Hobi Remaja 19 Tahun ini Mampu Menyumbangkan Medali Emas Bagi Olahraga Pencak Silat di Ajang Asian Games 2018

Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini merupakan salah satu atlet pencak silat yang akan berlaga di Asian Games 2018 mendatang.

Jakarta- Olahraga pencak silat tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, siapa sangka olahraga yang satu ini turut menghasilkan prestasi-prestasi yang mengagumkan bagi Indonesia, Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini berhasil menyumbangkan medali emas pada cabang olahraga Pencak Silat Tarung Putra Kelas 85-90 Kg di ajang Asian Games 2018 lalu. Pertama kali mengikuti latihan silat saat dirinya memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), hobinya menurun dari sang ayah kepada anak-anaknya termasuk Bangkit. Kakak nomor dua dan tiga pun ikut menekuni olahraga silat. “Saya kan anak terakhir, nomor 4. Kakak yg kedua dan ketiga itu juga nurun dari ayah, suka main silat juga. Kadang lihat mereka latihan seru, jadi saya mulai tertarik sejak itu” jelas Bangkit. Alasan dirinya memilih olahraga silat ada beberapa faktor, pertama karena memang dari keluarga yang sebagian besar menekuni olahraha serupa. Kemudian faktor kedua karena dukungan dari lingkungan seperti keluarga, kawan, kerabat dan rekan latihan. Mengawali karirnya di Perguruan Silat Setia Hati Teratai (PSHT) sejak SMP kelas 1 hingga kelas 3, namun saat itu hanya mengikuti latihan dan belum diikutsertakan di kejuaraan. Faktor berat badan yang membuatnya belum bisa kontribusi, usia masih remaja namun berat badan sudah masuk di kategori dewasa. Membuatnya baru diterjunkan turnamen ketika memasuki SMA kelas 1. “Masuk SMA baru sama ikut kejuaraan di Kabupaten, antar perguruan, ke daerah-daerah. Baru pas kelas 2 saya ditunjuk untuk mewakili Jawa Timur di Kejurnas Padepokan” ujar remaja kelahiran ‘Bumi Reog’ tersebut. Pasca mengikuti kejurnas Bangkit ditawarkan untuk bermain di kelas bebas untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan dunia pada pertengahan tahun 2016. Semenjak itu dirinya bergabung dengan pelatnas hingga saat ini. Untuk membagi waktu antara sekolah dengan latihan dirinya mengungkapkan tidak terlalu masalah karena dari pihak keluarga dan sekolah turut mendukung. “Waktu saya naik kelas 2 SMA harusnya sudah tidak boleh sekolah lagi karena harus gabung pelatnas, tapi saya ngomong ke bagian kemahasiswaan ada suratnya dari pelatnas jadinya saya sekolah jarak jauh” kata remaja kelahiran 20 Mei 1999 itu. Termasuk tugas sekolah, ujian sekolah, semuanya dilakukan dari jarak jauh. Pihak sekolah mengirimkan ke lokasi pelatnas dan dikerjakan, setelahnya dikirim kembali ke sekolah asal. Kendala yang dialami seperti kurang waktu untuk belajar karena lelah usai latihan, waktu belajar digunakan untuk istrahat. Sejauh menjalani rutinitas latihan, Bangkit mengakui belum pernah mengalami cidera berat yang mengharuskan vakum sementara waktu. Hanya cidera ringan yang dialami sewaktu usai latihan. “Kadang kan kalau latihan suka kelepasan, nendang terlalu kenceng jadi kaku sama bahu suka sakit. Tapi biasanya gak lama, paling dua sampai tiga hari udah pulih lagi” ujarnya. Suka duka yang dialami pun beragam, bertemu karakter lawan yang bermacam-macam, pertama kali ikut kejuaraan dunia membela Tanah Air namun belum berhasil menyumbangkan medali. Pada ajang Sea Games Malaysia 2017 pun dirinya belum berhasil menyumbangkan medali. Bangkit mengakatan bahwa dirinya sangat bangga dan tidak menyangka bisa bergabung di pelatnas pencak silat bersama kawan-kawan dari kota lain. Pasalnya, sejak awal dirinya tidak menargetkan untuk bisa bergabung di pelatnas. Namun atas usaha latihannya selama ini dirinya berhasil membawa pulang medali emas di ajang Asian Games 2018 hal ini sangat membanggakan bagi keluarga, kerabat dan kawan-kawannya. Profil Singkat Nama : Aji Bangkit Pamungkas Tempat/Tgl Lahir : Ponorogo, 20 Mei 1999 Alamat Rumah : Jl. Rumpuk Rt 02 Rw 04 Kertosari Babadan, Ponorogo Orang Tua : Agus Widodo (ayah) Anis Nurul Laili (ibu) Pendidikan SD Ma’arif Ponorogo SMPN 2 Ponorogo SMKN 1 Jenangan Ponorogo Prestasi Medali Emas Kejurnas Remaja dan Dewasa 2016, Jakarta, Indonesia Partisipan Kejuaraan Dunia 2016, Denpasar Bali, Indonesia Medali Perungu Pra Sea Games 2017, Komplek Lincah Mahaguru Omardin (K.L.M.O), Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2017, Schoten, Belgia Partisipan Sea Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Emas 3rd Pencak Silat Championship 2017, Chungju City, South Korea (medali emas) Paetisipan Penang Open 2017, Penang Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2018, Schoten, Belgia

