Tampil Dari Jalur Kualifikasi, Petenis 20 Tahun Asal Bandung Sukses Tumbangkan Unggulan Dua

Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 di Solo, Rifanty Kahfiani (20 tahun), sukses menggusur petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, dua set langsung 6-2 dan 6-4. (bolasport.com)

Solo– Petenis muda Indonesia non unggulan, Rifanty Kahfiani (20 tahun), membuat kejutan usai menekuk petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, di PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Jawa Tengah, Rabu (11/7). Rifa, sapaannya, yang pada kejuaraan ini tak diunggulkan, justru unggul dua set langsung 6-2 dan 6-4. Pada set pertama, Rifa terus menekan Ozeki, yang mmiliki pukulan komplit baik forehand dan backhand cukup keras itu, sehigga lawan kerap melakukan kesalahan sendiri. Rifa menyudahi set pertama 6-2. Di set kedua, mojang kelahiran Bandung, 19 Februari 1998, kembali mendapat perlawanan ketat dari Ozeki. Dengan strategi penempatan bola sulit, ia sukses menyelesaikan set kedua dengan skor 6-4. Menurut Rifa, unggulan asal Jepang itu lincah dan ulet, tetapi dirinya bermain variasi, sehingga arah bola sulit diprediksi lawan. “Awalnya kesulitan dengan pukulan keras lawan, tetapi saya rubah strategi dengan bermain variasi, dan akhirnya bisa dikalahkan,” ujar Mahasiswa Oregon AS ini usai pertandingan. Pada perempat final, Kamis (12/7), Rifa terlibat bentrok dengan wakil Tiongkok, Zhima Du, yang menyingkirkan unggulan ketujuh, Sai Samhitha Chamarthi (India) 6-2 6-4. “Ini saatnya revans, karena saya belum pernah menang lawan dia sebelumnya,” lanjut petenis yang lolos babak utama lewat kualifikasi ini. Merujuk rekor head to head pada laman ITF, Rifa kalah dari petenis Tiongkok kelahiran 12 September 1999 itu dalam dua pertemuan, yakni kualifikasi turnamen Wimbledon Yunior dan Serawak Chief Minister Cup 2016. Sementara itu andalan Merah Putih lainnya, Aldila Sutjiadi turut melaju ke perempat final turnamen berhadiah total 15.000 dolar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Unggulan keempat berperingkat tunggal ke-751 dunia itu mengalahkan petenis kualifikasi asal India, Bhuvana Kalva 6-4 6-2. Petenis yang bakal tampil di ajang Asian Games 2018 itu meladeni unggulan keenam dari Tiongkok, Zhuoma Ni Ma untuk membidik satu slot di babak semi final. “Di babak delapan besar, saya harus memperbaiki percentage service pertama saya agar lebih percaya diri bermain,” tutur Aldila. Pada nomor ganda, turnamen yang disponsori PT PP (Persero) Tbk, BUMN bidang konstruksi ini, memasuki babak delapan besar. Duet kembar Fitriana ‘Ana’ Sabrina dan Fitriani ‘Ani’ Sabatini (17 tahun) melangkah ke semi final setelah memenangi laga atas duet India, Bhuvana Kalva/Sri Vaishnavi Peddi Reddy (India) 6-1 6-2. Ana dan Ani akan menantang ganda Tiongkok, Zhima Du/Shou Na Mu. Sementara partai semi final lainnya mempertemukan dua pasangan gado-gado Indonesia/Jepang, yakni unggulan utama Mana Ayukawa/Aldila Sutjiadi melawan Ayaka Okuno/Rifanty Kahfiani. (Ham)

Cetak Gelar Juara Di Indonesia Open 2018, Tiga Atlet Binaan PB Djarum Kehujanan Bonus

Sukses berkontribusi saat ajang Indonesia Open 2018, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia sukses meraih dua gelar di ajang Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000. lewat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kevin/Marcus menjadi kampiun usai menaklukan pasangan asal Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko (21-13 dan 21-16). Sedangkan pasangan senior Tontowi/Liliyana menang setelah menghempaskan dobel asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (21-17 dan 21-8). Tiga atlet yakni Tontowi, Liliyana, dan Kevin, merupakan pemain binaan PB Djarum Kudus. Torehan prestasi ini terasa istimewa sebab satu dekade lamanya Merah Putih tidak mengantongi dua gelar juara sekaligus di Indonesia Open. Terakhir, Indonesia meraih dua gelar pada 2008 melalui sektor tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro dan ganda putri yakni Vita Marissa yang saat itu berduet dengan Liliyana Natsir. Bahkan, Indonesia puasa gelar di salah satu ajang turnamen terbaik di dunia itu pada 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016. Berkat prestasi yang membanggakan serta mengharumkan nama Indonesia, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. “Apresiasi ini komitmen kami terhadap kemajuan bulutangkis di Indonesia, sehingga bisa melecut pemain bulutangkis PB Djarum yang lainnya untuk bisa berprestasi di kancah bulutangkis dunia seperti Kevin, Tontowi, dan Liliyana,” ujar Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, pada Rabu (11/7). “Mudah-mudahan tahun depan, Indonesia bisa juara lagi. Karena Kevin/Marcus belum pernah juara. Ini pertama kali untuk mereka. Dan, kami akan terus memberikan apresiasi ini sebagai wujud komitmen kami untuk negeri ini,” lanjutnya. Masing-masing pemain mendapatkan Rp 200 juta. Selain itu, ketiganya juga mendapatkan voucher dari Blibli.com senilai Rp 50 juta. Sementara, para pelatih yakni Herry Irman Pierngadi dan Aryono Miranat (pelatih ganda putra), serta Richard Mainaky dan Vita Marissa (pelatih ganda campuran) mendapatkan lemari es Polytron dua pintu dan voucher senilai Rp 5 juta dari tiket.com. Bagi Kevin, kemenangan di Indonesia Open 2018 menegaskan supremasinya di persaingan papan atas bulutangkis dunia. Sebelumnya, bersama Marcus menjadi kampiun turnamen tertua di dunia yakni All England 2018. Duet ini tengah membidik China Open 2018, yang dihelat September guna merangkai hattrick di kasta HSBC World Tour Super 1000. “Rangkaian kemenangan ini menjadi pendorong agar saya makin berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa melalui bulutangkis. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan pelatih dan PB Djarum yang telah mengasah saya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik saat bertanding, dan meraih hasil maksimal,” tutur Kevin. Liliyana menambahkan dirinya mengaku lega bisa memberikan hasil terbaik dihadapan publik tuan rumah. Apalagi, sebut Butet, sapaan akrabnya, berhasil menghapus catatan tak pernah menang di Istora Senayan. “Berarti sudah lunas. Ini kemenangan yang sangat istimewa bagi kami,” tukas Butet. (Adt)

Bikin Kejutan, Duet Kembar 17 Tahun Sukses Jungkalkan Unggulan Tiga Women’s Circuit 2018

Duet petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) tumbangkan unggulan ketiga Women’s Circuit 2018, Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok), dengan skor akhir 6-3 6-3. (remaja-tenis.com)

Jakarta- Indonesia membuka babak utama turnamen tenis internasonal bertajuk PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 dengan gemilang. Di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Senin (9/7), wakil Merah Putih berhasil memenangi laga pembuka nomor ganda. Duet kembar petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) menekuk unggulan ketiga turnamen kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF) ini. Ana dan Ani menang straight set atas Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok). Ana-Ani unggul dengan skor akhir 6-3 6-3. Hasil positif juga ditorehkan dua petenis tuan rumah yang berpasangan dengan peserta manca negara. Unggulan teratas Aldila Sutjiadi/Mana Ayukawa (Jepang) mengalahkan Anastasia Shaulskaya (Rusia)/Rishika Sunkara (India) 7-5 6-1, di ajang yang menyediakan total hadiah 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Sedangkan Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno (Jepang) menyisihkan Yu Ting Hsieh (Taiwan)/Saumya Vig (India) 6-2 6-3. “Semoga awal yang indah bagi petenis tuan rumah ini terus berlanjut hingga babak akhir,” ucap Wakil Sekretaris Jendral PP Pelti, Susan Soebakti selaku Direktur Turnamen. Kejuaraan khusus bagi petenis wanita yang disponsori oleh PT PP (Persero) Tbk ini akan menggelar babak utama nomor tunggal mulai Selasa (10/7). Kecuali Aldila Sutjiadi yang akan terlibat duel senegara dengan Priska Madelyn Nugroho, enam wakil tuan rumah bakal meladeni petenis luar negeri. Petenis yang lolos dari babak kualifikasi, Suryaningsih akan menantang unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki . Sedangkan penerima wildcard, Joleta Budiman menghadapi unggulan kedelapan, Zhibek Kulambayeva dari Kazakhstan. Rifanty Kahfiani melawan Yuka Hosoki (Jepang), Arrum Damarsari bentrok dengan Shou Na Mu (Tiongkok) dan Fitriana Sabrina dengan Mana Ayukawa (Jepang) serta Deria Nur Haliza meladeni petenis India yang lolos dari kualifikasi, Bhuvana Kalva. Selain itu di sektor ganda, duet Deria/Joleta yang diproyeksikan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018 akan bertanding melawan pasangan India, Sai Samhitha Chamarthi/Mahak Jain. “Ini penampilan pertama kami sebagai pasangan dalam turnamen resmi internasional. Kami akan berusaha bermain sebaik mungkin, semoga hasilnya juga bagus,” tutur Deria, petenis kelahiran 8 Juni 1997 ini. (Ham)

