Sabet Gelar Juara, Pegolf 12 Tahun Asal Bali Kampiun Kejurnas Golf Junior 2019

Pegolf belia asal Bali, Ni Putu Mayvil Widya Handayani, akhirnya sukses menjuarai kejurnas golf junior 2019, untuk kategori usia 12-13 tahun, di Lapangan Golf Gading Raya, Serpong, pada Rabu (9/1). (balipost.com)

Jakarta- Pegolf belia Bali, Ni Putu Mayvil Widya Handayani, menjuarai kejurnas golf junior 2019, kategori usia 12-13 tahun, di Lapangan Golf Gading Raya, Serpong, pada Rabu (9/1). Sedangkan pegolf Bali lainnya yakni Margoz Marvin Kamengmau, yang turun pada kategori usia 9-10 tahun, harus puas menduduki peringkat keempat. Pada hari kedua, babak final, seluruh peserta kembali menuntaskan 18 hole, dan Mayvil tampil konsisten. Sebab sejak hari pertama, Selasa (8/1), Mayvil terus memimpin. Sedangkan Margoz pada hari pertama, bercokol di urutan kelima, dan finish peringkat keempat. Untuk juara II usia 12-13 tahun direbut Elaine Widjaja (Jateng), kemudian Shaista Ayesha, disusul Richtier Joelle Hanslkie, lalu Ruth Kapisa (Papua), Niquita Audrey Onggo (Banten), Kathleen Gann, Misykah Ausya Kamaratih, dan Ashley Lydra. Sedangkan kategori usia 9-10 tahun, juaranya Teuku Husein M. Danindra. Lalu disusul Davano Haris Gunawan (Palembang), Javeed Abdel Rauf, Margoz, dan peringkat kelima Abdul Jabbar Mustala, Keeran Putra, Hansen Frederick Supian, Dave Matteo Uneputty, dan Brian Christian. Sekum Pengprov PGI Bali, Eddy Pantja, menegaskan, jika keberhasilan Mayvil dan Margoz, di ajang Kejurnas Junior 2019, berkat rutinnya Persatuan Golf Indonesia (PGI) Bali menggelar sirkuit junior. “Melalui event sirkuit tersebut, lalu muncul pegolf potensial yang berbakat dan bertalenta,” kata Eddy. Dikemukakan, selama ini sirkuit golf junior Bali pesertanya mencapai 40 pegolf dan baru menelorkan dua bibit. “Ke depannya, kami berharap akan muncul lagi bibit-bibit pegolf berbakat berikutnya,” harapnya. (Adt)

Diikuti 10 Provinsi, PB Perbasi Sumut Gelar Kejurnas Junior U14 dan U16 di Medan

Ketua Umum KONI Sumut, John Ismadi Lubis (tengah), melakukan pelemparan bola pertama disaksikan Ketua Panitia yang juga Waketum Perbasi Sumut, Iwan Hartono Alam (dua kiri), saat pembukaan Kejurnas Bola Basket Junior KU14 dan KU16, di GOR UNPRI, di Medan, pada Kamis (10/1). (harian.analisadaily.com)

Medan- Persatuan Basket seluruh indonesia (Perbasi) siap menggelar kejuaraan nasional (kejurnas) junior di kota Medan, Sumatra Utara sejak 10-17 Januari 2019, di GOR Universitas Prima (Unpri), Medan. Kejurnas kali ini mempertandingkan 2 kategori umur, yakni Kelompok umur (KU) 14 dan KU 16 tahun. Terdapat 315 atlet dari 24 tim di 10 provinsi dalam ajang ini. Untuk KU 14 tahun, tim putri Sumut tergabung bersama DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten. Sedangkan, KU putra 14 putra, delapan daerah yang tampil terbagi dalam dua pool. Pool A berisikan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten. Pool B berisikan DKI Jakarta, Sumut, Riau dan Sulawesi Selatan. Sedangkan Kelompok Umur 16, hanya menampilkan sektor putr yang terbagi dua pool, yakni Pool X dengan tim dari DKI Jakarta, Banten, Sumut dan Sulawesi Utara. Pool Y berisikan Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ketua Umum KONI Sumut John Ismadi Lubis menyebut, event Junior KU14 dan KU16 ini bernilai strategis. “Kejurnas ini sangat strategis, tidak hanya bagi Sumut, tapi juga provinsi lain di tanah air. Sebab peserta yang ikut usianya masih 14 dan 16 tahun, mereka potensial jelang PON XXI/2024 Aceh-Sumut,” kata John, pada Kamis (10/1). Ketua Umum Pengprov Perbasi Sumut, Sofyan Tan melalui Wakil Ketuanya, Iwan Hartono Alam, mengakui, jika Kejurnas ini memang merupakan Program PB Perbasi mendukung peningkatan prestasi basket nasional. “Pembinaan basket itu berjen­jang mulai KU10-KU12 dan KU14 serta KU16. Ini semua rangkaian program untuk peningkatan prestasi basket nasional,” jelasnya. Bagi Sumut, dan juga provinsi lain di tanah air, Kejurnas dia awal tahun ini dijadikan sebagai sarana penjaringan atlet untuk pembinaan jangka panjang menghadapi PON XXI/2024. Sementara itu di laga hari pertama pada Kamis, dua tim putri Sumut belum berhasil memetik kemenangan. Tim KU14 Sumut harus mengakui keunggulan Jatim 26-61. Sementara Tim KU-16 yang berada di Pool X, walau sempat memimpin 23-19 di kuarter pertama, akhirnya kalah 54-71. Sedangkan hasil laga lainnya, Jateng KU 14 putri harus takluk 44-53 dari Jateng. Hasil lainnya, Jateng vs Banten 60-51 (KU14 putra A), Jabar vs DKI 36-51 (KU14 Putri), Jatim vs Jabar 36-28 (KU14 Putra A). Di KU16, tim Jatim unggul dari DI Yogyakarta 56-51, dan regu Jabar mengatasi Jateng 61-48. (Adt) Kejurnas Junior Basket Sumut U-14 dan U-16 2019 Kelompok Umur 14 Putra Pool A 1. Jawa Barat 2. Jawa Tengah 3. Jawa Timur 4. Banten Pool B 1. DKI Jakarta 2. Sumatera Utara 3. Riau 4. Sulawesi Selatan Kelompok Umur 14 Putri 1. DKI Jakarta 2. Jawa Timur 3. Jawa Tengah 4. Jawa Barat 5. Banten 6. Sumatera Utara Kelompok Umur 16 Putri Pool X 1. DKI Jakarta 2. Banten 3. Sumatera Utara 4. Sulawesi Utara Pool Y 1. Jawa Timur 2. Yogyakarta 3. Jawa Barat 4. Jawa Tengah

Jelang Umumkan Hasil Seleksi Tahap Pertama, Indra Sjafri Pulangkan 3 Pemain TC Timnas U-22

Pelatih Timnas U-22, Indra Sjafri, sudah memulangkan tiga pemain pada akhir pekan pertama, pemusatan latihan Timnas U-22. Indra juga mengungkapkan bila hasil seleksi tahap pertama Timnas U-22, akan diumumkan pada Sabtu (12/1) malam. (tirto.id)

