Komang Siap Bidik Medali Emas PON 2024

Atlet bulutangkis asal Pulau Dewata Bali, Komang Ayu Cahya Dewi (19) kembali bergabung tim pelapis Pelatnas Utama (Pelatnas Pratama) pada hari Jumat (22/10) ini. Komang Cahya mendapat izin bertanding di PON XX 2020 Papua. Dia pun meraih medali perak tunggal perorangan putri. “Saya Jumat sudah gabung lagi dengan Tim Pelatnas Pratama,” ucap Komang Ayu Cahya Dewi, Kamis (21/10). Komang Cahya menjadi satu-satunya atlet yang bisa turun lagi pada PON XXI 2024 di Sumut dan Aceh. Dia pun diharapkan dapat meningkatkan prestasi dari medali perak. “Untuk PON selanjutnya saya ingin meraih medali emas, semoga saja terwujud,” kata atlet asal Banjar Bangkang, Desa Baktiseraga, Kecamatan/Kabupaten Buleleng. Komang Cahya bergabung dengan Pelatnas Pratama sejak 2020 dan dilatih Asep Suharno, Morico Harda, dan Minarti Timur. Berada di Pelatnas dia bertekad mematangkan pengalaman, jam terbang dan teknik bertanding. Dengan harapan semakin matang di PON selanjutnya. “Dari sisi batasan umur hanya saya yang bisa turun di PON XXI 2024 di Sumut dan Aceh, karena bulutangkis memakai batasan umur 23 tahun,” kata Komang Cahya. Sementara selama di kampung halaman, Komang Cahya memanfaatkan waktu untuk recovery. Namun, tidak ketinggalan dirinya tetap menjaga kebugaran tubuh dengan melakukan sprint di sekitar rumah. Dia balik ke Pelatnas karena saat ini Pelatnas belum libur. Jadi dia harus menjalani latihan rutin. Lebih jauh Komang Cahya balik ke Pelatnas tanpa menunggu bonus dari Pemprov Bali. Menurutnya, dirinya tidak terlalu mengetahui soal bonus kapan diberikan dan juga jumlahnya. Jika Pemprov Bali memberikan bonus, Komang Cahya akan memberikan sebagian ke panti jompo dan panti asuhan di Kabupaten Buleleng. Selebihnya akan disimpan sebagai tabungan masa depan serta keperluannya. Sebab di Pelatnas dia belum memiliki sponsor. Dia juga harus membeli peralatan pribadi seperti raket dan sepatu dari dana sendiri. Komang Cahya berharap, kelak ada pihak yang mau mensponsorinya. Dia juga berharap mendapat dukungan dari Pemprov Bali. “Mudah-mudahan Pemprov Bali mendukung saya. Jadi, saya tidak membeli peralatan sendiri. Jika nanti ada bonus, saya juga akan menggunakan untuk membeli peralatan pribadi,” ucap atlet kelahiran Denpasar, 21 Oktober 2002 ini. Meski belum meraih medali emas, pemain Klub Djarum Kudus Jawa Tengah itu menjadi pebulutangkis pertama asal Bali yang masuk final selama 73 tahun atau sejak PON I 1948 di Solo Jawa Tengah. Ketua Umum Pengprov PBSI Bali, I Wayan Winurjaya mengakui hanya Komang Cahya yang usianya paling muda yang tampil di PON XX 2020 Papua. “Untuk PON selanjutnya hanya Komang Cahya yang bisa turun lagi, pebulutangkis lainnya harus regenerasi karena faktor batasan umur. Saya harap semoga Komang Cahya dapat medali emas di PON XXI 2024 di Sumut dan Aceh,” kata Winurjaya, yang mantan Ketua Umum Pengkab PBSI Bangli itu.

Sabet Medali Emas PON, Atlet Muda Ini Penuhi Nazar

Atlet Pencak Silat asal Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Khoirudin Mustakim, membayar nazarnya karena ia berhasil meraih medali emas pada cabang olahraga Pencak Silat kelas B putra dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 yang baru saja resmi berakhir. Rupanya, pesilat berusia 20 tahun tersebut memiliki nazar untuk berlari sejauh 62 kilometer apabila mampu meraih medali emas. Karena mimpinya tersebut terwujud, maka ia pun menepati nazarnya tersebut pada Senin (18/10/2021). Putra bungsu dari empat bersaudara pasangan dari Paini Kismo Suwito dan Samiyem memulai aksinya berlari dari Salatiga sekitar pukul 04.30 WIB. Mustakim panggilan akrab tiba di kediaman Dusun Jurangkajong RT 023/ RW 003, Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah sekitar pukul 15.00 WIB, setelah menempuh sekitar 12 jam perjalanan. Kedatangan Mustakim di Dusun Jurangkajong disambut dengan meriah warga sekitar. Jalan menuju ke rumahnya juga dipasangi bendera Merah-Putih untuk menyambut atlet pencak silat itu. Mustakim mengaku bersyukur masih diberikan kesehatan dan bertemu kembali dengan kedua orangtua di rumah. Pemuda kelahiran 2001 itu sudah dua bulan tidak bertemu dengan keluarga demi mengharumkan nama Bangsa Indonesia. “Alhamdulillah, masih diberikan keselamatan sampai di rumah. Senang rasanya bisa ketemu orangtua dari dua bulan lama tidak ketemu,” kata dia ditemui di rumahnya. Mustakim mengatakan sudah mempersiapkan nazarnya tersebut sejak lama. Dia juga sudah meminta izin kepada kedua orangtua jika berhasil mendapat medali emas dirinya akan berlari dari Salatiga-Klaten. Selama di perjalanan, Mustakim mengalami sembilan kali keram kaki dan sembilan kali beristirahat untuk melesmaskan otot kaki. “Persiapan tiga hari, Jumat, Sabtu dan Minggu. Saya sudah bilang sama mama dan bapak dari jauh-jauh hari. ‘Mak kalau aku juara PON aku mau lari Salatiga ke rumah’,” ucap Mustakim. “Mpun direstoni (sudah direstui) saya juga bersemangat. Tambah semangat,” tambah dia. Mustakim yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Olahraga Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini, sedang mempersiapkan untuk mengikuti seleksi nasional SEA Games 2022 di Vietnam. Dia berharap pada penyelenggaraan SEA Games 2022 bisa meraih prestasi yang terbaik. “Target ke depan Seleknas di SEA Games 2022 di Vietnam,” kata dia. Mustakim beberapa kali memenangi kejuaraan cabor Pencak Silat di tingkat internasional, antara lain kejuaraan dunia junior 2018 di Thailand, juara I kejuaran Asia 2018 di India. Kemudian juara II kejuaraan dunia 2018 di Singapura, juara I kejuaraan dunia pantai 2018 di Thailand, juara I Belgia Open 2019 dan juara II SEA Games 2019 di Philipina.

