Kampiun Kejuaraan Dunia Basket Antar SMA, Tim Basket Sekolah Kharisma Bangsa Dapat Pelajaran Penting Dari Perancis

Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa (putih) sukses jadi kampiun usai menaklukan Paris University Club, 48-35, di laga final Kejuaraan Basket antar SMA, di Paris, Perancis, 6-13 Juli 2018. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa jadi kampiun Kejuaraan Dunia Basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA) Divisi 2, di Paris, Perancis, usai menaklukan tim tuan rumah Paris University Club, pada Kamis (12/7). Di partai puncak, Mohammed Aofar Hedyan dan kolega tampil superior, dan menang dengan skor 48-35. Ari Adiska, Juru Racik Tim, mengatakan pada laga final kontra Paris University Club anak didiknya mampu menerapkan kerja sama tim dengan baik. Selain itu, menurutnya, semua pemain cadangan sangat siap dan bisa saling melengkapi. “Team work berjalan baik. Terjalin saling pengertian diantara sesama pemain. Begitu juga dengan pemain bench (cadangan). Mereka sangat siap serta saling melengkapi. Tidak banyak berbuat kesalahan,” ujar Ari, Minggu (15/7). Pelatih berpostur tinggi tegap itu, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pemain. Ia menyebut beberapa pemain di skuatnya mampu tampil gemilang sejak awal laga hingga ke partai puncak dan meraih juara. “Bila diawal pertandingan stamina jadi bahan evaluasi tim, namun, di final kemarin hal itu bisa kami atasi dengan cara merotasi pemain, meskipun mereka hanya bermain tiga menit, tapi efektif,” ungkapnya. Ia menilai ada beberapa pemain yang penampilannya menonjol seperti Aofar, yang sejak awal bermain sangat bagus. Kemudian Syekhan Manzis Effendy, di awal pertandingan tampil kurang baik, tapi di pertandingan kedua dan terakhir bermain sangat rapi. Lalu, Muhammad Saddam Pandu Sutreisno. Meski posturnya lebih kecil dari teman-temanya, tapi dia banyak melakukan rebound. Tapi, Ari menilai secara keseluruhan semua pemain berjuang, kerja keras, dan bisa mengeluarkam kemampuan yang dimilikinya secara maksimal. Baginya berlaga di Kejuaraan Dunia Basket antar SMA di Paris, Perancis, banyak mendapatkan pelajaran penting bagi dirinya maupun anak didiknya. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu hingga timnya berlaga Kejuaraan Dunia Basket antar SMA, di Paris, Perancis, selama satu pekan. “Kami banyak pelajaran penting selama di Paris. Salah satunya simple basket. Mereka tidak banyak melakukan drible, tidak gaya-gayaan dalam bermain, dan banyak shooting,” tukasnya. “Meski juara Divisi 2, tapi bagi kami ini sebuah kebanggaan yang sangat besar. Banyak ilmu yang bisa didapat. Apalagi, Indonesia berada diperingkat 113, sedangkan Perancis berada di urutan 2 dunia, di bawah Amerika Serikat. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu sehingga kami bisa berlaga di Kejuaraan Dunia Basket antar SMA, di Paris, Perancis, tahun ini,” pungkasnya. (Adt)

Laga Perdana Mulus, Tim Beregu Junior Indonesia Cukur Singapura 5-0

Tunggal junior Indonesia, Putri Kusuma Wardani (kiri), memastikan kemenangan Indonesia 3-0 atas Singapura, usai menaklukan Insyirah Khan, 21-14 dan 21-16, pada Minggu (15/7). (Adt/NYSN)

Jakarta- Indonesia berhasil menang telak 5-0 atas Singapura pada laga perdana nomor beregu Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018, di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Minggu (15/7) pagi. Angka pertama Merah Putih disumbang duet campuran Ghifari Anandaffa Prihardika/Lisa Ayu Kusumawati. Mereka menang dua gim langsung, 21-18 dan 21-12 atas wakil Singapura, Han Zhuo Toh/Zhi Rui Bernice Lim, dalam pertarungan berdurasi 27 menit. Indonesia memimpin 1-0. Di pertandingan kedua, tunggal putra Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay menambah angka bagi Indonesia menjadi 2-0. Ia menang straight game dari Jia Wei Joel Koh, 21-13 dan 21-15, dalam waktu 41 menit. Dipertandingan ketiga, Putri Kusuma Wardani memastikan skor 3-0 atas Singapura. Tunggal junior itu berhasil memenangi duel selama 40 menit dengan Insyirah Khan, dua gim langsung, 21-14 dan 21-16. “Gim pertama masih enak mainnya. Tapi, di gim kedua bermain sedikit tegang. Dan, pelatih nyuruh saya tingkatkan lagi dan kasih tekanan ke lawan. Kebetulan lawan juga tak memiliki daya tahan yang bagus. Sehingga saya bisa unggul dan menang di pertandingan tadi,” ujar dara kelahiran Tangerang, Banteng, 20 Juli 2002 itu. Siswi kelas 11 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 10 Tangerang Selatan (Tangsel) itu, berjanji akan terus memberikan penampilan terbaik pada setiap laga yang dilakoninya. “Di pertandingan selanjutnya, saya akan terus berusaha untuk tampil lebih baik lagi. Masih ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki. Mudah-mudahan bisa terus meraih kemenangan pada setiap laga,” cetus Putri. Dobel Rehan Naufal Kusharjanto/Pramudya Kusumawardana Riyanto, yang turun dipertandingan keempat, menyusul rekan-rekannya dalam meraih kemenangan. Rehan/Pramudya berhasil melumpuhkan perlawanan Wen Xing Abel Tan/Han Zhuo Toh, lewat pertarungan dua gim, 21-19 dan 21-14, dalam laga sepanjang 28 menit. Begitu juga dengan ganda putri, Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Mereka menang mudah atas Insyirah Khan/Zhi Rui Bernice Lim, dalam tempo 23 menit, dengan skor 21-4 dan 21-11. Ricky Soebagja, wakil manajer tim Indonesia, mengungkapkan timnya telah berhitung peluang saat berjumpa Singapura. Dan, hasilnya, sebut Ricky, kemampuan Indonesia masih berada di atas Singapura. “Di atas kertas Indonesia masih di atas. Perkiraan kami Indonesia memang bisa merebut kemenangan 5-0,” tukas Ricky. (Adt)

Remaja 14 Tahun Asal Jawa Timur, Rebut Emas Kejuaraan Dunia Wushu Junior di Brasil

Remaja 14 tahun asal Surabaya, Jawa Timur, Jevon Lionel Koeswoyo, yang turun pada nomor Taijiquan B, merebut medali emas dalam Kejuaraan Wushu Dunia Junior 2018 di Brasilia, Brazil. (Humas PB Wushu Indonesia)

