Efek Domino Piala AFF U-22 2019, Kunci Tongkat Estafet Skuat Junior Timnas Indonesia

Salah satu event yang jadi terobosan baru AFF adalah event Piala AFF U-22, yang akan diselenggarakan di Kamboja, sekaligus menjadi negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah perdana. Nama Egy Maulana Vikri yang memperekuat klub Polandia, Lechia Gdansk, menjadi kandidat skuat Timnas Indonesia di ajang itu. (goal.com)

Jakarta- Dewan AFF menggelar sidang ke-16 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (25/8). Dalam sidang itu diputuskan beberapa negara yang menjadi tuan rumah kejuaraan, mulai Piala AFF U-15, Piala AFF U-18, sampai Piala AFF U-22, untuk penyelenggaraan 2019. Hasil sidang memutuskan Piala AFF U-15 2019 akan berlangsung di Thailand, Piala AFF U-18 2019 di Vietnam. Dan, Piala AFF U-22 digelar di Kamboja. Dari sekian banyak agenda kejuaraan AFF pada 2018, Indonesia tak kebagian satupun sebagai penyelenggara. Sebab, pada 2018, Indonesia sudah banyak menjadi tuan rumah agenda AFF. Salah satu event yang menjadi terobosan baru AFF adalah pelaksanaan perdana ajang Piala AFF U-22. Rencananya kejuaraan itu bakal diselenggarakan di Kamboja, sekaligus menjadi negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah pertama. Namun, untuk kepastian bulan atau tanggal pasti penyelenggaraannya, AFF belum bisa memutuskan. Meski demikian ada opsi yang disiapkan, yakni sebelum, atau sesudah SEA Games 2019 yang berlangsung di Filipina. Khusus bagi Indonesia, mengikuti Piala AFF U-22 bakal dibutuhkan perombakan besar di skuat tim nasional. Maklum, sebagian besar penggawa Asian Games 2018 sudah melewati batas usia 22 tahun, pada 2019. Sebagai contoh di lini belakang, hanya ada nama Andy Setyo (20 tahun) dan Bagas Adi Nugroho (21 tahun) yang pada 2019, belum melewati umur 22 tahun. Lalu di posisi kiper, tinggal menyisakan Awan Setho (21 tahun), dan Satria Tama, jika ia masih dipanggil Timnas. Sementara itu di lini tengah, Indonesia kehilangan generasi yang menjuarai Piala AFF U-19 2013. Trio Evan Dimas, Hargianto, dan Zulfiandi, tahun depan akan menginjak usia 23-24 tahun, yang tentunya tak bisa diturunkan di Piala AFF U-22. Dua pemain yang berpotensi tampil adalah Hanif Sjahbandi dan Septian David Maulana. Keduanya sekarang berumur 21 tahun. Justru, yang paling mengkhawatirkan adalah komposisi lini depan. Indonesia sampai detik ini belum memiliki penyerang kategori U-22 dengan kualitas mumpuni. Bahkan, di gelaran Asian Games 2018, pun merah putih sampai harus menggunakan jasa Beto Goncalves, sebagai pemain senior naturalisasi. Opsi terbaik sementara ini adalah Saddil Ramdani, yang belum genap berkepala dua, itupun sebagai penyerang sayap. Untuk penyerang tengah, ada dua nama populer yakni Ezra Walian (20 tahun), dan Egy Maulana Vikri (18 tahun), meski sebaiknya tidak terlalu berharap, karena belum tentu mereka dilepas klubnya. Lalu bagaimana jika memanggil nama Amiruddin Bagus Kahfi, yang tampil gemilang di Piala AFF U-16? Tidak menutup kemungkinan ia mendapat panggilan ke timnas U-22, tapi juga tidak bisa dibebani ekspektasi yang tinggi, lantaran usianya yang masih sangat belia. Pada 2019, Indonesia akan ditinggal sejumlah besar pemain U-23 yang tampil di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Artinya, Garuda Muda akan memasuki era baru dengan para pemain baru. Sayangnya, saat ini belum terlihat pemain yang berpotensi menjadi andalan di Timnas U-22 tahun depan. Persoalan ini sebelumnya juga pernah dihadapi Indonesia, jelang SEA Games 2017. Minimnya jumlah pemain U-22 yang cukup menit bermain di klubnya, ‘memaksa’ PSSI dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB) meneken regulasi anyar, yang mewajibkan seluruh tim Liga 1, harus memainkan pemain U-23 sebagai starter. Regulasi itu memang berhasil. Ada banyak pemain muda yang meroket seperti Rezaldi Hehanussa, Hanif Sjahbandi, Febri Hariyadi, Osvaldo Haay, hingga Marinus Wanewar. Itu menunjukkan, andai klub lebih berani memberikan porsi bermain pada pemain muda, akan ada banyak bakat besar yang terus berkembang. Langkah serupa seharusnya diterapkan jelang Piala AFF U-22. Tentu menimbulkan pro dan kontra, meski tak dipungkiri muncul efek negatifnya, bagi beberapa klub. Tapi, jika kesadaran untuk memainkan pemain muda, masih belum dimiliki klub, maka kelak akan muncul kembali, aturan yang “memaksa” untuk melakukannya. Timnas junior Indonesia terus menyabet prestasi dan hasil membanggakan. Sebagian besar skuat juara, kemudian menjadi tulang punggung di kategori usia selanjutnya. Jika trofi juara bisa disabet di Piala AFF U-22 2019, bukan tak mungkin, Timnas Indonesia akan memiliki calon generasi juara di Piala AFF senior. (Art)

Pecah Rekor Tinju Putri, Anggota KOWAD 20 Tahun Asal Lombok Raih Perunggu Asian Games

Kalah dari atlet Thailand, Sudaporn Seesondee (merah), petinju putri kelahiran Lombok, 27 Januari 1998, Uswatun Hasanah (biru), meraih medali perunggu Asian Games 2018 kelas 60 kg putri, pada Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. (liputan6.com)

Jakarta- Petinju Putri Indonesia, Uswatun Hasanah, sukses menyumbangkan medali perunggu Asian Games 2018 dari kelas 60 kg putri, Jumat (31/8). Raihan itu jadi sejarah baru, karena untuk kali pertama, tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games. Tinju putri kali pertama digelar pada Asian Games 2010. Selama ini, belum pernah ada petinju Indonesia yang meraih medali. Setelah delapan tahun, penantian Indonesia akhirnya terbayar. Atlet 20 tahun yang kerap disapa Atun ini, mengamankan medali perunggu paska gagal melenggang ke babak final. Di partai semifinal tinju putri kelas ringan 60 Kilogram Putri Hall C, JIExpo, Anggota Kowad TNI AD berpangkat Serda yang berdinas di Dirpalad Jatinegara Jakarta Timur ini, terpaksa mengakui keunggulan atlet asal Thailand, Sudaporn Seesondee. Pertandingan tiga babak tersebut, Atun terus menerus tertekan sejak awal ronde. Pukulan bertubi-tubi petinju Thailand, tak mampu dihadang olehnya. Sebaliknya, pukulan gadis kelahiran Lombok, 27 Januari 1998 ini, tak bertenaga dan mudah dipentahkan lawan. Sudaporn makin mendominasi laga di ronde kedua dan ketiga, hingga Atun terlihat selalu terpojok dan gagal keluar dari tekanan. Bahkan, saking terpojoknya, Atun kerap berbalik badan hingga mendapat peringatan dari wasit di ronde ketiga. Usai laga, pelatih kepala Adi Suandana menyebut anak asuhnya gagal maksimal dipertandingan tersebut. Apa yang ditampilkan Atun saat mengalahkan wakil India, Pavitra di perempat final, tak terlihat. “Penampilan Uswatun hari ini, jika dibandingkan dengan sebelumnya, memang menurun,” kata Adi, usai laga, di JIExpo Kemayoran Hall C, Jakarta, Jum’at (31/8). “Karena olahraga tinju itu sudah biasa ya, yang terpukul pasti poinnya turun, dan yang banyak memukul pasti dapat poin,” imbuhnya. Adi menjelaskan, waktu persiapan yang kurang, ditambah minimnya uji coba ke luar negeri, menyebabkan mental Atun dan para petinju penghuni pelatnas lainnya tak terasah dengan baik. Akibatnya, kata Adi, saat di bawah tekanan, mereka tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dan gagal menjalankan instruksi pelatih. “Masih banyak kelemahan. Lawan jadi punya keberanian menyerang terus. Kalau Atun keberaniannya sepeti pertandingan sebelumnya, lawan tak bakal tampil seperti itu,” ujar Adi. Meski gagal ke babak final, medali perunggu Atun sukses menghantarkannya mencetak sejarah. Sepanjang sejarah Asian Games, tinju Indonesia mengoleksi tiga emas, delapan perak, dan 13 perunggu. Namun, semua medali datang dari tinju putra. Ini merupakan medali pertama yang diraih kontingen Indonesia di Asian Games 2018 sepanjang Jumat (31/8). Indonesia total telah mengoleksi 30 emas, 23 perak, dan 39 perunggu. (Ham)