Berkenalan Dengan Rizky Si Pemilik Rambut Eksentrik

Berkenalan Dengan Rizky Si Pemilik Rambut Eksentrik

Rizky Alfa Thoni merupakan pemain klub Borneo FC U-16 yang memiliki rambut eksentrik. Pemain berusia 15 tahun asal Medan itu mengakui penampilannya sudah sejak dari kecil. Bermodal ketangkasan sepak bola yang mumpuni dan dua kali membawa timnya meraih kemenangan melawan Arema FC U-16 1-0 dan 3-0, Rizky bangga bisa menjadi bagian dari keluarga Borneo FC. “Mengenai penampilan saya ini, merupakan rambut model curly drum, sejak kecil memang saya seperti ini, rambut gondrong dengan warna cokelat alami. Tidak ada keturunan dari luar negeri,” ungkapnya. Dalam kompetisi Mola Elite Pro Academy ini, dia berharap penampilannya bisa memberikan kontribusi yang nyata bagi Borneo FC U-16. “Selain itu juga, saya berharap bisa memberikan kontribusi positif kepada tim. Saya juga bangga bisa membahagiakan kedua orang tua karena juga bisa bermain di EPA,” tuturnya. Mengenai dua laga yang dijalaninya, Rizky mengungkapkan awalnya sulit untuk membongkar pertahanan lawannya itu. “Pertandingan sebelumnya saya rasa awalnya sangat sulit menembus pertahanan lawan, tetapi karena kerjasama yang baik dengan teman-teman yang lain, semua dapat teratasi. Kesulitan lainnya tadi adalah susah untuk memaksimalkan lari dengan bola,” jelasnya. Terakhir, Rizky memiliki target pribadi dalam karirnya sebagai pesepakbola. “Target saya adalah bisa menjuarai Elite Pro Academy tahun ini. Kemudian, membahagiakan orang tua juga menjadi target pribadi saya, lalu bisa menjadi pemain Timnas Indonesia, dengan mempersiapkan semuanya sejak dini,” ceritanya. “Saya tetap tenang dan konsentrasi. Ambil positifnya. Tetap semangat dan percaya akan proses itu ada,” tutupnya. Berikutnya, di hari Kamis tanggal 21 Oktober 2021 Borneo FC U-16 akan berhadapan dengan tim Persiraja Banda Aceh U-16 di Lapangan Lodaya. Tentu kemenangan juga menjadi target utama dari Rizky dan kawan-kawan untuk membawa timnya menjuarai turnamen tahun ini. Profil Singkat Rizky: Nama Lengkap: Rizky Alfa Thoni Panggilan: Entong Tempat Tanggal Lahir: Sawit Seberang, 11 April 2006 Tinggi/Berat Badan: 170cm/60 kg Pendidikan: SMP Negeri 4 Cirebon Kaki Terkuat: Kanan Nomor Punggung: 8 Posisi: Striker Klub Saat Ini: Borneo FC U-16

Menang Tips, Garuda Muda Taklukkan Tajikistan

Menang Tips, Garuda Muda Taklukkan Tajikistan

Tim Nasional Sepak Bola Indonesia U-23 memetik hasil manis pada laga uji coba perdana mereka jelang Kualifikasi Piala Asia U-23 2022. Garuda Muda berhasil membekuk Tajikistan dengan skor tipis 2-1 di Republican Central Stadium, Dushanbe, Selasa (19/10/2021) malam WIB. Indonesia tertinggal terlebih dahulu 0-1 pada pertandingan ini sebelum dua gol kemenangan dicetak oleh Hanis Saghara Putra pada menit ke 35′ dan Bagus Kahfi menit ke 64′. Selanjutnya, Indonesia U-23 akan melakukan uji coba melawan Nepal pada 22 Oktober mendatang. Seusai laga, pelatih Shin Tae-yong mengatakan bahwa para pemain telah bekerja keras demi meraih kemenangan. Ia menyebut meski tertinggal terlebih dahulu, timnya bisa membalikkan keadaan menjadi 2-1 dan perkembangaannya kelihatan sangat baik. “Saya melihat karena ini uji coba pertama, jadi para pemain ada yang merasa grogi. Apalagi pada pertandingan ini kita menggunakan lapangan sintetis dan memang beda lingkungan seperti makanan dan cuaca, jadi memang masih dalam proses adaptasi,” kata Shin Tae-yong. Pada pertandingan ini, pelatih asal Korea Selatan tersebut menyatakan bahwa ada beberapa evaluasi yang masih menjadi pekerjaan rumah Garuda Muda. Terutama dalam sektor pertahanan. “Kami akan terus perbaiki kekurangan dari tim ini. Semoga di laga uji coba selanjutnya dapat lebih baik lagi dan puncaknya saat melawan Australia mendapatkan performa terbaik. Pada pertandingan ini juga kami tekankan pemain untuk bermain fair play. Jadi tidak boleh terpancing emosi dan menghargai pemain lawan,” imbuh pelatih berusia 52 tahun tersebut. Selanjutnya, timnas U-23 kembali akan menggelar laga uji coba pada 22 Oktober 2021. Kali ini, yang menjadi lawan adalah Nepal. Dua pertandingan uji coba itu digelar untuk mematangkan persiapan timnas U-23 menuju Kualifikasi Piala Asia U-23 2022 melawan Australia pada 27 dan 30 Oktober. Bila mampu melewati Australia akan lolos ke putaran final Piala AFC U-23 2022 mendatang. Starting XI timnas U-23 vs Tajikistan: Ernando Ari; Asnawi Mangkualam (c), Rizky Ridho, Alfeandra Dewangga, Pratama Arhan, Mohammad Kanu, Gunansar Mandowen, Ramai Rumakiek, Witan Sulaeman, Bagus Kahfi, Hanis Saghara Pelatih: Shin Tae-yong (KOR)

Inilah Lawan Timnas U-23 Berikutnya

Inilah Lawan Timnas U-23 Berikutnya

Tim Nasional Sepak Bola Indonesia U-23 akhirnya telah menentukan siapa lawan mereka di laga uji coba internasional. Anak asuh Shin Tae-yong tersebut dipastikan akan menjalani dua pertandingan selama pemusatan latihan di Tajikistan. Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri mengatakan bahwa dua uji coba akan berlangsung pada 19 Oktober melawan Tajikistan U-23 dan 22 Oktober versus Nepal U-23. “Dua uji coba ini sebagai persiapan menghadapi Australia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2022. Dengan adanya uji coba, pelatih Shin Tae-yong akan mengetahui perkembangan para pemain,” kata Indra Sjafri. Selain pemusatan latihan, selama di Tajikistan Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan akan mengikuti Kualifikasi Piala Asia U-23 2022. Sementara itu, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan terus mengingatkan kepada pemain yang mengikuti pemusatan latihan dan bertanding di ajang tersebut untuk menunjukkan performa terbaik. Apalagi ajang ini sangat penting bagi Indonesia demi asa lolos ke Piala AFC U-23 2022 yang rencananya akan digelar di Uzbekistan. “Saya mendapat laporan perkembangan pemain semakin baik. Fisik dan mental juga terus ditempa oleh pelatih Shin Tae-yong. Dengan adanya dua laga uji coba ini sangat bagus untuk melihat perkembangan pemain demi hasil terbaik saat melawan Australia nanti,” kata Iriawan. Dua uji coba ini akan berlangsung di Republican Central Stadium Dushanbe, Tajikistan. Venue stadion tersebut sama saat Indonesia akan melawan Australia pada 27 dan 30 Oktober mendatang. Grup G Kualifikasi Piala AFC U-23 2022 hanya diisi Indonesia dan Australia saja. Hal ini setelah Brunei Darussalam dan Tiongkok mengundurkan diri.

