Lolos Fase Grup, Jadi Rekor Tim Tersubur Dan Mimpi Buruk Luis Milla Versus Tim Timur Tengah

Winger Timnas U-23 asal Persib Bandung, Febri Haryadi (13), saat beradu sprint dengan gelandang Palestina, Mahmoud Abuwarda (7), pada laga penyisihan Asian Games 2018 Grup A, Selasa (15/8), di Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi. (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas U-23 melaju ke perdelapan final Asian Games 2018, sebagai juara Grup A. Kontestan lainnya, UEA pun tembus ke babak 16 besar dari peringkat terbaik ketiga di Grup C. Kedua tim belum pernah bertemu. Selama penyisihan grup, Indonesia dan UEA ternyata sama-sama produktif, dalam melepaskan tembakan ke arah gawang. Selain melawan Palestina, Indonesia selalu unggul dalam tembakan tepat ke gawang saat menghadapi Taiwan, Laos, dan Hongkong. Sedangkan, UEA unggul dalam tembakan tepat ke gawang ketika menghadapi Suriah dan Timor Leste, tapi berimbang saat melawan China. Lalu siapa yang paling produktif melakukan tembakan tepat ke gawang? Berdasarkan statistik yang dikutip dari laman resmi AsianGames2018.id, Indonesia menghadapi empat kompetitor di Grup A, dengan total tembakan tepat ke gawang sebanyak 38 kali. Dari 38 kali tembakan tepat ke gawang itu, 11 berbuah gol. Namun, jika hasil melawan Taiwan tak dihitung, maka hanya ada 28 tembakan tepat ke gawang lawan dengan jumlah tujuh gol. Berdasarkan regulasi penentuan peringkat ketiga terbaik, hasil apapun melawan tim di urutan terbawah grup, tak akan dihitung demi asas keadilan. Sementara UEA, menghasilkan 21 tembakan tepat ke gawang, tapi hanya lima yang berbuah gol. Artinya, dalam eksekusi tembakan tepat ke gawang, tim merah putih jauh lebih produktif ketimbang UEA. Diprediksi, UEA akan kembali melakukan banyak upaya tembakan tepat ke gawang, pada babak perdelapan final nanti. Selain menyegel titel juara grup, tim asuhan Luis Milla pun menjadi salah satu tim tersubur pada fase grup Asian Games 2018, dengan torehan 11 gol. Jumlah ini sama dengan catatan yang dibuat oleh Juara Grup C, China. Bedanya, Indonesia mencetak 11 gol dari empat pertandingan, sementara 11 gol China didapat dari tiga laga. Namun, sejatinya ada hal yang harus diwaspadai oleh Milla. Sejak menjadi arsitek Indonesia pada Januari 2017, Milla sudah tiga kali mendampingi skuad Garuda melawan negara asal Timur Tengah. Dua kali melawan Suriah dan satu kali menghadapi Palestina. Dari ketiga laga itu, Indonesia selalu takluk dari lawannya, meski dengan skor tipis. (Ham) Rekor Indonesia Kontra tim asal Timur Tengah 16 November 2017 (Persahabatan) Indonesia 2-3 Suriah (Septian David 36′, Osvaldo Haay 45′; Momen Naji 31′,43′, Abd Al-Rahman 53′) 18 November 2017 (Persahabatan) Indonesia 0-1 Suriah (Mouhamad Anez 83′) 15 Agustus 2018 (Asian Games 2018) Indonesia 1-2 Palestina (Irfan Jaya 23′; Oday Dabbagh 16, Mohamed Darwish 51′) == Statistik Penyisihan INDONESIA TAIWAN 0-4 INDONESIA Total Tembakan: 7-22 Tembakan ke Gawang: 5-10 Dominasi Bola: 42%-58% INDONESIA 1-2 PALESTINA Total Tembakan: 6-17 Tembakan ke Gawang: 1-8 Dominasi Bola: 51%-49% LAOS 0-3 INDONESIA Total Tembakan: 3-32 Tembakan ke Gawang: 2-17 Dominasi Bola: 37%-63% INDONESIA 3-1 HONGKONG Total Tembakan: 17-4 Tembakan ke Gawang: 10-2 Dominasi Bola: 59%-41% === UNI EMIRAT ARAB (UEA) UEA 0-1 SURIAH Total Tembakan: 8-7 Tembakan ke Gawang: 3-2 Dominasi Bola: 54%-46% TIMOR LESTE 1-4 UEA Total Tembakan: 8-24 Tembakan ke Gawang: 4-16 Dominasi Bola: 35%-64% UEA 1-2 CHINA Total Tembakan: 9-5 Tembakan ke Gawang: 2-2 Dominasi Bola: 55%-47%

Incar Emas Dari Ketinggian, Begini Cara Penghitungan Nilai di Paralayang

Paralayang menjadi cabang olahraga perdana yang dipertandingkan dalam Asiang Games 2018. Paralayang mempertandingkan dua kategori lomba, yakni Ketepatan Mendarat dan Lintas Alam (Cross Country), dengan titik lepas landas di kawasan Gunung Mas Puncak, Bogor. (bola.com)

Bogor– Paralayang menjadi cabang olahraga perdana yang dipertandingkan dalam event olahraga empat tahunan Asian Games. Pada Asian Games 2018, sebanyak 18 negara dengan total 94 atlet turut bertanding dalam lomba tersebut. Paralayang adalah olahraga yang menitikberatkan pada kemampuan mengendalikan parasut untuk terbang. Olahraga rekreasi ini, sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia. Paralayang tak memakai alat atau mesin sebagai sumber tenaga. Karena itu kemampuan angin sangatlah penting. Untuk itu, olahrga ekstrem ini, biasanya dimulai dari ketinggian sebagai jalur lepas landas. Khusus untuk event Asian Games 2018, paralayang mempertandingkan dua kategori lomba, yakni Ketepatan Mendarat dan Lintas Alam (Cross Country). Perbedaan kedua kategori tersebut terletak pada teknis terbang. “Jika pada ketepatan mendarat, atlet terbang menuju landing atau tempat mendarat, dan juga mencari nilai terkecil saat mendarat. Sedangkan untuk kategori lintas alam, atlet harus melakukan terbang sejauh jauhnya dan secepatnya,” kata Competition Manager Paralayang, Wahyu Dewanto Yuda, dilansir Tempo, Senin (20/8). Wahyu mengatakan, untuk kategori ketepatan mendarat, atlet mendarat pada lingkaran yang telah disediakan. “Lingkaran pertama berbentuk pad digital, dengan diameter 22 cm, yang di tengahnya terdapat lingkaran berdiameter 2 cm,” kata Wahyu. Ia menambahkan, pad digital tersebut bernilai 0,0 hingga 22,0. Kemudian di luar pad digital tersebut, ada lingkaran berdiameter 250 cm dan 500 cm. “Jika atlet menginjak di luar pad digital namun masih pada lingkaran, akan dihitung jarak cm dari titik nol, sedangkan jika di luar lingkaran nilainya 500,” kata Wahyu. Pada Asian Games 2018, untuk kategori akurasi, terdapat dua nomor beregu dengan 6 ronde (putaran), dan dua nomor individual dengan 4 ronde, selama 4 hari pertandingan. Sedangkan untuk Lintas Alam, ada dua nomor beregu dengan 5 ronde, berlangsung selama 5 hari pertandingan. “Pada nomor beregu nilai akan diakumulasikan masing masing atlet dan menjadi nilai bersama pada masing-masing nomor,” kata Wahyu. Diketahui, sebelumnya Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, berharap lebih dari 2 medali emas bisa diperoleh pada cabang olahraga paralayang.

Debutan Baru Cetak Sejarah, Tim Paralayang Indonesia Catat Emas Di Ajang Perdana Asian Games 2018

Atlet paralayang Indonesia, Joni Efendi, saat melakukan landing, dalam nomor ketepatan mendarat (KTM) beregu putra cabor Paralayang atau Pragliding, di Gunung Mas Puncak, Bogor, Rabu (22/8). (liputan6.com)

