Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Basket Pelajar Asia, Indonesia Siapkan Dua Tim Hanya Sepekan

Kemenpora melepas keberangkatan tim pelajar Indonesia yang akan tampil dalam ajang 8th Asian School Basketball Championship, Kamis (6/9). Bertempat di GOR Among Rogo, Yogyakarta, event ini akan dihelat dari 7 hingga 15 September 2018. (Kemenpora)

Jakarta- Indonesia mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah kejuaraan basket pelajar Asia. Bertempat di Yogyakarta, 8th Asian Schools Basket Ball Championship 2018, akan dihelat dari 7 hingga 15 September 2018. Tim basket pelajar Indonesia dipimpin oleh Surono, yang merupakan Kepala Bidang Pembinaan PPLP. Dan didampingi oleh pelatih putra, Rifki Antolion dan Cecep Firmansyah, mantan pelatih nasional dan klub Aspac Jakarta, yang akan menangani tim putri. Namun, sebagai tuan rumah, Indonesia tidak dibebani target. Asisten Deputi Bidang Pembibitan dan Iptek Olahraga Kemenpora, Washinton Galingging, mengatakan tim ini berlatih untuk berkompetisi, bukan untuk menang. Perlu dicatat, Indonesia membawa pulang medali perunggu, pada 7th Asian School Basketball Championship, di Thailand “Sebagai pelajar, tim ini memang tidak dibebankan target juara, sesuai dengan kategori usia mereka. Itu karena mereka berlatih untuk berkompetisi, bukan berlatih untuk menang,” ujar Washinton, saat melepas keberangkatan kontingen, di Jakarta, Kamis (6/9). Berbicara peluang juara di kejuaraan pelajar ini, Cecep yang menangani tim putri, mengatakan dirinya sulit memprediksi kekuatan lawan, karena belum pernah berhadapan sebelumnya. “Kejuaraan pelajar memang beda, dibandingkan dengan kejuaraan senior, karena kekuatan mereka sulit dipantau,” tutur Cecep. Hal senada juga disampaikan Rifki Antolion. Ia mengaku faktor kesulitan yang dihadapi adalah sulitnya memantau kondisi kekuatan lawan. Apalagi Kejuaraan pelajar punya batasan usia 18 tahun, sehingga komposisi pemain, pasti berubah dibandingkan kejuaraan sebelumnya. “Kami tidak tahu kekuatan lawan, karena mereka bukanlah tim nasional di negara masing-masing. Persiapan kami juga cepat, sejak 29 Agustus, hanya 8-9 hari persiapan, putra dan putri. Tapi kami geber sehari dua kali latihan, dengan andalan dua pemain yang berlaga di ASEAN School Games 2018 Juni lalu,” kata Rifki. Ini kali kedelapan kejuaraan basket pelajar Asia digelar. Sebelumnya, 10 negara sudah mendaftar berlaga di GOR Among Rogo, Yogyakarta. Namun, 6 negara mengundurkan diri, dan hanya menyisakan Cina, Hongkong, Thailand dan Indonesia. Ajang ini menggunakan sistem round robin, yang mengharuskan setiap tim saling bertemu. (Adt)

Delapan Pemain Senior Dampingi Skuat U-23, Jelang Laga Timnas Lawan Mauritius di Bekasi

Evan Dimas (6), Irfan Jaya (18) dan Hansamu Yama (16) akan didampingi delapan pemain senior pilihan PSSI, jelang partai persahabatan melawan Mauritius, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, pada Selasa (11/9). (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas Indonesia akan menghadapi Mauritius pada pertandingan persahabatan persiapan Piala AFF 2018, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Selasa (11/9). Tim Garuda didukung statistik positif menghadapi tim asal Benua Afrika tersebut. Mauritius menjadi negara Afrika kelima, yang akan dihadapi Tim merah putih dalam kurun 11 tahun terakhir. Sebelumnya, Boaz Solossa dkk sudah pernah menjajal kekuatan Kamerun, Mauritania, dan Liberia. Hasilnya pun tak mengkhawatirkan. Skuat Garuda tercatat hanya kalah sekali melawan negara-negara asal Benua Afrika tersebut. Lalu menelan kekalahan tipis 0-1, ketika menghadapi Kamerun pada 25 Maret 2015. Adapun pada tiga laga sisanya, diakhiri dengan hasil dua kemenangan dan sekali imbang. Dua kemenangan diraih saat menekuk Liberia pada 30 Juni 2007 dengan skor 2-1, dan menang 2-0 atas Mauritania pada 17 Mei 2012. Dan raihan imbang 1-1 pernah diraih melawan Kamerun, pada 17 November 2012. Pada laga melawan Mauritius, Timnas akan ditangani asisten pelatih, Bima Sakti, dan Direktur Teknik PSSI, Danurwindo. Sebab, pelatih Luis Milla masih berada di Spanyol usai Asian Games 2018. Bima menyebut bakal membawa 22 pemain untuk laga uji coba tersebut. Seluruh pemain kabarnya akan dikumpulkan di Jakarta, pada Sabtu (8/9). Laga nanti menjadi edisi kedua yang dilakoni Timnas Indonesia pada 2018. Sebelumnya, anak asuh Milla takluk 1-4, ketika menjamu Islandia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 14 Januari 2018. Mauritius bukan satu-satunya lawan yang dihadapi Indonesia, jelang mengikuti AFF 2018. Setelah menghadapi Mauritius, Timnas akan menghadapi Myanmar (9/10) dan Hong Kong (16/10). PSSI pun merilis 20 nama yang akan bermain untuk pertandingan uji coba ini. Dari 20 pemain itu, ada delapan nama pemain senior yang mendapat panggilan. Pemain dari Asian Games 2018 masih menjadi mayoritas yang mengisi skuad Timnas Indonesia pada partai ini. Delapan pemain senior yang mendapat panggilan itu adalah Muhammad Ridho (Borneo FC), Fachruddin (Madura United), Rizki Pora (Barito Putera), Bayu Pradana (Mitra Kukar), Alfin Tuasalamony (Arema FC), Boaz Solossa (Persipura) Stefano Lilipaly (Bali United) dan Dedik Setiawan (Arema FC). Sedangkan 12 pemain lainnya adalah para pemain yang berusia di bawah 23 tahun. “Kami memanggil dengan skuat kombinasi pemain usia 23 yang bermain di Asian Games lalu, dengan para pemain senior,” ujar Bima, dilansir dari situs resmi PSSI, pada Kamis (6/9). (art) Daftar 20 pemain Indonesia melawan Mauritius: Kiper 1. Muhammad Ridho (Borneo FC) 2. Awan Setho (Bhayangkara FC) Belakang 3. Fachrudin (Madura United) 4. Bagas Adi (Arema FC) 5. Hansamu Yama (Barito Putera) 6. Rizky Pora (Barito Putera) 7. Alfin Tuasalamony (Arema FC) 8. Gavin Kwan (Barito Putera) Tengah 9. Evan Dimas (Selangor FA) 10. Hanif Sjahbandi (Arema FC) 11. Bayu Pradana (Mitra Kukar) 12. Zulfiandi (Sriwijaya FC) 13. Irfan Jaya (Persebaya Surabaya) 14. Riko Simanjuntak (Persija Jakarta) 15. Febri Hariyadi (Persib Bandung) 16. Ilham Udin (Selangor FA) 17. Septian David (Mitra Kukar) 18. Stefano Lilipaly (Bali United) Depan 19. Boaz Solossa (Persipura Jayapura) 20. Dedik Setiawan (Arema FC)

Siapkan Event Pemanasan Piala Asia U-19, PSSI Gelar Turnamen Mini Timnas U-19 di Pakansari

Jelang berlangsungnya Piala Asia U-19 2018, PSSI mengajak dua negara yakni China dan Thailand, dalam sebuah event turnamen mini, di Stadion Pakansari, Cibinong, pada 21-26 September. (goal.com)

Jakarta- Jelang event Piala Asia U-19 2018, PSSI berencana menggelar turnamen mini untuk Timnas U-19, bersama tiga negara lainnya. Indonesia akan menjadi tuan rumah ajang Piala Asia U-19 yang digelar pada 18 Oktober – 4 November, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Garuda Jaya diharapkan meraih target empat besar, demi lolos ke Piala Dunia U-20 setahun kemudian. Untuk mencapai target itu, anak asuh Indra Sjafri telah menjalani serangkaian laga uji coba dengan tim lokal. Teranyar, Timnas U-19 menghadapi klub Liga 2, Semen Padang. Pada pertandingan yang digelar di Stadion H. Agus Salim, Padang, Sumatra Barat, pada Sabtu (25/8), Nurhidayat dan kawan-kawan, akhirnya harus kalah adu penalti 3-4, setelah dalam waktu normal, kedua tim bermain imbang 3-3. Usai uji coba di Padang, PSSI mengajak dua negara Asia dalam event turnamen mini, di Stadion Pakansari, Cibinong, pada 21-26 September. “Kami sudah menghubungi Sekjen PSSI untuk melaporkan agenda ini. Dua negara sudah past ikuti, yakni Thailand dan China. Satu negara lainnya antara Korea Selatan dan Suriah,” ujar Manajer Timnas U-19, Daconi Chotob, pada Rabu (5/9). Turnamen ini akan menjadi persiapan terakhir bagi Timnas U-19, sebelum tampil di Piala Asia U-19. Tim merah putih, berada di Grup A bersama Taiwan, Uni Emirat Arab, serta Qatar. Daconi menyebut, jika Tim Garuda Jaya ingin meraih hasil yang lebih baik dibanding edisi 2014. “Semuanya merupakan lawan tangguh. Meski demikian, kami akan berupaya keras untuk bisa lolos dari babak penyisihan grup. Ini momen yang pas, apalagi bermain di hadapan publik sepakbola Indonesia,” kata Daconi. (art)

