All Indonesian Final Nomor Speed Relay Panjat Dinding, Indonesia Kawinkan Medali Emas dan Kokoh di Peringkat Empat Besar

Tim Speed Relay Putra Indonesia 2, yang diwakili oleh Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1, di Jakabaring Sports City, Palembang, Senin (27/8). (INASGOC)

Palembang- Indonesia menambah pundi-pundi emasnya. Kali ini emas didapat dari cabang olahraga (cabor) panjat tebing, nomor speed relay putra, lewat Tim Indonesia 2, dan nomor speed relay putri lewat Tim Indonesia 1. Prestasi ini melampaui target Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) yang dibebankan dua medali emas. Pada laga yang berlangsung di Jakabaring Sports City (JSC), Palembang, Senin (27/8) malam WIB, partai final menyajikan duel antara sesama Indonesia, yakni Indonesia 1 vs Indonesia 2. Dalam all Indonesian Final ini, Indonesia 2 yang diwakili Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1 yang diwakili oleh Aspar, Sabri, Muhammad Fajri Alfian, dan Septo Wibowo yang melakukan false start. Tambahan medali ini pun membuat Indonesia mengoleksi 22 emas, setelah sebelumnya nomor relay putri juga menghadirkan emas untuk Indonesia. Di partai final Tim Putri Indonesia 1, mampu tampil sebagai pemenang, usai China 1 melakukan false start. Sebelum naik podium, Tim Putri Indonesia 1 yang dihuni Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, dan Fitiyani, berhasil jadi yang tecepat dengan catatan waktu 25.01 detik, pada babak kualifikasi. Mereka mengandaskan dua tim China sekaligus, yang menempati peringkat kedua dan ketiga dengan catatan waktu 26.32 detik dan 28.00 detik. Atas raihan tersebut Indonesia semakin kokoh di posisi empat klasemen, perolehan medali Asian Games 2018. Di panjat dinding, Indonesia total sudah meraih tiga emas. Khusus untuk Aries , ini adalah emas kedua yang diraihnya. Sebelumnya, dia meraih emas pada nomor individu kecepatan putri. Sementara itu, bagi Puji Lestari, medali emas ini melengkapi medali perak yang juga diraih pada nomor individu kecepatan putri. (Adt)

Sabet 8 Emas Asian Games Dalam Sehari, Indonesia Sikat Habis Nomor Final Cabor Pencak Silat Dan Cetak Sejarah

Yola Primadona Jampil (kiri) dan Hendy (kanan) yang turun di nomor seni ganda putra, sukses menyumbang emas ke-14, usai tampil gemilang di Padepokan Silat, TMII, Jakarta, Senin (27/8). Di nomor ganda putra, mereka menjadi yang terbaik di Asian Games 2018 dengan raihan 580 poin. (Ham/NYSN)

Jakarta- Indonesia menyapu bersih delapan medali emas Asian Games 2018 dari cabang pencak silat, yang tampil di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Senin (27/8). Dua emas terakhir direbut Sarah Tria Monita (kelas C Putri 55kg – 60 kg) dan Abdul Malik (kelas B Putra 50 kg – 55 kg). Sarah mengalahkan lawan dari Laos, Nong Oy Vongphakdy. Sedangkan Abdul Malik menekuk lawan dari Malaysia, Muhammad Faizul M Nasir. Panen medali kemungkinan belum akan berakhir. Pada Selasa (28/8), tercatat masih ada enam nonor final, yang akan diikuti Indonesia. Yakni artistik tunggal putra, artistik ganda putri, artistik regu putri, tarung kelas D Putri 60 kg-65 kg (Kamelia Pipiet), tarung kelas C Putra 55 kg – 60 kg (Hanifan Yudani Kusumah), dan tarung kelas B Putri 50 kg – 55 kg (Wewey Wita). Sejatinya, Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) ‘hanya’ menargetkan empat medali emas dalam ajang Asian Games 2018. Selain menembus rekor, para atlet Merah Putih sudah jauh melampaui target total 16 medali emas, yang dicanangkan Kemenpora. Padahal, cabang bulutangkis perorangan sudah pasti menyumbang satu medali emas, karena terjadi all-Indonesian final di nomor ganda putra. Dobel Fajar/Rian menghadapi Marcus Gideon/Kevin Sanjaya. Tunggal putra bulu tangkis pun berpeluang meraih emas jika Jonatan Christie mampu mengalahkan wakil Taiwan, Chou Tien-chen, di final. Tambahan delapan emas dari pencak silat mengantar Indonesia mengoleksi 20 emas, 14 perak, dan 26 perunggu. Kini Tim Merah Putih berada di posisi empat besar klasemen perolehan medali. Menpora Imam Nahrawi pun bersyukur atas capaian kontingen Indonesia di ajang Asian Games 2018 yang mampu pecahkan sejarah baru dengan perolehan medali yakni, 20 emas, 14 perak dan 27 perunggu. Di mana pada Asian Games 1962 merupakan perolehan medali terbanyak dengan 11 emas, 12 perak dan 28 perunggu. “Alhamdulillah, sore hari ini, kita semua diberi nikmat oleh Allah SWT atas pencapaian medali yang diraih oleh pahlawan olahraga Indonesia. Sampai sore ini, berhasil mendapatkan 20 emas, 14 perak dan 23 perunggu, tentu ini pencapaian yang luar biasa dari seluruh atlet,” kata Menpora di ruang Preskon MPC, JCC, Senin (27/8) sore. “Ini jadi sejarah baru emas terbanyak sepanjang keikutsertaan indonesia di Asian Games, per hari ini kita sudah melampaui pencapaian di 1962,” tambahnya. Menteri asal Bangkalan Madura juga menyampaikan perolehan emas Indonesia hingga sore ini, masih bisa bertambah karena ada beberapa pertandingan yang berpotensi meraih medali. (Ham) Daftar atlet Indonesia peraih medali emas pencak silat : • Puspa Arum Sari (artistik perorangan putri) • Yola Primadona & Hendy (artistik ganda putra) • Tim beregu artistik putra (Nunu Nugraha, Asep Wildan Sani, Anggi Faisol Mubarok) • Aji Bangkit Pamungkas (kelas I Putra 85 kg – 90 kg). • Komang Harik Adi Putra (kelas E Putra 65 kg – 70 kg) • Iqbal Chandra Pratama (kelas D Putra 60 kg – 65 kg) • Sarah Tria Monita (kelas C Putri 55kg – 60 kg) • Abdul Malik (kelas B Putra 50 kg – 55 kg) Daftar perolehan medali Asian Games 2018 No       Negara     Emas    Perak   Perunggu 1.    Cina                79         60         40 2.    Jepang            41         34         53 3.    Korea Selatan  28         32         38 4.    Indonesia        20         14         26 5.    Iran                16         15         14

Final Lari 100 Meter Putra Rekor Asia Pecah, Lalu Zohri ‘Cukup’ Sumbang Rekor Pribadi Tanpa Medali