Bogor- Cabang olahraga (cabor) paralayang atau paragliding meraih emas pertama di Asian Games 2018. Tampil pertama kali di multievent level Asia, Paragliding sukses di nomor ketepatan mendarat (KTM) beregu putra, pada Asian Games 2018. Satu emas adalah sesuai target dari Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia (PB FASI). Bertanding di Gunung Mas Puncak, Bogor, Rabu (22/8), Indonesia mengumpulkan 97 poin terakhir (putaran enam), guna melengkapi jumlah total poin tertinggi. Indonesia mengumpulkan total poin tertinggi, 1104 dari enam putaran yang dijalani. Jumlah poin Indonesia jauh melebihi pencapaian dari Tim Korea Selatan yang memperoleh perak paska meraup total poin 1771, dan Thailand dengan pencapaian 1901 poin mendapatkan perunggu. Di putaran pertama, Jafro Megawanto dkk. menduduki posisi kedua, di bawah China, setelah mengumpulkan 315 poin. Sementara China memimpin dengan 189 poin. Namun di putaran kedua, Indonesia menyalip ke posisi pertama dengan 272 poin, usai Aris Apriyansyah dan Jafro sukses mencatatkan dua hasil terendah. China kembali memimpin putaran ketiga, usai mencatat poin terendah 25 berbanding dengan Indonesia dengan poin 70 di tempat kedua. Beruntung, Indonesia mencatatkan hasil bagus di dua putaran terakhir dengan menghasilkan 64 poin dan 95 poin. Meskipun masih di bawah catatan Korsel, yang mengumpulkan 24 dan 22 poin di dua puataran akhir, tapi Korsel kalah jauh di putaran kedua dan dan pertama, dengan catatan 622 poin dan 841 poin. Hingga total poin Indonesia pun menjadi yang terendah teratas mengungguli Korsel maupun China, yang hanya duduk di posisi lima. Manajer Timnas Paragliding, Wahyu Yudha mengatakan, jika hasil ini adalah buah perjuangan selama ini berlatih. Padahal, cabang ini baru pertama kal di Asian Games 2018 dan langsung meraih medali emas. “Ini catatan emas untuk sejarah paragliding Indonesia dan Asian Games 2018. Karena pertama kali tampil, kita langsung emas,” tuturnya. Sementara menurut sang pelatih Gendon Subandono, tiap poin yang dikumpulkan oleh lima penerjun, Jafro, Aris Apriansyah, Joni Efendi, Hening Paradigma, dan Roni Pratama, sangatlah berarti. Tak ada satu pun yang dinilainya buruk karena untuk nomor beregu, hasil satu sama lain saling mendukung. “Jika melihat dari skor, atlet yang paling menonjol itu Jafro. Dia punya performa yang cukup bagus dan cukup stabil. Dia juga yang kita unggulkan untuk nomor individu,” katanya. Cabang ini selain menyumbangkan medali emas dari putra, juga membukukan medali perak dari nomor ketepatan mendarat beregu putri. Lis Andriana, Ike Ayu Wulandari, dan Rika Wijayanti mengumpulkan poin total 2122 atau terpaut 77 poin dari Tim Thailand, yang meraih medali emas. Di tempat ketiga ada Tim Korsel yang berhak atas perunggu paska mengoleksi 2363 poin. Indonesia masih berpeluang menambah medali dari nomor individu putra dan putri dari Jefro dan Lis. Gendon menambahkan, bila untuk dua nomor tersebut pihaknya sangat berupaya untuk meraih emas. “Kami berupaya di nomor individu, bisa memenuhi target emas di nomor ketepatan mendarat. Karena di nomor lintas alam, rasanyan sulit. Sebab untuk landasan take off terlalu sempit, hanya untuk 4-5 parasut, sementara kita sendiri belum terbiasa. Apalagi, kita tak memiliki peralatannya,” pungkasnya. (Dre)

Bungkam Jepang 3-1, Tim Beregu Putra Bulutangkis Indonesia Bidik Medali Emas Asian Games 2018

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi membalas kekalahan mereka di Kejuaraan Dunia 2018 lalu, usai mengalahkan duet Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, dan membantu kemenangan Indonesia 3-1 atas Jepang, di laga Semifinal beregu putra cabor bulutangkis Asian Games 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tim beregu putra bulutangkis Indonesia mampu menjaga asa meraih medali emas Asian Games XVIII/2018. Kevin Sanjaya Sukamuljo dan rekan sukses menyingkirkan Jepang di laga semifinal, pada Selasa (21/8), di Istora Senayan, Jakarta, dengan skor 3-1. Di partai puncak, pada Rabu (22/8), skuat Merah Putih bakal adu kekuatan dengan China yang sukses mengandaskan perlawanan China Taipeh dengan skor 3-1. Di partai pertama, Anthony Sinisuka Ginting menantang Kento Momota. Pebulutangkis yang menghuni ranking 12 dunia versi BWF itu mampu meladeni perlawanan wakil Negeri Sakura itu. Memberikan tekanan sepanjang laga, Anthony yang tampil percaya diri akhirnya berhasil menuntaskan gim ini dengan skor 21-14. Di gim kedua, wakil tuan rumah itu tak mengendurkan permainan, bahkan terus mengancam daerah pertahanan Momota. Kerap memainkan bola reli serta pendek menyilang di depan net sangat efektif bagi Anthony untuk memanen angka, namun ia dipaksa menyerah 14-21 oleh pemain Jepang penghuni rangking 4 versi BWF itu. Berlanjut di gim penentu, duel dua pemain tetap berlangsung dalam tensi tinggi. Bahkan saling serang mewarnai jalannya pertandingan membuat publik tuan rumah bergemuruh. Anthony sempat berada di atas angin setelah unggul 15-10. Bukannya menambah poin, justru pemain Matahari Terbit itu mampu merebut 11 poin berturut-turut dan mengunci perolehan angka Anthony di poin 15. Skor menjadi 19-15 untuk Momota. Hanya satu poin yang berhasil ditambah Anthony, dan dua poin krusial direbut Momota dengan meyakinkan yang menutup gim ini dengan skor 16-21, serta memastikan Jepang unggul 1-0, dalam tempo 84 menit. Kedua pemain sejauh ini telah berjumpa sebanyak 4 kali. Satu-satunya kemenangan Anthony tercipta di ajang Hongkong Open 2015, straight game, 21-7 dan 21-15. “Sebenarnya tidak ada beban. Dari kemarin saya bisa menikmati permainan. Sayang banget tadi, sebetulnya saya berpeluang dapat poin. Tapi dia mainnya menunggu lawan buat kesalahan,” ujar Anthony usai laga. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi yang turun di partai kedua mampu membalas kekalahan Indonesia di laga awal. Skor imbang 1-1. Duet andalan Merah Putih tampil memukau saat berjumpa dengan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Ganda ranking satu dunia versi BWF itu tak memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengembangkan permainan. Begitu juga dengan smash-smash keras baik yang dilancarkan Kevin dann Marcus sepanjang laga tak mampu dibendung lawan. Tampil superior selama 31 menit, The Minions akhirnya sukses menunaikan tugasnya untuk menyumbang angka bagi skuat Merah Putih setelah menutup pertandingan dengan skor 21-18 dan 21-12. Kemenangan ini membalas kekalahan mereka di perempat final BWF World Championship 2018, awal Agustus lalu. Kevin/Marcus kalah straight game, 19-21 dan 18-21. “Kami belajar dari kekalahan kemarin. Hari ini kami jauh lebih siap. Kami menekan dari awal, dan mereka tidak bisa keluar dari tekanan itu,” terang Kevin soal kemenangannya. Aura positif Kevin/Marcus berlanjut pada pemain tunggal Jonatan Christie. Bertanding di partai ketiga, butuh 54 menit bagi pemain kelahiran Jakarta, 15 September 1997 itu untuk mengunci kemenangan dua gim langsung atas Kenta Nishimoto, 21-15 dan 21-19. Indonesia memimpin 2-1. “Puji Tuhan saya bisa menang hari ini. Di pertemuan sebelumnya saya kalah, dan belum pernah menang dari dia. Saya tak menyangka menang straight game hari ini. Pokoknya saya sudah siap capek dan main rubber game melawan pemain Jepang,” tutur pemain asal PB Tangkas Specs Jakarta itu. Indonesia memastikan tiket final beregu putra bulutangkis Asian Games XVIII/2018, setelah duet Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto mampu mengemban tugas dengan baik di partai penentu. Mereka hanya butuh 33 menit untuk menyudahi perlawanan Takuto Inoue/Yuki Kaneko, dua gim langsung 21-10 dan 21-10. Selama ini, Fajar/Rian selalu gagal meraih kemenangan atas wakil Jepang ranking 7 dunia versi BWF itu. Dan, hasil ini membuat pasangan Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu berhasil memangkas rekor pertemuannya menjadi 1-4 atas Takuto/Yuki. “Kami bersyukur karena tim Indonesia bisa ke final dan kami menyumbang poin. Kami tak terbebani karena sudah unggul 2-1, jadi mainnya enak,” tukas Fajar. “Kami ingin skornya 3-1 saja. Kami belum pernah menang lawan mereka, ini motivasi buat kami. Yang penting bisa membalas kekalahan di rumah kami sendiri,” pungkasnya. (Adt) Hasil Pertandingan Semifinal Bulutangkis Beregu Putra Asian Games vs Jepang 3-1: Partai Pertama Anthony Sinisuka Ginting vs Kento Momota : 21-14, 14-21, 16-21 Partai Kedua Kevin Sanjaya Sukomuljo/Marcus Fernaldi Gideon vs Takeshi Kamura/Keigo Sonoda : 21-18, 21-12 Partai Ketiga Jonatan Christie vs Kenta Nishimoto : 21-15, 21-19 Partai Keempat Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto vs Takuto Inoue/Yuki Kaneko : 21-10, 21-10 Partai Kelima Ihsan Maulana Mustofa vs Kanta Tsuneyama (tidak dimainkan)

Tren Positif UEA Babak 16 Besar di Dua Asian Games Terkini, Wajib Diwaspadai Timnas U-23

