Thunder11 dan Sahabat Olahraga Gelar Diskusi, Datangkan Pelatih dan Atlet Peraih Emas Asian Games 2018

Dalam acara forum diskusi terbuka di Bekasi, hadiri Iko Uwais (kaos putih/Founder Thunder11), bersama Wakil Walikota Bekasi, Tri Adhianto (kaos merah) serta Taufik Krisna (Pelatih Atlet Nasional Taekwondo Indonesia), Anis Fuad (CEO Sahabat Olahraga), Defia Rosmaniar (Peraih Medali Emas Asian Games 2018), dan Sandy Suardi (Pelatih Fisik Atlet Nasional Taekwondo Indonesia). (istimewa)

Bekasi- Thunder11 Martial arts yang didirikan oleh Iko Uwais, berkolaborasi bersama Sahabat Olahraga (sahabatolahraga.com), menggelar forum diskusi terbuka bersama ratusan anggota komunitas olahraga dan beladiri di Bekasi, bertajuk Membangun Generasi Emas Indonesia, pada Senin (3/12). Hadir pada acara ini, Founder Thunder11 Martial Arts Iko Uwais yang baru saja menyelesaikan Musim Pertama Serial Televisi Netflix, berujudul Wu Assassins, mengatakan diskusi ini merupakan wujud nyata dari kontribusi Thunder11, untuk masyarakat Bekasi. “Berdiri pertama kali di kota yang tumbuh dengan sangat pesat, kami berharap Thunder11 mampu menjadi katalis pertumbuhan budaya beladiri dalam masyarakat Bekasi. Salah satu dari katalisasi tersebut adalah event ini yang mampu mengumpulkan para praktisi di bidang beladiri,” ujar Iko. Iko juga turut memberi apresiasinya pada atlet dan pelatih peraih emas cabang beladiri Asian Games 2018, yang hadir dan berbagi materi cerita suskses sebagai motivasi kepada para peserta yang telah hadir. Peraih medali emas nomor poomsae individu putri Asian Games 2018, Defia Rosmaniar, Taufik Krisna (Pelatih Taekwondo Timnas Indonesia nomor kyorugi putri) dan Sandy Suardi (Pelatih Fisik Timnas Taekwondo), tampak dalam diskusi ini. Berlangsung di Hotel Horison Ultima, Bekasi, acara ini dibuka oleh Wakil Walikota Bekasi, Tri Adhianto, didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Bekasi, Tedy Hafni. “Sebagai kota yang berkembang pesat, Bekasi butuh sumber daya manusia yang unggul dan tangguh. Kami butuh lebih banyak generasi emas demi menunjang semua hal itu. Saya optimis bahwa dengan kolaborasi berbagai pihak termasuk hari ini bersama Thunder11 dan Sahabat Olahraga, Kota Bekasi dapat semakin melaju cepat,” ujar Tri. Selama sesi berlangsung, Defia yang hadir sebagai salah satu pembicara, mengutarakan jika perjalanannya meraih emas bukanlah perjalanan yang singkat dan mudah karena membutuhkan semangat juang yang tak kenal lelah. “Sempat saya merasa ingin berhenti kalau sedang latihan, apalagi menjelang kompetisi. Tapi, demi sebuah tujuan yaitu mengharumkan nama bangsa, saya teruskan berlatih sampai saya bisa memetik susesnya suatu saat nanti,” ujar Defia, mengenai kunci suksesnya. Setelah perhelatan pertama ini, Thunder11 juga akan mengadakan sesi diskusi selanjutnya dengan tema serta pembica yang berbeda untuk mendukung majunya martial arts Indonesia. (Pras/NYSN)

Loloskan Tiga Petinju Ke Final, Indonesia Sabet Dua Medali Emas di China

Tim tinju Indonesia akhirnya berhasil menyabet dua medali emas dalam kejuaraan tinju "The Belt and Road China-ASEAN Boxing Championship" di Kota Nanning, Guangxi, China, yang berlangsung pada 24-25 November 2018. (beritabali.com)

Denpasar- Tim tinju Indonesia berhasil menyabet dua medali emas dalam kejuaraan tinju “The Belt and Road China-ASEAN Boxing Championship” di Kota Nanning, Guangxi, China. Mereka bertolak ke Tiongkok atas undangan AIBA (Association Internationale de Boxe Amateur, badan tinju yang menaungi tinju amatir sedunia). Tim Indonesia berjumlah tiga orang yakni Gregorius Gheda Dende (64 kg), Kornelis Kwangu Langu (56 kg), dan Aldriani Beatrix Suguro (51 kg putri), serta pelatih Denisius Agustinus Hitarihun. “Mereka yakni Beatrichx (putri) dan Kornelis, sementara Gheda Dende meraih perak usai kalah dari petinju tuan rumah (Tiongkok),” kata Manajer Tim Tinju Indonesia yang juga Ketua PD Pertina Denpasar, Bali, Made Muliawan Arya di China, pada Senin (26/11). Muliawan Arya yang akrab dipanggil De Gadjah menjelaskan, di pertarungan sebelumnya Beatrichx berhadapan dengan Li Mingyan (China), sedangkan Kornelis bertarung dengan Muhmad Hafisz Bin Ahma (Singapura). Adapun Gheda melawan Ocana Sugar Ray Estroga (Filipina). Semua petinju Indonesia ini yang dikirim ini lolos babak final. Beatrichx menang angka atas Mingyan, Kornelis menang angka atas Hafiz dari Singapura. Sementara Gheda menang angka atas Estroga dari Filipina. “Kami memang targetkan mereka bertanding semaksimal mungkin dan harapannya pulang membawa emas,” ucap De Gadjah yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar. Menurut dia, semua kegiatan tim Indonesia selama di negri tirai bambu itu berjalan lancar. Begitu juga hubungan petinju, pelatih, dan manajer berjalan harmonis. Ini membuat petinju tampil lepas dan maksimal. De Gadjah memimpin tim Indonesia untuk bertarung di ajang kejuaraan tinju “The Belt and Road China-ASEAN Boxing Championship” yang berlangsung pada 24-25 November 2018. (Adt)

Gagal Sumbang Medali di Kejuaraan Dunia WKF Spanyol, Peringkat Karateka 20 Tahun Ini Diyakini Naik Signifikan

Meski Rifki Ardiansyah Arrosyiid (sabuk merah) takluk di tangan karateka asal Latvia, Kalvis Kalnins 0-2, dalam kondisi cedera kaki kanan pada Rabu (7/11), ia diyakini berpeluang besar menambah peringkat dunianya, karena berhasil lima kali tampil dalam Kejuaraan Dunia WKF, di Madrid, Spanyol. (Koran SINDO)

