Kenal Catur di Pos Ronda, Bocah SD Bernama Aditya Kini Menjadi Candidate Grandmaster Catur

Aditya-Bagus-Arfan-Catur

Jakarta – Beranilah bermimpi. Kata itu mungkin punya makna bagi Aditya Bagus Arfan. Melalui catur, olahraga yang digelutinya sejak berusia 4,5 tahun, ia memiliki mimpi besar menjadi Grandmaster di tahun 2025. Adit, begitu sapaan akrabnya, kini menyandang gelar Candidate Master dengan Elo rating 2.023. Dan, untuk bisa meraih titel Grandmaster, pecatur berusia 11 tahun itu harus mencapai norma GM sebanyak tiga kali serta menaikkan rating Elo-nya hingga 2.500. Mimpi siswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD) Islam Terpadu (IT) Global Insani, Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar) itu sepertinya tanpa hambatan. Sebab, salah satu perusahaan distribusi kendaraan berat di Tanah Air siap memuluskan langkahnya. Kini, Adit tengah bersiap mengikuti turnamen catur internasional ‘Asian Youth Chess Championship’ di Chiang Mai, Thailand, 13-21 April 2018, dan ‘World School Chess Championship’ di Durres, Albania, 20-29 April 2018. “Target mau-nya sih juara April nanti. Selain itu ingin menjadi Grandmaster. Persiapannya paling belajar dan melihat video permainan pecatur dunia,” ujar pecatur kelahiran Bekasi, Jabar itu saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu. Perkenalan pertama Adit dengan catur bermula dari melihat warga yang bermain catur di pos ronda yang berjarak tak jauh dari rumah sang Kakek. Selepas itu, ia memaksa sang Kakek untuk mengajarinya bermain catur. “Pertama melihat catur langsung senang. Mainnya juga saling menyerang. Terus pakai strategi juga. Jadi makin ketagihan,” sambung anak pertama dari dua bersaudara itu. Keseriuasan menggeluti catur ia tunjukkan dengan belajar dari berbagai sumber. Mulai dari buku, bermain catur di komputer, hingga menonton aksi pecatur kelas dunia di YouTube. Sampai akhirnya, Eka Prasaja, sang ayah, memasukkan Adit ke sekolah catur Utut Adianto. Mengikuti berbagai turnamen catur baik tingkat nasional maupun internasional membuat kemampuannya makin teruji. Meski, diakui, dirinya kerap mengalami kekalahan di awal-awal mengikuti turnamen, namun itu dijadikan pelajaran berharga untuk terus mengasah kemampuannya hingga bisa meraih hasil yang terbaik. “Awal-awal ikut kejuaraan kalah terus. Lalu saya belajar terus dan akhirnya bisa menang di beberapa turnamen catur,” papar pehobi renang itu. Seiring berjalannya waktu, prestasi Adit makin bersinar. Di tingkat nasional, ia meraih juara 1 Kejuaraan Nasional U-9 pada 2013, hingga juara 1 Japfa Chess Festival U-14 pada 2016. Sementara, di level internasional, ia menyabet juara 1 Penang Int Challengger U-10 di Malaysia, pada 2016, serta juara 2 dan 3 Kejuaraan Asian School U-13 di China, pada 2017. “Turnamen yang paling berkesan itu di Olimpiade Children of Asia kelompok U-16 tahun 2016. Karena saya waktu itu masih umur 9 tahun dan menjadi atlet termuda disitu,” cetus pemilik akun instagram @pecaturcilik_aditya itu. (adt) Nama : Aditya Bagus Arfan Tempat / Tgl Lahir : Bekasi, 31 Oktober 2006 Sekolah : SD IT Global Insani (Kelas V) Gelar Saat Ini : Candidate Master Elo Rating Saat Ini : 2023 (Target Elo Rating untuk GM 2500) Website / Instagram : www.adityabagusarfan.net / @pecaturcilik_aditya Hobby : Catur dan Renang Prestasi Nasional : Juara 1 Kejuaraan Nasional U-9 (2013) Juara 1 Kejuaraan Nasional U-11 (2015) Juara 1 Festival Catur Pelajar U-11 (2016) Juara 1 Japfa Chess Festival U-14 (2016) Prestasi Internasiuonal : Juara 1 Penang Int Challenger U-10, Malaysia (2016) Juara 1 Kejuaraan ASEAN +Age U-10, Thailand (2016) Juara 2 dan 3 Kejuaraan Asian School U-13, China (2017)

Menpora : Dewi Yuliawati itu Atlet Hebat, Segera Kembali ke Pelatnas Asian Games untuk Raih Medali

menpora_jenguk_dewi_yuliawati

Jakarta-Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), menjenguk Dewi Yuliawati yang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (27/2/2018) malam. Atlet dayung andalan Indonesia itu mengalami luka bakar dibagian tangan dan kaki kanan-kiri serta dibagian wajah akibat sengatan listrik dari kabel milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat berlatih persiapan Asian Games 2018 di Situ Cileunca, Pengalengan, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. “Saya senang dan bangga. Kondisi Dewi semakin membaik. Semangat terus untuk dapat segera mengikuti Pelatnas kembali, dan terus mengejar mimpi kibarkan Merah Putih di Asian Games,” tukas ayah 7 anak itu. Imam menyebut pedayung berusia 21 tahun itu merupakan pejuang bagi rekan-rekannya. Ia menambahkan dengan insiden yang dialami Dewi semua harus berbenah, tanpa perlu menyalahkan pihak manapun. “Kabel-kabel listrik yang rendah dan membahayakan segera disingkirkan. Jangan remehkan sekecil apapun hal-hal yang membahayakan atlet dalam latihan. Dan, saya sudah dapat laporan kabel tersebut saat ini sudah diputus dan dipindahkan,” urai suami dari Shobibah Rohmah itu. Tak lupa, pria asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, RSUD Soreang, orang tua, serta rekan-rekan sesama Pelatnas yang telah sabar memberikan perawatan untuk Dewi. “Dewi itu atlet hebat. Saya optimis dapat segera kembali ke Pelatnas dan ikut Asian Games untuk mendapatkan medali. Dewi juga sudah menyampaikan ingin segera kembali ke Pelatnas. Semoga ini menjadi suntikan semangat baru bagi teman-temannya juga,” tegasnya. Terpisah, dokter bedah Dik Adi Nugraha, yang menangani Dewi, mengungkapkan semua perawatan berjalan baik, dan ditargetkan pekan kedua Maret seluruh jahitan sudah dapat dilepas. “Setelah dicek dengan alat pengukur massa otot bahwa ada kabar gembira kondisi otot sangat bagus di atas masa standart. Semoga tidak ada infeksi, saya targetkan minggu ke dua bulan Maret seluruh jahitan sudah dapat dilepas,” tukasnya. (adt)