Takluk dari sprinter China dan Kenya, pelari Indonesia asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri (400), gagal meraih medali, pada final lari 100 meter putra Asian Games 2018. Ia hanya mampu berada di posisi tujuh, dari delapan finalis, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Sprinter China, Su Bingtian berhasil mencetak rekor Asian Games 100 meter dengan catatan waktu 9,92 detik pada babak final, pada Minggu (26/8), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Catatan tersebut membuat Su Bingtian meraih medali emas di nomor bergengsi atletik tersebut. Pada urutan kedua sprinter naturalisasi Qatar asal Kenya, Tosin Ogunode, berhasil mencatatkan waktu 10,00 detik dan meraih medali perak. Sementara medali perunggul diraih sprinter Jepang Ryota Yamagata dengan catatan waktu yang sama dengan Tosin yaitu 10,00 detik. Sedangkan Usain Bolt kebanggaan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, belum berhasil menyumbang medali pada final pertandingan lari 100 meter putra Asian Games 2018. Zohri memang tidak dibebani target pada event Asian Games 2018. Di partai final ini, Zohri harus puas berada di posisi ketujuh dengan catatan waktu 10,20 detik. Hasil ini lebih baik dari dua sesi sebelumnya, yakni babak kualifikasi dan semifinal. Catatan waktu yang ditorehkan Zohri lebih baik dibanding sprinter Korea Selatan, Kokyoung Kim yang mencatat waktu 10,26 detik. Sebelumnya, pada laga semifinal, pemuda kelahiran Lombok, 1 Juli 2000 ini, meraih peringkat kedua teratas. Zohri mencatatkan waktu 10,24 detik. Torehan ini merupakan catatan waktu yang terbaik, dimiliki Zohri di pentas senior, sebelum sesi final 100 meter. Rekor terbaiknya kala menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yakni 10,18, tak dihitung, karena bukan event senior. Namun, usai diakumulasikan pencapaian waktu, Zohri menempati peringkat ketujuh terbaik. Pada Asian Games 2018, selain sprint 100 meter, Zohri juga akan berlaga di nomor lari estafet 4×100 meter putra, pada Rabu (29/8). (Dre)

Kalah Bersaing Dari Korea, Atlet Lari Gawang 100 Meter Emilia Nova Sumbang Perak

Emilia Nova (putih) tak menyangka, jika debutnya di Asian Games 2018 langsung menyabet medali perak, nomor lari gawang 100 meter putri, cabor atletik Asian Games 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia kembali menambah koleksi satu medali perunggu dan satu perak, lewat cabang olahraga atletik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). Medali perak diraih Emilia Nova, yang bertanding pada nomor lari gawang 100 meter putri. Ini menjadi perak ke-13 untuk Indonesia. Tambahan satu medali perunggu Indonesia diraih Sapwaturrahman yang turun pada nomor lompat jauh putra. Medali ini menjadi perunggu ke-25 untuk kontingen Indonesia. Dalam enam kali percobaan, Sapwaturrahaman mencatatkan jarak terjauh 8.09 meter. Ini adalah catatan terbaik Sapwaturrahaman dalam Asian Games. Sapwaturrahaman kalah dari dua wakil China, yang meraih medali emas (Wang Jianan) dan medali perunggu (Zhang Yaoguang). Wang Jianan mencatatkan jarak 8.24 meter yang menjadi rekor terjauh sepanjang sejarah Asian Games. Di peringkat kedua, Zhang Yaoguang, menorehkan jarak lompatan 8,15 meter. Sementara, Emilia berhasil menyumbang perak, usai di partai final gagal bersaing dengan wakil Korea Selatan, Jung Hye-Lim. Hye-Lim finish terdepan dengan catatan waktu 13,20 detik sekaligus memastikan meraih medali emas. Sedangkan atlet Merah Putih berusia 23 tahun itu, membukukan catatan waktu 13,33 detik dan menjadi runner up Emilia berhak atas medali perak. Sedangkan medali perunggu diperoleh wakil Hongkong Lui Lai Yu. Ia menorehkan catatan waktu 9 detik lebih lambat dari Emilia. Perak yang diraih dara kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1995, merupakan medali pertama Indonesia, dari cabang atletik di Asian Games 2018 Bagi Emilia, Asian Games 2018 merupakan debut pertamanya dan ia tak menyangka meraih medali di nomor yang jadi spesialisasinya itu. Terlebih, atletik merupakan cabang olahraga terukur, dan sulit bisa meraih medali. Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) hanya menarget satu emas pada Asian Games 2018. Ia juga mengaku bersyukur meraih medali perak. “Atletik itu olahraga terukur yang sulit mendapatkan medali. Apalagi untuk tingkat Asia seperti ini,” ungkap Emilia usai lomba. “Terima kasih seluruh masyarakat Indonesia, buat orang tua, pelatih dan pengurus PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) atas doanya,” tambahnya. (Adt)

Melaju ke Semifinal, Fajar/Rian Tantang Unggulan Dua Asal China, Kevin/Marcus Duel Dengan Ganda Taiwan

Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2108, paska menyingkirkan wakil Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, dua gim langsung, 21-17 dan 21-13. (Pras/NYSN)

Jakarta- Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games XVIII/2108. Mereka sukses membuat wakil Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi menelan kekecewaan. Wakil Negeri Jiran itu mampu tampil baik di gim pertama dengan membuat kedudukan imbang 17-17. Namun, duet Merah Putih tak membiarkan Ong/Teo merebut gim ini. Dengan memainkan bola pendek menjadi kunci Fajar/Rian mengunci gim pertama dengan skor 21-17. “Saat kedudukan 17-17 di gim pertama, saya tak berpikir gimana-gimana. Kuncinya gim pertama tak boleh angkat bola karena rawan diserang oleh lawan. Jadi kami terapkan permainan no lob, dan berhasil,” ungkap Fajar usai laga. Berlanjut ke gim kedua, Fajar/Rian makin tak terbendung. Mereka dengan mudah meraih poin atas Ong/Teo. Dan usai tampil selama 33 menit, Fajar/Rian mengunci kemenangan dengan skor 21-13. “Mereka tak bisa bermain bertahan. Sebab ada faktor menang dan kalah angin. Mungkin mereka sempat ada defense, tapi di gim kedua, mereka bisa ditembus,” timpal Rian. Kemenangan Rian/Fajar atas Ong/Teo di perempat final Asian Games 2018 sekaligus membalas kekalahan di ajang All England 2018, Maret lalu. Duet Indonesia yang menempati rangking 9 dunia itu kalah rubber game, 16-21, 21-16, dan 21-23. Di semifinal, Fajar/Rian menantang unggulan dua asal China, Li Junhui/Liu Yuchen yang menang atas wakil Srilanka, Sachin Dias/Buwaneka Goonethilleka, staright game, 21-12, 21-15. “Lawan kami besok (Senin, 27/8) juga berat. Power dan serangan mereka, karena postur mereka tinggi. Jadi harus antisipasi bola datar,” terang Fajar. Sementara itu, langkah ganda utama Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon masih belum terbendung. Mereka sukses menumbangkan Goh V Shem/Tan Wee Kiong asal Malaysia, straight game, 22-20, 21-19. Hasil itu sekaligus memperlebar rekor pertemuan kedua pasangan menjadi 3-1. Dua kemenangan Kevin/Marcus masing-masing diraih di ajang India Open 2016 (21-15, 21-17), dan Thomas & Uber Cup Finals 2018 (21-19, 20-22, 21-13). Sedangkan satu-satunya kemenangan Goh/Tan diperoleh di Swiss Open 2015 (21-10, 21-19). Menuntaskan laga selama 34 menit, Marcus mengakui bila dirinya bersama Kevin lebih siap dalam pertandingan ini, dibandingkan dengan lawan. “Kami lebih siap dan lebih yakin dari awal main. Sehingga kami bisa unggul dari mereka,” ujar Marcus. Diakui Marcus, bila penampilan Goh/Tan sangat bagus dan memiliki speed yang baik. “Jadi kami juga harus siap untuk main dengan speed juga,” tambah suami dari Agnes Amelinda Mulyadi itu. Di semifinal, Kevin/Marcus sudah ditunggu Lee Jhe Huei/Lee Yang. Wakil Taiwan ini meraih kemenangan, dari wakil Korea Selatan, Choi Solgyu/Min Hyuk Kang, staright game, 21-16, 21-16. (Adt)

