776 Pebulutangkis Dari 13 Negara Panaskan Persaingan Turnamen Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019

Sebanyak 776 pebulutangkis turut meramaikan turnamen bertajuk 'Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019, di GOR PB Jaya Raya Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. (Adt/NYSN)

Jakarta- Sebanyak 776 pemain dari 13 negara akan tampil pada turnamen bulutangkis bertajuk ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019’, di GOR (Gelanggang Olahraga) PB Jaya Raya Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, pada 30 April – 5 Mei 2019. Turnamen yang dibagi dalam tiga kategori kelompok umur (KU), yakni U-15, U-17 dan U-19 tersebut memiliki gengsi yang cukup tinggi. Sebab, hanya diselenggarakan empat kali selama setahun, yakni dua di Asia dan dua di Eropa. Pemain junior papan atas dunia dipastikan akan hadir karena di turnamen ini poin yang didapat nilainya hanya satu level di bawah kejuaraan dunia. PB Jaya Raya sudah dipercaya menjadi tuan rumah sejak 2016 dan kali ini merupakan penyelenggaraan keempat dengan titel turnamen ‘Pembangunan Jaya Raya Yonex Sunrise Junior Grand Prix 2019’. “Ini sebuah kepercayaan besar bagi Jaya Raya untuk menjadi salah satu tuan rumah. Tentu kami berharap tidak hanya sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga gemilang dengan prestasi pemain-pemain junior Indonesia, terutama dari Jaya Raya,” ujar R. Tony Soehartono, Ketua Panitia Penyelenggara, di Jakarta, Jumat (26/4). Diungkapkannya, antusias peserta untuk tampil di turnamen ini cukup tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah peserta yang mendaftar lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. “Tahun ini jumlah peserta yang mendaftar sebanyak 1238, sedangkan tahun lalu jumlahnya 1125 peserta. Namun, setelah menyeleksi administrasi, hanya 776 pemain yang akan tampil pada turnamen kali ini,” lanjut pria yang juga menjabat Direktur Eksekutif Yayasan Pembangunan Jaya Raya. Tahun lalu, dikategori U-15, Indonesia mendapat dua gelar dari nomor tunggal putri dan ganda putri. Dan untuk kategori U-17, Indonesia meraih tiga gelar dari nomor ganda campuran, ganda putri dan tunggal putri. Sedangkan di kategori U-19, juaranya didominasi pemain China dengan empat gelar, dan Thailand dengan satu gelar. Sementara itu, Rudy Hartono, Ketua Umum PB Jaya Raya, mengatakan turnamen ini menjadi salah satu barometer kekuatan bulutangkis dunia di masa yang akan datang. Ia berharap dari turnamen ini muncul pemain-pemain potensial masa depan Indonesia. “Kejuaraan ini sangat penting, dimana lingkupnya sudah Asia bahkan dunia, karena kejuaraan junior seperti ini sangat jarang. Dengan adanya kejuaraan ini membuat klub Jaya Raya dan klub-klub bulutangkis lainnya di Indonesia sangat diuntungkan demi memunculkan pemain-pemain potensial di masa depan,” tutur juara All England selama 8 kali pada era 1960-an dan 1970-an. Sedangkan Susy Susanti, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), menegaskan bila PBSI sangat terbantu dengan adanya turnamen junior ini. Istri dari legenda bulutangkis Alan Budikusuma itu menambahkan kejuaraan yang dikhususkan bagi para pemain muda itu merupakan ajang yang tidak hanya sebagai bahan evaluasi, namun juga sebagai gambaran peta kekuatan untuk mengetahui kemampuan lawan di masa yang akan datang, sehingga bisa terpantau bakat yang mereka miliki sedini mungkin. “Turnamen ini juga masuk dalam perhitungan poin BWF, dan tidak banyak yang menggelar kejuaraan junior seperti ini. Jadi sangat bagus bagi para pemain muda untuk mencari pengalaman serta mendulang poin,” cetus peraih medali emas Olimpiade 1992, Barcelona, Spanyol. (Adt)

Berhasil Menaklukkan Pemain Dari China, Anthony Melesat ke Final Singapore Open 2019

Anthony Sinisuka Ginting (Dok. Humas PBSI)

Anthony Sinisuka Ginting berhasil mengalahkan Chou Tien Chen pada babak semifinal Singapore Open 2019. Pertadingan sengit tersebut bergulir selama 1 jam 19 menit dengan skor akhir 21-17, 18-21, 21-14. “Puji Tuhan, saya bisa menyelesaikan pertandingan ini dengan baik, seperti kemarin. Pastinya, saya senang banget bisa menang hari ini, bisa masuk ke final. Apalagi, lawan hari ini lawan yang bagus juga. Jadi, senang bisa menang,” kata Anthony. Anthony secara pasti menganalisa setiap langkah yang dilakukan oleh Tien Chen, termasuk kekalahannya di gim kedua. “Awal gim pertama, saya terlalu banyak mengangkat bola, jadi lawan lebih enak. Pas menyusul tadi, saya ubah tempo mainnya. Gim pertama, kondisi lapangan bisa dibilang diunggulkan karena kalah angin. Jadi, mainnya enggak ada ragu sama sekali,” ujar Anthony. “Gim kedua juga sebenarnya ketat dari awal sampai akhir, tapi di poin-poin menentukan saya kurang bisa menggunakan cara main yang tepat. Jadi Chou Tien Chen bisa balik unggul,” Anthony menegaskan. “Di game ketiga, saya berpikir sebelum interval sebisa mungkin ambil poin yang banyak, jadi saat pindah lapangan tinggal diterapkan lagi pola main di game kedua saat ramai poinnya,” ujar Anthony lagi. Berkat kemenangan tersebut dipastikan bahwa Anthony berhasil melaju ke babak final Singapore Open 2019, selain itu Ia juga berhasil unggul secara head to head dengan Tien Chen sebanyak 5-4. Pada laga final berikutnya Anthony masih menunggu lawan tandingnya berdasarkan hasil pemenang pertandingan antara Kenot Momota dari jepang dengan Viktor Axelsen dari Denmark. “Perasaannya tentu senang kemarin mengalahkan Chen Long, hari ini Chou Tien Chen. Tapi, perjuangan belum berakhir, besok masih ada lawan yang lebih tangguh lagi dari hari ini dan sebelumnya. Tetap jaga fokusnya dan recovery lagi,” ujar Anthony. (IHA)

Hendra/Ahsan Bertekad Mempertahankan Gelar Juara Pada Laga Final Singapore Open 2019