Kaleidoskop: Momen Tak Terlupakan Dunia Olahraga Indonesia Sepanjang Tahun 2017

kaleideskop 2017

Tahun 2017 akan segera berakhir. Berbagai momen bersejarah dan tak terlupakan pun terjadi terutama di dunia olahraga Indonesia. Momen apa sajakah itu? Berikut momen-momen tak terlupakan yang dirangkum tim nysnmedia.com Match Fixing Indonesian Basketball League (IBL) Di bulan November lalu, kabar tak menyenangkan datang dari dunia basket Indonesia. Pasalnya, terdapat 8 pemain basket dan 1 official pada klub JNE Siliwangi Bandung yang tersandung kasus match fixing atau pengaturan skor. Mereka adalah Ferdinand Damanik, Tri Wilopo, Gian Gumilar, Haritsa Herludityo. Untung Gendro Maryono, Fredy, Vinton Nolan Sarawi, Robertus Riza Raharjo dan Zulhimi Fatturohman. Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi)mengeluarkan surat sanksi yaitu pembekuan paling lama 5 tahun dan IBL memberikan sanksi tidak memperbolehkan 9 nama tersebut berkontribusi di IBL seumur hidup. Hingga saat ini, kasus tersebut masih terus diselidiki. Kontorversi Liga 1 Kompetisi liga 1 mulai diadakan pada 15 April 2017 lalu memang menuai banyak kontroversi. Berbagai macam aturan yang diberlakukan dianggap menyulitkan seperti batasan usia pemain maksimal 35 tahun dan mewajibkan pemain U-23 bermain sebagai starter. Tak hanya itu, tidak konsisten dalam menggunakan wasit asing dan perubahan jadwal yang dadakan dianggap sangat tidak efektif. Bahkan supporter dari Persib Bandung pun juga sangat mencuri perhatian. Dan yang sangat kontroversi adalah perbedaan antara Liga 1 dan FIFA tentang penobatan juara liga 1. Kecurangan Yang Dilakukan Malaysia Terhadap Indonesia Di SEA Games Ajang olahraga tingkat Asia Tenggara 2017 lalu yang dilaksanakan di Malaysia dapat dikatakan sangat buruk. Malaysia melakukan berbagai kecurangan bukan hanya terhadap Indonesia namun juga negara-negara lain. Kecurangan yang menerpa Indonesia antara lain insiden posisi bendera Indonesia terbalik di buku panduan SEA Games, salah melakukan pemberian kartu kuning kepada Evan Dimas ketika melawan Timor Leste hingga kecurangan wasit dalam cabang olahraga sepak takraw. Chairul Huda Wafat Saat Bertanding Kiper legendaris Chairul Huda yang membela tim Persela Lamongan wafat saat bertanding melawan tim Semen Padang. Chairul Huda meninggal akibat benturan di bagian kepala dan leher dari rekan setim nya, Ramon Rodrigues. Kejadian tersebut sontak mengejutkan seluruh pihak yang saat itu menyaksikan Chairul Huda yang sempat memegangi dada dan kepalanya setelah terjadi benturan. Duka pun menyelimuti dunia sepak bola dengan kehilangan salah satu kiper panutan pemain-pemain muda Indonesia. Pembukaan Politeknik Olahraga Indonesia (POI) Politeknik Olahraga Indonesia resmi dibuka pada 21 November lalu. Politeknik yang berada di Palembang, Sumatera Selatan ini memiliki 3 program studi, yaitu Sport Industry, Perguruan Tinggi dan Kepelatihan. Ketiga program studi ini dianggap memiliki potensi yang menjanjikan dalam kenaikan prestasi olahraga di Indonesia. Dengan didirikannya POI, diharapkan Indonesia bisa mencetak atlet dan pelatih olahraga professional dimasa depan Dimas Ekky Pratama Mengikuti Ajang Moto2 Pembalap kelahiran tahun 1992 ini dengan bangga membawa nama Indonesia di ajang Moto2 yang diadakan di Sirkuit Sepang, Malaysia. Namun ia gagal melewati garis finish akibat jatuh di lap kedua. Saat itu, ia sedang berada diposisi ke-12. Meski gagal, ia tetap bangga bisa ikut dalam ajang balap motor Internasional. Kemenangan Kevin Sanjaya Dan Marcus Fernaldi Gideon Duet ganda putra terbaik Indonesia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil menjuarai turnamen BWF Super Series Finals 2017 pada 17 Desember lalu. Gelar Dubai Super Series Finals ini menjadi gelar juara ketujuh yang diraih Kevin/Marcus di ajang Super Series atau Super Series Premier sepanjang tahun 2017. Ini merupakan sejarah baru bagi Indonesia dan bagi pasangan berjuluk The Minions. Tujuh gelar yang diraih Kevin/Marcus masing-masing datang dari All England, India Terbuka, Malaysia Terbuka, Jepang Terbuka, China Terbuka, Hong Kong Terbuka, dan BWF Super Series Finals Indonesia Juara Umum ASEAN Para Games Indonesia menjadi juara umum diajang ASEAN Para Games 2017 yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Indonesia berhasil membawa pulang 125 emas, 75 perak, dan 50 perunggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa atlet difabel bisa Indonesia mengharumkan nama bangsa. Dengan segala keterbatasan dan disabilitas, mereka menjadi sosok-sosok penting pembawa nama baik bangsa di hadapan dunia. Renovasi Venue Asian Games 2018 Menyambut Asian Games 2018, berbagai fasilitas olahraga di Indonesia terutama Jakarta dan Palembang melakukan renovasi besar-besaran. Di Jakarta, kompleks Gelora Bung Karno saat ini sudah mulai rampung, seperti Stadion utama Gelora Bung Karno, Training Facility, Stadion Tenis Indoor dan Outdoor, Stadion Madya, Softball, Gedung Basket dan Lapangan Baseball, Lapangan Hoki, Lapangan Panahan dan Sepakbola ABC serta Stadion Renang (Aquatic). Selain itu, pembangunan juga dilakukan di arena menembak dan danau dayung di Jakabaring Sport Center (JSC) Palembang, rehabilitasi 17 venue di Jawa Barat, dan pembangunan venue Jetski dan Dayung di Ancol, Jakarta. Beberapa momen diatas memang tak akan terlupakan. Semoga di tahun 2018, olahraga di Indonesia bisa terus berkembang hingga kembali mengukir sejarah.(put)