Antiklimaks Takluk Dari Vietnam 1-3, Voli Putri Indonesia Gagal Kunci Posisi Enam Besar

Aprilia Santini Manganang (9) dkk gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas voli putri Indonesia dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. (Riz/NYSN)

Jakarta- Aprilia Santini Manganang dan kolega gagal mengunci posisi enam besar cabang bola voli Asian Games 2018. Timnas bola voli putri Indonesia itu dipaksa menyerah 1-3 dari Vietnam, pada Jumat (31/8), di Volley Indoor, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Di pertandingan ini, kedua tim tampil percaya diri serta mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di set pertama, Vietnam yang dimotori Dinh Thi Tra Giang mampu menyudahi perlawanan ketat tuan rumah dengan skor 29-27. Memainkan set kedua, Amalia Fajrina Nabila dan kawan-kawan berusaha bangkit. Bahkan kerap unggul dalam perolehan poin dengan lawan, serta berhasil mencuri kemenangan dengan skor jauh 25-18. Namun, anak asuh Mohamad Ansori tak mampu menjaga performa. Vietnam yang sempat tertekan di set kedua, justru balik menebar ancaman ke kubu Merah Putih diset ketiga. Berada di atas angin, Vietnam makin ‘gila’ dengan melancarkan smash keras menghujam yang tak mampu dibendung srikandi Merah Putih. Akhirnya, Vietnam merebut set ini dengan skor 25-22. “Set kedua kami bisa menang karena servis dan nyerang terus. Tapi, di set ketiga lawan mulai berani servis, sedangkan kami tidak siap dan kewalahan sendiri. Apalagi pertahanan kami terdapat banyak celah serta kurang cepat bisa baca lawan,” ujar Amalia, Kapten Timnas Bola Voli Putri Indonesia usai laga. “Jadi harusnya yang jadi patokan diam di situ, ini justru memposisikan dirinya belum jelas. Ini yang membuat Vietnam tahu kelemahan kami, begitu juga dengan blok-blok dari kami yang tidak sempurna,” tambahnya. Di set keempat, Manganang Cs sempat membentang asa. Meski perolehan poin sempat tertinggal dari Vietnam sejak awal laga, namun mereka berusaha mengejar poin hingga kedudukan 17-`18 dan 19-20. Akibat kurang tenang dalam menerima serta mengeksekusi bola, membuat timnas bola voli putri Indonesia harus mengakui ketangguhan Vietnam yang mengunci set ini dengan skor 22-25. Hasil tersebut membuat mereka gagal mengulang sukses di ajang SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika itu, timnas bola voli putri berhasil menaklukkan Vietnam, di semifinal, dengan skor 3-2. “Sebenarnya ini sesuai target delapan besar. Tapi, karena ketemu Vietnam, inginnya teman-teman menang, karena di SEA Games kemarin kami menang lawan mereka, apalagi masih sesama negara Asia Tenggara,” ungkap Amalia. “Ya, pinginnya bisa peringkat 5-6, tapi enggak bisa dan harus turun lagi. Ini kan kayak musuh bubuyutan. Dan, sekarang jadi 7-8 peringkatnya,” lanjutnya. Sementara itu, Manganang mengaku penampilannya di pertandingan kali ini berada di bawah performa terbaiknya. “Memang saya tampil tadi tidak maksimal. Mungkin ada faktor kelelahan juga karena jadwal pertandingannya kan sangat mepet waktunya. Soal stamina juga bisa jadi catatan tersendiri untuk kedepannya perlu diperhatikan,” tegasnya. Manganang Cs masih melakoni satu laga lagi menghadapi Kazakhstan untuk posisi 7 dan 8 pada Sabtu (1/9). Mohammad Ansori, Arsitek Tim, berharap timnya bermain bagus kontra Kazakhstan. “Soal peluangnya belum tahu, dilihat besok saja. Mudah-mudahan lebih bagus dari hari ini,” ucap Ansori. (Adt)

Tundukkan Universitas Muhammadiyah 2-0, Gelar LIMA Football GJC Disegel UNJ Berturut-turut

Tundukkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dengan skor 2-0, tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memastikan diri tampil sebagai tim terkuat, di region Jakarta Raya, babak final LIMA Football: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference (GJC) 2018, di Stadion Sepak Bola Universitas Indonesia, Depok, pada Kamis (30/8). (LIMA)

Jakarta- Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memastikan diri tampil sebagai tim terkuat di region Jakarta Raya, dalam perhelatan LIMA Football: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference (GJC) 2018. UNJ menyegel status ini, usai taklukkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dalam laga final, yang digelar di Stadion Sepak Bola Universitas Indonesia, Depok, pada Kamis (30/8). Menang dengan skor 2-0, membawa UNJ keluar sebagai juara bertahan dalam dua musim berturut-turut. UMJ menampilkan permainan yang meyakinkan di menit-menit awal. Penguasaan bola dominan dikuasai tim berkostum merah itu, hingga pertengahan babak pertama. UMJ sempat melakukan tiga kali percobaan tembakan, namun tak berbuah satu gol pun. Perlahan, UNJ langsung mengambil alih laga. Dengan cepat, anak asuh pelatih Raka Wipentra itu mulai menekan pertahanan UMJ. Akhirnya, satu gol berhasil dilesakkan pemain UNJ bernomor punggung 10,  Gillang Harjian, pada menit ke-22. Hingga 45 pertama berakhir, UMJ tak mampu menyamakan kedudukan. Skor 1-0 bertahan hingga jeda turun minum. Memasuki babak kedua, UNJ menunjukkan dominasinya. Juara bertahan itu menambah koleksi golnya lewat tendangan Eka Khairul Insan (8) pada menit ke-79. Meski kedua tim melakukan jual beli serangan, namun gol Eka menjadi penutup laga final yang digelar di Stadion Universitas Indonesia (UI), Depok, dan skor 2-0 tak berubah hingga laga usai. “Syukur Alhamdulillah, kami bisa mempertahankan gelar. Persaingan tahun ini cukup sulit, banyak kejutan dari tim-tim baru dan kekuatannya cukup merata,” ujar Raka, pelatih UNJ. Ini menjadi musim pertama LIMA Football menggelar fase nasional. Kedua finalis akan melanjutkan perjuangannya di LIMA Football Nationals 2018 yang akan digelar 18-25 September, di Malang, Jawa Timurm bersama dua tim lainnya, Universitas Pelita Harapan Banten dan Universitas Padjadjaran Bandung. “Persiapan untuk ke nasional kurang lebih dua pekan. Kami akan persiapkan diri dengan terus berlatih. Fokus kami latihan penyelesaian akhir. Target di nasional nanti tetap ingin menjadi juara,” lanjut Raka. (Dre) Rekapitulasi LIMA Football: Air Mineral Prim-A GJC 2018 Juara Universitas Negeri Jakarta Peringkat 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta Peringkat 3 Univeristas Pelita Harapan Lolos ke fase nasional : Universitas Negeri Jakarta Universitas Muhammadiyah Jakarta Universitas Pelita Harapan Universitas Padjadjaran Bandung

Uji Coba Kontra Mauritania Tanpa Luis Milla, Kiper 21 Tahun Klub Sampdoria ‘Intip’ Peluang Bela Timnas Indonesia

Penjaga gawang berdarah Italia Indonesia, Emil Audero Mulyadi, yang kini bermain untuk Sampdoria di kompetisi Liga Serie A Italia, dikabarkan berharap bisa membela Timnas Merah Putih, usai memasang bendera Indonesia di halaman profil media sosialnya. (instagram)