Anthony Waspada Dalam Mengahadapi Duel Dengan Momotoa, Pemain Bulutangkis Terbaik Jepang

pebulutangkis_anthony_ginting

Jakarta – Pemain tunggal andalan Indonesia Anthony Ginting berpeluang berduel dengan pebulutangkis terbaik Jepang Kento Momota di babak pertama German Open 2018 BWF World Tour Super 300, pada 6-11 Maret. Pertemuan kedua pemain ini bisa terlaksana, bila Momota mampu lolos dari babak kualifikasi yang harus dilewatinya. Pebulutangkis asal Negeri Sakura itu diketahui baru kembali bermain setalah absen dari kompetisi selama satu tahun lebih. Sedangkan Anthony saat ini bertengger diperingkat sembilan dunia. Bisa dipastikan duel kedua pebulutangkis ini sangat dinanti di German Open 2018. “Pasti Momota mau balik lagi (ke jajaran top dunia). Walaupun dia sempat absen, saya harus tetap waspadai dia. Pertemuan terakhir kami sudah lama sekali, saya sudah lama tidak melihat permainannya secara langsung,” sebut Anthony seperti dikutip situs resmi PBSI, Selasa (27/2). “Senjatanya Momota itu adalah main sabar, dia mainnya ngatur. Mirip-mirip dengan Chen Long (Tiongkok), tetapi Chen Long postur tubuhnya lebih ‘galak’, jadi kalau salah arah pengembalian bola, bisa kehilangan poin. Menghadapi Momota, saya harus bermain lebih sabar,” sambungnya. Pada turnamen Badminton Asia Team Championships 2018, beberapa waktu lalu, penampilan Anthony tidak maksimal karena mengalami cedera pada engkel kanannya. “Kondisi engkel saya sekarang sudah agak baikan,” cetus juara Daihatsu Indonesia Masters 2018 itu. (adt)

Menunggu Wajah Baru Klub “Bayi Ajaib” Persikota Tangerang

wajah-baru-persikota

Setelah luncurnya ‘lahir kembali’ Persikota Tangerang pada Minggu (11/02), klub julukan bayi ajaib tersebut menggelar seleksi terbuka untuk persipaan liga pada 26-28 Februari 2018 di Stadion Benteng, kota Tangerang. Hingga dua hari dilaksanakan, total peserta yang terlibat dalam proses seleksi mencapai 500 peserta dan nantinya akan mengerucut hingga 35 peserta. Mayoritas peserta berdomisili di Tangerang, meskipun beberapa peserta berasal dari luar kota Tangerang, bahkan luar pulau Jawa. Nursaelan, yang dipilih sebagai kepala pelatih untuk mengatasi klub Persikota mengatakan dari 500 peserta, akan memprioritaskan terlebih dahulu bagi peserta di lingkup kota Tangerang. “Kita prioritaskan di ruang lingkup kota Tangerang. Namun, jika ada yang lebih bagus, kita akan cari yang di luar lingkup Tangerang”, ujar pria kelahiran Banyumas tersebut. Proses seleksi juga terdiri dari beberapa kriteria, antaranya mengenai fisik, teknik, taktik, dan mental. “Kriteria seleksi ini kita lihat berdasarkan fisik, teknik, taktik dan mental. Tetapi, sementara ini kita lihat mereka secara skill yang kita lihat di lapangan”, tutupnya. (Dre)

Seleksi Pemain Persikota Tangerang Diwarnai Oleh Peserta Dari Timur

Seleksi-Persikota

Tangerang terus berbenah. Salah satunya adalah melalui dunia sepak bola. Tangerang punya dua klub kebanggan, Persita Tangerang dan Persikota Tangerang. Pada 26-28 Februari, Persikota membuka seleksi untuk para pemain kelahiran 1 Januari 1996 hingga 31 Desember 1997 yang diselenggarakan di Stadion Benteng, kota Tangerang. Sejak hari Senin, peserta telah mendaftarkan dirinya dan mencapai 500 peserta. Peserta datang dari seluruh nusantara. Salah satunya Rozy, peserta yang berasal dari Fak-Fak (Papua Barat). Tekad dan harapannyannya untuk menggapai cita-cita sebagai pemain sepak bola terus dikejar. “Saya berharap bisa lolos ke Persikota Tangerang. Siapa tau ada yang mantau setiap bermain dan itu bisa main ke Timnas Indonesia”, ujar Ozy panggilan akrabnya. Ozy memang lolos ke tahap akhir seleksi, tapi pesaing bukan hanya satu atau dua orang. Tetapi ia tetap berusaha semaksimal mungkin. Baiknya nasib Ozy tidak semulus Adol dan Arsy Londong. Kedua pria asal Nusa Tenggara Timur tersebut tidak bisa mengikuti proses seleksi Persikota Tangerang. Ungkapan kekecewaan dan penyesalan datang dari suara mereka berdua. “Saya kecewa banget. Ya memang informasi telat datang ke saya, dan harusnya Selasa (27/02) saya bisa daftar, tetapi saya telat bangun pagi jadi tidak bisa ikut seleksi Persikota”, ujar Adol yang berasal dari Flores. Ungkapan yang hampir sama juga diutarakan oleh Arsy. “Informasinya baru dapet kemarin sore, niatnya ngejar daftar hari ini (27/02) tapi sampai ke stadion siang dan pendaftaran udah ditutup. Lumayan kecewa sih, tapi ya sudahlah”, ujar pria kelahiran Sumba, NTT tersebut. Meskipun kecewa, mereka berdua tidak patah asa. Mereka justru akan lebih giat lagi berlatih dan akan mengikuti proses seleksi-seleksi sepak bola bersama Persikota atau klub lainnya. (Dre)