Bagus Kahfi Cetak Hattrick, Timnas U-16 Pede Jajal Oman di Laga Uji Coba Terakhir

Timnas U-16 meraih kemenangan kedua 4-0 atas tim remaja, Felda United FC U-17, di di Stadion MMU, Selangor, pada Selasa (4/9). Striker Timnas U-16, Amiruddin Bagus Kahfi mencetak hattrick pada laga itu. (PSSI.org)

Kuala Lumpur– Jelang tampil di Piala Asia U-16 2018 yang berlangsung di Malaysia, pada 20 September – 7 Oktober 2018, Timnas U-16 menjalani pemusatan di Negeri Jiran sejak Kamis (30/8). Selama pemusatan latihan di Kuala Lumpur itu, tim asuhan Fakhri Husaini tak hanya menjalani game internal. Garuda Asia –julukan Timnas U-16– juga mengagendakan tiga laga uji coba. Pada Jumat (31/8), Timnas U-16 menjalani laga uji coba perdana, kontra tim lokal, yakni Sime Darby FC U-17. Pada laga itu, David Maulana dan kolega menang 4-0. Gol-gol Timnas Indonesia U-16 dilesakkan Brylian Aldama, Rendy Juliansyah, Mochammad Supriadi dan Amiruddin Bagus Kahfi. Dalam laga itu, Fakhri menurunkan semua 23 pemain yang dibawa ke Malaysia, termasuk empat personel baru. Mereka ialah Fatah Aji (PPLP DKI), Muhammad Uchida Sudirman (Patriot 165 FC), Subhan Fazri (Posila Lokhseumawe) dan Cecep Maulana (ASAD 313). Selanjutnya di uji coba kedua, Timnas U-16 meraih kemenangan 5-0, atas Felda FC U-17, di Stadion MMU, Selangor, pada Selasa (4/9). Gol Indonesia dicetak oleh hattrick Amiruddin Bagus Kahfi pada babak pertama. Lalu dua gol lagi dilesakkan oleh Amanar Abdillah, dan Muhammad Salman. Dan Rabu (12/9), peraih titel kampiun Piala AFF U-16 2018 ini, dijadwalkan meladeni kontestan Piala Asia U-16 2018, Oman, sekaligus menutup rangkaian laga uji coba merah putih, di Kuala Lumpur. Fakhri mengaku cukup senang dengan hasil yang diraih anak asuhnya. Ia berharap dua kemenangan itu menjadi stimulus bagi para pemain untuk tampil maksimal saat berlaga di Piala Asia U-16. “Saya berharap kemenangan ini menjadi suntikan motivasi bagi para pemain, sekaligus menjaga konfedensi mereka, jelang uji coba lawan Oman,” ujar Fakhri, pada Rabu (5/8). Persiapan matang memang wajib dilakukan Timnas U-16. Sebab, target besar diberikan PSSI kepada mereka. Tim merah putih remaja ditargetkan lolos ke fase semifinal agar ikut ambil bagian di Piala Dunia U-17 2019, yang berlangsung di Peru. (art)

Hobi Remaja 19 Tahun ini Mampu Menyumbangkan Medali Emas Bagi Olahraga Pencak Silat di Ajang Asian Games 2018

Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini merupakan salah satu atlet pencak silat yang akan berlaga di Asian Games 2018 mendatang.

Jakarta- Olahraga pencak silat tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, siapa sangka olahraga yang satu ini turut menghasilkan prestasi-prestasi yang mengagumkan bagi Indonesia, Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini berhasil menyumbangkan medali emas pada cabang olahraga Pencak Silat Tarung Putra Kelas 85-90 Kg di ajang Asian Games 2018 lalu. Pertama kali mengikuti latihan silat saat dirinya memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), hobinya menurun dari sang ayah kepada anak-anaknya termasuk Bangkit. Kakak nomor dua dan tiga pun ikut menekuni olahraga silat. “Saya kan anak terakhir, nomor 4. Kakak yg kedua dan ketiga itu juga nurun dari ayah, suka main silat juga. Kadang lihat mereka latihan seru, jadi saya mulai tertarik sejak itu” jelas Bangkit. Alasan dirinya memilih olahraga silat ada beberapa faktor, pertama karena memang dari keluarga yang sebagian besar menekuni olahraha serupa. Kemudian faktor kedua karena dukungan dari lingkungan seperti keluarga, kawan, kerabat dan rekan latihan. Mengawali karirnya di Perguruan Silat Setia Hati Teratai (PSHT) sejak SMP kelas 1 hingga kelas 3, namun saat itu hanya mengikuti latihan dan belum diikutsertakan di kejuaraan. Faktor berat badan yang membuatnya belum bisa kontribusi, usia masih remaja namun berat badan sudah masuk di kategori dewasa. Membuatnya baru diterjunkan turnamen ketika memasuki SMA kelas 1. “Masuk SMA baru sama ikut kejuaraan di Kabupaten, antar perguruan, ke daerah-daerah. Baru pas kelas 2 saya ditunjuk untuk mewakili Jawa Timur di Kejurnas Padepokan” ujar remaja kelahiran ‘Bumi Reog’ tersebut. Pasca mengikuti kejurnas Bangkit ditawarkan untuk bermain di kelas bebas untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan dunia pada pertengahan tahun 2016. Semenjak itu dirinya bergabung dengan pelatnas hingga saat ini. Untuk membagi waktu antara sekolah dengan latihan dirinya mengungkapkan tidak terlalu masalah karena dari pihak keluarga dan sekolah turut mendukung. “Waktu saya naik kelas 2 SMA harusnya sudah tidak boleh sekolah lagi karena harus gabung pelatnas, tapi saya ngomong ke bagian kemahasiswaan ada suratnya dari pelatnas jadinya saya sekolah jarak jauh” kata remaja kelahiran 20 Mei 1999 itu. Termasuk tugas sekolah, ujian sekolah, semuanya dilakukan dari jarak jauh. Pihak sekolah mengirimkan ke lokasi pelatnas dan dikerjakan, setelahnya dikirim kembali ke sekolah asal. Kendala yang dialami seperti kurang waktu untuk belajar karena lelah usai latihan, waktu belajar digunakan untuk istrahat. Sejauh menjalani rutinitas latihan, Bangkit mengakui belum pernah mengalami cidera berat yang mengharuskan vakum sementara waktu. Hanya cidera ringan yang dialami sewaktu usai latihan. “Kadang kan kalau latihan suka kelepasan, nendang terlalu kenceng jadi kaku sama bahu suka sakit. Tapi biasanya gak lama, paling dua sampai tiga hari udah pulih lagi” ujarnya. Suka duka yang dialami pun beragam, bertemu karakter lawan yang bermacam-macam, pertama kali ikut kejuaraan dunia membela Tanah Air namun belum berhasil menyumbangkan medali. Pada ajang Sea Games Malaysia 2017 pun dirinya belum berhasil menyumbangkan medali. Bangkit mengakatan bahwa dirinya sangat bangga dan tidak menyangka bisa bergabung di pelatnas pencak silat bersama kawan-kawan dari kota lain. Pasalnya, sejak awal dirinya tidak menargetkan untuk bisa bergabung di pelatnas. Namun atas usaha latihannya selama ini dirinya berhasil membawa pulang medali emas di ajang Asian Games 2018 hal ini sangat membanggakan bagi keluarga, kerabat dan kawan-kawannya. Profil Singkat Nama : Aji Bangkit Pamungkas Tempat/Tgl Lahir : Ponorogo, 20 Mei 1999 Alamat Rumah : Jl. Rumpuk Rt 02 Rw 04 Kertosari Babadan, Ponorogo Orang Tua : Agus Widodo (ayah) Anis Nurul Laili (ibu) Pendidikan SD Ma’arif Ponorogo SMPN 2 Ponorogo SMKN 1 Jenangan Ponorogo Prestasi Medali Emas Kejurnas Remaja dan Dewasa 2016, Jakarta, Indonesia Partisipan Kejuaraan Dunia 2016, Denpasar Bali, Indonesia Medali Perungu Pra Sea Games 2017, Komplek Lincah Mahaguru Omardin (K.L.M.O), Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2017, Schoten, Belgia Partisipan Sea Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Emas 3rd Pencak Silat Championship 2017, Chungju City, South Korea (medali emas) Paetisipan Penang Open 2017, Penang Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2018, Schoten, Belgia

