BAC 2024: Jonatan Christie Pertahankan Gelar Juara Tunggal Putra

Jonatan Christie berhasil menjuarai Badminton Asia Championships 2024 seusai menghabisi jagoan China, Li Shi Feng. Menjadi satu-satu wakil Indonesia di final, Jojo -sapaan Jonatan- menang dua gim langsung dengan skor 21-15, 21-16 di Ningbo Olympic Sports Center Gymnasium, China. “Pertama-tama Puji Tuhan. Saya tidak menyangka bisa juara lagi setelah kemarin juara All England dan bisa menjadi booster penambah semangat buat saya pribadi agar ke depannya bisa lebih konsisten dan lebih baik lagi dalam hal performance dan segalanya,” ungkap Jojo. Jojo pun membeberkan strategi permainan yang ia terapkan pada pertandingan tersebut. “Kemenangan tadi berkat strategi bermain yang saya terapkan dengan irama bermain lebih cepat karena saya lihat Li Shifeng cukup kelelahan usai pertandingan kemarin di semifinal. Kelihatan kakinya sakit juga. Saya manfaatkan momentum itu untuk nge-push dia supaya nggak berkembang permainannya,” lanjutnya. “Soal menghadapi penonton tuan rumah, dari awal memang sudah disiapkan. Karena tidak mudah bisa bertanding melawan musuh di kandangnya yang terkenal angker, mirip penonton Indonesia. Ya cukup happy bisa mengalahkan Li Shifeng dan Shi Yuqi di kandangnya,” kata Jojo. “Saya persembahkan gelar ini yang pertama untuk Tuhan dulu, karena kemenangan ini berkat Tuhan juga. Selanjutnya buat keluarga, istri, mama, papa, nenek, pelatih, team support, PBSI yang telah sangat membantu perkembangan saya selama ini, dan para suporter bulu tangkis Indonesia yang tidak henti-hentinya selalu mendoakan. Terima kasih buat kalian semua,” pungkasnya. Suami Shania Junianatha itu berhasil menjaga tradisi juara tunggal putra Indonesia dalam dua edisi terakhir BAC. Pada BAC 2023, Anthony Sinisuka Ginting berhasil naik podium pertama setelah menaklukkan jagoan Singapura, Loh Kean Yew.

All England 2024: Fajar/Rian Back to Back Juara!

Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto kembali mendominasi dan berhasil menutup perjuangan Indonesia di final All England Open 2024 dengan manis. Bertarung di partai penutup final All England Open 2024 pada Minggu (17/3/2024), Fajar/Rian tampil dengan baik. Duo asal Indonesia itu berhasil menumbangkan wakil Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Dalam laga tersebut, Fajar/Rian berhasil tampil unggul sejak gim pertama. Fajar/Rian memang sempat kehilangan poin pertama lebih dulu. Tapi setelah berhasil menyusul di posisi skor 1-1, duo Indonesia itu terus memimpin hingga jeda interval dengan skor 11-6 Usai jeda, Fajar/Rian terus mempertahankan keunggulan mereka hingga akhir gim pertama. Di gim kedua, Fajar/Rian kembali memimpin perolehan poin di awal gim. Namun, Aaron/Soh mulai menyamakan keadaan di skor 9-9. Aaron/Chia terus memepet ketat Fajar/Rian, walau akhirnya wakil Indonesia itu kembali memimpin di jeda interval gim kedua dengan skor tipis 11-10. Usai jeda interval, Fajar/Rian terus mempertahankan keunggulannya meski Aaron/Chia terus mengejuar. Duo Indonesia itu pun akhirnya menutup laga dalam dua gim dengan skor kembar 21-16, 21-16. Hasil ini memastikan Fajar/Rian juara dan Aaron/Soh harus puas dengan posisi runner-up. Kemenangan Fajar/Rian ini juga diiringi sejumlah fakta manis. Mereka menjadi ganda putra yang berhasil back-to-back juara All England setelah Ricky/Rexy dan Marcus/ Kevin. Selain itu, kemenangan Fajar/Rian ini juga memastikan Indonesia berhasil meraih dua gelar juara di All England Open 2024. Raihan ini menjadi kali pertama dalam satu dekade. Sumber: Juara.net

All England 2024: Jojo Juara, Sejarah 30 Tahun Kembali Terukir

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie sukses menjuarai ajang bulu tangkis tertua dunia All England 2024. Prestasi tersebut ia raih setelah menundukkan rekan senegara Anthony Sinisuka Ginting pada fase final, Minggu 17 Maret malam WIB. Jalannya pertandingan berlangsung menarik di Lapangan Minoru Yoneyama Utilita Arena Birmingham, Inggris. Ginting yang berstatus sebagai unggulan kelima malah kerap tertekan sebelum akhirnya kalah dengan skor 15-21, 14-21 dalam tempo 55 menit. Jojo–sapaan Jonatan sempat tertingggal 0-1 ketika memainkan gim pertama. Tapi setelah itu, dia merebut lima angka secara beruntun untuk membuat keunggulan 8-3 dan tidak membiarkan Ginting mendekati perolehan poinnya sampai gim pertama selesai. Sama seperti gim pertama, Ginting juga tampil cukup meyakinkan ketika unggul 2-0 lebih dulu saat memulai gim kedua. Sebab tidak lama kemudian, Jojo langsung membalikkan keadaan untuk menyabet empat poin secara beruntun dan tidak pernah membiarkan Ginting menyalip perolehan poinnya lagi. Meski hanya menjadi runner-up, Ginting tetap bisa berbangga karena turut terlibat untuk menciptakan All Indonesian Final di turnamen berlevel BWF World Tour Super 1000 ini yang terakhir terjadi pada 30 tahun silam. Sementara itu, Jojo masuk sejarah sebagai pebulu tangkis tunggal putra Indonesia yang pernah menjuarai All England selain Haryanto Arbi (1993, 1994), Ardy B. Wiranata (1991), Liem Swie King (1978, 1979, 1981), Rudy Hartono (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976), dan Tan Joe Hok (1959). Selain itu, indonesia menjadi negara pertama yang melahirkan  pemain tunggal putra (Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting) yang pernah berjaya di level Super 1000, 750, 500, dan 300.

The Best of Daihatsu Indonesia Masters 2024 Moments.

Foto multiple exposure Jonatan Christie pada saat melawan Lu Guang Zhu (CHN) di Daihatsu Indonesia Masters 2024 (24/01). Jonatan harus takluk dari lawannya dengan skor 21-19, 19-21, 19-21. Foto: Ratno Prasetyo/ NYSN.

