Pecah Rekor Tinju Putri, Anggota KOWAD 20 Tahun Asal Lombok Raih Perunggu Asian Games

Kalah dari atlet Thailand, Sudaporn Seesondee (merah), petinju putri kelahiran Lombok, 27 Januari 1998, Uswatun Hasanah (biru), meraih medali perunggu Asian Games 2018 kelas 60 kg putri, pada Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. (liputan6.com)

Jakarta- Petinju Putri Indonesia, Uswatun Hasanah, sukses menyumbangkan medali perunggu Asian Games 2018 dari kelas 60 kg putri, Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena untuk kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. Tinju putri kali pertama digelar pada Asian Games 2010. Selama ini, belum pernah ada petinju Indonesia yang meraih medali. Setelah delapan tahun, penantian Indonesia akhirnya terbayar. Atlet 20 tahun yang kerap disapa Atun ini, mengamankan medali perunggu paska gagal melenggang ke babak final. Di partai semifinal tinju putri kelas ringan 60 Kilogram Putri Hall C, JIExpo, Anggota Kowad TNI AD berpangkat Serda yang berdinas di Dirpalad Jatinegara Jakarta Timur ini, terpaksa mengakui keunggulan atlet asal Thailand, Sudaporn Seesondee. Pertandingan tiga babak tersebut, Atun terus menerus tertekan sejak awal ronde. Pukulan bertubi-tubi petinju Thailand, tak mampu dihadang olehnya. Sebaliknya, pukulan gadis kelahiran Lombok, 27 Januari 1998 ini, tak bertenaga dan mudah dipentahkan lawan. Sudaporn makin mendominasi laga di ronde kedua dan ketiga, hingga Atun terlihat selalu terpojok dan gagal keluar dari tekanan. Bahkan, saking terpojoknya, Atun kerap berbalik badan hingga mendapat peringatan dari wasit di ronde ketiga. Usai laga, pelatih kepala Adi Suandana menyebut anak asuhnya gagal maksimal dipertandingan tersebut. Apa yang ditampilkan Atun saat mengalahkan wakil India, Pavitra di perempat final, tak terlihat. “Penampilan Uswatun hari ini, jika dibandingkan dengan sebelumnya, memang menurun,” kata Adi, usai laga, di JIExpo Kemayoran Hall C, Jakarta, Jum’at (31/8). “Karena olahraga tinju itu sudah biasa ya, yang terpukul pasti poinnya turun, dan yang banyak memukul pasti dapat poin,” imbuhnya. Adi menjelaskan, waktu persiapan yang kurang, ditambah minimnya uji coba ke luar negeri, menyebabkan mental Atun dan para petinju penghuni pelatnas lainnya tak terasah dengan baik. Akibatnya, kata Adi, saat di bawah tekanan, mereka tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dan gagal menjalankan instruksi pelatih. “Masih banyak kelemahan. Lawan jadi punya keberanian menyerang terus. Kalau Atun keberaniannya sepeti pertandingan sebelumnya, lawan tak bakal tampil seperti itu,” ujar Adi. Meski gagal ke babak final, medali perunggu Atun sukses menghantarkannya mencetak sejarah. Sepanjang sejarah Asian Games, tinju Indonesia mengoleksi tiga emas, delapan perak, dan 13 perunggu. Namun, semua medali datang dari tinju putra. Ini merupakan medali pertama yang diraih kontingen Indonesia di Asian Games 2018 sepanjang Jumat (31/8). Indonesia total telah mengoleksi 30 emas, 23 perak, dan 39 perunggu. (Ham)

Digulung Kazakhstan 65-93, Timnas Basket Putri Masih Keluhkan Perbedaan Postur Tubuh

Pebasket Kazakhstan, Tamara Yagodkina (7) dibantu Center Anna Vinokurova (13), berusaha melewati hadangan Center Timnas Indonesia, Vonny Hantoro (15), dalam laga pemeringkatan bola basket putri Asian Games 2018 di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (INASGOC)

