Lifter Muda Kevin Andrian Borong Tiga Emas di Thailand

Lifter muda Indonesia Kevin Andrian Ramadhan membawa pulang tiga medali emas dalam kejuaraan angkat besi EGAT King’s Cup 2024 di Thailand pada Minggu (21/4). Dia menjadi yang terbaik pada angkatan snatch (97kg), clean and jerk (118kg), dan total angkatan (215kg). Prestasi ini terbilang luar biasa, mengingat Kevin merupakan atlet muda yang dikirim Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) untuk menjadi pelapis pelatnas dalam rangka menyiapkan regenerasi lifter angkat besi ke depan. EGAT King’s Cup 2024 sendiri diikuti lima negara yakni Malaysia, Indonesia, Singapura, Hong Kong, dan tuan rumah Thailand. Indonesia mengirimkan lima atlet muda yakni Kevin Andrian Ramadhan, Satrio Adi Nugroho, Muhamad Ibnul Rizqih, Sarah, dan Indah Afriza. Untuk kategori Remaja, tambah dia, akan diikuti 261 lifter (putra 164 dan putri 97), sedangkan kategori Senior melibatkan 291 lifter (putra 158 dan putri 133).

Kembali Bikin Bangga, Rahmat Erwin Borong 3 Medali Emas

Lifter Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, memborong tiga medali emas dan catatkan rekor dunia pada di Kejuaraan Dunia Angkat Besi Asia 2024 di Uzbekistan. Rahmat yang turun di kelas 73 kilogram Grup A membawa pulang tiga emas, tepatnya dari angkatan snatch, clean & jerk, dan angkatan total. Keberhasilan Rahmat melakukan angkatan clean and jerk seberat 204 kg sekaligus mempertajam rekor dunia atas namanya sendiri yang sebelumnya 202 kg saat Asian Games Hangzhou 2022. Jika pada Oktober tahun lalu Rahmat mengangkat beban seberat 201kg dengan clean and jerk (mengangkat beban dalam dua tahap), kemarin dia sukses menaklukkan beban seberat 204kg. Seperti biasanya, setelah selesai melakukan percobaan sukses, Rahmat melakukan ‘tradisi keluarga’ dengan memberi salam dan memamerkan otot bisep ala binaragawan. Putra pasangan mantan lifter nasional, Erwin Abdullah dan Ami Asun Budiono, tersebut menutup penampilannya di Kejuaraan Angkat Besi Asia dengan total angkatan 363kg. Total angkatan terbaik Rahmat kini hanya terpaut 1kg saja dari rekor dunia yang dibukukan atlet China, Shi Zhi Yong, saat merebut medali emas dalam Olimpiade Tokyo 2020. Sebagai informasi, saat itu Rahmat juga turut naik ke podium setelah menyabet medali perunggu dengan total angkatan 342kg meski tampil dari Grup B.

Rahmat Erwin dan Rizki Raih Emas Kejuaraan Dunia Angkat Besi

Rahmat Erwin dan Rizki Raih Emas Kejuaraan Dunia Angkat Besi

Rahmat Erwin Abdullah dan Rizki Juniansyah menunjukkan dominasi mereka di kelas 73kg Kejuaraan Angkat Besi 2022 yang berlangsung di Bogota, Kolombia. Rahmat Erwin meraih emas di kategori clean and jerk lewat angkatan 200kg. Sedangkan perak direbut oleh Rizki dengan catatan 192kg. Sedangkan di kategori snatch, Rizki jadi lifter terbaik dengan torehan 155kg. Ia pun berhak atas medali emas untuk kategori tersebut. Pada total angkatan, Rahmat Erwin dan Rizki pun berjaya. Rahmat Erwin merebut emas dengan total angkatan 352kg sedangkan Rizki merebut medali perak dengan torehan total 347kg. Rahmat Erwin Abdullah dan Rizki Juniansyah adalah dua lifter muda yang jadi simbol regenerasi angkat besi Indonesia. Keduanya sudah mengukir prestasi level dunia sejak kejuaraan level junior. Rahmat Erwin Abdullah bahkan telah berhasil mempersembahkan medali perunggu pada Olimpiade 2020 lalu. Pencapaian Rahmat Erwin dan Rizi di Bogota ini makin menandai bahwa keduanya bisa jadi harapan Indonesia meraih prestasi di Olimpiade. Sejak Olimpiade 2020, Tim Angkat Besi Indonesia selalu jadi tambang medali bagi kontingen Indonesia di ajang Olimpiade. Mereka tak pernah henti menyumbang medali dalam enam pelaksanaan Olimpiade terakhir. Misi Tim Angkat Besi Indonesia yang belum terwujud saat ini adalah meraih medali emas untuk kontingen Indonesia di ajang Olimpiade.

Rahmat Berhasil Kembali Raih Juara dan Pecahkan Rekor Dunia

Rahmat Berhasil Kembali Raih Juara dan Pecahkan Rekor Dunia

Selain meraih medali emas, lifter muda Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, juga mencetak rekor dunia untuk angkatan clean and jerk di kelas 73kg putra Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2022 di Gran Carpa Americas Corferias, Bogota, Kolombia, Sabtu pagi WIB. Tampil di Grup B, Rahmat Erwin menjadi kuda hitam setelah mengangkat beban seberat 200kg pada angkatan clean and jerk, demikian berdasarkan hasil dari laman IWF. Hasil ini memecahkan rekor dunia milik peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 Shi Zhiyong asal China yang pada Kejuaraan Dunia 2019 mencetak 197kg untuk angkatan clean and jerk. Pencapaian Rahmat ini mengejutkan karena dia bukan unggulan di kelas 73kg putra. Bahkan ditempatkan di Grup B. Namun dia kembali membuktikan diri sebagai lifter yang layak diperhitungkan di kelas ini. Lifter 22 tahun ini bukan kali pertama membuat kejutan. Ketika di Olimpiade Tokyo 2020 dia juga tampil di Grup B. Meski begitu, Erwin sukses meraih medali perunggu di kelas 73kg setelah mengangkat beban total 342kg (152kg snatch dan 190kg clean and jerk). Adapun di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2022, Erwin pada angkatan snatch membukukan 152kg. Hingga berita ini diturunkan persaingan di kelas 73kg putra masih bergulir. Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali pun turut bangga dan mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih Rahmat. “Saya sangat bangga dan mengucapkan terima kasih atas prestasi yang diraih Rahmat Erwin Abdullah pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2022 Bogota, Kolombia. Erwin berhasil memecahkan rekor dunia, ini prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia,” kata Menpora Amali di Jakarta, Kamis (10/12). Dengan prestasi Rahmat ini, Menpora Amali semakin optimistis banyak atlet Indonesia yang akan lolos dan tampil pada Olimpiade Paris 2024 mendatang. Terlebih dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), Angkat Besi merupakan cabang olahraga unggulan yang diharapkan bisa menyumbang banyak medali di olimpiade. “Saya semakin optimistis banyak atlet Angkat Besi yang lolos Olimpiade Paris 2024. Sesuai DBON, kita harapkan peringkat olimpiade kita terus meningkat. Dan Angkat Besi salah satu penyumbang medali,” harapnya.

