Masih Belum Punya Pelatih, Dua Agenda Penting Menanti Timnas U-19 Tahun Depan

Fakhri Husaini memberikan instruksi kala Timnas U-16 berlaga melawan Australia. PSSI belum menentukan pelatih Timnas U-19. Padahal, Timnas sudah dinanti dua agenda penting pada 2019. Timnas U-19 akan tampil di Piala AFF U-18 dan Kualifikasi Piala Asia U-19 2020. (AFC.com)

Jakarta- PSSI belum menentukan pelatih Timnas Indonesia U-19. Padahal, Timnas sudah dinanti dua agenda penting pada 2019. Timnas U-19 akan tampil di Piala AFF U-18 dan Kualifikasi Piala Asia U-19 2020. Butuh persiapan matang untuk meraih hasil maksimal di dua ajang tersebut. Piala AFF U-18 tahun depan akan dihelat di kota Hanoi, Vietnam. Turnamen akan digelar sejak 4-18 Agustus. Garuda Nusantara menjadi juara di turnamen ini pada 2018 dan publik sepak bola tanah air tentu berharap melihat Garuda kembali mengangkat piala. Usai Piala AFF, Garuda Nusantara dinanti Kualifikasi Piala Asia U-19 2020. Ajang prestisius di kelompok junior ini, akan dihelat mulai 1-6 Oktober 2019. Skuat U-19 tahun depan kemungkinan besar, akan menggunakan pemain jebolan Timnas U-16 asuhan Fakhri Husaini. Sutan Diego CS tampil bagus dengan menjadi juara Piala AFF U-16 medio 2018 dan lolos hingga perempat final Piala Asia U-16. PSSI hingga kini masih menimbang siapa yang akan menjadi pelatih Timnas U-19. Fakhri meski mendulang prestasi, belum tentu dipercaya menukangi merah putih muda. Thailand merupakan tim terbanyak meraih gelar Piala AFF U-19. Tim negeri Gajah Putih ini empat kali menjadi juara yakni 2002, 2009, 2011 dan 2015. Myanmar berada di urutan dengan raihan dua gelar, yakni pada 2003 dan 2005. Vietnam dan Indonesia masing-masing satu gelar. Sekedar catatan, selain level U-18, event Piala AFF U-15 2019, rencananya bakal diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Lalu, turnamen Piala AFF U-22 digelar di ibukota Kamboja, Phnom Penh, pada 17 Februari-2 Maret. (Adt) Daftar Prestasi Peserta Piala AFF U-18 Thailand Tampil : 13 Prestasi Juara : 2002, 2009, 2011, 2015 Myanmar Tampil : 11 Prestasi Juara: 2003, 2005 Vietnam Tampil : 13 Prestasi Juara : 2007 Indonesia Tampil: 8x Prestasi Juara : 2013 Malaysia Tampil: 11 Prestasi Runner-up : 2003, 2005, 2006, 2007 Laos Tampil : 9 Prestasi Urutan Ketiga : 2002, 2005, 2015 Singapura Tampil : 10 Prestasi Urutan Ketiga : 2003 Timor Leste Tampil : 6x Prestasi Urutan Ketiga : 2013 Kamboja Tampil : 8x Prestasi Penyisihan Grup : 2002, 2007, 2009, 2011, 2013, 2015, 2016 Brunei Darussalam Tampil : 7x Prestasi Penyisihan Grup : 2002, 2005, 2007, 2011, 2013, 2015 Filipina Tampil: 7x Prestasi Penyisihan Grup : 2002, 2003, 2011, 2015, 2016

Slot Kosong Arsitek Timnas U-19, Diisi Fakhri Husaini Plus Plus ?