Bek kanan Timnas U-23, I Putu Gde Juni Antara (2), membayangi pemain Hongkong Wai Keung Chung (9), pada laga penentuan Juara Grup A, di Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi, Senin (20/8) malam. Indonesia berhasil unggul 3-1 dan lolos ke babak 16 besar cabor sepak bola putra. (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas U-23 Indonesia dan Timnas U-23 Uni Emirat Arab (UEA) terus mengasah diri. Kedua tim itu akan bertemu dalam babak 16 besar sepak bola putra Asian Games 2018 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jumat (24/8) pukul 16.00 WIB. Indonesia lolos ke babak 16 besar sebagai juara Grup A setelah pada laga terakhirnya menekuk Timnas U-23 Hongkong 3-1. Uni Emirat Arab lolos ke babak 16 besar setelah menjadi salah satu dari empat tim peringkat ketiga terbaik, meski kalah 1-2 dari China pada laga terakhirnya. Mengamati perjalanan UEA ke babak 16 besar, di atas kertas Indonesia berpeluang lolos ke perempat final. Namun, fase sistem gugur (knockout) biasanya berbeda dengan penyisihan grup. Sebuah tim bisa saja tampil kurang mengesankan di penyisihan grup, tapi bisa tampil lebih baik di fase babak knockout. Sepanjang tampil di Asian Games, tim yang nyaris saja batal ikut cabang sepak bola ini karena sempat tak diikutkan dalam undian itu, lebih baik dari Indonesia. UEA mengikuti sepak bola Asian Games sejak 2002. Prestasi terbaik UEA di cabang sepak bola itu adalah runner-up atau meraih medali perak. Sedangkan Indonesia hanya sampai babak 16 besar. UEA memiliki tradisi positif, di dua Asian Games sebelumnya, setiap kali lolos ke babak 16 besar. Pada Asian Games 2012 di Guangzhou, China, tim berjuluk Al Suqor (The falcons) menekuk para atlet Kuwait 2-0 di babak 16 besar. Di partai perempat final, UEA menang adu penalti 9-8 setelah bermain 0-0 hingga perpanjangan waktu dengan Korea Utara. Dan di fase semifinal, UEA menang 1-0 atas Korea Selatan setelah 0-0 hingga 2×45 menit. Akhirnya, di final UEA menyerah 0-1 kepada Jepang. Lalu, Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, UEA juga lolos ke babak 16 besar sebagai runner-up Grup G. Di babak 16 besar, UEA berhasil menekuk Vietnam, yang perkasa di penyisihan grup, dengan skor 3-1. Di perempat final, langkah UEA dihentikan Korea Utara dengan skor 1-0. Dalam sejarah Asian Games, UEA sejatinya pernah melawan Indonesia, pada babak perempat final Asian Games X/1986 di Seoul, Korea Selatan. Saat itu, tim asuhan Almarhum Bertje Matulapelwa, sukses mengandaskan negara dengan julukan negri Tuan Tanah itu, melalui adu penalti dengan skor 4-3. Sebelumnya, skor 2-2 dalam pertandingan normal. Tim Indonesia maju ke semifinal Asian Games 1986. Tapi, Ponirin Meka, Marzuki Nyakmad, Ricky Yakob, dan kawan-kawan, tumbang di tangan tuan rumah, Korea Selatan 4-0. Pada perebutan medali perunggu, Ponirin cs pun dikalahkan Kuwait 5-0. Peringkat keempat 1986 merupakan prestasi tertinggi tim merah putih, di ajang Asian Games. Skuad tim 1986 yang antara lain berisi Ponirin Meka/I Gede Putu Yasa, Yonas Sawor, Marzuki Nyakmad, Zulkarnaen Lubis, Ricky Yakob, Ely Idris, Robby Darwis, dan Robby Maruanaya, merupakan salah satu generasi emas dalam sepak bola nasional. (Ham) JALAN KE 16 BESAR Timnas U-23 Taiwan 0-4 INDONESIA INDONESIA 1-2 Palestina Laos 0-3 INDONESIA INDONESIA 3-1 Hongkong Uni Emirat Arab UEA 0-1 Suriah Timor Leste 1-4 UEA UEA 1-2 China

Tak Setragis Korea Utara, Timnas Putri Indonesia Dihujani Selusin Gol Korea Selatan

Anggota Timnas Sepak bola Putri Indonesia, Zahra Musdalifa (11) tak kuasa menahan airmatanya, usai dibantai 12-0 oleh tim Korea Selatan, dibabak penyisihan Grup A. Laga ini berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, pada Selasa (21/8). (Detik.com)

Palembang- Timnas Sepak bola Putri Indonesia harus mengakui ketangguhan Korea Selatan, usai dilibas dengan skor telak 0-12, dalam lanjutan grup A yang dimainkan di Stadion Gelora Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (21/8). Belum genap lima menit, gawang yang dikawal Vera Lestari dirobek oleh Hyunyoung Lee. Tujuh menit berselang, giliran Moon Mira yang memaksa Vera Lestari memungut bola dari sarangnya, lalu disusul Lim Seonjoo di menit ke-14. Tak berhenti disitu, Moon Mira kembali berulah di menit ke-37, dan menambah pundi-pundi gol Korea Selatan. Tujuh menit sebelum turun minum, Hyunyoung Lee membuat gol kelima Korea Selatan di babak pertama. Setelah jeda turun minum, Korea Selatan yang bermain di atas angin, hingga menambah tujuh gol, yakni Hyunyoung Lee (47″), (71″), (90″); Son Hwayeon (48″); Jang Selgi (67″); dan Ji Soyun (88″), (90+”). Didapati statistik yang dilansir dari laman Asian Games 2018, Korea Selatan sangat mendominasi permainan. Penguasaan bola tim negeri Ginseng mencapai 76% dengan total lama bermain yakni 45 menit. Sedangkan Indonesia hanya mencapai 24% dengan waktu lama bermain 14 menit. Dari segi peluang, Indonesia hanya mampu melesatkan satu tendangan yang terarah selama 2×45 menit. Sementara Korea Selatan, total mencapai 21 tendangan ke arah gawang, dan 12 diantaranya tercipta gol. Meski begitu, nasib Garuda Pertiwi masih sedikit lebih baik, dibandingkan Korea Utara di ajang yang sama. Sehari sebelumnya, cerita lebih tragis dialami Timnas Putri Korea Utara, saat diberondong 0-16 oleh tim putri Cina. Kini, timnas putri Korea Selatan telah mengoleksi 9 poin dari tiga laga yang telah dilakoni. Sebelum membantai Indonesia 12-0, Korea Selatan telah menekuk Taiwan 2-1 dan Maladewa dengan skor 8-0. Atas perolehan yang telah dicapainya, Korea Selatan memimpin akhir klasemen grup A, dan menjadi juara grup. Timnas putri Taiwan yang sukses memenangkan 2 laga, berhasil mengumpulkan 9 poin, dan berhak atas tiket ke fase gugur sebagai runner up grup A mengikuti timnas putri Korea Selatan. Timnas putri Indonesia hanya meraih 3 poin dan berada di urutan ketiga klasemen. Satu-satunya poin didapat Srikandi Indonesia, pada saat melawan Maladewa dengan skor 8-0. Sedangkan saat melawan Taiwan, Timnas putri Indonesia dihajar 4-0. Sedangkan timnas putri Maladewa berada di urutan paling buncit tanpa meraih kemenangan. (Dre) Hasil Grup A Sepak Bola Wanita Asian Games 2018, Selasa (21/8) Indonesia 0-12 Korea Selatan Taiwan 7-0 Maladewa Klasemen Akhir Grup A sepak bola Putri Asian Games 2018 No        Tim          MP   Gol   Poin 1. Korea Selatan     3     22:1   9 2. Taiwan               3     12:2   6 3. Indonesia           3     6:16   3 4. Maladewa           3     0:21   0

Takluk Lawan Taiwan, Pelatih Tim Basket Putri Indonesia Mengaku Pemanasan Melawan India

Power forward Timnas Basket Putri Indonesia, Priscilla Annabel Karen (10), berusaha menjaringkan bola, meski dihadang pemain Taiwan. Indonesia akhrinya menyerah dengan skor telak 51-115, pada Selasa (21/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Bertempat Hall Basket, komplek Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (21/8), Timnas Basket Putri Indonesia takluk dari Taiwan. Ini menjadi kekalahan ketiga beruntun Tim bola basket putri Indonesia selama penyisihan Grup X Asian Games 2018. Sebelumnya, Indonesia kalah dari tim Korea (unifikasi) dan Kazakhstan. Pada kuarter pertama, Indonesia tertinggal lebih dulu. Aksi Ihsiu Cheng membuka keunggulan Taiwan dua poin. Kontan Henny Sutjiono membalas lewat lepmaran bebas yang hanya mendapat 1 angka. Lagi-lagi Ihsiu Cheng menambah poin dua angka menjadi 1-4. Tetapi, aksi menawan dari Natasha Debby dengan tembakan tiga poin membuat skor sama menjadi 4-4. Sempat sengit diawal kuarter, Taiwan meninggalkan kubu tuan rumah dengan skor 7-22. Hingga akhir kuarter pertama, Indonesia tertinggal selisih 22 angka, yakni 12-34. Memasuki kuarter kedua, Srikandi Indonesia mendapati satu poin lebih dulu dari Henny. Namun, Fanshan Huang membalas dengan tembakan tiga poin guna melebarkan jarak skor 14-37. Bermain lebih percaya diri, Taiwan semakin meninggalkan jauh Indonesia. Sebaliknya, Indonesia seloah mengendurkan tensi permainan. Menutup kuarter kedua, Taiwan unguul 66-24. Mengawali kuarter ketiga, anak asuh Arif Gunarto juga belum mampu berbuat banyak. Henny dan kawan-kawan hanya bisa menambah 13 angka. Taiwan bahkan menikmat pertandingan, dan mencetak skor 33-90. Aksi dua poin Ivonne Febriani Sinatra di ujung kuarter terakhir, hanya menambah koleksi Timnas menjadi 51 angka, sementara Taiwan mengemas 115 poin. Ditemui usai laga, Arif membeberkan permainan anak asuhnya yang terbilang buruk. “Anak-anak makin down, setelah lawan Kazakhstan. Agak sayang gitu. Tapi its ok,” ujar Arif. “Memang Taiwan di atas kami, saya juga memprediksi akan kalah. Setidaknya, lawan Taiwan malam ini untuk latihan dan pemanasan, sebelum menghadapi India nanti,” imbuhnya, percaya diri. Di Laga pamungkas, Indonesia akan menghadapi India, pada Kamis (23/8). Kekalahan ini membuat peluang Indonesia ke perempat-final jadi semakin menipis. Namun, partai ini juga menentukan, siapa yang lolos ke perempat final, dan siapa yang hanya bisa berangkat ke classification games. “Melawan India, kita hars fight. Dengan status tuan rumah, kami harus tunjukkan yang terbaik ke penonton. Peluangnya 60:40, saya optimis, tapi ya 40% itu optimisnya,” tukas Arif seraya tersenyum. (Dre)

Empat Dara Cantik Dibawah 20 Tahun, Yang Membela Indonesia di Asian Games 2018

Safira Ika Putri Kartini baru berusia 15 tahun, sudah menjadi pemain inti Timnas sepak bola Putri Indonesia dalam ajang Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. (instagram)