Kalahkan Chico Jonatan Christie Lanjut ke Final Badminton Asia Championship 2022

Laga tunggal putra Badminton Asia Championship 2022 yang mempertemukan sesama pebulutangkis Indonesia Jonatan Christie dan Chico Aura Dwi Wardoyo berakhir dengan skor 21-9, 18-21, 21-16. Sebelumnya Jonatan telah melangkah ke final Swiss Terbuka dan Korea Terbuka dengan hasil satu juara dan satu runner up. “Hasil ini bagi saya sebenarnya tidak hanya hasil dari kerja keras saya saja, ada campur tangan Tuhan juga dan peran pelatih pastinya. Coach Irwansyah benar-benar melatih saya dan tim tunggal putra dengan kualitas yang cukup bagus,” kata Jonatan. “Jadi memang kami sebelum Jerman Terbuka sudah jalan latihan, satu setengah bulan dengan metode pelatihan yang menurut saya cukup bagus itu sangat cukup. Semoga latihan yang baik ini diiringi dengan hasil yang serupa,” lanjut Jonatan. Di laga final Jonatan akan menantang tunggal Malaysia Lee Zii Jia. Rekor pertemuan mereka adalah 4-1 untuk keunggulan Jonatan tapi di pertemuan babak pertama All England 2020 Jonatan kalah dengan dengan skor 15-21, 13-21.  

Korea Terbuka 2022. Masih Jetlag Jonatan Christie Maju ke Babak Kedua

Meski masih merasakan jetlag setelah bertanding di Eropa kemarin Jonatan Christie sukses maju ke babak kedua Korea Terbuka 2022. Pada Rabu (6/4) Jonatan mengalahkan pebulutangkis Malaysia, Soong Joo Ven dengan skor 21-13, 21-15. Jonatan sejak awal pertandingan terlihat mendominasi tanpa banyak menghadapi kesulitan bermain selama 39 menit. Hanya saja pada gim pertama strategi yang diterapkan Jonatan hampir membuatnya terkejar saat skor 18-14. “Puji Tuhan bisa lolos ke babak kedua. Hari ini masih adaptasi dengan kondisi lapangan dan shuttlecock. Saya juga masih sedikit mengalami jetlag setelah satu bulan di Eropa kemarin. Kondisi belum terlalu fit, kaki masih terasa kurang ringan,” ungkap Jojo. “Di gim kedua itu saya coba memainkan strategi yang lain, mencoba menikmati pertandingan juga, tapi lawan malah lebih enak untuk menyerang dan mendapat angka. Untuk besok saya ingin main lebih enjoy dan rileks. Bola di sini agak berat dan lambat, jadi harus punya strategi yang tepat di setiap babak, tidak boleh asal,” tuturnya. Jonatan yang baru saja menjuarai Swiss Terbuka dua pekan lalu mengaku targetnya di ajang ini adalah mencari poin sebanyak-banyaknya. “Saya mau cari poin sebanyak-banyaknya di sini, jaga-jaga kalau BWF nanti mulai mencabut sistem pembekuan rangking. Kalau tidak dapat poin yang banyak sekarang, saya pasti terlempar jauh karena saya kurang maksimal di turnamen-turnamen saat pandemi,” katanya. Sumber: PBSI

Swiss Terbuka 2022. Jonatan Christie Juara Tunggal Putra

Jonatan Christie memastukan gelar tunggal putra setelah lawannya Prannoy H.S. gagal mengembalikan shuttle cock dan tersangkut di net. memastikan tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie menang atas wakil India itu dua gim langsung 21-12, 21-18 di partai final turnamen bulutangkis Swiss Terbuka 2022. Berlaga di St. Jakobshalle, Basel, Jojo tampil penuh percaya diri. Strateginya terlihat sangat sulit untuk diimbangi Prannoy. Dikutip dari halaman www.pbsi.id “Awal strateginya kurang lebih sama dengan kemarin saat melawan Srikanth, saya mencoba menjauhkan bola dari jangkauannya dulu. Ketika ada kesempatan baru menyerang,” kata Jojo. “Saya belajar dari Ginting kemarin ketika menyerang terus, malah dia lebih nyaman mainnya,” lanjutnya. Kemenangan Jojo di pertandingan tadi sempat tertunda dua kali. Usai unggul 20-16, Jojo kehilangan dua angka krusial. Beruntung setelah itu dia mampu menyelesaikan laga. “Tadi di poin terakhir saya ingin cepat menyelesaikan, mainnya jadi total menyerang ternyata balik terus dan malah mati sendiri dua kali,” tutur Jojo. “Setelah itu saya coba balik ke pola saya, saat dia servis saya coba membalikkan dengan bola yang mengagetkan dan berhasil,” ucap pebulutangkis kelahiran Jakarta itu. Gelar juara ini terasa begitu istimewa bagi Jonatan jika mengingat perjuangannya yang tidak mudah. Ia juga berharap gelar ini menjadi motivasi untuk meraih gelar-gelar berikutnya tahun ini. “Hasil ini sangat berarti buat saya, bukan hanya gelar juaranya tapi juga ke prosesnya. Saya bisa main di sini dan All England kemarin saja sudah sebuah anugerah luar biasa setelah saya positif Covid-19 di Jerman. Ini pasti campur tangan Tuhan. Apalagi saya sudah tidak juara, dua setengah tahun,” ungkap Jojo. “Masih banyak yang saya ingin raih, gelar-gelar di level lebih tinggi. Semoga juara di Swiss ini bisa jadi awalan dan motivasi saya di tahun 2022. Mudah-mudahan saya bisa konsisten bermain seperti ini. Maksimal dan menikmati pertandingan,” harapnya. Selain Jonatan, Indonesia juga meraih gelar dari ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Fajar/Rian juara setelah mengandaskan pasangan Negeri Jiran, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin 21-18, 21-19. Sumber: www.pbsi.id    

Jerman Terbuka 2022. Kalah Dari Pebulutangkis Thailand Jonathan Christie Positif Covid-19

