Loloskan Tiga Petinju Ke Final, Indonesia Sabet Dua Medali Emas di China

Tim tinju Indonesia akhirnya berhasil menyabet dua medali emas dalam kejuaraan tinju "The Belt and Road China-ASEAN Boxing Championship" di Kota Nanning, Guangxi, China, yang berlangsung pada 24-25 November 2018. (beritabali.com)

Denpasar- Tim tinju Indonesia berhasil menyabet dua medali emas dalam kejuaraan tinju “The Belt and Road China-ASEAN Boxing Championship” di Kota Nanning, Guangxi, China. Mereka bertolak ke Tiongkok atas undangan AIBA (Association Internationale de Boxe Amateur, badan tinju yang menaungi tinju amatir sedunia). Tim Indonesia berjumlah tiga orang yakni Gregorius Gheda Dende (64 kg), Kornelis Kwangu Langu (56 kg), dan Aldriani Beatrix Suguro (51 kg putri), serta pelatih Denisius Agustinus Hitarihun. “Mereka yakni Beatrichx (putri) dan Kornelis, sementara Gheda Dende meraih perak usai kalah dari petinju tuan rumah (Tiongkok),” kata Manajer Tim Tinju Indonesia yang juga Ketua PD Pertina Denpasar, Bali, Made Muliawan Arya di China, pada Senin (26/11). Muliawan Arya yang akrab dipanggil De Gadjah menjelaskan, di pertarungan sebelumnya Beatrichx berhadapan dengan Li Mingyan (China), sedangkan Kornelis bertarung dengan Muhmad Hafisz Bin Ahma (Singapura). Adapun Gheda melawan Ocana Sugar Ray Estroga (Filipina). Semua petinju Indonesia ini yang dikirim ini lolos babak final. Beatrichx menang angka atas Mingyan, Kornelis menang angka atas Hafiz dari Singapura. Sementara Gheda menang angka atas Estroga dari Filipina. “Kami memang targetkan mereka bertanding semaksimal mungkin dan harapannya pulang membawa emas,” ucap De Gadjah yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar. Menurut dia, semua kegiatan tim Indonesia selama di negri tirai bambu itu berjalan lancar. Begitu juga hubungan petinju, pelatih, dan manajer berjalan harmonis. Ini membuat petinju tampil lepas dan maksimal. De Gadjah memimpin tim Indonesia untuk bertarung di ajang kejuaraan tinju “The Belt and Road China-ASEAN Boxing Championship” yang berlangsung pada 24-25 November 2018. (Adt)

Kunci Titel Juara Umum APSKF, Bekal Indonesia ke Kejuaraan Dunia WSKF 2019

Tim Indonesia mampu menjadi juara umum pada Kejuaraan Karate Shitoryu Asia Pasifik (APSKF) ke-15. Mereka menjadi yang terbaik usai mengoleksi 17 medali emas, 12 perak, dan 15 perunggu atau total 44 medali pada pertandingan selama dua hari, Jumat-Sabtu (23-24/11). (sindonews.com)

Jakarta- Tim Indonesia mampu menjadi juara umum pada Kejuaraan Karate Shitoryu Asia Pasifik (APSKF) ke-15. Mereka menjadi yang terbaik usai mengoleksi 17 medali emas, 12 perak, dan 15 perunggu atau total 44 medali pada pertandingan selama dua hari, Jumat-Sabtu (23-24/11). Bahkan, Indonesia mampu mengungguli Jepang yang harus puas di tempat kedua dengan perolehan 16 medali emas, 3 perak, 2 perunggu atau 21 medali. Sementara posisi ketiga event Sithoryu Asia Pasifik Ke-15 itu menjadi milik China Taipei yang mengumpulkan 6 emas, 13 perak, dan 11 perunggu atau total 30 medali. Menurut Ketua Umum PB Shitoryu Indonesia Karate-Do (Shindoka) Iwan Setiawan, kesuksesan tim Merah Putih patut disyukuri. Sebab, selain sukses menjadi penyelenggara, Indonesia juga berhasil meraih prestasi membanggakan, yakni juara umum. Tentunya, itu prestasi yang sangat membanggakan bagi Indonesia. “Saya senang dan bangga dengan perjuangan segenap atlet Indonesia yang mampu dan berhasil meraih Juara umum, yaitu kedudukan teratas dan terhormat di antara 19 negara peserta,” ujar Ketua Umum PB Shindoka Iwan Setiawan, seusai penutupan acara, pada Sabtu (24/11) malam. Dari perolehan medali, terlihat perebutan medali emas dan perak yang cukup ketat antara Indonesia, Jepang, dan China Taipei. Iwan menilai, keberhasilan tim Indonesia tersebut hendaknya bisa menjadi pemacu semangat segenap atlet Indonesia untuk terus berlatih meraih prestasi optimal di kancah internasional. “Maret 2019, Shindoka/tim Indonesia akan mengikuti Kejuaraan Dunia Karate WSKF (World Shitoryu Karate-Do Federation) di Tokyo Budokan-Jepang, yang diikuti sekitar 60 negara anggota WSKF,” tegas Iwan yang baru terpilih sebagai Presiden APSKF. Iwan menyatakan, hasil di APSKF tentu akan menjadi modal berharga bagi kesiapan Indonesia di Kejuaraan Dunia WSKF. Namun, dia tetap menilai perlunya persiapan dan pelatnas lebih lanjut yang lebih intensif, guna meraih medali emas di kancah bergengsi tersebut. Terutama bersaing dengan tim Jepang, yang dipastikan akan tampil dengan kekuatan penuh. Selain perebutan medali, kata Iwan, pihaknya juga berusaha keras bisa meraih kepercayaan pimpinan puncak WSKF untuk menjadi tuan rumah (host) Kejuaraan Dunia Karate Shitoryu (WSKF) di Indonesia. “Tempatnya sebagai paparan /proposal kami akan gunakan Venue Mahaka yang memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai lokasi ajang kejuaraan dunia. Selain lokasinya yang tidak jauh dari airport, juga dikelilingi oleh beberapa hotel, mal, dan tempat rekreasi untuk para peserta,” tegas Iwan. (Adt)

Indonesia Targetkan Juara Umum 15th APSKF 2018 Dan Incar Posisi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia

Tim Kata beregu putra Indonesia yang terdiri dari Erlando Stefano, Muhammad Wisnu Hidayat dan Chogun Miyagi, meraih emas di hari pertama ajang 15 Asia Pasific Shitoryu Karate-do Federation (APSKF) 2018 yang digelar di Britama Arena, 23-24 November 2018. (tribunnews.com)

Jakarta- Indonesia menargetkan juara umum ajang 15 Asia Pasific Shitoryu Karate-do Federation (APSKF) 2018 yang digelar, 23-24 November 2018 di Britama Arena, Mahaka Square, Kelapa Gading Jakarta. Ketua umum Shitoryu Indonesia Karate-do (Shindoka), Iwan Setiawan, pada Jumat (24/11) di Jakarta menyatakan, sebagai tuan rumah Indonesia membidik gelar juara umum. “Kita pernah menempati peringkat kedua. Kali ini kita yakin juara umum. Apalagi Jepang tak menurunkan tim kata yang utama,” terang Iwan. Iwan yang juga presiden Asia Pasifik Shitoryu Karate Federation (ASKF), berharap setelah sukses menggelar APSKF 2018 Indonesia bisa menjadi tuan rumah kejuaraan dunia. “Melalui ajang ini kita yakinkan Presiden World Shitoryu Karate Federation, bahwa Indonesia layak menjadi tuan rumah kejuaraan dunia. Tahun depan kejuaraan dunia Shitoryu akan digelar di Tokyo, Jepang, dan diikuti sekitar 70 negara. Kita akan meninjau kesana. Kita yakin bisa menggelar kejuaraan dunia,” lanjutnya. 15th APSKF 2018 diikuti oleh 459 peserta dari 19 negara. Sebagai tuan rumah, Indonesia menurunkan 56 atlet putra dan putri. Ajang ini juga untuk memberi kesempatan tampil bagi atlet usia dini, pemula, kadet dan junior. Ajang ini juga mempertandingkan kelas senior dan Veteran. Sekjen PB.FORKI Lumban Sianipar usai acara pembukaan menyatakan sangat gembira dengan kejuaraan ini. “Saya sangat senang dengan ajang ini. Kita berharap Indonesia mampu merebut gelar juara disini”. “Kita tengah mempersiapkan tim untuk pelatnas. Baik itu untuk SEA Games 2019 dan Olimpic 2020. Makin banyak kejuaraan, tentu kita bisa lihat lebih banyak calon atlet yang akan masuk Pelatnas,” terangnya. Selain Lumban, sejumlah pejabat yang hadir dalam acara pembukaan antara lain, Presiden World Shitoryu Karate Federation Sensei Iwata Genzo, Grand Master Soke Ken Yu Mabuni, dan Senior Advisor Shindoka Sensei Rusmanhadi. Di hari pertama laga, Indonesia meraih dua medali emas nomor bergengsi, dari Kata Beregu Putra dan Putri. Kata beregu putra yang terdiri dari Erlando Stefano, Muhammad Wisnu Hidayat dan Chogun Miyagi, di partai final menang 5-0 atas tim Srilanka. Sedangkan kata beregu Putri yang terdiri dari Navita Azzahra, Marzella Sekar Damayanti, Cintya Auraria, merebut emas usai unggul 4-1, dari Kata Beregu Hong Kong. (Adt)

Indonesia Rebut 10 Medali Emas di Belgia, Siswi SMPN 1 Palasah Majalengka Jawara Kata Perorangan Putri U-14