Mulai Bergulir Di Solo, Remaja 15 Tahun Turut Bersaing Di Women’s Circuit International Tennis 2018

Priska Madelyn Nugroho (15 tahun) menjadi salah satu petenis termuda Indonesia, yang turun dalam turnamen Women's Circuit International Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. (twitter.com)

Jakarta- Turnamen tenis PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit International Tennis 2018, mulai bergulir akhir pekan ini, hingga 14 Juli, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Petenis tuan rumah bersaing dengan petenis lain dari sembilan negara yakni Singapura, Australia, Jepang, China, Taiwan, Kazakhstan, India, Bulgaria, dan Rusia. Susan Soebakti, Direktur Turnamen, mengatakan minat petenis asing sangat tinggi untuk mengikuti turnamen ini. Kejuaraan ini masuk dalam kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF). “Peserta tak hanya dari kawasan Asia. Mereka juga datang dari benua Eropa,” ujar Susan, di Solo, Jawa Tengah, akhir pekan ini. Babak kualifikasi turnamen khusus putri berhadiah total 15 ribu dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 215 juta itu, mulai bergulir pada Sabtu (7/7). Indonesia menurunkan para petenis terbaik yakni Rifanty Dwi Kahfiani, Bilqis Maqbulatullah, Arrum Damarsari, Suryaningsih, Septiana Nur Zahiroh, dan Ni Luh Sintha Eka Putri. Mereka membidik delapan slot babak utama. Sedangkan petenis utama Merah Putih yang tergabung di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Asian Games 2018, berhak berlaga di babak utama mulai Selasa (10/7). Aldila Sutjiadi yang berperingkat tunggal ke-751 dunia jadi unggulan keempat. Dan, Deria Nur Haliza serta Joleta Budiman, memanfaatkan fasilitas wild card bersama Fitriana Sabrina dan Priska Madelyn Nugroho. “Peluang sangat terbuka bagi tuan rumah Indonesia untuk menambah wakil di babak utama,” tukas Susan. Khusus untuk Priska, menjadi catatan tersendiri. Remaja kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003, ini menjadi salah satu petenis termuda skuat garuda pertiwi paling berbakat, yang ikut berpartisipasi. (Adt)

Sabar Ladeni Lawan, Sultan Kafi Delon Kampiun KU 14 Tahun Kejurnas Tenis Junior Detec Open 2018

Petenis KU 14 Tahun Sultan Kafi Delon sukses menjadi juara tunggal putra Kejurnas Tenis Junior Detec Open 2018, di Solo, Jawa Tengah, 25-30 Juni. (net)

Solo- Petenis asal Jember (Jawa Timur), Sultan Kafi Delon sukses menjadi kampiun tunggal putra Kelompok Umur (KU) 14 Tahun Kejurnas Tenis Junior ‘Detec Open 2018’. Unggulan kedua itu berhasil menghempaskan perlawanan seeded teratas, Faza Syah Rizal asal Surabaya (Jawa Timur). Sultan unggul dalam pertarungan straight set berdurasi dua jam lima menit dengan skor akhir, 7-6(6), dan 6-2, di laga final di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (30/6). “Di final, kuncinya sabar melayani permainan lawan. Saya senang bisa menang dan juara Detec Open 2018,” ujar remaja kelahiran 4 Juli 2004 itu. “Ini adalah pertemuan keenam di antara kami berdua. Dengan kemenangan ini, skor head to head kami jadi imbang 3-3,” lanjut pelajar kelas IX SMP Negeri 3 Jember itu. Di laga lain, petenis-petenis asal Jawa Tengah mendominasi turnamen yang masuk kalender kompetisi resmi Pengurus Pusat (PP) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti/TDP) dengan menyabet lima gelar juara tunggal. Putra-putri Jawa Tengah memborong gelar lewat Rasya Qaisyar (Temanggung) dan Adyba Ardelia (Blora) di KU 10 tahun. Lalu, Ravel Indro (Pemalang) di KU 12 tahun, dan Diah Ayu Novita (Pati) di KU 14 tahun, serta Nadya Dhaneswara (Kudus) di KU 18 tahun. Deddy Prasetyo, Founder Detec sekaligus Penyelenggara Turnamen, mengatakan itu hal yang biasa. Sebab, lanjutnya, Jawa Tengah rajin menggelar workshop bagi pelatih yang menangani petenis junior. “Secara umum, kami puas dengan pelaksanaan Kejurnas Tenis Junior. Detec Open di Solo tahun ini. Bahkan, Yonex sebagai sponsor utama kegiatan ini, telah meminta kami untuk menambah satu event lagi di luar Pulau Jawa,” tukas Deddy. (Adt) Hasil Final, Sabtu (30/6) : 1. Tunggal Putra KU 10 Rasya Qaisyar (Temanggung) vs Rasyel Trianda (DIY), 8-1. KU 12 Ravel Indro (Pemalang) v Pijar Prawira (Gunung Kidul), 8-3 KU 14 Sultan Kafi Delon (Jember) vs Faza Syah Rizal (Surabaya), 7-6(6), dan 6-2 KU 16 Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) vs Rizki Pangestu (Blitar), 6-4, dan 7-5 KU 18 M. Rayhan Hanafi (DIY) vs M. Reza Falevi (Kudus), 4-6, 6-3, dan 6-4 2.Tunggal Putri KU 10 Adyba Ardelia (Blora) vs Sabrina Adia Putri (Bandung), 8-2 KU 12 Joanne Lynn (Bandung) vs Lailatul Fajria (Banjarmasin), 8-0 KU 14 Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) vs Sekar Vinda (Cilacap), 6-3, dan 6-3 KU 16 Diah Ayu Novita (Pati) vs Hasna Raisaneva (Bandung), 6-1, dan 6-1 KU 18 Nadya Dhaneswara (Kudus) vs Zoelfanny Wahyuningrum (Bogor), 6-3, dan 6-2

Hadiah Terindah Ulang Tahun, Petenis KU 14 Tahun Sekar Vinda Khairunnisa Bidik Gelar Juara Detec Open 2018

Petenis KU 14 Sekar Vinda Khairunnisa bidik gelar juara Kejurnas Tenis Junior Detec Open 2018 sebagai hadiah ulang tahun diusianya yang ke-13 tahun. (net)

