Lolos 8 Besar Thailand Masters 2019, Tunggal Putra Putri Indonesia Libas Wakil Tuan Rumah

Satu-satunya tunggal putra Indonesia yang tersisa di Thailand Masters 2019, Firman Abdul Kholik, melaju ke babak perempat final, usai menekuk andalan tuan rumah, Sitthikom Thammasin, straight game 21-16, 22-20, yang digelar Kamis (10/1) di court-1 Indoor Stadium Huamark, Bangkok. (Humas PBSI)

Bangkok- Satu-satunya tunggal putra Indonesia yang masih tersisa di ajang Thailand Masters 2019, Firman Abdul Kholik memastikan diri melaju ke babak perempat final. Firman menang atas wakil tuan rumah, Sitthikom Thammasin, di babak 16 besar yang digelar Kamis (10/1), di court-1 Indoor Stadium Huamark, Bangkok. Pebulu tangkis berusia 21 tahun itu mengawali laga set pertama dengan cukup baik. Ia memperlihatkan dominasi penuh atas Thammasin, hingga berhasil unggul 11-3 saat jeda interval. Selepas jeda, sebenarnya tunggal tuan rumah menipiskan ketertinggalan hingga berselisih satu poin saja di kedudukan 16-15. Namun, konsistensi pebulutangkis kidal saat memasuki poin kritis, akhirnya mampu mengunci set pertama dengan keunggulan 21-16. Set kedua berjalan lebih menarik. Terjadi saling susul menyusul angka yang sangat ketat, hingga masa interval atlet asal Banjar, Jawa Barat, tertinggal dengan skor 10-11. Setelah itu pemain yang berasal dari klub PB Mutiara Cardinal Bandung ini mulai sanggup mengambil kendali permainan, dan hampir selalu unggul atas lawannya dalam perolehan poin. Meski pemain Thailand sempat memaksa terjadi setting point, pada kedudukan 20-20, namun wakil Indonesia ini mampu menutup laga dengan skor 22-20. Partai ini pun berakhir dengan kemenangan bagi Imen, sapaanya, lewat kemenangan straight game 21-16, 22-20, dalam tempo 47 menit. Imen pun berhasil revans atas Thammasin, setelah kalah dari tiga pertemuan sebelumnya. Skor pertemuan menjadi 1-3 masih untuk keunggulan Thammasin. Di babak perempat final, satu-satunya harapan sektor tunggal putra Indonesia di turnamen berkategori World Tour Super 300 ini, masih menunggu calon lawan. Yakni antara unggulan ke-8 asal Cina, Lu Guangzu, atau pemain Jepang, Koki Watanabe. Saat Thailand Masters edisi tahun lalu, bungsu dari tiga bersaudara pasangan Suherman dan Siti Fauziah, yang lahir pada 11 agustus 1997 ini, hanya sanggup melangkah hingga babak 16 besar saja. Ia ditundukkan oleh wakil Malaysia, Leong Jun Hao, lewat laga dua set langsung. Sementara itu, torehan manis pun turut terjadi di nomor tunggal putri. Atlet 19 tahun Indonesia, Fitriani, memupus asa wakil tuan rumah, Nitchaon Jindapol mempertahankan gelar pada Thailand Masters 2019. Pada babak 16 besar ini, Fitriani menekuk wakil Thailand yang juga menjadi unggulan satu itu, dengan skor akhir 21-10, 17-21, 21-16. Laga sengit itu berkesudahan dalam waktu 62 menit. Hasil sukses ini membuat dara kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998, lolos ke babak delapan besar Thailand Masters 2019. Dari delapan daftar pemain unggulan di sektor tunggal putri, tak ada satu pun pemain Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar unggulan. Pada partai lain, ganda campuran, Alfian Eko Saputra/Marsheilla Gischa Islami juga meraih kemenangan. Mereka menumbangkan wakil Malaysia, Chen Tang Jie/Yen Wei Peck 23-21, 20-22, dan 21-12. Masih ada 10 wakil Indonesia lain yang akan berjuang di babak kedua Thailand Masters 2019 pada petang hingga malam hari nanti. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

Dalam Sepekan, Anthony Sinisuka Ginting Dipaksa Dua Kali Takluk Dari Kento Momota