Jakarta- Tim Wushu Indonesia berhasil merebut satu medali emas, empat medali perak, dan lima medali perunggu dalam 7th World Junior Wushu Championships atau Kejuaraan Dunia Wushu Junior ke-VII 2018 di Brasilia, Brasil, 9 hingga 15 Juli Medali emas Tim Wushu Indonesia, dalam keterangan tertulis Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI), pada Sabtu (14/7), dipersembahkan oleh remaja 14 tahun asal Surabaya, Jawa Timur, Jevon Lionel Koeswoyo, yang turun pada nomor Taijiquan B. “Alhamdulillah, sementara ini, tim telah mengumpulkan satu medali emas, empat perak dan lima perunggu,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. yang juga Ketua Umum PB Wushu Indonesia. Airlangga optimistis atlet-atlet wushu Indonesia mampu memberikan penampilan yang terbaik dan dapat menambah perolehan medali. PB Wushu Indonesia mengirimkan 20 atlet wushu junior yang terdiri dari 12 atlet taolu (jurus) dan 8 atlet sanda (tanding). “Mereka adalah atlet-atlet hasil Kejuaraan Nasional Senior dan Junior Piala Raja 2019 di Yogyakarta, pada Maret,” ujarnya. Selain emas, Jevon juga merebut medali perak pada nomor Taiji. Tiga medali perak lain diraih oleh Nadya Permata pada nomor Changquan, Joyceline pada nomor Jianshu, dan Nadya Permata nomor Ginshu A. Lima medali perunggu diperoleh Thalia Marvelina pada nomor Gunshu, Nelson Louis pada nomor Jianshu, Patricia Geraldine pada nomor Jianshu, Ahmad Gifari pada nomor Tombak, dan Joyceline pada nomor Nanquan B. “Tim wushu junior ini akan menjadi cikal bakal pelapis tim senior yang ada sekarang. Kami memberikan kesempatan kepada atlet-atlet junior untuk menimba pengalaman dalam kejuaraan dunia agar tidak ada kesenjangan antara junior dengan senior,” ujar Airlangga. Airlangga mengatakan wushu menjadi salah satu cabang olahraga yang dapat diandalkan oleh Indonesia. Dalam kejuaraan wushu disiplin sanda di Moskow, Rusia pada 16-20 Februari 2018, tim Merah Putih merebut tiga medali emas, dua perak, dan satu perunggu. Sebelumnya pada Kejuaraan Dunia Wushu ke-14 di Kazan, Rusia pada 28 September-3 Oktober 2017 yang diikuti 60 negara, Indonesia mampu mengumpulkan satu medali emas, empat perak, dan satu perunggu. Prestasi ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-4 dengan menurunkan 15 atlet, yang terdiri dari 9 atlet Taoli dan 6 atlet tarung. PB Wushu Indonesia, lanjut Airlangga, akan terus memacu semangat para atlet binaannya agar tetap menjadi kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia. “Sebagai tuan rumah Asian Games 2018, kami harus sukses dalam penyelenggaraan dan prestasi. Wushu akan menjadi salah satu cabang andalan untuk mendulang emas,” katanya. (Ham)

Raih Tempat Ketiga Piala AFF U-18, Ini Statistik Indra Sjafri Besut Egy Maulana Vikri dkk

Striker Timnas U-19 Feby Eka Putra (14), merayakan kemenangan usai membobol gawang Thailand di perebutan tempat ketiga Piala AF U-18. (bolatimes.com)

Jakarta- Timnas U-19 berhasil meraih peringkat ketiga Piala AFF U-18 2018. Keberhasilan ini diraih usai Garuda Muda suskes mengalahkan Thailand 2-1 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu (14/7) sore. Dengan kemenangan itu, Indonesia sukses membayar lunas kekalahan pada laga babak penyisihan Grup A. Dua gol timnas U-19 dibukukan oleh Feby Eka Putra menit ke-35 dan Syahrian Abimanyu menit ke-82. Thailand U-19 hanya bisa memperkecil ketertinggalan lewat Matee Sarakum pada menit ke-85. Pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri meminta maaf pada suporter usai laga. Indra meminta maaf karena gagal memenuhi ekspektasi suporter yang begitu tinggi, pada Egy Maulana Vikri dan kolega. Sekaligus gagal mengulang sukses turnamen yang sama lima tahun silam. “Dengan berakhirnya laga tadi, berakhir kerja kami untuk AFF 2018, yang ditutup di peringkat ketiga di turnamen ini. Berarti sama persis dengan AFF tahun lalu,” ungkapnya usai laga. “Kami sampaikan mohon maaf kepada suporter dan masyarakat Indonesia yang sudah begitu antusias dan punya ekspektasi tinggi terhadap Timnas U-19,” imbuh mantan juru taktik Bali United ini. Indra berharap kegagalan di turnamen tingkat Asia Tenggara ini tak membuat suporter patah semangat. Apalagi sampai berhenti mendukung perjuangan Nurhidayat Haris dan kawan-kawan. “Doakan selalu kami karena ada tugas yang lebih berat yaitu harus berupaya bisa lolos ke Piala Dunia U-20, di kualifikasi Piala Asia U-19, di Gelora Bung Karno nanti,” harap Indra. Tak tercapainya gelar berarti gagal merealisasikan target yang dibebankan oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Semula, federasi sepak bola Tanah Air itu mematok hasil tim merah putih remaja mengulang kesuksesan yang sama, kala terakhir kali meraih gelar pada 2013. PSSI melalui Sekretaris Jenderal, Ratu Tisha Destria, yang hadir di Stadion Delta Sidoarjo, Kamis (12/7) malam, mengaku sudah bertemu dengan staf kepelatihan. Artinya, akan ada pembicaraan setelah event ini rampung digelar. “Evaluasi pasti akan kami lakukan, match per match pun sudah kami lakukan. Dan ada Danurwindo (Direktur Teknik PSSI) hadir menemani tim pelatih. Tak hanya pertandingan sekarang, tetapi dari laga-laga sebelumnya,” kata Tisha. “Untuk laga menghadapi Malaysia ini, kita kalah. Nggak ada istilah hampir menang, kita kalah. Saat ini, mari menyongsong hari esok di pertandingan terdekat dan gaung yang lebih besar. Itu target utamanya di tahun ini,” tutur wanita kelahiran Jakarta 30 Desember 1985 ini. Sesuai penuturan Tisha, Timmas U-19 akan kembali bersiap dengan sejumlah agenda penting selepas Piala AFF. Mulai dari pemusatan latihan, uji tanding, dan pada Oktober mendatang, Nurhidayat Haris dan kolega akan mengahadapi Piala Asia U-19. “Agustus akan ada program lagi untuk Timnas U-19, seperti uji tanding dengan negara-negara di Asia, yang saat ini masih kami finalisasikan siapa lawan-lawannya. Jadi, ditunggu saja,” pungkasnya. (Dre) Catatan Hasil Timnas U-19 Di Bawah Indra Sjafri : Turnamen Toulon 2017 Indonesia 0-1 Brasil Indonesia 0-2 Rep.Ceko Indonesia 1-2 Skotlandia Piala AFF U-18 2017 Indonesia 2-1 Myanmar Indonesia 9-0 Filipina Indonesia 0-3 Vietnam Indonesia 8-0 Brunei Indonesia 2-3 (0-0) Thailand Kualifikasi Piala Asia U-19 2018 Indonesia 5-0 Brunei Indonesia 5-0 Timor Leste Indonesia 0-4 Korea Selatan Indonesia 1-4 Malaysia Piala AFF U-18 2018 Indonesia 1-0 Laos Indonesia 4-0 Singapura Indonesia 1-0 Vietnam Indonesia 1-2 Thailand Indonesia 1-1 (1-3) Malaysia (SF) Indonesia 2-1 Thailand (3rd place)

Huni Grup D Bersama Jepang dan Singapura, Beregu Indonesia Bidik Tiket Final Asia Junior Championship 2018

Tim junior bulutangkis Indonesia ada di Grup D bersama Jepang dan Singapura pada nomor beregu Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018. (twitter)