Status pelatih Timnas U-19 Indonesia masih kosong. Mungkinkah akan diisi oleh mantan Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini? Besar kemungkinan Fakhri akan ditempatkan sebagai pelatih Timnas U-19. Hal ini sesuai pernyataan Wakil Ketua Umum PSSI, Djoko Driyono. (bolasport.com)

Jakarta- Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) resmi merilis jajaran pelatih Timnas Indonesia di berbagai level usia. PSSI, melalui wakil ketua umum, Joko Driyono mengumumkan jajaran pelatih baru Timnas, pada sesi jumpa pers di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (20/12). Ada 4 nama yang tercantum dalam pengumuman tersebut. 4 nama itu adalah Simon McMenemy, Indra Sjafri, Bima Sakti, dan Rully Nere. Simon bertugas melatih Timnas senior Indonesia, Indra menangani Timnas U-22, Bima Sakti menahkodai Timnas U-16, dan Rully Rene akan menjabat arsitek bagi Timnas Wanita Indonesia. Namun, rilisan empat nama ini menimbulkan tanda tanya. Ada sosok Fakhri Husaini, yang justru menghilang dari jajaran nama pelatih tersebut. Padahal, mantan pelatih Timnas U-16 ini, terhitung paling berprestasi selama melatih Garuda Asia. Pelatih yang ikonic dengan kumis dan topinya itu membawa Timnas U-16 angkatan Sutan Diego Zico menjuarai Piala AFF U-16 2018. Fakhri pun sukses membawa Timnas U-16 merengkuh trofi turnamen Jenesys U-16 2018 di Jepang. Selain itu, Fakhri membawa Timnas U-16 menembus babak perempat final Piala Asia U-16 2018. Nama Fakhri, yang sempat santer dikabarkan naik kelas ke Timnas U-19, justru belum menemui kepastian. PSSI mengaku masih ingin melihat program dan profil pelatih lain. “Timnas U-19 belum bisa diputuskan, karena kesinambungan program,” ujar, Joko Driyono, pada Kamis (20/12). Perkembangan Timnas U-19 dan Timnas U-16 pada 2018, mendapat perhatian khusus dari PSSI. Otoritas tertinggi sepak bola di Indonesia itu berencana menyiapkan tim yang besar dalam persiapan, bahkan bisa jadi dibagi dalam tiga wilayah. “Gagasan yang muncul ini mempertimbangkan talenta. Intinya, kami punya pemikiran bila Timnas U-16 dan U-19, tak hanya sekadar diisi 30 orang pemain saja,” kata Jokdri, sapaan Joko Driyono. Atas dasar itulah, PSSI menilai dua tim level junior itu, butuh tambahan ekstra pelatih. “Kami ingin talent pool 100 pemain, yang terbagi ke dalam tiga kelompok. Hal itu dengan mempertimbangkan besaran potensi pesepak bola di Indonesia. Bisa saja, kelompok itu terbagi dalam tiga wilayah, barat, tengah dan timur. Potensi ke arah sana besar,” tuturnya melanjutkan. Untuk saat ini, PSSI menetapkan mantan asisten Luis Milla di Timnas Indonesia, Bima, menukangi Timnas U-16. “Mungkin-mungkin saja, nanti ada enam pelatih untuk Timnas U-16 dan U-19, karena terdiri atas tiga grup,” ucap Jokdri, panggilan akrab Joko Driyono. “Timnas U-16 dan U-19 dalam fase perkembangan. Penting melihat mereka mengangkat piala, tetapi dengan tak meninggalkan talenta yang ada,” ujarnya lagi. Timnas U-16 dan U-19 Indonesia memang tampil meyakinkan pada 2018. Mereka tampil apik di level Asia Tenggara, Piala AFF dan berhasil melaju ke putaran final Piala Asia. (Adt)

Usai Binatama, Primavera dan SAD Uruguay, Kini Timnas U-16 Gelar TC di Inggris per Januari 2019

Sebanyak 25 pemain akan bersama-sama terbang ke Inggris bersama pelatih Timnas U-16 yag baru, Bima Sakti Tukiman, untu menggelar sesi latihan mulai Januari 2019, di di markas klub Liga Inggris, Blackburn Rovers, di London, Inggris. (Pras/NYSN)