3 Fakta Hebat Dari Gregoria Mariska, Si Atlet Cantik “Penerus Susi Susanti”

Gregoria Mariska Tanjung berhasil mencetak sejarah untuk tunggal putri Indonesia di Asia Junior Championships 2016. Foto : SindoNews

Kisah inspiratif satu ini berasal dari atlet Indonesia. Usianya masih terbilang muda, namun prestasi yang Ia hasilkan sudah banyak. Bahkan Ia disebut-sebut sebagai penerus Susi Susanti, loh!! Siapakah Dia? Dia adalah Gregoria Mariska Tunjung.. Tahukah Kamu dengan Gregoria Mariska Tunjung? Perempuan ini atlet pebulutangkis Indonesia yang mampu meraih medali emas di nomor tunggal putri pada BWF World Junior Championships 2017. Menurut lansiran dari indosport.com, aksi Gregoria berhasil mengalahkan wakil dari China, Han Yue, lewat permainan rubber set. Ia mengakhiri pertandingan dengan skor 21-13, 13-21, dan 24-22. “nama” juara mampu diraih oleh Gregoria Mariska Tunjung. Kalangan masyarakat pun jadi banyak yang memberi perhatian kepada atlet satu ini. Pasalnya, dulu usai era Susy Susanti, Mia Audina, ataupun Maria Kristin Yulianti, ada kekhawatiran banyak pihak terhadap prestasi pebulutangkis putri Indonesia. Sebab, belum ada lagi pebulutangkis putri Indonesia yang mampu memberikan prestasi besar khususnya di ajang internasional. Dengan melihat prestasi Georgia tersebut, Ia akhirnya digadang-gadang sebagai “The next Susi Susanti“. Kini, secerca harapan pun muncul untuk mendongkrak kembali perkembangan bulutangkis putri di Indonesia. Lantas, Ini Dia 3 Fakta yang belum banyak diketahui oleh publik tentang si Cantik Gregoria Mariska: Halaman Selanjutnya >

Bukan Sekadar Therapy Asma, Olahraga Renang Berhasil Membawa Raina ke SEA GAMES 2017

Rania-Saumi-Grahana-Ramdhani-renang

Gadis cantik asal Jawa Barat ini bernama lengkap Raina Saumi Grahana Ramdhani, atau yang akrab disapa Raina. Ia merupakan salah satu atlet renang yang membawa nama Indonesia ke SEA GAMES 2017 lalu. Pada awalnya, olahraga renang berhasil menjadi terapi untuk menyembuhkan penyakit asma yang dideritanya sejak usia 7 tahun. “Awalnya sih disuruh dokter untuk terapi asma. Tapi kebetulan juga aku hobi renang, jadi keterusan. Alhamdulilah asmanya sembuh,” ucapnya Tak hanya SEA GAMES 2017, Raina sudah mengikuti beberapa kompetisi sejak tahun 2003 baik dari tingkat nasional hingga tingkat dunia seperti World Champhionships di Budapest. Bahkan ia juga pernah mencetak rekor nasional 800 m dalam waktu 8.53.71, 400 m dengan 4.20.16 dan 200 m dengan 2.05.15. Dan kini, gadis berumur 22 tahun ini sedang berlaga dalam POMNas mewakili nama Provinsi Jawa Barat yang diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Mahasiswi STIE Dharma Agung Bandung yang sangat menyukai coklat ini mengakui, bahwa bertanding dengan perenang lain dari berbagai negara merupakan pengalaman yang berharga bagi dirinya. “Pergi ke kejuaraan tingkat dunia melihat juga para perenang world class bertanding itu adalah pengalaman berharga,”tutupnya (put/adt)

Bulutangkis Tunggal Putra, Jonatan Christie Berhasil Raih Emas

Jonatan Christie berhasil meraih medali emas bulutangkis dengan 21-19, 21-10. Tim tunggal putra SEA Games 2017 telah mengalahkan pemain Thailand Khosit Phetpradab di Axiata Hall, Kuala Lumpur, Selasa (29/8/2017). Menurut lansiran dari detikSport (29/08/2017), Jonatan sempat dapat perlawanan dari lawannya di gim pertama. Tapi setelah berimbang dalam kedudukan 9 sama, Jonatan mampu terus melampaui perolehan angka yang di dapat Khosit. Kemenangan Jonatan akhirnya dipastikan saat pengembalian dari Khosit dan shuttlecock hanya menghantam net. Jonatan pun menang dua gim langsung dalam durasi 37 menit. Hasil tersebut akhirnya membuat Jonatan mempersembahkan satu-satunya medali emas nomor perorangan cabang bulutangkis di SEA Games kali ini. Tentu, hal ini berarti ia menjadi wakil tunggal Indonesia di final.