Jakarta- Hasil basket putri Asian Games 2018 antara Timnas Indonesia versus Kazakhstan, pada Selasa (28/8) berakhir dengan skor 65-93. Tampil di Basket Hall Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, timnas basket putri kalah di semifinal play-off perebutan tempat kelima. Kazakhstan pun melaju ke pertandingan perebutan posisi kelima. Hasil itu jadi kemenangan kedua yang diraih Kazakhstan atas Indonesia di Asian Games 2018. Sebelumnya mereka menang 85-73 di babak penyisihan Grup X. Tamara Yagodkina kembali menjadi bintang kemenangan Kazakhstan, dengan perolehan double-double lewat 20 poin dan 10 rebound, dibantu 17 poin dan 6 rebound milik Zalina Kurazova. Sementara bagi Indonesia, Natasha Debby Christaline menjadi top skor 17 poin dibantu 14 poin dari Christine Aldora Tjundawan. Dalam laga ini, Arif Gunarto, pelatih tim basket putri Indonesia masih mempermasalahkan perbedaan menyolok postur badan.”Kami kalah postur dengan Kazakhstan, meski sejak awal untuk berusaha menekan ke daerah pertahanan mereka. Namun ya itu, kami kalah postur, jadi sulit bermain leluasa,” ujarnya, Selasa (28/8). Namun, ia optimis melawan Mongolia. “Mongolia posturnya nyaris serupa dengan kita, semoga menang untuk ambil posisi ke-7,” tambahnya. Laga perebutan tempat kelima antara Thailand vs Kazakhstan, dan laga perebutan tempat ketujuh Mongolia melawan Indonesia, akan digelar di Istora GBK, Senayan, Jakarta, pada Jumat (31/8). (Dre)

Lolos ke Fase Berikutnya Dan Bertemu China, Pelatih Timnas Basket Putri Malah Incar Posisi 5

Shooting Guard Timnas Basket Putri Indonesia, Natasha Debby Christaline (8) mencetak 21 poin, saat Indonesia mengalahkan India 69-66 dalam lanjutan Asian Games 2018, di Hall Basket, Komplek Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (23/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas Basket Putri Indonesia akhirnya memetik kemenangan pada ajang Asian Games 2018. Pada laga terakhir Grup A melawan India di Hall A Gelora Bunga Karno (GBK), Kamis (23/8), Indonesia menang secara dramatis dengan skor 69-66. Selain menjadi kemenangan perdana, hasil ini mengantarkan Indonesia lolos ke perempat final basket putri setelah mengumpulkan lima poin, dan menempati posisi empat Grup A. Indonesia hanya unggul dua angka dari India sebagai juru kunci. Dimotori Henny Sutijono sebagai kapten, dan Christine Aldora sebagai pengatur serangan, unggul sejak kuarter pertama, walaupun pada awal pertandingan sempat kalah cepat oleh tim India. Namun di kuarter awal Indonesia unggul dengan skor 17-14. Di kuarter dua, shooting guard Timnas, Natasha Debby tiga kali mencetak three points untuk timnya, dan membawa timnya unggul 31-29 dari India. Di kuarter tiga India sempat mengejar, namun skor tetap pada pihak Indonesia 52-50. Suasana makin menegangkan di kuarter akhir saat India hampir mengejar Merah Putih. Namun, kerja keras Gabriel Sophia dan kawan-kawan, Indonesia mengunci kemenangan dengan skor akhir 69-66. Debby menjadi pendulang angka terbanyak dengan 21 angka, diikuti Christine Aldora Tjundawan dengan 12 poin. Usai laga, pelatih timnas basket putri Indonesia, Arif Gunarto mengaku sulit berkata-kata dengan kemenangan yang didapat para pemainnya. Semua pemain disebut telah bekerja keras dan pantang menyerah demi mendapatkan kemenangan. “Saya apresiasi performa pemain. Sebanyak 12 pemain ini bagus semua, tapi penampilan Nathasa Debby dan Gabriel Sophia luar biasa,” ujar Arif. Menurutnya, Debby dan Sophia mampu menjadi pemimpin rekan-rekannya di lapangan. Mereka menunjukkan sikap pantang menyerah. “Mereka itu pemain senior, tapi bisa membimbing adik-adiknya bermain dengan benar,” katanya. Meski demikian, tetap ada evaluasi yang disampaikan pria yang disapa Njoo Lie Fan. Menurutnya, masih ada beberapa titik yang menjadi kelemahan, sehingga harus dibenahi. “Tim ini memang kurang keras mainnya. Tadi saya instruksikan untuk bermain man to man, karena musuh masih seimbang, dan cenderung dibawah kita (gampang). Tapi okelah strategi bisa jalan di pertandingan tadi,” imbuh Arif. Menghadapi India, Srikandi Indonesia jauh di atas angin. Dari total gim 40 menit, Indonesia menguasai permainan selama 23:50, sedangkan India hanya 10:04. Dan Natasha Debby Christaline dinyatakan pencetak poin terbanyak pada pertandingan malam ini, dengan mengoleksi 21 poin. Namun, euforia keberhasilan tim bola basket putri Indonesia lolos ke perempat final Asian Games 2018, rupanya tak bertahan lama. Arif menyuarakan pesimisme bahwa timnya bisa meladeni lawan mereka selanjutnya, China. Arif malah mematok Indonesia untuk mengejar kemenangan di pertandingan penentuan peringkat kelima hingga kedelapan, yang diperebutkan di antara empat tim yang kalah di perempat final. “Nanti kejar (peringkat) 5-6 aja lah, karena lawan China enggak mungkin (menang), kita lawan bawahnya aja,” jelasnya. Indonesia pun merebut tiket terakhir ke babak perempat final, sebagai peringkat keempat klasemen akhir Grup X. Skuat merah putih akan menghadapi China di fase perempat final, yang berstatus jawara Grup Y, pada Minggu (26/8). Pemenang laga itu akan menghadapi pemenang laga perempat final lain, antara Jepang dengan Kazakhstan. Jika kalah dari China di perempat final, Indonesia akan memasuki putaran penentu peringkat 5-8, di rangkaian pertandingan klasifikasi. (Dre)