Jakarta- Pelatih Timnas U-22, Indra Sjafri memulangkan tiga pemain pada akhir pekan pertama pemusatan latihan. Meskipun memulangkan tiga pemain, pelatih 55 tahun itu memanggil tiga pemain baru untuk menggenapi pemain yang telah ada. Tiga pemain yang dipulangkan dari pemusatan latihan pekan pertama timnas U-22 Indonesia ialah, kiper Hilman Syah (PSM Makassar), lalu dua gelandang Damiansyah Matutu (Arema FC), dan Yoga Pratama (PSIM Yogyakarta). Sementara tiga pemain yang akan menggantikan tiga pemain yang dipulangkan itu ialah kiper Nadeo Argawinata (Borneo FC), serta dua gelandang yakni Jayus Hariono (Arema FC) dan M Syafril Lestaluhu (Persib U-19). Dengan masuknya Nadeo, Jayus, dan M Syafril, komposisi skuat timnas U-22 Indonesia masih berjumlah 35 pemain. Sebelumnya PSSI merilis total 38 pemain yang mengikuti TC yang dimulai sejak Senin (7/1), namun hingga saat ini tiga pemain masih belum hadir. Tiga pemain yang masih belum bergabung ialah Egy Maulana Vikri (Lechia Gdansk), Ezra Walian (RKC Waalwijk), dan Saddil Ramdani (Pahang FA). Dilansir Kompas.com, Indra menentukan empat faktor sebagai patokan untuk memilih pemain yang akan berlaga di Piala AFF U-22 2019. Empat hal itu adalah skill, fisik, taktikal dan kecerdasan mental, serta info medis. Info medis tidak hanya kondisi kesehatan pemain, namun juga catatan cedera yang pernah dialami. Termasuk juga hasil psikotes. Indra mengungkapkan bila hasil seleksi tahap pertama, akan diumumkan pada Sabtu (12/1) malam. “Tadi malam saya sudah diskusi (dengan tim kepelatihan). Ada beberapa kesimpulan yang sudah kami dapat,” tukas pria kelahiran 2 Februari 1963 usai sesi latihan di Lapangan ABC,Jakarta, Sabtu (12/1) pagi. Indra menyebut taak hanya menilai pemain dari informasi yang didapat saat pertandingan 2×30 menit di sesi latihan. “Bukan hanya informasi pertandingan 2×30 menit (di sesi latihan). Kalau itu terlalu naif untuk menentukan dia bagus atau tidak. Saya ingin tiada dusta di antara kita,” ujar Indra menambahkan. Soal pemain yang nantinya dicoret, pria asal Batang Kapas, Sumatra Barat ini, berpesan untuk tak berkecil hati. Ia menegaskan pencoretan bukan akhir dari kesempatan pemain untuk membela timnas. “Saya akan bilang, saya akan report ke pelatih klub bahwa dia sementara belum dan kekurangannya ini. Clear kan,” pungkasnya. (Adt)

Lolos Final Thailand Masters 2019, Fitriani Diambang Sejarah

Usai mengalahkan wakil Hong Kong, Deng Joy Xuan, dengan rubber game, 12-21, 21-19 dan 21-16, di Arena Huamark Indoor Stadium, Bangkok, pada Sabtu (12/1), atlet kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998, Fitriani, menembus babak final tunggal putri Thailand Masters 2019. (antarafoto.com)

Bangkok– Kiprah Fitriani sebagai wakil Indonesia satu-satunya yang tersisa di ajang Thailand Masters Super 300 masih belum terbendung. Tampil di babak semifinal, Sabtu (12/1), tunggal putri Pelatnas Cipayung ini mampu memastikan tempat di partai puncak. Arena Huamark Indoor Stadium, Bangkok, Fitriani yang ditantang wakil Hong Kong, Deng Joy Xuan, mampu meraih kemenangan rubber game, 12-21, 21-19 dan 21-16 dalam durasi laga 55 menit. Turun pada duel pembuka di lapangan 2, asal klub PB Exist Jakarta menghadirkan drama tersendiri demi menapaki jejak ke babak final. Tertinggal poin cukup jauh di game pertama, 12-21, Fitri berupaya keras membalas dendam kehilangan game pertama dengan bangkit di game berikutnya. Hal tersebut mampu terbukti, saat gadis 20 tahun itu dengan dramatis merebut game kedua melalui pertarungan ketat, 21-19. Aura kemenangan pun menyelimuti Fitriani, kala menuntaskan misinya di game penentuan saat menutup laga dengan kemenangan 21-16.Di babak final yang berlangsung besok, Minggu (13/1), Fitriani akan menghadapi pebulutangkis unggulan delapan asal Thailand, Busanan Ongbamrungphan. Busanan sukses mengalahkan komptriotnya unggulan enam, Pornpawee Chochuwong, 21-10 dan 21-4. Fitriani sebelumnya sudah tiga kali bertemu Busanan, dengan rekor kemenangan 2-1. Terakhir, Fitriani mengalahkan Busanan, pada babak 16 besar Korea Masters 2018, lewat laga tiga gim 21-18, 12-21, dan 21-11. Andai Fitri bisa menjadi juara, ia akan mencetak sejarah. Selain menyingkirkan unggulan pertama sekaligus sang juara bertahan andalan tuan rumah, Nitchaon Jindapol, gadis kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998 ini bakal menjadi pebulu tangkis non Thailand pertama, di sektor tunggal putri yang menjuarai Thailand Masters. Diadakan pertama kali pada 2016, gelar juara khusus sektor tunggal putri, selalu sukses dibawa pulang pebulu tangkis Thailand. Adapun para peraih gelar juara Thailand Masters sebelumnya adalah Ratchanok Intanon (2016), Busanan (2017), dan Jindapol (2018). Keberhasilannya mencapai ke final di Thailand Masters 2019 merupakan yang pertama bagi Fitriani, sejak terakhir diraih pada 2016 dalam sebuah turnamen internasional. Ia butuh waktu selama lebih dari 2 tahun untuk bisa tampil kembali ke laga final. Terakhir, Fitriani mencapai babak final dalam turnamen internasional adalah pada Indonesia Internasional Challenge, yang berlangsung pada 1-6 November 2016. Kala itu, ia melangkah ke laga final, usai menundukkan Dinar Dyah Ayustine di babak semifinal, dengan skor 21-13 dan 21-12. Di final, gadis pendiam ini tampil sebagai juara, setelah mengalahkan rekannya sesama Pelatnas, Hana Ramadhini, dengan skor 21-19 dan 21-18. Titel juara ini menjadi momen terakhir Fitriani memenangi laga internasional. Sebelum melepas dahaga di final, Fitriani juga memecahkan kebuntuan lainnya. Sukses menembus semifinal Thailand Masters 2019, merupakan semifinal pertama bagi Fitriani sejak terakhir meraihnya di Selandia Baru Open 2017. (Adt)

Libas Petenis Tuan Rumah, Priska Besok Tantang Unggulan Teratas

Tampil di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) berhasil menyisihkan perlawanan andalan tuan rumah, Olivia Gadecki melalui laga straight set 6-4 6-2. (sportschannelindonesia.co.id)

Victoria- Petenis muda Indonesia, Priska Madelyn Nugtoho (15 th) tampil apik di babak kedua turnamen ITF Junior Grade 1 bertajuk AGL Loy Yang di Traralgon, Australia. Bermain pada partai pembuka di lapangan utama Traralgon Tennis Club, Sabtu (12/1), Priska menekuk andalan tuan rumah, Olivia Gadecki, lewat laga straight set 6-4 6-2. “Rasanya lega, akhirnya bisa revans atas Olivia,” ucap Priska yang kini bercokol di peringkat ke-45 dunia junior. Walau menempati posisi ke-144 dunia, Olivia menjadi momok bagi Priska, sepanjang musim kompetisi tahun lalu. Dalam tiga kali pertemuan, tak sekalipun Priska mampu memetik kemenangan. “Laga ini sebenarnya bukan laga yang mudah bagi Priska untuk menemukan irama permainan. Apalagi kondisi lapangan yang tak cukup membantu karena sangat berangin,” tutur pelatih Ryan Tanujoyo yang mendampingi anak didiknya bersama Elbert Sie selama di Australia. “Awalnya sempat tertinggal 1-3, namun Priska konsisten menjalankan strategi yang telah kami rancang yakni memberi pressure ke arah badan lawan. Hal itu sangat efektif mematikan lawan dan menghasilkan angka kemenangan,” imbuhnya. Namun, Priska enggan jemawa lantaran sadar tantangan yang menghadangnya makin berat dalam ajang pemanasan grand slam Australia Terbuka ini. Pada babak 16 besar, Minggu (13/1) dia harus terlibat bentrok dengan unggulan teratas, Clara Tauson. Wakil Denmark itu bertengger di urutan keempat dalam daftar peringkat junior dunia. “Sejauh ini, Clara lawan berperingkat tertinggi yang pernah saya hadapi. Namun tak ada alasan untuk takut. Saya siap menghadapi siapapun,” tegasnya. “Mudah-mudahan Priska tampil percaya diri di babak berikutnya dan bermain all out,” harap Ryan. Gadis kelahiran Jakarta 2 Mei 2003 itu sebelumnya, pada babak pertama melangkah mulus, usai menang mudah atas petenis kualifikasi asal Italia, Lisa Pigato, Jumat (11/1). Priska menang straight set 6-0 6-1. Sayangnya langkah Priska di nomor ganda, sudah harus terhenti di laga perdana. Duetnya bersama wakil China, Wei Sijia kandas di tangan seeded ketiga, Natsumi Kawaguchi (Jepang) dan Andrinn Nagy (Hungaria) 4-6 1-6. (Adt)