Kandaskan SMK PGRI 1 Cibinong Di Laga Pembuka, Tim Basket Putra Kharisma Bangsa Unggul Pengalaman

Tim putra SMA Kharisma Bangsa (putih) mengalahkan SMK PGRI 1, Cibinong, dengan skor 91-22, dalam laga pembuka turnamen bola basket ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, di lapangan Basket SMAN 13, Depok, pada Sabtu (1/9). (Adt/NYSN)

Depok- Tim putra SMA Kharisma Bangsa mengawali laga pembuka kompetisi bola basket bertajuk ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, pada Sabtu (1/9), dengan hasil positif. Bermain di Lapangan Basket SMAN 13 Depok, Jawa Barat, Fajar Satria dan kolega menang telak 91-22 atas SMK PGRI 1, Cibinong, Jawa Barat. Satria, Kapten Tim, mengatakan performa timnya pada pertandingan itu dalam kondisi baik. “Di kuarter pertama kami masih butuh adaptasi dengan lapangan. Tapi, selebihnya kami bermain sangat baik,” ujar Satria. Menurutnya, lawan merupakan tim yang cukup bagus. “Mungkin mereka kurang pengalaman, sehingga kami bisa manfaatkan kondisi itu meraih kemenangan,” lanjutnya. Senada, Abdurrasjid Juzar mengungkapkan, pada pertandingan perdana ia dan kolega masih diberi kemudahan dalam memenangkan laga. “Jam terbang dan pengalaman kami mungkin lebih banyak dibanding lawan,” terangnya. “Apalagi sebagian pemain kami juga berhasil dalam mengeksekusi lemparan tiga angka ke jaring lawan,” tukas Abdurrasjid. (Adt)

Satelite Cup 2018 Resmi Digelar, Ajang Pebasket Pelajar di Depok Tambah Pengalaman Tanding

Pemain tim basket putra tuan rumah SMAN 13 Depok, Bagas Nugroho (99) tengah melakukan tembakan ke arah jaring SMAN 26. Tim tuan rumah akhirnya unggul denga skor yang cukup jauh 61-31, pada laga perdana Satelite Cup 2018 Volume 2, pada Sabtu (1/9). (doc. SMAN 13)

Depok- Turnamen basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Jabodetabek bertajuk ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, yang diselenggarakan SMAN 13 Depok, Jawa Barat (Jabar), resmi digelar pada 1-23 September. Ajang ini menjadi kesempatan terutama kalangan pelajar yang memiliki bakat bermain basket untuk menambah pengalaman bertanding. “Event ini kedua kalinya diselenggarakan di sekolah kami. Pada Satelite Cup sebelumnya, berlangsung lancar dan bisa dijadikan sebagai upaya untuk menambah pengalaman bertanding, terutama bagi pelajar yang memang memiliki passion di basket, di Kota Depok,” ujar Bagus Kumala Aji, Humas ‘Satelite Cup 2018 Volume 2’, Rabu (5/9). Ia melanjutkan bahwa ajang ini sebagai upaya agar Pemerintah Kota Depok memberikan perhatian pada olahraga basket, mengingat banyak potensi pebasket di Kota peyangga Jakarta itu. “Sayangnya belum mempunyai wadah yang bagus untuk para pecinta basket ini. Kami berpikir untuk menggelar event ini secara berkala,” tambahnya. Terdapat 22 tim putra dan putri dari SMA se-Jabodetabek yang bersaing untuk menjadi yang terbaik. Bagus berharap event ini dapat berlangsung sukses. “Kompetisi ini digelar pada Sabtu dan Minggu, di Jalan P nomor 72, Kalimulya, Depok,” terang Bagus. “Untuk pertandingan pekan pertama, yakni pada 1 dan 2 September terlaksana dengan sukses. Dan laga berjalan sengit. Semua pemain menujukkan skill yang mereka miliki,” terangnya. “Semoga menjadi tolak ukur sekolah lain juga untuk membantu memberikan wadah bagi para pecinta basket, untuk berkembang lebih jauh lagi,” tegasnya. Sementara itu, pada laga perdana, tim basket putra tuan rumah SMAN 13 Depok meraih kemenangan usai menaklukkan SMAN 26 Jakarta, dengan skor 61-31. Duel kedua tim di pertandingan itu berjalan seru. Meski saling kejar mengejar angka, namun SMAN 13 Depok mampu menutup paruh kuarter dengan keunggulan 27-17. Tak tinggal diam, skuat SMAN 26 Jakarta berusaha menebar ancaman pada tim tuan rumah. Namun, Farid dan kolega masih terlalu tangguh bagi lawan. Mereka akhinrya mampu menutup dua kuarter sisa dengan skor akhir 61-31. Farid , Kapten Tim SMAN 13 Depok , mengatakan timnya bermain dengan kepercayaan diri penuh, terlebih mereka tuan rumah. “Kami juga lebih banyak memiliki pemain-pemain yang mau berkerja sama sebagai team bukan sebagai individu,” tukas Farid. (Adt)

Efek Domino Piala AFF U-22 2019, Kunci Tongkat Estafet Skuat Junior Timnas Indonesia

Salah satu event yang jadi terobosan baru AFF adalah event Piala AFF U-22, yang akan diselenggarakan di Kamboja, sekaligus menjadi negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah perdana. Nama Egy Maulana Vikri yang memperekuat klub Polandia, Lechia Gdansk, menjadi kandidat skuat Timnas Indonesia di ajang itu. (goal.com)

Jakarta- Dewan AFF menggelar sidang ke-16 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (25/8). Dalam sidang itu diputuskan beberapa negara yang menjadi tuan rumah kejuaraan, mulai Piala AFF U-15, Piala AFF U-18, sampai Piala AFF U-22, untuk penyelenggaraan 2019. Hasil sidang memutuskan Piala AFF U-15 2019 akan berlangsung di Thailand, Piala AFF U-18 2019 di Vietnam. Dan, Piala AFF U-22 digelar di Kamboja. Dari sekian banyak agenda kejuaraan AFF pada 2018, Indonesia tak kebagian satupun sebagai penyelenggara. Sebab, pada 2018, Indonesia sudah banyak menjadi tuan rumah agenda AFF. Salah satu event yang menjadi terobosan baru AFF adalah pelaksanaan perdana ajang Piala AFF U-22. Rencananya kejuaraan itu bakal diselenggarakan di Kamboja, sekaligus menjadi negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah pertama. Namun, untuk kepastian bulan atau tanggal pasti penyelenggaraannya, AFF belum bisa memutuskan. Meski demikian ada opsi yang disiapkan, yakni sebelum, atau sesudah SEA Games 2019 yang berlangsung di Filipina. Khusus bagi Indonesia, mengikuti Piala AFF U-22 bakal dibutuhkan perombakan besar di skuat tim nasional. Maklum, sebagian besar penggawa Asian Games 2018 sudah melewati batas usia 22 tahun, pada 2019. Sebagai contoh di lini belakang, hanya ada nama Andy Setyo (20 tahun) dan Bagas Adi Nugroho (21 tahun) yang pada 2019, belum melewati umur 22 tahun. Lalu di posisi kiper, tinggal menyisakan Awan Setho (21 tahun), dan Satria Tama, jika ia masih dipanggil Timnas. Sementara itu di lini tengah, Indonesia kehilangan generasi yang menjuarai Piala AFF U-19 2013. Trio Evan Dimas, Hargianto, dan Zulfiandi, tahun depan akan menginjak usia 23-24 tahun, yang tentunya tak bisa diturunkan di Piala AFF U-22. Dua pemain yang berpotensi tampil adalah Hanif Sjahbandi dan Septian David Maulana. Keduanya sekarang berumur 21 tahun. Justru, yang paling mengkhawatirkan adalah komposisi lini depan. Indonesia sampai detik ini belum memiliki penyerang kategori U-22 dengan kualitas mumpuni. Bahkan, di gelaran Asian Games 2018, pun merah putih sampai harus menggunakan jasa Beto Goncalves, sebagai pemain senior naturalisasi. Opsi terbaik sementara ini adalah Saddil Ramdani, yang belum genap berkepala dua, itupun sebagai penyerang sayap. Untuk penyerang tengah, ada dua nama populer yakni Ezra Walian (20 tahun), dan Egy Maulana Vikri (18 tahun), meski sebaiknya tidak terlalu berharap, karena belum tentu mereka dilepas klubnya. Lalu bagaimana jika memanggil nama Amiruddin Bagus Kahfi, yang tampil gemilang di Piala AFF U-16? Tidak menutup kemungkinan ia mendapat panggilan ke timnas U-22, tapi juga tidak bisa dibebani ekspektasi yang tinggi, lantaran usianya yang masih sangat belia. Pada 2019, Indonesia akan ditinggal sejumlah besar pemain U-23 yang tampil di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Artinya, Garuda Muda akan memasuki era baru dengan para pemain baru. Sayangnya, saat ini belum terlihat pemain yang berpotensi menjadi andalan di Timnas U-22 tahun depan. Persoalan ini sebelumnya juga pernah dihadapi Indonesia, jelang SEA Games 2017. Minimnya jumlah pemain U-22 yang cukup menit bermain di klubnya, ‘memaksa’ PSSI dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB) meneken regulasi anyar, yang mewajibkan seluruh tim Liga 1, harus memainkan pemain U-23 sebagai starter. Regulasi itu memang berhasil. Ada banyak pemain muda yang meroket seperti Rezaldi Hehanussa, Hanif Sjahbandi, Febri Hariyadi, Osvaldo Haay, hingga Marinus Wanewar. Itu menunjukkan, andai klub lebih berani memberikan porsi bermain pada pemain muda, akan ada banyak bakat besar yang terus berkembang. Langkah serupa seharusnya diterapkan jelang Piala AFF U-22. Tentu menimbulkan pro dan kontra, meski tak dipungkiri muncul efek negatifnya, bagi beberapa klub. Tapi, jika kesadaran untuk memainkan pemain muda, masih belum dimiliki klub, maka kelak akan muncul kembali, aturan yang “memaksa” untuk melakukannya. Timnas junior Indonesia terus menyabet prestasi dan hasil membanggakan. Sebagian besar skuat juara, kemudian menjadi tulang punggung di kategori usia selanjutnya. Jika trofi juara bisa disabet di Piala AFF U-22 2019, bukan tak mungkin, Timnas Indonesia akan memiliki calon generasi juara di Piala AFF senior. (Art)