Jakarta- PSSI menunjuk Bima Sakti Tukiman menjadi pelatih Timnas U-16 mulai 2019. Penunjukan Bima tak lepas dari proyek jangka panjang PSSI untuk Garuda Asia yang akan menggelar pemusatan latihan di Inggris, tepatnya di Blackburn Rovers. Skuat Timnas U-16 juga sudah dipilih dari kompetisi Liga 1 U-16 Elite Pro Academy. “Kami menunjuk Bima sebagai pelatih Timnas U-16 Indonesia, karena ia terlibat dalam program Garuda Selection yang awal tahun akan terbang ke Inggris dan TC di markas Blackburn Rovers,” kata Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, pada Kamis (20/12). Sebanyak 25 pemain akan bersama-sama terbang ke Inggris bersama Bima, menggelar sesi latihan mulai Januari 2019. “Bima dan pemain Timnas U-16 akan berada di Inggris selama enam atau delapan bulan,” ucapnya menambahkan. Ada dua agenda Timnas U-16, di bawah asuhan Bima pada 2019. Pertama, skuat Garuda Asia itu akan berlaga di Piala AFF U-15 2019 yang digelar di Bangkok, Thailand, pada Juli sampai Agustus tahun depan. Kedua, Bima akan membawa pasukannya menjalani babak kualifikasi Piala Asia U-16 2020. Pada turnamen itu, Merah Putih remaja akan berjuang agar melaju ke putaran final Piala Asia U-16 2020. “Kontrak Bima sekurang-kurangnya satu tahun, tetapi PSSI akan melihat program ini sampai dua atau tiga tahun ke depan,” kata Joko. Bima sejatinya pernah bertugas menjadi arsitek Timnas senior di Piala AFF 2018. Sayang, di bawah pemain asal Balikpapan, Kaltim, skuat Garuda gagal melangkah ke semifinal, setelah hanya meraih empat poin. Nilai itu dari hasil menang melawan Timor Leste, imbang berjumpa Filipina, dan kalah dari Singapura serta Thailand. Sebelum berguru di Inggris, PSSI sebelumnya memiliki berbagai program pelatihan nasional (Pelatnas) jangka panjang di negeri orang. Hasilnya, beberapa pemain timnas yang ikut program jangka panjang itu sempat menyicipi bermain di liga Eropa dan Amerika. Sayangnya, meskipun berlatih dan ikut bergabung dengan liga di Eropa dan Amerika Latin, hal itu belum mampu mendongkrak prestasi timnas Indonesia. Belum lagi, nasib para pemain eks program pelatnas jangka panjang itu, ternyata tidak semuanya sukses. Beberapa ada yang namanya tak terdengar lagi. Program itu diantaranya PSSI Binatama, yang mayoritas saat itu diisi pemain usia 19 tahun dan menimba ilmu di Brasil. Program itu dicetuskan ketika PSSI dipimipin oleh Ali Sadikin, pada 1979. Rully Nere, Subangkit, atau Bambang Nurdiansyah, adalah nama-nama pemain junior saat itu, yang masuk dalam skuat dream team itu. Lalu, pada 1993, PSSI kembali membuat program junior jangka panjang. Kali ini di negeri Pizza, yakni Italia. Berisi pemain berusia 17-18 tahun, program yang tenar dengan nama PSSI Primavera dan PSSI Barreti, berhasil mengukir beberapa pemain besar, seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bejo Sugiantoro, Kurnia Sandy, Bima Sakti, Yeyen Tumena sampai Anang Maruf. Dan Sociedad Anónima Deportiva (SAD) Indonesia adalah program jangka panjang terakhir PSSI, sebelum dibekukan oleh FIFA pada 2013. Program SAD ini berjalan sejak 2008 sampai 2013, di Uruguay. Di era ini, sempat muncul nama remaja potensial berusia 16-17 tahun, seperti Syamsir Alam, Alfin Tuasalamony dan Yericho Christiantoko. Sayang mereka tak bersinar dan meredup karena cedera. (Adt) Agenda Timnas U-16 pada 2019 Training Camp Garuda Selection Timnas U-16 Venue : Blackburn Rovers, Inggris Pelaksanaan : Januari – Juli/Agustus Piala AFF U-15 2019 Tuan rumah: Bangkok, Thailand Pelaksanaan: 22 Juli-9 Agustus Kualifikasi Piala Asia U-16 2020 Pelaksanaan: 14-22 September