Indonesia Cetak Sejarah, Atlet 17 Tahun PPLP Jatim Sabet Emas Junior Asia 2019

Atlet balap sepeda junior putra Indonesia yang masih berusia 17 tahun, Angga Dwi Wahyu Prahesta, meraih medali emas pada nomor scratch junior putra, dalam Kejuaraan Asian Track Championship 2019, di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta, Kamis (10/1). (suara.com)

Jakarta- Atlet balap sepeda junior Indonesia, Angga Dwi Wahyu Prahesta, mencetak sejarah perlombaan disiplin track dengan menyabet medali emas, dalam Kejuaraan Asian Track Championship 2019, yang berlangsung di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta, Kamis (10/1). Hesta, sapaannya, meraih medali emas pada nomor scratch junior putra. Atlet binaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Timur, khusus balap sepeda yang berlokasi di Malang ini, menungguli atlet India, Venkappas Kengalagutti pada posisi kedua dan atlet Taiwan, Chih Sheng Chang yang menempati posisi ketiga. “Persiapan saya hanya dua pekan sejak pertengahan Desember 2018. Saya bangga sekali bisa dapet medali emas karena perlombaan sangat ketat,” ujar alumni SMPN 3 Lumajang ini. Ia mengaku dua lap terakhir menjadi momentum untuk menyabet medali emas karena atlet-atlet lain Asia sudah kesulitan untuk melewatinya. “Target awal saya adalah medali perunggu karena ini perlombaan pertama di level Asia bagi saya,” terang remaja kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 15 Agustus 2001 itu. Ia mengaku telah berlatih di India, selama tiga pekan pada Desember 2018, sebelum kembali ke Indonesia pada awal Januari ini. “Saya turun pada nomor point race, omnium, dan scartch pada perlombaan Asia ini,” kata pelajar, yang yang memulai karir dari nomor disiplin sepeda gunung dan road race itu. Pelatih balap sepeda nasional, Dadang Haris Purnomo, mengaku terkejut dengan hasil ini Semula, ia tak mengunggulkan Hesta menyabet medali emas, karena perlombaan Asia di Velodrome menjadi ajang penambah pengalaman bagi atlet-atlet junior. “Saya sempat tak percaya karena hasil yang diraihnya. Itu adalah pembuktian pembinaan PB ISSI yang berhasil mencari atlet-atlet penerus,” kata Dadang. (Adt)

Dua Atlet Golf Muda Indonesia, Tampil di Ajang Australian Master 2019

Pegolf amatir papan atas Indonesia berusia 18 tahun, Naraajie Emerald Ramadhan Putra, bersama Almay Rayhan Yagutah, mengawali 2019 tampil di kompetisi golf amatir bergengsi, Australian Master of the Amateurs, yang berlangsung 8-11 Januari, di Melbourne. (golfinstyle.co.id)

Melbourne- Dua pegolf amatir papan atas Indonesia, Naraajie Emerald Ramadhan Putra dan Almay Rayhan Yagutah, mengawali 2019 dengan mengibarkan bendera Indonesia dalam salah satu kompetisi golf amatir yang bergengsi, Australian Master of the Amateurs, 8-11 Januari, di Melbourne, dilansir portal golfinstyle. Ajang amatir ini layak disebut sebagai salah satu ajang bergengsi. Turnamen digelar di lapangan The Royal Melbourne Golf Club, lapangan yang bakal menjadi tuan rumah untuk Presidents Cup 2019. Lapangan yang dimainkan adalah West Course, lapangan golf terbaik di Australia. Selain itu, turnamen ini pun diikuti oleh para pegolf amatir top dunia. Pekan ini, Justin Suh asal Amerika Serikat, yang berpredikat sebagai pegolf No.1 dunia juga ikut berlaga. Termasuk sang juara bertahan, pemain tuan rumah, David Michelluzi, yang pekan ini berperingkat 7 dunia. Pada hari pertama Senin (8/1), Almay berhasil mencatatkan skor yang lebih baik. Pegolf yang tahun lalu sukses menjuarai Kejuaraan Nasional ini membukukan skor even par 72, dan untuk sementara berada di peringkat T23. Almay memulai turnamen ini dengan bermain dari hole 10. Meski sempat mendapat bogey di hole keduanya, ia lekas bangkit bahkan mendapatkan irama yang sangat baik usai mencatatkan birdie pertamanya di hole 12. Hasil positif di hole itu bahkan berhasil ia bawa di tiga hole berikutnya sehingga dalam empat hole itu, ia sudah bermain 3-under. “Green di The Royal Melbourne West Course ini super keras dan licin. Fairway-nya juga keras, rumputnya juga berbeda sehingga memberi sensasi khusus untuk short game. Ini berbeda jauh dengan di Jakarta, di mana bola biasanya bisa nangkring di atas rumput,” tutur Almay berusaha menggambarkan West Course. Memasuki sembilan hole kedua, pemuda kelahiran Jakarta 8 Agustus 1998 ini kembali membukukan bogey di hole 3, namun bisa bangkit dan mencatatkan birdie kelimanya di hole 4. Sayangnya, di hole 8, ia kembali mendapat bogey sehingga harus puas bermain even par 72. “Hari ini, saya kurang presisi dalam memperhitungkan angin. Bukannya tidak melakukan perhitungan, saya hanya kurang berkomitmen dalam melakukan pukulan. Soalnya angin berembus dengan kencang sehingga saya malah ragu,” tutur mahasiswa jurusan Bisnis Manajemen, Universitas Bina Nusantara. Hasil yang diperoleh Almay, menempatkannya satu stroke lebih baik dari Naraajie, yang mencatatkan empat birdie dengan lima bogey. Dengan skor 73 di hari pertama, untuk sementara Naraajie menempatkan dirinya di peringkat T26. Seperti halnya Almay, Naraajie sebenarnya sempat bermain dengan baik di sembilan hole pertamanya. Ia malah sempat bermain 2-under lantaran menorehkan empat birdie dengan dua bogey. Sayang, di sembilan hole terakhirnya, ia mendapat tiga bogey. “Ini putaran pertama saya setelah jeda dua minggu dari golf. Selain itu, kemarin ini saya sempat sakit juga, jadi saya menerima hasil hari ini,” tutur atlet kelahiran 26 April 2000. (Adt)

Lolos 8 Besar Thailand Masters 2019, Tunggal Putra Putri Indonesia Libas Wakil Tuan Rumah

Satu-satunya tunggal putra Indonesia yang tersisa di Thailand Masters 2019, Firman Abdul Kholik, melaju ke babak perempat final, usai menekuk andalan tuan rumah, Sitthikom Thammasin, straight game 21-16, 22-20, yang digelar Kamis (10/1) di court-1 Indoor Stadium Huamark, Bangkok. (Humas PBSI)