Madrid- Meski gagal merebut medali, dua karate Indonesia berpeluang besar naik peringkat dunianya karena berhasil lima kali tampil di Kejuaraan Dunia WKF di Madrid, Spanyol. Mereka adalah Cokorda Istri Agung Sanistyarani dan Rifki Ardiansyah Arrosyiid. Cokie, panggilan Cokorda Istri Agung Sanistyarani misalnya, mampu lolos babak perempat final kumite -55 kg putri pada laga hari kedua, Rabu (7/11) waktu setempat. Pada babak pertama, karateka peringkat 16 dunia itu menaklukkan karateka Selandia Baru, Alison Oliver dengan skor 6-3. Di babak kedua, menundukkan andalan Israel Rotem Efroni 2-1, dan babak ketiga mengalahkan Jovana Georgieva asal Makedonia, dengan skor 1-0. Bahkan, pada babak keempat dia tampil menggila dengan menghabisi karateka Slovakia, Viktoria Semanikova 5-4. Sayangnya pada babak perempat final, peraih medali perunggu Asian Games 2018 Jakarta-Palembang itu gagal memanfaatkan momentum kemenangan. Dia justru takluk di tangan karateka Jepang, Sara Yamada dengan skor telak 0-4. Padahal, andai bisa bertahan, bukan mustahil wanita kelahiran Klungkung, Bali, 31 Desember 1994 ini, memecahkan rekor medali perunggu kejuaraan dunia yang pernah dicatatkan Dony Dharmawan, pada Kejuaraan Dunia WKF di Finlandia, pada 2006. Yang lebih sial lagi, langkah Yamada pun terhenti di babak semifinal, usai takluk dari karateka Polandia, Dorota Banaszczyk, dengan hantei usai kedudukan 0-0. Alhasil, harapan Cokie mendapatkan babak repechage, guna memperebutkan medali perunggu pun hilang seketika. “Saya kurang beruntung, karena karateka Jepang yang mengalahkan saya, justru kalah hantei dari lawannya,” ujar Cokie, di Madrid. Kondisi sama dialami Rifki, peraih emas Asian Games 2018. Pemilik peringkat 128 WKF itu, juga gagal merebut medali di kejuaraan dunia ini. Pemuda kelahiran Surabaya 24 Desember 1997 ini, menyerah pada pertandingan ketiga babak repechage kumite kelas -60 kg putra. Dia takluk di tangan karateka asal Latvia, Kalvis Kalnins 0-2, dalam kondisi cedera kaki kanan. Jika sanggup menahan serangan Kalnins, anggota TNI AD ini dipastikan menjejaki prestasi Dony. Apalagi, Rifki hanya tinggal selangkah mewujudkan ambisi itu. Pada babak pertama repechage, ia menang hanshoku atas karateka Kroasia, Kristijan Lackovic, dan menyudahi karateka Inggris, Cuba Parris. Babak repechage didapatnya, paska menundukkan peringkat 5 dunia asal Brasil, Douglas Brose, pada babak kedua. Sayang, dia gagal memanfaatkan momentum usai ditekuk karateka Jepang, Naoto Sago, dengan skor akhir 1-6. “Sebetulnya saya optimistis, dia bisa merebut medali perunggu, jika melewati karateka Latvia itu. Tapi, karena lutut Rifki cedera, dia sulit mengatasi ketertinggalan poin dari Kalnins,” ujar Pelatih Kepala, Syamsuddin. Meski begitu, Syamsuddin yakin, pencapaian Rifki akan mengatrol peringkat dunianya yang saat ini 128 WKF. Sebab, poin yang disediakan pada kejuaraan dunia ini, merupakan yang tertinggi, dari kejuaraan-kejuaraan WKF lainnya, seperti WKF Premier League dan Seri A. Fakta menunjukkan, setelah Rifki lima kali tampil di Kejuaraan WKF Seri A, di Santiago, Chile, September lalu, peringkat dunia prajurit yang berpangkat sersan satu TNI ini langsung melesat, dari 329 WKF menjadi 128 WKF. “Saya sangat yakin, peringkat Cokie maupun Rifki, bakal naik signifikan, hasil lima kali penampilan mereka di Madrid. Dan, bukan mustahil, rankingnya langsung masuk 50 besar WKF. Ini jadi bekal positif mendapatkan tiket ke Olimpiade 2020 Tokyo,” jelasnya. Syamsuddin mengatakan, untuk lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, setiap karateka harus bisa masuk peringkat 100 besar dunia pada 2018. Sementara pada 2019, mereka harus lolos ke 50 besar dunia, guna mengamankan tiket ajang mulitievent dunia itu. Selain Rifki dan Cokie yang bertanding pada hari kedua kejuaraan dunia karate di Madrid, dua karateka Indonesia lain juga turut tampil. Mereka adalah Sandi Firmansyah (kumite -75 kg putra) dan Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg putri). Namun, langkah mereka tak seberuntung Cokie dan Rifki. Sandi kalah dari karateka nomor 5 dunia asal Jepang, Ken Nishimura 0-3 pada babak pertama, sementara Sari harus takluk di tangan karateka dari Aljazair, Imane Taleb 0-5 pada babak kedua. Sebelumnya, pada babak pertama, Sari unggul atas karateka Bulgaria, Kristina Svilenova 3-1. (art)

Indonesia Raih Dua Emas Asian Youth Championship 2018, Atlet 18 Tahun Kiromal Katibin Kampiun Speed Youth A Putra

Pemanjat tebing asal Jawa Tengah berusia 18 tahun Kiromal Katibin (tengah), akhirnya berhasil meraih medali emas nomor Speed Youth A Putra, di ajang Asia Junior Championship 2018, di Chongqing, China, pada Minggu (5/11). (FPTI)

Chongqing- Skuat muda Indonesia sukses meraih dua medali emas pada ajang Asian Youth Championship 2018, di Chongqing, China, pada Minggu (5/11). Sebanyak 14 dari 16 atlet muda panjat tebing Merah Putih itu turun di nomor Speed. Dari jumlah itu, 10 atlet lolos di babak kualifikasi. Namun, mereka mulai berguguran di semifinal. Disebabkan hal teknis, diantaranya false start, fall, hingga terpeleset. Di youth B putri, srikandi muda Indonesia, Amanda Narda Mutia, tampil gemilang. Sejak babak kualifikasi, ia menempati peringkat satu dan konsisten dengan waktu pemanjatannya. Di final, Amanda menjadi yang tercepat, sekaligus mengamankan medali emas usai mencetak catatan waktu 9,44 detik, menekuk Jing Yu asal China, yang hanya menghasilkan waktu 10,99 detik. Dan, wakil Korea Jimin, harus puas mendapatkan medali perunggu. Sedangkan di youth A putra, pemanjat asal Bali, I Putu Iwan Putra, sempat menduduki peringkat kedua babak kualifikasi. Sayang, ia terpeleset di perempat final dengan torehan waktu 8,32 detik. Hasil negatif juga dialami Jasmico Pamumade dan Michael Owen Parhorasan Siburian. Mereka mengalami false start di perdelapan final. Sementara itu, di youth A putri, Desak Made Rita Kusuma Dewi, berhasil masuk ke babak 4 besar. Namun, ia sempat terpeleset saat perebutan perunggu dengan catatan waktu 12,68 detik. Dan, lawannya asal China, Yi Ling, menorehkan catatan waktu 8,34 detik. Serupa di kategori junior putri. Tim Indonesia yang diwakili Berthdigna Devi, sukses menembus 4 besar. Namun, dara yang disapa Bertha ini mengalami gangguan kesehatan sehingga dilarang melanjutkan pemanjatan oleh tim dokter. Bertha gugur, sehingga medali perunggu otomatis diraih pemanjat asal China, Pei Yang. Di laga terakhir Asian Youth Championship 2018, pada Minggu (5/11), Indonesia bisa menambah pundi medali emas dari Kiromal Katibin, skuat atlet Asian Games XVIII/2018. Pemanjat kelahiran Batang, Jawa Tengah, 21 Agustus 2000 itu, mengunci catatan waktu 6,05 detik. Ia menyingkirkan Milad Shenazandifar Alipour asal Iran, dengan catatan waktu 6,42 detik. Kuntono Halim, Manajer Tim Indonesia, mengaku secara umum tahun ini Indonesia mampu bersaing. Hal itu, menurutnya, dibuktikan dengan catatan waktu para atlet Indonesia yang masih berada di peringkat atas. Kendati demikian, ia menyebut jika di nomor speed banyak negara lain yang harus diwaspadai. Sebab, tambah Kuntono, perlahan negara-negara yang sebelumnya tidak unggul di speed seperti Korea dan Jepang, kini sudah bisa meraih medali. “Kita patut waspada, karena di tahun mendatang negara lain mulai sudah sangat bersiap diri dengan sentralisasi pelatihan. Sedangkan Indonesia belum melakukan itu,” ujar Kuntono. Dijelaskannya, bahwa apapun bisa terjadi di speed. Karena negara yang sebelumnya tak diunggulkan, tiba-tiba bisa merangsek ke peringkat atas. “Seperti Indonesia. Dua tahun lalu, kami masih jauh di atas. Sekarang semua negara sangat antusias di speed dan mereka bisa bersaing. Kami tidak boleh terlena,” tukas Kuntono. (Adt)

Timnas Indonesia Bertolak ke Madrid, Karateka 20 Tahun Juara Asian Games Berburu Poin Ke Olimpiade 2020 Tokyo

Karateka Indonesia, Rifki Ardiansyah (sabuk merah) bersama tujuh atlet Tim Nasional (Timnas) lainnya, bertolak ke Madrid, Spanyol, guna mengikuti Kejuaraan Dunia Karate (WKF) 2018, pada 6-11 November. Mereka akan berjuang merebut poin demi menjaga peluang tampil di Olimpiade 2020 Tokyo. (sindonews.com)

