Pertajam Rekor Nasional di Jepang, Lalu Muhammad Zohri Lolos Olimpiade 2020

Sprinter berusia 18 tahun Lalu Muhammad Zohri lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang setelah meraih medali perunggu di Seiko Grand Prix 2019, Minggu (19/5). (idntimes)

Jakarta- Sprinter muda Indonesia Lalu Muhammad Zohri berhasil lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. Torehan itu didapat setelah ia meraih medali perunggu nomor 100 meter di ajang Seiko Grand Prix 2019, Osaka, Jepang, pada Minggu (19/5), dengan catatan waktu 10,03 detik. Hasil itu sekaligus mempertajam rekor nasional (Rekornas) yang selama ini dipegangnya yakni 10,15 detik. Rekornas sendiri dipecahkan pria kelahiran Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), 1 Juli 2000 itu pada Kejuaraan Atletik Asia 2019, di Doha, Qatar, Senin (21/4). Rekor sebelumnya dipegang Suryo Agung dengan catatan waktu 10,17 detik serta bertahan selama 10 tahun. Sedangkan medali emas Seiko Grand Prix 2019 diraih Justlin Gatlin (Amerika Serikat). Sprinter dunia pemegang medali emas Olimpiade 2004 dan medali perak Olimpiade 2016 itu membukukan catatan waktu 10,00 detik. Diikuti Yoshinide Kiryu (Jepang) yang mencetak waktu 10,01 detik, dan berhak atas medali perak. Dengan prestasi gemilang yang dicetak Zohri tersebut membuat dirinya dipastikan berlaga di Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang. “Lalu Zohri fix lolos ke Tokyo karena catatan waktunya di Osaka masuk limit. Limit Olimpiade itu 10,05 detik. Kejuaraan di Osaka masuk kualifikasi Olimpiade,” ungkap Hendri Firzani, Humas PB (Pengurus Besar) PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), pada Minggu (19/5). Zohri telah membuktikan dirinya mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Jika konsisten, bukan tidak mungkin, anak didik Eni Nuraeni itu berpulang memberikan medali bagi Indonesia di ajang pesta olahraga terbesar sejagat di Negeri Sakura pada 2020. (Adt)

Zohri Kembali Mengukir Prestasi Emas di Malaysia Open Grand Prix

Lalu Muhammad Zohri. (Foto: Tempo)

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter asal Lombok NTB kembali mengukir prestasi bagi Indonesia pada ajang 1st Malaysia Open Grand Prix di Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Zohri berhasil mencatat waktu 10,20 detik pada nomor 100 meter putra pekan lalu (30/3/19) mengungguli pelari Malaysia, Zulfiqar Ismail dengan catatan waktu 10,41 detik dan pelari asal Taiwan, Wei-Hsu Wang dengan waktu 10,44 detik. Zohri yang berlari di lintasan keenam tersebut pada awalnya sempat tertinggal, hingga ia berhasil berjuang dan menempati urutan terdepan. Sebelumnya pada ajang Singapore Open 2019, banyak sejumlah atlet atletik Indonesia yang juga meraih medali emas, seperti Agustina Mardika manik pada nomor lari 800 meter putri dengan total waktu 2 menit 11,88 detik. Agustina juga menyumbangkan medali emas di nomor estafet 4×400 meter putri bersama Marselina, Sri Mayasari dan Gusti Ayu Ningsih. Mereka berempat berhasil mencatatkan waktu 3 menit 56,52 detik. (IHA)

Cari Bibit Muda Atlet Dari Kejurnas Estafet 2018, Jabar Dominasi 4×100 Meter U-18 Putri dan 4×400 U-20 Putra

Tim estafet 4x400 meter U-20 kontingen Jawa Barat (biru), sukses meraih gelar juara, pada Kejurnas Estafet 2018, di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, pada Minggu (9/12). (istimewa)

Jakarta- Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) mencari bibi muda atlet estafet Indonesia melalui Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Estafet 2018, di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, pada Minggu (9/12). Hal itu dikatakan Eni Sumartoyo, Pelatih Estafet PASI, dalam event ini. Menurutnya, event ini digelar sebagai bagian dari proses regenerasi.”Karena ada atlet-atlet yang sudah harus pensiun. Sehingga yang muda-muda inilah yang nantinya akan menggantikan mereka. Tapi, yang menjadi juara di Kejurnas ini tidak otomatis masuk Pelatnas tahun depan,” ujar Eni. Disebutkannya, masih ada seleksi yang harus dilalui dengan melibatkan tim khusus talent dari PASI guna menilai bakat para atlet muda itu. Selain itu, tambah Eni, dua kejuaraan internasional pada Maret 2019, yaitu SEA Youth di Filipina dan Asian Youth di Hong Kong juga akan menjadi ajang seleksi para atlet muda Indonesia itu. “Dari dua kejuaraan itu, nantinya kami sekaligus menyeleksi siapa saja yang memiliki bakat dan potensi,” terang Eni. Pada Kejurnas Estafet 2018 mempertandingkan tujuh nomor. Yakni 5×80 meter estafet U-14 putra-putri, 4×100 meter estafet U-18 putra-putri, 4×400 meter estafet U-20 putra-putri, dan 4×400 meter estafet senior mix. Sementara itu, kontingen Jawa Barat (Jabar) berhasil mendominasi nomor 4×100 meter estafet U-18 putri dan 4×400 meter estafet U-20 putra. Sedangkan Jawa Timur (Jatim) tampil sebagai yang terbaik di nomor 4×400 meter estafet U-20 putri dan 4×400 meter estafet senior mix. Lalu tim Jawa Tengah (Jateng) sukses membawa pulang juara nomor 4×100 meter estafet U-18 putra. Untuk nomor 5×80 meter estafet U-14 putra, sukses dimenangi sekolah atletik MTR 72. Lalu, sekolah atletik Jayakarta 16 menjadi kampiun di nomor 5×80 meter estafet U-14 putri. (Adt)