Bangkok- Satu-satunya tunggal putra Indonesia yang masih tersisa di ajang Thailand Masters 2019, Firman Abdul Kholik memastikan diri melaju ke babak perempat final. Firman menang atas wakil tuan rumah, Sitthikom Thammasin, di babak 16 besar yang digelar Kamis (10/1), di court-1 Indoor Stadium Huamark, Bangkok. Pebulu tangkis berusia 21 tahun itu mengawali laga set pertama dengan cukup baik. Ia memperlihatkan dominasi penuh atas Thammasin, hingga berhasil unggul 11-3 saat jeda interval. Selepas jeda, sebenarnya tunggal tuan rumah menipiskan ketertinggalan hingga berselisih satu poin saja di kedudukan 16-15. Namun, konsistensi pebulutangkis kidal saat memasuki poin kritis, akhirnya mampu mengunci set pertama dengan keunggulan 21-16. Set kedua berjalan lebih menarik. Terjadi saling susul menyusul angka yang sangat ketat, hingga masa interval atlet asal Banjar, Jawa Barat, tertinggal dengan skor 10-11. Setelah itu pemain yang berasal dari klub PB Mutiara Cardinal Bandung ini mulai sanggup mengambil kendali permainan, dan hampir selalu unggul atas lawannya dalam perolehan poin. Meski pemain Thailand sempat memaksa terjadi setting point, pada kedudukan 20-20, namun wakil Indonesia ini mampu menutup laga dengan skor 22-20. Partai ini pun berakhir dengan kemenangan bagi Imen, sapaanya, lewat kemenangan straight game 21-16, 22-20, dalam tempo 47 menit. Imen pun berhasil revans atas Thammasin, setelah kalah dari tiga pertemuan sebelumnya. Skor pertemuan menjadi 1-3 masih untuk keunggulan Thammasin. Di babak perempat final, satu-satunya harapan sektor tunggal putra Indonesia di turnamen berkategori World Tour Super 300 ini, masih menunggu calon lawan. Yakni antara unggulan ke-8 asal Cina, Lu Guangzu, atau pemain Jepang, Koki Watanabe. Saat Thailand Masters edisi tahun lalu, bungsu dari tiga bersaudara pasangan Suherman dan Siti Fauziah, yang lahir pada 11 agustus 1997 ini, hanya sanggup melangkah hingga babak 16 besar saja. Ia ditundukkan oleh wakil Malaysia, Leong Jun Hao, lewat laga dua set langsung. Sementara itu, torehan manis pun turut terjadi di nomor tunggal putri. Atlet 19 tahun Indonesia, Fitriani, memupus asa wakil tuan rumah, Nitchaon Jindapol mempertahankan gelar pada Thailand Masters 2019. Pada babak 16 besar ini, Fitriani menekuk wakil Thailand yang juga menjadi unggulan satu itu, dengan skor akhir 21-10, 17-21, 21-16. Laga sengit itu berkesudahan dalam waktu 62 menit. Hasil sukses ini membuat dara kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Desember 1998, lolos ke babak delapan besar Thailand Masters 2019. Dari delapan daftar pemain unggulan di sektor tunggal putri, tak ada satu pun pemain Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar unggulan. Pada partai lain, ganda campuran, Alfian Eko Saputra/Marsheilla Gischa Islami juga meraih kemenangan. Mereka menumbangkan wakil Malaysia, Chen Tang Jie/Yen Wei Peck 23-21, 20-22, dan 21-12. Masih ada 10 wakil Indonesia lain yang akan berjuang di babak kedua Thailand Masters 2019 pada petang hingga malam hari nanti. (Adt)

Gembleng Skuad Junior Lewat Garuda Select, PSSI Kirim 24 Remaja Ke Inggris

Tim Garuda Select hasil dari kerja sama PSSI dengan SupersoccerTV akan menimba ilmu di Inggris selama enam bulan. Sebanyak 24 pemain muda hasil seleksi di Elite Pro Academy U-16 akan berangkat ke Inggris pada 15 Januari. (Adt/NYSN)

Jakarta- PSSI bekerja sama dengan SuperSoccer TV menjalankan program Garuda Select. Program ini berisi 24 pemain dengan usia dibawah usia 17 tahun, akan berlatih dan bertanding di Inggris selama enam bulan. Para pemain tersebut bakal mendapat pelatihan dengan standar Eropa, baik di dalam dan di luar lapangan, di Inggris, selama enam bulan. Pada 2019, program Garuda Select pertama ini brematerikan pemain-pemain terbaik dari klub-klub yang bertanding di program Elite Pro Academy U-16 2018, yang diikuti 18 klub Liga 1. Program Garuda Select dipimpin oleh Dennis Wise, sebagai Direktur Teknik, dan Desmond Sinclair (Des) Walker yang menjadi pelatih kepala. Wise, Legenda Chelsea ini mengatakan para pemain yang terpilih untuk mengikuti program Garuda Select ini akan bertanding melawan tim junior kategori 1 hingga kategori 3, di Inggris. Ia pun siap melatih anak-anak terpilih untuk mengembangkan kemampuan sepak bolanya. “Dalam program Garuda Select pertama ini, usia paling muda yang boleh dibawa adalah umur 16 tahun ke bawah, sesuai aturan imigrasi di Inggris. Tapi, bukan berarti tak ada pemain-pemain dari kelumpok umur lain yang akan dibawa ke Ingris di edisi selanjutnya,” ujar Wise di sesi jumpa pers program Garuda Select, Kamis (10/1). Skuat Garuda Select bertolak ke Inggris pada Selasa (15/1). Empat pelatih turut menemani Garuda Select di Inggris, yakni Bima Sakti, Gede Mahatma, Ilham Romadona, dan Sopian Hadi. Skuat Garuda Select juga didominasi oleh jebolan Timnas U-16. Di antaranya Bagas Kaffa, Bagus Kahfi, dan Sutan Zico. Selain Wise, anak-anak yang terpilih ini akan berlatih di bawah asuhan mantan penggawa Sampdoria dan Nottingham Forest, Des Walker. Para anak-anak yang terpilih akan mengikuti pelatihan sepak bola formal di London, selama enam bulan. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Ratu Tisha menambahkan bila selama enam bulan, para pemain akan melakukan rangakain uji coba. Namun agenda tersebut tak masuk dalam kompetisi, karena baru akan bekerja sama dengan FA (red- PSSI Inggris), untuk batch (musim kompetisi) kedua. “Enam bulan yang pertama ini, mereka tak berkompetisi dengan FA. Pada enam bulan ini uji coba, lalu pada batch berikutanya baru bisa, karena ada kerja sama PSSI dan FA. Start di bulan Agustus atau setidaknya awal 2020, baru ikut kompetisi, karena basisnya dari elite pro academy,” kata Tisha. Disisi lain, Mirwan Suwarso, SuperSoccer TV Business Development Director, mengungkapkan SuperSoccer TV tertarik bekerja sama dengan PSSI dan membentuk sebuah program komersil jangka panjang yang saling menguntungkan. Menurutnya, Program Elite Pro Garuda Select ini tak sekadar bentuk kerja sama sponsorship atau donasi, namun lebih sebagai peluang bisnis yang diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan yang terus berkembang bagi kedua pihak. “Dengan program yang menyeluruh, kami bisa mendapatkan berbagai konten yang mencakup penayangan pertandingan, program liputan kegiatan mingguan, program liputan all access harian hingga program merchandising dan branding lainnya,” cetus Mirwan. (Adt) Daftar Tim Garuda Select 2019 Penjaga Gawang: Ahludz Dzikri Fikri (Persib Bandung) Risky Muhammad Sudirman (Persija Jakarta) Ernando Ari Sutaryadi (Persebaya Surabaya) Belakang: Amiruddin Bagas Kaffa, Mochamad Yudha Febrian (Barito Putera) Kartika Vedhayanto Putra (PPLP Jawa Tengah) Liba Valentino (Perseru Serui) Muhammad Reza Fauzan, Komang Teguh Trisnanda, Fadilah Nur Rahman, Muhammad Salman Alfarid (Diklat Ragunan) Vito Rendy Candra (Persebaya Surabaya) Tengah: Brylian Aldama (Persebaya Surabaya) David Maulana, Alif Jaelani (Barito Putera) Sandi Arta Samosir (PSMS Medan) Andre Oktaviansyah (PS Tira) Braif Fatari, Mochamad Supriadi (Diklat Ragunan) Yadi Mulyadi, Muhammad Fajar Fathur Rachman (Persib Bandung) Depan: Amiruddin Bagus Kahfi (Barito Putera) Sutan Diego Zico (Persija Jakarta) Amanar Abdillah (Persib Bandung) 4 Pelatih Pendamping Tim: Bima Sakti Ilham Ramadona Gede Mahatma Sopian Hadi Pelatih Kepala: Desmond Sinclair (Des) Walker Karier Timnas Inggris 1985-1988: Inggris U-21 1988-1993: Timnas Inggris Karier Piala Dunia 1990: Semifinalis Direktur Teknis: Dennis Wise Karier Timnas 1988: Timnas Inggris U-21 1989-1990: Timnas Inggris B 1991-2000: Timnas Inggris Piala Eropa  