106 Atlet Ikuti Kejurnas Angkat Besi U-13 Hingga U-15

106 atlet ikuti Kejurnas Angkat Besi U-13 hingga U-15

Sebanyak 106 atlet dari 20 Pengurus Provinsi (Pengprov) tampil dalam Kejuaraan Nasional Angkat Besi U-13 hingga U-15 Piala Kemenpora di Sentul, Bogor, Jawa Barat, 5-8 Desember. Kejurnas dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) Djoko Pramono. Ia mengatakan kejuaraan nasional kali ini menjadi kesempatan atlet-atlet muda untuk merasakan persaingan nasional apalagi kejuaraan ini merupakan kejurnas angkat besi pertama yang digelar khusus untuk atlet-atlet usia 13-15 tahun. “Marilah kita berlomba-lomba untuk menggali lebih banyak lagi, ‘logam-logam’ atlet untuk kita asah melalui Kejurnas agar regenerasi terus berjalan secara spartan,” ujar Djoko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin. Sama seperti dengan dua kejuaraan sebelumnya, yaitu Kejurnas Remaja dan Junior di Yogyakarta dan Kejurnas Senior di Sentul, Bogor bulan lalu, PABSI juga akan memberikan penghargaan Lifter Terbaik serta uang pembinaan kepada Pengprov yang berprestasi dalam Kejurnas kali ini ini. Bonus uang pembinaan itu diberikan dengan harapan dapat memotivasi daerah-daerah untuk berlomba-lomba serius melakukan pembinaan hingga bisa mengirimkan atletnya bertanding di level nasional. Apalagi pada tahun depan akan dimulai Kejurnas yang masuk dalam bagian Pra-Kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2024. Lebih lanjut, Djoko menuturkan kejuaraan kali ini selaras dengan program pembinaan PABSI yang berupaya terus melakukan pembinaan atlet angkat besi usia remaja dan junior guna memperbanyak stok atlet yang bisa mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan internasional pada masa mendatang. “Paling tidak hingga Olimpiade 2032 kita memiliki stok atlet yang lebih banyak lagi dengan memiliki prestasi di tingkat dunia,” ucap dia.

Mojang Bandung Raih Medali Emas Angkat Besi di Uzbekistan

Mojang Bandung Raih Medali Emas Angkat Besi di Uzbekistan

Atlet angkat besi kelas 59 kg, Sarah (16), berhasil menjuarai Asian Youth & Junior Weightlifting Championship Tashkent di Uzbekistan. Dirinya berhasil menyabet beberapa medali dalam ajang tersebut. Sarah berhasil menyabet raihan 3 medali emas di kategori remaja kelas 59 kg putri, kemudian 2 medali perak dan 1 medali perunggu di kategori junior kelas 59 kg putri. Mendengar kabar tersebut, ayah angkat Sarah, Sandy Zaenul Hikmat (31) mengaku bangga dengan prestasi yang diraih anaknya tersebut. Dengan itu, menurutnya, sebagai salah satu pembuktian. “Perasaan mah sebenarnya campur aduk, bangga ada, haru ada, cuma alhamdulillah bisa ngebuktiin sekarang,” ujar Sandy saat dihubungi detikJabar, Jumat (22/7/2022). Dia mengungkapkan saat Sea Games lalu, anaknya tersebut belum bisa mempersembahkan medali. Namun, saat ini bSarah bisa memberikan medali bagi Indonesia. “Kemarin kan pas di sea games nggak dapet medali, karena kemarin lawannya senior. Kalau yang juara sekarang, meskipun levelnya asia, tapi juara di umurnya. Jadi lawannya bukan senior, umurnya sebanding,” katanya. Keberhasilan Sarah tidak pernah lepas dari sosok Ayahnya tersebut. Ayahnya merupakan kakak dari Windy Cantika, seorang atlet angkat besi asal Babakan Cianjur, Desa Malasari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Sandy mengungkapkan anaknya tersebut dahulu sempat berlatih bersama Windy Cantika di Babakan Cianjur. Namun, pada tahun selanjutnya berpindah ke Kampung Balandongan, Desa Rancasenggang, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. “Jadi awalnya sarah belajar angkat besi di tahun 2015. Memang awalnya latihan di mamah (ibunya windy), kan kebeneran masih orang di lingkungan Babakan Cianjur. Terus memang kondisinya Yatim Piatu, terus saya angkat jadi anak tahun 2016,” ucapnya. Pihaknya menjelaskan dalam perjalannya Sarah selalu berlatih dengan gigih dan disiplin. Bahkan, kata dia, latihannya pun tetap berada di rumahnya. “Dulu latihannya pas di mamah, ya sama. Rutin bersama yang lainnya. Biasanya rutin setiap hari Kamis. Jadi di sana (KBB) di rumah juga latihannya sama, sepulang sekolah, istirahat, makan, langsung latihan. Da latihannya juga di rumah saya, di garasi, sama lah kaya di mamah,” ucapnya. Sandy berharap ke depannya anaknya tersebut bisa tetap rendah hati. Sehingga bisa terus konsisten berlatih dan mendapatkan prestasi. “Kalau menurut saya untuk sarah ke depannya adalah yang penting nurut aja kata pelatih, terus dianya mau bekerja keras, disiplin. Masalah sekarang juara, mudah-mudahan kalau sarahnya tetap rendah hati, tetap nggak jumawa. Mudah-mudahan ke depannya bisa konsisten seperti bibinya, Windy Cantika,” pungkasnya.