Anthony Sinisuka Ginting, gagal melaju ke perempat final Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000, usai ditaklukkan pemain Jepang, Kento Momota, dua gim langsung 17-21, 14-21. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, gagal melaju ke perempat final Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000, setelah takluk dari pemain Jepang, Kento Momota, di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (5/7). Anthony takluk dua gim langsung 17-21, 14-21. Anthony Ginting diharapkan kembali mengulang sukses naik podium utama di arena Istora pada Indonesia Masters 2018 pada Januari lalu. Sedangkan Momota dirindukan kembali penampilannya setelah hampir satu tahun lebih sempat vakum berlaga . Sejatinya laga ini merupakan pertemuan kedua Anthony dan Momota dalam sepekan ini. Sebelumnya, dua pemain tersebut juga saling jegal di Malaysia Terbuka 2018. Pada laga di Malaysia, Anthonya kalah dalam tiga gim 21-14, 17-21, 14-21. Harapan untuk membalas kekalahan gagal terwujud karena rangking 10 dunia itu kembali gagal menghentikan langkah Momota. Pertandingan berjalan cukup ketat pada gim pertama. Masing-masing pemain berusaha memberikan serangan demi serangan untuk memimpin skor. Namun, Momota tampak tampil lebih baik dan mematikan. Gim ini akhirnya jadi milik Momota. Anthony yang mendapat dukungan publik Istora mencoba bangkit pada gim kedua. Misi tersebut tampak bakal berhasil karena Anthony sempat memimpin 13-7. Namun, momentum tersebut gagal dipertahankan Anthony. Momota memegang kendali permainan dan menyudahi laga dengan skor 21-14 dalam waktu 49 menit. Dengan kekalahan Anthony, sektor tunggal putra menyisakan Tommy Sugiarto, yang berhasil mengatasi rivalnya Chou Tien Chen (Taiwan), dengan skor akhir 21-13 14-21 21-18. (Adt)

Lolos Ke Babak 16 Besar, Anthony Ginting Ingin Ulang Prestasi Di Indonesia Masters 2018

Anthony Sinisuka Ginting menyingkirkan pemain asal Belanda, Mark Caljouw, dalam laga berduasi 39 menit dengan skor, 21-9 dan 21-17. (Pras/NYSN)

Jakarta- Anthony Sinisuka Ginting berhasil melaju ke babak 16 besar Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000, pada Rabu (4/7). Pebulutangkis Merah Putih rangking 10 dunia versi BWF itu menyingkirkan pemain asal Belanda, Mark Caljouw. Dalam laga berdurasi 39 menit, pebulutangkis kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 21 tahun silam itu, ungggul dengan skor, 21-9 dan 21-17. Ia menjelaskan pada pertandingan tersebut dirinya masih beradaptasi dengan lapangan. “Sempat latihan disini. Tapi suasananya sedikit berbeda. Di pertandingan tadi, lawan sepertinya sudah tertekan di gim pertama,” ujar pemain berpostur 1,71 meter itu usai laga. “Pas masuk gim kedua, lawan tidak gampang mati. Tapi, saya masih bisa mengatasi permainan lawan,” lanjutnya. Pemain asal SGS PLN Bandung, Jawa Barat itu, mengaku tak ingin memikirkan peluang sektor tunggal putra yang hanya diwakili tiga atlet pada turnamen berhadiah total Rp 17 miliar itu. “Saya tidak mau memikirkan kalau tinggal berdua atau saya sendiri. Saya ingin mengulang apa yang terjadi di Indonesia Masters awal tahun ini,” tambah pemain yang akrab disapa Ginting itu. Pada babak 16 besar, di sektor tunggal putra, Indonesia hanya menyisakan Anthony Ginting dan Tommy Sugiarto. Tommy berhasil lolos ke babak 16 besar usai menghempaskan wakil Thailand, Khosit Phetpradab, rubber game, 20-22, 21-10, dan 21-16, di babak pertama. Sedangkan Jonatan Christie takluk di babak pertama dari pemain unggulan satu asal Denmark, Viktor Axelsen, dua gim langsung, 21-10 dan 21-19. “Saya berusaha untuk mengingat (Indonesia Masters 2018) bagaimana pikiran saya saat itu. Bagaimana saya fokus, dan ingin kembali saya terapkan disini,” tukas Ginting yang meraih gelar juara Indonesia Masters 2018, pada akhir Januari lalu, usai menaklukkan wakil Jepang Kazumasa Sakai, 21-13 dan 21-12. (Adt)