Ukir Prestasi Gemilang di Asian Para Games 2018, Atlet Para Atletik Bidik Paralimpiade 2020

Rica Oktavia peraih medali emas Asian Para Games 2018 dari kategori T20 putri. (suara.com)

Jakarta– Tim nasional (timnas) para atletik mengukir prestasi gemilang pada hajatan Asian Para Games 2018, edisi ketiga, pada 6-13 Oktober. Sapto Yogo Purnomo (lari 100 meter kategori T37) dan kawan-kawan sukses memanen 6 medali emas, 12 perak, dan 10 perunggu, di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Yang lebih membanggakan, terdapat tiga atlet yang prestasinya melampaui rekor Asia. Yakni, Rica Oktavia di kategori lompat jauh T20 putri. Kemudian Suparniyati di nomor tolak peluru F20 putri, serta Sapto Yogo Purnomo nomor lari 100 meter T37 putra. Purwo Adi Sanyoto, Pelatih Para Atletik National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, akan mempersiapkan anak didiknya tersebut menuju Paralimpiade 2020, Tokyo, Jepang. “Kami ingin meloloskan para atlet ke Paralimpiade 2020. Tapi, memang untuk bisa menembus ke level dunia itu tidak mudah, terlebih bagi para penyandang disabilitas ini,” ujar Purwo, di Jakarta, Sabtu (13/10). “Karena para atlet ini harus terlebih dahulu mengikuti kejuaraan dunia, ataupun grandprix. Ini demi memenuhi kualifikasi Paralimpiade, dimana jadwalnya baru diumumkan pada 2019,” lanjutnya. Dia meminta kepada Sapto Cs untuk tidak cepat puas atas torehan prestasi tinggi di pesta multi sport bagi para penyandang disabilitas di kawasan Asia itu, yang secara resmi ditutup pada akhir pekan ini. “Kejar prestasi hingga ke level tertinggi,” cetusnya. Sedangkan bagi atlet yang belum mendapatkan medali, Purwo meminta untuk tidak mudah berputus asa, dan harus dijadikan motivasi dalam meraih prestasi yang lebih baik kedepannya. “Secara keseluruhan kami puas dengan pencapaian para atlet di Asian Para Games 2018 ini. Sebab, sesuai dengan target, bahkan ada yang melebihi ekspektasi. Pencapaian kali ini mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya,” tukas Purwo. (Adt)

Sapto Yogo Purnomo, Pemuda Asal Purwokerto Ini Berhasil Memecahkan Rekor Asia dan Meraih Medali Emas di Asian Para Games 2018

Sapto Yogo Purnomo meraih medali emas setelah membukukan catatan waktu 11,49 detik, sekaligus memecahkan rekor Asia, di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Selasa (9/10). (Kemenpora)

Jakarta- Kontingen Merah Putih kembali menambah pundi medali emas di Asian Para Games 2018. Kali ini, Sapto Yogo Purnomo, yang turun di cabang atletik nomor lari 100 meter kelas T37, pada Selasa (9/10). Ia menjadi yang tercepat usai menciptakan catatan waktu 11,49 detik, di Stadium Utama, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, dan berhak meraih medali emas. Sedangkan atlet Iran Davoudali Ghasemi yang terpaut 0,48 detik dari Sapto, harus puas mendapatkan medali perak, sedangkan medali perunggu diraih oleh Ali Anakhli (Arab Saudi), setelah membukukan catatan waktu pada 12,01 detik. Kemenangannya yang diraih Sapto makin lengkap. Sebab, catatan waktu yang ditorehkannya berhasil memecahkan rekor Asia milik Yongbin Liang asal China, dengan catatan waktu 11,51 detik saat berlaga di Paralimpiade 2012, London, Inggris. “Soal pecahkan rekor Asia sebenarnya saya tidak percaya. Yang saya pikirin cuma lari saja dari awal, dan ingin menjadi nomor satu,” ujar Sapto, usai lomba. Atlet kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 17 September 1998 itu menegaskan sejak awal kalau dirinya memang ditargetkan untuk meraih medali. “Terima kasih semuanya, saya senang sekali. Terima kasih juga dukungan dari saudara yang sudah nonton langsung maupun tidak langsung,” jelasnya. “Ini memang sesuai target awal, yakni meraih medali,” tambah Sapto. (Adt)

Anak Penjual Tempe Raih Emas Asian Para Games 2018, Suparniyati: Ini Hasil Buruk

Suparniyati, atlet tolak peluru putri kategori F20 (keterbatasan kecerdasan/IQ), sukses menggenggam medali emas Asian Para Games 2018. Namun, wanita kelahiran Riau, 18 Agustus 1993 itu gagal memecahkan rekor. (Kemenpora)