Sabet Tiga Emas, Rizki Juniansyah Juga Perbarui Rekor Dunia Angkat Besi

Sabet Tiga Emas, Rizki Juniansyah Juga Perbarui Rekor Dunia Angkat Besi

Lifter Indonesia kembali membuat kejutan. Atlet muda, Rizki Juniansyah, sukses mempertajam rekor dunia pada Asian Youth & Junior Weightlifting Championship. Atlet muda andalan Indonesia, Rizki Juniansyah, mencetak rekor dunia baru lagi. Rizki membuat prestasi pada kejuaraan angkat besi junior tingkat Asia, Asian Youth & Junior Weightlifting Championship 2022. Ia tampil gemilang saat melakukan angkatan Snatch, pada Kamis (21/7) malam. Lifter muda asal Serang, Banten, melakukan angkatan Snatch pertama dengan 149 kg dan kemudian 154 kg pada angkatan kedua. Teriakan “good lift” dari juri saat Rizki Juniansyah melakukan angkatan ketiga menandai kepastian reach rekor dunia baru dengan 157 kg saat beraksi di Tashkent, Uzbekistan. Tambahan satu kilogram cukup untuk menjadi rekor dunia angkatan Snatch atas namanya sendiri. Rizki Juniansyah mencatatkan rekor Snatch dengan berat 156 kg pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2022 pada 06 Mei 2022, di Heraklion, Yunani. Rizki Juniansyah berusaha mencetak rekor lain pada angkatan Clean & Jerk. Rizki mampu mengangkat 182 kg dan mencoba 195 kg pada dua percobaan berikutnya. Ia belum berhasil mengejar target untuk memecahkan catatan lamanya, 339 kg, belum berhasil. Raihan pada 2022 juga masih jauh dari rekor lamanya pada 26 Mei 2021. Sewaktu tampil di Uzbekistan juga, Rizki Juniansyah berhasil membukukan total angkatan Clean & Jerk dengan berat 194 kg dan total angkatan 349. Pencapaian Rizki Juniansyah melengkapi prestasi lima atlet angkat besi Indonesia yang meraih enam medali emas, empat perak dan lima perunggu pada Asian Youth & Junior Weightlifting Championship 2022 di Tashkent, Uzbekistan. “Selamat kepada Rizki Juniansyah yang berhasil membuat Indonesia bangga melalui prestasinya, menjadi juara dan memecahkan kembali rekor dunia junior pada angkat besi kelas 73 kg putra, juga atlet lain yang telah berjuang dan meraih prestasi gemilang,” kata Ketua Umum KONI, Marciano Norman. Jumat (22/05/2022), masih ada satu wakil Indonesia yang bertanding. Marciano berharap, penampilan gemilang Rizki Juniansyah menjadi motivasi bagi atlet-atlet binaan Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) pimpinan Rosan Roeslani dan Sekjen Djoko Pramono beserta jajarannya.

SEA Games 2022. PB PABSI Tidak Bebankan Medali.

Pada SEA Games 2022 di Hanoi, Vietnam, nanti Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) tidak akan membebankan atletnya mendapat medali. Meski begitu dikutip dari ANTARA Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono, optimis bahwa atletnya mampu memberikan medali. menurunkan 13 lifter ke SEA Games 2021 di Hanoi, Vietnam tanpa membebani atletnya dengan kewajiban meraih medali dalam pesta olahraga dua tahunan yang akan dihelat pada 12-23 Mei itu. Meski tak membebani atletnya dengan target, Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono, saat ditemui di sela Pelatnas Angkat Besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu, optimistis bahwa 13 lifter yang diterjunkan dapat menyumbang medali, mengulang catatan yang ditorehkan tim angkat besi Indonesia pada SEA Games 2019 Filipina. “Saya tidak berani mengatakan target medali. Kita buktikan saja,” ucapnya. “Saat rapat di Komite Olimpiade Indonesia (KOI) bersama dengan tim verifikasi, mereka tidak mau memberikan target kepada kami. Saya dan kawan-kawan hanya berjanji kami akan memberikan yang terbaik,” sambung dia. Hal serupa dikatakan oleh Chef de Mission (CdM) yang juga anggota eksekutif KOI, Teuku Arlan Perkasa Lukman. KOI tidak membebani tim angkat besi dengan target di Vietnam. Pasalnya, SEA Games hanya sebagai batu loncatan sekaligus kesempatan untuk menambah jam terbang para atlet menuju kualifikasi Olimpiade Paris 2024. “Sehingga targetnya adalah di Olimpiade. Jadi kalau dibilang berapa target medali untuk angkat besi—yang merupakan cabang Olimpiade—tanpa maksud sombong, lebih ke arah partisipasi dan membawa atlet kita sebanyak-banyaknya tampil di Olimpiade,” ucap Arlan. Berikut daftar lifter Indonesia untuk SEA Games 2021: Satrio Adi Nugroho (kelas 55kg) Eko Yuli Irawan (61kg) Mohammad Yasin (67kg) Rahmat Erwin Abdullah (73kg) Rizki Juniansyah (73kg) Muhammad Zul Ilmi (89kg) Najla Khoirunnisa (45kg) Siti Nafisatul Hariroh (45kg) Windy Cantika Aisah (49kg) Natasya Beteyob (55kg) Sarah (59kg) Tsabitha Alfiah (64kg) Nurul Akmal (87+kg) Sumber: ANTARA

Atlet Muda Dominasi Pelantas Angkat Besi 2022

Atlet Muda Dominasi Pelantas Angkat Besi 2022

PB PABSI akan melakukan pemanggilan pelatnas pada minggu pertama Januari mendatang. Kabidbinpres PABSI Hadi Wihardja menyatakan, saat ini pihaknya mengajukan 23 atlet untuk Pelatnas 2022. Jumlah tersebut mengalami penambahan jika dibandingkan dengan pelatnas tahun ini yang berisi 16 atlet. “Mengingat tahun depan ada SEA Games dan Asian Games 2022. Tapi, belum tahu berapa jumlah yang akan disetujui pemerintah. Misalnya cuma disetujui 18, ya lima sisanya gugur,” ujar Hadi. Dia menjelaskan bahwa sebagian besar atlet pelatnas tahun depan akan didominasi lifter muda. Sebab, selama setahun ini, mereka menunjukkan prestasi yang menonjol jika dibandingkan dengan lifter-lifter senior. Sebagaimana Windy Cantika Aisah yang meraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020, Rizki Juniansyah yang tahun ini menjadi juara dunia junior kelas 73 kg. Kemudian, ditutup raihan Rahmat Erwin Abdullah yang meraih gelar juara dunia 73 kg senior pada pekan lalu. “Kami cermati selama setahun ini, raihannya seperti apa. Lifter remaja dan junior raih hasil bagus. Prinsipnya, penempatan bergantung penampilan,” lanjut Hadi. Meski begitu, Hadi tetap membuka peluang bagi lifter yang tidak masuk daftar. Bagi lifter yang terdegradasi, mereka akan kembali ke daerah masing-masing. Jika ada peningkatan, mereka bisa saja dipanggil ke pelatnas lagi. Apalagi, ada tes angkatan rutin tiap bulan untuk memantau progres atlet. “Intinya, meski terdegradasi, mereka tidak berhenti berproses. Pemanggilan kami usahakan secepatnya karena akan lebih baik untuk melanjutkan program,” imbuhnya.

Rahmat Erwin Sabet 2 Emas Pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2021

