Walaupun Berlangsung Ketat, Jesslyn Dan Tim Bola Basketnya Berhasil Menyumbang Emas Di Pekan Olahraga Nasional

Basket-Jesslyn

Mendapatkan medali emas memang sangat diidamkan oleh seluruh atlet. Pasalnya pencapaian tertinggi pada kompetisi olahraga adalah nomer satu. Terlebih jika pertandingan tersebut sudah masuk babak final. Tim Jawa Tengah, Jesslyn Rasali atau yang akrab disapa Dhing-dhing, yang merupakan salah satu atlet basket dari wilayah Jawa Tengah. Jesslyn bersama tim Jawa Tengah berhasil menaklukan tim Jawa Timur di babak semi final dan juga mampu mengalahkan tim Jakarta di babak final Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu. “Di PON dapat medali emas. Semi final lawan Jawa Timur, final lawan DKI Jakarta itu ketat banget. Waktu lawan Jawa Timur diawalnya ketat banget skornya juga gak terlalu jauh. Tapi kalau pas lawan DKI Jakarta itu ketat banget sampai akhir pertandingan. Skor akhirnya juga gak jauh hanya 5 atau 7 point gitu,”tuturnya Pertandingan di PON memang berkesan bagi Jesslyn. Selain rasa lelah dan membuatnya belajar mandiri, rasa kekeluargaan dengan tim sangat terasa. Atlet berusia 18 tahun ini juga sudah memenangkan berbagai pertandingan seperti Kejuaraan Nasional, Tim Nasional Divisi 2 dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Mahasiswi Psikologi Universitas Surabaya ini juga menceritakan bagaimana awal mula ia bisa bergabung dengan dunia basket yang sudah ia geluti sejak kelas 3 Sekolah Dasar. “Awal mulanya itu, aku lihat kakak yang lagi latihan basket. Terus ikut main-mainan saja, dan lama-lama jadi suka. Saya merasa kalau saya ada bakat juga ya, eh lanjut deh sampai sekarang,”ujarnya Selain itu, gadis yang mengidolakan pemain basket legendaris Stephen Curry ini memberikan pandangannya tentang perkembangan basket di Indonesia. “Perkembangan basket di Indonesia saat ini maju banget. Ditambah ada pemain-pemain asing yang masuk. Itu juga bisa menambahkan semangat, dan juga memajukan pemain-pemain lokal karena bisa termotivasi untuk lebih baik lagi,”tutupnya(put/adt)

Inspirasi Olahraga Panahan dari Atlet Cilik

Achmad Firdaus Assabil adalah atlet cilik panahan asal Surabaya. Ia tidak hanya terkenal karena banyak prestasi di usia yang masih muda, tapi juga berkesempatan memanah bersama Presiden, Joko Widodo. Awal Mula Ketertarikan Dunia Memanah Seperti yang dilansir dari Tempo.co, awal mula Assabil tertarik dunia memanah, saat Ia menonton Film “The Message” dan melihat prestasi atlet Panahan Indonesia di Olimpiade Rio De Janeiro 2016. Sejak saat itulah Ia mulai mencoba cabang olahraga panahan. Prestasi yang Diraih di Usia Muda Prestasi yang telah diraih Assabil yaitu Juara 1 Surabaya Eksebition Program 2016, dan runner-up  Bogor Open 2017. Pada kesempatan lomba di Bogor itulah, Ia berhasil memanah bersama Presiden Jokowi. Ada juga banyak prestasi lainnya, seperti juara 2 di Surabaya Internasional junior Champhionship Tahun 2017, Juara 1 Piala Walikota Kediri Tahun 2017, dan juara 2 di Surabaya Eksebition Stage 2. Terakhir Ia mendapatkan 2 medali perak dan 1 perunggu pada Pekan Olahraga SD/MI se- Jawa Timur di Lumajang. Tak hanya berprestasi dibidang atletik, ternyata putra Achmad Basjori dan Retno Mardiningsih ini berprestasi juga di bidang akademik, antara lain pernah juara Harapan Olimpiade Science Tahun 2017, juara 3 Lomba Pidato Se-Surabaya, Juara lomba Tahfidz dan cerdas cermat tentang agama, Juara Pildacil (Pemilihan Dai Cilik Se- kecamatan Gayungan), dan Juara 2 Show and Tell yang diselengarakan Lembaga Indonesia Amerika. Kunci dari kesuksesan Assabil adalah fokus. “Jika di sekolah tidak boleh mikir panahan, sebaliknya waktu latihan gak usah mikir sekolah,” katanya yang dilansir dari tempo.co Assabil bisa membagi waktunya antara prestasi bidang akademik dan dunia panahan adalah dengan Pelatih Panahan, Huda Sarbiantoro, memberikan porsi latihan di rumah. Berhubung waktu berlatih di lapangan yang terbatas, menyebabkan ia harus berlatih juga di rumah. Sedangkan untuk waktu latihan di lapangan panahan KONI Jatim hanya 2 kali seminggu. Tentang Panahan Dikatakan Assabil olahraga panahan ini dapat melatih mental para atlet. Berdasarkan pengalamannya, atlet banyak yang berpikir untuk menang dan meraih hadiah di pertandingan. Padahal, hal tersebut malah bisa memecah konsentrasi dalam memanah. Cabang olahraga panahan ini butuh konsentrasi dan fokus. Tidak boleh berpikir tentang hadiah dari kemenangan tersebut, melainkan harus tetap fokus untuk kebanggaan dan kesuksesan tim. Diakui sang pelatih bahwa Assabil merupakan atlet yang memiliki fisik dan mental bertanding yang bagus. Assabil pasti bisa menjadi atlet panahan andalan jika ia terus tekun berlatih.

Babar, Satu dari Segelintir Gadis Yang Berprestasi Dalam Olahraga Futsal

Babar-Futsal

Futsal wanita di Indonesia, bisa dikatakan masih sedikit peminatnya. Salah satunya adalah Bardina Desya Rahmah atau yang akrab disapa Babar. Melihat jumlah pemain futsal wanita yang sedikit, Babar tidak ragu untuk menekuni futsal. Berawal dari bermain sepakbola, Babar pun mencoba untuk terjun ke dunia futsal. “Dari kecil saya sudah suka main bola. Terus mencoba masuk ke dunia futsal dan ternyata sangat berbeda. Dulu juga masih sedikit pemain khusus wanitanya jika dibanding sekarang. Karena tidak banyak peminatnya, makanya saya terjun ke dunia futsal. Ternyata saya suka dan jadi hobi deh,”ujarnya Mahasiswi 20 tahun dari Universitas Negeri Jakarta ini, sudah menekuni futsal sejak duduk dibangku SMP. Sudah banyak turnamen yang ia ikuti, diantaranya, seperti membawa tim UNJ Women Futsal di Kejuaraan Nasional Brawijaya Malang, Liga Mahasiswa tahun 2017 dan 2016, International Sport Fiesta di Malaysia, dan masih banyak lagi. Selain itu, Babar juga memiliki pengalaman dimana ia menjadi anchor yang bisa menentukan kemenangan dari tim. “Selama pertandingan di event International Sport Fiesta, saya sebagai anchor bisa mencetak goal dan sebagai penentu kemenangan tim,”tuturnya Namun, sebagai seorang atlet terutama futsal, Babar tak jauh dari rasa lelah bahkan mendapatkan ejekan jika tidak menjuarai suatu pertandingan. “Ketika tidak menjuarai sebuah kejuaraan, pasti banyak ejekan atau hardikan. Kadang sudah capek abis pertandingan, namun harus latihan lagi. Harusnya refreshing, namanya atlet pasti ada jenuhnya,”tutupnya(put/adt)