Pembinaan Atlet Catur Terkendala Dana

catur_terkendala_dana

Jakarta – Induk organisasi catur seluruh Indonesia mengaku terkendala dana dalam melakukan pembinaan terhadap bibit muda atlet catur terbaik di Tanah air. Hal itu dikatakan Kristianus Liem, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi), di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (27/2). “Kami terkendala dana untuk melakukan pembinaan para atlet. Kalau soal bibit pecatur kami tidak kekurangan,” ucapnya. Akibat kendala dana, sebut Kristianus, berimbas pada penyelenggaraan turnamen catur yang masih kurang banyak. “Memang kami mengakui bahwa kejuaraan catur masih kurang. Dan, sebenarnya potensi atlet catur yang dimiliki Indonesia itu sangat besar,” sambungnya. “Karena kami sendiri mengambil atlet yang bagus itu melalui turnamen untuk selanjutnya kami melakukan pembinaan bagi atlet yang bersangkutan,” tambah Kristianus. Oleh sebab itu, ia mengatakan, pihaknya sangat senang bila ada perusahaan yang mau berkontribusi dalam melakukan pembinaan terhadap atlet-atlet catur yang memiliki prestasi bagus. “Kami sangat senang bila perusahaan-perusahaan turut berkontribusi dalam pembinaan atlet catur seperti yang dilakukan PT United Tractors. Karena kami tidak mungkin melakukan pembinaan sendiri dan butuh bantuan dari pihak lain,” tutupnya. (adt)

Tekad PT United Tractors Tbk. Lahirkan Grandmaster Catur Unggulan Indonesia

ilustrasi_catur

Jakarta-Sebagai bentuk komitmen terhadap masa depan generasi muda Indonesia dan pembinaan atlet muda serta memajukan olahraga Indonesia, khususnya di cabang olahraga catur, PT United Tractors Tbk (UT), berkontribusi mendukung dua atlet catur muda, Novendra Priasmoro (18 tahun) dan Aditya Bagus Arfan (10 tahun), dalam meraih Grandmaster. Gidion Hasan, Presiden Direktur UT, mengungkapkan dengan membina para generasi muda, pihaknya turut berkontribusi untuk memajukan bangsa Indonesia mengingat mereka adalah generasi penerus bangsa. “Dukungan kami kepada Novendra dan Aditya adalah bentuk partisipasi kamu untuk mewujudkan kebanggaan Indonesia dengan melahirkan Grandmaster unggulan baru di olahraga,” cetus Gidion, di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (27/2). Saat ini, Novendra menyandang gelar FIDE Internasional Master dengan rating Elo 2438 dan Aditya memiliki gelar Candidate Master dengan rating Elo 2023. Dan, untuk dapat menyandang gelar Grandmaster, kedua atlet muda ini harus mencapai Norma GM sebanyak tiga kali dan menaikkan rating Elo-nya hingga 2500. “Lewat program UT (United Tractors) Inspiring Youth, Novendra ditargetkan meraih gelar Grandmaster pada 2020, sedangkan Aditya ditargetkan mampu meraih gelar Grandmaster pada 2025,” sambungnya. Untuk itu, lanjut Gidion, pembinaan terhadap Novendra dan Aditya dilakukan secara intensif melalui pelatihan dan dibimbing oleh pelatih terbaik, termasuk mengikuti beberapa pertandingan internasional secara kontinyu. “Harapannya program UT Inspiring Youth ini mampu memberikan gambaran kemajuan cabang olahraga Indonesia, serta menginspirasi masyarakat terhadap hadirnya atlet muda berprestasi,” tambahnya. Utut Adianto, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi), menyatakan kedua pecatur ini memiliki bakat istimewa, dan bisa mencetak sejarah sebagai Grandmaster. “Kalau untuk potensi sangat banyak bibit catur di Indonesia. Tapi, yang kami masih kesulitan adalah soal pendanaan untuk mereka mengikuti berbagai turnamen di dunia,” tukas Utut. (adt)

Venue Bowling Jakabaring, Sarana Pengembangan Bibit Lokal Berkelas Global

menpora_imam_nahrawi_tinjau_venue_boling

Jakarta-Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bowling dihelat di Venue Bowling Center Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Gelaran ini sekaligus sebagai tes event Asian Games 2018. Kejurnas yang berlangsung selama tiga hari dan dibuka pada Minggu (25/2) itu diikuti 33 pebowling putri dan 48 pebowling putra dari 12 provinsi. Selain tuan rumah, provinsi yang berpartisipasi diantaranya Banten, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Selain menguji kesiapan venue dan panitia penyelenggara, Alex Noerdin, Gubernur Sumsel, menyebut gelaran ini sekaligus bisa dijadikan sebagai sarana untuk mencari bibit atlet bowling nasional. “Selain mencari bibit atlet bowling, test event ini juga mencari kekurangan dari venue,” ujarnya. Kurmin Halim, Ketua Umum Persatuan Boling Indonesia (PBI) Sumsel, mengatakan venue bowling di Jakabaring yang memiliki 40 lintasan berkelas dunia itu bukan hanya untuk keperluan training center (TC) atlet nasional, namun bakal dijadikan sebagai sarana pengembangan bibit bowling lokal berkelas global. “Kami berkomitmen untuk tidak membajak atlet dari luar daerah guna memperkuat Sumsel,” tukasnya. Ia memastikan bakal melakukan pembibitan secara berkala dengan menggandeng pihak sekolah, kampus, dan perkantoran. “Janji saya tidak akan membeli atlet dari luar daerah,” sambungnya. (adt)