Pecah Rekor Tinju Putri, Anggota KOWAD 20 Tahun Asal Lombok Raih Perunggu Asian Games

Kalah dari atlet Thailand, Sudaporn Seesondee (merah), petinju putri kelahiran Lombok, 27 Januari 1998, Uswatun Hasanah (biru), meraih medali perunggu Asian Games 2018 kelas 60 kg putri, pada Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. (liputan6.com)

Jakarta- Petinju Putri Indonesia, Uswatun Hasanah, sukses menyumbangkan medali perunggu Asian Games 2018 dari kelas 60 kg putri, Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena untuk kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. Tinju putri kali pertama digelar pada Asian Games 2010. Selama ini, belum pernah ada petinju Indonesia yang meraih medali. Setelah delapan tahun, penantian Indonesia akhirnya terbayar. Atlet 20 tahun yang kerap disapa Atun ini, mengamankan medali perunggu paska gagal melenggang ke babak final. Di partai semifinal tinju putri kelas ringan 60 Kilogram Putri Hall C, JIExpo, Anggota Kowad TNI AD berpangkat Serda yang berdinas di Dirpalad Jatinegara Jakarta Timur ini, terpaksa mengakui keunggulan atlet asal Thailand, Sudaporn Seesondee. Pertandingan tiga babak tersebut, Atun terus menerus tertekan sejak awal ronde. Pukulan bertubi-tubi petinju Thailand, tak mampu dihadang olehnya. Sebaliknya, pukulan gadis kelahiran Lombok, 27 Januari 1998 ini, tak bertenaga dan mudah dipentahkan lawan. Sudaporn makin mendominasi laga di ronde kedua dan ketiga, hingga Atun terlihat selalu terpojok dan gagal keluar dari tekanan. Bahkan, saking terpojoknya, Atun kerap berbalik badan hingga mendapat peringatan dari wasit di ronde ketiga. Usai laga, pelatih kepala Adi Suandana menyebut anak asuhnya gagal maksimal dipertandingan tersebut. Apa yang ditampilkan Atun saat mengalahkan wakil India, Pavitra di perempat final, tak terlihat. “Penampilan Uswatun hari ini, jika dibandingkan dengan sebelumnya, memang menurun,” kata Adi, usai laga, di JIExpo Kemayoran Hall C, Jakarta, Jum’at (31/8). “Karena olahraga tinju itu sudah biasa ya, yang terpukul pasti poinnya turun, dan yang banyak memukul pasti dapat poin,” imbuhnya. Adi menjelaskan, waktu persiapan yang kurang, ditambah minimnya uji coba ke luar negeri, menyebabkan mental Atun dan para petinju penghuni pelatnas lainnya tak terasah dengan baik. Akibatnya, kata Adi, saat di bawah tekanan, mereka tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dan gagal menjalankan instruksi pelatih. “Masih banyak kelemahan. Lawan jadi punya keberanian menyerang terus. Kalau Atun keberaniannya sepeti pertandingan sebelumnya, lawan tak bakal tampil seperti itu,” ujar Adi. Meski gagal ke babak final, medali perunggu Atun sukses menghantarkannya mencetak sejarah. Sepanjang sejarah Asian Games, tinju Indonesia mengoleksi tiga emas, delapan perak, dan 13 perunggu. Namun, semua medali datang dari tinju putra. Ini merupakan medali pertama yang diraih kontingen Indonesia di Asian Games 2018 sepanjang Jumat (31/8). Indonesia total telah mengoleksi 30 emas, 23 perak, dan 39 perunggu. (Ham)

Antiklimaks Takluk Dari Vietnam 1-3, Voli Putri Indonesia Gagal Kunci Posisi Enam Besar

Aprilia Santini Manganang (9) dkk gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas voli putri Indonesia dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. (Riz/NYSN)

Jakarta- Aprilia Santini Manganang dan kolega gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas bola voli putri Indonesia itu dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Di pertandingan ini, kedua tim tampil percaya diri serta mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di set pertama, Vietnam yang dimotori Dinh Thi Tra Giang mampu menyudahi perlawanan ketat tuan rumah dengan skor 29-27. Memainkan set kedua, Amalia Fajrina Nabila dan kawan-kawan berusaha bangkit. Bahkan kerap unggul dalam perolehan poin dengan lawan, serta berhasil mencuri kemenangan dengan skor jauh 25-18. Namun, anak asuh Mohamad Ansori tak mampu menjaga performa. Vietnam yang sempat tertekan di set kedua, justru balik menebar ancaman ke kubu Merah Putih diset ketiga. Berada di atas angin, Vietnam makin ‘gila’ dengan melancarkan smash keras menghujam yang tak mampu dibendung srikandi Merah Putih. Akhirnya, Vietnam merebut set ini dengan skor 25-22. “Set kedua kami bisa menang karena servis dan nyerang terus. Tapi, di set ketiga lawan mulai berani servis, sedangkan kami tidak siap dan kewalahan sendiri. Apalagi pertahanan kami terdapat banyak celah serta kurang cepat bisa baca lawan,” ujar Amalia, Kapten Timnas Bola Voli Putri Indonesia usai laga. “Jadi harusnya yang jadi patokan diam di situ, ini justru memposisikan dirinya belum jelas. Ini yang membuat Vietnam tahu kelemahan kami, begitu juga dengan blok-blok dari kami yang tidak sempurna,” tambahnya. Di set keempat, Manganang Cs sempat membentang asa. Meski perolehan poin sempat tertinggal dari Vietnam sejak awal laga, namun mereka berusaha mengejar poin hingga kedudukan 17-`18 dan 19-20. Akibat kurang tenang dalam menerima serta mengeksekusi bola, membuat timnas bola voli putri Indonesia harus mengakui ketangguhan Vietnam yang mengunci set ini dengan skor 22-25. Hasil tersebut membuat mereka gagal mengulang sukses di ajang SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika itu, timnas bola voli putri berhasil menaklukkan Vietnam, di semifinal, dengan skor 3-2. “Sebenarnya ini sesuai target delapan besar. Tapi, karena ketemu Vietnam, inginnya teman-teman menang, karena di SEA Games kemarin kami menang lawan mereka, apalagi masih sesama negara Asia Tenggara,” ungkap Amalia. “Ya, pinginnya bisa peringkat 5-6, tapi enggak bisa dan harus turun lagi. Ini kan kayak musuh bubuyutan. Dan, sekarang jadi 7-8 peringkatnya,” lanjutnya. Sementara itu, Manganang mengaku penampilannya di pertandingan kali ini berada di bawah performa terbaiknya. “Memang saya tampil tadi tidak maksimal. Mungkin ada faktor kelelahan juga karena jadwal pertandingannya kan sangat mepet waktunya. Soal stamina juga bisa jadi catatan tersendiri untuk kedepannya perlu diperhatikan,” tegasnya. Manganang Cs masih melakoni satu laga lagi menghadapi Kazakhstan untuk posisi 7 dan 8 pada Sabtu (1/9). Mohammad Ansori, Arsitek Tim, berharap timnya bermain bagus kontra Kazakhstan. “Soal peluangnya belum tahu, dilihat besok saja. Mudah-mudahan lebih bagus dari hari ini,” ucap Ansori. (Adt)

Tundukkan Universitas Muhammadiyah 2-0, Gelar LIMA Football GJC Disegel UNJ Berturut-turut

Tundukkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dengan skor 2-0, tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memastikan diri tampil sebagai tim terkuat, di region Jakarta Raya, babak final LIMA Football: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference (GJC) 2018, di Stadion Sepak Bola Universitas Indonesia, Depok, pada Kamis (30/8). (LIMA)