Solo- Sekar Vinda Khairunnisa, petenis tunggal putri Kelompok Umur (KU) 14 tahun asal Cilacap, Jawa Tengah, mengincar gelar juara pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis Junior Detec Open 2018, di Stadion Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Gelar itu nantinya dipersembahkan untuk dirinya sebagai hadiah ulang tahun yang segera menginjak 13 tahun pada 28 Juni 2018. Dan tinggal selangkah lagi, pelajar kelas VIII SMP Al Azhar 15 Cilacap, Jawa Tengah itu, bisa mewujudkan impiannya tersebut. Di babak semi final, Jumat (29/6), seeded ketiga berperingkat nasional (PNP) keenam itu, berhasil menyisihkan unggulan kedua, Keila Mangesti Path (Manado). Sekar menang straight set dengan skor akhir 6-4 dan 6-1. Pada Sabtu (30/6), fans berat petenis Swiss Roger Federer itu ditantang petenis asal Tangerang Selatan (Tangsel) Putu Kevalaih,d yang membuat kejutan besar, di babak fase semifinal saat menyingkirkan unggulan teratas, Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo), dengan straight set, 6-4 dan 6-2. Di partai final lainnya, akan menjadi perang petenis antar kota antar provinsi. Wakil Jawa Tengah akan meladeni andalan Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni di sektor putra KU 10 antara Rasya Qaisyar (Temanggung) melawan Rasyel Trianda (DIY). Lalu, KU 12 Ravel Indro (Pemalang) berjumpa Pijar Prawira (Gunung Kidul), serta KU 18 antara Reza Falevi (Kudus) kontra Rayhan Hanafi (DIY). Sedangkan duel antar wakil Jawa Timur terjadi pada KU 14 dan 16 tahun putra. Faza Syah Rizal (Surabaya) menghadapi Sultan Kafi Delon (Jember), dan Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) meladeni Rizki Pangestu (Blitar). Sementara, satu gelar juara telah dikantongi Jawa Tengah melalui Nadya Dhaneswara (Kudus) yang mengalahkan Zoelfanny Wahyuningrum (Bogor), dengan skor 6-3 dan 6-2 pada final tunggal putri KU 18 tahun. Menurut Sekar, Keva (sapaan akrab Putu Kevalaih) bukan lawan yang asing karena pernah dua kali bertemu dengan dirinya. Meski kerap kalah, namun diakuinya, kali ini ia memiliki motivasi tinggi untuk bisa meraih kemenangan. “Memang saya selalu kalah termasuk pada pertemuan terakhir saat Seleksi Nasional di Magelang (Jawa Tengah) awal tahun ini. Saya punya motivasi tinggi untuk membalas kekalahan itu,” ujar petenis berhijab itu, Jumat (29/6). “Saya ingin meraih gelar juara Detec Open 2018 sebagai hadiah terindah ulang tahun,” tukas Sekar. (Adt) Hasil Babak Semifinal Detec Open 2018, Jumat (29/6) : 1. Tunggal Putra KU 10 Rasya Qaisyar (Temanggung) vs Christian Dwi W (Pati), 8-3 Rasyel Trianda (DIY) vs Fabian Wibowo (Tulungagung), 9-8(2) KU 12 Ravel Indro (Pemalang) vs M. Aji Faizul (Tulungagung), 8-0 Pijar Prawira (Gunung Kidul) vs Diego Armando (Pati), 8-6 KU 14 Faza Syah Rizal (Surabaya) vs M. Akbar Aidil Fitri (Kudus), 6-4, 0-6, dan 6-3 Sultan Kafi Delon (Jember) vs Putu Ariel Wahyu (Bali), 6-2, dan 7-5 KU 16 Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) vs Komang Akda Wijaya (Buleleng), 6-2, dan 6-2 Rizki Pangestu (Blitar) vs Kadek Dewa (Bali), 6-0, 5-7, dan 6-2 KU 18 M. Reza Falevi (Kudus) vs Iqbal Azegaf (Purwodadi), 6-3, 3-6, dan 6-0 M. Rayhan Hanafi (DIY) vs Doni Catur (Kebumen), 6-3, dan 6-3 2. Tunggal Putri KU 14 Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) vs Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo), 6-4, dan 6-2 Sekar Vinda (Cilacap) vs Keila Mangesti Path (Manado), 6-4, dan 6-1 KU 16 Diah Ayu Novita (Pati) vs Laili Rahmawati Ulfa (Sukoharjo), 2-6, 7-6(7), dan 6-1 Hasna Raisaneva (Bandung) vs Safa Dheani (Kudus), 6-1, dan 7-5 Jadwal Final Detec Open, Sabtu (30/6) : 1. Tunggal Putra KU 10 Rasya Qaisyar (Temanggung) vs Rasyel Trianda (DIY) KU 12 Ravel Indro (Pemalang) vs Pijar Prawira (Gunung Kidul) KU 14 Faza Syah Rizal (Surabaya) vs Sultan Kafi Delon (Jember) KU 16 Rafli Zulkarnaen (Sidoarjo) vs Rizki Pangestu (Blitar) KU 18 M. Reza Falevi (Kudus) vs M. Rayhan Hanafi (DIY) 2. Tunggal Putri KU 10 Adyba Ardelia (Blora) vs Sabrina Adia Putri (Bandung) KU 12 Joanne Lynn (Bandung) vs Lailatul Fajria (Banjarmasin) KU 14 Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) vs Sekar Vinda (Cilacap) KU 16 Diah Ayu Novita (Pati) vs Hasna Raisaneva (Bandung)

Detec Open Junior 2018, Mulai Terjadi Bentrok Antar Unggulan di Delapan Besar

Faried Widya asal DKI Jakarta mulai menemui lawan-lawan sengit di ronde delapan besar tunggal putra KU-14, Kejurnas Tenis Yunior Detec Open 2018. (net)

Solo- Kejurnas Tenis Yunior Detec Open 2018 yang berlangsung di lapangan tenis Gelora Manahan, Solo memasuki babak ketiga, Rabu (17/6). Sejumlah petenis unggulan teratas belum tertahankan di ajang yang masuk kalender kompetisi resmi PP Pelti (TDP) ini. Dua seeded teratas tunggal putri Kelompok Umur (KU) 14 tahun, Aurelya Chamsiayu asal Sukoharjo dan Keila Mangesti Path dari Manado berhasil melaju ke babak perempat final. Demikian pula di bagian putra. Dua petenis Jawa Timur, Faza Syah Rizal (Surabaya) dan Sultan Kafi Delon (Jember) melangkah ke babak delapan besar. “Namun, petenis unggulan harus mulai waspada. Mereka akan terlibat bentrok sesama unggulan di perempat final. Bila terlena bisa terjungkal dan gagal masuk semi final,” tutur Direktur Turnamen Detec Open 2017, Anshari Nursida, Kamis (28/6). Unggulan kedua tunggal putra KU-14, Sultan Kafi Delon di fase ini. Ia akan meladeni tantangan Faried Widya dari DKI Jakarta, yang tahun lalu jadi kampiun KU-12. Kendati hanya berada posisi seeded ke-11, petenis asal Yogya yang kini berlatih bersama Deddy Prasetyo Tennis Club (Detec) Jakarta ini berjanji memberi perlawanan sengit terhadap lawan yang menempati peringkat nasional ke delapan itu. “Faried belum punya target maksimal, namun minimal dia harus sampai perempat final, agar rasio menang kalahnya setidaknya dua banding satu,” tutur founder Detec, Deddy Prasetyo. (art) Hasil Rabu (27/6) Babak Ketiga Tunggal Putra KU-10 Rasya Qaisyar (Temanggung) v Adiyatma Rizal (Tulungagung) 8-1 Witjaksono Wahyu (Serang) v Rafel Jose (Semarang) 8-3 Muhammad Alfaradu (Kalsel) v M. Mouressi Urwan (Banten) 8-6 Christian Dwi W (Pati) v Rafaalentino (Banten) 8-4 Fabian Wibowo (Tulungagung) v Arjuna Wijaya (Kediri) 8-4 M. Misbah Abdullah (Madiun) v Theo Putra (Bali) 8-1 Rasyel Trianda (DIY) v M. Isha Auzai (Semarang) 8-3 Arya Dika (Denpasar) v Hanief Arazi (Sleman) 8-2 KU-12 Ravel Indro (Pemalang) v Natanael Santoso (Pati) 8-3 Rafael Dandi (Semarang) v Tyaga Hijrah (Surabaya) 8-5 M. Aji Faizul (Tulungagung) v M. Gilang Fedora (Blitar) 8-3 Michal Ihsan (Pati) v M. Rifdan (Malang) 8-5 Valentino Bagas (Tangerang Selatan) v Dzakiyy Atila (Karanganyar) 8-6 Pijar Prawira (Gunung Kidul) v Firdaus Hidayat (Pati) 8-1 Diego Armando (Pati) v Razan Dhawy (DKI) 8-2 Leandra Maheswara (Solo) v Reno Sultan (Malang) 8-1 KU-14 Faza Syah Rizal (Surabaya) v Widarta Nur (Kediri) 6-1 6-4 Leonard Sungkono (Purworejo) v M. Nur Alfachri (Cianjur) 6-2 7-5 M. Akbar Aidil Fitri (Kudus) v Kevin Putra (Pati) 6-1 6-1 Kevin Candra (Buleleng) v Audric Madyapanna (Bekasi) 7-5 6-2 M. Abid Athallah (Semarang) v Tahajud Kanjeng (Karanganyar) 4-6 6-3 [11-9] Putu Ariel Wahyu (Bali) v Rexy Ibrahimovic (Banyumas) 6-3 6-3 Faried Widya (DKI) v Muh. Sulthan Sadiq (Bogor) 6-3 6-4 Sultan Kafi Delon (Jember) v M. Hildan Alfiano (Blitar) 6-2 6-4 Tunggal Putri KU-10 Aisha Ramadhani (Gunung Kidul) v Stefi Intenialova (Banyumas) 8-4 Adyba Ardelia (Blora) v Faiza Quenna (Bogor) 8-4 Raissa Aurelya (Blitar) v Syafira Dhini (Sukoharjo) 8-1 Sabrina Adia Putri (Bandung) v Khansa Aqilah (Cilacap) 8-0 KU-12 Joanne Lynn (Bandung) v Chantika Rizqi (Gresik) 8-4 Cylova Yuleyka (Banten) v Talitha Ayudya (Bantul) 8-3 Lailatul Fajria (Banjarmasin) v Aileen Aurellia (Malang) 8-2 KU-14 Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo) v Cindy Rahma (Banjarnegara) 6-2 6-2 Grifith Rose June (Klaten) v Justmin Da Costa (Banten) 0-6 7-6(1) [10-3] Putu Kevalaih (Tangerang Selatan) v Meydiana (Malang) 6-3 6-1 Rifda Hanifah (Jember) v Amara Dinda Nayla (Gunung Kidul) 7-5 6-2 Latifasih Maharani (Bantul) v Nasywa Syamsabila (Ciamis) 7-6(1) 6-1 Sekar Vinda (Cilacap) v Naila Jihan (Jember) 6-4 6-1 Dinda Nurmayanda (Banjarnegara) v Diandra Kirana (Blora) 6-0 6-0 Keila Mangesti Path (Manado) v Aluna Sagyta (Surabaya) 6-0 6-3

Kota Solo Siap Gelar Kejurnas Tenis Junior ‘Detec Open 2018’, Panitia Bidik 400 Peserta

Panitia pelaksana Kejurnas Tenis Junior 'Detec Open 2018' menargetkan jumlah peserta sebanyak 400 petenis di beberapa kategori kelompok umur. (net)

