Usung Konsep Baru, Junior DBL Siap Kolaborasi Internasional di Akhir 2019

Junior DBL atau kompetisi basket pelajar tingkat SMP, yang konsisten digelar sejak 2005, bakal mengusung konsep baru pada 2019 nanti. Serta, akan melibatkan kolaborasi internasional. (DBL)

Surabaya- Konsisten digelar sejak 2005, JRBL (Junior Basketball League) dipastikan akan naik level pada 2019. Kompetisi basket pelajar tingkat SMP ini bakal mengusung konsep baru. Serta, melibatkan kolaborasi internasional. Seperti sang ‘kakak’, Honda DBL (Developmental Basketball League), yang telah diakui sebagai kompetisi basket pelajar terbesar di tanah air, JRBL akan diawali dengan rebrand atau penggantian nama liga menjadi Junior DBL. Perubahan ini, sudah dirilis sejak November lalu. Pada babak penyisihan dimulai di Surabaya. Babak utama akan digelar pada Januari 2019, di DBL Arena Surabaya. Namun, masih dengan konsep lama seperti tahun sebelumnya. Sedangkan, konsep baru Junior DBL, akan diterapkan penuh pada season 2019. Menurut rencana, Junior DBL 2019 akan digelar di tujuh kota, di tujuh provinsi. Yakni, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Bandung, Jakarta, Balikpapan, dan Denpasar. Tip-off musim baru (Junior DBL) dimulai Oktober 2019. “Banyak upgrade yang kami lakukan. Tujuannya, agar kompetisi yang melibatkan student-athlete level SMP ini (Junior DBL) membesar, seperti Honda DBL,” ujar Masany Audri, Direktur DBL Indonesia. Digelar sejak 2005 di Surabaya. Kompetisi basket tingkat pelajar SMP ini semula diputar hanya sebagai pendukung liga SMA (DBL). Lalu, pada 2015, event ini diperluas pelaksanaannya di tujuh kota dari enam provinsi di Indonesia. Lebih dari 6.000 student-athlete berpartisipasi dan melibatkan lebih dari 170.000 penonton. Seiring pertumbuhan secara spektakuler itu. DBL Indonesia selaku penyelenggara, bertekad memperbesar Junior DBL. Mengiringi bentuk model pengembangan DBL yang akhirnya dimainkan di setiap wilayah di Indonesia. Sama seperti DBL, Junior DBL nantinya, tak hanya mengakomodir passion para siswa SMP di bidang basket. Juga ada ajang lain yakni kompetisi dance, serta jurnalistik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ini. (Pras)

Singkirkan Pembuat Kejutan, Gracia Ruth Kantongi Tiket Final Astec Open Championship 2018

Pebulutangkis tunggal remaja putri dari tim Daihatsu Candra Wijaya, Gracia Ruth Tri Kusumastuti Sanyoto (kaos biru) melaju ke final Astec Open Badminton Championship 2018. Ia menang atas Alivia Nadifah Salma (Mutiara Cardinal Bandung), rubber game, 21-14, 17-21, 22-20, di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (7/12). (Adt/NYSN)

Jakarta- Pertarungan ketat tersaji pada semifinal Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018, di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (7/12). Tunggal remaja putri asal Daihatsu Candra Wijaya, Gracia Ruth Tri Kusumastuti Sanyoto, sukses mengantongi tiket final. Gracia menyingkirkan wakil Mutiara Cardinal Bandung, Alivia Nadifah Salma, dalam drama pertarungan melelahkan tiga gim. Melakoni laga empat besar, Gracia sempat meraih kemenangan di gim pertama dengan skor 21-14. Namun, Gracia harus menyerah di gim kedua akibat kelelahan yang membuatnya kehilangan fokus dalam bermain. Alhasil, ia harus melepas gim ini dengan skor 17-21. “Di gim kedua, capek banget, jadi nggak fokus mainnya,” ujar Gracia usai laga. Di awal gim ketiga, Gracia justru seolah sulit berkembang. Akibatnya, Salma yang membuat kejuatan usai menyingkirkan dua pemain unggulan ini, dengan mudah memundi poin demi poin. Namun, seolah tak ingin membuang kesempatan, Gracia pun berusaha fight dan ngotot. Tertinggal 17-20 dari Salma, siswi SMAN 10 Tangerang Selatan ini perlahan mengejar defisit poin. Kesalahan demi kesalahan Salma, memberi keuntungan dara kelahiran Sidoarjo, 29 Desember 2002, hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Dan bola pengembalian Salma yang melebar ke sisi kiri garis pertahanan Gracia, memastikan anak didik Gesti Prayitno itu mengunci laga dengan skor 22-20, sekaligus mengantongi tiket final. “Di gim ketiga, main nahan dan safe. Mikirnya harus fokus sama pertandingan. Lawan juga kewalahan kalau bolanya di cepat,” tukas Gracia. Sementara itu, Gesti mengaku bila anak didiknya tersebut tampil di bawah performa, akibat kondisi fisiknya yang menurun. “Tadi mainnya tinggal mau nahan atau nggak saja. Pelan-pelan dan sabar bisa menambah poin. Apalagi lawan juga sering mati sendiri bolanya,” terang Gesti. “Di gim terakhir, saya bilang ke dia, ayo tahan, satu-satu dulu, karena posisinya sudah ketinggalan 17-20. Lawan juga nafsu mainnya, jadi sering melakukan kesalahan sendiri,” cetusnya. Menghadap laga final, Gesti berpesan agar anak didiknya itu bermain sebaik mungkin. “Recovery fisiknya juga harus cepat, dan main all out. Seharusnya dia bisa juara, karena lawannya pernah dikalahkan saat Superliga Junior 2018 lalu,” tegas Gesti. Di final, Sabtu (8/12), Gracia akan menantang pemain unggulan tiga, Irgi Apprilla Hizkia Rifa Putri, asal PB Exist Jakarta. Irgi menghentikan lajur rekan satu klubnya, Imtiyaz Yasmin (8), rubber game, dengan skor 23-25, 21-10, 21-10, selama 59 menit. “Karena pingin banget masuk final, yang penting main bagus. Untuk besok (Sabtu, 8/12), saya akan kurangi kesalahan sendiri dan harus lebih fokus lagi,” tegas Irgi. (Adt)

Bocah Tujuh Tahun Kampiun Kelas Kadet, Qarrar Firhand Bidik Juara Gokart di Macau

Qarrar Firhand, siswa kelas 2 SD Al Azhar Pusat, Jakarta, yang akan berusia 8 tahun pada 7 Januari 2019, siap berlomba di AKOC (Asian Karting Open Championship) 2018, di Sirkuit Macau International, Macau, Sabtu-Minggu (8-9/12). (mobilinanews.com)

Jakarta- Acungan jempol layak ditujukan kepada Qarrar Firhand, pelajar kelas 2 SD Al Azhar Pusat, Jakarta. Usianya baru genap 8 tahun pada 7 Januari 2019, namun sudah menunjukkan bakat besarnya tiap balapan demi balapan, hingga menuai hasil spektakuler di akhir musim 2018. Tampil diajang ESHARK Year End Race 2018, pada Sabtu (1/12), di Sentul International Karting Circuit, Sentul, Qarraq menyabet 3 trophy kejuaraan. Yakni kampiun Kelas Kadet overall, lalu podium 2 kategori rising star Kelas Mini, dan peringkat 3 di kelas Kadet Mini. Bergabung dalam Tanada Racing Team, putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Firhand Ali dan Aimma ini pantang menyerah. Menggeluti balap gokart sejak usia 5 tahun, Qarrar kecil bahkan harus menahan hatinya, karena diusia itu, jelas ia belum bisa mendapat izin lomba. Tapi, ambisinya begitu besar, sehingga ia tetap melakukan latihan sendiri dipandu sang ayah, hingga akhirnya mendapat izin lomba, saat berulang tahun yang ke-7, awal Januari 2018 lalu. Tahun pertama lomba, prestasi spektakuler ditoreh dengan mengunci titel Juara kelas Kadet overall di akhir musim, akhir pekan lalu. Bermodalkan prestasi itu, Qarrar pun melangkah pasti. Sejak Rabu (5/12), Qarrar bahkan sudah berada di Macau. Ia siap berlomba di ajang Kejuaraan internasional AKOC (Asian Karting Open Championship) 2018, di Sirkuit Macau International, Macau, pada Sabtu-Minggu (8-9/12). Qarrar tak main-main mempersiapkan diri. Latihan serius dilakukan, hingga ke Italia. Usai lebaran, pada Juni Lalu, selama sebulan penuh ia melakoni latihan di Sirkuit South Garda, Adria, Dan Castelletto. Dilanjutkan dua pekan berikutnya, juga berlatih di tiga sirkuit yang sama, hingga pertengahan Oktober Lalu. Tim Tanada berharap Qarrar meraih posisi terbaik di Macau. Sang Ayah, Firhand menyatakan optimisme tingi atas bungsunya Ini. “Kami serius dengan bakat dan potensi Qarrar. Selama 2018 ini, dia berlatih hingga dua kali di Italia. Kami tempa sejak awal tahun, kemampuan balapnya terus meningkat,” ungkap Firhand, pada Jumat (7/12). Tidak itu saja, proses penggemblengan untuk Qarrar akan terus berlanjut untuk musim balap tahun depan. Tercatat, ada sekitar 15 event gokart yang akan diikutinya, baik di dalam maupun luar negeri. “Bedanya, kalau tahun lalu beberapa kali ke Italia hanya bisa mengikuti sampai Free Practice (latihan bebas), tahun depan Qarrar sudah boleh mengikuti event. Karena usia minimalnya sudah memenuhi syarat,” ujar Faris Luthfi, manajer tim Tanada Racing. Di Macau, Qarrar akan bersaing ketat dengan sejumlah pembalap dunia dari Filipina, Malaysia, Cina, Jepang, Inggris, juga Amerika Serikat. Tapi, pengagum Lewis Hamilton dan ayahnya sendiri ini, menyatakan kesiapannya. “Saya siap bersaing dan melakukan yang terbaik untuk tim dan Merah Putih. Doain ya,” kata Qarrar. (Adt) Schedule Balap Qarrar Firhand di 2019 Indonesia 26-27 Januari Indonesia 23-24 Februari Singapura 3 Maret Malaysia 16-17 Maret Indonesia 30-31 Maret Singapura 14 April Italia 9 Juni Italia 23 Juni Indonesia 29 Juni Indonesia 27-28 Juli Singapura 18 Agustus Indonesia 7-8 September Italia 28-29 September Italia 5-6 Oktober Macau 7-8 Desember