Jakarta- PSSI menyiapkan agenda uji coba internasional untuk Timnas Indonesia, sebelum tampil di Piala AFF 2018 pada November-Desember. Selain meyakinkan Luis Milla bertahan, konfirmasi kepastian laga persahabatan itu juga sudah diketuk. “Yang sudah konfirmasi tanggal 11 September, melawan Timnas Mauritania, Lalu 9 Oktober melawan Timnas Myanmar,” ujar Sekjen PSSI, Ratu Tisha, Selasa (28/8). “Sisanya masih menunggu keputusan dari tim Asia Timur, kemungkinan Taiwan atau Hong Kong. Kami masih tunggu tanggal mainnya juga,” tambah Tisha. Namun, PSSI sudah menyiapkan alternatif, bila Milla gagal mendampingi tim di pinggir lapangan. PSSI tengah bernegosiasi terkait kontrak dengan Milla. Lantaran proses negosiasi membutuhkan waktu dan tak langsung segera rampung, maka laga pada 11 September nanti membutuhkan pelatih alternatif. Hal ini pun sudah diantisipasi PSSI. Nama Danurwindo pun dipilih, guna menangani tim, dibantu oleh Bima Sakti. “Lawan Mauritania, belum ditangani Milla. Pasti pelatih interim. Itu akan ditempati coach Danurwindo dan Bima,” ucapnya. “Saat ini, coach Danurwindo masih mengumpulkan data pemain senior, yang disiapkan tampil di Piala AFF nanti,” jelas Tisha. Sementara itu, penjaga gawang berdarah Italia Indonesia, Emil Audero Mulyadi, yang bermain untuk Sampdoria di kompetisi Liga Serie A Italia, dikabarkan berharap bisa membela Timnas Merah Putih. Setelah musim lalu dipinjamkan ke Venezia di Serie B, kini pemuda kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 18 Januari 1997 itu akan bermain untuk Sampdoria dengan status pinjaman. Sampdoria memiliki opsi menebus Emil secara permanen, di akhir musim. Pemuda bertinggi 192 cm ini adalah pemain jebolan akademi Juventus. Saat diwawancarai oleh situs resmi klub pekan lalu, ia dengan terbuka menceritakan terlahir dari seorang ayah Indonesia, dan ibu dari Italia. Dia tumbuh besar di Italia sejak bayi. Emil baru menjalani debutnya di Serie A, saat berkostum Juventus dan mengalahkan Bologna 2-1, pada musim 2016/2017. Musim lalu di Venezia, Emil bermain 39 kali dan kebobolan 41 kali, serta mencatat 14 clean sheet. Venezia finis ke­lima di klasemen Serie B, musim 2017/2018. Emil pun saat liburan musim panas pada Juni lalu, kedapatan kembali ke kampung halamannya di Mataram, serta mengunjungi pantai di daerah Lombok. Meski sempat menolak panggilan PSSI membela skuat Garuda, namun pernyataannya terkini, serta memasang bendera Indonesia di halaman profil media sosialnya, seolah menegaskan, Emil tak lupa dengan darah Indonesia yang ia miliki. (Dre)

Selisih 61 Detik Dari Jepang, Lalu Muhammad Zohri Cs Raih Perak Asian Games 2018

Lalu Muhammad Zohri bersama Tim Lari Estafet 4x100 Meter putra Indonesia, yang beranggotakan Fadlin Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara, meraih medali perak dalam cabor atletik, usai mengukir catatan waktu 38,77 detik, atau lebih lambat 61 detik dari Tim Putra Jepang. (solopos.com)

Jakarta- Lalu Muhammad Zohri dan kolega harus puas dengan torehan medali perak Asian Games 2018, pada nomor Lari Estafet 4×100 Meter, di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Kamis (30/8). Ukiran waktu yang dibukukan kuartet Merah Putih itu terpaut 61 detik dari wakil Jepang, yang dihuni atletnya yakni Ryota Yamagata, Shuhei Tada, Yoshihide Kiryu, Aska Antonio Cambridge. Negeri Sakura itu mengamankan medali emas dengan membukukan waktu 38,16 detik. Sedangkan Zohri Cs mencetak waktu 38,77 detik. Catatan itu memecahkan rekor nasional yang mereka torehkan dalam babak kualifikasi pada Rabu (29/8), yakni 39,03 detik. Selain itu, medali perak 4×100 meter putra kali ini juga menjadi sebuah penantian panjang. Indonesia kali terakhir meraih medali perak Asian Games nomor 4×100 meter putra pada 1966 di Bangkok, Thailand. Pada Asian Games 1966, tim estafet 4×100 meter putra bermaterikan Supardi, Wahjudi, Sugiri, dan Jootje Oroh. Penampilan anak asuh Mohammad Hasan, atau yang akrab disapa Bob Hasan itu, menyakinkan sejak awal pertandingan. Menurunkan Fadlin sebagai pelari pertama, Indonesia mampu membuntuti wakil Jepang. Dan Zohri yang diplot sebagai pelari kedua, juga mampu menjaga konsistensi. Dilanjutkan Eko Rimbawan sebagai pelari ketiga. Akhirnya, pelari Bayu Kertanegara sebagai pelari terakhir berhasil menjejak finish diurutan kedua. Sementara itu, China yang bermaterikan Haiyang Xu, Hong Mi, Bingtian Su, dan Zhouzheng Xu, akhirnya berhak atas medali perunggu setelah hanya mampu menorehkan waktu 38,89 detik. “Kami semua sangat bersyukur kepada Tuhan, hari ini kami diberikan kesempatan untuk melihat lagi berkah-Nya. Akhirnya, tim relay 4×100 meter meraih medali perak,” ujar Tigor M Tanjung, selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) saat konferensi pers. “Sejak beberapa waktu lalu, nomor ini memang kami targetkan untuk meraih medali. Apa yang kami idamkan akhirnya tercapai. Semua berkat kerja keras keempat atlet kita ini,” tutur Tigor. Tim estafet 4×100 meter putra Indonesia berada di bawah asuhan pelatih Eni Sumartoyo Martodihardjo. Eni menyatakan catatan Zohri dkk sudah memenuhi ekspektasinya. Ia merasa sangat bahagia dengan kerja keras yang ditunjukkan anak-anak asuhnya. “Saya tak pernah memprediksikan mereka dapat medali emas, karena ini merupakan olahraga terukur, dan kami tahu bagaimana perkembangan negara lain,” ucap Eni. “Saya hanya mengharapkan mereka bisa berlari dengan catatan waktu di bawah 39 detik dan mendapatkan salah satu medali. Sekarang, dengan raihan perak, saya sudah sangat senang,” tutur dia. Pada Asian Games 2018, cabang olahraga atletik telah menyumbangkan 3 medali untuk Indonesia, yakni dengan rincian 2 perak dan 1 perunggu. Medali perak sebelumnya dipersembahkan Emilia Nova dari nomor 100 meter lari gawang putri. Adapun perunggu diraih Sapwaturrahman dari nomor lompat jauh putra. Total, hingga Kamis (30/8) pukul 19.30 WIB, Indonesia telah mengoleksi 30 emas, 23 perak dan 37 perunggu. (Adt)

Incar Prestasi Olimpiade 2020 Tokyo, Pelatih: Pelatnas Panjat Tebing Jangan Berhenti

Trio tim speed relay Indonesia, Rindi Sufriyanto (kiri), Abu Dzar Yulianto (kanan), dan M. Hinaya, sukses meraih medali emas cabang panjat tebing Asian Games 2018, di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). (FPTI)

Jakarta- Cabang olahraga Panjat Tebing sukses meraih tiga emas, dua perak, dan satu perunggu di ajang Asian Games XVIII/2018. Prestasi yang diukir Aries Susanti Rahayu (speed putri) dan kolega menjadi batu loncatan menuju event olahraga terbesar di dunia, Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Tantangan pertama adalah bagaimana kami bisa lolos di kualifikasi Olimpiade pada tahun depan,” ujar Hendra Basir, Pelatih Speed World Record Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Kamis (30/8). Sementara itu, menjadi juara umum cabang panjat tebing pada pesta multi-cabang empat tahunan se-Asia itu, menurut Caly Setiawan, Pelatih Kepala Timnas Panjat Tebing Indonesia, mengindikasikan prestasi anak didiknya itu makin dekat ke Olimpiade. Namun, untuk bisa mengejar prestasi di Olimpiade, ungkap Caly, persiapan menjadi penting dan tidak bisa ditunda. “Dua tahun bukan waktu yang lama untuk menyiapkan ke Olimpiade,” cetusnya. Terlebih, pihaknya, tambahnya, harus menyiapkan nomor-nomor lain. “Kita sudah ready (siap) di nomor speed, tapi kami harus menyiapkan boulder dan lead. Dan itu tidak bisa dalam waktu dekat,” jelasnya. “Kalau Timnas Indonesia mau jadi ‘monster’ lagi, Pelatnas (pemusatan latihan nasional) tidak boleh berhenti dan harus terus dijalankan, dan juga tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” terangnya. “Caranya, buka jalan baru dan alternatif. Manfaatkan sponsorship agar pelatnas atau pembinaan itu jalan. Modelnya anak asuh atau bapak asuh. Banyak modelnya,” tukas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) itu. (Adt)