Jakarta- Delapan karateka Tim Nasional (Timnas) Indonesia bertolak ke Madrid, Spanyol, Sabtu (3/11), guna bertanding di Kejuaraan Dunia Karate (WKF) 2018, pada 6-11 November. Mereka akan berjuang merebut poin demi menjaga peluang tampil di Olimpiade 2020 Tokyo. Dilansir sindonews.com, Kejuaraan dunia di Madrid ini menjadi perhatian utama FORKI karena memiliki torehan poin terbesar, di antara kejuaraan-kejuaraan WKF lainnya. Itu pula yang membuat Indonesia, berharap banyak dari kejuaraan dunia 2018 ini. “Target kami adalah tampil di Olimpiade 2020 Tokyo. Karena itu, kami akan berusaha ikut di ajang yang menyediakan poin cukup banyak, seperti kejuaraan dunia ini. Bahkan, bisa tampil di kejuaraan ini saja sudah mendapat poin, apalagi meraih prestasi medali, tentu poinnya lebih besar lagi,” ujar pelatih Timnas Indonesia, Syamsuddin. Syarat tampil di Olimpiade 2020 Tokyo, para karateka harus masuk peringkat 100 besar WKF. Jika tidak, mereka tak akan bisa merasakan aura Olimpiade. Karena itu, Forki terus menjaga peluang para karatekanya, dengan memberinya kesempatan tampil di ajang-ajang WKF, baik kejuaraan dunia, WKF Premier League, maupun Seri A. Bahkan, setelah kejuaraan dunia di Madrid, Forki juga kembali menurunkan beberapa karatekanya, di Kejuaraan Seri A di Shanghai, China, pada Desember nanti. Upaya Forki menurunkan karatekanya di event-event penting WKF, mendapatkan hasil yang lumayan. Rifki Ardiansyah Arrosyiid misalnya. Saat menjadi juara Asian Games 2018, peringkatnya hanya 329 WKF. Namun, setelah 5 kali bertanding di ajang Seri A di Chile, awal September lalu, anggota TNI kelahiran Surabaya 24 Desember 1997 ini, langsung meroket ke posisi 128 WKF. “Peringkat Rifki naik pesat jelas luar biasa. Kami harap, dia segera masuk 100 besar, untuk mendapatan peluang tampil di Olimpiade. Dan itu bisa terwujud jika dia main bagus di Kejuaraan Dunia Madrid,” ujar Syamsuddin, yang mendampingi Rifky saat bertanding di Chile. Hal senada disampaikan pelatih kata Omita Olga Ompi. Dia pun berharap dua karateka nomor kata yang akan tampil di Kejuaraan Dunia Madrid, turut meraih poin maksimal. Itu untuk menjaga peluang mereka lolos Olimpiade 2020 Tokyo. Saat ini, dua karateka kata Indonesa yang dipersiapkan ke Madrid, peringkatnya masih di 100 besar WKF. Ahmad Zigi Zaresta Yuda menempati peringkat 31 WKF, sementara Nawar Kautsar Mastura di 77 WKF. “Tapi, mereka harus berusaha menaikkan performanya agar peringkatnya tak tergeser karateka-karateka dunia lainnya. Kami berharap mereka tetap fokus berlatih dan memanfaatkan peluang poin di kejuaraan dunia WKF,” ujar Omita. Untuk menjaga itu, proses latihan disiplin tentu menjadi hal yang sangat penting bagi mereka. Jika mereka tidak mengikuti aturan yang ditetapkan manajer tim, itu akan berdampak pada performa mereka. “Mereka harus mengikuti aturan tim seperti jadwal latihan teknik kapan, latihan fisik berapa kali, serta makan dan pola tidur yang disiplin. Program itu dibuat agar mereka bisa peak saat tampil di event-event tertentu,” ujar Manajer Timnas Karate, Monang Napitupulu. Jack, panggilan akrab Monang, menegaskan, sejauh ini tim karate sudah berlatih teknik secara maksimal, di lokasi Pelatnas di Gloria Suites, Grogol, Jakarta. Sementara latihan fisik, rutin dilakukan dua kali dalam sepekan, di Hotel Peninsula, Jakarta Selatan. (Adt) Skuat Timnas Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia 2917 di Madrid, Spanyol Peraih medali emas kumite -61 kg putra Asian Games 2018, Rifki Ardiansyah Arrosyiid (128 WKF), Peraih medali perunggu kata perorangan putra Asian Games 2018, Ahmad Zigi Zaresta Yuda (31 WKF), Peraih medali perunggu kumite -55 kg putri Asian Games 2018, Cok Istri Agung Sanistyarani (17 WKF), Sandi Firmansyah (kumite -75 kg putra, 75 WKF), Nawar Kautsar Mastura (kata perorangan putri, 77 WKF), Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg putri, 10 WKF), Dessyinta Rakawuni Banurea (kumite +68 kg putri, 54 WKF), Daniel Hutapea (U-21),

Triple Gold Spiderwoman Grobogan Aries Susanti Rahayu, Tambah Motivasi Menuju Olimpiade 2020 Tokyo

Atlet panjat tebing kelahiran Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), 21 Maret 1995, Aries Susanti Rahayu, sukses mengukir medali emas ketiga di ajang IFSC Climbing Worldcup, yang kali ini berlangsung di Xiamen, China, pada 27-28 Oktober 2018. (FPTI)

Xianmen- Aries Susanti Rahayu kembali mengukir medali emas di ajang bergengsi dunia IFSC Climbing Worldcup, yang kali berlangsung di Xiamen, China, pada 27-28 Oktober 2018. Sekaligus menjadi medali emas ketiga bagi atlet panjat tebing berjuluk ‘Spiderwoman’ itu di ajang IFSC Climbing Worldcup. Di partai puncak kategori women’s speed, ia menghadapi pemanjat asal Rusia Iuliia Kaplina. Wanita kelahiran Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), 21 Maret 1995, jadi yang tercepat usai membukukan catatan waktu 7,532 detik. Kaplina kalah akibat fall. Posisi ketiga dihuni Anouck Jaubert asal Prancis. Ia mengalahkan pemanjat Rusia Elena Remizova. Jaubert menang dengan mengunci waktu 7,947 detik, sedangkan Remizova 7,995 detik. Prestasi gemilang itu membuat wanita asal Desa Klambu, Kabupaten Grobogan, Jateng itu, makin mantap menyongsong Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Ini memotivasi saya menatap Olimpiade,” ujar Aries, seperti keterangan yang diterima redaksi nysnmedia.com, pada Senin (29/10). Dipertandingan lain, Aspar ‘Babon’ Jaelolo meraih medali perak. Di babak final, ia harus mengakui keunggulan, Bassa Mawem asal Prancis. Catatan waktu kedua atlet ini terpaut tipis. Mawem mampu merebut medali emas usai membukukan waktu 5,600 detik, sedangkan Aspar 5,620 detik. Peringkat ketiga diraih Reza Alipourshena (Iran), dengan catatan 7,600 detik, sedangkan Dmitrii Timofeev dari Rusia, fall. Dijelaskan Aspar, kompetisi di Xiamen sangat luar biasa. Persaingan dalam event ini ketat. Atlet asal DKI Jakarta itu, mengaku kerepotan untuk bisa mengamankan tiket ke babak final. Semua atlet berpeluang menang. “Pertandingan seri terakhir ini luar biasa ketat. Untuk babak final sangat susah. Rata-rata atlet, waktu pemanjatannya 5 detik dan 06,20 detik,” terang pria kelahiran Wani, Sulawesi Tengah, 24 Januari 1988. Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, menyebut para atlet bisa tampil lebih maksimal lagi. “Dibanding dua seri terakhir, (performa atlet) masih bagus seri awal-awal yang diikuti. Sekarang, kami enggak ada Pelatnas lagi. Jadi sifatnya cuma mempertahankan performa saja,” tutur Hendra. Ia menambahkan usai dari Xiamen, China, para atlet kembali ke Tanah Air, sebelum mengikuti kejuaraan Asia. “Kami pulang ke Indonesia dan kurang lebih persiapan tiga hari untuk Asian Champhionship (pada 7-11 November 2018, di Kurayoshi, Jepang),” imbuhnya. Sementara itu, Pristiawan Buntoro, Wakil Ketua II Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menegaskan prestasi ini capaian yang luar biasa. “Sudah on the track dan sah dia (Aries Susanti Rahayu) sebagai pemanjat dunia. Tahun depan dia harus ikut semua seri (IFSC Climbing Worldcup),” cetusnya. Sedangkan Faisol Riza, Ketua Umum PP FPTI, menerangkan kompetisi di luar negeri sangat bermanfaat bagi para atlet Indonesia. “Kemenangan ini makin menunjukkan kesiapan atlet panjat tebing merah putih, untuk berlaga di Olimpiade,” tukas Faisol. (Adt)

Indonesia Kampiun Kategori Speed di China, Aspar Jaelolo dan Aries Susanti Rahayu Sandingkan Gelar Juara Dunia

Aries Susanti Rahayu meluapkan kegembiraannya usai merebut gelar juara dunia dalam kategori women’s speed, di ajang IFSC Climbing World Cup, di Wujiang, China, pada 20-21 Oktober 2018. (FPTI)