Atlet Pelatnas Tampil Lesu di IOC 2018, PRSI : Perenang Junior Bisa Ancam Seniornya

Atlet renang putra gaya punggung, yang tampil dalam event 2nd Indonesia Open Aquatic Championship 2018, Stadion Akuatik GBK, Jakarta, 1-5 Desember, berpose sejenak sebelum tampil bertanding. Mereka adalah Farrel Armandio Tangkas (kiri), I Gde Siman Sudartawa dan Rick Anggawijaya. (kompas.com)

Jakarta- Perlombaan renang di 2nd Indonesia Open Aquatic Championship (IOC) 2018 di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta berakhir. Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) mengantongi nama-nama perenang baru. PRSI memanfaatkan ajan ini sebagai seleksi awal perenang menuju pelatnas 2019. Hasil dari perenang yang tampil pada Sabtu (1/12) hinngga Rabu (5/12), akan segera dievaluasi. Secara garis besar, penampilan perenang pelatnas kurang sip. Sementara, nonpelatnas memberikan kejutan, yakni mengalahkan senior yang juga pelatnas. Wakil Ketua PRSI, Harlin E. Rahardjo akan mempertimbangkan atlet-atlet non pelatnas yang berprestasi masuk pelatnas 2019, kendati harus disesuaikan juga dengan limit yang ditetapkan PRSI, dilansir detik.com. “Ini banyak perenang baru. Jika juara pasti kami pertimbangkan. Tinggal limitnya disesuaikan dengan kami. Seperti Reza Bayu Prasetyo (18 tahun), dia peringkat dua tapi pantas masuk pelatnas, karena sebagai sparring atlet pelatnas, Aflah Fadlan Prawira,” kata Harlin, di Stadion Akuatik, Senayan, Rabu (5/12). Harlin mengungkapkan beberapa nama lain yang muncul, seperti Farrel Armandio Tangkas (17 tahun), peraih medali emas nomor 200 meter gaya punggung, dengan catatan waktu 2 menit 03,33 detik. Dia mengalahkan seniornya, Ricky Angga Wijaya, yang meraih medali perak 2 menit 05,46 detik. Farrel adalah perenang Jawa Barat, kelahiran Surabaya, 22 Desember 2001. Siswa SMAN 3 Bandung ini merupakan aset renang merah putih yang siap berprestasi. Pada Oktober lalu, Farrel adalah salah satu atlet Indonesia, yang tampil di Buenos Aires, Argentina, dalam event Youth Olympic Games 2018. Lalu, prestasi Reza Bayu, perenang kelahiran Bekasi 21 Februari 2000, yang berhasil mendekati Fadlan, paska membukukan waktu 16 menit 05.25 detik di nomor 1500 gaya bebas putra. Fadlan meraih emas di nomor sama, setelah menjadi yang tercepat, dengan catatan waktu 15 menit 33.96 detik. Kemudian, aksi atlet nonpelatnas asal Sumatra Utara, Muhammad Fachri Tunjung, yang jadi kampiun nomor 50 meter gaya dada, usai membukukan 28.57 detik. Dia mengalahkan atlet pelatnas, Gagarin Nathaniel Yus, yang hanya mencatatkan waktu 28,89 detik. Jauh dari catatannya saat tampil di Asian Games lalu, 28,37 detik. “Yang penting, kami membuat program latihan dan uji coba untuk SEA Games, sekaligus membuat komposisi terbaik. Teknisnya kami susun lebih dulu dari hasil peringkat pertama dan dua nasional, serta memasukkan limit yang kami tetapkan. Lalu kamu ajukan ke Kemenpora sebagai perenang pelatnas,” ujar dia. Meski sudah mengantongi nama, Harlin mengatakan, hasil ini bukan akhir dari pembentukan tim inti SEA Games 2019. Para perenang masih ditunggu dua event lainnya, yang juga sebagai event seleknas atlet, sampai mendekati proses entry by name SEA Games Manila. “April 2019, kami buat seleksi juga lewat festival akuatik. Pasti nanti komposisinya, bisa berubah lagi. Dan September masih ada seleksi lagi. Jadi memang yang betul-betul siap-lah yang berangkat. Iklim ini penting, agar atlet pelatnas tak merasa sudah aman. Mereka harus terpacu, untuk memberikan perfoma terbaik,” pungkasnya. (Adt)

Abdul Kosim Terjatuh di Panjat Tebing, Jadi Juara Lomba Lari Ekstrem OCR 2018

Abdul Kosim sedang bahagia, wajahnya selalu tersenyum karena dia baru saja menjuarai lomba lari halang rintang super ekstrem, Obstacle Course Race (OCR) Spartan Race, di Johor, Malaysia, pada Minggu (1/12). (spartanrace.my)

Jakarta- Abdul Kosim sedang bahagia, wajahnya selalu tersenyum karena dia baru saja menjuarai lomba lari halang rintang ekstrem, Obstacle Course Race (OCR) Spartan Race. Ajang lari ekstrem yang sedang ngetren ini, digelar di Johor, Malaysia, pada Minggu (1/12). Kosim memenangi nomor Beast (21 km) untuk tingkat Asia Tenggara. “Saya senang sekali, sebab ini prestasi pertama untuk saya, juga Indonesia. Tiga bulan lalu, saya ikut kejuaraan di Putra Jaya, Malaysia, namun hanya bisa 10 besar untuk nomor super atau 13 km,” kata Kosim, pelari asal Bima, NTB, dilansir Tempo.co, pada Kamis (6/12). Kosim sejatinya baru 6 bulan menekuni lari OCR. Sebelumnya dia adalah atlet panjat tebing. Kosim melihat peluang baru berprestasi, setelah dia tersisih dari timnas panjat tebing. Di bawah arahan pelatih Rachmat Rukmantara, Kosim perlahan-lahan menekuni cabang olahraga barunya itu. “Melihat postur Kosim, saya yakin dia mampu berprestasi di lari OCR. Cabang ini tak semata memerlukan daya tahan, namun juga kekuatan dan kelenturan seperti selama ini biasa dihadapi Kosim di panjat tebing,” kata Rachmat, soal pelari berusia 26 tahun itu. OCR adalah lari halang rintang ekstrem yang dibagi dalam 5 nomor dalam setiap lomba, yaitu Sprint (5 km), Super (13 km), Beast (21 km), dan Ultra (50 km). Kosim memenangi nomor Beast. OCR mengombinasikan lari lintas alam, halang rintang, dan panjat tebing. Seorang atlet OCR harus menyelesaikan jarak tertentu dan menaklukkan puluhan rintangan yang sengaja dibikin seperti layaknya pelatihan militer. OCR baru berkembang di Asia Tenggara sekitar 3 tahun terakhir, diawali di Malaysia dan Singapura. “Saya tertantang untuk meraih prestasi lebih tinggi, setelah menang di Johor. Saya ingin bersaing dan diakui sebagai pelari OCR elit dunia,” ujar Kosim bertekad untuk cabang lari yang kini ditekuninya. Lantaran mampu berprestasi bagus di tingkat Asia Tenggara, Kosim lantas direncanakan untuk meningkatkan raihannya di level Asia Pasifik dan Dunia. “Tahun depan Kosim dijadwalkan ikut 3 ajang Spartan Race Asia Pasifik. Kalau dapat sponsor, bukan tidak mungkin dia akan mencoba ke tingkat dunia,” cetus Rachmat. Rachmat menambahkan lari halang rintang ultra OCR ini direncanakan tampil di ajang SEA Games 2019 Filipina sebagai cabang eksebisi. “Ini kesempatan Indonesia menambah medali, jika OCR nantinya dikompetisikan secara resmi di SEA Games atau kompetisi multi cabang lainnya,” pungkasnya soal lomba lari ekstrem jenis baru ini. (Adt)