Kabar kurang baik menimpa tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil tes PCR yang digelar panitia setempat pada hari Kamis (10/3). Hal itu dikonfirmasi Irwansyah, pelatih yang mendampingi langsung di Jerman. “Memang di Jerman ini kami tim Indonesia karena vaksin pertama dan keduanya Sinovac jadi harus menjalani tes PCR dua hari sekali. Tes dilakukan pagi hari lalu hasilnya akan keluar sore hari,” kata Irwansyah. “Saat pertandingan Jojo melawan Kunlavut (Vitidsarn) dari Thailand hasil tes memang belum keluar. Baru setelah pertandingan, Jojo memberi kabar pada saya bahwa dia dinyatakan positif sementara seluruh tim yang lain hasilnya negatif,” lanjut Irwansyah. Pada pertandingan babak 16 besar itu, Jojo harus mengakui keunggulan Kunlavut dengan skor 20-22, 9-21. “Masuk di gim kedua Jojo mengatakan bahwa ototnya kaku-kaku semua terutama di paha. Saat itu saya agak kecewa juga karena ia bermain di bawah levelnya, berbeda saat bertanding melawan Li Shi Feng sehari sebelumnya,” ungkap Irwansyah. “Saya tidak kepikiran ke positif Covid-19 tapi mungkin itu gejalanya apalagi Jojo juga di gim kedua jadi sering sekali menghirup nafas panjang seperti habis fisiknya,” ucapnya. Usai dinyatakan positif, saat ini Jojo harus menjalani karantina di kamar hotel. Teman sekamarnya, Anthony Sinisuka Ginting dipindahkan ke kamar lain. Ginting yang juga kandas di babak 16 besar setelah dikalahkan Lakshya Sen dari India 7-21, 9-21 mengeluhkan hal yang sama kepada Irwansyah. “Ginting juga ternyata mengeluhkan hal yang hampir sama saat bertanding. Ototnya kaku-kaku. Ini membuat saya sedikit tegang karena Jojo dan Ginting satu kamar. Tapi hasil PCR Ginting negatif,” ujar Irwansyah. “Saya belum banyak bisa evaluasi permainan karena ternyata kondisinya seperti ini. Kalau dari sisi latihan dan persiapan mereka sudah sangat baik dan maksimal, tidak ada kendala sama sekali. Khusus Vito (Shesar Hiren Rhustavito), dia sudah bermain bagus melawan Lee Cheuk Yiu hanya di poin-poin kritis situasinya tidak mengenakkan untuk dia dan beberapa kali ragu-ragu,” jelas Irwansyah. Sekarang pelatih kelahiran Medan 10 Juni 1974 itu berharap yang terbaik untuk anak asuhnya di tes PCR hari Sabtu (12/3). “Ya saya berharap dan berdoa semoga hasil tes PCR besok bagus hasilnya. Mohon doa dari semua masyarakat Indonesia agar kami diberikan kesehatan dan kekuatan agar bisa berlaga di All England pekan depan,” harap Irwansyah. Sumber: www.pbsi.id

Berkenalan Dengan Para Pebulutangkis Muda Debutan Olimpiade Tokyo

Pada Olimpiade Musim Panas atau Summer Olympics edisi ke-32 ini dijadwalkan berlangsung mulai 23 Juli hingga 8 Agustus 2021 di Tokyo, Jepang. Bulu tangkis menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dan paling ditunggu. Berbagai negara berlomba untuk menjadi yang terbaik. Namun, ada juga beberapa pebulutangkis muda yang baru akan menjalani debut Olimpiade. Tentu ini menjadi sesuatu yang sangat spesial bagi mereka. Para atlet tersebut bakal berusaha mati-matian tampil di multiajang empat tahunan tersebut. Siapa saja kah mereka? 1. Nhat Nguyen (Irlandia) Lahir di Hanoi, Vietnam, 16 Juni 2000, Nhat Nguyen lebih memilih memperkuat tim nasional bulu tangkis Irlandia. Berbekal medali perunggu di Kejuaraan Bulu tangkis Junior Eropa 2018, Nhat Nguyen kini bermaksud unjuk gigi di Olimpiade Tokyo 2020. 2. An Se-young (Korea Selatan) Pada tahun 2019, An Se-young mendapat penghargaan sebagai pebulu tangkis muda paling berbakat di Korea Selatan. Pemain 19 tahun itu pernah memenangi medali emas di Kejuaraan Asia Junior di Jakarta ketika tampil di nomor ganda campuran. 3. Thom Gicquel (Prancis) Thom Gicquel dianggap sebagai salah satu pebulu tangkis paling berbakat di Prancis. Lahir di Tourse, Januari 1999, Gicquel pernah merebut medali dua medali emas di Kejuaraan Bulu tangkis Eropa Junior 2017 saat tampil di nomor ganda putra dan ganda campuran. 4. Jonatan Christie Pebulutangkis yang akrab disapa Jojo ini juga akan menjalani debut Olimpiade. Bersama Anthony Sinisuka Ginting, Jojo menjadi tumpuan sektor tunggal putra Indonesia. Pebulutangkis kelahiran Jakarta, 15 September 1997 tersebut saat ini menempati peringkat 7 dunia. 5. Anthony Sinisuka Ginting Anthony lolos ke multievent empat tahunan itu setelah menempati peringkat lima race to Tokyo BWF Olympic Qualification. Dia mengumpulkan poin 75,332. Bagi pebulutangkis kelahiran Cimahi, 20 Oktober 1996 itu, tampil di Olimpiade merupakan kesempatan baik. Untuk itu, ia tak ingin sekadar numpang lewat. Ia berambisi merebut medali di Olimpiade Tokyo. 6. Apriyani Rahayu Debutan lain kali ini berasal dari sektor ganda putri yakni Apriyani Rahayu. Bersama Greysia Polii, Apriyani akan turun mewakili Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Atlet berusia 23 tahun ini juga mengaku fokus kepada motivasinya untuk tampil baik dan akan berusaha mati-matian di lapangan. Gregoria Mariska Tunjung Gregoria menjadi satu-satunya wakil Indonesia di nomor tunggal putri. Pemain yang akrab disapa Jorji itu lolos sebagai pemain di urutan ke-15 Race to Tokyo dengan raihan 42.500 poin dari 18 turnamen yang diikuti. Gregoria saat ini masih berusia 21 tahun. Sementara itu, Indonesia dipastikan hanya mengirim tujuh wakil untuk berlaga pada cabang olahraga bulu tangkis di Olimpiade Tokyo. Pasalnya, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tidak melakukan perubahan pada jendela kualifikasi. Selain Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan Apriyani Rahayu, wakil tanah air lainnya adalah, Gregoria Mariska Tunjung (tunggal putri), Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (ganda putra), Greysia Polii (ganda putri bersama Apriyani Rahayu), dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti (ganda campuran). Tim Bulu Tangkis Indonesia akan bertolak ke Kumamoto, Jepang, pada 8 Juli mendatang. Tim Merah-Putih akan menjalani latihan di sana, sebelum akhirnya ke Tokyo untuk bertanding di Olimpiade. Pertandingan cabang olahraga bulu tangkis menurut jadwal akan berlangsung pada 24 Juli-2 Agustus 2021 di Mushashino Forest Sports Plaza, Tokyo.