Walau Sempat Pesimis, Akhirnya Arya Berhasil Menyabet Medali Dari Ajang Panahan Internasional

Arya-Panahan

Setiap atlet pasti pernah mengalami ketidakpercayaan diri atau pesimis, terlebih saat akan menghadapi kejuaraan. Apalagi melihat lawan-lawan yang memiliki kemampuan yang lebih baik. Seperti yang dialami oleh Arya Dwi Putra Umarella atau yang akrab disapa Arya. Atlet nasional di cabang olahraga panah ini, berbagi cerita kepada nysnmedia.com, tentang pengalamannya ketika mengikuti kejuaraan nasional pelajar ditahun 2015. Ia seakan tidak percaya saat dinyatakan telah berhasil membawa pulang 2 medali emas, 2 medali perak dan 1 medali perunggu. “Jadi pas kejuaraan nasional pelajar di Jawa Tengah 2015, saya kurang pede karena cuma dapat 1 medali perak di tahun 2014. Soalnya faktor lawan-lawannya itu adalah atlet juara nasional pelajar semua. Aku Cuma bisa bedoa dan berusaha. Dan setelah selesai bertanding, Aku gak sadar kalau bisa jadi juara, pas dipanggil nama Arya, saya malah melamun, dan baru sadar setelah dipanggil temen-temen. Alhamdulilah banget,”tutur Siswa Kelas 2 SMA Sekolah Atlet Ragunan Bermula diminta orang tua untuk menjadi atlet, Arya pun sudah menekuni panah sejak 5 tahun lalu. Sang ayah juga merupakan atlet atletik dan sang ibu atlet panah. Selain kejuaraan nasional pelajar, Arya pun pernah menjuarai SKO Open di Thailand tahun 2016 dan 2017 dan Children Open Tournament Di Rusia tahun 2016 lalu. Arya yang juga sempat gugup ketika mengikuti Children Open Tournament Di Rusia, namun berkat motivasi dalam diri, Arya berhasil mendapatkan 2 medali. “Waktu kejuaraan Children Open Tournament Di Rusia, Aku pesimis juga karena melihat lawan yang jam terbangnya lebih banyak dan lebih hebat. Pas disitu Aku berpikir, kalau Aku telah dipilih sama Indonesia buat kesini berarti aku nggak kalah hebat dari lawanku. Mulai dari situ aku mulai optimis,”tuturnya Cowok berusia 16 tahun ini juga memiliki pandangan tentang olahraga panahan di Indonesia. Baginya, pemerintah kurang memberikan perhatian kepada atlet pemanah. “Menurutku, perkembangan olahraga panah di Indonesia kurang pesat, soalnya pemerintah masih kurang peduli. Misalnya menjelang Asean Games tahun ini, sampai sekarang belum ada training center buat panahan,”ujarnya Arya juga menambahkan kurangnya perhatian dalam alat panahan berbeda dengan negara lain yang sangat memperhatikan sarana dan prasarana alat panah. “Alat panah kan mahal banget harganya, dari Negara Indonesia itu kurang memperhatikan. Harus berprestasi banget baru akan diperhatiin. Padahal atlet negara lain kalau soal peralatan sudah dipehatikan banget detailnya,”tutupnya (put/adt)

Lima Bek Tangguh Yang Dimiliki Dunia Sepakbola Indonesia Versi NYSN Media

bek-indonesia

Menjadi seorang defender atau seorang bek dalam pertandingan sepakbola tentunya harus mempunyai fisik yang kuat dan tangguh. Bukan hanya itu, mereka diharapkan bisa mengambil keputusan untuk menggagalkan serangan lawan dengan cara halus. Di luar negeri, legenda seperti Javier Zenetti, Ivan Cordoba, Jaap Stam, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Paolo Maldini merupakan sosok bek tangguh. Namun, di Indonesia juga memiliki bek tangguh yang ditakuti para penyerang. Nysnmedia.com telah mengumpulkan lima bek tangguh asal Indonesia: Fachrudin Wahyudi Aryanto Fachrudin mengawali kariernya sebagai pesepakbola profesional Indonesia bersama PSS Sleman pada tahun 2007 sampai 2012. Pemain kelahiran Klaten, 19 Februari 1989 kemudian hijrah ke klub Madura Utama hingga pada tahun 2012 sampai 2014. Klub papan atas Sriwijaya pun, pernah menggunakan jasa Fachrudin untuk mengawal tembok pertahanan dalam mengarungi kompetisi 2014-2017. Setelah di Sriwijaya selama tiga musim, ia berlabuh ke tim Madura United. Disana, peran Fachrudin tak tergantikan. Tangguhnya Fachrudin dalam mengawal pertahanan Madura United berhasil membawa timnya menembus papan atas klasemen Liga 1. Di level Timnas sendiri, Fachrudin sudah melakoni debutnya pada saat Piala AFF 2012. Kini, ia dipercaya menjadi kapten di Timnas Indonesia. Meski, menjadi seorang bek, Fachrudin kerap mencetak gol. Ahmad Jufriyanto Tohir Ahmad Jufriyanto atau biasa disapa Jupe ini mempunyai syarat komplit menjadi seorang bek. Tak jarang, klub-klub besar dari dalam negeri dan luar negeri tertarik menggunakan jasanya. Jupe pernah membela Persita Tangerang sebagai kota kelahirannya pada tahun 2005-2008, Arema Malang 2008-2009, Pelita Jaya 2009-2010. Pernah juga bolak balik ke tim Sriwijaya dan saat ini membela Persib Bandung. Jupe merupakan bek yang komplit, selain tangguh di lini pertahanan. Jupe juga mempunyai tendangan akurat. Beberapa kali gol nya, terlahir dari tendangan bebasnya. Kini, Jupe pun kerap mengisi di deretan nama pemain Timnas Indonesia. Hansamu Yama Pranata Hansamu Yama Pranata atau yang lebih dikenal dengan Hansamu Yama lahir di Mojokerto, 16 Januari 1995. Sejak kecil, Yama sapaan akrabnya sudah bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Bakatnya sudah mulai diasah di SSB Mokokerto Muda pada tahun 2010 hingga 2011. Lambat laun, Yama terus menunjukan peningkatan yang signifikan dan sukses berlatih di Uruguay bersama tim SAD Indonesia. Sejak itu, permainan Yama terus meningkat ditambah mempunyai postur yang tinggi, sehingga Indra Sjafri kepincut jasa Yama di timnas Indonesia U-19. Tak salah pilih, timnas U-19 berhasil menjuarai Piala AFF U-19 2013. Konsisten dalam bermain, mantan pelatih Timnas Indonesia senior, Alfred Riedl juga ingin menggunakan jasa Yama di Piala AFF 2016 meski usianya tergolong masih muda. Kini, Yama tetap setia di tim Barito Putera. Meski, banyak tawaran dari berbagai klub. M Rezaldi Hehanusa – Persija Jakarta Pria yang akrab disapa Bule ini, merupakan pemain Persija Jakarta. Mengisi posisi bek sayap kiri, Bule kerap membantu serangan Persija dengan cepat yang bermain dari kaki ke kaki. Bule juga baru saja dinobatkan sebagai pemain muda terbaik di Liga 1 Indonesia. Pemain kelahiran Jakarta, 7 November 1995 ini mencatatkan diri bermain bagi Persija sebanyak 19 kali bermain, mencetak satu gol dan tiga assist. Tentunya, masih ingat ketika Bule mencetak gol spektakuler pada ajang Sea Games, Kuala Lumpur, Malaysia 2017. Tendangan jarak jauhnya berhasil Indonesia meriah perunggu dan mengalahkan Myanmar 3-1. Permainannya yang sangat sederhana, membuat Bule mendapat sorotan dari pelatih Luis Milla. Ia pun, dipanggil untuk masuk ke timnas U-23 untuk mempersiapkan diri menghadapi Asian Games 2018. Johan Alfarizi Johan Alfarizi merupakan pemain sepak bola Indonesia yang lahir dan besar di Malang. Pemain yang lahir pada tanggal 25 Mei 1990, ini merupakan pemain yang besar dan juga berkembang berkat akademi Arema. Pemain dengan nomor punggung 87 ini memulai karir nya di sebuah SSB Kitaro di Jatigul, Sumberpucung, Malang. Mempunyai identik yang khas pada rambut gondrongnya, pernah dipinjamkan ke Persija Jakarta untuk meningkatkan permainannya. Alhasil, Alfarizi sukses menunjukan perkembangan yang pesat, sehingga Arema menarik kembali. Dari situ, tipe bek sayap yang tenang dan mempunyai akurasi umpan baik membuat dirinya sering membantu penyerangan tim. Dan, Alfarizi juga dipercaya menjadi kapten Arema hingga sekarang.(pah/adt)