Jakarta- Kota Solo, Jawa Tengah, siap menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis Junior bertajuk ‘Detec Open 2018’, di Kompleks Stadion Tenis Gelora Manahan, pada 25-30 Juni nanti. Turnamen yang masuk dalam kalender pertandingan resmi Pengurus Pusat (PP) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) itu menjadi ajang persaingan petenis Kelompok Umur (KU) 8, 10, 12, 14, 16, dan 18 tahun. Anshari Nursida, Direktur Turnamen sekaligus pengelola Deddy Tennis Club (Detec), mengatakan semua kategori menggelar nomor tunggal dan ganda. Khusus untuk KU 8 dan 10 tahun, hanya ada pertandingan tunggal,” ujar Anshari, Sabtu (23/6). Tahun lalu, sekitar 380 petenis dari berbagai kota di Tanah Air meramaikan persaingan untuk jadi kampiun pada turnamen yang untuk pertama kalinya digelar. Sementara, tahun ini, panitia pelaksana menargetkan sebanyak 400 peserta akan bersaingan menjadi yang terbaik di masing-masing kategori. Sedangkan tiap peserta dibatasi hanya dapat bertanding pada dua nomor, yakni tunggal dan ganda pada KU yang sama. Anshari mengaku optimis dapat memenuhi target soal jumlah peserta sebanyak 400 petenis.”Hingga saat ini sudah lebih dari 200 peserta terdaftar. Biasanya banyak yang ramai-ramai daftar, pada saat akhir,” cetusnya. Lebih lanjut, pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 21 April 1991 itu, menjelaskan bahwa pendaftaran masih dibuka, hingga sign in pada Minggu (24/6), mulai pukul 12.00 WIB hingga 17.00 WIB. “Biaya pendaftaran masih sama dengan tahun lalu, Rp 300.000,- untuk bermain tunggal dan ganda,” tukas Anshari. (Adt)

Jadi Duta WTA Future Stars, Yayuk Basuki Kenalkan Tenis Pada Anak-anak Bali

Legenda tenis Indonesia, Yayuk Basuki (biru) yang menjadi Duta WTA Finals, memperkenalkan tenis kepada 50 anak berusia 10-12 tahun, dari Yayasan Sosial Tat Twam Asi, Denpasar. (menaranews.com)

Denpasar- WTA Future Stars memperluas jangkauannya di Indonesia. Mereka menggandeng Yayuk Basuki, Legenda tenis Indonesia. Yayuk sebagai Duta WTA Finals di Singapura, Oktober ini, memperkenalkan tenis kepada 50 anak berusia 10-12 tahun, dari Yayasan Sosial Tat Twam Asi, Denpasar. Ini kali pertama dalam serangkaian kegiatan dan latihan dasar yang menyenangkan di lapangan tenis KONI Bali, Denpasar, Kamis (21/6). Dengan enam gelar single WTA dan sembilan gelar ganda, Yayuk Basuki berbagi pengalamannya dengan generasi. “Saya telah bekerja dengan inisiatif WTA Future Stars selama beberapa tahun. Saya senang dapat memperluas jangkauan kami di Indonesia. Ini adalah WTA pertama kami di Bali dan sangat menyenangkan bisa memperkenalkan tenis kepada anak-anak,” kata Yayuk yang pernah menempati peringkat 19 WTA. Yayasan Sosial Tat Twam Asi didirikan pada 1987 mengakomodasi anak-anak usia sekolah, terutama anak-anak perempuan dari keluarga miskin atau yatim piatu, dan memberi mereka kesempatan untuk menerima pendidikan formal (SD hingga SMA). “WTA sangat bangga dengan pekerjaan yang telah kami lakukan di Asia-Pasifik selama empat tahun terakhir, sejak event WTA Finals telah diselenggarakan di Singapura,” kata Melissa Pine, Wakil Presiden WTA Asia-Pasifik dan Direktur Turnamen Final WTA. Yayasan ini memiliki panti asuhan di Bali yang telah menampung lebih dari 900 orang dan telah berhasil menyalurkan anak asuh untuk mencari pekerjaan. Lebih lanjut dia mengatakan WTA Future Stars diluncurkan ketika acara permata mahkota pindah ke Asia-Pasifik untuk pertama kalinya pada tahun 2014. WTA telah menyelenggarakan klinik dan kelas master di Cina, India, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Tujuannya adalah mendorong generasi berikutnya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik melalui olahraga. Bersama dengan legenda WTA kami seperti Yayuk Basuki, WTA Future Stars bertujuan menginspirasi lebih banyak anak-anak untuk mengambil raket dan mengenali bagaimana olahraga adalah alat yang kuat untuk mengembangkan keterampilan hidup yang akan bermanfaat bagi mereka di masa depan. “Saya yakin hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi anak-anak, untuk dapat mempelajari dasar-dasar tenis dari yang terbaik dari negara kami. Pengalaman mereka hari ini dengan Yayuk Basuki dan WTA akan tak terlupakan,” ujar Ketut Dwi Angraeni, seorang manajer dari Tat Twam Asi Social Foundation. WTA Future Stars Clinic adalah bagian dari platform regional untuk mempromosikan tenis bagi anak-anak di seluruh Asia-Pasifik, dan termasuk WTA Future Stars Tournament yang masing-masing negara mengirimkan dua perwakilan untuk berkompetisi dalam kategori U-14 dan U-16. PP Pelti (Persatuan Tenis Seluruh Indonesia) juga melakukan uji coba memilih wakil mereka untuk turnamen WTA Future Stars yang akan diadakan di Singapura, bersamaan dengan edisi kelima dan terakhir dari BNP Paribas WTA Finals Singapore, yang disajikan oleh SC Global. (Dre)

Tampil di Turnamen Malaysia Open 2018, Pebulutangkis 18 Tahun Asal Wonogiri Bakal Lalui Jalan Terjal

Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, langsung menghadapi pemain unggulan di Turnamen Malaysia Open 2018. (liputan6.com)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, akan berlaga di turnamen Malaysia Open 2018, pada 26 Juni – 1 Juli mendatang. Dara kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 18 tahun silam itu bakal melalui jalan terjal di Negeri Jiran itu. Sebab, Gregoria harus berhadapan dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil, Carolina Marin, di babak pertama. Berdasarkan catatan, kedua tunggal putri ini belum pernah bertemu di berbagai ajang kejuaraan bulutangkis. Pebulutangkis asal Spanyol itu memiliki peluang lebih besar untuk memenangi laga atas Gregoria. Selain pernah menjadi kampiun Kejuaraan BWF World Championship 2015, di Jakarta, rangking Marin juga jauh berada di atas wakil Indonesia itu. Marin kini bercokol di rangking 6 dunia versi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF), sekaligus menempati unggulan 6 turnamen, sementara Gregoria menempati rangking 37 dunia dan bersatus non unggulan. Namun, bukan suatu hal yang mustahil bila Gregoria bisa memberikan kejutan. Penampilan pemain penghuni pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Cipayung, Jakarta itu menunjukkan grafik yang meningkat. Ini dibuktikan saat membela skuat Garuda di putaran final Piala Uber 2018, di Bangkok, Thailand, beberapa bulan lalu. Peraih medali perunggu SEA Games 2017, di Kuala Lumpur, Malaysia itu tampil nyaris sempurna. Bahkan, wakil Thailand Nitchaon Jindapol (rangking 11) serta Gao Fangjie (rangking 21) asal Tiongkok, ditaklukan hanya dalam dua gim langsung. Mencetak sejarah juara tunggal putri Kejuaraan Dunia Junior BWF 2017, di Yogyakarta, bisa menjadi bekal untuk menambah kepercayaan diri pebulutangkis asal klub Mutiara Cardinal, Bandung, Jawa Barat itu guna memenangi laga di Malaysia nanti. Senasib Gregoria, tunggal putri Indonesia lainnya, Fitriani, juga akan menghadapi pemain unggulan di babak pertama. Pebukutangkis kelahiran Garut, Jawa Barat, 19 tahun silam itu sudah harus bertemu dengan wakil Korea Selatan, Sung Ji Hyun. Bagi pemain klub Exist Jaya Jakarta itu, menghadapi lawan rangking 9 dunia versi BWF, sekaligus unggulan 7 turnamen itu, ternyata masih jadi tembok penghalang terbesar bagi dirinya, untuk bisa melaju ke babak berikutnya. Fitriani yang kini bercokol diperingkat 42 dunia pernah bertemu dengan pemain Negeri Gingseng itu tiga kali. Dan tak satupun kemenangan diraih Fitriani, yakni di All England 2017 (21-18, dan 21-12), Indonesia Open 2017 (21-10, dan 21-10), serta terakhir di German Open 2018 (21-12, dan 21-16). Mampukah kedua wakil tunggal putri Indonesia ini menghadirkan kejutan di turnamen berhadiah total 700.000 dolar Amerika Serikat (AS) itu? Patut ditunggu aksi mereka pada pekan depan. (Adt)

WTA Future Stars Dihelat Di Bali, Ajang Petenis Putri Indonesia KU 14 dan 16 Tahun Tambah Jam Tanding