Siswi SMPN 1 Palasah, Kabupaten Majalengka, Jabar, Lala Diah Pitaloka, meraih juara nomor kata perorangan putri usia (U)-14 tahun pada kejuaraan karate bertajuk ‘3rd Edition International Karate Open of the Province of Liege, di Kota Herstal, Provinsi Liege, Belgia, pada 17-18 November, pekan lalu. (Istimewa)

Liege- Kontingen atlet karate pelajar Indonesia sukses meraih 10 medali emas, 6 perak, dan 5 perunggu pada kejuaraan karate bertajuk ‘3rd Edition International Karate Open of the Province of Liege’, di Kota Herstal, Provinsi Liege, Belgia, pada 17-18 November, pekan lalu. Hasil itu menempatkan Indonesia berada diposisi empat setelah tuan rumah Belgia (24 emas, 27 perak, 56 perunggu), Belanda (12 emas, 9 perak, 17 perunggu), dan Perancis (10 emas, 9 perak, 12 perunggu). Di event itu, skuat Garuda Muda mengirimkan 18 atlet pelajar mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Salah satu medali emas Merah Putih disumbang Lala Diah Pitaloka, di nomor kata perorangan putri usia (U)-14 tahun. Prestasi gemilang siswi SMPN 1 Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar)itu, melengkapi prestasi yang pernah diraihnya di ajang International Banzai Cup Open Karate Championship 2015, di Jerman. Selain kategori putri, Indonesia melalui Christpher Edbert Setiabudi juga berhasil membawa pulang medali emas di kata perorangan putra U-14. Dan, Komang Sastrawan menambah koleksi medali emas, usai meraih gelar juara di nomor kumite putra U-14. Sedangkan di tingkat SD, Nandana Putra Purnaman menjadi kampiun di nomor kata perorangan dan kumite U-12 putra. Diikuti Erine Brythania Auroro yang tampil superior di nomor kata perorangan putri U-12. Sedangkan di tingkat SMA, medali emas disumbang Paramitha Nur Dea Pujiastuti di nomor kata putri U-21, Muhammad Rizaldi di nomor kata putra U-21, Maslikhah Surani di nomor kumite putri U-18 di kelas -48kg, dan Rizal Eka kumite putra U-18 di kelas -68kg. Yuri O. Thamrin, Duta Besar RI di Belgia, mengaku bangga atas prestasi pelajar Indonesia yang berlaga di ajang 3rd Edition International Karate Open of the Province of Liege ini. “Kami berharap para pelajar Indonesia sukses pada event berikutnya,” ujar Yuri seperti dikutip antaranews, pada Jumat (23/11). Sementara itu, Ade Indra Setiadi, pelatih yang menangani tim SMP, menilai perjuangan atlet pelajar Indonesia sangat berat. Selain harus menghadapi lawan yang memiliki postur tinggi besar, menurutnya, anak didiknya juga dihadapkan persoalan suhu yang dingin di Belgia. “Suhu di Hall Herstal Sportive tempat bertanding antara tiga sampai enam derajat. Tapi dengan semangat juang yang tinggi, para atlet dapat bertanding dengan maksimal. Sehingga mereka berhasil mengibarkan bendera Merah Putih,” jelas Ade. (Adt)

Kejurnas Panjat Tebing 2018 Siap Digelar di Solo, FPTI Yakini Persaingan Bakal Ketat dan Seru

Venue di Solo Sport Climbing Center, Kompleks Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, siap digunakan pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) XVII Panjat Tebing 2018, yang mulai berlangsung pada 27 November-2 Desember 2018. (Dok. Humas FPTI)

Solo- Event nasional panjat tebing tertinggi di Tanah Air, yakni Kejuaraan Nasional (Kejurnas) XVII Panjat Tebing 2018 siap dihelat di Solo Sport Climbing Center, Kompleks Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pada 27 November – 2 Desember 2018. Pristiawan Buntoro, Wakil Ketua II Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), mengatakan Kejurnas kali ini siap digelar meskipun harus memindahkan lokasi penyelenggaraan. “Awalnya diselenggarakan di Sulawesi Tengah. Namun, karena ada bencana gempa bumi dan tsunami, jadi venue kejuaraan kami pindahkan ke Solo,” ujar Pristiawan, seperti keterangan yang diterima nysnmedia, pada Kamis (22/11). Dalam kondisi tertentu seperti saat ini, penyelenggaraan akan diambil alih oleh PP FPTI. Ia melanjutkan bila pemindahan venue merupakan hal lumrah karena secara berkala, selalu dilakukan review mengenai kesiapan daerah yang bersangkutan. Dan, Solo dipilih, menurut Pristiawan, karena dinilai memiliki venue yang layak untuk penyelenggaraan kejurnas. “Kejurnas ini akan menggelar 18 nomor lomba,” terangnya. Adapun 18 nomor yang dipertandingkan yakni lead perorangan putra (pa), lead perorangan putri (pi), lead tim (pa), lead tim (pi), speed world record (WR) perorangan (pa), speed WR perorangan (pi), speed WR tim relay (pa), speed WR relay (pi). Lalu, boulder perorangan (pa), boulder perorangan (pi), speed klasik perorangan (pa), speed klasik perorangan (pi), speed track perorangan (pa), speed track perorangan (pi), combined perorangan (pa), dan combined perorangan (pi). Pristiawan menambahkan Kejurnas ini akan berlangsung ketat. “Atlet top juga akan turun termasuk atlet nasional yang mewakili Indonesia di Asian Games 2018. Mereka akan mewakili daerah mereka masing-masing,” ungkapnya. Bahkan, Pristiawan optimistis Kejurnas ini menyajikan kompetisi yang ketat dan seru. Sebagai event tertinggi nasional dan bergengsi, tiap daerah diharapkan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Sementara itu, Her Suprabu, Ketua Umum FPTI Solo, menyebut sebagai tuan rumah, FPTI Solo siap menjamin kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan Kejurnas ini. “Untuk venue, kami sudah siap, dan lokasi sekarang lebih luas. Rekomendasi dari PP FPTI juga kami penuhi agar penyelenggaraan sukses,” cetusnya. Disisi lain, terang Suprabu, FPTI Solo juga akan memberikan sentuhan khas Solo dalam pelaksanaan. Dalam Kejurnas itu akan ada bazar makanan, cenderamata, dan oleh-oleh khas Solo. “Dari sisi atlet, ada tiga atlet Solo yang akan ikut serta, salah satunya Alfian M Fajri. Alfian ini merupakan atlet nasional. Kami harapkan dia dan atlet lainnya bisa memberikan prestasi yang terbaik,” tukas Suprabu. (Adt)

Shindoka Gelar Seminar Kata dan Kejuaraan Junior-Senior, Pada APSKF ke-15 di Kelapa Gading

Ketua Perguruan Shindoka Sumut, Zulkarnain (paling kiri), bersama kelima atlet binaanya, yang akan memperkuat Indonesia di Asia Pasific Shitoryu Karate Federation (APSKF) 2018 pada 22-24 November 2018, di Mahaka Mall Sport, Kelapa Gading, Jakarta. (tribunnews)

Jakarta- Perguruan Shitoryu Indonesia Karate-Do (Shindoka) menggelar seminar nomor kata dan Kejuaraan APSKF 2018, dalam rangkaian acara Asia Pacific Shitoryu Karate Federation (APSKF) ke-15 di Britama Arena Mahaka Square, Kelapa Gading, Jakarta, 21-24 November. Tak tanggung-tanggung seminar kata yang digelar pada hari pertama perhelatam APSKF Ke-15, Rabu (21/11), itu dipimpin Direktur Teknik APSKF Sensei Kyoshi Sakamoto, pemilik Dan 8 Shitoryu. “Ini program penyeragaman kata. Khususnya nomor kata pappuren,” ujar Ketua Umum PB Shindoka Iwan Setiawan di sela-sela seminar kata. Seminar kata diikuti lebih dari 70 karateka dari 16 negara. Yang menarik, event seminar ini juga dihadiri para petinggi Shitoryu. Di antaranya Guru Besar Sithoryu Soke Ken Yu Mabuni, Presiden WSKF Genzo Iwata, dan Presiden APSKF Sensei George Tan. Menurut Iwan, setiap perhelatan APSKF, panitia selalu menggelar seminar kata seperti itu. Ini penting agar para karateka shitoryu di seluruh dunia, mampu memahami perkembangan teknik kata mereka. “Kebetulan di event APSKF ke-15 ini, kami menggelar seminar nomor kata pappuren, termasuk Bunkainya. Kami berharap karateka shitoryu di seluruh dunia bisa mempelajari nomor kata ini dengan baik,” ujar Iwan. Setelah seminar kata, pada hari yang sama Shindoka juga menggelar Referee & Coaches Clinic, di Ballroom Hotel Santika, Kelapa Gading. Termasuk pula ujian wasit juri. Sementara perhelatan Kejuaraan APSKF Ke-15 akan dilangsungkan pada 23-24 November, di Mahaka Mall Sport, Kelapa Gading, Jakarta. PB Shindoka mengikutsertakan lima karateka Shindoka Sumut memperkuat Tim Karate Shindoka Indonesia. Kejuaraan karate khusus Shitoryu tingkat Asia Pasifik ini tercatat akan diikuti 14 negara, termasuk Jepang, yang turun di semua kelas dan kategori, serta memilih Indonesia sebagai tuan rumah tahun ini. Kelima atlet Sumut itu yakni M. Dhijey Lexie (pra pemula 10-11 tahun), Azizul Akbar Lubis (kategori pemula 12-13 tahun), Ruth Meilani Hutabarat (pemula 12-13 tahun), Nicky Dwi Oktari (senior 18 tahun) dan Nur Intan (senior 18 tahun) Kelima atlet terbaik Shindoka itu didampingi pelatih Zeffry Nico Budiman ST, Ichwan Helmi Nasution SH, dan Fachri, serta turut mengirimkan seorang wasit Bambang Eko Prastiyo. “Kami dari Perguruan Shindoka Sumut merasa berbangga, sebab ini menunjukkan pembinaan yang sudah dilakukan dalam kurun tiga tahun terakhir ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan,” ungkap Ketua Perguruan Shindoka Sumut, Zulkarnain, pada Rabu (21/11). Dijelaskannya, kelima karateka yang dikirim tersebut merupakan atlet yang meraih juara dalam Kejurnas Shindoka beberapa waktu lalu dan dipilih berdasarkan perkembangan prestasi yang dipantau sebelumnya. “Perguruan Shindoka juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak yang ikut memberikan dukungan bagi perkembangan Shindoka di Sumut termasuk FORKI Medan dan Sumut,” tegasnya. Zulkarnain juga menyampaikan, karateka putri terbaik binaanya, Nicky Dwi Oktari, setelah mengikuti APSKF ini juga langsung akan dipersiapkan PB FORKI untuk mengikuti seri kejuaraan dunia karate APSKF, di Cina, pada Desember mendatang. (Adt)