Bidik Olimpiade 2024 Prancis, PSSI Tunjuk Bima Sakti Bentuk Timnas U-15

Asisten Pelatih Timnas U-23, Bima Sakti (tengah), yang mengantungi lisensi melatih A AFC untuk pembinaan usia muda, kini dipromosikan menjadi Pelati Timna U-15 dan diproyeksikan tampil di Olimpiade 2024 Prancis. (Pras/NYSN)

Jakarta- PSSI segera membentuk Timnas U-15 untuk pembinaan jangka panjang yang berjenjang. Tim yang bakal ditangani Bima Sakti ini, segera diproyeksikan tampil di Olimpiade 2024 Prancis. Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, menjelaskan, Timnas U-15 diisi para pemain kelahiran maksimal 2003, dan disiapkan menuju Olimpiade 2024, di Prancis. Skuat Timnas U-15 itu, akan diambil dari kompetisi-kompetisi usia muda, yang ada di Indonesia. Menurut Tisha, tugas mantan kapten timnas Indonesia ini akan sibuk menyaring pemain yang dikembangkan lewat Elite Pro Academy, dari klub-klub profesional Liga 1. Di antaranya Piala Soeratin U-13 dan U-15, serta Liga U-16 yang segera berputar dan dijalankan PSSI. “Kompetisi PSSI itu terdiri dua jalur, profesional dan amatir. Amatir kami sudah jalan, seperti Soeratin U-15 dan U-17. Profesionalnya, yang segera berjalan tahun ini adalah U-16. Harusnya, di area profesional itu ada U-16, U-18 dan U-20,” buka Tisha. “Di usia genap adalah profesional, sementara di ganjil adalah amatir. Untuk scout kompetisi ini dibentuk timnas-timnas junior, dan materi pemainnya itu harus datang dari Elite Pro Academy, tak ada yang lain,” bebernya lagi “Karena di situ, para pemain itu sudah melewati jenjang amatir, dan akan naik ke area akademi. Dengan jenjang yang ada nanti, akan muncul pemain-pemain kelahiran 2003, yang dipersiapkan tampil Olimpiade 2024, di Perancis,” tegas Tisha. Terkait kemungkinan Bima akan kembali menjabat asisten pelatih Timnas Indonesia membantu Luis Milla, wanita kelahiran Jakarta, 30 Desember 1985 itu menegaskan, PSSI tak mempermasalahkan jabatan ganda itu. Sebab, Timnas U-15 dan Timnas senior Indonesia memiliki tujuan berbeda. “Timnas U-15 ini proyek jangka panjang, sedangkan Timnas Indonesia, tidak. Jadi tak ada masalah rangkap jabatan,” kata Tisha. Sementara menurut Ketum PSSI Edy Rahmayadi, langkah PSSI ini bertujuan memacu pembinaan sepakbola usia muda. “Timnas U-15 dibentuk sebagai langkah berjenjang pembinaan sepakbola usia dini, di Indonesia,” ujar Edy Rahmayadi, di Jakarta, Selasa (28/8). Ia menjelaskan, Timnas U-15 ini, berbeda dengan Timnas U-16, yang tengah dilatih Fakhri Husaini. Skuat yang ditangani Fakhri, yang akan berlaga di Piala U-16 Asia 2018 di Malaysia pada 20 September-7 Oktober 2018, nantinya disebut Timnas U-17. “Terbentuk satu tim, Timnas U-15 yang akan dilatih oleh Bima. Ada turnamen-turnamen yang disiapkan, guna mengantisipasi berjenjangnya pembinaan sepakbola ke depan,” terang Edy. Bima saat ini sudah mengantungi lisensi melatih level A AFC, dengan konsentrasi pembinaan usia muda. (Dre)

Jelang Piala Asia U-16 di Malaysia, Timnas U-16 Lakukan ‘Aklimatisasi’ di Kuala Lumpur

Usai menjalani pemusatan latihan Stadion Teladan, Medan, Sumatera Utara, Timnas U-16 bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (29/8) dan akan beruji coba dengan beberapa tim, salah satunya Timnas Oman U-16, jelang Piala Asia U-26 2018. (antarafoto.com)

Jakarta- Timnas U-16 bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (29/8) sore. Sebelum berlaga di Piala Asia U-16 2018, mereka akan menjalani uji coba sebanyak tiga kali, usai menjalani pemusatan latihan Stadion Teladan, Medan, Sumatera Utara. Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, mengungkapkan alasan memberangkatkan timnas U-16 lebih awal. Uji coba melawan timnas Oman U-16 juga sudah dipersiapkan, sebagai bagian dari persiapan menatap persaingan Grup C melawan Iran, India dan Vietnam. “Timnas U-16 berangkat ke Malaysia 29 Agustus, dan akan beruji coba tiga kali. Tim di sana cukup lama supaya bisa beradaptasi dengan baik,” kata Tisha pada Selasa (28/8). Hingga Piala Asia 2018 pada 20 September-2 Oktober, Timnas U-16 mempunyai waktu relatif lama berlatih di Kuala Lumpur. “Kami agendakan uj coba dengan situasi uji coba terbuka, supaya mereka merasakan ‘crowd’ Malaysia. Semacam aklimatisasi (adaptasi), jadi mereka harus lama di sana. Dan duel pemanasan sebelum lawan Oman, tim ini akan melawan klub lokal,” dia menambahkan. Rencananya, tim Akademi Selangor FA U-17 menjadi kandidat lawan Timnas U-16, pada Kamis (31/8). Lalu disusul, tim Junior U-17 lokal yang masih menunggu calonnya serta jadwal tandingnya. Timnas Oman U-16, diproyeksikan bakal melawan tim merah putih remaja, pada Rabu (12/9) mendatang. Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini sudah memiliki 24 nama pemain, yang akan tampil di Piala Asia U-16. Namun, Fakhri enggan menyebut empat nama baru yang ia bawa ke Malaysia, meski mereka sudah tampak ikut berlatih di Medan. Tim Garuda Asia sebelumnya melakukan seleksi kepada sembilan pemain baru, untuk bergabung dalam skuad di Piala Asia U-16 2018. Dari sembilan pemain, empat diantaranya sudah dipastikan bergabung dalam tim untuk Piala Asia U-16, di Malaysia. David Maulana dkk akan melakoni laga pembuka Piala Asia U-16, menghadapi Iran, di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, 21 September mendatang. Selain Iran, Indonesia yang tergabung di Grup C juga bakal menantang dua kontestan lain, Vietnam dan India. (Dre) 24 Pemain Timnas U-16 TC Medan dan Kuala Lumpur Kiper 1. Ernando Ari Sutaryadi – PPLP Jateng 2. Ahludz Dzikri Fikri – ASAD 313 3. Muhammad Risky Sudirman – SSB Villa 2000 Belakang 4. Mochamad Yudha Febrian – SSB Cibinong Raya 5. Muhammad Salman – Diklat Ragunan 6. Fadillah Nur Rahman – PPLP Sumatera Barat 7. Amiruddin Bagas Kaffa – Chelsea Soccer School 8. Muhammad Reza Fauzan – FC Patriot Aceh Tengah 9. David Maulana – PPLP Medan 10. Komang Teguh Trisnanda – Diklat Ragunan 11. Muhammad Talaohu – ASAD 313 12. Hamsa Lestaluhu – ASAD 313 13. Andre Oktaviansyah – SSB Pelita Jaya Soccer School 14. Brylian Aldama – SSB Gelora Putra Delta 15. Rendy Juliansyah – SSB ASIOP APAC INTI Depan 16. Mochammad Supriadi – Diklat Ragunan 17. Amanar Abdilah – PS Tira U-17 18. Amiruddin Bagus Kahfi – Chelsea Soccer School 19. Sutan Diego Armando Ondriano Zico – Chelsea Soccer School Pemanggilan Baru 20. Ahmad Farensyah – PPLP DKI 21. Fatah Aji – PPLP DKI 22. I Komang Dedi Nova Tri Gunawan – Bali United U-16 23. I Kadek Silva Yoga Adi Wijaya – Bali United U-16 24. Subhan Fazri – Aceh Pemain yang sempat tergabung di Piala AFF U-16 tetapi tak diikutsertakan Piala Asia U-16 karena regulasi 1. Yadi Mulyadi – ASAD 313 2. Fajar Fathur Rahman – ASAD 313 3. Kartika Vedhayanto – PPLP Jawa Tengah 4. Dandi Maulana Hakim – SSB Bina Taruna