Lakoni Duel Kurang Dari Satu Jam, Dua Wakil Tunggal Indonesia Lolos ke Semifinal

Anthony Sinisuka Ginting sukses menekuk wakil China, Chen Long, dua set langsung dengan skor 21-19 dan 21-11, pada laga perempat final, cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Wakil tunggal Indonesia, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting, melaju ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Minggu (26/8). Dihadapan publik sendiri, di Istora Senayan, Jakarta, Jonatan dan Anthony memaksa lawan menyerah, lewat duel yang berlangsung kurang dari satu jam. Memainkan laga perempat final, Jonatan hanya butuh waktu 46 menit untuk memaksa wakil Hongkong, Wong Wing Ki Vincent menyerah. Di gim pertama, pemain asal PB Tangkas Specs Jakarta itu tampil dominan, bahkan tak memberikan kesempatan lawan, memundi poin dengan mudah. Jonatan yang tampil percaya diri itu kerap membuat Wong tak berkutik. Bahkan, poin yang dikumpulkan pebulutangkis Pelatnas PBSI Cipayung itu, tak mampu dikejar hingga membuat Wong pasrah. Alhasil, Jonatan mampu mengunci gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. Berlanjut di gim kedua, Wong berusaha keluar dari tekanan. Namun, pebulutangkis Merah Putih berpostur 1,79 meter itu konsisten dengan performanya. Sempat memimpin 11-9 di interval gim ini, tapi Wong berhasil menyusul serta memimpin perolehan poin 15-14. Lawan yang kerap mengangkat bola ke belakang, dibalas dengan jumping smash keras oleh Jonatan. Akibatnya, Jonatan kembali berhasil meninggalkan perolehan angka lawan sekaligus memastikan lolos ke semifinal usai membungkus kemenangan dengan skor 21-18. “Terima kasih Tuhan. Suporter yang ada di Istora membuat juga Wong sedikit tegang. Di awal Wong sering mati sendiri. Bola yang seharusnya tidak sulit, tapi tidak bisa dia kembalikan atau keluar. Ini jadi keuntungan tersendiri buat saya,” ujar Jonatan usai laga. Terkait peluang di semifinal, yang dihelat pada Senin (27/8), Jonatan mengatakan akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan Hendry Saputra (Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI). “Setelah lihat hasilnya barus bisa saya bicarakan dengan pelatih,” cetus Jonatan. Sedangkan, Anthony menorehkan hasil gemilang usai menekuk Chen Long (China) yang juga unggulan lima ini, dalam tempo 50 menit. Pertemuan kedua pemain ini berlangsung sengit sejak awal gim pertama. Sempat tertinggal 6-11 dari Chen di interval gim pertama, tak membuat Anthony mengendurkan tekanan. Jonatan dan Chen sempat membuat publik Istora tegang, saat kedudukan imbang 18-18. Namun, penampilan impresif dari pebulutangkis Tanah Air berusia 21 tahun itu membuat Chen kewalahan. Anthony memanen angka serta membungkus gim ini, dengan skor 21-19. Memulai gim kedua, Anthony langsung menggebrak dengan memimpin interval 11-6. Bahkan, poin wakil tuan rumah makin tak terkejar oleh lawan hingga match point 20-11. Dan bola kembalian Chen yang menyangkut di net memastikan Anthony merebut gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. “Puji Tuhan, saya bisa lewati hari ini dan dikasih kemenangan. Di gim pertama awalnya sampai interval ketinggalan, saya coba strategi seperti kemarin, lebih inisiatif menyerang serta mengembalikan kepercayaan diri lagi,” terang Anthony. “Di gim kedua, tak ada strategi khusus. Chen dapat lapangan yang ‘menang angin’, jadi dia banyak melakukan kesalahan sendiri, jadi ragu-ragu mainnya,” tambahnya. Di babak semifinal, Anthony akan berjumpa dengan Chou Tien Chen (China Taipeh) sekaligus unggulan empat. “Persiapannya tetap balik ke diri saya sendiri, dari perjalanan kemarin nggak mau terlalu banyak mikir. Sebenarnya sudah ada rancangan mau main apa, tapi fokus ke jaga badan, jaga makan, mental, kalau di lapangan semua berubah,” tegas Anthony. (Adt)

Indonesia Tambah Satu Keping Emas, Aqsa Sutan Aswar Jadi Yang Terbaik Dari Cabor Jet Ski

Atlet jetski Indonesia, Aqsa Sutan Aswar, mengibarkan bendera merah putih setelah meraih medali emas dari nomor endurance runabout open cabor jet ski, di Jetski Indonesia Academy Ancol, Minggu (26/8). (tempo.co)

Jakarta- Emas ke-12 Indonesia di Asian Games 2018 datang dari cabang olahraga jetski. Medali ini dipersembahkan atlet DKI Jakarta, Aqsa Sutan Aswar, di nomor endurance runabout open di Jetski Indonesia Academy Ancol, Minggu (26/8) siang ini. Aqsa meraih total 1.148 dalam tiga etape Moto1 hingga Moto3, yang dilakoni di nomor itu, dan menjadi poin tertinggi di antara peserta lainnya. Aqsa menutup rangkaian seri dalam nomor endurance runabout open, yang sudah dimulai sejak seri Moto 1 pada Sabtu (25/8), dengan berada di peringkat kedua. Namun, total angkanya sudah tak terkejar oleh para pesaing. Pemuda kelahiran Jakarta, 31 Desember 1997 ini, berhasil mengumpulkan 1.148 angka. Sedangkan Ali, atlet jet ski Uni Emirat Arab (UEA), yang finis di peringkat pertama Moto 3, berada di peringkat kedua dalam total perolehan poin dengan 1.132 angka. Ia pun mendapatkan medali perak, medali tersebut merupakan medali keduanya setelah mendapat emas dari nomor runabout limited. Sementara itu, Kim, saingan berat Aqsa, tak bisa menyelesaikan lomba di Moto 3. Ia keluar di tengah-tengah lomba karena mengalami gangguan mesin. Di sepanjang Moto 3, Aqsa bersaing ketat dengan kakaknya Aero Aswar, guna mencari peringkat kedua. Namun, akhirnya Aqsa tak terkejar oleh Aero dan mengamankan medali emas. Total, sudah dua emas yang disumbangkan atlet Indonesia, pada Minggu (26/8), ditambah dengan keberhasilan Aqsa. Emas pertama diraih Rifki Ardiansyah Arrosyid, pada nomor kumite 60kg mengalahkan karateka Iran, Amir Mahdi Zadeh, di fase final dengan skor 9-7. Khusus bagi Aqsa, ini merupakan medali keduanya di Asian Games. Sebelumnya, ia meraih medali perunggu di nomor runabout limited, pada Jumat (24/8). Saat itu, ia mengku mesin jetskinya sempat mati, sehingga performanya tak maksimal dan hanya meraih perunggu. Aqsa terlihat sangat kecewa dengan hasilnya itu. Bahkan, ia terlihat membuang botol air mineral yang diberikan kepadanya, saat berjalan menuju paddock. “Ini bukan salah siapa-siapa. Mesin jarang masalah, ini bukan salah mekanik, bukan saya. Pas balapan bagus, tapi nasib saja yang jelek. Kalau dapat perak dan perunggu enggak senang. Ya, kecewa saja dengan hasilnya,” kata Aqsa, pada Jumat (24/8). Aqsa lantas segera melupakan kegagalannya itu dan kembali termotivasi. Alhasil, adik kandung Aero Sutan Aswar itu memperbaiki pencapaiannya dengan meraih emas. Raihan satu emas belum memenuhi target dari Indonesia Jetsport Boarding Association (IJBA), yang dibebankan dengan dua emas di Asian Games 2018 ini. (Dre)

