Final Lari 100 Meter Putra Rekor Asia Pecah, Lalu Zohri ‘Cukup’ Sumbang Rekor Pribadi Tanpa Medali

Takluk dari sprinter China dan Kenya, pelari Indonesia asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri (400), gagal meraih medali, pada final lari 100 meter putra Asian Games 2018. Ia hanya mampu berada di posisi tujuh, dari delapan finalis, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Sprinter China, Su Bingtian berhasil mencetak rekor Asian Games 100 meter dengan catatan waktu 9,92 detik pada babak final, pada Minggu (26/8), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Catatan tersebut membuat Su Bingtian meraih medali emas di nomor bergengsi atletik tersebut. Pada urutan kedua sprinter naturalisasi Qatar asal Kenya, Tosin Ogunode, berhasil mencatatkan waktu 10,00 detik dan meraih medali perak. Sementara medali perunggul diraih sprinter Jepang Ryota Yamagata dengan catatan waktu yang sama dengan Tosin yaitu 10,00 detik. Sedangkan Usain Bolt kebanggaan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, belum berhasil menyumbang medali pada final pertandingan lari 100 meter putra Asian Games 2018. Zohri memang tidak dibebani target pada event Asian Games 2018. Di partai final ini, Zohri harus puas berada di posisi ketujuh dengan catatan waktu 10,20 detik. Hasil ini lebih baik dari dua sesi sebelumnya, yakni babak kualifikasi dan semifinal. Catatan waktu yang ditorehkan Zohri lebih baik dibanding sprinter Korea Selatan, Kokyoung Kim yang mencatat waktu 10,26 detik. Sebelumnya, pada laga semifinal, pemuda kelahiran Lombok, 1 Juli 2000 ini, meraih peringkat kedua teratas. Zohri mencatatkan waktu 10,24 detik. Torehan ini merupakan catatan waktu yang terbaik, dimiliki Zohri di pentas senior, sebelum sesi final 100 meter. Rekor terbaiknya kala menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yakni 10,18, tak dihitung, karena bukan event senior. Namun, usai diakumulasikan pencapaian waktu, Zohri menempati peringkat ketujuh terbaik. Pada Asian Games 2018, selain sprint 100 meter, Zohri juga akan berlaga di nomor lari estafet 4×100 meter putra, pada Rabu (29/8). (Dre)

Kalah Bersaing Dari Korea, Atlet Lari Gawang 100 Meter Emilia Nova Sumbang Perak

Emilia Nova (putih) tak menyangka, jika debutnya di Asian Games 2018 langsung menyabet medali perak, nomor lari gawang 100 meter putri, cabor atletik Asian Games 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia kembali menambah koleksi satu medali perunggu dan satu perak, lewat cabang olahraga atletik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). Medali perak diraih Emilia Nova, yang bertanding pada nomor lari gawang 100 meter putri. Ini menjadi perak ke-13 untuk Indonesia. Tambahan satu medali perunggu Indonesia diraih Sapwaturrahman yang turun pada nomor lompat jauh putra. Medali ini menjadi perunggu ke-25 untuk kontingen Indonesia. Dalam enam kali percobaan, Sapwaturrahaman mencatatkan jarak terjauh 8.09 meter. Ini adalah catatan terbaik Sapwaturrahaman dalam Asian Games. Sapwaturrahaman kalah dari dua wakil China, yang meraih medali emas (Wang Jianan) dan medali perunggu (Zhang Yaoguang). Wang Jianan mencatatkan jarak 8.24 meter yang menjadi rekor terjauh sepanjang sejarah Asian Games. Di peringkat kedua, Zhang Yaoguang, menorehkan jarak lompatan 8,15 meter. Sementara, Emilia berhasil menyumbang perak, usai di partai final gagal bersaing dengan wakil Korea Selatan, Jung Hye-Lim. Hye-Lim finish terdepan dengan catatan waktu 13,20 detik sekaligus memastikan meraih medali emas. Sedangkan atlet Merah Putih berusia 23 tahun itu, membukukan catatan waktu 13,33 detik dan menjadi runner up Emilia berhak atas medali perak. Sedangkan medali perunggu diperoleh wakil Hongkong Lui Lai Yu. Ia menorehkan catatan waktu 9 detik lebih lambat dari Emilia. Perak yang diraih dara kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1995, merupakan medali pertama Indonesia, dari cabang atletik di Asian Games 2018 Bagi Emilia, Asian Games 2018 merupakan debut pertamanya dan ia tak menyangka meraih medali di nomor yang jadi spesialisasinya itu. Terlebih, atletik merupakan cabang olahraga terukur, dan sulit bisa meraih medali. Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) hanya menarget satu emas pada Asian Games 2018. Ia juga mengaku bersyukur meraih medali perak. “Atletik itu olahraga terukur yang sulit mendapatkan medali. Apalagi untuk tingkat Asia seperti ini,” ungkap Emilia usai lomba. “Terima kasih seluruh masyarakat Indonesia, buat orang tua, pelatih dan pengurus PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) atas doanya,” tambahnya. (Adt)