Jadi Pelatih Timnas U-16, Bima Sakti Pikul Tugas Berat Siapkan Bibit Muda Garuda

Bima Sakti Tukiman resmi menjadi pelatih Timnas U-16. Perannya dirasa sangat krusial, mengingat reputasinya yang digadang PSSI sebagai calon pelatih masa depan timnas Indonesia. Itu sebabnya, PSSI mempercayakan bibit muda kepada Bima. (Pras/NYSN)

Jakarta- PSSI resmi menunjuk Simon McMenemy sebagai pelatih Timnas senior Indonesia. Pelatih Bhayangkara FC itu, menggantikan peran pelatih Bima Sakti Tukiman. Lalu bagaimana nasib Bima, usai PSSI menunjuk Simon sebagai penggantinya? Pada Rabu (20/12), Komite Eksekutif (Exco) melakukan rapat terakhir hasil evaluasi prestasi Timnas Indonesia sepanjang 2018 di semua level usia. Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono mengatakan, ada tiga keputusan penting dari rapat tersebut. Selain memastikan Simon sebagai pelatih timnas senior, Exco juga mempromosikan Indra Sjafri di skuat U-19 ke timnas U-22, yang selama ini ditangani Luis Milla Aspas dan Bima. Joko melanjutkan, Indra dikontrak selama setahun dan guna membawa Timnas U-22 menuju SEA Games 2019 yang akan berlangsung di Filipina. Sebelum ke SEA Games, mantan pelatih timnas U-19 Indonesia asal Sumatera Barat tersebut akan mendampingi anak-anak asuhnya berlaga di Piala U-22 AFF 2019, Kamboja, dan kualifikasi Piala U-23 Asia 2020. Ketiga, status arsitek Garuda U-16, resmi dijabat Bima yang menggantikan peran pelatih sebelumnya, Fakhri Husaini. “Bima kami percaya jadi salah satu pelatih nasional. Kami mempercayakan dia untuk berada di timnas U-16,” kata Joko di Jakarta. Joko menerangkan, sejak Fakhri mengantarkan Garuda U-16 menjuarai Piala AFF U-16 2018, Fakhri sudah berulang kali menyatakan ingin berhenti sementara. Namun, Timnas U-16 tak mungkin dibiarkan vakum tanpa pelatih. Peran Bima, sejatinya sangat krusial, mengingat reputasinya yang digadang PSSI sebagai calon pelatih masa depan timnas Indonesia. Itu sebabnya, PSSI mempercayakan bibit muda kepada Bima Sakti. “Untuk U-16 dan U-19 ini, PSSI sangat memperhatikan potensi talenta di wilayah Indonesia. Dengan keluasan wilayah kita, kami membaginya dalam zona Timur, Tengah, dan Barat dalam mencari bibit pemain timnas,” kata Joko. Rencana program ini sebetulnya masukan dari Luis Milla kepada PSSI saat masih berada di Indonesia. Joko menerangkan, pelatih U-19 dan U-16 akan mengepalai tim pelatih di tiga zona. Tiap zona punya pelatih lokal yang membentuk timnas U-19 dan U-16 dengan komposisi masing-masing 30 pemain. Artinya, ada 90 pemain timnas level U-19 dan U-16 dari tiga zona yang berpotensi masuk ke tim induk, di bawah Indra dan Bima. Menurut Joko, tujuan dari pembagian zona tersebut, untuk memastikan ketersedian bibit yang layak pemain timnas. “Jadi untuk (rencana) ini, di level usia muda, akan ada sekitar tiga pelatih (zona) dengan satu pelatih koordinator di tingkat nasional,” kata Joko. Karena itulah, meski dinyatakan kontraknya hanya setahun, besar kemungkinan Bima akan berada cukup lama duduk di kursi pelatih Timnas U-16. “Bisa saja dua atau tiga tahun di Timnas U-16,” pungkas Joko. (Adt)