Sersan Dua TNI Berusia 20 Tahun Ini, Sumbang Keping Emas ke-11 Dari Cabor Karate

Rifki Ardiansyah Arrosyiid, seorang Sersan Dua (Serda) TNI, mempersembahkan medali emas ke-11 untuk Indonesia di Asian Games 2018, usai tampil di babak final nomor pertandingan Kumite -60 kilogram, di Plenary Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (26/8). (liputan6.com)

Jakarta- Karateka putra Indonesia, Rifki Ardiansyah Arrosyiid, mempersembahkan medali emas ke-11 untuk Indonesia di Asian Games 2018. Rifki memenangkan medali emas pada babak final nomor pertandingan Kumite -60 kilogram di Plenary Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (26/8). Medali emas diraih usai Rifki menekuk karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh dengan skor akhir 9-7. Sebelumnya, tim karate Indonesia juga memastikan medali perunggu kumite -55 kg putri, atas nama Cokorda Istri Agung Sastya Rani, paska mengalahkan karateka China, Ding Jiamei, pada nomor 55 kg. Ini merupakan emas perdana dari cabang karate untuk Indonesia di Asian Games 2018. Catatan lain, Karate kembali bisa menyumbang emas Indonesia di Asian Games, sejak Busan 2002. Pada Asian Games 2002 itu, karateka Indonesia, Hasan Basri, menjadi juara pada nomor kumite putra -65 kg. Di fase penyisihan 16 besar nomor Kumite -60 kilogram, pemuda kelahiran Surabaya 24 Desember 1997 ini, mengalahkan karateka asal Thailand, Siravit Sawangsri dengan skor 5-1. Kemudian, pada babak final delapan besar, Rifki kembali menumbangkan karateka asal China, Hu Chen, dengan skor telak 8-0. Terus melaju lagi, di babak perempat final, Rifki bertemu dengan karateka asal Hong Kong, Lee Chun Ho, dan berhasil mengalahkannya dengan perolehan nilai 3-0. Usai mengalahkan Hong Kong, Rifki maju ke babak semifinal, menghadapi karateka Malaysia, Prem Kumar Selvam. Dengan skor 4-4, Rifki sukses mengalahkan karateka asal negeri Jiran itu. Kemenangan itu akhirnya mengantarkan Rifki menuju babak final dan berhadapan dengan karateka Iran, Amir Mahdi Zadeh. Sebelum pertandingan, karateka senior Indonesia, Umar Syarief, menganggap Mahdi Zadeh adalah lawan yang sulit untuk Rifki. Maklum, Mahdi Zadeh adalah peraih medali emas Asian Games Incheon 2014 lalu dalam nomor kumite 60 kg. “Iran juara dunia, dan Asian Games berapa kali juga juara. Ini pertandingan mental. Rifki masih muda, tapi memiliki teknik luar biasa, dan levelnya sudah dunia. Tinggal mentalnya mengimbangi lawan pengalaman,” ucap Umar. Sejatinya, Rifki tak setenar atlet elit Indonesia lainnya. Namanya terdengar asing, jika dibanding dengan Evan Dimas di cabor sepak bola, atau rising star di lintasan atletik, Lalu Muhammad Zohri, atau si tampan Jonatan Christie, dari cabor bulu tangkis. Dilansir dari laman resmi Asian Games 2018, pemuda bertinggi 167 centimeter dan berat 60 kilogram adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, yang bertugas di Satuan Jasmani Militer Kodam (Jasdam) KODAM V/BRAWIJAYA, Sumatra Selatan, dengan pangkat Sersan Dua (Serda). Sebelum menekuk Mahdi Zadeh (Juara Dunia Karate Kumite 60kg 2012 dan 2016), Rifki yang meniti karir karatenya sejak usai sekolah, pernah tampil di beberapa kejuaraan-kejuaraan nasional. Lalu, setelah remsi menjadi seorang tentara, Rifki turun di Kejurnas Karate Marinir Open 2014 dan Kejurnas Mendagri 2015, serta Kejuaraan Piala Panglima TNI 2017. Meski menjalani debut di Asian Games 2018, Rifky ternyata juga mengantongi beberapa prestasi tingkat Internasional, diantaranya medali perunggu pada nomor Team Kumite di SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia. Dia juga tercatat menduduki peringkat ke 15 untuk nomor -55 kilogram putra di World Junior, Cadet & U21 Championships pada 2013, di Guadalaraja, Spanyol. Selain itu, dia juga tercatat duduk di peringkat ke 66 di Karate 1 Premier League, di Dubai (2017). (Ham)

Dikalahkan Mongolia, Timnas Basket Putra Indonesia Malah Sukses Cetak Sejarah di Asian Games

Power forward Timnas basket putra Indonesia, Jamarr Andre Johnson (11), harus mengakui keunggulan tim Mongolia dengan skor 69-74, di Hall Basket, Senayan, Sabtu (25/8) malam. Namun, Indonesia tetap lolos ke perempat final Asian Games 2018. (medcom.com)