Rahmat Erwin Abdullah kembali mengharumkan Indonesia di kancah internasional. Baru-baru ini, ia menyabet dua medali emas masing-masing pada angkatan clean and jerk dan total angkatan dalam persaingan kelas 73 kg putra Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2021 yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan, Jumat malam WIB. Dalam perebutan medali angkatan clean and jerk, lifter 21 tahun itu menjadi yang terbaik setelah pada angkatan ketiga mengangkat beban 192 kg. Rahmat Erwin membuka angkatan pertama dengan 180 kg dan kedua dengan 186 kg. Rahmat Erwin mengalahkan lifter Albania Briken Calja yang membawa pulang perak setelah membukukan angkatan terbaik clean and jerk 186 kg. Sementara perunggu diraih lifter Korea Selatan Hansol Jeong dengan angkatan terbaik 181 kg. Namun pada angkatan snacth, Rahmat Erwin hanya mampu menempati posisi kelima. Dia membuka laga dengan melakukan angkatan snacth 142 kg. Kemudian pada percobaan kedua dia mengangkat beban 147 kg dan terakhir 151 kg. Sementara medali emas angkatan snacth diraih Briken Calja dengan 156 kg. Suttipong Jeeram dari Thailand meraih perak dengan 154 kg dan Sergei Petrov wakil dari Federasi Angkat Besi Rusia membawa pulang perunggu usai mengangkat 153 kg. Dengan hasil tersebut, secara keseluruhan atau gabungan dari angkatan snacth dan clean and jerk, Rahmat Erwin memastikan medali emas dengan total angkatan 343 kg. Sementara perak diraih Calja Briken dengan total angkatan 342 kg dan Jeeram Suttipong membawa pulang perunggu setelah membukukan total angkatan 334 kg. Pelatih Kepala Pelatnas, Dirja Wihardja mengatakan dua emas yang diraih Rahmat Erwin merupakan konsistensi prestasinya setelah Olimpiade Tokyo 2020. “Total angkatan yang diraih Rahmat Erwin Abdullah mengalami peningkatan 1kg dari Olimpiade Tokyo 2020 lalu,” kata Dirja Wihardja dalam keterangan tertulis, Sabtu dini hari. Pada Olimpiade Tokyo, Rahmat Erwin Abdullah meraih perunggu dengan total angkatan 342 kg (150 kg snatch dan 190 kg pada clean and jerk). “Dengan penerapan strategi yang mumpuni tim pelatih dan sang ayah Erwin Abdullah berhasil membawa anaknya menjadi juara dunia, sehingga tahun ini komplet Indonesia memiliki dua juara dunia di dua kategori yakni junior adalah Rizky Juniasyah dan pada senior Rahmat Erwin Abdullah,” kata Kabid Binpres PABSI, Hadi Wihardja. Dalam Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2021, Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) mengirim 14 atlet ke Tashkent. Mayoritas adalah lifter muda. Pada bagian putri ada nama Juliana Klarisa (kelas 55 kg), Sarah (59 kg), Najla Khoirunnisa (45 kg), Nelly (59 kg), Siti Nafisatuh Hariroh (49 kg), Tsabitha Alfiah Ramadani (64 kg), Restu Anggi (64 kg), dan Nurul Akmal (+87 kg). Sementara untuk putra selain Rahmat Erwin Abdullah, ada Muhammad Faathir (61 kg), Mohammad Yasin (67 kg), Triyatno (67 kg), Muhammad Zul Ilmi (89 kg), dan Satrio Adi Nugroho (55 kg).

Incar Regenerasi, PABSI Gelar Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2021

Incar Regenerasi, PABSI Gelar Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2021

Pengurus Besar (PB) Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) menggelar Kejuaraan Nasional Angkat Besi Remaja dan Junior 2021. Tujuan utama dari ajang ini adalah untuk menjaring atlet-atlet muda potensial yang diproyeksikan untuk menjadi penerus para atlet senior. Kejurnas Angkat Besi yang bergulir tanpa penonton ini digelar di Hotel Lorin Sentul, Bogor, Jawa Barat, mulai 19-24 November mendatang. Total ada 133 atlet dari 18 Pengprov PABSI. Rinciannya, 79 atlet remaja dan 81 atlet junior. Ketua Panitia Penyelenggara Kejurnas, Sonny Kasiran, mengatakan kejuaraan ini merupakan bagian program pembinaan PABSI yang sempat tertunda karena Pandemi COVID-19. Tujuannya, memberikan ruang aktualisasi bagi para atlet muda supaya semangatnya tidak padam karena mereka terus melakukan latihan spartan meski terhalang pandemi, namun mereka juga butuh kompetisi. Namun, imbas pandemi yang belum sepenuhnya mereda pihaknya terpaksa membatasi jumlah atlet masing-masing Pengrov hanya membawa atlet 8 orang. “Ini kami sesuaikan dengan status level Pandemi COVID-19 di arena pertandingan untuk membatasi kerumunan dan tentunya tanpa penonton,” kata Sonny dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/11/2021). Kejurnas angkat besi remaja dan junior ini juga akan melibatkan tim khusus yang bertugas untuk memantau kiprah dan talenta para lifter muda yang diharapkan bisa jadi penerus Windy Cantika di masa depan. Kepala Bidang Prestasi (Binpres) PABSI, Hadi Wihardja berharap kejuaraan ini melahirkan bibit-bibit atlet pelapis yang kelak akan menggantikan posisi Windy Cantika Aisyah dan kawan-kawan untuk bergabung di Pelatnas Angkat Besi Kwini, Jakarta Pusat. “Mudah-mudahan banyak terjadi pemecahan rekornas baik dari Angkatan Snatch maupun Clean & Jerk, ataupun Total Angkatan dari Kejurnas kali ini. Untuk menjaring mereka kami juga menerjunkan Tim Pemandu Bakat yang akan memantau jalannya Kejurnas,” ucap Hadi. Kejurnas Angkat Besi Remaja & Junior akan mempertandingkan 14 kelas di kategori remaja terdiri dari 7 putra dan 7 putri, dan 14 kelas untuk kategori junior yang juga terdiri dari 7 putra dan 7 putri. Adapun kelas-kelas yang dipertandingkan di antaranya, kelas remaja putri dari kelas 40 kg hingga +64 kg, pemaja putra dari kelas 49 kg hingga +81 kg. Sedangkan junior putri, kelas yang dipertandingkan 45 kg hingga +71 kg putra, dan di bagian putra, kelas 55 kg hingga + 89 kg. “Kami membawa 6 lifter yang semuanya adalah atlet PPLP, salah satunya adalah lifter putri peraih perunggu di PON 2020 Papua di kelas 49 kg,” kata Mujianto, Manajer Tim Angkat Besi dari Kalimantan Selatan.