Wujiang- Prestasi gemilang ditorehkan dua atlet panjat tebing andalan Indonesia, di ajang IFSC Climbing World Cup, di Wujiang, China, pada 20-21 Oktober 2018. Aspar Jaelolo dan Aries Susanti Rahayu, berhasil menyandingkan gelar juara dunia kategori speed di Negeri Tirai Bambu itu. Torehan ini menunjukkan kelas dua atlet panjat tebing Merah Putih itu sebagai pemain elit dunia, sebab world cup merupakan kejuaraan tertinggi di sport climbing. Aspar menunjukkan kelasnya sebagai juara dunia setelah merebut posisi pertama kategori men’s speed. Pria kelahiran Wani, Sulawesi Tengah, 24 Januari 1988 itu, mengalahkan atlet asal Italia Ludovico Fossali. Ia mencatatkan waktu 5,810 detik, sedangkan Fossali 5,940 detik. Dan, posisi ketiga diduduki pemanjat asal Iran, Reza Alipourshena. Aspar mengaku bahagia dengan prestasi yang diraihnya kali ini. “Saya hanya ingin mengatakan bahwa selama masih punya mimpi, maka masih ada waktu untuk membuktikan. Meski saya sering dianggap spesialis perak, namun saya tidak pernah menghapus mimpi saya untuk jadi nomor satu. Dan, hari ini saya buktikan. Terima kasih, ini untuk Indonesia,” ujar Aspar, di Wujiang, pada Minggu (21/10). Sementara, Aries meraih medali emas kategori women’s speed setelah mengalahkan atlet Prancis Anouck Jaubert. Di babak final, ‘Spiderwoman Grobogan’ itu mengungguli Jaubert dengan catatan waktu 7,740 detik, berbanding 8,010 detik. Sedangkan tempat ketiga diduduki Iuliia Kaplina dari Rusia. Aries mengaku bahagia, namun ia tak ingin jemawa dan cepat puas. Wanita kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 21 Maret 1995, ingin terus melaju dengan menorehkan prestasi-prestasi lainnya yang membanggakan untuk Indonesia. “Terima kasih. Ini podium kedua di world cup. Namun, saya tak ingin berhenti di sini. Saya masih ingin memecahkan rekor dunia agar Indonesia bangga,” tegas Aries. Sementara itu, Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, mengungkapkan sebetulnya tim tidak menargetkan apa-apa dalam kompetisi ini. Namun, para atlet tetap akan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dan, terbukti hasilnya, dimana atlet dari Indonesia mampu melesat ke posisi pertama. Ia juga mengakui bila misteri medali emas Aspar akhirnya terpecahkan. Menurutnya, capaian ini semakin menunjukkan kelas atlet Indonesia sebagai atlet dunia. “Iya (Aspar pecah emas). Banyak dapat ucapan selamat dari pemain lain. Kita atlet elit tingkat dunia,” tegas Hendra. Sedangkan Caly Setiawan, Kepala Bidang Pembinaan Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menyebut sebelum berangkat ke China, para atlet diharapkan menunjukkan kelasnya sebagai atlet top. “Untuk Aspar ini memang kami harapkan bisa pecah emasnya dan untuk Aries kami harapkan dapat emas, sehingga semakin memantapkan kalau dia memang atlet top dan medali emas-nya memang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini,” tukas Caly. (Adt)

Atlet Panjat Tebing Indonesia Torehkan Prestasi Gemilang, Kawinkan Emas dan Borong Medali di China

Aries Susanti Rahayu meraih medali emas usai mencetak waktu 7,99 detik, di nomor women’s speed kejuaraan ‘The Belt and Road’ International Climbing Master Tournament 2018, di Wanxianshan, China, 13-14 Oktober 2018. (FPTI)

Wanxianshan- Prestasi gemilang kembali lagi ditorehkan atlet panjat tebing Indonesia, saat berlaga di China, pada kejuaraan bertajuk ‘The Belt and Road’ International Climbing Master Tournament 2018, di Wanxianshan, akhir pekan ini. Tak hanya sukses mengawinkan medali emas speed, tapi mereka memborong medali di nomor women’s speed. Sebelumnya, pada turnamen serupa yang dihelat di Huaian, China, 9-10 Oktober 2018, Merah Putih juga berkibar di podium tertinggi ketika berhasil mengawinkan emas. Para atlet yang mengikuti kompetisi di Negeri Tirai Bambu, yakni Aspar Jaelolo, Alfian M Fajri, Sabri, Muhammad Hinayah, Veddriq Leonardo, Pangeran Septo Wibowo, Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, Agustina Sari, dan Nurul Iqamah. Aries, spiderwoman Grobogan ini menyabet Medali emas dinomor women’s speed, dan men’s speed dipersembahkan Septo Wibowo. Hendra Basir, Pelatih Speed Indonesia, mengatakan dalam kategori women’s speed, peringkat satu hingga empat diduduki atlet Indonesia. Diungkapkannya, peringkat pertama ditempati Aries, dengan catatan waktu 7,99 detik. Dara kelahiran 21 Maret 1995 ini, menyingkirkan kompatriotnya Agustina Sari, dalam babak final, dengan waktu 8,20 detik. Sementara, peringkat tiga ditempati Nurul Iqamah dengan 8,52 detik. Ia mengalahkan rekan senegaranya Rajiah Sallsabillah yang menorehkan catatan waktu 8,72 detik, dalam babak perebutan juara tiga. Sedangkan di nomor men’s speed, Aspar sukses sebagai pemenang dengan catatan waktu 5,99 detik. Ia melibas atlet tuan rumah, Lin Penghui, di babak final yang menorehkan waktu 6,30 detik. Peringkat tiga ditempati Muhammad Hinayah yang mengalahkan Veddriq Leonardo, di babak perebutan juara tiga. Hinayah menang usai menciptakan waktu 6,29 detik, karena Veddriq hanya mampu mengukir waktu 6,37 detik. Menurutnya, tak hanya bermain di nomor speed, para atlet Indonesia juga menjajal berkompetisi di nomor Lead. Nurul Iqamah berhasil menduduki peringkat keempat di nomor women’s lead, sedangkan Aspar berada di peringkat delapan di nomor men’s lead. “Mereka memang enggak hanya main di speed, tetapi di lead juga. Biar merasakan kompetisi di lead juga,” ujar Hendra seperti keterangan yang diterima redaksi nysnmedia.com, pada Minggu (14/10). Sementara itu, Faisol Rizal, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), mengapresiasi prestasi membanggakan yang ditorehkan Aries Susanti Cs. “Kemenangan ini semakin menunjukkan kesiapan para atlet untuk berlaga di Olimpiade,” tegas Rizal. (Adt)

Spiderwoman Grobogan Aries Susanti Rahayu Raih Emas di China, FPTI: Sinyal Positif Ke Olimpiade 2020 Tokyo

Indonesia meraih satu medali emas, yang dihasilkan Aries Susanti Rahayu, dan dua perak dalam kejuaraan International Climbing Elite Tournament, di Anshun, China, 21-22 September 2018. (FPTI)

Jakarta- Indonesia berhasil meraih satu medali emas, dan dua medali perak, dalam kejuaraan International Climbing Elite Tournament, Anshun, China, pada 21-22 September 2018. Medali emas Merah Putih dihasilkan Aries Susanti Rahayu, sedangkan medali perak disumbang Puji Lestari, dan Aspar Jaelolo. Spiderwoman Grobogan itu merebut emas usai memenangi duel all Indonesian final. Ia mengalahkan Puji Lestari di nomor Women’s Speed World Record dan membukukan catatan waktu 7,72 detik. Puji menjadi runner up setelah hanya mampu mencetak waktu 7,89 detik. Sedangkan Maria Krasavina (Rusia) berhak mengantongi perunggu. Sementara itu, pada laga final nomor Men’s Speed World Record, Aspar Jaelolo mengalami fall. Akibatnya, pria asal Donggala, Sulawesi Selatan (Sulsel) itu merelakan medali emas jatuh ke tangan rivalnya asal China Chen Zi Hang. Dan, medali perunggu menjadi milik atlet asal Rusia, Stanislav Kokorin. Selain berlaga di nomor Speed, Aspar, Aries, dan Puji juga tampil di nomor Lead. Namun, sayangnya mereka gagal lolos ke partai final. Karena, baik Aspar maupun Aries, harus puas berada di posisi 9. Sebab untuk masuk final Lead, minimal harus berada di peringkat 8. Aries, Aspar, dan Puji, adalah atlet elit yang diundang langsung oleh pihak China untuk mengikuti kompetisi internasional itu. Bahkan, seluruh biaya akomodasi ketiga atlet itu dibiayai oleh pihak penyelenggara. Selain International Climbing Elite Tornament di Anshun, masih ada tujuh kompetisi internasional yang bakal mereka lakoni di penghujung 2018. Dua dari tujuh kompetisi tersebut adalah seri kejuaraan dunia. Faisol Riza, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menilai raihan tiga medali ini merupakan penanda kesiapan atlet Indonesia di Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Ini adalah sinyal bagus bagi kita dan juga pemerintah untuk segera menyiapkan Pelatnas,” tukas Faisol. (Adt)