Jakarta- Timnas basket putra Indonesia tumbang dari Mongolia 69-74 pada laga pamungkas, penyisihan Grup A Asian Games 2018 di Hall Basket, Senayan, Sabtu (25/8) malam. Walau takluk dari Mongolia, anak asuh Fictor Gideon Roring tetap melaju ke perempat final sekaligus menorehkan sejarah, dan akan bertemu raksasa Asia, Cina. Indonesia unggul dalam perhitungan selisih poin memasukkan kemasukan, dari Mongolia dan Thailand. Ketiga tim sama-sama mengoleksi nilai empat, hasil satu kali menang dan dua kali kalah. Karena saling mengalahkan, maka skor pertemuan ketiganya saja yang dihitung, tanpa memasukkan hasil melawan Korea Selatan. Indonesia tertolong kemenangan dengan selisih 12 angka atas Thailand, sementara tim Negeri Gajah Putih sudah sejak awal tersingkir, karena hanya menang dua poin dari Mongolia. Korsel menjadi juara Grup A dengan tiga kemenangan tanpa kalah. Negeri Ginseng menyapu Indonesia, Thailand, dan Mongolia, dengan kemenangan besar. Tampil di hadapan pendukung sendiri, Timnas Indonesia mengawali kuarter pertama dengan baik. Layup dari Arki Dikania Wisnu membawa Indonesia memimpin 18-14 pada akhir kuarter pertama. Masuk kuarter kedua, Timnas Indonesia mendapat perlawanan sengit dari Mongolia. Indonesia pun gagal mempertahankan keunggulan ini dan berbalik tertinggal 27-38 dari Mongolia. Pada dua kuarter terakhir, Indonesia sulit membendung laju sang lawan. Sumbangan poin Arki Dikania, Valentino Wuwungan, hingga Jamarr Andre Johnson, gagal menghindarkan merah putih dari kekalahan 69-74 kontra Mongolia. Arki menjadi penyumbang poin terbanyak Timnas Indonesia dengan 15 poin dan lima rebound. Sementara, shooting guard Mongolia yag bermain untuk klub Filiphina, Barangay Ginebra San Miguel, Tungalagiin Sanchir, menjadi penampil terbaik dengan 28 poin dan 10 rebound. Meski kehadiran pendukung Indonesia memenuhi tribun penonton hingga membeludak, situasi ini menurut Fictor, seolah turut menambah beban. Meski demikian, ia mengaku cukup puas karena berhasil mencetak sejarah. “Mungkin terlalu exciting, bebannya terlalu berat. Target masuk delapan besar sangat berat. Lawan kita juga benar-benar berat. Tapi, hari ini kami cetak sejarah masuk delapan besar Asia. Apalagi tipisnya angka, benar-benar harus kita pertahankan. Jadi, ya harus disyukuri,” kata Ito -sapaan akrab Fictor. Meski melawan China di laga berikutnya, pelatih kelahiran Manado 18 Desember 1972, ini punya target di fase 8 besar. “Memang lawan kita berikutnya raksasa Asia, China, tapi saya dan tim, pasti punya target. Minumal 5 besar-lah, yang penting jangan paling dasar,” pungkas pria bertinggi badan 193 cm ini. (Dre)

Anthony Revans Tekuk Momota Dua Gim Langsung, Ganda Putra Amankan Tiket Perempat Final

Lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit, Anthony Sinisuka Ginting (putih) menang dari wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). (Tribunnews.com)

Jakarta- Anthony Sinisuka Ginting akhirnya menuntaskan dendam, paska menekuk wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). Pemain tunggal asal klub SGS PLN Bandung itu, sebelumnya takluk dari ketangguhan Momota, pada pertemuan semifinal beregu putra, Selasa (21/8), lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit. Pada laga 16 besar, memainkan gim pertama, Anthony meladeni pemain Negeri Sakura itu. Saling tekan dan serang mewarnai duel kedua pemain ini. Namun, berkat ketenangan dalam menempatkan bola membuat Anthony mampu membungkus gim pertama dengan skor 21-18. Situasi tak berubah di gim kedua. Anthony dan Momota tampil impresif. Kendati sempat tertinggal 6-11, namun penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu tampil tenang, bahkan bmembuat angka imbang 15-15. Skor lawan terpaku di angka 18, sedangkan Anthony memaksa Momota menelan pil pahit, usai mengunci gim kedua dengan skor 21-18. “Saya tak menyangka bisa menang dua game langsung. Rasanya plong, apalagi saya kalah di beregu. Senang bisa revans. Sebenarnya performa Momota cukup bagus. Dan di awal game dia memegang kendali. Tapi ada peribahasa, bila hasil tidak akan mengkhianati usaha,” ujar Anthony mengomentari kemenangannya atas Momota. Di perempat final, Anthony menantang Chen Long asal China, yang menempati unggulan lima. Berjumpa dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil itu, anak pasangan Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu) mengkau siap. “Harus lebih fokus sama konsentrasi di lapangan saja,” lanjutnya. Selain Anthony, wakil Indonesia di tunggal Jonatan Christie juga sukses mencatat hasil positif. Pemain berusia 20 tahun, kelahiran Jakarta, 15 September itu berhasil memulangkan Khosit Phetpradab (Thailand), rubber game, 17-21, 21-18, dan 21-18. “Sulit melawan Khosit, tetapi Tuhan bantu saya banyak hari ini. Saya merasa performa saya kurang dibandingkan kemarin. Saya nggak mau menyerah begitu saja, ini Asian Games yang empat tahun sekali,” ujar pebulutangkis asal PB Tangkas Specs itu usai laga. “Saya mau semaksimal mungkin, sampai habis, sampai saya benar-benar tak bisa jalan seperti Anthony, saya akan lakukan itu,” tambahnya. Di perempat final, Jonatan akan berduel dengan Wong Wing Ki Vincent (Hongkong) usai meraih kemenangan atas Wang Tzu Wei (China Taipeh), rubber game, 21-12, 16-21, dan 21-13. Hasil cemerlang turut diperoleh dua ganda terbaik Indonesia, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Fajar/Rian secara meyakinkan menyudahi duet Korea, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, straight game, 21-18, 21-13, dalam tempo 44 menit. Di laga perempat final nanti, Fajar/Rian akan beradu kekuatan dengan ganda Negeri Jiran Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, yang secara mengejutkan menang atas unggulan tiga Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 21-14, 21-17. Sementara itu, kompatriotnya Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon, juga melenggang ke perempat final setelah menghentikan langkah Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang), rubber game, 21-16, 19-21, dan 21-18. Selanjutnya, pasangan Indonesia peraih juara Indonesia Open 2018 itu ditantang dobel Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong, yang menaklukan Bikash Shrestha/Nabin Sharestha (Nepal), straight game, 21-9, 21-12. Ditanya mengenai pertandingan perempat final, pada Minggu (25/8), Marcus mengatakan akan mengeluarkan penampilan terbaiknya bersama Kevin. “Untuk besok, kami mau main yang bagus saja dulu,” cetus Marcus singkat. (Adt)

Tugas Timnas U-23 Berikutnya : Kualifikasi Piala Asia U-23, dan Status Luis Milla

Gelandang serang Timnas U-23 kelahiran Semarang, 2 September 1996, Septian David Maulana (14), bakal ditunggu event Piala AFF 2018 dan Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, usai tampil di Asian Games 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas U-23 harus mengakui keunggulan Uni Emirat Arab (UEA) di babak 16 besar Asian Games 2018, di Stadion Wibawa Mukti, Jumat (24/8). Paska gagal di Asian Games, Garuda Muda dijadwalkan mengikuti Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, dan Piala AFF 2018. Piala AFF 2018 dimulai pada 8 November hingga 15 Desember, dengan format baru. Indonesia masuk di Grup B, bersama juara bertahan Thailand, Filipina, Singapura, dan pemenang kualifikasi antara Timor-Leste kontra Brunei Darussalam. Timnas U-23 juga masuk dalam proyeksi, menjadi tim yang akan tampil di ajang ini. Usai AFF, perjuangan Timnas U-23 tampil di Olimpiade 2020, bakal dimulai dari babak kualifikasi Piala Asia U-23 2020. Fase kualifikasi dihelat 18-26 Maret 2019. Babak kualifikasi ini diikuti oleh seluruh tim anggota konfedrasi Asia (AFC). Nantinya, tim-tim ini dibagi menjadi 10 grup, dan masing-masing juara grup lolos ke putaran final, ditemani enam runner-up terbaik. Timnas U-23 dalam pembagian pot, masuk ke pot 3 zona timur. Pot ini juga dihuni oleh Kamboja, Timor-Leste, Laos, dan Singapura Setelah itu, babak putaran final Piala Asia U-23 2020, bergulir pada 8-26 Januari 2020. Empat tim semifinalis, dipastikan otomatis mendapat jatah tiket ke Olimpiade 2020, yang dihelat di Tokyo, Jepang, pada 24 Juli-9 Agustus. Timnas Indonesia dalam sejarahnya, pernah sekali tampil di Olimpiade yakni pada 1956. Lalu, sejak Olimpiade cabang sepak bola diikuti oleh Timnas U-23 masing-masing negara pada 1992, tim Merah Putih belum pernah sekalipun lolos. Kiper Timnas U-23, Andritany Ardhiyasa, meminta timnya tak berlama-lama larut dalam kesedihan, usai gagal di Asian Games 2018. Pemain Persija Jakarta ini ingin timnya menatap turnamen selanjutnya yaki Piala AFF 2018. “Kami semua kecewa karena harus tersingkir. Tapi, kekalahan ini bukan akhir timnas, masih banyak pertandingan di depan,” ujar Andritany. “Jangan pernah menyerah. Di depan masih ada AFF, dan turnamen lainnya,” sambungnya. Satu hal yang harus dipastikan PSSI saat ini adalah kursi kepelatihan. Kontrak Luis Milla bersama PSSI akan habis per tanggal 31 Agustus. PSSI harus segera mengambil keputusan apakah memperpanjang kontrak pelatih asal Spanyol ini, atau tidak. (Dre)