Firman Bawa Indonesia Juara Grup B Piala Thomas, Hindari Tim Kuat di Perempat Final

Pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Firman Abdul Kholik, akhirnya memastikan kemenangan Tim Thomas Indonesia atas Korea Selatan 3-2. (tempo.co)

Jakarta- Pebulutangkis putra Firman Abdul Kholik membawa Indonesia menjadi juara Grup B Piala Thomas usai unggul dari wakil Korea Selatan, Ha Young Woong, pada partai penentuan di Impact Arena Bangkok, Thailand, Rabu (23/5), paska kedua tim berbagi angka sama 2-2. Turun di partai kelima, pebulutangkis kelahiran Banjar, Jawa Barat, 20 tahun silam itu memang lebih diunggulkan terlebih peringkatnya lebih baik dari lawan. Firman saat ini berada di rangking 92 dunia, sedangkan Ha bertengger di posisi 214 dunia. Namun, Firman harus berjuang keras menaklukkan pesaingnya itu. Usai memainkan laga selama 65 menit, pebulutangkis tangan kiri itu akhirnya menyudahi perlawanan musuh dengan rubber game, 20-22, 21-15, dan 21-12. Bagi kedua pemain, ini merupakan pertemuan perdana. “Hasil ini tentu bagus buat tim, karena kami tidak langsung bertemu Tiongkok atau negara kuat lainnya. Ketemunya yang runner up. Jadi lebih enak langkah dari timnya,” ujar Firman usai laga. Korea Selatan sebelumnya memimpin 1-0 atas Indonesia. Di partai pertama, wakil Merah Putih Anthony Sinisuka Ginting gagal menyumbang kemenangan. Ia dipaksa menyerah lewat pertarungan ketat dengan Son Wan Ho, dengan skor 20-22, dan 20-22, dalam waktu 53 menit. Pada partai kedua, duet Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon sukses membuat angka imbang 1-1. Juara All England 2018 itu cuma butuh 41 menit, menumbangkan pasangan Chung Eui Seok/Kim Won Ho, dalam drama tiga gim, 21-11, 14-21, dan 21-10. Pasukan Garuda kembali tertinggal 1-2. Tunggal putra Jonatan Christie, yang turun di partai ketiga, justru dibuat tak berdaya oleh Kwang Hee Heo. Jojo, sapaan akrab pebulutangkis Pelatnas Cipayung itu takluk dua gim langsung 17-21, dan 19-21 setelah bermain selama 43 menit. “Kwang Hee Heo juga pemain bagus, dua pertemuan terakhir saya kalah dari dia. Tapi, saya tetap mencoba fokus dan bermain terbaik. Saya menyesal tak bisa menyumbangkan poin untuk Indonesia, apalagi ini penentu juara grup atau bukan,” papar Jojo. Di partai keempat, Indonesia yang menurunkan dobel senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan berhasil mengamankan angka guna menyamakan kedudukan 2-2. Meski harus meladeni pertarungan melelahkan ketika berjumpa dengan Choi Solgyu/Kim Dukyoung. Namun, berkat kematangan bertanding Hendra/Ahsan menutup laga dengan kemenangan tiga gim, 21-14, 18-21, dan 21-15. “Ganda putra memang diharapkan untuk bisa menyumbang dua poin. Jadi semua pemain ganda sudah siap untuk itu,” cetus Hendra. (Adt)

Ulangi Prestasi 2017, Achmad Rizal Sukses Pertahankan Gelar Tunggal Putra

Achmad Rizal Lullah, tunggal putra unggulan asal Universitas Brawijaya (UB) lolos Fase Nasional di Surakarta pada Mei nanti. (LIMA)