Pasangan Hendra Setiawan / Mohammad Ahsan. Foto:Istimewa

Pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang akrab disebut The Daddies berhasil melaju ke Final, dengan ini kesempatan mereka untuk mempertahankan gelar juara pada ajang Singapore Open 2019 semakin terbuka lebar. Hendra/Ahsan berhasil melangkah ke final setelah menaklukkan pasangan Li Junhui/Liu Yuchen dari China sabtu lalu (13/04/19). Hendra/Ahsan menang dua gim langsung dengan skor 21-11.21-14. “Pastinya, kami bersyukur alhamdulillah. Enggak menyangka poinnya bisa jauh. Tapi, kami enggak boleh lengah juga. Mereka mempunyai kualitas yang bagus, kalau mereka berkembang bisa jadi bumerang buat kami,” kata Ahsan. “Mudah sih enggak, mungkin terlihat menang mudah, tapi enggak. Kami harus tetap fokus, walaupun poinnya beda jauh, kesempatan mereka buat mengejar itu ada. Jadi, kami nggak mau lengah. Siap menekan dan siap fokus,” Ahsan menambahkan. “Hari ini, mereka mungkin kurang dapet juga feelingnya,” ujar dia. Keberhasilan tersebut sekaligus merupakan pembalasan Hendra/Ahsan setelah dikalahkan pasangan Junchui/yuchen di ajang Malaysia Open 2019, pekan lalu, Juara All England 2019 itu juga berhasil memangkas kekalahan dari pasangan china menjadi 4-7. Pada babak final berikutnya Hendra/Ahsan akan berhadapan dengan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dari Jepang. Pasangan dari Jepang tersebut melaju ke final setelah mengalahkan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Gernaldi Gideon. “Saya tidak memikirkan mengenai besok, saya hanya ingin melakukan yang terbaik. Kami tetap fokus dan berdoa. Kami fokus satu demi satu dulu, enggak mikir jauh ke depan,” kata Ahsan. “Besok, kami siap capek saja. Dari pengamatan tadi, mereka lebih rapet bermainnya. Jadi, kami siap capek saja. Selain itu, poin-poin akhir mereka lebih berani juga,” ujar Hendra.(IHA)

Anthony Ginting Sukses Melenggang ke Perempatfinal Singapore Open 2019

Anthony Ginting. (Foto: dok. Humas PBSI)

Anthony Sinisuka Ginting berhasil maju ke perempatfinal Singapore Open 2019 setelah mengalahkan Kenta Nishimoto dari Jepang, dua gim langsung dengan skor 21-10, 21-16 . hanya dalam waktu 42 menit. Berkat kemenangan ini Anthony bisa membalas kekalahannya dari Kenta juga di Malaysia Masters 2019 pekan lalu dengan skor 21-18, 13-21, 21-23. “Puji Tuhan hari ini bisa dapat hasil yang diinginkan, lolos ke babak berikutnya. Saya belajar dari pertemuan kemarin. Waktu di Malaysia kemarin tipenya hampir sama, ada menang kalah angin juga. Cuma waktu di Malaysia dia bisa melakukan strategi yang tepat dibanding saya. Kalau hari ini kebalikannya,” kata Anthony yang dilansir dari badmintonindonesia.org. “Belajar juga dari Malaysia, saat ini saya banyak inisiatif buat menyerangnya. Kalau kemarin masih ada rasa nggak sabarnya, jadi buru-buru malah mati sendiri. Tapi tadi lebih bisa mengontrol. Bola yang enak sekali pun, tapi kalau feeling-nya nggak enak buat ambil poin, saya tetap lebih mengontrol dan nggak menggebu-gebu buat menyerang,” sambungnya lagi. Di perempat final berikutnya Anthony akan akan berhadapan langsung dengan Chen Long, unggulan keempat asal China seusai menyingkirkan lawannya dari India, Parupalli Kashyap, dengan skor 21-9, 15-21, 21-16. Secara teknis, Anthony unggul 5-3 atas Chen Long. Namun pada pertemuan terakhir di perempatfinal Malaysia Masters 2019, Anthony kalah 11-21, 20-22 atas Chen Long. Pada nomor ganda campuran, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti harus pasrah atas kekalahannya di babak kedua. Mereka kalah oleh, Zheng Siwei/Huang Yaqiong, dua gim langsung dengan skor 16-21, 13-21. Sementara itu, Ricky Karanda Suwardi/Pia Zebadiah Bernadet berhasil untuk maju ke perempatfinal setelah menyingkirkan wakil Indonesia lainnya, Ronald/Annisa Saufika, dengan skor 12-21, 21-13, 21-16. (IHA)

Timnas BMX Indonesia Mentargetkan Pasukannya Untuk Mempertahankan Gelar Juara Asia di Malaysia

Salah satu pemain timnas BMX Indonesia, I Gusti Bagus Saputra (tengah), dalam perlombaan kategori race Asian Games 2018 di Pulomas BMX Center, Jakarta, 25 Agustus 2018 . Foto:Tempo.co

Target timnas BMX Indonesia untuk mempertahankan gelar juara Asia di nomor putra akan akan dimulai di perebutan poin kualifikasi Olimpiade 2020. Indonesia akan mengikuti ajang Asian BMX Cycling Championship di Malaysia 13-14 April mendatang. Pasukan yang diturunkan oleh Indonesia adalah Rio Akbar, Bagus Saputra, Tony Syarifudin, Fasya Ahsana Rifki, dan Yossi Saputra (Junior), serta Wiji Lestari (women elit). Dadang Haris Purnomo selaku pelatih utama balap sepeda nasional berkomentar bahwa persiapan atletnya terus digali menjelang kejuaraan. “Anak-anak hari ini sudah berangkat ke Malaysia. Mereka ikut Kejuaraan Asia ACC pada Sabtu (13/4) dan C1 keesokan harinya,” kata Dadang yang dilansir dari detikSport, Kamis (11/4/2019). “Memang untuk persiapan tidak semuanya ada di pelatnas kemarin, hanya ada beberapa atlet saja. Dan untuk peta persaingan saya perkirakan Jepang menjadi kekuatan cukup besar baik di nomor putra maupun putri, Thailand, lalu ada China, khususnya di nomor putri,” sambungnya. Dadang mentargetkan bahwa minimal ada tiga atlet elit putra yang lolos final dan bisa mempertahankan gelar juara Asia. “Pastinya harapan kami adalah pertama mempertahankan gelar kemarin. Karena tahun lalu Rio Akbar ada di peringkat pertama dan juara asia 2018,” paparnya. “Dengan tiga atlet itu pun harapan kami bisa meraih poin penuh di Kejuaraan Asia ini,” demikian dia. Perlu diketahui bahwa Rio Akbar berhasil merebut gelar juara Asia di tahun lalu sementara Wiji Lestari mendapatkan medali perunggu dan Bagus Saputra meraih medali perak pada ajang Asian Games 2018. (IHA)

Eni Nuraini, Pelatih Zohri yang Dinobatkan Sebagai Pelatih Terbaik Asia

Eni Nuraeni, Pelatih Zohri yang mendapatkan penghargaan dari AAA sebagai pelatih terbaik asia.