Jalani latihan dua bulan, Satia Bagja Keluhkan Pola Komunikasi Timnas Putri Senior

Timnas Putri Senior (Hijau) unggul 7-1 atas klub sepak bola putri asal Yogjakarta, Pansa FC, pada Sabtu (12/5). (Ham/NYSN)

Sawangan- Sudah dua bulan, Timnas Putri Senior menjalani rangkaian TC dan latihan yang dilaksanakan di National Youth Training Centre (NYTC) Sawangan, Depok, Jawa Barat, sejak awal Maret hingga Sabtu (12/5). Beberapa laga uji coba dilaksanakan guna mengevaluasi perkembangan pemain selama mengikuti instruksi pelatih Timnas Putri Senior, Satia Bagja. Pada Sabtu (12/5), anak asuhnya kembali merumput guna menjalani uji coba, menantang klub sepak bola putri asal Yogyakarta, Pansa FC. Satia membeberkan perkembangan anak asuhnya pasca laga. Menurut dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini, perkembangan dan kualitas bermain kini cukup pesat, salah satunya penguasaan dan kontrol bola. “Saat tim ketiga bermain, mereka melakukan kombinasi serangan, di dalam kotak pinalti. Berani memainkan bola-bola pendek dan berapa kali mereka lakukan itu. Biar permainan kita tak monoton, hanya lari-angkat, gitu terus,” tutur Satia. Namun yang menjadi catatan bagi pria berusia 57 tahun tersebut yakni perihal finishing yang dilakukan Zahra Musdalifah dkk. Beberapa pemain kerap menunda kesempatan untuk melakukan tendangan. Aksi seperti meliuk-liuk, atau mengumpan kepada teman saat peluang terbuka, menjadi perhatian Satia. Selain finishing, kerjasama antar pemain juga masih harus diperhatikan. Penting dilakukan oleh pemain saat bermain untuk berkomunikasi dengan rekan satu tim. Saat melakukan serangan, pemain kerap salah komunikasi dengan kawan. Akibatnya counter attack datang dari lawan. Meski saat ini kerangka tim terbentuk menjadi tiga, Satia masih melakukan ‘bongkar-pasang’ guna memaksimalkan kemampuan pemain. Beberapa nama kualitasnya justru tak berkembang. Namun ada juga yang progresnya bagus. “Misal dari posisi sayap dari Papua, Yudit. Meski usia senior diantara teman-temannya, dia masih mumpuni saat pegang bola, lari kedepan terus crossing, makanya bongkar pasang masih perlu” tambahnya. (Ham) Rekap Hasil Uji Coba Timnas Putri Timnas Putri vs Tim Pelatih Lisensi B : 1-3 Timnas Putri vs SSB Pelita Jaya : 0-4 Timnas Putri vs SSB Pelita Jaya : 1-4 Timnas Putri vs SSB Akademi Sepak Bola Tangsel Muda (ASTAM) : 3-1 Timnas Putri vs UNJ 50 tahun ke atas: 4-0 Timnas Putri vs SSB Goal Axis: 23-0 Timnas Putri vs Univ Bina Nusantara (Putri) : 21-0 Timnas Putri vs Legend Timnas U-50: 3-2 Timnas Putri vs Villa 2000 U-13: 1-2 Timnas Putri vs Gunungkidul United Senior : 1-1 Timnas Putri vs UNJ Putri Umum : 10-0 Timnas Putri vs Pansa FC : 7-1

Dua Kali Uji Coba dengan Thailand Saat Ramadan, Pelatih Timnas Putri Kecewa

Timnas Putri Senior (hijau) dijadwalkan melakukan dua kali uji coba dengan klub putri asal Thailand, di Palembang, Sumsel. (Ham/NYSN).