Takluk Lawan Taiwan, Pelatih Tim Basket Putri Indonesia Mengaku Pemanasan Melawan India

Power forward Timnas Basket Putri Indonesia, Priscilla Annabel Karen (10), berusaha menjaringkan bola, meski dihadang pemain Taiwan. Indonesia akhrinya menyerah dengan skor telak 51-115, pada Selasa (21/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Bertempat Hall Basket, komplek Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (21/8), Timnas Basket Putri Indonesia takluk dari Taiwan. Ini menjadi kekalahan ketiga beruntun Tim bola basket putri Indonesia selama penyisihan Grup X Asian Games 2018. Sebelumnya, Indonesia kalah dari tim Korea (unifikasi) dan Kazakhstan. Pada kuarter pertama, Indonesia tertinggal lebih dulu. Aksi Ihsiu Cheng membuka keunggulan Taiwan dua poin. Kontan Henny Sutjiono membalas lewat lepmaran bebas yang hanya mendapat 1 angka. Lagi-lagi Ihsiu Cheng menambah poin dua angka menjadi 1-4. Tetapi, aksi menawan dari Natasha Debby dengan tembakan tiga poin membuat skor sama menjadi 4-4. Sempat sengit diawal kuarter, Taiwan meninggalkan kubu tuan rumah dengan skor 7-22. Hingga akhir kuarter pertama, Indonesia tertinggal selisih 22 angka, yakni 12-34. Memasuki kuarter kedua, Srikandi Indonesia mendapati satu poin lebih dulu dari Henny. Namun, Fanshan Huang membalas dengan tembakan tiga poin guna melebarkan jarak skor 14-37. Bermain lebih percaya diri, Taiwan semakin meninggalkan jauh Indonesia. Sebaliknya, Indonesia seloah mengendurkan tensi permainan. Menutup kuarter kedua, Taiwan unguul 66-24. Mengawali kuarter ketiga, anak asuh Arif Gunarto juga belum mampu berbuat banyak. Henny dan kawan-kawan hanya bisa menambah 13 angka. Taiwan bahkan menikmat pertandingan, dan mencetak skor 33-90. Aksi dua poin Ivonne Febriani Sinatra di ujung kuarter terakhir, hanya menambah koleksi Timnas menjadi 51 angka, sementara Taiwan mengemas 115 poin. Ditemui usai laga, Arif membeberkan permainan anak asuhnya yang terbilang buruk. “Anak-anak makin down, setelah lawan Kazakhstan. Agak sayang gitu. Tapi its ok,” ujar Arif. “Memang Taiwan di atas kami, saya juga memprediksi akan kalah. Setidaknya, lawan Taiwan malam ini untuk latihan dan pemanasan, sebelum menghadapi India nanti,” imbuhnya, percaya diri. Di Laga pamungkas, Indonesia akan menghadapi India, pada Kamis (23/8). Kekalahan ini membuat peluang Indonesia ke perempat-final jadi semakin menipis. Namun, partai ini juga menentukan, siapa yang lolos ke perempat final, dan siapa yang hanya bisa berangkat ke classification games. “Melawan India, kita hars fight. Dengan status tuan rumah, kami harus tunjukkan yang terbaik ke penonton. Peluangnya 60:40, saya optimis, tapi ya 40% itu optimisnya,” tukas Arif seraya tersenyum. (Dre)