Eni Nuraini, Pelatih Pelatnas Atletik di nomor lari jarak pendek, berhasil mendapatkan penghargaan dari Asosiasi Atletik Asia sebagai pelatih terbaik Asia tahun ini yang diumumkan melalui surat yang dikirim oleh Asosiasi Atletik Asia (AAA) kepada Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) pada 4 April 2019. Surat yang ditandatangani oleh Presiden AAA, Ge Dahlan Jumaan Al-Ahmad itu terdiri dari dua buah, yang pertama surat yang ditujukan kepada Eni sebagai pelatih terbaik Asia, dan surat yang kedua ditujukan untuk sekretaris Jendral PB PASI, Tigor Tanjung sebagai sekjen federasi atletik terlama. “Atas nama Asosiasi Atletik Asia dan semua federasi anggota Asia saya dengan senang hati memberi tahu dan memberi selamat kepada Anda karena telah dipilih untuk penghargaan Pelatih Terbaik Asia tahun ini,” tertulis di dalam surat undangan. “Ini penghargaan adalah kesaksian kerja keras dan dedikasi Anda. Anda telah bekerja tanpa pamrih untuk membawa kemenangan ke negara Anda dan Asia,” tulisnya lagi. Selain pengumuman, Eni dan Tigor juga diminta hadir dalam acara gala dinner yang akan dilangsungkan di Wyndham Grand Regancy Hotel, Doha, Qatar, 20 April mendatang. Eni yang juga merupakan pelatih dari Lalu Muhammad Zohri mengaku bahwa Ia telah mengetahui perihal pernghargaan tersebut dan Ia berharap agar penghargaan tersebut dapat memotivasi para atlet dan pelatih lainnya untuk memacu prestasinya. “Saya baru diberitahu tadi saat memberi laporan hasil Malaysia kemarin. Alhamdullilah,” kata Eni yang dilansir dari Detiksports. “Saya tak menyangka mau dapat penghargaan. Tak pernah berpikiran ke sana, bekerja sih bekerja saja. Ini sesuatu yang membanggakan bagi saya,” ujar dia. “Ya, semoga anak-anak bisa termotivasi dan berlatih lebih giat. Begitu juga dengan pelatih yang lain bisa mudah-mudahan bisa seperti saya dan termotivasi dengan hasil kemarin,” harapnya. (IHA)

Baru Dipasangkan Tiga Kali, Ganda Muda Rehan/Lisa Merebut Gelar Juara di Finlandia

Dobel Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati meraih gelar Finnish International Challenge 2019 usai mengalahkan Mathias Bay-Smidt/Rikke Soby, 22-20, 15-21, 21-14. (Humas PBSI)

Finladia- Indonesia berhasil membawa pulang dua gelar juara pada kejuaraan bulutangkis Finish International Challenge 2019. Dua gelar datang dari ganda putra Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana, dan ganda campuran Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati. Di partai final, Minggu (7/4), dobel Fikri/Bagas menuntaskan perlawanan wakil Jerman Jones Ralfy Jansen/Peter Kaesbauer, dua gim langsung, dengan skor 21-17, 21-17. Pertandingan memakan waktu 37 menit. Hasil positif itu membuat Fikri/Bagas berhak menaiki podium utama sebagai pemegang gelar turnamen berhadiah total 25 ribu dollar Amerika Serikat (AS) itu. Sebelumnya, di pertandingan pertama, duet Rehan/Lisa tampil gemilang. Pasangan muda Merah Putih itu secara mengejutkan menghentikan langkah wakil Denmark Mathias Bay-Smidt/Rikke Soby, dalam drama duel tiga gim, dengan skor 22-20, 15-21, 21-14. Rehan/Lisa mengalahkan juara Swiss Open 2019 Super 300 itu dalam waktu 58 menit. Dikatakan Rehan, menerapkan pola permainan setengah ke depan, dengan cepat menurunkan bola menjadi kunci keberhasilan mereka meredam permainan lawan. “Ini untuk meredam permainan mereka yang mengandalkan placing,” ujar Rehan usai laga di Vantaan Energia Arena, Finlandia. “Selain itu, kami coba main lepas saja. Yakin sama kemampuan kami dan fokus satu demi satu poin,” lanjut pria kelahiran 28 Februari, 20 tahun silam itu. Bagi Rehan dan Lisa, gelar yang didapat sangat penting guna membangun kepercayaan diri. Terlebih, mereka merupakan pasangan baru. Rehan dan Lisa memang hadir sebagai pasangan baru. Finish International Challenge 2019 merupakan turnamen ketiga mereka bersama usai Orleans Masters 2019 Super 100, dan Polish International Challenge 2019. Rehan sebelumnya dipasangkan dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti, sedangkan Lisa berduet dengan Ghifari Anandafa Prihardika. “Gelar ini sangat penting bagi saya dan Lisa sebagai pasangan baru. Ini menjadi bukti kalau kami yakin pasti bisa,” tambah putra dari legenda bulutangkis ganda campuran Indonesia, Tri Kusharjanto itu. “Ke depan kami bakal lebih membangun chemistry dan kekompakan. Semoga terus menjadi lebih baik,” cetus Rehan. Indonesia sebenarnya berpotensi meraih tiga gelar di turnamen ini, namun ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto (4) harus puas meraih posisi runner-up. Mereka takluk dari wakil Jepang Erina Honda/Nozomi Shimizu (5), straight game, dengan skor 15-21, 14-21, dalam tempo 30 menit. Sedangkan tunggal putra diraih wakil Thailand, Kunlavut Vitidsaran. Ia menekuk Lin Chun-Yi asal Taiwan, straight game, dengan skor 21-16, 18-21, 21-14. Pertandingan berakhir selama 53 menit. Dan, gelar tunggal putri berhasil diraih Julie Dawall Jakobsen asal Denmark. Pemain unggulan lima itu menang dua gim langsung, dengan skor 21-18, 23-21, dari wakil Thailand Porntip Buranaprasertsuk (3), pada pertandingan berdurasi 41 menit. (Adt)

Komunitas Olahraga Bersatu Bulatkan Tekad Bersama Jokowi Agar Atlet Terus Berprestasi

Joko Widodo (Jokowi) meminta para atlet untuk terus berprestasi mengharumkan nama bangsa dan negara di pentas internasional. (Adt/NYSN)

Tangerang- Pemerintah melalui Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) memberikan perhatian lebih pada atlet Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara di pentas internasional, berupa bonus fantastis hingga pengangkatan menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Joko Widodo (Jokowi), calon presiden nomor 01, berharap atlet bisa terus berprestasi di berbagai ajang kompetisi internasional. Bahkan, ke depan, mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah itu berjanji akan memberikan bonus lebih besar lagi. “Saya senang masyarakat komunitas olahraga banyak atlet-atlet yang memberikan nama harum Indonesia dimata internasional,” ujar Jokowi. Jokowi hadir dalam deklarasi dukungan dari kalangan Komunitas Olahraga Bersatu, Pemuda, Influence, serta Penyandang Disabilitas, di Indonesia Convention Center (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Pagedangan, Tangerang, Banten, Minggu (7/4) malam. Dalam kesempatan itu, Jokowi mengungkapkan sederet prestasi para pahlawan olahraga Indonesia dari berbagai cabang olahraga. Di antaranya, Rudi Hartono yang merupaka juara All England dan juara dunia. Lalu, Richard Sambera peraih juara di Asian Games 1990 (medali perunggu), kemudian Taufik Hidayat (medali emas Olimpiade). “Kita ingin semua atlet terus berprestasi. Kemarin Asian Games, kita berikan ke atlet untuk medali emas dapat bonus Rp 1,5 miliar. Kemudian medali perak dapat bonus Rp 750 juta. Medali perunggu Rp 500 juta. Itu untuk atlet di Asian Games dan Asian Para Games juga sama. Tidak dibeda-bedakan,” lanjut ayah tiga anak itu. Selain bonus, ungkap mantan Gubernur DKI Jakarta itu, pemerintah memberikan perhatian khusus kepada atlet-atlet berprestasi dengan pengangkatan menjadi PNS (pegawai negeri sipil). “Para atlet juga mau diangkat sebagai PNS, sudah di data semua, dan sudah ada pengakatan. Perhatian pemerintah terhadap atlet tidak kurang. Pemerintah tinggal menunggu prestasi dari atlet-atlet Indonesia berikutnya,” tutur Presiden RI ke-7 itu. Sementara itu, Rudi Hartono, menyebut para atlet saat ini sudah mendapatkan penghargaan yang lengkap berupa bonus yang besarannya terus meningkat. “Paling penting adalah selain besarannya meningkat juga diberikan dengan cepat. Sehingga para atlet ini dihargai. Karena melalui olahraga bisa mengharumkan nama bangsa di luar negeri,” tukas maestro bulutangkis peraih 8 gelar All England di era 1960-an hingga 1970-an itu. (Adt)