Manganang Cs Takluk 0-3 Dari Korea, Kalah Pengalaman dan Jam Terbang

Aprilia Santini Manganang (9) dan kawan-kawan, takluk 3-0 dari Timnas putri Korea Selatan, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas putri Indonesia harus takluk dari Korea Selatan (Korsel) dengan skor 0-3, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). Aprilia Santini Manganang Cs dipaksa menyerah dalam pertarungan tiga set, 22-25, 13-25, dan 18-25 atas Negeri Ginseng, dalam waktu 76 menit. Amalia Fajrina Nabila, Kapten Tim, mengaku banyak pelajaran yang didapat dirinya dan kolega pada laga ini. Terlebih, menurut pemain bernomor punggung 7 itu, pertandingan kali ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua tim setelah beberapa tahun Indonesia absen di kejuaraan Asia. “Ini baru pertama kali lagi kami bertemu dengan mereka setelah beberapa tahun Indonesia tidak pernah ikut kejuaraan Asia. Tapi, secara keseluruhan kami sangat puas untuk pertandingan hari ini,” ujar pemain berusia 24 tahun itu usai laga. Diakuinya, level Indonesia dengan Korsel berbeda. “Di pertandingan tadi kami sudah berusaha maksimal. Di Asian Games sebelumnya mereka itu juara dengan mengalahkan Jepang. Ya, bisa dlihat perjuangan kami serta salut juga buat teman-teman yang lain,” tambahnya. “Kami tidak pernah ikut kejuaraan. Dan sekalinya ikut di Asian Games, apalagi ketemunya Korsel. Mereka tim yang konsisten ikut Grand Prix bahkan Olimpiade. Yang pasti banyak pelajaran yang didapat terutama teknik dan mental,” ungkap Amalia. Sementara itu, kendati takluk dari Korsel, namun Aprilia Manganang mengaku puas dengan dengan pertandingan yang dilakoninya bersama tim. “Sangat puas pertandingan hari ini. Apalagi tadi poinnya juga rapat terus. Kami banyak mengambil pelajaran dari mereka. Yang pasti pengalaman mereka dengan materi pemain yang bagus-bagus,” jelasnya. “Tadi juga bisa dilihat mereka mainnya tenang karena mungkin dari pengalaman dan juga jam terbang. Jadi Indonesia harus banyak bertanding di luar untuk mengimbangi permainan seperti tim Korsel,” ungkapnya. Diketahui, Indonesia melaju ke perempatfinal setelah berhasil bertahan di posisi empat besar Grup A. Srikandi Merah Putih menduduki posisi ketiga di klasemen akhir Grup A dengan poin 6, hasil dari 2 kali menang dan 2 kali kalah. Pada pertandingan terakhir di babak penyisihan Grup A, Timnas Indonesia harus menyerah saat melawan Thailand dengan skor 1-3, pada Senin (27/8). Di pertandingan ini, Timnas Indonesia hanya bisa mencuri keunggulan di set kedua dengan skor 25-20. Pada tiga set lain, Thailand menang dengan skor 19-25, 13-25 dan 13-25. Hasil ini membuat Thailand mengoleksi 12 poin dari 4 laga sekaligus merebut puncak klasemen akhir Grup A. Sedangkan Mohammad Ansor, juru racik tim, menargetkan anak didiknya bisa finish diposisi 5 besar. “Kami yakin anak-anak bisa ambil posisi 5 atau 6. Itu memang target yang ingin dicapai,” tukas Ansori. (Adt)

Sabet 14 Emas Dan Juara Umum, INASGOC Bantah Tudingan Kecurangan di Cabor Silat Asian Games 2018

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PB IPSI, Prabowo Subianto, sempat dipeluk pesilat Hanifan Yudani Kusumah, yang meraih emas di kategori tarung kelas C (55-60) kg putra, di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (29/8). (KOMPAS.com)

Jakarta- Pihak Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) membantah tudingan curang di cabang olahraga pencak silat yang dilontarkan Presiden Pencak Silat Asia, Sheikh Alauddin Yacoob Marican. Alauddin sempat melontarkan kecurangan, terkait wasit dan juri pencak silat yang dinilainya berat sebelah. Ia lantas meminta agar perangkat pertandingan harus konsisten dan transparan. “Saya kecewa, sejak hari pertama kecurangan wasit dan juri terlihat. Kami sudah beritahu  jangan ada yang coba berat sebelah, harus konsisten, bersih, dan transparan,” kata Alauddin yang juga manajer timnas pencak silat Singapura pada Rabu (29/8). “Kami harus mengevaluasi wasit juri untuk lebih netral dan transparan. Mungkin dengan memakai body detector, seperti yang ada di taekwondo, supaya lebih fair. Kalau seperti ini tidak fair, saya kecewa sekali,” ujar Alauddin, yang pernah meraih gelar juara dunia pencak silat, pada 1990 dan 1994 itu. Namun, Deputi Games and Sport INASGOC, Harry Warganegara, menganggap tudingan Alauddin ini tidak mendasar. “Semua sudah kami serahkan ke federasi (pencak silat) Asia untuk pertandingan. Delegasi teknis juga dari Asia. Saya tak bisa banyak komentar, karena saya tak mengerti yang dimaksud curang itu, yang mana,” ujar Harry. Harry menilai tidak benar jika ada kecurangan, karena terbukti Indonesia bisa menang bukan hanya di nomor seni, tapi juga di nomor tarung. Merah Putih total meraih 14 medali emas, dari 16 nomor yang dipertandingan, di cabor pencak silat. “Apa (maksud) nomor tanding curang? Kalau begitu, mereka evaluasi lah. Kalau seni subjektif. Pertanyaan saya, berapa komposisi medali tanding dan seni dari Indonesia?” tegas Harry dengan maksud membandingkan lebih banyak nomor tanding, dibandingkan seni. “Saya rasa juri punya standar, bukan? Karena kita (Indonesia) sendiri kalau dilihat nomor, ini olahraga kita. Pertanyaannya kelihatan enggak kecurangan itu?,” Harry pun menegaskan semua penyelenggaraan cabor Asian Games 2018 secara teknis berdasarkan persetujuan federasi Asia. “Kami tidak lihat TD (Delegasi Teknis) ini dari negara mana. Kalau dari kita (Indonesia), kami serahkan mereka (untuk menyeleksi). Jurinya juga banyak orang Singapura, Thailand, dan mungkin juga ada Malaysia. Kalau dia [Alauddin] berkata begitu [ada kecurangan], harus dibuktikan,” ucap Harry. Pesilat putri asal Ciamis, Wewey Wita, menutup perolehan emas tim Indonesia pada cabor pencak silat di ajang Asian games 2018. Wewey mengalahkan pesilat Vietnam, Thi Them Ram dengan skor telak 5 – 0, di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (29/8). Kemenangan Wewey menjadikan Indonesia jadi juara umum cabang pencak silat Asian Games 2018. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, 14 medali emas diantaranya dimenangkan atlet asal Indonesia. Delapan emas pertama berhasil dimenangkan, saat Indonesia sapu bersih pada final hari pertama Senin (27/8). Sedangkan, hari ini silat menyumbang enam emas tambahan. Dua emas yang lepas dari Indonesia ada di nomor tarung pria, kelas J dan F.  Indonesia hanya sukses mendapatkan satu medali perunggu. Pertandingan final hari ini, amat menyedot animo penonton. Hampir tak tersedia bangku kosong, di tribun Padepokan Pencak Silat TMII. Dan laga hari terakhir cabor pencak silat ini juga diminati elit politisi. Selain dihadiri Ketua Gerindra Prabowo Subianto yang juga ketua umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), hadir juga Ketua umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarno Putri, bersama sang Sekjen, Hasto Kristiyanto. Mega hadir untuk menemani anaknya Puan Maharani yang jadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Tak lama, datang Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang hadir secara terpisah. (Ham) Klasemen akhir pencak silat di Asian Games 2018 Negara      Emas   Perak    Perunggu Indonesia    14        0               1 Vietnam         2         7               3 Malaysia        0          4               4 Thailand        0          2               5 Singapura      0          2               3

Gagal Main Simple Lawan Suriah, Timnas Basket Putra Indonesia Batal Raih Posisi Kelima

