Asian Games 2026: Indonesia tambah tiga perunggu dari bulu tangkis dan BMX

Jasmine Azzahra Setyobudi

Kontingen Indonesia menambah koleksi tiga medali perunggu Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Tiga medali tersebut diraih oleh tim Merah Putih dari cabang bulu tangkis dan balap sepeda BMX. Perunggu pertama diraih lewat aksi dari atlet balap sepeda BMX Racing Indonesia, Jasmine Azzahra Setyobudi pada nomor BMX Racing putri. Jasmine menempati posisi ketiga dengan catatan waktu 34,932 detik. Medali emas diraih pembalap Jepang Sae Hatakeyama dengan waktu 33,401 detik, sedangkan perak menjadi milik Wanyi Liao dari China dengan waktu 34,500 detik. Sementara itu dua medali perunggu lainnya bagi kontingen Indonesia didapatkan dari cabang bulu tangkis. Pada sektor ganda putra, pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri terhenti pada semifinal, setelah dikalahkan ganda putra asal China Liang Weikeng/Wang Chang dengan rubber game 17-21, 21-13, 9-21. Lalu di sektor tunggal putra, Alwi Farhan yang menjadi unggulan keenam harus mengakui ketangguhan tunggal putra Kunlavut Vitidsarn asal Thailand dengan dua gim langsung 13-21, 15-21. Hingga Rabu, 30 September 2026 pukul 15.00 WIB, Indonesia mengoleksi total 30 medali yang terdiri dari 3 emas, 7 perak, dan 20 perunggu. Torehan tersebut mengantarkan tim Merah Putih untuk sementara menempati peringkat ke-15 dalam klasemen perolehan medali.

Asian Games 2026: Indonesia tambah 1 emas dan 2 perak

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin

Kontingen Indonesia menambah satu medali emas dan dua perak pada rangkaian pertandingan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 hari ke-11, Selasa, dengan bulu tangkis menjadi penyumbang utama, melalui nomor ganda putra dan ganda campuran. Ganda putra, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin mempersembahkan emas setelah menaklukkan pasangan China Liang Weikeng/Wang Chang melalui pertandingan tiga gim 19-21, 21-13, 21-18 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Aichi. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari keberhasilan Indonesia menjuarai nomor beregu putra. Dari nomor ganda campuran, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menyumbangkan medali perak setelah kalah dari pasangan peringkat satu dunia asal China Jiang Zhen Bang/Wei Yaxin 19-21, 8-21. Satu medali perak lainnya datang dari cabang surfing melalui I Made Pajar Ariyana pada nomor shortboard putra. Pajar harus mengakui keunggulan peselancar tuan rumah Kanoa Igarashi pada final di Tahara, Aichi. Pajar mengumpulkan 10,40 poin dari dua ombak terbaiknya, sedangkan Igarashi membukukan 12,87 poin untuk merebut emas. Perak Pajar juga menjadi catatan bersejarah karena surfing untuk pertama kalinya dipertandingkan pada Asian Games.