Postur Kalah Jauh Dan Telat Panas, Timnas Basket Putri Tunduk Dari Kazakhstan

Dengan tinggi 167 cm, Shooting Guard Timnas basket putri Indonesia, Christine Aldora Tjundawan (13), berduel melawan forward Kazakhstan, Oxana Ossipenko (19) yang berpostur 186 cm, pada babak penyisihan Grup X bola basket putri, Asian Games 2018, Minggu (19/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas basket putri Indonesia kembali menelan kekalahan pada babak penyisihan Asian Games 2018 yang berlangsung di Hall Basket Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Minggu (19/8). Meladeni Kazakhstan yang tergabung dalam Grup X, timnas putri Merah Putih takluk dengan skor 73-85. Dengan hasil ini, Natasha Debby Christaline dkk sudah mengoleksi dua kekalahan. Selumnya pada laga pembuka, Indonesia kalah dari Korea Bersatu dengan skor yang lebih telak, 40-108. Pada pertandingan melawan Kazakhstan, Indonesia, sempat bermain baik. Namun, kesalahan demi kesalahan yang terus dilakukan anak asuh Arif Gunarto itu, membuat kesempatan untuk mengimbangi permainan kubu lawan hilang. Bahkan, tanda-tanda kekalahan Indonesia mulai terlihat sejak kuarter kedua, ketika Tamara Yagodkina mencetak dua poin bagi Kazakhstan melalui aksi lay-up. Melalui aksi Yagodkina , Kazakhstan memimpin skor 25-22. Setelah itu, Indonesia makin sulit keluar dari tekanan lawan. Postur tubuh yang tak seimbang, kian menyulitkan Indonesia mendulang poin. Saat laga mencapai half-time, Indonesia tertinggal 31-43. Selepas jeda, permainan Srikandi Indonesia tak kunjung membaik. Buruknya akurasi tembakan dan kegagalan memenangi rebound membuat jarak poin dengan Kazakhstan semakin melebar. Di akhir kuarter ketiga, Indonesia tertinggal 44-66 dari Kazakhstan. Memasuki kuarter keempat, para Srikandi Merah Putih mencoba untuk bangkit. Berulang kali tembakan tiga poin yang dilepas Debby menemui sasaran. Akan tetapi, upaya keras tersebut belum bisa mengubah keadaan. Technical foul yang diberikan wasit pada pemain Kazakhstan juga tak memberi keuntungan bagi Indonesia. Ketika wasit meniup peluit panjang, Indonesia dipastikan menjadi pihak yang kalah. Andre Yuwadi, selaku asisten pelatih mengatakan jika anak asuhnya telat panas saat menghadapi Kazakhstan. “Anak-anak bermain bagus dari kuarter pertama sampai akhir, tapi kami telat panas,” ujar Andre, usai laga, Senin (19/8). Kekalahan ini membuat Indonesia tercecer di dasar klasemen Grup X Asian Games 2018. “Untuk skill, kami di atas mereka, tapi karena postur mereka tinggi-tinggi, itu jadi kendalanya. Di pertandingan selanjutnya, semoga mental anak-anak lebih baik,” ucap Andre. Selanjutnya, Indonesia kembali mendapatkan lawan tangguh, yakni pemuncak klasemen sementara, Taiwan, pada Selasa (21/8). Sebagai perbandingan, postur skuat Kazakhstan yang terendah adalah Elmira Abikeyeva (2) dan Oxana Bagmet (6), dengan tinggi 170 cm. Sementara yang tertinggi, Nadezhda Kondrakova (15) dengan tinggi 192 cm. Dan sembilan pemain lainnya rata-rata memiliki tinggi diatas 180 cm. Sedangkan di kubu Indonesia, sebagian besar berpostur 170 cm, kecuali Center Indonesa, Gabriel Sophia (22), yang memiliki tinggi 184 cm. Andre pun menilai, Taiwan lawan yang sulit ditaklukkan. Jadi, menurut dia, timnas basket putri Indonesia laga yang amat berpeluang bisa memetik kemenangan, ada dilaga terakhir penyisihan Grup X Asian games 2018, kontra India. “Di antara dua laga tersisa, yang paling relevan untuk meraih kemenangan, adalah melawan India,” pungkasnya. (Dre)

Lakukan Debut di Asian Games 2018, Beban Mental Pebasket 16 Tahun Adelaide Callista Wongsohardjo

Pebasket 16 Tahun asal Malang, Adelaide Callista Wongsohardjo (12), mengaku grogi turun membela Merah Putih di laga perdana sekalgus ajang debutnya di event Asian Games XVIII/2018. (mainbasket.com)