Jakarta- Ajang olahraga terbesar se-Asia Tenggara, Asian Games 2018 sudah mulai digelar di Indonesia sejak 18 Agustus lalu. Rupanya euforia Pemerintah Indonesia yang menjadi tuan rumah tak kalah dengan rasa antusias masyarakat yang ingin tahu siapa saja para Atlet Indonesia yang akan berlaga. Beberapa atlet terbaik sudah disiapkan oleh beberapa negara yang ikut tampil pada ajang bergengsi ini. Tanpa terkecuali Indonesia, tampil sebagai tuan rumah tentu harus menyiapkan atlet terbaiknya agar memperoleh prestasi terbaik pada gelaran 4 tahunan ini. Bahkan beberapa atlet muda pun turut serta dipanggil guna memenuhi tugas negara, berikut ini ada 4 atlet muda Indonesia, yang bakal tampil pada ajang Asian Games 2018. Jeany Nuraini Sprinter DKI Jakarta ini belum lama, mengundang perhatian publik. Nama Jeany mendadak viral, lantaran beberapa waktu lalu, fotonya sempat disandingkan dengan Muhammad Zohri. Siapa sangka, gadis bernama lengkap Jeany Nuraini Ameila Agreta, usianya masih 17 tahun. Pada 2017 lalu, Jeany berhasil menyabet 2 medali emas sekaligus di nomor 100m dan 200m sprint putri cabor atletik, dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) yang dihelat di Semarang, Jawa Tengah, sekaligus memecahkan rekor remaja di nomor 200m sprint putri. Pada 2018, Atlet kelahiran Jakarta 22 Agustus 2000 ini, meraih podium pertama di nomor 100m sprint putri, Asian School Games 2018 di Malaysia. Berbagai prestasi inilah yang mengantarkan siswi yang baru lulus dari SMAN 24 Jakarta Pusat ini, tergabung dalam Kontingen Atletik Indonesia di Asian Games 2018. Ceyco Hutagalung Mendekati Asian Games 2018 ini, Ceyco adalah salah satu atlet yang ditunjuk untuk mewakili Indonesia. Alumnus SMA 39 Jakarta ini masih berusia 19 tahun. Pada 2015 lalu, Ceyco tampil gemilang di final Kejuaraan Dunia Karate WKF, Kadet, Junior, dan U21. Ia sukses meraih medali emas pada nomor Kumite putri Junior kelas 59+. Sebelumnya, dara kelahiran Jakarta 24 Juni 1999 ini ,menyabet juara untuk kategori junior saat beraksi di Kejuaraan Asia Karate (AKF) 2014 di Malaysia. Prestasinya berlanjut dengan memenangi Kejuaraan Dunia Karate (WKF) 2015 di Indonesia. Gadis bernama lengkap Ceyco Georgia Zefanya Hutagalung ini siap membidik medali emas di Asian Games 2018. Tekadnya makin membara, lantaran sebelumnya gagal mengikuti SEA Games 2017 di Malaysia, hanya karena belum memenuhi kriteria usia. Liontin Evangelina Setiawan Liontin Evangelina Setiawan, yang akrab disapa Angel, adalah atlet timnas balap sepeda. Angel sudah mengukir prestasi di manca negara. Pada 2017, Angel diundang oleh UCI (Union Cycliste Internationale (UCI), mengikuti pelatihan tingkat internasional di World Cycling Center, Aigle, Swiss. Terlahir dari pasangan legenda balap sepeda nasional Nurhayati dan Henry Setiawan, gadis kelahiran Yogyakarta 13 Juli 1999 ini, kini mencuat sebagai salah satu atlet muda di cabang olahraga gowes itu. Prestasi orang tua Angel pun tak dapat dipandang sebelah mata. Sejarah mencatat, jika torehan sang bunda, Nurhayati, adalah prestasi yang fenomenal. Nurhayati, sukses menyabet enam medali emas sekaligus, saat tampil di ajang Sea Games 1997 Jakart, cabor balap sepeda. Sang ayah yakni Henry Setiawan, turut merebut dua medali emas, dalam perhelatan yang sama. Kini, darah juara mengalir ditubuh gadis berambut panjang ini. Pada 2014, Angel berhasil menjadi juara 1, kelas Women Elite, Kejuaraan Nasional Balap Sepeda, Solo dan Jogjakarta. Lalu prestasi lain yang tak kalah membanggakan ditorehkan pada February 2017. Angel yang belum genap 18 tahun saat itu, menyumbang medali pertama tim Indonesia di Kejuaraan Balap Sepeda Asia 2017. Ia finis posisi tiga, pada nomor Individual Time Trial putri junior. Dengan catatan waktu 19 menit 50,28 detik, ia ada di belakang juara, Kang Qiao asal China, dan sang runner up, Marina Kurnossova (Kazakhstan). Safira Ika Putri  Meski sepak bola putri hingga saat ini belum menghasilkan prestasi yang luar biasa, namun bakat-bakat srikandi muda ternyata cukup menjanjikan. Salah satunya adalah Safira Ika Putri Kartini. Dara yang akrab disapa Ika ini, menjadi salah satu jajaran atlet termuda skuat Timnas Indonesia, di ajang Asian Games 2018. Gadis kelahiran Surabaya 21 April 2003, ini sudah menjadi pemain inti skuad sepak bola Timnas Putri Indonesia. Padahal usianya, baru genap 15 tahun pada April lalu. Namun, Ika sudah wara wiri membela Timnas Putri, sejak level Junior. Ika lebih memilih sepak bola, lantaran dirasa lebih menantang. “Awalnya ayah dan ibu melarang. Mereka masih punya pikiran kalau sepak bola, ya, buat cowok,” ujar Ika. “Bahkan dulu, buat beli sepatu bola pertama, Ika harus sabar dan menabung dari uang saku sehari-hari,” tambahnya. Lama-kelamaan, Ika mendapat dukungan dari kedua orang tuanya dan berhasil masuk dalam Skuat Timnas Putri U-15 Indonesia. Ia mendapatkan panggilan Timnas Putri U-15 setelah tampil ciamik dan menangantarkan Bangka Belitung juara Piala Nusantara 2017 di Jepara. Ia tak kuasa menahan tangis lantaran tak percaya dipanggil ke timnas. Bermain diposisi bek kiri dan gelandang bertahan, Ika lalu ditunjuk menjadi Kapten Timnas Putri U-15 pada 2017. Pada 2018, ia juga menyandang kapten, di Timnas Putri U-16 yang tampil dalam event AFF U-16 di Palembang. Kini, Alumnus SMP YPM 1 TAMAN, Sidoarjo, adalah anggota Timnas Putri senior, dalam ajang Asian Games 2018. (Dre)

Kandas 1-3 Dari Jepang, Tim Beregu Putri Bulutangkis Indonesia Kebagian Perunggu Asian Games 2018

Tunggal pertama tim beregu putri bulutangkis Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, harus jatuh bangun melawan pebulutangkis Jepang, Akane Yamaguchi. Meski menang namun Indonesia gagal maju ke final, setelah takluk 1-3 dari Jepang di babak empat besar. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tim beregu putri Indonesia gagal lolos ke partai puncak cabang bulutangkis Asian Games 2018. Pasukan Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu takluk dari Jepang 1-3, di semifinal, yang dihelat di Istora Senayan, Jakarta, pada Selasa (20/8). Hasil ini membuat Indonesia harus puas meraih medali perunggu bersama Thailand. Sedangkan Jepang dan China yang menyingkirkan Thailand 3-0, bersaing meraih medali emas, pada partai final, Rabu (22/8). Gregoria Mariska Tunjung membuka kemenangan bagi kubu Indonesia 1-0 atas Jepang. Pebulutangkis asal PB Mutiara Cardinal Bandung itu tampil luar biasa dihadapan publik tuan rumah. Bahkan Wiranto (Ketua Umum PP PBSI), dan Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), hadir langsung di Istora Senayan, Jakarta, pada Selasa (21/8) memberikan dukungan bagi Gregoria dan kolega. Pebulutangkis Indonesia pemegang gelar Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017 itu melewati laga dramatis kontra Akane Yamaguchi. Duel kedua pemain berlangsung ketat sejak awal, Gregoria mampu membuat lawan kewalahan di gim pertama dan berhasil mengunci kemenangan, 21-16. Di gim kedua, giliran Akane yang mendikte pemain berusia 19 tahun itu. Kesalahan demi kesalahan yang dibuat Gregoria memberikan keuntungan bagi pemain Negeri Sakura itu. Akane membungkus gim ini dengan skor meyakinkan 21-9. Gregoria mendapatkan momentum untuk membuat lawan tertekan di gim ketiga. “Saya berusaha tampil lepas, tanpa beban. Karena peringkat lawan masih di atas saya. Saya mencoba main maksimal. Di awal gim ketiga, saya mainnya belum enak. Akhirnya saya tahu dia lebih sering mengarahkan bola ke belakang, dari situ saya sudah tahu mau main seperti apa,” ujar Gregoria usai laga. Kombinasi bola apik dari anak didik Minarti Timur itu membuat Akane tak berdaya. Gregoria menuntaskan gim penentu dalam waktu 56 menit, dengan skor 21-18. Tertinggal dari Indonesia, Jepang mampu menyamakan kedudukan 1-1. Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang turun di partai kedua gagal menambah keunggulan Merah Putih. Setelah memainkan laga selama 48 menit, mereka takluk dari Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dalam duel dua gim langsung, 21-13 dan 21-12. “Kami tadi belum bisa keluar dari tekanan, apalagi dari awal sudah ditekan terus oleh lawan. Kami tidak bisa keluar dari permainan itu,” terang Apriyani. Jepang mampu mengungguli Indonesia 2-1 setelah merebut kemenangan di partai ketiga. Indonesia yang menurunkan Fitriani dipaksa menyerah oleh Nozomi Okuhara dalam duel sepanjang 55 menit. Pemain kelahiran Garut, Jawa Barat, 19 tahun silam itu tumbang dalam drama pertarungan rubber game, 21-19, 4-21, dan 10-21. “Pelajaran dari pertandingan melawan Nozomi, saya harus lebih sabar, harus lebih tahan dan lebih agresif di lapangan. Kalau dari fisik saya tidak ada masalah,” terang Fitriani. Hasil negatif kembali dialami wakil tuan rumah sekaligus memupuskan harapan Indonesia meraih medali emas beregu putri bulutangkis. Dobel Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta pun urung memperpanjang nafas Indonesia. Mereka kandas ditangan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dalam straight game, 13-21 dan 10-21, dalam tempo 38 menit. “Hasil ini sesuai target pribadi. Jepang kekuatannya semua merata. Hasilnya begini ya harus kami terima,” cetus Della. (Adt) Hasil Pertandingan Semifinal Bulutangkis Beregu Putri Asian Games vs Jepang 1-3 Partai Pertama Gregoria Mariska Tunjung vs Akane Yamaguchi : 21-16, 9-21, 21-18 Partai Kedua Greysia Polii/Apriyani Rahayu vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota : 21-13, 21-12 Partai Ketiga Fitriani vs Nozomi Okuhara : 21-19, 4-21, 10-21 Partai Keempat Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta vs Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi : 13-21, 10-21 Partai Kelima Ruselli Hartawan vs Aya Ohori (tak dimainkan)

