baseball dan softball. Ada tiga aspek yang ditekankan lewat Indonesia Little League, yakni karakter, keberanian, dan loyalitas. “Ketiga nilai ini bisa mendukung anak memiliki watak positif, berani, juga setia. Tak cuma dalam olahraga, tapi juga sehari-hari. Dalam dunia olahraga khususnya, tiga nilai ini jadi elemen terpenting dalam mengasah mental dan kemampuan atlet,” kata Roy Romaya, selaku Ketua Umum Indonesia Little League, pada Sabtu (5/1). Tujuan menggelar Indonesia Little League, tak melulu bicara soal produksi atlet. Mengasah mental dan membentuk kepribadian sejatinya adalah fokus utama dari Indonesia Little League. Ibaratnya, jika ada jebolan Indonesia Little League yang jadi atlet, itu menjadi sebuah bonus. “Faktanya kecakapan kepribadian untuk berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, perlu dimatangkan. Little League menawarkannya,” jelas Roy. “Kami menjalin kerjasama dengan PB Perbasasi dalam upaya pembinaan usia dini. Tak mudah memang, untuk mengembangkan baseball dan softball,” jelasnya Indonesia Little League 2019, dilaksanakan mulai 2 Januari hingga 27 Januari. Kompetisi ini diikuti oleh 10 tim yang berasal dari kota Jakarta, Banten, Bandung, dan Surabaya. Dari 10 Tim tersebut, dibagi ke dalam tiga kategori laga yakni Major League (U-11), Intermediate League (U-12), dan Junior League (U-14). Kompetisi baseballnya berlangsung di Gelora Bung Karno, Jakarta, sejak 2 – 6 Januari 2019. Sedangkan untuk turnamen softball mulai bergulir di Surabaya, Jawa Timur, pada 27 Januari mendatang. Para pemenang dalam kompetisi baseball dan softball itu, akan berangkat mewakili Indonesia di tingkat Asia Pasifik. Setelah itu, pemenang kompetisi tingkat Asia Pasifik, kembali mengikuti turnamen puncak Little League 2019 tingkat dunia, di Amerika Serikat, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Indonesia pernah mencatat prestasi pada 2006 silam, saat lolos hingga babak utama katagori U-14 (Junior League), di Michigan, Amerika Serikat. (Adt)

Koleksi 282 Poin Sepanjang 2018, Atlet Boulder Putri 20 Tahun Jadi Nomor Satu di Indonesia

Gadis kelahiran Kudus, Jateng, 6 Januari 1998, Ndona Nasugian, menjadi atlet boulder putri nomor satu Indonesia 2018. Pememgang medali perak Asian Youth Championship 2011 di Singapura itu, mengoleksi total poin 282, dari empat kompetisi selama 2018. (FPTI)

Jakarta- Atlet panjat tebing asal Jawa Tengah (Jateng), Ndona Nasugian, menjadi atlet boulder putri nomor satu Indonesia 2018. Gadis kelahiran Kudus, Jateng, 6 Januari 1998 yang mememgang medali perak Asian Youth Championship 2011 di Singapura itu, mengoleksi total poin 282, dari empat kompetisi selama 2018. Yakni di ajang MOCC (23-27 April), Wali Kota Cup (18-21 Juli), ZTC Bali (3-5 Agustus), dan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) XVII (27 November – 2 Desember). Mahasisiwi Jurusan Ilmu Olahraga Universitas Negeri Semarang ini, berbagi gelar dengan Nadya Putri Virgita, asal Bali, yang juga mengumpulkan total poin 282. Diikuti Kharisma Ragil Rakasiwi asal Jawa Timur (Jatim), yang berada di peringkat ketiga dengan total poin 243. Sedangkan peringkat keempat dihuni Fitria Hartani yang juga berasal dari Jatim dengan total poin 200. Sementara itu, peringkat kelima dan selanjutnya diisi Indahwati asal Jateng (175 poin), Anggun Yolanda asal Nusa Tenggara Barat (160 poin), Betti Nawafatus Y.N asal Jawa Barat (157 poin). Kemudian, Ni Komang Ayu Suartini asal Bali (149 poin), dan Dyah Puspitaningtyas asal Daerah Istimewa Yogyakarta (147 poin). (Adt)