Bobby Setiabudi, Pebulutangkis 17 Tahun Ini Incar Gelar Juara di Belanda

pemain_tunggal_bobby_setiabudi

Jakarta-Bobby Setiabudi, pebulutangkis binaan klub PB Djarum mengincar gelar juara pada turnamen bulutangkis junior 2018, yang dihelat di Hall Duinwijck, Belanda, 28 Februari – 4 Maret mendatang. Remaja berusia 17 tahun itu, mengaku sudah melakukan persiapan secara maksimal dan dirinya juga telah siap untuk bertanding. “Semoga bisa tampilkan permainan yang paling terbaik di kejuaraan nanti dan mudah-mudah juga dapat hasil yang bagus,” cetus juara Djarum Sirkuit Nasional Jawa Tengah Open 2017 (tunggal remaja putra) itu, seperti dikutip pbdjarum.org, Senin (26/2). Meski diakui untuk mencapai target yang diinginkannya terbilang berat, namun bagi pebulutangkis kelahiran Situbondo, Jawa Timur, 22 Maret 2001, turnamen di Negeri Kincir Angin tersebut bisa dijadikan sebagai ajang menambah pengalaman bertanding. “Setidaknya dapat pengalaman kalau hasilnya tidak memuaskan. Sekaligus ingin menakar kemampuan bermain juga. Semoga saja selama bertanding tidak ada kendala,” sambungnya. Di laga perdana, Bobby bakal berhadapan dengan wakil India Rahul Bharadwaj B M. Berdasarkan data, kedua pemain ini belum pernah bertemu sekalipun. “Pemain India biasanya kuat dan ulet, jadi saya harus berani bertahan dan harus percaya diri. Meski belum pernah bertemu dengan pemain India itu yang penting fokus mainnya dan sudah in duluan ketika dilapangan nanti,” tutup juara Wali Kota Surabaya Bank Jatim Victor Open 2017 (tunggal remaja putra) itu. (adt)

Kisah Ganefo, Ajang Olahraga Negara Berkembang Yang Dipelopori Oleh Ir. Soekarno

Presiden Soekarno saat memberikan pidato pembukaan Ganefo pada tahun 1963.

Dua tahun sebelum rezim Orde Baru, tepatnya pukul tiga sore, stadion Gelora Bung Karno sudah dipenuhi 100 ribu penonton. Pukul empat sore, Presiden Soekarno tiba menggunakan helikopter. Lalu, berbarengan dengan seorang atlet Indonesia, Harun Al-Rasjid yang berlari membawa obor untuk menyalakan tungku api. Maka, dimulailah rangkaian acara pembukaan pesta olahraga akbar, The Games of the New Emerging Forces (Ganefo) pada 10 November 1963. Soekarno naik ke podium dan lantang mengatakan, “dengan ini, Ganefo I saya buka!”. The Games of the New Emerging Forces (Ganefo) atau dalam bahasa Indonesia “Pesta Olahraga Negara-negara Berkembang”, singkatnya yakni suatu ajang olahraga yang didirikan oleh mantan Presiden Indonesia, Soekarno pada tahun 1962 sebagai tandingan dari Olimpiade. Ganefo juga menegaskan bahwa politik tidak bisa dipisahkan dengan olahraga, hal ini menentang Komite Olimpiade Internasional (KOI) yang memisahkan antara politik dan olahraga. Ganefo, sejatinya bukan hanya ajang olahraga saja melainkan sarana pertukaran budaya antar negara-negara berkembang yang ada di dunia. Sebelumnya, pada 27-29 April 1963 sesuai intruksi Soekarno, Konferensi Ganefo dilaksanakan secara kilat. Terdapat sepuluh negara hadir sebagai anggota penuh, yaitu; Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Guinea, Irak, Pakistan, Mali, Vietnam Utara, Republik Persatuan Arab, dan Uni Soviet. Sedangkan Srilanka da Yigoslavia hadir sebagai pengamat. Maka dari konferensi tersebut, Ganefo dikenalkan dan dikemukakan ke publik untuk pertama kalinya. Dalam pidato Konferensi Ganefo di Hotel Indonesia, Presiden Soekarno menjelaskan tentang tujuan Ganefo yang memang menandingi kubu imperialism dalam sistem olimpiade modern. “Kami dengan senang hati bergabung ke dalam IOC (International Olympic Committee) karena kami sependapat dengan ide yang disampaikan oleh Baron de Coubertin. Tapi apa yang ternyata kami dapatkan dari IOC? Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka sekarang hanyalah sebuah alat imperialism dan politik! Kami punya pengalaman pahit dengan Asian Games! Bagaimana perasaanmu, komunis Cina! Ketika kamu dikucilkan dari olahraga Internasional hanya karena kamu negara komunis? Ketika mereka tidak bersahabat dengan Republik Persatuan Arab, ketika mereka mengucilkan Korea Utara, ketika mereka mengucilkan Vietnam Utara, bukankah itu keputusan politik?”, kecam Presiden Soekarno. Ganefo I dilaksanakan pada 10 hingga 22 November 1963 di Jakarta, dengan Indonesia sebagai panitia pelaksananya. Jumlah peserta awal Ganefo mencapai sekitar 2.700 atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Pada Ganefo I, Tiongkok menduduki peringkat pertama, sedangkan tuan rumah, Indonesia sendiri menduduki peringkat ketiga. Seiring berjalannya Ganefo, IOC dan federasi internasional mengamati pergerakan ini. Hingga pada akhirnya IOC mengumumkan bahwa mereka tak mengakui adanya Ganefo dan akan mempertimbangkan para atlet yang berpartisipasi dalam Ganefo tidak bisa mengikuti Olimpiade Tokyo 1964. Namun, untuk Indonesia sendiri, mereka tetap berangkat. Setelah sampai di Tokyo, mereka mengancam IOC: megizinkan seluruh kontingen Indonesia untuk ikut Olimpiade. IOC tetap pada keputusannya dan Indonesia pun akhirnya memutuskan angkat kaki dari Olimpiade Tokyo 1964. Tiga tahun berselang, Ganefo II berlangsung pada 25 November-06 Desember 1966, yang sebelumnya dicanangkan akan berlangsung di Kairo, Republik Arab Bersatu pada 1967. Hal ini dipindahkan, kendati adanya pertimbangan politik. Ganefo II diikuti sekitar 2000 atlet dari17 negara dan Tiongkok kembali mendududki peringkat pertama. Kemudian, pada tahun 1970 harusnya Ganefo III tetap digelar. Awalnya Beijing, Tiongkok menjadi tuan rumah. Namun, Beijing menyerahkan pada Pyongyang, Korea Utara. Tetapi, kemudian Ganefo III tidak pernah berlangsung dan sampai saat ini gaung Ganefo tidak pernah lagi terdengar. (Dre)