Malang- Achmad Rizal Lullah, unggulan asal Universitas Brawijaya (UB) mempertahankan gelar juara kategori perseorangan LIMA Badminton: McDonald’s East Java Conference (EJC) Malang Subconference 2018. Pada gelaran LIMA 2017 lalu, pria yang disapa Rizal ini, adalah juara di fase kualifikasi, dan menyabet titel pemenang tunggal putra kategori perseorangan. Pada Kamis (5/4), Rizal kembali superior, usai menekuk tunggal Universitas Negeri Malang (UM), Muhammad Hafid Hendarto, dua game langsung, dengan skor 21-17 dan 21-13. Ketangguhan Rizal memang patut diakui. Begitu pula dengan tunggal UM, Hafid. Namun, di gim pertama, Hafid harus mengakui kekuatan Rizal. Terpaut empat poin, Rizal unggul lebih dulu 21-17 atas Hafid. Alih-alih membalas, Hafid justru membuat selisih poin lebih jauh. Rizal, dengan modal gelar juara musim lalu, menekuk Hafid di gim kedua ini. Skor 21-13 mengakhiri gim kedua di laga final tunggal putra. Rizal berhak beradu kemampuan di fase nasional. Meski harus kalah di final, Hafid turut mengikuti langkah Rizal ke fase LIMA Badminton Nationals. Karena, berdasarkan koefisien conference, Malang memang memiliki jatah dua pemain tunggal putra, untuk bermain di fase nasional. “Alhamdulillah, saya bisa pertahankan gelar kembali. Ini hasil perjuangan dan latihan saya selama ini. Saya akan melakukan latihan lagi untuk persiapan di nasional nanti,” ujar Rizal. (Adt)

Pasca Kawinkan Gelar Beregu, Unikom Sabet Titel Juara Tunggal Putra Perseorangan

Pebulutangkis dari UNIKOM, Muhammad Rizquloh sukses menjuarai Tunggal Putra nomor perserorangan. (LIMA)

Bandung- Muhammad Rizquloh, tunggal putra dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom) menjuarai LIMA Badminton: Blibli.com West Java Conference (WJC) 2018 kategori perseorangan di nomor tunggal putra.

Read more

Final Yang Ditunggu-tunggu, Duel Jonatan Christie vs Anthony Ginting di Korea Open Super Series

Duel antara Jonatan Christie dengan Anthony Ginting di final Korea Open Super Series 2017 akhirnya bisa meningkatkan optimisme Indonesia. Negara ini kembali punya masa depan cerah di nomor tunggal putra. Harapan Indonesia untuk punya tunggal putra papan atas setelah Taufik Hidayat pensiun, akhirnya dilimpahkan ke nama-nama seperti Jonatan, Anthony, dan Ihsan Maulana Mustofa. Itu semua berkat performa apik mereka di Piala Thomas 2016. Namun usai Piala Thomas tersebut, performa mereka dalam tunggal putra muda Indonesia sempat menurun. Hingga akhirnya Jonatan dan Anthony yang mampu menciptakan All Indonesian Final di Korea Super Series. Jonatan lawan Anthony ini membuat Indonesia kembali memiliki juara super series untuk pertama kalinya setelah  April 2016 lalu, Sony Dwi Kuncoro memenangi Singapura Super Series. Anthony sendiri dalam menuju babak final di Korea Open Super Series telah menaklukkan sejumlah pemain unggulan seperti Ng Ka Long Angus dan pebulutangkis nomor satu dunia, Son Wan Ho. Sedangkan langkah Jonatan terbilang bagus juga dalam menuju babak final. Dia sukses menyingkirkan Lee Hyun Il dan Wang Tzu Wei. Pelatih tunggal putra Indonesia, Hendri Saputra gembira. Dia mengaku ini merupakan hasil latihan selama ini. “Puji Tuhan karena awalnya target mereka adalah babak semifinal namun melihat drawing yang ada, saya juga punya keyakinan mereka bisa melaju lebih dari itu dengan catatan bisa bermain bagus,” kata Hendri yang dilansir dari CNNIndonesia.com. Hendri menambahkan juga bahwa Jonatan dan Anthony terkadang masih menunjukkan tidak konsisten dalam bertanding. Namun, secara umum sudah ada peningkatan kualitas dalam permainan. Hal itu terlihat dari segi teknik dan strategi mereka. Final super series ini merupakan pertandingan pertama bagi Anthony dan Jonathan. Maka dari itu, duel ini juga akan berakhir pada titel super series perdana bagi salah satu dari mereka.