Sawangan- Datangnya bulan Ramadan dan ibadah puasa sebulan penuh bagi umat muslim, bukan halangan bagi Timnas Putri Senior melanjutkan jalannya TC latihan. Hal ini demi memantapkan persiapan jelang tampil di Piala AFF 2018 Womens Championship Juni mendatang, serta perhelatan Asian Games 2018, pada Agustus. “Kami agendakan libur selama tiga hari yakni 15-17 Mei, di awal Ramadan. Dan kembali latihan, pada Jumat (18/5) sore”, ungkap Satia Bagja, Pelatih Timnas Putri Senior, pada Sabtu pagi (12/5). Proses latihan di bulan Ramadan, tetap berlangsung sehari dua kali. Namun, Zahra Musdalifah dkk memulainya saat sesi sore jelang waktu berbuka puasa, dan dilanjutkan malam, usai sholat tarawih. “Kami menunggu pemasangan lampu, yang sedang digarap di lapangan bawah NYTC Sawangan. Semoga lampu penerangan terpasang sebelum Ramadan, dan kami bisa tetap rutin berlatih,” lanjutnya. Di sela-sela program latihan di bulan Ramadan, anak asuh Satia akan bertolak ke Palembang. Sebab, pada (27/5) dan (30/5), akan kedatangan klub sepak bola putri, dari Thailand. Kesempatan uji coba menghadapi tim asal Thailand, membuat Satia tertantang. Thailand adalah satu-satunya negara Asean yang lolos Piala Dunia Wanita 2019 Perancis. Namun, Satia justru merasa kecewa. “Sebenarnya, bertemu Thailand sampai dua kali ini, bukan agenda saya. Tetapi dari PSSI. Kalau saya ‘kan inginnya dua negara berbeda, tapi ya sudah, dijalani saja,” tutupnya. (Dre)

SH+ Jadi Pilihan Aksesoris Atlet Sepeda, Mahal Tapi Nyaman

Helm SH+ Shalimar 2017 yang menjadi salah satu prototype perlengkapan bagi Timnas sepeda Indonesia di Asian Games 2018. (ciclimattio.it)