Kampiun Nomor Speed World Record, Indonesia Sukses Jaga Tradisi Medali Emas Asian Championship

Atlet panjat tebing Merah Putih, Alfian M. Fajri (kiri), dan Agustina Sari, jadi kampiun nomor speed world record perorangan putra dan putri, di Asian Championship 2018, di Kurayoshi, Prefecture Tottori, Jepang, pada Sabtu (10/11). (FPTI)

Tottori- Atlet panjat tebing Merah Putih Alfian M. Fajri dan Agustina Sari, jadi kampiun nomor speed world record perorangan putra dan putri, di Kurayoshi, Prefecture Tottori, Jepang, pada Sabtu (10/11). Torehan gemilang di ajang Asian Championship 2018 itu, membuat Indonesia sukses mempertahankan tradisi medali emas. Di laga puncak, Alfian keluar sebagai yang tercepat, setelah di big final mengalahkan kompatriotnya Sabri, dengan unggul selisih waktu yang tipis. Atlet kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 18 Januari 1997 itu, mencatatkan waktu 5,883 detik atau 0,003 detik lebih cepat dari Sabri yang mencatatkan waktu 5,886 detik. “Saya berusaha keras menjaga fokus. Siapa pun lawan saya, saya retap fokus sehingga saya bisa berada di podium tertinggi,” ujar Alfian seperti keterangan yang diterima redaksi nysnmedia, pada Minggu (11/11). Hasil positif yang ditorehkan Alfian itu mengulang prestasi ciamik pada 2010. Ia yang ketika itu masih bermain di Asian Youth Championship di Singapura, juga sukses merebut emas nomor speed perorangan putra. Sedangkan peringkat ketiga nomor speed world record putra, direbut Aspar Jaelolo, yang juga mengalahkan rekan senegara, Veddriq Leonardo. Sementara itu, di nomor speed world record perorangan putri, Agustina mampu menjadi yang tercepat, setelah dalam big final mengalahkan Yi Ling Song, dengan catatan waktu 8,366 detik berbanding 9,151 detik. “Asian Games memberi pelajaran saya dan saya memperbaikinya di Asian Championship 2018. (Medali emas) ini untuk Indonesia,” cetus Agustina usai pertandingan. Dan Aries Susanti Rahayu, kali ini harus puas berada di peringkat ketiga. Melawan Nurul Iqamah, atlet berjuluk Spiderwoman Grobogan itu, berhasil membukukan waktu 7, 816 detik berbanding 9,717 detik. Pristiawan Buntoro, Manager Timnas Asian Championship 2018, menyebut kesuksesan merebut emas di nomor speed merupakan target untuk menjaga tradisi. “Tradisi kita kan emas untuk nomor speed. Dan, Alhamdulillah itu tercapai. Sekarang waktunya fokus menyiapkan diri untuk kualifikasi pra olympic Tokyo 2020,” tukas Pristiawan. (Adt)

Gagal Sumbang Medali di Kejuaraan Dunia WKF Spanyol, Peringkat Karateka 20 Tahun Ini Diyakini Naik Signifikan

Meski Rifki Ardiansyah Arrosyiid (sabuk merah) takluk di tangan karateka asal Latvia, Kalvis Kalnins 0-2, dalam kondisi cedera kaki kanan pada Rabu (7/11), ia diyakini berpeluang besar menambah peringkat dunianya, karena berhasil lima kali tampil dalam Kejuaraan Dunia WKF, di Madrid, Spanyol. (Koran SINDO)

Madrid- Meski gagal merebut medali, dua karate Indonesia berpeluang besar naik peringkat dunianya karena berhasil lima kali tampil di Kejuaraan Dunia WKF di Madrid, Spanyol. Mereka adalah Cokorda Istri Agung Sanistyarani dan Rifki Ardiansyah Arrosyiid. Cokie, panggilan Cokorda Istri Agung Sanistyarani misalnya, mampu lolos babak perempat final kumite -55 kg putri pada laga hari kedua, Rabu (7/11) waktu setempat. Pada babak pertama, karateka peringkat 16 dunia itu menaklukkan karateka Selandia Baru, Alison Oliver dengan skor 6-3. Di babak kedua, menundukkan andalan Israel Rotem Efroni 2-1, dan babak ketiga mengalahkan Jovana Georgieva asal Makedonia, dengan skor 1-0. Bahkan, pada babak keempat dia tampil menggila dengan menghabisi karateka Slovakia, Viktoria Semanikova 5-4. Sayangnya pada babak perempat final, peraih medali perunggu Asian Games 2018 Jakarta-Palembang itu gagal memanfaatkan momentum kemenangan. Dia justru takluk di tangan karateka Jepang, Sara Yamada dengan skor telak 0-4. Padahal, andai bisa bertahan, bukan mustahil wanita kelahiran Klungkung, Bali, 31 Desember 1994 ini, memecahkan rekor medali perunggu kejuaraan dunia yang pernah dicatatkan Dony Dharmawan, pada Kejuaraan Dunia WKF di Finlandia, pada 2006. Yang lebih sial lagi, langkah Yamada pun terhenti di babak semifinal, usai takluk dari karateka Polandia, Dorota Banaszczyk, dengan hantei usai kedudukan 0-0. Alhasil, harapan Cokie mendapatkan babak repechage, guna memperebutkan medali perunggu pun hilang seketika. “Saya kurang beruntung, karena karateka Jepang yang mengalahkan saya, justru kalah hantei dari lawannya,” ujar Cokie, di Madrid. Kondisi sama dialami Rifki, peraih emas Asian Games 2018. Pemilik peringkat 128 WKF itu, juga gagal merebut medali di kejuaraan dunia ini. Pemuda kelahiran Surabaya 24 Desember 1997 ini, menyerah pada pertandingan ketiga babak repechage kumite kelas -60 kg putra. Dia takluk di tangan karateka asal Latvia, Kalvis Kalnins 0-2, dalam kondisi cedera kaki kanan. Jika sanggup menahan serangan Kalnins, anggota TNI AD ini dipastikan menjejaki prestasi Dony. Apalagi, Rifki hanya tinggal selangkah mewujudkan ambisi itu. Pada babak pertama repechage, ia menang hanshoku atas karateka Kroasia, Kristijan Lackovic, dan menyudahi karateka Inggris, Cuba Parris. Babak repechage didapatnya, paska menundukkan peringkat 5 dunia asal Brasil, Douglas Brose, pada babak kedua. Sayang, dia gagal memanfaatkan momentum usai ditekuk karateka Jepang, Naoto Sago, dengan skor akhir 1-6. “Sebetulnya saya optimistis, dia bisa merebut medali perunggu, jika melewati karateka Latvia itu. Tapi, karena lutut Rifki cedera, dia sulit mengatasi ketertinggalan poin dari Kalnins,” ujar Pelatih Kepala, Syamsuddin. Meski begitu, Syamsuddin yakin, pencapaian Rifki akan mengatrol peringkat dunianya yang saat ini 128 WKF. Sebab, poin yang disediakan pada kejuaraan dunia ini, merupakan yang tertinggi, dari kejuaraan-kejuaraan WKF lainnya, seperti WKF Premier League dan Seri A. Fakta menunjukkan, setelah Rifki lima kali tampil di Kejuaraan WKF Seri A, di Santiago, Chile, September lalu, peringkat dunia prajurit yang berpangkat sersan satu TNI ini langsung melesat, dari 329 WKF menjadi 128 WKF. “Saya sangat yakin, peringkat Cokie maupun Rifki, bakal naik signifikan, hasil lima kali penampilan mereka di Madrid. Dan, bukan mustahil, rankingnya langsung masuk 50 besar WKF. Ini jadi bekal positif mendapatkan tiket ke Olimpiade 2020 Tokyo,” jelasnya. Syamsuddin mengatakan, untuk lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, setiap karateka harus bisa masuk peringkat 100 besar dunia pada 2018. Sementara pada 2019, mereka harus lolos ke 50 besar dunia, guna mengamankan tiket ajang mulitievent dunia itu. Selain Rifki dan Cokie yang bertanding pada hari kedua kejuaraan dunia karate di Madrid, dua karateka Indonesia lain juga turut tampil. Mereka adalah Sandi Firmansyah (kumite -75 kg putra) dan Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg putri). Namun, langkah mereka tak seberuntung Cokie dan Rifki. Sandi kalah dari karateka nomor 5 dunia asal Jepang, Ken Nishimura 0-3 pada babak pertama, sementara Sari harus takluk di tangan karateka dari Aljazair, Imane Taleb 0-5 pada babak kedua. Sebelumnya, pada babak pertama, Sari unggul atas karateka Bulgaria, Kristina Svilenova 3-1. (art)

