Amelia Nur Sifa Ikuti UCI Championship, Sudah Jalani Training di Belanda

Amelia Nur Sifa Ikuti UCI Championship, Sudah Jalani Training di Belanda

Pembalap sepeda BMX putri Jateng, Amelia Nur Sifa optimistis tampil di UCI 2021 BMX World Championship di Sirkuit BMX Arnhem Papendallaan, Amsterdam, Belanda, Minggu (22/8). Sifa akan turun di kelas Women’s Junior U-18. Sifa bersama tiga atlet Indonesia lainnya yakni Jasmine Azzahra Setyobudi, Soekarno Aditya Fajar Putu, dan Muhammad Alfauzan. Pembalap asal Temanggung itu saat ini berada di peringkat 18 dunia kategori yunior. Wakil Ketua II Pengprov Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Jateng Suma Novendi mengatakan, Sifa menjalani program stay training camp UCI di Belanda sejak 10 Agustus lalu. “Sebuah kebanggan bagi Jateng, atlet BMX mewakili Indonesia turun di kejuaraan dunia,” tutur Suma saat dihubungi, Jumat (20/8). “Bagi Jateng, ini sebuah kesempatan emas. Sifa bisa semakin matang baik teknik maupun mental. Dia bisa belajar banyak di Belanda nanti. Lawan mereka pembalap yunior kelas dunia. Jadi ini kesempatan bagus untuk mendapatkan pengalaman. Jangan bicara target dulu, terpenting mampu tampil semaksimal mungkin,” tutur pengusaha asal Cepu, Blora itu. Tampilnya Sifa, kata dia, menjadi motivasi bagi atlet BMX lain di Jateng. Dengan latihan rutin dan kerja keras, prestasi akan bisa teraih. Suma menilai, Sifa punya potensi yang besar ke depannya. Harapan jauh yakni bisa tampil di Olimpiade Paris 2024. Karena itu, pihaknya akan mendorong dan menjaga Sifa semaksimal mungkin. “Belanda merupakan tempat latihan rider BMX kelas dunia dengan fasilitas latihan kelas internasional. Negara itu punya atlet putri Merel Smulders peraih perunggu olimpiade dan Niek Kimmann peraih emas. Sifa juga menjadi harapan kami di berbagai ajang. Semoga saja PON XXI 2024 nanti, balap sepeda diperlombakan,” ujar Suma. Sumber: Suara Merdeka

Atlet Muda Taekwondo Kota Probolinggo Berhasil Raih 7 Medali Emas

Atlet Muda Taekwondo Kota Probolinggo Berhasil Raih 7 Medali Emas

Atlet muda taekwondo Kota Probolinggo, Jawa Timur berhasil memboyong tujuh medali emas, satu perak dan empat perunggu dari berbagai nomor kejuaraan di Bandung International E-Poomsae Tournament 2021. “Sebanyak 12 medali berhasil kami boyong, padahal sejak tahun 2004 latihannya numpang dari tempat Kodim, kemudian Zipur,” kata Ketua Pengurus Taekwondo Indonesia Kota Probolinggo Lalu Purwadi di kota setempat, Sabtu. Ia mengatakan untuk mendapatkan atlet yang siap bertanding sebaiknya mengikuti pembinaan sejak usia 5 tahun dan sebenarnya pihaknya sangat senang kalau ada yang mau daftarkan anaknya dari taman kanak-kanak, “Kalau masuknya sudah SMP dan SMA boleh bertanding itu kan setelah sabuk kuning ke atas. Nah ini prosesnya jadi lama, tidak mungkin baru bertanding langsung juara 1,” tuturnya. Menurutnya Dojang atau tempat berlatih taekwondo di Kota Probolinggo sudah diakui sebagai yang terbaik oleh Pengurus Provinsi Jawa Timur dan tidak kalah dengan Surabaya. “Saya dapat penghargaan tahun 2020 dari Pengprov Taekwondo Indonesia Jatim yang diserahkan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia karena Kota Probolinggo pengembangan organisasi dan atlet terbaik,” katanya. Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin, Kamis (12/8) berkesempatan mengunjungi Dojang yang terletak di Jalan Semeru nomor 74 itu dan juga mengalungkan medali dan penyerahan bonus prestasi bagi atlet. Wali kota yang akrab disapa Habib Hadi itu menyambut baik atas raihan prestasi atlet binaan Pengurus Taekwondo Indonesia Kota Probolinggo tersebut. “Tentunya saya hadir disini ingin melihat adik-adik yang sudah dididik oleh Pengurus Taekwondo Indonesia Kota Probolinggo. Itu suatu hal yang luar biasa, menjadi kebanggaan kita, apalagi adik-adik yang disini juara,” tuturnya. Ia sangat mendukung kegiatan pembinaan olahraga bagi anak-anak khususnya saat masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan tentunya itu adalah suatu wadah yang luar biasa untuk mengisi kekosongan waktu anak-anak, apalagi dalam situasi kondisi pandemi. Atlet taekwondo Kota Probolinggo lainnya akan mengikuti kompetisi tingkat internasional yakni Gorontalo International Virtual Championship 2021 pada September nanti.

Satu-satunya Tim Yang Menurunkan Pemain U-23, Tim Hoki Indoor Papua Janji Tampil Maksimal

Satu-satunya Tim Yang Menurunkan Pemain U-23, Tim Hoki Indoor Papua Janji Tampil Maksimal

Tim hoki indoor putri Papua tetap menjanjikan hasil terbaik untuk kontingen Papua pada penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX, walaupun mereka satu-satunya tim yang akan tampil dengan mayoritas pemain U-23. Pelatih kepala tim hoki indoor Papua, Ritam Maay, mengatakan pada PON XX nanti timnya akan tampil dengan mayoritas wajah baru atau pemain U-23. Sejak jauh hari, Papua sebagai tuan rumah memang telah mengusulkan untuk cabor hoki harus memainkan para pemain U-23, dengan alasan untuk memberikan kesempatan pemain muda agar ada regenerasi atlet di olahraga hoki. Namun belakangan usulan tersebut tidak digubris oleh kontingen lain yang tetap akan memainkan para pemain senior. Karena hal itu, tim hoki indoor Papua lantas memanggil 3 pemain senior mereka, yakni Kristina Rumbiak, Bastiana Rumbiak, dan Anna Naap. “Di PON XX kali ini yang kita siapkan di indoor itu semua U-23, tapi nyatanya regulasi berubah dan kontingen lain bermain dengan pemain senior. Untuk itu kita di indoor putri ini ada 3 atlet senior yang kita tarik. Kita siapkan U-23 karena kami Papua sebagai tuan rumah itu punya keinginan untuk meregenerasi olahraga hoki di Indonesia, tapi di tengah jalan regulasi itu berubah,” kata Maay, Senin (16/8/21). Meski akan tampil dengan mayoritas pemain U-23 yang minim pengalaman, Maay mengaku timnya kian menunjukkan progres yang signifikan selama menjalani ujicoba dalam masa try out di Jakarta. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi Tanah Papua di PON XX nanti. “Kami sampai saat ini masih berada di Jakarta untuk berujitanding mematangkan tim. Untuk target kita akan berusaha memberikan yang terbaik bagi Papua di rumah sendiri,” pungkasnya. Sementara itu, Kristina Rumbiak, yang akan menyandang ban kapten di tim hoki indoor putri Papua akan bertugas memimpin rekan-rekannya yang mayoritas masih atlet junior atau U-23. Dengan segudang pengalaman yang ia miliki dan prestasi medali perak di PON XIX Jawa Barat tahun 2016, Kristina akan menjadi tumpuan bagi timnya untuk mempersembahkan medali emas. Meski belum juga menjajal venue PON XX di Doyo Baru, Kristina menjanjikan penampilan terbaiknya demi mempersembahkan medali emas untuk Papua di rumah sendiri. “Saya dan teman-teman akan melakukan yang terbaik untuk bisa mendapatkan medali emas. Soalnya kita main di tanah kita sendiri, ini kita punya harga diri, jadi kita pasti akan lakukan yang terbaik. Sekalipun itu darah yang keluar, kita akan berdiri tegar untuk bisa dapat medali bagi tanah kita,” tandasnya. Sumber: Jubi.co.id