Jakarta- Aktifitas bersepeda tak lengkap tanpa aksesoris pendukung. Apalagi bersepeda salah satu olahraga yang memiliki risiko besar terjadinya cedera. Berbagai pilihan produk aksesoris beredar di pasaran, mulai dari yang berharga murah hingga yang mahal. Namun, pilihan ada pada Anda? Brand SH+ adalah salah satu yang bisa menjadi rekomendasi bagi para pecinta sepeda dalam memilih aksesoris. Terpilih sebagai pemenang ‘Special Mention’ dalam Cyclist’s Choice Award Togoparts 2016, membuat SH+ selalu melakukan inovasi tanpa henti menghasilkan produk olahraga berkualitas dan memiliki kinerja terbaik hingga kini. Salah satunya model helm sepeda yang mendapat perhatian khusus dari para pecinta sepeda. Selain kenyamanan, performa dan design yang ditampilkan, disisi lain yakni memiliki berat hanya 230 gram. Helm ini bahkan lebih ringan dibandingkan dengan model helm lain yang jauh lebih mahal dan lebih terkenal. Produk shalimar sebagai model utama line helm SH+ menarik perhatian berkat kemantapan performa dan perlindungannya. Berbekal material EPS serta cover shell polikarbonat sebagai material helm, mampu melindungi pemakai kala benturan. Selain itu, adapula Gogle atau kacamata. Soal harga, tidak kurang dari Rp 1,5 juta per unit. Alasan itu membuat Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) bersedia disponsori oleh perusahaan asal Italia untuk equipment balapan pada ajang Asian Games 2018, Agustus-September mendatang, yaitu berupa helm, kacamata dan sepatu. Sebelumnya, pada SEA Games 2017, Timnas balap sepeda Indonesia sudah menggunakan produk SH+. Hasilnya, berkat performa mereka dan aksesoris pendukung tersebut, Indonesia mampu mengantongi 11 medali emas. “Design helm khusus dimodifikasi sesuai dengan ukuran kepala pebalap Indonesia. Juga warnanya, dibuat sedemikan rupa menyerupai bendera Merah Putih. Helm dan kacamata ini khusus dibuat untuk Timnas balap sepeda disiplin track dan road race, buatan handmade di Italia,” ujar Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum PB ISSI. Ia melanjutkan kekuatan helm telah teruji pada saat balapan Tour d’Indonesia 2018. Saat insiden pebalap Bernard van Aert. Ben saat itu sempat terjatuh ke dalam sebuat lubang saat menggowes pada kecepatan 70 km/jam. Beruntung, Ben memakai Helm produk SH +. Meski helmnya mengalami retak, namun kepala Ben tak terluka sedikit pun. “Sangat membantu aerodinamik para pebalap Indonesia diberbagai event balapan. Terlebih, helm ini juga memiliki kekuatan yang bagus, karena sudah diuji dengan berat pukulan tertentu,” sambung pria yang akrab disapa Okto. Helm ini juga memiliki bentuk ekor yang didesain unik dan aerodinamis, tanpa meninggalkan faktor kenyamanan bagi pecinta sepeda. Elga Kharisma Novanda, pebalap BMX yang saat ini menekuni disiplin track itu mengaku helm produksi SH+ tersebut sesuai dengan karakter pebalap. “Ukurannya pas. Saya sudah mencoba saat kejuaraan di India beberapa waktu lalu. Tidak ada kendala termasuk aerodimanisnya,” tegas Elga. (Adt)

Mengenal Sambo, Olahraga Bela Diri Baru Yang Akan Dipertandingkan Di Asian Games 2018