Catat Waktu Dibawah 5 Menit, M Fadli Kunci Emas dan Pertajam Rekor Asia

Pebalap para-sepeda Indonesia, M. Fadli Imammudin, meraih emas sekaligus mempertajam rekor Asia, usai berlaga di final nomor individual pursuit putra C4-C5, dalam ajang para-sepeda di Asian Track Championship 2019, di Jakarta International Velodrome, Jakarta, Kamis (10/1). (kompas.com)

Jakarta- Pebalap para-sepeda track Indonesia, M. Fadli Imamuddin memakai “senjata” baru yang membantunya merebut medali emas nomor 4.000 m individual pursuit putra C4-C5 sekaligus memecahkan rekor pribadi di kejuaraan para-sepeda Asian Track Championship 2019, di Jakarta, Kamis. “Saya mempunyai senjata baru yaitu Look R96, yang kastanya jauh dari sepeda terakhir yang saya pakai,” ungkap Fadli, usai menerima medali emas di Jakarta International Velodrome, Kamis. Sepeda buatan Prancis itu memiliki rangka yang terbuat dari serat karbon dan didukung dengan teknologi paling terkini dalam balap sepeda track. Dengan sepeda itu, Fadli sanggup memperbaiki catatan waktunya dari kisaran waktu 5 menit 3 detik, yang dia ciptakan di Asian Para Games 2018 ke angka 4 menit 58,185 detik pada babak kualifikasi di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan waktu ini, pria kelahiran Bogor Bogor 25 Juli 1985 juga memecahkan rekor waktu terbaiknya, di tingkat Asia nomor 4.000 m individu pursuit putra C4-C5 cabang para-sepeda. “Saya mendapat perbaikan (waktu) saat pemusatan latihan dua bulan terakhir ini. Ini lanjutan dari Asian Para Games, jadi memang tidak ada jeda,” ujarnya. “Lima detik dalam waktu dua bulan saya cukup senang dengan hasil ini,” kata dia. Fadli menjadi yang tercepat di babak final perebutan medali emas dengan catatan waktu resmi 4 menit 59,601 detik dan setelah difaktorkan, menjadi 4 menit 56,965 detik menyingkirkan pebalap sepeda Iran, Mahdi Mohammadi di peringkat dua (5:23.920). Selain menggunakan sepeda baru, mantan pembalap motor ini menjalani latihan bersama dua pelatih sekaligus, yaitu pelatih dari PB ISSI dan pelatih dari NPC Para-Sepeda. “Alhamdulillah pada kejuaraan ini saya mendapatkan perbaikan dibandingkan hasil Asian Para Games, karena dua pelatih berkolaborasi,” kata Fadli. Sementara itu, pebalap para-sepeda Indonesia lainnya, Sufyan Saori meraih perunggu (5:13.951) mengalahkan pebalap Malaysia, Zuhairi Ahmad Tarmizi (5:23.920) di final perebutan tempat ketiga. (Adt)

Dipanggil Pelatnas Dayung SEA Games 2019, Atlet Putri 16 Tahun PPLP Sultra Janji Berlatih Lebih Keras

Pengurus Besar (PB) Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) memanggil atlet 16 tahun dari Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sulawesi Tenggara (Sultra), Aulia Ghalib (kiri), masuk Pelatnas SEA Games 2019 Filipina. (zonasultra.com)

Kendari- Pengurus Besar (PB) Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) memanggil atlet Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) dayung Sulawesi Tenggara (Sultra), Aulia Ghalib, untuk mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) SEA Games 2019 Filipina. Pedayung putri kelas 1 SMU (Sekolah Menengah Umum) inipun berjanji tak akan menyia-nyiakan peluang tersebut “Saya akan berlatih keras agar bisa menjadi atlet andalan Indonesia, dan akan mengeluarkan seluruh kemampuan untuk memperkuat tim nasional Indonesia di SEA Games Filipina nantinya,” ujar Aulia, sapaannya, pada Senin (7/1). Kendati bangga masuk skuat Pelatnas SEA Games 2019, namun diakui Aulia, persaingan antar atlet merebut posisi tim inti sangat berat. Ia menyebut bila para seniornya di Sultra telah menunjukan kemampuan luar biasa. “Mereka berkali-kali memperkuat Indonesia, dan saya bertekad mengikuti mereka,” terang atlet spesialis rowing itu. Pemanggilan gadis 16 tahun kelahiran Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara ini, ini merujuk permintaan langsung pelatih dayung nasional asal Belanda, Nr Boudewijn Van Opstal (Mr. B). Di pelatnas, Aulia akan menempa diri berpasangan dengan dua seniornya di nomor rowing, dan tiga atlet di nomor canoeing. Sementara itu, Wa Ode Siti Neli Nurlaila, Sekertaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sultra, mengaku bangga sebagai pengelola PPLP di Sultra, dengan pemanggilan Aulia mengikuti Pelatnas pesta multievent negara-negara se-Asia Tenggara itu. “Kami berharap Aulia bisa memberikan yang terbaik untuk daerah,” terang Nurlaila. Sedangkan Ratna, Pelatih Dayung PPLP Sultra, mengungkapkan salah satu alasan PB PODSI memanggil Aulia, adalah atlet muda berbakat andalan Indonesia. Terutama, lanjut Ratna, untuk persiapan menghadapi SEA Games 2019 yang berlangsung pada November hingga Desember mendatang. “Pemanggilan ke Pelatnas adalah momentum tepat bagi Aulia, yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena tidak semua atlet muda dapat dipanggil masuk ke dalam Pelatnas,” cetus mantan atlet dayung nasional ini. “Semoga, Aulia menjawab harapan dari PB PODSI, serta menjadi motivasi bagi generasi atlet selanjutnya,” pungkasnya. (Adt)

Karateka Putri Nomor Kata Tembus Kualifikasi, Indonesia Baru Loloskan 3 Cabor World Beach Games 2019

Indonesia baru meloloskan 3 Cabor ke ANOC World Beach Games 2019. Ketiga cabor itu yakni, basket 3 on 3, karate, dan skateboard. ANOC World Beach Games 2019 akan berlangsung pada Oktober nanti di San Diego, California, AS. (kompas.com)

Jakarta- Indonesia baru meloloskan tiga cabang olahraga (cabor) pada Association of National Olympic Committees (ANOC) World Beach Games di San Diego, Amerika Serikat, 10-14 Oktober 2019. Ketiga cabor tersebut yakni, basket 3 on 3, karate, dan skateboard. Hal itu dikatakan Plt. Sekjen Komite Olahraga Indonesia (KOI), Hellen Sarita Delima, bersama Plt. Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kempora, Chandra Bakti, usai rapat dengan pengurus 15 cabor, yang diproyeksikan dapat tampil pada ANOC World Beach Games 2019 di Sekretariat KOI, Jakarta, Selasa (8/1). “Kita telah berhasil meloloskan tiga cabor ke ANOC World Beach Games 2019. Kami harapkan ada cabor lainnya yang akan menyusul sehingga peluang Indonesia menjadi lebih besar mendapatkan medali,” ucap Hellen. Plt. Deputi IV Kempora, Chandra Bakti berharap atlet dipersiapkan sebaik mungkin agar di Sana Diego dapat memetik prestasi membanggakan untuk Indonesia. “Sukses di Asian Games 2018 lalu, hendaknya memotivasi untuk meraih yang lebih baik, termasuk di ANOC World Beach Games nanti,” ujar Chandra. ANOC World Beach Games 2019 mencatat 44 negara dari 200 negara di seluruh dunia lolos dari babak kualifikasi. Ada 15 cabor pada event ini, yakni triathlon, basket 3 on 3, Balap Sepeda (BMX), sport climbing, hand ball, karate, layar, skateboard, sepakbola pantai, voli pantai, tenis pantai, selancar air, renang, ski air dan angkat besi. “Babak kualifikasi ke-15 cabor berakhir pada Juli. Dari cabor yang lolos, nantinya kami baru memetakan peluang terkait target cabor. Dan semua atlet terus meningkatkan semangat demi dapat meraih prestasi terbaiknya di ANOC World Beach Games,” ujar Helen terkait kelolosan lebih banyak cabor dari babak kualifikasi. . Ajang empat tahunan ini, kata Hellen, bisa dimanfaatkan sebagai ajang uji coba dalam rangka menambah pengalaman bertanding internasional bagi atlet Indonesia yang akan diterjunkan pada SEA Games Philipina 2019 dan Olimpiade Tokyo 2020. Sementar itu, pelatih karate Indonesia, Omita Olga Ompi mengatakan cabang karateka mempertandingkan nomor kata perorangan putra dan putri pada ANOC World Beach Games 2019. Saat ini, Indonesia baru meloloskan karateka putri asal Jawa Barat, Nawar Mastura Kautsar yang menempati peringkat keempat Asian Karate-do Federation (AKF). “Nawar tercatat di peringkat keempat, pada nomor kata (jurus) perorangan puteri AKF, setelah meraih prestasi pada Kejuaraan Karate Asia di Yordania 2018,” katanya. Sejatinya, karateka kelahiran 11 November 1995 ini juga tampil di Asian Games 2018. Sayang, ia harus gugur di babak perempat final. Selain putri, peluang kata perorangan putra pun cukup berat. Ahmad Zigi Zaresta Yudha, yang terbaik saat ini, baru menempati peringkat ke-22. Sedangkan syarat tembus dalam ajang multi event cabor pantai ini, harus berada di peringkat kelima AKF. Zigi, sapaannya, harus rutin mengikuti berbagai kejuaraan untuk bisa lolos. (Adt)