Brylian Aldama & David Maulana Dipinjamkan ke Klub Divisi 3 Kroasia

Brylian Aldama & David Maulana Dipinjamkan ke Klub Divisi 3 Kroasia

Pesepakbola muda Indonesia, Brylian Aldama dan David Maulana dilepas HNK Rijeka ke klub Divisi 3 Kroasia, NK Pomorac 1921. Keduanya tak pindah permanen alias hanya dipinjamkan sementara. Keputusan ini dianggap menguntungkan pihak klub maupun pemain. Baik Brylian dan David diperkirakan akan kesulitan bersaing jika tetap dipertahankan. Meski cuma dipinjamkan ke klub kasta ketiga, Brylian dan David punya peluang lebih besar untuk dimainkan. Sementara kalau bertahan di Rijeka pun setidaknya masih harus bersaing di tim U-19. Berbagai media Kroasia, salah satunya Sport.com melaporkan Brylian dan David sudah ambil bagian dalam laga NK Pomorac. Mereka memperkuat klub barunya pada uji coba melawan Lokomotiva, belum lama ini. “Untuk saat ini diketahui bahwa klub Divisi 3 ini cukup puas dengan kualitas dua pemain muda,” dikutip dari Sportcom. Brylian lebih dulu ke Kroasia pada April lalu dan sempat merasakan beberapa laga bersama tim U-19. Sementara David menyusul kemudian setelah sempat numpang berlatih bersama PSMS Medan. Dua pemain lulusan Garuda Select itu masing-masing diganjar kontrak berdurasi 1,5 tahun saat diresmikan Rijeka. Brylian didatangkan pada awal April, sementara David pada 6 Juni. Ada peran Garuda Select dalam bergabungnya Brylian ke Rijeka. Sama seperti Bagus Kahfi yang pindah ke Jong FC Utrecht dengan bantuan Garuda Select.

Terjun ke Tenis Profesional, Ini Jadwal Turnamen yang Diikuti Priska Nugroho

Terjun ke Tenis Profesional, Ini Jadwal Turnamen yang Diikuti Priska Nugroho

Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, saat ini tengah mengadu peruntungan sebagai petenis profesional di Eropa. Petenis berusia 18 tahun itu tengah mengikuti rangkaian turnamen di Denmark. Level pro sendiri baru dijalaninya pada pertengahan tahun ini. Sebelumnya, ia merupakan petenis junior Indonesia yang terpilih menjadi bagian dari ITF (Federasi Tenis Internasional) Touring Team to Europe. Ia bergabung dengan tim yang dibiayai Grand Slam Development Fund di Paris, Prancis, sejak Mei lalu. Bersama talenta muda dari berbagai negara, Priska melakoni sejumlah turnamen junior level atas di Benua Eropa, termasuk dua Grand Slam yakni Roland Garros dan Wimbledon. Hasil mengecewakan diraih Priska Madelyn Nugroho di ajang Prancis Terbuka Junior. Ia langsung kandas di babak pertama. Bertanding di Stade de Roland Garros, Paris, di nomor tunggal putri, Priska yang ditempatkan sebagai unggulan ke-15 takluk dari petenis Rep. Ceko, Darja Vidmanov. Pada sektor ganda putri, Priska berpasangan dengan petenis asal Rusia, Erika Andreeva juga tersingkir di babak pertama. Mereka takluk dari pasangan petenis dari Prancis, Laia Petretic yang berpasangan dengan petenis Meksiko, Julia Garcia. Prestasi lebih baik diraih Priska di ajang Wimbledon 2021. Peraih juara ganda putri Autralian Terbuka junior 2020 ini lolos hingga babak kedua baik di nomor tunggal dan nomor ganda putri. Ajang Wimbledon Junior ini sendiri mengakhiri rangkaian perjalanan Priska Madelyn Nugroho sejak dirinya terpilih sebagai anggota ITF Touring Team to Europe. Pasca tersingkir dari Wimbledon Junior, Priska pun memulai kariernya pada level profesional. Pada 16 Juli lalu, Ia menjadi semifinalis ganda putri bersama petenis Korea Selatan, Yeonwoo Ku, di turnamen ITF W15 Almada, Portugal. Dilansir dari laman resmi ITF, Priska juga sempat mengikut iurnamen ITF Amarante Ladies Open yang digelar pada tanggal 19-25 Juli 2021, di Portugal. Namun, ia baru bisa merebut gelar juara pertama di level pro pada turnamen Pada turnamen ITF World Tennis Tour W15 Frederisberg, Denmark, Priska Madelyn Nugroho sukses meraih gelar juara ganda putri. Berpasangan dengan pemain Jepang, Naho Sato, mereka berhasil menundukkan Viktoriia Dema (Ukraina)/Ani Vangelova (Bulgaria) di partai final dengan skor 6-0,6-1, Sabtu, 7 Agustus 2021. ITF World Tour W15 merupakan level terendah dalam struktur kompetisi Federasi Tenis Internasional (ITF). Ajang berhadiah total 15.000 dolar AS (sekitar Rp215 juta) merupakan loncatan awal petenis junior merintis karier di tenis profesional. ITF World Tennis Tour W15 Frederisberg merupakan turnamen kedua bagi Priska Nugroho di Denmark. Sebelumnya, petenis unggulan tanah air itu sempat mengikuti turnamen di kota Vejle. Berlaga di sektor tunggal putri, ia hanya mampu mencapai babak semifinal. Turnamen yang dijalani sang atlet merupakan bagian dari rangkaian turnya di Eropa. Setelah berlaga di Denmark, Priska direncanakan berangkat ke Jerman dan Austria untuk berlaga di turnamen lainnya. Setelah semua turnamen selesai diikuti, Priska Nugroho dijadwalkan pulang ke tanah air. Petenis muda Indonesia itu akan mengikuti Pekan Olahraga Nasional yang akan dihelat di Jayapura, Papua. Karier tenis Priska Madelyn Nugroho diwarnai pencapaian apik di level junior. Ia menjuarai Australia Terbuka Junior 2020 di nomor ganda putri, saat berpasangan dengan petenis Filipina Alexandra Eala. Sumber: Tempo

Empat Atlet Junior Indonesia Latihan di Belanda, Bidik Olimpiade Paris

Empat Atlet Junior Indonesia Latihan di Belanda, Bidik Olimpiade Paris

Sebanyak empat atlet sepeda BMX junior Indonesia akan mengikuti BMX World Championship U-18 di Papendal, Belanda 17-22 Agustus 2021. Kemudian, setelah tampil di BMX World Championships U-18, empat atlet junior tersebut akan melanjutkan program pelatihan (staycamp) selama tiga tahun di Belanda demi mengumpulkan poin dan mempersiapkan Olimpiade Paris 2024. Empat atlet Indonesia tersebut adalah Aditya, Alfauzan, Jasmine Azzahra, dan Amellya Nur Sifa. Rencananya, para atlet junior ini akan berangkat ke Belanda pada Senin (16/8/2021) pagi dengan didampingi dua pelatih, Toni Syarifudin dan Ari Kristanto. “Target mereka di BMX World Championship U-18 adalah untuk memperbaiki peringkat dunia secara individu dan negara,” ujar Sekjen PB ISSI, Parama Nugroho. “Setelah hampir 1,5 tahun tidak mengikuti kompetisi, peringkat para atlet pun ikut terdampak. Selain itu, juga untuk menambah jam terbang perlombaan para atlet junior yang untuk pertama kali menjajal Sirkuit BMX Supercross di Belanda,” tuturnya. Melalui program ini, diharapkan para atlet mampu meningkatkan performa dan skill mereka dalam bersepeda BMX. Keempat atlet juga akan mendapatkan pengalaman latihan yang berbeda dan didukung oleh beragam fasilitas olahraga standar internasional. Kompetisi yang diagendakan untuk diikuti keempat atlet tersebut adalah World Cup, European Series, dan C1 Series. “Selama di Belanda para atlet juga diharapkan bisa menaikkan performasnce dan skill mereka dengan sistem kepelatihan modern di sana,” kata Parama menambahkan. “Sebab, target utama dari staycamp itu adalah supaya atlet BMX junior Indonesia bisa lolos ke Olimpiade Paris 2024,” tuturnya. Sebagai informasi, saat ini Belanda menjadi negara terbaik di dunia untuk balap sepeda. Di Olimpiade Tokyo 2020 lalu, misalnya, Belanda berhasil meraih medali perunggu BMX putri dan medali emas BMX putra. Jelang keberangkatan, para atlet dan pelatih terlebih dahulu diterima Ketua Harian PB ISSI, Wahyu Hadiningrat. “Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh atlet atas semangat dan dedikasinya dalam mengikuti setiap program pelatihan,” ujar Wahyu. “Saya menitipkan pesan supaya atlet selalu semangat dalam menjalankan seluruh proses latihan sehingga dapat memberikan performa terbaiknya di setiap kompetisi yang diikuti. Di situasi pandemi Covid-19, para atlet juga harus selalu menjaga kesehatan dan selalu waspada akan penyebaran virus Covid-19 di mana pun berada,” ia memungkasi. Sumber: Skor.ID