Petenis Indonesia Priska Madelyn Nugroho, pernah menjadi juara KU 14 di ajang WTA Future Stars, di Singapura. (twitter)

Jakarta- Women Tennis Association (WTA) Future Stars bakal dihelat di Lapangan Tenis KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), Denpasar, Bali, 19-23 Juni 2018. Event ini merupakan kualifikasi petenis putri Kelompok Umur (KU) 14 dan 16 tahun, untuk menjadi wakil Indonesia. Satu petenis terbaik pada masing-masing kategori akan terpilih mewakili Merah Putih bersaing di partai pamungkas di Singapura, pada Oktober 2018. Tahun lalu, Indonesia sukses meraih gelar juara KU-14, melalui Priska Madelyn Nugroho. Pada laga final di National Indoor Stadium Singapore, Priska menaklukkan wakil Thailand, Jattavapornvanit, 6-3 dan 6-3. WTA Future Stars adalah platform keterlibatan yang mendorong baik pemuda maupun pemudi di seluruh Asia-Pasifik, untuk menjalani kehidupan yang lebih baik melalui kegiatan olahraga, khususnya tenis. Tujuannya, menanamkan pada generasi berikutnya pentingnya melakoni gaya hidup sehat, kerjasama tim, disiplin dan fokus, yang akan membangun kekuatan dalam karakter yang akan menguntungkan mereka, baik di lapangan tenis maupun dalam kehidupan. Susan Soebakti, Direktur Turnamen WTA Future Stars Indonesia, menyebut turnamen kualifikasi WTA Future Stars ini jadi ajang menambah jam bertanding petenis Indonesia KU-14 dan KU-16 tahun, agar mampu bersaing dengan petenis terbaik dari 21 negara kawasan Asia-Pasifik, pada laga final di Singapura. “Tapi, juara dari event ini tidak langsung menjadi wakil Indonesia, pada ajang yang digelar mengawali laga delapan petenis putri terbaik dunia, dalam BNP Paribas WTA Finals Singapore, yang digelar oleh SC Global, di Singapore Indoor Stadium,” ujar Susan, pada Selasa (19/6). Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) itu, menambahkan Indonesia akan mengirimkan satu petenis terbaik KU 14 dan 16 tahun berdasarkan peringkat nasional Pelti per 4 September 2018. “Namun, peserta turnamen kualifikasi ini jadi perioritas, bila memiliki poin PNP yang sama,” lanjutnya. Sementara, I Ketut Rochineng, Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Pelti Bali, mengatakan sebuah kehormatan bagi Bali, terpilih menjadi tuan rumah turnamen WTA Future Stars. “Kami berharap petenis tuan rumah, Komang Gina Kusuma Dewi yang pernah membela tim Indonesia di ajang World Junior Tennis Championships, mampu meraih prestasi pada turnamen WTA Future Stars. Ini jadi kesempatan bagi petenis Bali berprestasi dihadapan publik sendiri,” tukas penjabat Bupati Gianyar, Bali itu. (Adt)

Geber TC Asian Games 2018, Timnas Soft Tenis Jalani Pemusatan Latihan di Korea Selatan

Tim Pelatnas Soft Tenis Indonesia Asian Games 2018, segera menjalani Training Camp selama dua pekan di Incheon, Korea Selatan. (tribunnews.com)

Jakarta- Tak berlama-lama menikmati libur lebaran, Timnas Soft Tenis Indonesia kembali menjalani pemusatan latihan (training camp/TC) di Kota Incheon, Korea Selatan. Tim nasional Soft Tenis Indonesia telah menjejakkan kaki di Incheon, Korea Selatan, Senin (18/6). “Mereka telah menyelesaikan tahap uji coba dalam rangka persiapan Asian Games 2018. Saat ini, mereka menjalani training camp selama dua pekan di Incheon,” ucap Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Seluruh Indonesia (PP Pesti) Martuama Saragi, dalam siaran pers, Senin (18/6). 10 pemain yang diproyeksikan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018 tersebut, akan berada di Incheon hingga awal bulan depan. Sebelum berangkat ke Incheon, skuat Merah Putih telah sukses melewati sejumlah uji coba pada beberapa turnamen internasional di Nakhon Ratchasima (Thailand) dan Hiroshima (Jepang). Selain itu juga di Frankfurt (Jerman) dan Pattaya (Thailand,) serta tes even di Palembang. Prima Simpatiaji dan Elbert Sie bergantian mendulang emas nomor tunggal putra. Sementara Irfandi Hendrawan konsisten di posisi kedua. Sedangkan di sektor putri, Dede Tari Kusrini dan Voni Darlina acapkali berdiri di podium juara. “Prima dan kawan-kawan akan berlatih bersama tim nasional Korea Selatan dengan dua tujuan, yakni untuk memperdalam teknik permainan sekaligus menjadi kesempatan untuk mengukur kekuatan lawan,” ujar pria yang juga Wakil Presiden Federasi Soft Tenis Asia (ASTF) ini. Pada Asian Games 2018, Korea Selatan adalah raja soft tenis. Negeri Ginseng itu mendulang 23 medali emas dari cabang yang mulai dipertandingkan secara resmi sejak Asian Games 1994. Unggul jauh atas Jepang, negeri asal olahraga ini, yang baru mengais lima emas. PP Pesti menargetkan satu medali emas, satu perak dan dua perunggu Asian Games 2018. Pada pesta olahraga antarnegara di kawasan Asia empat tahun silam di Incheon, Korea Selatan, cabang olahraga soft tenis berhasil menyumbang dua medali. Dua medali itu terdiri dari satu medali perak dari nomor tunggal putra atas nama Edi Kusdaryanto serta satu perunggu dari ganda campuran, pasangan Prima Simpatiaji dan Maya Rosa bagi kontingen Indonesia. Sepulang dari Incheon, PP Pesti akan menjamu Timnas Korea Selatan dan Jepang yang akan menjalani latihan di Indonesia. Setelah itu, tim Pelatnas Soft Tenis Indonesia bakal memasuki tahap akhir persiapan menuju Asian Games 2018, yakni penyesuaian lapangan pertandingan di Palembang, awal Agustus mendatang. “Semoga pengorbanan para pemain demi kejayaan Merah Putih, termasuk hanya sekejap menikmati suasana Lebaran di Tanah Air karena harus berlatih di Korea, akan berbuah manis saat penyelenggaraan Asian Games 2018,” pungkasnya. (Adt)

Usai Libur Lebaran, Atlet Bulu Tangkis Ganda Putra Indonesia Latihan Lagi Mulai Besok Senin

Pebulutangkis ganda putra andalan Indonesia Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya mulai berlatih pada Senin (18/6) jelang persiapan Asian Games 2018. (tempo)

Jakarta- Kepala pelatih ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi mengatakan, skuad ganda putra Indonesia Asian Games 2018 akan kembali dari libur lebaran Idul Fitri pada Senin (18/6). Padatnya agenda turnamen yang akan diikuti, menjadi alasan terbatasnya libur yang didapat para pemain. “Senin (18 Juni) kami sudah latihan lagi. Karena minggu depannya berangkat ke Malaysia. Mereka berangkat 24 Juni untuk ikut Malaysia Open,” kata Herry. Ia mengatakan libur selama lima hari ini sebenarnya cukup riskan di tengah padatnya agenda turnamen. Kekahwatrian muncul jika para pemain tak fit pasca libur lebaran. Namun karena libur hari raya adalah hak setiap pemain, keputusan libur pun tetap dijalankan. “Memang sulit untuk nggak libur. Itu (libur) hak mereka juga. Hari Raya itu kan setahun sekali, dan acara mau ketemu keluarga. Saya sudah pikirkan itu. Resikonya kita tanggung, ya nggak masalah,” kata pelatih berusia 53 tahun itu. Libur ini telah disepakati diberikan kepada seluruh pemain ganda putra Indonesia, termasuk pasangan nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamulyo. Herry pun telah meminta para pemain untuk tetap menjaga kondisi tubuhnya selama libur lima hari. “Selama 5 hari itu biasanya program masing-masing individual di rumah. Misalkan tak ada lapangan, tapi yang penting jaga fisiknya. Mungkin bisa lari, treadmill, atau bersepeda,” kata Herry. Pelatnas bulu tangkis ganda putra utama Indonesia akan menghadapi serangkaian turnamen dalam beberapa waktu ke depan. Turnamen terdekat yang akan diikuti adalah Malaysia Open 2018 pada 26 Juni hingga 1 Juli. Dan dilanjutkan Indonesia Open 2018 pada 3-8 Juli yang Indonesia menjadi tuan rumahnya. Pada 30 Juli hingga 5 Agustus para pemain akan ikut dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2018 di Nanjing, Cina. Rangkaian turnamen besar itu sekaligus persiapan Asian Games 2018 yang digelar di Istora Senayan, pada pertengahan bulan Agustus. Cabang bulu tangkis menjadi salah satu kekuatan dan harapan besar Indonesia untuk meraih medali emas. (Adt)

Jakarta International Tennis Academy Bangun Karakter Petenis Muda Berprestasi Internasional

Jakarta International Tennis Academy (JITA) konsisten membangun karakter bibit-bibit petenis muda berbakat dengan prestasi internasional. (Pras/NYSN)