Asian Games 2026: Emas Kedua Indonesia Dari Rahmat Erwin

Rahmat Erwin Abdullah

Rahmat Erwin Abdullah meraih medali emas nomor 75 kilogram putra cabang olahraga angkat besi Asian Games 2026 setelah membukukan total angkatan 366 kilogram di Nagoya City Trade and Industry Center, Jepang, Sabtu. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Rahmat mencatatkan angkatan snatch terbaik 160 kilogram dan clean and jerk 206 kilogram untuk mengumpulkan total 366 kilogram. Medali perak diraih lifter Thailand Weeraphon Wichuma dengan total angkatan 365 kilogram, hasil dari snatch 160 kilogram dan clean and jerk 205 kilogram. Sementara itu, medali perunggu menjadi milik lifter Korea Utara Ri Chong Song yang mencatatkan total angkatan 357 kilogram, terdiri dari snatch 162 kilogram dan clean and jerk 195 kilogram. Pada sesi snatch, Rahmat mengawali perlombaan dengan mulus melalui angkatan 155 kilogram pada kesempatan pertama. Ia kemudian berhasil mengeksekusi angkatan 158 kilogram pada kesempatan kedua. Pada kesempatan ketiga, Rahmat kembali tampil baik dengan mengangkat 160 kilogram. Namun, Rahmat mendapat tekanan dari Ri Chong Song yang berhasil mengangkat 162 kilogram pada kesempatan keduanya. Angkatan tersebut menjadi catatan terbaik Ri pada sesi snatch. Memasuki sesi clean and jerk, persaingan semakin ketat. Ri Chong Song membuka kesempatan dengan angkatan 195 kilogram yang sekaligus menjadi catatan Asian Games Record. Setelah itu, Weeraphon Wichuma mencatatkan angkatan 200 kilogram yang menjadi New World Record. Rahmat kemudian memecahkan catatan tersebut dengan sukses mengangkat 201 kilogram. Persaingan berlanjut ketika Ri Chong Song gagal mengangkat 202 kilogram pada kesempatan berikutnya. Kondisi itu membuat Rahmat berada di posisi teratas dengan total angkatan 361 kilogram. Ri kemudian kembali gagal dalam upaya angkatan 202 kilogram sehingga persaingan perebutan medali emas tersisa antara Rahmat dan Wichuma. Wichuma tampil pada kesempatan terakhir dan berhasil mengangkat 205 kilogram. Hasil tersebut membuat total angkatannya menjadi 365 kilogram dan menempatkannya di posisi teratas sementara. Rahmat kemudian turun pada kesempatan keduanya dengan beban 206 kilogram. Ia berhasil mengeksekusi angkatan tersebut dan membukukan total 366 kilogram, sekaligus memastikan medali emas untuk Indonesia. Dengan hasil itu, Rahmat unggul satu kilogram atas Wichuma yang harus puas dengan medali perak.

Asian Games 2026: Indonesia tambah dua perunggu

Eugina Diva Widodo

Kontingen Indonesia menambah koleksi medali Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan mengamankan dua medali perunggu pada Senin. Tambahan medali ini pertama diraih lewat cabang wushu setelah Eugina Diva tampil impresif pada nomor changquan putri. Tambahan satu medali perunggu lainnya diperoleh lewat cabang mixed martial arts (MMA) setelah Valensia Fahira Hotmauli tampil begitu menjanjikan di nomor modern putri kelas 54 kg. Saat ini Indonesia total telah mengoleksi tujuh medali dengan rincian satu perak, dan enam perunggu. Torehan tersebut membuat tim Merah Putih kini berada di peringkat ke-13 klasemen sementara. Pada Senin tersaji juga sejumlah perebutan medali di berbagai cabang. Pada cabang renang final 50 meter gaya punggung putra, Jason Donovan Yusuf sudah tampil maksimal dengan finis di peringkat keenam. Jason menyelesaikan lomba dengan waktu 25,16 detik, terpaut 1,12 detik di belakang perenang China Xu Jiayu yang merebut medali emas dengan waktu 24,04 detik. Kemudian pada cabang menembak nomor 10m air rifle beregu putra, Kanurian Al Ghozi Anang Febrian, dan Kanurian Al Ghozi mengumpulkan total 1882,5 poin, terpaut tipis di bawah Korea Selatan yang menempati peringkat ketiga dengan 1884,2 poin. Lalu pada cabang triathlon Indonesia finis peringkat kelima pada beregu campuran setelah Martina Ayu Pratiwi, Kayla Nadia Shafa, Hauqalah Fakhal, dan Rashif Amila Yaqin finis dengan catatan waktu 1 jam 31 menit. Dilansir dari laman resmi timnas Indonesia, Senin, berikut tambahan medali kontingen Indonesia di Asian Games 2026: – Eugina Diva (perunggu- wushu nomor changquan putri) – Valensia Fahira Hotmauli (perunggu – MMA nomor modern putri kelas 54 kg).