Jakarta- Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memastikan diri tampil sebagai tim terkuat di region Jakarta Raya, dalam perhelatan LIMA Football: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference (GJC) 2018. UNJ menyegel status ini, usai taklukkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dalam laga final, yang digelar di Stadion Sepak Bola Universitas Indonesia, Depok, pada Kamis (30/8). Menang dengan skor 2-0, membawa UNJ keluar sebagai juara bertahan dalam dua musim berturut-turut. UMJ menampilkan permainan yang meyakinkan di menit-menit awal. Penguasaan bola dominan dikuasai tim berkostum merah itu, hingga pertengahan babak pertama. UMJ sempat melakukan tiga kali percobaan tembakan, namun tak berbuah satu gol pun. Perlahan, UNJ langsung mengambil alih laga. Dengan cepat, anak asuh pelatih Raka Wipentra itu mulai menekan pertahanan UMJ. Akhirnya, satu gol berhasil dilesakkan pemain UNJ bernomor punggung 10,  Gillang Harjian, pada menit ke-22. Hingga 45 pertama berakhir, UMJ tak mampu menyamakan kedudukan. Skor 1-0 bertahan hingga jeda turun minum. Memasuki babak kedua, UNJ menunjukkan dominasinya. Juara bertahan itu menambah koleksi golnya lewat tendangan Eka Khairul Insan (8) pada menit ke-79. Meski kedua tim melakukan jual beli serangan, namun gol Eka menjadi penutup laga final yang digelar di Stadion Universitas Indonesia (UI), Depok, dan skor 2-0 tak berubah hingga laga usai. “Syukur Alhamdulillah, kami bisa mempertahankan gelar. Persaingan tahun ini cukup sulit, banyak kejutan dari tim-tim baru dan kekuatannya cukup merata,” ujar Raka, pelatih UNJ. Ini menjadi musim pertama LIMA Football menggelar fase nasional. Kedua finalis akan melanjutkan perjuangannya di LIMA Football Nationals 2018 yang akan digelar 18-25 September, di Malang, Jawa Timurm bersama dua tim lainnya, Universitas Pelita Harapan Banten dan Universitas Padjadjaran Bandung. “Persiapan untuk ke nasional kurang lebih dua pekan. Kami akan persiapkan diri dengan terus berlatih. Fokus kami latihan penyelesaian akhir. Target di nasional nanti tetap ingin menjadi juara,” lanjut Raka. (Dre) Rekapitulasi LIMA Football: Air Mineral Prim-A GJC 2018 Juara Universitas Negeri Jakarta Peringkat 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta Peringkat 3 Univeristas Pelita Harapan Lolos ke fase nasional : Universitas Negeri Jakarta Universitas Muhammadiyah Jakarta Universitas Pelita Harapan Universitas Padjadjaran Bandung

Uji Coba Kontra Mauritania Tanpa Luis Milla, Kiper 21 Tahun Klub Sampdoria ‘Intip’ Peluang Bela Timnas Indonesia

Penjaga gawang berdarah Italia Indonesia, Emil Audero Mulyadi, yang kini bermain untuk Sampdoria di kompetisi Liga Serie A Italia, dikabarkan berharap bisa membela Timnas Merah Putih, usai memasang bendera Indonesia di halaman profil media sosialnya. (instagram)

Jakarta- PSSI menyiapkan agenda uji coba internasional untuk Timnas Indonesia, sebelum tampil di Piala AFF 2018 pada November-Desember. Selain meyakinkan Luis Milla bertahan, konfirmasi kepastian laga persahabatan itu juga sudah diketuk. “Yang sudah konfirmasi tanggal 11 September, melawan Timnas Mauritania, Lalu 9 Oktober melawan Timnas Myanmar,” ujar Sekjen PSSI, Ratu Tisha, Selasa (28/8). “Sisanya masih menunggu keputusan dari tim Asia Timur, kemungkinan Taiwan atau Hong Kong. Kami masih tunggu tanggal mainnya juga,” tambah Tisha. Namun, PSSI sudah menyiapkan alternatif, bila Milla gagal mendampingi tim di pinggir lapangan. PSSI tengah bernegosiasi terkait kontrak dengan Milla. Lantaran proses negosiasi membutuhkan waktu dan tak langsung segera rampung, maka laga pada 11 September nanti membutuhkan pelatih alternatif. Hal ini pun sudah diantisipasi PSSI. Nama Danurwindo pun dipilih, guna menangani tim, dibantu oleh Bima Sakti. “Lawan Mauritania, belum ditangani Milla. Pasti pelatih interim. Itu akan ditempati coach Danurwindo dan Bima,” ucapnya. “Saat ini, coach Danurwindo masih mengumpulkan data pemain senior, yang disiapkan tampil di Piala AFF nanti,” jelas Tisha. Sementara itu, penjaga gawang berdarah Italia Indonesia, Emil Audero Mulyadi, yang bermain untuk Sampdoria di kompetisi Liga Serie A Italia, dikabarkan berharap bisa membela Timnas Merah Putih. Setelah musim lalu dipinjamkan ke Venezia di Serie B, kini pemuda kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 18 Januari 1997 itu akan bermain untuk Sampdoria dengan status pinjaman. Sampdoria memiliki opsi menebus Emil secara permanen, di akhir musim. Pemuda bertinggi 192 cm ini adalah pemain jebolan akademi Juventus. Saat diwawancarai oleh situs resmi klub pekan lalu, ia dengan terbuka menceritakan terlahir dari seorang ayah Indonesia, dan ibu dari Italia. Dia tumbuh besar di Italia sejak bayi. Emil baru menjalani debutnya di Serie A, saat berkostum Juventus dan mengalahkan Bologna 2-1, pada musim 2016/2017. Musim lalu di Venezia, Emil bermain 39 kali dan kebobolan 41 kali, serta mencatat 14 clean sheet. Venezia finis ke­lima di klasemen Serie B, musim 2017/2018. Emil pun saat liburan musim panas pada Juni lalu, kedapatan kembali ke kampung halamannya di Mataram, serta mengunjungi pantai di daerah Lombok. Meski sempat menolak panggilan PSSI membela skuat Garuda, namun pernyataannya terkini, serta memasang bendera Indonesia di halaman profil media sosialnya, seolah menegaskan, Emil tak lupa dengan darah Indonesia yang ia miliki. (Dre)

Selisih 61 Detik Dari Jepang, Lalu Muhammad Zohri Cs Raih Perak Asian Games 2018

Lalu Muhammad Zohri bersama Tim Lari Estafet 4x100 Meter putra Indonesia, yang beranggotakan Fadlin Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara, meraih medali perak dalam cabor atletik, usai mengukir catatan waktu 38,77 detik, atau lebih lambat 61 detik dari Tim Putra Jepang. (solopos.com)

Jakarta- Lalu Muhammad Zohri dan kolega harus puas dengan torehan medali perak Asian Games 2018, pada nomor Lari Estafet 4×100 Meter, di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Kamis (30/8). Ukiran waktu yang dibukukan kuartet Merah Putih itu terpaut 61 detik dari wakil Jepang, yang dihuni atletnya yakni Ryota Yamagata, Shuhei Tada, Yoshihide Kiryu, Aska Antonio Cambridge. Negeri Sakura itu mengamankan medali emas dengan membukukan waktu 38,16 detik. Sedangkan Zohri Cs mencetak waktu 38,77 detik. Catatan itu memecahkan rekor nasional yang mereka torehkan dalam babak kualifikasi pada Rabu (29/8), yakni 39,03 detik. Selain itu, medali perak 4×100 meter putra kali ini juga menjadi sebuah penantian panjang. Indonesia kali terakhir meraih medali perak Asian Games nomor 4×100 meter putra pada 1966 di Bangkok, Thailand. Pada Asian Games 1966, tim estafet 4×100 meter putra bermaterikan Supardi, Wahjudi, Sugiri, dan Jootje Oroh. Penampilan anak asuh Mohammad Hasan, atau yang akrab disapa Bob Hasan itu, menyakinkan sejak awal pertandingan. Menurunkan Fadlin sebagai pelari pertama, Indonesia mampu membuntuti wakil Jepang. Dan Zohri yang diplot sebagai pelari kedua, juga mampu menjaga konsistensi. Dilanjutkan Eko Rimbawan sebagai pelari ketiga. Akhirnya, pelari Bayu Kertanegara sebagai pelari terakhir berhasil menjejak finish diurutan kedua. Sementara itu, China yang bermaterikan Haiyang Xu, Hong Mi, Bingtian Su, dan Zhouzheng Xu, akhirnya berhak atas medali perunggu setelah hanya mampu menorehkan waktu 38,89 detik. “Kami semua sangat bersyukur kepada Tuhan, hari ini kami diberikan kesempatan untuk melihat lagi berkah-Nya. Akhirnya, tim relay 4×100 meter meraih medali perak,” ujar Tigor M Tanjung, selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) saat konferensi pers. “Sejak beberapa waktu lalu, nomor ini memang kami targetkan untuk meraih medali. Apa yang kami idamkan akhirnya tercapai. Semua berkat kerja keras keempat atlet kita ini,” tutur Tigor. Tim estafet 4×100 meter putra Indonesia berada di bawah asuhan pelatih Eni Sumartoyo Martodihardjo. Eni menyatakan catatan Zohri dkk sudah memenuhi ekspektasinya. Ia merasa sangat bahagia dengan kerja keras yang ditunjukkan anak-anak asuhnya. “Saya tak pernah memprediksikan mereka dapat medali emas, karena ini merupakan olahraga terukur, dan kami tahu bagaimana perkembangan negara lain,” ucap Eni. “Saya hanya mengharapkan mereka bisa berlari dengan catatan waktu di bawah 39 detik dan mendapatkan salah satu medali. Sekarang, dengan raihan perak, saya sudah sangat senang,” tutur dia. Pada Asian Games 2018, cabang olahraga atletik telah menyumbangkan 3 medali untuk Indonesia, yakni dengan rincian 2 perak dan 1 perunggu. Medali perak sebelumnya dipersembahkan Emilia Nova dari nomor 100 meter lari gawang putri. Adapun perunggu diraih Sapwaturrahman dari nomor lompat jauh putra. Total, hingga Kamis (30/8) pukul 19.30 WIB, Indonesia telah mengoleksi 30 emas, 23 perak dan 37 perunggu. (Adt)