Lima Atlet Panjat Tebing Diundang Khusus Ikut Kejuaraan di China, Berangkat Dengan Kocek Sendiri

Aries Susanti Rahayu, salah satu atlet panjat tebing andalan Indonesia, diundang secara khusus tampil mengikuti seri kejuaraan panjat tebing di China, pada 21-22 September 2018. (breakingnews.id)

Jakarta- Usai membawa harum nama Indonesia di pentas Asian Games XVIII/2018, lima atlet panjat tebing andalan Indonesia diundang khusus untuk mengikuti seri kejuaraan terbuka di China. Kelima atlet itu nantinya berangkat dalam dua tahap. Tahap pertama yakni Aspar Jaelolo, Aries Susanti Rahayu, dan Puji Lestari. Mereka akan mengikuti International Climbing Elite Tournament di Anshun, China, pada 21-22 September 2018. Lalu, Sabri dan Nurul Iqamah juga diundang untuk mengikuti open series menyusul tiga atlet sebelumnya, pada Oktober mendatang. Hendra Basir, Pelatih Tim Nasional (Timnas) Panjat Tebing, menjelaskan China memang selalu mengundang para atlet elit dunia untuk ikut open series. Artinya, menurut Hendra, ketiga atlet tersebut sudah berada di level elite. “Aspar, Aries, dan Puji, akan berangkat bertiga ke China tanpa didampingi siapapun termasuk pelatih. Saat ini mereka sedang berlatih keras untuk mengembalikan stamina mereka setelah libur 15 hari,” ujar Hendra, dikutip situs resmi FPTI, Selasa (18/9). “Selama berlibur, mereka sibuk meladeni beragam wawancara dan rangkaian selebrasi kemenangan di Asian Games,” tambahnya. Usai tampil di ajang International Climbing Elite Tournament di Anshun, mereka akan kembali ke Indonesia, dan langsung menuju lokasi eks Pelatnas di Yogyakarta untuk kembali berlatih. Selanjutnya, pada Oktober, mereka kembali ke China bersama Sabri, Nurul, dan lima atlet panjat tebing lainnya. Dimana atlet yang berjumlah 10 orang tersebut akan mengikuti delapan kejuaraan di China dan Jepang. Kedelapan kejuaraan itu meliputi international climbing elite tournament, world cup series, dan Asian Championship. Akibat, belum ada Pelatnas lagi setelah Asian Games 2018 selesai, maka saat ini para atlet berlatih keras dengan merogoh kocek sendiri. “Pelatnas sudah bubar sehingga dukungan (finansial) sudah selesai. Kalau latihan sendiri, tak maksimal karena fasilitas di daerah tidak memadai. Makanya kami mandiri,” lanjutnya. Bahkan, kelima atlet yang akan mengikuti open series di luar undangan dari China, juga harus merogoh kocek sendiri. “Kami paham ini masa transisi (dari Pelatnas Asian Games menuju Pelatnas Olimpiade). Tapi tugas kami tetap mengibarkan bendera Indonesia,” ucap Hendra. “Seluruh atlet yang diterjunkan kali ini tidak hanya akan turun di nomor speed, namun juga lead. Ajang ini juga jadi pemanasan menuju Olimpiade Tokyo 2020,” tukas Hendra. (Adt)

Pulang ke Kampung Halaman, Spiderwoman Grobogan Aries Susanti Beri Motivasi Pada Siswa SMP

Spiderwoman asal Grobogan peraih medali emas cabor panjat tebing kecepatan putri Asian Games 2018, Aries Susanti Rahayu memberi motivasi pada siswa SMP ini agar mereka terpacu untuk meraih prestasi setinggi mungkin. (FPTI)

Jakarta- Usai meraih medali emas cabor panjat tebing kecepatan putri Asian Games 2018, Aries Susanti Rahayu, kembali ke kampung halamannya di Grobogan, Jawa Tengah (Jateng). Spiderwoman Indonesia itu mengunjungi Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), sebagai tempatnya menimba ilmu. “Beberapa waktu lalu, saya ke SMP 1 Grobogan. Saya bersilaturahmi dengan guru SMP saya dan berterima kasih atas bimbingan belajar selama saya bersekolah di sana,” ujar wanita berhijab peraih medali emas IFSC World Cup Series Chongqing, China, pada 2018, di nomor Speed WR, pekan ini. Selain bersilaturahmi, wanita kelahiran 21 Maret 1995 itu juga memberikan motivasi kepada siwa SMP. “Saya sedikit berbagi pengalaman di bidang olahraga dan memberi motivasi untuk adik-adik SMP agar mereka terpacu untuk meraih prestasi setinggi mungkin,” lanjut warga Desa Klambu, Grobogan, Jateng itu. Selepas Asian Games XVIII/2018, Aries tetap menjalani Pelatnas (pemusatan pelatihan nasional) untuk menghadapi pertandingan internasional, sekaligus persiapan menuju Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Menurut Aries, prestasi tidak hadir begitu saja, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Sehingga, butuh jalan panjang serta berliku agar mampu meraih prestasi tertinggi. “Untuk meraihnya, juga diperlukan motivasi yang tinggi,” tegas mahasiswi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Muhammadiyah Semarang, yang meraih medali emas Asian Championship 2017, di Iran, nomor Speed WR Relay itu. (Adt)

Bidik Olimpiade 2020 Tokyo, Aspar Jaelolo Cs Lakoni Pelatnas Jangka Panjang

Aspar Jaelolo CS melakoni Pelatnas jangka panjang cabor sekaligus mengikuti berbagai seri kejuaraan dunia guna pengumpulan poin Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang.(FPTI)

Jakarta- Aspar Jaelolo dan kolega segera melakoni pemusatan latihan nasional (Pelatnas) jangka panjang cabang olahraga (Cabor) panjat tebing. Sasaran utama mereka adalah Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Pada pesta olahraga terbesar sejagat itu, panjat tebing atau sport climbing, akan dipertandingkan sebagai cabor ekshibisi. Dan, ada waktu setahun guna mempersiapkan diri sebelum kualifikasi di Toulouse, Perancis, pada November 2019. Diketahui, pada Asian Games XVIII/2018, cabor sport climbing meraih tiga emas dari nomor Speed Relay Putra (Muhammad Hinayah, Rindi Sufriyanto, Abu Dzar Yulianto, Veddriq Leonardo), Speed Relay Putri (Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, Fitriyani), dan Speed Putri (Aries Susanti Rahayu). Kemudian dua medali perak, dari nomor Speed Relay Putra (Aspar Jaelolo, Sabri, Pangeran Septo Wibowo Siburian, Alfian Muhammad Fajri), dan Speed Putri (Puji Lestari). Lalu, satu medali perunggu dari nomor Speed Putra (Aspar Jaelolo). “Usai Asian Games ini, target kami tampil di seri kejuaraan dunia untuk mengumpulkan poin Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang,” ujar Aspar, Minggu (9/9). “Kami menjalani Pelatnas jangka panjang. Sebab, waktu yang kami miliki sempit, kurang dari setahun,” lanjut pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), 24 Januari 1988 itu. Menurut atlet asal DKI Jakarta itu, dalam waktu dekat, ada dua kejuaraan yang bakal diikuti. “Ada IFSC Climbing World Champships di Innsbruck, Austria, pertengahan bulan ini, dan International Climbing Series-China Open di Guangzhou, pada November,” ungkap peraih medali emas World Extreme Games, Shanghai, China, 2014 itu. Selain Aspar, atlet putri Aries dan Puji juga turun di kejuaraan di China. Diungkapkannya, Indonesia tak bisa lepas dari bayang-bayang negara unggulan seperti Jepang, Korea, dan China. “Apalagi mereka itu persiapannya panjang. Bahkan sudah dimulai sejak dari usia dini,” cetus kampiun Asian Beach Games 2014, Thailand itu. Sehingga, tambah Aspar, sangat penting menggelar training center (TC) dan menjalani try out (ujicoba) ke luar negeri. “Jadi kami bisa berlatih dengan para juara dunia. Ini penting bagi kami, untuk bisa menyerap ilmu serta pengalaman yang mereka miliki,” tukas peraih medali emas Asia Championship 2016, di China itu. (Adt)