Dramatis, Tunggal Putri 19 Tahun Asal Solo Naik Ranking 14 Dunia Dan Kandidat BWF Player of The Year 2018

Tunggal putri masa depan Indonesia yang berusia 19 tahun, Gregoria Mariska Tunjung, mencetak sejarah. Jorji, sapaannya, baru saja naik ke ranking 14 dunia. Dan menjadi nominator BWF Player of The Year 2018, dalam kategori Eddy Choong Most Promising Player of the Year, atau pemain yang paling menjanjikan di masa depan. (Pras/NYSN)

Jakarta- Kabar gembira untuk pecinta badminton tanah air, tunggal putri masa depan Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, mencetak sejarah baru kariernya. Ia baru saja naik ke ranking 14 dunia. Jorji, sapaan Gregoria, naik 1 peringkat, dari sebelumnya bercokol di ranking 15 dunia. Hal itu didapat dari daftar ranking terbaru yang disiarkan Federasi Badminton Dunia atau BWF, pada Jumat (6/12). Lonjakan ranking dunia Jorji ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya kejadian dramatis, tumbangnya juara dunia junior 2015 dan 2016, Gao Fangjie, lantaran cedera parah di akhir musim turnamen 2018. Ranking pemain kelahiran Nanjing, China, 29 September 1998 ini merosot drastis, usai absen di sejumlah turnamen premium. Pekan lalu, dia masih memegang ranking 13 dunia, dengan poin 74.679. Namun, di pekan 49 ini, poinnya anjlok hingga menjadi 54.076. Ia harus rela posisinya direbut wakil Thailand, Nitchaon Jindapol. Sebelumnya, tunggal putri kelahiran Phuket, Thailand, 31 Maret 1997 ini, terus membayangi Gao di ranking 14 dunia. Selain kehilangan peringkat 13 dunia, Gao terlempar ke ranking 15. Karena itulah, secara otomatis peringkat Jorji terkerek ke ranking 14 dunia. Meski raihan poinnya masih bertahan di jumlah 51.440. Selain itu, bersama Apriyani Rahayu, Jorji masuk dalam nominasi BWF Player Of The Year 2018. Untuk diketahui, malam penganugerahan yang akan dihelat pada Senin (10/12) sebelum bergulirnya World Tour Finals 2018 terdiri dari enam kategori. Para pemenang nantinya ditentukan langsung oleh BWF Awards Commission. Khusus untuk Apri (sapaan Apriyani) dan Jorji, mereka masuk dalam kategori Eddy Choong Most Promising Player of the Year, atau pemain yang paling menjanjikan di masa depan karena grafik performa mereka yang baik di tahun ini. Bersama Greysia Polii, Apri sudah mengoleksi dua medali emas BWF World Tour 2018 di India Terbuka 2018 dan Thailand Terbuka 2018, medali perunggu Asian Games 2018, dan medali perunggu Kejuaraan Dunia 2018. Bagi Apri, ini merupakan tahun keduanya mendapat nominasi tersebut. “Tahun lalu saya belum bisa menang. Semoga tahun ini bisa menang. Perasaannya masuk nominasi tentu senang karena ada yang mengapresiasi saya, semoga menambah motivasi saya agar dapat prestasi lebih baik lagi,” kata Apri, Jumat (7/12). Sementara itu, walau tak meraih satu gelar pun di BWF World Tour 2018, Jorji layak masuk nominasi ini. Mengawali tahun seniornya, penampilan dara kelahiran Wonogori, Solo, 11 Agustus 1999 ini, terus berkembang. Ia sudah bertengger di rangking top 15 dunia, dan mulai membuat para pemain top dunia kesulitan. Selain Apri dan Jorji, wakil lain yang juga masuk nominasi sebagai pemain terbaik adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Anthony Sinisuka Ginting. The Minions masuk nominasi sebagai atlet putra terbaik, sementara Ginting masuk dalam daftar nama atlet paling berkembang di tahun ini. Nominasi juga diberikan kepada atlet para bulu tangkis, Leani Ratri Oktila, yang merupakan peraih medali emas Asian Para Games 2018 untuk kategori ganda putri SL3-SU5 dan ganda campuran SL3-SU5. (Adt) Daftar lengkap Nominasi BWF Player of The Year 2018 – Male Player of the Year : • Kento Momota (Men’s Singles, Japan) • Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuldo (Men’s Doubles, Indonesia) • Zheng Siwei (Mixed Doubles, China) – Female Player of the Year: • Tai Tzu Ying (Women’s Singles, Taipei) • Huang Yaqiong (Mixed Doubles, China) • Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Women’s Doubles, Japan) – Eddy Choong Most Promising Player of the Year : • Apriyani Rahayu (Women’s Doubles, Indonesia) • He Jiting (Men’s Doubles & Mixed Doubles, China) • Han Chengkai/Zhou Haodong (Men’s Doubles, China) • Gregoria Mariska Tunjung (Women’s Singles, Indonesia) • Goh Jin Wei (Women’s Singles, Malaysia) – Male Para-badminton Player of the Year : • Lucas Mazur (France) • Cheah Liek Hou (Malaysia) • Jack Shephard (England) – Female Para-badminton Player of the Year : • Sujirat Pookkham (Thailand) • Yuma Yamazaki (Japan) • Leani Ratri Oktila (Indonesia) – Most Improved Player of the Year : • Seo Seong Jae (Men’s Doubles & Mixed Doubles, Korea) • Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Women’s Doubles, Japan) • Satwiksairaj Rankireddy/Chiraj Shetty (Men’s Doubles, India) • He Jiting (Men’s Doubles & Mixed Doubles, China) • Anthony Sinisuka Ginting (Men’s Singles, Indonesia)

Bungkam Wakil China 3-1, Timnas Pelajar U-15 Kunci Tiket Final Bali IFC 2018

Pada pertandingan di Lapangan Pecatu, Badung, Bali, Kamis (6/12), Timnas Pelajar U-15 berhasil menaklukkan wakil China, Hubei FA, dengan skor 3-1. Anak asuh Firman Utina ini lolos ke final Bali International Football Championship 2018 Piala Menpora U-15, yang rencananya berlangsung pada Sabtu (8/12). (Kemenpora)

Badung- Timnas Pelajar U-15 memastikan satu tiket final Bali International Football Championship (IBC) 2018, usai di semifinal di Stadion Beji Mandala Pecatu, Badung, Bali, membungkam wakil China, Hubei FA, dengan skor 3-1. Perjuangan anak asuh Firman Utina pada Kamis (6/12) ini tidak mudah, karena harus tertinggal dulu. Gelandang serang Hubei FA, Wang Linjie, sukses melesakkan bola ke gawang tim merah putih pada menit tujuh. Kondisi ini membuat Firman memutar otak untuk menyamakan kedudukan, mengingat lawan mempunyai koordinasi permainan yang cukup rapi. Lewat perjuangan yang keras, Ardi Ardiana mampu menyamakan kedudukan pada menit 23. Semangat pemain Indonesia pun lebih meningkat. “Setelah tertinggal, kami langsung meningkatkan tempo permainan. Kami memanfaatkan kekelahan lawan yang kemarin, Rabu (5/12) baru saja bertanding,” kata Firman, usai pertandingan. Dalam kedudukan sama kuat, hujan turun deras. Kondisi ini membuat permainan bertambah ketat. Beruntung lapangan yang digunakan cukup bagus sehingga tidak ada genangan yang bisa mengganggu jalannya pertandingan. Selain meningkatkan tempo serangan, Firman juga mengaku jika pihaknya sudah mengetahui pola yang digunakan untuk lawan. Kondisi ini mempermudah dirinya untuk memberikan instruksi kepada pemain yang saat itu mendapatkan dukungan dari banyak penonton. “Lawan menggunakan pola 3-5-2 dengan tiga bek sejajar. Itu yang kami maksimalkan melalui serangan sayap,” kata pria masih tercatat sebagai pemain klub Kalteng Putra itu. Dengan mengandalkan kecepatan, akhirnya Timnas mampu menambah dua gol lagi, lewat Ardi Ardiana pada menit 49, dan Mohamad Afif Fathoni di menit 59. Di babak final, Timnas Pelajar yang dimotori oleh Syukran Arabia Samual, akan berhadapan dengan pemenang antara tim Badung-Ragunan (Bara FC) melawan wakil Malaysia, Felda United FC. Laga semifinal yang kedua itu, berlangsung pada Jumat (7/12). Jika Bara FC yang merupakan tim gabungan antara pemain Badung, SKO Ragunan dan PPLP ini mampu memenangkan pertandingan, maka bisa terjadi All Indonesia Final, pada Sabtu (8/12), dalam turnamen yang digagas oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini. (Adt)