Lifter Indonesia Pertanyakan Dimana Perhatian Pemerintah Untuk SEA Games

Lifter Indonesia yang juga merupakan andalan Indonesia, Eko Yuli Irawan mempertanyakan perhatian pemerintah atas kegagalan dirinya dalam meraih medali emas di ajang SEA Games 2017. Menurut lansiran netralnews.com (29/08/2017), Pasalnya, Eko menganggap pemerintah  kurang memperhatikan persiapan cabang olahraga angkat besi. Padahal cabang olahraga ini di SEA Games tidak pernah putus menyumbang medali sejak tahun 2000. Sebagai Lifter Indonesia Eko Yuli telah tiga kali meraih medali di pentas Olimpiade, namun sekarang ia gagal dan hanya mampu meraih medali perak. Ia hanya mampu mengangkat beban seberat 306 kg, turun di kelas 62 kilogram. Medali emas sekarang menjadi milik atlet Vietnam, Trinh Van Vinh yang mencatat total angkatan 307 kg. Sementara atlet Myanmar, Myint Kyi, merebut medali perunggu dengan total angkatan 284 kg. Menanggapi kekalahannya tersebut, peraih perak Olimpiade 2016 itu mengakui persiapan sebelum SEA Games tidak optimal. Persiapan tim vietnam maupun myanmar lebih bagus, sedangkan persiapan tim Indonesia masih sekitar 90 persen. Dari persiapan tersebutlah, Eko amat menyayangkan pemerintah yang kurang memperhatikan persiapan latihan cabang angkat besi. “Selama persiapan, memang kami pernah ditengok di Bandung? Tidak tahu kan pemain kita bagaimana, makanan kami bagaimana. Kami semua pakai biaya sendiri dari PB yang menalangi. Jadi ya mau tidak mau, inilah hasilnya,” terang mantan juara dunia junior itu yang dilansir netralnews.com. “Dan hasil ini sudah melewati rekor-rekor di latihan. Kalau dibandingkan tahun lalu, ya memang ini lebih rendah tapi kalau untuk tahun ini, ini yang terbaik,” lanjutnya. Kegagalan tahun ini sekaligus memutus dominasi Eko dalam empat SEA Games yang telah ia ikuti.

Bulutangkis Gagal Mengejar Target 3 Emas Pada SEA Games, Susi Minta Evaluasi

Hasil para pemain Indonesia pada putaran semifinal SEA Games 2017 tidak berhasil memenuhi target tiga emas di cabang Bulutangkis pada Senin (28/8). Pasalnya, harapan satu-satunya dari tunggal putra harus sirna. Susi Susanti, manajer tim bulu tangkis Indonesia di SEA Games 2017 meminta raihan tim bulu tangkis Indonesia harus dievaluasi. Seperti yang dilansir wartaekonomi.co.id (28/08/2017), Susi menilai tiga partai semifinal Indonesia tidak seharusnya menelan kekalahan. Tiap pemain sudah punya peluang besar untuk menang namun justru lawan dapat membalikkan keadaan dan menang. Ia menyatakan semua itu patut dievaluasi. “Target tiga medali emas memang tidak tercapai. Ini patut dievaluasi, seharusnya di saat pertandingan penting seperti ini pemain tidak boleh hilang fokus dalam tekanan seperti apapun, harusnya diatas angin, bukan sebaliknya,” kata Susi dalam keterangannya yang dilansir dari wartaekonomi.co.id Susi mengatakan tim ganda putra kalah juga karena missed target, keberanian yang kurang sehingga saat ada tekanan dari lawan, tidak berkembang. Dan juga saat leading, tim dengan mudahnya buang poin. “Intinya atletnya harus mengubah mindset mereka sendiri apapun kondisi lapangan saat pertandingan,” tutur Susi. Dalam partai semifinal SEA Games 2017 , sedangkan empat wakil lainnya memperoleh perunggu melalui Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (ganda putra), Gregoria Mariska (tunggal putri) dan Ihsan Maulana Mustofa (tunggal putra). Dalam SEA Games 2017 sendiri, Indonesia menargetkan tiga emas, satu emas sudah didapat dari nomor beregu putra, dan di kategori perorangan hanya  Jonatan Christie yang masih memiliki peluang dengan melangkah ke partai final. Susi berharap Jonatan akan tampil baik dan merebut medali emas. “Mudah-mudahan Jonatan mainnya normal, tenang dan lebih berani. Saya berharap Jonatan bisa mengatasi faktor non teknis ini,” kata Susi. Perolehan medali sampai kemarin raihan Indonesia dalam cabang olahraga bulu tangkis adalah satu emas dari beregu putra, dan empat perunggu yang masing -masing disumbangkan tim beregu putri, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (ganda putra), Gregoria Mariska (tunggal putri) dan Ihsan Maulana Mustofa (tunggal putra).