Raih Emas di Usia 20 Tahun, Empat Atlet Ini Turut Ukir Sejarah Indonesia Dalam Asian Games 2018

Sebagai pebulutangkis nomor 15 dunia, Jonatan Christie tak diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan, hingga akhirnya ia meraih emas nomor tunggal putra. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia mengukir prestasi dalam ajang multievent Asian Games 2018. Kontingen Tanah Air melampaui target yang ditetapkan pemerintah karena mendulang total 31 medali emas hingga Sabtu (1/9) atau H-1 penutupan. Pencak silat menjadi pendulang emas terbanyak bagi Indonesia. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, 14 di antaranya dijuarai para atlet Tanah Air. Torehan 31 emas ini, menempatkan Indoensia di peringkat keempat klasemen akhir. Kontingen Tanah Air mengungguli Uzbekistan, yang duduk diposisi kelima dengan selisih 10 emas. Prestasi ini jauh lebih baik, dibandingkan saat Indonesia menjadi host Asian Games 1962. Kala itu, Indonesia hanya 11 kali menjadi juara. Kesuksesan Indonesia tentunya tidak lepas dari peran para atlet-atlet muda. Usia belia bukan menjadi halangan bagi mereka untuk mengukir prestasi. Setidaknya, ada empat atlet muda Indonesia yang usianya belum genap 21 tahun, namun sudah mencuri perhatian karena berprestasi di Asian Games 2018. Siapa sajakah mereka? Berikut ini adalah ulasannya. Rio Rizki Darmawan Jumat (24/8), venue dayung Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, kembali riuh. Anak-anak asuh pelatih Boudewijn van Opstal dan Muhammad Hadris, berhasil meraih medali emas pada laga final nomor dayung kelas ringan delapan putra di ajang Asian Games 2018. Kontingen Merah Putih yang beranggotakan Tanzil Hadid, Muhad Yakin, Jefri Ardianto, Ali Buton, Ferdiansyah, Ihram, Ardi Isadi, Ujang Hasbulah, dan Rio Rizki Darmawan, mengalahkan Uzbekistan dan Hong Kong dengan catatan waktu 6 menit dan 08,88 detik. Pundi-pundi emas kembali disumbangkan untuk Indonesia. Di antara ingar-bingar di Jakabaring, di antara riuh-rendah sorakan penonton, nama Rio menjadi sorotan. Putra kebanggaan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi yang termuda di antara teman-temannya. Semula memang tak terpikir di benak Rio, untuk mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga dayung. Andai ia menolak ajakan Jufri, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR) Tadulako Palu, mungkin teriakan ‘Rio’ ‘Rio’ ‘Rio’ dari penonton di venue tak akan muncul. Postur tubuhnya yang besar dan berprestasi selama di SMANOR, membuat Jufri yakin, bila pemuda asal Desa Tompi Bugis, Sigi, 27 November 1998 itu, bisa menjadi atlet dayung. Jonatan Christie Sebagai pebulutangkis tunggal putra nomor ke-15 dunia, Jonatan Christie memang kurang diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan. Dia mengalahkan Shi Yuqi (peringkat kedua dunia asal China) di babak kedua, dan Khosit Phetpradab (runner-up SEA Games 2017) di babak ketiga. Di fase perempat final, giliran Wong Wing Ki Vincent (Hong Kong), yang dilewati Jojo, sapaannya. Lanjut ke semifinal, ia melumat peringkat ke-10 dunia asal Jepang, Kenta Nishimoto. Jojo, lalu menyudahi perlawanan sengit Chou Tienchen (Taiwan), di babak final, di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Selasa (28/8). Tunggal nomor enam dunia itu menyerah dari Jojo, usai melewati drama pertarungan ketat tiga gim, dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Dari lompatan Asian Games ini, pemuda kelahiran Jakarta 15 September 1997, boleh optimistis menatap target selanjutnya, yakni turnamen BWF World Tour Super Series. Di Indonesia Open 2018 Juli lalu, ia langsung gugur di babak pertama oleh Viktor Axelsen (Denmark). Raihan tertinggi Jojo adalah final New Zealand Open 2018 pada Mei, meski kandas dari Lin Dan (China). Rifki Ardiansyah Arrosyiid Rifki Ardiansyah Arrosyiid mengharumkan nama Indonesia pada Asian Games 2018. Peraih emas cabang olahraga Karate nomor kumite 60kg itu turut membanggakan kesatuannya sebagai anggota di korps Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Rifki yang saat ini berpangkat sersan dua (serda) akan naik pangkat menjadi sertu pada 1 Oktober nanti, usai mendapat penghargaan percepatan kenaikan pangkat, merupakan prajurit TNI peraih emas di Asian Games 2018. Rifki menetap di Surabaya, dan sehari-harinya bertugas sebagai Babanmin 2 Pokbanmin Jasdam Kodam V/Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Putra dari pasangan Surya dan Dwi ini menempuh pendidikan Bintara pada 2016 lalu. Ajang Asian Games 2018 bukan hanya menjadi pembuktian bagi para atlet dari kalangan sipil. Sejumlah atlet berlatar belakang militer pun berjuang dalam ‘pertempuran’ di arena olahraga demi mengangkat prestasi Merah Putih. Rifki adalah salah satu prajurit yang juga bersaing dengan para atlet luar negeri di ajang olahraga multicabang se-Asia tersebut. Arek Suroboyo kelahiran 24 Desember 1997 ini, mampu meraih emas bagi Indonesia usai mengalahkan karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh, di fase final dengan skor 9-7. Sebelumnya, Rifki pernah meraih medali perunggu di SEA Games 2017, dan medali Emas dari kelas Kumite 55 Kg, dalam Kejurnas Karate Piala Panglima TNI tahun 2017 lalu. Hanifan Yudani Kusumah Pencak Silat menambah lagi pundi-pundi medali Indonesia di Asian Games 2018. Kali ini atas nama Hanifan Yudani Kusumah. Dalam laga perebutan medali emas nomor Tarung Putra Kelas C (55-60Kg) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta, Rabu (29/8), Hanifan menang 3-2, atas pesilat Vietnam, Thai Linh. Dalam pertarungan tiga ronde itu, Hanifan sempat mendapat kartu merah, karena dinilai menyerang wajah lawannya. Hanifan adalah pesilat berusia 20 tahun, namun sudah berhasil mengharumkan nama Indonesia. Remaja yang tumbuh di Bandung ini lahir pada 25 Oktober 1997. Sebelum tampil di Jakarta, Hanifan tercatat sebagai pesilat yang meraih medali emas pada Silat World Championships 2016 di Denpasar, Bali. Pada 2017, ia menyabet perunggu di Asian Championships yang digelar di Korea. Hanifan juga membawa perunggu pada Sea Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Atlet asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dikenal usai selebrasinya yang membuat calon presiden Prabowo Subianto, dan Presiden Indonesia Joko Widodo, saling berpelukan dan berselimutkan bendera Merah-Putih, ternyata merupakan seorang jockey balap motor handal, saat masih duduk di SMA. (Adt)

Incar Prestasi Olimpiade 2020 Tokyo, Pelatih: Pelatnas Panjat Tebing Jangan Berhenti

Trio tim speed relay Indonesia, Rindi Sufriyanto (kiri), Abu Dzar Yulianto (kanan), dan M. Hinaya, sukses meraih medali emas cabang panjat tebing Asian Games 2018, di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). (FPTI)

Jakarta- Cabang olahraga Panjat Tebing sukses meraih tiga emas, dua perak, dan satu perunggu di ajang Asian Games XVIII/2018. Prestasi yang diukir Aries Susanti Rahayu (speed putri) dan kolega menjadi batu loncatan menuju event olahraga terbesar di dunia, Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Tantangan pertama adalah bagaimana kami bisa lolos di kualifikasi Olimpiade pada tahun depan,” ujar Hendra Basir, Pelatih Speed World Record Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Kamis (30/8). Sementara itu, menjadi juara umum cabang panjat tebing pada pesta multi-cabang empat tahunan se-Asia itu, menurut Caly Setiawan, Pelatih Kepala Timnas Panjat Tebing Indonesia, mengindikasikan prestasi anak didiknya itu makin dekat ke Olimpiade. Namun, untuk bisa mengejar prestasi di Olimpiade, ungkap Caly, persiapan menjadi penting dan tidak bisa ditunda. “Dua tahun bukan waktu yang lama untuk menyiapkan ke Olimpiade,” cetusnya. Terlebih, pihaknya, tambahnya, harus menyiapkan nomor-nomor lain. “Kita sudah ready (siap) di nomor speed, tapi kami harus menyiapkan boulder dan lead. Dan itu tidak bisa dalam waktu dekat,” jelasnya. “Kalau Timnas Indonesia mau jadi ‘monster’ lagi, Pelatnas (pemusatan latihan nasional) tidak boleh berhenti dan harus terus dijalankan, dan juga tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” terangnya. “Caranya, buka jalan baru dan alternatif. Manfaatkan sponsorship agar pelatnas atau pembinaan itu jalan. Modelnya anak asuh atau bapak asuh. Banyak modelnya,” tukas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) itu. (Adt)