Awalnya Terpaksa Bermain Voli, Tetapi Dinda Berhasil Raih Juara 1 di Pekan Olahraga Nasional Mahasiswa 2017

Adinda-Wibowo-Voli

Terpaksa mengikuti sesuatu yang awalnya tidak disukai memang tidak menyenangkan. Namun, jika kita tekun menjalankannya, maka kita bisa termotivasi untuk menghasilkan yang terbaik. Wanita belia ini bernama Adinda Wibowo, atau yang diakrab sebagai Dinda. Dinda sudah menjuarai berbagai turnamen seperti Pekan Olahraga Nasional Mahasiswa (POMNas), Kejuaraan Nasional Junior, Livoli Divisi 1, Princess Cup U-19 dan masih banyak lagi. Gadis berusia 19 tahun ini sempat berbagi cerita kepada nysnmedia.com, tentang bagaimana awal mula mengikuti voli. Orang tua dari Dinda merupakan atlet voli, tidak jarang orang tua Dinda mengarahkan agar ia juga mengikuti voli. Awalnya, Dinda terpaksa menjalani voli karena ia menyukai basket. Namun, berkat melihat permainan dari senior-seniornya, Dinda pun menjadi sangat menyukai voli. “Pertama tuh aku itu atlet basket, terus mama papaku atlet voli, mereka pengen aku jadi atlet voli. Padahal dulu aku gak suka voli, dan akhirnya dipaksa latihan. Dan sekarang malah jadi suka sama cabang olahraga voli. Aku melihat kakak-kakak senior mainnya bagus-bagus banget, malah jadi termotivasi untuk bisa kaya kakak senior itu,”ujarnya Dinda sudah menekuni voli sejak 5 tahun lalu. Ia juga menuturkan momen-momen berharga yang ia dapatkan sejak bergabung di cabang olahraga voli. “Banyak momen yang tak pernah terlupakan. Misalnya, saat bermalam bersama dengan teman-teman, saat itu rame-rame, sering ketawa sendiri kalau lagi ngebayangin, cerita-ceritanya seru. Kalau sedang latihan, misalkan 2 atau 3 bulan di mess gitu juga seru, ada saatnya bercanda dan saatnya serius. Bahkan sampai ada yang nangis, perjuangan banget, karena latihan itu di dedikasikan hanya untuk bisa jadi yang terbaik untuk tim,”tutur atlet perwakilan wilayah Jakarta ini Mahasiswi Manajemen Perbanas Institute ini juga sering mengalami kendala ketika harus menjalani pertandingan yang bentrok dengan jadwal kuliah. Namun, Dinda harus bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi atas apa yang ia jalankan. “Kalau waktunya bentrok antara kuliah dan pertandingan, kita harus tanggung jawab sih sebagai mahasiswa dan atlet. Harus rela meninggalkan ujian atau susulan. Kadang juga ada dosen yang gak mengizinkan. Ya kalau begitu harus menerima konsekuensinya baik sebagai atlet atau mahasiswa,”tutupnya(put/adt)