Bidik Olimpiade 2024 Prancis, PSSI Tunjuk Bima Sakti Bentuk Timnas U-15

Asisten Pelatih Timnas U-23, Bima Sakti (tengah), yang mengantungi lisensi melatih A AFC untuk pembinaan usia muda, kini dipromosikan menjadi Pelati Timna U-15 dan diproyeksikan tampil di Olimpiade 2024 Prancis. (Pras/NYSN)

Jakarta- PSSI segera membentuk Timnas U-15 untuk pembinaan jangka panjang yang berjenjang. Tim yang bakal ditangani Bima Sakti ini, segera diproyeksikan tampil di Olimpiade 2024 Prancis. Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, menjelaskan, Timnas U-15 diisi para pemain kelahiran maksimal 2003, dan disiapkan menuju Olimpiade 2024, di Prancis. Skuat Timnas U-15 itu, akan diambil dari kompetisi-kompetisi usia muda, yang ada di Indonesia. Menurut Tisha, tugas mantan kapten timnas Indonesia ini akan sibuk menyaring pemain yang dikembangkan lewat Elite Pro Academy, dari klub-klub profesional Liga 1. Di antaranya Piala Soeratin U-13 dan U-15, serta Liga U-16 yang segera berputar dan dijalankan PSSI. “Kompetisi PSSI itu terdiri dua jalur, profesional dan amatir. Amatir kami sudah jalan, seperti Soeratin U-15 dan U-17. Profesionalnya, yang segera berjalan tahun ini adalah U-16. Harusnya, di area profesional itu ada U-16, U-18 dan U-20,” buka Tisha. “Di usia genap adalah profesional, sementara di ganjil adalah amatir. Untuk scout kompetisi ini dibentuk timnas-timnas junior, dan materi pemainnya itu harus datang dari Elite Pro Academy, tak ada yang lain,” bebernya lagi “Karena di situ, para pemain itu sudah melewati jenjang amatir, dan akan naik ke area akademi. Dengan jenjang yang ada nanti, akan muncul pemain-pemain kelahiran 2003, yang dipersiapkan tampil Olimpiade 2024, di Perancis,” tegas Tisha. Terkait kemungkinan Bima akan kembali menjabat asisten pelatih Timnas Indonesia membantu Luis Milla, wanita kelahiran Jakarta, 30 Desember 1985 itu menegaskan, PSSI tak mempermasalahkan jabatan ganda itu. Sebab, Timnas U-15 dan Timnas senior Indonesia memiliki tujuan berbeda. “Timnas U-15 ini proyek jangka panjang, sedangkan Timnas Indonesia, tidak. Jadi tak ada masalah rangkap jabatan,” kata Tisha. Sementara menurut Ketum PSSI Edy Rahmayadi, langkah PSSI ini bertujuan memacu pembinaan sepakbola usia muda. “Timnas U-15 dibentuk sebagai langkah berjenjang pembinaan sepakbola usia dini, di Indonesia,” ujar Edy Rahmayadi, di Jakarta, Selasa (28/8). Ia menjelaskan, Timnas U-15 ini, berbeda dengan Timnas U-16, yang tengah dilatih Fakhri Husaini. Skuat yang ditangani Fakhri, yang akan berlaga di Piala U-16 Asia 2018 di Malaysia pada 20 September-7 Oktober 2018, nantinya disebut Timnas U-17. “Terbentuk satu tim, Timnas U-15 yang akan dilatih oleh Bima. Ada turnamen-turnamen yang disiapkan, guna mengantisipasi berjenjangnya pembinaan sepakbola ke depan,” terang Edy. Bima saat ini sudah mengantungi lisensi melatih level A AFC, dengan konsentrasi pembinaan usia muda. (Dre)

Jelang Piala Asia U-16 di Malaysia, Timnas U-16 Lakukan ‘Aklimatisasi’ di Kuala Lumpur

Usai menjalani pemusatan latihan Stadion Teladan, Medan, Sumatera Utara, Timnas U-16 bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (29/8) dan akan beruji coba dengan beberapa tim, salah satunya Timnas Oman U-16, jelang Piala Asia U-26 2018. (antarafoto.com)

Jakarta- Timnas U-16 bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (29/8) sore. Sebelum berlaga di Piala Asia U-16 2018, mereka akan menjalani uji coba sebanyak tiga kali, usai menjalani pemusatan latihan Stadion Teladan, Medan, Sumatera Utara. Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, mengungkapkan alasan memberangkatkan timnas U-16 lebih awal. Uji coba melawan timnas Oman U-16 juga sudah dipersiapkan, sebagai bagian dari persiapan menatap persaingan Grup C melawan Iran, India dan Vietnam. “Timnas U-16 berangkat ke Malaysia 29 Agustus, dan akan beruji coba tiga kali. Tim di sana cukup lama supaya bisa beradaptasi dengan baik,” kata Tisha pada Selasa (28/8). Hingga Piala Asia 2018 pada 20 September-2 Oktober, Timnas U-16 mempunyai waktu relatif lama berlatih di Kuala Lumpur. “Kami agendakan uj coba dengan situasi uji coba terbuka, supaya mereka merasakan ‘crowd’ Malaysia. Semacam aklimatisasi (adaptasi), jadi mereka harus lama di sana. Dan duel pemanasan sebelum lawan Oman, tim ini akan melawan klub lokal,” dia menambahkan. Rencananya, tim Akademi Selangor FA U-17 menjadi kandidat lawan Timnas U-16, pada Kamis (31/8). Lalu disusul, tim Junior U-17 lokal yang masih menunggu calonnya serta jadwal tandingnya. Timnas Oman U-16, diproyeksikan bakal melawan tim merah putih remaja, pada Rabu (12/9) mendatang. Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini sudah memiliki 24 nama pemain, yang akan tampil di Piala Asia U-16. Namun, Fakhri enggan menyebut empat nama baru yang ia bawa ke Malaysia, meski mereka sudah tampak ikut berlatih di Medan. Tim Garuda Asia sebelumnya melakukan seleksi kepada sembilan pemain baru, untuk bergabung dalam skuad di Piala Asia U-16 2018. Dari sembilan pemain, empat diantaranya sudah dipastikan bergabung dalam tim untuk Piala Asia U-16, di Malaysia. David Maulana dkk akan melakoni laga pembuka Piala Asia U-16, menghadapi Iran, di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, 21 September mendatang. Selain Iran, Indonesia yang tergabung di Grup C juga bakal menantang dua kontestan lain, Vietnam dan India. (Dre) 24 Pemain Timnas U-16 TC Medan dan Kuala Lumpur Kiper 1. Ernando Ari Sutaryadi – PPLP Jateng 2. Ahludz Dzikri Fikri – ASAD 313 3. Muhammad Risky Sudirman – SSB Villa 2000 Belakang 4. Mochamad Yudha Febrian – SSB Cibinong Raya 5. Muhammad Salman – Diklat Ragunan 6. Fadillah Nur Rahman – PPLP Sumatera Barat 7. Amiruddin Bagas Kaffa – Chelsea Soccer School 8. Muhammad Reza Fauzan – FC Patriot Aceh Tengah 9. David Maulana – PPLP Medan 10. Komang Teguh Trisnanda – Diklat Ragunan 11. Muhammad Talaohu – ASAD 313 12. Hamsa Lestaluhu – ASAD 313 13. Andre Oktaviansyah – SSB Pelita Jaya Soccer School 14. Brylian Aldama – SSB Gelora Putra Delta 15. Rendy Juliansyah – SSB ASIOP APAC INTI Depan 16. Mochammad Supriadi – Diklat Ragunan 17. Amanar Abdilah – PS Tira U-17 18. Amiruddin Bagus Kahfi – Chelsea Soccer School 19. Sutan Diego Armando Ondriano Zico – Chelsea Soccer School Pemanggilan Baru 20. Ahmad Farensyah – PPLP DKI 21. Fatah Aji – PPLP DKI 22. I Komang Dedi Nova Tri Gunawan – Bali United U-16 23. I Kadek Silva Yoga Adi Wijaya – Bali United U-16 24. Subhan Fazri – Aceh Pemain yang sempat tergabung di Piala AFF U-16 tetapi tak diikutsertakan Piala Asia U-16 karena regulasi 1. Yadi Mulyadi – ASAD 313 2. Fajar Fathur Rahman – ASAD 313 3. Kartika Vedhayanto – PPLP Jawa Tengah 4. Dandi Maulana Hakim – SSB Bina Taruna