Tunggal Putri Indonesia Kandas, Dobel Greysia/Apriyani Wakili Tim Merah Putih di Semifinal

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16, pada laga perempat final, nomor perorangan Asian Games 2018, Sabtu (25/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia tanpa wakil di babak perempat final, cabang olahraga bulutangkis Asian Games 2018, untuk nomor tunggal putri, setelah langkah Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, akhirnya terhenti di babak 16 besar, di Istora Senayan, Sabtu (25/8). Fitriani yang menghadapi pebulutangkis India, Saina Nehwal, di babak 16 besar kalah dua gim langsung, 6-21 dan 14-21. Sedangkan Gregoria menyerah dari unggulan ketiga yang juga asal India, PV Sindhu, 12-21, 15-21. Dikutip dari situs Badminton Indonesia, Fitri kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat di gim pertama. Bahkan Fitri cenderung banyak melakukan kesalahan sehingga Saina menang mudah. Di gim kedua Fitri sempat memberikan perlawanan kepada Saina. Hanya saja, kesalahan-kesalahan yang dilakukan Fitriani, kembali membuat poin Saina terus bertambah dan memenangi pertandingan. “Saina lebih menekan, permainan saya tidak berkembang. Di gim kedua saya unggul di awal, tetapi terkejar lagi karena dia bisa mengatasi pola yang saya terapkan,” ujar Fitriani usai bertanding. “Mungkin (penyebab kekalahan) dari pikiran sendiri, waktu sering out jadi ragu-ragu,” tambahnya Sementara Gregoria mengaku, sulit mengembangkan permainan saat melawan Sindhu. Sindhu yang merupakan unggulan ketiga di Asian Games 2018 mendominasi permainan. Di gim kedua penampilan Gregoria sempat membaik, tetapi Sindhu selalu lebih unggul. “Saya terlalu lama mencari pola permainan, Sindhu sudah dapat puncaknya, saya terus di bawah tekanan. Waktu gim kedua saya sudah mencobaatur dia. Tapi, dia menyerang, saya ikut terus memberikan pengembalian bola panjang ke belakang, padahal itu tidak menguntungkan saya sama sekali,” ucap Gregoria paska laga. Di Asian Games 2018 nomor tunggal putri memang tak dibebani target. Medali emas diharapkan datang dari bulutangkis di sektor duet campuran dan ganda putra. Meski tanpa wakil di nomor tunggal putri, tetapi nomor perorangan cabor bulutangkis, sukses mengamankan satu medali perunggu dari ganda putri. Ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir mengamankan tiket semifinal ganda campuran Asian Games 2018, usai menekuk pasangan ranking 23 dunia wakil Hong Kong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah, dalam permainan tiga set, 21-15, 17-21, 21-16 selama 58 menit, di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (25/8). Sementara, duet Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16. Dalam laga yang akan digelar pada Minggu (26/8), pasangan Indonesia ini akan berjumpa ganda asal Jepang, Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo. Hasil ini menjadi harapan bagi Indonesia untuk meraih medali emas di kategori ganda putri. Pasangan ini pun tampil cemerlang selama 2018. Saat ini mereka menempati posisi 4 dunia. Dilansir dari Bwfbadminton.com dan Asiangames2018.id., dobel andalan Indonesia ini menjadi kampiun di India Open 2018 dan Thailand Open 2018. (Adt)

Ingin Enjoy Menikmati Asian Games 2018? Ini Tipsnya

Sobat muda NYSN, event Asian Games 2018 masih banyak menyisakan pertandingan-pertandingan seru dengan atlet-atlet kece yang bertanding nih! Rugi banget makanya kalau kamu sampai melewatkannya. Oh iya, Ajang Asian Games 2018 ini juga bukan hanya untuk kamu yang mau nonton pertandingan aja kok, kamu juga bisa sekedar jalan-jalan mampir ke kawasan Gelora Bung Karno untuk menikmati suasananya atau berfoto-foto di spot yang instagramable disini… Jadi pilihan kamu ingin enjoy nonton pertandingan atau jalan-jalan berfoto ria? Nah, apapun pilihan kamu, ada beberapa tips nih, agar lebih enjoy menikmati momen-momen Asian Games 2018 di kawasan GBK; 1. Beli tiket secara online, jika offline datang lebih pagi Jika pilihan kamu jatuh pada ingin nonton pertandingannya, maka sangat disarankan untuk beli tiket online. Kenapa? Ya seperti yang sudah kamu ketahui di berita-berita lain, jika offline banyak resiko yang didapat. Entah itu tentang ketersediaan tiket on the spot, atau panjangnya antrianmu. Saat kamu beli online, kamu bisa dengan mudah cek jadwal pertandingan atau bahkan ketersediaan tiket secara real time. Setelah beli online, nantinya tiket ditukarkan di Gate 3, 4, dan 5 yang berlokasi di Jalan Pintu Satu Senayan. Daripada kamu gak enjoy nanti disana, udah datang jauh-jauh ke GBK, tiket tak didapat. Untuk kamu yang bersikeras membeli tiket offline alias on the spot. Tips untuk kamu biar njoy adalah datang lebih pagi. Bahkan antrian terkadang sudah mengular sebelum loket dibuka pukul 07.30 WIB. Hmm, jadi semangat!! 2. Hanya ingin enjoy jalan-jalan di kawasan GBK? Ya boleh banget… Untuk kamu yang cuma mau jalan-jalan cantik di sekitaran kawasan GBK, ini tipsnya. Pertama, lebih baik saat pagi atau sore hari, sebab kalau siang cuacanya panas dan terik. Kedua, jadi, FYI buat kamu mulai tanggal 23 Agustus 2018, tepat hari Kamis kemarin, harga tiket festival masuk ke GBK hanya 10 ribu loh.. Harga turun, sobat muda! Tiket festival ini hanya dijual di loket gerbang Gate 7 atau seberang BEJ. 3. Tidak perlu repot-repot membawa minuman dari luar, mengapa begitu? Pihak panitia penyelenggara Asian Games 2018 hanya membolehkan minuman mineral logo Aqua dan Pocari Sweat masuk ke kawasan GBK. Jadi, untuk minuman selain itu gak usah repot-repot kamu bawa, karena tidak akan diijinkan. Ya, seperti yang kita tahu, saat event pasti merk minuman lain ada dan dijual di dalam kompleks GBK, namun harganya akan jauh lebih mahal. Jadi, siapkan kantongmu ya.. 4. Untuk makanan, jangan bawa nasi bungkus loh.. Selain gak diperbolehkan bawa minuman selain Aqua dan pocari sweat, kamu sebagai pengunjung kawasan GBK juga tidak boleh bawa makanan berat, seperti nasi bungkus. Lantas, gimana nanti kalau kelaparan? Melipir aja ke Area Bhin-bhin (yang berada di seberang lapangan Softball), area Atung dan kaka (yang berada di bekas Parkir Timur Senayan. Area-area tersebut menjual makanan dengan menu masakan Indonesia hingga masakan Asia. Untuk harga gak perlu khawatir, masih aman kok! 5. Yuk enjoy beli oleh-oleh pernak-pernik Asian Games 2018 Selagi ada event Asian Games 2018, gak ada salahnya nih belanja pernak-perniknya. Sebab, ajang ini belum tentu ada lagi di Jakarta mungkin dalam waktu 20 tahun ke depan. Jadi, buat kamu yang ingin beli pernak-pernik Asian Games 2018 bisa datengin langsung area Bhin-bhin yang lokasinya samping Istora Senayan. Disana menjual berbagai macam merchandise, mulai dari sticker, baju, boneka maskot Asian Games 2018, dan lainnya. Harganya sangat bervariasi tergantung produk yang kamu pilih tentunya. So, biar enjoy, jangan lupa bawa dompet kamu yaa.. 6. Duit cash jangan dibawa, loh kok? Tips selanjutnya, perlu kamu ketahui bahwa disana hampir semua pembayaran memakai transaksi non-tunai. Sehingga sangat disarankan bawa kartu debit atau e-money, atau kartu kredit dari bank seperti Mandiri, BNI, atau BRI. 7. Cari tahu lokasi parkir terlebih dahulu Bagi kamu yang menggunakan kendaraan pribadi, cari tau dulu lokasi parkir terdekat. Sebab kendaraan pribadi tidak boleh masuk ke kawasan GBK selama Asian Games 2018. Sarannya, kamu bisa parkir di gedung-gedung sekitaran GBK, seperti Plaza Senayan, ITC Senayan, Ratu Plaza, atau lainnya. Nah itu tadi tips-tips biar kamu enjoy menikmati pilihan kamu di kawasan GBK. Happy-happy, Sobat Muda NYSN! dukung terus atlet favoritmu..Semangat Indonesia!   (IDN Times)