Tumbangkan Unggulan Dua Ellena Manaby, Langkah Alivia Mulus Ke Semifinal Astec Open Jakarta 2018

Tunggal remaja putri unggulan dua, Ellena Manaby Yullyana asal PB Djarum Kudus, harus takluk dari pemain non unggulan, Alivia Nadifah Salma (PB Mutiara Cardinal Bandung), dalam laga rubber game, 21-15, 16-21, 21-19, di perempat final Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018 Jakarta, pada Kamis (6/12), di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. (PB Djarum)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal remaja putri PB Djarum Kudus, Ellena Manaby Yullyana, harus mengubur impian naik podium pada kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018. Langkah Ellena, unggulan dua, terhenti di perempat final, pada Kamis (6/12), dalam pertarungan tiga gim, dengan skor 21-15, 16-21, 21-19, dalam tempo 25 menit, atas Alivia Nadifah Salma, pemain non unggulan asal PB Mutiara Cardinal Bandung, di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. “Saya ingin naik podium. Tapi memang target awal adalah perempat final,” ujar Ellena sebelum berjumpa dengan Salma, sapaan Alivia. Sayang langkah juara tunggal putri U-15 di Jaya Raya Indonesia Junior Grand Prix 2018 ini, akhirnya kandas. Pada ajang kelas pemula, Ellena ssebetulnya udah dua kali melangkah hingga masuk ke babak perempat final nomor remaja ini. Pertama saat di ajang Astec Open Batam, dan yang kedua di Astec Open Jakarta ini. Sementara itu, Salma mengatakan bila sejak awal dirinya menargetkan bisa lolos ke babak delapan besar. “Alhamdulillah bisa sampai disini. Ya, step by step dulu. Pasti makin percaya diri karena bisa mengalahkan unggulan. Mental harus lebih siap lagi di laga berikutnya,” ujarnya usai laga. Di semifinal, Jumat (7/12), Salma akan berjumpa dengan Gracia Ruth Kusumastuti Sanyoto, asal klub Daihatsu Candra Wijaya. Ruth sukses memenangi duel atas Dwi Maharani (Eng Hian Badminton Academy), rubber game, dengan skor 23-21, 17-21, 22-20, dalam pertandingan selama 65 menit. “Persiapan lebih maksimal lagi, dan harus optimis. Siapapun lawan harus dihadapi,” cetus remaja putri kelahiran Yogyakarta, 8 Februari 2003 itu. (Adt)

48 Tim Voli Remaja Jakarta Pusat Ramaikan Festival Olahraga Rakyat, Pantau Potensi Atlet Muda

Sebanyak 48 tim bola voli, bakal meramaikan persaingan untuk menjadi yang terbaik di ajang Festival Olahraga Rakyat Sepanjang Tahun (FORST) tingkat Kota Jakarta Pusat, pada 8-9 Desember 2018. (poskotanews.com)

Jakarta- Sebanyak 48 tim bola voli bakal meramaikan persaingan untuk menjadi yang terbaik di ajang Festival Olahraga Rakyat Sepanjang Tahun (FORST) tingkat Kota Jakarta Pusat, pada 8-9 Desember 2018. Nantinya, pada event itu akan mempertandingkan tiga kategori. Yakni, Kelompok Usia (KU) 7-13 tahun putra-putri, dan KU 14-16 tahun putra-putri, serta kategori KU 17-19 tahun. Tedi Cahyono, selaku Kepala Suku Dinas Pemuda dan Olahraga Jakarta Pusat, mengatakan untuk KU 7-13 tahun, akan mengambil tempat pelaksanaan di SMA PSKD 1 Jakarta. “Kalau KU 14-16 dan 17-19 putra-putri, pertandingan dilaksanakan di GOR Senen,” ujar Tedi, di Jakarta, pada Kamis (6/12). Lanjut Tedi, pelaksanaan Festival Olahraga Rakyat Sepanjang Tahun ini merupakan event positif, guna melihat potensi atlet muda. “Pembibitan atlet harus dilakukan sejak dini. Tentu saja sesuai tingkatan kelompok usia, dan berjenjang,” tambahnya. Para pemenang akan mendapatkan apresiasi berupa uang pembinaan. Juara pertama mendapat Rp 4 juta, sedangkan juara dua memperoleh Rp 3,5 juta, dan juara tiga menerima Rp 3 juta. “Nantinya yang menjadi juara, mereka berhak mewakili Jakarta Pusat, berlaga di tingkat Provinsi DKI Jakarta pada 18-20 Desember ini,” tukas Tedi. Event ini merupakan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang dilakukan dari tingkat RT hingga Provinsi. FORST terselenggara dengan adanya Instruksi Gubernur Provinsi DKI Jakarta nomor 18 tahun 2018. Dan ajang FORST hanya boleh diikuti warga usia sekolah yakni setingkat SD (7 – 12 tahun), setingkat SMP (13-15 tahun), setingkat SMA (16-18 tahun). “Festival diselenggarakan secara berjenjang, dari mulai RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya dan Provinsi,” ujar Kepala Suku Dinas Olahraga Jakarta Timur, Eduward Situmeang, beberapa waktu lalu. Menurut Eduward, cabang olahraga yang dilombakan adalah, futsal, tenis meja dan bola voli. Pelaksanaannya digelar bergantian per cabang olahraga. FORST yang diselenggarakanSuku Dinas Olahraga DKI Jakarta ini, dimulai dari cabang futsal, sejak bulan Januari sampai Maret. Selanjutnya, penyelenggaraan dua cabang lainnya, sampai akhir tahun ini. (Adt)

Millennium Aquatic Jakarta Juara Umum Indonesia Open Aquatic 2018, Zahra Perenang Terbaik Junior

Klub renang millennium aquatic berpose setelah memastikan diri sebagai juara umum pada 2nd Indonesia Open Aquatic Championship 2018, di Stadion Akuatik, Senayan, Jakarta, Rabu (5/12). MNA menjadi juara dengan meraih 29 medali emas, 30 perak dan 25 perunggu. (PRSI)

Jakarta- Perkumpulan renang Millennium Aquatic Jakarta keluar sebagai juara umum dalam Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Seluruh Indonesia ke-40 atau KRAPSI 2018 bertajuk 2nd Indonesia Open Aquatic Championship 2018. Bagi Millennium Aquatic Jakarta, ini menjadi kali ketiga secara beruntun menjadi juara sejak 2016. Dalam kejuaraan yang berlangsung di Stadion Akuatik GBK, Jakarta, 1-5 Desember ini, Millennium Aquatic Jakarta menjadi juara dengan mengumpulkan poin terbanyak, 3309. HIU Surabaya berada di urutan kedua dengan mengumpulkan 1900 poin, disusul Bali Pari di peringkat ketiga, setelah mengantongi 1595.5 poin. MNA menjadi juara dengan meraih 29 medali emas, 30 perak dan 25 perunggu. HIU meraih 19 medali emas, 14 perak dan 16 perunggu. Adapun Bali Pari mengoleksi delapan emas, 15 perak serta 16 perunggu. Penentuan poin dihasilkan berdasarkan atlet yang berlaga. Untuk nomor perorangan, sang juara meraih 10 poin, peringkat kedua mengantongi sembilan poin, posisi ketiga delapan poin dan seterusnya hingga posisi 10 mengantongi satu poin. Untuk nomor beregu, juaranya akan mengantongi 100 poin, peringkat dua 90 poin, peringkat tiga 80 poin. Hingga posisi 10 akan mengantongi 10 poin. Aflah Fadlan Prawira yang membela klub Aquarius (Bandung) mengunci titel perenang senior putra terbaik, setelah mengoleksi tujuh emas. Gelar perenang terbaik senior sektor putri, jadi milik AT Vanessae Evato dari klub Belibis (Pekanbaru), yang mengantongi empat emas dan dua perak. Untuk perenang terbaik kelompok umur satu putra, diraih atlet Pari Sakti (Jakarta), Joe Aditya, dengan raihan dua emas dan dua perak. Perenang belia yang membela klub Belibis, Azzahra Permatahani, berhasil mengantongi gelar perenang terbaik kelompok umur satu putri. Zahra yang baru berusia 16 tahun mengoleksi delapan emas dan dua perak, sekaligus memecahkan rekor nasional nomor 200 meter gaya ganti perorangan putri. Ernest Fabian (Unattached) menjadi perenang terbaik putra kelompok umur dua, dengan raihan tiga emas dan tiga perak. Perenang terbaik kelompok umur dua sektor putri diraih perenang ESC (Jakarta), Adelia, dengan koleksi tiga emas. Untuk yang terbaik kelompok umur tiga putra dikantongi Agung Sulaksono Putro yang membela HIU Surabaya. Agung mengantongi tujuh emas dan dua perak. Izzy Dwifaiva dari TH Malang, meraih perenang terbaik putri kelompok umur tiga, dengan raihan empat emas, tiga perak dan satu perunggu. Perenang putra terbaik kelompok umur empat diraih Ilham Surya Saputra, dari klub Jatayu (Denpasar), setelah menghasilkan empat emas, tiga perak dan satu perunggu. Gelar terakhir yakni perenang terbaik kelompok umur empat sektor putri, jatuh ke tangan Luh Made Budiartini dari klub TSC (Badung), dengan raihan empat emas, dua perak, dan satu perunggu. (Adt)