Jadi Tuan Rumah AFF U-16 Girls Championship 2018, Timnas Putri U-16 Justru Tanpa Target

Timnas U-16 Putri berada di grup B bersama Thailand, Kamboja dan Laos, dalam AFF U-16 Girls Championship 2018. (pssi.org)

Palembang- Timnas Putri U-16 yang tampil di AFF U-16 Girls Championship 2018 tak dibebani target untuk menjuarai kompetisi antar negara-negara Asia Tenggara yang diikuti sembilan negara ini, karena terdapat wakil Asia di Piala Dunia Wanita 2015 dan 2019, yakni Thailand. Ketua Asosiasi Sepak Bola Wanita PSSI, Papat Yunisal, dalam konferensi pers di Palembang, Senin (30/4), mengatakan, meskipun bertindak sebagai tuan rumah, Tim Srikandi muda diharapkan mampu menembus semifinal. “Tim sudah disiapkan cukup matang dan berkelanjutan selama lima bulan oleh Pelatih Rully Nere. Saya optimistis dengan bermain di rumah sendiri akan membangkitkan semangat pemain,” kata Papat. Sementara Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, optimistis Timnas Putri U-16 bisa berprestasi. Ia menjelaskan bahwa ajang ini menjadi start awal rangkaian Indonesia menjadi tuan rumah berbagai ajang di tahun 2018 ini. “PSSI ingin Timnas Putri U-16 meraih hasil yang terbaik, apalagi persiapan dilakukan secara intensif dan lama. Dan AFF U-16 Girls Championship 2018 menjadi momentum dimana Indonesia menjadi tuan rumah,” kata Joko, pada Minggu (29/4). “Ini menjadi hal yang positif, karena laga perdana langsung melawan Thailand. Mereka ini akan menjadi masa depan srikandi Timnas Wanita Indonesia. PSSI kini sangat serius dan sepak bola wanita menjadi salah satu fokus perhatian,” jelas pria yang juga Wakil Presiden AFF ini. Sementara itu, pelatih Timnas Putri U-16, Rully Nere mengatakan, suatu kebanggaan bagi dirinya yang bisa mendampingi Indonesia untuk ikut serta pada AFF U-16 Girls Championship. Dirinya pun memberikan apresiasi kepada PSSI terkait perhatian selama ini. “Terimakasih kepada PSSI yang selalu memberikan dukungan penuh kepada Timnas Putri U-16. Apalagi ada momentum yang yang tepat, kemarin kita baru merayakan hari ulang tahun PSSI, dan belum lama ini juga ada hari Kartini,” kata Rully. Indonesia selaku tuan rumah tergabung dalam Grup B bersama Thailand, Kamboja dan Laos. Untuk Grup A terdiri atas, Malaysia, Singapura, Vietnam, Fhilipina, dan Myanmar. Situasi ini membuat Papat yakin, peluang Indonesia untuk lolos grup sangat terbuka. “Ini keberuntungan, Timnas masuk Grup B dengan hanya empat tim, sehingga peluang makin terbuka. Setidaknya runner up di Grup,” ujar eks pesepakbola wanita era tahun 80-an ini. Salah satu pemain Timnas Putri U-16, Syafira Azzahra Ramadhanti mengaku bangga menjadi anggota Timnas Putri U-16. “Rasanya bangga, bisa masuk Timnas. Senang bisa mewakili indonesia di ajang bergengsi ini. Semoga kami menjadi juara pada ajang ini,” kata Syafira. Sedangkan, pelatih Thailand Naruephon Kaenshon mengatakan meski timnya diunggulkan tapi tetap bisa meremehkan tim lain. “Memang benar kami menjadi wakil Asia di piala dunia U-16 tapi bukan berarti kami boleh meremehkan tim lain. Apalagi saat ini terjadi perubahan komposisi pemain hampir 80 persen jika dibanding saat mengikuti Piala AFF U-15, pada 2017 di Laos,” kata dia. Menurutnya, semua tim berpeluang untuk memenangkan kompetisi ini. “Walau persiapan kami sangat minim, hanya satu bulan,” pungkasnya. AFF U-16 Girls Championship 2018 digelar di Palembang, Sumsel, 1-13 Mei 2018, menggunakan dua stadion yakni Stadion Bumi dan Stadion Atletik Jakabaring Sport City (JSC). (Dre/Ham) AFF U-16 Girls Championship 2018 Grup A Malaysia Philipina Vietnam Singapura Myanmar Grup B Indonesia Thailand Kamboja Laos