Bocah Ajaib Ini Pecahkan Rekor Boaz Salossa

Bocah Ajaib Ini Pecahkan Rekor Boaz Salossa

Tim sepak bola Papua akhirnya sukses mengalahkan tamumya Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) di laga final Pekan Olahraga Nasional (PON) XX. Laga yang berlangsung di Stadion Mandala Jayapura, Kamis petang (14/10/2021) itu berakhir dengan skor 2-0. Adalah sang kapten, Ricky Ricardo Cawor yang membuyarkan ambisi anak-anak asuhan Fakhri Husaini membawa medali emas ke Tanah Rencong. Pada laga ini, mantan juru gedor Persemi Mimika ini memborong dua gol. Satu lewat titik putih di menit ke-4 setelah terjadi pelanggaran pemain belakang Aceh, satu lagi lewat sepakan kerasnya dari luar kotak pinalti di menit ke-22, memaksa penjaga gawang Chairil Zul memungut bola dari gawangnya. Tambahan koleksi dua gol di partai final ini membuat Ricky mencatatkan namanya sebagai top skor sepak bola putra PON XX Papua dengan 11 gol. Sekaligus, ia juga menorehkan rekor sebagai striker paling produktif sepanjang PON digelar sejak tahun 1948 di Solo. Capaian Ricky melewati seniornya Boaz Salossa pada PON XVI Palembang 2004 dengan 10 gol, dan David Saidui pada PON XII 1993 Jakarta dengan 9 gol. Ricky mencetak dua gol pada laga final menghadapi Aceh pada Kamis (14/10). Sisanya dua gol saat semifinal melawan Kalimantan Timur dan tujuh gol pada fase grup. Seperti anak-anak Papua pada umumnya, Ricky menyukai sepak bola. Hari-harinya tak pernah lepas dari sepak bola, meski juga tak pernah ikut sekolah sepak bola (SSB). Saat memasuki usia 15, Ricky mulai tampil dalam ajang tarikan kampung atau tarkam. Ia bergabung dengan Gelora Putra FC dan sering juara serta jadi top skor. Hal ini yang membuat namanya mulai dikenal. Beberapa klub Liga 3 Papua pun memintanya bergabung. Seperti dapat durian runtuh pada 2017 ia dipinang Persimer Merauke. Tak disangka bergabung dengan Persimer membuat pemuda kelahiran Merauke, 26 Januari 1998 ini mulai mencuri perhatian klub-klub Liga 3 Papua. Musim berikutnya Ricky memutuskan keluar kampung dan membela Persemi Mimika untuk Liga 3 2018. Pelatih Persemi saat itu, Eduard Ivakdalam, yang mengajaknya bergabung. Ketertarikan Edu dengan Ricky bermula dari laga Persimer kontra Persewar pada 31 Juli 2017. Mantan kapten Persipura ini terpikat dengan Ricky meski Persimer kalah 0-3. Semusim ditangani pelatih yang dipanggil ‘paitua’ tersebut di Persemi, kualitas Ricky makin matang. Persipura, Barito Putera, hingga Bhayangkara FC tertarik merekrutnya. Setelah berdiskusi dengan sejumlah pihak, termasuk Edu, Ricky memilih tak menjadi pemain profesional. Edu berjanji mengajaknya masuk tim Papua untuk PON 2021. Tak hanya masuk menjadi bagian tim Papua, Ricky juga dipilih menjadi kapten tim. Kematangannya sebagai striker dapat arahan yang tepat dan mendalam dari Edu. Aksi memikat pun konsisten ditunjukkan Ricky di PON Papua. Puncaknya Ricky berhasil meraih gelar top skor dan membawa Papua juara untuk kali ketiga di cabor sepak bola PON. Luar biasa!

Sosok Ini Curi Perhatian Menpora Usai Sabet 3 Medali Emas Pada Debut PON

Sosok Gladies Yang Curi Perhatian Menpora Usai Sabet 3 Medali Emas di Debut PON

Atlet loncat indah asal Jawa Timur, Gladies Lariesa Garina Haga Kore berhasil meraih tiga medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021. Lebih hebatnya lagi, Gladies saat ini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Siswi kelas IX SMPN 40 Kota Surabaya ini meraih 1 medali emas dalam kategori 10 meter dari menara putri, kemudian 1 medali emas dalam kategori papan 3 meter putri, dan 1 medali emas dalam kategori papan 1 meter putri. Tak heran, Gladies pun mencuri perhatian Menpora Amali. Dalam konpers daring, Sabtu (16/10/2021), Menpora secara tidak langsung menyebutkan Gladies yang memborong tiga medali emas. “Ada seorang atlet 15 tahun mampu membawa pulang lebih dari satu emas. Ini sangat bagus sebab PON jadi arena untuk atlet muda (meraih prestasi), sesuai dengan tujuan PON.” ujar Menpora. Ada fakta lain yang tak kalah mencengangkan. PON XX Papua 2021 merupakan debut pertama bagi Gladies Larisa Garina di ajang pesta olahraga terbesar di tanah air ini. Ditemui usai ceremony pengalungan medali, gadis 15 tahun ini mengaku tidak menyangka akan meraih tiga medali emas. “Alhamdulillah, rasanya tidak menyangka karena saya baru pertama kali ikut PON dan berhasil mengalahkan senior-senior saya,” ucapnya dilansir dari laman resmi PB PON XX Papua, Jumat, 15 Oktober 2021. Gladies juga gak menyangka di semua nomor pertandingan yang diikutinya berhasil dengan raihan emas. Ia menambahkan, prestasi yang diraih semuanya telah sesuai dengan target. Lebih lanjut, Gladis menyebutkan medali emas yang diperolehnya ini akan dipersembahkan pertama untuk Jawa Timur, lalu buat kedua orangtua, dan sekolahnya.