Kejutan, Pebulutangkis Remaja Alivia Nadifah Taklukan Unggulan di Astec Open Championship 2018

Alivia Nadifah Salma (Mutiara Cardinal Bandung/kanan), berhasil membuat kejutan, di babak 16 Besar kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018, pada Rabu (5/12). Ia mengalahkan unggulan tujuh, Siti Sarah Azzahra (PB Exist Jakarta), dalam laga rubber game, 21-19, 19-21, 21-18. (Adt/NYSN)

Jakarta- Pebulutangkis tunggal remaja putri, Alivia Nadifah Salma, menghadirkan kejutan di babak ketiga (16 besar), kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018, pada Rabu (5/12). Wakil Mutiara Cardinal Bandung itu menekuk Siti Sarah Azzahra asal PB Exist Jakarta, dalam drama tiga gim, dengan skor 21-19, 19-21, 21-18, dan mengantarkannya maju ke babak perempat final. Usai laga, Salma sapaanya, mengaku puas bisa menundukkan Sarah, yang merupakan unggulan tujuh di turnamen ini. “Pasti senang bisa menang. Sudah sering ketemu dan kalah terus, kalau lawan Sarah. Terakhir, di Sirnas (Sirkuit Nasional) Tasikmalaya, saya kalah straight game,” ujar Salma di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (5/12). Dara kelahiran Yogyakarta 8 Februari 2003 itu, mengaku tak ada instruksi khusus dari pelatih, mengingat dirinya berstatus non unggulan. “Pelatih bilang saya harus main maksimal. Menurut saya kelemahan lawan itu di backhand sama kurang power. Jadinya, saya kasih bola belakang, dan turunin bola baliknya,” ungkapnya. Menghadapi laga berikutnya, menurut Salma, persiapan yang dilakukan lebih pada mental. “Fokus ke mental. Karenamengalahkan unggulan pasti kepercayaan diri meningkat. Target bisa sampai 8 besar. Tapi step by step dulu,” tuturnya. Senada diungkap Sandi Darma Kusuma, Pelatih dari Mutiara Cardinal Bandung. Ia hanya menekankan kepada anak didiknya itu untuk bermain maksimal. “Saya hanya tekankan, supaya dia main maksimal dan semangat. Jangan jadi beban melawan unggulan. Apalagi kalah terus bila bertemu Sarah, jadi mainnya nothing to lose. Mungkin itu yang membuat Salma menang kali ini,” terang Sandi. Sandi menambahkan bila fisik menjadi fokus utama Salma menghadapi laga selanjutnya. “Evaluasi dari pertandingan tadi lebih pada fisik. Kalau dilihat tadi bolanya ada yang pelan dan cepat, sehingga butuh kesiapan fisik saat bermain di lapangan,” cetusnya. “Kalau soal kepercayaan diri pasti meningkat, apalagi sudah mengalahkan pemain unggulan. Memang tidak ada target khusus di turnamen ini untuk Salma, yang penting step by step dulu,” pungkasnya. (Adt)

Kirim Sembilan Petinju di Kejurnas Tinju Amatir Lampung, Pertina DKI Bidik Dua Emas

Tim tinju DKI Jaya yang bermaterikan sembilan petinju diantaranya petinju wanita nasional berusia 21 tahun, Novita Sinadia, membidik target dua medali emas dalam Kejuaraan Nasional Tinju Amatir Elite 2018, di GOR Saburai, Bandar Lampung, 5-12 Desember. (Pertina DKI)

Jakarta- Tim tinju DKI Jaya membidik target dua medali emas dalam Kejuaraan Nasional Tinju Amatir Elite 2018, di GOR Saburai, Bandar Lampung, 5-12 Desember. “Dalam kejurnas ini, kami menurunkan sebanyak 9 petinju,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PB Pertina) DKI Jaya, Hengky Silatang SH. Tim asal ibukota ini bermaterikan petinju-petinju nasional diantaranya, Vinky Montolalu kelas 75 kilogram, Aldom Sugoro (52 kilogram), Mathias Mandiangan (60 kilogram), serta petinju wanita kelahiran Manado, Novita Sinadia (21 tahun), di kelas terbang 51 kilogram. “Kejurnas ini jadi barometer persiapan menuju Pra-Kualifikasi PON 2029. Target kami adalah meloloskan sebanyak mungkin petinju, di setiap kelas yang dipertandingkan,” tukas Hengky, usai melepas para petinju di Hotel Atlet Century, Jakarta, awal pekan ini. Ia juga mengatakan, tim tinju DKI Jaya melakukan persiapan yang cukup panjang jelang event PON 2020 Papua. Mereka juga telah digembleng di HS Camp Ciseeng selama tiga bulan. Namun, di sisi lain, Hengky menyayangkan bahwa dalam kejurnas kali ini, wasit asal DKI Jaya tidak diakomodir tanpa alasan yang jelas. “Ini kami anggap adalah hal yang tidak masuk akal. Padahal, seharusnya semua daerah mengirim atlet dan juga wasit dalam kejurnas,” paparnya lagi. Terpisah, pelatih tim DKI, Hugo Muslim mengatakan, saat ini peta kekuatan para petinju di kejurnas merata. “Kondisi para petinju sudah siap untuk bertanding. Mereka, tinggal jaga kondisi saja. Dan ajang ini juga dijadikan seleksi untuk pembentukan kerangka tim SEA Games Filipina 2019. Apalagi, peta kekuatan tiap provinsi juga merata,” tandasnya. Kejuaraan Nasional Tinju Amatir Elite 2018 ini, sejatinya sudan mulai di gelar sejak Senin (3/12), di GOR Saburai, Bandar Lampung, Lampung, dan memperebutkan tiga piala bergengsi, yakni Piala Gubernur, Piala Kapolda dan Piala Danrem. (Adt)

e-Sports Indonesia Siap Lakukan Pelatnas SEA Games 2019, Menpora : Atletnya Harus Bebas Doping

Penyelenggara SEA Games Filipina 2019 sudah mengumumkan bahwa e-Sports resmi bakal dipertandingkan dan medalinya dihitung di klasemen. Kini, asosiasi e-Sports Indonesia (IeSPA), siap segera melakukan seleksi atlet dan Pelatnas. (tv5.espn.com)

Jakarta- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menerima perwakilan asosiasi e-Sports Indonesia (IeSPA) pada Selasa, (4/12). Hadir dalam pertemuan itu Eddy Lim selaku ketua IeSPA dan atlet e-sports, termasuk Hendry “Jothree” Handisurya, yang meraih medali perak Asian Games 2018, pada nomor gim “Hearthstone”. Menurut IeSPA, Indonesia memiliki jasa besar dalam perkembangan e-Sports karena berhasil menggelar turnamen e-Sports pertama, di ajang multi-event melalui Asian Games. Atas keberhasilan ini, forum-forum e-Sports internasional percaya bahwa masa depan e-Sports sebagai turnamen olahraga akan cerah. Sejak didirikan pada 2013, IeSPA sudah memiliki badan kepengurusan hingga ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Riau, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, bahkan Papua Barat. IeSPA mengaku akan terus mengembangkan olahraga e-Sports di Indonesia, dengan menggelar banyak kejuaraan di tingkat lokal hingga nasional. Hal ini bertujuan untuk menjaring bakat para atlet e-Sports di Indonesia. “Pemerintah sangat mendukung penuh kejuaraaan e-Sports tingkat nasional bahkan internasonal,” ujar Menpora. Menpora juga menambahkan agar proses pembinaan juga diperhatikan. “Atlet e-Sports adalah atlet yang membela merah-putih sehingga perlu dibina dan diperhatikan fisik, mental, dan lainnya,” tambah Menpora. Senada dengan Menpora, pihak IeSPA juga menyatakan para pemain e-Sports bukan sekadar bermain gim. Mereka adalah para atlet yang punya kondisi fisik dan kondisi otak yang sama baiknya. “Bahkan para atlet e-Sports harus menjaga pola makan dan kandungan gizi mereka. Para atlet tidak boleh makan dan minum sembarangan karena mereka juga dilakukan tes doping, sama seperti atlet lainnya,” ujar Imam. Pembahasan juga mengerucut tentang rencana kualifikasi dan pelatnas SEA Games cabang olahraga e-Sports. Penyelenggara SEA Games Filipina 2019 sudah mengumumkan bahwa e-Sports resmi bakal dipertandingkan dan medalinya dihitung di klasemen. Sejauh ini, baru Mobile Legends: Bang-Bang yang resmi diumumkan sebagai judul games yang dipertandingkan pada SEA Games tersebut. Jenis games lainnya sedang dibahas hingga 15 Desember 2018. “Rencananya untuk kualifikasi, kami akan mengadakan series event. Namun, detailnya seperti apa, masih perlu dimatangkan lagi karena harus menunggu pengumuman jenis-jenis games yang akan dipertandingkan. Sejauh ini, yang sudah pasti ‘kan baru Mobile Legends,” kata Eddy, dilansir Bola.com. Eddy mengatakan rencana kualifikasi e-Sports untuk SEA Games belum diputuskan secara mendetail karena teknisnya pasti berbeda-beda, tergantung jenis game. Namun, Eddy memastikan para atlet yang dikirim ke SEA Games 2019, akan diseleksi berdasarkan hasil kualifikasi. “Jadi, misal ada gamers papan atas, ya tak otomatis langsung lolos. Apalagi jangka waktunya masih panjang, hingga satu tahun ke depan. Masih mungkin ada perubahan kekuatan. Gamer yang terbaik saat ini, belum tentu masih jadi yang terbaik pada pertengahan tahun depan,” urai Eddy. Penyelenggara SEA Games 2019 yang bermitra dengan manufaktur perangkat keras gaming Razer bakal menyediakan enam medali emas, dengan pembagian kategori dua untuk game konsol, dua untuk game PC, dan dua untuk game mobile. “Lagipula, bukan hanya pemain terbaik yang akan dikirim ke SEA Games 2019. Kami akan mencari pemain terbaik, dan bagaimana caranya membuat mereka meraih medali emas. Mungkin dengan cara mengirim pemain menjalani pelatihan ke luar negeri,” imbuh Eddy. EeSPA juga berencana menggelar pelatnas menjelang SEA Games 2018, sama seperti cabang-cabang lainnya. Namun, detail rencana pelatnas juga masih menunggu jenis games yang dipertandingkan, serta ketersediaan dana. (Adt)