Ranking Satu Dunia Ramaikan Persaingan, Indonesian Masters 2018 Ajang Timba Pengalaman Pegolf Amatir Indonesia

Turnamen golf Indonesia Masters 2018, di Royale Jakarta Golf Club, Jakarta Timur, 13-16 Desember mendatang, bakal semarak dengan kehadiran pegolf nomor satu dunia Justin Rose (Inggris), dan Henrik Stenson (Swedia). (Adt/NYSN)

Jakarta- Pegolf nomor satu dunia Justin Rose (Inggris) dan Henrik Stenson (Swedia) memastikan kehadirannya di turnamen golf Indonesian Masters 2018, di Royale Jakarta Golf Club, Jakarta Timur, pada 13-16 Desember. Mereka akan terlibat persaingan sengit dengan pegolf negara lain, seperti India, Korea, Thailand, dan tuan rumah Indonesia, guna memperebutkan total hadiah 750.000 dollar Amerika Serikat (AS). Justin Rose merupakan pegolf nomor satu dunia, sekaligus juara bertahan di Indonesian Masters. Ia merupakan pemegang medali emas Olimpiade Musim Panas 2016, Rio de Janeiro, Brasil. Sedangkan Henrik Stenson adalah pegolf pertama Swedia yang menjuarai turnamen Major, saat sukses meraih kemenangan pada Open Championship 2016, di Royal Troon. Dan, pada 2013, Stenson meraih FedEx Cup di U.S PGA Tour dan Race to Dubai di European Tour, serta menjadi pegolf pertama yang mengawinkan dua trofi dan melakukannya di tahun yang sama. Ia juga pemegang medali perak Olimpiade Musim Panas 2016, Rio de Janeiro, Brasil. “Tahun ini, Indonesian Masters sangat spesial, dan beruntung kami bisa menghadirkan Justin Rose. Kebetulan minggu ini dia jadi pegolf nomor satu di dunia. Jadi suatu kebanggan buat kami, dia mau datang,” ujar Jimmy Masrin, Founder Indonesian Masters dan Chairman of Asian Tour, di Jakarta, pada Rabu (7/11). Menurutnya, untuk pertama kali Indonesian Masters selama penyelenggaraan kedelapan kalinya ini menghadirkan pemain nomor satu dunia, sehingga membuat kompetisi menjadi sangat sulit bagi pegolf Indonesia dan pegolf negara lain. “Di Indonesian Masters ini Indonesia mendapat alokasi 24 nama pegolf, yakni 20 pegolf profesional dan 4 pegolf amatir. Kalau dilihat kualitas pegolf Indonesia makin meningkat dari setiap pelaksanaan turnamen ini,” lanjutnya. “Bagi pegolf amatir Indonesia, turnamen ini juga menjadi tantangan tersendiri, sekaligus untuk menimba pengalaman dari pegolf-pegolf terbaik di dunia. Karena selama ini mereka juga sudah memiliki kesempatan bermain di skala lokal, regional, hingga internasional,” tambah Jimmy. Indonesian Masters akan diikuti 144 pegolf dari seluruh dunia. Dan juara klasemen Habitat for Humanity (Order of Merit Asian Tour) dinobatkan pada Indonesian Masters, serta juara turnamen tahun ini akan mendapatkan kesempatan bertanding di WGC-FedEx St. Jude Invitational pada Juli tahun depan. Sementara itu, Tambok P. Setyawati, Direktur Retail Banking Bank Negara Indonesia (BNI), mengaku bangga Bank BNI bisa mensponsori turnamen ini. “Turnamen ini merupakan salah satu kompetisi olahraga internasional utama di negara ini, dan event yang sempurna bagi kami untuk ikut terlibat,” tukas Setyawati. (Adt)

Timnas Indonesia Bertolak ke Madrid, Karateka 20 Tahun Juara Asian Games Berburu Poin Ke Olimpiade 2020 Tokyo

Karateka Indonesia, Rifki Ardiansyah (sabuk merah) bersama tujuh atlet Tim Nasional (Timnas) lainnya, bertolak ke Madrid, Spanyol, guna mengikuti Kejuaraan Dunia Karate (WKF) 2018, pada 6-11 November. Mereka akan berjuang merebut poin demi menjaga peluang tampil di Olimpiade 2020 Tokyo. (sindonews.com)

Jakarta- Delapan karateka Tim Nasional (Timnas) Indonesia bertolak ke Madrid, Spanyol, Sabtu (3/11), guna bertanding di Kejuaraan Dunia Karate (WKF) 2018, pada 6-11 November. Mereka akan berjuang merebut poin demi menjaga peluang tampil di Olimpiade 2020 Tokyo. Dilansir sindonews.com, Kejuaraan dunia di Madrid ini menjadi perhatian utama FORKI karena memiliki torehan poin terbesar, di antara kejuaraan-kejuaraan WKF lainnya. Itu pula yang membuat Indonesia, berharap banyak dari kejuaraan dunia 2018 ini. “Target kami adalah tampil di Olimpiade 2020 Tokyo. Karena itu, kami akan berusaha ikut di ajang yang menyediakan poin cukup banyak, seperti kejuaraan dunia ini. Bahkan, bisa tampil di kejuaraan ini saja sudah mendapat poin, apalagi meraih prestasi medali, tentu poinnya lebih besar lagi,” ujar pelatih Timnas Indonesia, Syamsuddin. Syarat tampil di Olimpiade 2020 Tokyo, para karateka harus masuk peringkat 100 besar WKF. Jika tidak, mereka tak akan bisa merasakan aura Olimpiade. Karena itu, Forki terus menjaga peluang para karatekanya, dengan memberinya kesempatan tampil di ajang-ajang WKF, baik kejuaraan dunia, WKF Premier League, maupun Seri A. Bahkan, setelah kejuaraan dunia di Madrid, Forki juga kembali menurunkan beberapa karatekanya, di Kejuaraan Seri A di Shanghai, China, pada Desember nanti. Upaya Forki menurunkan karatekanya di event-event penting WKF, mendapatkan hasil yang lumayan. Rifki Ardiansyah Arrosyiid misalnya. Saat menjadi juara Asian Games 2018, peringkatnya hanya 329 WKF. Namun, setelah 5 kali bertanding di ajang Seri A di Chile, awal September lalu, anggota TNI kelahiran Surabaya 24 Desember 1997 ini, langsung meroket ke posisi 128 WKF. “Peringkat Rifki naik pesat jelas luar biasa. Kami harap, dia segera masuk 100 besar, untuk mendapatan peluang tampil di Olimpiade. Dan itu bisa terwujud jika dia main bagus di Kejuaraan Dunia Madrid,” ujar Syamsuddin, yang mendampingi Rifky saat bertanding di Chile. Hal senada disampaikan pelatih kata Omita Olga Ompi. Dia pun berharap dua karateka nomor kata yang akan tampil di Kejuaraan Dunia Madrid, turut meraih poin maksimal. Itu untuk menjaga peluang mereka lolos Olimpiade 2020 Tokyo. Saat ini, dua karateka kata Indonesa yang dipersiapkan ke Madrid, peringkatnya masih di 100 besar WKF. Ahmad Zigi Zaresta Yuda menempati peringkat 31 WKF, sementara Nawar Kautsar Mastura di 77 WKF. “Tapi, mereka harus berusaha menaikkan performanya agar peringkatnya tak tergeser karateka-karateka dunia lainnya. Kami berharap mereka tetap fokus berlatih dan memanfaatkan peluang poin di kejuaraan dunia WKF,” ujar Omita. Untuk menjaga itu, proses latihan disiplin tentu menjadi hal yang sangat penting bagi mereka. Jika mereka tidak mengikuti aturan yang ditetapkan manajer tim, itu akan berdampak pada performa mereka. “Mereka harus mengikuti aturan tim seperti jadwal latihan teknik kapan, latihan fisik berapa kali, serta makan dan pola tidur yang disiplin. Program itu dibuat agar mereka bisa peak saat tampil di event-event tertentu,” ujar Manajer Timnas Karate, Monang Napitupulu. Jack, panggilan akrab Monang, menegaskan, sejauh ini tim karate sudah berlatih teknik secara maksimal, di lokasi Pelatnas di Gloria Suites, Grogol, Jakarta. Sementara latihan fisik, rutin dilakukan dua kali dalam sepekan, di Hotel Peninsula, Jakarta Selatan. (Adt) Skuat Timnas Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia 2917 di Madrid, Spanyol Peraih medali emas kumite -61 kg putra Asian Games 2018, Rifki Ardiansyah Arrosyiid (128 WKF), Peraih medali perunggu kata perorangan putra Asian Games 2018, Ahmad Zigi Zaresta Yuda (31 WKF), Peraih medali perunggu kumite -55 kg putri Asian Games 2018, Cok Istri Agung Sanistyarani (17 WKF), Sandi Firmansyah (kumite -75 kg putra, 75 WKF), Nawar Kautsar Mastura (kata perorangan putri, 77 WKF), Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg putri, 10 WKF), Dessyinta Rakawuni Banurea (kumite +68 kg putri, 54 WKF), Daniel Hutapea (U-21),