Jakarta- Tim junior bulutangkis Indonesia ada di Grup D bersama Jepang dan Singapura pada nomor beregu Asia Junior Championship 2018 atau Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2018. Turnamen yang dihelat di Jaya Raya Sport Hall Training Center, Banten, 14-17 Juli 2018, skuat Merah Putih membidik tiket final. Susy Susanti, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sekaligus Manajer Tim Indonesia, mengatakan bila lawan terutama Jepang memiliki kekuatan yang sangat baik. “Jadi kami tetap waspada dan konsentrasi satu-satu. Kalau target kami mudah-mudahan bisa minimal seperti tahun lalu, ke final. Tapi, kami tetap berusaha meningkatkan. Apalagi sebagai tuan rumah, ini mungkin terakhir, karena berikutnya sudah bukan di Indonesia lagi,” ujar Susy, dikutip situs resmi PBSI, Jumat (13/7). Atlet dari 18 negara dipastikan terlibat pada event ini. Berdasarkan data yang dihimpun media dari PB Jaya Raya di Jakarta, Sabtu, total atlet yang berpartisipasi pada kejuaraan yang diselenggarakan di oleh PB Jaya Raya ini 244 atlet yang berusia dibawah 19 tahun. Ketua Harian PB Jaya Raya, Imelda Wiguna dalam keterangan resminya mengatakan, ini merupakan ajang yang bagus untuk para pebulu tangkis muda untuk mengasah kemamouan sekaligus menjadi ajang pembelajaran untuk bekal masa depan mereka. “Ajang ini merupakan kesempatan emas bagi atlet muda Indonesia untuk menunjukkan kemampuan sekaligus meraih prestasi. Tak hanya itu mereka juga belajar dari turnamen ini untuk bekal masa depan mereka di kejuaraan yang lebih besar dan bergengsi,” ujar Imelda. Event ini mempertandingkan nomor beregu dan perseorangan, sehingga membuat even ini harus terselenggara dalam waktu yang cukup panjang. Di laga perdana, pasukan Garuda akan menghadapi Singapura, Minggu (15/7) pada pukul 09.00 WIB. Dan, menghadapi Jepang di hari yang sama pada pukul 16.00 WIB. Susy, mengungkapkan tim junior yang diturunkan pada ajang ini dalam kondisi baik. Meski demikian, istri dari legenda bulutangkis Alan Budikusuma itu, pihaknya akan tetap berusaha meningkatkan kemampuan. Apalagi sebagai tuan rumah dan tahun ini kemungkinan adalah yang terakhir sebelum pindah ke negara lain. Bahkan, tambah Susy, berbagai persiapan telah dilakukan sejak beberapa bulan yang lalu. “Persiapan cukup baik. Dari tahun lalu kami persiapkan dari awal tahun paling tak enam bulan. Mereka latihan intensif, lebih terfokus dan sparing dengan senior juga. Tahun lalu hasilnya cukup baik,” pungkasnya. Turnamen Badminton Asia Junior Championship 2018 merupakan gelaran kedua di PB Jaya Raya. Pada edisi sebelumnya, Indonesia sukses mengunci satu emas lewat pasangan ganda campuran junior Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Ramadhanti di kategori perorangan. (Adt) Pembagian Grup Beregu Asia Junior Championships 2018 : Grup A : Tiongkok, Malaysia, Myanmar Grup B : Thailand, Taiwan, Hong Kong, Macau Grup C : Korea, India, Kazakhstan, Sri Lanka Grup D : Indonesia, Jepang, Singapura

Menang Telak Dari Cakra Sakti, Defense Jadi Catatan Gading Muda U-16

Tim basket putra Gading Muda (putih), menang telak atas Cakra Sakti, 127-18, di GOR Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (12/7). (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim basket putra Gading Muda Kelompok Umur (KU) 16 tahun berhasil meraih kemenangan dari Cakra Sakti (B), pada Kompetisi Bola Basket Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jakarta Barat, Kamis (12/7). Melakoni laga di Gelanggang Olahraga (GOR) Kebun Jeruk, Jakarta Barat, anak asuh Jap Ricky Lesmana itu menang telak dengan skor, 127-18. Sejak awal, skuat Gading Muda memperlihatkan efektivitas dan agresivitas melalui pemainnya. Terlihat jelas hasrat mereka untuk bisa memenangi pertandingan kali ini kontra Cakra Sakti (B). “Kami menang jauh karena lawannya kurang siap. Tapi, tim kami defense masih lemah. Karena tadi beberapa kali ‘kecolongan’ dari tim lawan,” ujar Ricky, pemilik Gading Muda, usai laga. Meski sukses meraih kemenangan, namun Ricky mengungkapkan masih banyak pembenahan yang harus dilakukan. “Ini bukan soal menang dengan skor jauh, tapi ini cara bermain mereka. Defense kami masih jelek, dan harus diperbaiki. Kebetulan lawan tampil kurang baik. laga selanjutnya defense harus diperkuat,” tukas Ricky. (Adt)

Mainkan Laga Final Kontra Paris University Club, Tim Basket Sekolah Kharisma Bangsa Waspadai Center Lawan

Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa (hitam) akhirnya meraih kemenangan atas tim Isso India 2, dengan skor 75-70. (Adt/NYSN)

Jakarta- Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa melaju ke final Play Off B Divisi 2 Kejuaraan Dunia Basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA), di Paris, Perancis. Syekhan Manzis Effendy dan kawan-kawan bakal meladeni perlawanan Paris University Club, Kamis (12/7). Keberhasilan tim basket yang bermarkas di Kawasan Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan itu, bermain di laga pamungkas setelah meraih 3 kemenangan melawan tim dari India, serta menderita kekalahan dari tim tuan rumah di babak penyisihan. “Meski masuk final di Play Off B Divisi 2, kami tetap memberikan apresiasi pada seluruh pemain. Jadi di penyisihan grup, peringkat 1 dan 2 berhak tampil di Play Off A, sedangkan peringkat 3 dan 4 lolos ke Play Off B Divisi 2, masing-masing diambil 6 tim,” ujar Ari Adiska, juru ramu tim. Laga final Play Off B berlangsung pada Kamis (12/7) pukul 21.00 waktu Paris, atau pukul 03.00 WIB. Ari mengungkapkan pihaknya punya gambaran kekuatan lawan. “Lawan memiliki 2 pemain center yang perlu diwaspadai, sebab memiliki postur besar. Jadi pemain harus bisa menutup jalur passing ke pemain center mereka,” lanjutnya. Pada laga itu, Ari menekankan ke anak didiknya untuk bermain lebih sabar, dan berani untuk mengeksekusi bola. “Kami optimis apalagi pemain sudah bisa bermain seperti di Indonesia. Mungkin kekurangan kami adalah soal stamina dan postur tubuh,” cetusnya. Sebelumnya, skuat basket Sekolah Kharisma Bangsa berhasil mengalahkan tim Isso India 2, dengan skor 75-70. “Sangat menegangkan bertemu wakil India. Karena dia akhir kuarter skornya beda tipis. Saat skor kami menang jauh malah terlalu santai. Mikirnya aman dengan skor seperti itu,” terang Syekhan. Sementara itu, Mohammed Aofar Hedyan, Point Guard, menjelaskan dirinya memiliki tanggung jawab besar mengatur tempo permainan. “Untuk game ketiga kemarin saat lawan India, kami semua bermain bagus. Tapi, kami sedikit lengah untuk defence, dan game ketiga ini bisa menjadi pelajaran bagi tim untuk lebih fokus,” tukas Aofar. (Adt)

Jaga Konsistensi Prestasi, Pemerintah Bakal Kawal Lalu Muhammad Zohri Hingga Level Senior

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan mengawal prestasi Lalu Muhammad Zohri hingga ke level senior. (Adt/NYSN)

Jakarta- Muda dan berprestasi. Itulah sosok Lalu Muhammad Zohri. Berangkat ke Tampere, Finlandia, mengikuti Kejuaraan Dunia Atletik Under (U) 20 Tahun, tanpa ekspektasi. Memegang prinsip, berpartisipasi dahulu. Menang kalah soal nanti. Terlebih, ia memulai laga dari lintasan 8. Maklum, bukan favorit juara. Berbeda dengan pesaingnya duo Amerika Serikat (AS), Anthony Schwartz dan Eric Harrison. Mereka berada di lintasan tengah karena memang difavoritkan menjadi kampiun di ajang ini. Usai pistol start diletuskan, semua berjalan biasa, para sprinter tampak bersaing ketat. Namun, di detik-detik akhir, remaja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 1 Juli 2000 itu mampu melesat. Mengukir catatan waktu 10,18 detik, ia finish terdepan. Remaja yang sehari-hari disapa Badok itu sukses menenggelamkan pamor sprinter unggulan Negara Paman Sam itu yang mencetak waktu 10,22 detik. “Tidak hanya disini (Kejuaraan Dunia Atletik U-20 Tahun). Saya ingin terus berprestasi. Alhamdulillah, banyak yang mengapresiasi prestasi saya. Semoga tidak ada yang berubah dengan saya. Saya tetap Zohri yang Insya Allah, tidak sombong. Saya akan terus berlatih meraih prestasi lebih tinggi lagi,” ujar sprinter yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, NTB, lewat sambungan telepon dengan Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Jumat (13/7). Dan, demi menjaga konsistensi prestasi sensasional sprinter berusia 18 tahun itu, pemerintah berjanji mengawal Zohri hingga ke level senior. Zohri juga diharapkan memiliki motivasi tinggi untuk menjadi pelari tercepat di dunia. “Menjaga prestasi hingga seperti ini, Zohri harus dilatih dengan pelatih yang tepat serta program latihan yang baik serta berkesinambungan. Sehingga prestasinya bisa terjaga hingga ke level senior. Pemerintah akan terus mengawal Zohri,” terang Imam. “Harapannya masyarakat terus memberikan dukungan untuk Zohri yang saat ini berada di PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) menjalani Pelatnas (pemusatan latihan nasional) jangka panjang. Selain itu, pelatihan yang dijalani harus menerapkan sport science secara tepat. Sehingga makin termotivasi menjadi pelari tercepat di dunia,” tambah menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu. (Adt)