Manganang Cs Takluk 0-3 Dari Korea, Kalah Pengalaman dan Jam Terbang

Aprilia Santini Manganang (9) dan kawan-kawan, takluk 3-0 dari Timnas putri Korea Selatan, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas putri Indonesia harus takluk dari Korea Selatan (Korsel) dengan skor 0-3, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). Aprilia Santini Manganang Cs dipaksa menyerah dalam pertarungan tiga set, 22-25, 13-25, dan 18-25 atas Negeri Ginseng, dalam waktu 76 menit. Amalia Fajrina Nabila, Kapten Tim, mengaku banyak pelajaran yang didapat dirinya dan kolega pada laga ini. Terlebih, menurut pemain bernomor punggung 7 itu, pertandingan kali ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua tim setelah beberapa tahun Indonesia absen di kejuaraan Asia. “Ini baru pertama kali lagi kami bertemu dengan mereka setelah beberapa tahun Indonesia tidak pernah ikut kejuaraan Asia. Tapi, secara keseluruhan kami sangat puas untuk pertandingan hari ini,” ujar pemain berusia 24 tahun itu usai laga. Diakuinya, level Indonesia dengan Korsel berbeda. “Di pertandingan tadi kami sudah berusaha maksimal. Di Asian Games sebelumnya mereka itu juara dengan mengalahkan Jepang. Ya, bisa dlihat perjuangan kami serta salut juga buat teman-teman yang lain,” tambahnya. “Kami tidak pernah ikut kejuaraan. Dan sekalinya ikut di Asian Games, apalagi ketemunya Korsel. Mereka tim yang konsisten ikut Grand Prix bahkan Olimpiade. Yang pasti banyak pelajaran yang didapat terutama teknik dan mental,” ungkap Amalia. Sementara itu, kendati takluk dari Korsel, namun Aprilia Manganang mengaku puas dengan dengan pertandingan yang dilakoninya bersama tim. “Sangat puas pertandingan hari ini. Apalagi tadi poinnya juga rapat terus. Kami banyak mengambil pelajaran dari mereka. Yang pasti pengalaman mereka dengan materi pemain yang bagus-bagus,” jelasnya. “Tadi juga bisa dilihat mereka mainnya tenang karena mungkin dari pengalaman dan juga jam terbang. Jadi Indonesia harus banyak bertanding di luar untuk mengimbangi permainan seperti tim Korsel,” ungkapnya. Diketahui, Indonesia melaju ke perempatfinal setelah berhasil bertahan di posisi empat besar Grup A. Srikandi Merah Putih menduduki posisi ketiga di klasemen akhir Grup A dengan poin 6, hasil dari 2 kali menang dan 2 kali kalah. Pada pertandingan terakhir di babak penyisihan Grup A, Timnas Indonesia harus menyerah saat melawan Thailand dengan skor 1-3, pada Senin (27/8). Di pertandingan ini, Timnas Indonesia hanya bisa mencuri keunggulan di set kedua dengan skor 25-20. Pada tiga set lain, Thailand menang dengan skor 19-25, 13-25 dan 13-25. Hasil ini membuat Thailand mengoleksi 12 poin dari 4 laga sekaligus merebut puncak klasemen akhir Grup A. Sedangkan Mohammad Ansor, juru racik tim, menargetkan anak didiknya bisa finish diposisi 5 besar. “Kami yakin anak-anak bisa ambil posisi 5 atau 6. Itu memang target yang ingin dicapai,” tukas Ansori. (Adt)

Remaja Asal ‘Kota Kembang’ ini Menargetkan Lampaui Prestasi Kedua Orang Tuanya di Cabor Pencak Silat

Hanifan Yudani Kusuma salah satu atlet berbakat dalam olahraga pencak silat Indonesia

Jakarta- Pencak Silat adalah cabang olahraga yang dikenal sebagai olahraga tradisional asli Indonesa, selain itu, Pencak Silat juga sudah dimainkan di belahan dunia lain selain Indonesia. Hanifan Yudani Kusuma salah satu atlet berbakat dalam olahraga pencak silat, menurun dari hobby kedua orang tuanya yang juga pelatih dari Popda Jabar, Hanifan mulai menyukai pencak silat ketika duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Dani Wisnu, Ayah dari Hanifan yang juga kebetulan tergabung di Pelatnas Pencak Silat pada 2005 membuatnya tergiur untuk meneruskan perjuangan sang ayah. “Awal kali ikut perguruan saya bergabung di Perguruan Silat Tadjimalela di Bandung, kemudian baru pertama kali ikut kejuaraan pas tahun 2010 itu saya kelas 6 SD” ungkap Hanifan. Kejuaraan Pencak Silat pertama nya adalah turnamen internal Tadjimalela Cup yang diadakan dalam lingkup Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Walaupun ini kali pertama Hanifan mengikuti kejuaraan, tetapi di kejuaraan tersebut Hanifan berhasil mengalungkan medali perak. Remaja asal Kabupaten Bandung tersebut akhirnya memutuskan untuk hijrah kembali ke ‘Paris Van Java’ demi mendapatkan pembinaan yang maksimal dan juga persiapan untuk mengikuti Popwil tahun 2013. Pasca menjalani Popwil Hanifan kembali diterjunkan untuk Kejurda, Popda hingga Popnas pada tahun 2015. Sebelum Popnas dirinya sempat mengikuti O2SN di Kota Makassar. “Setelah Popnas dan O2SN saya gabung tim Pelatda untuk persiapan Pon 2016, saya seleksi di kelas C Putra 55-60Kg dan alhamdulillah saya menang telak atas senior saya sendiri, tapi beda cabang aja” pungkasnya. Berhasil juara di Pon 2016 bujang kelahiran Soreang, Kabupaten Bandung itu jalani persiapan guna perhelatan World Champion di Bali dimana Ia berhasil mendapatkan medali emas di usia yang relatif muda, yakni 18 tahun. Hanifan akhirnya berhasil untuk bergabung di Pelatnas di tahun 2017 dan kerap berlatih demi persiapan event Sea Games 2017 lalu. Sebulan pra Sea Games, tim pelatnas menjalani training camp di ‘Negri Tirai Bambu’ China. Tak sia-sia hasil kerja keras dan latihan rutinnya membuahkan sebuah medali meskipun perungu, satu hak yang membuatnya selalu termotivasi di olahraga pencak silat. “Saya ingin lebih hebat lagi dari orang tua saya, ketika orang tua saya mampu 2x juara dunia dan 2x juara Sea Games, saya harus lebih dari mereka. Itu yang membuat saya bertahan dan kebetulan pencak silat kan budaya saya sendiri” kata remaja berambut pirang tersebut. Tak hanya pencak silat, Hanifan juga pernah menjajal olahraga renang dan sepak bola meski tak bertahan lama. Sejauh menekuni olahraga, remaja berusia 21 tahun itu mengakui sempat mengalami cidera di bagian kaki yang cukup parah ketika kelas 5 SD. Mengharuskannya vakum selama 6 bulan, justru dirinya cidera saat sedang bermain bola. Rutinitas latihan yang padat ternyata berpengaruh dalam proses belajar di sekolah, terutama ketika memasuki SMA. Membagi waktu antara latihan di pelatnas dan sekolah membuatnya kewalahan. “Terutama kelas 2 sampai kelas 3 ya mas karena itu lagi sibuk-sibuknya juga sekolah. Jadi dulu pagi saya latihan dulu dari jam 9 sampai jam 1, selesai latihan langsung ke sekolah. Itu sebelumnya buat kesepakatan dengan guru” tambahnya. Namun tak disangka-sangka saat dirinya ditanya oleh NYSNMedia.com perihal target berkepanjangan, Hanifan justru menjawab akan fokus ke pendidikan. Pasalnya, dirinya masih ada tekad kuat untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat Universitas dan akan memikirkannya pasca perhelatan Asian Games 2018. (Ham) Profil Singkat Nama : Hanifan Yudani Kusumah Tempat/Tgl Lahir : Bandung, 25 Oktober 1997 Asal : Soreang, Kab. Bandung Orang Tua : Dani Wisnu (ayah) Dewi Yanti (ibu) Media Sosial : Instagram @hanifan_yk Pendidikan SD Cibogor 2 Soreang Kab. Bandung SMPIT Anni’mah Soreang SMAN 20 Bandung Prestasi 2015 Malaysia Open, Pinang (emas) 2015 Kejurnas Invitasi, Jawa Barar (emas) 2016 Malaysia Open, Sabar (emas) 2016 PON Jawa Barat, Jawa Barar (emas) 2016 World Champions, Bali (emas) 2017 Pra Sea Games, Malaysia (perak) 2017 Belgia Open, Belgia (emas) 2017 Sea Games, Malaysia (perunggu) 2017 Asian Championship, Korea (perak) 2017 Malaysia Open, Pinang (emas) 2018 Belgia Open, Belgia (emas)