7500 Pelari dari 9 Negara Akan Berkumpul di Candi Prambanan Dalam Ajang Mandiri Jogja Marathon 2019

Press Conference Mandiri Jogja Marathon 2019. (Foto: Tribunnews)

Ribuan Pelari yang berasal dari Sembilan negara akan berkumpul di Candi Prambanan untuk berkompetisi dalam ajang Mandiri Jogja Marathon 2019. Total hadiah sebanyak Rp1 millar akan diperebutkan oleh sekitar 7500 pelari dengan rute lari yang mengelilingi Kawasan Candi Prambanan. Rudi AS Aturridha selaku Vice President Corporate Communications Bank Mandiri mengatakan bahwa lomba lari yang akan digelar pada 28 April 2019 ini akan mengambil start dan finish di Kawasan Candi Prambanan. 670 pelari akan mengikuti kategori full marathon, 1530 pelari di kategori half marathon, 2280 pelari di kategori 10k dan kurang lebih 3000 pelari akan berpartisipasi di kategori 5k. Di dalamnya aka nada 24 pelari dari taraf internasional sudah dipastikan akan berpartisipasi di ajang ini. Sebanyak 13 desa di sekitar Candi Prambanan, Candi Plaosan dan Monumen Taruna akan dilintasi para pelari di kategori Full Marathon. “Dalam pemilihan rute Iari, kami mempertimbangkan kenyamanan para pelari di mana peserta lomba dapat berkompetisi sambil menikmati keindahan alam dan kehangatan masyarakat Yogyakarta,” kata Rudi yang dilansir dari Detik Sport di Hotel Marriot Yogyakarta, Kamis (4/4/2019). Sementara itu Pandu Buntaran, Race Director Mandiri Jogja Marathon menjelaskan bahwa rase pack collection akan diadakan pada 26-27 April 2019 di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta dan Race Village akan berada di kawasan Candi Prambanan serta akan diisi dengan pertunjukan musik. Start akan dilakukan di lapangan utama Roro Jonggrang, pemandangan Gunung Merapi bisa dinikmati oleh pelari di Km 13-15, selanjutnya Monumen Taruna Perjuangan dengan Museum pelataran akan menyambut pelari di Km 26. Kemudian di Km 37-39 pelari bisa menikmati pemandangan Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Di Km 40 akan tersaji pemandangan Candi Sewu dan Candi Bubrah sebelum akhirnya finis di Candi Prambanan. “Selain titik tersebut, di beberapa rute pelari juga akan menikmati pemandangan sawah dan nuansa pedesaan yang sangat khas dengan kearifan lokal jawa khususnya Yogyakarta,” jelasnya. (IHA)

Pembinaan Usia Dini, Jadi Tolak Ukur Atlet Gapai Prestasi

Legenda tenis Indonesia Yayuk Basuki menyebut pembinaan atlet usia dini di semua cabor bisa mendorong lahirnya atlet baru syarat prestasi. (rmoljateng)

Jakarta- Pembinaan atlet usia dini yang dilakukan secara intensif serta berkesinambungan di semua cabang olahraga (cabor) bisa mendorong lahirnya atlet baru syarat prestasi yang dapat mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional. Hal itu dikatakan Yayuk Basuki, Anggota Komisi X DPR RI, saat menyaksikan Turnamen Sepak Bola Usia Dini Kelompok Umur (KU) 2006/2007 Piala Yayuk Basuki di Lapangan Gelora Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (28/3). “Semua cabang olahraga saya gerakkan, karena atlet berprestasi itu pasti muncul dari daerah kemudian berjenjang hingga tingkat atau kelas internasional,” ujar Yayuk, dikutip rmoljateng, pada Selasa (2/4). Dan, sebagai bagian dari upaya untuk mendorong perkembangan olahraga di Indonesia, legenda tenis kelahiran Yogyakarta, 30 November, 46 tahun silam itu, bahkan telah menggelar berbagai turnamen, seperti tenis meja, tenis, bulutangkis, serta voli. Dengan turnamen sepak bola, terlebih diikuti oleh para peserta yang datang dari beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, dinilai Yayuk, akan menjauhkan mereka pada hal negatif. “Ini membuat tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk bermain ponsel, mengenal miras (minuman keras), bahkan narkoba. Ketika berbicara soal pembinaan atlet, wajib diarahkan ke sisi positif,” lanjut petenis Merah Putih yang pernah mencapai babak perempat final turnamen Grand Slam Wimbledon pada 1997 itu. Ditegaskan Yayuk, upaya yang dilakukan merupakan implementasi dari apa yang diserukan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tentang gerakan revolusi mental yang salah satunya, bisa diawali dengan mendidik budi pekerti para atlet dengan olahraga. “Dengan dimulai dari olahraga, tentunya bisa membentuk mental-mental yang baik agar berprestasi,” tambah peraih penghargaan atlet terbaik versi SIWO (Seksi Wartawan Olahraga) PWI Jaya pada 1995 itu. Turnamen sepak bola usia dini yang berlangsung sehari penuh itu diikuti 40 tim yang berasal dari Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Yayuk menjelaskan dengan adanya pembinaan dengan pendampingan wasit berlisensi diharapkan akan dapat memacu prestasi, disiplin dan sportifitas atlet sejak usia dini. “Terlebih turnamen ini kami laksanakan jelang gelaran ASEAN School Games, pada Juli nanti,” tukas peraih medali emas Asian Games tiga edisi (Seoul 1986/ganda putri, Beijing 1990/ganda campuran, Beijing 1990/ganda putri, Bangkok 1998/tunggal putri). (Adt)

Diikuti Lebih dari 1500 Pemain, IJL Musim 2019 Resmi Dibuka

IJL Resmi Dibuka dengan jumlah peserta lebih dari 1500 pemai dari 66 SSB pekan lalu (31/03/19). (Foto:IJL)