Atlet Termuda Timnas Anggar Asian Games Asal Kaltim Sabet Emas Kejurnas 2018, IKASI DKI Akui Minim Skuat Junior

Ketua Pengprov IKASI Kaltim, Muslimin bersama para atlet peraih medali Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Anggar 2018 di GBK Arena, Senayan, pada Sabtu (3/11). Eks atlet Asian Games 2018 yang baru berusia 16 tahun, Gabhy Novitha (hijab hitam), berhasil menyabet medali emas, untuk kategori Sabel putri junior. (tribunnews.com)

Jakarta– Pengurus Provinsi (Pengrov) Ikatan Anggar DKI Jakarta mengirim 80 atlet pada Kejuaraan Nasional di GBK Arena, Senayan, 1–4 November. Tim anggar Ibu Kota menargetkan dua medali emas di kejuaraan itu. Ketua Ikatan Anggar DKI Jakarta M Suradji mengatakan tak ingin muluk-muluk target timnya di kejurnas tersebut. Apalagi, ini merupakan agenda keduanya setelah terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Anggar DKI Jakarta periode 2018–2022, Oktober lalu. Bahkan, mereka juga tak diperkuat beberapa atlet andalannya, termasuk Inka Mayasari (senior foil putri). “Pengurus kami baru saja dibentuk. Jadi, kami realistis saja bahwa target kami dua medali emas di kejurnas ini. Apalagi, dua pemain andalan kami tidak tampil karena sedang berada di Amerika Serikat,” kata M Suradji. Meski begitu, Suradji mengatakan DKI tetap berpeluang meraih medali emas di ajang itu. Dia berharap mendapatkannya dari nomor EP senior putra, dan foil kaadet pemula. Sementara nomor lainnya masih didominasi daerah lain seperti Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Selain itu, Suradji juga menambahkan jika atlet anggar DKI ini merupakan dari hasil se leksi dari Kejuaraan Provinsi DKI Jakarta, 27–28 Oktober lalu. Jadi, kejuaraan nasional ini, nantinya akan menjadi kesempatan mereka membuktikan yang terbaik agar bisa membela DKI Jakarta di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua. “Para atlet ini, kami seleksi dari kejurprov akhir Oktober lalu. Atlet ini yang menjadi cikal-bakal skuat PON 2020 di Papua,” kata Suradji, didamping Sekjen Ganefiono. Suradji mengakui terjadi kekosongan atlet anggar dari level junior ke senior. Hal inilah menjadi tugas pengurus baru untuk mengisi kekosongan tersebut. “Di sini atlet masih banyak yang butuh peningkatan. Kekosongan level junior ke senior juga sangat terbatas,” ungkapnya. Sementara itu, atlet Ikasi Kalimantan Timur (Kaltim), tampil apik pada Sabtu (3/11). Sejauh ini empat atlet Kaltim sukses menembus zona medali. Bahkan eks atlet Asian Games 2018, Gabhy Novitha, berhasil menyabet medali emas, untuk kategori Sabel putri junior. Disusul Eka yang meraih medali perak sabel putri junior, Agnes meraih perak kadet degen Putri, dan Risnu Affan dengan medali perunggu foil kadet putra. Pada Kejurnas ini, Ikasi Kaltim mengirimkan full tim 48 atlet, termasuk 12 junior dan 12 senior. Sekedar catatan, Gabhy berhasil menembus timnas Anggar Indonesia di ajang Asian Games 2018, dengan usia terbilang masih sangat belia, 16 tahun. Perjalanan menuju Asian Games memang tak mudah, bagi atlet yang saat ini masih berstatus siswi Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI) Kaltim ini. Dara kelahiran Samarinda 2002 harus melewati sejumlah tantangan mulai kategori kadet, junior, hingga senior. Ia Terlahir dari darah atlet, lantaran ibunya berstatus atlet anggar Kaltim PON 2016. Bakat besar Gabhy sudah tercium sejak 2015 lalu, usai sukses menyabet 3 medali emas, di Kejuaraan Thailand Sport School Game. (Adt)

Genjot Kualitas Atlet, Kei Shin Kan Segera Perbanyak Event Nasional Dan Junior

Karateka Kei Shin Kan asal Jawa Barat, Silvani Anjela (16 tahun), menjadi juara best of the best kadet-junior Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kei Shin Kan edisi ketujuh 2018. Juara kumite -53 kg junior putri itu jadi yang terbaik, usai menekuk karateka juara kelas 48 kg putri junior asal Sumatera Utara, Nadya Zaskia Harahap. (sindonews.com)

Jakarta- Perguruan Karate Kei Shin Kan akan terus meningkatkan kualitas karatekanya dengan memperbanyak event nasional. Bahkan, usai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kei Shin Kan edisi ketujuh 2018 di GOR Cempaka Putih, Jakarta, Minggu (28/10), mereka menetapkan DI Yogyakarta (DIY), sebagai tuan rumah berikutnya dua tahun mendatang. “Ini bagian dari pembinaan kontinu yang kami lakukan. DIY akan menjadi tuan rumah kejurnas berikutnya,” ujar Ketua Umum PP Kei Shin Kan Leonard Mamahit. Ia meyakini dengan banyak event yang digelar perguruan, itu membantu proses peningkatan kualitas karateka. Mereka memperoleh pengalaman bertanding dari berbagai karakter karateka. ”Kami berharap Yogyakarta siap dan mampu menggelar event dengan lebih baik lagi,” ujar Sekjen PP Kei Shin Kan Bahari, yang juga Ketua Panitia Kejurnas Kei Shinkan VII. Kejurnas Kei Shin Kan VII pada 27-28 Oktober berlangsung sangat ketat. Terbukti, event ini diikuti 412 karateka dari 14 provinsi. Kejuaraan itu mempertandingkan 87 nomor kata dan kumite putra putri dalam tujuh kategori junior dan dua senior, yakni kategori prausia dini (6-7 tahun), usia dini (8-9 tahun), pra pemula (10-11 tahun), pemula (12-13 tahun), kadet (14-15 tahun), junior (16-17 tahun), U-21 (18-20 tahun), senior (>20 tahun), dan veteran. Pada event itu, tim Kei Shin Kan Jawa Barat, tampil sebagai yang terbaik dengan 31 medali emas, 30 perak, dan 35 perunggu. Posisi kedua direbut tim Kei Shin Kan Sumatera Utara, yang meraih 20 medali emas, 9 perak, dan 11 perunggu. Tuan rumah DKI Jakarta, menempati posisi ketiga dengan 4 emas, 6 perak, dan 22 perunggu. Kesuksesan tim Jawa Barat makin sempurna, dengan penampilan Silvani Anjela (16 tahun), menjadi juara best of the best kadet-junior. Juara kumite -53 kg junior putri itu menjadi yang terbaik, setelah menundukkan karateka juara kelas 48 kg putri junior asal Sumatera Utara, Nadya Zaskia Harahap. Sementara best of the best putra jatuh ke tangan karateka Sumatera Utara, Willy Situmorang. Willy yang sebelumnya sudah menjuarai kelas 76 kg putra junior, menjadi yang terbaik setelah menundukkan rekan setimnya, Muhammad Idil, yang juara kelas 55 kg putra junior. ”Kami berharap kejurnas ini menjadi tambahan pengalaman bagi karateka kami. Kami akan terus membina dan mempersiapkan mereka dengan mengirimkan atlet ke event nasional yang digelar PB Forki maupun event internasional lainnya,” ujar Leonard. Kejurnas Kei Shin Kan 2018 ini juga semakin bermakna berkat kehadiran Ketua Kei Shin Kan Internasional Shihan Kisaku Uchida yang juga pemegang sabuk hitam Dan 8, Ketua Kei Shin Kan Jepang Eiichi Yamazaki (Dan8), serta Ketua Kei Shin Kan Singapura dan Australia. “Dari sisi teknik, saya lihat Kei Shin Kan Indonesia sudah sangat bagus. Kejurnas seperti ini sangat penting untuk mengasah jam terbang dan kemampuan karateka. Karena, dalam mencetak karateka andal diperlukan latihan rutin dan pertandingan kontinu,” kata Shihan Uchida. (Adt)

Triple Gold Spiderwoman Grobogan Aries Susanti Rahayu, Tambah Motivasi Menuju Olimpiade 2020 Tokyo

Atlet panjat tebing kelahiran Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), 21 Maret 1995, Aries Susanti Rahayu, sukses mengukir medali emas ketiga di ajang IFSC Climbing Worldcup, yang kali ini berlangsung di Xiamen, China, pada 27-28 Oktober 2018. (FPTI)