Lolos Babak 32 Besar, Pebulutangkis 18 Tahun Asal Bali Bidik Gelar Juara ASTEC Open Championship 2018

Pemain tunggal taruna putra, I Gede Pasek Ekayana (kanan), asal PB Exist Jakarta, membidik gelar juara Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018. Ia lolos ke babak 32 besar usai menundukkan Dimas Setiawan, straight game, 21-12, 21-9, pada Selasa (4/12) di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan. (Adt/NYSN)

Jakarta- Laju pemain tunggal taruna putra, I Gede Pasek Ekayana, belum terbendung pada kejuaraan bulutangkis Daihatsu ASTEC Open Championship 2018. Eka, sapaannya, sukses menjegal wakil PB Bintang Solibad Indonesia, Dimas Setiawan, dua gim langsung, dengan skor 21-12, 21-9, dalam tempo 33 menit. Pada hari kedua pelaksanaan turnamen di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa (4/12), pebulutangkis besutan PB Exist Jakarta itu akhirnya berhasil melaju ke babak kedua (32 besar). “Gim pertama feeling masih belum dapat. Di babak pertama saya dapat bye, jadi sekalian nyoba lapangan, dan bolanya juga tadi agak sedikit lambat. Gim kedua masih sama polanya. Tapi, beruntung banget karena lawan sering mati sendiri bolanya. Dari situ saya tekan terus dan cepatin bolanya,” ujar Eka usai laga. Remaja kelahiran Denpasar, Bali, 12 April 2000 itu, menegaskan bila perjuangan makin berat memasuki babak 8 besar. “Di babak awal mungkin lawan bisa diatasi. Tapi, tantangan terberat itu kalau sudah masuk babak delapan besar. Apalagi kekuatan lawan sangat merata, ini yang membuat persaingan juga semakin ketat,” ungkapnya. Eka berharap dirinya bisa membawa pulang gelar juara di ajang Daihatsu ASTEC Open Badminton Championship 2018. “Saya ditargetin lolos semifinal. Secara pribadi ingin meraih gelar juara disini. Ini kesempatan membuktikan pada klub, yang banyak membantu saya sehingga seperti ini,” tukas alumni SMA Tunas Daud Denpasar, Bali itu. Pemain yang menempati unggulan delapan di turnamen ini bakal menghadapi tantangan wakil Daihatsu Candra Wijaya, Dean Bencha Wijaya, yang menang atas Figo Ar-Rauf (PB Larisa Jakarta), rubber game, dengan skor 12-21, 21-15, 21-19, dalam waktu 55 menit. (Adt)

Timnas U-15 Raih Kemenangan Kedua, Tatap Semifinal IFC 2018 di Bali

Pemain Timnas Pelajar Indonesia U-15, Andrian Rusdianto (merah/20), menggiring bola saat menghadapi tim asal Korea Selatan, Busan FC, pada Bali International Football Championship (IFC) 2018, di Stadion Beji Mandala, Pecatu, Badung, Bali, Selasa (4/12). Pada pertandingan ini, Timnas U-15 menang 3-0. (antara.com)

Badung- Timnas Pelajar Indonesia U-15 meraih kemenangan kedua di Bali International Football Championship (IFC) 2018 Piala Menpora, usai menang 3-0 atas wakil Korea Selatan, Busan FC, di Stadion Beji Mandala, Pecatu, Badung, Bali, Selasa (4/12), meski sempat kesulitan. Hasil ini sangat disyukuri oleh pelatih Timnas U-15, Firman Utina, mengingat sebelumnya timnas buta kekuatan calon lawan. Kondisi berbeda terjadi pada Busan FC yang sudah mengetahui peforma timnas, saat menghadapi menggulung wakil Filipina, Apuesto Bueno United FC, dengan kemenangan 8-1. “Busan sudah melihat kami. Tapi, kami belum liat mereka. Beruntung ada masukan dari banyak pihak. Intinya lawan adalah tim yang disiplin. Semua masukan kami sampaikan ke anak-anak dan ternyata bisa diaplikasikan di lapangan,” ujar Firman, usai pertandingan. Pada awal babak pertama, Firman mengakui jika anak asuhnya kesulitan menembus pertahanan Busan FC yang bermain disiplin dan cepat. Lawan juga terus memancing emosi pemain timnas dengan pressing ketat. Beruntung pemain timnas bermain cukup sabar dalam laga 2×35 menit ini. Dengan kesabaran ini, kata Firman, akhirnya timnas menemukan kelemahan Busan FC yaitu di sektor bek kiri. Berawal dari akselerasi Adrian Rusdianto membuat pertahanan Busan FC terbelah. Umpan datar di mulut gawang mulus dikonversi menjadi gol oleh Rabbani Tasn Siddiq dan membuat timnas unggul 1-0 hingga babak pertama usai. Memasuki babak kedua, Tim merah putih remaja tampil lebih percaya diri. Masuknya Ardi Ardiana yang menggantikan Rabbani menambah daya gedor. Alhasil dua gol tambahan diukir oleh Ardi Ardiana dan Ahmad Fauzi. Keunggulan 3-0 membuat Busan FC frustrasi. Permainan keras menjurus kasar, nyaris memancing emosi Syukran dan kawan-kawan. “Peluang yang ada mampu dimanfaatkan oleh pemain. Terutama untuk gol pertama. Ditarik keluarnya kapten Busan FC yang mengalami cedera, sangat berpengaruh. Jika tidak, mungkin hasilnya tidak seperti ini,” jelas Firman. Kemenangan Busan FC membuat Timnas U-15 keluar sebagai juara Grup A dengan raihan 6 poin. Dengan posisi ini tim yang merupakan pemain gabungan dari juara Piala Menpora U-14 ini, dipastikan lolos ke babak semifinal kejuaraan internasional pertama yang diprakarsai Kemenpora itu. Pada babak semifinal, Timnas Pelajar akan bertemu dengan juara Grup C. Dan tim yang berpeluang lolos adalah tim Bali All Stars. Jika kondisi ini terjadi maka dua tim kuat asal Indonesia, akan saling sikut untuk menuju pertandingan final. “Ini sebetulnya nggak terlalu enak. Auranya jelas berbeda jika dibandingkan melawan tim asing. Tapi kami tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka juga anak-anak kita,” pungkas eks playmaker Timnas ini. (Adt)

Berburu Poin Olimpiade Tokyo, Inkanas Siapkan Karateka Tampil di Shanghai

Menuju Olimpiade Tokyo 2020, Perguruan Karate Institut Karate-Do Nasional (Inkanas), menyiapkan 6 orang atlet tampil di Kejuaraan WKF Karate 1 Series A, di Shanghai, China, pada 7-9 Desember 2018. (istimewa)