Gelar Juara Piala Sudirman 2019 Bisa Jadi Kado HUT PBSI Terindah

Ketua Umum PP PBSI Wiranto bersama pengurus dan tim Piala Sudirman saat merayakan HUT PBSI di Hotel Century Senayan, Jakarta, Sabtu (11/5). (Dok. Humas PBSI)

Jakarta- Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-68 yang jatuh pada 5 Mei 2019, dan baru dirayakan pada Sabtu (11/5), di Hotel Century Senayan, Jakarta. Disisi lain, kurang dari sepekan, tim bulutangkis Indonesia akan berlaga di Piala Sudirman 2019, di Nanning, China, pada 19-26 Mei mendatang. Dijadwalkan Hendra Setiawan dan kawan-kawan akan bertolak ke Negeri Tirai Bambu pada Rabu (15/5). Diharapkan Indonesia bisa membawa pulang gelar juara turnamen bergengsi nomor beregu tersebut sebagai kado HUT PBSI terindah. “Semoga tim Indonesia dapat merebut kembali Piala Sudirman pada tahun ini. Piala Sudirman itu tentunya akan menjadi kado yang terindah. Tapi memang tidak mudah untuk bisa meraih gelar juara. Keahlian saja tidak cukup, namun juga harus memiliki semangat, mental baja, dan tekad kuat untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi lawan,” ujar Wiranto, Ketua Umum PP PBSI. Selain itu, pria yang menjabat Menkopolhukam (Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan) tersebut menyebut terdapat beberapa faktor non teknis yang harus selalu dijaga seperti kekompakan, kebersamaan, komunikasi, dan keterbukaan dalam tim. “Saya minta kepada manajer dan official tim agar faktor non teknis itu selalu diperhatikan dan dibangun terus. Semoga tahun ini Indonesia bisa merebut dan membawa pulang kembali Piala Sudirman ke Tanah Air,” lanjut Wiranto. Di kesempatan yang sama, Achmad Budiharto, Sekertaris Jenderal (Sekjen) PP PBSI, mengungkapkan terdapat milestones utama PBSI di usianya ke-68 ini. “Usia ke-68 adalah usia yang cukup matang bagi organisasi. Mudah-mudahan PBSI menjadi organisasi yang kuat dan solid baik dalam pembinaan maupun prestasi,” terang Budiharto. Ia juga berharap di hari jadinya PBSI ke-68 ini bisa mendapat kebanggaan berupa gelar juara di Piala Sudirman, Kejuaraan Dunia, serta meloloskan sebanyak mungkin pemain ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. Khusus Piala Sudirman 2019, pria yang juga menjabat sebagai Chief de Mission (CdM) itu, meminta semua pemain yang diturunkan bisa tampil semaksimal mungkin. “Saat ini tiga nomor andalan kami masih di ganda putra, tunggal putra dan ganda campuran. Nomor ganda putri pun bisa dibilang andalan meskipun kami hanya membawa satu pasangan tetap yaitu Greysia/Apriyani, karena penampilan mereka yang paling stabil. Kami pun berharap ada kejutan dari tim tunggal putri,” ungkap Budiharto. Sementara itu, Hendra Setiawan, Kapten Tim Piala Sudirman 2019, mengaku optimis timnya bisa meraih hasil maksimal. “Semua bisa terjadi di pertandingan, apalagi di pertandingan beregu. Hasilnya tidak bisa ditebak. Tapi, kami di tim semuanya harus optimis dulu,” tutur Hendra. Di Piala Sudirman 2019, Indonesia menurunkan kekuatan penuh dengan total 20 pemain yang terdiri dari 12 pemain putra dan delapan pemain putri. Pemain putra yakni Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, Shesar Hiren Rhustavito, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, Tontowi Ahmad, Praveen Jordan dan Hafiz Faizal. Sedangkan pemain putri diantaranya Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani, Greysia Polii, Apriyani Rahayu, Ni Ketut Mahadewi Istarani, Melati Daeva Oktavianti, Gloria Emanuelle Widjaja dan Winny Oktavina Kandow. (Adt)

Anthony dan Jonatan Telan Pil Pahit, Tersingkir di Babak Pertama BAC 2019

Anthony Sinisuka Ginting harus tersingkir di ajang BAC 2019 dari wakil Hong Kong Ng Ka Long Angus, rubber game, 18-21, 21-18, 23-25, di babak pertama. (PBSI)

Wuhan- Tunggal putra utama Indonesia Anthony Sinisuka Ginting (6) dan Jonatan Christie (8) harus menelan pil pahit di turnamen Badminton Asia Championship 2019. Langkah mereka terhenti di babak pertama usai ditaklukan oleh lawan mereka masing-masing di Wuhan Sport Center, Wuhan, China, pada Rabu (24/4). Anthony menyerah dari wakil Hong Kong Ng Ka Long Angus, lewat duel tiga gim langsung, dengan skor 18-21, 21-18, 23-25. Pertandingan berlangsung 74 menit. Ini menjadi kekalahan keenam Anthony atas tunggal putra Hong Kong pemilik ranking 16 dunia itu dari 9 kali pertemuannya. Terakhir mereka berjumpa di ajang All England 2019. Ketika itu, Anthony juga tumbang di babak pertama, rubber game, dengan skor 18-21, 21-13, 21-11. Sedangkan Jonatan harus mengakui ketangguhan wakil Jepang Kenta Nishimoto, rubber game, dengan skor 21-18, 19-21, 21-10, dalam tempo 66 menit. Hasil negatif ini membuat Kenta mampu memangkas rekor pertemuannya dengan peraih medali emas Asian Games 2018 menjadi 6-4. “Sebenrnya bukan nggak cocok dengan permainan lawan, tapi saya yang banyak mati sendiri. Waktu mau reli, mesti jaganya gimana, inisiatif nyerang di poin kritis gimana, ada yang kurang tepat,” ujar Anthony usai laga. “Memang dia pemain yang tidak mudah dimatikan, tipe mainnya reli defense putar serang, jadi harus ikuti dulu, kalau langsung serang bisa jadi bumerang karena dia sudah siap. Sebetulnya serangannya tidak terlalu kencang tapi penempatannya tepat, di sudut-sudut lapangan,” tambah Anthony. Anthony mengaku kecewa dengan hasil yang didapat pada pertandingan ini karena masih belum bisa melewati Ka Long di dua pertemuan terakhir. “Tadi waktu poin kritis, kelihatan sama-sama tegang, karena satu poin itu menentukan, saya sempat leading dan match point, tapi saya belum bisa kontrol,” tutup Anthony. (Adt)

Jadi Tunggal Tersisa Indonesia, Jonatan Christie Masuk Semifinal Indonesia Masters 2019