Pelatih Harus Dapat Terapkan Manajemen Olahraga Modern

Menpora_Imam_Nahrawi

Jakarta-Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), berharap pelatih saat ini harus bisa menerapkan manajemen olahraga modern, dengan meninggalkan manajemen tradisional yang selama ini mereka ikuti. “Semakin ke depan, semakin banyak inovasi, improvisasi dan gagasan yang tidak boleh di tolak tapi justru sebaliknya, harus bisa beradaptasi, termasuk manajemen olahraga modern yang harus bisa diterima,” ujar Imam di GOR Lila Bhuana, Denpasar, Bali, akhir pekan lalu. Menurutnya, saat ini sebisa mungkin untuk tidak lagi menggunakan manajemen tradisional agar tidak tertinggal dengan negara-negara lain. “Negara-negara lain itu betul-betul menerapkan semuanya dengan baik,” sambungnya. Disisi lain, pria kelahiran Bangkalan, Jawa Timur (Jatim), 44 tahun silam itu, menyebut bila saat ini Indonesia masih kekurangan pelatih. Untuk itu, tambah Imam, pihaknya fokus dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatih di Indonesia sebanyak 100 ribu orang. “Setiap pelatih diharapkan minimal dapat mengidentifikasi dan melatih 1 orang atlet potensial maka dimasa mendatang kami akan mendapatkan 100 ribu atlet untuk dibina dan dikembangkan menjadi atlet nasional,” tutupnya. (adt)

Puas Jadi Striker, Risky Merintis Karir Timnas di Posisi Kiper

Risky muhammad Sudirman kiper villa 2000 saat tampil di Turnamen Nivea U-16. (Rizal/NYSN)

Jakarta- Darah sepak bola mengalir deras dalam tubuh Risky Muhammad Sudirman. Bisa jadi, lantaran sang Ayah, Sudirman adalah mantan Kapten tim nasional (Timnas) yang memperkuat pasukan Garuda era 90-an. Kala anak-anak sebayanya menghabiskan waktu untuk bermain, Risky kecil sudah fokus berlatih si kulit bundar. Hingga kini, ia terus mengasah kemampuannya di bawah naungan klub Villa 2000. “Saya suka sepak bola sejak SD (Sekolah Dasar). Ayah pemain sepak bola dahulunya, tapi bermain sepak bola itu karena keinginan sendiri, jadi bukan paksaan dari orang tua,” beber penyuka ikan lele itu. Meski kini mantap menempati posisi kiper, namun remaja berusia 16 tahun itu sempat bermain sebagai penyerang. Pilihannya itu bukan tanpa alasan. Sebab, penikmat musik dangdut itu terinspirasi sang idola yakni kiper timnas Jerman Manuel Neuer. Penjaga gawang andalan Bayern Munchen itu telah lima kali meraih penghargaan sebagai kiper terbaik UEFA. Bahkan, Gianluigi Buffon (kiper Juventus) pernah memberikan pujian untuk Neuer dengan menyebut pria 31 tahun itu sebagai pionir dari peran sweeper-keeper, yang kerap ditunjukkan saat membawa Jerman meraih gelar juara Piala Dunia 2014. “Kalau ngelihat dia (Neuer) senang aja. Posturnya juga tinggi, pokoknya ideal banget kalau jadi kiper. Apalagi pernah terpilih jadi kiper terbaik dunia. Keren banget dah,” tambah adik dari Nandita Ayu Salsabila, spiker timnas bola voli Indonesia. Risky memang menjadi sosok ideal di bawah mistar gawang. Kemampuan dalam membaca serangan lawan jadi kekuatan yang terus diasahnya. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, pemilik tinggi di atas 170 centimeter itu terpilih dalam seleksi timnas U-16 yang dinahkodai Fakhri Husaini. “Nggak nyangka aja lolos seleksi timnas U-16. Kedepannya juga nggak tahu seperti apa. Ya, mudah-mudahan bisa memberikan yang terbaik untuk tim,” tutup siswa SMA Atthairin, Ciledug, Kota Tangerang, Banten itu. (adt) Nama : Risky Muhammad Sudirman Tempat/Tgl. Lahir : Jakarta, 2 Februari 2002 Klub : Villa 2000 Posisi : Penjaga Gawang Sekolah : SMA Atthairin, Kota Tangerang, Banten Nama Ayah : Sudirman Nama Ibu : Tri Wahyuni Kakak : 1. Nandita Ayu Salsabila 2. Tasya Aprilia Putri

Cari Petinju Juara Dunia, Butuh Dukungan Semua Pihak

Mantan juara dunia tinju kelas bulu dan ringan IBO asal Indonesia, Daud Yordan. (net)