Tampil di Myanmar, Pegolf Junior Indonesia Bidik Emas Kejuaraan Beregu Amatir 2018

Pelatihan intensif yang berlangsung sejak Oktober 2018 telah disiapkan bagi para atlet Indonesia yang akan berlaga pada ajang Sea Amateur Golf Team Championship mulai 20-23 Desember, di Nay Pyi Taw, Myanmar. Kejuaraan Beregu Golf Amatir Asia Tenggara ini berisi empat event dalam pelaksanaannya. (golfinstyle.co.id)

Jakarta- Tim Indonesia membidik medali emas di South East Asia Amateur Golf Team Championship 2018 di Naypyitaw, Myanmar. Kejuaraan Beregu Golf Amatir Asia Tenggara ini berlangsung 20-23 Desember. “Kami bidik medali emas atau perak, meski tak mudah,” kata Ketua Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia, Murdaya Po di Jakarta, Kamis (21/12). Tim golf Indonesia, menurut Murdaya, saat ini mampu memberikan harapan meraih prestasi dalam kejuaraan-kejuaraan internasional dibanding tahun sebelumnya. Indonesia mengirimkan 12 atlet dalam Kejuaraan Beregu Golf Amatir Asia Tenggara 2018, yang berlangsung di Nay Pyi Tuw, Myanmar, pada 20-23 Desember. “Tim yang bertanding di Myanmar itu merupakan atlet-atlet junior dari PGI, yang telah kami lakukan pembinaan pada tahun sebelumnya. Pembinaan atlet golf itu butuh tiga hingga empat tahun, dan bukan lima atau enam bulan sebagaimana pelatnas,” katanya. Manajer Tim Nasional Golf Indonesia, Gian Perkasa mengaku, atlet Indonesia yang bertanding di Myanmar, telah masuk dalam pelatnas PGI sejak Oktober 2018. “Mereka telah berlatih bersama dalam dua pekan terakhir, di lapangan golf Emeralda. Kami menekankan tiga aspek dalam latihan yaitu teknik, skill, dan mental,” kata Gian. Pelatih golf nasional, Lawrie Montague mengatakan, keikutsertaan atlet junior Indonesia dalam kejuaraan di Myanmar itu punya arti penting bagi pembinaan.”Lawan juga berat, terutama Thailand. Tapi, segala sesuatu bisa terjadi. Ini kesempatan ini menjadi pengalaman bagus bagi mereka,” kata Lawrie. Ada empat event yang dipertandingan, dalam kejuaraan beregu amatiri ini. Ajang pertama ialah Putra Cup, yang memasuki penyelenggaraan ke-58. Putra Cup diperuntukkan pegolf amatir yang lebih senior. Lalu ada ajang Lion City Cup, yang diprakarsai Singapura pada 2004, dengan tujuan memberi pengalaman bagi tim golf junior beregu, yang kala itu sangat langka. Jika Putra Cup dan Lion City Cup ditujukan bagi para pegolf putra, ajang Santi Cup dan Kartini Cup ditujukan bagi pegolf putri. Santi Cup, digelar pertama kalinya pada 2006 sebagai prakarsa dari Thailand. Sementara Indonesia menyumbangkan Kartini Cup, bagi para pegolf putri yang lebih junior, yang mulai dipertandingkan pada 2013. Pada 2018 ini, tim Putra Cup Indonesia diwakili oleh Almay Rayhan Yagutah, M. Rifqi Alam Ramadhan, Seandy Alfarabi, dan Alfred Raja Sitohang. Sementara untuk Tim Lion City Cup, Kentaro Nanayama, Gabriel Hansel Hari, dan Dominikus Glenn Yuwono terpilih untuk turun bertanding. Adapun dari ajang putri, Ribka Vania, Marcella Pranovia, dan Nanda Winnet Soraya diplot untuk turun pada ajang Santi Cup. Ribka yang masih berusia 18 tahun, mewakili Indonesia di Youth Olympic Games 2018, Oktober lalu. Sedangkan Viera Permata Rosada, Aurelia Grace Nicole, dan Meva Helina Schmit, akan turun pada ajang Kartini Cup. Tantangan terbesar ajang ini ialah lapangan yang belum pernah dicoba oleh semua atlet Indonesia. Beruntung kekhawatiran soal lapangan akhirnya pupus setelah Tim Indonesia menjajal lapangan, pada Selasa (18/12). “Kondisi lapangan sangat baik, hanya saja green masih agak lambat,” ujar Gian, yang turut mendampingi tim. (Adt)