5 Calon Andalan Timnas U-23 di Kualifikasi Piala Asia

Timnas Sepak Bola Indonesia U-23 akan tampil di Grup G Kualifikasi Piala Asia U-23 2022 yang digelar di Tajikistan pada akhir Oktober nanti. Berikut 5 calon andalan Timnas Indonesia U-23 di Kualifikasi Piala Asia U-23 2022. Pelatih Timnas Indonesia U-23 Shin Tae Yong memanggil 33 pemain untuk persiapan Kualifikasi Piala Asia U-23 di Tajikistan. Sayang, tiga pemain Timnas Indonesia U-23 yaitu Egy Mualana Vikri, Syahrian Abimanyu, dan Saddil Ramdani dipastikan tidak bisa ambil bagian dalam Kualifikasi Piala Asia U-23. Egy Maulana dan Syahrian Abimanyu tidak mendapatkan izin oleh klubnya untuk bergabung dengan Timnas Indonesia U-23 di Kualifikasi Piala Asia U-23 lantaran ajang ini di luar agenda FIFA Match Day. Sedangkan, Saddil Ramdani tidak dapat bergabung dengan timnas karena cedera. Meski demikian, Timnas Indonesia U-23 masih memiliki beberapa pemain yang bisa diandalkan pada pertandingan Kualifikasi Piala Asia U-23 nanti. Selain masih diperkuat nama-nama beken seperti Amiruddin Bagus Kahfi, Asnawi Mangkualam, Witan Sulaeman, dan Rachmat Irianto, Timnas Indonesia U-23 juga memiliki beberapa pemain lain yang bisa menjadi andalan di Kualifikasi Piala Asia U-23 nanti. Berikut 5 Calon Andalan Timnas U-23 di Kualifikasi Piala Asia U-23: 1. Natanael Siringo Ringo (Kelantan FA) Penampilan bersinar bersama klub Divisi Dua Liga Malaysia, Kelantan FA, membuat Natanael Siringo Ringo dipanggil oleh Shin Tae Yong untuk memperkuat Timnas Indonesia U-23. Natanael dikenal merupakan pemain yang memiliki kecepatan, skill, ketajaman, dan mampu bermain di posisi gelandang, winger, atau penyerang. Kehadiran Natanael di Timnas Indonesia U-23 diyakini bakal memberikan warna baru bagi permainan tim di Kualifikasi Piala Asia U-23 nanti. Walaupun, Natanael masih harus bersaing dengan beberapa pemain berkualitas di posisi winger seperti Witan Sulaeman, Ramai Rumakiek, atau Gunansar Papua Mandowen. 2. Beckham Putra Nugraha (Persib) Gelandang muda Persib Beckham Putra Nugraha telah menunjukkan kontribusi besar untuk Tim Maung Bandung di Liga 1 2021. Pemain berusia 19 ini telah menyumbang dua gol dan satu assist dari enam pertandingan yang dilakoni bersama Persib di Liga 1 musim ini. Catatan gemilang Beckham di Liga 1 2021 ini diyakini juga akan membuatnya mendapat kepercayaan lebih dari Shin Tae Yong saat memperkuat Timnas Indonesia U-23. Beckham adalah pemain yang dikenal memiliki kelincahan, visi bermain yang baik, skill, dan punya naluri mencetak gol yang tinggi. 3. Marselino Ferdinan (Persebaya) Nama Marselino Ferdinan mencuat saat tampil apik bersama Timnas Indonesia U-15 di Piala AFF U-15 2019. Kini, kehadiran Marselino Ferdinan diyakini akan menambah kekuatan lini tengah Timnas Indonesia U-23. Gelandang Persebaya berusia 17 ini dikenal adalah pemain yang memiliki visi bermain yang baik, skill, punya penetrasi yang baik, dan memiliki ketajaman. Meski usianya masih muda, Marselino kini menjadi andalan Persebaya di Liga 1. Adik kandung dari gelandang Persebaya Oktafianus Fernando itu sejauh ini telah tampil di lima pertandingan Persebaya di Liga 1. Potensi Marselino juga diakui oleh media Inggris, The Guardian, yang memasukkan namanya dalam 60 wonderkid terbaik di dunia. 4. Ramai Melvin Rumakiek (Persipura) Liga 1 2021 menjadi panggung bagi gelandang muda Persipura, Ramai Rumakiek. Pemain berusia 19 ini sukses menunjukkan penampilan gemilangnya saat debut di Liga 1 musim ini. Ramai Rumakiek telah menempatkan dirinya menjadi pemain andalan dari pelatih Persipura Jacksen Ferreira Tiago. Ramai kini telah mencetak satu gol dari lima penampilannya di Liga 1 2021. Penampilan gemilang di Liga 1 2021 juga telah mengantarkannya ke Timnas Indonesia. Ramai telah melakoni debut di Timnas Indonesia di bawah asuhan Shin Tae Yong saat Tim Garuda mengalahkan Taiwan 2-1 di leg pertama playoff Kualifikasi Piala Asia 2023, 7 Oktober lalu. Dalam laga debut tersebut, Ramai sukses mencetak satu gol dan menjadi gol pembuka Indonesia saat mengalahkan Taiwan. 5. Ronaldo Joybera Junior Kwateh (Madura United) Ronaldo Joybera Junior Kwateh telah menunjukkan sinarnya di Liga 1 2021. Dia menjadi salah satu pemain termuda Liga 1 2021 dengan usia 16. Meski masih terbilang muda, Ronaldo Kwateh mampu merebut tempat utama dalam skuad bertabur bintang di Madura United. Ronaldo selalu tampil dalam enam pertandingan Madura United di Liga 1 2021. Penampilan regulernya di Liga 1 diyakini semakin mengasah kemampuan serta mental anak kandung dari mantan penyerang asing di Liga Indonesia, yakni Roberto Kwateh tersebut. Ronaldo bisa menjadi opsi terbaik untuk mengisi posisi penyerang tengah atau winger di Timnas Indonesia U-23 asuhan Shin Tae Yong. Sumber: CNN Indonesia

Tiba di Tajikistan, Timnas U-23 Indonesia Langsung Latihan

Tiba di Tajikistan, Timnas U-23 Indonesia Langsung Latihan

Tim Nasional Sepak Bola Indonesia U-23 telah tiba di Dushanbe, Tajikistan pada Kamis (14/10) pagi waktu setempat. Begitu sampai di Bandara Dushanbe, Garuda Muda langsung menuju ke hotel. Timnas U-23 total melakukan perjalanan selama 40 jam dari Buriram, Thailand pada Selasa (12/10) kemarin hingga ke Dushanbe dan sempat transit di Istanbul, Turki. Selain itu ada sejumlah pemain yang melakukan perjalanan dari Jakarta pada waktu yang sama. Suhu udara di Tajikistan saat ini sudah dingin sekitar 13-16 derajat celcius. “Setelah melakukan perjalanan panjang ke Tajikistan dan tiba di hotel, pemain langsung sarapan dan istirahat sebentar. Sore ini, kami langsung menjalani latihan perdana disini,” kata pelatih timnas U-23, Shin Tae-yong. Seperti diketahui, selama di Tajikistan, Indonesia U-23 akan melakoni babak kualifikasi Piala AFC U-23 2022. Indonesia berada di Grup G Bersama Australia dan Tiongkok, dan Brunei Darussalam. Namun, Tiongkok dan Brunei memutuskan mundur. Kini hanya tersisa Indonesia dan Australia. Sebelum menjalani laga kualifikasi Piala AFC U-23, Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan akan menjalani pemusatan latihan plus agenda uji coba disini. Uji coba perdana akan melawan tuan rumah Tajikistan U-23 pada 19 Oktober mendatang. “Alhamdulillah setelah melakukan perjalanan yang panjang kami akhirnya sampai di Tajikistan. Kondisi kami baik-baik saja dan langsung beristirahat untuk persiapan latihan nanti sore,” kata kiper timnas U-23, Muhammad Riyandi. Untuk saat ini, pemusatan latihan timnas U-23 di Tajikistan berkekuatan 29 orang. Hal ini karena Egy Maulana, Syahrian Abimanyu, dan Rachmat Irianto telah kembali ke klub mereka masing-masing. Sementara, Saddil Ramdani batal bergabung karena mengalami cedera.

Basketball Champions League dan WSC Sports Memperpanjang Kemitraan Hingga 2024

BCL, bersama dengan pemegang hak siaran dan pemasaran resminya SPORTFIVE akan bekerja sama dengan WSC Sports

MIES (Swiss) / TEL AVIV (Israel) – Basketball Champions League dan WSC Sports, pemimpin global dalam teknologi video olahraga berbasis kecerdasan buatan (AI), hari ini mengumumkan perpanjangan kemitraan mereka untuk menghadirkan sorotan video real-time otomatis ke BCL hingga 2024. BCL, bersama dengan pemegang hak siaran dan pemasaran resminya SPORTFIVE akan bekerja sama dengan WSC Sports untuk memberikan BCL pendekatan digital yang inovatif, mengotomatiskan sorotan dan konten untuk situs web mereka, saluran media sosial, dan banyak lagi. Sebelumnya pada tahun 2021, SPORTFIVE menjadi agensi eksklusif yang mengelola serangkaian gabungan pemasaran dan hak media global untuk BCL. Berkat produksi TV tingkat tinggi dan kerja sama yang baik dengan semua penyiar, kemitraan ini juga akan melengkapi penawaran penyiaran dan meningkatkan cakupan kompetisi, memberikan pengalaman terbaik kepada semua penggemar. BCL dan WSC Sports, yang juga merupakan mitra lama FIBA, telah bekerja sama sejak 2016, membantu membuat konten yang dipersonalisasi dan memperluas jangkauan BCL. Dalam lima musim kompetisi, hampir 250 juta tayangan video telah dihasilkan, menampilkan kolaborasi yang sukses ini, tetapi juga antusiasme yang sangat besar di antara klub, para penggemar, serta para pemain yang sangat menghargai fitur ini. “Kami sangat senang untuk melanjutkan hubungan jangka panjang kami dengan Liga Champions Bola Basket. Kami memiliki visi bersama untuk memperluas pengalaman bola basket pertama penggemar BCL untuk terlibat dengan lebih banyak penggemar dan lebih banyak titik kontak di seluruh Eropa. Kami juga berharap ini hanya yang pertama dari banyak peluang dengan tim BCL,” kata Ben Mirvis, Business Development, WSC Sports. CEO Liga Champions Bola Basket Patrick Comninos mendukung kemitraan dengan WSC “Dengan senang hati kami mengumumkan perpanjangan perjanjian dengan WSC, pemimpin global dalam pembuatan video olahraga otomatis,” katanya. “Teknologi mutakhir mereka di bidang ini telah berperan penting dalam kesuksesan digital dan pertumbuhan keterlibatan penggemar di kompetisi kami, dan kami senang melanjutkan kolaborasi kami untuk memenuhi permintaan konten video yang terus meningkat dari klub, pemain, dan penggemar.”