Timnas Basket Junior Ikuti Kejuaraan FIBA 3×3 World Cup U-18 di Hongaria

Timnas Basket Junior Ikuti Kejuaraan FIBA 3x3 World Cup U-18 di Hongaria

Timnas Bola Basket Junior putra dan putri dibentuk untuk diikutkan pada ajang FIBA 3×3 World Cup U-18 di Hongaria, 24-29 Agustus 2021. Lalu, siapa sajakah yang berangkat untuk mewakili Indonesia? Untuk Timnas Bola Basket U-18 puteri diperkuat Angelica Jennifer Candra, Vanissa Renata Siregar, Syarafina Ayasa Sjahril, dan Margareth Rachel Janna. Mereka dipimpin Kepala Bidang Kepelatihan PP Perbasi Taufik Saleh sebagai team delegate. Kemudian, untuk Timnas Bola Basket U-18 Putera dipimpin Syafiq Ali Mubarak dengan pemain Rafael Pasha, Franciscus Gerick Fernando, Aaron Nathanael, dan Mikail Jaydra Muhammad. Kedua timnas ini sudah berlatih sejak 8 Agustus 2021 di GMC Basketball Arena, Cirebon, Jawa Barat. “Para pemain berlatih sampai 21 Agustus karena 22 Agustus sudah harus bertolak ke Hungaria. Merekalah yang akan mewakili Indonesia di FIBA 3×3 World Cup U-18 karena tidak ada promosi dan degradasi dalam training center ini,” kata Njoo Lie Wen, Ketua Badan Tim Nasional Junior PP Perbasi, Rabu (11/8). Pada ajang kali ini, diharapkan para pemain mendapat pengalaman bermain dengan atlet terbaik di dunia. Lebih dari itu, mereka bisa merasakan seperti apa level 3×3 U-18 World Cup. Dengan begitu, ajang ini bisa menjadi tolok ukur untuk mau berkembang lebih jauh lagi. Team Delegate Timnas Bola Basket U-18 Putera, Taufik Saleh menambahkan, pemilihan pemain dalam timnas ini kewenangannya ada di Badan Tim Nasional Junior PP Perbasi. Mereka dipercaya mewakili Indonesia karena sebelumnya sudah terpantau dan tersedia karena lolos kualifikasi dan terverifikasi oleh sistem FIBA 3×3. “Ini karena pemilihan pemain untuk Timnas 3×3 berbeda dengan 5×5. Ada syarat minimum tahun pembuatan passport, syarat ranking di FIBA 3×3 Play, dan lainnya,” terang Taufik. “Di 3×3 juga tidak ada istilah pelatih namun istilahnya Team Delegate yang bertugas untuk membantu latihan dan mendampingi tim selama TC dan berangkat untuk menggali banyak informasi dan pengetahuan di FIBA 3×3 U18 World Cup sehingga dapat bermanfaat untuk perkembangan 3×3 ke depan,” imbuh dia. Dalam pembentukan skuat ini, PP Perbasi memanggil tiga pemain yang masih tercatat sebagai penggawa Timnas Bola Basket U-16. Harapannya, mereka menimba pengalaman sebanyak mungkin dari ajang ini. “Kami membawa tiga orang pemain putri U-16 berada di Tim agar mereka semakin kaya pengalaman karena masih bisa diikutkan Timnas U18 untuk 2 tahun mendatang. Salah satunya selain untuk event FIBA 3×3 U18 berikutnya maupun FIBA Asia U18 Women’s Championship, di mana Timnas Putri U18 Indonesia masih tergabung dalam Level 1 (Division A) untuk FIBA Asian U-18 Women’s,” terang Taufik. Sekjen PP Perbasi Nirmala Dewi mengatakan, federasi mendukung penuh perjuangan Timnas Bola Basket U-18 di FIBA 3×3 World Cup. Pada ajang ini, para pemain diharapkan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya pengalaman bertanding. Menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk perkembangan bola basket Indonesia ke depannya.

Pecahkan Rekor Pendahulu, Zohri Sprinter Indonesia Tercepat di Olimpiade

Pecahkan Rekor Pendahulu, Zohri Sprinter Indonesia Tercepat di Olimpiade

Zohri memang belum berhasil menyumbang medali untuk Indonesia pada Olimpiade Tokyo 2020. Pelari asal Lombok itu kalah cepat dengan atlet kelas dunia lainnya. Namun, ada rekor lain yang berhasil terpecahkan oleh Lalu Muhammad Zohri. Ia mencatat sejarah baru sebagai sprinter Indonesia tercepat di ajang Olimpiade. Zohri sukses menjadi atlet tercepat di nomor 100 meter putra di pesta olahraga terbesar sedunia tersebut. Pada babak pertama heat keempat, Zohri finis di urutan ke-5 dengan catatan waktu 10,26 detik. Lalu, siapa sajakah mantan pelari Indonesia yang mampu dilampaui rekornya oleh Zohri? Yang pertama ada nama Jalal Gozal. Pada Olimpiade Melbourne 1956, Jalal Gozal memiliki catatan waktu 11,45 detik. Kemudian berlanjut di Olimpiade Roma 1960, ada Johannes Gosal yang mencatatkan waktu 10,90 detik. Lalu, pada ajang Olimpiade Los Angeles 1984, Indonesia memiliki dua wakil di nomor 100 meter putra. Yang pertama Mohamed Purnomo dengan catatan 10,51 detik, kemudian ada Christian Nenepath yang dengan waktu 10,66 detik. Berlanjut di Olimpiade Seoul 1988, Indonesia diwakili Mardi Lestari dengan mencatatkan waktu 10,39. Masuk ke Olimpiade Sydney 2000, terdapat tiga wakil, yakni John Herman Murray mencatatkan 10,68 detik, Yanes Raubaba lebih cepat dari John, dirinya berhasil catat 10,54 detik. Lalu Erwin Heru Sutanto menempati posisi enam dengan waktu 10,87 detik. Di Beijing 2008, ada Suryo Agung yang mampu mencatatkan waktu 10,46 detik. Sementara di London 2012, ada Fernando Lumain dengan catatan 10.90 detik yang lolos ke perempat final namun finish kedelapan. Di Olimpiade Rio 2016, Sudirman Hadi terhenti di putaran pertama. Dia mencatatkan waktu 10,70 dan menempati posisi sembilan. Dengan pencapaian yang terbilang luar biasa ini, tentu saja ini bisa menjadi harapan ke depan bagi Indonesia untuk Zohri bisa tampil lebih baik lagi di Olimpiade Paris 2024, mengingat usianya yang masih sangat muda yakni 21 tahun. Sumber: Sindonews.com

Menpora Beberkan Persiapan Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20

Menpora Beberkan Persiapan Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20