Kaleidoskop: Momen Tak Terlupakan Dunia Olahraga Indonesia Sepanjang Tahun 2017

kaleideskop 2017

Tahun 2017 akan segera berakhir. Berbagai momen bersejarah dan tak terlupakan pun terjadi terutama di dunia olahraga Indonesia. Momen apa sajakah itu? Berikut momen-momen tak terlupakan yang dirangkum tim nysnmedia.com Match Fixing Indonesian Basketball League (IBL) Di bulan November lalu, kabar tak menyenangkan datang dari dunia basket Indonesia. Pasalnya, terdapat 8 pemain basket dan 1 official pada klub JNE Siliwangi Bandung yang tersandung kasus match fixing atau pengaturan skor. Mereka adalah Ferdinand Damanik, Tri Wilopo, Gian Gumilar, Haritsa Herludityo. Untung Gendro Maryono, Fredy, Vinton Nolan Sarawi, Robertus Riza Raharjo dan Zulhimi Fatturohman. Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi)mengeluarkan surat sanksi yaitu pembekuan paling lama 5 tahun dan IBL memberikan sanksi tidak memperbolehkan 9 nama tersebut berkontribusi di IBL seumur hidup. Hingga saat ini, kasus tersebut masih terus diselidiki. Kontorversi Liga 1 Kompetisi liga 1 mulai diadakan pada 15 April 2017 lalu memang menuai banyak kontroversi. Berbagai macam aturan yang diberlakukan dianggap menyulitkan seperti batasan usia pemain maksimal 35 tahun dan mewajibkan pemain U-23 bermain sebagai starter. Tak hanya itu, tidak konsisten dalam menggunakan wasit asing dan perubahan jadwal yang dadakan dianggap sangat tidak efektif. Bahkan supporter dari Persib Bandung pun juga sangat mencuri perhatian. Dan yang sangat kontroversi adalah perbedaan antara Liga 1 dan FIFA tentang penobatan juara liga 1. Kecurangan Yang Dilakukan Malaysia Terhadap Indonesia Di SEA Games Ajang olahraga tingkat Asia Tenggara 2017 lalu yang dilaksanakan di Malaysia dapat dikatakan sangat buruk. Malaysia melakukan berbagai kecurangan bukan hanya terhadap Indonesia namun juga negara-negara lain. Kecurangan yang menerpa Indonesia antara lain insiden posisi bendera Indonesia terbalik di buku panduan SEA Games, salah melakukan pemberian kartu kuning kepada Evan Dimas ketika melawan Timor Leste hingga kecurangan wasit dalam cabang olahraga sepak takraw. Chairul Huda Wafat Saat Bertanding Kiper legendaris Chairul Huda yang membela tim Persela Lamongan wafat saat bertanding melawan tim Semen Padang. Chairul Huda meninggal akibat benturan di bagian kepala dan leher dari rekan setim nya, Ramon Rodrigues. Kejadian tersebut sontak mengejutkan seluruh pihak yang saat itu menyaksikan Chairul Huda yang sempat memegangi dada dan kepalanya setelah terjadi benturan. Duka pun menyelimuti dunia sepak bola dengan kehilangan salah satu kiper panutan pemain-pemain muda Indonesia. Pembukaan Politeknik Olahraga Indonesia (POI) Politeknik Olahraga Indonesia resmi dibuka pada 21 November lalu. Politeknik yang berada di Palembang, Sumatera Selatan ini memiliki 3 program studi, yaitu Sport Industry, Perguruan Tinggi dan Kepelatihan. Ketiga program studi ini dianggap memiliki potensi yang menjanjikan dalam kenaikan prestasi olahraga di Indonesia. Dengan didirikannya POI, diharapkan Indonesia bisa mencetak atlet dan pelatih olahraga professional dimasa depan Dimas Ekky Pratama Mengikuti Ajang Moto2 Pembalap kelahiran tahun 1992 ini dengan bangga membawa nama Indonesia di ajang Moto2 yang diadakan di Sirkuit Sepang, Malaysia. Namun ia gagal melewati garis finish akibat jatuh di lap kedua. Saat itu, ia sedang berada diposisi ke-12. Meski gagal, ia tetap bangga bisa ikut dalam ajang balap motor Internasional. Kemenangan Kevin Sanjaya Dan Marcus Fernaldi Gideon Duet ganda putra terbaik Indonesia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil menjuarai turnamen BWF Super Series Finals 2017 pada 17 Desember lalu. Gelar Dubai Super Series Finals ini menjadi gelar juara ketujuh yang diraih Kevin/Marcus di ajang Super Series atau Super Series Premier sepanjang tahun 2017. Ini merupakan sejarah baru bagi Indonesia dan bagi pasangan berjuluk The Minions. Tujuh gelar yang diraih Kevin/Marcus masing-masing datang dari All England, India Terbuka, Malaysia Terbuka, Jepang Terbuka, China Terbuka, Hong Kong Terbuka, dan BWF Super Series Finals Indonesia Juara Umum ASEAN Para Games Indonesia menjadi juara umum diajang ASEAN Para Games 2017 yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Indonesia berhasil membawa pulang 125 emas, 75 perak, dan 50 perunggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa atlet difabel bisa Indonesia mengharumkan nama bangsa. Dengan segala keterbatasan dan disabilitas, mereka menjadi sosok-sosok penting pembawa nama baik bangsa di hadapan dunia. Renovasi Venue Asian Games 2018 Menyambut Asian Games 2018, berbagai fasilitas olahraga di Indonesia terutama Jakarta dan Palembang melakukan renovasi besar-besaran. Di Jakarta, kompleks Gelora Bung Karno saat ini sudah mulai rampung, seperti Stadion utama Gelora Bung Karno, Training Facility, Stadion Tenis Indoor dan Outdoor, Stadion Madya, Softball, Gedung Basket dan Lapangan Baseball, Lapangan Hoki, Lapangan Panahan dan Sepakbola ABC serta Stadion Renang (Aquatic). Selain itu, pembangunan juga dilakukan di arena menembak dan danau dayung di Jakabaring Sport Center (JSC) Palembang, rehabilitasi 17 venue di Jawa Barat, dan pembangunan venue Jetski dan Dayung di Ancol, Jakarta. Beberapa momen diatas memang tak akan terlupakan. Semoga di tahun 2018, olahraga di Indonesia bisa terus berkembang hingga kembali mengukir sejarah.(put)

Berkat Latihan Keras, Albi Berhasil Mengalahkan Tim Sepak Takraw Pelajar Tingkat Asean

Albi-Pratama-Sugiharto-sepak-takraw

Berhasil melawan tim kelas internasional merupakan suatu kebanggaan. Sempat dikalahkan tim sepak takraw Jawa Tengah di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas), Albi bersama tim sepak takraw Jakarta membalas di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas). Albi yang memiliki nama panjang Albi Pratama Sugiharto mengaku sangat berlatih keras sejak dikalahkan tim Jawa Tengah. Tim Jawa Tengah memang terdiri dari pemain-pemain Asean Pelajar. “Pertandingan pertama watu itu ketemu di kejuaraan Popnas. Mungkin Jawa Tengah di mayoritasin pemain asean, pelajar juga lebih percaya diri di banding saya dan tim saya. Akhirnya tim saya kalah. Pas kejuaraan Pomnas kemarin saya dan tim menang, karena buat saya perkembangan latihan kita di uji saat pertandingan dan lawan yang kemarin sempat mengalahkan kita,”tuturnya Albi yang sudah menjuarai beberapa turnamen seperti Juara 1 Kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi 2009 dan 2014, Juara 3 ASG (Asean Schools Games) 2012 dan masih banyak lagi. Mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Negeri Jakarta ini, sudah menekuni sepak takraw sejak 10 tahun lalu. Baginya, sepak takraw merupakan olahraga yang menantang. “Sepak takraw itu extreme buat saya karena salto-salto gitu, dan itu seru banget,”ujar cowok yang berusia 20 tahun ini Mengikuti jejak sang kakak untuk menekuni sepak takraw, Albi tidak jauh dari cedera. Ia pernah mengalami cedera dibagian engkel kaki yang masih ia rasakan hingga saat ini. “Kalau cedera saya seringnya engkel dikaki. Malah sampai sekarang masih kerasa. Yang sekarang ini cedera saat uji tanding di Thailand tahun 2016 lalu, saya salah gerakan dan jatuh,” tutupnya(put/adt)