Sambo-Olahraga-Bela-Diri-Baru-Yang-Akan-Dipertandingkan-Di Asian-Games-2018-1

Perhelatan akbar Asian Games 2018 yang akan di adakan di Indonesia akan memberikan warna baru. Pasalnya, ada beberapa cabang baru yang akan dipertandingkan, salah satunya adalah Sambo. Namun apakah cabang olahraga Sambo itu? Dan bagaimana kiprahnya di Indonesia? Sambo merupakan olahraga atau seni bela diri yang berasal dari Rusia yang populer pada tahun 1940-an. Sambo adalah singkatan dari Samozashchita Bez Oruzhia yang artinya pertahanan diri tanpa senjata.  Saat ini Sambo digunakan untuk seni bela diri militer tentara Rusia. Sambo menggabungkan gulat dan judo dengan menekankan pada kemampuan kontrol dan kuncian kaki. Sambo mengajarkan praktisi cara untuk mengakhiri perkelahian dengan cepat. Hal ini sering dilakukan dengan mengambil lawan ke tanah dan menerapkan penyerahan terus atau serangan cepat. Sejarah Sambo Sambo dipopulerkan oleh Vasily Oshchepkov yang lahir pada 6 Januari 1893 di Alexandrovsky Post. Vasily Oshchepkov pernah dikirim ke Seminari Ortodoks Tokyo Jepang setelah orang tuanya pada tahun 1907. Ia mengenyam pendidikan dan gaya hidup orang-orang Jepang. Pada 1908, Judo masuk dalam kurikulum Seminari yang diajarkan oleh Okamoto Yoshiro. Oshchepkov dan teman-temannya menunjukkan kemampuan yang luar biasa dan kemudian diundang ke Institut Kodokan, pusat komunitas Judo dunia. Namun, Judo dianggap sangat kasar dan Oshchepkov harus mempraktikkan seni bela diri tersebut melawan negara-negara yang pernah berperang dengan Rusia. Oshchepkov menjadi siswa Rusia pertama yang lulus dari Kodokan dan lulus dari seminari dengan nilai yang memuaskan. Ia pun dikirim ke Harbin untuk bertugas sebagai penerjemah militer di angkatan bersenjata Rusia. Ia melewati masa-masa sulit saat bertugas di angkatan bersenjata dan ia tidak pernah berhenti mengasah kemampuan Judonya. Pada tahun 1917, Oshchepkov menjadi salah satu penyelenggara turnamen Judo internasional pertama di Otaru-city Commercial High School. Namun, ia harus kembali ke Rusia pada tahun 1926. Setelah itu, ia mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya untuk mempromosikan Judo. Ditahun 1929, Oshchepkov menjadi pelatih Judo di klub olahraga utama Tentara Merah, kemudian pindah ke Institut Pendidikan Fisik Moskow (Moscow Physical Education Institute). Ia pun berhasil membuat Judo sangat populer di kalangan masyarakat Rusia dan mengadaptasinya dengan realitas yang ada di Rusia hingga terbentuklah Sambo. Jenis-jenis Sambo Sambo memiliki 5 jenis yang berbeda, yaitu: Combat Sambo Combat Sambo dibuat untuk militer. Tidak hanya gaya mengunci, tetapi Sambo ini juga menggunakan senjata. Freestyle Sambo Freestyle Sambo menggunakan teknik mencekik, namun teknik ini sempat dilarang dalam olahraga Sambo. Bela Diri Sambo  Bela Diri Sambo adalah Jenis Sambo yang paling umum untuk dipelajari. Pada jenis ini, diajarkan cara membela diri terhadap senjata dan hal-hal sejenisnya. Banyak metode serangan memanfaatkan agresi lawan gerakan ini juga mirip dengan Jujitsu dan Aikido. Sambo Khusus  Sambo khusus ini dirancang untuk unit tertentu dengan serangan dan respon yang sangat cepat. Dalam hal ini, Sambo Khusus sangat mirip dengan Combat Sambo tetapi dengan serangan yang memiliki tujuan tertentu. Olahraga Sambo  Olahraga Sambo sangat mirip dengan Judo. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan dan mematahkan pertahanan lawan. Aturan kompetisi mengizinkan semua jenis kuncian, termasuk mengunci dengan menggunakan kaki. Kiprah Sambo Di Indonesia Sambo sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 2007 lalu.Tokoh pendiri Sambo di Indonesia adalah Ir. Aji Kusmantri dari Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI). Sambo pertama kali diperkenalkan di lingkungan Universitas Trisakti pada tahun 2008. Bersama Gerard Lim (Singapore Sambo), perlahan olahraga Sambo mulai dikenal di kalangan Perkumpulan Judo Universitas Trisakti. Pada awalnya,  tidak banyak mahasiswa yang mengikuti olahraga ini. Alasannya adalah belum tersosialisasikan dengan baik dan memiliki perbedaan dari segi seragam latihan yaitu menggunakan celana pendek dan sepatu khusus. Saat ini di Indonesia, Sambo telah memiliki induk organisasi resmi yaitu Pengurus Besar Persatuan Sambo Indonesia (PB PERSAMBI). Beberapa atlet telah berhasil menyumbangkan medali bagi Indonesia  dalam turnamen taraf  Dunia. Salah satu atlet yang berprestasi dalam Sambo adalah Vincent Majid yang meraih medali emas di nomor combat sambo kelas + 100 kg pada kejuaraan dunia, World Martial Arts Masterships (WMAM) 2016 di Cheongju City Sports Centre, Korea Selatan. Selain itu, atlet Sambo lainnya adalah Marx Xaverius meraih medali perunggu di kelas sports Sambo kelas -62 kg. Ada juga Johan Mulyo LEgowo (combat/-74 kg) dan Desi Rahayu (sports/-60 kg) yang juga mengikuti kejuaraan WMAM ini. Di Asian Games 2018 mendatang, PB PERSAMBI juga mengincar medali emas karena ini menjadi peluang yang besar bagi Indonesia sebagai tuan rumah dan juga sebagai ajang pemberitahuan bahwa banyak atlet Sambo Indonesia memiliki bakat yang luar biasa. Semangat terus para atlet Sambo Indonesia.(put)