Jakarta- Suparniyati, atlet tolak peluru putri kategori F20 (keterbatasan kecerdasan/IQ), sukses menggenggam medali emas Asian Para Games 2018. Namun, ia menyebut ini adalah hasil buruk. Mengapa? Meski sukses di pesta multi sport terbesar bagi para penyandang disabilitas se-Asia itu, Suparniyati mengaku prestasinya belum maksimal. Melakoni pertandingan di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada Senin (8/10), wanita kelahiran Riau, 18 Agustus 1993 itu, naik podium utama usai mengunci tolakan sejauh 10,75 meter. Berkaca pada ASEAN Para Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia, ia mampu memecahkan rekor Asia sejauh 11,03 meter. Torehan gemilang di Negeri Jiran itu menggeser rekor sebelumnya milik Nursuhana binti Ramlan (Malaysia) sejauh 10,71 meter yang diciptakan pada 2012. Saat latihan, ia mengaku pernah melempar sampai jarak 11 meter. “Ini buruk karena tak memecahkan rekor saya sendiri, yakni 11,03 meter di ASEAN Para Games 2017,” ujarnya, Senin (8/10). “Ini Asian Para Games pertama saya.Saya sangat bahagia meski tak sesuai keinginan melewati rekor di Malaysia,” lanjutnya. Sementara itu, atlet Indonesia Tiwa harus puas merebut medali perunggu setelah hanya mampu membuat tolakan sejauh 6,44 meter. Dan, Hiromi Nakada membawa pulang medali perak dengan tolakan sejauh 10,29 meter. Sejatinya Suparniyati adalah seorang anak penjual tempe. Hal itu terungkap dari salah satu akun Facebook Dit.PPKLK, “Suparniyati, anak dari seorang penjual tempe asal Riau ini merupakan salah satu atlet tolak peluru asal Indonesia”. “Hebatnya, segala keterbatasan yang dimilikinya tidak membuat Suparni berkecil hati,” tulisnya. Prestasi yang ditorehkan bukanlah produk instan. Ia sudah berlatih keras sejak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Seiring waktu, kemampuannya terasah. Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XIV, Riau 2012, menjadi pengalaman Suparniyati dalam mengasah kemampuan di level nasional. Kemudian berlanjut di ajang yang sama pada 2016 di Jawa Barat (Jabar). Pada Peparnas edisi kesepuluh itu, ia meraih dua medali emas dan satu perak. Sedang sang pelatih Purwoko, menegaskan bila anak didiknya tersebut memang ditargetkan membawa pulang medali. Dan, Suparniyati sukses menjawab tantangan itu. Ia berharap medali emas yang didapat di cabang atletik menjadi virus positif bagi atlet di cabang olahraga lainnya. “Untuk emas pertama hari ini cukup membanggakan,” cetusnya. “Mudah-mudahan bisa menambah motivasi bagi atlet atlet yang bertanding hari ini,” tukas Purwoko. (Adt)

Selisih 61 Detik Dari Jepang, Lalu Muhammad Zohri Cs Raih Perak Asian Games 2018

Lalu Muhammad Zohri bersama Tim Lari Estafet 4x100 Meter putra Indonesia, yang beranggotakan Fadlin Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara, meraih medali perak dalam cabor atletik, usai mengukir catatan waktu 38,77 detik, atau lebih lambat 61 detik dari Tim Putra Jepang. (solopos.com)

Jakarta- Lalu Muhammad Zohri dan kolega harus puas dengan torehan medali perak Asian Games 2018, pada nomor Lari Estafet 4×100 Meter, di Main Stadium, Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Kamis (30/8). Ukiran waktu yang dibukukan kuartet Merah Putih itu terpaut 61 detik dari wakil Jepang, yang dihuni atletnya yakni Ryota Yamagata, Shuhei Tada, Yoshihide Kiryu, Aska Antonio Cambridge. Negeri Sakura itu mengamankan medali emas dengan membukukan waktu 38,16 detik. Sedangkan Zohri Cs mencetak waktu 38,77 detik. Catatan itu memecahkan rekor nasional yang mereka torehkan dalam babak kualifikasi pada Rabu (29/8), yakni 39,03 detik. Selain itu, medali perak 4×100 meter putra kali ini juga menjadi sebuah penantian panjang. Indonesia kali terakhir meraih medali perak Asian Games nomor 4×100 meter putra pada 1966 di Bangkok, Thailand. Pada Asian Games 1966, tim estafet 4×100 meter putra bermaterikan Supardi, Wahjudi, Sugiri, dan Jootje Oroh. Penampilan anak asuh Mohammad Hasan, atau yang akrab disapa Bob Hasan itu, menyakinkan sejak awal pertandingan. Menurunkan Fadlin sebagai pelari pertama, Indonesia mampu membuntuti wakil Jepang. Dan Zohri yang diplot sebagai pelari kedua, juga mampu menjaga konsistensi. Dilanjutkan Eko Rimbawan sebagai pelari ketiga. Akhirnya, pelari Bayu Kertanegara sebagai pelari terakhir berhasil menjejak finish diurutan kedua. Sementara itu, China yang bermaterikan Haiyang Xu, Hong Mi, Bingtian Su, dan Zhouzheng Xu, akhirnya berhak atas medali perunggu setelah hanya mampu menorehkan waktu 38,89 detik. “Kami semua sangat bersyukur kepada Tuhan, hari ini kami diberikan kesempatan untuk melihat lagi berkah-Nya. Akhirnya, tim relay 4×100 meter meraih medali perak,” ujar Tigor M Tanjung, selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) saat konferensi pers. “Sejak beberapa waktu lalu, nomor ini memang kami targetkan untuk meraih medali. Apa yang kami idamkan akhirnya tercapai. Semua berkat kerja keras keempat atlet kita ini,” tutur Tigor. Tim estafet 4×100 meter putra Indonesia berada di bawah asuhan pelatih Eni Sumartoyo Martodihardjo. Eni menyatakan catatan Zohri dkk sudah memenuhi ekspektasinya. Ia merasa sangat bahagia dengan kerja keras yang ditunjukkan anak-anak asuhnya. “Saya tak pernah memprediksikan mereka dapat medali emas, karena ini merupakan olahraga terukur, dan kami tahu bagaimana perkembangan negara lain,” ucap Eni. “Saya hanya mengharapkan mereka bisa berlari dengan catatan waktu di bawah 39 detik dan mendapatkan salah satu medali. Sekarang, dengan raihan perak, saya sudah sangat senang,” tutur dia. Pada Asian Games 2018, cabang olahraga atletik telah menyumbangkan 3 medali untuk Indonesia, yakni dengan rincian 2 perak dan 1 perunggu. Medali perak sebelumnya dipersembahkan Emilia Nova dari nomor 100 meter lari gawang putri. Adapun perunggu diraih Sapwaturrahman dari nomor lompat jauh putra. Total, hingga Kamis (30/8) pukul 19.30 WIB, Indonesia telah mengoleksi 30 emas, 23 perak dan 37 perunggu. (Adt)