Ini Juara dan Daftar Pemain Terbaik JJBC 2017

The-hawk-KU-16-Girls-menjadi-juara-setelah-mengalahkan-Jetz-KU-16-Girls

Ajang tahunan JJBC 2017 berakhir sudah pada Minggu (17/12), sebanyak 14 klub dari 34 team bermain sangat sportif sepanjang perhelatan JJBC 2017, baik di kategori KU (Kelompok Umur) 7 hingga KU 16. Tangsi, tawa, senang, emosi dan berbagai macam gestur ditunjukan para pemain maupun para suporter yang hadir di Jetz Stadium, Gading Serpong, Tangerang. Panitia yang tak kenal lelah, terus memberikan yang terbaik perlu di acungi jempol dan segenap pendukung keberhasilan JJBC 2017. Dan, berikut nysnmedia.com berikan daftar juara dan pemain yang meraih gelar MVP maupun Top Scorer dari berbagai KU: KU 7 Juara 1 : Jetz Juara 2 : Cakra Sakti Juara 3 : Rockstar Gym KU 9 Juara 1 : Jetz Juara 2 : Cakra Sakti Juara 3 : Gading Muda Top Scorer : Efrael dari Jetz MVP : Efrael dari Jetz KU 10 Juara 1 : Jetz Juara 2 : Metro Starlight Juara 3 : Eagles Academy Top Scorer : Kenneth dari Jetz MVP: Jayden dari Jetz KU 12 Juara 1 : Indonesia Falcon Juara 2 : Jetz Juara 3 : Eagles Academy Top Scorer : Razrel dari Indonesia Falcon MVP : M Akram dari Indonesia Falcon KU 13 Juara 1 : Learn Juara 2 : Indonesia Falcon Juara 3 : Jetz Top Scorer : Andrew dari Learn MVP : Andrew dari Learn KU 16 Putri Juara 1 : The Hawk Juara 2 : Jetz Juara 3 : The Sky Top Scorer : Kezia dari Jetz MVP : Yosia KU 16 Putra Juara 1 : Metro Starlight Juara 2 : Jetz Juara 3 : The Hawk Top Scorer : Yosua dari Metro Starlight MVP : Yosua dari Metro Starlight Nah, itu dia daftar juara, top scorer dan MVP di JJBC 2017 untuk tim kalian yang belum mendapat juara, jangan berkecil hati yah guys. Terus berlatih dan berlatih untuk meraih prestasi yang membanggakan. Dan, sampai jumpa di JJBC 2018.

Bulutangkis: Meski Sempat Mengalami Demam, Vindra Tetap Bertahan Hingga Semi Final

Moch.-Revindra-Raynaldi-Bulutangkis

Menjaga kondisi kesehatan tubuh memang sangat diperlukan bagi seorang atlet. Termasuk kondisi fisik yang baik dibutuhkan jika ingin bertanding. Pria yang memiliki nama panjang Moch. Revindra Raynaldi atau Vindra, ia merupakan atlet badminton yang pernah mengalami sakit demam disaat ia bertanding. Namun, hal tersebut tidak menghalangi dirinya untuk melanjutkan pertandingan hingga membawanya ke babak semi final. “Saat berada di even Australia International Series 2015, saya sakit demam. Tapi bisa masuk semi final. Itu pengalaman berharga buat saya untuk bagaimana bisa menyelesaikan masalah saat turnamen,”ujarnya Vindra yang juga merupakan anak dari salah satu pelatih Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum, memang sudah tekun mengikuti badminton sejak usia 5 tahun. Ia sudah menjadi atlet badminton yang bisa di bilang professional sejak usia 13 tahun hingga sekarang. Saat ini, Vindra sedang menekuni kuliah di Universitas Negeri Semarang jurusan Kepelatihan Olahraga. Vindra sudah mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan internasional. “Kalau turnamen nasional, dari kalender Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sudah sangat sering ikut jika tidak cedera. Kalau internasional saya pernah berpartisipasi di Asean School 2008, German Junior 2014, International Singapore Series dan masih banyak lagi,” tuturnya Tak jarang,Vindra juga mengalami duka dan kendala sejak menjadi seorang atlet. “Buat saya kendalanya itu konsistensi dari satu pertandingan ke pertandingan selanjutnya dan mempertahankan semangat dan tujuan sejak latihan. Belom lagi kena omelan pelatih saat mainnya jelek, disiplin dalam segala hal dan masih banyak lagi,”tutupnya(put/adt)

Safwan, Atlet Atletik Yang Pernah Melawan Usain Bolt, Pelari Tercepat di Dunia

Safwan-Atlet-Atletik2

Salah satu pengalaman yang luar biasa bagi seorang atlet adalah saat berkesempatan untuk bertanding melawan atlet yang sudah tersohor di bidangnya. Hal ini sempat dialami oleh Safwan, seorang atlet muda berbakat yang berasal dari Nusa Tenggara Barat. Pengalaman bertanding bersama dengan pelari tercepat dunia, Usain Bolt merupakan pengalaman berharga bagi Safwan. Atlet atletik dengan nama lengkap Sapwaturrahman ini pernah berlaga di seri 100 m dalam kejuaraan senior tingkat dunia pada tahun 2013 lalu. “Ditahun 2013 saya ikut kejuaraan senior tingkat dunia pertama. Saya berlari bareng Usain Bolt di seri 100 m. Itu serasa mimpi jadi kenyataan. Walaupun saya ditinggal jauh sama dia, tapi saya dapat pengalaman luar biasa. Dia tinggi besar dan ramah,”ujarnya Safwan yang saat ini berfokus di olahraga lompat jauh pada ajang Asian Games 2018 mendatang, pernah mengikuti beberapa turnamen seperti Pekan Olahraga Nasional, Kejuaraan dunia atletik tingkat remaja dan senior di Perancis dan Moscow. Meski sudah 3 kali gagal menyabet medali di ajang Sea Games, Safwan tetap belajar menerima kekalahan. “Saat Sea Games 2013, Ayah saya nonton langsung di Myanmar. Tapi saya tetap belajar disitu, kalau mau juara kita juga harus siap kalah,”tuturnya Mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram ini pernah mengalami cedera sepanjang tahun 2015. Kejadian tersebut membuatnya terpaksa harus mengundurkan diri dari Pemusatan Latihan Nasional (PELATNAS). Ia harus membangun prestasi dari nol lagi. Meski begitu, ia tetap merasa beruntung selalu diberikan support dari orang-orang yang ada disekitarnya. “Saya memilih keputusan yang berat yaitu mengundurkan diri secara terhormat dari PELATNAS. 2 tahun saya kembali berjuang di Nusa Tenggara Barat. Beruntung saya lahir disini provinsi yang mensupport atlet berprestasi. Saya banyak belajar bagaimana memahami diri secara fisik dan spiritual. Dan tentu support dari orang tua, pelatih dan Pak Hasan sebagai ketua umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Itu sebabnya saya semangat dan ingin membalas budi dan menjadi sejarah di dunia atletik di Indonesia,”tutupnya (put/adt)