Jakarta- Perguruan Karate Institut Karate-Do Nasional (Inkanas), yang dipimpin oleh Ketua Umum Jenderal Pol (Purn) Badrodin Haiti, sudah menyiapkan 6 orang atlet untuk mengikuti Kejuaraan WKF Karate 1 Series A, di Shanghai, China, pada 7-9 Desember 2018. Kejuaraan yang diselenggarakan oleh World Karate Federation (WKF), diikuti oleh 79 negara dari seluruh dunia, yang akan berlomba untuk meraih poin menuju Olimpiade Tokyo 2020. Pada Olimpiade Tokyo ini, Karate pertama kali secara resmi akan ditandingkan di Olimpiade. Untuk mencapai hal ini, karateka Indonesia harus tampil di sejumlah kejuaraan Federasi Karate Dunia mengumpulkan rating poin (seperti bulutangkis). Sebagai syarat tampil pada Olimpiade 2020 Tokyo, para karateka harus bisa masuk 100 besar di peringkat WKF. Agar menjaga peluang para karatekanya bisa tampil di Tokyo, Inkanas memberi kesempatan tampil di ajang WKF, baik kejuaraan dunia, WKF Premier League, maupun Series A. Guna mempersiapkan hal itu, Inkanas selenggarakan Training Camp (TC) sejak 27 November, hingga tanggal keberangkatan pada Selasa (4/12). Selain Mursalim Badoo sebagai pelatih kepala, tim yang bernamakan Inkanas Emas ini, turut didampingi pelatih Yedih Lesmana, Donny Zaiko, Aam Siti Aisyah, dan Official Ricky Muchtar. Mursalim yang juga menjadi manajer mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk pembinaan tahap awal Bidang Prestasi PB INKANAS, di kepengurusan 2018-2021. Sedangkan, atlet-atlet yang akan bertanding adalah Krisda Putri (Kata Perorangan Putri), Dwi Fadhilah (Kumite Putri -50 Kg), Tri Winarni (Kumite Putri -61 Kg), Andi Mesyara Jerni (Kumite Putri -50 Kg), Aqtur Dimarsyah (Kumite Putra -67 Kg) dan Aditya Suhendar (Kumite Putra +84 Kg). Ketua Dewan Guru PB Inkanas, Shihan Ellong Tjandra, memberi dukungan penuh pada ajang ini. “Saya berharap nanti makin banyak atlet PB Inkanas yang dikirim ke Kejuaraan International. Begitu pula, untuk pengiriman Wasit dan Pelatih, dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM),” ujarnya. Hal senada diucapkan oleh Wakil Ketua Bidang Luar Negeri PB Inkanas, Ricky Muchtar. Sesuai arahan Ketua Umum yang merupakan mantan Kapolri, Inkanas sangat fokus untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat Internasional. Inkanas juga akan mengirimkan beberapa Karate-Ka untuk berlatih ke Jepang, di akhir Januari 2019. “Selain pengiriman atlet ke Kejuaraan di Luar Negeri, Inkanas akan mendatangkan 2 orang pelatih, dari Dojo Pusat Jepang yakni Takashi Yamaguchi (DAN VII) dan mantan juara Dunia, Shinji Nagaki (DAN V), pada 15-19 Desember 2018 di Surabaya dan Medan,” kata Ricky, melalui keterangan tertulisnya, Minggu (2/11). (Adt)

Renang Hari Ketiga IOAC 2018, Dara 16 Tahun Kembali Sumbang Emas Nomor 200 Meter Gaya Kupu-Kupu

Perenang 16 tahun dari Riau, Azzahra Permatahani, kembali meraih medali emas nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri, pada hari ketiga Kejuaraan Akuatik Indonesia Terbuka (IOAC) 2018, di Jakarta, Senin (3/12). Total, kini Zahra sudah mengoleksi tiga medali emas. (instagram.com)

Jakarta- Perenang nasional yang baru berusia 21 tahun, Aflah Fadlan Prawira, memborong dua medali emas di nomor 200 meter gaya bebas putra dan 200 meter gaya kupu-kupu putra, pada hari ketiga Kejuaraan Akuatik Indonesia Terbuka (IOAC) 2018, di Jakarta, Senin (3/12). Di nomor 200 meter gaya bebas putra, Fadlan, yang tampil untuk klub Aquarius Bandiung, mencatatkan waktu tercepat 1 menit 50,78 detik diikuti oleh Putra M Randa, MNA Jakarta, di peringkat dua untuk medali perak dengan waktu 1 menit 53,48 detik, dan Ricky Annggawijaya dari klub ESC, di peringkat tiga (1:54,19). Lalu di nomor 200 meter gaya kupu-kupu putra, pemuda kelahiran Cirebon 13 November 1997 ini kembali jadi yang tercepat, dengan waktu 2 menit 3,01 detik. Sejatinya, pada babak kualifikasi, catatan waktu Fadlan dikalahkan oleh Joe Aditya. Namun, Joe justru melorot ke peringkat lima, saat bertarung di babak final. Medali perak nomor diraih oleh perenang Aquarius lainnya, Reza Bayu Prasetyo, yang terpaut tipis dengan Fadlan (02:03,22). Dan perenang Pyramid, Azel Zelmi harus puas dengan perunggu (02:06,41). Di Nomor 200 meter gaya bebas putri, perenang klub MNA Surabya, Ressa Kania Dewi merebut emas dengan catatan waktu 2:05,30. Disusul Prada Hanan, Klub Aquarius, dengan 02:06,47 dan Sagita Putri, klub TCS, di tempat ketiga dengan waktu (02:07,25). Nama Anandia Treciel Vanessae Evato dari klub Belibis, Pekanbaru, menjadi yang tercepat di final nomor 50 meter gaya dada putri. Evato mencatatkan waktu 32,57 detik untuk mengamankan medali emas. Di peringkat kedua ada Adelia dari klub ESC (33,88) dan Ressa Kania Dewi, MNA Surabaya di peringkat tiga dengan waktu 34,24 detik. Dan emas nomor 50 meter gaya dada putra, milik Muhammad Fachri Tanjung, dari klub Boa (28,57). Perenang senior klub ACS, Gagarin Nathaniel Yus, harus puas di posisi dua dengan waktu 28,89. Diikuti oleh wakil klub MNA Jakarta, Dennis Tiwa mengantongi perunggu (29,07). “Setelah Asian Games belum ada latihan,” tukas Gagarin tentang performanya hari ini. “Kejuaraan ini sebagai tolak ukur saya, untuk melihat posisi saya ada di mana, jika turun tanpa latihan yang maksimal,” terangnya. Untuk nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri, perenang 16 tahun dari Riau, Azzahra Permatahani, kembali mencetak hasil gemilang. Zahra, yang berasal dari klub Belibis, Pekanbaru mencatatkan waktu (02:16,39) diikuti Adinda Kusuma Ningrum dari klub Aquarius, (02:18,37) dan Hanna Christina dari klub Paswind di tempat ketiga (02:26,04). “Kalau menurut aku di 200 meter gaya kupu-kupu ini, lebih sedikit berat dari kemarin, saat saya dapet emas di 200 gaya ganti,” ujar dara kelahiran Jakarta, 7 Januari 2002, usai perlombaan. Total, hingga Senin, Siswi kelas XII SMA Cendana Rumbai ini usdah mengoleks tiga medali emas. Hari keempat IOAC 2018, pada Selasa (4/12), akan melombakan cabang olahraga renang nomor 400 Gaya Ganti Perorangan Putra dan Putri, 50 Meter Gaya Kupu-kupu Putra dan Putri, 100 Meter Gaya Dada Putra dan Putri, 4×100 Gaya Bebas Estafet Putra dan Putri, serta 4×100 Gaya Ganti Estafet Campuran. Selain itu, juga akan dipertandingkan partai Polo Air Putra, yakni Jawa Timur kontra Jambi, Sumatera Selatan melawan Merauke, DKI Jakarta A hadapi DKI Jakarta B, Jawa Timur menghadapi Merauke, dan Jawa Barat menjajal Sumatera Selatan. (Adt)

Gebuk Lawan 8-1, Timnas Pelajar U-15 Lolos Rintangan Pertama Bali IFC

Seorang pemain Timnas Pelajar U-15 Indonesia (putih) berebut bola, saat menghadapi tim asal Filipina, Apuesto Bueno United FC, pada event BBali International Football Championship (IFC) 2018 di Stadion Beji Mandala, Pecatu, Badung, Bali, pada Senin (3/12). Anak asuh Firman Utina ini menang dengan skor 8-1. (antaranews.com)