Indonesia baru saja menyelesaikan perjuangan di ajang olahraga internasional Olimpiade Tokyo 2020 yang berlangsung pada Juli-Agustus 2021. Pada 2023, Indonesia akan kembali diramaikan oleh gelaran Piala Dunia FIFA U-20. Bahkan, Indonesia digadang menjadi tuan rumah kejuaraan sepak bola internasional tersebut. Menurut rencana, Piala Dunia FIFA U-20 2023 akan dilangsungkan di Jakarta. Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Menpora) pun tengah melakukan sejumlah persiapan. Persiapan tersebut dibahas dalam Dialog Produktif Rabu Utama di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) dengan tema “Kiat Berprestasi di Masa Pandemi”, Rabu (11/8/2021). Menteri Menpora Zainudin Amali mengatakan, gelaran Piala Dunia FIFA U-20 akan dilaksanakan dengan pelaksanaan protokol kesehatan ketat untuk menjamin kesehatan para staf dan atlet. “Semua (atlet dan staf) yang terlibat harus sudah divaksin dan melakukan tes swab. Tidak ada penonton di arena. Misal, stadion berkapasitas 20 ribu orang, maksimal 299 orang berkepentingan saja yang boleh masuk ke sana,” ungkap Zainudin melalui keterangan resmi. Selain itu, pemerintah juga tengah mematangkan persiapan untuk menjaring bibit unggul tim sepak bola nasional. Beberapa sentra pembinaan olahraga pun dibangun di berbagai daerah dengan tujuan untuk menjaring talenta-talenta muda di dunia olahraga. “Kejuaraan di daerah adalah sumber atlet nasional. Dari sekitar 250.000 atlet talenta daerah, kita saring bertahap, hingga akhirnya didapatkan 150 orang atlet elit nasional dari cabor unggulan,” papar Zainudin. Sumber: Bolasport

Kisah Perjuangan Riley Day, Dari Supermarket Hingga Olimpiade

Kisah Perjuangan Riley Day, Dari Supermarket Hingga Olimpiade

Pelari muda Australia, Riley Day, mungkin gagal membawa pulang medali dari Olimpiade Tokyo 2020. Akan tetapi, tampil di Olimpiade Tokyo 2020 merupakan prestasi tersendiri bagi Day yang bekerja sebagai pegawai supermarket. Day berkompetisi di nomor 200 meter putri Olimpiade Tokyo 2020 nomor 200. Penampilannya pun cukup baik. Atlet berusia 21 tahun itu menembus semifinal. Akan tetapi, Day tidak bisa melanjutkan kiprahnya ke final karena hanya berada di urutan keempat. Namun, daya tarik dari atlet muda itu bukan pencapaiannya di Olimpiade Tokyo 2020, melainkan latar belakangnya. Day adalah seorang pegawai sebuah supermarket di Australia Day telah menghabiskan tiga tahun bekerja di salah satu supermarket ternama, Woolies. Dia ditempatkan di salah satu cabang, di Queensland. Dalam rutinitasnya sehari-hari, Day hanya libur pada Minggu. Meski sangat sibuk dengan pekerjaannya, atlet asal Negeri Kangguru itu tidak patah semangat. Day berlatih kurang lebih tiga jam sehari, enam kali seminggu. Selain itu, dia juga mengikuti kuliah di Universitas Griffith. “Saya menjalani banyak latihan dan aktivitas lainnya. Itu sangat melelahkan,” ujar Day dilansir dari News, Sabtu (6/8/2021). Day tampil di Olimpiade Tokyo 2020 tanpa sponsor. Dia sempat meminta para penggemar barunya untuk mem-follow media sosialnya. Menariknya, para suporter sempat ingin mencarikan Day sponsor untuk membantunya meraih medali. Akan tetapi, satu-satunya sponsor yang tetap setia bersama Day adalah kantornya sendiri, Woolies. Selama Day berada di Tokyo, pihak supermarket telah menyatakan, bahwa atlet muda itu tetap menerima gaji meski dirinya absen. Dengan demikian, semoga segala bentuk dukungan yang diterima Riley Day dapat membantunya melangkah lebih jauh lagi. Day diharapkan konsisten tampil apik dalam setiap ajang yang diikutinya. Meski gagal di Tokyo, Day masih punya peluang untuk meraih medali di Olimpiade Paris 2024. Sumber: Okezone

Jelang Olimpiade Paris 2024, CdM: Sudah Saatnya Federasi Segera Regenerasi Atlet

Jelang Olimpiade Paris 2024, CdM: Sudah Saatnya Federasi Segera Regenerasi Atlet

Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020, Rosan Roeslani menilai sudah saatnya memikirkan regenerasi atlet dalam program pemusatan latihan nasional setiap cabang olahraga. Menurut dia, regenerasi menjadi penting terutama dalam menyambut Olimpiade 2024 di Paris yang tinggal menyisakan tiga tahun lagi. Di Olimpiade Tokyo, Indonesia membawa pulang lima medali. Lima medali terdiri atas satu medali emas, satu medali perak, dan 3 medali perunggu. Dengan hasil ini, Tim Merah Putih menempati urutan 55 dari 86 peserta. Sementara itu, pada penyelenggaraan Olimpiade sebelumnya di Rio de Janeiro, Indonesia berada di ranking 46 dengan koleksi 1 medali emas dan 2 medali perak. “Peringkat memang turun, tetapi di sisi lain ada faktor positif yang mengejutkan,” kata Rosan di Jakarta pada Senin, 9 Agustus 2021. Rosan menjelaskan mayoritas peraih medali merupakan hasil regenerasi. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo merupakan duet pemain senior-junior, Greysia Polii (33 tahun) dan Apriyani Rahayu (23 tahun). Peraih perunggu dari cabang olahraga angkat besi, yaitu Windy Cantika Aisah baru berusia 19 tahun dan Rahmat Erwin Abdullah berusia 20 tahun. Di samping peraih medali, kata Rosan, banyak pula atlet muda Indonesia yang berpartisipasi di Olimpiade Tokyo. Mereka yakni atlet rowing Mutiara Rahma Putri dan pemanah, Arif Dwi Pangestu, yang masih berusia 17 tahun. Ada juga Bagas Prastyadi (atlet panahan-19 tahun), Azzara Permatahani (renang-19 tahun), Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba (menembak-20 tahun), Gregoria Mariska Tunjung (bulu tangkis-21 tahun), dan Rio Waida (surfing-21 tahun). “Artinya ada atlet-atlet yang bisa dikembangkan dan menjadi tumpuan. Apalagi Olimpiade 2024 Paris tersisa tiga tahun dan beberapa cabang olahraga juga sudah marak menyelenggarakan kualifikasi pada akhir tahun sehingga Federasi Nasional sudah harus memikirkan atlet muda ini agar bisa lolos sehingga jumlah atlet yang lolos ke Olimpiade Paris bisa bertambah,” kata Rosan. Selain pentingnya regenerasi di pelatnas untuk mengadapi ajang olahraga multicabang, Rosan menilai setiap cabang olahraga juga harus memiliki program jangka panjang. “Kita juga lihat, raihan medali dari atlet yang cabor-cabor nya melaksanakan pelatnas berkesinambungan. Sebab, prestasi tidak bisa dibuat secara instan,” katanya. Rosan yang juga menjabat sebagai Ketua PB Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia menuturkan bahwa proses regenerasi sudah ia terapkan di federasinya. Hasilnya pun berbuah manis setelah dua atlet angkat besi muda mampu memberikan medali di Tokyo pada debut mereka di Olimpiade. “Bahkan di pelatnas angkat besi saat ini ada 16 atlet, 13 di antaranya merupakan lifter muda,” ujar dia.

Baru Berusia 14 Tahun, Atlet Asal Tiongkok Ini Sabet Medali Emas Olimpiade

Baru Berusia 14 Tahun, Atlet Asal Tiongkok Ini Sabet Medali Emas Olimpiade Tokyo 2020