Indonesia Junior League (IJL) 2019 Resmi dibuka pekan lalu (31/3/19) di lapangan Nirwana Park Sawangan, Depok. Kompetisi musim ini diikuti oleh total lebih dari 1500 pemain dari 66 SSB yang siap berlaga di lapangan hijau. IJL sendiri terus membuktikan komitmentnya dalam berkontribusi untuk masa depan sepakbola Indonesia demi menciptakan iklim kompetisi yang sehat. IJL yang sudah memasuki musim keempatnya ini akan meluncurkan IJL Elite di akhir kompetisi. “Di musim keempat ini kami langsung menggelar tiga kategori yakni U-9, U-11 dan U-13. Tiap akhir kompetisi dirilis susunan pemain terbaik yang digabungkan menjadi satu tim dan diberi nama IJL Elite,” terang CEO Indonesia Junior League, Rezza Mahaputra Lubis. “IJL Elite ini yang kami harapkan nantinya bisa menjadi generasi penerus Timnas Indonesia di masa yang akan datang, database tiap pemain kami jaga tiap tahunnya,” ujar Rezza. “Bukan hal mudah memang menembus skuat IJL Elite, tidak hanya dari segi skill-teknik, visi bermain tapi juga attitude,” tambah Rezza. Washiyatul Akmal, Direktur Teknik IJL Elite yang juga mantan pemain Persija pun berkomentar bahwa dia selalu berharap bahwa proyek maya rantai IJL Elite ini akan berjalan mulus. “Tidak mudah memang menembus skuat IJL Elite, ibarat masuk Timnas, semua pemain terbaik berlomba-lomba dan benar-benar dipantau progresnya. Ini jadi semacam stimulus juga agar tiap SSB bisa menelurkan generasi terbaik tiap musimnya,” ujar Akmal. “Ini menariknya, saya pernah mengirim satu anak didik menembus skuat IJL Elite pada 2017 lalu. Ada satu kebanggaan besar tidak hanya dari sisi pemain tetapi juga orangtua,” tambah salah satu mantan pemain Persija lainnya, Aris Indarto. Menciptakan atmosfer kompetisi sepak bola usia dini yang segar dan sehat tetap jadi fokus utama IJL. Poin-poin khusus bahkan diciptakan untuk suporter dari tiap SSB. “Dinamika sepak bola usia muda Indonesia memang masih jadi pekerjaan rumah bersama. Penilaian untuk suporter bahkan kami jadikan rujukan mengakomodir keikutsertaan SSB di musim berikutnya, artinya harus ada sinergi agar kompetisi tidak hanya berjalan ketat tapi juga sehat, respect ke kawan, lawan juga perangkat pertandingan,” tegas Rezza. “IJL bebas dari intervensi karena semua SSB adalah mitra strategis kami,” tutup Rezza. Daftar Lengkap Tim Kontestan IJL 2019: U-9: 1. ASTAM 2. Salfas Soccer 3. Ragunan Soccer School 4. ASIOP 5. FU15FA Bina Sentra 6. M’Private Soccer School 7. All Star Galapuri 8. CISS 9. BMIFA 10. Pro:Direct Academy 11. Pelita Jaya SS 12. Indonesia Rising Star 13. Metro Kukusan 14. Garuda Muda Soccer Academy 15. Maesa Cijantung 16. Ocean Stars 17. Serpong Jaya 18. GRT Sitanala 19. Indonesia Muda Utara 20. SoccerEd 21. Cipondoh Putra 22. SSJ Kota Bogor 23. Alba FC 24. Fifa Farmel 25. Sparta 26. Garec’s 27. Remci 28. Kancil Mas Karawang 29. Young Warrior FA 30. D’Joe FC 31. Kembangan 8 32. Putra Agung 33. Abstrax FA 34. Atlas U-11: 1. ASTAM 2. Salfas Soccer 3. Ragunan Soccer School 4. ASIOP 5. FU15FA Bina Sentra 6. M’Private Soccer School 7. All Star Galapuri 8. CISS 9. BMIFA 10. Pro:Direct Academy 11. Pelita Jaya SS 12. Putra Sejati 13. Giras FC 14. Gagak Rimang 15. Maesa Cijantung 16. Ocean Stars 17. Serpong Jaya 18. Garuda Muda Soccer Academy 19. Indonesia Rising Star 20. Indonesia Muda Utara 21. Java Soccer Academy 22. GRT Sitanala 23. Tajimalela FA 24. Sparta 25. Remci 26. Young Warrior 27. Satria Muda FA 28. FIFA Farmel 29. Alba FC 30. Brazillian Soccer School 31. Stoni Indonesia 32. Garec’s 33. D’Joe FC 34. B24HABS. (IHA)

Zohri Kembali Mengukir Prestasi Emas di Malaysia Open Grand Prix

Lalu Muhammad Zohri. (Foto: Tempo)

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter asal Lombok NTB kembali mengukir prestasi bagi Indonesia pada ajang 1st Malaysia Open Grand Prix di Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Zohri berhasil mencatat waktu 10,20 detik pada nomor 100 meter putra pekan lalu (30/3/19) mengungguli pelari Malaysia, Zulfiqar Ismail dengan catatan waktu 10,41 detik dan pelari asal Taiwan, Wei-Hsu Wang dengan waktu 10,44 detik. Zohri yang berlari di lintasan keenam tersebut pada awalnya sempat tertinggal, hingga ia berhasil berjuang dan menempati urutan terdepan. Sebelumnya pada ajang Singapore Open 2019, banyak sejumlah atlet atletik Indonesia yang juga meraih medali emas, seperti Agustina Mardika manik pada nomor lari 800 meter putri dengan total waktu 2 menit 11,88 detik. Agustina juga menyumbangkan medali emas di nomor estafet 4×400 meter putri bersama Marselina, Sri Mayasari dan Gusti Ayu Ningsih. Mereka berempat berhasil mencatatkan waktu 3 menit 56,52 detik. (IHA)

NBA Undang Delapan Pemain DBL Berbagi Inspirasi Dalam Program Jr. NBA Indonesia Camp

Student-athlete Honda DBL berfoto bersama Coach Carlos (tengah) dari Jr. NBA usai ikut berpartisipasi dalam Jr. NBA Indonesia Camp 2019 yang berlangsung di Cilandak Sport Center, Jakarta Selatan, Sabtu (30/3).