Denpasar- Timnas Pelajar U-15 Indonesia lolos rintangan pertama, usai menggelontor lawannya, Apuesto Bueno United FC asal Filipina 8-1 pada turnamen Bali International Football Championship (IFC) 2018 di Stadion Beji Mandala, Pecatu, Badung, Bali, Senin (3/12). Hasil yang diraih anak asuh Firman Utina ini sesuai dengan target, meski sebelumnya tim yang didukung Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini belum mengetahui dengan detail kemampuan calon lawan. “Saya senang hasil ini. Bukan menang karena banyak gol, namun gol yang tercipta semuanya melalui proses,” kata Firman, usai laga. Menurut dia, gol melalui proses yang dimaksud adalah tidak dilakukan oleh satu pemain saja. Namun buah dari hasil kerja sama yang dilakukan antar lini. Terbukti gol yang tercipta didominasi oleh penyerang dan gelandang serang. “Ini menunjukkan mereka tak main individu. Namun kondisi itu hanya terjadi di babak pertama. Pada babak kedua sedikit mengalami perubahan, sehingga permainan kurang berkembang,” ujar playmaker timnas era 2000’an itu. Mental pemain, kata dia, jadi catatan khusus terutama di babak kedua. Pihaknya menilai kondisi itu akan merugikan jika tak segera dibenahi mengingat pada pertandingan kedua bakal menghadapi tim asal Korea Selatan, Busan FC, pada Selasa (4/12), di Stadion Beji Mandala, Pecatu, Badung, Bali. Sebagai pertandingan pembuka kejuaraan yang baru pertama kali digelar ini, Timnas Pelajar memang langsung menggebrak. I Putu Kresna Putra membuka keran gol Timnas U-15 Indonesia saat laga baru berjalan 10 menit. Tidak lama berselang Ardi Ardiana, menggandakan keunggulan bagi Tim merah putih remaja. Bahkan dia mencetak trigol hingga babak pertama usai. Satu gol lainnya dibukukan Ahmad Fauzi. Apuesto Bueno United FC yang berusaha mengejar ketertinggalan ternyata malah menuai hasil sebaliknya. Laga baru berjalan hitungan detik, pundi gol Indonesia bertambah lewat sontekan Andrian Rusdianto. Itu bukan satu-satunya gol Andrian. Gelandang bernomor punggung 20 itu kembali mengukir namanya di papan skor untuk kali kedua. Pemain yang menimba ilmu di klub Liga Spanyol, CD Leganes U-16, tampaknya belum puas. Remaja asal Sidoarjo yang diturunkan pada babak kedua ini, sukses merangkai trigol jelang 10 menit laga usai. Menjelang pertandingan usai, tim asal Filipina ini mendapatkan gol hiburan. Gol  tercipta melalui tendangan bola mati, yang dilakukan oleh Nathaniel Alden Saludez, setelah sebelumnya pemain belakang Timnas Pelajar melakukan pelanggaran. Kedudukan 8-1 untuk Indonesia bertahan, hingga pertandingan usai. (Adt)

Maret 2019 AIA Championship For Women Siapkan 16 Pesepakbola Putri Tampil di Bangkok

Usai menjalani turnamen nasional AIA Championship For Women 2018, sebanyak 16 pemain terbaik putri terpilih mengikuti kompetisi regional AIA Championship di Bangkok, Thailand. Kompetisi akan berlangsung Maret 2019. (detik.com)

Jakarta- Sebanyak 16 tim sepak bola wanita yang terbagi dalam 4 grup, berpartispasi dalam turnamen nasional AIA Championship For Women 2018 yang diselenggarakan di Lapangan TNI AU, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Sabtu (1/12). AIA Championship For Women merupakan turnamen yang diadakan Asuransi AIA, perusahaan asuransi yang juga sponsor klub sepak bola liga Inggris, Tottenham Hotspur. Dengan mengusung tagar #GakHarusLaki, AIA ingin membuktikan jika sepak bola tak hanya jadi dominasi kaum lelaki, karena para wanita juga bisa berkecimpung di olahraga ini. Kompetisi National AIA Championship for Women sudah selesai di gelar dan 16 pemain terbaik akan tampil di Bangkok, Thailand, pada tingkat regional di bulan Maret 2019. 16 pemain itu nantinya, akan dipersiapkan agar bisa bersaing, dan melaju ke babak final, yang akan digelar di kota London, markas Tottenham Hotspur. Pertandingan yang berlangsung dari jam 8 pagi berakhir pada jam 4 sore, dengan waktu bertanding 2 x 10 menit. Di final, tim The Footbalicious Women menjadi juara, usai mengalahkan tim putri ID. Gen Uni Papua, dengan skor akhir 2-0. Sedangkan posisi ketiga, akhirnya ditempati tim putri Jakarta 69. Selama turnamen, semua pemain dipantau oleh pelatih pengembangan sepak bola usia muda Tottenham Hotspur, yakni Anton Blackwood dan Shaun Harris. Kedua pelatih tersebut ikut mengamati setiap pertandingan, dan memilih 16 pemain terbaik, sepanjang turnamen untuk dibawa ke Thailand. “Ada beberapa kelebihan yang dimiliki pemain Indonesia, terutama teknik dan menikmati permainan. Dengan mengikuti kompetisi, mereka mendapat jam terbang dan bermain sehingga mereka bisa mengembangkan teknik. Termasuk yang AIA adakan, untuk bisa memberikan kesempatan bertanding,” ujar Blackwood. (Adt) Daftar 16 pemain AIA Championship regional di Bangkok, Thailand: 1. Ria Ristiani (LFC Sukabumi) 2. Inka Susilawati (LFC Sukabumi) 3. Rahma Fauzi (LFC Sukabumi) 4. Dhanielle Daphne (Jakarta 69A) 5. Zahra Muzdalifah (Jakarta 69A) 6. Carla Bio Pattinasarany (Jakarta 69B) 7. Sopia (Inspire Indonesia) 8. Lizetta Awani (Inspire Indonesia) 9. Nindy Santrika Hagianti (Putri Wijaya Kusuma Cilacap) 10. Intan Nuraini Ulfah (ID. Gen Uni Papua) 11. Nur Fajriah (ID. Gen Uni Papua) 12. Leni Yuliani (ID. Gen Uni Papua) 13. Rahma Wulan (Footballicious) 14. Retno Ayu (Footballicious) 15. Dhea Yolanda Azalia (Footballicious) 16. Dania (IAIS Soreang)

Tembus Dominasi Korsel, Angelica Irena Terhenti di Final Ajang Soft Tennis Championships 2018

Angelica Irena Lontoh (21 th), satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke babak akhir The 4th Indonesia Soft Tennis Championships 2018, harus mengakui keunggulan atlet Korea Selatan, Jin Sua. Irena, sapaannya, takluk di nomor final tunggal putri dengan skor 2-4. (tribunnews.com)

Denpasar- Kubu tuan rumah terpaksa harus gigit jari dalam ajang The 4th Indonesia Soft Tennis Championships 2018, di Lapangan Tenis KONI Bali Denpasar, Minggu (2/12). Angelica Irena Lontoh, satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke babak akhir, harus mengakui keunggulan atlet Korea Selatan, Jin Sua. Irena, sapaannya, akhirnya takluk di nomor final tunggal putri 2-4. Usai dikalahkan, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Jakarta ini mengakui, dirinya memang kalah teknik dan strategi. “Kami akui, bila teknik Jin Sua lebih matang,” ujarnya. Pemain kelahiran Manado, 17 Oktober 1997 ini, menerankan, dirinya berawal dari tenis lapangan, namun sejak 2014 beralih ke soft tennis. “Saya masuk cadangan skuad timnas Asian Games 2018 lalu,” ucapnya. Timnas soft tennis Indonesia akhirnya merebut satu medali perak dan perunggu pada Asian Games. Dengan hasil itu, memastikan tim Korea Selatan menyapu bersih semua gelar dari enam nomor pertandingan di ajang ini. Sehari sebelumnya, putra putri asal Negeri Ginseng telah berada di podium tertinggi nomor beregu, ganda putra dan putri. Indonesia hanya kebagian tiga perak dari tunggal putri (Angelica) serta beregu putra putri, lima perunggu dari tunggal putra (Risky Saputra), beregu putra dan putri, serta ganda putri (Angelica/Sharon Watupongoh), dan ganda putra (Hemat Bhakti Anugrah/Fernando Daniel Sanger). “Kami tak terkejut dengan hasil ini. Usai Asian Games 2018, Pelatnas Soft Tenis juga berakhir. Semua Atlet dipulangkan dan mereka hanya berlatih sekedarnya di daerah masing-masing.” tutur Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Seluruh Indonesia (PP Pesti), Ferly Montolalu. “Namun kami juga bersyukur dengan hasil yang didapatkan oleh Angelica di turnamen ini. Dia memang bersiap lebih baik karena mengikuti serangkaian kegiatan, mulai dari Kejurnas di Manado, awal November hingga Kejuaraan Dunia Yunior di Korsel, pekan silam,” paparnya. Setelah turnamen internasional di Denpasar, Bali, PP Pesti memiliki agenda untuk melakukan seleksi pembentukan Timnas Merah Putih yang akan berlaga di ajang multi event SEA Games 2019 di Manila, Filipina. “PP Pesti mengundang 20 pemain, putra maupun putri untuk melakukan pemusatan latihan bersama, sebelum diseleksi sebagai kerangka tim Indonesia SEA Games 2019,” tutur Ketua Panitia Pelaksana The 4th Indonesia Soft Tennis Championships, Agus Rosadi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PP Pesti. (Adt) Hasil Final Minggu (2/12) Tunggal Putra Park Jae Kyu (Korsel) v Kim Sun Min (Korsel) 4-1 Tunggal Putri Jin Sua (Korsel) v Angelica Irena Lontoh 4-2 Ganda Putra Park Sang Min / Yoon Hyoung Wook (Korsel) v Park Kyu Cheol /Seo Kyo Weon (Korsel) 5-1 Ganda Putri Ko Eun Gi / Yun So Ra (Korsel) v Cho Hye Jin / Jin Su A (Korsel) 5-0