Jakarta- Semua pihak harus bersinergi dan memberikan dukungan dalam mencari petinju-petinju profesional juara dunia. Hal itu dikatakan Urgyen Rinchen Sim, Managing Director Mahkota Promotion, saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (23/2). “Kalau bicara petinju, apalagi juara dunia, maka semua pihak harus bisa bergandengan tangan. Jadi tidak hanya satu pihak saja yang memegang peranan, seperti kami yang memang sebagai promotor tinju,” ujar Urgyen Rinchen Sim. Terlebih, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 jutaan, membuat pria yang akrab disapa Simon itu sangat optimis bakal lahir juara-juara dunia tinju di Tanah Air. “Saya sangat optimis, dari sekian ratus juta itu mestinya ada bakat-bakat tinju yang baik. Ya, paling tidak ada 5 sampai 10 juara dunia. Mestinya seperti itu,” sambungnya. Dalam melahirkan juara dunia, yang terpenting menurut Simon, selain dukungan dari semua pihak, dibutuhkan pula banyak gelaran turnamen tinju sebagai salah satu syarat mutlak guna mencapai tujuan tersebut. Ia menilai dengan adanya persaingan ketat diantara sesama petinju pada setiap penyelenggaraan turnamen, maka akan terlihat bakat-bakat petinju yang telah teruji hingga mampu berbicara di pentas dunia. “Bagi petinju setidaknya perlu 3 sampai 4 kali mengikuti turnamen dalam satu tahun. Bisa juga lebih, tapi kita mesti lihat kemampuan dari sisi pelaksanaannya. Dan, setelah mereka ditempa dan menjadi pemenang dalam setiap turnamen,” ungkapnya. “Jadi kemampuan yang dimiliki petinju itu tidak hanya sebatas menang di setiap turnamen di dalam negeri saja, tapi juga bisa unjuk kemampuan di luar negeri juga,” tutup Simon. (adt)

ISSOM 2018, ABM Motorsport Tambah Skuat Pebalap Muda

Peserta balap touring Indonesian Sentul Series of Motorsport (ISSOM). (net)

Jakarta- Jelang kejuaraan balap touring Indonesian Sentul Series of Motorsport (ISSOM) 2018, dimana seri pembuka bakal mulai bergulir pada 23-25 Maret mendatang, tim ABM Motorsport menambah amunisi pebalap muda. Masayu Anastasia, Public Relation Manager ABM Motorsport, mengatakan pebalap baru yang dimiliki tim-nya sudah teruji melalui seleksi yang ketat. Selain usia yang masih relatif muda, lanjutnya, pihaknya juga sudah melihat karakter dan kemampuan balap mereka. “Mereka sudah termasuk dalam 17 racer kami untuk ISSOM. Kami akan memperkenalkan drifter baru kami, Valentino Ratulangi yang punya sederet prestasi dalam berbagai kompetisi drift nasional maupun internasional,” papar Masayu saat peluncuran logo dan nama tim baru ABM Motorsport dikawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (25/2). Untuk persiapan ISSOM 2018, tambah Masayu, ABM Motorsport bakal menurunkan 25 mobil dan 17 pebalap. “Kami juga turut serta dalam 8 kelas dari 12 kelas yang ada pada ISSOM 2018. Diantaranya Super Touring Car (STC) 1 dan 2, (ETCC) Euro 2000, Euro 3000, BMWCCI, JSTC, Honda Jazz Speed Challenge (HJSC) dan MB INA,” sambungnya. “Di tahun ini pula ABM Motorsport mengikuti kelas HJSC. Beberapa mobil juga dinaikkan speknya, seperti 2 mobil BMW M3 dipersenjatai dengan mesin S54 dan 2 BMW M3 lainnya menggunakan mesin S50,” tambahnya. M. Diponegoro, senior racer ABM Motorsport, berharap pada tahun ini ABM Motorsport dapat menjuarai berbagai kelas balapan dan mendominasi podium pada ISSOM 2018, ditambah dua tim baru racing team dan drift team, sehingga masing-masing pebalap bisa lebih fokus terhadap kemampuannya serta peningkatan spek mobilnya. “Tentu tim ABM Motorsport juga harus bisa meningkatkan prestasi dari berbagai kelas,” urainya. (adt)

Point Guard Legendaris Indonesia, Mario Wuysang Putuskan Untuk Pensiun

Jakarta- Point guard legendaris Indonesia Mario Wuysang memutuskan pensiun dari timnas usai SEA Games 2017. Sehingga, Pelatih tim nasional bola basket putra Indonesia, Fictor Roring memastikan tidak akan memanggil Wuysang untuk skuad Asian Games 2018. Menurut lansiran dari Tempo.co, Fictor menghormati keputusan dan tidak memaksa Wuysang untuk mengikuti ajang Asian Games 2018 tersebut. Salah satu alasan lainnya usia pemain legendaris basket Indonesia tersebut sudah 38 tahun. Menurut Ito, sudah saatnya posisi Mario Wuysang sebagai point guard timnas digantikan oleh pemain 25 tahun, Andakara Prastawa Dhyaksa. Sebelumnya tahun 2015, Xaverius Prawiro pernah menolak panggilan timnas Indonesia, yang saat itu dilatih juga oleh Fictor Roring, untuk berlaga di SEA Games, Singapura. Tahun 2013 akhirnya dipanggil Fictor kembali untuk turnamen uji coba jelang Asian Games 2018. Posisi point guard timnas saat ini akhirnya jatuh pada Andakara Prastawa Dhyaksa yang  dibantu oleh guard veteran Xaverius Prawiro. Berdasarkan lansiran dari tempo.co, Andakara Prastawa menjadikan Wuysang sebagai motivasi, tidak ada beban dengan status pengganti point guard legendaris. “Mario Wuysang itu berperan vital di timnas dan menjadi panutan point guard muda di Indonesia. Kalau bisa saya ingin lebih dari dia,” kata Prastawa yang dikutip NYSN Media dari Tempo.co.   “Marilah kita kenang Mario sebagai legenda bola basket Indonesia,”  Fictor Roring. (Tempo.co)  