Usai Ukir Rekor Dunia, Ini Target Rizki Juniansyah

Usai Ukir Rekor Dunia, Ini Target Rizki Juniansyah

Usai harumkan Indonesia dengan mengukir tiga rekor dunia junior kelas 73 kg pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021 di Uzbekistan, lifter muda Rizki Juniansyah siap naik level. Ia pun membeberkan targetnya ke depan. Diakui lifter kelahiran Banten, 17 Juni 2003 itu, saat ini ia tengah berniat mencoba memecahkan rekor dunia junior di kelas 81 kg. “Karena masih ada kesempatan berlaga di level junior dua tahun ke depan, obsesi saya selanjutnya mampu memecahkan rekor dunia junior di kelas 81 kg. Untuk itu saya berniat pindah ke kelas 81 kg,” papar Rizki saat menjalani karantina sepulangnya dari Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior di Uzbekistan, Minggu (30/5/2021). Untuk bisa tampil di kelas 81 kg, Rizki Juniansyah harus menjaga berat badannya tidak boleh melebihi 80 kg. “Ini juga untuk jaga-jaga jika nantinya saya harus tampil di kelas 73 kg, untuk menurunkan berat badan tidak sulit,” ungkapnya. Rekor dunia junior kelas 81 kg saat ini yang sedang dibidiknya adalah angkatan snatch seberat 168 Kg yang dicetak lifter Tiongkok, Li Dayin dan clean and jerk 208 kg yang ditorehkan lifter Bulgaria, Nasar Karlos Mau Hasan. “Selisihnya tidak jauh dengan rekor dunia di kelas 73 kg yang baru saja saya pecahkan yakni snatch 155 kg dan clean and jerk 194 kg. Tinggal saya harus fokus untuk menambah berat angkatan di kelas baru ini,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Muhammad Yasin dan Yeni Rohaeni itu. Selain itu, Rizki Juniansyah juga membidik untuk memecahkan rekor dunia senior di kelas 73 kg, kelak jika ia sudah beralih ke level senior. “Sekarang ini saya fokus di junior lebih dahulu dengan rencana pindah kelas. Setelah saya memenuhi syarat di level senior saya mencoba untuk memecahkan rekor dunia lagi yang juga selisihnya tidak jauh yakni 169 kg di angkatan snatch dan 198 kg di angkatan clean and jerk. Tinggal fokus saya lebih meningkatkan lagi power angkatan saya,” ujar Rizki Juniansyah. Prestasi yang diraih oleh pemuda yang bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri itu memang sangat membanggakan. Rizki mengenal angkat besi dari ayah dan kakaknya. Ia memulai debutnya dengan meraih medali perunggu di kelas 56 kg pada Kejurnas Angkat Besi Satria Remaja di Bandung 2016 silam. Atas keberhasilannya itu, Rizki Juniansyah kemudian terpilih mengikuti Kejuaraan Angkat Besi Youth & Juniors Asia di Thailand 2018 silam dengan membawa pulang medali perak di kelas 62 kg. “Target saya di angkat besi ingin tercatat sebagai lifter pemecah rekor dunia baik di kelas junior maupun senior. Alhamdullilah, untuk kelas 73 kg junior saya mampu memecahkannya. Selain obesesi saya tampil di ajang Olimpiade berikutnya di Paris 2024 mendatang,” harapnya. Catatan perjalanan prestasi Rizki Juniansyah boleh dibilang cukup meroket. Ia mulai menekuni angkat besi sejak umur 7 tahun. “Waktu itu karena di rumah Ayah saya mendirikan sasana sendiri, saya sudah mulai latihan namun waktu itu tidak dengan keseriusan dan tidak ditekuni. Di usia 8 tahun saya berhenti latihan karena saya belum di izinkan waktu itu untuk latihan dan saya masih takut-takut karena dulu perawakan saya kecil dan pendek dan itu yang ditakutkan kedua orang tua saya, pertumbuhan badan takut keterusan pendek,” ujarnya. Namun, setelah dilihat postur tubuhnya mengalami pertumbuhan, Rizki Juniansyah kemudian diperbolehkan untuk kembali berlatih. “Saya memulai berlatih lagi pada usia 11 tahun, ketika duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Setelah keluarga bermusyawarah untuk menyetujuinya dan darisitulah saya mendapat gemblengan dari Ayah saya yang juga mantan atlet angkat besi,” ungkapnya lagi. Di usianya yang masih sangat muda, Rizki Juniansyah membersnikan diri tampil di Pekan Olahraga Antar Provinsi (Porprov) Banten dan pertama kali mendapatkan emas di kelas 40 Kg dengan angkatan snatch 45 Kg dan clean and jerk 55 kg. “Saya tidak akan merasa puas dengan apa yang saya raih saat ini. Saya ingin lebih meningkstkan lagi prestasi saya hingga ke jenjang Olimpiade. Saya berterima kasih kepada Ayah, seluruh keluarga, tim pelatih selama berada di Pelatnas yang telah membimbing saya hingga mampu memecahkan rekor dunia,” katanya.

Raih Perunggu Kejuaraan Asia, Rahmat Erwin Jaga Peluang ke Olimpiade Tokyo

Raih Perunggu Kejuaraan Asia, Rahmat Erwin Jaga Peluang ke Olimpiade Tokyo

Indonesia membuka peluang untuk menambah tiket Olimpiade Tokyo dari cabang angkat besi. Lifter putra Rahmat Erwin Abdullah meraih medali perunggu di nomor Clean and Jerk pada Kejuaraan Angkat Besi Senior Asia di Tashkent, Uzbekistan, Selasa, 20 April 2021. Bertanding pada kelas 73 kg, lifter berusia 21 tahun tersebut meraih medali perunggu untuk kategori clean and jerk dengan angkatan 187 kg yang dibukukannya pada upaya kedua. Ia gagal menambah berat beban menjadi 190 kg pada percobaan ketiga. Sementara pada kategori snatch, Rahmat menempati posisi kelima lewat 148 kg pada upaya kedua. Ia kembali gagal mengangkat beban seberat 150 kg pada kesempatan terakhir. Untuk kategori total angkatan, Rahmat berada di posisi keempat dengan 335 kg. Ia kalah bersaing dengan lifter asal China Shi Zhiyong yang mencatatkan 363 kg dan berhak atas medali emas. Medali perak untuk kategori total angkatan diraih oleh lifter Turkmenistan Meredov Maksad dengan 336 kg. Sedangkan medali perunggu direbut oleh Miyamoto Masanori asal Jepang dengan catatan 335 kg. Menurut Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PABSI, Hadi Wihardja dalam keterangan tertulisnya, total angkatan yang diraih oleh lifter yang juga putra dari mantan lifter nasional Erwin Abdullah itu menunjukkan grafik peningkatan sebanyak 6 kilogram. “Dalam hasil tes progres sebelum berangkat, ia mencatat total angkatan seberat 329 kilogram. Hasil ini cukup menggembirakan,” kata Hadi, Rabu, 21 April 2021. Ia juga mengatakan, dengan hasil ini Rahmat Erwin Abdullah berpeluang untuk menempati urutan 8 besar dunia dan lolos ke Olimpiade Tokyo. “Ia berhasil menambah Poin sebanyak 4332. Sementara saingannya peraih perak dari Turkmenistan baru meraih 4118 poin. Kemungkinan untuk lolos terbuka lebar dengan catatan kita juga harus memonitoring prestasi lifter dari kawasan lainnya seperti Amerika Latin dan Oceania, terutama lifter Kolombia yang juga menjadi saingan kuat,” lanjutnya. Sementara itu, pelatih angkat besi, Dirdja Wihardja mengatakan Rahmat masih ikut kembali pada Kejuaraa Dunia Junior 2021. “Kalau di Kejuaraan Dunia dengan total yang sama akan lolos ke Olimpiade,” ucap Dirdja kepada media, Rabu, 21 April 2021.