Final Lari 100 Meter Putra Rekor Asia Pecah, Lalu Zohri ‘Cukup’ Sumbang Rekor Pribadi Tanpa Medali

Takluk dari sprinter China dan Kenya, pelari Indonesia asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri (400), gagal meraih medali, pada final lari 100 meter putra Asian Games 2018. Ia hanya mampu berada di posisi tujuh, dari delapan finalis, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Sprinter China, Su Bingtian berhasil mencetak rekor Asian Games 100 meter dengan catatan waktu 9,92 detik pada babak final, pada Minggu (26/8), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Catatan tersebut membuat Su Bingtian meraih medali emas di nomor bergengsi atletik tersebut. Pada urutan kedua sprinter naturalisasi Qatar asal Kenya, Tosin Ogunode, berhasil mencatatkan waktu 10,00 detik dan meraih medali perak. Sementara medali perunggul diraih sprinter Jepang Ryota Yamagata dengan catatan waktu yang sama dengan Tosin yaitu 10,00 detik. Sedangkan Usain Bolt kebanggaan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, belum berhasil menyumbang medali pada final pertandingan lari 100 meter putra Asian Games 2018. Zohri memang tidak dibebani target pada event Asian Games 2018. Di partai final ini, Zohri harus puas berada di posisi ketujuh dengan catatan waktu 10,20 detik. Hasil ini lebih baik dari dua sesi sebelumnya, yakni babak kualifikasi dan semifinal. Catatan waktu yang ditorehkan Zohri lebih baik dibanding sprinter Korea Selatan, Kokyoung Kim yang mencatat waktu 10,26 detik. Sebelumnya, pada laga semifinal, pemuda kelahiran Lombok, 1 Juli 2000 ini, meraih peringkat kedua teratas. Zohri mencatatkan waktu 10,24 detik. Torehan ini merupakan catatan waktu yang terbaik, dimiliki Zohri di pentas senior, sebelum sesi final 100 meter. Rekor terbaiknya kala menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yakni 10,18, tak dihitung, karena bukan event senior. Namun, usai diakumulasikan pencapaian waktu, Zohri menempati peringkat ketujuh terbaik. Pada Asian Games 2018, selain sprint 100 meter, Zohri juga akan berlaga di nomor lari estafet 4×100 meter putra, pada Rabu (29/8). (Dre)

Kalah Bersaing Dari Korea, Atlet Lari Gawang 100 Meter Emilia Nova Sumbang Perak

Emilia Nova (putih) tak menyangka, jika debutnya di Asian Games 2018 langsung menyabet medali perak, nomor lari gawang 100 meter putri, cabor atletik Asian Games 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia kembali menambah koleksi satu medali perunggu dan satu perak, lewat cabang olahraga atletik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). Medali perak diraih Emilia Nova, yang bertanding pada nomor lari gawang 100 meter putri. Ini menjadi perak ke-13 untuk Indonesia. Tambahan satu medali perunggu Indonesia diraih Sapwaturrahman yang turun pada nomor lompat jauh putra. Medali ini menjadi perunggu ke-25 untuk kontingen Indonesia. Dalam enam kali percobaan, Sapwaturrahaman mencatatkan jarak terjauh 8.09 meter. Ini adalah catatan terbaik Sapwaturrahaman dalam Asian Games. Sapwaturrahaman kalah dari dua wakil China, yang meraih medali emas (Wang Jianan) dan medali perunggu (Zhang Yaoguang). Wang Jianan mencatatkan jarak 8.24 meter yang menjadi rekor terjauh sepanjang sejarah Asian Games. Di peringkat kedua, Zhang Yaoguang, menorehkan jarak lompatan 8,15 meter. Sementara, Emilia berhasil menyumbang perak, usai di partai final gagal bersaing dengan wakil Korea Selatan, Jung Hye-Lim. Hye-Lim finish terdepan dengan catatan waktu 13,20 detik sekaligus memastikan meraih medali emas. Sedangkan atlet Merah Putih berusia 23 tahun itu, membukukan catatan waktu 13,33 detik dan menjadi runner up Emilia berhak atas medali perak. Sedangkan medali perunggu diperoleh wakil Hongkong Lui Lai Yu. Ia menorehkan catatan waktu 9 detik lebih lambat dari Emilia. Perak yang diraih dara kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1995, merupakan medali pertama Indonesia, dari cabang atletik di Asian Games 2018 Bagi Emilia, Asian Games 2018 merupakan debut pertamanya dan ia tak menyangka meraih medali di nomor yang jadi spesialisasinya itu. Terlebih, atletik merupakan cabang olahraga terukur, dan sulit bisa meraih medali. Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) hanya menarget satu emas pada Asian Games 2018. Ia juga mengaku bersyukur meraih medali perak. “Atletik itu olahraga terukur yang sulit mendapatkan medali. Apalagi untuk tingkat Asia seperti ini,” ungkap Emilia usai lomba. “Terima kasih seluruh masyarakat Indonesia, buat orang tua, pelatih dan pengurus PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) atas doanya,” tambahnya. (Adt)