Agar Pinalti berhasil, Perlu Kamu ketahui Tentang Pinalti FIFA

Kata “penalti” dalam permainan sepak bola bukanlah hal asing lagi, yaitu tendangan dari pemain di dalam kotak penalti tanpa ada penjagaan dari pemain lawan. Memang terkesan menguntungkan, mudah dan gampang. Namun, apabila kamu mengulik lebih dalam mengenai apa itu, sejarah, dan peraturan dalam menendang penalti, bisa jadi tidak semudah “pengertian sederhana” tersebut. Tendangan penalti sebenarnya tidak hanya menggunakan skill menendang bola saja, tetapi juga mental yang kuat dari pemain. Pemain bola dunia sekalipun banyak yang menolak melakukan tendangan penalti. Hal ini karena masalah mental, banyak yang kawatir tidak gol. Kenapa Ada Tendangan Penalti? Peraturan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menyatakan tendangan penalti disebut sebagai tendangan hukuman, karena pihak lawan melakukan pelanggaran di dalam area kotak penalti. Tendangan ini dilakukan selama permainan berlangsung dan berjarak 9.1 m. Tak hanya sebagai tendangan hukuman, tendangan penalti juga diterapkan dalam babak adu penalti untuk menentukan tim siapa yang menang. Dalam pelaksanaan, babak adu penalti lebih menguntungkan untuk menjadi gol. Maka dari itu, ada anggapan menurut lansiran dari bolajawara.com, tendangan penalti kadang menjadi strategi dan disalahgunakan wasit, agar memenangkan tim tertentu. Ternyata Tendangan Penalti Pertama Kali Diperkenalkan Pada Abad ke-19 Yap, dilansir dari bolajawara.com, tendangan penalti pertama kali ada pada akhir abad ke-19 di wilayah Britania Raya, pada sebuah laga resmi tim skotlandia, Airdrieonians pada tahun 1891 di Broomfield Park. Pada liga sepakbola, diberikan kepada Wolverhampton Wanderers dalam pertandingan mereka melawan Accrington di Stadion Molineux pada tanggal 14 September 1891. Penalti tersebut berhasil menghasilkan gol bagi Billy Heath dengan skor 5-0. Peraturan yang ada di tendangan penalti versi umum dan FIFA Dalam aksi tendangan penalti, tidak asal menendang bola. Namun juga ada peraturan di dalamnya. Pertama, tentunya tentang posisi bola dan kiper. Bola harus berada di titik tendangan penalti dan posisi kiper harus berada di garis gawang. Kedua, pemain-pemain yang tidak menendang aturannya harus berada 9.15 meter di belakang titik penalti. Ketiga, jika pemain yang melakukan penalti melanggar aturan (misal menendang tidak di titik penalti atau menendang dua kali), maka tendangan tersebut akan di stop oleh wasit. Bahkan, diganti menjadi tendangan bebas untuk tim lawan. Keempat, kiper yang melakukan kesalahan (misal menangkap bola terlalu di depan), maka jika kamu gol, berarti akan tetap disahkan wasit dan jika tidak masuk, boleh melakukan tendangan bebas lagi. Peraturan tendangan penalti versi FIFA yang merupakan federasi sepak bola dunia, menyebutkan peraturan baru untuk penalti. Pemain tidak diperbolehkan melakukan tendangan yang pura-pura. Hal ini karena agar kiper tidak terkecoh saat menghadang ataupun menangkap bola. FIFA selaku  juga memberikan peraturan baru untuk penalti yang telah digunakan juga pada saat piala dunia tahun 2014. Peraturan tersebut ialah tidak diperbolehkan bagi pemain penendang penalti melakukan tendangan pura-pura. Hal ini diberlakukan agar penjaga gawang tidak terkecoh dalam menghadang bola. Bagi pemain yang tetap melanggar akan dikenakan kartu kuning. Sekarang kamu sudah tau mengenai tendangan penalti lebih dalam. Dengan beberapa pengetahuan diatas, kiranya bisa menjadi bekal kamu saat melakukan tendangan bebas di lapangan. hmm, apakah kamu telah siap untuk penalti?   (bolajawara.com, perpustakaan.id)

Wow, Olahraga Tradisional Ini Ada di Asian Games 2018

olahraga Kabaddi

Indonesia telah dipercaya sebagai tuan rumah turnamen olahraga se-Asia, yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Event olahraga asian games 2018 ini dilaksanakan mulai dari 18 Agustus 2018-2 September 2018. Pada Asian Games tahun ini, terdapat berbagai cabang olahraga baru yang dipertandingkan. Tahukah kamu, ternyata ada beberapa di antaranya merupakan olahraga tradisional. Tak hanya olahraga tradisional dari Indonesia, tetapi juga ada dari berbagai negara peserta. Ini dia menurut lansiran IDN Times, 4 olahraga tradisional yang akan ditandingkan dalam asian Games 2018: Pencak Silat Olahraga yang berasal dari Indonesia ini tentu kamu sudah mengenalnya. Pencak silat telah cukup lama berkembang di Indonesia, yaitu sejak jaman kerajaan-kerajaan. Asal muasal olahraga bela diri ini belum diketahui secara pasti, sebab hampir semua daerah di Indonesia punya tradisi silat masing-masing. Indonesia patut berbangga saat cabang ini sudah diakui dunia dan dipertandingkan dalam asian games 2018. Kabaddi Olahraga Kabaddi pasti terdengar asing di kalangan masyarakat Indonesia. Olahraga ini merupakan olahraga tradisional asal Tamil Nadu, India. Kabaddi mulai ada dan dipertandingkan saat Asian Games ke XVII di Korea Selatan sebagai ajang khusus. Olahraga Kabaddi seperti layaknya permainan anak-anak, dimana seorang pemain harus melewati tujuh orang untuk sampai ke garis yang aman. Sambo Sambo merupakan olahraga bela diri asal Uni Soviet yang diperkenalkan oleh Viktor Spiridonov dan Vasili Oshchepkov. Olahraga ini baru pertama kali loh ada dalam Asian Games 2018 dan Indonesia yang menjadi negara pertama pertandingan Sambo di turnamen multievent terbesar se-Asia. Olahraga yang mempunyai singkatan dari Samozashchita Bez Oruzhiya yang berarti ‘Beladiri Tanpa Senjata’ ini mirip dengan gulat. Dalam pertandingan, Sambo mengandalkan teknik kuncian. Kurash Kurash adalah olahraga beladiri asal Uzbekistan. Gerakan dasar Kurash yaitu saling membanting dengan mengaitkan ke baju khusus. Sebenarnya gerakannya pun mirip dengan gulat dan judo, hanya saja dalam Kurash bantingannya berada dalam posisi berdiri dengan kaitan di atas, dan tidak boleh menggunakan kaitan pada kaki. Nah, sekarang kamu jadi mengetahui kan bahwa olahraga tradisional pun dapat ada dan dipertandingan dalam multievent terbesar se-Asia. Semoga Tim Indonesia sukses dan jaya ya! (IDN Times)