National Basketball Association (NBA) pekan lalu (30/3) mengundang delapan pemain muda Indonesia dalam program Jr. NBA Indonesia Camp di Jakarta. Mereka adalah para student-athlete yang berprestasi pada Honda Developmental Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia. Dalam program tersebut, para pemain muda berprestasi ini ikut memberikan motivasi kepada adik-adik yang terlibat dalam Jr. NBA Indonesia Camp di Cilandak Sport Center, Jakarta Selatan. Kedelapan student-athlete itu adalah Sophia Rebecca (DBL Indonesia All Star 2018), Felicia Huang (DBL First Team 2018), Ferdinand Nursalim (DBL First Team 2018), Rayhan Alvaro Ferdinand (DBL First Team 2018), Dewa Made Ayu Sriartha (DBL Indonesia All-Star 2015/Indonesia Women’s National 3×3 Team Asian Games 2018), Regita Pramesti (DBL Indonesia All-Star 2013 & 2014/peraih medali perunggu tim putri 3×3 SEA Games 2017), Erlan Perkasa (Champion DBL 3×3 Competition 2015/Timnas putra FIBA National 3×3 U-18), dan Darryl Sebastian (DBL Indonesia All-Star 2017 dan 2018, Timnas Basket 3×3 U-18 dan Timnas Basket U-18 untuk World Cup 2023) ”DBL Indonesia (penyelenggara Honda DBL) sudah lama menjalin hubungan baik dengan NBA untuk tujuan pengembangan. Bahkan, event resmi pertama NBA di Indonesia pada tahun 2008 lalu, adalah hasil kerjasama dengan DBL Indonesia,” ujar Masany Audri, Direktur DBL Indonesia. ”Kami berterima kasih NBA mengundang dan mengajak kedelapan pemain muda dan berprestasi yang tak lain adalah output dari Honda DBL. Untuk ikut terlibat dengan berbagi di program internasional Jr. NBA. Kami berharap, mereka bisa memberikan inspirasi ke junior-juniornya untuk terus mewujudkan mimpinya, terutama di basket. Sehingga bisa meningkatkan partisipasi anak muda dalam olahraga,” lanjut wanita yang akrab disapa Sany ini. Jr. NBA Indonesia Camp merupakan program untuk mencari pemain-pemain usia 10-15 tahun dari Indonesia. Mereka nantinya akan menjadi bagian dari para pemain terpilih dari berbagai negara yang akan mengikuti seleksi tingkat Asia Pasifik. Dan puncaknya, akan mewakili regional Asia Pasifik dalam NBA Global Championship, berlaga melawan pemain-pemain dari seluruh dunia. ”Ini bukan soal latihan untuk profesional player. Tapi untuk memberi materi dasar kepada anak-anak usia dini. Karena itu kami terus konsisten hingga tahun ke enam, ” ucap Carlos Barroca, Head Coach Jr. NBA Asia. Lebih lanjut Carlos melihat potensi yang baik di Indonesia. “Indonesia punya potensi basket yang bagus. Karena itu kami ada di sini sampai tahun ke enam,” ungkapnya. Berlokasi di Cilandak Sport Center, Jakarta Selatan, delapan orang pemain dan alumni DBL tersebut menceritakan apa yang memotivasi mereka untuk terus berlatih basket hingga mencapai berbagai prestasi. Salah seorang diantaranya adalah Darryl Sebastian yang masuk ke dalam skuad DBL Indonesia All-Star 2017 dan 2018. Dia juga merupakan anggota Timnas Basket 3×3 U-18 Indonesia, dan akanbertanding di World Cup 2023 bersama Timnas Basket U-18. “Gara-gara basket, saya bisa sampai ketemu dan main basket bareng Presiden RI Pak Jokowi di Istana Negara Bogor. Lalu menjadi salah satu pemain di timnas muda Indonesia. Tapi ini nggak akan bisa dicapai kalau saya mudah menyerah bermain basket,” ujar Darryl Sebastian. “Peserta Jr. NBA Indonesia Camp ini punya kesempatan yang masih panjang karena mereka masih SMP. Jadi bisa mempersiapkan diri untuk bisa mencapai mimpi-mimpinya. Seandainya mereka gagal, coba terus jangan pernah nyerah,” tambahnya. Selama penyelenggaraan Jr. NBA, para peserta akan menjalani 5 skill stations yakni, Dribbling, Shooting, Passing, Footwork & Layups. Dari 50 pemain putra dan 50 pemain putri yang terpilih di hari pertama memiliki kesempatan untuk mengikuti basketball drills scrimmages. Nantinya akan terpilih 5 pemain terbaik putra dan 5 pemain terbaik putri yang akan mendapatkan gelar 2019 Jr.NBA Indonesia All-Stars. (IHA)

Ini Pesan Jason Richardson, Mantan Guard Golden State Warriors Kepada Anak Muda Indonesia

Jason Richason, mantan guard Golden State Warriors saat melatih anak-anak mendrible bola dalam acara coaching clinic di SMA 82 Jakarta.

Jason Richardson, mantan guard Golden State Warriors berpesan kepada anak-anak di Indonesia, bahwa edukasi dan sekolah adalah hal utama yang harus diraih sebelum memilih olahraga bola basket. Richardson datang ke Jakarta, Kamis (28/3/2019) sebagai pelatih tamu yang akan memilih 10 atlet basket muda sebagai peserta kamp Jr NBA akhir pekan nanti yang juga masuk ke dalam rangkaian acara Jr NBA. Richardson berpendapat bahwa secinta apapun seseorang dengan olahraga bola basket, tetap pendidikan adalah pangkal dari kesuksesan yang bisa diraih oleh seseorang. “Hal paling penting bagi pemain muda adalah edukasi. Anda harus sekolah terlebih dahulu untuk belajar banyak hal berbeda dan memperhatikan guru/pelatih di sana untuk mengerti banyak situasi,” Ujar richardson yang dilansir dari detiksport pada acara coaching clinic di SMPN 37 Jakarta. “Hal kedua adalah bekerja keras. Benar-benar bekerja untuk menjadi lebih baik, disiplin, makan yang sehat dan benar. Itu akan sangat membantu Anda,” tambahnya. Program Jr NBA bukan hanya dalam rangka mengasah bakat anak-anak dalam bola basket, akan tetapi juga sebagai ajang pelatihan bagi para pelatih bola basket di Indonesia agar dapat melatih bola basket dengan baik dan benar. “Pesan untuk pelatih adalah melatih dengan kecintaan pada permainan itu sendiri. Jr NBA muncul bukan untuk mencari pemain terbaik, tapi mengumpulkan anak-anak yang mencintai basket, juga pelatih yang senang dalam melatih olahraga ini, kemudian memberikan mereka pelajaran dasar di dunia basket. Sehingga anak-anak punya hasrat dan mampu mengerti lebih soal basket sedangkan pelatih bisa melatih dengan cara yang tepat,” demikian Richardson. (IHA)

Putri Yusril Ihza Mahendra: “Saatnya Sepak Bola Wanita Mengharumkan Nama Bangsa”

Kenia Khairunnisa Mahendra

Sepak bola hanya milik pria, itu adalah “mind set” dan tradisi yang tumbuh di kalangan orang saat ini, Sepak bola wanita sangatlah dipandang sebelah mata. Bahkan saat ini pelatih timnas wanita Indonesia, Rully Nere mengalami kendala yang besar dalam mencari potensi pemain sepak bola wanita. Dengan proses seleksi yang tiada henti, bongkar pasang, tuntutan turnamen internasional, Ia masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pemain untuk Timnas Wanita Indonesia. Salah satu alasan yang paling kuat adalah minimnya kompetisi yang diselenggarakan. Lain halnya dengan Kenia Khairunnisa Mahendra, Ia pun berharap Persija Jakarta bisa punya tim khusus wanita. Menurutnya peran wanita dalam mengharumkan nama bangsa melalui sepak bola harus dianggap serius. “Perempuan saat ini sudah mulai terlepas dari jeratan budaya patriarki. Dimana peran kami tidak sebatas menjadi pelengkap bagi kebutuhan pria. Layaknya laki-laki, perempuan harus mandiri dengan pendidikannya dan penghasilannya sendiri termasuk jika pilihannya menjadi atlet sepak bola,” ujar Kenia. “Terlebih lagi, justru saya menilai timnas wanita mempunyai kesempatan yang lebih untuk memajukan nama Indonesia,” tegasnya lagi. Kenia yang juga merupakan putri dari Yusril Ihza Mahendra berpendapat bahwa untuk membuat bangsa lebih maju adalah dengan mendengar suara Srikandi Tanah Air. Berlatar belakang dari keluarga yang kental dengan perputaran politik di Indonesia, membuat Kenia berani menyuarakan isi hatinya secara lantang. “The Girl Power” tegas Kenia yang juga kebetulan adalah anak cucu dari Jama Sandon, seorang penggawa Timnas Hindia-Belanda pada tahun 1922 silam. “Semakin banyak perempuan yang bersuara, maka akan semakin banyak pula hak-hak mereka yang terpenuhi. Ambil contoh, perempuan sudah memiliki keterwakilan sebanyak 30 persen di parlemen, hal tersebut tentu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyuarakan aspirasi bagi Indonesia ke depan. Termasuk soal kepentingan untuk srikandi rumput hijau yang membawa nama bangsa,” harapnya lagi. Walupun Ia sadar bahwa suara lantang yang Ia suarakan tidaklah mudah untuk direalisasikan, butuh keberanian dan investasi yang luar biasa untuk mendobrak tradisi sepak bola yang di dominasi oleh kaum Adam ini. Dari sekian banyak tim yang ada Ia berharap Persija yang akan dapat membantu membangun mimpinya ini. Alasannya cukup logis, mengingat Jakarta adalah miniatur bangsa Indonesia, dimana semua pusat politik, ekonomi dan olahraga berpusat di Jakarta yang tentunya bisa jadi landasan kuat untuk terciptanya 11 srikandi yang akan berlaga diatas rumput hijau, hal ini akan dapat merubah animo dan atmosfer dunia sepak bola tanah air. “Di Eropa, klub-klub sepak bola seperti Manchester City, Manchester United, Inter Milan, Barcelona sudah mempunyai tim-tim sepak bola wanita. Itu menunjukkan bahwa, kaum hawa tidak bisa dipandang remeh, kami juga mempunyai potensi dalam olahraga atau pekerjaan yang notabenenya dilakukan oleh laki-laki,” tegas Kenia. “Jadi, cukup menarik ketika hal tersebut juga diterapkan oleh klub-klub sepak bola di Indonesia, khususnya Persija yang notabene adalah tim Ibu Kota. Pastinya hal tersebut bisa menjadi bahan rujukan klub lainnya nanti,” tandas Kenia yang mengaku ngefans dengan Persija sejak 2001 tersebut. (IHA)