Jakarta- Adelaide Callista Wongsohardjo patut bangga diberi kesempatan masuk dalam skuat tim nasional (Timnas) basket putri Indonesia Asian Games XVIII/2018. Bahkan, gadis kelahiran Malang 12 Oktober 2001, diberi kepercayaan sang juru racik tim Arif Gunarto memulai debut perdananya saat berjumpa Korea Bersatu. Gabungan Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) itu, ia hadapi di Hall Basket Komplek Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, pada Rabu (15/8). Sayang, Adelaide dan kolega harus mengakui ketangguhan tim Korea, dengan skor 40-108. Pengalaman bermain di Asian Games 2018 tentu bakal menjadi pelajaran yang berharga baginya. Tak setiap edisi, timnas basket putri Indonesia bisa tampil pada ajang empat tahunan itu. Usai laga, MVP atau pemain terbaik kompetisi DBL 2017 ini mengaku grogi turun membela Merah Putih di laga perdana. “Agak grogi gitu, tapi senang dikasih kesempatan bertanding lawan Korea,” ujar Laide–sapaan akrabnya, ditemui di Mixed Zone. Sebagai pemain termuda, apakah memiliki beban mental? “Iya, sih, harus mengimbangi pemain-pemain senior. Misalnya defense harus baik, tidak banyak salah,” jawab pemain binaan klub Bimasakti Malang itu. Diakui, dirinya mendapatkan pelajaran berharga kala berjumpa punggawa Negeri Ginseng itu. Apalagi, pada laga itu, Laide masih belum menyumbang poin bagi Indonesia. “Ya finishing-nya harus banyak lagi. Karena kami masih kurang di finishing, terus fundamental juga kurang. Ke depannya lebih berani lagi, dan kurangi kesalahan-kesalahan serta lebih semangat,” ungkap siswi SMAK St Albertus, Malang, Jawa Timur. Untuk selanjutnya, dara dengan tinggi 173 cm juga belum tahu bermain di klub profesional pada Srikandi Cup, atau tidak. Namun, ia membidik target untuk bermain di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020. “Setelah Asian Games 2018, masih ingin fokus sekolah, dan belajar. Mungkin target yang ingin dikejar itu PON,” pungkasnya. Sementara itu, Wahyu Gunarto, Manajer Timnas Basket Putri Indonesia menyebut pihaknya ingin Asian Games 2018 meninggalkan warisan kepada generasi muda. “Apalagi tidak setiap kesempatan Indonesia bisa tampil, sehingga ini merupakan waktu yang tepat memberikan pengalaman kepada pemain junior,” cetus Wahyu. (Adt)

Kalah Telak 108-40, Srikandi Merah Putih Dapat Pelajaran Berharga Dari Tim Korea Bersatu

Shooting Guard Timnas Basket putri Indonesia, Nathania Claresta Orville (21) berusaha melewati hadangan Tim putri Korea Bersatu, dan takluk 108-40, di penyisihan Grup X basket putri Asian Games XVIII/2018. (Riz/NYSN)

Jakarta- Tim putri gabungan Korea Selatan dan Korea Utara (Korea Bersatu) memberikan pelajaran berharga bagi srikandi Merah Putih. di laga perdana penyisihan Grup X cabang olahraga basket putri Asian Games XVIII/2018. Melakoni laga di Hall Basket Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada Rabu (15/8), anak didik Arif Gunarto itu kalah telak 40-108. Hasil ini, membuat Indonesia berada posisi keempat, di bawah Korea Bersatu, Taiwan dan Kazkhstan. Karena dipertandingan sebelumnya, Taiwan sukses meraih kemenangan atas Kazakhstan 72-42, sedangkan India belum memainkan laga. Berlaga dihadapan publik Jakarta, Korea Bersatu tampil dominan sejak awal laga. Tim yang dimotori Yunghui Lim itu memanen angka demi angka atas tuan rumah. Indonesia harus mengakui ketangguhan lawan dikuarter pertama dengan skor terpaut jauh 8-25. Alih-alih memangkas jarak poin atas lawan, Korea Bersatu justru makin produktif dengan memundi 33 poin, sedangkan Indonesia hanya 12 poin. Henny Sutjiono dan kolega dipaksa menyerah di kuarter dua dengan skor 20-58 dari Korea Bersatu. Usai jeda, Indonesia berusaha mengimbangi permainan lawan. Namun, Korea Bersatu yang telah mendapatkan momentum makin percaya diri melesakkan bola ke dalam keranjang tuan rumah. Kuarter tiga ditutup dengan sempurna oleh Korea Bersatu 79-29. Situasi tetap tak berubah di kuarter empat. Korea Bersatu terus mengancam daerah pertahanan Indonesia. Bermain secara cepat dan efektif membuat Gabriel Sophia tak bisa berbuat banyak. Raihan poin Korea Berstau tak terbendung. Indonesia harus mengakhiri pertandingan dengan skor terpaut jauh 40-108. “Meskipun kalah kami tetap fight. Sebelumnya memang pernah sparing melawan mereka saat try out. Memang mereka bermain cepat. Kami berusaha mengantisipasi, tapi memang rotasi yang dijalankan juga tidak efektif. Kami terlalu banyak membuang bola. Harusnya banyak shooting, ini malah banyak melakukan turn over,” ujar Gabriel. Pemain berusia 26 tahun itu, mengakui mendapatkan pelajaran berharga saat berjumpa dengan Korea Bersatu. “Pelajarannya untuk eksekusi bola masih kurang, mungkin karena pertandingan pertama jadi masih deg-degan. Berikutnya harus tetap fight dan optimis untuk laga selanjutnya,” lanjutnya. Pada laga itu, Suk Yong Ro mengjadi pencetak angka terbanyak dengan 22 poin, diikuti Hye Yon Kim yang mengoleksi 14 poin. Sementara di kubu tuan rumah, Natasha Debby Christaline menjadi pemain yang mencetak angka terbanyak yakni 17 poin, dan Gabriel Sophia dengan 8 poin. “Secara keseluruhan kami tidak puas dengan hasil ini. Debby tadi performanya sangat baik. Catatannya, kalau sudah kalah strategi dan fisik maka semua bersatu dalam tim untuk saling membantu,” terangnya. Sedangkan Arif menegaskan bahwa timnya bermaterikan pemain muda sehingga mereka masih terus belajar utnuk mengasah skill dan mental tanding. “Mungkin pertandingan pertama jadi agak grogi. Apalagi banyak pemain muda-muda. Selanjutnya, kami akan memperbaiki difense dan shooting. Tadi juga turn over terlalu banyak,” terangnya. “Selanjutnya kami fokus untuk menghadapi Kazakhstan, yang punya skuat tinggi-tinggi, dan kami akan memakai strategi bermain cepat dan memperkuat difense. Tapi, untuk pertandingan, ya kami fokus satu-satu dulu,” pungkas Arif. (Adt)