Sabet Medali, Windy Cantika Aisah Pastikan Tiket Olimpiade

Sabet Medali, Windy Cantika Aisah Pastikan Tiket Olimpiade

Satu lagi atlet Indonesia yang memastikan diri untuk berlaga di Olimpiade Tokyo. Kali ini giliran lifter muda Indonesia, Windy Cantika Aisah. Ia mengunci tiket ke Olimipiade seusai meraih medali perunggu angkatan snatch pada Kejuaraan Asia Angkat Besi 2021 di Tashkent, Uzbekistan, Sabtu, 17 April 2021. Turun di nomor 49 kg putri, lifter berusia 18 tahun itu menempati peringkat ketiga kategori snatch dengan angkatan 87 kg. Di kategori Clean and Jerk, ia berada di peringkat keempat dengan 102 kg. Pada kategori total angkatan, Windy berada di peringkat keempat dengan 189 kg. Manajer tim Indonesia, Pura Darmawan mengatakan raihan perunggu di Uzbekistan membuat Windy mengumpulkan 4038,7198 poin di peringkat Federasi Angkat Besi Internasional (IWF). Ia pun naik dari peringkat tujuh ke peringkat lima. Kini, ia sudah aman berada di delapan besar ranking IWF sehingga tiket Olimpiade Tokyo resmi digenggam. “Ini sudah optimal. Kejuaraan ini (Kejuaraan Asia Angkat Besi 2021) boleh dibilang mini Olimpiade. Jadi, perjuangan Windy Cantika untuk meraih perunggu di snatch cukup berat,” ujar Pura Darmawan, Senin, 19 April 2021. Menurut Pura, pada akhir Mei nanti, ada kemungkinan Windy Cantika kembali tampil di Tashkent pada Kejuaraan Asia Angkat Besi Junior 2021. Peluang Windy Cantika mendapatkan emas di sana tentu sangat terbuka. “Paling tidak, kami sudah punya gambaran apakah Windy Cantika tetap ditampilkan pada Kejuaraan Asia Junior atau tidak,” kata Pura Darmawan. “Jika sukses di kejuaraan tersebut tentu peringkat IWF makin terdongkrak. Yang jelas untuk sekarang, tiket Olimpiade aman dalam genggaman,” lanjutnya. Dengan lolosnya Windy Cantika, total ada enam atlet Indonesia yang sudah memastikan tiket Olimpiade Tokyo 2020. Adapun sisanya masih berjuang untuk mengamankan posisi mereka dalam Race to Tokyo karena kualifikasi masih berjalan. Sedangkan untuk Paralimpiade Tokyo 2020, sejauh ini ada 15 atlet Indonesia yang telah memastikan tempat. Berikut daftar atlet Indonesia dalam Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo (per 19 April 2021): Olimpiade Tokyo 2020 Angkat Besi Eko Yuli Irawan (61 kg putra) Windy Cantika Aisah (49 kg putri) Atletik Lalu Muhammad Zohri (100 meter putra) Menembak Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba (100 m air riffle putri) Panahan Diananda Choirunnisa (Individual putri, mixed team) Riau Ega Agatha (Individua Putra, mixed team) Paralimpiade Tokyo 2020 Atletik Saptoyogo Purnomo Kharisma Evi Tiarani Angkat Berat Ni Nengah Widiasih Balap Sepeda Muhammad Fadli Imammuddin Bulu Tangkis Dheva Anrimusthi Hary Susanto Fredy Setiawan Ukun Rukaendi Leani Ratri Oktila Khalimatus Sa’diyah Menembak Bolo Triyanto Hanik Puji Astuti Renang Syuci Indiriani Tenis Meja David Jacobs Komet Akbar

Lifter Putra Junior Indonesia, Muhammad Faathir, Membuat Kejutan Pada Kejuaraan Angkat Besi Junior Asia 2020

Muhammad Faathir berhasil memecahkan rekor dunia di cabang angkat besi pada Kejuaraan Remaja dan Junior Asia 2020. (Foto: Google)

Prestasi membanggakan dibuat Muhammad Faathir, Dia berhasil memecahkan rekor dunia di cabang angkat besi pada Kejuaraan Remaja dan Junior Asia 2020. Tampil di Uzbekistan Sports Complex, Uzbekistan, Sabtu (15/2/2020) malam, remaja kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur, 21 Mei 2003, bukan hanya meraih tiga medali emas, tetapi juga memecahkan dua rekor dunia. Event tersebut merupakan salah satu ajang kualifikasi kategori gold menuju Olimpiade 2020 Tokyo. Faathir tampil di kelas 61 kg. Dia mampu menorehkan total angkatan 273 kg, dengan rincian 119 kg snatch dan 154 kg clean and jerk. Faathir mempertajam rekor yang dibuatnya sendiri pada Kejuaraan Angkat Besi Junior dan Remaja di Pyongyang, Korea Utara, Oktober 2019 lalu. Kala itu dia memecahkan rekor clean and jerk seberat 153 kg dan total angkatan 272 kg. Tak cuma itu, lifter berusia 16 tahun tersebut juga memegang dua rekor dunia lainnya yakni snatch dari 118 kg menjadi 119 kg, clean and jerk dari 149 kg menjadi 153 kg, serta total angkatan dari 269 kg menjadi 272 kg. Berkat pencapaiannya, Faathir mendapatkan medali emas di Kejuaraan Remaja dan Junior Asia 2020. Sementara medali perak diraih Gogoi Sidhanta asal India, dan perunggu didapat lifter Kazakhstan, Akmolda Shairamkaz. https://www.instagram.com/p/B8nSjaon8hm/ Prestasi yang dicapai M Faathir tidak instan. Pasalnya, lifter yang menghuni Sekolah Olahraga Ragunan (SOR), Jakarta, sudah mulai bergabung dalam pelatnas angkat besi Asian Games 2018.