Strategi Hitung Cermat Tiap Angkatan, Jadi Alasan Eko Yuli Sabet Emas Angkat Besi Asian Games 2018

Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan mendapatkan pengalungan medali emas oleh Presiden Joko Widodo, usai menjadi yang terbaik dalam cabor angkat besi kelas 62 kilogram putra Asian Games 2018, di JIExpo, Selasa (21/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan akhrinya berhasil menuntaskan penasarannya meraih medali emas Asian Games usai memenanginya di Asian Games 2018 di kelas 62 kilogram putra di JIExpo, Selasa (21/8). Atlet kelahiran Lampung 24 Juli 1989 itu meraih medali emas dengan total angkatan 311 kilogram. Eko mengalahkan lifter Vietnam, Van Vinh Trinh, yang memiliki total angkatan 299 kilogram, dan atlet Uzbekistan Adkhamjon Ergashev dengan total angkatan 298 kilogram. Emas yang diraih Eko itu merupakan yang pertama di multievent empat tahunan di Asia. Atlet 29 tahun itu kini sukses menuntaskan rasa penasarannya selama ini untuk bisa mendapatkan medali emas Asian Games. Sebelumnya, Eko mengaku tak ingin menunggu hingga empat tahun ke depan untuk menuntaskan hasrat memiliki emas Asian Games. Eko Yuli pun makin bangga lantaran Jokowi pula yang ikut mengalungkan medali emas kepadanya di podium. “Alhamdulillah Bapak Presiden (Jokowi) dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Imam Nahrawi) bisa menonton. Hanya ini yang bisa saya berikan dan persembahkan, berkat dukungan semuanya,” ujar Eko Yuli. Eko menambahkan, “Saya ucapkan terima kasih kepada PB PABBSI dan pelatnas daerah (Jawa Timur) yang memberikan pembinaan kepada saya sejak 2014,” ucapnya. Kemenangan ini tak mudah diraih mengingat strategi yang disusun sejak latihan di Pelatnas benar-benar harus dihitung dengan cermat, karena lawan lebih dulu unggul selisih angka. “Kami selalu menghitung dengan cerat, apalagi main (bertanding) di angka 175 Kg. Saat Vietnam menentukan angka sekian, saya pun berfikir angka yang sesuai dengan kemampuan saya. Andai langsung (mengangkat) 170 Kg di awal, pasti Korea Utara bisa 180 Kg. Tentu itu sangat berat,” tambah pria kelahiran 24 Juli 1989 itu. Asian Games 2018 merupakan ajang kali ketiga yang diikuti Eko Yuli Irawan. Pada Asian Games pertamanya di Guangzhou, China, pada 2010 prestasi terbaik Eko hanya medali perunggu di kelas 62 kilogram dengan total angkatan 311kg. Prestasi serupa diraihnyai di Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, dengan total angkatan 308 Kg. Eko Yuli juga belum pernah meraih medali emas dan juara di Olimpiade serta Kejuaraan Dunia. Dalam tiga kali penampilannya di Olimpiade, Eko Yuli hanya bisa mendapatkan medali perak (2016) dengan total angkatan 312 Kg, dan perunggu di Olimpiade 2008 Beijing serta 2012 di London (317 Kg). Untuk Kejuaraan Dunia, Eko Yuli dua kali mendapatkan posisi runner up di Goyang, Korea Selatan (2009) dan Amlaty, Kazakhstan (2014), serta dua kali di posisi ketiga di 2007 Chiang Mai, Thailand serta 2011 di Paris, Prancis. Sepanjang kariernya sebagai lifter Indonesia, Eko Yuli bukan tanpa medali emas. Anak pasangan Saman dan Martiah itu beberapa kali jadi yang terbaik di Asia Tenggara. Total empat emas diraih Eko di empat SEA Games berturut, yakni 2007 Thailand, 2009 Laos, 2011 Indonesia, dan 2013 Myanmar. Pada SEA Games pertamanya di Thailand, Eko turun di kelas 56 kilogram dan memiliki total angkatan 300 kilogram. Sedangkan empat SEA Games terakhir, ia tampil di kelas 62 kilogram. Pada SEA Games 2011 total angkatan Eko 302 Kg, dua tahun berikutnya meningkat dengan total angkatan 304 Kg. Di SEA Games Malaysia 2017 lalu, pria asal Lampung ini harus puas dengan medali perak, meski total angkatannya naik menjadi 306 Kg. (Ham)

Tekuk Thailand 98-86, Timnas Basket Putra Siap Kalahkan Mongolia di Laga Pamungkas

Shooting guard Indonesia Jamarr Andre Johnson menjadi bintang dengan menciptakan 28 poin. Serta pahlawan kemenangan atas Thailand dengan skor 98 - 86, di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas Basket Putra Indonesia berhasil memperpanjang nafas di Asian Games 2018, usai ungguli Thailand dengan skor 98 – 86, di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (20/8). Dengan hasil ini, skuad asuhan Fictor Roring berpeluang lolos dari babak penyisihan grup. Pertandingan ketat terjadi di kuarter pertama. Thailand lewat dua shooting guard Chitchai Ananti dan Narkorn Jaisanuk, tampil impresif. Namun Indonesia dengan komando point guard asal klub Pelita Jaya, Xaverius Prawiro, mampu memberikan perlawanan. Kuarter pertama ditutup dengan skor 30-29 untuk kemenangan Indonesia. Thailand nyaris menyamakan kedudukan di akhir kuarter tiga. Namun Indonesia menjaga keunggulan hingga kuarter keempat berhasil. Shooting guard Indonesia Jamarr Andre Johnson menjadi bintang dengan menciptakan 28 poin. “Harus saya apresiasi dari tim ke para pemain terutama adalah fighting spirit yang hari ini sangat luar biasa dan terus fokus. Masalah poin ketat itu wajar karena kita melawan salah satu tim kuat di Asia Tenggara,” kata Roring, usai pertandingan. Dari pantauan di laman resmi Asian Games 2018, Johnson menjadi pahlawan kemenangan tim merah putih, dan meraup poin terbanyak dengan 28 angka. Ia diikuti oleh Xaverius  (18 poin), Andakara Prastawa Dhyaksa (16 poin), dan Abraham Damar Grahita (13 poin). “Padahal tekanan ada di kubu kita, main di kandang, harus menang. Tapi, fokus anak-anak tak goyah. Kuarter pertama Thailand sedang jago, mereka menemukan form-nya, nembak dari segala arah masuk. Saya yakinkan anak-anak itu hanya sementara, tidak mungkin mereka menembak masuk terus,” kata Roring. Dengan hasil ini, Indonesia harus memenangkan laga terakhir kontra Mongolia jika ingin lolos dari fase grup. “Lawan Mongolia itu laga penentuan lagi. Saya tekankan juga ke anak-anak, hari ini tidak ada capek, tidak ada sakit. Kita harus fokus ke Mongolia dan berharap bisa bermain seperti tadi,” pungkasnya. Hal serupa juga diungkap Ilyus, sapan Xaverius, soal kemenangan timnya. “Memang diawal main sempat kacau, tapi setelah itu permainan kita mulai berbentuk. Defense, komunikasi, kita saling percaya satu sama lain. Akhirnya, bisa membalikkan keadaan dan menang,” ucap pria kelahiran Surabaya, 30 Desember 1986 ini. Kemenangan Indonesia atas Thailand ini menutup rangkaian pertandingan lanjutan penyisihan bola basket, nomor putra dan putri yang dilangsungkan Senin. Bagi Indonesia, kemenangan itu membuat mereka meninggalkan dasar klasemen, dan naik ke peringkat ketiga dengan catatan 3 poin. Posisi ini di bawah Thailand, yang tetap berada di urutan kedua. Meski juga mengoleksi tiga poin, Thailand unggul dalam hal selisih skor total yakni defisit 11 poin, dibandingkan Indonesia yang masih defisit 27 poin. Di atas kertas, meski masih tertinggal Indonesia lebih berpeluang lolos lantaran di laga pamungkas “hanya” menghadapi tim juru kunci Mongolia sedangkan Thailand harus melawan pemuncak klasemen sementara Korea Selatan. (Dre) Klasemen Grup A Bola Basket Putra       Negara           M    M   K    S   P 1 Korea Selatan      2    2    0   74   4 2 Thailand              2    1    1  -11   3 3 Indonesia            2    1    1  -27   3 4 Mongolia             2    0    2  -36   2