Jakarta- Berawal dari mimpi seorang bernama Goenawan Tedjo, Jakarta International Tennis Academy (JITA) konsisten membangun karakter bibit-bibit petenis muda berbakat dengan prestasi internasional. Bergabung dengan JITA, artinya setiap anak ditempa dengan berbagai metode pelatihan untuk membentuk kemampuan fisik, teknik, karakter, serta membangun mental juara. “Visi dan misinya adalah ingin membentuk pemain dengan prestasi internasional. Tetapi, dasarnya adalah membangun karakter melalui tenis. Sehingga tidak hanya mencetak juara. Namun yang ditekankan adalah juara dengan karakter baik,” ujar Goenawan, Founder JITA, di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu. Karakter pertama yang harus dimiliki yakni sportif, sopan, dan memiliki respect terhadap lawan, wasit, pebimbing, pelatih, dan terpenting orang tua. Sebab saat mereka jadi pemain top, maka akan menjadi idola generasi muda. Dan, idola itu harus memiliki karakter yang bagus. Sebab akan menjadi panutan “Kadang-kadang, ada anak yang tidak mau ditonton sama orang tuanya. Itu tidak boleh terjadi disini. Mereka harus punya respect pada orang tua. Sebab, orang tua yang membiayai mereka untuk bergabung disini,” lanjut pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 4 Agustus 1961 itu. Kini, JITA telah memiliki banyak petenis binaan. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai lebih dari ratusan petenis. Awalnya, akademi ini bernama Goenawan Fans Tennis Club, hingga berganti nama menjadi JITA pada 2005. Perubahan nama itu bukan tanpa alasan. Selain warga negara Indonesia (WNI), petenis binaan JITA sekitar 35 persennya adalah berkebangsaan asing. Bahkan, sebagai dari mereka sudah mulai berlaga di berbagai turnamen tenis internasional. “Di level junior nasional, petenis binaan JITA banyak berprestasi dan mengisi slot rangking 1 hingga 10. Mereka bermain hingga SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), lalu melanjutkan ke Universitas. Ketika mereka kuliah mendapatkan sponsor atau scholarship. Disini itu cukup banyak,” tambah pria penyuka kuliner Indonesia itu. Disisi lain, minat generasi muda terhadap tenis, diakui pria yang juga memiliki hobi bermain golf itu, sat ini agak menurun. Namun, itu jadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara jasa seperti JITA. “Bagaimana caranya membuat suasana pelatihan menjadi menarik. Dengan begitu mereka tetap memprioritaskan tenis dibandingkan dengan pilihan yang lain. Karena saat ini kami berkompetisi dengan gadget. Ini menjadi tantangan untuk mereka bisa tertarik datang ke outdoor untuk bermain tenis,” tuturnya. “Terkadang orang mengajar saja, namun suasananya membosankan. Sehingga minat dan ketertarikan mereka terhadap tenis makin turun. Itu yang kami terapkan di JITA, maka jumlah petenis binaan disini tetap stabil,” urai pria yang mulai mengajar tenis sejak 1981 itu. Sementara, demi menghasilkan petenis berkualitas, Goenawan mengkritisi dukungan pemerintah. Ia berharap minat pemerintah dalam mendukung olahraga di Tanah Air terus meningkat. “Sejauh ini pemerintah telah memberikan dukungan bukan hanya tenis. Tapi, dukungan itu belum cukup. Kalau mau berprestasi sampai level Asia saja itu masih kurang, apalagi dunia. Bukan pemerintah tidak membantu, memang masih sangat kurang,” tukasnya. “Contoh Singapura. Meski negara kecil, namun pemerintahnya mengalokasikan dana untuk olahraga sangat besar. Hasilnya, mereka membangun fasilitas dan sarana olahraga yang bagus. Boleh dibilang mewah dan lengkap. Dengan begitu maka orang-orang akan lebih senang berolahraga,” ungkapnya. Selain itu, menurutnya, iklim ber kompetisi yang rutin, menjadi sarat mutlak bagi seorang petenis, agar mampu dan bisa bersaing di level permainan yang lebih tinggi. “Mereka harus travelling ikut pertandingan ke luar negeri. Tapi untuk apa? Tentu semua perlu biaya. Terkadang ada atlet yang menang di PON (Pekan Olahraga Nasional) dapat bonus uang. Dan, jangan hanya disimpan, tapi itulah yang dipakai untuk membiayai dirinya mengikuti pertandingan ke luar negeri,” jelasnya. Dengan rutin bertanding di luar negeri, peringkatnya naik dan permainannya makin bagus. Maka profit akan mengikuti. Bagi Goenawan, mengandalkan pemerintah dan ponsor sangat sulit. Dikatakannya, pengalaman dan jam terbang sangat utama. Bila dahulu banyak bermunculan klub-klub tenis besar, namun saat ini kondisinya sudah berbeda. “Harapannya muncul kembali liga antar klub. Ini bisa menggairahkan minat dari para petinggi perusahaan untuk mendirikan klub serta membina para pemainnya. Kalau saat ini belum ada, maka tiap individu-individu itu harus pintar mengelola keuangannya,” tutup ayah empat anak itu. (Adt)

Hajar Thailand 3-1, Timnas Voli Putra Indonesia Juara Turnamen Voli Di Vietnam

Aji Maulana dkk diminta tetap menjaga kekompakan hingga ke Asian Games 2018 usai juara di turnamen bola voli internasional Lienvietpostbank di Vietnam, Kamis (31/5) malam. (Adt/NYSN)

Ha Nam- Timnas Bola Voli putra Indonesia juarai Turnamen Bola Voli Internasional Piala Lienvietpostbank. Pada laga final di Ha Nam Sports Gymnasium, Vietnam, Kamis (31/5) malam, Tim Merah Putih mengalahkan musuh bebuyutan, Thailand dengan skor 3-1 (31-33, 25-18, 25-22, 25-23). Timnas Thailand sempat mengungguli Rendy Tamamilang dan kawan-kawan pada set pertama. Padahal tim besutan Samsul Jais itu sempat unggul dengan selisih empat angka atas Kitsada dan kawan-kawan. Gara-gara permainan mengendur, skor menjadi sama 20-20. Timnas Indonesia akhirnya kalah dengan skor 31-33. Beruntung, pada tiga set berikutnya Timnas selalu menang. Kemenangan ini merupakan yang kedua dibukukan Indonesia atas Thailand. Kedua tim juga bertemu pada babak penyisihan, 27 Mei 2018. Saat itu, Indonesia menundukkan Thailand 3-0 (25-23, 25-22, 25-22). “Hasil ini merupakan momentum penting untuk memberikan motivasi dan inspirasi baru bagi cabang olahraga lain. Tentunya, keberhasilan ini akan kami siapkan apresiasi,” ujar Imam Nahrawi saat menyambut kedatangan Timnas Bola Voli Putra Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (1/6). Sementara, Aji Maulana, Kapten Timnas Bola Voli Indonesia, menegaskan kemenangan ini sangat penting dan menjadi modal berharga untuk persiapan ke Asian Games 2018, pada Agustus-September nanti. “Di ajang Asian Games ini persaingan sangat ketat. Sebab ada Jepang, Korea dan China. Sedangkan di turnamen kemarin cuma ada Kazakhstan, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Dan, kami masih butuh kompetisi internasional lain untuk nambah pengalaman tanding serta jam terbang, ” cetus Aji. Pada turnamen internasional yang diikuti enam negara tersebut, timnas hanya sekali kalah, saat melawan Kazakhstan pada awal turnamen dengan skor 2-3. Namun, kekalahan itu mampu dibalas di semifinal, dengan skor telak 3-0. Empat negara lainnya, Myanmar, China Junior, Thailand, dan tuan rumah Vietnam juga berhasil dikalahkan Indonesia. Pada babak penyisihan, Thailand dilibas dengan skor 3-0. Myanmar dan Vietnam juga dikalahkan dengan tiga set tanpa balas. Sedangkan China yang datang dengan tim junior, dikandaskan dengan skor tipis 3-2. Samsul menyebut kemenangan atas Thailand ini sejatinya merupakan penantian yang cukup lama. “Terakhir Indonesia mengalahkan Thailand pada 2009. Di turnamen ini dua kali ketemu Thailand. Pertama menang 3-0, dan di final menang 3-1. Jadi menambah kepercayaan diri. Kalau dahulu ada trauma kalau ketemu Thailand,” jelasnya. “Dengan hasil yang kami capai mudah-mudahan bisa mewujudkan target cabang bola voli yang harus berada diperingkat tiga. Ini jadi motivasi semua pemain bisa menghasilkan yang terbaik,” tukas Samsul. (Adt)

Skuad Fed Junior Indonesia Incar Rangking 100 Dunia, PP Pelti : Pengganti Yayuk Basuki !