Lampaui Target, Tenis Ganda Campuran Genapkan Emas Kontingen Indonesia Menjadi 10

Ekspresi petenis ganda campuran Indonesia Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi, usai menekuk pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum pada laga final tenis ganda campuran Asian Games 2018 di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (25/8). (INASGOC)

Jakarta- Ganda campuran Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi mengakhiri puasa medali emas cabor tenis, di Asian Games yang kali terakhir diraih 16 tahun silam. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, hadir menyaksikan pertandingan kali ini. Bahkan, kursi penonton pun nyaris penuh. Melawan pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum, di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sabtu (25/8/), partai ini memang diprediksi panas. Beberapa nomor seperti ganda putri dan tunggal putri, Indonesia sudah gagal meraih emas. Ganda campuran menjadi harapan terakhir Indonesia. Dobel Indonesia menang dengan skor 2-1. Sempat unggul di set pertama 6-4, kalah di set kedua 7-5, akhirnya Christopher/Aldila menyudahi set ketiga, dengan hasil akhir 7-10. Kerja keras keduanya ini, selain mendapat medali emas, juga bakal dipromosikan menjadi pegawai negeri sipil, dan akan diganjar hadiah uang Rp 1,5 miliar dari Menpora. Usai laga, Aldila mengaku, jika prestasi Asian Games 2018 ini jadi gelar pertama, sekaligus keikutsertaan pertamanya, di pesta multievent terbesar kedua, setelah Olimpiade. “Saya persembahkan gelar ini untuk orang tua saya, yang banyak berkorban untuk saya sejak kecil, serta memberikan dukungan atas pilihan saya berkarir di tenis. Mungkin tanpa mereka, karir saya di tenis tidak berlanjut,” ujar Aldila terharu. Kendati keduanya dijagokan sejak awal meraih medali, namun peluang merebut emas dinilai sangat berat. Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) justru menargetkan Christopher/Aldila memberi satu perunggu setelah mereka menembus semifinal. Nyatanya, dobel Merah Putih ini melenggang ke final, usai menaklukkan wakil Jepang Erina Hayashi/Kaito Uesugi 7-6(3), 6-4, di babak empat besar, dan memastikan meraih medali emas Asian Games 2018. Dari statistik, Christopher/Aldila total membuat kesalahan sendiri 26 kali, sedangkan Luksika/Sonchat hingga 33 kali. Kali terakhir tenis berhasil menyumbangkan untuk Indonesia, di Asian Games pada edisi 2002, saat digelar Busan, Korea Selatan. Pada Asian Games ke-14 itu, tenis meraih emas dari nomor beregu putri. Ketika itu, tim beregu putri menang 2-1 atas Jepang. Skuat Indonesia saat itu, dihuni Liza Andriyani, Wynne Prakusya, Wukirasih Sawondari, dan Angelique Widjaja. Sementara ganda campuran, Indonesia kali terakhir berhasil meraih emas, pada edisi Asian Games 1990, melalui pasangan Yayuk Basuki dan Hary Suharyadi. Keduanya menumbangkan ganda campuran Korea Selatan, Yoo Jin-sun/Kim Il-soon. Sukses Christopher/Aldila berhasil menjadi penghapus dahaga medali emas bagi tenis Indonesia, di ajang multievent empat tahunan di Asia tersebut. Busan 2002 menjadi Asian Games terakhir tenis Indonesia, bisa menyumbangkan medali emas. Di Doha 2006, Guangzhou 2010, dan Incheon 2014, tim merah putih gagal merebut satu medali dari tenis. Hasil positif ini diharapkan menjadi pemicu prestasi cabor tenis yang kali terakhir meraih emas pada 16 tahun silam. Kemenangan ini turut mengobati kegagalan Christopher/Aldila di nomor lain. Bersama Justin Barki, Christopher langsung kalah di babak dua ganda putra. Untuk Aldila melangkah hingga perempat final tunggal putri Asian Games 2018. Hasil emas ini melebihi target pemerintah melalui Kemenpora kepada PP PELTI. Sebab, Kemenpora tak meminta medali emas dari cabor tenis di Asian Games 2018. Atas pencapaian ini, Indonesia mengumpulkan total 38 medali, yakni 10 emas, 12 perak dan 16 perunggu, dan sementara ini berada di peringkat kelima Asian Games 2018. Di atas terdapat China (1), Jepang (2), Korea Selatan (3) dan Iran (4). (Ham) Laga Christopher/Aldila Meraih Medali Emas Asian Games 2018 Babak 32 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Sarah Mahboob Khan/Muzammil Murtaza (Pakistan) : 6-3, 62 Babak 16 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Nicha Lertpitaksinchai/Sanchai Ratiwatana (Thailand) : 7-5, 61 Perempat Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Rohan Bopanna/Ankita Raina (India) : 4-6, 6-3, (10-8) Semifinal Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Uesugi Kaito/Hayashi Erina (Jepang) : 7-6 (3), 6-4 Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Luksika Kumkhum/Sonchat Ratiwatana (Thailand) : 6-4, 5-7, (10-7)