Juarai Grup A, Uni Emirat Arab Calon Lawan Timnas U-23 Babak 16 Besar

Winger Timnas U-23, Irfan Jaya (18) melakukan selebrasi bersama Evan Dimas (6) dan Hansamu Yama (16), usai mencetak gol balasan merah putih ke gawang Timnas Hongkong, pada awal babak kedua. Timnas akhirnya menang dengan skor akhir 3-1. (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas U-23 menang 3-1 atas Hong Kong pada partai pamungkas Grup A sepak bola Asian Games 2018, di Stadion Patriot Candrabhaga, Senin (20/8). Skuat Garuda menekuk Hongkong dengan skor akhir 3-1. Tiga gol pasukan Luis Milla dicetak oleh Irfan Jaya 46′, Stefano Lilipaly 85′, dan Hanif Sjahbandi 90+2′. Sedangkan gol tunggal Hongkong lahir dari kaki sang kapten Hok Ming Lau, di akhir babak pertama. Dengan kemenangan ini, Indonesia telah mengoleksi sembilan poin (tiga kali menang satu kali kalah). Di posisi runner-up adalah Palestina yang merangkum delapan angka. Evan Dimas dkk selanjutnya akan meladeni Uni Emirat Arab (UAE) di babak 16 besar. Uni Emirat finis di baris ketiga Grup C, setelah hanya mampu meraih tiga poin dari tiga laga. Poin ini didapat dari kemenangan besar saat mengandaskan Timor Leste dengan skor 4-1. Sisanya, Uni Emirat tampil tak terlalu istimewa. Mereka bahkan kalah telak dari China (1-2) serta Suriah (0-1). Berdasarkan jadwal awal, Indonesia akan bertanding di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, pada Jumat (24/8). Namun, sebagai tuan rumah, ada opsi untuk menggeser tempat penyelenggaraan. Babak 16 besar awalnya dijadwalkan dimainkan di Stadion Wibawa Mukti, dan Stadion Pakansari (Bogor). Sedianya, Stadion Patriot Candrabhaga, dipakai pada babak perempat final. Sementara itu, Palestina dipastikan akan menghadapi Suriah. Adapun Hong Kong berhadapan dengan Uzbekistan selaku juara Grup B. “PSSI telah memberi motivasi berupa bonus, dan bonus itu sudah diberikan sejak laga melawan Taiwan dan Laos,” kata Endri Erawan, manajer Timnas U-23, akhir pekan lalu. Endri menolak memerinci berapa besaran bonus buat Timnas U-23. Pastinya, bonus itu di luar pendapatan uang saku Rp 1 juta per hari, yang diberikan KOI, kepada tiap atlet yang berlaga di Asian Games 2018. Jika mengacu pada laga uji coba jelang Asian Games 2018, Timnas U-23 mengantungi bonus dengan variasi 2,5 hingga 5 juta rupiah. Perinciannya Rp 5 juta buat apresiasi kemenangan, sementara Rp 2,5 juta buat hasil imbang. Saat pelatnas Asian Games 2018, para pemain diguyur uang saku harian Rp 500 ribu. Pendapatan para pemain timnas, lebih kecil dibanding penghasilan mereka di level klub. Rata-rata penggawa Garuda Muda dibayar kisaran Rp 750 juta hingga Rp 1,5 miliar per musim. Nominal uang yang didapat, akan lebih besar lagi, saat event sesungguhnya berlangsung. Apalagi Timnas U-23 diberi target berat, yakni lolos minimal ke semifinal Asian Games 2018. Rata-rata pemain Timnas U-23 kerap mengesampingkan berapa besar bayaran yang didapat saat berlaga di Asian Games 2018. “Saya pribadi membela Timnas Indonesia merupakan sebuah kebanggaan. Tak bisa dibayar berapapun. Saya bangga menjadi warga Indonesia,” ujar Alberto Goncalves, striker naturalisasi asal Brasil. (Ham) Klasemen Timnas U-23 di Grup A No        Tim           MP     Gol    Poin 1 Indonesia U23      4       11:3     9 2 Palestina U23       4         5:3     8 3 Hong Kong U23    4         9:5     7 4 Laos U23             4         4:8     3 5 Taiwan U23          4         0:10   0 Hasil Grup A Senin (20/8) Indonesia 3-1 Hongkong Taiwan 0-2 Laos Jadwal 16 Besar Jumat (24/8) 19.00 WIB Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Indonesia vs Uni Emirat Arab

Setelah Tim Putri, Giliran Putra Indonesia Masuk Babak Empat Besar Beregu Bulutangkis Asian Games 2018

Marcus/Kevin mengandaskan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (19-21, 21-19, 21-16) di partai kedua.

Jakarta- Tim putra Indonesia berhasil menyusul tim putri ke semifinal bulu tangkis beregu Asian Games 2018, usai mengalahkan India 3-1 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (20/8). Kemenangan tim merah putih akhirnya ditentukan di partai keempat, saat ganda putra rangking sembilan dunia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menang straight set, atas Manu Attri/Sumeeth B Reddy (21-14, 21-18). Mereka untuk kali pertama tampil di Asian Games, mengaku tak menyangka turun bertanding. Fajar mengaku sempat berharap Jonatan yang tampil di laga sebelumnya bisa memastikan kemenangan Indonesia. Namun, ia juga mengaku termotivasi setelah melihat Jonatan mengalami kekalahan. “Di awal kami masih menyesuaikan diri kondisi lapangan, arah anginnya beda-beda. Kami juga pertama kali bertemu lawan, belum tahu kelemahannya,” kata Fajar. “Tadi banyak bola yang sebetulnya gampang, tetapi tidak bisa kami matikan. Ini menjadi pelajaran, jangan sampai besok terjadi lagi,” tambah Rian dikutip dari laman PBSI. “Kami awalnya tidak menyangka bakal bermain. Saya berdoa Jonatan bisa menang. Siapa yang menyangka justru akhirnya Jonatan kalah. Namun, setelah Jonatan kalah, kami termotivasi untuk bisa menyumbangkan poin bagi kemenangan Indonesia,” lanjutnya. Tim putra Indonesia hampir memastikan tiket ke empat besar saat Jonatan “Jojo” Christie turun di partai ketiga kontra Prannoy H. S. Sempat kehilangan satu set, Jojo mampu merebut gim kedua. Sayangnya, kerja keras pebulu tangis peringkat 12 dunia ini kandas di set penentuan (15-21 21-19 19-21). Sementara dua poin lainnya diraih tunggal Anthony Sinisuka Ginting dan ganda Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Ginting yang turun di partai pertama mengalahkan Kidambi Srikanth (23-21, 20-22, 21-10) sedangkan Marcus/Kevin mengandaskan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (19-21, 21-19, 21-16) di partai kedua. “Yang pertama kami pastinya bersyukur bisa melewati pertandingan hari ini, apalagi kami sempat ketinggalan cukup jauh di game kedua. Tetapi kami bisa membalikkan keadaan,” kata Kevin usai pertandingan, dikutip dari laman PBSI. Di semifinal nanti, Indonesia ditunggu Jepang yang lebih dulu memastikan lolos usai mengalahkan Korea Selatan 0-3. Babak empat besar bakal digelar pada Selasa (21/8) . Sebelumnya, Tim putri berhasil melaju ke empat besar usai mengalahkan Korea Selatan 3-1 di perempat final. Berhasil lolos ke semifinal bulutangkis beregu putra, tim Indonesia akan menghadapi Jepang yang merupakan unggulan ketiga dalam Asian Games 2018 ini. Jepang berhasil melangkah ke semifinal, setelah menang mudah 3-0 atas Korea Selatan. (Adt) Hasil perempat final bulu tangkis beregu putra vs India 3-1 Partai Pertama Anthony Sinisuka Ginting vs Kidambi Srikanth : 23-21, 20-22, 21-10 Partai Kedua Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo vs Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty : 19-21, 21-19, 21-16 Partia Ketiga Jonatan Christie vs Prannoy H. S. : 15-21 21-19 19-21 Partai Keempat Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto vs Manu Attri/Sumeeth B Reddy : 21-14, 21-18 Partai Kelima Ihsan Maulana Mustofa vs Sai Praneeth (tidak dimainkan)

Medali Emas Defia Rosmiar Bukan Instan, Bahkan Ia Rela Tak Hadiri Pemakaman Sang Ayah Demi Asian Games 2018

Defia Rosmiar bersama sang ibu, Kaswati, usai meraih medali emas pertama bagi kontingen Indonesia, dari cabor Taekwondo, nomor Women Individual Poomsae, Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, pada Minggu (19/8). (istimewa)