Tunggal putra Indonsia, Jonatan Christie sukses melaju ke babak semifinal (4 besar) Daihatsu Indonesia Masters 2019, paska menyudahi unggulan ke-8 asal India, Kidambi Srikanth, pada babak perempat final di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (25/1). (Humas PBSI)

Jakarta- Jonatan Christie mampu mempertahankan performa menawan para wakil tuan rumah di court-1 Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/1). Butuh waktu 48 menit bagi tunggal putra peringkat 12 dunia itu menekuk unggulan ke-8 asal India, Kidambi Srikanth, demi tiket ke babak semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019. Awal gim pertama, pertarungan berlangsung ketat. Namun jelang interval Jojo, sapaannya mampu mendulang beberapa poin beruntun, hingga membuatnya sedikit menjauh dari kejaran poin Kidambi. Masa interval, jagoan tuan rumah unggul 11-7. Selepas jeda, Kidambi yang kini bercokol di peringkat 8 dunia itu mulai bangkit. Sedikit demi sedikit, pemain 25 tahun ini mulai mengejar perolehan poin Jojo. Poin berimbang di angka 15-15, bahkan tunggal India mampu balik memimpin 15-18. Namun, atlet PB Tangkas yang didukung penuh suporter tuan rumah sebagaimana saat ia meraih medali emas Asian Games 2018, tak lantas tinggal diam. Lewat sebuah momentum yang tepat, pemain kelahiran Jakarta 15 September 1997 itu mampu mendulang lima poin berturut-turut mengakhiri gim pertama dengan kemenangan 21-18. Gim kedua dibuka dengan mulus oleh Jonatan. Ia meraup enam poin beruntun untuk leading 6-0. Jeda interval pun dikuasai Jojo, lewat keunggulan 11-4. Sebenarnya Jonatan memimpin perolehan angka. Namun saat memasuki periode poin kritis, Kidambi menipiskan ketertinggalannya menjadi 17-15. Pemain India ini bahkan mampu menyamakan kedudukan di angka 19-19. Performa Jojo yang mulai kedodoran saat masuk periode krusial, ternyata gagal dimanfaatkan dengan baik oleh wakil India. Ia pun sukses menutup set kedua lewat kemenangan tipis 21-19. Jojo pun sukses menyusul dua wakil tuan rumah lainnya yang telah memastikan diri masuk ke babak 4 besar. Masing-masing dari sektor ganda putri lewat aksi Greysia/Apriyani, dan ganda campuran dar pasangan Tontowi/Liliyana. Sementara Juara bertahan tahun lalu, Anthopny Sinisuka Ginting harus mengubur impiannya ke semifinal lantaran kalah dari tunggal asal Jepang, Kento Momota. Anthony takluk dari unggulan pertama turnamen ini dengan straigt game, 9-21, 10-21, di Istora Senayan, Jumat (25/1). Di babak semifinal yang bakal digelar pada Sabtu (26/1), Jojo ditunggu ranking 20 dunia asal Denmark, Anders Antonsen. Dalam laga di court-3 itu, Antonsen tak diduga menundukkan wakil Malaysia, Lee Zii Jia, dua set langsung, dengan skor identik 21-13, 21-13. “Antonsen mungkin menebak permainan saya, begitu juga saya, akan melihat video pertandingan masing-masing. Saya unggul di supporter, lawan-lawan saya terlihat sedikit nervous dengan riuhnya Istora, ini salah satu modal buat saya,” terang Jojo. “Antonsen pemain bagus, masih muda. Tipikal mainnya seperti pemain Eropa yang cepat, angkat bola dan smash. Mirip dengan (Viktor) Axelsen, tapi Antonsen lebih cepat karena dia lebih muda,” pungkasnya. (Adt)

Jonatan Christie Singkirkan Unggulan Kedua Asal China, Anthony Ginting Susul ke Perempat Final

Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, secara mengejutkan melaju ke babak perempatfinal Daihatus Indonesia Masters 2019. Dia menang mudah atas wakil China, Shi Yuqi, lewat pertandiangan dua gim 22-20 dan 21-6, lewat drama pertarungan selama 39 menit. (tribunnews.com)

Jakarta- Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, secara mengejutkan melaju ke babak perempatfinal Daihatus Indonesia Masters 2019. Dia lolos usai menang mudah atas wakil China, Shi Yuqi, lewat dua gim. Dalam laga yang berlangsung di Istora Senayan, pada Kamis (24/1), Jojo, sapaannya, mengawali gim pertama dengan baik. Dia bisa mengimbangi perlawanan dari Shi Yuqi. Sempat tertinggal 17-20, Jojo akhirnya berhasil menutup gim pertama dengan keunggulan 22-20. Mendapat dukungan hebat dari publik Istora, Jojo bermain dengan impresif di gim kedua. Bahkan Shi Yuqi dibuat tak berdaya di awal set kedua tersebut, Jojo mampu cetak empat poin. Setiap pergerakan unggulan kedua itu mampu dibaca dengan baik oleh Jojo. Atlet kelahiran Jakarta 15 September 1997, akhirnya menutup dengan kemenangan 21-6. Tercatat ia hanya butuh 39 menit melewati laga ini. Di perempatfinal nanti, pebulutangkis berusia 22 tahun akan melawan Srikanth Kidambi (India). Sementara itu, perjalanan Anthony Sinisuka Ginting mempertahankan gelar juara di Indonesia Masters masih mulus. Ranking 7 dunia itu memastikan 1 tiket perempatfinal usai menang mudah atas tunggal putra China, Zhao Junpeng, di laga 16 besar. Duel itu berlangsung sengit. Apalagi, di gim pertama, Zhao beberapa kali memimpin perolehan poin. Namun, usai jeda turun minum, Anthony tampil makin membaik dan merebut kemenangan 21-15. Di gim kedua, ia tampil ganas sejak awal. Memimpin raihan angka hingga menutup pertandingan di menit ke 40, Anhtony menyudahi laga dengan poin akhir 21-12. Dengan hasil ini, pada babak perempatfinal, pemuda kelahiran Cimahi 20 Oktober 1996 ini, akan menantang Juara Dunia 2018 asal Jepang, Kento Momota. Berdasarkan rekor pertemuan, Anthony tertinggal 3-5 dari tunggal andalan Negeri Sakura itu. Terakhir, kedua pemain bertemu di ajang Denmark Open, pada Oktober 2018. “Saya harus siap capek, siap susah, makin kesini lawannya makin susah, harus benar-benar siap, dengan sistem reli poin, kalau buat salah, langsung kehilangan poin,” tambah jebolan MILO School Competition itu. Sejatinya, walau bercokol di ranking 45 dunia, Zhao bukan lawan yang mudah. Atlet kidal ini punya penempatan bola yang tak terduga. Buktinya di babak 32 besar Indonesia Masters 2019, ia menaklukan juara dunia 4 kali, Lin Dan. Bahkan, Zhao pernah mengalahkan Anthony di Indonesia Masters 2016. Tapi, yang terbaru, atlet klub PB SGS PLN ini, sukses menumbangkan Zhao, di Thailand Masters 2017. (Adt)