Luar biasa. Mungkin kata itu yang cocok diberikan untuk Quan Hongchan. Ia tidak hanya mampu menyabet medali emas, namun juga meraih skor hampir sempurna dalam cabang olahraga loncat indah di Olimpiade Tokyo 2020 pada Kamis (5/8/2021). Melansir The Straits Times pada Kamis (5/8/2021), Quan melakukan debut internasional yang baik di Tokyo Aquatics Centre. Quan yang baru berusia 14 tahun pada Maret, merupakan atlet termuda yang mewakili Tiongkok di Olimpiade Tokyo, tetapi dia berhasil menyelesaikan lontacan 10 meter putri dengan skor 10 dari ketujuh juri pada ronde kedua dan keempat. Quan melompat dengan postur sempurna dan gerakan tajam saat dia melompat dari papan kolam renang, disebut dalam NBC Olympics ia terlihat seperti seorang penyelam veteran di usia 14 tahun. Di akhir penampilannya disambut sorak-sorai atlet loncat indah Tiongkok lainnya dengan mengibarkan bendera negara, seperti Shi Tingmao, atelt loncat indah papan 3 meter putri, dan Xie Siyi, atelt loncat indah papan 3 meter putra. Quan yang memiliki tinggi 143 cm, terlihat imut menerima medali emas di podium. Quan telah mencetak total 466,20, menjadi wanita termuda kedua yang meraih emas di ajang loncat indah internasional. Sebelumnya, rekan senegaranya Fu Mingxia memenangkan medali emas di usia 13 tahun di Olimpiade Barcelona pada 1992. Disebutkan oleh NBC Olympics, juara muda Olimpiade internasional ini berusaha berprestasi dalam cabang olahraga loncat indah sebagai cara untuk membantu biaya pengobatan ibunya yang memiliki penyakit yang membutuhkan perawatan sepanjang tahun. Quan mengatakan bahwa orang tuanya berpesan, “mengatakan kepada saya untuk tidak gugup, bahwa tidak masalah jika saya mendapatkan medali atau tidak, tetapi tetaplah menjadi diri saya sendiri”. “Kata-kata itu sangat membantu saya,” ujar Quan, mengatakan dia berencana untuk makan latiao, street food Tiongkok yang populer, untuk merayakan malam ini. Quan mengungkapkan dia sangat emosional, “Saya merasa semua usaha saya terbayar,” “Bahkan kalau saya tidak juara, medali perak sangat berarti bagi saya,” ungkapnya. Melissa Wu dari Australia (29 tahun), peraih perunggu dengan skor 371,40 dalam rival Quan, mengatakan dia sangat bangga pada dirinya sendiri dan mengagumi para atlet loncat indah Tiongkok tersebut. “Mereka luar biasa untuk ditonton dan saya selalu mengagumi semua peloncat indah Tiongkok,” ujar Wu. “Saya benar-benar mencoba untuk meniru etos kerja mereka dan saya sangat senang bahwa mereka juga memiliki kinerja yang sangat baik hari ini,” imbuhnya. Tiongkok telah menyabet medali emas di semua cabang loncat indah sejak Olimpiade Beijing 2008.

Kemenpora Gunakan Big Data untuk Pantau Talenta Atlet di Indonesia

Kemenpora Gunakan Big Data untuk Pantau Talenta Atlet di Indonesia

Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) bukan hanya menjadikan Olimpiade sebagai sasaran utama olahraga Indonesia. Tetapi, di dalam DBON juga terdapat bagaimana cara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendapatkan talenta-talenta atlet muda berbakat yang ada di seluruh Indonesia. Pada desain besar olahraga nasional ini pemerintah mendapatkan talenta-talenta atlet muda berbakat yang tidak bisa terpantau karena hanya dengan cara konvensional. “Kami sekarang ini bekerja sama dengan satu lembaga yang memiliki big data untuk memantau talenta-talenta atlet di seluruh Indonesia serta membuat sentra-sentra pembinaan,” ucap Zainudin Jumat (6/8/2021). Zainudin mengungkapkan mereka yang berlaga di olimpiade adalah sebagian hasil dari pembinaan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Kemenpora di beberapa provinsi dan juga dari klub-klub yang juga turut memantau perkembangan calon atlet berprestasi. “Kita persiapkan para atlet ini sejak usia dini sejak SD hingga SMA. Setelah itu akan kita tampung dalam satu trainning camp untuk menjadi atlet junior, dan kemudian akan masuk menjadi atlet elit nasional yang siap kita terjunkan pada laga multievent internasional seperti olimpiade ini,” katanya. Dalam desain besar olahraga nasional, Kemenpora akan lebih spesifik mengembangkan cabang-cabang olahraga unggulan dan berpotensi menghasilkan prestasi di olimpiade. Konsekuensi dari penempatan olimpiade sebagai sasaran utama, lalu Asian Games, dan SEA Games sebagai sasaran antara. “Setelah berdiskusi dengan stakeholder terkait, akhirnya kita memutuskan akan berkonsentrasi kepada cabor yang mengandalkan tekhnik dan akurasi, seperti bulu tangkis, angkat besi, panahan, menembak dan lainnya termasuk, panjat tebing untuk Olimpiade 2024 di Paris,” ujar Zainudin. Kedepan, pemerintah akan memperluas basis-basis cabang olahraga agar potensi untuk meraih prestasi di olimpiade semakin besar. “Kalau selama ini tertumpu pada bulutangkis dan angkat besi harus kita perluas. Untuk itu kita butuh penguatan, pembinaan mulai dari daerah sampai di tingkat nasional secara berjenjang, terstruktur, masif seluruh Indonesia,” ujar Zainudin. “Saya berharap kita pada olimpiade-olimpiade berikutnya bisa memastikan diri cabang-cabang olahraga yang lain yang sekarang belum bisa menyumbangkan medali,” katanya.

Menuju Olimpiade Paris 2024, FPTI Bidik 4 Atlet Muda Panjat Tebing

Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid mengaku telah memiliki gambaran calon tim utama di Olimpiade Paris 2024. Pemisahan nomor speed dari kombinasi dengan lead-boulder membuat Yenny Wahid optimistis Indonesia akan meraih prestasi. “Olimpiade 2024 nanti bisa jadi momen bagi insan panjat tebing kita, terutama para atlet kita untuk bisa berjaya, untuk bisa kembali merajai, dan menjadi paling the best,” ujar putri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid tersebut, Rabu (4/8/2021). Setidaknya ada empat nama kandidat yang telah dibidik FPTI untuk masuk dalam skuad utama panjat tebing Indonesia menuju Paris 2024. Yenny Wahid menyebutkan atlet incaran tersebut masih berusia belasan dan akan mencapai usia emas saat Olimpiade Paris, tiga tahun lagi. Siapa sajakah keempat proyeksi atlet tersebut? Yang pertama ialah Rahmad Adi Mulyono asal Jawa Timur. Saat ini Rahmad baru 19 tahun. Ia pernah memenangi IFSC Connected Speed Knockout, pada 2 Agustus 2020 lalu. Selanjutnya, ada duo Veddriq Leonardo (Kalimantan Barat) dan Kiromal Katibin (Jawa Tengah) juga masuk radar FPTI menuju Olimpiade Paris 2024. Duo atlet putra panjat tebing Indonesia itu menorehkan prestasi luar biasa pada IFSC Climbing World Cup 2021 di Amerika Serikat dan Swiss. Bahkan, Veddriq Leonardo meraih back-to-back medali emas untuk nomor speed putra di dua ajang kelas dunia panjat tebing tersebut. And that's it! Veddriq Leonardo wins it! 🇮🇩 Watch more sport climbing on https://t.co/RG08DMKMzK 🧗#VillarsWC #ClimbingSurOllon pic.twitter.com/ot8D7CyoBf — The Olympic Games (@Olympics) July 2, 2021 Satu nama terakhir yaitu atlet putri Desak Made Rita Kusuma Dewi, FPTI membidik Rita yang finis keempat saat berlaga di Swiss, bulan lalu. “Rita itu bisa lebih lagi prestasinya. Pada prakualifikasi angkanya nomor tiga,” tutur Yenny Wahid soal alasan FPTI membidik atlet muda Bali itu dalam rilis FPTI. “Pas pertandingan agak enggak mujur, enggak bisa sampai atas. Tergelincir. Ini nasib. Tapi, secara hitungan, dia sudah dapat waktu. Sudah bisa memecahkan itu,” lanjut Yenny. Untuk tim pelapis kedua dan ketiga, FPTI akan mengincar pemain junior yang akan menuju usia remaja ketika Paris 2024 tiba. “Makin muda saat mendalami olahraga ini, makin terbentuk muscle memory-nya atau memori ototnya,” ia menambahkan. “Misalnya, Katibin, mulai dari usia 8 tahun. Penting sekali. Kalau betul-betul ada bakat dan minat dan ketemu dengan FPTI, pasti bisa kami fasilitasi,” pungkasnya.