Jakarta- “Kamu bisa dek, kamu bisa jadi juara,” demikian ucap Ermanto, sang ayah memberi motivasi pada Defia Rosmaniar, sebelum meninggal akibat penyakit stroke yang dideritanya. Tak ingin larut dalam duka berkepanjangan, ia fokus pada pencapaian menjadi yang terbaik di kawasan Asia. “Iya, ayah meninggal bulan Maret. Persis seminggu aku latihan di Korea. Proses pemakaman, aku enggak datang. Datang itu, beliau sudah dikuburkan, ya sudah enggak apa-apa,” tutur Defia seraya mengahapus air mata yang tak tertahan. “Terima kasih ayah, udah dukung Defi,” lanjutnya lirih. Tentu, ketidakhadiran Defia dalam pemakaman sang ayah yang sangat dicintainya itu, bukanlah hal yang diinginkan. Juga bukan hal yang dilihat sebagai ambisi semata, wanita kelahiran Bogor, Jawa Barat (Jabar), 25 Mei 1995, di Asian Games semata. Sepenuhnya ia sadar, adalah berkat semangat Ermanto yang telah mendukungnya di dunia beladiri taekwondo, kini jadi energi terbesarnya tegar menghadapi rintangan dan cobaan yang berat dalam hidupnya. Mendapatkan dukungan penuh keluarga, terutama ayah serta bentuk baktinya bagi Ibu Pertiwi, Defia tetap berlatih keras. Ia tak ingin melewatkan kesempatan untuk pertama kalinya, tampil dalam pesta multievent empat tahunan, dimana Indonesia sebagai tuan rumah untuk kedua kalinya setelah menunggu selama 56 tahun sejak Asian Games edisi ke-4 pada 1962 dihelat di Jakarta. Entah berapa peluh yang harus dilewati Defia, demi naik podium tertinggi mengharumkan nama bangsa dan negara, disela-sela kesibukannya sebagai mahasiswi semester lima Fakultas Ilmu Olahraga, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta. Medali emas pun menjadi mimpi yang ingin diwujudkan. Momen bahagia itu hadir, medali emas yang menjadi kebanggaan setiap atlet ia rengkuh. Menjejak ke partai final, seluruh masyarakat menaruh harapan besar pada wanita berusia 23 tahun itu. Babak demi babak dilibas. Di perempat final, Defia menyingkirkan Tuyet Van Chau (Vietnam) dengan skor 8.460-8.330. Tiket semifinal dalam genggaman. Harapan makin membesar, usai disemifinal ia berhasil menekuk lawan tangguh wakil Korea Selatan (Korsel), Yun Jihye dengan skor 8.520-8.400. Melenggang ke partai puncak, Defia makin tegang. Akhirnya, sejarah itu tercipta. Dihadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pendukung tuan rumah yang hadir di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Minggu (19/8), kebahagiaan atlet yang gemar menulis itu meledak, ketika meraih emas nomor poomsae tunggal putri dengan skor 8.690. Hasil itu lebih baik dari skor yang dicetak pesaingnya asal, Iran Salahshaouri Marjan yang harus puas diposisi runner up dengan skor 8.470. Ini emas pertama untuk kontingen Indonesia di ajang Asian Games XVIII/2018, sekaligus pertama kalinya cabang olahraga taekwondo Indonesia mampu meraih emas di ajang olahraga prestisius. Defia melakukan selebrasi keliling arena sambil membentangkan bendera merah putih. Tak hanya sang bunda yang hadir di arena pertandingan, ayahnya pun pasti bangga dengan Defia, bahkan jutaan rakyat Indonesia. ‘Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil’, begitu ungkapan bijak. Dan prestasi gemilang yang diraih Defia bukanlah hasil instan. Ia mengenal olahraga beladiri asal Korea Selatan itu sejak kelas 1 SMP di Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jabar. Melalui kakak sepupunya yang juga pelatih taekwondo DKI Jakarta, Defia mulai tertarik dengan olahraga beladiri khas Korea Selatan ini, Namun, awal masa berlatih, Defia mengaku malas-malasan. “Karena terus menerus dijalani, lama-lama jadi suka,” ungkapnya. Bahkan, Defia menceritakan bila awalnya tidak menekuni nomor poomsae, melainkan kyorugi atau petarung. “Awal kelas yang saya geluti adalah di kelas kyorugi sampai akhirnya saya pindah haluan ke kelas poomsae, karena sakit yang saya derita,” tuturnya. “Berkat latihan yang sungguh-sungguh dan percaya akan keajaiban, saya bisa mengikuti dan bisa masuk Pelatnas poomsae sampai sekarang,” tambahnya. Namun, perjalanan karier Defia sempat ditentang Kaswati, sang ibu. Sebagai ibu, ia khawatir dengan keselamatan putrinya. Tetapi dengan semangat dan tekad yang kuat, Defia pun akhirnya didukung oleh keluarga, khususnya dari almarhum ayah, Ermanto. “Ya namanya hobi, enggak bisa dilarang saya cuma bisa doain. Almarhun ayahnya juga ngedukung terus. Saya cuma takut kenapa-napa namanya juga ada perempuan tapi ya mau gimana lagi. Pesen saya ke Defia cuma satu, jangan sombong,” ungkapnya. Kini, Kaswati pun sangat bangga dengan prestasi yang telah diraih Defia mengharumkan bangsa Indonesia. Ia berharap, para atlet Asian Games 2018 mendapat perhatian ke depannya dari pemerintah. “Yang pasti sangat senang dan bangga sebagai ibunya karena mengaharumkan negara. Semoga apa yang diraih Defia diperhatikan pemerintah, juga atlet-atlet lainnya di Asian Games,” tutup Kaswati. Seiring waktu, latihan demi latihan dijalani, deretan prestasi didapat. Yakni emas individual U-17 female Korea Open, Gwangju 2012, emas Pair Mixed U-29 Korea Open, Gwangju 2012, emas Individual female U-30 poomsae (Taekwondo World Hanmadang 2016, Korea), dan emas individual female U-30 poomsae (1st Bankimon Open Korea 2016). Terakhir, pada Mei 2018, di nomor poomsae tunggal putri Kejuaraan Asia, di Ho Chi Minh, Vietnam, Defia secara mengejutkan bisa mengalahkan atlet asal Korea Selatan yang merupakan ‘raja’ taekwondo dunia. Masuk skuat taekwondo Asian Games 2018, wanita berhijab itu mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Negeri Ginseng sejak Maret, hingga Agustus tahun ini. “Sejak Maret berjuang di Korea, tidak saya sia-siakan,” tukas anak didik Rahmi Kurnia, Pelatih Kepala Taekwondo Indonesia. (Adt) Biodata Nama Lengkap : Defia Rosmaniar Tempat Tanggal Lahir : Bogor, Jawa Barat, 25 Mei 1995 Ayah : (Alm) Ermanto Ibu : Kaswati Hobi : Menulis Pendidikan : Mahasiswi semester lima, Fakultas Ilmu Olahraga, Universitas Negeri Jakarta Akun Instagram (IG) : @defiarosmaniar Prestasi  – Medali emas Individual U-17 Female Korean Open, Korea 2012 – Medali emas Pair Mixed U-29 Korean Open, Korea 2016 – Medali emas Individual Female U-30 poomsae Taekwondo World Hanmadang, Korea 2016 – Medali emas Individual emale U-30 poomsae Bankimon Open, Korea 2016 – Medali emas pada Kejuaraan Asia Taekwondo, Vietnam 2018 – Medali emas Asian Games 2018, Jakarta

Singkirkan Korea Selatan 3-1, Tim Beregu Putri Indonesia Tembus Semifinal Bulutangkis Asian Games 2018

Dobel Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu menekuk ganda Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan (21-18 21-17), pada fase perempat final, dan membawa merah putih lolos ke babak semifinal bulu tangkis beregu putri Asian Games 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Tim putri Indonesia lolos ke semifinal bulu tangkis beregu, usai menekuk Korea Selatan 3-1 di Istora Senayan, Jakarta pada Senin (20/8). Kemenangan tim Merah Putih ditentukan di partai keempat dari dobel Della Destiara Haris dan Rizki Amelia Pradipta. Duet Della dan Rziki sukses menghentikan perlawanan Baek Ha Na/Kim Hye Rin dalam permainan dua set, 21-19, 21-15. Indonesia nyaris memastikan tiket ke empat besar saat Fitriani turun di partai ketiga melawan Lee Se Yeon. Sempat kehilangan satu set, Fitriani mampu merebut gim kedua. Sayangnya, kerja keras pebulu tangis peringkat 40 dunia ini kandas di set penentuan (14-21, 21-8, 18-21). Dua poin kemenangan lain, dipersembahkan tunggal Gregoria Mariska Tunjung dan ganda Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Gregoria yang turun di partai pertama mengalahkan Sung Ji Hyun (21-13 8-21 21-18). Sedangkan Greysia/Apriyani mengandaskan Lee So Hee/Shin Seung Chan (21-18 21-17). “Kemenangan Gregoria di partai pertama, memberi pengaruh positif buat saya dan kak Greys (Greysia Polii), sehingga kami jadi lebih yakin,” kata Apriyani usai laga seperti dikutip dari laman PBSI. Berdasarkan hasil undian bulu tangkis beregu Asian Games 2018 yang dihelat pada Kamis (16/8), tim putri Indonesia ada di pool atas bersama Hong Kong, Jepang, India, dan Korea Selatan. Setelah mengatasi Hong Kong dan Korea Selatan, Indonesia bakal bertemu Jepang yang mengalahkan India 3-1, di perempat final. Adapun cabang bulu tangkis beregu Asian Games 2018, baik tim putra dan tim putri, mulai dipertandingkan sejak Sabtu (19/8), hingga Rabu (22/8). (Adt) Hasil Perempat Final Melawan Korea Selatan 3-1 Partai Pertama Gregoria Mariska Tunjung vs Sung Ji Hyun : 21-13 8-21 21-18 Partai Kedua Greysia Polii/Apriyani Rahayu vs Lee So Hee/Shin Seung Chan : 21-18 21-17 Partai Ketiga Fitriani vs Lee Se Yeon : 14-21, 21-8, 18-21 Partai Keempat Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta vs Baek Ha Na/Kim Hye Rin : 21-19, 21-15. Parta Kelima Ruseli Hartawan vs An Se Young (tidak dimainkan)

Kalah di Clean and Jerk, Sri Wahyuni Urung Raih Emas Asian Games 2018 Cabor Angkat Besi

Gagal melakukan angkata Clean and Jerk dengan baik, Lifter putri Indonesia, Sri Wahyuni Agustiani, urung menyumbang medali emas Asian Games 2018 cabor angkat besi, di kelas 48 kilogram putri. (Pras/NYSN)