Usai Raih Emas Asian Games 2018, Jonatan Christie Langsung Telan Pil Pahit di Jepang Open

Jonatan Christie harus menelan pil pahit di kejuaraan Jepang Open 2018 BWF World Tour Super 750. Peraih medali emas Asian Games2018 dipaksa menyerah oleh Prannoy H.S, straight game, 18-21, 17-21, dalam tempo 45 menit. (Humas PBSI)

Jakarta- Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting berhasil melenggang ke babak kedua (16 besar) kejuaraan bulutangkis Jepang Open 2018 BWF World Tour Super 750. Bertanding di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, pada Selasa (11/9), pemain asal PB SGS PLN Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu menyingkirkan atlet Hongkong sekaligus unggulan delapan, Ng Ka Long Angus, dalam duel berdurasi 43 menit, dengan skor 21-14, 21-15. Sebelumnya, dari enam kali bentrok dengan Ng, Ginting, sapaan akrabnya, hanya mengoleksi dua kali kemenangan, masing-masing di Badminton Asia Team Championship 2016 (25-23, 21-14), dan Korea Open 2017 (21-18, 21-18). Di babak 16 besar, peraih gelar Indonesia Masters 2018 itu menantang wakil India Prannoy H.S. Terakhir, mereka melakoni duel di ajang Indonesia Open 2017. Ketika itu, penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu tumbang, straight game, 13-21, 18-21. Sementara itu, Jonatan Christie harus menelan pil pahit. Peraih medali emas Asian Games XVIII/2018 dipaksa menyerah oleh Prannoy H.S, straight game, 18-21, 17-21, dalam tempo 45 menit. Ini menjadi kekalahan beruntun bagi pebulutangkis kelahiran Jakarta, 15 September 1997 atas tunggal India, yang menempati ranking 13 dunia itu. Sebelumnya, mereka bertemu di nomor beregu cabang bulutangkis Asian Games XVIII/2018. Jojo, sapaan akrabnya, takluk dalam pertarungan rubber game, dengan skor 15-21, 21-19, 19-21, di babak perempat final. (Adt) Hasil Jepang Open 2018, Selasa (11/9): Tunggal Putra Anthony Sinisuka Ginting vs Ng Ka Long Angus (Hongkong/8) Skor : 21-14, 21-15 Tommy Sugiarto vs Chen Long (China/6) Skor : 21-12, 17-21, 14-21 Jonatan Christie vs Prannoy H.S (India) Skor : 18-21, 17-21 Tunggal Putri Gregoria Mariska Tunjung vs Evgeniya Kosetskaya (Rusia) Skor : 21-18, 21-17 Lyanny Alessandra Mainaky vs Ksenia Polikarpova (Israel) Skor : 21-10, 21-8 Ganda Campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti vs Robin Tabeling/Cheryl Seinen (Belanda) Skor : 21-15, 22-20 Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja (8) vs Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich (Jerman) Skor : 21-13, 21-17 Ricky Karandasuwardi/Debby Susanto vs Zheng Siwei/Huang Yaqiong (China/1) Skor : 14-21, 12-21

Raih Emas di Usia 20 Tahun, Empat Atlet Ini Turut Ukir Sejarah Indonesia Dalam Asian Games 2018