Akankah Semangat Asian Games 1962 Terulang Kembali Pada Asian Games Jakarta-Palembang Mendatang

asian games 1962 di Indonesia

Event olahraga empat tahunan terbesar se-Asean adalah Asian Games, tahun 2018 mendatang Indonesia mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah berlangsungnya Asian Games berikutnya. Ini merupakan, kali kedua Indonesia di tunjuk sebagai tuan rumah, dimana sebelumnya pernah digelar juga di tahun 1962. Tim nysnmedia.com, sedikit memberikan informasi mengenai sejarah asian games. Yuk, kita simak. Asian Games atau sering juga disebut dengan Asiad (Asia dan Olimpiade) adalah ajang olahraga yang diikuti oleh atlet-atlet Asia dan diselenggarakan setiap 4 tahun sekali di Negara-negara Asia oleh Asosiasi yang bernama Dewan Olimpiade Asia (Olympic Council of Asia atau disingkat dengan OCA). India merupakan negara pertama yang menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1951. Namun, sebelum dikelola oleh OCA, Asian Games dikelola oleh Asian Games Federation (AGF) hingga Asian Games ke-8 di Bangkok, Thailand tahun 1978. Hingga saat ini, tercatat 13 Kota dari 9 Negara yang telah menjadi tuan rumah Asian Games. Negara yang paling banyak menggelar Asian Games yakni Thailand sebanyak 4 kali di tahun 1966, 1970, 1978 dan 1998. Diikuti oleh Korea Selatan yang pernah menggelar di tiga kota yakni Seoul di tahun 1968, Busan 2002 dan Incheon 2014. Nah, di Asian Games 2018 ke-18, Indonesia di tunjuk menjadi penyelenggara event olahraga terbesar di Asia tersebut. Kota Jakarta dan Palembang dipilih untuk melaksanakan Asian Games. Dan ini merupakan kali kedua, Indonesia menjadi tuan rumah setelah tahun 1962. Lantas, bagaimana kiprah Indonesia sepanjang mengikuti Asian Games? Pada tahun 1951 di era kepemimpinan Presiden Ir. Soekarno saat itu, Indonesia berhasil mengumpulkan lima medali perunggu dan finish di posisi tujuh. Baru di tahun 1962 disaat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-4 meraih prestasi terbaiknya. Dan, di saat itu pula, Stadion Gelora Bung Karno dengan kapasitas 100.000 orang dinobatkan sebagai stadion terbesar se Asia Tenggara. Presiden Soekarno bersemangat untuk menunjukan jati diri Indonesia melalui olahraga. Bahkan, semangat itu tertanam di para atlet, sehingga mampu meraih prestasi yang mencenangkan dan juga membuat Jepang kagum. Mengirimkan 290 atletnya, Indonesia berhasil meraih posisi terbaiknya yakni peringkat dua dengan mengoleksi 21 medali emas, 26 perak dan 30 perunggu. Kalah dari Jepang yang memuncaki klasemen dengan 73 emas, 68 perak dan 23 perunggu. Bulu tangkis menjadi penyumbang medali terbanyak bagi Indonesia dengan menyumbangkan lima medali, dua perak, dan dua perunggu. Setelah itu, prestasi Indonesia di Asian Games terus menurun. Indonesia baru mulai bangkit kembali pada pelaksanaan Asian Games di Bangkok, Thailand pada tahun 1970. Saat itu Indonesia menduduki peringkat empat dengan koleksi sembilan emas, tujuh perak dan tujuh perunggu. Di Asian Games Teheran, Iran pada tahun 1974, Indonesia masih aman berada di posisi lima besar dengan koleksi lima emas, empat perak dan empat perunggu. Namun, di ajang Asian Games selanjutnya, prestasi Indonesia kian menurun. Asian Games ke-18, Indonesia akan kembali menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar se Asia. Apakah bisa semangat juang Presiden Soekarno dan para atlet bisa tertular di dalam diri atlet Indonesia nanti? Mari kita doakan, agar atlet-atlet Indonesia bisa memberikan prestasi yang membanggakan di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang nanti.(pah/adt)

Politeknik Olahraga Indonesia (POI) Resmi Dibuka Oleh Kemenpora

Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta memberikan kuliah umum perdana Politeknik Olahraga Indonesia (POI) di Gedung Griya Agung, Sumatera Selatan, Selasa (21/11/2017). Foto: Tribunnews