Cerita di Balik Medali Asian Games 2026: Ada Pesan Persatuan dan Lingkungan

Medali Asian Games 2026

Medali menjadi simbol pencapaian tertinggi bagi atlet di ajang olahraga. Namun, medali Asian Games Aichi-Nagoya 2026 memiliki cerita yang lebih luas. Di balik desainnya, terselip pesan tentang persatuan Asia dan kepedulian terhadap lingkungan. Medali tersebut terinspirasi slogan ‘Imagine One Asia’ yang menggambarkan semangat persatuan dalam keberagaman melalui olahraga. Desainnya mengambil inspirasi dari kepingan keramik yang dipecahkan dan kemudian disusun menjadi bentuk yang alami. Konsep ini menggambarkan perjalanan atlet yang penuh tantangan, usaha, dan perjuangan hingga akhirnya mencapai sebuah prestasi. Karena itu, medali tidak hanya menjadi tanda keberhasilan di arena pertandingan. Setiap keping juga membawa cerita mengenai proses panjang yang dilalui atlet untuk mencapai podium. Pesan keberlanjutan juga menjadi bagian dari medali Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Melalui Proyek Medali Daur Ulang, sebagian logam untuk pembuatan medali berasal dari perangkat elektronik kecil yang dikumpulkan melalui sumbangan dari berbagai kota madya. Penggunaan material daur ulang tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan semangat keberlanjutan dalam penyelenggaraan Asian Games 2026. Konsep ini juga dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan ekonomi sirkular. Dengan demikian, medali Aichi-Nagoya 2026 membawa makna lebih dari sekadar hasil pertandingan. Di dalamnya terdapat pesan tentang perjuangan atlet, persatuan Asia, serta kepedulian terhadap lingkungan. Saat medali dikalungkan kepada para atlet, yang bersinar bukan hanya pencapaian di arena, tetapi juga cerita tentang perjuangan dan semangat membangun masa depan yang berkelanjutan.

23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026

Timnas Indonesia

Kepala pelatih Timnas Indonesia, John Herdman resmi memanggil 23 pemain Timnas Indonesia untuk menghadapi FIFA ASEAN Cup 2026. Pada turnamen kali ini, skuad Garuda diperkuat perpaduan pemain yang berkompetisi di Eropa dan sejumlah pemain dari klub-klub Indonesia. Nama-nama seperti Emil Audero, Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Calvin Verdonk, Joey Pelupessy, dan Ole Romeny akan menjadi bagian dari skuad. Mereka akan bergabung dengan para pemain yang saat ini berkompetisi di dalam negeri. Sejumlah pemain juga akan kembali bekerja sama setelah tampil pada ASEAN Championship sebelumnya. Di antaranya Rayhan Hannan, Egy Maulana Vikri, dan Dony Tri Pamungkas. FIFA ASEAN Cup 2026 akan berlangsung pada 25 September hingga 5 Oktober 2026. Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan Bangladesh. Sebagai tuan rumah, Indonesia akan menjalani seluruh pertandingan fase grup di Stadion Utama Gelo Bung Karno, Jakarta. Skuad Garuda dijadwalkan mengawali kiprah dengan menghadapi Singapura pada 25 September 2026. Berikut 23 pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026: Penjaga gawang Emil Audero – Rayo Vallecano Maarten Paes – AFC Ajax Nadeo Argawinata – Persija Jakarta Belakang Kevin Diks – Borussia Mönchengladbach Dean James – Go Ahead Eagles Elkan Baggott – Millwall Justin Hubner – Fortuna Sittard Nathan Tjoe-A-On – Willem II (Eredivisie) Dion Markx – Persita Tangerang Dony Tri Pamungkas – Persija Jakarta Rizky Ridho – Persija Jakarta Yakob Sayuri – Java United FC Calvin Verdonk – LOSC Lille Tengah Joey Pelupessy – Lommel SK Egy Maulana Vikri – Dewa United Ivar Jenner – Dewa United Jordi Amat – Persija Jakarta Rayhan Hannan – Persija Jakarta Thom Haye – Persib Bandung Depan Ole Romeny – Fortuna Sittard Luke Vickery – Macarthur FC Mitchell Baker – NCAA Georgetown Ragnar Oratmangoen – Persib Bandung