Kalah Terhormat di Final Putri Proliga, BJB Ingin Tiru Semangat Pertamina Energi

Tim Putri Bandung Bank BJB Pakuan (biru) tak patah semangat walau kalah di partai final Putri Proliga 2018 dari Pertamina Jakarta Energi. (krjogja.com)

Yogyakarta- Dua tahun berturut-turut selalu gagal di partai final nyatanya tak membuat Jakarta Pertamina Energi menyerah. Di laga final Proliga 2018 yang yang dilangsungkan di GOR Amongraga, Yogyakarta, pada Minggu (15/4/), tim Pertamina mampu mengakhiri paceklik gelar. Merek sukses mengandaskan perlawanan Putri Putri Bandung Bank BJB Pakuan, tiga set langsung 25-20, 25-18 dan 25-17. Tangis haru tak terbendung ketika block Kyla di depan net membuat bola berbalik masuk ke lapangan Putri BJB Bandung. Tepat saat itu juga papan skor berubah 25 untuk Pertamina dan 17 untuk BJB yang secara langsung mengakhiri partai penentuan juara tersebut. Seluruh pemain Pertamina yang sepanjang pertandingan tampil minim kesalahan langsung tersungkur menangis terharu karena akhirnya menyudahi paceklik gelar selama dua tahun terakhir. Sejak 2016 dan 2017 putri Pertamina harus menelan pil pahit kalah di setiap laga final. Kapten tim Novia Andriyanti, saat bertemu dengan wartawan pun tak bisa banyak berkata. Ia merasa sangat bersyukur atas kemenangan di partai final hari ini. “Hari ini sangat ditunggu-tunggu selama dua tahun terakhir dan saya hampir tak bisa berbicara lagi. Kami bisa kompak hari ini dan suport serta doa keluarga dan suporter Pertamina menjadi berkah bagi kami,” ungkapnya tersenyum, pada Minggu (15/4). Manajer Putri Pertamina Energi Widi Triyoso, juga tak bisa menutupi rasa bahagia. Sembari menyeka keringatnya, Widi mengungkap rasa puas dengan raihan juara di tahun 2018. “Ini penantian cukup panjang kami dan kami bersyukur bisa juara. Manajemen sudah memastikan atas raihan juara ini, kami beri bonus dua kali lipat dari yang dibagikan di 4 besar kemarin,” ungkapnya, dilansir Kedaulatan Rakyat (KR). Sementara, kubu BJB Bandung yang dipaksa harus puas berada di tempat kedua. Mereka mengaku mendapat pengalaman berharga dari kekalahan melawan tim putri Pertamina. Terlepas dari hilangnya gelar juara pertama, BJB melalui Direktur Utama Ahmad Irfan mengaku sangat puas dengan raihan juara kedua Proliga 2018. “Tahun lalu kami gagal masuk final, dan sekarang dapat juara kedua. Alhamdulillah dengan hasil ini dan pengalaman luar biasa untuk tim kami,” terangnya usai laga. BJB pun menargetkan kompetisi Proliga tahun depan bisa meraih gelar juara pertama. (Art)

Tiga Kali Final Putri Proliga, Jakarta Pertamina Energi Akhirnya Boyong Gelar Juara di Yogya