Sukses Tontonkan Skill Individu, Nama M Rafly Duduk Dalam Bursa Transfer Pemain

Rafly-pemain-timnas-u-19

Meski timnas Indonesia hanya mendapat peringkat tiga di ajang Piala AFF U-19. Namun, anak-anak besutan Indra Sjafri ini, mempunyai skill olah bola yang aduhai, dan berhasil membuat klub-klub top Liga 1 kepincut untuk menggunakan jasa mereka di Liga 1 2018. Bisa di lihat sebelumnya bahwa nama Hanis Saghara Putra dan Febi Eka Putra telah resmi dikontrak oleh runner-up Liga 1 Bali United. Dan, Egy “Kelok Sembilan” Maulana Vikry akan berguru ke ranah Eropa. Namun, ada satu penyerang timnas U-19 yang masih jadi rebutan klub Liga 1, yakni M Rafly Mursalim yang mendapat julukan si Santri asal Kota Tangsel. Meski santer dikabarkan akan bergabung ke PS TNI, ayah Rafly yakni Faisal Risal mengungkapkan bahwa belum ada tanda tangan kontrak dari PS TNI. “Sementara belum ada tangan kontrak dan belum deal,” ujar Faisal kepada tim nysnmedia.com melalui pesan whatsapp, Selasa (5/12). Rafly pernah memperkuat Porda Tangsel dan juga liga Soeratin Tangsel. Faisal juga mengatakan, tak hanya PS TNI saja yang ingin mengontrak Rafly. “Ya, bukan hanya 1 klub yang minat, Alhamdulillah ada beberapa klub Liga 1 yang dari awal minat sama M Rafly,” ucapnya. Tak hanya klub Liga 1 saja yang aktif dalam bursa transfer pemain. Tetapi, klub luar juga sedang aktif untuk memperkuat pondasi demi merengkuh juara. Saat ini, klub luar juga sudah mulai melirik pemain Indonesia, seperti Evan Dimas dan Ilham Udin yang baru saja dikontrak oleh Selangor FC (Malaysia). Melihat banyaknya minat klub luar akan kehebatan pemain Indonesia, tak terkecuali sang santri Rafly. Namun, sang ayah ingin Rafly berkarir di Indonesia dan merasakan atmosfir Liga 1. “Sementara biar berkarir dulu di dalam negeri dan merasakan atmosfir Liga Indonesia. Masalah nanti ada tawaran main keluar negeri, kita liat aja perkembangannya seperti apa,” jelas Faisal. (pah/adt)

Bulutangkis: Sosok Ibunda Menambah Semangat Rezha Meraih Prestasi

Rezha-Arzhan-Hidayat-Saat-Bertanding-Di-Liga-Mahasiswa

Kerja keras seorang ibu memang tidak bisa terbayarkan oleh apapun yang ada di dunia ini. Kasih sayang dan ketulusan menjadi dasar bahwa cinta yang di miliki seorang ibu, niscaya sebuah cahaya dalam kegelapan yang dapat menuntun menuju arah kesuksesan. Rezha, cowok dengan nama lengkap Rezha Arzhan Hidayat ini merupakan salah satu atlet bulutangkis Indonesia yang pernah mengikuti berbagai kejuaraan seperi Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas), Brawijaya Malang Open, Liga Mahasiswa Nasional dan masih banyak lagi. Rezha yang juga adalah salah satu mahasiswa berprestasi di Universitas Negeri Yogyakarta, baginya perjuangan sang ibunda yang mengantarkan ia dari Yogyakarta ke Gunung Kidul merupakan pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. “Dulu saya pernah diantar mama naik motor dari Jogja ke Gunung Kidul. Saya menginap disana tapi mama langsung pulang, karena masih ada kerjaan. Terus mama nyusul lagi, dan ikut menginap dengan teman-teman satu tim saya. Saya gak nyangka saat itu saya mendapatkan juara pertama ditingkat provinsi. Sosok mama memberikan kesan semangat, yang mengantar dan menjaga saya untuk terus fokus dipertandingan,”ujarnya Ibunda Rezha selalu hadir disetiap pertandingan Rezha, baik yang diselenggarakan di dalam ataupun luar kota. Namun, saat bertanding di Semarang adalah pertandingan terakhir yang ibunda Rezha hadiri dan ikut menginap. Sehabis pulang dari Semarang, ibunda Rezha di vonis mengalami gagal ginjal. “Semenjak mama sakit, mama hanya hadir berikan support, tapi ketika saya masuk babak semi final atau final. Saya sangat semangat, dulu sebenarnya sebelum mama sakit agak gak seneng, karena pasti bikin saya gak tenang. Namun semenjak mama sakit, saya pengennya ditonton mama, karena mama juga senang nonton saya dan bisa jadi hiburan untuk mama.”tutur cowok yang berusia 22 tahun ini Rezha yang saat ini menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Olahraga, sudah menggeluti bulutangkis sejak 13 tahun lalu. Meski pernah mengalami cedera, Rezha mampu bangkit jika menginggat bahwa cedera atau kalah merupakan rezeki dari Tuhan. “Saya ingat kalau rezeki sudah Allah atur. Ingat saya juga banyak dikasih rezeki dan bisa diluar dugaan saya.”tutupnya(put/adt)

Tujuh Tahun Geluti Sepakbola, Dhika Berhasil Kibarkan Merah Putih Di Perancis

Andhika Dwi Kartika

Indonesia patut berbangga hati, terkadang mengibarkan nama negara di negara orang lain tidak semudah apa yang kita inginkan. Bahkan ada bahasa yang menyatakan “bahwa keinginan mesti sesuai dengan kemampuan.” Kisah Atlet muda dan bertalenta ini bernama lengkap Andhika Dwi Kartika, ia sudah menjadi kebanggaan orang tuanya, di umurnya yang masih terbilang muda ini sudah berhasil membawa nama Indonesia sampai ke negara Perancis melalui ajang sepakbola Danone. Andhika Dwi Kartika atau yang biasa disebut Dhika ini telah menekuni dunia sepak bola sejak umur 7 tahun. Melalui sekolah sepakbola yang di geluti nya yaitu SSB Salfas Soccer. Dan saat ini Dhika masih tercatat sebagai murid di sekolah menengah pertama SMPN 16 Cikokol, Kota Tangerang “Dari umur 7 tahun langsung ikut SSB, dari hati sendiri terus juga di tambah dukungan dari orang tua. “Ujar Dhika kepada nysnmedia.com, Selasa (28/11/2017). Selain prestasi dari ajang Danone 2016, Dhika juga berhasil mendapatkan 14 trophy dari berbagai ajang perlombaan mulai dari tingkat Kabupaten hingga nasional, dan tidak luput juga dari prestasi dirinya di sekolah yang menjuarai kompetisi Kemenpora se-Kota Tangerang dan timnya mendapat juara 3 serta juara 1 di Kota Tangerang Selatan menggebut bersama tim serpong City. ” Iya saya dan tim berhasil mendapatkan juara se-Kota Tangerang, tapi hanya mendapatkan juara 3, terus juga menjadi juara 1 di Kota Tangerang Selatan ikut sama tim Serpong FC tapi timnya dari anak-anak sekolah aku,”ujar Dhika yang juga memiliki hobi badminton Dengan semua gelar serta prestasi yang sudah di raih oleh atlet muda yang satu ini, tentu Dhika tidak pernah lupa berbagi pengalaman, dhika pun sempat memberikan pesan dan saran untuk pemain – pemain muda yang ingin menjadi pemain berkelas dan berbakat seperti dirinya. “Pesannya sih, mesti rajin latihan, terus berusaha dan tetap semangat, lalu ikuti saja arahan pelatih,”tutupnya.(cil/adt)