Asian Games 2026: Seraf Naro pastikan medali pertama Indonesia

Seraf Naro Siregar

Atlet wushu Indonesia, Seraf Naro Siregar memastikan medali pertama bagi kontingen Merah Putih pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah meraih medali perunggu nomor changquan putra di Aichi Prefectural Martial Arts Hall, Jepang, Minggu. Naro menempati posisi ketiga dari 21 atlet yang tampil pada nomor tersebut setelah membukukan skor 9,720 poin. “Pertama-tama saya melayangkan rasa syukur saya kepada Tuhan Yesus karena telah melindungi saya dan memimpin saya sepanjang perjalanan saya untuk persiapan Asian Games,” kata Naro seusai pertandingan. Tampil sebagai atlet pertama, Naro mampu menjalankan rangkaian gerakannya dengan mulus dan langsung memasang patokan tinggi bagi para pesaingnya. Ia memperoleh nilai 5,00 untuk quality of movement, 2,720 untuk overall performance, dan 2,00 untuk degree of difficulty sehingga mengumpulkan total skor 9,720. Catatan tersebut membuat Naro sempat memimpin klasemen sementara. Bahkan, posisinya tetap berada di urutan teratas hingga enam atlet berikutnya menyelesaikan penampilan. Namun, dua atlet Makau yang tampil setelahnya mampu menggeser posisi Naro. Kuong Chi Hin mencatat skor 9,723 untuk merebut medali emas, sementara Song Chi Kuan membukukan 9,720 dan meraih medali perak. Bagi Naro, medali tersebut memiliki arti besar karena Asian Games merupakan salah satu ajang paling bergengsi yang menjadi impian para atlet. “Ini buat saya segalanya karena kita tahu pertandingan Asian Games ini bukan pertandingan biasa bagi atlet,” ujar Naro. “Jadi atlet manapun untuk berkompetisi di sini saja sudah banyak yang bermimpi, apalagi dapat medali.” ungkapnya. Ia mengatakan medali perunggu tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan karirnya karena selama ini dirinya mendedikasikan kehidupan untuk mempersiapkan diri menghadapi ajang besar. “Jadi arti dari medali ini mungkin adalah seluruh karir saya. Saya sangat mendedikasikan semua hidup saya hanya untuk event terbesar ini,” ujar Naro. Medali di Aichi-Nagoya 2026 juga menambah koleksi prestasi Naro pada ajang multicabang olahraga internasional. Sebelumnya, ia meraih perunggu Asian Games Hangzhou 2022 dari nomor kombinasi daoshu dan gunshu. Naro juga meraih medali perak pada The World Games 2025 di Chengdu, China, dari nomor kombinasi changquan-daoshu-gunshu putra.

Ini Alasan Janice Tjen absen dalam Asian Games 2026

Janice Tjen

Petenis putri Indonesia, Janice Tjen memastikan tidak dapat tampil membela Indonesia pada Asian Games 2026 karena harus mengikuti turnamen WTA 1000 di Beijing yang berlangsung pada waktu bersamaan. Janice menyampaikan keputusan tersebut melalui unggahan di media sosial, Jumat. Dia mengaku telah menerima konfirmasi dari Women’s Tennis Association (WTA) mengenai dia tidak mendapatkan pengecualian untuk dapat bertanding dalam Asian Games. “Setelah melalui banyak pertimbangan, saya harus mengambil keputusan yang tidak mudah bahwa saya tidak dapat bertanding dalam Asian Games tahun ini, yang berlangsung bersamaan dengan turnamen WTA 1000 wajib di Beijing,” demikian disampaikan Janice. Dia mengaku keputusan tersebut tidak mudah karena selama ini selalu merasa senang dan bangga ketika mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam ajang internasional. Janice juga mengenang sejumlah kesempatan yang telah diperoleh bersama tim nasional, termasuk saat meraih medali dalam Asian Games dan SEA Games, serta membantu Indonesia meraih promosi pada Billie Jean King Cup 2026. “Mewakili Indonesia dalam panggung internasional memiliki arti yang sangat besar bagi saya. Saya selalu bangga membawa nama dan bendera Indonesia bersama saya setiap minggu dalam WTA Tour,” ujarnya. Petenis kelahiran Jakarta berusia 24 tahun tersebut juga menyampaikan apresiasi kepada para penggemar tenis Indonesia atas dukungan yang terus diberikan kepadanya. Janice menyatakan akan tetap berusaha memberikan penampilan terbaik untuk mengharumkan nama Indonesia dalam kejuaraan tenis dunia. “Saya akan terus memberikan yang terbaik untuk membuat Indonesia bangga di panggung dunia, dan saya berharap dapat kembali mendapatkan kesempatan untuk mewakili Indonesia pada masa yang akan datang,” ujar Janice. Sebelumnya, Janice telah memiliki pengalaman membela Indonesia pada sejumlah ajang multi-cabang olahraga. Pada Asian Games 2022 di Hangzhou, dia turun pada nomor ganda putri dan meraih medali perunggu bersama Aldila Sutjiadi. Sementara pada SEA Games Thailand 2025, Janice meraih medali emas ganda putri bersama Aldila, dan meraih medali emas nomor beregu putri, serta medali perunggu pada nomor tunggal putri.