Politeknik Olahraga Indonesia (POI) yang terletak di Palembang, Sumatera Selatan resmi dibuka oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada 21 November lalu. POI ini diharapkan bisa mencetak atlet dan pelatih olahraga professional Indonesia dimasa depan. Politeknik Olahraga Indonesia telah menerima sedikitnya 90 mahasiswa baru pada tahun pertama yang akan terbagi dalam 3 program studi, yaitu Sport Industry, Perguruan Tinggi dan Kepelatihan. Ketiga program studi ini dianggap memiliki potensi yang menjanjikan dalam kenaikan prestasi olahraga di Indonesia. Raden Istanta, selaku Deputi III Bidang Pemberdayaan dan Olahraga Kemenpora menjelaskan kepada wartawan alasan Palembang terpilih untuk pembangungan Politeknik Olahraga Indonesia ini. “Kenapa di Sumsel, ya karena seluruh fasilitas di Jakabaring Sport City sudah standar internasional dan sudah lengkap. Mau fasilitas apa semua sudah ada disini, jadi nantinya mahasiswa bisa belajar sekaligus praktik.” Ujar Raden Isnanta yang dilansir dari Detik.com Menyambut Asian Games 2018, Palembang yang akan menjadi salah satu daerah berlangsungnya ajang internasional ini akan mengajak para mahasiswa Politeknik Olahraga Indonesi untuk menjadi bagian dan akan menjadi momen berharga sebagai tempat belajar praktik dan bukan hanya belajar secara teori. Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin menegaskan peringatan keras kepada mahasiswa POI untuk tidak merokok dan tidak akan segan untuk memberhentikan mahasiswa jika ketahuan melanggar. Ia menganggap merokok merupakan salah satu penghambat prestasi yang akan mempengaruhi fisik dari mahasiswa. “Ini peringatan keras saya kepada adik-adik mahasiswa baru, jangan sampai ada yang merokok dan ikut demo. Kalau ada yang melanggar tidak segan-segan saya minta untuk diberhentikan saja,”tutur Alex(put/adt)

Asian Games Ajang Praktek Mahasiswa Politeknik Olahraga

Politeknik Olahraga Indonesia (POI) yang telah diresmikan tersebut, menjadikan Asian Games 2018 sebagai ajang pelatihan bagi mahasiswanya. Hal ini dilakukan untuk menunjang pemahaman dan pengembangan olahraga. Menurut lansiran dari Republika.co.id (21/11/2017), dikatakan deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Raden Ananta, mahasiswa politeknik olahraga akan berlatih dan belajar mengenai tata cara pengelolaan, pengembangan olahraga melalui pelaksanaan olahraga bertaraf internasional tersebut. Asian Games diibaratkan sebagai laboratoriumnya. Mahasiswa dapat jadi penghubung dan panitia atau tata pencatatan nilai dalam penyelenggaraan pesta olaraga tersebut. ”Perkuliahan di Poltek selain teori juga praktek di lapangan. Salah satu prakteknya dengan memanfaatkan pesta olahraga akbar mendatang” dikatakan Raden Ananta. Pihak poltek yang dilengkapi fasilitas bertaraf internasional tersebut merasa optimistis bisa melahirkan sumber daya manusia untuk menciptakan atlet berpretasi internasional.