Xianmen- Aries Susanti Rahayu kembali mengukir medali emas di ajang bergengsi dunia IFSC Climbing Worldcup, yang kali berlangsung di Xiamen, China, pada 27-28 Oktober 2018. Sekaligus menjadi medali emas ketiga bagi atlet panjat tebing berjuluk ‘Spiderwoman’ itu di ajang IFSC Climbing Worldcup. Di partai puncak kategori women’s speed, ia menghadapi pemanjat asal Rusia Iuliia Kaplina. Wanita kelahiran Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), 21 Maret 1995, jadi yang tercepat usai membukukan catatan waktu 7,532 detik. Kaplina kalah akibat fall. Posisi ketiga dihuni Anouck Jaubert asal Prancis. Ia mengalahkan pemanjat Rusia Elena Remizova. Jaubert menang dengan mengunci waktu 7,947 detik, sedangkan Remizova 7,995 detik. Prestasi gemilang itu membuat wanita asal Desa Klambu, Kabupaten Grobogan, Jateng itu, makin mantap menyongsong Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Ini memotivasi saya menatap Olimpiade,” ujar Aries, seperti keterangan yang diterima redaksi nysnmedia.com, pada Senin (29/10). Dipertandingan lain, Aspar ‘Babon’ Jaelolo meraih medali perak. Di babak final, ia harus mengakui keunggulan, Bassa Mawem asal Prancis. Catatan waktu kedua atlet ini terpaut tipis. Mawem mampu merebut medali emas usai membukukan waktu 5,600 detik, sedangkan Aspar 5,620 detik. Peringkat ketiga diraih Reza Alipourshena (Iran), dengan catatan 7,600 detik, sedangkan Dmitrii Timofeev dari Rusia, fall. Dijelaskan Aspar, kompetisi di Xiamen sangat luar biasa. Persaingan dalam event ini ketat. Atlet asal DKI Jakarta itu, mengaku kerepotan untuk bisa mengamankan tiket ke babak final. Semua atlet berpeluang menang. “Pertandingan seri terakhir ini luar biasa ketat. Untuk babak final sangat susah. Rata-rata atlet, waktu pemanjatannya 5 detik dan 06,20 detik,” terang pria kelahiran Wani, Sulawesi Tengah, 24 Januari 1988. Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, menyebut para atlet bisa tampil lebih maksimal lagi. “Dibanding dua seri terakhir, (performa atlet) masih bagus seri awal-awal yang diikuti. Sekarang, kami enggak ada Pelatnas lagi. Jadi sifatnya cuma mempertahankan performa saja,” tutur Hendra. Ia menambahkan usai dari Xiamen, China, para atlet kembali ke Tanah Air, sebelum mengikuti kejuaraan Asia. “Kami pulang ke Indonesia dan kurang lebih persiapan tiga hari untuk Asian Champhionship (pada 7-11 November 2018, di Kurayoshi, Jepang),” imbuhnya. Sementara itu, Pristiawan Buntoro, Wakil Ketua II Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menegaskan prestasi ini capaian yang luar biasa. “Sudah on the track dan sah dia (Aries Susanti Rahayu) sebagai pemanjat dunia. Tahun depan dia harus ikut semua seri (IFSC Climbing Worldcup),” cetusnya. Sedangkan Faisol Riza, Ketua Umum PP FPTI, menerangkan kompetisi di luar negeri sangat bermanfaat bagi para atlet Indonesia. “Kemenangan ini makin menunjukkan kesiapan atlet panjat tebing merah putih, untuk berlaga di Olimpiade,” tukas Faisol. (Adt)

Arzeti Bilbina Ikut Etape Surabaya, Sepeda Nusantara 2018 Tingkatkan Kebugaran Masyarakat Indonesia

Kehadiran Arzeti Bilbina, Anggota Komisi X DPR RI, dalam Sepeda Nusantara 2018 Etape Surabaya, Jawa Timur, menambah semarak program unggulan Kemenpora di bawah payung 'Ayo Olahraga', yang dikomandoi Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). (Kemenpora)

Surabaya- Animo tinggi ditunjukkan masyarakat Kota Pahlawan itu terhadap salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah payung ‘Ayo Olahraga’, yang dikomandoi Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Ajang Sepeda Nusantara 2018 Etape Kota Surabaya, Jawa Timur, berlangsung pada Minggu (28/10). Bukan hanya saat bersepeda, pra-acara yang menyuguhkan senam bersama di garis start, yang berpusat di Jalan Wijaya Kusuma Surabaya, juga diikuti oleh ribuan orang yang bergerak dengan serentak. Mereka juga tampak bersemangat mengerakkan tubuhnya saat senam ‘Ayo Olahraga’. Usai senam, para pejabat yang akan ambil bagian sekaligus melakukan seremonial start di ajang ini mendapatkan perhatian besar dari masyarakat. Kehadiran Arzeti Bilbina, Anggota Komisi X DPR RI, juga menjadi perhatian peserta Sepeda Nusantara 2018. “Gini dong, ada yang ikut dari DPR, kalau bisa yang cantik-cantik gini,” celetuk Wawan, salah satu peserta Sepeda Nusantara 2018. Selain Arzeti, adapula Yuni Perwanti (Staf Ahli Kemenpora Bidang Politik), mengibarkan bendera start, tanda dimulainya Sepeda Nusantara 2018 etape Surabaya. Sementara untuk rute menempuh jarak sejauh 25 kilometer melalui Jalan Wijaya Kusuma-Wali Kota Mustajab-Jalan Pemuda-Jalan Panglima Sudirman-Jalan Urip Sumoharjo-Jalan Dr. Soetomo (polisi istimewa). Rute berlanjut ke Jalan Indragiri-Jalan Mayjend Sungkono-Taman Makam Pahlawan. Kemudian, berbelok ke kiri melalui Villa Bukit Mas-Gunung Sari-Kebun Binatang Surabaya (KBS)-Jalan Diponegoro-Pasar kembang-Kedungdoro-Praban-Genteng Kali-Ngemplak, dan finish di Jalan Wijaya Kusuma. Yuni yang hadir mewakili Menpora Imam Nahrawi menegaskan program yang merupakan inisiatif Kemenpora melalui Deputi Pembudayaan Olahraga itu untuk menjawab program ‘Nawacita’ Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang diyakini berdampak positif, sehingga olahraga bisa dijadikan gaya hidup. “Saat ini tingkat kebugaran masyarakat Indonesia usia 10 tahun ke atas belum mencapai target 35 persen. Dengan program ini, kami yakin tingkat kebugaran masyarakat Indonesia bakal terus meningkat,” ungkapnya. Bersepeda, lanjut Yuni, merupakan olahraga yang membutuhkan biaya minim, namun berefek maksimal. Selain bisa mengurangi polusi udara, sepeda juga murah, serta sangat efisian, dan baik untuk kesehatan. “Kami berharap hari bersepeda di waktu-waktu tertentu setiap pekannya, bisa dilakukan oleh daerah. Tak hanya saat Sepeda Nusantara saja. Program ini gunanya ya untuk menstimulus kebijakan tersebut,” tegasnya. Sementara itu, Arzeti yang harus melayani permintaan foto dari ratusan peserta, mengaku senang melihat antusiasme ini. “Tadi ada 5.000-an peserta. Kami sangat senang dan akan terus mendorong program ini bisa berlanjut,” ungkapnya. Sebagai anggota Komisi X, program yang mengolahragakan masyarakat seperti ini menjadi konsentrasi untuk dijalankan dari DPR RI. “Jalan terus, kami akan perjuangkan program ini dan sangat mendukung program yang bisa menyehatkan, membugarkan masyarakat dengan cara yang efisien, seperti Sepeda Nusantara ini,” tukas Arzeti. (Adt)

Melalui Sepeda Nusantara 2018 Etape Salatiga, Bersatu Gelorakan Olahraga Sebagai Gaya Hidup Sehat

Ada yang berbeda pada peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-90, di Salatiga, Jawa Tengah (Jateng). Peringatan hari bersejarah itu disemarakkan dengan digelarnya event Sepeda Nusantara 2018, pada Minggu (28/10). Tampak dua anggota Komisi X DPR RI, yakni Mujib Rohmat dan Jamal Mirdad, melepas seremonial event ini. (Kemenpora)

Salatiga- Ada yang berbeda pada peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-90, pada 2018 ini di Salatiga, Jawa Tengah (Jateng). Sebab, peringatan yang penuh nilai sejarah tersebut disemarakkan dengan digelarnya event Sepeda Nusantara 2018, pada Minggu (28/10). Salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah Menpora Imam Nahrawi itu berhasil menyedot lebih dari 2.000 peserta yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat di kota yang terletak di antara tiga kota besar, yakni Yogyakarta, Solo dan Semarang itu. Dipilihnya Kota Salatiga sebagai lokasi digelarnya Sepeda Nusantara 2018, tepat di HSP ke-90, karena banyaknya jumlah pemuda di kota yang diapit dua gunung terbesar di Jateng, yakni Merapi dan Merbabu. Dan, sekitar 19 komunitas bersepeda di Kota Salatiga ambil bagian pada event ini. Sepeda Nusantara 2018 Etape Salatiga diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan ikrar Sumpah Pemuda, di halaman Lapangan Pancasila, tepat di depan Kantor Wali Kota. Bahkan, kegiatan ini mendapat dukungan langsung dari dua anggota Komisi X DPR RI, yakni Mujib Rohmat dan Jamal Mirdad. “Di dalam UU (Undang-undang) SKN (Sistem Keolahragaan Nasional) itu ada olahraga prestasi dan olahraga rekreasi. Saya sebagai anggota Komisi X, bersama dengan Jamal sangat mendukung kegiatan ini,” terang Mujib. “Kebetulan Salatiga, merupakan salah satu kota Bhineka Tunggal Ika yang penting dalam menciptakan kerukunan masyarakat, melalui olahraga. Lewat olahraga masyarakat lupa dengan ego-nya, sehingga yang ada hanyalah kesatuan dan persatuan,” lanjut Mujib, dan diamini Jamal Mirdad. “Saya berharap dengan berbarengan Hari Sumpah Pemuda ini, masyarakat Salatiga lebih bersatu dalam menggelorakan hidup sehat, olahraga sebagai gaya hidup, salah satunya melalui Sepeda Nusantara ini,” timpal Jamal. Program Sepeda Nusantara 2018 dimaksudkan untuk menuju Indonesia sehat, Indonesia bugar melalui bersepeda, yakni olahraga rekreasi yang selama ini sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak dulu. Sedangkan Dewan, Asisten Deputi Tenaga dan Peningkatan Sumber Daya Pemuda pada Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, menuturkan jika dahulu sepeda menjadi alat transportasi utama bagi masyarakat, saat ini sudah berkembang menjadi alat untuk mendukung olahraga, khususnya olahraga rekreasi. Salatiga merupakan salah satu dari 70 kota. yang disambangi program Sepeda Nusantara 2018. Dengan jarak sepanjang 17 kilometer, etape Salatiga mengambil start dari Lapangan Pancasila, tepat di depan kantor Wali Kota. Para pegowes meluncur ke Jalan Diponegoro, melintasi lingkar Selatan sepanjang 5 kilometer. Kemudian para pegowes akan mendapat tantangan setelah melewati pertigaan Grogol karena rute yang menanjak sekitar 20-30 derajat. Setelah melewati Jalan Hasanuddin, rute mulai menurun saat memasuki pertemuan arus lalu lintas Semarang-Solo. Setelah itu, para pegowes mulai memasuki rute yang datar dan kembali ke Lapangan Pancasila. Sementara itu, Yulianto, Wali Kota Salatiga, mengucapkan terima kasih kepada Kemenpora yang memberi kesempatan kepada Kota Salahtiga untuk menggelar Sepeda Nusantara, tepat di peringatan HSP ke-90. “Karena masyarakat Kota Salahtiga gemar berolahraga. Selain itu, banyak suku bangsa yang tinggal di sini. Ada sekitar 33 suku bangsa yang tinggal di sini. Saya pikir tepat jika Kota Salahtiga dipilih oleh pihak Kemenpora untuk menggelar Sepeda Nusantara, yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda,” tukas Yulianto. (Adt)