Ini Yang Ditunggu, Rekomendasi 3 Sepatu Olahraga Untuk Kamu

Sepatu dapat memberikan dampak besar terhadap performa berolahraga. Semua produk sepatu pun berlomba-lomba memiliki sisi marketing untuk menarik kamu sebagai pembeli. Agar produk yang ditawarkan seolah-olah semuanya bagus, dan penting untuk dimiliki. Nah, agar kamu tidak bingung, kamu harus punya nih, pengetahuan dan perbandingan produk sepatu olahraga. Berikut ini info buat kamu terkait tiga jenis-jenis sepatu khususnya sneakers yang wajib dipakai untuk pecinta olahraga (versi Menshealth).  Sepatu Lari Rekomendasi, Adidas PureBOOST GO Bagi kamu pecinta lari, kamu butuh penunjang khusus untuk kaki yang nyaman dan lincah saat berlari. Salah satu rekomendasi versi Menshealth adalah sepatu Adidas PureBOOST GO. Sepatu sneakers ini didesain mampu takhlukan jalanan serta trotoar, dan mampu beradaptasi terhadap pelari urban. Bantalan kaki bagian depan yang melebar mampu membuat kaki menjejakkan ke permukaan dengan stabil. Gerakan sepatu ini juga multidireksional loh, serta yang tak kalah keren, PureBOOST GO punya teknologi khusus yang menawarkan pengembalian energi tidak terbatas pada bagian midsole. Wah, setelah baca info diatas, tertarik gak sobat muda NYSN untuk pakai Adidas PureBOOST GO saat berlari? 2. Olahraga Angkat Beban Rekomendasi,Chuck Taylors, Converse Yap, converse merupakan sepatu basic. Olahraga angkat beban membutuhkan sepatu basic juga, terutama saat kamu melakukan gerakan seperti squat, deadlift, sampai ke bench press. Seperti lansiran dari kompas.com, pemilik Syatt Fitness dan pemegang rekor angkat beban lima kali, Jordan Syatt berkata ketika angkat beban, kamu harus menjauhi sepatu ber”tumit”, karena tidak akan memberikan topangan yang maksimal ketika kaki membentuk sudut lebar. Saat squat sepatu ber”tumit” tidak akan memgikuti posisi tubuh yang netral, sedangkan saat deadlift, kamu harus mengupayakan menumpu beban tubuh pada bagian tumit. Nah, jika tumit terlalu terangkat karena sepatu tidak akan baik hasilnya. Maka itu para atlet angkat beban memilih sepatu yang mempunyai alas datar. Menurut lansiran pun, Scott Caulfield, the head strength and conditioning coach di National Strength and Conditioning Association, Amerika Serikat, berkata bahwa Converse Chuck Taylors klasik memenuhi standar kebutuhan angkat beban. Sepatu Chuck Taylors memiliki sol karet datar keras serta bisa menopang tubuh ketika angkat beban berat. CrossFit Training Rekomendasi, Nike Metcon Crossfit atau bisa disebut sejenis latihan yang menggabungkan olahraga kardiovaskular dan angkat beban dalam circuit training ini dinilai cocok dengan sepatu Nike Metcon. Pada Metcon 4 terlihat ada perpaduan sepatu lari Nike dan Nike Kobe 6. Bagian atas sepatu tersebut rendah sehingga dapat mencengkram kaki dengan baik. Performa Metcom sungguh baik, terutama dalam hal fleksibilitas. Sepatu ini didesain untuk digunakan berlari maupun angkat beban. Pada bagian outsole sepatu mampu mencengkram kuat sehingga menawarkan dukungan untuk olahraga seperti rope climbing. Daya tahan yang tinggi menjadikan sepatu Metcon cocok digunakan untuk olahraga interval intensitas tinggi (HIIT).   Keren-keren bukan sepatu yang direkomendasikan versi Menshealth? Apa ada salah satunya yang bikin kamu tertarik mau memakainya? Mulai sekarang,jadilah pribadi yang cerdas dan bijak dalam memilih sepatu olahraga yang akan kamu pakai, karena sepatu bukan hal sembarangan dan nantinya akan mempengaruhi performa kamu dalam berolahraga,loh!   (kompas.com)

PABBSI Kirim 11 Lifter Ke Kejuaraan Dunia Turkmenistan, Atlet 17 Tahun Asal Sulsel Disiapkan Jadi Penerus

Atlet angkat besi asal Sulawesi Selatan (Sulsel), Rahmat Erwin Abdullah, yang masih berusia 17 tahun, gagal menyumbang medali pada Asian Games 2018. Pemuda kelahiran 13 Oktober 2000 itu, kini berangkat ke Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018 di Ashgabat, Turkmenistan, 1-10 November. (Antaranews.com)

Jakarta- Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat Binaraga dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABBSI) mengirimkan 11 lifter terbaiknya ke IWF World Championships 2018 atau Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018, di Ashgabat, Turkmenistan, 1-10 November. Wakil Ketua Umum PB PABBSI Joko Pramono, dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (8/10), mengatakan bila kejuaraan dunia di Ashgabat ini sekaligus sebagai ajang kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. “Saya bersama jajaran PB PABBSI berharap bisa meloloskan atlet sebanyak mungkin demi menpertahankan tradisi medali Olimpiade. Makanya semuanya harus bisa meraih hasil maksimal,” katanya. 11 lifter Indonesia yang diberangkatkan ke Ashgabat adalah Eko Yuli Irawan dan Surahmat untuk kelas 61 kg, Deni kelas 67 kg, Triyatno dan Rahmat Erwin Abdullah kelas 73 kg. Selanjutnya Sri Wahyuni kelas 49 Kg, Yolanda Putri 49 Kg, Sarah Anggraeni kelas 55 Kg, Acchedya Jaggadhita kelas 59 Kg dan Nurul Akmal kelas + 87 Kg. Menurut Joko, tradisi meraih medali pada kejuaraan multi event terbesar di dunia itu memang harus dipertahankan. Salah satu upayanya adalah banyak menurunkan lifter pada kejuaraan yang masuk kualifikasi. Dan kegiatan tersebut dibarengi dengan proses regenerasi. Pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro Brazil, Indonesia mampu mengirimkan lima orang lifter dan dua diantaranya yaitu Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni mampu menyumbang medali untuk kontingen Indonesia. Kini, dua lifter muda Indonesia yakni Rahmat Erwin yang baru berusia 17 tahun, kelahiran Makassar (Sulsel) 13 Oktober 2000, dan Yolanda asal Deli Serdang (Sumut) 23 Januari 2000, diharapkan bisa menjadi penerus era Eko Yuli dan Sri Wahyuni, di masa depan,. Sementara itu, Manajer tim angkat besi Indonesia, Sony Kasiran mengatakan, tim saat ini sudah bertolak menuju Ashgabat, dan sebelumnya dilepas oleh Ketua Umum PB PABBSI Rosan Perkasa Roeslani. “Yang menjadi fokus PB PABBSI adalah mengumpulkan poin sebanyak mungkin, untuk perebutan tiket ke Olimpiade Tokyo 2020,” katanya. (Adt)

Nur Vinatasari, Remaja 17 Tahun, Berhasil Meraih Medali Pertama Bagi Indonesia di Ajang Youth Olympic Games 2018

Lifter muda Nur Vinatasari (kanan) meraih medali perunggu dengan total angkatan 162 kg (snatch 72 kg dan clean and jerk 90 kg), di ajang Olimpiade Remaja, di Argentina. (Youth Olympic Games Argentina 2018)