Indonesia ‘Host’ SEASF 1st South East Asian Master Swimming Championship 2019, Diramaikan Perenang Peraih Empat Medali Emas Olimpiade

Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah renang master internasional (SEASF 1st South East Asian Master Swimming Championship 2019, di Stadion Akuatik GBK, Senayan, Jakarta, 30-31 Maret. (Adt/NYSN)

Jakarta- Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah (host) renang master internasional bertajuk ‘SEASF 1st South East Asian Master Swimming Championship 2019’. Event ini dihelat di Stadion Akuatik, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada 30-31 Maret 2019. Ini merupakan kejuaraan renang master jarak pendek kolam 25 meter pertama di GBK. Sebanyak 400-an perenang dari berbagai negara, yakni Thailand, Filipina, Singapura, Hong Kong, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Italia, Uni Emirate Arab, Aljazair, Belanda, dan lainnya, turut berpartisipasi. Bahkan diantara peserta internasional yang hadir yaitu perenang asal Amerika Serikat yang juga peraih empat medali emas Olimpiade kategori estafet 4×100 meter (Sydney 2000, Athens 2004, Beijing 2008, dan Beijing 2008), Jason Lezak, dan peraih medali emas Olimpiade (Sydney 2000) asal Australia, Bill Kirby. Harlin Erlianto Rahardjo, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI), mengatakan kejuaraan ini merupakan event besar, dan Indonesia merupakan negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang diberi kepercayaan sebagai tuan rumah. “Kami melihat dari peserta maupun dari segi kewarganegaraan sangat banyak. Dan, tujuannya tentu saja mempopulerkan olahraga renang di Indonesia,” ujar Harlin, di Stadion Akuatik, Kompleks GBK Senayan, Jakarta, Rabu (27/3). Harlin menilai publik sangat percaya dengan venue akuatik yang dimiliki Indonesia dan berstandar internasional. “Dengan banyaknya event internasional, maka ini juga mendukung usaha lndonesia untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032,” lanjut pria yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) SEASF (South East Asian Swimming Federation). Senada, Wisnu Wardhana, Ketua Panitia, menyebut bahwa ini merupakan event renang master internasional pertama di GBK Aquatic Stadium, dimana panjang kolam yang digunakan adalah 25 meter, atau setengah dari kolam 50 meter. “Pesertanya selain dari kawasan Asia, juga terbuka untuk umum. Artinya non Asia diperbolehkan mendaftar sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” terang Wisnu. Ditambahkannya, peserta yang mengikuti kejuaraan ini sangat banyak. Begitu juga dengan animo dari masyarakat pecinta renang yang sangat tinggi, terlebih adanya venue dengan fasilitas yang terawat dengan baik. “Saat ini yang telah terdaftar mencapai 378 peserta atau hampir mencapai 400-an peserta, dengan total 17 negara. Ini adalah satu pertandingan yang terus kami lakukan di luar pembinaan yang sudah berlangsung selama ini,” tegas Wisnu. Event yang berlangsung selama dua hari itu melombakan 34 nomor, dan diikuti mulai dari perenang berusia 25 tahun ke atas. Bahkan, perenang tertua ada yang mencapai usia sekitar 84 tahun. “Berangkat dari sukses Asian Games 2018 ini untuk menjaga momentum semakin mempopularkan olahraga renang di masyarakat umum. Khususnya renang bisa menjadi gaya hidup sehat masyarakat lndonesia yang memang dikenal sebagai negara bahari,” cetus pria yang juga menjabat sebagai Kabid Binpres (Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi) PB PRSI. Sementara itu, kategori usia yang dilombakan adalah usia 25-29 tahun, usia 30-34 tahun, usia 35-39 tahun, usia 40-44 tahun, usia 45-49 tahun, usia 50-54 tahun, usia 55-59 tahun, 60-64 tahun, dan seterusnya. Lalu, nomor yang dipertandingkan adalah putra-putri gaya bebas, gaya punggung, gaya dada, serta gaya kupu-kupu. Semua melombakan mulai jarak 25 meter, 50 meter, dan 100 meter. Hanya gaya bebas yang ada jarak jauh yakni 200 meter. Kemudian, ada nomor 100 meter gaya ganti. Untuk estafet nomor yang dilombakan 4×25 meter gaya bebas, 4×25 meter gaya ganti, 4×25 meter gaya ganti campuran, 4×25 meter gaya bebas campuran. Dalam kesempatan itu, Jason menilai Indonesia memiliki banyak anak berbakat di renang yang bisa menjadi juara di masa depan. “Saya belum banyak mengetahui, karena baru satu hari disini (Indonesia). Tapi, saya melihat mereka sangat antusias, dan banyak anak-anak berpotensi di Indonesia,” tuturnya. “Bagi saya kejuaraan renang master ini sangat baik, karena selain baik dalam menjaga kesehatan, juga pertemanan. Sangat positif dan ini harus bisa berjalan terus,” tukas Jason. Disisi lain, sebagai upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Akuatik, PB PRSI akan menyelenggarakan FINA Coaching Clinic untuk pelatih loncat indah (25-29 April), dan pelatih renang (29 April-3 Mei). (Adt)

Simak Lima Unggulan Indonesia Ini Pada Turnamen India Open 2019

Ni Ketut Mahadewi Istarani/Rizki Amelia Pradipta. (Dok: Humas PBSI)