Luar Biasa! Bocah 13 Tahun Debut di Liga Profesional AS

Luar Biasa! Bocah 13 Tahun Debut di Liga Profesional AS

Sejarah baru tercipta di laga divisi dua Amerika Serikat antara Real Monarchs vs Colorado Springs Switchbacks. Ada pemain yang debut di umur 13 tahun. Pemain tersebut bernama Axel Kei. Dia merupakan bintang muda Real Monarchs yang lahir di Pantai Gading, tapi migrasi ke California, Amerika Serikat, sejak masih kecil. Kei merupakan produk binaan akademi Real Salt Lake, klub induk Real Monarchs. Dia mengantarkan tim U-15 Real Salt Lake menjuarai MLS NEXT CUP pada Juli 2021, serta mencatatkan diri sebagai top skor dengan 15 gol. Ketajaman Axel Kei di depan gawang mengantarkan dia promosi ke tim utama Real Monarchs. Sejarah pun tercipta saat Real Monarchs menjamu Colorado Springs Switchbacks dalam lanjutan United Soccer League (liga divisi dua AS) di Zions Bank Stadium, Jumat (8/10/2021) malam waktu setempat. 61' – Double change incoming: Wood and Nydegger🔽🔼Halsey and Kei making his professional debut at 13 years 9 months and 9 days 🤯#SLCvCOS | 0-0 — Real Monarchs (@RealMonarchs) October 9, 2021 Kei menjalani debutnya bersama Real Monarchs sebagai pemain pengganti di menit ke-61. Mengenakan nomor punggung 85, Kei masuk menggantikan Bobby Wood yang berposisi sebagai striker. Debut Kei bersama Real Monarchs gagal diwarnai dengan kemenangan. Tim tuan rumah dipaksa bermain imbang tanpa gol oleh Colorado Springs Switchbacks pada akhir laga. United Soccer League mencatat, Kei menjadi pemain termuda yang melakoni debut dalam sejarah liga profesional AS. Kei berumur 13 tahun, 9 bulan dan 9 hari ketika bermain di laga Real Monarchs vs Colorado. Axel Kei mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang mantan bintang AS, Freddy Adu. Striker berdarah Ghana itu debut di umur 14 tahun bersama tim Major League Soccer (divisi utama AS), D.C. United, pada April 2004.

Belum Genap 17 Tahun, Nabilah Sabet Medali Perak PON XX

Belum Genap 17 Tahun, Nabilah Sabet Medali Perak PON XX

PON XX Papua 2021 memang selalu menghadirkan kejutan, terutama untuk atlet-atlet muda yang menjadikan ajang PON sebagai pembuktian menjadi yang terbaik, sekaligus mengalahkan seniornya. Salah satu kejutan besar terjadi di cabang olahraga renang artistik di nomor solo yang bertanding di Stadion Akuatik Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, Selasa 05 Oktober 2021. Nomor solo open final artistic swimming PON XX Papua ini diikuti enam atlet terbaik dari enam provinsi yang telah lolos seleksi. Mereka merupakan atlet-atlet yang pernah tergabung di tim nasional, dan sebagian besar membela Indonesia di ajang Asian Games 2018 Jakarta. Namun ini tidak membuat nyali putri Ambon ciut, Nabilah Marwa Umarella. Usianya baru 16 tahun, belum memiliki KTP atau Kartu Tanda Penduduk. Justru melawan atlet senior, Nabilah yang akrab disapa Lala semakin percaya diri. “Memang sebenarnya perasaan saya awalnya deg-degan, ada groginya. Ini PON dan saya membawa nama besar kontingen Yogyakarta. Tapi saya tetap fokus untuk bertanding melupakan lawan, fokus pada diri sendiri,” ucap Lala yang lahir 24 Oktober 2004. Tidak hanya muda atletnya, Pelatihnya Ocha, juga pelatih kepala paling muda diantara pelatih kepala daerah lainnya. Ada dua nomor solo technical routine dan solo free routine, keduanya bernilai 50% kemudian digabung untuk mendapatkan nilai terbaik. Pada solo tecnical routine Nabilah atau yang akrab disapa Lala menari-nari di air diiringi lagu dari Meatlove berjudul ‘I Would do anything for love’ dan untuk free routine ada lagu Lathi – Weird Genius feat Sara Fajira, cover by Caramello Official. “Lagu pertama tentang kecintaan Lala pada renang artistik, yang melahirkan kekuatan untuk melewati segala tantangan yang ada. Jadi lagu dan koreografi menceritakan tentang nilai-nilai yang didapat dan akan terus dipegang di dunia olagraga, beserta cerita tentang tantangan-tantangan mempertahankan nilai-nilai tersebut,” ucap Pelatih Ocha. Usai lomba dewan juri akhirnya memberikan nilai kepada Lala dengan tota 71,3602 poin yang terdiri dari nilai technical routine 35,36015 ditambah nilai free routine 36,1. Dengan hasil ini Lala berhak membawa pulang medali perak untuk Kontingen D.I. Yogyakarta. Lala hanya kalah tipis dari sang juara Livia Lukito (Jatim) dengan total nilai 72,4986. Medali perunggu milik Nurfa Nurul Utami (Sulsel) dengan total nilai 71,13 poin. “Senang bisa mendapatkan perak. Saya berlatih setiap harinya di Yogya bersama klub JAQ Yogya. Ini semakin menambah motivasi saya untuk bisa terus berlatih mengejar prestasi dunia lainnya,” ujar Lala. “Ini jadi modal awal Lala, untuk terus giat berlatih karena target berikutnya Lala harus jadi nomor satu di Indonesia dan menggapai prestasi internasional,” harap kedua orang tuanya Muhamad Rizal Umarella dan Ully Pitaloka.

Asnawi Siap Berikan yang Terbaik untuk Indonesia

Asnawi Siap Berikan yang Terbaik untuk Indonesia

Jelang laga play off kualifikasi Piala Asia 2023 pada 7 dan 11 Oktober mendatang, pemain Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam Bahar mengatakan bahwa dirinya dalam kondisi fit. Saat ini, skuad Garuda sendiri sudah berada di Buriram, Thailand. “Sangat senang dan menikmati latihan bersama penggawa Timnas Indonesia hari ini. Saya dalam kondisi baik dan siap melawan Taiwan,” kata Asnawi. Pemain kelahiran 4 Oktober 1999 tahun tersebut menambahkan bahwa ia sudah melewati proses pemulihan cedera dengan baik. Apalagi ia bertekad membawa Indonesia lolos ke babak kualifikasi Piala Asia 2023 mendatang. “Insya Allah di pertandingan melawan Taiwan kita bisa melakukan apa yang diinginkan pelatih dan meraih hasil terbaik. Harapan saya, kami dapat meraih kemenangan melawan Taiwan,” ujar pemain asal klub Ansan Greeners, Korea Selatan tersebut. Laga Indonesia melawan Taiwan pada laga play off kualifikasi Piala Asia 2023 akan berlangsung di Stadion Chang Arena, Buriram, Thailand, Kamis (7/10). Pada peringkat FIFA, Taiwan saat ini berada di posisi 151 dengan raihan 1046 poin. Asnawi diprediksi akan menjadi pilihan utama pelatih Shin Tae-yong untuk mengisi sektor bek kanan Indonesia melawan Taiwan. Penampilannya yang konsisten dan penuh daya juang membuat ia belum tergantikan di posisi tersebut.