Gagal ke Kejuaraan Dunia, Lulusan SMAN 6 Bogor Ini Pecahkan Rekornas dan ASG di ASEAN School Games 2018

Idan Fauzan berpose dengan catatan ketinggian lompat galah yang baru saja dipecahkan pada ASEAN School Games 2018, di Stadion Mini Atletik Bukit Jalil Malaysia, Selasa. (Antaranews.com)

Selangor- Idan Fauzan Richsan memecahkan rekor nasional (rekornas) nomor lompat galah pada ajang ASEAN School Games (ASG) 2018, di Stadion Mini Atletik Bukit Jalil, Malaysia, Selasa (24/7), setelah sebelumnya gagal berangkat ke kejuaraan dunia, di Finlandia. Catatan rekor yang dipecahkan adalah tinggi lompatan 5,20 meter, yang ia pegang sendiri, yang dicetak pada kejuaraan uji coba Asian Games 2018. Tinggi lompatan yang dicetak Idan pada kejuaraan khusus pelajar ini adalah 5,30 meter, dan berhak mendapatkan emas ASG 2018. “Iya benar. Ini balas dendam saya paska gagal tampil di kejuaraan dunia,” kata atlet kelahiran Bogor 11 Januari 2000, usai melakukan lompatan. Perjuangannya memecahkan rekor cukup panjang karena diawali dari lompatan 4,60 meter. Setelah sukses, lompatannya naik ke ke 4,80 meter. Pada ketinggian tersebut, ia harus berlomba sendiri, karena para lawan maksimal hanya berada di posisi 4,70 meter. Setelah sukses di 4,80 meter, Idan atas instruksi pelatih kembali menaikkan target di 4,95 meter. Lagi-lagi ia sukses melalukan tugas termasuk pada 5,05 meter dan 5,15 meter. Ketegangan mulai terlihat saat Idan menaikkan tinggi lompatan menjadi 5,25 meter, karena pada percobaan pertama gagal bahkan sempat tertimpa bar. Begitu juga dengan percobaan kedua. Lulusan SMAN 6 Bogor, Jawa Barat ini, kembali gagal melampauinya. Sekedar catatan, target tinggi lompatan ini, lebih tinggi dari rekornas, dan diatas rekor ASG yang hanya berada di angka 5 meter. Pada lompatan ketiga, official tim Indonesia hingga para atlet, memberikan dukungan langsung lebih dekat setelah sebelumnya duduk di tribun. Dengan keyakinan, Idan lari dengan tenang begitu juga saat mengangkat galah. Akhirnya bar setinggi 5,25 mampu dilewati, dan disitulah rekornas pecah. Idan spontan berteriak histeris, juga pendukungnya. Setelah istirahat beberapa saat, pihak panitia menghampiri dan bertanya apa masih melanjutkan perlombaan atau tidak. Namun Idan memilih menaikkan tinggi lompatan, meski hanya 5 centimeter. Persiapan yang sama langsung dilakukan. Idan lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Akhirnya bar setinggi 5,30 meter mampu dilalui dengan satu kali lompatan. Kepanikan justru terlihat pada jajaran pelatih, dengan hasil itu karena belum bisa memutuskan akan lanjut atau berhenti. Mereka lalu berkoordinasi dengan PB PASI dan diputuskan cukup di 5,30 meter. “Sebenarnya saya belum capek. Tapi, semuanya tergantung pelatih dan PB PASI,” kata rekan satu pelatnas juara dunia 100 meter Lalu Muhammad Zohri ini, sebelum melakukan selebrasi dengan teman-temannya. Sementara itu manajer tim atletik Indonesia, Suryo Agung, mengaku sangat mengapresiasi perjuangan Idan, yang getol ingin memecahkan rekor, usai gagal turun di kejuaraan dunia karena masalah teknis. “Sejak awal saya melihat Idan cukup percaya diri dan siap. Mampu memecahkan rekor saya kira cukup wajar dengan kondisinnya saat ini. Semoga pada Asian Games nanti jauh lebih baik,” kata Suryo saat dikonfirmasi. Dengan demikian pada ASG 2018 tim atletik sukses meraih delapan emas atau melebihi target yaitu lima emas. Dari jumlah tersebut ada nomor yang mengawinkan gelar yaitu lari 100 meter putra-putri dan lompat galah putra-putri. (Dre)

Dari Kaki Gunung Ciremai, CAC Kuningan Sanggup Konsisten Cetak Atlet Atletik Nasional Berprestasi