Ulangi Kejutan, Ganda Kembar 17 Tahun Asal DKI Jakarta Lolos Final Women’s Circuit 2018

Duet kembar Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina melaju ke final turnamen Women’s Circuit 2018, usai menekuk ganda China, Zhima Du/Shou Na Mu, lewat partai tiga set 3-6, 6-2, (10-5). (antaranews.com)

Jakarta- Ganda putri Indonesia yang juga saudara kembar, Fitriani Sabatini/Fitriana Sabrina, lolos ke final turnamen tenis internasional bertajuk PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018. Dalam laga semifinal di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Jawa Tengah, Kamis, keduanya mengalahkan duet China, Zhima Du/Shou Na Mu. Ganda remaja 17 tahun asal DKI Jakarta itu unggul lewat partai tiga set, melalui super tie break 3-6, 6-2, (10-5). Keduanya bakal melawan gado-gado Indonesia/Jepang, Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno, yang akan digelar di Lapangan Gelora Manahan Solo, Jumat (13/7), pukul 14.00 WIB. Ana/Ani sempat kalah pada set pertama. Ganda Indonesia ini sering mengalami kesalahan sendiri dengan bola keluar, sehingga mengakui keunggulan lawan dengan skor 3-6. Keduanya bermain lebih sabar di set kedua sehingga mampu menang 6-2. Pada pertandingan set ketiga dilakukan super tie break dan akhirnya dimenangi Ana/Ani dengan 10-5. “Saya harus bermain sabar melawan pasangan Tiongkok itu. Setiap bola dari lawan berusaha dikembalikan dan lawan akhirnya mati sendiri,” kata Ani, usai pertandingan. Sejatinya, pasangan remaja ini meladeni pemenang laga unggulan utama, Aldila Sutjiadi (Indonesia) dan Mana Ayukawa (Jepang), kontra duet Indonesia Jepang lainnya, Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno. Sayangnya, partner Aldila, yakni Ayukawa, mengalami cedera pergelangan tangan kanan paska menjalani laga semi final tunggal. Unggulan pertama ganda itu pun memberikan kemenangan tanpa tanding bagi pasangan Rifanty/Okuno. Namun, masuk final di nomor ganda ini menjadi berkah bagi kedua petenis ini, karena mereka kandas di perempat final nomor tunggal. Rifanty harus menyerah dari petenis Zhima Du (Tiongkok) dengan straigt set 4-6 4-6, sedangkan Okuno yang merupakan unggulan ketiga, tersingkir dari tangan senegaranya, Ayukawa, 0-6 6-4 3-6. (Ham)

Lampu Stadion Mati Saat Adu Penalti, Timnas U-19 Ditekuk Malaysia Dan Terhenti Dari Piala AFF U-18

Striker Timnas U-19 Egy Maulana Vikri (10), gagal membawa timnya ke babak final Piala AFF U-18, usai takluk adu penalti 1-3 dari Malaysia U-19, di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Kamis (12/7) malam. (detik.com)

Jakarta- Timnas U-19 tersingkir dari semifinal AFF U-18 Championship, usai kalah dari Malaysia U-19, melalui drama adu tendangan penalti 1-3, di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Kamis (12/1) malam. Indonesia kalah adu penalti setelah tiga eksekutor yakni Witan Sulaeman, Firza Andika, dan Hanis Saghara Putra gagal melesakkan bola ke gawang Malaysia. Pada babak pertama, Indonesia sempat unggul 1-0 berkat gol penalti Egy Maulana Vikri saat laga baru berusia dua menit. Malaysia lalu menyamakan skor menjadi 1-1 melalui gol tandukan kapten Malaysia Muhammad Syaiful memanfaatkan sepak pojok rekannya. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum. Memasuki babak kedua, Timnas Indonesia terus menekan pertahanan Malaysia. Skuat arahan Bojan Hodak juga mulai kesulitan mengembangkan permainan menghadapi serangan demi serangan para pemain Garuda Muda. Tampilnya Rivaldo Todd Ferre pada awal babak kedua menggantikan Rafli Mursalim mulai memberikan daya gedor Garuda Muda di lini depan. Meski terus menekan di pertahanan Malaysia, Indonesia masih juga kesulitan mengarahkan tendangan yang tepat mengarah ke gawang Malaysia. Anak asuh Indra Sjafri juga tampak kebingungan dalam membuat alur serangan di dalam kotak penalti lawan. Indonesia baru bisa membuka peluang tendangan ke gawang Malaysia yang dilepaskan Witan Sulaeman pada menit ke-51. Bola tendangannya mudah ditangkap kiper Malaysia Muhammad Azri. Berjarak dua menit kemudian, giliran Malaysia membahayakan gawang Indonesia melalui servis tendangan bola mati. Eksekusi tendangan bebas Nik Akif meluncur langsung ke gawang Indonesia. Kiper Garuda Nusantara, M Riyandi memilih meninju bola dan aman pula gawang timnya. Indonesia kembali membuka peluang pada menit ke-65 melalui aksi Egy merangsek ke kotak penalti. Namun, tendangan penyerang Lechia Gdansk itu masih melenceng. Egy sempat mengalami cedera karena kaki kanan yang salah bertumpu usai menendang bola ke gawang Malaysia. Ia kembali bisa bermain setelah mendapat perawatan dari tim medis. Amat disayangkan, Egy mengalami cedera pergelangan kaki sehingga ia harus ditarik keluar digantikan Hanis Saghara pada menit ke-88. Memasuki pengujung babak kedua, Indonesia mendapat peluang untuk mencetak gol, namun tendangan Hanis Saghara masih bisa ditangkap Muhammad Azri. Laga pun terpaksa dilanjutkan melalui adu penalti setelah skor 1-1 bertahan hingga usai waktu normal. Sempat terjadi kejadian memalukan mati lampu di Stadion Gelora Delta Sidoarjo saat penendang pertama, Luthfi Kamal Baharsyah, ingin melepas tendangan penalti. Indonesia akhirnya kalah adu penalti setelah tiga eksekutor yakni Witan Sulaeman, Firza Andika, dan Hanis Saghara Putra, gagal melesakkan bola ke gawang Malaysia dan gagal ke final Piala AFF U-18 2018. (Dre)

Tak Mampu Beli Sepatu, Juara Dunia U-20 Asal Kampung Pemenang Ini Kerap Berlatih Di Tepi Pantai

Lalu Mohammad Zohri (tengah) diapit dua pelari asal Amerika Serikat, Eric Harrison dan Anthony Schwartz, usai merebut medali emas nomor lari 100 meter pada Kejuaraan Atletik Junior Dunia 2018 (Twitter IAAF)