Menuju Asian Games 2018, Stadion Akuatik GBK Rampung

Acara soft launching stadion akuatik oleh PPK GBK (Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno) bersama sub kontraktor, Waskita Karya (WK) menandakan rampungnya proyek pengerjaan renovasi fisik stadion akuatik di Komplek Gelora Bung Karno (GBK). Menurut lansiran dari bola.com (10/11/2017), Direktur Pembangunan & Pengembangan Usaha PPK GBK, Gatot Tetuko bersama Manajer Proyek WK Haspak Panca meresmikan fasilitas renang terbaru milik negara Indonesia ini. Gatot menjelaskan semua itu berkat kerja keras project team beserta sub kontraktor. Sistem sirkulasi kolam sekarang lebih modern dan terkomputerisasi dan tugas saat ini tinggal memelihara dan menjaga kualitas. Acara launching tersebut pun diisi dengan pengajian serta santunan anak yatim. Stadion Akuatik GBK memiliki tiga kolam renang utama yang kini memiliki sepuluh jalur dengan kedalaman 3 meter. Selain itu, ada satu kolam pemanasan yang berstandar Olimpiade dari FINA (Federasi Renang Internasional). ketiga kolam tersebut akan dipakai Asian Games 2018 untuk lomba renang, polo air, dan loncat indah. Gatot mengungkapkan bahwa kolam renang ini jadi salah satu yang terbaik di Asia bahkan dunia. Hal ini dikarenakan Ia belum menemukan perbandingan kolam sebesar akuatik GBK yaitu yang punya empat kolam di Asia.   Biaya Pemeliharaan Gelanggang Akuatik GBK Untuk perawatan tahunan Stadion Akuatik, PP GBK akan menghabiskan sekitar RP 10 sampai 15 miliar.  Gatot mengungkap pemasukan dari menurut statistik jauh di bawah itu. Jadi untuk menutup biaya, pihaknya akan mencari subsidi dengan cara-cara kreatif. Stadion Akuatik GBK Asian Games 2018 Stadion Akuatik GBK akan pertama kali digunakan setelah renovasi pada kejuaraan internasional Indonesia Open 2017. Acara ini  digelar mulai 5 sampai 16 Desember dengan melibatkan klub-klub dari lima negara Asia. Gatot Tetuko berkata menuju Asian Games tim manajemen PPK GBK akan belajar dalam mengoperasikan kolam renang yang canggih tersebut. Selain itu, Gatot menambahkan stadion akuatik ini akan terbuka juga untuk umum, dengan biaya masuk yang terjangkau.

Uji Coba Asian Games di Undur Januari Mendatang

Rapat terbatas terkait penyelenggaraan Asian Games 2018 yang dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Sumber foto Tempo

Penjadwalan ulang oleh Indonesia untuk kejuaraan uji coba multi-cabang olahraga Asian Games 2018 dari bulan November-Desember 2017 menjadi bulan Januari 2018. Ini tentang menyusul nya penyelesaiyan renovasi sejumlah gelanggang dan stadion olahraga pada 30 desember 2017. “Kami mendapat laporan dari perwakilan Kemenpora yang mengikuti rapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ada kemungkinan untuk rencana kejuaraan uji coba itu diundur paling lambat pada Januari 2018,” ujar Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S. Dewa Broto di Jakarta. Gatot menambahkan renovasi beberapa gelanggang olahraga di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta akan selesai pada Oktober 2017. Dua gelanggang yang dijadwalkan selesai renovasi pada 8 Oktober adalah Stadion Utama Gelora Bung Karno dan gelanggang Akuatik. Sedangkan Stadion Istora akan selesai direnovasi pada 8 November, terkait tentang perkembang infrastruktur untuk Asian Games 2018 laporan dari kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat. Diperkirakan lima gelanggang lain (Stadiom Atletik madya, Stadion basket, Stadion Sofbol dan baseball, fasilitas latihan, sepaket penataan kawasan di Gelora Bung Karno untuk zona 1, 2 dan kawasan Wisma Atlet Kemayoran) akan selesai pada Desember 2017 dua gelanggang yang akan selesai direnovasi pada 10 Juni 2017 yaitu lapangan hoki, lapangan ABC, dan lapangan tenis indoor dan outdoor, Laporan dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Renovasi gelanggang yang dikerjakan oleh JakPro di lapangan equestrian Pulomas dan velodrome Rawamangun akan selesai pada Juni 2018. “Kami akan menyampaikan perubahan rencana kejuaraan uji coba Asian Games ini kepada Dewan Olimpiade Asia (OCA).”Ujar Gatot. Menurut sumber tempo.co Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) 2018 Erick Thohir mengatakan akan mengundang 10 pengurus cabang olahraga yang akan menggelar kejuaraan uji coba terkait perubahan jadwal pelaksanaan kejuaraan, pada pertemuan sebelumnya dengan kesertaan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sepuluh cabang yang akan digelar untuk kejuaraan uji coba Asian Games 2018 antara lain sepak bola, atletik, panahan, bulutangkis, basket, tinju, pencak silat, taekwondo, voli indoor, dan angkat besi. (bam/adt/T.co)