Tim Piala Fed Junior 2018 yang terdiri dari (ki-ka) Priska Madelyn Nugroho , Janice Tjen dan Nadya Dhaneswara serta Ryan Tanujoyo, lolos ke putaran final di Hungaria. (vavel.com)

Jakarta– Petenis junior Indonesia, Priska Madelyn, menargetkan bisa menembus peringkat 100 besar dunia junior pada akhir 2018. “Saya saat ini di posisi 164. Pada akhir 2018, targetnya naik ke peringkat 100 besar dunia,” kata Priska, saat penyambutan tim Piala Fed Junior, di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Minggu (22/4). Untuk mencapai posisi tersebut, Priska menargetkan rutin mendulang poin dari turnamen yang akan dia ikuti sampai akhir tahun, yakni satu hingga dua turnamen setiap bulan. Dalam waktu dekat, Priska akan berlaga di turnamen level Grade 4, Malacca Internasional Junior Championship, pada 8-13 Mei 2018, di Malaysia. “Tapi di Malaysia ini saya tidak mau menganggap remeh dan tetap mewaspadai lawan-lawan yang akan dihadapi karena kualitasnya tidak sembarangan. tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin,” ujar Priska. Turnamen yang akan diikuti Priska ini diketahui usai dara yang akan berusia 15 tahun itu, selesai membela Indonesia dalam babak kualifikasi Piala Fed Junior 2018 zona Asia/Oseania. Selain Prsika, tim Indonesia terdiri dari Janice Tjen dan Nadya Dhaneswara Di kualifikasi Piala Fed Junior zona Asia/Oseania, Indonesia harus puas hanya menjadi runner-up paska dua kali kalah dari Jepang saat bertemu di fase grup dengan kedudukan 0-2, dan yang kedua saat partai final oleh Australia. Meski menjadi runner-up, Indonesia berhak berlaga dalam grup dunia Piala Fed Junior yang berlangsung di Budapest, Hungaria, September 2018, bersama dengan Australia, Jepang, dan Hong Kong. Negara-negara tersebut menjadi empat terbaik di kawasan Asia/Oseania. Terakhir kali, Indonesia mencicipi babak dunia, yakni pada sembilan tahun lalu (2009). Saat itu, Indonesia mewakili zona Asia/Oseania bersama Australia, Jepang, serta China untuk berlaga di Luis St Potosi, Meksiko, dan finis di posisi ke-9. Pengurus Pusat (PP) Persatuan Lawn Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) menilai capaian lolos ke babak dunia ini sinyal kebangkitan tenis Indonesia. “Dari tim Fed junior, semoga muncul pengganti Yayuk Basuki dan pemain senior lainnya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PP Pelti Susan Soebakti, saat penyambutan tim Fed Junior. Ke depannya, Pelti menyatakan akan mempersiapkan tim untuk berlaga di babak dunia Fed Junior pada September mendatang. “Mereka tetap ikut pertandingan dalam persiapan menuju Hungaria. Termasuk pengiriman tur ke luar negeri akan direalisasikan seperti instruksi Ketua Umum,” kata Susan. Selain berbagai persiapan mandiri para atlet dan oleh federasi, jelang tampil di babak dunia Fed Junior, Ketua Umum PP PELTI, Rildo Ananda Anwar berencana memberikan fasilitas wild card pada tim Fed Junior di event Indonesia Women’s Circuit berhadiah total 15 ribu dolar AS, di Solo, Jawa Tengah, pada bulan Juli. (art) Tim Piala Fed Junior Indonesia 2018 1. Priska Madelyn Nugroho 29 Mei 2003 ITF-165 2. Janice Tjen 6 Mei 2002 ITF-213 3. Nadya Dhaneswara 5 Januari 2002 Kapten: Ryan Tanujoyo 7 mei 1982

Unggul Rangking Tak Jaminan, Putri Indonesia Runner-up Kualifikasi Fed Junior 2018

Tim Putri Piala Fed Junior Indonesia (merah), berfoto dengan tim Fed Junior Australia, usai kalah 0-2 di partai final Kualifikasi. (net)

Jakarta- Tim putri Indonesia harus puas menjadi runner-up kualifikasi Piala Fed Junior zona Asia/Oseania 2018 usai langkah gemilangnya terhenti di partai puncak. Pada Sabtu (21/4), tim putri Indonesia menyerah kepada Australia 0-2 dalam final di lapangan tenis Serawak Lawn Tennis Association, Kuching, Malaysia. Meski di atas kertas Indonesia punya komposisi pemain yang lebih baik, hal ini tak menjamin tim Merah Putih melenggang di zona Asia/Oseania. Di partai pembuka, tunggal kedua Indonesia, Janice Tjen, takluk dari Anastasia Berezov dalam pertarungan dua set berdurasi 55 menit yang berkesudahan 2-6, 0-6. Peringkat junior ke-213 dunia ini kalah straight set, dari lawan yang bertengger di posisi ke-417 itu dengan skor akhir 2-6 dan 0-6. “Saya agak capek hari ini, kaki terasa berat melangkah sepanjang pertandingan final tadi,” tutur Janice usai laga. Pada partai berikutnya, tunggal utama Indonesia, Priska Madelyn Nugroho, juga tidak mampu mencetak angka penyeimbang usai kalah dari ujung tombak Australia, Olivia Maria Gadecki, dalam pertarungan dua set satu jam 10 menit yang berkesudahan 4-6, 3-6. Meskipun menjadi runner-up, Indonesia berhak berlaga dalam grup dunia Piala Fed Junior yang berlangsung di Budapest, Hungaria, September 2018 mendatang bersama dengan Australia, Jepang dan Hong Kong, yang menjadi empat terbaik di kawasan Asia/Oseania. Terakhir kali Indonesia mencicipi babak dunia, Pada sembilan tahun lalu, 2009. Saat itu, Indonesia mewakili zona Asia/Oseania bersama Australia, Jepang serta China untuk berlaga di Luis St Potosi, Meksiko, dan finis di posisi ke-9. “Selamat pada tim atas raihan ini, saya bangga atas mereka karena capaian ini lebih baik dari 2009 lalu, saat itu di playoff kita hanya semifinal, sedangkan saat ini kita bisa sampai final,” kata Ketua Umum Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PP Pelti) Rildo Ananda Anwar, dilansir Antara. Meskipun menjadi runner-up, Rildo menilai permainan tim Indonesia sangat baik dan hanya kalah jam terbang dari tim Australia dan Jepang yang dihadapi Indonesia di fase grup. “Dari yang saya ikuti, dua kekalahan kita di kualifikasi Piala Fed Junior 2018, karena kalah jam terbang dari Australia dan Jepang. Karenanya setelah mereka pulang kami akan susun program untuk pemain bertanding di berbagai turnamen luar negeri dan dalam negeri,” ucap Rildo berharap. Setelah kualifikasi Piala Fed Junior zona Asia/Oseania ini, Rildo menyebutkan pihaknya akan memberi fasilitas “wild card” pada tim Indonesia yang terdiri dari Janice Tjen, Priska Madelyn dan Nadya Dhaneswara, dalam kejuaraan Indonesia Women`s Future berhadiah total 15 ribu dolar AS dalam waktu dekat. (Art)

Putri Indonesia Ladeni Australia di Final Piala Fed Junior, Siapkan Kado Spesial Hari Kartini

Tim putri Indonesia bakal meladeni Australia di Final Piala Fed Junior 2018., pada Sabtu (21-4), di Khucing, Malaysia. (net)

Jakarta- Tim putri Indonesia berhasil menjejak babak akhir Piala Fed Junior Kualifikasi Asia Oseania 2018, di Kuching, Malaysia. Pada semi final, Jumat (20/4), regu yang menempati posisi unggulan kelima itu menumbangkan seeded kedua, Hong Kong, dengan skor 2-0. Petenis tunggal kedua Indonesia yang tampil partai pembuka, Janice Tjen menang atas Sheena Jade Masuda Karrasch. Peringkat junior ke-213 dunia itu unggul straight set, 6-4 6-3 dalam waktu satu jam lima menit. Dan, Priska Madelyn Nugroho memastikan kemenangan atas Hong Kong setelah mengalahkan Hoi Ki Jenny Wong 6-3 6-3. “Lawan Hong Kong terasa mudah karena mereka tampil tanpa petenis nomor satunya, yang cedera setelah laga alot di perempat final. Jadi, saya lawan pemain kedua dan Janice ketemu urutan ketiga,” ujar Priska usai laga. Sama halnya dengan Indonesia, Hong Kong juga harus melakoni pertarungan sengit di babak delapan besar untuk menentukan pemilik empat tiket sebagai wakil zona Asia Oseania, ke putaran final dunia di Hungaria, September 2018. Lolosnya Indonesia, Thailand dan Hong Kong, bukan tanpa ujian. Mereka harus melalui partai ketiga yakni ganda, yang harus digelar pada Jumat (20/4), lantaran tertunda sehari akibat hujan mengguyur lapangan, sejak Kamis (19/4) siang. Duet Janice dan Priska menyudahi perlawanan pasangan Thailand, Supapitch Kuearum/Mai Napatt Nirundorn, dengan skor 7-5 6-0. Sementara ganda Hong Kong, Ho Iki Jenny Wong/Hong Yi Cody Wong harus mengalami super tie break untuk mengandaskan wakil Korea Selatan, Bo Young Jeong/Yeonwoo Ku, dengan skor 2-6 7-6(5) [10-5]. Pada final, Sabtu (21/4), Indonesia akan meladeni unggulan keenam, Australia yang secara mengejutkan menyingkirkan Jepang di semifinal. “Peluang sih fifty-fifty,” tutur Janice dan Priska, kompak. Di atas kertas, srikandi Indonesia punya materi lebih baik dibanding tim Negeri Kanguru. Tunggal utama Merah Putih, Priska Madelyn Nugroho berperingkat ke-165 dunia, jauh di atas ujung tombak Australia, Olivia Maria Gadecki yang ada di posisi ke-219 dunia. Sedangkan Janice Tjen (ITF-213), jauh di atas Annerly Poulos (401). “Pokoknya kami akan coba semaksimal mungkin memanfaatkan peluang yang ada,” cetus keduanya. Namun, apapun hasil final nanti, keberhasilan trio Priska, Janice dan Nadya Dhaneswara serta kepten Ryan Tanujoyo melaju ke putaran dunia pada ajang petenis kelompok umur 16 tahun itu adalah prestasi langka bagi tenis Indonesia. Terakhir kali, Indonesia mencicipi pentas dilevel dunia Piala Fed Junior pada 2009. Menempati posisi keempat babak penyisihan zona Asia Oseania yang berlangsung di, Australia, trio Grace Sari Ysadora, Cynthia Melita dan Rekyan Woro serta kapten Deddy Tedjamukti finis di posisi kesembilan babak final dunia di Mexico. (Adt)