Sebagai pebulutangkis nomor 15 dunia, Jonatan Christie tak diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan, hingga akhirnya ia meraih emas nomor tunggal putra. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia mengukir prestasi dalam ajang multievent Asian Games 2018. Kontingen Tanah Air melampaui target yang ditetapkan pemerintah karena mendulang total 31 medali emas hingga Sabtu (1/9) atau H-1 penutupan. Pencak silat menjadi pendulang emas terbanyak bagi Indonesia. Dari 16 nomor yang dipertandingkan, 14 di antaranya dijuarai para atlet Tanah Air. Torehan 31 emas ini, menempatkan Indoensia di peringkat keempat klasemen akhir. Kontingen Tanah Air mengungguli Uzbekistan, yang duduk diposisi kelima dengan selisih 10 emas. Prestasi ini jauh lebih baik, dibandingkan saat Indonesia menjadi host Asian Games 1962. Kala itu, Indonesia hanya 11 kali menjadi juara. Kesuksesan Indonesia tentunya tidak lepas dari peran para atlet-atlet muda. Usia belia bukan menjadi halangan bagi mereka untuk mengukir prestasi. Setidaknya, ada empat atlet muda Indonesia yang usianya belum genap 21 tahun, namun sudah mencuri perhatian karena berprestasi di Asian Games 2018. Siapa sajakah mereka? Berikut ini adalah ulasannya. Rio Rizki Darmawan Jumat (24/8), venue dayung Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, kembali riuh. Anak-anak asuh pelatih Boudewijn van Opstal dan Muhammad Hadris, berhasil meraih medali emas pada laga final nomor dayung kelas ringan delapan putra di ajang Asian Games 2018. Kontingen Merah Putih yang beranggotakan Tanzil Hadid, Muhad Yakin, Jefri Ardianto, Ali Buton, Ferdiansyah, Ihram, Ardi Isadi, Ujang Hasbulah, dan Rio Rizki Darmawan, mengalahkan Uzbekistan dan Hong Kong dengan catatan waktu 6 menit dan 08,88 detik. Pundi-pundi emas kembali disumbangkan untuk Indonesia. Di antara ingar-bingar di Jakabaring, di antara riuh-rendah sorakan penonton, nama Rio menjadi sorotan. Putra kebanggaan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi yang termuda di antara teman-temannya. Semula memang tak terpikir di benak Rio, untuk mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga dayung. Andai ia menolak ajakan Jufri, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR) Tadulako Palu, mungkin teriakan ‘Rio’ ‘Rio’ ‘Rio’ dari penonton di venue tak akan muncul. Postur tubuhnya yang besar dan berprestasi selama di SMANOR, membuat Jufri yakin, bila pemuda asal Desa Tompi Bugis, Sigi, 27 November 1998 itu, bisa menjadi atlet dayung. Jonatan Christie Sebagai pebulutangkis tunggal putra nomor ke-15 dunia, Jonatan Christie memang kurang diunggulkan di nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, lajunya tak terhentikan melawan pemain-pemain unggulan. Dia mengalahkan Shi Yuqi (peringkat kedua dunia asal China) di babak kedua, dan Khosit Phetpradab (runner-up SEA Games 2017) di babak ketiga. Di fase perempat final, giliran Wong Wing Ki Vincent (Hong Kong), yang dilewati Jojo, sapaannya. Lanjut ke semifinal, ia melumat peringkat ke-10 dunia asal Jepang, Kenta Nishimoto. Jojo, lalu menyudahi perlawanan sengit Chou Tienchen (Taiwan), di babak final, di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Selasa (28/8). Tunggal nomor enam dunia itu menyerah dari Jojo, usai melewati drama pertarungan ketat tiga gim, dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Dari lompatan Asian Games ini, pemuda kelahiran Jakarta 15 September 1997, boleh optimistis menatap target selanjutnya, yakni turnamen BWF World Tour Super Series. Di Indonesia Open 2018 Juli lalu, ia langsung gugur di babak pertama oleh Viktor Axelsen (Denmark). Raihan tertinggi Jojo adalah final New Zealand Open 2018 pada Mei, meski kandas dari Lin Dan (China). Rifki Ardiansyah Arrosyiid Rifki Ardiansyah Arrosyiid mengharumkan nama Indonesia pada Asian Games 2018. Peraih emas cabang olahraga Karate nomor kumite 60kg itu turut membanggakan kesatuannya sebagai anggota di korps Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Rifki yang saat ini berpangkat sersan dua (serda) akan naik pangkat menjadi sertu pada 1 Oktober nanti, usai mendapat penghargaan percepatan kenaikan pangkat, merupakan prajurit TNI peraih emas di Asian Games 2018. Rifki menetap di Surabaya, dan sehari-harinya bertugas sebagai Babanmin 2 Pokbanmin Jasdam Kodam V/Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Putra dari pasangan Surya dan Dwi ini menempuh pendidikan Bintara pada 2016 lalu. Ajang Asian Games 2018 bukan hanya menjadi pembuktian bagi para atlet dari kalangan sipil. Sejumlah atlet berlatar belakang militer pun berjuang dalam ‘pertempuran’ di arena olahraga demi mengangkat prestasi Merah Putih. Rifki adalah salah satu prajurit yang juga bersaing dengan para atlet luar negeri di ajang olahraga multicabang se-Asia tersebut. Arek Suroboyo kelahiran 24 Desember 1997 ini, mampu meraih emas bagi Indonesia usai mengalahkan karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh, di fase final dengan skor 9-7. Sebelumnya, Rifki pernah meraih medali perunggu di SEA Games 2017, dan medali Emas dari kelas Kumite 55 Kg, dalam Kejurnas Karate Piala Panglima TNI tahun 2017 lalu. Hanifan Yudani Kusumah Pencak Silat menambah lagi pundi-pundi medali Indonesia di Asian Games 2018. Kali ini atas nama Hanifan Yudani Kusumah. Dalam laga perebutan medali emas nomor Tarung Putra Kelas C (55-60Kg) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta, Rabu (29/8), Hanifan menang 3-2, atas pesilat Vietnam, Thai Linh. Dalam pertarungan tiga ronde itu, Hanifan sempat mendapat kartu merah, karena dinilai menyerang wajah lawannya. Hanifan adalah pesilat berusia 20 tahun, namun sudah berhasil mengharumkan nama Indonesia. Remaja yang tumbuh di Bandung ini lahir pada 25 Oktober 1997. Sebelum tampil di Jakarta, Hanifan tercatat sebagai pesilat yang meraih medali emas pada Silat World Championships 2016 di Denpasar, Bali. Pada 2017, ia menyabet perunggu di Asian Championships yang digelar di Korea. Hanifan juga membawa perunggu pada Sea Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Atlet asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dikenal usai selebrasinya yang membuat calon presiden Prabowo Subianto, dan Presiden Indonesia Joko Widodo, saling berpelukan dan berselimutkan bendera Merah-Putih, ternyata merupakan seorang jockey balap motor handal, saat masih duduk di SMA. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

Borong Enam title di Super Series 2017, Kevin/Marcus di Puji Susy Susanti

Susy Susanti selaku Kabid Binpres PBSI, memberikan pujian kepada semua atlet Indonesis yang berlaga di Super Series 2017. Terutama kepada pasangan Ganda Putra Indonesia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon yang pada Minggu, (26/11) kemarin memecah rekor, dengan berhasil menyabet enam titel super series/premier musim ini. Dari lima nomor yang dipertandingkan di super series tahun ini, tak ada pebulutangkis yang mampu meraih enam gelar juara pada musim ini selain Kevin/Marcus. Gelar Kevin/Marcus didapat dari All England, India Super Series, Malaysia Super Series, Jepang Super Series, China Super Series Premier, dan Hong Kong Super Series. Dilansir dari cnnindonesia.com, Susy Susanti yang merupkan atlet legendaris bulutangkis indonesia memberi ucapan selamat Atas gelar yang diraih Kevin/Marcus, “Salut untuk mereka karena di tahun 2017 mereka bisa meraih enam titel super series,” ucap Susy dalam rilis resmi. Kevin/Marcus tampil sempurna di dua pekan terakhir dalam rangkaian turnamen China Super Series Premier dan Hong Kong Super Series. Dua gelar yang didapat Kevin/Marcus membuat tim bulutangkis Indonesia berhasil memenuhi target yang dibebankan oleh PBSI. “Target kami di China dan Hong Kong terpenuhi, karena Kevin/Marcus yang secara konsisten bisa menjuarai dua turnamen tersebut.” Selain memuji Kevin/Marcus, Susy juga memberikan apresiasi pada Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang dapat menembus babak final Hong Kong Super Series. “Permainan ganda putri (Greysia/Apriyani) cukup baik meski harus mengakui keunggulan Chen Qingchen/Jia Yifan di babak final.” ujarnya. Sedangkan untuk nomor tunggal putra, Susy mengakui hasil yang diraih oleh Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting kurang memuaskan. “Para pemain tunggal putra harus lebih yakin dengan pola dan strategi permainan. Tentu juga mereka harus lebih mematangkan teknik dan fisik agar meraih hasil lebih baik di pertandingan berikutnya,” kata Susy.