Rifqi Fitriadi jadikan tiga gelar ITF Wunning modal menuju Asian Games

Rifqi dan Daniil Sarksian

Petenis Indonesia, Muhammad Rifqi Fitriadi menjadikan keberhasilannya meraih tiga gelar dalam tiga pekan terakhir pada rangkaian turnamen ITF M15 Wuning di China sebagai bekal untuk menghadapi Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Selain itu tiga gelar tersebut juga menjadi modal penting untuk mengejar kesempatan tampil di turnamen level Challenger. “Di dalam tiga minggu terakhir, saya bisa mengambil juara tunggal dan juara ganda. Itu bekal yang bagus juga buat ke Asian Games, dan juga modal poin untuk bisa tanding ke turnamen yang lebih tinggi lagi, Challenger. Pasti butuh konsistensi untuk bisa lebih meningkat lagi,” kata Rifqi, dikutip dari ANTARA. Rifqi menutup seri keempat ITF M15 Wuning dengan memborong gelar tunggal dan ganda. Pada nomor tunggal, ia mengalahkan unggulan ketiga asal Korea Selatan Hoyoung Roh dengan skor 6-4, 6-3 pada partai final, Minggu (19/7). Sehari sebelumnya, ia bersama petenis Armenia Daniil Sarksian menjuarai nomor ganda setelah menundukkan pasangan Taiwan Hsieh Cheng-Peng/Lai Chuan-Kai dengan skor 6-7(7), 7-6(5), 12-10. Sebelumnya, Rifqi juga menjuarai nomor tunggal pada seri kedua Wunning yang mengakhiri penantian hampir tiga tahun tanpa gelar ITF. Menurut dia, seluruh pencapaian selama empat pekan di China memiliki arti tersendiri. “Tentu pencapaiannya dari empat ini semuanya spesial dan setiap momen terasa emosional. Sudah lama tidak naik podium, tidak dapat gelar, jadi rasanya benar-benar berasa spesial,” ujar petenis berusia 27 tahun itu. Rifqi menilai peningkatan performanya musim ini dipengaruhi oleh pergantian raket yang lebih sesuai dengan gaya bermain, serta kematangan dalam mengendalikan emosi saat bertanding. “Yang jadi pembeda salah satunya faktor raket, saya baru ganti awal tahun ini dan lebih cocok dengan permainan saya. Saya juga lebih dewasa, lebih tenang, lebih menikmati setiap pertandingan, sehingga bisa lebih fokus mengambil poin demi poin,” kata Rifiqi. Meski baru menyelesaikan turnamen di China, Rifqi langsung melanjutkan agenda kompetisi dengan mengikuti turnamen ITF M15 Bali di Pulau Dewata, yang berlangsung pada 20-26 Juli. Rifqi, yang menempati unggulan keempat, akan memulai perjuangannya pada Rabu (22/7) dengan turun di nomor tunggal dan ganda berpasangan dengan petenis Filipina Francis Casey Alcantara.