Gelar Kejurnas Khusus Wanita, Lebih dari 440 Karateka Berebut GKR Hemas Cup 2018

Ketua Pengprov Inkai DIY, Budi Wibowo (tiga dari kanan), mengepalkan tangan didampingi sejumlah panitia Kejurnas Karate Wanita GKR Hemas Cup 2018, usai sesi jumpa pers di Pendopo Dinas Kebudayan Provinsi DIY, pada Jumat (21/12). Event ini bakal diikuti 440 karateka wanita dari 35 dojo se-Indonesia. (suaramerdeka.com)

Yogyakarta- Terobosan berani dan terbaru dilakukan Pengurus Provinsi (Pengprov) Ikatan Karate do Indonesia (Inkai) DIY dalam menggelar kejuaraan. Kali ini berlevel kejuaraan nasional (kejurnas), sebuah even untuk karateka wanita digelar untuk pertama kalinya. Bertajuk GKR Hemas Cup 2018, berlangsung 22-23 Desember, di GOR Amongrogo, even ini diikuti lebih dari 440 karateka putri se Indonesia. “Kami bangga bisa mewujudkan keinginan sejak lama dengan menggelar kejuaraan yang semua pesertanya atlet putri,” kata Ketua Umum (Ketum) Pengprov Inkai DIY, Budi Wibowo, pada Jumat (21/12). Penyelenggaraan turnamen yang tajuknya diambil dari nama permaisuri Kraton Ngayogyakarta itu, ungkap pria yang juga menjabat Kepala Dinas Kebudayaan DIY dan Asisten Perekonomian & Pembangunan Sekda DIY, sekaligus menggandeng dan berkolaborasi dengan sejumlah perguruan karate lainnya. “Kami bangga, karena kejurnas karate khusus wanita ini, terselenggara bersama beberapa perguruan, semua berkolaborasi di sini. Meski lahir dari INKAI, pesertanya tidak dibatasi dari perguruan kami saja, tapi juga seluruh perguruan yang terdaftar resmi di Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI),” papar dia. Sedangkan dasar pengambilan nama GKR Hemas, kata Budi lebih kepada sosok dari istri Sri Sultan Hamengkubuno X tersebut. “Karena beliau permaisuri raja, peraih bintang maha putra dari presiden dan anggota DPD RI. Kami rencanakan kegiatan ini akan digelar dua tahun sekali dan memperebutkan piala bergilir,” jelas Budi. Sementara Ketua Panitia GKR Hemas Cup, Anisa Chairuna Hasan Murti menyatakan, ada dua nomor yang dipertandingkan di kejuaraan kali ini. Selain nomor festival (pemula), terdapat nomor open. Kategori festival, jelasi Anisa, untuk para karateka pemula, yang baru enam bulan, atau satu tahun, menggeluti karate. “Jumlah pesertanya sekitar 440 karateka. Sejauh ini, kontingen terjauh berasal dari FORKI Makasar dan Palembang. Adapun terbanyak yakni dari Klaten dengan 60 karateka putri,” tandas dia. Kejurnas ini mempertandingkan 40 kelas, termasuk kata perorangan dan kumite beregu, dari 35 tim (dojo) se Indonesia. Tak sampai disitu, kejuaraan ini tak hanya diikuti oleh sejumlah atlet lokal, namu juga diikuti sejumlah atlet nasional. “Ada beberapa karateka nasioanl yang turun di PON 2016, juga ambil bagian di gelaran ini. Selain peserta adalah wanita, nantinya, wasit yang memimpin juga wanita,” pungkasnya. (Adt)