4 Pebiliar Muda Indonesia Ikuti Turnamen Internasional di Amerika Serikat

4 Pebiliar Muda Indonesia Ikuti Turnamen Internasional di Amerika Serikat

Sebanyak 4 atlet junior biliar Indonesia akan mengikuti turnamen internasional biliar di Las Vegas, Amerika Serikat. Keempatnya diikutsertakan oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI). Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB POBSI, Achmad Fadil Nasution mengatakan empat atlet muda biliar telah diikutsertakan dalam pertandingan berskala internasional di Las Vegas, Amerika Serikat. Menurut penuturannya, para atlet telah berlatih di daerah masing-masing dengan pemantauan dari pelatih nasional PB POBSI. “Dalam situasi PPKM ini atlet sementara berada di daerah masing-masing dalam pemantauan dan tetap berkordinasi dengan pelatih nasional dari PB POBSI. Seminggu menjelang keberangkatan PB POBSI akan melaksanakan pemantapan dengan pemusatan latihan penuh di Puslatnas POBSI,” kata Achmad Fadil Nasution. Empat atlet muda biliar kini sedang serius berlatih menyiapkan diri sebelum berlaga di 2021 Predator WPA World Junior Championships di Rio All-Suite Hotel & Casino, Las Vegas, Amerika Serikat pada 9-11 September 2021. Adapun keempat atlet muda itu ialah, Derin Asaku Sitorus dari DKI Jakarta, Albert Januarta dari Kepulauan Riau, Brian Axel Ferdian dari Jawa Tengah dan Annabella Putri Yohana dari Jawa Timur. Derin akan bertanding di nomor 9 Ball U-16 Boys di turnamen kali ini. Dia mengaku yakin dapat memberikan prestasi terbaik bagi Indonesia. Derin tetap berlatih serius di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19. Dia pun meminta dukungan dari masyarakat Indonesia. “Tetap berlatih di beberapa tempat biliar yang masih buka dengan protokol kesehatan yang ketat dan juga berolahraga fisik. Latihan mandiri menjaga diri membatasi aktivitas di luar sesuai arahan PPKM pemerintah DKI. Yakin bisa memberikan yang terbaik semoga menjadi juara karena peluang di grup junior terbuka lebar siap bersaing,” ujar Derin Asaku Sitorus. Derin kaya akan prestasi. Di level nasional, dia pernah menyabet gelar Juara 1 Turnamen Bola 9 HC 4 POSH Tangerang, Juara 1 Turnamen Bola 9 HC 4 BALTIC Bekasi dan Juara 1 Turnamen Bola 9 HC4-5 POSH Tangerang. Albert juga akan turun di nomor 9 Ball U-16 Boys. Dia mengatakan, selama pandemi terutama saat PPKM memang ada kendala dalam hal latihan. Namun, dia diuntungkan karena orang tuanya memiliki satu set biliar sehingga bisa memanfaatkan fasilitas itu untuk tetap berlatih secara rutin. “Menghadapi kejuaraan ini saya mendapat latihan khusus dari pelatih yang memungkinkan saya bisa bermain maksimal pada saat kejuaraan dan porsi latihan yang lebih dari biasanya. Saya juga melakukan olahraga seperti jogging untuk membangun fisik saya agar bisa membantu performa saya pada saat kejuaraan nanti,” kata Albert. Albert Januarta adalah atlet biliar muda yang sudah malang melintang di berbagai kejuaraan. Dia menjadi Runner Up Pertandingan Handicap Di Galaxy Surabaya 2 Juni 2021, Juara 3 Ball Handicap Bandung Open 1-13 Juni 2021 dan Juara 3 handicap 5+ Rama Jogja 8-18 Juni 2021. Sama seperti dua rekannya, Brian juga akan berlaga di nomor 9 Ball U-16 Boys. Dia mengatakan akan berusaha tampil maksimal di turnamen ini. Untuk itu, dia menyiapkan diri dengan berlatih mandiri di rumah, setiap hari dari jam 12 siang hingga jam 5 sore. Ketua Pengprov POBSI Jawa Tengah, Willyanto mengatakan, Brian beruntung karena memiliki fasilitas latihan sendiri di rumahnya sehingga bisa tetap berlatih secara rutin pada saat pandemi ini. Dia yakin Brian akan tampil maksimal, tetapi dia tidak mau membebankan target yang muluk-muluk. Menurut Willyanto, ini adalah kali pertama Brian mengikuti turnamen internasional, sehingga bisa masuk 16 besar pun sudah bagus. Sementara itu, satu-satunya atlet biliar putri, Annabella akan turun di nomor 9 Ball U-18 Girls. Dia mengatakan, kesempatan tidak datang dua kali. Sama seperti ketiga kompatriotnya, Annabella tetap berlatih terus, berdoa, dan pasrah akan hasil yang didapatkan nanti di turnamen ini. Namun dia menegaskan, pastinya ingin mendapatkan hasil yang terbaik, yakni menjadi juara. “Jam latihan dilebihkan menjadi sehari 8 jam latihan, lebih disiplin dalam waktu dan latihan. Menjaga kesehatan, olahraga teratur, minum suplemen untuk menjaga imun tubuh dan latihan di karantina UNESA tetap berjalan dengan baik dan tetap latihan setiap hari kecuali hari Minggu libur,” ujar Annabella Putri Yohana peraih Medali Perunggu di Pra PON 2019. Ketum Pengprov POBSI Jawa Timur, Pujo mengatakan, persiapan khusus berjalan sesuai dengan program dari pelatih Puslatda selama ini. “Mungkin ada beberapa hal non teknis yang menyangkut dengan mental dan mindset atlet junior yang harus lebih ditingkatkan. Apalagi bertanding di luar negeri untuk yang pertama, pasti ada nervous yang harus jeli untuk dinetralisir oleh pelatih,” demikian kata Pujo. Pelatih PB POBSI Edy Hartono atau Dino mengatakan, memang sejauh ini sedang dilakukan persiapan fisik. Namun, dia menegaskan persiapan matang akan tetap dilaksanakan menjelang keberangkatan. “Sejauh ini memang sedang dilakukan beberapa persiapan baik fisik maupun teknik. Namun sejak pemberlakuan kebijakaan PPKM maka persiapan tersebut dilakukan secara mandiri. Dan mudah-mudahan satu minggu sebelum keberangkatan akan dilakukan persiapan bersama dengan catatan apabila PPKM sudah selesai,” ujar Dino. Sumber: inews.id

Kabar Terkini Bursa Transfer Pesepakbola Muda Indonesia

Kabar Terkini Bursa Transfer Pesepakbola Muda Indonesia

Beberapa klub luar negeri saat ini tengah sibuk untuk mengamankan tanda tangan pemain anyar maupun incaran mereka. Tak terkecuali bagi para pemain muda Indonesia yang menjadi incaran beberapa klub luar negeri. Kabar pertama datang dari gelandang muda indonesia, Muhammad Yoan Saputra Arifin akan segera berkarir di liga Turki. Setelah sempat menjalani beberapa minggu trial di klub divisi 1 Turki, Alanyaspor, pemain berusia 20 tahun ini dikabarkan akan dikontrak oleh klub divisi 2 yaitu Menemenspor FC. Kabar ini disampaikan oleh agen Yoan. “Yoan tetap kok, tidak pulang (ke Indonesia) pastinya. Yang jelas jika semua beres dan sesuai, kami akan infokan (lebih lanjut). Tapi kemungkinan (ia tidak akan bermain) di Alanyaspor dikarenakan saya memperioritaskan Yoan bisa dapat main di senior team. Jadi sepertinya kita ambil di Liga 2 Turki,” ujar sang agen, dikutip dari Instagram @indonesiaabroad_. Lebih lanjut, menurut sang agen, ia dan Yoan sudah cocok. Tinggal diperkenalkan secara langsung dan resmi saja oleh klub yang akan ia bela. Saat ini Yoan sudah berada di Menemenspor FC untuk mengikuti pre-season dan latihan sebelum Liga 2 Turki bergulir. Muhammad Yoan Saputra Arifin sebelumnya pernah bergabung dalam program Vamos Indonesia di Spanyol. Mantan pemain Barito Putera U-18 ini bergabung dengan klub Palamos CF dalam kompetisi Divisi Juvenile. Yoan sendiri sudah berada di Turki sejak awal 2021. Awalnya, ia bersama Emir Eranoto Dipasena dan Aryandra Senna mendapat kesempatan untuk menjalani trial di Antalya Hal Spor, klub yang bermain di Liga amatir utama di bagian Antalya, Turki atau Divisi Empat Liga Turki yang diisi oleh para pemain muda. Antalya Hal Spor sendiri memiliki akses langsung menyediakan pemain muda untuk klub, Antalyaspor, tempat Yoan menjalani trial beberapa minggu terakhir. View this post on Instagram A post shared by indonesiaabroad (@indonesiaabroad_) Kabar selanjutnya hadir dari William Asido. Ia dikabarkan bergabungnya dengan akademi asal Spanyol, FC Malaga City Academy, melalui program HRC Career Center di High Reaching Club Football Academy dengan ESP Soccer Agency. Semoga dua pemain muda ini dapat menjadi pintu kesempatan bagi pesepakbola muda Indonesia lainnya untuk bisa mencicipi dan menimba ilmu di klub-klub sepakbola luar negeri.