Menpora Imam Nahrawi bangga CAC di kabupaten Kuningan, Jawa Barat, fokus melakukan pembinaan cabang atletik guna melahirkan atlet nasional. (Kemenpora)

Kuningan- Cilimus Atletik Club (CAC) merupakan salah satu klub olahraga yang konsisten mencetak atlet atletik nasional untuk Indonesia. CAC terletak di Desa Kaliaren, Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bahkan, desa ini berada tak jauh dari kawasan kaki Gunung Ciremai. Diantaranya, atlet tolak peluru Eki Febri Ekawati. Ia peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012, Riau. Juga, medali emas Singapore’s AUG 2014, serta medali emas SEA Games 2017, Malaysia. Lalu, atlet Tresna Puspita. Ia pernah tampil di Kejuaraan Dunia Atletik Remaja 2013, dan pemegang rekor nasional (Rekornas) lempar cakram pada 2015 (44,50 meter), serta pemegang Rekornas lontar martil pada 2013 (51,20 meter). Sekedar catatan, ada 14 Atlet Atletik asal Kabupaten Kuningan, turut memperkuat Kontingen Atletik Jawa Barat, pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik 2018, yang berlangsung pada Mei lalu, di Jakarta. “Ini luar biasa. Di sebuah desa di Kabupaten Kuningan, ada klub yang mengembangkan olahraga atletik. Kebanyakan di daerah adalah klub sepak bola, tapi ini ada klub atetik yang bisa melahirkan atlet-atlet nasional,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Rabu (11/7). Ia meminta atlet yang bernaung di CAC untuk terus semangat berlatih agar bisa menjadi atlet nasional yang bisa mengharumkan nama bangsa. “Jangan pernah letih. Terus terapkan apa yang diajarkan pelatih dengan baik. Saya juga ingin kepada adik-adik untuk menyebarkan CAC ini melalui media sosial,” cetusnya. Sementara itu, Asep Ismanto, Ketua CAC Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mengaku bangga mendapat dukungan langsung dari Menpora. “Kami di sini terus mencoba melakukan pembinaan kepada atlet-atlet muda di Kabupaten Kuningan agar bisa berprestasi dan memberikan kontribusi untuk olahraga Indonesia,” tukas Asep. (Adt)

Sesuai Ekspektasi, Jatim Rajai Nomor 4X400 Meter Estafet Mixed Kejurnas Atletik 2018

Kuartet Jawa Timur sukses merajai Nomor 4X400 Meter Estafet Mixed U-20 pada Kejurnas Atletik 2018, di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Kamis (10/5). (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim Jawa Timur (Jatim) sukses merajai Nomor 4X400 Meter Estafet Mixed Usia 20 Tahun (U-20), pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik 2018, di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Kamis (10/5). Kuartet Jatim yakni Aditya Agung, Najila Pepri, Ifan Anugerah dan Revina Irianti, berhasil meraih medali emas usai membukukan catatan waktu 3:41.40 detik. Diikuti tim Jawa Barat (Jabar) yaitu Meisye Claudine, Anandra, Ninit Widianti, dan Raza Cakti Aji. Mereka meraih perak setelah hanya mampu mencetak catatan waktu 3:46.75 detik. Sementara, perunggu menjadi milik tim Jawa Tengah (Jateng) yang terdiri dari Agil Ponco, Cika Mega, Adelina Themba, dan Nova Muhammad setelah mengoleksi catatan waktu 3:47.86 detik. Sedangkan limit waktu di Nomor 4X400 Meter Estafet Mixed ini adalah 3:25.00 detik. “Kami bersyukur karena anak-anak memberikan yang terbaik. Sesuai dengan moto Jatim yakni ‘Juara’. Yang pasti kami puas, sebab sesuai dengan ekspektasi,” ujar Slamet Mulyo, mentor atlit skuat Jatim. Slamet adalah Pelatih Nomor 4X400 Meter Estafet Mixed, sekaligus Pelatih Nomor 400 Meter. “Ekspektasi itu dari hasil latihan, dan hasilnya luar biasa untuk mereka. Harapannya, mereka bisa lebih berprestasi membawa harum nama bangsa dan negara di pentas Internasional,” lanjutnya. Slamet menyebut salah satu anak didiknya di Nomor 4X400 Meter Estafet Mixed, yakni Ifan Anugerah, merupakan atlet nasional. “Ifan itu pernah turun di SEA Games 2017. Insya Allah pada Juni, dia akan tampil di Kejuaraan Junior (Asian Junior Championship) di Jepang. Semoga hasilnya memuaskan,” tutup Slamet. (Adt)

Raih Emas Kejurnas Atletik 2018, Dara Asal Grobogan Bidik Kejuaraan Junior Asia di Jepang

Liviana Rizki (tengah), sprinter Jawa Tengah sukses meraih medali emas Nomor 100 Meter Putri U-20, pada Kejurnas Atletik, di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Senin (7/5). (Adt/NYSN)