Singgah di Kota 1001 Goa, Sepeda Nusantara 2018 Pacu Semangat Atlet Muda Pacitan Lebih Berprestasi

Program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Sepeda Nusantara 2018, di bawah Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga), pada Minggu (28/10), singgah di Kota Pacitan, perbatasan Provinsi Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Tengah (Jateng). (Kemenpora)

Pacitan- Event Sepeda Nusantara 2018 yang menjadi salah satu program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), di bawah Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga), pada Minggu (28/10), singgah di Kota Pacitan, yang merupakan perbatasan Provinsi Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Tengah (Jateng). Event di daerah yang dikenal dengan sebutan Kota 1001 goa itu, dipusatkan di alun-alun Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dan diikuti ribuan masyarakat dari semua umur, sehingga tujuan dari digelarnya kegiatan tersebut yakni membudayakan masyarakat untuk berolahraga tercapai. Indartato, Bupati Pacitan, yang didampingi Sanusi, Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenpora, melepas rombongan besar Sepeda Nusantara di Alun-alun Pacitan, bergerak ke arah timur menyusuri jalan tengah kota dengan jarak tempuh 10 km. Sambutan masyarakat di sepanjang perjalanan sangat tinggi, dan pelaksanaannya bersamaan dengan hari libur. “Kami ucapkan terima kasih kepada pihak Kemenpora yang telah memberi Pacitan kesempatan untuk menggelar event Sepeda Nusantara 2018. Ini penghargaan bagi masyarakat Pacitan,” ujar Indarto saat pelepasan Sepeda Nusantara 2018. “Semoga kegiatan ini bisa lebih memacu semangat masyarakat Pacitanmembudayakan olahraga. Harapan kami kegiatan ini juga memacu semangat atlet muda lebih berprestasi,” lanjutnya. Sebagai kota pesisir yang dikenal dengan wisata alamnya yakni 1001 goa, kota ini juga banyak melahirkan atlet-atlet potensial. Beberapa atlet pebola voli nasional yang saat ini berkiprah di Livoli dan Proliga, datand dari kota ini. Sebut saja Veleg Dhany Ristan Krisnawan dan Novia Andriyanti. Bahkan keduanya masuk skuat Timnas Indonesia di Asian Games XVIII/2018. “Semoga ke depan banyak lagi atlet-atlet muda potensial dari Pacitan. Bibit-bibit sudah ada. Tinggal bagaimana mengasah dan dukungan, termasuk dari pemerintah pusat,” tambah Bupati asal Lorok itu. Sementara itu, Sanusi mengatakan rangkaian Sepeda Nusantara 2018 singgah di 70 Kabupaten/Kota di Indonesia. Puncak pelaksanaan program andalan Kemenpora ini akan digelar di Denpasar, Bali, pada bulan depan. “Sepeda Nusantara salah satu media untuk interaksi semua lapisan masyarakat di Indonesia dan bersinergi dengan baik. Apalagi, pelaksanaan di Pacitan cukup istimewa karena bersama dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda,” ucapnya. Selain itu, terang Sanusi, harapan yang sangat dinantikan adalah kegiatan ini mampu melahirkan banyak atlet-atlet potensial karena regenerasi harus berjalan. Bahkan, pihaknya menilai Pacitan merupakan salah satu wilayah, yang mempunyai banyak peluang untuk mengembangkan olahraga prestasi. (Adt)

Sepeda Nusantara 2018 Sambangi Bandung, Satukan Perbedaan Lewat Olahraga di Hari Sumpah Pemuda

Sepeda Nusantara 2018 menyambangi Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Minggu (28/10). Sekitar 2.500 warga antusias menyemarakkan program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), yang dipusatkan di Plaza Kota Bandung, Jabar. (Kemenpora)

Bandung- Sepeda Nusantara 2018 menyambangi Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Minggu (28/10). Sekitar 2.500 warga tampak antusias menyemarakkan program unggulan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), yang dipusatkan di halaman Plaza Kota Bandung, Jabar. Ribuan peserta menempuh jarak 10 km, dan start dimulai di Plaza Balai Kota Bandung, melalui rute Jalan Asia Afrika-Jalan BKR-Jalan Ramdhan-Jalan Otto Iskandardinata-Jalan Sunda-Jalan RE Marthadinata-Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Wastakuncana, dan kembali ke Plaza Balai Kota Bandung. Hadir sekaligus memeriahkan Sepeda Nusantara 2018, Popong Otje Djunjunan (Anggota Komisi X DPR RI), Oded Muhammad Danial (Wali Kota Bandung), Yana Mulyana (Wakil Wali Kota Bandung), Samsudin (Staf Ahli Kemenpora), dan pejabat di lingkungan Kota Bandung, serta komunitas Germas (Gerakan Masyarakat Sehat). Mengambil tema ‘Bangun Indonesia, Satukan Indonesia’, Sepeda Nusantara 2018 etape Kota Kembang itu betepatan dengan Hari Sumpah Pemuda (HSP). “Anda adalah apa yang Anda makan. Anda katakan dan dilakukan. Hidup kita akan sehat dengan olahraga. Salah satunya dengan bersepeda,” ujar Popong usai melepas pegowes Sepeda Nusantara 2018. Disisi lain, Popong mengapresiasi program Kemenpora lewat Sepeda Nusantara yang digelorakan di seluruh wilayah Indonesia. Ke depan, ia berharap program yang ditujukkan untuk menggelorakan dan membudayakan olahraga di masyarakat itu terus dilakukan. Senada, Oded mengatakan program Sepeda Nusantara sangat penting dalam konteks sosial. Selain bisa menyehatkan masyarakat, menurutnya, Sepeda Nusantara bisa mengikat tali silaturahmi demi persatuan dan kesatuan. Apalagi event ini bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. “Semoga Sepeda Nusantara jadi ajang mengikat tali silaturahmi. Kita akan menghadapi Pilpres (pemilihan presiden dan wakil presiden), dan Pileg (pemilihan legislatif), banyak isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) yang bisa memicu kerawanan sosial. Melalui olahraga bisa menyatukan perbedaan tersebut,” tegas Oded. Antusiasme warga Bandung mengikuti Sepeda Nusantara diapresiasi Samsudin. Dikatakannya, Bandung dikenal dengan warga yang sangat kreatif. Ternyata, terang Samsudin, kunci dari kreatifitas itu adalah rajin berolahraga. “Pesertanya banyak sekali. Orang sering olahraga tentu badannya sehat dan bugar. Kalau badan sehat, kreatifitas muncul. Inilah ciri orang Bandung, yang penuh inovasi dan kreatifitas,” terang Samsudin yang mewakili Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga). Ditambahkannya, program ini secara langsung menyentuh dan mengajak masyarakat berolahraga demi mencapai budaya hidup yang sehat. Sebagaimana tagline Kemenpora, yakni ‘Ayo Olahraga’. Samsudin berharap semangat berolahraga masyarakat di Kota Bandung ini makin bergairah dengan kehadiran program olahraga dari pusat ke daerah-daerah. “Ke depan bentuk kerjasama antara Pemkot (Pemerintah Kota) Bandung dan Kemenpora akan makin terjalin erat. Pada 2019, Sepeda Nusantara semoga tetap dilaksanakan di Kota Bandung,” tuturnya. Sebelumnya, para peserta Sepeda Nusantara 2018 ini diajak senam bersama ‘Ayo Olahraga’, dan dipertunjukkan olahraga tradisional asli Bandung. Setelah finish, ribuan peserta dihibur oleh artis-artis lokal Kota Bandung. Tak hanya itu, beragam hadiah doorprize di antaranya umrah, sepeda, mesin cuci, dan lain-lain, disediakan pihak penyelenggara sealigus menjadi daya tarik event ini. (Adt)

Siswi Cantik SMAN 4 Depok Juara Piala Menpora-Emeralda 2018, Mulai Bidik Slot Skuat Timnas SEA Games 2019