Jadi Runner Up BRI Junior Golf Championship 2018, Skill Jose Suryadinata Mulai Meningkat

Jose Emmanuel Suryadinata meraih bekal bagus mempersiapkan diri tampil di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua. Pegolf 16 tahun asal Jawa Timur itu, berhasil menempati posisi kedua, di Turnamen BRI Junio Internasional Junior Golf Championship 2018, di Lapangan Golf Pondok Indah, 17-20 Desember. (mediaindonesia.com)

Jakarta- Jose Emmanuel Suryadinata meraih bekal bagus mempersiapkan diri tampil di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua. Pegolf asal Jawa Timur itu, berhasil menempati posisi kedua, di Turnamen BRI Junio Internasional Junior Golf Championship 2018, di Lapangan Golf Pondok Indah, 17-20 Desember. Pegolf berusia 16 tahun ini sebenarnya tampil sangat bagus di turnamen itu. Dia menjadi yang terbaik pada kelas A dan menempati posisi teratas dengan total 215 pukulan (-1). Namun, secara keseluruhan, Jose harus mengakui keunggulan pegolf Thailand, Pongsapak Laopakdee, yang mencatatkan 213 pukulan (-3) di kelas B. “Dia (Laopakdee) lebih kompetitif, karena di sana (negaranya) banyak kompetisi yang berlangsung, sehingga lebih siap bertanding. Namun, saya merasa puas karena mampu menjadi yang terbaik di kelas saya,” ucap remaja kelahiran Surabaya, 31 Juli 2002, seusai penyerahan hadiah, pada Kamis (20/12). Meskipun, secara umum, ia hanya menempati posisi kedua di bawah Laopakdee, yang keluar sebagai juara umum, namun torehan ini menjadi hal positif. Posisi ketiga dan keempat, juga dihuni pegolf muda Indonesia, masing-masing atas nama Rendy Arbenata Mohamad Bintang dan Bergas Batara Anargya. Selain itu, Jose mengaku akan terus mengasah kemampuannya agar terpilih dalam skuad tim golf Jawa Timur pada PON 2020. Pegolf yang menempati posisi ke-12 di tingkat nasional itu, sudah merencanakan tampil pada kejuaraan nasional amatir, di Lapangan Golf Gading Raya Padang, Serpong, pada Januari 2019. Pegolf yang masuk Nasional Development Program ini, juga berharap bisa menembus tim nasional Indonesia. Tapi, pegolf terbaik kelas amatir pada Turnamen Gof Indonesia Open 2017 ini, justru enggan memikirkan hal itu. Tujuannya adalah mendapatkan beasiswa di Amerika Serikat. “Saya hanya ingin bermain bagus tiap turnamen. Hal itu tentu bisa membuat saya masuk ke pelatnas. Tapi, target utama saya adalah mendapatkan beasiswa ke Amerika,” ungkap pegolf, yang juga membantu Jawa Timur membawa medali perak, di nomor beregu pada PON 2016 Jawa Barat itu. Ketua Umum Persatuan Golf Indonesia (PGI) Murdaya Poo mengaku puas, dengan hasil atlet Indonesia selama tampil di Turnamen BRI Junio Internasional Junior Golf 2018. Menurut dia, ada banyak pegolf yang sudah bermain di atas rata-rata, termasuk Jose yang berhasil menempati posisi kedua secara keseluruhan. Dia berharap dapat menggelar lebih banyak lagi Turnamen World Amater Golf Rangkings (WAGR) di Indonesia. “Kami butuh lebih banyak turnamen untuk meningkatkan kemampuan pegolf. Tahun depan kami akan menyelenggarakan sekitar 42 turnamen yang terdaftar di WOAGR,” ungkap Murdaya. Ia yakin pada 10 tahun ke depan, kualitas golf Indonesia semakin bagus dan para pegolf Tanah Air bisa berbicara di kancah Internasional. “Saya punya planning 10 tahun. Baru empat tahun saja, kita sudah bisa mencetak hasil seperti ini,” tegasnya. Untuk mengejar ketinggalan dari Thailand, Indonesia butuh usaha kerja lebih keras. Menurutnya, Indonesia tertinggal 15 tahun dari Thailand. Thailand memiliki lebih dari 3.000 atlet golf. Korea Selatan punya lebih banyak lagi. Di Indonesia hanya punya 50 orang atlet golf. Namun, ini sudah jauh lebih bagus dari beberapa tahun silam, yang jumlah atletnya bisa dihitung dengan jari. (Adt)