Jakarta- Sprinter muda asal Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, mengukir prestasi mengesankan pada IAAF World U20 Championships di Tampere, Finlandia, 10-15 Juli 2018. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini merebut emas pada nomor bergengsi lari 100 meter putra. Di babak final, Zohri finish pertama dengan catatan waktu 10,18 detik. Dia mengalahkan dua pelari asal Amerika Serikat, Anthony Schwartz (10,22) and Eric Harrison (10,22). Sementara urutan ketiga ditempati oleh pelari Afirka Selatan, Thembo Monareng dengan 10,23 detik. Zohri sebenarnya bukan atlet yang diunggulkan pada nomor bergengsi tersebut. Dia tampil mewakili Asia setelah menang pada Kejuaraan Asia U-20 yang berlangsung Juni lalu. Saat itu, ia hanya mampu mencatat waktu terbaik, 10,27 detik. Pemuda yang sehari-hari disapa Badok ini, mulai diperhitungkan, saat di babak semifinal berhasil menempati urutan kedua, di belakang atlet AS, Anthony Schwartz, dengan catatan waktu 10.24, atau 0.05 lebih lambat. Di babak final, Badok menempati lintasan nomor 8. Saat pistol start diletuskan, pemuda asal Lombok Utara ini segera melesat dan bersaing ketat dengan Monareng serta Schwartz. Ia akhirnya berhasil finis pertama mengungguli kedua pelari asal Negeri Paman Sam tersebut. Badok lahir 1 Juli 2000 di  Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Masa kecilnya dihabiskan di Lombok Utara. Dia mengenyam pendidikan di SD Negeri 2 Pemenang Barat, lalu melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Pemenang. Saat SMP, bakat lari Badok sudah mulai menonjol. Kemudian diajak untuk mengikuti beberapa kejuaraan dan berhasil merebut prestasi membanggakan. Badok juga sosok pria mandiri. Dia sudah ditinggal orang tuanya saat masih belia. Ibunya meninggal saat dirinya masih duduk di bangku SD, dan ayahnya menyusul setahun kemudian. Kakak kandung Badok, Baiq Fazilah (29) mengaku langsung menangis dan sujud syukur, begitu mengetahui sang adik menjadi juara dunia setelah tercepat nomor lari 100 meter pada ajang Kejuaraan Dunia Atletik U-20 ini. “Setelah melihat videonya yang dikirim Badok melalui WhatsApp, saya langsung menangis dan sujud syukur kepada Allah,” ujar Baiq, di rumahnya di Karang Pansor Desa Pemenang Barat Kecamatan Pemenang Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (12/7). Baiq mengaku bangga prestasi yang diraih adiknya. Apalagi bila mengingat perjuangan keras adiknya yang berlatih di tengah keterbatasan. Karena untuk berlatih saja, Badok kerap tak menggunakan alas kaki, karena tidak memiliki sepatu. “Badok (Zohri) anaknya pendiam dan tidak pernah menuntut ini, itu. Bahkan, kalau berlatih lari tidak pernah pakai alas kaki (sepatu), karena tidak punya,” ujarnya. “Untuk berlatih sendiri, adik saya suka latihan lari di Pantai Pelabuhan Bangsal, Pemenang,” ucapnya. Badok merupakan anak ke empat dari empat bersaudara Baiq Fazilah (29), Lalu Ma’rib (28), Baiq Fujianti (Almh) dan Lalu Muhamad Zohri. Di pentas nasional, namanya mulai dikenal saat mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) U-18 dan U-20 di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta, April 2017. Dia kemudian dipilih oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) memperkuat timnas di Kejuaraan Dunia Remaja di Kenya, Juli lalu. Tampil di nomor 200 meter, Badok merebut emas dengan catatan waktu 21.96 detik. Dia sempat ikut berlomba di Singapura. Namun batal turun karena mengalami cedera. Kini ia merupakan bagian dari timnas atletik Indonesia yang akan bertanding di Asian Games 2018 nanti. Meskipun catatan waktunya masih kalah dari sejumlah sprinter top Asia saat ini, namun dia bisa menjadi harapan kejayaan Indonesia di masa mendatang. (Adt)

Remaja 18 Tahun Asal Lombok Utara, Jadi Kampiun 100 Meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20

Singkirkan Sprinter Amerika Serikat, Lalu Muhammad Zohri (tengah) yang baru berusia 18 tahun asal Lombok, Raih Emas Kejuaraan Dunia Atletik Junior. (bbc.com)

Jakarta- Prestasi sensasional ditorehkan sprinter Lalu Muhammad Zohri pada Kejuaraan Dunia Atletik Under (U) 20 tahun, di Stadion Ratina, Tampere, Finlandia, Rabu (11/7). Turun di nomor lari bergengsi 100 meter, remaja kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 18 tahun silam ini sukses masuk finish pertama dengan membukukan catatan waktu 10.18 detik. Torehan ini sekaligus memecahkan rekor nasional (rekornas) atas namanya yakni 10.25 detik. Bahkan, Lalu yag berlari di lintasan 8 itu, menciptakan catatan waktu yang mendekati rekornas yang masih menjadi milik Suryo Agung Wibowo yakni 10.17 detik. Ia pun menumbangkan sprinter terbaik Amerika Serikat (AS) sekaligus favorit juara, yakni Anthony Schwartz dan Eric Harrison, yang mencetak waktu 10.22 detik. “Saya sangat gembira dengan catatan waktu terbaik saya dan rekor junior nasional. Sekarang, saya akan mempersiapkan diri untuk Asian Games bulan depan. Ini adalah sebuah pengalaman luar biasa dan ini sangat bagus untuk karier saya,” ujar Lalu usai lomba. Penampilan gemilang Lalu sudah terlihat sejak babak kualifikasi di hari pertama. Lalu turun di heat pertama bersama wakil Jepang Daisuke Miyamoto berhasil lolos ke semifinal dengan catatan waktu 10.30 detik. Di babak semifinal, atlet berjuluk ‘bocah ajaib dari Lombok’ itu turun di heat 1 dari 3 heat lolos bersama Schwartz dengan torehan 10.24 detik. Selanjutnya, Lalu, Anthony, dan Daisuke berhasil melenggang ke babak final. Sementara itu, Tigor M. Tanjung, Sekertaris Umum (Sekum) Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), mengatakan keberhasilan Lalu mencetak prestasi terbaik di ajang Kejuaraan Dunia Atletik Junior di Finlandia merupakan hasil dari ketekunannya berlatih dan berjalan dengan baik. (Adt)

Dari Kaki Gunung Ciremai, CAC Kuningan Sanggup Konsisten Cetak Atlet Atletik Nasional Berprestasi

Menpora Imam Nahrawi bangga CAC di kabupaten Kuningan, Jawa Barat, fokus melakukan pembinaan cabang atletik guna melahirkan atlet nasional. (Kemenpora)

Kuningan- Cilimus Atletik Club (CAC) merupakan salah satu klub olahraga yang konsisten mencetak atlet atletik nasional untuk Indonesia. CAC terletak di Desa Kaliaren, Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bahkan, desa ini berada tak jauh dari kawasan kaki Gunung Ciremai. Diantaranya, atlet tolak peluru Eki Febri Ekawati. Ia peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012, Riau. Juga, medali emas Singapore’s AUG 2014, serta medali emas SEA Games 2017, Malaysia. Lalu, atlet Tresna Puspita. Ia pernah tampil di Kejuaraan Dunia Atletik Remaja 2013, dan pemegang rekor nasional (Rekornas) lempar cakram pada 2015 (44,50 meter), serta pemegang Rekornas lontar martil pada 2013 (51,20 meter). Sekedar catatan, ada 14 Atlet Atletik asal Kabupaten Kuningan, turut memperkuat Kontingen Atletik Jawa Barat, pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik 2018, yang berlangsung pada Mei lalu, di Jakarta. “Ini luar biasa. Di sebuah desa di Kabupaten Kuningan, ada klub yang mengembangkan olahraga atletik. Kebanyakan di daerah adalah klub sepak bola, tapi ini ada klub atetik yang bisa melahirkan atlet-atlet nasional,” ujar Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Rabu (11/7). Ia meminta atlet yang bernaung di CAC untuk terus semangat berlatih agar bisa menjadi atlet nasional yang bisa mengharumkan nama bangsa. “Jangan pernah letih. Terus terapkan apa yang diajarkan pelatih dengan baik. Saya juga ingin kepada adik-adik untuk menyebarkan CAC ini melalui media sosial,” cetusnya. Sementara itu, Asep Ismanto, Ketua CAC Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mengaku bangga mendapat dukungan langsung dari Menpora. “Kami di sini terus mencoba melakukan pembinaan kepada atlet-atlet muda di Kabupaten Kuningan agar bisa berprestasi dan memberikan kontribusi untuk olahraga Indonesia,” tukas Asep. (Adt)

Gagas Turnamen Sepakbola Perdamaian, Uni Papua-Kemenkopolhukam Sinergi Jalankan Misi Pembinaan Usia Dini

Uni Papua Football menggagas turnamen sepak bola perdamaian, bersama Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) pada 22 Sepetember- awal Desember 2018. (NYSN)