Silviana Sukses Sumbang Emas Cabor Biliar untuk Papua

Silviana Sumbang Emas Cabor Biliar untuk Papua

Silviana Lu sukses menambah medali emas Papua dari Cabang Olahraga Biliar pada nomor 10 ball single putri race to 7. Silviana butuh perjuangan berat untuk menaklukkan Pebiliar Jawa Barat Annita Kanjaya di partai final 10 ball single putri di Venue Biliar Timika, Rabu (6/10/2021). Keduanya saling berebut skor. Penonton yang memenuhi Gedung Biliar Timika juga dibuat tegang saat skor 6-6. Keduanya bersaing ketat mengakhiri pertandingan dengan kemenangan. Keberuntungan berpihak pada atlet kelahiran 29 September 1998 ini, karena terlebih dahulu menurunkan bola 10 dan dinyatakan sebagai pemenang. Skor berakhir 7-6 dengan kemenangan Silviana Lu. Setelah berhasil memasukkan bola kunci, Silviana langsung melompat kegirangan. Tangisnya memecah keharuan, apalagi saat bertanding keluarganya ikut menyaksikan secara langsung. Atlet berusia 23 tahun ini merupakan salah satu atlet biliar nasional yang pernah mewakili Indonesia pada Sea Games Philipine dan mendapatkan perunggu. Ia juga pernah mengikuti kejuaraan dunia. Silviana juga merebut dua medali emas pada PON Jabar 2016 ketika masih memperkuat Kalimantan Barat.

Berkat Kerja Keras dan Dukungan Sang Ibu, Rifda Borong Empat Medali Emas

Berkat Kerja Keras dan Dukungan Sang Ibu, Rifda Borong Empat Medali Emas

Rifda Irfanaluthfi berhasil memenuhi targetnya untuk membawa pulang empat medali emas senam artistik PON Papua. Emas keempatnya diraih di Istora Papua Bangkit, Senin, 4 Oktober 2021, lewat penampilannya di nomor lantai. Pesenam berusia 21 tahun tersebut mengungguli 7 peserta lainnya termasuk satu perwakilan dari DKI Jakarta, serta dari Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Papua. Sebelumnya, Rifda sudah menyabet tiga medali emas yang berasal dari beregu, serba bisa perorangan putri, dan meja lompat. Tentu kemenangan itu menjadi suatu kebanggaan karena untuk nomor beregu putri setelah 25 tahun vakum, DKI Jakarta yang memutuskan kembali ikut ambil bagian dalam nomor itu justru mendapatkan kemenangan tertinggi. Kemenangan itu pun berhasil menjawab harapan Rifda yang memang sudah langganan memenangkan medali di setiap perlombaan yang ia ikuti. Di balik laguh lagah kegiatan para atlet senam yang berlangsung di arena Istora Papua Bangkit, ada banyak dukungan dari anggota tim lainnya hingga keluarga atlet yang hadir di bangku penonton hingga akhirnya para juara bisa muncul di PON XX Papua. Bagi Rifda, salah satu sistem pendukungnya yang paling setia yaitu ibunya Yulies Andriana telah mengirimkan energi baik yang akhirnya bisa membuatnya meraih prestasi gemilang di PON XX Papua. “Kalau ada bunda, aku tampil lebih tenang dan lebih fokus,” kata Rifda saat diwawancarai seusai menyelesaikan penampilannya. Ia pun dengan bangga mengenalkan sang bunda kepada awak media dan akhirnya kami pun bercengkrama mendengar sepotong kisah perjuangan ibu Yulies mengawal Rifda untuk tampil pada PON pertama yang diselenggarakan di Bumi Cendrawasih. Sudah menjadi semacam tradisi bagi Yulies yang kini berusia 53 tahun untuk menyaksikan Rifda bertanding menjadi seorang atlet. Berbagai arena perlombaan skala regional, nasional, hingga internasional sudah pernah ia sambangi untuk memberikan energi baik kepada putrinya kala berkompetisi sebagai seorang pesenam. Ia bahkan pernah menjadi satu-satunya pendukung Rifda dan Indonesia di ajang SEA Games Malaysia pada 2017 yang mengantarkan Indonesia meraih medali emas. Oleh karena itu, pada perhelatan PON Papua Yulies tak mau tertinggal untuk kembali mendukung Rifda. Awalnya Yulies memang urung untuk datang ke Papua karena harus merawat ibunya yang mengalami sakit keras jauh hari dari waktu PON XX digelar. Namun takdir berkata lain, sang ibu tutup usia mendekati pelaksanaan pesta olahraga skala nasional empat tahunan itu. Dalam kondisi itu, Yulies pun masih sangat ingin mendampingi putrinya dan mencari cara agar bisa tiba di Bumi Cendrawasih sebelum Rifda dan tim DKI Jakarta bertanding pada 1 Oktober. Setelah proses pencarian yang begitu mendadak dan tak gampang, Yulies akhirnya berhasil mendapatkan tiket untuk terbang satu hari sebelum pertandingan senam artistik digelar. Ia pun sangat bersyukur dan optimistis anaknya bisa gemilang di perhelatan PON XX Papua. “Bagi saya menerima rapor itu biasa, tapi ikut mendampingi anak ke sebuah pertandingan menjadi sesuatu yang saya tunggu-tunggu,” katanya.

PON XX Pembuktian Prestasi Atlet Muda, Kemenpora Fokus Pada Cabang Olahraga DBON

PON XX Pembuktian Prestasi Atlet Muda, Kemenpora Fokus Pada Cabang Olahraga DBON

Sesuai dengan isi yang ada dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) terkait pembinaan atlet dan fasilitas olahraga di daerah, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali, berharap fasilitas PON XX bisa terjaga dengan baik agar bisa mewujudkan pembinaan atlet di masa mendatang. Hal itu disampaikan Amali usai meninjau langsung jalanya beberapa pertandingan PON XX Kamis (30/9/2021) petang kemarin. Amali menilai PON ini adalah ajang bagi atlet-atlet muda untuk menunjukkan prestasi yang terbaik sementara untuk atlet senior bisa digunakan untuk menjaga performa. “Sesuai dengan isi DBON, fasilitas yang ada di PON XX Papua ini sudah sangat luar biasa yang memiliki standart internasional. Saya harap setelah PON ini, fasilitasnya bisa terjaga dengan baik dan ada tim khusus yang menangani fasilitas PON,” kata Amali dilansir dari laman resmi Kemenpora.go.id Jumat (1/10/2021). Amali juga ingin ajang PON ini jadi pembuktian bagi atlet-atlet muda seluruh Indonesia untuk menunjukkan prestasi terbaiknya. “Saya ingin ada pecah rekor baru baik nasional atau internasional yang diukir atlet muda Indonesia. Ajang PON ini diharapkan jadi ajang pembuktian bagi atlet muda kita,” paparnya. Amali memang menjadikan DBON sebagai fondasi untuk pembinaan atlet muda Indonesia yang bisa melahirkan prestasi tertinggi di pentas dunia. PON sendiri menurutnya sebagai ajang kompetisi nasional yang diharapkan bisa melahirkan atlet muda berprestasi. Karena itu Amali selama PON akan melihat langsung pertandingan, khususnya cabang olahraga yang masuk dalam DBON. “Saya akan datang ke cabor untuk melihat pertandingan, khususnya pertandingan cabor yang masuk dalam DBON. Saya ingin PON ini digunakan sebagai wadah pembinaan dan pembibitan atlet-atlet muda Indonesia. Dari sini mereka harus bisa melahirkan prestasi agar bisa masuk menjadi atlet pelatnas,” tutup Amali.