Jonatan Christie Berhasil Melaju ke Semifinal Setelah Kalahkan Jepang di Korea Open Super Series 2017

Jonatan Christie (badmntonindonesia)

Satu lagi wakil Indonesia yang berhasil menuai kesuksesan dengan lolos ke semifinal Korea Open Super Series 2017. Jonatan Christie terus melaju setelah menumbangkan Kazumasa Sakai asal Jepang, lewat tiga babak pertandingan dengan skor 21-13, 16-21 dan 21-19. “Puji Tuhan setinggi-tingginya, dengan bantuan-Nya saya bisa menang kali ini. Saya akui permainan saya tadi belum matang. Dengan kondisi permainan saya yang tadi, saya seperti tidak bisa mengontrol harus menggunakan stroke seperti apa. Di situ saya sebenarnya paham harus main seperti apa, tapi yang keluar tidak sejalan dengan pukulan saya,” kata Jonatan tentang penampilannya kepada badmintonindonesia.org Kemenangannya di perempat final ini rupanya memiliki arti tersendiri buat Jonatan. Sebab pada hari yang sama, Jonatan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 20 tahun. “Bersyukur banget ini jadi kado yang indah buat saya. Kemarin malam saya sempat tegang, sedih sama happy, nggak tahu kenapa. Senang karena di delapan besar bisa ketemu Sakai, jadi ada peluang buat lolos. Karena sebelum-sebelumnya saya pasti dapat lawan berat di babak-babak awal,” ungkap atlet kelahiran Jakarta tersebut saat ditemui di SK Handball Stadium, Seoul usai laganya, Jumat (15/9). Berikutnya pada pertandingan semifinal Korea Open Super Series, Jonatan akan berhadapan dengan Wang Tzu Wei, Taiwan. Sebelumnya, tiga kali berhadapan Jonatan belum pernah memperoleh kemenangan satu kali pun. Untuk itu, ia berharap laganya besok bisa membalas tiga kekalahan tersebut. “Pastinya saya akan berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan bisa membalas kekalahan sebelumnya, amin,” pungkas Jonatan.

Lolos ke Semifinal, Anthony akan Melawan Pembulutangkis Kelas satu Dunia Pada Ajang Korea Open Super Series

Anthony Sinisuka Ginting (badmintonindonesia)

Anthony Sinisuka Ginting sukses melangkah ke babak semifinal Korea Open Super Series 2017.Sebelum memastikan diri ke semifinal, Anthony melaju dengan mengalahkan pemain Jepang, Kenta Nishimoto. Tunggal putra Pelatnas Cipayung itu menang dua game langsung, 21-19 dan 21-13 dalam 39 menit. Dikatakan Anthony, Nishimoto mencoba merubah pola permainannya di tengah laga. Hal tersebut sempat membuat Anthony terpengaruh di lapangan. Beruntung akhirnya di poin-poin kritis, Anthony sukses berbalik memimpin lagi dengan 18-18, 20-19 hingga menang 21-19. “Pemain Jepang bola-bolanya lebih safe. Jadi saya harus lebih siap lagi. Siap capek dan siap segalanya. Karena di lapangan saya kan nggak tahu dia mau menerapkan strategi yang seperti apa,” ujar Anthony. Pada Semifinal Korea Open Super Series mendatang ia akan ditantang oleh pemain rangking satu dunia sekaligus tuan rumah, Son Wan Ho. Di atas kertas, posisi Son jelas lebih diunggulkan, dibanding Anthony yang berada di peringkat 24 dunia. Meski begitu Anthony mengaku siap untuk menghadapi situasi tersulitnya kelak di lapangan. Ia juga berharap bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya yang sudah dilatih selama ini. “Saya harus mempersiapkan mental dan pikiran yang lebih baik lagi. Yang penting siap capek dan siap susah. Karena besok lawannya kan top player juga, jadi sudah pasti akan capek dan susah. Besok saya mau coba lebih lepas aja. Buat nambah pengalaman juga dan apa yang dilatih selama ini bisa keluar semua dengan baik,” ujar Anthony kepada badmintonindonesia.org ditemui usai laganya, Jumat (15/9).