Cari Bibit Pesepak Bola Muda Dari Kalangan Pelajar, Menpora Harap Gelaran LIPEG 2019 Diperluas

Heri Santoso (kiri), Ketua Panitia Liga Pelajar Gunung Kidul (LIPEG) 2019, bertemu Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, jelang bergulirnya kompetisi antara Pelajar se-Gunung Kidul yang ke-5, yang akan berputar di Stadion Handayani, Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Kemenpora)

Jakarta- Liga Pelajar Gunung Kidul (LIPEG) memasuki penyelenggaraan kelima pada 2019. Kompetisi ini diikuti 20 SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) se-Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Event tahunan dan swadaya ini bertujuan mencari bibit unggul dari kalangan pelajar. “Berkaca dari keberhasilan LIPEG sebelumnya, pada 18 Januari hingga 17 Maret 2019 akan digulirkan kembali Liga Pelajar Gunung Kidul ke-5. Event ini digelar di satu-satunya stadion yang representatif yakni Stadion Handayani Wonosari,” ujar Heri Santoso, Ketua Panitia LIPEG, di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, pada Selasa (8/1). Sementara itu, Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), mengapresiasi penyelenggaraan LIPEG. Bahkan, menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur (Jatim) itu, berharap gelaran kompetisi sepak bola bagi kalangan pelajar tersebut diperluas, tak hanya di Daerah Istimewa Yogyakarta, namun hingga ke Jawa Tengah (Jateng). Terbukti, menurut Imam, tak hanya permainan antar tim yang melahirkan pesepak bola muda, tapi juga menciptakan suporter yang sarat kreatifitas. “Saya datang di penutupan tahun lalu dan luar biasa. Tak hanya pemainnya yang hebat, tapi suporter di stadion penuh, keren, tertib, dan kreatif,” ujar menteri berusia 45 tahun itu. “Saya berharap dapat diperluas tidak hanya di Gunung Kidul, agar dampak positif dari kompetisi ini semakin meluas,” lanjutnya. Dari LIPEG ini nantinya akan diseleksi pemain yang memperkuat Tim Gunung Kidul usia (U)-16 tahun guna menghadapi kompetisi Piala Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga), dan Piala Suratin. (Adt)

Benahi Sepak Bola Indonesia, KPSN Desak PSSI Pecat Pengurus yang Terlibat Match Fixing

Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) mendesak PSSI pada Kongres tahunan PSSI, pada 20 Januari 2019, agar memecat anggotanya yang terlibat pengaturan skor atau match fixing. (Adt/NYSN)

Jakarta- Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) mendesak PSSI agar memecat anggotanya yang terlibat pengaturan skor atau match fixing. Tuntutan itu muncul dalam pertemuan klub dan Asosiasi Provinsi (Asprov), di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Rabu (9/1), yang digagas KPSN. Hadir dalam diskusi yang bertajuk ‘Menuju Sepak Bola Bersih, Berprestasi, Tanpa Mafia’, yakni Asprov PSSI DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Kepulaun Riau, Riau, Sulawesi Tenggara, Lampung dan Gorontalo. Sedangkan perwakilan klub, yaitu Madura FC, Aceh United, Persiraja Banda Aceh, Persika Karawang, Persijap Jepara, serta Persiwa Wamena. Pertemuan ini terkait kasus pengaturan skor yang marak dalam beberapa tahun terakhir, bahkan melibatkan anggota Komite Exsekutif (Exco) PSSI. Dan, para peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut menyepakati untuk mengeluarkan dua poin penting yang akan dibawa ke Kongres tahunan PSSI, pada 20 Januari 2019. “Pertama, mengusulkan agar anggota Komite Eksekutif PSSI dan pengurus PSSI yang menjadi tersangka kasus match fixing, untuk dipecat dengan tidak hormat dalam Kongres PSSI 2019. Kedua, mendorong satuan tugas antimafia bola Polri untuk memberantas secara tuntas praktik match fixing, melalui penegakkan hukum yang adil tanpa pandang bulu sesuai dengan kesetaraan dalam hukum,” bunyi dua poin peryataan yang dibacakan Esti Puji Lestari. Presiden Persijap Jepara, sekaligus salah satu voters dalam Kongres PSSI ini menyatakan akan berupaya membawa dua tuntutan itu ke Kongres PSSI. Dia menegaskan PSSI kedepannya harus lebih ketat dan selektif dalam memilih pengurus yang mengisi posisi strategis. “Federasi harus tegas. Siapapun yang terlibat harus ada yang sanksi yang berat untuk mereka,” lanjut Esti. Sementara itu, Sabarudin Labamba, Asprov Sulawesi Tenggara (Sultra), menyebut tema pertemuan ini sangat tajam, bahkan lebih dari yang pernah digagas terkait situasi saat ini, yakni prestasi, sepak bola yang bersih, dan anti mafia. “Permasalahan ini merupakan tanggung jawab semua pihak,” tegasnya. Ia menilai rekomendasi yang dihasilkan ini merupakan bagian aspirasi seluruh masyarakat Indonesia. “Jadi pertemuan dan rekomendasi yang dihasilkan ini patut kami apresiasi dan hormati,” ungkapnya. Sedangkan Dede Sulaiman, mantan striker Timnas era 80-‘an dan legenda sepak bola Indonesia, menyatatakan, sudah saatnya dilakukan reformasi atau revolusi untuk mengganti pengurus PSSI. “Pengurus yang sekarang ini masih terdapat orang lama, bukan orang yang baru. Kenapa mereka masih mau mengurus PSSI? Kalau memiliki hati nurani seharusnya mundur, karena tidak memiliki prestasi. Tapi, mereka tetap bertahan, dan ini menjadi tanda tanya besar bagi kita semua,” pungkas Dede. (Adt)

Debut Perdana di Grand Slam Australia 2019, Petenis 15 Tahun Asal Jakarta Bidik Delapan Besar

Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho (tengah), akan segera memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 tampil di turnamen junior berlevel grand slam, di Stadion Melbourne Park, Melbourne, pada 19 Januari. (istimewa)