Jakarta- Liviana Rizki, sprinter asal Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), siap membidik prestasi gemilang di Asian Junior Championship 2018, di Gifu, Jepang, 7-10 Juni mendatang. Sukses meraih medali emas di Nomor 100 Meter Putri Usia 20 Tahun (U-20), pada Kejurnas Atletik 2018, di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Senin (7/5), menjadi modal berharganya menuju Negeri Sakura. Liviana sanggup menorehkan catatan waktu 12,32 detik. Perak didapat rekan sedaerahnya, Franselina Febiola dengan catatan waktu 12,48 detik. Sedangkan perunggu direbut Jeany Nuraini asal DKI Jakarta setelah membukukan waktu 12,49 detik. “Sebenarnya catatan waktunya hari ini masih jauh dari target, yakni 11,07 detik atau 11,08 detik. Masih banyak yang harus diperbaiki, seperti ayunan tangan masih belum sempurna,” ujarnya usai merayakan keberhasilannya meraih medali emas. Atlet jebolan SMAN 3 Salatiga, Jawa Tengah ini melanjutkan, jika pada pertandingan tersebut dirinya hanya memikirkan bisa menembus catatan waktu yang ditargetkan pelatih. “Saya nggak mikir lawan. Tapi yang saya pikirkan diri sendiri, bagaimana bisa menorehkan catatan waktu, sesuai target dan keinginan pelatih,” ujar dara asal Desa Wates, Kecamatan Kedungjati, Grobogan ini. “Pelatih mewanti-wanti saya agar dapat hasil memuaskan pada Asian Junior Championship di Jepang, pada Juni nanti. Dan saya harus fokus di Kejurnas ini, untuk jadi modal untuk meraih medali di Jepang,” tutup Liviana. (Adt)

Tercepat di Nomor 100 Meter U-20 Kejurnas Atletik 2018, Jawara O2SN 2016 ini Berharap Masuk Pelatnas

Sprinter Jawa Barat, M. Fachrurozi merajai Nomor 100 Meter U-20 di ajang Kejurnas Atletik, di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Senin (7/5). (Adt/NYSN)

Jakarta- Muhammad Fachrurozi, sprinter asal Jawa Barat, menjadi tercepat di Nomor 100 Meter Usia 20 Tahun (U-20), pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik, di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Senin (7/5). Di final, ia membukukan catatan waktu 10,84 detik. Hanya selisih 0,05 detik dari sprinter asal Sumatera Barat (Sumbar) Muktar Bakti Ladia, yang meraih medali perak. Sedangkan medali perunggu menjadi milik sprinter asal Jawa Timur (Jatim) usai menorehkan catatan waktu 10,91 detik. Fachrurozi adalah lulusan SMA Pasundan 2 Bandung, Jawa Barat. Pada 2016 lalu, ia turut mengantarkan kontingen Jabar meraih juara umum pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2016, saat merebut medali emas di nomor yang sama. “Bahagia bisa memberikan yang terbaik untuk Jawa Barat. Sebenarnya target saya memecahkan rekor nasional milik Suryo Agung (10,17). Tapi, memang masih sangat jauh,” ujar Fachrurozi usai pengalungan medali. “Selepas Kejurnas ini, saya akan kembali berlatih secara intensif untuk bisa mewujudkan ambisi pecah Rekornas,” lanjutnya. Selain pecah Rekornas, ia berharap bisa masuk pelatihan nasional (Pelatnas). “Pasti ingin lebih baik lagi dengan catatan yang ditargetkan pelatih. Insya Allah tahun ini bisa dipanggil Pelatnas. Semoga bisa membawa nama Indonesia di pentas internasional,” tutupnya. (Adt)

Bikin Turnamen Sepak Bola Big Stars U-16, Maria Lawalata Gandeng Kemenpora

Turnamen sepak bola Big Stars U-16 memperebutkan Piala Menpora, akan berlangsung pada 3-9 Mei, di kawasan Sunter, Jakarta Utara. (suarakarya.id)

Jakarta- Meski cabang olahraga atletik yang membesarkan namanya, tapi mantan atlet nasional, Maria Lawalata, justru siap membina sepak bola. Melalui Yayasan Big Stars Nusantara, peraih medali emas nomor Marathon putri pada SEA Games 1991, menggelar Turnamen Sepak bola Big Stars U-16 Piala Menpora. “Saya tertarik menggelar turnamen sepak bola karena saat saya menyumbang medali emas pertama bagi Kontingen Indonesia, sepak bola menutupnya dengan perolehan emas, di SEA Games Manila 1991. Dan, saya ingin sepakbola Indonesia berprestasi lebih baik nantinya,” kata Maria di Jakarta, pada Selasa (3/4). Kejuaraan yang melibatkan 24 tim dari berbagai daerah ini akan berlangsung di kawasan Sunter, Jakarta Utara, pada 3-9 Mei. Maria, yang juga pendiri Yayasan Big Stars, mengaku tujuan diadakannya turnamen ini adalah untuk melakukan pembibitan. Semua atlet yang berpotensi, akan dibina oleh Akademi Sepak Bola Big Stars. “Kami ingin seluruh insan sepak bola, para pemangku kepentingan yang terkait dengan olahraga dapat mendukung turnamen ini demi kemajuan prestasi nasional. Semua bentuk dukungan sangat dibutuhkan,” ujarnya. Selain Yayasan Big Stars Nusantara, turnamen ini juga didukung penuh pengusaha minuman sari buah apel, Juni Eko Susanto. “Saya sangat menyenangi sepak bola. Dan, saya akan mendukung penuh niat Maria Lawalata untuk menggelar Turnamen Sepak bola U-16 Piala Menpora,” kata Juni. Sementara itu, Menpora Imam Nahrawi mengatakan kepastian diadakannya Big Stars Piala Menpora ialah setelah Yayasan Big Stars menjadi mitra Kemenpora pada tahun lalu. “Jangan lupa, Big Stars Piala Menpora diharapkan juga bisa ikut menyosialisasikan Asian Games 2018,” tutur Imam. Lewat Asisten Deputi Pembinaan Sentra Olahraga Kemenpora, Teguh Rahardjo mengatakan, pihak Kemenpora hanya mendukung pelaksanaan turnamen remaja ini. Alasannya, panitia tidak mengajukan proposal bantuan dana. “Kita hanya bantu doa saja,. Saat ini, kita belum bisa support dana,” kata Teguh saat menjawab pertanyaan tentang dukungan dana terhadap Turnamen Sepakbola U-16 Piala Menpora. (Art)