Datangkan Atlet Jepang, Timnas Junior Bisbol Indonesia Ikut Coaching Clinic di Senayan

Atlet bisbol Jepang dari klub Fukuoka Softbank Hawks, Shuhei Fukuda, memberikan arahan kepada atlet bisbol junior Indonesia, yang dilakukan di Lapangan Softball Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (19/12). (liputan6.com)

Jakarta- Dua atlet bisbol Jepang, Keizo Kawashima dan Shuhei Fukuda, memiliki keinginan besar mempopulerkan cabang olahraga yang mereka geluti di Indonesia. Berkat bantuan perusahaan konstruksi Ohama Group dan PB Perbasasi, Kawashima dan Fukuda mendapatkan kesempatan menularkan ilmu bisbolnya kepada ratusan atlet di Indonesia. Mereka pun sempat melakukan coaching clinic di Lapangan Softball Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (19/12). Tercatat ratusan atlet Indonesia berpartisipasi, di antaranya anggota tim nasional senior Indonesia, U-18, usia dini 11-15 tahun, dan tim putri bisbol U-15. Menurut dua pemain yang memperkuat klub Fukuoka Softbank Hawks itu, orang-orang Indonesia sebetulnya memiliki struktur badan dan potensi yang mumpuni untuk bermain bisbol. Namun, antusiasme masyarakat dalam memainkan olahraga tersebut belum signifikan. Terlebih lagi, selama ini kerap ada anggapan bisbol adalah olahraga berbiaya mahal. Peralatan bisbol seperti tongkat, sarung tangan, dan lain-lain, nyatanya memang masih sulit didapat di Indonesia. “Dari kunjungan ini, saya mencatat bisbol bukan olahraga populer di Indonesia. Kami harus pikirkan dulu, bagaimana caranya agar orang Indonesia menyukai bisbol karena itulah kuncinya,” ujar Fukuda, saat konferensi pers. Softbank Hawks merupakan klub yang berhasil menjadi juara pada Japan Series 2018. Wakil Ketua Umum PB Perbasasi, Leo Agus Cahyono, menyatakan Indonesia sebetulnya memiliki fasilitas lapangan bisbol yang cukup baik, meski faktanya belum ada kompetisi reguler. Contohnya saja lapangan di Kalimantan Timur yang dinilai sudah memenuhi standar. Lapangan tersebut digunakan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2018. Ada pula lapangan di Lampung, yang sempat digunakan venue latihan atlet bisbol Indonesia. Namun sebenarnya, persoalan tidak populernya bisbol di Indonesia bukan terletak pada ketersediaan infrastruktur. Kedatangan Kawashima dan Fukuda, kata Leo, juga diharapkan bisa mengubah persepsi para atlet yang selama ini berpikir bahwa atlet baseball harus punya tubuh yang besar dan kuat. “Mereka berdua posturnya tidak terlalu besar. Bahkan dapat dikatakan sama dengan kita,” tambahnya. Sementara itu Direktur Ohama Group, Tetsuya Ohama, menyebut jika bisbol bisa dimainkan di berbagai jenis lapangan apapun. Satu hal yang bisa membuat bisbol populer di Indonesia adalah pola pikir dan pandangan masyarakat, terhadap olahraga itu sendiri. “Hal terpenting adalah bagaimana mindset anak-anak Indonesia menyukai baseball. Bisbol bisa menjadi luar biasa di Jepang karena anak-anak di Jepang sudah punya mindset soal olahraga itu. Misalnya, anak-anak di Jepang sudah ada yang ingin berkarier dan meraih kesuksesan besar melalui bisbol,” pungkas Ohama. Diselenggarakannya sesi pelatihan bisbol sangat penting, lantaran Indonesia baru membentuk tim nasional bisbol putri. Asosiasi Bisbol dan Sofbol Dunia (WSBC) memang sedang menggencarkan olahraga bisbol kepada atlet putri, mengingat masih banyak atlet putri yang lebih banyak bertanding di sofbol. (Adt)