Tim Putri Jakarta Pertamina Energi (putih) sukses mengunci gelar Proliga 2018, usai menang telak 3-0 atas Bandung Bank BJB Pakuan. (detik.com)

Yogyakarta- Putri Jakarta Pertamina Energi menjadi kampiun kompetisi bola voli Proliga 2018. Dalam laga puncak, skuat racikan M Ansori ini mengalahkan Bandung Bank BJB Pakuan 3-0 (25-20, 25-18, 25-17) di GOR Among Rogo, Yogyakarta, Minggu (15/48). Hasil ini mengakhiri penanti Jakarta Pertamina untuk meraih gelar juara Proliga, setelah dua musim sebelumnya cuma menjadi runner-up. Ini adalah gelar kedua Jakarta Pertamina setelah pada 2014 lalu. Sejak game pertama, para pemain Jakarta Pertamina tampil percaya diri. Smes-smes keras Agustin Wulandari, Anna Stepaniuk, Kylia Elizabeth Richey, dan Novia Andriyanti kerap merepotkan para pemain BJB Pakuan. Sementara di kubu BJB Pakuan, buruknya penerimaan bola pertama membuat tim asuhan Octavian tersebut sulit melancarkan serangan. Ini tak lepas dari servis para pemain Jakarta Pertamina yang diarahkan kepada duo pemain asing BJB Pakuan, yakni Chantava Evangelia dan Diaiana Georgiana Muresan. Selain itu, sukses Jakarta Pertamina menjadi juara Proliga juga tidak lepas dari rapatnya blok. Berulang kali Agustin dan kolega mempu memblok smes-smes keras dari Chantava dan Diaina yang menghasilkan poin. Kalah pada dua set awal, pelatih BJB Pakuan Octavian coba mengubah pola serangan. Ia menginstruksikan Chantava dan Diaiana melancarkan smes dari garis tiga meter. Namun, pola serangan tersebut tidak memberi dampak besar pada permainan BJB Pakuan. Sebab, Jakarta Pertamina mampu membendungnya dengan blok dan pertahanan yang bagus. Bermain di final, BJB Pakuan kembali diperkuat Aprilia S Manganang yang sempat absen di dua laga terakhir final four putaran kedua karena cedera. Namun, penampilan April di bawah performa terbaiknya. Selain itu, umpan-umpan yang diberikan Yolana Betha kepada April kurang bagus sehingga tidak bisa melancarkan smes keras. Ini tak lepas dari buruknya penerimaan bola pertama. Pada set ketiga, April digantikan Dian Wijayanti. Namun, pergantian ini tidak berpengaruh banyak bagi permainan BJB Pakuan. (Art)

Pentingnya Kerjasama Dalam Pertandingan Basket Putri Candle Tree School

Tim bola basket Candle Tree School

Olahraga basket yang mitosnya bisa membuat badan lebih tinggi dari sebelumnya ternyata masih banyak di minati oleh siswa siswi hampir di semua sekolah. Seperti yang di paparkan oleh Nicole Catherine Kartasasmita (16) bersekolah di Candle Tree School, yang kesehariannya aktif bermain basket sejak umur 12 tahun. “Iya, saya mulai menjajaki dunia olahraga basket sejak masih berusia 12 tahun, selain hobby olahraga basket, menurutku basket itu adalah kerja tim yang sangat seru dan memiliki tantangan tersendiri. Karena kerjasama itu terletak bukan dari skill individu pemain, tapi dari kekompakan dan ketepatan dalam mengoper bola” Ungkap Catherine. Catherine merupakan sapaan akrab dara muda ini begitu ia di panggil, selain itu pengagum sosok Wardel Stephen Curry pemain NBA tingkat dunia dari tim golden stage warrior. Anak berbakat dari pasangan Willy dan santya menambahkan bahwa support tak lepas dari dorongan kedua orang tuanya serta keluarga. “Aku di dukung oleh mama papa untuk selalu menggoreskan prestasi dalam bidang olahraga bola basket, dan tidak luput juga peran kakakku kevin yang mengajarkan beberapa tehnik untuk meningkatkan pola permainan di lapangan.” Tutup Catherine (ryo/adt)

Resmi Diumumkan, Daftar Pemain Timnas Voli Putra dan Putri Sea Games 2017

Aprilia S. Manganang, sala satu angota timnas voli Indonesia untuk Sea Games 2017