Terjadi duel udara antara pemain Timnas Indonesia, Jamarr Andre Johnson (Merah/71) dan Khalil Khouri (putih/00), dalam fase play off 5-8 Asian Games 2018, Selasa (28/8), di Basket Hall Gelora Bung Karno. Indonesia akhirnya takluk 66-76. (Riz/NYSN)

Jakarta- Skor 66-76 adalah hasil akhir laga basket putra Asian Games 2018 antara Indonesia vs Suriah pada Selasa (28/8). Bermain di Basket Hall Gelora Bung Karno, Jakarta, Timnas basket putra Indonesia harus kalah dalam semifinal play-off perebutan tempat kelima. Kekalahan dari Suriah, membuat tim Merah Putih menyisakan satu partai lagi, yakni penentuan tempat ketujuh melawan Jepang, pada Jumat (31/8). Sebelumnya, Jepang dikalahkan oleh Filipina dengan skor 113-80. Sementara itu, Suriah masih memainkan partai play off 5-6 menghadapi Filipina, pada hari dan tempat yang sama. Forward Timnas Indonesia, Jamarr Andre Johnson mengaku timnya bermain sangat buruk pada laga malam ini. “Kami memulai laga dengan sangat buruk dan itu membuat kami kehilangan segalanya. Kami mencoba bangkit di akhir laga, namun gagal untuk meraih hasil terbaik”, tuturnya, penuh rasa kecewa. Indonesia kerap tertinggal pada laga melawan Suriah. Defisit terjadi ketika Xaverius Prawiro dan kawan-kawan hanya mencetak sembilan angka di kuarter kedua. Alhasil, meski unggul perolehan angka 17-14 dan 25-10 pada dua kuarter berikutnya, timnas harus menderita kekalahan. “Jujur saya tak tahu apa yang terjadi dengan akurasi tembakan kami. Beberapa kali saya dan teman-teman dalam posisi terbuka ,tapi bola tidak mau masuk. Pertandingan hari ini seharusnya berjalan sederhana, namun kami membuatnya sulit. Masalah ada di kami, bukan lawan,” terang pemain naturalisasi asal Amerika Serikat ini. Dalam laga melawan Suriah, Indonesia gagal menghambat senjata utama lawan, Tarek Aljabi, yang dalam 29 menit 40 detik mampu menghasilkan 33 poin. Sementara itu, tak ada satu saja atlet Indonesia yang mampu menghasilkan 20 poin. Arki Dikania dan Xaverius Prawiro sama-sama mengemas 14 poin. (Dre)

Pimpin Kualifikasi Nomor Street, Skateboarder Indonesia Intip Peluang Medali Emas Asian Games

Skateboarder Indonesia berusia 16 tahun asal Bali, Sanggoe Darma Tanjung, melakukan gerakan trik, pada sesi latihan jelang Asian Games 2018, sebelum tampil di ajang kualifikasi cabor Skateboard, di Jakabaring Sport City, Palembang, pada Selasa (28/8). (tempo.co)

Palembang- Sanggoe Dharma Tanjung, 16 tahun, memimpin kualifikasi nomor street Cabor Skateboard Asian Games 2018 dan berpeluang meraih emas di final. Sanggoe tampil impresif di babak kualifikasi dan tak terpengaruh gangguan hujan yang sempat dua kali menghentikan lomba, di Jakabaring Sport City, Palembang, Selasa (28/8). Skateborder asal Bali ini, berada di peringkat pertama dengan nilai 31,3 poin. Ia unggul hampir tiga poin dari Keyoki Ike asal Jepang, yang mecetak jumlah skor 28,3 poin. Sanggoe mengawali sesi babak (runs) 1 dengan nilai 6,4 dan runs 2 melejit menjadi 8,1 poin. Ia terlihat menguasai hampir semua bagian arena terutama rintangan rel, salah satunya dengan trik bs smithgrid, yakni teknik menuruni rel delapan anak tangga. Dominasi Sanggoe makin terlihat, di sesi trik terbaik. Ia berhasil mengeksekusi lima kali kesempatan tanpa terjatuh. Sanggoe bahkan mencatatkan dua nilai tinggi, pertama dengan trik bigflip fs boardslide yang meraih 7,7 poin. Lalu trik bigflip fs boardslide yang mendapat 7,8 poin dari dewan juri. Sanggoe merupakan atlet peringkat ketiga pada ajang FISE World Malaysia 2014, dan peringkat enam dunia di X-Games Shanghai 2015 lalu. Ia juga skateboarder Indonesia pertama, yang berlaga di Street League (SLS) ,di Barcelona 2017. “Kita memprediksi dia (Sanggoe) bisa dapat nilai tinggi, dan meraih emas. Tinggal jaga mentalnya supaya tampil bagus di final,” kata pelatih skateboard Indonesia, Ardy Polli. Ada delapan skateboarder yang akan memperebutkan medali emas pada nomor ini. Selain harapan dari 4 atlet putra di nomor Street dan Park, dua atlet putri Indonesia juga akan tampil. Bunga Nyimas dan Aliqqa Novvery bakal turun di kualifikasi pada Rabu pagi, dan final saat sore harinya. Aliqqa hanya tampil di nomor Street, sedangkan Bunga bermain di dua nomor Street dan Park. Cabor skatebord baru pertama kali dipertandingkan di Asian Games, sebagai persiapan untuk Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. (Ham)

Ketum PSSI Harus Berdebat Soal Status Pelatih Timnas, Nama Luis Milla Lagi-lagi Dipertahankan

PSSI akhirnya memutuskan untuk memperpanjang kontrak Luis Milla Aspas. Dia bakal diproyeksikan untuk menangani Timnas Indonesia untuk Piala AFF yang bakal berlangsung pada 8 November sampai 15 Desember 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, memastikan Luis Milla Aspas tetap menjadi pelatih timnas Indonesia. Sosok pelatih asal Spanyol itu siap bertugas membawa timnas Indonesia di Piala AFF 2018, yang mulai bergulir pada 8 November sampai 15 Desember. Keputusan untuk memperpanjang kontrak Milla ini, sesuai hasil rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI, di salah satu hotel di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Selasa (28/8). Milla pun setuju untuk memperpanjang kontrak satu tahun ke depan. Kontrak Milla sebagai pelatih Timnas U-23 dan Senior, sejatinya sudah tamat sejak tersingkir di 16 besar Asian Games 2018. Saat itu, suara-suara masyarakat yang ingin PSSI mempertahankan Milla, berhembus kencang. Di bawah Milla, Indonesia menunjukkan penampilan yang membaik. Ia tak banyak merombak pemain selama satu setengah tahun. PSSI akhirnya memutuskan untuk memperpanjang kontrak Milla. Dia bakal diproyeksikan untuk menangani Timnas Indonesia, untuk Piala AFF yang bakal berlangsung pada 8 November sampai 15 Desember 2018. “Saya atas nama PSSI dan seluruh Exco meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena gagal memenuhi target di Asian Games,” kata Edy. “Kami tadi berdebat juga dengan Exco terkait keuntungan dan kerugian. Akhirnya kami putuskan mengontrak Milla lagi untuk Piala AFF. Kami mengontrak Milla selama waktu satu tahun,” sambung Edy Target terdekat, Milla akan bertanggung jawab untuk memimpin Merah-Putih untuk Piala AFF 2018. “Khusus AFF yang akan dilaksanakan Bulan November. Sehingga, kami kontrak kembali Milla dalam jangka kontrak satu tahun,” tukas Edy. Karena kontrak Milla berdurasi satu tahun ke depan, maka Milla akan menukangi Indonesia pada SEA Games 2019, di Manila, Filiphina. “Target tentu harus juara, tidak boleh tidak juara,” pungkas Edy. Kelahiran Aragon, Spanyol, 12 Maret 1966 ini menyelesaikan tugasnya bersama Timnas U-23 dan timnas senior Indonesia, selama kurang lebih satu setengah tahun. Dikutip BolaSport.com dari labbola, Milla banyak memberikan perkembangan kepada skuat Garuda Muda. Mulai dari Sea Games 2017, Timnas U-22 meraih peringkat ketiga usai menekuk Myanmar dengan skor 3-1. Kala itu, Timnas U-22 hanya mengalami satu kekalahan, tatkala bertemu Malaysia di semifinal. Kemudian, di ajang Aceh World Solidarity Cup 2017, Timnas di bawah asuhan Milla meraih gelar runner-up, dengan mengukir dua kemenangan dan satu kali kalah. Indonesia hanya kalah dari Kirgistan, pada ajang persahabatan itu. Lalu, Milla kembali tunjukkan sentuhan apik Timnas U-23, di ajang PSSI Anniversary Cup pada 27 April hingga 3 Mei 2018. Meski berada di posisi ketiga, Indonesia mampu menjadi tim dengan pertahanan kuat, yang hanya kemasukan satu gol selama tiga laga. Terakhir, karya Milla mendapatkan apresiasi meski harus terhenti di babak 16 besar Asian Games 2018. Skuat Garuda Muda mampu mencetak 14 gol, dari lima pertandingan dan hanya kemasukan lima gol. Torehan ini jelas mengungguli 12 gol yang diciptakan oleh Ferdinand Sinaga dkk pada Asian Games 2014. Secara keseluruhan, Timnas U-23 dan senior Indonesia di tangan Milla mampu mencetak 53 gol dan kemasukan 32 gol dari total 24 pertandingan. Eks gelandang Real Madrid itu pun secara total mencatatkan 14 kemenangan, sembilan kali imbang, dan 11 kali kalah. Tim pun mampu membukukan rekor 16 kali cleansheet. (Ham)