Hasilkan Emas Ke-24 Kontingen Asian Games Indonesia, Dobel Kevin/Marcus Bidik Prestasi di Olimpiade Tokyo

Tundukkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, dalam final ganda putra Asian Games 2018, di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). (Riz/NYSN)

Awas Jakarta- Menyudahi laga ketat dari rekan senegara, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, di partai final yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). Kemenangan itu pun mengantarkan Kevin/Marcus meraih medali emas pertamanya di ajang Asian Games. Hebatnya, ini penampilan perdana mereka di Asian Games. Tentu hasil ini juga menjadi pembuktian bagi keduanya, hingga level Asian Games, mereka berhasil bebas dari kutukan Lee Chong Wei. Chong Wei merupakan pemain Malaysia yang amat mendominasi nomor tunggal putra beberapa tahun terakhir. Bahkan berbagai gelar Superseries yang didapat Chong Wei bisa dibilang tak terhitung. Namun, pada ajang bergengsi untuk negaranya, Chong Wei selalu mengalami kegagalan. Prestasi terbaik Lee Chong Wei hanyalah meraih medali perak seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan paling tinggi Olimpiade. Pada tiga edisi terakhir Asian Games pun Chong Wei pencapaian optimal pebulu tangkis 35 tahun itu, hanyalah meraih perak pada 2010. Hal serupa sempat menghantui Kevin/Marcus. Dominasi dobel peringkat satu dunia itu terlihat pada kejuaraan Superseries sejak 2017 hingga kini. Namun, di berbagai event penting, Kevin/Marcus nihil gelar, dengan yang paling mencolok di Kejuaraan Dunia. Tampil dalam dua edisi, duet ini belum bisa berbicara banyak dan bahkan belum pernah meraih medali. Kini di Asian Games 2018, Kevin/Marcus yang melakoni debutnya mampu memecahkan kebuntuan tersebut. Raihan emas di pesta olahraga terbesar se-Asia itu, memastikan mereka tak senasib dengan Chong Wei. Guna mematahkan kutuhkan Chong Wei, adalah menjadi kampiun Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Pada Olimpiade, Kevin/Marcus belum pernah tampil. Olimpiade Tokyo 2020, bisa menjadi jalan baginya untuk membuktikan diri jadi yang terbaik setelah emas Asian Games 2018. Medali emas Kevin/Marcus ini menjadi emas kedua dari cabor bulutangkis atau yang ke-24 untuk kontingen Indonesia. Sebelumnya, medali emas disumbangkan Jonatan Christie dari nomor tunggal putra usai mengalahkan pebulutangkis Taiwan, Chou Tienchen, 21-18, 20-22, dan 21-15. Prestasi tertinggi Fajar/Rian adalah medali emas SEA Games 2017 di nomor beregu putra. Sementara Kevin/Marcus merupakan juara dunia 2018 dan juga ganda putra peringkat satu dunia. Kevin memuji penampilan Fajar/Rian yang bermain dalam performa terbaik. “Puji Tuhan atas pertandingan hari ini. Padahal, skornya tadi sempat jauh, tapi bisa menang. Mereka bermain sangat baik dan diluar ekspektasi kami,” terang Kevin. Ditambahkan Marcus, pada pertandingan tadi keberuntungan menjadi faktor mereka meraih kemenangan. “Apalagi di gim ketiga mereka unggul, tapi di poin-poin akhir, kami lebih beruntung dari mereka,” timpalnya. Sementara Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), mengaku jika semula mentargetkan bulutangkis bakal meraih emas, dari ganda campuran dan ganda putra. “Pencapaian di Asian Games 2018 disemua sektor cukup baik. Di beregu putri dan tunggal putri prestasinya sudah lumayan, meski tak mendapatkan medali. Tapi Gregoria (Mariska Tunjung) mampu mengibangi lawan pemain unggulan. Dan memang kami tidak targetkan, justru ganda campuran yang target emas, malah dapetnya perunggu,” jelas Susy. “Emas tak terduga juga dapat dari tunggal putra. Dan ganda putra diluar ekspekstasi, karena setelah 44 tahun yakni Asian Games 1974, akhirnya kembali all indonesian final,” tukas istri dari legenda bulutangkis, Alan Budikusuma itu. Saat Asian Games 1974, di Teheran, Iran, partai final cabang bulutangkis mempertemukan sesama pemain Indonesia, yakni ganda Tjun Tjun/Johan Wahjudi meraih emas setelah menagalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra. Tambahan emas dari ganda putra itu membuat total koleksi medali kontingen Indonesia di Asian Games 2018 menjadi 24 emas, 19 perak, dan 29 perunggu. Sampai berita ini dibuat, untuk sementara posisi Indonesia mantap di peringkat keempat unggul enam medali emas atas Iran. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

All Indonesian Final Nomor Speed Relay Panjat Dinding, Indonesia Kawinkan Medali Emas dan Kokoh di Peringkat Empat Besar

Tim Speed Relay Putra Indonesia 2, yang diwakili oleh Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1, di Jakabaring Sports City, Palembang, Senin (27/8). (INASGOC)

Palembang- Indonesia menambah pundi-pundi emasnya. Kali ini emas didapat dari cabang olahraga (cabor) panjat tebing, nomor speed relay putra, lewat Tim Indonesia 2, dan nomor speed relay putri lewat Tim Indonesia 1. Prestasi ini melampaui target Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) yang dibebankan dua medali emas. Pada laga yang berlangsung di Jakabaring Sports City (JSC), Palembang, Senin (27/8) malam WIB, partai final menyajikan duel antara sesama Indonesia, yakni Indonesia 1 vs Indonesia 2. Dalam all Indonesian Final ini, Indonesia 2 yang diwakili Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1 yang diwakili oleh Aspar, Sabri, Muhammad Fajri Alfian, dan Septo Wibowo yang melakukan false start. Tambahan medali ini pun membuat Indonesia mengoleksi 22 emas, setelah sebelumnya nomor relay putri juga menghadirkan emas untuk Indonesia. Di partai final Tim Putri Indonesia 1, mampu tampil sebagai pemenang, usai China 1 melakukan false start. Sebelum naik podium, Tim Putri Indonesia 1 yang dihuni Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, dan Fitiyani, berhasil jadi yang tecepat dengan catatan waktu 25.01 detik, pada babak kualifikasi. Mereka mengandaskan dua tim China sekaligus, yang menempati peringkat kedua dan ketiga dengan catatan waktu 26.32 detik dan 28.00 detik. Atas raihan tersebut Indonesia semakin kokoh di posisi empat klasemen, perolehan medali Asian Games 2018. Di panjat dinding, Indonesia total sudah meraih tiga emas. Khusus untuk Aries , ini adalah emas kedua yang diraihnya. Sebelumnya, dia meraih emas pada nomor individu kecepatan putri. Sementara itu, bagi Puji Lestari, medali emas ini melengkapi medali perak yang juga diraih pada nomor individu kecepatan putri. (Adt)

Final Lari 100 Meter Putra Rekor Asia Pecah, Lalu Zohri ‘Cukup’ Sumbang Rekor Pribadi Tanpa Medali