Jakarta- Kontingen Olimpiade Remaja (Youth Olympic Games) 2018, di Buenos Aires, Argentina, meraih medali perunggu dari cabang angkat besi melalui Nur Vinatasari. Turun di kelas 53 kg, pada Selasa (9/10) waktu setempat atau Rabu (10/10) dinihari waktu Indonesia, Nur Vinatasari berhak atas medali perunggu setelah membukukan total angkatan 162 kg, yakni 72 kg untuk angkatan snatch, dan 90 kg untuk clean and jerk. Lifter remaja kelahiran Pringsewu, Lampung, 5 Juli 2001 itu, mengaku bangga dengan prestasi yang diraihnya pada Olimpiade Remaja ini. Menurutnya, kunci dari semua itu adalah kerja keras, tidak mudah putus asa, dan disiplin dalam melakukan segala hal. “Saya bangga dengan prestasi ini. Saya berharap bisa menjadi motivasi bagi anak muda Indonesia lainnya untuk mampu memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara,” ujar Vina, sapaannya, Rabu (10/10). Usai mengukir medali perunggu di Olimpiade Remaja, Vina membentang asa. Ia berharap menjadi yang terbaik pada kejuaraan internasional lainnya. Lebih dari itu, Vina membidik prestasi tinggi bisa menembus Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Sementara itu, Sabina Baltag asal Rumania meraih medali emas usai mencatatkan total angkatan 177 kg (snatch 77 kg dan clean and jerk 100 kg). Dan, medali perak menjadi milik Junkar Acero asal Kolombia dengan total angkatan 176 kg (snatch 78 kg dan clean and jerk 98 kg). Sedangkan Dito Ario Tejo, Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia Youth Olympic Games (YOG) 2018, menegaskan dirinya bangga dengan pencapaian lifter muda Indonesia itu. Ia menyebut hasil ini sudah menyamai pencapaian kejuaraan yang sama sebelumnya di Nanjing, Cina, empat tahun lalu. “Kami berharap akan bertambah lagi, ada beberapa cabor lagi yang berpotensi mengharumkan nama bangsa,” ungkap Dito. Olimpiade Remaja 2018 di Buenos Aires, Argentina, berlangsung pada 6-18 Oktober. Terdapat 32 cabang dengan 241 nomor yang dipertandingkan. Kontingen Indonesia mengirimkan 18 atlet untuk berpartisipasi pada 8 cabor. Yakni badminton (Maharani Sekar Batari dan Ikhsan Leonardo Immanuele Rumbai), atletik (Diva Renatta Jayadi dan Adi Ramli Sidiq), renang (Adinda Larasati Dewi Kirana, Farrel Armando Tangkas, Azzhara Permatahani, dan Azel Zelmi Arialingga). Kemudian, angkat besi (Nur Vinatasari), basket 3×3 (Ni Putu Eka Liana, Michelle Kurniawan, Hoo Valencia Angelique, dan Nathania Claresta Orville), menembak (Muhamad Naufal Mahardika), golf (Vania Ribka), dan voli pantai (Bintang Akbar dan Danang Herlambang). (Adt)

Batal Lakukan Start Sempurna, Miskomunikasi Ganjal Triyanto Tambah Medali Angkat Besi

Lifter Indonesia Triyatno, meluapkan emosinya usai berhasil melakukan angkatan "snatch", pada nomor angkat besi putra 69 kg grup A Asian Games 2018, di JiExpo, Jakarta, Rabu (22/8). (antarafoto.com)

Jakarta- Tak ada kejutan yang tercipta dari cabor angkat besi kelas 69 kg putra Asian Games 2018, Rabu (22/8). Dua lifter Indonesia, Deni dan Triyatno, sama-sama gagal meraih medali. Deni mengaku, sudah realistis soal peta persaingan di kelas 69 kg putra Asian Games 2018. “Terima kasih kepada semuanya yang sudah menyaksikan dan support. Ini merupakan penampilan terbaik saya, dan semoga kedepannya saya bisa memberikan yang lebih baik untuk Indonesia” kata Deni, saat ditemui awak media usai pertandingan. Tergabung di Grup B, Deni tak cukup optimis meski mampu meraih Top Six. Ia mengaku pada babak Snatch, dirinya terburu-buru melakukan angkatan, sehingga sulit menjaga keseimbangan tubuh, ketika mengangkat besi. “Saat Clean and Jerk, mungkin endurance saya yang kurang, karena selama latihan, belum pernah coba diluar batas kemampuan,” tambah pria Bogor kelahiran 26 Juli 1989 itu. Pada babak Snatch, Deni sanggup mengangkat 137kg, 141kg, dan 145kg, namun gagal di angkatan ketiga. Untuk Clean & Jerk, ia sukses mengangkat 170kg, 177kg, dan 180kg, tapi gagal di angkatan ketiga, dan meraih total angkatan 318kg. Meski jadi yang terbaik di Grup B, ia tetap tak yakin total angkatan 318kg miliknya, bisa menyaingi para lifter dari Grup A. Dan prediksi itu terbukti. Para lifter dari Grup A, mampu menorehkan catatan yang lebih baik dari Deni, termasuk Triyatno. Triyatno, sebenarnya berpeluang menambah medali angkat besi jadi dua emas, setelah sumbangan dari Eko Yuli Irawan. Sialnya, total angkatan 329 milik Triyatno, hanya menempati posisi keempat, di klasemen akhir kelas 69 kg. Ia kalah dari lifter Korea Utara,  Choi O Kang (336kg), lifter Uzbekistan, Doston Yokubov (331kg), dan lifter Kirgistan, Izzat Artykov (330kg). “Saya minta maaf kepada bangsa Indonesia dan keluarga, karena gagal meraih medali. Mungkin pertandingan tadi, ada miskomunikasi antar saya dengan pelatih,” ungkap Triyatno, paska lomba. Miskomunikasi terjadi di momen angkatan clean and jerk. Seharusnya, Triyato mengawali angkatan clean and jerk dengan bobot 180kg. Tapi, angkatan pertamanya justru menempatkan angka 175kg. Padahal, Triyatno sudah meminta pelatih untuk menambah angkatan pertama. “Di angkatan pertama clean and jerk, harusnya sudah ganti start. Ini malah belum diganti tapi sudah dipanggil duluan. Kalau untuk di snatch, sesuai strategi. Karena tadi di snatch ukuran kedua. Makanya, seharusnya clean and jerk start 180 itu sudah bagus,” jelas Triyatno. “Itu tadi saya bilang, di angkatan pertama, pelatih sudah menempatkan 175, ditaruhnya setelah saya timbang badan. Setelah pemanasan, bisa dinaikkin lagi, tapi lupa diubah. Sedangkan negara lain sudah cepat mengubahnya. Jadi, sedikit miskomunikasi saja,” lifter kelahiran Metro, Lampung, 20 Desember 1987 itu menambahkan. Hal serupa juga disampaikan sang pelatih, Dirja Wihardja. “Betul, kami ada miskomunikasi dari atlet, pelatih dan asisten pelatih. Sebab, peningkatan pergantian angka saat start awal itu hasilnya nanti cukup signifikan, apalagi dari 170 ke 175, begitu seterusnya,” jelas Dirja. Namun, Dirja memahami bila anak asuhnya hanya kurang beruntung meraih medali perak. Sebab selisih total angkatan milik Kazakhastan dengan Uzbekistan, hanya 1kg saja. Pada akhirnya, Triyatno hanya bisa menempatkan 182kg pada angkatan kedua dan 186kg pada angkatan ketiga. Menurut Triyatno, 186kg seharusnya ditempatkan pada angkatan kedua. (Ham) Hasil Klasemen Kelas 69 Kg 1.  Choi O Kang (Korea Utara) Snatch : 147kg, 151kg, 153kg (gagal) Clean & Jerk : 181kg, 185kg, 188kg (gagal) Total : 336kg 2. Yokubov Doston (Uzbekistan) Snatch : 138kg, 143kg, 145kg Clean & Jerk : 181kg, 186kg, 192kg (gagal) Total : 331kg 3. Artykov Izzat (Kazakhastan) Snatch : 143kg (gagal), 143kg, 147kg Clean & Jerk : 178kg, 183kg, 190kg (gagal) Total : 330kg 4. Triyatno (Indonesia) Snatch : 142kg, 157kg, 150kg (gagal) Clean & Jerk : 175kg (gagal), 182kg, 186kg (gagal) Total : 329kg