Kemenangan Tim Bulutangkis Regu Putra di SEA Games 2017 Jadi Modal Untuk Pertandingan Perseorangan

Kemenangan Tim bulutangkis putra Indonesia pada nomor pertandingan beregu menjadi kunci mental keberhasilan dalam pertandingan perorangan SEA Games 2017 yang akan berlangsung di Axiata Arena Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu 26 Agustus 2017. “Kemenangan ini sesuai dengan harapan dan target kami karena tim putra memang menjadi salah satu tumpuan penyumbang emas dari bulutangkis,” Ujar Manajer Tim Bulutangkis Indonesia dalam SEA Games 2017 Susy Susanti dilansir dari Okezone Sport, Jumat (25/08). Tim bulutangkis putra Indonesia meraih medali emas pertama dari cabang olahraga bulutangkis SEA Games 2017 setelah mengalahkan tim tuan rumah Malaysia 3-0 dalam laga final.

Tim Basket Putra Indonesia Mantap Melaju ke Semi Final SEA Games 2017

Timnas basket putra Indonesia mantap lolos dari penyisihan Grup B SEA Games 2017 dengan status sebagai juara grup. Keberhasilan itu diraih setelah pasukan Wahyu Hidayat Jati menghajar Laos 122-54 di laga pamungkas Grup B. Di lansir dari Liputan6.com, kamis (24/08), Indonesia sudah dipastikan mantap melaju ke semifinal tetap tampil maksimal saat laga melawan Laos. Indonesia langsung mengungguli pada kuarter pertama dengan keunggulan 26-15. Memasuki kuarter kedua, Indonesia semakin meninggalkan Laos. Dimotori Ebrahim Enguio Lopez dan Sandy Febiansyakh, Indonesia unggul 54-28 hingga jeda paruh pertama. Permainan Indonesia makin membaik pada kuarter tiga. Indonesia memcetak 40 poin dan cuma dibalas 15 angka di kuarter tiga ini. Laos sangat sulit mengimbangi Indonesia. Hingga kuarter empat berakhir, Indonesia berhasil unggul dengan margin 68 angka. Ebrahim Enguio Lopez alias Biboy menjadi bintang kemenangan Indonesia. Dia mencetak 21 angka ditambah tujuh rebound. Pemain muda Vincent Kosasih juga kembali meraih double-double dengan 13 poin dan 13 angka. Di babak semifinal Indonesia akan bertemu runner-up Grup A Thailand yang beberapa jam lalu mengalahkan Myanmar sehingga memupus harapan tuan rumah Malaysia ke semifinal.

Senam Indonesia Akhirnya “Bangkit” Pada Pertandingan SEA Games 2017

Pesenam putri Rifda Irfanaluthfi meraih perunggu dari nomor senam lantai dan medali emas di nomor balok keseimbangan.

Atlet senam Indonesia tampil menawan di ajang SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Atlet  Senam Indonesia sukses meraih prestasi yang membanggakan, ini menandakan kebangkitan cabang senam Indonesia setelah mati suri selama 10 tahun. “Persani (Persatuan Senam Indonesia) ini sudah mati suri selama 10 tahun, tidak ada yang mengurus. Nah, dua tahun terakhir ini kita gerakan kembali,” tutur Ketua Persani, Ilya Avianti saat ditemui tim Liputan6.com di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta (Soetta) Kota Tangerang, dalam penyambutan atlet senam SEA Games 2017, Kamis (24/8/2017). Di awal kebangkitannya, Ilya mengakui Persani mengalami kesulitan pendanaan. Tidak memiliki Tempat berlatih , alat yang dibutuhkan pun sangatlah minim. Maka tak heran bila para atlet ini berlatihnya pun berpencar di berbagai daerah di Indonesia. Hingga sampai akhirnya sebelum SEA Games, mereka masuk karantina atlet senam di Doha, Qatar. “Kami kirimkan atlet putra 7 orang, putri 4 orang dan pelatihnya 3 orang,” ujar Ilya. Karantina pun membuahkan hasil, dari SEA Games, mereka dapat AAtket membawa pulang 7 medali untuk Indonesia. Yakni 1 medali emas, 2 medali perak dan 4 medali perunggu. Dengan pencapaian ini, Ilya berharap atlet senam Indonesia harus mendapatkan pelatihan rutin minimal enam bulan. Hal ini dilakukan untuk penyempurnaan gerakan. “Target dari Satlak Prima untuk senam di SEA Games hanya 1 perak, dan kita sudah bisa menyumbang 7 medali,” tutur Ilya. Dan itu persiapannya bukan 6 bulan, melainkan hanya dalam waktu relatif empat bulan saja, termasuk try out di Doha, satu bulan. Dengan demikian, Persani sangat mengharapkan adanya perhatian dari Pemerintah untuk memberikan fasilitas pelatihan bagi atlet. Termasuk kesempatan try out mengikuti pertandingan, minimal dua kali pertandingan. “Sama seperti cabang olah raga lain, berikan kami fasilitas penunjang,” katanya. Selain itu, Ilya juga berharap, pemerintah bisa membantu mereka mendatangkan pelatih asing, minimal untuk jangka waktu enam bulan. Begitu juga dengan fasilitas hall senam untuk Pelatnas.