Digulung Kazakhstan 65-93, Timnas Basket Putri Masih Keluhkan Perbedaan Postur Tubuh

Pebasket Kazakhstan, Tamara Yagodkina (7) dibantu Center Anna Vinokurova (13), berusaha melewati hadangan Center Timnas Indonesia, Vonny Hantoro (15), dalam laga pemeringkatan bola basket putri Asian Games 2018 di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (INASGOC)

Jakarta- Hasil basket putri Asian Games 2018 antara Timnas Indonesia versus Kazakhstan, pada Selasa (28/8) berakhir dengan skor 65-93. Tampil di Basket Hall Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, timnas basket putri kalah di semifinal play-off perebutan tempat kelima. Kazakhstan pun melaju ke pertandingan perebutan posisi kelima. Hasil itu jadi kemenangan kedua yang diraih Kazakhstan atas Indonesia di Asian Games 2018. Sebelumnya mereka menang 85-73 di babak penyisihan Grup X. Tamara Yagodkina kembali menjadi bintang kemenangan Kazakhstan, dengan perolehan double-double lewat 20 poin dan 10 rebound, dibantu 17 poin dan 6 rebound milik Zalina Kurazova. Sementara bagi Indonesia, Natasha Debby Christaline menjadi top skor 17 poin dibantu 14 poin dari Christine Aldora Tjundawan. Dalam laga ini, Arif Gunarto, pelatih tim basket putri Indonesia masih mempermasalahkan perbedaan menyolok postur badan.”Kami kalah postur dengan Kazakhstan, meski sejak awal untuk berusaha menekan ke daerah pertahanan mereka. Namun ya itu, kami kalah postur, jadi sulit bermain leluasa,” ujarnya, Selasa (28/8). Namun, ia optimis melawan Mongolia. “Mongolia posturnya nyaris serupa dengan kita, semoga menang untuk ambil posisi ke-7,” tambahnya. Laga perebutan tempat kelima antara Thailand vs Kazakhstan, dan laga perebutan tempat ketujuh Mongolia melawan Indonesia, akan digelar di Istora GBK, Senayan, Jakarta, pada Jumat (31/8). (Dre)

Hasilkan Emas Ke-24 Kontingen Asian Games Indonesia, Dobel Kevin/Marcus Bidik Prestasi di Olimpiade Tokyo

Tundukkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, dalam final ganda putra Asian Games 2018, di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). (Riz/NYSN)

Awas Jakarta- Menyudahi laga ketat dari rekan senegara, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, di partai final yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). Kemenangan itu pun mengantarkan Kevin/Marcus meraih medali emas pertamanya di ajang Asian Games. Hebatnya, ini penampilan perdana mereka di Asian Games. Tentu hasil ini juga menjadi pembuktian bagi keduanya, hingga level Asian Games, mereka berhasil bebas dari kutukan Lee Chong Wei. Chong Wei merupakan pemain Malaysia yang amat mendominasi nomor tunggal putra beberapa tahun terakhir. Bahkan berbagai gelar Superseries yang didapat Chong Wei bisa dibilang tak terhitung. Namun, pada ajang bergengsi untuk negaranya, Chong Wei selalu mengalami kegagalan. Prestasi terbaik Lee Chong Wei hanyalah meraih medali perak seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan paling tinggi Olimpiade. Pada tiga edisi terakhir Asian Games pun Chong Wei pencapaian optimal pebulu tangkis 35 tahun itu, hanyalah meraih perak pada 2010. Hal serupa sempat menghantui Kevin/Marcus. Dominasi dobel peringkat satu dunia itu terlihat pada kejuaraan Superseries sejak 2017 hingga kini. Namun, di berbagai event penting, Kevin/Marcus nihil gelar, dengan yang paling mencolok di Kejuaraan Dunia. Tampil dalam dua edisi, duet ini belum bisa berbicara banyak dan bahkan belum pernah meraih medali. Kini di Asian Games 2018, Kevin/Marcus yang melakoni debutnya mampu memecahkan kebuntuan tersebut. Raihan emas di pesta olahraga terbesar se-Asia itu, memastikan mereka tak senasib dengan Chong Wei. Guna mematahkan kutuhkan Chong Wei, adalah menjadi kampiun Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Pada Olimpiade, Kevin/Marcus belum pernah tampil. Olimpiade Tokyo 2020, bisa menjadi jalan baginya untuk membuktikan diri jadi yang terbaik setelah emas Asian Games 2018. Medali emas Kevin/Marcus ini menjadi emas kedua dari cabor bulutangkis atau yang ke-24 untuk kontingen Indonesia. Sebelumnya, medali emas disumbangkan Jonatan Christie dari nomor tunggal putra usai mengalahkan pebulutangkis Taiwan, Chou Tienchen, 21-18, 20-22, dan 21-15. Prestasi tertinggi Fajar/Rian adalah medali emas SEA Games 2017 di nomor beregu putra. Sementara Kevin/Marcus merupakan juara dunia 2018 dan juga ganda putra peringkat satu dunia. Kevin memuji penampilan Fajar/Rian yang bermain dalam performa terbaik. “Puji Tuhan atas pertandingan hari ini. Padahal, skornya tadi sempat jauh, tapi bisa menang. Mereka bermain sangat baik dan diluar ekspektasi kami,” terang Kevin. Ditambahkan Marcus, pada pertandingan tadi keberuntungan menjadi faktor mereka meraih kemenangan. “Apalagi di gim ketiga mereka unggul, tapi di poin-poin akhir, kami lebih beruntung dari mereka,” timpalnya. Sementara Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), mengaku jika semula mentargetkan bulutangkis bakal meraih emas, dari ganda campuran dan ganda putra. “Pencapaian di Asian Games 2018 disemua sektor cukup baik. Di beregu putri dan tunggal putri prestasinya sudah lumayan, meski tak mendapatkan medali. Tapi Gregoria (Mariska Tunjung) mampu mengibangi lawan pemain unggulan. Dan memang kami tidak targetkan, justru ganda campuran yang target emas, malah dapetnya perunggu,” jelas Susy. “Emas tak terduga juga dapat dari tunggal putra. Dan ganda putra diluar ekspekstasi, karena setelah 44 tahun yakni Asian Games 1974, akhirnya kembali all indonesian final,” tukas istri dari legenda bulutangkis, Alan Budikusuma itu. Saat Asian Games 1974, di Teheran, Iran, partai final cabang bulutangkis mempertemukan sesama pemain Indonesia, yakni ganda Tjun Tjun/Johan Wahjudi meraih emas setelah menagalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra. Tambahan emas dari ganda putra itu membuat total koleksi medali kontingen Indonesia di Asian Games 2018 menjadi 24 emas, 19 perak, dan 29 perunggu. Sampai berita ini dibuat, untuk sementara posisi Indonesia mantap di peringkat keempat unggul enam medali emas atas Iran. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

All Indonesian Final Nomor Speed Relay Panjat Dinding, Indonesia Kawinkan Medali Emas dan Kokoh di Peringkat Empat Besar

Tim Speed Relay Putra Indonesia 2, yang diwakili oleh Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1, di Jakabaring Sports City, Palembang, Senin (27/8). (INASGOC)