Jakarta- Uni Papua bersama Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) menggagas turnamen sepak bola perdamaian, pada 22 September hingga awal Desember 2018, di empat kota yakni Jakarta, Aceh, Bali, dan Manokwari. Event ini sejalan dengan agenda prioritas pembangunan sepak bola nasional, yakni aktif melakukan pembinaan sepak bola usia dini, pembenahan sistem dan tata kelola sepak bola, pembenahan manajemen klub, serta penyediaan infrastruktur olahraga. “Uni Papua Football Community (UP FC) adalah satu-satunya komunitas sepak bola sosial di Indonesia, yang fokus pada pembentukan karakter anak-anak atau generasi muda Indonesia, melalui kegiatan sepakbola,” ungkap Uni Papua dalam rilisnya, pada Rabu (11/7). UPFC selalu menanamkan nilai-nilai perdamaian, kemanusiaan, toleransi serta cinta tanah air kepada anggotanya. Selain itu, UPFC yang eksis sejak 2011 di Tanah Papua dan menyebar hingga ke berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua. “UPFC mempunyai 35 komunitas yang tersebar di Aceh, Jakarta, Bandung, Semarang, Salatiga, Probolinggo, Denpasar, Puncak Jaya, Manokwari, Sorong, dan Halmahera, serta 4 komunitas di luar negeri diantaranya di Helsinki, Los Angeles, Osaka dan 1 perwakilan di London (Inggris). Jumlah anak binaan UPFC kurang lebih 2.500 anak,” Sedangkan Kemenkopolhukam mempunyai peran dalam event ini sebagai fungsi pembinaan masyarakat. Berdasarkan penelitian CSIS (Centre for Strategic and International Studies), sepak bola menjadi media dimana generasi milenial lebih tertarik dengan aktifitas olahraga. “Sepakbola adalah media pendekatan yang efektif untuk pembinaan masyarakat terutama generasi muda Indonesia. Hal ini juga sebagai langkah preventif mencegah gerakan-gerakan radikalisasi dan intoleransi yang belakangan banyak menyasar anakanak dan remaja,” Penelitian lain dari Nielsen Sport bahwa masyarakat Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia yang senang dengan aktifitas persepak bolaan. Event ini akan diawali dengan Training of Trainers (ToT) atau coaching calon pelatih yang akan dimulai awal Agustus nanti di setiap kota tuan rumah. “ToT dikhususkan bagi mereka yang berusia diatas 21 tahun laki maupun perempuan, senang dengan sepak bola, tertarik dengan isu-isu olahraga, perdamaian, pengembangan generasi muda, isu sosial dan kemanusiaan, menjunjung tinggi sportifitas dan pastinya 100 persen cinta NKRI,” sebut Uni Papua. ToT ini dibuka untuk masyarakat umum dan seluruh elemen, dari unsur TNI atau Polri, guru olahraga dan umum, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, unsur universitas, dan komunitas-komunitas sosial lainnya. “Setelah ToT, para trainer atau pelatih diwajibkan untuk membentuk tim sepak bola yang berasal dari komunitasnya ataupun lingkungan masyarakat tempat dimana mereka tinggal atau lingkungan lain yang beranggotakan minimal 11 orang anak berusia di bawah 16 tahun,” Tim ini akan diikutkan dalam festival sepak bola untuk perdamaian yang akan digelar pada September hingga Desember 2018, di masing-masing kota. “Pemenang dari festival di masing-masing kota akan diberangkatkan ke Jakarta dan mengikuti festival nasional pada awal Desember nanti,” Materi-materi ToT harus diimplementasikan kepada tim sepak bola masing-masing. “Selain materi teknik sepak bola, Uni Papua dan Kementerian atau Lembaga atau Dinas terkait akan memberikan materi workshop narkoba, antiradikalisme, hoax, SARA, perdamaian, ujaran kebencian serta wawasan kebangsaan lainnya,” tutup Uni Papua. (Adt)

Tampil Dari Jalur Kualifikasi, Petenis 20 Tahun Asal Bandung Sukses Tumbangkan Unggulan Dua

Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 di Solo, Rifanty Kahfiani (20 tahun), sukses menggusur petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, dua set langsung 6-2 dan 6-4. (bolasport.com)

Solo– Petenis muda Indonesia non unggulan, Rifanty Kahfiani (20 tahun), membuat kejutan usai menekuk petenis unggulan dua asal Jepang, Michika Ozeki, di PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Jawa Tengah, Rabu (11/7). Rifa, sapaannya, yang pada kejuaraan ini tak diunggulkan, justru unggul dua set langsung 6-2 dan 6-4. Pada set pertama, Rifa terus menekan Ozeki, yang mmiliki pukulan komplit baik forehand dan backhand cukup keras itu, sehigga lawan kerap melakukan kesalahan sendiri. Rifa menyudahi set pertama 6-2. Di set kedua, mojang kelahiran Bandung, 19 Februari 1998, kembali mendapat perlawanan ketat dari Ozeki. Dengan strategi penempatan bola sulit, ia sukses menyelesaikan set kedua dengan skor 6-4. Menurut Rifa, unggulan asal Jepang itu lincah dan ulet, tetapi dirinya bermain variasi, sehingga arah bola sulit diprediksi lawan. “Awalnya kesulitan dengan pukulan keras lawan, tetapi saya rubah strategi dengan bermain variasi, dan akhirnya bisa dikalahkan,” ujar Mahasiswa Oregon AS ini usai pertandingan. Pada perempat final, Kamis (12/7), Rifa terlibat bentrok dengan wakil Tiongkok, Zhima Du, yang menyingkirkan unggulan ketujuh, Sai Samhitha Chamarthi (India) 6-2 6-4. “Ini saatnya revans, karena saya belum pernah menang lawan dia sebelumnya,” lanjut petenis yang lolos babak utama lewat kualifikasi ini. Merujuk rekor head to head pada laman ITF, Rifa kalah dari petenis Tiongkok kelahiran 12 September 1999 itu dalam dua pertemuan, yakni kualifikasi turnamen Wimbledon Yunior dan Serawak Chief Minister Cup 2016. Sementara itu andalan Merah Putih lainnya, Aldila Sutjiadi turut melaju ke perempat final turnamen berhadiah total 15.000 dolar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Unggulan keempat berperingkat tunggal ke-751 dunia itu mengalahkan petenis kualifikasi asal India, Bhuvana Kalva 6-4 6-2. Petenis yang bakal tampil di ajang Asian Games 2018 itu meladeni unggulan keenam dari Tiongkok, Zhuoma Ni Ma untuk membidik satu slot di babak semi final. “Di babak delapan besar, saya harus memperbaiki percentage service pertama saya agar lebih percaya diri bermain,” tutur Aldila. Pada nomor ganda, turnamen yang disponsori PT PP (Persero) Tbk, BUMN bidang konstruksi ini, memasuki babak delapan besar. Duet kembar Fitriana ‘Ana’ Sabrina dan Fitriani ‘Ani’ Sabatini (17 tahun) melangkah ke semi final setelah memenangi laga atas duet India, Bhuvana Kalva/Sri Vaishnavi Peddi Reddy (India) 6-1 6-2. Ana dan Ani akan menantang ganda Tiongkok, Zhima Du/Shou Na Mu. Sementara partai semi final lainnya mempertemukan dua pasangan gado-gado Indonesia/Jepang, yakni unggulan utama Mana Ayukawa/Aldila Sutjiadi melawan Ayaka Okuno/Rifanty Kahfiani. (Ham)

Cetak Gelar Juara Di Indonesia Open 2018, Tiga Atlet Binaan PB Djarum Kehujanan Bonus