Selisih Waktu Tipis Siman kalah dari Perenang Singapura Pada Sea Games 2017

I Gede Siman Sudartawa. Foto: Fajaronline

I Gede Siman Sudartawa gagal meraih medali emas kedua di SEA Games 2017. Siman finis di posisi kedua pada cabang olahraga renang nomor 100 meter gaya punggung yang berlangsung di National Aquatic Centre, Kamis (24/8/2017). Meski gagal meraih medali emas, Siman tetap puas dengan catatan waktunya. Dia menjadi satu-satunya perenang Indonesia yang mampu mencatatkan waktu kurang dari 55 detik di nomor 100 meter gaya punggung. Perenang asal Bali itu meraih medali perak pada SEA Games 2017 setelah mencatatkan waktu 54,94 detik. Dia terpaut 0,13 detik dari perenang Singapura, Zheng Wen Quah. “Sebenarnya ini personal best saya. Jadi orang pertama Indonesia yang bisa di bawah 55 detik,” ujar Siman usai pertandingan. “Saya tidak menyangka bisa kalah tipis. Saya sangat fokus dengan gaya sendiri, tidak memperhatikan keadaan sekitar,” katanya melanjutkan. Dilansir dari Liputan6.com, Siman mengatakan, saat pertandingan dia tak bisa mengetahui posisi Zheng Wen. Siman memilih fokus dengan strateginya sendiri. “Saya ingin sesempurna mungkin, jadi tidak melihat sekitar. Posisi Zheng Wen juga dihalangi perenang lain, jadi tidak lihat dia,” ucap Siman mengakhiri.Sejauh ini, Indonesia sudah meraih dua medali emas, enam perak, dan lima perunggu di ajang SEA Games

Bowling Putri Indonesia Gagal Sabet Medali di SEA Games 2017

Atlet bowling putri Indonesia, termasuk Tannya Roumimper, gagal mendulang medali pada ajang SEA Games 2017, Minggu (20/8/2017). Foto: Liputan6.com.

Indonesia gagal membawa medali dari nomor bowling putri di SEA Games 2017. Tim merah putih kalah dari Singapura dan Malaysia saat bertanding di Subway Pyramid, Selangor, Malaysia, Minggu (20/8/2017). Seperti yang dilansir Liputan6.com (20/08/2017), Indonesia sebenarnya punya peluang meraih medali dengan menurunkan enam pebowling putri di kelas perorangan yakni Aldila Indrayati, Tannya Roumimper, Sharon Adelina, Nadia Pramanik, Putty Insavilla, dan Novie Phang. Peluang tersebut salah satunya didapat Tannya. Ia melakukan perubahan taktik saat berada pada urutan kelima di game kelima. Namun, taktik tersebut tidak berjalan baik. Ia malah terlempar ke posisi ke-13 setelah mendapat 180 poin di game keenam. Total skor yang diraih Tannya 1249 poin.

SEA Games 2017: Wushu Sumbang Tiga Mendali dalam Sehari Pertandingan

Lindswell Kwok, Puan Maharani dan Imam Nahrawi. Foto: Antara/ Wahyu Putro

Indonesia lambat laun mulai merebut posisi peraihan Mendali. Pada pertandingan yang berlangsung Senin (21/08), Cabang Olahraga (cabor) Wushu kembali berhasil menyumbangkan medali untuk Indonesia di SEA Games 2017 yang berlangsung di Malaysia. Pewushu, Felda Elvira sukses menambah pundi-pundi emas kontingen Merah Putih dari nomor Doushu. Prestasi Felda terbilang mengejutkan, menginat dia baru pertama kali tampil di SEA Games. Ini merupakan medali kedua yang dipersembahkan Felda pada SEA Games 2017. Sebelumnya, dia sudah menyabet perunggu dari nomor Gun Shu dengan poin 9,62. Felda mencatatkan nilai tertinggi, 9,67 pada pertandingan yang berlangsung di KLCC Hall 5 kemarin. Medali perak juga jatuh ke tangan atlet wushu Indonesia, Monica Fransisca berada di tempat kedua dengan nilai 9,66 poin. Pada hari yang sama, Indonesia juga meraih perunggu dari nomor Muhammad Dafa Golden Boy dari nomor Qiangshu dengan 9,63 poin. di lansir dari Liputan6.com, dalam sehari Cabor Wushu dapat menyumbang tiga Mendali. Ini merupakan Kebanggan bagi Indonesia dan menjadi Motivasi bagi Atlet dari Cabor lain agar dapat bermain dengan maksimal sehingga dapat menyumbangkan mendali. Sebelumnya, Indonesia juga meraih perak dari wushu atas nama Bobie Valentius Gunawan yang tampil di nomor Taijiquan. Bobie kalah dari atlet tuan rumah, Loh Jack Chang. Sementara itu, hari ini Wushu juga akan mempertandingkan nomor Taijijian Putri. Selain Cindy Martono, Indonesia akan menurunkan juara dunia 2013, Lindswell Kwok.

Timnas Basket Putri Lawan Habis Myanmar

Foto: Bola.com Timnas basket putri

Timnas basket putri Indonesia mengawali kiprah dengan awal yang gemilang di SEA Games 2017. Gabriel Sophia dan kawan-kawan menang telak 94-49 atas Myanmar di MABA Stadium, Minggu (20/8/2017). Seperti yang dilansir Liputan6.com (20/08/2017), Sophia jadi pencetak angka kemenangan bagi Indonesia di laga ini. Dia menyumbang 22 poin ditambah sembilan rebound. Menyusul kemudian Natasha Debby Christaline dan Kadek Pratita Citta Dewi dengan sama-sama mengemas 16 angka. Kemenangan Indonesia tersebut juga tidak lepas dari 44 turnover yang dibuat para pemain Myanmar. Hal ini membuat Indonesia menghasilkan 41 angka. Tak hanya itu, Di paruh pertama, Myanmar sudah membuat 20 kali kesalahan sendiri. Sedangkan Indonesia hanya melakukan 16 kesalahan. Timnas basket putri Indonesia pun dengan cerdik memanfaatkan kesalahan-kesalahan pemain Myanmar. Kemenangan ini menjadi penambah semangat dan kepercayaan diri pemain timnas basket putri Indonesia di laga selanjutnya dengan Filipina, Senin (21/8/2017).