Jelang Piala Dunia Rusia 2018, PSSI Dukung Anak Indonesia Tampil di F4F

Football for Friendship (F4F) International Children`s Social Project keenam yang digelar pada 8-15 Juni 2018, di Moskow, Rusia. (hargo.net)

Jakarta- PSSI mendukung keikutsertaan anak Indonesia dalam program persahabatan internasional lewat ajang Football for Friendship (F4F) International Children`s Social Project yang keenam, yang digelar pada 8-15 Juni 2018, di Moskow, Rusia. “Program yang bagus. Sepak bola bisa menjadi instrumen penting dan selalu relevan bagi generasi muda di seluruh dunia, untuk mempererat pertemanan demi masa depan yang baik,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Ketum PSSI Joko Driyono, dilansir Antara pada Sabtu (7/4). Football for Friendship (F4F) International Children`s Social Project merupakan program yang digagas perusahaan milik Pemerintah Rusia Gazprom, yang merupakan sponsor Piala Dunia 2018. Event ini dimulai sejak 2013, dan untuk edisi keenam pada 2018 ini, F4F akan melibatkan ratusan anak berusia 12 tahun dari 211 negara dan kawasan. Sebagai informasi untuk Indonesia keterlibatan di edisi keenam ini, menjadi yang pertama. Nantinya, ada satu orang anak yang menjadi duta Indonesia, berpartispasi di kegiatan tersebut. Di Moskow, anak-anak perwakilan negara tersebut akan dilibatkan dalam banyak kegiatan seperti pertandingan sepak bola Football for Friendship World Championship, diskusi dalam forum internasional Football for Friendship Children`s Forum keenam, dan mendapatkan pendidikan tentang nilai-nilai F4F. Khusus Football for Friendship World Championship digelar mulai 12 Juni dan diikuti 32 tim. Dalam satu timnya beranggotakan enam pemain (kiper, dua bek, dua gelandang, dan penyerang), anak Indonesia yang terpilih masuk dalam tim “Grizzly Bear” bersama perwakilan Kosovo, Eritrea, Ghana, Qatar, dan Guyana. Selain berbeda negara, para pemain di tim ini juga berbeda jenis kelamin dan kemampuan fisik. Hal lain yang unik, tim ini akan dilatih oleh pesepak bola muda berusia 14-16 tahun dari berbagai negara. Lainnya, nama-nama ke-32 tim itu, diambil dari hewan-hewan yang terancam punah dari seluruh benua Sementara terkait pemilihan perwakilan anak Indonesia untuk F4F, PSSI menyatakan itu merupakan wewenang dari penyelenggara. Tak ada keterlibatan Timnas Indonesia di dalamnya. “Gazprom yang memimpin inisiatif ini,” tutur Joko. Program F4F telah mendapat dukungan dari FIFA. Menurut Sekretaris Jenderal FIFA Fatma Samoura, F4F menunjukkan jik sepak bola adalah olahraga yang bisa memberikan harapan bagi anak-anak, di seluruh dunia. “Program ini contoh yang sangat bagus. Ada proses bagaimana sepak bola membuka pintu bagi semua anak dari bermacam latar belakang,” kata Fatma. (Art)