Sukses berkontribusi saat ajang Indonesia Open 2018, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia sukses meraih dua gelar di ajang Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000. lewat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kevin/Marcus menjadi kampiun usai menaklukan pasangan asal Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko (21-13 dan 21-16). Sedangkan pasangan senior Tontowi/Liliyana menang setelah menghempaskan dobel asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (21-17 dan 21-8). Tiga atlet yakni Tontowi, Liliyana, dan Kevin, merupakan pemain binaan PB Djarum Kudus. Torehan prestasi ini terasa istimewa sebab satu dekade lamanya Merah Putih tidak mengantongi dua gelar juara sekaligus di Indonesia Open. Terakhir, Indonesia meraih dua gelar pada 2008 melalui sektor tunggal putra, Sony Dwi Kuncoro dan ganda putri yakni Vita Marissa yang saat itu berduet dengan Liliyana Natsir. Bahkan, Indonesia puasa gelar di salah satu ajang turnamen terbaik di dunia itu pada 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016. Berkat prestasi yang membanggakan serta mengharumkan nama Indonesia, Djarum Foundation memberikan penghargaan bagi Tontowi, Liliyana, dan Kevin sebesar Rp 600 juta. “Apresiasi ini komitmen kami terhadap kemajuan bulutangkis di Indonesia, sehingga bisa melecut pemain bulutangkis PB Djarum yang lainnya untuk bisa berprestasi di kancah bulutangkis dunia seperti Kevin, Tontowi, dan Liliyana,” ujar Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, pada Rabu (11/7). “Mudah-mudahan tahun depan, Indonesia bisa juara lagi. Karena Kevin/Marcus belum pernah juara. Ini pertama kali untuk mereka. Dan, kami akan terus memberikan apresiasi ini sebagai wujud komitmen kami untuk negeri ini,” lanjutnya. Masing-masing pemain mendapatkan Rp 200 juta. Selain itu, ketiganya juga mendapatkan voucher dari Blibli.com senilai Rp 50 juta. Sementara, para pelatih yakni Herry Irman Pierngadi dan Aryono Miranat (pelatih ganda putra), serta Richard Mainaky dan Vita Marissa (pelatih ganda campuran) mendapatkan lemari es Polytron dua pintu dan voucher senilai Rp 5 juta dari tiket.com. Bagi Kevin, kemenangan di Indonesia Open 2018 menegaskan supremasinya di persaingan papan atas bulutangkis dunia. Sebelumnya, bersama Marcus menjadi kampiun turnamen tertua di dunia yakni All England 2018. Duet ini tengah membidik China Open 2018, yang dihelat September guna merangkai hattrick di kasta HSBC World Tour Super 1000. “Rangkaian kemenangan ini menjadi pendorong agar saya makin berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa melalui bulutangkis. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan pelatih dan PB Djarum yang telah mengasah saya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik saat bertanding, dan meraih hasil maksimal,” tutur Kevin. Liliyana menambahkan dirinya mengaku lega bisa memberikan hasil terbaik dihadapan publik tuan rumah. Apalagi, sebut Butet, sapaan akrabnya, berhasil menghapus catatan tak pernah menang di Istora Senayan. “Berarti sudah lunas. Ini kemenangan yang sangat istimewa bagi kami,” tukas Butet. (Adt)

SMABA Gagal Curi Kemenangan Di Pertandingan Kedua, Pelatih : Kami Kehabisan Tenaga di Kuarter 3 dan 4

Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa (hitam) kembali menelan kekalahan di pertandingan kedua, melawan AAS Fresnes, dengan skor 46-61. (SMABA)

Jakarta- Tim basket putra Sekolah Kharisma Bangsa gagal mencuri kemenangan di pertandingan kedua kejuaraan dunia basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA), di Paris, Perancis. Melakoni laga dengan tim AAS Fresnes, Selasa (10/7), Syekhan Manzis dan kawan-kawan kalah dengan skor 46-61. Ari Adiska, Pelatih Tim, mengatakan di laga kedua semua pemain sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Namun, diakuinya lawan memiliki keunggulan terutama dari segi postur tubuh. “Kalau dibilang puas ya belum puas dengan penampilan tim. Tapi, di pertandingan kedua ini para pemain sudah berani improve. Mungkin belajar dari pertandingan pertama. Sehingga bisa memperbaiki kesalahan,” ujar Ari. Ia menyebut kemampuan anak asuhnya sangat merata dan rapi dibanding dengan partai perdana saat berjumpa tim Paris Bballwithus, pada Senin (9/7). Bahkan, pada kuarter pertama dan kedua, tim smaba masih mampu mengimbangi permainan AAS Fresnes. “Tapi, di kuarter ketiga dan keempat kami sudah kehabisan tenaga. Sehingga lawan bisa memenangkan pertandingan,” tambahnya. Berikutnya, Muhammad Aofar dan kawan-kawan akan melakoni laga ketiga melawan tim Isso India 2, pada Rabu (11/7). Senada dikatakan Abdurrasjid Juzar, punggawa tim. Menurutnya, di game kedua bersama rekan-rekannya sudah mengeluarkan kemampuan semaksimal mungkin. “Kuarter pertama dan kedua, kami masih mengimbangi skor. Perbedaannya hanya 5 point. Namun di kuarter ketiga dan keempat, kami sudah tidak bisa mengimbangi karena masih kalah soal stamina dan fisik,” terang Juzar. Sedangkan Fajar Satria, Kapten Tim, menyatakan melawan tim AAS Fresnes banyak perkembangan dibandingkan game sebelumnya melawan tim Paris Bballwithus. “Kami mulai bisa beradaptasi disini. Kami sanggup mengimbangi hingga pertengahan kuarter 3, namun di kuarter terakhir kami mulai ketinggalan dengan lawan,” urainya. “Tapi, ketinggalan itu tak seburuk seperti game pertama. Kami sudah lumayan mendapatkan ritme seperti di Indonesia, dan kami harap untuk ke game selanjutnya kami dapat bisa memberi lebih dari game sebelumnya,” tukas Satria. (Adt)

Bikin Kejutan, Duet Kembar 17 Tahun Sukses Jungkalkan Unggulan Tiga Women’s Circuit 2018

Duet petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) tumbangkan unggulan ketiga Women’s Circuit 2018, Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok), dengan skor akhir 6-3 6-3. (remaja-tenis.com)

Jakarta- Indonesia membuka babak utama turnamen tenis internasonal bertajuk PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit Internasional Tennis 2018 dengan gemilang. Di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo, Senin (9/7), wakil Merah Putih berhasil memenangi laga pembuka nomor ganda. Duet kembar petenis muda, Fitriana Sabrina/Fitriani Sabatini (17 tahun) menekuk unggulan ketiga turnamen kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF) ini. Ana dan Ani menang straight set atas Zhibek Kulambayeva (Kazakhstan) dan Ye Zhin Ma (Tiongkok). Ana-Ani unggul dengan skor akhir 6-3 6-3. Hasil positif juga ditorehkan dua petenis tuan rumah yang berpasangan dengan peserta manca negara. Unggulan teratas Aldila Sutjiadi/Mana Ayukawa (Jepang) mengalahkan Anastasia Shaulskaya (Rusia)/Rishika Sunkara (India) 7-5 6-1, di ajang yang menyediakan total hadiah 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta ini. Sedangkan Rifanty Kahfiani/Ayaka Okuno (Jepang) menyisihkan Yu Ting Hsieh (Taiwan)/Saumya Vig (India) 6-2 6-3. “Semoga awal yang indah bagi petenis tuan rumah ini terus berlanjut hingga babak akhir,” ucap Wakil Sekretaris Jendral PP Pelti, Susan Soebakti selaku Direktur Turnamen. Kejuaraan khusus bagi petenis wanita yang disponsori oleh PT PP (Persero) Tbk ini akan menggelar babak utama nomor tunggal mulai Selasa (10/7). Kecuali Aldila Sutjiadi yang akan terlibat duel senegara dengan Priska Madelyn Nugroho, enam wakil tuan rumah bakal meladeni petenis luar negeri. Petenis yang lolos dari babak kualifikasi, Suryaningsih akan menantang unggulan kedua asal Jepang, Michika Ozeki . Sedangkan penerima wildcard, Joleta Budiman menghadapi unggulan kedelapan, Zhibek Kulambayeva dari Kazakhstan. Rifanty Kahfiani melawan Yuka Hosoki (Jepang), Arrum Damarsari bentrok dengan Shou Na Mu (Tiongkok) dan Fitriana Sabrina dengan Mana Ayukawa (Jepang) serta Deria Nur Haliza meladeni petenis India yang lolos dari kualifikasi, Bhuvana Kalva. Selain itu di sektor ganda, duet Deria/Joleta yang diproyeksikan membela Merah Putih di ajang Asian Games 2018 akan bertanding melawan pasangan India, Sai Samhitha Chamarthi/Mahak Jain. “Ini penampilan pertama kami sebagai pasangan dalam turnamen resmi internasional. Kami akan berusaha bermain sebaik mungkin, semoga hasilnya juga bagus,” tutur Deria, petenis kelahiran 8 Juni 1997 ini. (Ham)

Atlet 18 Tahun Raih 5 emas SEA Age Group Swimming Championship 2018, Adinda Jadi Perenang Terbaik Wanita

Atlet asal Jawa Timur, Adinda Larasati Dewi, menjadi perenang wanita terbaik kategori U 16-18 tahun dalam event 42nd SEA Age Group Swimming Championship 2018. (istimewa)