Indonesia Berhasil sabet Dua Mendali Emas pada Korea Open Super Series 2017

Babak Final Kejuaraan Korea Open Super Series 2017 yang berlangsung  di SK Handball Stadium, Seoul, Minggu (17/09) menjadi ladang keberuntungan bagi Indonesia, pasalanya Indonesia bermain apik dan mendominasi Perolehan mendali. Berkat kerja keras, Indonesia berhasil meraih Dua mendali Emas yang di sumbangkan dari pasangan ganda campuran, Praveen Jordan/Debby Susanto dan tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting yang mengalahkan rekannya sendiri, Jonatan Christie. Di kutip dari badmintonindonesia.org, Kemenangan pasangan ganda campuran, Praveen Jordan/Debby Susanto mengalahkan pasangan Tiongkok, Wang Yilyu/Huang Dongping dalam dua game langsung dengan total skor 21-17 dan 21-18. ini sekaligus membalas pertemuan pertama mereka yang terjadi di Badminton Asia Championships 2017. Saat itu Jordan/Debby kalah 22-24 dan 19-21 dari Wang/Huang. Tak hanya itu, hasil dari  “perang saudara” yang terjadi di sektor tunggal putra, antara Jonatan Christie yang berhadapan dengan Anthony Sinisuka Ginting. pertandingan ini di menangkan oleh Anthony yang berhasil menyabet mendali Emas melalui pertarungan tiga babak dengan hasil skor akhir 21-13, 19-21 dan 22-20. Atas kemenangan Anthony dengan begitu Jonatan Christie menjadi Runner Up pada pertandingan ini. ia menuturkan kepada badmintonindonesia.org, Korean Open Super Series mungkin belum rejekinya, namun ia bersyukur dapat melaju jauh hingga ke Final. Pertandingan Akhir yang mendebarkan dan menjadi penentu satu perolehan mendali Emas melalui sektor Ganda Putra antara Indonesia vs Denmark. pada pertandingan Ini, Kevin Sanjaya Sukamujo/Marcus Fernaldi Gideon di buat kualahan menghadapi pasangan unggulan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen. setelah melalui pertandingan panjang tiga babak, Kevin/Marcus kalah dengan prolehan skor 19-21, 21-19 dan 15-21 dalam 68 menit. walaupun tak berhasil menyabet gelar Juara, Kevin/Marcus menjadi Runner Up atas Pertandingan ini. Dengan begitu Indonesia pada ajang Korean Open Super Series berhasil membawa dua gelar Juara dengan perolehan dua mendali Emas dan dua gelar Runner Up dengan Perolehan dua mendali Perak.  

Final Yang Ditunggu-tunggu, Duel Jonatan Christie vs Anthony Ginting di Korea Open Super Series

Duel antara Jonatan Christie dengan Anthony Ginting di final Korea Open Super Series 2017 akhirnya bisa meningkatkan optimisme Indonesia. Negara ini kembali punya masa depan cerah di nomor tunggal putra. Harapan Indonesia untuk punya tunggal putra papan atas setelah Taufik Hidayat pensiun, akhirnya dilimpahkan ke nama-nama seperti Jonatan, Anthony, dan Ihsan Maulana Mustofa. Itu semua berkat performa apik mereka di Piala Thomas 2016. Namun usai Piala Thomas tersebut, performa mereka dalam tunggal putra muda Indonesia sempat menurun. Hingga akhirnya Jonatan dan Anthony yang mampu menciptakan All Indonesian Final di Korea Super Series. Jonatan lawan Anthony ini membuat Indonesia kembali memiliki juara super series untuk pertama kalinya setelah  April 2016 lalu, Sony Dwi Kuncoro memenangi Singapura Super Series. Anthony sendiri dalam menuju babak final di Korea Open Super Series telah menaklukkan sejumlah pemain unggulan seperti Ng Ka Long Angus dan pebulutangkis nomor satu dunia, Son Wan Ho. Sedangkan langkah Jonatan terbilang bagus juga dalam menuju babak final. Dia sukses menyingkirkan Lee Hyun Il dan Wang Tzu Wei. Pelatih tunggal putra Indonesia, Hendri Saputra gembira. Dia mengaku ini merupakan hasil latihan selama ini. “Puji Tuhan karena awalnya target mereka adalah babak semifinal namun melihat drawing yang ada, saya juga punya keyakinan mereka bisa melaju lebih dari itu dengan catatan bisa bermain bagus,” kata Hendri yang dilansir dari CNNIndonesia.com. Hendri menambahkan juga bahwa Jonatan dan Anthony terkadang masih menunjukkan tidak konsisten dalam bertanding. Namun, secara umum sudah ada peningkatan kualitas dalam permainan. Hal itu terlihat dari segi teknik dan strategi mereka. Final super series ini merupakan pertandingan pertama bagi Anthony dan Jonathan. Maka dari itu, duel ini juga akan berakhir pada titel super series perdana bagi salah satu dari mereka.

Jonatan Christie Berhasil Melaju ke Semifinal Setelah Kalahkan Jepang di Korea Open Super Series 2017

Jonatan Christie (badmntonindonesia)

Satu lagi wakil Indonesia yang berhasil menuai kesuksesan dengan lolos ke semifinal Korea Open Super Series 2017. Jonatan Christie terus melaju setelah menumbangkan Kazumasa Sakai asal Jepang, lewat tiga babak pertandingan dengan skor 21-13, 16-21 dan 21-19. “Puji Tuhan setinggi-tingginya, dengan bantuan-Nya saya bisa menang kali ini. Saya akui permainan saya tadi belum matang. Dengan kondisi permainan saya yang tadi, saya seperti tidak bisa mengontrol harus menggunakan stroke seperti apa. Di situ saya sebenarnya paham harus main seperti apa, tapi yang keluar tidak sejalan dengan pukulan saya,” kata Jonatan tentang penampilannya kepada badmintonindonesia.org Kemenangannya di perempat final ini rupanya memiliki arti tersendiri buat Jonatan. Sebab pada hari yang sama, Jonatan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 20 tahun. “Bersyukur banget ini jadi kado yang indah buat saya. Kemarin malam saya sempat tegang, sedih sama happy, nggak tahu kenapa. Senang karena di delapan besar bisa ketemu Sakai, jadi ada peluang buat lolos. Karena sebelum-sebelumnya saya pasti dapat lawan berat di babak-babak awal,” ungkap atlet kelahiran Jakarta tersebut saat ditemui di SK Handball Stadium, Seoul usai laganya, Jumat (15/9). Berikutnya pada pertandingan semifinal Korea Open Super Series, Jonatan akan berhadapan dengan Wang Tzu Wei, Taiwan. Sebelumnya, tiga kali berhadapan Jonatan belum pernah memperoleh kemenangan satu kali pun. Untuk itu, ia berharap laganya besok bisa membalas tiga kekalahan tersebut. “Pastinya saya akan berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan bisa membalas kekalahan sebelumnya, amin,” pungkas Jonatan.