Indonesia mengirimkan total 14 pemain untuk ternamen India Open 2019 yang mulai digelar mulai hari ini 26 sampai dengan 31 Maret 2019 di KD Jadhav Indoor Hall, New Delhi. 14 Pemain tersebut terdiri dari pemain Pelatnas maupun non-Pelatnas, dan diantarana ada lima yang akan menjadi unggulan untuk Tunggal Putra, Ganda Campuran dan Ganda Putri. Tommy Sugiarto, Pemain Tunggal Putra Indonesia akan menempati unggulan keempat untuk kategori tunggal putra. Tommy akan bersaing ketat dengan pemain besar seperti Viktor Axelses (Denmark) dan Kidambi Srikanth (India). Kemudian unggulan tim Indonesia pada nomor ganda putri adalah Greysia Polii/ Apriyani Rahayu yang merupakan juara bertahan India Open. Tahun lalu mereka menjadi juara India Open seusai mengalahkan Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai (Thailand), 21-18, 21-15. Selain itu ganda putri lain, Ni Ketut Mahadewi Istarani/Rizki Amelia Pradipta, berada di posisi ketujuh dar daftar unggulan. Sedangkan pada nomor ganda campuran, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja yang tahun lalu tersisih pada babak pertama berada pada urutan unggulan keempat. Turnamen tahun ini merupakan kesempatan bagi Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja untuk meraih prestasi lebih ketimbang tahun lalu. Disusul dengan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang berada persis di bawah Hafiz/Gloria. Praveen/Melati merupakan runner-up India Open 2018 setelah kalah dari Mathias Christiansen/Christinna Pedersen (Denmark) pada babak final, 21-14, 21-15. (IHA)

Meski Gagal Masuk Final Piala Asia, Sepakbola Indonesia Tidak Akan Mati

Indra Sjafri saat konferensi Press di Hanoi, Vietnam.(foto:Istimewa)

Walaupun Timnas Garuda Muda U-23 tidak berhasil lolos untuk masuk ke putaran final Piala Asia U-23 2020, Indra Sjafri angkat bicara bahwa hal ini tak membuat sepakbola Indonesia mati. Timnas Indonesia kalah di laga Perdana bersaing melawan Thailand dengan skor 0-4, kemudian disusul dengan kekalahan saat melawan Vietnam di stadion My Dinh, Hanoi, Vietnam, pekan lalu (24/3/29) dengan skor 0-1 yang disumbangkan oleh Trieu Viet Hung yang sekaligus mengubur satu-satunya kesempatan bagi timnas Indonesia untuk masuk ke putaran final. Walaupun masih ada satu pertandingan lagi yang tersisa melawan Brunei, selasa (26/3/19) ini, Indonesia takkan mampu mengejar ketinggalannya terhadap Thailand dan Vietnam yang sudah mendulang 6 poin. Indra Sjafri selaku pelatih dengan lapang dada mengucapkan selamat kepada Vietnam yang akan lolos ke putaran final Piala Asia, dan Ia juga mengingatkan bahwa kekalahan ini tidak akan membuat sepakbola Indonesia mati. “Kami ucapkan selamat untuk Vietnam, saya pikir Vietnam akan lolos karena Thailand sebagai tuan rumah otomatis lolos,” kata Indra dalam konferensi pers usai laga. “Dengan kekalahan ini, sepakbola Indonesia tetap berkembang dan apa yang akan kami lakukan tentu ada target lain yang akan kami capai. Tapi yang kami pastikan, sepakbola Indonesia tidak akan mati dengan kekalahan ini,” tegasnya. (IHA)

Azzahra dan Adinda, Pertajam Rekornas di Singapura dan Jawa Timur

Azzahra Permatahani sukses memecahkan rekornas di nomor 400 meter gaya ganti perorangan putri dengan waktu 4 menit 48,51 detik. (@simonecastrovillari)

Singapura- Dua perenang muda Indonesia menunjukan kemajuan pesat jelang tampil di SEA Games 2019 Filipina, Desember mendatang. Adinda Larasati Dewi (18 tahun) dan Azzahra Permatahani (17 tahun), mampu memecahkan rekor nasional (rekornas) saat bertanding di dua tempat terpisah, yakni Jawa Timur dan Singapura, Jumat (22/3). Azzahra Permatahani yang bertanding di Singapura dalam event bertajuk ’50th SNAG atau Singapore National Age Group Swimming Championship 2019′, memecahkan rekornas di nomor 400 meter gaya ganti perorangan putri dengan catatan 4 menit 48,51 detik. Rekornas lama Azzahra 4 menit 50,39 detik tercipta di SEA Games 2017 Malaysia, saat itu Azzahra meraih medali perak. Bertanding di OCBC Aquatic Centre, Singapura, Azzahra juga berhasil meraih medali emas. Event SNAG ini menjadi salah satu ujicoba Azzahra sebelum tampil di SEA Games 2019 Filipina, Desember mendatang. Sementara itu, perenang nasional lainnya, Adinda Larasati Dewi juga berhasil memecahkan rekor nasional nomor andalannya 100 meter gaya kupu-kupu putri. Bukan di Singapura, Adinda memecahkan rekornas di kandangnya sendiri Surabaya, pada ajang Kejurprov (kejuaraan provinsi) Jawa Timur. Adinda mencatat rekornas baru dengan membukukan waktu satu menit 00,98 detik, mempertajam rekornas lama atas namanya sendiri 01:01,35 detik yang tercipta di ’42nd SEA Age Group Swimming Championship’, di Filipina, Juli 2018. Sama seperti Azzahra, Adinda juga tengah dipersiapkan menuju SEA Games 2019 Filipina. Sehari sebelumnya di ajang ’50th SNAG di Singapura, perenang nasional putra Aflah Fadlan Prawira juga berhasil memecahkan rekor nasional di nomor 400 meter gaya bebas putra dengan catatan 03 menit 52,16 detik. Rekornas lama Fadlan adalah 03:53,01 detik yang tercipta pada Asian Games 2018, di Jakarta. (Adt)

Egy dan Saddil, Akan Memperkuat Serangan Timnas U-23

Egy Maulana Vikri.

Timnas Indonesia U-23 mendapat kepastian akan penambahan dua pemain yang diharapkan dapat menambah ragam pola serangan dalam kualifikasi Piala Asia U-23 2020 di Vietnam, yaitu Egy Maulana Vikri dan Saddil Ramdani. Selain dua nama tersebut ada beberapa nama baru yang juga akan dimasukkan ke Timnas U-23, mereka adalah; TM Ichsan, Febby Eka Putra, Kadek Raditya, Mahir Radja Djamaoedin dan Ezra Walian. Dengan kedatangan Saddil Ramdani dan Egy Maulana Vikri yang berpotensi menjadi starter, maka bisa di pastikan bahwa variasi serangan tim Garuda Muda nanti akan bertambah secara signifikan. Egy dan Saddil akan bersaing dengan nama lain seperti Witan Sulaeman, Osvaldo Haay, hingga Todd Rivaldo Ferre untuk posisi starter. Kombinasi antara Saddil dan Egy adalah kombinasi yang sempurna, karena dengan adanya mereka, posisi penyerang sayap kanan dan kiri terasa lengkap. Berkaca dari Piala Asia U-19, Saddil banyak bermain di sayap kanan sedangkan Egy di sayap kiri. Selain itu Indra Sjafri saat Timnas U-19 melawan Taiwan, juga menempatkan Egy sebagai playmaker di belakang penyerang utama Lini serang Timnas Indonesia U-23 dikenal dengan komposisi pemain yang baik dari segi kecepatan dan kualitas individu yang baik, seperti Witan Sulaeman, Egy Maulana, Saddil Ramdani, Todd Rivaldo Ferre, hingga Osvaldo Haay. Sadil selain memiliki kemampuan menyerang dari sisi lapangan juga memiliki tembakan jarak jauh yang keras, karena pemain Pahan FA itu bisa menekuk bola ke dalam saat melepaskan tendangan langsung ke gawang lawan. Dalam ajang kualifikasi ini formasi yang bakal jadi andalan Indra Sjafri adalah formasi 4-3-3, dan serangan akan gencar dijalankan dari sisi sayap. (IHA)