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

Harapan Btari Bela Swatitis Memajukan Wushu di Papua

“Saya mulai detik ini menjadi atlet Papua.” Kalimat itu kembali ditekankan oleh Btari Bela Swatitis, seorang atlet muda cabang olahraga wushu yang baru pertama kali ikut serta di Pekan Olahraga Nasional. Btari unjuk kebolehan memperagakan jurus taiji tangan kosong dan pedang ketika menjalankan tugasnya mewakili tuan rumah di cabang olahraga wushu PON XX Papua klaster Merauke. Menjadi debutan tak membuat gentar perempuan kelahiran Surabaya pada 14 November 1998 itu menantang atlet-atlet wushu lebih berpengalaman dan yang datang dari berbagai daerah yang notabene merupakan unggulan di kompetisi seni beladiri asal negeri Tirai Bambu itu. “Tak akan gentar, karena kita semua sama-sama makan nasi lalu kenapa harus merasa gentar. Enggak ada yang perlu ditakutkan,” kata Btari saat ditemui setelah bertanding di GOR Futsal KONI, Merauke, Papua. Meski harus puas finis di peringkat paling buncit untuk nomor kombinasi taolu, namun tak semburat rasa kecewa di raut wajah sosok perempuan yang telah mengenal wushu sejak usia 12 tahun itu. Bagi Btari, kekalahan di ajang pesta olahraga multi cabang ini bukanlah akhir segalanya. Ia justru melihat momentum di Merauke ini menjadi titik awal untuk menata diri guna mengukir prestasi di ajang-ajang kompetisi wushu berikutnya. Berbekal pengalaman perdana di PON kali ini, semangat putri dari drs. Pujianto dan Siti Zuhaini itu justru semakin membara menatap kejuaraan selanjutnya. “Dari sini saya tahu lawan-lawannya seperti apa, saya semangat lagi karena sudah tahu kekurangannya,” kata dia. Perempuan yang lahir dan besar di Surabaya itu sekarang berdomisili di Merauke setelah dipanggil untuk membela tim wushu Papua pada 2018 silam. Ia pun baru menjalani setumpuk porsi latihan di Bumi Cenderawasih pada 2020 sebelum gejolak pandemi Covid-19 memukul dunia olahraga pada khususnya dan bahkan wabah virus corona ini membuat penyelenggaraan PON terpaksa mundur satu tahun. Cabang olahraga wushu itu sendiri sebenarnya masih tergolong jenis olahraga yang terasa asing di Tanah Papua dan Btari pun mengakui hal itu. “Wushu masih tergolong olahraga baru di sini, rata-rata orang di sini pun tidak tahu wushu itu apa,” kata Btari. Warga setempat yang penasaran dengan jurus-jurus wushu dapat menyaksikan Btari dan rekan-rekannya berlatih di pantai Lampu Satu, salah satu spot wisata favorit di Merauke. Akan tetapi dengan keterbatasan fasilitas seperti arena dan pelatih teknik, tim wushu taolu Papua harus terbang ke luar kota untuk memperdalam ilmu dan menyempurnakan jurus-jurus mereka. “Di Papua wushu memang termasuk jenis olahraga yang masih baru, sehingga kami tidak disediakan (arena) di Merauke, jika kami mau latihan teknik maka kami harus terbang ke Jawa Timur. Jadi di sini kami latihan fisik saja,” kata Btari. Meski wushu tergolong baru di Papua, tak sedikit warga setempat yang menyempatkan diri untuk menonton pertandingan nomor taolu di PON, dan tribun semakin semarak ketika nomor sanda dipertandingkan pada sesi siang. Sejumlah dari mereka bahkan memboyong sejumlah perangkat drum yang ditabuh untuk menyemangati atlet Papua yang bertanding dan tak jarang pula menghaturkan respek kepada atlet daerah lain apabila mereka mengalahkan wakil tuan rumah. Semangat para suporter mermbuat Btari punya keyakinan jika cabang olahraga wushu akan kian berkembang dan digandrungi masyarakat Papua terutama di kalangan generasi muda. Momen pesta olahraga empat tahunan nasional ini, menurut Btari adalah saat yang tepat untuk lebih mengenalkan wushu dan ia juga mengutarakan harapannya untuk ikut mempopullerkan wushu dan memajukan olahraga seni beladiri di bumi cendrawasih. “Harapan saya mulai hari ini dan seterusnya warga Papua, warga Merauke sudah lebih tahu wushu itu seperti apa. Jadi, untuk ke depannya saya berharap adik-adik saya yang junior itu dapat ikut latihan, jadi di Papua ini tidak cuma segelintir orang saja yang bisa berolahraga wushu,” ujar Btari. Apabila wushu mendapat tempat hati di warga setempat, Papua juga memiliki peluang mengirimkan wakil-wakil yang lebih banyak di kejuaraan tingkat nasional. “Jadi saya menyimpan harapan juga nantinya anak-anak kecil ini dibina, kita jadikan atlet wushu yang top dan mumpuni,” kata Btari. Wushu juga merupakan olahraga yang asyik, ungkap Btari, karena banyak mengajarkan gerakan-gerakan akrobatik yang memukau. Selain itu, wushu juga bisa dijadikan olahraga di masa senja, khususnya taiji yang banyak dipraktekkan oleh mereka yang rata-rata berusia di atas 60-70 tahun, dan bahkan masih bisa mengikuti kejuaraan di rentang usia tersebut. “Bukan hanya untuk prestasi tapi kebanggaan dan kesehatan juga. Dan rata-rata orang yang ikut wushu itu dia panjang umur karena dari kecil sudah diajarkan hidup sehat, bagaimana cara mengolah badan mereka sendiri,” pungkasnya.

Zahra Muzdalifah Masuk Nominasi Pemain Terbaik Kualifikasi Piala Asia Wanita

Zahra Muzdalifah Masuk Nominasi Pemain Terbaik Kualifikasi Piala Asia Wanita

Penyerang timnas putri Indonesia, Zahra Muzdalifah, masuk dalam daftar Pemain Terbaik versi AFC pada Kualifikasi Piala Asia Wanita 2022. Zahra Muzdalifah menjadi salah satu di antara enam pemain yang masuk dalam nominasi. Pemain kelahiran 4 April 2001 tersebut sukses mengantarkan Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia Wanita 2022 yang rencananya akan digelar di India pada bulan Januari mendatang. Pada rilis AFC, selain Zahra juga terdapat nama-nama beken pemain timnas wanita negara lainnya seperti Moon Mi-ra (Korea Selatan), Pham Hai Yen (Vietnam), Janista Jinantuya (Thailand), Behnaz Taherkhani (Iran), dan Chandler McDaniel (Filipina). “Inti dari keberhasilan Indonesia adalah penyerang 20 tahun, Zahra Muzdalifah. Pergerakannya yang cerdan dan umpannya yang presisi mampu menciptakan peluang untuk dirinya dan rekan setimnya dalam dua pertandingan (melawan Singapura),” tulis AFC, dikutip dari laman resmi PSSI. “Dia dengan jelas memperlihatkan kebahagiaan, kelegaan, dan kegembiraan, saat mengakhiri kebuntuan di kualifikasi dalam sebuah wawancara setelah pertandingan,” demikian pernyataan AFC saat mendeskripsikan peran Zahra di timnas putri Indonesia. Zahra mengaku bangga dan bersyukur atas apresiasi yang diberikan oleh AFC. “Alhamdulillah sangat senang masuk dalam nominasi Pemain Terbaik kualifikasi Piala Asia Wanita 2022,” kata Zahra. “Saya mohon dukungan dan vote dari semuanya. Ini menjadi penambah motivasi saya agar terus memberikan yang terbaik untuk timnas Indonesia,” tutur Zahra. Publik sepak bola Tanah Air bisa mendukung Zahra Muzdalifah untuk menjadi pemain favorit yang paling bersinar pada Kualifikasi Piala Asia Wanita 2022. Berikut tautan untuk memberikan dukungan kepada Zahra Muzdalifah: LINK.