Palembang- Indonesia menambah pundi-pundi emasnya. Kali ini emas didapat dari cabang olahraga (cabor) panjat tebing, nomor speed relay putra, lewat Tim Indonesia 2, dan nomor speed relay putri lewat Tim Indonesia 1. Prestasi ini melampaui target Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) yang dibebankan dua medali emas. Pada laga yang berlangsung di Jakabaring Sports City (JSC), Palembang, Senin (27/8) malam WIB, partai final menyajikan duel antara sesama Indonesia, yakni Indonesia 1 vs Indonesia 2. Dalam all Indonesian Final ini, Indonesia 2 yang diwakili Hinayah Muhammad, Sufriyanto Rindi, Dzar Yulianto Abu, dan Leonardo Veddriq sukses mencatatkan waktu 18,86 detik dan mengalahkan Indonesia 1 yang diwakili oleh Aspar, Sabri, Muhammad Fajri Alfian, dan Septo Wibowo yang melakukan false start. Tambahan medali ini pun membuat Indonesia mengoleksi 22 emas, setelah sebelumnya nomor relay putri juga menghadirkan emas untuk Indonesia. Di partai final Tim Putri Indonesia 1, mampu tampil sebagai pemenang, usai China 1 melakukan false start. Sebelum naik podium, Tim Putri Indonesia 1 yang dihuni Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah, dan Fitiyani, berhasil jadi yang tecepat dengan catatan waktu 25.01 detik, pada babak kualifikasi. Mereka mengandaskan dua tim China sekaligus, yang menempati peringkat kedua dan ketiga dengan catatan waktu 26.32 detik dan 28.00 detik. Atas raihan tersebut Indonesia semakin kokoh di posisi empat klasemen, perolehan medali Asian Games 2018. Di panjat dinding, Indonesia total sudah meraih tiga emas. Khusus untuk Aries , ini adalah emas kedua yang diraihnya. Sebelumnya, dia meraih emas pada nomor individu kecepatan putri. Sementara itu, bagi Puji Lestari, medali emas ini melengkapi medali perak yang juga diraih pada nomor individu kecepatan putri. (Adt)

Sabet 8 Emas Asian Games Dalam Sehari, Indonesia Sikat Habis Nomor Final Cabor Pencak Silat Dan Cetak Sejarah

Yola Primadona Jampil (kiri) dan Hendy (kanan) yang turun di nomor seni ganda putra, sukses menyumbang emas ke-14, usai tampil gemilang di Padepokan Silat, TMII, Jakarta, Senin (27/8). Di nomor ganda putra, mereka menjadi yang terbaik di Asian Games 2018 dengan raihan 580 poin. (Ham/NYSN)

Jakarta- Indonesia menyapu bersih delapan medali emas Asian Games 2018 dari cabang pencak silat, yang tampil di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Senin (27/8). Dua emas terakhir direbut Sarah Tria Monita (kelas C Putri 55kg – 60 kg) dan Abdul Malik (kelas B Putra 50 kg – 55 kg). Sarah mengalahkan lawan dari Laos, Nong Oy Vongphakdy. Sedangkan Abdul Malik menekuk lawan dari Malaysia, Muhammad Faizul M Nasir. Panen medali kemungkinan belum akan berakhir. Pada Selasa (28/8), tercatat masih ada enam nonor final, yang akan diikuti Indonesia. Yakni artistik tunggal putra, artistik ganda putri, artistik regu putri, tarung kelas D Putri 60 kg-65 kg (Kamelia Pipiet), tarung kelas C Putra 55 kg – 60 kg (Hanifan Yudani Kusumah), dan tarung kelas B Putri 50 kg – 55 kg (Wewey Wita). Sejatinya, Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) ‘hanya’ menargetkan empat medali emas dalam ajang Asian Games 2018. Selain menembus rekor, para atlet Merah Putih sudah jauh melampaui target total 16 medali emas, yang dicanangkan Kemenpora. Padahal, cabang bulutangkis perorangan sudah pasti menyumbang satu medali emas, karena terjadi all-Indonesian final di nomor ganda putra. Dobel Fajar/Rian menghadapi Marcus Gideon/Kevin Sanjaya. Tunggal putra bulu tangkis pun berpeluang meraih emas jika Jonatan Christie mampu mengalahkan wakil Taiwan, Chou Tien-chen, di final. Tambahan delapan emas dari pencak silat mengantar Indonesia mengoleksi 20 emas, 14 perak, dan 26 perunggu. Kini Tim Merah Putih berada di posisi empat besar klasemen perolehan medali. Menpora Imam Nahrawi pun bersyukur atas capaian kontingen Indonesia di ajang Asian Games 2018 yang mampu pecahkan sejarah baru dengan perolehan medali yakni, 20 emas, 14 perak dan 27 perunggu. Di mana pada Asian Games 1962 merupakan perolehan medali terbanyak dengan 11 emas, 12 perak dan 28 perunggu. “Alhamdulillah, sore hari ini, kita semua diberi nikmat oleh Allah SWT atas pencapaian medali yang diraih oleh pahlawan olahraga Indonesia. Sampai sore ini, berhasil mendapatkan 20 emas, 14 perak dan 23 perunggu, tentu ini pencapaian yang luar biasa dari seluruh atlet,” kata Menpora di ruang Preskon MPC, JCC, Senin (27/8) sore. “Ini jadi sejarah baru emas terbanyak sepanjang keikutsertaan indonesia di Asian Games, per hari ini kita sudah melampaui pencapaian di 1962,” tambahnya. Menteri asal Bangkalan Madura juga menyampaikan perolehan emas Indonesia hingga sore ini, masih bisa bertambah karena ada beberapa pertandingan yang berpotensi meraih medali. (Ham) Daftar atlet Indonesia peraih medali emas pencak silat : • Puspa Arum Sari (artistik perorangan putri) • Yola Primadona & Hendy (artistik ganda putra) • Tim beregu artistik putra (Nunu Nugraha, Asep Wildan Sani, Anggi Faisol Mubarok) • Aji Bangkit Pamungkas (kelas I Putra 85 kg – 90 kg). • Komang Harik Adi Putra (kelas E Putra 65 kg – 70 kg) • Iqbal Chandra Pratama (kelas D Putra 60 kg – 65 kg) • Sarah Tria Monita (kelas C Putri 55kg – 60 kg) • Abdul Malik (kelas B Putra 50 kg – 55 kg) Daftar perolehan medali Asian Games 2018 No       Negara     Emas    Perak   Perunggu 1.    Cina                79         60         40 2.    Jepang            41         34         53 3.    Korea Selatan  28         32         38 4.    Indonesia        20         14         26 5.    Iran                16         15         14

Final Lari 100 Meter Putra Rekor Asia Pecah, Lalu Zohri ‘Cukup’ Sumbang Rekor Pribadi Tanpa Medali

Takluk dari sprinter China dan Kenya, pelari Indonesia asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri (400), gagal meraih medali, pada final lari 100 meter putra Asian Games 2018. Ia hanya mampu berada di posisi tujuh, dari delapan finalis, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Sprinter China, Su Bingtian berhasil mencetak rekor Asian Games 100 meter dengan catatan waktu 9,92 detik pada babak final, pada Minggu (26/8), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Catatan tersebut membuat Su Bingtian meraih medali emas di nomor bergengsi atletik tersebut. Pada urutan kedua sprinter naturalisasi Qatar asal Kenya, Tosin Ogunode, berhasil mencatatkan waktu 10,00 detik dan meraih medali perak. Sementara medali perunggul diraih sprinter Jepang Ryota Yamagata dengan catatan waktu yang sama dengan Tosin yaitu 10,00 detik. Sedangkan Usain Bolt kebanggaan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, belum berhasil menyumbang medali pada final pertandingan lari 100 meter putra Asian Games 2018. Zohri memang tidak dibebani target pada event Asian Games 2018. Di partai final ini, Zohri harus puas berada di posisi ketujuh dengan catatan waktu 10,20 detik. Hasil ini lebih baik dari dua sesi sebelumnya, yakni babak kualifikasi dan semifinal. Catatan waktu yang ditorehkan Zohri lebih baik dibanding sprinter Korea Selatan, Kokyoung Kim yang mencatat waktu 10,26 detik. Sebelumnya, pada laga semifinal, pemuda kelahiran Lombok, 1 Juli 2000 ini, meraih peringkat kedua teratas. Zohri mencatatkan waktu 10,24 detik. Torehan ini merupakan catatan waktu yang terbaik, dimiliki Zohri di pentas senior, sebelum sesi final 100 meter. Rekor terbaiknya kala menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yakni 10,18, tak dihitung, karena bukan event senior. Namun, usai diakumulasikan pencapaian waktu, Zohri menempati peringkat ketujuh terbaik. Pada Asian Games 2018, selain sprint 100 meter, Zohri juga akan berlaga di nomor lari estafet 4×100 meter putra, pada Rabu (29/8). (Dre)