Giliran Ginting Sumbang Medali Untuk Indonesia

Giliran Ginting Sumbang Medali Untuk Indonesia

Satu medali lagi untuk Indonesia dari cabang bulu tangkis. Ialah Anthony Sinisuka Ginting yang berhasil meraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 usai mengalahkan pebulutangkis Guatemala, Kevin Cordon lewat permainan dua gim 21-11, 21-13, Senin (2/8) malam WIB. Ginting coba bermain sabar dengan mengajak Cordon bermain reli. Ginting coba menempatkan bola yang membuat Cordon tak leluasa dalam mengeluarkan smes kerasnya. Ginting sempat tertinggal tetapi bisa menyamakan kedudukan jadi 4-4. Ginting kemudian berbalik unggul 7-4 setelah Cordon melakukan tiga kesalahan beruntun. Ginting berhasil menambah satu poin lagi untuk unggul 8-4. Namun, upayanya untuk menjauhkan keunggulan terhenti setelah smes yang dilakukannya membentur net dan membuat kedudukan jadi 8-5. Kesalahan itu tidak diulangi oleh Ginting. Penempatan bola-bola sulit Ginting membuat Cordon kerap membuat kesalahan sehingga Ginting bisa unggul 11-5 di interval gim pertama. Ginting tetap bermain sabar dan tidak terpancing permainan cepat Cordon setelah interval. Kendali penuh permainan yang dipegang Ginting membuatnya bisa unggul dengan margin delapan poin, 15-7. Cordon sempat merebut empat poin tetapi pebulutangkis Guatemala itu tidak mampu membendung Ginting untuk memenangi gim pertama dengan skor 21-11. Ginting bermain lebih menekan di awal gim kedua. Ginting lebih berinisiatif melakukan tekanan dengan melakukan smes yang membuat Cordon kerepotan. Tekanan yang terus diberikan Ginting membuatnya bisa unggul 7-2 atas Cordon. Cordon berhasil memutus perolehan poin Ginting dan merebut dua poin beruntun untuk memperkecil ketinggalan jadi 4-8. Namun, Ginting kembali bisa mengendalikan situasi pertandingan. Tiga poin direbut Ginting untuk membuatnya unggul jauh 11-4 di interval gim kedua. Cordon mampu bangkit dengan merebut enam poin untuk bisa memperkecil kedudukan jadi 10-13. Dalam situasi mulai tertekan, Ginting mampu tetap tampil tenang untuk bisa menjauhkan skor jadi 15-10. Ginting bisa mendulang poin tambahan memanfaatkan kesalahan pengembalian yang dilakukan oleh Cordon hingga unggul 18-11. Ginting kemudian bisa merebut tiga poin krusial untuk menutup gim kedua dengan 21-13. Sekaligus memastikan medali ke-5 bagi Indonesia. Ada rekor unik tercipta, berkat raihan medali perunggu tersebut Anthony Sinisuka Ginting menjadi pebulutangkis pertama yang berhasil mendapatakan medali di Youth Olympic Games dan Olympic Games. Pada tahun 2014 silam, Anthony Ginting berhasil mendapatkan medali perunggu di Youth Olympic Games yang diselenggarakan di Nanjing, Tiongkok. Selain itu, Ginting berhasil mengakhiri ‘kutukan’ wakil tunggal putra di Olimpiade yang tak pernah mencapai babak semifinal dalam kurun waktu 17 tahun kebelakang. Terakhir wakil tunggal putra Indonesia berjaya yakni di Olimpiade 2004. Saat itu ada Taufik Hidayat yang meraih emas dan Sony Dwi Kuncoro yang menyumbangkan medali perunggu.

Sosok Apriyani Rahayu, Pebulutangkis Muda Peraih Medali Emas Olimpiade

Sosok Apriyani Rahayu, Pebulutangkis Muda Peraih Medali Emas Olimpiade

Apriyani Rahayu berhasil mengibarkan bendera Merah-Putih berkibar di podium teratas pada Olimpiade Tokyo 2020. Bersama Greysia Polii, Apriyani berhasil mengandaskan perlawanan Chen Qingchen/Jia Yifan, pada final ganda putri bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020. Sekaligus menghadirkan medali emas pertama bagi Indonesia. Bertanding di Musashino Forest Plaza, Senin (2/7/2021) siang WIB, Greysia/Apriyani berhasil menang atas Chen Qinchen/Jia Yifan, dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-15. Kesuksesan Greysia/Apriyani memastikan Indonesia mendapatkan medali emas pertamanya di Olimpiade Tokyo 2020. Selain itu, mereka juga sukses mencetak sejarah sebagai pasangan ganda putri Indonesia pertama yang meraih medali emas Olimpiade. Jauh sebelum meraih medali emas Olimpiade, terdapat jalan terjal yang harus dilewati Apriyani Rahayu dalam meniti karier sebagai atlet bulu tangkis. Apriyani berjuang meraih mimpi di tengah keterbatasan ekonomi. Fakta ini diungkapkan oleh sang ayah, Amiruddin P dalam wawancara bersama TribunSultra.com. Amiruddin P mengatakan, saat kecil Apriyani sering bermain bulu tangkis menggunakan raket yang dimiliki almarhum ibunya. “Boleh dikata, Apriyani belum lancar bicara sudah bermain bulu tangkis,” beber Amiruddin saat ditemui dikediamannya di Kelurahan Lawulo, Kecamatan Anggaberi, Minggu (01/8/2021) dikutip dari TribunSultra.com. “Almarhum mamanya pemain bulu tangkis, jadi itu ada raket bekas. Mamanya kadang dia wakili Dinas dulu di Provinsi,” kata Amiruddin. Sang ayah juga menjelaskan saat bermain bulu tangkis di masa kecil, Apriyani menggunakan raket yang sudah tak layak pakai milik almarhum ibunya. “Belum bisa beli raket dulu, masih disambung-sambung (tali senar),” lanjut Amiruddin. Melihat anaknya yang mulai hobi bermain bulu tangkis, Amiruddin kemudian membuatkan lapangan di halaman rumahnya untuk tempat latihan putrinya. Berkat raket bekas itu pada akhirnya jadi gerbang pembuka bagi Apriyani untuk menata karier lebih serius di dunia bulu tangkis. Adapun, Apriyani sudah mulai mengikuti turnamen bulu tangkis saat masih usia dini. Ia sudah pernah mengikuti kejuaraan daerah hingga tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari situlah bakat Apriyani mulai tercium oleh pemandu bakat. Dilansir dari Tribun Timur, pada tahun 2011, Apryani Rahayu ke Jakarta dan dibawa ke PB Pelita milik Icuk Sugiarto di kawasan Kosambi, Jakarta Barat. Lalu sejak 2014 hingga 2016, Apriyani Rahayu mendapat kesempatan mewakili Indonesia di berbagai ajang Kejuaraan Dunia Junior. Pada 2017, Apriyani mulai berlatih di Pelatihan Nasional (Pelatnas) Cipayung, Jakarta. Sejak saat itu Apriyani mulai bermain di level senior dan diduetkan dengan Greysia Polii. Padahal, Greysia sejatinya sudah berniat pensiun pada 2017 setelah Olimpiade Rio 2016. Terlebih, pasangan dia saat itu (Nitya Krishinda Maheswari) mengalami cedera. Namun, Greysia akhirnya tak jadi gantung raket usai sang pelatih memintanya menjadi duet Apriyani Rahayu. Dia diminta untuk membuat semakin berkembang. Hingga akhirnya mereka menuai berbagai prestasi dan kini berhasil meraih medali emas di Tokyo 2020. Biodata Apriyani Rahayu Nama lengkap: Apriyani Rahayu Tempat, tanggal lahir: Konawe, Sulawesi Tenggara, Indonesia, 29 April 1998 Usia: 23 tahun Tinggi badan: 163 cm Pegangan raket: Kanan Nomor: Ganda putri Ranking saat ini: 6 (dengan Greysia Polii, 29 Juni 2021) Prestasi: – Olimpiade: Emas (Tokyo 2020) – Kejuaraan Dunia: Perunggu (2015, 2018, 2019) – Piala Sudirman: Perunggu (2019) – Asian Games: Perunggu (2018 ganda putri dan beregu) – SEA Games: Emas (2019 ganda putri), perunggu (2019 beregu) – Kejuaraan Tim Asia: Perunggu (2018)