ESports, Cabang Olahraga Milenial yang Berpotensi Untuk Mengharumkan Nama Bangsa

Salah satu kompetisi eSports yang digelar di Mall Mangga Dua. dok.NXL Mobile Esports 2019

Di era revolusi teknologi seperti ini, hampir segala bidang dalam kehidupan masyarakat sudah bercampur tangan dengan sisi teknologi, termasuk dalam aspek Olahraga. Olahraga yang kita kenal sebagai olah fisik tubuh secara konvensional saat ini mulai mengalami perubahan yang signifikan. Olahraga kini bisa dilakukan di depan layar smartphone atau komputer. Olahraga yang disebut sebagai olahraga elektronik (eSports) ini banyak berasal dari sekedar hobi para kaum milenial yang tanpa disadari saat ini para penggiat eSports ini ternyata punya kesempatan dalam mengharumkan nama bangsa, selayaknya atlet-atlet kita yang lain. Olahraga eSports sempat dipertandingkan pada laga Asian Games 2018 lalu, walaupun hanya dipertandingkan sebatas eksebisi, tetapi mulai saat itu juga, nama eSports mulai ramai di Indonesia. Semenjak itu pula ada banyak pihak baik swasta maupun pemerintah yang mulai gencar menggaungkan dan menggelar turnamen eSports di Indonesia, mengingat pada ajang SEA Games 2019 dan Asian Games 2022, eSports tidak lagi sebatas eksebisi tetapi akan menjadi cabor yang memperebutkan medali. Dengan menjamurnya eSports saat ini di Indonesia, diharapkan agar para bibit-bibit pemainnya dapat bersaing di tingkat internasional sehingga juga berpeluang untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. “Tentunya atlet Esports Indonesia bisa bersaing bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat internasional. Nantinya kalau sampai dipertandingkan di Asian Games berikutnya (Hangzhou 2022), dan nanti kalau jadi di Olimpiade, saya rasa ada kesempatan yang baik bagi atlet-atlet Indonesia untuk bisa mengharumkan nama bangsa melalui Esports,” tutur Charles Honoris anggota Komisi I DPR yang dilasir dari detikSport. “Apalagi nanti bisa mendorong developer-developer game dalam negeri untuk menciptakan game-game yang bisa dimainkan di Esports tentu akan sangat-sangat positif. Daripada anak muda Indonesia menggunakan internet untuk menyebarkan hoaks, fitnah, atau kebencian di medsos, tentunya Esports merupakan wahana atau kegiatan yang jauh lebih positif,” sambungnya. Charles meminta agar pemerintah lebih serius dalam menangani potensi eSports di Indonesia, terutama soal regulasinya. “Kita tentu tidak mau membatasi pertumbuhan Esports. Mungkin ada yang mengatakan bermain game bisa berdampak negatif, ya ini tugas kita bersama pemerintah untuk membuat regulasi yang membatasi efek negatifnya, tapi secara umum Esports ini harus kita dukung karena memang peminatnya banyak.” Ujar Charles. “Mungkin ke depan perlu juga registrasi diperketat saat membuat akun game online, harus registrasi dengan usia. Jadi ke depan mungkin di jam tertentu anak yang masih di usia sekolah tidak bisa login untuk main live. Jadi tidak menggangu para siswa yang sedang belajar,” Tambahnya. (IHA)

Hobi Remaja 19 Tahun ini Mampu Menyumbangkan Medali Emas Bagi Olahraga Pencak Silat di Ajang Asian Games 2018

Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini merupakan salah satu atlet pencak silat yang akan berlaga di Asian Games 2018 mendatang.