Manila- Ajang bertajuk 42nd SEA Age Group Swimming Championship 6-8 Juli 2018 yang berlangsung di Manila, Filipina, memunculkan perenang-perenang muda, harapan masa depan Indonesia. Perenang putri 18 tahun asal Jawa Timur, Adinda Larasati Dewi, sanggup menyumbang 5 emas, juga menciptakan satu rekornas dan rekor SEA Age Group. Adinda memang tengah dipersiapkan menuju Asian Games 2018, serta Olimpiade Remaja 2018 di Argentina. Empat perenang muda Indonesia yang sudah lolos limit-A Youth Olympic Games atau Olimpiade Remaja di Argentina 2018, juga tampil memuaskan. Mereka adalah duo putri Adinda dan Azzahra Permatahani (16 tahun), serta duo putra, Azel Zelmi dan Farrel Armandio Tangkas. Farrel tampil gemilang saat memecahkan rekor nasional 200 meter gaya punggung, milik perenang senior Siman Sudartawa, yang sudah bertahan 7 tahun lalu. Farrel mencatat waktu 2 menit 02,31 detik, sedangkan rekornas Siman tercipta di SEA Games Palembang 2011, yakni 2 menit 02,44 detik. Diprediksi, Farrel berpotensi besar meraih medali di SEA Games 2019 Filipina. Di hari terakhir, Adinda menyumbang 2 emas, pada Minggu (8/7). Medali emas pertamanya didapat dari nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri, dengan catatan waktu tercepat 2 menit 15,71 detik. Ia Mengalahkan perenang Vietnam, Mai Thi Linh 2:18,67 detik dan rekannya Azzahra, yang mendapat perunggu dengan waktu 2:19,24 detik. Emas kedua Adinda, diraih lewat nomor 800 meter gaya bebas putri, dengan catatan 9 menit 00,04 detik. Total Adinda mendapatkan lima emas, setelah sebelumnya ia menyabet emas di nomor 200 dan 400 meter gaya bebas, serta rekornas nomor 100 meter gaya kupu-kupu 1:01,35 detik. Adinda pun terpilih sebagai perenang terbaik wanita kategori U 16-18 tahun, dalam event 42nd SEA Age Group Swimming Championship 2018. Perenang Masa Depan Pada kelompok usia 13 tahun kebawah memunculkan perenang masa depan, Agung Sulaksono Putra Alamsyah (13 tahun), yang menembus dominasi Vietnam. Di hari terakhir, Agung menyumbang emas di nomor 100 meter gaya bebas dengan catatan 56,51 detik. Kedua Tong Yu Jing (Malaysia) 56,56 detik dan ketiga Randal Neo (Singapura) 56,66 detik. Total Agung sudah mengoleksi 2 emas, 2 perak dan 3 perunggu. “Ayah selalu berpesan untuk disiplin, dan fokus dalam berlatih,” ucap Agung dari Jawa Timur. Perenang muda lainnya di kategori putri yakni Komang Adinda Nugraha (13 tahun), yang bisa menebus penasarannya. Komang akhirnya meraih emas di hari terakhir pada nomor 50 meter gaya punggung dengan catatan 31,18 detik. Total selama di Filipina, Komang membawa pulang 1 emas dan 3 perunggu. Di SEA Age pertamanya tahun lalu di Brunei, Komang hanya mampu mengoleksi 3 perak dan 1 perunggu. “Kuncinya giat berlatih dan berlatih. Masih panjang perjalanan saya, doakan bisa membawa nama Indonesia harum di dunia internasional,” jelasnya. Satu perunggu Komang di dapat pada nomor beregu yakni estafet 4×100 meter gaya ganti putri. Komang dengan gaya punggung, Adelia (dada), Azzahra Permatahani (kupu) dan Adinda Larasati (bebas) mencatat waktu 4:24,59 detik. Di kategori putra juga dapat perunggu di nomor estafet 4×100 meter gaya ganti. Tim Indonesia beranggotakan AA Gede Oka Satria (punggung), Kamal Pasya (dada), Azel Zelmi (kupu) dan Agung Putro (bebas) mencatat waktu 3:59,20 detik. Di hari ketiga beberapa perenang yang memperoleh medali perak diantaranya Dwiki Anugrah di nomor 50 meter gaya punggung U 16-18 tahun (27,34 detik), Adinda Larasati Dewi nomor 100 meter gaya bebas (58,02 detik), Azzahra Permatahania nomor 200 meter gaya dada U 16-18 tahun (2:35,56 detik). Sedangkan perenang yang memperoleh perunggu adalah Sofie Kemala nomor 50 meter gaya punggung U 16-18 tahun putri (30,58 detik), Luh Putu Satya Putri nomor 50 M usia 14-15 tahun (31,56 detik), Panda Made Iron Digjaya di nomor 200 meter gaya dada U 16-18 tahun (2:20,59 detik), serta Azel Zelmi nomor 200 meter gaya kupu-kupu U 16-18 tahun (2:05,43 detik). Lalu, Albertus Andhika Bangun 200 M gaya kupu U 14-15 tahun (2:08,56 detik), Vanessa Sanjoyo 200 meter gaya kupu putri U 14-15 tahun (2:25,19 detik), Agung Putro nomor 1500 meter gaya bebas U 13 tahun (17:11,72 detik), Ernest Fabian Wijaya nomor 1500 meter gaya bebas U 14-15 tahun (16:42,16 detik). Tim Indonesia tahun ini, tak diperkuat dua perenang yang terpilih yakni Erick Ahmad Fathoni, dan perenang keturunan Indonesia-Amerika Serikat, Kaikea Putra Boyum Crews, yang tengah latihan dan bertanding di Amerika Serikat. Keduanya tak tampil, karena jadwal SEA Age Group berubah, dari semula bulan Oktober/November, maju menjadi Juli. (Ham)

Mulai Bergulir Di Solo, Remaja 15 Tahun Turut Bersaing Di Women’s Circuit International Tennis 2018

Priska Madelyn Nugroho (15 tahun) menjadi salah satu petenis termuda Indonesia, yang turun dalam turnamen Women's Circuit International Tennis 2018, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. (twitter.com)

Jakarta- Turnamen tenis PT Pembangunan Perumahan Construction & Investment Women’s Circuit International Tennis 2018, mulai bergulir akhir pekan ini, hingga 14 Juli, di Lapangan Tenis Gelora Manahan, Solo, Jawa Tengah. Petenis tuan rumah bersaing dengan petenis lain dari sembilan negara yakni Singapura, Australia, Jepang, China, Taiwan, Kazakhstan, India, Bulgaria, dan Rusia. Susan Soebakti, Direktur Turnamen, mengatakan minat petenis asing sangat tinggi untuk mengikuti turnamen ini. Kejuaraan ini masuk dalam kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF). “Peserta tak hanya dari kawasan Asia. Mereka juga datang dari benua Eropa,” ujar Susan, di Solo, Jawa Tengah, akhir pekan ini. Babak kualifikasi turnamen khusus putri berhadiah total 15 ribu dollar Amerika Serikat (AS) atau Rp 215 juta itu, mulai bergulir pada Sabtu (7/7). Indonesia menurunkan para petenis terbaik yakni Rifanty Dwi Kahfiani, Bilqis Maqbulatullah, Arrum Damarsari, Suryaningsih, Septiana Nur Zahiroh, dan Ni Luh Sintha Eka Putri. Mereka membidik delapan slot babak utama. Sedangkan petenis utama Merah Putih yang tergabung di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Asian Games 2018, berhak berlaga di babak utama mulai Selasa (10/7). Aldila Sutjiadi yang berperingkat tunggal ke-751 dunia jadi unggulan keempat. Dan, Deria Nur Haliza serta Joleta Budiman, memanfaatkan fasilitas wild card bersama Fitriana Sabrina dan Priska Madelyn Nugroho. “Peluang sangat terbuka bagi tuan rumah Indonesia untuk menambah wakil di babak utama,” tukas Susan. Khusus untuk Priska, menjadi catatan tersendiri. Remaja kelahiran Jakarta, 29 Mei 2003, ini menjadi salah satu petenis termuda skuat garuda pertiwi paling berbakat, yang ikut berpartisipasi. (Adt)