Elga Diminta Turun di ATC 2019, Pelatih Rekomendasikan Diganti Atlet 18 Tahun

Pebalap kelahiran Blitar, 20 Juni 2000, Wiji Lestari, mendapat rekomendasi dari sang pelatih, untuk menggantikan Ratu sepeda BMX putri Indonesia, Elga Kharisma Novanda yang masih menjalani pemulihan cedera pinggang, tampil dalam ajang Asian Track Championship (ATC) 2019. (mainsepeda.com)

Jakarta- Ratu sepeda BMX putri Indonesia, Elga Kharisma Novanda, masih menjalani pemulihan cedera pinggang yang menderanya sejak awal tahun. Namun, atlet 26 tahun ini sudah diminta turun dalam event Asian Track Championship (ATC) 2019, di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, pada 8-13 Januari. Pebalap kelahiran Malang, 14 November 1993 ini, diminta turun di nomor tim sprint putri bersama, Crismonita Dwi Putri. Keduanya memang menorehkan catatan waktu yang cukup baik di kejuaraan Track Asia Cup, September lalu. Dengan catatan waktu 34,862 detik, mereka diharapkan bisa mengulangi pencapaian tersebut. Ketua PB ISSI, Raja Sapta Oktohari mengaku, meski masih proses penyembuhan, ia yakin Elga bisa tampil prima di ATC 2019. “Saya tahu perkembangannya. Dipastikan nanti akan turun di Asian Track Championships 2019,” katanya. Namun, pendapat berbeda justru diutarakan oleh pelatih Elga, Nur Rochman. Rochman merasa, Elga harus diberi waktu untuk istirahat. Berdasarkan saran dokter, pemulihan pasca operasi setidaknya membutuhkan waktu minimal tiga bulan. Menurut Rochman, peran Elga sebaiknya digantikan oleh atlet junior, Wiji Lestari, yang pada Asian Games 2018, berhasil meraih perunggu di nomor BMX. Hal itu membuat Wiji kini dinilai layak mendampingi Crismonita. “Wiji memang harus membenahi beberapa teknik bersepeda. Dia itu memiliki power yang luar biasa, tapi dia harus bisa lebih efisien lagi, supaya tidak boros tenaganya,” jelas Rochman. Wiji, remaja kelahiran Blitar, Jawa Timur, 20 Juni 2000 ini menyumbang perunggu Asian Games bagi Indonesia, usai tampil di Pulo Mas International BMX Centre, pada Sabtu (25/8) dan membukukan waktu 40,788 detik. Ia kalah cepat dari Zhang Yaru (China, 39,843 detik) dan Kitwanitsathian Chuttikan (Thailand, 40,379 detik). Sebelum meraih perunggu Asian Games 2018, Wiji yang tinggal di Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, mengunci gelar juara kelas junior putri, dalam ajang International BMX Competition 2018, di Banyuwangi, Jawa Timur, pada Juli silam. (Adt)