Jakarta- Olahraga pencak silat tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, siapa sangka olahraga yang satu ini turut menghasilkan prestasi-prestasi yang mengagumkan bagi Indonesia, Aji Bangkit Pamungkas salah satunya, remaja berusia 19 tahun ini berhasil menyumbangkan medali emas pada cabang olahraga Pencak Silat Tarung Putra Kelas 85-90 Kg di ajang Asian Games 2018 lalu. Pertama kali mengikuti latihan silat saat dirinya memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), hobinya menurun dari sang ayah kepada anak-anaknya termasuk Bangkit. Kakak nomor dua dan tiga pun ikut menekuni olahraga silat. “Saya kan anak terakhir, nomor 4. Kakak yg kedua dan ketiga itu juga nurun dari ayah, suka main silat juga. Kadang lihat mereka latihan seru, jadi saya mulai tertarik sejak itu” jelas Bangkit. Alasan dirinya memilih olahraga silat ada beberapa faktor, pertama karena memang dari keluarga yang sebagian besar menekuni olahraha serupa. Kemudian faktor kedua karena dukungan dari lingkungan seperti keluarga, kawan, kerabat dan rekan latihan. Mengawali karirnya di Perguruan Silat Setia Hati Teratai (PSHT) sejak SMP kelas 1 hingga kelas 3, namun saat itu hanya mengikuti latihan dan belum diikutsertakan di kejuaraan. Faktor berat badan yang membuatnya belum bisa kontribusi, usia masih remaja namun berat badan sudah masuk di kategori dewasa. Membuatnya baru diterjunkan turnamen ketika memasuki SMA kelas 1. “Masuk SMA baru sama ikut kejuaraan di Kabupaten, antar perguruan, ke daerah-daerah. Baru pas kelas 2 saya ditunjuk untuk mewakili Jawa Timur di Kejurnas Padepokan” ujar remaja kelahiran ‘Bumi Reog’ tersebut. Pasca mengikuti kejurnas Bangkit ditawarkan untuk bermain di kelas bebas untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan dunia pada pertengahan tahun 2016. Semenjak itu dirinya bergabung dengan pelatnas hingga saat ini. Untuk membagi waktu antara sekolah dengan latihan dirinya mengungkapkan tidak terlalu masalah karena dari pihak keluarga dan sekolah turut mendukung. “Waktu saya naik kelas 2 SMA harusnya sudah tidak boleh sekolah lagi karena harus gabung pelatnas, tapi saya ngomong ke bagian kemahasiswaan ada suratnya dari pelatnas jadinya saya sekolah jarak jauh” kata remaja kelahiran 20 Mei 1999 itu. Termasuk tugas sekolah, ujian sekolah, semuanya dilakukan dari jarak jauh. Pihak sekolah mengirimkan ke lokasi pelatnas dan dikerjakan, setelahnya dikirim kembali ke sekolah asal. Kendala yang dialami seperti kurang waktu untuk belajar karena lelah usai latihan, waktu belajar digunakan untuk istrahat. Sejauh menjalani rutinitas latihan, Bangkit mengakui belum pernah mengalami cidera berat yang mengharuskan vakum sementara waktu. Hanya cidera ringan yang dialami sewaktu usai latihan. “Kadang kan kalau latihan suka kelepasan, nendang terlalu kenceng jadi kaku sama bahu suka sakit. Tapi biasanya gak lama, paling dua sampai tiga hari udah pulih lagi” ujarnya. Suka duka yang dialami pun beragam, bertemu karakter lawan yang bermacam-macam, pertama kali ikut kejuaraan dunia membela Tanah Air namun belum berhasil menyumbangkan medali. Pada ajang Sea Games Malaysia 2017 pun dirinya belum berhasil menyumbangkan medali. Bangkit mengakatan bahwa dirinya sangat bangga dan tidak menyangka bisa bergabung di pelatnas pencak silat bersama kawan-kawan dari kota lain. Pasalnya, sejak awal dirinya tidak menargetkan untuk bisa bergabung di pelatnas. Namun atas usaha latihannya selama ini dirinya berhasil membawa pulang medali emas di ajang Asian Games 2018 hal ini sangat membanggakan bagi keluarga, kerabat dan kawan-kawannya. Profil Singkat Nama : Aji Bangkit Pamungkas Tempat/Tgl Lahir : Ponorogo, 20 Mei 1999 Alamat Rumah : Jl. Rumpuk Rt 02 Rw 04 Kertosari Babadan, Ponorogo Orang Tua : Agus Widodo (ayah) Anis Nurul Laili (ibu) Pendidikan SD Ma’arif Ponorogo SMPN 2 Ponorogo SMKN 1 Jenangan Ponorogo Prestasi Medali Emas Kejurnas Remaja dan Dewasa 2016, Jakarta, Indonesia Partisipan Kejuaraan Dunia 2016, Denpasar Bali, Indonesia Medali Perungu Pra Sea Games 2017, Komplek Lincah Mahaguru Omardin (K.L.M.O), Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2017, Schoten, Belgia Partisipan Sea Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia Medali Emas 3rd Pencak Silat Championship 2017, Chungju City, South Korea (medali emas) Paetisipan Penang Open 2017, Penang Malaysia Medali Perungu Belgium Open 2018, Schoten, Belgia