Atlet golf amatir putri Indonesia, Viera Permata Rosada menjuarai Piala Menpora-Emeralda 2018, di lapangan Emeralda Golf Club di Tapos, Depok, Sabtu (27/10). OCha, sapaannya meraih gelar juara turnamen Piala Menpora-Emeralda tahun ketiga itu, usai mengoleksi total 214 pukulan atau dua di bawah par, dalam tiga hari perlombaan pada 25-27 Oktober. (instagram)

Jakarta- Atlet golf amatir putri Indonesia, Viera Permata Rosada, memasang target lolos seleksi tim nasional SEA Games 2019, setelah meraih gelar juara Piala Menpora-Emeralda 2018 yang berlangsung di lapangan Emeralda Golf Club di Tapos, Depok, pada 25-27 Oktober. “Saya ingin masuk tim nasional, karena saat ini saya adalah atlet pelapis kedua. Tapi, saya tak ingin terlalu memikirkan hal itu, karena dapat mempengaruhi permainan saya,” kata Ocha, sapaanya, selepas menerima Piala Menpora-Emeralda 2018, Sabtu. Ia meraih gelar juara Piala Menpora-Emeralda 2018 usai mengoleksi total 214 pukulan atau dua di bawah par dalam tiga hari perlombaan. Pada perlombaan hari pertama Kamis (25/10), Ocha mendapatkan par atau 72 pukulan. Atlet Banten itu mendapatkan birdie masing-masing pada hole tujuh, hole delapan, dan hole 17. Tapi, Ocha juga menemui bogey pada hole satu, hole enam, dan hole 14. Atlet kelahiran Jakarta, 21 Juni 2001 itu, menorehkan 70 pukulan, atau dua di bawah par pada hari kedua, Jumat (26/10). Empat birdie didapatkannya masing-masing pada hole tiga, hole tujuh, hole 12, dan hole 15. Siswi kelas XII SMA Negeri 4 Depok ini menutup turnamen dengan par atau 72 pukulan, pada perlombaan hari ketiga, Sabtu (27/10). Ia meraih masing-masing satu birdie pada hole lima, hole tujuh, dan hole 17, walau mencetak satu bogey pada hole sembilan dan double bogey pada hole enam. “Ini adalah pencapaian terbesar bagi saya, setelah berlatih golf sejak tujuh tahun lalu. Kunci kemenangan saya pada hari kedua dengan main dua di bawah par. Padahal, saya hanya menargetkan par saja,” kata dara yang mulai berlatih golf pada usia 10 tahun itu. Keluarnya Ocha sebagai juara memang tak diduga. Ia mengungguli senior-seniornya yang lebih berpengalaman seperti Marcella Pranovia, dan Nanda Winnet Soraya. Nanda pun harus puas menduduki peringkat kedua, setelah hanya mampu meraih dua over (+2) atau 218 pukulan. Peringkat ketiga diraih oleh Meva Helina Schmit dengan skor yang cukup jauh, delapan over (+8) atau 224 pukulan. Sementara itu, Marcella harus terpental ke peringkat kedelapan dengan skor 14 over (+14) atau 230 pukulan. Ocha mengaku mulai menyukai permainan golf, setelah diperkenalkan cabang olahraga itu oleh ibunya. “Saya diajak driving sama ibu yang menemani klien-nya. Saya mulai memukul bola dan berlanjut sampai sekarang,” ujar atlet yang kerap berlatih kawasan Serpong, Banten itu. Atas prestasinya meraih gelar juara Piala Menpora-Emeralda 2018 itu, Ocha mendapat hadiah berupa keikutsertaan gratis dalam kejuaraan golf tingkat Asia-Pasifik pada 2019. “Saya ingin terus mempertahankan skor di bawah par seperti ini. Saya akan terus berlatih dan menyiapkan mental menghadapi pemain-pemain unggulan,” katanya. Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PGI), I Gusti Putu Gede mengatakan, turnamen Piala Menpora-Emeralda 2018 jadi salah satu ajang uji coba bagi calon-calon atlet tim nasional golf Indonesia jelang SEA Games 2019. “Kejuaraan ini menjadi salah satu ajang uji coba, meski pelatnas SEA Games 2019 belum dimulai secara resmi,” kata Gusti yang menambahkan sebanyak 40 atlet amatir golf nasional berada di bawah pembinaan PB PGI. PB PGI, menurut Gusti, belum dapat menentukan jumlah maupun komposisi atlet yang akan masuk dalam tim nasional menuju SEA Games 2019 menyusul nomor perlombaan cabang golf yang belum ditentukan panitia SEA Games Filipina itu. “Kami tentunya memantau hasil dalam turnamen-turnamen seperti ini serta perkembangan peringkat dunia dari setiap atlet amatir. Kami ingin melihat perkembangan atlet-atlet pelapis juga,” kata Gusti.

Atlet 9 Tahun Kelahiran Kepri, Berpeluang Sabet Juara Gokart Asia 2018 di Malaysia

Pegokart cilik Indonesia andalan tim Gandasari Racing, Aditya Wibowo (9 tahun), berpeluang menjuarai kelas Micro Max seri Rotax Asia Max Challenge (AMC) 2018, di sirkuit Elite Speedway Plus, Subang Jaya, Malaysia, akhir pekan ini. (inilah.com)

Subang Jaya- Pegokart cilik dari Indonesia, Aditya Wibowo, berpeluang menjuarai kelas Micro Max seri Rotax Asia Max Challenge (AMC) 2018. Andalan tim Gandasari Racing kelahiran Tanjungpinang, Kepri, 30 Juli 2009, hanya berselisih 4 poin dari pimpinan klasemen, Ranvir Singh, asal India. Seri 6 yang merupakan penentuan balapan, akan dilangsungkan di sirkuit Elite Speedway Plus, Subang Jaya, Malaysia, pada Sabtu (27/10) dan Minggu (28/10). Peringkat siswa kelas 4 SD Bakti Mulia, Pondok Indah, Jakarta Selatan ini didapat, dengan asumsi menghitung 4 hasil balapan terbaiknya, dari 5 seri yang telah dilangsungkan. Seperti diketahui, regulasi penentuan juara umum AMC 2018, dengan menentukan 5 terbaik hasil balapan, dari total 6 seri yang telah diselesaikan. Dengan demikian, seri 6 pada akhir pekan ini, menjadi sangat menentukan. Saat ini, Ranvir mengumpulkan poin 346 berada pada peringkat pertama, lalu Aditya dengan 342 (kedua), serta pegokart Indonesia lainnya, Kimi Rae Fitriansyah dengan 321 (keempat), dan Calvin Wibowo dengan 316 (keenam). Sebenarnya, dengan perolehan poin yang relatif rapat ini, pegokart di posisi 6 besar, memiliki peluang hampir sama untuk menyandang gelar juara Asia 2018. Hanya saja, Aditya masih berusia 9 tahun ini, paling berpengalaman di antara 3 pegokart, yang berlaga di Micro Max tahun ini. Pada 2016 lalu, Adit, sapaanya, mencuri perhatian kalangan olah raga motor. Meski berusia 7 tahun, ia meraih IMI Award 2016, berkat prestasinya menjuarai sejumlah even gokart tingkat nasional dan level internasional. Salah satunya, menjadi juara nasional termuda kelas Kadet Rok Kejurnas Eshark Rok Cup National Championship 2016. (Adt)

Jelang Kejurnas Anggar Pada November, IKASI DKI Jaya Gelar Kejurprov 27-28 Oktober

Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi) DKI Jaya di bawah komando Ketua Umum Suradji periode 2018-2022 yang terpilih dalam Musprov, segera menggelar Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) pada 27-28 Oktober. (tribunnews.com)

Jakarta- Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi) DKI Jaya di bawah komando Ketua Umum yang baru, Suradji, periode 2018-2022 yang terpilih dalam Musprov, segera menggelar Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) pada 27-28 Oktober. Ketua Pengprov Ikasi DKI Jaya, Suradji mengatakan tujuan kejurprov ini digelar yakni  persiapan kejuaraan nasional (Kejurnas) pada 1-7 November yang akan berlangsung di Jakarta, dan ajang seleksi atlet pelatda menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua. “Kami harus bergerak cepat, karena kami harus mempersiapkan atlet menghadapi kejurnas yang waktunya sudah dekat. Selain itu, kami harus menggelar pelatda menghadapi PON 2020 mendatang,” kata Suradji, di sela-sela Rapat Persiapan Kejurprov di Jakarta, pekan lalu. Kejurprov mempertandingkan nomor, pra-kadet U-12-14 tahun (foil), kadet 14-17 (foil, EP, saber) putra-putri, yunior 17-20 tahun semua nomor, senior 20 tahun ke atas semua nomor. Sementara untuk pembinaan, akan dilangsungkan nomor usia dini di bawah 12 tahun, khusus untuk nomor foil. Sekretaris Umum Pengrov Ikasi DKI Jaya, Ganefiono mengatakan, diharapkan prestasi para atlet DKI Jaya menjadi barometer daerah lainnya. Ia juga mengatakan, khusus untuk Kejurprov ini, atlet SEA Games dan Asian Games, mendapat fasilitas wild card dalam kejurnas nanti. “Selama ini Ikasi DKI Jaya belum memberikan kontribusi yang maksimal untuk DKI Jaya maupun nasional. Namun, dengan kepengurusan baru ini prestasi akan lebih baik. Dan mudah-mudahan permintaan Ketua Umum Ikasi Pusat, agar DKI Jaya menjadi barometer bisa terjawab,” paparnya. (Adt)