Gagal Main Simple Lawan Suriah, Timnas Basket Putra Indonesia Batal Raih Posisi Kelima

Terjadi duel udara antara pemain Timnas Indonesia, Jamarr Andre Johnson (Merah/71) dan Khalil Khouri (putih/00), dalam fase play off 5-8 Asian Games 2018, Selasa (28/8), di Basket Hall Gelora Bung Karno. Indonesia akhirnya takluk 66-76. (Riz/NYSN)

Jakarta- Skor 66-76 adalah hasil akhir laga basket putra Asian Games 2018 antara Indonesia vs Suriah pada Selasa (28/8). Bermain di Basket Hall Gelora Bung Karno, Jakarta, Timnas basket putra Indonesia harus kalah dalam semifinal play-off perebutan tempat kelima. Kekalahan dari Suriah, membuat tim Merah Putih menyisakan satu partai lagi, yakni penentuan tempat ketujuh melawan Jepang, pada Jumat (31/8). Sebelumnya, Jepang dikalahkan oleh Filipina dengan skor 113-80. Sementara itu, Suriah masih memainkan partai play off 5-6 menghadapi Filipina, pada hari dan tempat yang sama. Forward Timnas Indonesia, Jamarr Andre Johnson mengaku timnya bermain sangat buruk pada laga malam ini. “Kami memulai laga dengan sangat buruk dan itu membuat kami kehilangan segalanya. Kami mencoba bangkit di akhir laga, namun gagal untuk meraih hasil terbaik”, tuturnya, penuh rasa kecewa. Indonesia kerap tertinggal pada laga melawan Suriah. Defisit terjadi ketika Xaverius Prawiro dan kawan-kawan hanya mencetak sembilan angka di kuarter kedua. Alhasil, meski unggul perolehan angka 17-14 dan 25-10 pada dua kuarter berikutnya, timnas harus menderita kekalahan. “Jujur saya tak tahu apa yang terjadi dengan akurasi tembakan kami. Beberapa kali saya dan teman-teman dalam posisi terbuka ,tapi bola tidak mau masuk. Pertandingan hari ini seharusnya berjalan sederhana, namun kami membuatnya sulit. Masalah ada di kami, bukan lawan,” terang pemain naturalisasi asal Amerika Serikat ini. Dalam laga melawan Suriah, Indonesia gagal menghambat senjata utama lawan, Tarek Aljabi, yang dalam 29 menit 40 detik mampu menghasilkan 33 poin. Sementara itu, tak ada satu saja atlet Indonesia yang mampu menghasilkan 20 poin. Arki Dikania dan Xaverius Prawiro sama-sama mengemas 14 poin. (Dre)

Ketum PSSI Harus Berdebat Soal Status Pelatih Timnas, Nama Luis Milla Lagi-lagi Dipertahankan

PSSI akhirnya memutuskan untuk memperpanjang kontrak Luis Milla Aspas. Dia bakal diproyeksikan untuk menangani Timnas Indonesia untuk Piala AFF yang bakal berlangsung pada 8 November sampai 15 Desember 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, memastikan Luis Milla Aspas tetap menjadi pelatih timnas Indonesia. Sosok pelatih asal Spanyol itu siap bertugas membawa timnas Indonesia di Piala AFF 2018, yang mulai bergulir pada 8 November sampai 15 Desember. Keputusan untuk memperpanjang kontrak Milla ini, sesuai hasil rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI, di salah satu hotel di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Selasa (28/8). Milla pun setuju untuk memperpanjang kontrak satu tahun ke depan. Kontrak Milla sebagai pelatih Timnas U-23 dan Senior, sejatinya sudah tamat sejak tersingkir di 16 besar Asian Games 2018. Saat itu, suara-suara masyarakat yang ingin PSSI mempertahankan Milla, berhembus kencang. Di bawah Milla, Indonesia menunjukkan penampilan yang membaik. Ia tak banyak merombak pemain selama satu setengah tahun. PSSI akhirnya memutuskan untuk memperpanjang kontrak Milla. Dia bakal diproyeksikan untuk menangani Timnas Indonesia, untuk Piala AFF yang bakal berlangsung pada 8 November sampai 15 Desember 2018. “Saya atas nama PSSI dan seluruh Exco meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena gagal memenuhi target di Asian Games,” kata Edy. “Kami tadi berdebat juga dengan Exco terkait keuntungan dan kerugian. Akhirnya kami putuskan mengontrak Milla lagi untuk Piala AFF. Kami mengontrak Milla selama waktu satu tahun,” sambung Edy Target terdekat, Milla akan bertanggung jawab untuk memimpin Merah-Putih untuk Piala AFF 2018. “Khusus AFF yang akan dilaksanakan Bulan November. Sehingga, kami kontrak kembali Milla dalam jangka kontrak satu tahun,” tukas Edy. Karena kontrak Milla berdurasi satu tahun ke depan, maka Milla akan menukangi Indonesia pada SEA Games 2019, di Manila, Filiphina. “Target tentu harus juara, tidak boleh tidak juara,” pungkas Edy. Kelahiran Aragon, Spanyol, 12 Maret 1966 ini menyelesaikan tugasnya bersama Timnas U-23 dan timnas senior Indonesia, selama kurang lebih satu setengah tahun. Dikutip BolaSport.com dari labbola, Milla banyak memberikan perkembangan kepada skuat Garuda Muda. Mulai dari Sea Games 2017, Timnas U-22 meraih peringkat ketiga usai menekuk Myanmar dengan skor 3-1. Kala itu, Timnas U-22 hanya mengalami satu kekalahan, tatkala bertemu Malaysia di semifinal. Kemudian, di ajang Aceh World Solidarity Cup 2017, Timnas di bawah asuhan Milla meraih gelar runner-up, dengan mengukir dua kemenangan dan satu kali kalah. Indonesia hanya kalah dari Kirgistan, pada ajang persahabatan itu. Lalu, Milla kembali tunjukkan sentuhan apik Timnas U-23, di ajang PSSI Anniversary Cup pada 27 April hingga 3 Mei 2018. Meski berada di posisi ketiga, Indonesia mampu menjadi tim dengan pertahanan kuat, yang hanya kemasukan satu gol selama tiga laga. Terakhir, karya Milla mendapatkan apresiasi meski harus terhenti di babak 16 besar Asian Games 2018. Skuat Garuda Muda mampu mencetak 14 gol, dari lima pertandingan dan hanya kemasukan lima gol. Torehan ini jelas mengungguli 12 gol yang diciptakan oleh Ferdinand Sinaga dkk pada Asian Games 2014. Secara keseluruhan, Timnas U-23 dan senior Indonesia di tangan Milla mampu mencetak 53 gol dan kemasukan 32 gol dari total 24 pertandingan. Eks gelandang Real Madrid itu pun secara total mencatatkan 14 kemenangan, sembilan kali imbang, dan 11 kali kalah. Tim pun mampu membukukan rekor 16 kali cleansheet. (Ham)

Digulung Kazakhstan 65-93, Timnas Basket Putri Masih Keluhkan Perbedaan Postur Tubuh

Pebasket Kazakhstan, Tamara Yagodkina (7) dibantu Center Anna Vinokurova (13), berusaha melewati hadangan Center Timnas Indonesia, Vonny Hantoro (15), dalam laga pemeringkatan bola basket putri Asian Games 2018 di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (INASGOC)

Jakarta- Hasil basket putri Asian Games 2018 antara Timnas Indonesia versus Kazakhstan, pada Selasa (28/8) berakhir dengan skor 65-93. Tampil di Basket Hall Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, timnas basket putri kalah di semifinal play-off perebutan tempat kelima. Kazakhstan pun melaju ke pertandingan perebutan posisi kelima. Hasil itu jadi kemenangan kedua yang diraih Kazakhstan atas Indonesia di Asian Games 2018. Sebelumnya mereka menang 85-73 di babak penyisihan Grup X. Tamara Yagodkina kembali menjadi bintang kemenangan Kazakhstan, dengan perolehan double-double lewat 20 poin dan 10 rebound, dibantu 17 poin dan 6 rebound milik Zalina Kurazova. Sementara bagi Indonesia, Natasha Debby Christaline menjadi top skor 17 poin dibantu 14 poin dari Christine Aldora Tjundawan. Dalam laga ini, Arif Gunarto, pelatih tim basket putri Indonesia masih mempermasalahkan perbedaan menyolok postur badan.”Kami kalah postur dengan Kazakhstan, meski sejak awal untuk berusaha menekan ke daerah pertahanan mereka. Namun ya itu, kami kalah postur, jadi sulit bermain leluasa,” ujarnya, Selasa (28/8). Namun, ia optimis melawan Mongolia. “Mongolia posturnya nyaris serupa dengan kita, semoga menang untuk ambil posisi ke-7,” tambahnya. Laga perebutan tempat kelima antara Thailand vs Kazakhstan, dan laga perebutan tempat ketujuh Mongolia melawan Indonesia, akan digelar di Istora GBK, Senayan, Jakarta, pada Jumat (31/8). (Dre)