Sejak pertengahan Mei, PB PBSVI mengadakan seleksi pemain untuk tim nasional menuju SEA Games 2017 di Kuala lumpur. Dan sekarang PB PBSVI mendapatkan pemain tim nas voli putra dan putri Sejak 14 mei Pelatnas voli sudah dimulai di Padepokan Sentul, Bogor, Jawa Barat berlangsung. Pengurus Besar Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PB PBVSI) mengumpulkan 18 pemain terbaik dari seluruh Tanah Air. Seperti yang di kutip dari detik.com bahwa setelah serangkaian proses yang di tekankan oleh barisan pelatih, terjaring 14 pemain terbaik kelompok putra dan 14 pemain terbaik kelompok putri. 4 pemain putra/I yang dirasa kurang cukup baik dan tidak memenuhi kriteria akan di pulangkan. “Kuota kami sesuaikan dengan kebutuhan Satlak Prima 12 pemain dengan dua pemain cadangan kami biayai sendiri,” Pungkas Reggy Nelwan, wakil ketua V Bidang Pertandingan PP PBVSI. Berikut nama-nama pemain yang terjaring di pelatnas voli untuk proyeksi SEA Games 2017: Putra: 1. Sigit Ardian (TNI AU) 2. Rendy Febriant Tamamilang (Samator) 3. Doni Haryono (PPLP) 4. Agung Seganti (Pertamina) 5. Gunawan Saputra (M2) 6. Hernanda Zulfi (Indomaret) 7. Antho Bertiyawan (uso) 8. Rivan Nurmulki (Samator) 9. Aji Maulana (TNI AD) 10. Dio Zulfikri (PPLP) 11. Muhamad Ridwan (Pasundan) 12. Mahfud Nurcahyadi (Samator) 13. Ramzil Huda (TNI AU) 14. Delly Dwi Putra Heryanto (M2) Manajer: Nanang Masbudi Pelatih kepala: Putut Marhaento Pelatih: Samsul Jais Asisten pelatih: Andri Widiyatmoko, Joni Sugiyatno Putri: 1. Aprilia S. Manganang (Alko) 2. Novia Andriyanti (Pertamina) 3. Megawati Hangestri P. (Bank Jatim) 4. Wilda S. N. Sugandi (Tectona) 5. Asih Titi Pangestuti (Bank Jatim) 6. Putri Andya Agustina (Wahana) 7. Nandita Ayu Salsabila (Bharata) 8. Arsela Nuari Purnama (Popsivo) 9. Tri Retno Mutiara (Wahana) 10. Yolana Betha Pangestika (Elektrik) 11. Berlian Marsheilla (Elektrik) 12. Yolla Yuliana (Alko) 13. Hany Budiarti (TNI AU) 14. Wahida Muntaza Arifin (Wahana) Manajer: Rudi Iskandar Pelatih kepala: Putut Marhaento Pelatih: Riso Herlambang Asisten pelatih: Alek Bonapea, Walfridus Wahyu. (bam/adt/dtk)

Raih Beasiswa, Nabila Kapten Tim Futsal Putri Ajak Kaum Perempuan Bersahabat Dengan Bola

Nabila bersama tim Futsal Putri SMK Letris

Perlu kita ketahui, bahwa menjadi seorang kapten dalam tim bukan hanya sekedar ikatan di lengan berban karet, tapi juga merupakan sentral komunikasi dimana harus menyerang dan juga mengatur waktu untuk bertahan. Nabila (16) yang tak lain merupakan siswi SMK Letris, dan sekaligus kapten futsal putri di tim sekolah nya. Nabila adalah seorang putri yang berprestasi dalam olahraga futsal, kecintaannya dalam bermain bola di mulai sejak menduduki bangku SMP. Berlatar belakang hobby, menjadi satu satunya alasan untuk menekuni olahraga permainan futsal. Prestasi menjadi tim futsal putri berhasil di raih, diantaranya turnamen Dubesta Cup yang laksanakan di universitas budi luhur awal maret 2016 lalu. Prestasinya berawal dari keberhasilannya menjadi juara 1 tingkat futsal putri dan sekaligus mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 34 juta dari panitia penyelenggara Universitas Budi Luhur. Nabila mengatakan kepada NYSN bahwa kaum perempuan jangan pernah merasa minder untuk menekuni olahraga yang di dominasi oleh kaum pria.(23/5) “Buat cewek-cewek yang lain jangan pernah takut mencoba olahraga yang di minati oleh banyak kaum pria. Bersahabatlah dengan bola dan lapangan, kerja sama yang baik dan konsisten dalam latihan adalah awalan yang baik untuk berprestasi di olah raga futsal.” Tegas Nabila Di balik keberhasilan Nabila meraih prestasi gemilang, tak luput berkat strategi sang pelatih Ahmad rifai dan imron nurhadi, yang selalu mengajarkan kedisiplinan dan latihan fisik. “Dua kali seminggu adalah bekal latihan fisik ataupun mental yang wajib di jalani oleh tim futsal putri di Letris. Segala tehnik passing, shooting dribbling juga di tekankan pelatih untuk tim putri.” Ujar Rifai. (bam/adt)