Jakarta- Lifter putri Indonesia, Sri Wahyuni Agustiani, gagal mempersembahkan medali emas Asian Games 2018 angkat besi kelas 48 kilogram putri. Dalam lomba di Hall A2 JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Senin (20/8), atlet 24 tahun itu hanya merebut perak, usai kalah bersaing dengan atlet Korea Utara, Ri Song Gum. Sri mengangat beban seberat 195 kilogram (snatch 88 kilogram dan clean and jerk seberat 107 kilogram). Sedangkan Song Gum melakukan angkata total 199 kilogram (snatch 87 kilogram dan clean and jerk 112 kilogram). Posisi ketiga ditempati Thailand, Thunya Sukchaoen, dengan total angkata 189 kilogram. Atlet Indonesia lainnya di kelas ini, Putri Yolanda, berada di posisi ke-10 dengan angkatan 162 kilogram. Dalam angkatan snatch, Sri berhasil mengangkat beban seberat 88 kilogram pada angkatan pertama, disusul beban 85 kilogram pada angkatan kedua, dan 88 kilogram pada angkatan ketiga. Ia sempat unggul, karena Ri Song Gum mampu mengangkat 86 dan 87 kilogram, tapi gagal pada angkatan 90 kilogram. Namun, pada Clean and Jerk, atlet andalan PB PABBSI ini hanya bisa mengangkat beban 107 kilogram pada percobaan pertama, dan gagal dengan angkatan 112 kilogram pada percobaan kedua. Pesaingnya dari Korea Utara berhasil mengangkat beban seberat 115 kilogram pada percobaan pertamanya. Perak dari lifter kelahiran Bandung, Jawa Barat, 13 Agustus 1994, menambah daftar pundi-pundi medali kontingan Indonesia, sehingga total mengumpulkan 4 emas, 2 perak, dan satu perunggu dalam Asian Games ini. (Ham)

Mahasiswi Universitas Semarang Jadi Wanita Ketiga Peraih Emas Asian Games 2018 Kontingen Indonesia

Atlet Balap Sepeda Indonesia, Tiara Andini Prastika tampil di Final Run Women Elite Downhill, pada Asian Games 2018 di Khe Bun Hill, Subang, Jawa Barat, Senin (20/8). Tiara meraih emas pada nomor tersebut (Dok. CDM Asian Games 2018)

Jakarta- Tiara Andini Prastika adalah salah satu atlet putri dari cabang olahraga balap sepeda, yang menyumbangkan emas ketiga bagi Indonesia paska tampil di Final Run Women Elite Downhill di Asian Games 2018. Ia menduduki peringkat pertama dengan catatan waktu 2:33.056, mengalahkan atlet Thailand Vipavee Deekaballes di posisi kedua dengan waktu 2:42.654. Gadis kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 22 Maret 1996 ini, berada di peringkat 16 Union Cycliste Internationale (UCI), atau lazim dikenal sebagai ranking dunia cabang balap sepeda. Atlet berusia 22 tahun itu pernah menjadi unggulan pertama pada Kejuaraan Asia MTB 2018 di Cebu, Filipina, 4-6 Mei lalu. Sumbangan emas Tiara menjadi yang ketiga bagi Indonesia. Medali emas pertama didapat oleh Defia Rosmaniar, atlet taekwondo putri asal Bogor ini, berhasil mengalahkan Marjan Salahshouri (Iran). Defia yang turun di final nomor tunggal putri poomsae, ungul dengan poin 8,690. Kemudian, Emas kedua dipersembahkan oleh atlet putri wushu, Lindswell Kwok. Lindswell meraup poin 9,75 dan mengalahkan Hongkong dan Filipina yang masing-masing dapat poin 9,71 dan 9,68. Dilansir www.cyclingarchives.com, pada 2017, Tiara juga berhasil merebut posisi pertama di kejuaraan Sleman Downhill, Lubuklinggau Downhill dan Ternadi Downhill. Tiara sudah pernah beberapa kali mengharumkan nama Indonesia, salah satunya saat menjadi juara Pertama, Putri – Kejurnas PB ISSI, Sentul, Jawa Barat pada 2012. Pada 2013, Mahasiswi Universitas Semarang ini dua kali mendapatkan juara pertama, yaitu pada turnamen Porprov Jawa Tengah Banyumas 2013, Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Lalu gelar kampiun berikutnya, ia sabet di event Kejurnas PB ISSI, Sentul, Jawa Barat, pada 2013. Pada 20 Agustus 2018, Tiara, menambah total medali emas Asian Games 2018 yang diraih oleh Indonesia. Dia merupakan peraih medali emas ketiga, usai memenangkan nomor downhill putri, dengan mencatatkan waktu 2 menit 33, 056 detik. (Ham)

Balap Sepeda Nomor Downhill Kawinkan Medali Emas, Indonesia Sementara Naik Ke Peringkat Tiga

Atlet balap sepeda gunung, Khoiful Mukhib dan Tiara Andini Prastika, mengawinkan medali emas putra dan putri Asian Games 2018, usai menjadi yang tercepat masing-masing di nomor Downhill. (bisnis.com)

Jakarta- Setelah Taekwondo dan Wushu, kini giliran Balap Sepeda Indonesia berkibar. Kali ini, pasukan Raja Sapta Oktohari meraup dua medali emas pada hari pertama perlombaan balap sepeda Asian Games 2018. Torehan dua emas, dari target empat emas Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), masih dalam jangkauan. Kontingen Indonesia di Asian Games 2018 memperoleh medali emasnya yang ketiga, dari pembalap sepeda gunung putri, Tiara Andini Prastika, di Subang, Jawa Barat, Senin (20/8). Tiara tampil di Final Run Women Elite Downhill, dengan raihan waktu 2 menit 33,056 detik. Ia menang 9,598 detik atas pembalap Thailand, Vipavee Deekaballes. Pembalap putri Indonesia lainnya, Nining Porwaningsih, merebut perunggu. Munculnya Tiara sebagai peraih medali emas Asian Games 2018 bukanlah kejutan. Pasalnya, atlet berusia 22 tahun itu menempati posisi ke-16 dunia saat ini. Di Kejuaraan Asia tahun ini, dia juga mampu menempati posisi ketiga. Sementara pada Kejuaraan Dunia tahun lalu, dara kelahiran Semarang 2 Maret 1996 ini, finis di posisi ke-14. Sebelum Tiara, atlet wushu Lindswell Kwok merebut emas kedua Indonesia di Asian Games 2018 pada Senin ini. Sehari sebelumnya, Defie Rosmaniar mempersembahkan emas perdana dari taekwondo. Sukses Tiara, diikuti Khoiful Mukhib, yang turun di nomor downhill putra. Atlet asal DIY ini mengawinkan medali emas putra dan putri dengan mencatat waktu 2 menit 16.687 detik. Pria kelahiran 15 Desember 1990 ini, mengalahkan Ciang Shengsan asal Taiwan yang 1.497 detik lebih lambat dan meraih perak. Medali perunggu diraih oleh Suebsakun Sukchanya, dari Thailand dengan 1.762 detik lebih lambat dari peraih emas. Dengan dua medali emas dari nomor downhill tersebut, Kontingen Indonesia menyodok ke peringkat ketiga klasemen perolehan medali sementara dengan mengoleksi empat emas, satu perak, dan satu perunggu. (Ham)

Lindswell Kwok Rebut Emas Kedua Dari Wushu, Lalu Ingin Pensiun Membela Indonesia

Usai meraih emas di nomor Taijiquan-Taijijian putri Asian Games 2018, atlet wushu Indonesia, Lindswell Kwok, berencana pensiun dari olahraga yang membawanya menjadi peraih empat medali emas Sea GAMES berturut-turut, sejak 2011-2017. (Pras/NYSN)

Jakarta- Atlet Putri wushu Indonesia, Lindswell Kwok, meraih medali emas di Asian Games 2018. Ia menjadi yang terbaik di nomor Taijiquan-Taijijian putri, dalam pertandingan di Hall B JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Senin (20/8). Dalam lomba nomor seni itu, Lindswell menjadi yang terbaik dengan meraih poin 9.75. Atlet Hong Kong, Juanita Mok Eun Ying, merebut perak dengan nilai 9,71. Sedangkan perunggu direbut atlet Filipina, Chrystenzen Wong Agatha, dengan nilai 9,68. Aksi Lindswell di arena disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Setelah berlaga, ia pun mendapat ucapan selamat langsung dari Jokowi. Emas ini menjadi yang kedua yang diraih Indonesia pada Asian Games 2018. Sebelumnya, Indonesia mendapatkan emas cabang taekwondo lewat Defia Rosmaniar. Namun, keputusan besar diambil Lindswell. Ia berencana pensiun usai mengantungi emas Asian Games 2018. “Sudah cukup. Mau rest dulu. Belum tahu mau ngapain,” kata dara kelahiran Medan, 24 September 1991, usai memastikan medali emas Wushu nomor Taijijian dan Taijiquan, pada Senin (20/8). Pernyataan itu terbilang mengejutkan mengingat usia Lindswell masih berusia 26 tahun. Dan performa apiknya, secara rutin masih terus mengharumkan nama Indonesia di ajang olahraga. Dalam kariernya di Wushu, Lindswell mengoleksi lima medali emas dalam gelaran Kejuaraan Dunia sejak 2009. Di level SEA Games, ia merupakan peraih medali emas sejak 2011 di Jakarta, 2013 Myanmar, 2015 Singapura, dan 2017 Malaysia. “Saya itu sudah terjun ke wushu sejak kecil. Jadi, tidak tahu jika tidak di dunia wushu harus bagaimana dan memang tak bisa lepas begitu saja,” ucap Lindswell. “Yang jelas, setiap kali lihat orang tanding atau latihan juga ingin. Kalau untuk benar-benar berhenti tidak mungkin sementara ini rest dulu,” ujarnya. Soal regenerasi di Wushu Indonesia, Lindswell percaya para juniornya perlahan bakal berkembang, salah satunya termotivasi dengan raihan dirinya sejauh ini. “Sekarang mungkin belum kelihatan. Semoga dengan prestasi sekarang, anak-anak bisa terpacu,” ucap atlet andalan Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI). “Saya juga dulu seperti itu, awalnya tidak niat, ya sudah latihan aja. Begitu melihat senior-senior bisa juara dunia, perak juara dunia, lalu angkat nama Indonesia lewat wushu, saya akhirnya jadi semangat,” pungkas Lindswell. (Pras)