Kisah Haru Dibalik Medali Emas Atlet Termuda Timnas Senam AS

Kisah Haru Dibalik Medali Emas Atlet Termuda Timnas Senam AS

Ada kisah mengharukan sekaligus menginspirasi dari salah satu pesenam putri Amerika Serikat (AS) saat meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, Kamis (29/7). Ialah Sunisa Lee, pesenam yang baru berusia 18 tahun sekaligus merupakan atlet termuda di tim nasional senam AS. Air matanya pecah saat menghubungi keluarganya melalui panggilan telepon. Ia melakukannya setelah seremoni penyerahan medali emas yang ia raih. “Kami semua menangis di telepon. Itu momen yang luar biasa, saya sangat bahagia,” ujar Lee, dikutip Antara dari Reuters. Air mata Lee tumpah begitu melihat wajah-wajah orang yang selalu ada untuknya dalam situasi apapun. Dan, memang, perjuangannya untuk sampai ke Olimpiade 2020 tidaklah mudah. Orang tua Sunisa Lee merupakan pengungsi beretnis Hmong yang datang dari Laos ke Negeri Paman Sam demi mengubah peruntungan hidup. Besar di komunitas Hmong-Amerika, Sunisa Lee tumbuh sebagai putri yang cenderung aktif. Hobinya jumpalitan di sofa rumah. Namun, alih-alih marah dan melarangnya, kedua orang tuanya justru melihat bakat tersembunyi dan mengarahkan anaknya itu untuk berlatih senam mulai umur enam tahun. Dengan upaya keras dan dukungan dari keluarganya, Lee akhirnya bisa tampil di turnamen senam junior bergengsi AS, US Classic, pada tahun 2016. Catatan-catatan baik di setiap turnamen yang diikuti membuat dia dilirik oleh Federasi Senam AS, USA Gimnastics. Dia lalu diikutkan ke turnamen tingkat senior, Kejuaraan Senam Nasional AS pada tahun 2019. Akan tetapi, perjalanan tak semulus rencana. Beberapa saat sebelum mencatatkan debut di tim senam senior, Lee menyaksikan ayahnya lumpuh setengah badan, dari dada ke bawah, akibat jatuh dari tangga. Meski begitu, Sunisa Lee tampil fokus dan berhasil merebut medali emas di nomor palang bertingkat dan perak di nomor ‘all-around’ perorangan putri. Dari sisi prestasi di kejuaraan ini, Lee masih berada di bawah jagoan senam AS Simone Biles yang merebut empat medali emas dari lima nomor yang dipertandingkan di sektor putri. Kemampuan Sunisa Lee mengantarnya lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo. Dia pun menjadi keturunan Hmong-Amerika pertama yang mewakili AS di Olimpiade. Sayangnya, dalam persiapan menuju ke pesta olahraga empat tahunan tersebut, Lee kembali diterpa kabar buruk. Paman dan bibinya meninggal dunia akibat Covid-19. Dunianya hampir runtuh. Lee tidak bisa lupa bagaimana paman dan bibinya rutin membuatkannya teh herbal panas dan memijitnya setelah selesai berlatih. Masih berbalut duka, Lee malah didera cedera. Pikiran untuk berhenti dari dunia senam melintas, tetapi mental juara membawanya bangkit. Tak diunggulkan, keberadaan Simone Biles di tim senam putri AS seakan menenggelamkan Sunisa Lee. Dia sama sekali tidak diunggulkan untuk menjadi yang terbaik di Olimpiade 2020. Akan tetapi, Biles ternyata membuat keputusan yang mengejutkan yakni mundur dari nomor beregu dan semua alat (all-around) Olimpiade 2020. Mau tak mau, beban medali emas berpindah ke pundak Lee, salah satu pesenam muda putri paling berbakat di AS. Dan, saat waktunya tiba, Lee seolah memang dilahirkan untuk menonjol dalam situasi genting dan penuh tekanan. Berlaga di nomor all-around perorangan putri, nomor di mana seharusnya Simone Biles sangat dikedepankan untuk juara, Lee tampil nyaris tanpa cela dan berhasil merengkuh keping emas. Tugas itu dituntaskan Lee di hadapan Biles yang duduk menonton di baris depan. “Saya merasakan banyak tekanan karena pada dasarnya saya selalu berada di urutan kedua di belakang Biles sepanjang musim. Jadi saya mengetahui orang-orang mengandalkan saya untuk merebut peringkat kedua atau medali emas. Saya lalu mencoba untuk tidak fokus ke sana supaya tak gugup,” jelas Lee. Sebelum itu, Lee sudah menyumbangkan perak Olimpiade 2020 bersama tim senam beregu putri AS. Sunisa Lee pantas merayakan keberhasilannya bersama sosok-sosok yang disayanginya, terutama ibu dan ayahnya. Sang ayahlah yang awalnya membawa dia klub senam lokal pada usia enam tahun. “Menjengkelkan melihat ayah tak ada di sini bersama saya. Ini adalah mimpi kami, yang selalu kami bicarakan. Ayah pernah bilang, kalau saya dapat emas, dia akan berdiri di lantai dan menyambut saya. Dia selalu menguatkan dan meminta saya untuk tidak terlalu memerhatikan perolehan poin dan semacamnya karena di dalam hati orang tua saya, saya sudah menjadi juara,” kata Lee.

Dipanggil Pelatnas, Angel Siap Harumkan Basket DIY

Dipanggil Pelatnas, Angel Siap Harumkan Basket DIY

Pebasket putri asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Angelica Jennifer Candra dipanggil mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas) Tim Nasional (Timnas) basket 3×3 Indonesia U-18. Pemanggilan tersebut sebagai persiapan menghadapi Piala Dunia di Hungaria 2021. Pemanggilan tersebut tertuang dalam surat Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) nomor 362/PP/VII/2021. Pebasket binaan sekolah basket Mataram itu akan mengikuti pelatnas selama dua pekan. Mulai 9-21 Agustus di Cirebon, Jawa Barat. Angel mengaku senang dan bersyukur bisa terpilih mengikuti pelatnas. Pebasket 180 cm itu berjanji akan memberikan kemampuan terbaik selama Pelatnas. “Saya akan semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk merah putih. Selama di sana saya juga ingin mengharumkan dunia basket di Yogjakarta,” ujarnya, Kamis (29/7). Yang pasti, Angel bertekad untuk berjuang dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Selama Pelatnas dia akan satu tim bersama Vanesa Renata Siregar dan Syarafina Ayasha dari Jakarta serta Margaret Rachel dari Jawa Barat. Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) PP Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Danny Kosasih mengatakan, Pelatnas akan berlangsung dengan protokol kesehatan (prokes). Dua hari sebelum bertolak ke Cirebon, para atlet wajib menunjukkan hasil swab antigen negatif. “Ketika sampai di Cirebon akan dilakukan swab PCR. Latihan akan dimulai setelah hasil swab PCR negatif keluar,” papar Danny. Angel merupakan salah satu pebasket muda berbakat yang dimiliki Yogjakarta. Pada 2019 silam, dia terpilih mewakili Indonesia di kejuaraan dunia Junior National Basketball Association (NBA). Kala itu, Angel bersama sembilan pemain berhasil mewakili tim Asia Pasifik di ajang NBA Jr yang digelar di Orlando, Amerika Serikat.