Jakarta- Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, tak sabar memulai debutnya di Australia Open 2019. Dara kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003 itu berharap penampilannya di turnamen berlevel grand slam di Melbourne Park itu, mampu memberi kebanggaan bagi Merah Putih. Ia membidik target minimal menjejak perempat final tunggal putri kategori yunior. “Australia Open adalah grand slam pertama saya menekuni tenis. Tentu saya sangat bersemangat bertanding di ajang tersebut,” ujar Priska di Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, sesaat sebelum bertolak menuju Australia, pada Senin (7/1). “Target ingin masuk perempat final Australia Open, namun saya berusaha semaksimal mungkin mendapat hasil yang lebih bagus,” lanjut petenis di posisi ke-45 yunior putri dunia itu. Tak sekedar sesumbar, namun optimisme yang membuncah dalam diri Priska itu muncul, lantaran dia telah cukup mengenal kekuatan calon-calon lawannya. “Kalau petenis Eropa dan Amerika Serikat sudah cukup tahu ketika bertanding di babak final Fed Cup Junior di Hungaria, tahun lalu,” tuturnya. “Lawan dari Asia dan Australia, tak hanya kenal permainan, sebab sering berlatih bersama seperti di Bangkok, akhir tahun lalu bersama petenis Thailand, Korea dan Jepang,” jelasnya. Selain tampil di babak utama tunggal putri yunior, Priska juga berlaga di nomor ganda berpasangan dengan petenis peringkat ke-88 asal Tiongkok, Wei Sijia. Menghadapi laga debutnya di Australia Open 2019, Priska telah melakoni sejumlah persiapan matang. Selain menjalani latihan rutin bersama Elbert Sie dan Ryan Tanujoyo di Bandung, dia juga mengikuti training camp bersama mantan pelatih Andy Roddick, Tarik Benhabiles di DNA Tennis Bangkok, yang dikelola mantan petenis top Thailand, Danai Udomchoke, akhir tahun lalu. “Kami persiapkan matang semua faktor yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan Priska di Australia Open, terutama fisik dan mental,” cetusnya. Semoga mendapat hasil yang maksimal, setidaknya masuk delapan besar,” ucap Ryan yang bersama Elbert, bakal mendapingi anak didiknya itu menjalani debutnya di Australia Open. “Mohon doanya agar keberuntungan juga memayungi langkah Priska karena semua juga tergantung hasil undian. Semoga Priska bisa berada pada top berformance selama di Autralia,” imbuhnya. Australia Open kategori yunior, akan berlangsung pada pekan kedua turnamen grand slam pembuka, yakni 19 hingga 26 Januari 2019. Namun, sebelumnya Priska akan turun di turnamen pemanasan yakni ITF Junior Grade 1, berlabel AGL Loy Yang Junior Internasional di Traralgon, Victoria, Austrlia, pada 11-16 Januari. Penampilan Priska di Australia Open 2019 memberi angin segar bagi Indonesia, sebab cukup lama wakil Merah Putih tak unjuk gigi di turnamen internasional bergengsi. (Adt)

Waktu Mepet Jelang Piala AFF U-22, Timnas Hanya Uji Coba 2 Kali

Timnas U-22 melakukan latihan perdana di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Senin (7/1). Mereka akan mengikuti Piala AFF U-22 2019 di Kamboja. Pelatih Timnas U-22, Indra Sjafri, akan memilih 23 pemain terbaik dan dijadwalkan menjalani dua kali uji coba lebih dulu. (bola.com)

Jakarta- Timnas U-22 akan mengikuti Piala AFF U-22 2019 di Kamboja. Skuat Garuda dijadwalkan menjalani dua kali uji coba lebih dulu. Pelatih Timnas U-22, Indra Sjafri, memanggil 38 pemain untuk mengikuti seleksi tahap pertama. Indra akan memilih 23 pemain terbaik. Pertaruhan terdekat Timnas U-22 ada di Piala AFF U-22 di Kamboja, pada Februari 2019. Indonesia berada di Grup B bersama tuan rumah Kamboja, Myanmar, Malaysia dan Singapura. Namun, waktu persiapan yang dimiliki terbilang mepet, karena mereka sudah harus berangkat ke Kamboja pada 14 Februari 2019. Indra menyebut Timnas bakal menjalani dua kali uji coba untuk mematangkan persiapan. Pertama, Timnas menghadapi salah satu konstestan Liga dan, yang kedua, melawan tim di luar Asia Tenggara. Dua-duanya direncanakan dilaksanakan pada awal Februari. “Ada dua uji coba, yakni lokal dan internasional. Belum bisa saya sebutkan, yang pasti satu dari Asia Tenggara. Kalau lokal, tunggu saja karena mereka juga persiapan kompetisi. Semua uji coba, digelar sebelum kami ke Kamboja,” ujar Indra, usai latihan di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Senin (7/1). Lawan pertama yang akan dihadapi Timnas U-22 kemungkinan adalah Timnas China U-22. Anggapan itu berlatar pernyataan PSSI yang berencana mempertemukan tim Merah Putih dengan kesebelasan tersebut. Kemudian, Persija Jakarta juga ditengarai bakal menjadi lawan uji coba Tim merah putih muda. Tim Macan Kemayoran disinyalir akan menjadikan ajang itu sebagai persiapan Liga 1 2019. Sementara itu, Egy Maulana Vikri absen pada latihan perdana Timnas U-22 ini. Tak hanya Egy yang absen pada latihan kali ini. Firza Andika, Saddil Ramdani, Osvaldo Haay, dan Ezra Walian juga tidak nampak kehadirannya. Pada latihan perdana Timnas U-22 yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut, Indra didampingi dua asistennya, yakni Nova Arianto dan Yunan Helmi. Indra juga menunjuk Hendro Kartiko, sebagai pelatih kiper Timnas U-22. Pria berusia 45 tahun itu bertugas menangani empat penjaga gawang seleksi. Sejatinya, pemusatan latihan (TC) ini digelar Indra untuk menyongsong tiga agenda pada 2019. Pertama adalah Piala AFF U-22 di Kamboja, 17 Februari sampai 2 Maret mendatang. Garuda muda kemudian tampil di Kualifikasi Piala Asia U-23 (22-26 Maret), serta multievent SEA Games 2019 di Filipina (30 November-10 Desember). (Adt)

Asian Track Championship 2019 Dihelat, Ratusan Pebalap Buru Poin Olimpiade 2020 di Velodrome Rawamangun

Hajatan Asian Track Championship (ATC) 2019 yang akan diikuti 300 pebalap dari 16 negara, siap dihelat di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur, pada 8-13 Januari. Mereka berburu poin poin untuk kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. (Pras/NYSN)

Jakarta- Hajatan Asian Track Championship (ATC) 2019 siap dihelat di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur, pada 8-13 Januari. Indonesia kembali menjadi tuan rumah setelah 10 tahun yang lalu, Kejuaraan Balap Sepeda Track level Asia ini, digelar di Velodrome Tarakan, Kalimantan Timur, pada 2008. Event ke-39 ini akan diikuti 16 negara, dengan estimasi jumlah peserta sebanyak 300 pebalap. Ajang Pengurus Besar (PB) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) sekaligus menjadi rangkaian Para Asian Track Championship ke-8, dan Junior Track Championship ke-26. Tujuannya menjadi ajang pengumpulan poin untuk kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang, yang akan dimulai dari awal 2019 hingga awal 2020, atau sebelum batas akhir penutupan poin kualifikasi Olimpiade oleh UCI (Union Cycliste Internationale). Parama Nugroho, Ketua Penyelenggara ATC 2019, mengaku persiapan hampir mencapai 100 persen. Khusus penyelenggaraan ATC 2019 ini, pihaknya kaget dengan jumlah peserta yang melebihi target. “Kami hanya melihat dari entry by name yang kami terima yaitu 255 pebalap, dan ternyata yang hadir 297 pebalap,” ujar Parama, pada Senin (7/1). Dengan jumlah peserta yang melebihi target itu, membuat pihaknya harus menyiapkan akomodasi lain. “Pastinya bagi kami, ini menjadi tantangan yang sangat menyenangkan,” lanjutnya. Sedangkan, Terry Yudha Kusuma, pebalap Indonesia, mengungkapkan telah melakukan persiapan selama kurang lebih tiga bulan guna menghadapi event ini. “Saya sangat antusias, apalagi untuk menambah poin Olimpiade 2020. Di event ini saya fokus team sprint dan 1000 meter. Karena spesialisasi saya 1000 meter. Tapi, di nomor keirin, saya juga turun,” terang alumni SMA Negeri Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Ia pun berharap sanggupu memecahkan rekor nasional. “Saya memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 1 menit, 3 detik pada waktu Asia Championship di Malaysia, tahun lalu. Kalau bisa, disini (ATC 2019), lebih tajam catatan waktunya, inginnya 1 menit, 1 detik. Semoga bisa terwujud,” cetus pemuda kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 14 Maret 1999. Disisi lain, Wahyu A. Harun, Direktur Operasi PT Jakarta Propertindo (Jakpro), menyebut pihaknya bangga bisa menjamu dan turut berpartisipasi aktif dalam perhelatan ATC 2019. “Gelaran sport sepeda internasional ini penting sebagai bagian dari pengumpulan poin atlet menuju Olimpiade 2020 Tokyo,” tutur Wahyu. Dia menjelaskan JIV memiliki sertifikasi standar internasional yang ditetapkan UCI. “Venue ini terbaik untuk perhelatan sepeda internasional seperti ATC 2019, JIV kini menjadi salah satu ikon dunia sepeda internasional,” tukas Wahyu. (Adt)