Zidane dan Ronaldo Sabet Super Tiket Final Audisi Djarum Balikpapan Bersama 24 Pemain Lainnya

Ketua Tim Pencari Bakat Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 Christian Hadinata bersama peserta yang lolos dari kota Balikpapan, Kaltim. (kompas.com)

Balikpapan- Resmi 24 pebulutangkis muda terbaik Balikpapan menjadi wakil Kalimanta Timur dalam Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018, di GOR Hevindo, Senin (16/4). Mereka berhak meraih Super Tiket dan lolos dalam fase final Audisi Umum di GOR Jarum, Kudus, Jawa Tengah. Pemenang Super Tiket ini adalah putra putri terbaik Balikpapan yang berhasil memberikan penampilan terbaik sejak tahapan pertama. Total 18 peserta berhasil meraih kemenangan pada Tahap Turnamen, dan enam orang sisanya mendapatkan Super Tiket pilihan dari Tim Pencari Bakat. 24 pemain itu berasal dari kategori usia U-11 Putri, U-11 Putra, U-13 Putri, U-13 Putra, U-15 Putri, dan U-15 Putra. Tim U-13 Putra menyumbang wakil terbanyak yakni delapan orang. Untuk nomor U-11 Putri dan U-15 Putri hanya mengirim dua peserta. Nama Cristiano Ronaldo Eka Saputra, atlet muda dari Sleman dari Yogyakarta, akhirnya lolos di nomor U-13 Putra. Selain ‘Ronaldo’, Zidane Cahyo Nugroho (Kutai Timur), pun akhirnya menyimpan Super Tiket, pasca terpilih dari nomor tim pencari bakat. Ketua Tim Pencari Bakat, Christian Hadinata, berpesan kepada para peserta yang berhasil lolos pada Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 di Balikpapan agar betul-betul menjaga konsistensi dan terus berlatih. “Bagi adik-adik yang belum lolos, masih ada kesempatan di beberapa kota lainnya. Jangan patah semangat, tidak usah ada perasaan putus asa. Kesempatan tetap terbuka. Terus berlatih,” ucap pria yang disapa Koh Chris, pada Senin (16/4). Sementara itu Manajer tim PB Djarum, Fung Permadi, menyatakan jika semua peserta yang meraih Super Tiket ini adalah mereka yang tampil terbaik dan tampil dengan kemampuan diatas rata-rata. “Mereka yang lolos dari Audisi Umum kali ini ya mereka yang terbaik dari seluruh peserta. Sementara pemberian tiket untuk mereka yang gugur di tahap turnamen karena mereka memenuhi kriteria tim pencari bakat. Mereka menunjukkan semangat dan mempunyai teknik lebih baik dibandingkan peserta yang lainnya,” ujar Jumlah peraih Super Tiket dari Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 di Balikpapan lebih banyak satu peserta dari edisi sebelumnya di Pekanbaru, Riau. Usai kota Balikpapan, PB Djarum melanjutan perburuan ke Manado, Sulawesi Utara, yang akan berlangsung di GOR Arie Lasut, 5-7 Mei 2018. (art) Peraih Super Tiket hasil Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 di Balikpapan (nama, nomor punggung, kota/kabupaten asal): U-11 Putri Alisa Amelia Dansach 0033 (Kota Samarinda) Madinah Dell Azzahra 0004 (Kota Kendari) U-11 Putra Revand Harianto 0046 (Kota Balikpapan) Raid Nabil Setiawan 0265 (Kota Balikpapan) Raihan Daffa Edsel Pramono 0226 (Kota Kediri) Nazwan Abdillah 0079 (Kota Samarinda) U-13 Putri Nadia Pritasari 0090 (Tanah Laut) Sheila Lydia 0224 (Nganjuk) U-13 Putra Bryan Dave Limbowo 0163 (Parigi Moutong) Cristiano Ronaldo Eka Saputra 0152 (Sleman) Taufiqul Vicky 0129 (Kota Balikpapan) Christian Trinata Liban Laden 0008 (Kota Samarinda) U-15 Putri Ryani Puspita Dewi 0005 (Kota Balikpapan) Ni Kadek Linda Angeline Asmara 0119 (Gianyar) U-15 Putra Irvan Bagus Dwi Prasetyo 0171 (Penajam Paser Utara) Kadek Guruh Sucahya 0021 (Buleleng) Muhammad Faqih Anshori 0320 (Kota Samarinda) Muhammad Septian Amin 0286 (Kota Samarinda) Peserta peraih Super Tiket Pilihan Tim Pencari Bakat: U13 Putri – Elsa Auriya 0070 (Kota Balikpapan) U13 Putri – Nella Puspita Dewi 0100 (Kota Samarinda) U13 Putra – Rizqy Ramadhani 0082 (Tanah Laut) U13 Putra – Zidane Cahyo Nugroho 0313 (Kutai Timur) U13 Putra – Jonathan Dylan Tedja Saputra 0026 (Kota Manado) U13 Putra – Januar Jason Tedja Saputra 0029 (Kota Manado)

Raih Podium di USM Indonesia International Series, Atlet Putri 18 Tahun Ini Makin Percaya Diri

Pebulutangkis Aurum Oktavia Winata makin percaya diri usai menjuarai USM Indonesia International Series (UIIS) 2018, di Semarang, Jawa Tengah, kemarin. (PBSI)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal putri masa depan Indonesia, Aurum Oktavia Winata, sabet titel juara di turnamen USM Indonesia International Series (UIIS) 2018, di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/4). Di partai pamungkas, pebulutangkis Pelatnas PBSI itu menekuk wakil Thailand, Supanida Katethong, dua gim langsung, 21-19 dan 21-16, dalam waktu 32 menit. Berlabel unggulan lima sebenarnya membuat kans pebulutangkis Negeri Gajah Putih itu untuk memenangi laga sangat besar. Namun, Aurum membuktikan dirinya mulai diperhitungkan dan membuat kejutan di turnamen berhadiah 10.000 Dolar Amerika Serikat (AS) itu. “Alhamdulillah, campur aduk rasanya. Soalnya kan emang dia jauh lebih di unggulin dan pengalamannya dia lebih banyak,” ujar Arum, dikutip situs resmi PBSI, Senin (16/4). “Kemenangan saya tadi karena merubah mindset sama yakin sama diri sendiri,” lanjut pebulutangkis asal Sarwendah Badminton Club itu. Dara kelahiran 4 Oktober 1999 itu, kesuksesannya naik podium di UIIS 2018 tak lepas dari peran sang pelatih yang menginstruksikan dirinya untuk tak memberi kesempatan lawan menyerang. “Saya dikasih tahu oleh pelatih untuk mengantisipasi kebiasaan lawan. Strateginya, bagaimana caranya supaya dia tak mendapatkan posisi untuk menyerang,” papar Aurum. Selain Aurum, empat wakil Merah Putih lainnya juga sukses mengantongi gelar. Di tunggal putra, Shesar Hiren Rhustavito menumbangkan seniornya, Sony Dwi Kuncoro, 21-12, 22-20 (44 menit). Di ganda putra, duet Rian Swastedian/Amri Syahnawi berhasil meredam perlawanan unggulan lima Irfan Fadhilah/Markis Kido, 21-19, 21-18 (26 menit). Lalu, di ganda putri, Shela Devi Aulia/Pia Zebadiah Bernadet yang sukses memaksa wakil Malaysia Chiew Sien Lim/Sueh Jeou Tan pulang tanpa gelar usai kalah 21-17, 21-12 (33 menit). Langkah manis juga diukir duet Amri Syahnawi/Shela Devi Aulia. Pasangan unggulan lima itu menaklukkan kompatriotnya, Irfan Fadhilah/Pia Zebadiah Bernadet, 21-17, 21-16 (35 menit). (Adt)