Demi Emas Beruntun, Maria Londa Nekad Curi Ilmu di Negeri ‘Paman Sam’

Maria Natalia Londa akan menjalani latihan di Amerika Serikat (AS) mulai April 2018 demi medali emas Asian Games 2018, Jakarta-Palembang. (Adt/NYSN)

Jakarta- Atlet andalan Indonesia cabang atletik nomor lompat jauh, Maria Natalia Londa, terus menempa kemampuannya jelang pelaksanaan Asian Games 2018. Demi mengejar medali emas beruntun di pesta olahraga negara-negara se-Asia, ia bakal mencuri ilmu di Amerika Serikat (AS). Di negeri ‘Paman Sam’ itu, bersama 12 atlet yang dikirim oleh PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), ia akan digembleng oleh Harry Marra, pelatih terbaik 2016 versi Asosiasi Internasional Federasi Atletik. “Saya ingin curi ilmu atlet-atlet disana. Bagaimana cara pemanasan, persiapan, selama pertandingan dan setelah pertandingan,” ujar Marlon, sapaan atlet asal Bali, akhir pekan lalu. Ia mengaku latihan yang dijalaninya saat ini fokus pada perbaikan lompatan. “Semua latihan yang saya jalani untuk memperbaiki prestasi lompatan. Semoga semua berjalan lancar,” sambung wanita kelahiran Denpasar, 29 Oktober 1990. Diketahui, pada saat test event Asian Games 2018, Februari lalu, catatan terakhir lompatan Marlon adalah 6,43 meter. Soal lawan di Asian Games 2018, anak didik I Ketut Pageh itu mengaku bila Vietnam, China dan Kazakhstan bisa menjadi ‘batu sandungan’ meraih emas beruntun di event olahraga terbesar empat tahunan itu. Bukan tanpa alasan. Buktinya, pada saat Asian Games 2014, Incheon, Korea Selatan, ia harus bersaing dengan atlet asal Vietnam Bui Thi Thu Thai (perak), dan atlet asal China Jiang Yanfei (perunggu). “Tapi Korea dan Jepang juga atletnya bagus-bagus. Saya sekarang latihannya juga masih di fase umum. Nanti sama Harry Marra sudah masuk fase khusus. Di fase ini, titik beratnya selain pada fisik juga mental bertanding,” tukas Maria. (Adt)

Diminta Rp 1,4 Miliar Pakai Stadion Madya, PB PASI Batal Gelar Kejurnas Atletik ?

Mohammad Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI, keluhkan biaya Stadion Madya Senayan, yang jumlahnya miliaran rupiah untuk Kejurnas Atletik, pada Mei 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Jelang pelaksanaan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik Remaja, Junior dan Senior, 6-12 Mei 2018, Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), diharuskan membayar Rp 1,4 miliar untuk penggunaan Stadion Madya, Senayan, Jakarta, selama enam hari. “Kami belum tahu Kejurnas jadi atau tidak. Mengapa? Karena kalau kami memakai Stadion Madya untuk Kejurnas, kami diminta membayar Rp 1,4 miliar. Jadi satu hari itu kami keluar dana Rp 300 juta,” terang Muhammad Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3). Dengan dana sebesar itu, menurut suami dari Pertiwi Hasan, terlalu berat bagi PB PASI. Untuk itu, ia berencana mencari alternatif lain soal tempat pelaksanaan Kejurnas ini. “Jadi untuk apa kami keluarkan begitu banyak uang. Lebih baik kami cari lapangan di kampung saja. Kami menggelar Kejurnas bukan untuk mencari uang. Atletik itu tidak ada uangnya,” sambungnya. Dia menyebut Kejurnas ini bakal mendatangkan atlet-atlet junior, remaja, dan pra-remaja agar PB PASI tidak kekurangan dalam mencari bibit-bibit muda dengan bakat yang baik. “Kalau begini terus nanti Asian Games susah dapat medali. Negara lain terus yang dapat, sedangkan Indonesia makin tertinggal,” tambahnya. Bob Hasan menyebut pelaksanaan Kejurnas akan mendatangkan atlet-atlet yang berasal dari daerah. Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah (Jateng), 87 tahun lalu itu, mengaku pihaknya menanggung biaya penginapan, akomodasi, dan makan atlet selama pelaksanaan Kejurnas. “Kemungkinan atlet yang ikut Kejurnas itu jumlahnya sampai ribuan. Bayangkan biaya yang harus kami keluarkan,” tukasnya. Untuk itu, PB PASI akan meminta bantuan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) guna memecahkan persoalan ini. “Solusinya itu kami harus dibantu Menteri Keuangan. Gelora Bung Karno (GBK) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) itu bukan untuk mencari uang. GBK itu dibangun untuk olahraga,” tutup Bob Hasan. (Adt)