Dilema Olahraga Voli Yang Sering Di Alami Tacik

Eki-Ramdany-Fauzi-voli

Salah satu atlet voli Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017, Eki Ramdany Fauzi atau yang akrab disapa Tacik berbagi cerita bagaimana ia melihat olahraga di Indonesia terutama olahraga voli. Ada beberapa atlet yang sengaja ditaruh di suatu tim berdasarkan kenalan dari pelatih. Ia berpendapat bahwa banyak atlet yang dipilih tidak berdasarkan kualitas namun berdasarkan kedekatan pelatih dengan atlet. “Jadi orang yang mempunyai kualitas bagus tidak bisa ikut di event-event yang bagus, cuma kalah sama orang-orang yang punya channel. Biasanya itu anak-anak titipan dari pelatih yang bisa ikut padahal kualitasnya biasa saja.”tuturnya Cowok yang berusia 19 tahun ini merasa bahwa kualitas atlet Indonesia tidak bisa maju jika hal ini terus terjadi. “Ya kapan bisa majunya kalau seperti itu. Kualitas pemain yang lebih penting daripada channel atau anak-anak titipan.”ujar Tacik Pada awalnya, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Semarang ini bermain voli sejak duduk dibangku sekolah dasar. Ia juga baru mengetahui bahwa sang ayah juga mantan pemain voli. Sebagai seorang atlet, Tacik pun tidak jauh dari cedera yang pernah alami dibagian kaki. “Waktu itu pas main pertandingan di Maluku, aku ngeblock tapi gak tau ke injek atau nekuk, engkel aku bengkak dan gak bisa lanjut main lagi. Ya agak sedikit kecewa dan langsung kalah tim aku saat aku udah dibawa keluar lapangan.”tutupnya(put/adt)

Badminton: Di Pasangkan Oleh Orang Yang Belum Di Kenal, Beno Tetap Mampu Raih Medali Emas

Beno-Drajat-Badminton

Prestasi cemerlang berhasil diukir Beno pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017. Pasalnya ia meraih 1 medali emas, 1 medali perak dan 1 medali perunggu. Beno yang pada saat itu mewakili wilayah Jawa Barat dalam cabang olahraga badminton. Cowok dengan nama lengkap Beno Drajat ini sudah menekuni badminton sejak duduk dibangku sekolah dasar. Dalam ajang POMNas di kategori ganda putra, Beno dipasangkan bersama partner yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Meski begitu, ia tetap mampu membawa pulang medali emas. “Di ganda putra saya bersama teman sekampus saya dan saya sebelumnya belum pernah main. Tapi alhamdulilahnya kita dapat medali emas. Emang sebelumnya kita bisa rame main lawan tuan rumah, tapi waktu itu emang harus adaptasi lagi sama partner. Sesudah itu kita bisa main enak sampai ke final,”ujarnya Meski sempat berhenti bermain badminton karena latihan fisik yang cukup keras, Beno pun kembali bangkit berkat dukungan keluarga dan teman-teman dekat. Beno yang kini telah meninggalkan club badmintonnya telah berfokus untuk mewakili kampus yang memberikannya beasiswa, Universitas Komputer Indonesia (Unikom) di Bandung. “Setelah saya keluar dari club dan memulai kuliah karena prestasi saya waktu itu lagi turun, saya harus banting setir. Tapi di kuliah masih badminton jadi ya sekarang kalo pertandingan bawa nama kampus. Apalagi saya dapat beasiswa juga, jadi saya harus banyak ngasih yang terbaik untuk Unikom,”ucap cowok yang berusia 20 tahun ini Beno yang saat ini mengambil jurusan Manajemen pun memiliki pandangan tentang bagaimana badminton di Indonesia. Menurutnya, olahraga badminton dalam sektor tunggal putri di Indonesia masih belum menonjol. “Pastinya badminton lebih bagus ya apalagi sebelumnya di ganda putri lagi turun dan sekarang sudah mulai naik lagi. Cuma tinggal di tunggal putri saja kayaknya masih belum terlalu menonjol gitu. Tapi kalau lebih giat dan berusaha yang maksimal pasti lebih bagus lagi dari sebelumnya,”tutupnya(put/adt)

Mimpi Pangya Yang Bertekad Mengembangkan Olahraga Rugby Di Indonesia

Pangya-Rugby

Pria yang memiliki nama lengkap Christoper Aditya Hardwika, atau yang biasa disapa dengan Pangya ini merupakan salah satu pemain cabang olahraga rugby yang mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan nasional dan internasional. Ia pernah mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON), Sea Games, Tim Nasional U-20 dan masih banyak lagi. Pangya berpendapat bahwa rugby saat ini sudah mulai berkembang di masyarakat, dan ia pun bertekad untuk membuat rugby semakin populer di Indonesia. “Rugby di Indonesia pasti akan berkembang pesat. Melihat orang Indonesia yang punya spirit dan terlebih sekarang sudah banyak juga kegiatan get into rugby di berbagai daerah. Tujuannya untuk mengembangkan dengan mengadakan penyuluhan ke anak-anak sekolah, bahkan universitas supaya rugby semakin populer dan berkembang di Indonesia.”ujarnya Berawal dari bergabung di Jakarta Banteng Rugby Club, Pangya merasa sangat tertantang bermain rugby yang dapat dikatakan olahraga baru di Indonesia. Berlatar belakang rasa kekeluargaan sangat terasa, dan juga terbentuknya karena memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengembangkan rugby di Indonesia. “Saya merasa tertantang serta enjoy saat sedang bermain rugby. Rugby itu fair banget, dilapangan kita saling hajar, cuma kalau sudah selesai pertandingan ya kita ngobrol dan bercanda. Di lapangan memang serius banget, gak kenal teman. Tapi semua nya punya tujuan yang sama buat mengembangkan olahraga rugby di Indonesia.”tutur cowok yang berusia 22 tahun ini. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Atma Jaya Jakarta ini, ternyata juga akan membela Indonesia di ajang Asian Games 2018 mendatang. Ajang PON 2016 merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan bagi Pangya dan tim rugby Banten. Ketika melawan tim rugby Papua, jumlah pemain tim Banten sangat sedikit sehingga tidak bisa mengganti pemain yang cedera. Meski begitu, tim rugby Banten berhasil mengalahkan tim rugby Papua. “Pas eksibisi PON kemarin, tim Banten dengan pemain yang seadanya bisa menang lawan Papua di babak Semi Final, karena pertandingannya weekday dan banyak yang tidak bisa hadir. Ya walaupun menang kita dibalas di final. Pas dibalas di final, ya kita mengakui mereka lebih hebat dibanding kita. Fisik mereka lebih fit mungkin tapi kita menang di teknik saja,” tutup Pangya.(put/adt)