Jalani Debut Level Senior, Viny Silfianus: Rasanya Campur Aduk!

Jalani Debut Level Senior, Vinny Silfianus: Rasanya Campur Aduk!

Viny Silfianus Sunaryo masih belum bisa berkata-kata saat dirinya ditunjuk pelatih Timnas Wanita Indonesia, Rudy Eka Priyambada menjadi starter pada laga melawan Singapura di leg pertama kualifikasi Piala Asia Wanita 2021 di Tajikistan Jumat (24/9) lalu. Selama 80 menit Viny dipercaya pelatih tampil untuk pertama kali dalam debutnya di Timnas Wanita. Pemain kelahiran 3 Juli 2003 ini merasakan langsung atmosfer pertandingan yang sesungguhnya, apalagi yang dihadapi merupakan laga krusial yang menentukan lolos tidaknya Timnas Wanita ke Piala Asia Wanita 2022. “Saat saya terpilih untuk dibawa ke Tajikistan, tentu rasa campur aduk saya rasakan. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang pasti bangga, senang dan terharu karena ini merupakan perjuangan dari awal pemusatan latihan (TC) pertama hingga ketiga. Semua terasa lengkap dan saya tak berhenti bersyukur diberi kepercayaan bermain selama 80 menit dalam debut saya di level senior,” ujar Viny. Memperkuat Timnas di level senior memang menjadi pengalaman pertama Viny selama bermain sepak bola. Namun sesungguhnya memperkuat skuad Garuda Pertiwi pada level kelompok usia sudah pernah ia rasakan, tepatnya saat memperkuat Timnas Putri U-15 pada ajang Piala AFF U-15 di Laos pada 7-20 Mei 2017 silam. Namun penampilannya di level senior saat mengikuti kualifikasi Piala Asia inilah yang menjadi momen tak terlupakan sepanjang karirnya “Ketika masuk sebelas pertama di laga leg pertama, bangga dan tidak menyangka saya rasakan secara bersamaan. Rasanya saya benar-benar mendapatkan kepercayaan pelatih untuk berjuang dan dari situ saya ingin buktikan bahwa pilihan pelatih tidak salah. Saya harus tampilkan yang terbaik dan rasanya senang di laga kualifikasi kemarin bisa berkontribusi untuk tim,” lanjut Viny. Viny memang berkontribusi pada kemenangan skuad Garuda Pertiwi di laga leg pertama kontra Singapura. Dirinya menyumbangkan satu assist, atas gol yang dicetak oleh Baiq Amiatun saat laga baru berjalan empat menit. Bermain dengan motivasi tinggi menjadi bekal Viny yang juga memperkuat skuat tim sepakbola putri DKI Jakarta untuk gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON). “Sempat galau karena harus meninggalkan tim DKI Jakarta saat PON sudah di depan mata. Tapi ini adalah momen membela negara, saya harus bermain bagus, mengurangi kesalahan sendiri, membanggakan keluarga dan orang tua dirumah, dan jika Allah berkehendak, saya ingin membawa Indonesia lolos dari babak kualifikasi dan bertanding di Piala Asia Wanita 2022 di India,” ungkapnya. Di Timnas Wanita, Viny menggunakan nomor punggung 20. Ada sedikit rasa sedih karena dirinya tidak menggunakan angka 19, angka yang dirasa selalu membawa keberuntungan untuknya. Ternyata di balik angka 19, ada alasan tersendiri yang membuat nomor itu spesial di mata Viny. “Nomor 19 akan selalu menjadi angka favorit saya, karena 19 selalu saya artikan sebagai tahun 2019. Tahun berarti saya karena banyak momen comeback di dunia sepakbola, seperti memperkuat tim Persija putri untuk Liga 1 Putri, masuk tim Putri DKI Jakarta untuk kompetisi Pra PON dan PON, hingga menjadi kapten saat bermain di Liga 1 lalu. Tahun penting buat saya,” jelas Vinny yang baru saja diterima di Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Jasmani tahun 2021 ini. “Tim ini sudah menjadi keluarga bagi saya. Rasa kekeluargaan begitu kental karena kita sudah melewati suka duka bersama ketika berada di TC. Saya harap perjuangan kami tidak sia-sia dan kami bisa lolos ke Piala Asia Wanita tahun depan,” tutup Viny.

Berkenalan Dengan Althaf Juara Nasional Kempo Asal Cirebon

Berkenalan Dengan Althaf Juara Nasional Kempo Asal Cirebon

Meski usianya masih muda, tidak menghalangi Althaf Akbar Wiadhyaksana untuk berprestasi. Sejumlah medali dan penghargaan berhasil ia raih berkat ketekunan dalam berlatih dan teknik tingkat tinggi yang dimilikinya. Lahir di Cirebon, 7 Mei 2010, Althaf menekuni olahraga kempo sejak usia lima tahun. Sejumlah prestasi didapat oleh siswa kelas VI di SDN Ketilang, Kota Cirebon tersebut. Yakni, juara dua Kejuaraan Nasional Kempo Tahun 2019 untuk divisi kata perorangan putra junior. Selain itu, juara dua Kejuaraan NBKO Kempo Nasional Tahun 2020 kategori kata beregu putra. Juara dua National Kempo Championship Tahun 2021 untuk divisi kata under IKF Rule. Serta juara pertama National Kempo Championship Tahun 2021 untuk divisi semikempo (tarung) kategori pra kadet putra. Alasan utama Althaf menekuni olahraga kempo adalah karena untuk bela diri, ingin berprestasi, bisa juara dan mengibarkan bendera Merah-Putih pada event kempo internasional. “Dalam kempo, gerakannya merupakan teknik tingkat tinggi, efektif untuk membela diri dalam segala situasi,” kata Altaf, dilansir dari Radar Cirebon. Oleh sebab itu, dia saat ini rajin berlatih, berusaha keras sekuat tenaga, serta berdoa. “Kalau dapat juara, itu anugerah dari Allah SWT,” ujar atlet yang juga hobi bersepeda, futsal dan badminton tersebut. Ketua National Kempo Federation of Indonesia (NFKI) Kota Cirebon, Bhakti Adhyaksana menyebut bahwa Althaf adalah atlet muda yang berpotensi. Gerakan-gerakannya sangat bagus dalam pertandingan. “Dia rajin latihan, punya kemampuan bagus untuk anak seusianya. Kalau dikembangkan, tidak menutup kemungkinan Kota Cirebon punya petarung kempo andalan,” ujar Bhakti Adhyaksana. Ke depan, dia berharap, Althaf bisa mempersembahkan prestasi bagi Kota Cirebon. Caranya adalah dengan melakukan pembinaan secara terus menerus. “Kami yakin, dengan pembinaan yang terus menerus, para atlet usia dini bisa berprestasi. Dan pada akhirnya, Kota Cirebon akan dikenal lewat olahraga kempo,” ungkapnya. Agar keyakinannya terkabul, Bhakti memohon dukungan semua pihak agar kempo lebih berkembang di Kota Cirebon, serta berprestasi di tingkat dunia. “Kempo berkembang karena ada dukungan semua pihak,” pungkasnya.