Singkirkan Malaysia, Lifter 17 Tahun Dari Jambi Sabet Emas

Lifter putri Gusti Melinda raih emas test event Asian Games 2018. (liputan6.com)

Jakarta- Melinda Gusti, lifter putri berusia 17 tahun, sukses meraih medali emas di nomor 75 kg, pada test event Asian Games 2018, cabang olahraga (cabor) angkat besi, di Hall A2, JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (12/2). Ia membuat kejutan setelah mencatatkan total angkatan 204 kg (snatch 93 kg dan clean and jerk 111 kg). Torehan ini mengungguli lifter asal Malaysia, Jabriella Teo Samuel, yang hanya mampu membukukan total angkatan 179 kg (snacth 79 kg, dan clean and jerk 100 kg). Melinda mengaku tegang karena baru pertama kali bersaing dengan negara-negara lain di kejuaraan internasional. “Apalagi persiapan saya singkat. Saya baru sampai Jakarta dari Jambi tiga hari yang lalu,” beber Melinda seperti dilansir bolasport.com, Senin (12/2). Dirja Wiharja, Pelatih Kepala Angkat Besi Pelatnas, mengapresiasi keberhasilan anak asuhnya itu dalam meraih medali. “Ini baru ajang pemanasan. Kami harus lebih intens lagi berlatih untuk menghadapi event sesungguhnya Agustus nanti,” jelasnya. Ia menambahkan pihaknya masih memiliki waktu memperbaiki kelemahan guna meraih hasil terbaik di Asian Games 2018. “Kami masih punya waktu memperbaiki kelemahan. Dan, ketika Asian Games nanti seluruh lifter diharapkan akan tampil dengan kemampuan terbaik mereka untuk memberikan hasil terbaik bagi Merah Putih,” tutupnya. (adt)

Nyaris Dicoret dari Pelatnas, Empat Karateka Temui Menpora

Empat karateka yang terancam dicoret dari Pelatnas bertemu Menpora. (Kemenpora)

Jakarta- Terancam dicoret dari skuat Pelatnas Asian Games 2018, empat karateka akhirnya menemui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imama Nahrawi, di Kantor Kemenpoa, Jakarta, pada Senin (12/2). Sebelumnya, Sisilia Ora (kata perorangan), Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg), Cok Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg), Ahmad Zigi Zaresta Yuda (kata perorangan putra), dikabarkan mangkir dan meninggalkan Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas). Imam berharap mereka secepatnya kembali dan fokus mempersiapkan diri ke ajang Asian Games 2018. “Tapi saya ingin dengar dari kalian, apakah masih bersedia tetap di Pelatnas dengan kondisi pelatih baru? Dan sejauh mana peluang mendapatkan medali di Asian Games nanti ?,” tanya Menpora, didampingi Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Mulyana dan Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta, pada Senin (12/2). Demi ‘Merah Putih’ keempat karateka inipun siap kembali ke Pelatnas, bahkan mereka optimis mampu meraih medali emas Asian Games 2018. Mereka juga meminta agar berita negatif yang menyebutkan mereka kabur dari Pelatnas karena menolak pelatih baru yang ditunjuk Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki), serta tidak lolos seleksi tak lagi dimunculkan. “Kami tidak pernah kabur dari Pelatnas. Kami pun tak takut bersaing seleksi. Alhamdulillah kami semua sudah lolos seleksi itu. Kami hanya menolak ikut Pelatnas Premiere League di Paris, 26-27 Januari 2018. Karena permintaan kami agar pelatih yang telah dua tahun menangani kami, bisa diikutsertakan,” tukas Sisilia Ora. (adt)

Kendalikan Stres Dengan Wushu

Aksi atlet Wushu, Juwita Niza Wasni di Kejuaraan Wushu. (sportourism.id)

Stres bisa bisa menimpa siapa saja. Jika dibiarkan tak terkendali, berpotensi mengundang berbagai penyakit berbahaya, seperti depresi, obesitas, diabetes, bahkan jantung. Untuk mengendalikan stres dapat dilakukan dengan aktivitas olahraga, salah satunya wushu. Seni beladiri asal Tiongkok ini fokus pada kelenturan, kecepatan, jurus, serta penampilan. Melakukan gerakan-gerakan yang seimbang antara gerakan kaki dan tangan, dapat menyinkronkan kerja antara otak kiri dan kanan, dengan begitu otak dapat bekerja secara seimbang, sehingga mampu menghindari diri dari stres. Selain itu, latihan wushu juga mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Gerakan tubuh dan pikiran yang terus dilatih akan membuat tubuh lebih fit dan prima. Beladiri ini juga mampu melatih keseimbangan, yakni dengan cara berdiri dengan satu kaki serta belajar bagaimana menemukan pusat tubuh. Dibandingkan dengan beladiri lainnya, wushu bisa membangun fleksibilitas, dimana bagian tubuh seperti betis, pinggul, dada, punggung, lengan dan bahu, bahkan pergelangan tangan dan pergelangan kaki akan mendapatkan peregangan yang baik. Memang, untuk mendapatkan manfaat dari wushu butuh perjuangan dan latihan serius. Kendali atas diri sendiri sangat diperlukan demi penghayatan atas setiap gerakan, dengan begitu bisa memberikan dampak kesehatan baik fisik ataupun mental bagi yang menekuni beladiri ini. (adt)