Sepak Takraw: Latihan Keras Cici Hingga Larut Malam Akhirnya Membuahkan Hasil

cici-sepak-takraw2

Bermula dari keingintahuan tentang cabang olahraga yang ditekuni sang kakak, Cici Herfiyuli atau yang akrab disapa Cici, berhasil menjadi salah satu atlet sepak takraw perwakilan wilayah Riau pada berbagai turnamen nasional. Gadis yang berusia 20 tahun ini berbagi cerita kepada nysnmedia.com tentang awal mula ia menekuni cabang olahraga sepak takraw. “Dulu saya hanya berlatih di kampung, Taluk Kuantan, Riau. Disana ada penerimaan pembibitan sepak takraw cewek dan saya diajak abang kandung untuk bermain. Dulu untuk pengen jadi atlet sepak takraw gak ada sama sekali keinginan, cuma karena rasa penasaran akhirnya saya mencoba mendalami apa itu sepak takraw. Tanding demi tanding antar kabupaten, dan akhirnya saya terpilih masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Riau.”ujarnya Sebagai seorang gadis, Cici pun kerap dilarang orang tua untuk mengikuti sepak takraw terutama jika latihan hingga sore dan malam hari. “Pernah saya dan abang telat pulang latihan. Sampai rumah kena marah sama bapak. Dan saya pernah dilarang bermain sepak takraw sama orang tua. Kami kan latihan suka pulang lambat. Untuk seorang cewek apalagi di kampung gak boleh pulang lewat dari magrib. Sedangkan kami latihan mulai jam 4 sampai 6 sore.”tutur atlet yang membawa medali perunggu pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017 lalu. Cici yang saat ini berkuliah di Universitas Lancang Kuning, jurusan Administrasi Negara, memang sudah 7 tahun menekuni sepak takraw. Cici bersama tim riau pernah mengalami kejadian yang kurang enak saat mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu ketika melawan tim Jawa Barat. “Pas PON melawan Jawa Barat ada masalah dengan teman tim saya yang dibilang memakai kalung. Wasit menganggap itu kalung dari dukun atau semacamnya untuk pegangan tim kita. Padahal itu cuma kalung bola takraw dan Riau sudah memimpin jauh. Karena ada masalah itu jadi gak fokus dalam bermain. Akhirnya kami kalah dalam final lawan Jawa Barat.”tuturnya(put/adt)

Wiwi Bangga Pernah Berhadapan Dengan Petarung Terbaik Tarung Derajat di Piala Walikota 3

wiwi-tarung-derajat

Melawan salah satu atlet terbaik merupakan hal tak terlupakan bagi Wiwi. Sejak tahun 2012, Wiwi sudah menjadi atlet untuk cabang olahraga tarung derajat. Ia berbagi cerita kepada nysnmedia.com tentang bertarung di semi final dengan petarung terbaik putri se-Banten pada kejuaraan Walikota 3 Kota Tangerang di tahun 2016 lalu. Ia pun berhasil menyabet medali emas. “Waktu babak semifinal kejuaraan Walikota 3 Kota Tangerang aku ketemu sama petarung terbaik putri se-Banten dan sudah beberapa kali mendapatkan emas. Sensasi tarungnya benar-benar ketat bukan hanya dalam matras tapi pendukung aku dan dia sama-sama teriak kasih semangat, menurut aku itu sangat berkesan dan tak terlupakan. Soalnya itu memang atlet andalan.”ujarnya Gadis dengan nama panjang Siti Robiatul Adawiyah ini juga mengikuti turnamen Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2017 yang merupakan pengalaman pertamannya mengikuti pertandingan di luar pulau Jawa. Meski ia menganggap permainannya belum maksimal tetapi ia berhasil membawa pulang medali perunggu. “Saat POMNas XV di Sulawesi Selatan dan itu pengalaman saya jauh dari orang tua, naik pesawat, keluar pulau Jawa dan alhamdulilah keberangkatan dan kerja keras saya membuahkan hasil medali perunggu. Sebenarnya saya belum puas karena hasil yang saya dapatkan belum maksimal.”ucapnya Mahasiswi Politeknik LP3I Jakarta ini, merasa bangga bisa menjadi seorang atlet Tarung Derajat. Ia sangat beruntung bisa mengenal berbagai atlet dari daerah lain dan juga bisa membanggakan kedua orang tua. “Saya bisa kenal banyak teman dari berbagai daerah selain Tangerang. Bisa sharing tentang pertandingan yang sudah dilewati dan yang terutama bisa membanggakan kedua orang tua saya berkat prestasi yang saya dapat. Walaupun kadang suka jauh dari orang tua ketika ada kejuaraan.”tutupnya(put/adt)

Perjuangan Nandita Hingga Berhasil Mendapatkan Gelar Miss Volleyball Dalam Turnamen Bola Voli Internasional

Nandita-ayu-salsabila-atlet-voli

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, memang demikian pepatah yang cocok untuk Nandita. Atlet cantik yang menggeluti voli ini bernama panjang Nandita Ayu Salsabila, dirinya mengaku mengikuti jejak orang tua yang dulu merupakan mantan atlet tim nasional Indonesia. Saat itu, Nandita pun sangat termotivasi ingin mengukir prestasi seperti orang tuanya. “Mama dan papa saya adalah atlet, papa atlet sepakbola, dan mama atlet voli. Dari dulu sering diajak mama untuk lihat mama latihan. Disitu, mama yang sangat berperan ngelatih saya, dari mulai teknik dasar voli hingga tehnik lainnya. Kebetulan mama papa juga eks tim nasional juga kan jadi termotivasi.”ujarnya Tanpa ada paksaan, Nandita pun terus mengejar prestasi hingga menjadi Miss Volleyball 2016 dalam ajang turnamen Bola Voli Internasional di Vietnam. Ia tidak menyangka bisa menyabet gelar tersebut, dan mengalahkan kandidat dari negara-negara lain. “Saya mendapat penghargaan yaitu penobatan saya menjadi Miss Voli, itu gak nyangka sama sekali. Karena itu kan 1 peserta mewakili 1 negara. Nah kebetulan saya yang dipilih mewakili Indonesia. Saingannya juga dari Korea, Jepang, Vietnam, Thailand, China dan Hongkong. Ya tiba-tiba nama saya disebut menjadi Miss Volleyball 2016. Kaget aja kaya gak yakin saya bisa kepilih gitu.”tutur mahasiswi Manajemen Universitas Trisakti ini. Saat ini Nandita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Livoli dan Pro Liga. Sebelumnya, Nandita telah membawa pulang berbagai medali dalam beberapa turnamen nasional maupun internasional, seperti Sea Games tahun 2013, 2015 dan 2017 dan turnamen Asean School. https://www.instagram.com/p/BbTMzv0HYsX/?taken-by=nanditaayu17 Sebagai seorang atlet, Nandita pun merasa bangga bisa membawa nama Indonesia keberbagai negara dunia dan bertemu dengan teman sesama atlet. Namun, Nandita pun merasa bahwa menjadi atlet memang butuh kerja keras agar dapat membanggakan orang-orang. “Jadi atlet itu harus ngerasain yang namanya kerja keras, latihan pagi sore bahkan sampai nangis. Jadi atlet memang terpuruk kalau lagi cedera dan ya kalau menang dipuji, tapi kalau kalah di caci maki.”tutupnya (put/adt)