Siswa Kelas XII SMA Negeri Olahraga (SMANOR) Palu, Jadi Atlet Termuda Peraih Emas AG 2018 Kontingen Indonesia

Rio Rizki Darmawan, salah satu anggota tim dayung (Rowing) Indonesia di nomor kelas ringan delapan putra, menjadi peraih emas termuda kontingen Indonesia di Asian Games 2018. Rio saat ini baru menginjak usia 15 tahun. (cnnindonesia.com)

Jakarta- Salah satu anggota tim dayung (Rowing) Indonesia di nomor kelas ringan delapan putra, Rio Rizki Darmawan, adalah atlet termuda peraih emas Asian Games 2018 kontingen Tim Merah Putih, sejauh ini. Rio bahkan masih tercatat sebagai siswa kelas XII SMA Negeri Olahraga (SMANOR) Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah. Rio yang berasal dari Kulawi, kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, masuk pelatnas dayung Asian Games, usai tampil di Pekan Olahraga Nasional 2018 di Jawa Barat. Sejak itu Rio menjadi andalan Indonesia. Saat di PON XIX Jawa Barat, Rio sebetulnya tampil biasa saja. Bukan prestasi yang mengagumkan, karena hanya medali perunggu di nomor single sculss kelas ringan (LM1x) putra, yang ia torehkan. Namun, prediksi PB Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) tidak salah. Ia lolos pelatnas dan menjadi tim dayung Indonesia di Asian Games 2018. Atlet binaan Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Pemprov Sulteng ini, bahkan kini berprestasi meraih emas pertama di cabor dayung. Salah satu yang faktor yang membuat PODSI kepincut dengan bakat Rio, karena kemampuannya yang mudah beradaptasi. Berkaca dari PON di Jawa Barat, Rio tetap bisa meraih medali perunggu, meski memakai peralatan yang belum pernah dipakainya, saat persiapan. Pada Kejuaraan Nasional Dayung dan Asian Rowing di Palembang, Sumatera Selatan, Desember 2017, Rio mulai menunjukkan prestasi, saat menyabet satu emas dan satu perak. Tahun ini, Rio membawa tim dayung Indonesia meraih dua emas di Belanda, dalam rangka TC Asian Games 2018. Masing-masing satu emas di kejuaraan di Bosban, Amsterdam, dan di Kejuaraan Holland Beker. Prestasi Rio di dayung pun terus mengalami peningkatan selama mengikuti pelatnas. Di Asian Games 2018, remaja kelahiran Kulawi, 11 Februari 2003, akhirnya mencatatkan namanya, sebagai peraih medali emas termuda sementara, dengan usia 15 tahun. Sedangkan, untuk peraih emas Indonesia tertua di Asian Games kali ini, menjadi milik atlet cabor paralayang, Hening Paradigma, yang sudah berusia 32 tahun. Selain itu, medali emas Rio, juga merupakan emas pertama bagi Indonesia dari cabang dayung, di event multi-cabor terbesar di Asia. Dalam Asian Games, prestasi terbaik tim dayung Indonesia, hanyalah meraih medali perak dari nomor single sculls putra, pada Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand, melalui Lasmin. Selebihnya, Indonesia hanya bisa meraih lima perunggu dari nomor kelas ringan coxless empat putri di Asian Games 1990, kelas ringan coxless empat putra di 2002, kelas coxless empat putra di 2006, single sculls putri di 2006, dan kelas ringan quadruple sculls, di 2014. (Ham)

Menangi Laga Ketat Lawan Wakil Korea, Liliyana Natsir : Mereka Bukan Pasangan yang Junior Banget

Ganda Campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (merah) melangkah ke babak perempat final, cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Jumat (24/8), usai menekuk perlawanan ketat, wakil Korea Selatan, Seo Seung Jae/Chae Yujung. (Riz/NYSN)

Jakarta- Ganda Campuran utama Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mendapatkan perlawanan ketat dari wakil Korea Selatan, Seo Seung Jae/Chae Yujung, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Jumat (24/8), setelah di babak 32 besar mendapatkan bye. Tampil di Istora Senayan, Jakarta, Owi/Butet, sapaan akrabnya, sempat memimpin di interval gim pertama 11-8. Namun Seo/Chae mengimbangi perlawanan tuan rumah. Kerja keras dobel Korea ranking 82 dunia tak sia-sia. Mereka mampu mengimbangi hingga kedudukan 19-19. Namun, peraih gelar All England tiga kali berturut-turut (2012, 2013, 2014) membuktikan kelasnya sebagai dobel dunia dengan tampil tenang di poin kritis, dan menutup gim pertama dengan skor 22-20. Pasangan Pelatnas PBSI Cipayung itu makin percaya diri di gim kedua. Kembali memimpin di interval gim kedua 11-7, performa Owi/Butet makin impresif. Mereka tak memberikan kesempatan pada lawan untuk memundi angka secara mudah. Setelah memainkan laga selama 45 menit, akhirnya peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil itu mengunci kemenangan dengan skor 21-17. Usai laga, Butet mengatakan dirinya bersama Owi tidak kaget bakal mendapatkan perlawanan ketat. “Mereka bukan pasangan yang junior banget, dan sering ikut pertandingan level tinggi. Apalagi mereka pemain kidal, karena kami biasa ketemu pemain bertangan kanan,” ujar pemain kelahiran Manado, Sulawesi Utara (Sulut), 32 tahun silam itu. Senada, Owi mengungkapkan Seo/Chae merupakan pemain bagus, terlebih mereka pasangan muda dan mainnya sangat cepat. “Kalau kami lengah bisa berbahaya,” jelas pria Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), 18 Juli 1987 itu. Di babak perempat final, unggulan tiga ini akan meladeni perlawanan pemain non unggulan asal Hongkong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah yang menang atas Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia), rubber game, 21-17, 19-21, dan 28-26. Sementara itu, tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting butuh waktu 27 menit untuk lolos ke babak 16 besar. Ia memulangkan wakil Iran Mehran Shahbazi yang berperingkat 403 dunia, di babak 32 besar, dalam pertarungan dua game langsung, 21-9 dan 21-8. Terkait kondisi kram paha kiri yang dialami pebulutangkis berusia 21 tahun, kelahiran Cimahi, Jawa Barat (Jabar) itupun, diakuinya sudah membaik. “Puji Tuhan sudah membaik dibandingkan dengan kemarin. Selama pemulihan, saya mendapatakan perhatian lebih dari tim fisioteraphy,” ujar Anthony usai laga. Ia mengalami kram paha kiri saat melakoni laga dramatis di partai final nomor beregu kontra China, pada Rabu (22/8). Anak pasangan Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu) itu harus mundur di gim ketiga ketika berjumpa dengan tungal utama Negeri Tirai Bambu, Shi Yuqi. Indonesia akhirnya kalah 1-3 dari China. Di babak 16 besar, pemenang kompetisi MILO School Competition kategori tunggal putra SD pada 2008 itu kembali menjajal kekuatan wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota. Pertemuan mereka merupakan laga ulangan semifinal beregu putra. Pemain asal klub SGS PLN Bandung itu, kalah rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21. (Adt)