Takluk dari sprinter China dan Kenya, pelari Indonesia asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri (400), gagal meraih medali, pada final lari 100 meter putra Asian Games 2018. Ia hanya mampu berada di posisi tujuh, dari delapan finalis, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Sprinter China, Su Bingtian berhasil mencetak rekor Asian Games 100 meter dengan catatan waktu 9,92 detik pada babak final, pada Minggu (26/8), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Catatan tersebut membuat Su Bingtian meraih medali emas di nomor bergengsi atletik tersebut. Pada urutan kedua sprinter naturalisasi Qatar asal Kenya, Tosin Ogunode, berhasil mencatatkan waktu 10,00 detik dan meraih medali perak. Sementara medali perunggul diraih sprinter Jepang Ryota Yamagata dengan catatan waktu yang sama dengan Tosin yaitu 10,00 detik. Sedangkan Usain Bolt kebanggaan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, belum berhasil menyumbang medali pada final pertandingan lari 100 meter putra Asian Games 2018. Zohri memang tidak dibebani target pada event Asian Games 2018. Di partai final ini, Zohri harus puas berada di posisi ketujuh dengan catatan waktu 10,20 detik. Hasil ini lebih baik dari dua sesi sebelumnya, yakni babak kualifikasi dan semifinal. Catatan waktu yang ditorehkan Zohri lebih baik dibanding sprinter Korea Selatan, Kokyoung Kim yang mencatat waktu 10,26 detik. Sebelumnya, pada laga semifinal, pemuda kelahiran Lombok, 1 Juli 2000 ini, meraih peringkat kedua teratas. Zohri mencatatkan waktu 10,24 detik. Torehan ini merupakan catatan waktu yang terbaik, dimiliki Zohri di pentas senior, sebelum sesi final 100 meter. Rekor terbaiknya kala menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yakni 10,18, tak dihitung, karena bukan event senior. Namun, usai diakumulasikan pencapaian waktu, Zohri menempati peringkat ketujuh terbaik. Pada Asian Games 2018, selain sprint 100 meter, Zohri juga akan berlaga di nomor lari estafet 4×100 meter putra, pada Rabu (29/8). (Dre)

Kalah Bersaing Dari Korea, Atlet Lari Gawang 100 Meter Emilia Nova Sumbang Perak

Emilia Nova (putih) tak menyangka, jika debutnya di Asian Games 2018 langsung menyabet medali perak, nomor lari gawang 100 meter putri, cabor atletik Asian Games 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia kembali menambah koleksi satu medali perunggu dan satu perak, lewat cabang olahraga atletik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). Medali perak diraih Emilia Nova, yang bertanding pada nomor lari gawang 100 meter putri. Ini menjadi perak ke-13 untuk Indonesia. Tambahan satu medali perunggu Indonesia diraih Sapwaturrahman yang turun pada nomor lompat jauh putra. Medali ini menjadi perunggu ke-25 untuk kontingen Indonesia. Dalam enam kali percobaan, Sapwaturrahaman mencatatkan jarak terjauh 8.09 meter. Ini adalah catatan terbaik Sapwaturrahaman dalam Asian Games. Sapwaturrahaman kalah dari dua wakil China, yang meraih medali emas (Wang Jianan) dan medali perunggu (Zhang Yaoguang). Wang Jianan mencatatkan jarak 8.24 meter yang menjadi rekor terjauh sepanjang sejarah Asian Games. Di peringkat kedua, Zhang Yaoguang, menorehkan jarak lompatan 8,15 meter. Sementara, Emilia berhasil menyumbang perak, usai di partai final gagal bersaing dengan wakil Korea Selatan, Jung Hye-Lim. Hye-Lim finish terdepan dengan catatan waktu 13,20 detik sekaligus memastikan meraih medali emas. Sedangkan atlet Merah Putih berusia 23 tahun itu, membukukan catatan waktu 13,33 detik dan menjadi runner up Emilia berhak atas medali perak. Sedangkan medali perunggu diperoleh wakil Hongkong Lui Lai Yu. Ia menorehkan catatan waktu 9 detik lebih lambat dari Emilia. Perak yang diraih dara kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1995, merupakan medali pertama Indonesia, dari cabang atletik di Asian Games 2018 Bagi Emilia, Asian Games 2018 merupakan debut pertamanya dan ia tak menyangka meraih medali di nomor yang jadi spesialisasinya itu. Terlebih, atletik merupakan cabang olahraga terukur, dan sulit bisa meraih medali. Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) hanya menarget satu emas pada Asian Games 2018. Ia juga mengaku bersyukur meraih medali perak. “Atletik itu olahraga terukur yang sulit mendapatkan medali. Apalagi untuk tingkat Asia seperti ini,” ungkap Emilia usai lomba. “Terima kasih seluruh masyarakat Indonesia, buat orang tua, pelatih dan pengurus PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) atas doanya,” tambahnya. (Adt)

Sersan Dua TNI Berusia 20 Tahun Ini, Sumbang Keping Emas ke-11 Dari Cabor Karate

Rifki Ardiansyah Arrosyiid, seorang Sersan Dua (Serda) TNI, mempersembahkan medali emas ke-11 untuk Indonesia di Asian Games 2018, usai tampil di babak final nomor pertandingan Kumite -60 kilogram, di Plenary Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (26/8). (liputan6.com)

Jakarta- Karateka putra Indonesia, Rifki Ardiansyah Arrosyiid, mempersembahkan medali emas ke-11 untuk Indonesia di Asian Games 2018. Rifki memenangkan medali emas pada babak final nomor pertandingan Kumite -60 kilogram di Plenary Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (26/8). Medali emas diraih usai Rifki menekuk karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh dengan skor akhir 9-7. Sebelumnya, tim karate Indonesia juga memastikan medali perunggu kumite -55 kg putri, atas nama Cokorda Istri Agung Sastya Rani, paska mengalahkan karateka China, Ding Jiamei, pada nomor 55 kg. Ini merupakan emas perdana dari cabang karate untuk Indonesia di Asian Games 2018. Catatan lain, Karate kembali bisa menyumbang emas Indonesia di Asian Games, sejak Busan 2002. Pada Asian Games 2002 itu, karateka Indonesia, Hasan Basri, menjadi juara pada nomor kumite putra -65 kg. Di fase penyisihan 16 besar nomor Kumite -60 kilogram, pemuda kelahiran Surabaya 24 Desember 1997 ini, mengalahkan karateka asal Thailand, Siravit Sawangsri dengan skor 5-1. Kemudian, pada babak final delapan besar, Rifki kembali menumbangkan karateka asal China, Hu Chen, dengan skor telak 8-0. Terus melaju lagi, di babak perempat final, Rifki bertemu dengan karateka asal Hong Kong, Lee Chun Ho, dan berhasil mengalahkannya dengan perolehan nilai 3-0. Usai mengalahkan Hong Kong, Rifki maju ke babak semifinal, menghadapi karateka Malaysia, Prem Kumar Selvam. Dengan skor 4-4, Rifki sukses mengalahkan karateka asal negeri Jiran itu. Kemenangan itu akhirnya mengantarkan Rifki menuju babak final dan berhadapan dengan karateka Iran, Amir Mahdi Zadeh. Sebelum pertandingan, karateka senior Indonesia, Umar Syarief, menganggap Mahdi Zadeh adalah lawan yang sulit untuk Rifki. Maklum, Mahdi Zadeh adalah peraih medali emas Asian Games Incheon 2014 lalu dalam nomor kumite 60 kg. “Iran juara dunia, dan Asian Games berapa kali juga juara. Ini pertandingan mental. Rifki masih muda, tapi memiliki teknik luar biasa, dan levelnya sudah dunia. Tinggal mentalnya mengimbangi lawan pengalaman,” ucap Umar. Sejatinya, Rifki tak setenar atlet elit Indonesia lainnya. Namanya terdengar asing, jika dibanding dengan Evan Dimas di cabor sepak bola, atau rising star di lintasan atletik, Lalu Muhammad Zohri, atau si tampan Jonatan Christie, dari cabor bulu tangkis. Dilansir dari laman resmi Asian Games 2018, pemuda bertinggi 167 centimeter dan berat 60 kilogram adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, yang bertugas di Satuan Jasmani Militer Kodam (Jasdam) KODAM V/BRAWIJAYA, Sumatra Selatan, dengan pangkat Sersan Dua (Serda). Sebelum menekuk Mahdi Zadeh (Juara Dunia Karate Kumite 60kg 2012 dan 2016), Rifki yang meniti karir karatenya sejak usai sekolah, pernah tampil di beberapa kejuaraan-kejuaraan nasional. Lalu, setelah remsi menjadi seorang tentara, Rifki turun di Kejurnas Karate Marinir Open 2014 dan Kejurnas Mendagri 2015, serta Kejuaraan Piala Panglima TNI 2017. Meski menjalani debut di Asian Games 2018, Rifky ternyata juga mengantongi beberapa prestasi tingkat Internasional, diantaranya medali perunggu pada nomor Team Kumite di SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia. Dia juga tercatat menduduki peringkat ke 15 untuk nomor -55 kilogram putra di World Junior, Cadet & U21 Championships pada 2013, di Guadalaraja, Spanyol. Selain itu, dia juga tercatat duduk di peringkat ke 66 di Karate 1 Premier League, di Dubai (2017). (Ham)