Tak Melulu Soal Produksi Atlet, Indonesia Little League Pupuk Bibit Baseball dan Softball Sejak 1990

Indonesia Little League 2019 digelar di dua kota yakni Jakarta dan Surabaya. Event pertama pada 2-6 Januari, berlangsung di Senayan, Jakarta. Turnamen yang diikuti 150 anak usia 10 hingga 14 tahun, bertujuan mengasah mental dan membentuk kepribadian. (liputan6.com)

Jakarta- Tak populer, itu gambaran sederhana untuk olahraga baseball dan softball. Dua olahraga ini terbatas kalangannya dan belum terlalu populer di Indonesia hingga 2019 ini. Tidak heran jika nama Indonesia tak terlalu moncer di pentas internasional dalam dua olahraga tersebut. Kondisi ini tak menjadi hambatan bagi Indonesia Little League untuk menggelar turnamen. Justru, mereka setia menggelar kompetisi level usia dini. Sejak 1990, Indonesia Little League sudah bergulir. Para relawan pecinta olahraga baseball dan softball di Indonesia, secara rutin menggelar turnamen ini. Tujuannya cuma satu, yakni memupuk rasa sportivitas di level junior lewat olahraga baseball dan softball. Ada tiga aspek yang ditekankan lewat Indonesia Little League, yakni karakter, keberanian, dan loyalitas. “Ketiga nilai ini bisa mendukung anak memiliki watak positif, berani, juga setia. Tak cuma dalam olahraga, tapi juga sehari-hari. Dalam dunia olahraga khususnya, tiga nilai ini jadi elemen terpenting dalam mengasah mental dan kemampuan atlet,” kata Roy Romaya, selaku Ketua Umum Indonesia Little League, pada Sabtu (5/1). Tujuan menggelar Indonesia Little League, tak melulu bicara soal produksi atlet. Mengasah mental dan membentuk kepribadian sejatinya adalah fokus utama dari Indonesia Little League. Ibaratnya, jika ada jebolan Indonesia Little League yang jadi atlet, itu menjadi sebuah bonus. “Faktanya kecakapan kepribadian untuk berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, perlu dimatangkan. Little League menawarkannya,” jelas Roy. “Kami menjalin kerjasama dengan PB Perbasasi dalam upaya pembinaan usia dini. Tak mudah memang, untuk mengembangkan baseball dan softball,” jelasnya Indonesia Little League 2019, dilaksanakan mulai 2 Januari hingga 27 Januari. Kompetisi ini diikuti oleh 10 tim yang berasal dari kota Jakarta, Banten, Bandung, dan Surabaya. Dari 10 Tim tersebut, dibagi ke dalam tiga kategori laga yakni Major League (U-11), Intermediate League (U-12), dan Junior League (U-14). Kompetisi baseballnya berlangsung di Gelora Bung Karno, Jakarta, sejak 2 – 6 Januari 2019. Sedangkan untuk turnamen softball mulai bergulir di Surabaya, Jawa Timur, pada 27 Januari mendatang. Para pemenang dalam kompetisi baseball dan softball itu, akan berangkat mewakili Indonesia di tingkat Asia Pasifik. Setelah itu, pemenang kompetisi tingkat Asia Pasifik, kembali mengikuti turnamen puncak Little League 2019 tingkat dunia, di Amerika Serikat, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Indonesia pernah mencatat prestasi pada 2006 silam, saat lolos hingga babak utama katagori U-14 (Junior League), di Michigan, Amerika Serikat. (Adt)

SEA Games Tak Lagi Bidik Prestasi, Menpora Tegaskan 60% Kontingen Indonesia ke Filipina Diisi Atlet Junior

SEA Games kini menjadi batu loncatan bagi atlet Indonesia menuju Asian Games dan Olimpiade. Itu sebabnya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menegaskan komposisi kontingen Indonesia ke SEA Games 2019 di Filipina, 60 persennya bakal diisi oleh atlet junior berprestasi, seperti sprinter 18 tahun asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri. (asiatimes.com)

Jakarta- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menegaskan komposisi kontingen Indonesia ke SEA Games 2019 Filipina. Sebanyak 60 persen skuat Merah Putih bakal diisi atlet junior. Komposisi antara atlet senior dan junior ke SEA Games 2019 Filipina itu sempat dilontarkan pada medio akhir 2018. Sempat menuai pro dan kontra, Imam bersikukuh, kontingen dihuni pemain muda. “Ini untuk memberikan suasana keunggulan dan kompetisi yang lebih baik lagi bagi atlet junior,” kata Imam, usai menggelar rapat persiapan Pelatnas dan Percepatan Prestasi Olahraga Nasional, Senin (7/1). “SEA Games tak lagi jadi patokan bagi Indonesia untuk juara atau menempati peringkat. SEA Games adalah batu loncatan bagi atlet menuju Asian Games dan Olimpiade,” dia menambahkan. Menpora juga memiliki pertimbangan agar atlet dan cabang olahraga bisa berfokus mencari poin ke Olimpiade 2020 Tokyo. Sebab, pengumpulan poin ke Tokyo sudah dimulai tahun ini. Lagipula, anggaran pelatnas tahun ini menurun ketimbang tahun lalu. Jika tahun lalu APBN menyiapkan dana 735 miliar kini menjadi Rp 500 miliar. Imam berharap anggaran itu juga bisa difokuskan untuk membiayai nomor pertandingan potensial medali pada Olimpiade 2020. “Ini akan menjadi kesempatan untuk nomor-nomor unggulan Indonesia menuju Olimpiade, karena terbiayai dengan baik dan dapat mengikuti sejumlah uji coba ke luar negeri,” kata dia. Kendati menginstruksikan agar kontingen didominasi atlet muda, Imam tak memberikan sanksi kepada cabang olahraga yang bandel. “Yang terpenting, pelatnas segera berjalan. Saya minta Komite Olimpiade Indonesia melakukan klasifikasi. Usai penetapan Surat Keputusan Percepatan Prestasi Olahraga Nasional akan diketahui tingkatan atlet internasional, atlet regional, dan atlet nasional, karena ada catatan mereka meraih gelar juara di mana,” ujar Imam. Menpora menambahkan nomor-nomor pertandingan dalam Asian Games 2018 yang menyumbang medali emas bagi Indonesia, akan mendapatkan prioritas untuk mengikuti kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020. Saat ini, lanjut Menpora, baru 30 persen cabang olahraga, yang mengajukan proposal kegiatan pelatnas 2019. Pada SEA Games nanti, kemungkinan ada 56 cabor yang diusulkan National Olympic Committee Filipina. Jumlah tersebut terbanyak dalam sejarah penyelenggaraan SEA Games. Dengan penambahan itu, bulu tangkis yang sebelumnya tak masuk cabor yang di pertandingan, kembali masuk. Tak hanya bulu tangkis, cabor atletik, taekwondo, karate, dan beberapa cabor unggulan Indonesia untuk mendulang emas di SEA Games, tertarik dengan ide dari pemerintah yang memprioritaskan atlet junior lebih dominan di dalam skuadnya. Sebab Indonesia sangat membutuhkan atlet muda untuk meregenerasi jangka panjang. (Adt)