Timnas Futsal Putra Berhasil Taklukkan Thailand

Foto: Bola.com. Tim Futsal Putra Indonesia di SEA Games 2017

Timnas Futsal putra Indonesia berhasil taklukkan Thailand pada laga perdana di SEA Games 2017.  Tim Indonesia sikat habis tim kuat Thailand 4-2 di Shah Alam Panasonic Sports Complex, Minggu (20/8/2017). Seperti yang dilansir Liputan6.com (20/08/2017), Indonesia telah memakai taktik yang tepat saat penyerangan di awal laga. Tim merah putih pun unggul lebih dulu di menit ketiga melalui aksi tendangan Subhan Faidasa. Tertinggal di awal laga membuat Thailand berusaha sangat keras. Jetsada Chudech membawa Thailand mengejar ketertinggalan di menit 23. Namun semenit kemudian, Indonesia kembali  mencetak gol keduanya. Di menit 18, Indonesia unggul kembali berkat gol Sauqy Saud Lubis. Harus mengejar ketertinggalan dua gol, Thailand mengandalkan strategi power play. Strategi ini sukses membuat Thailand memperkecil ketertinggalan melalui second penalty di menit 39 yang dieksekusi Suphawut. Namun, di akhir laga, Alexander mencuri bola dari pemain Thailand sebelum dengan mudah menceploskan si kulit bundar ke gawang kosong. Menurut Lansiran, Tim Indonesia memang punya peluang bagus meraih medali emas. Dengan begitu, Indonesia bisa taklukkan Thailand yang selama ini merupakan raja di futsal putra Asia Tenggara.

Laga Perdana SEA Games 2017: Timnas Futsal Putri Kalahkan Malaysia

Barisan Timnas Putri di ajang Sea Games 2017. Foto: Okezone

Timnas futsal putri Indonesia berhasil mengalahkan tuan rumah Malaysia 2-1. Tim asuhan Andre Picesa ini mampu meraih prestasi gemilang di laga perdana SEA Games 2017, Minggu (20/8/2017). Menurut lansiran Liputan6.com (20/08/2017), Indonesia unggul lebih dulu pada menit 11 dan 19 berkat gol dari Novita Murni Piranti serta Susi Susanti di Shah Alam Panasonic Sports Complex. Pada babak kedua, Malaysia pun coba menekan Indonesia. Hasilnya Norhawa mampu membawa Malaysia unggul dari Indonesia di menit 32. Walaupun begitu, Tim garuda muda putri tetap mendapatkan keunggulan 2-1 dari malaysia. Tak hanya putri, timnas futsal putra Indonesia juga ikut memetik kemenangan pada laga beberapa jam sebelumnya dengan tim kuat Thailand 2-1 di laga pertama SEA Games 2017.  

SEA Games 2017: Panahan Riau Ega Mantap Membidik Emas Pada Panahan Campuran

Riau Ega Agatha saat ajang World Cup 2015 di Shanghai, China. Foto : GettyImages

Senin (21/8/2017), Riau Ega dan tim panahan putra, Muhammad Hanif dan Hendra Purnama gagal meraih medali SEA Games 2017. Mereka tumbang di Tangan tim Filipina dengan skor 6-2 pada babak perempat final. “Mungkin ini belum rezeki. Musuhnya lagi bagus, meski saya sudah sangat santai bermain beregu,” ujar Ega yang di lansir dari Liputan6.com. namun Atlet panahan Indonesia yang tampil di Olimpiade 2016, Riau Ega Agatha optimistis mendapatkan medali di ajang SEA Games 2017, Malaysia. Tak tanggung-tanggung, Riau Ega mantap “membidik” medali emas dari kategori panahan campuran. Namun Cuaca panas yang saat ini terjadi di Malaysia mengganggu konsentrasi Ega dalam membidik sasaran. ia mengatakan, Iklim di Malaysia saat SEA Games tahun ini lebih panas dibandingkan Indonesia. “Kalau di Indonesia kan panas ada angin, kalau di sini lembab. Tadi saja pegang busur panas sekali. Terlebih lagi, di sini pakai rumput sintetis, jadi panasnya mantul ke wajah,” katanya menegaskan. “Antisipasnya harus banyak minum. Kemudian kepala dan tengkuk kita harus sering dikasih es sama pakai topi,” ucap Ega. “Besok peluang terakhir saya, harus dapat emas. Saya harus melawan diri sendiri karena itu hal yang penting. Musuh tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Riau Ega Ega sendiri berjanji bakal tampil mati-matian untuk tampil di kategori beregu campuran yang berlangsung di Sport City Kuala Lumpur, Selasa (22/8/2017).

Timnas Polo Air Putra Indonesia Raih Medali Perak

Timnas polo air putra Indonesia berhasil raih medali perak usai menang telak 12-5 atas Filipina dalam partai pamungkas di National Aquatic Center, Bukit Jalil, Minggu 20 Agustus 2017. Hasil tersebut didapat setelah finis di peringkat kedua. Menurut lansiran Liputan6.com (20/08/2017), Indonesia tidak dapat mengejar Singapura  format round robin di klasemen polo air putra SEA Games 2017. Tim polo air putra Indonesia harus menerima selisih gol dari Singapura di klasemen. Padahal, salah satu tim yaitu Rezza Auditya tampil ngotot sepanjang pertandingan. Penyerangan diperlihatkan tim polo air putra Merah Putih. Babak pertama berakhir dengan keunggulan 6-1 untuk Indonesia, sebelum akhirnya menang 12-5. Laga Filipina pada laga itu sayangnya pun tidak cukup untuk menyalip Singapura. Hasil yang diraih tim polo air putra Indonesia terbilang cukup, sama halnya dengan pencapaian SEA Games 2015 di Singapura, di mana polo air putra Indonesia juga merebut perak.

Tim Bulu Tangkis Putri Indonesia Lolos ke SemiFinal SEA Games 2017

Tim Putri Bulu Tangkis Lolos ke Semi Final Sea Games 2017

Kehormatan bagi Indonesia bisa Ikut dalam SEA Games 2017 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Kebangga bagi Indonesia karena Olahraga kebanggaan Indonesia, yaitu Bulu Tangkis akan berlaga Pada Semi Final mendatang. Tim bulu tangkis putri Indonesia dipastikan melaju ke semifinal SEA Games 2017. Hal tersebut terjadi di karenakan Laos menyatakan mundur, informasi tersebut langsung diutarakan oleh  Direktur Program Kepelatihan Performa Tinggi Permainan Satu Satlak Prima, Mimi Irawan. Seharusnya, Indonesia akan bertemu Laos pada babak perempatfinal pada 22 Agustus 2017 mendatang. “Ya, Tim Bulu tangkis Beregu Putri Indonesia akan tampil ke semifinal karena Laos mengundurkan diri,” kata Mimi Irawan lewat rilisnya, Kamis (17/8/2017). Mimi menambahkan kalau Greysia Polii dan kawan-kawan tak menjadi fikiran perihal mundurnya Laos. Justru hal tersebut membuat energi para pemain bisa terjaga. Langkah tim Merah Putih pun melaju mulus ke semifinal. “Tidak ada pengaruhnya kalau Laos bertanding. Tetapi, ini suatu keuntungan bagi kita karena pemain Indonesia bisa irit tenaga untuk menghadapi pertandingan semifinal dan final,”sebut Mimi. Tak hanya Indonesia yang mendapat keuntungan, ternyata Thailand juga mendapatkan keuntungan. Negeri Gajah Putih tersebut dapat langsung lolos ke semifinal akibat mundurnya Laos dari turnamen bulu tangkis SEA Games 2017. Tanpa Laos, tim beregu putri berkurang dan menyisakan enam negara yaitu Indonesia, Myanmar, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand. Tim putri Indonesia menanti pemenang antara Malaysia dan Myanmar untuk memperebutkan tiket ke final.

SEA Games 2017 Bagi Maria Londa

Maria Londa, Atlet lompat jauh dan jangkit kembali menjadi tumpuan untuk menyumbang medali emas lewat lompatan-lompatannya. Namun, tantangan untuk tahun ini lebih berat untuk meraih medali emas. Menurut Lansiran DetikSport.com, Maria menjalani multievent Asia Tenggara kelima di SEA Games 2017. Saat ini ia berstatus peraih empat medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu sejak SEA Games 2009 Laos. Maria harus bisa mengembalikan perfomanya setelah cedera pada SEA Games 2015 Singapura. Pelatihnya, I Ketut Pageh, menyiapkan rancangan program agar Maria bisa siap baik fisik, teknik, maupun mentalnya. Maria memulai pemusatan latihan sejak Januari 2017 dari mulai persiapan umum, persiapan khusus, hingga ke spesifik  pra kompetisi. Sejauh ini catatan terbaik di lompatan jauh adalah 6,30 meter. Sedangkan catatan terbaik lompat jangkitnya selama latihan adalah 13,20 meter. “Sebenarnya jika dibilang SEA Games kali ini lebih berat ya memang berat. Karena ini SEA Games kelima saya dengan dua kali berturut-turut medali emas. Bisakah saya pertahankan itu? Tunggu pertandingan nanti,” kata ia berdasar lansiran dari detikSport, Rabu (16/8/2017). Diakui atlet ini meski sudah berpengalaman, sebagai atlet juga merasakan beban walaupun dalam dirinya berupaya untuk bisa lepas dan rileks. Bagi Maria yang terpenting adalah latihan semaksimal mungkin. “Saya juga membangun diri dengan memperbanyak latihan teknik. Apalagi, dukungan dari pelatih, keluarga, dan teman-teman selalu hadir. Mereka juga tahu jika saya selalu semaksimal dan percaya dengan apa yang saya lakukan. Jadi saling bangun kepercayaan dan motivasi.” Seperti yang dilansir DetikSport, Ia pun menjelaskan, hanya ingin memberikan prestasi terbaik. “Prestasi terbaik dulu deh. Kalau emas itu bonus. Kenapa tidak terlalu ngoyo? sebenarnya dari dulu persaingannya ketat bedanya 5 sampai 3 cm. Tapi lihat saja pada pertandingan nanti. Tidak bisa bicara banyak karena lagi mepet semua,” jelasnya.