Bidik Olimpiade 2024 Prancis, PSSI Tunjuk Bima Sakti Bentuk Timnas U-15

Asisten Pelatih Timnas U-23, Bima Sakti (tengah), yang mengantungi lisensi melatih A AFC untuk pembinaan usia muda, kini dipromosikan menjadi Pelati Timna U-15 dan diproyeksikan tampil di Olimpiade 2024 Prancis. (Pras/NYSN)

Jakarta- PSSI segera membentuk Timnas U-15 untuk pembinaan jangka panjang yang berjenjang. Tim yang bakal ditangani Bima Sakti ini, segera diproyeksikan tampil di Olimpiade 2024 Prancis. Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, menjelaskan, Timnas U-15 diisi para pemain kelahiran maksimal 2003, dan disiapkan menuju Olimpiade 2024, di Prancis. Skuat Timnas U-15 itu, akan diambil dari kompetisi-kompetisi usia muda, yang ada di Indonesia. Menurut Tisha, tugas mantan kapten timnas Indonesia ini akan sibuk menyaring pemain yang dikembangkan lewat Elite Pro Academy, dari klub-klub profesional Liga 1. Di antaranya Piala Soeratin U-13 dan U-15, serta Liga U-16 yang segera berputar dan dijalankan PSSI. “Kompetisi PSSI itu terdiri dua jalur, profesional dan amatir. Amatir kami sudah jalan, seperti Soeratin U-15 dan U-17. Profesionalnya, yang segera berjalan tahun ini adalah U-16. Harusnya, di area profesional itu ada U-16, U-18 dan U-20,” buka Tisha. “Di usia genap adalah profesional, sementara di ganjil adalah amatir. Untuk scout kompetisi ini dibentuk timnas-timnas junior, dan materi pemainnya itu harus datang dari Elite Pro Academy, tak ada yang lain,” bebernya lagi “Karena di situ, para pemain itu sudah melewati jenjang amatir, dan akan naik ke area akademi. Dengan jenjang yang ada nanti, akan muncul pemain-pemain kelahiran 2003, yang dipersiapkan tampil Olimpiade 2024, di Perancis,” tegas Tisha. Terkait kemungkinan Bima akan kembali menjabat asisten pelatih Timnas Indonesia membantu Luis Milla, wanita kelahiran Jakarta, 30 Desember 1985 itu menegaskan, PSSI tak mempermasalahkan jabatan ganda itu. Sebab, Timnas U-15 dan Timnas senior Indonesia memiliki tujuan berbeda. “Timnas U-15 ini proyek jangka panjang, sedangkan Timnas Indonesia, tidak. Jadi tak ada masalah rangkap jabatan,” kata Tisha. Sementara menurut Ketum PSSI Edy Rahmayadi, langkah PSSI ini bertujuan memacu pembinaan sepakbola usia muda. “Timnas U-15 dibentuk sebagai langkah berjenjang pembinaan sepakbola usia dini, di Indonesia,” ujar Edy Rahmayadi, di Jakarta, Selasa (28/8). Ia menjelaskan, Timnas U-15 ini, berbeda dengan Timnas U-16, yang tengah dilatih Fakhri Husaini. Skuat yang ditangani Fakhri, yang akan berlaga di Piala U-16 Asia 2018 di Malaysia pada 20 September-7 Oktober 2018, nantinya disebut Timnas U-17. “Terbentuk satu tim, Timnas U-15 yang akan dilatih oleh Bima. Ada turnamen-turnamen yang disiapkan, guna mengantisipasi berjenjangnya pembinaan sepakbola ke depan,” terang Edy. Bima saat ini sudah mengantungi lisensi melatih level A AFC, dengan konsentrasi pembinaan usia muda. (Dre)

Jelang Piala Asia U-16 di Malaysia, Timnas U-16 Lakukan ‘Aklimatisasi’ di Kuala Lumpur

Usai menjalani pemusatan latihan Stadion Teladan, Medan, Sumatera Utara, Timnas U-16 bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (29/8) dan akan beruji coba dengan beberapa tim, salah satunya Timnas Oman U-16, jelang Piala Asia U-26 2018. (antarafoto.com)

Jakarta- Timnas U-16 bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (29/8) sore. Sebelum berlaga di Piala Asia U-16 2018, mereka akan menjalani uji coba sebanyak tiga kali, usai menjalani pemusatan latihan Stadion Teladan, Medan, Sumatera Utara. Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, mengungkapkan alasan memberangkatkan timnas U-16 lebih awal. Uji coba melawan timnas Oman U-16 juga sudah dipersiapkan, sebagai bagian dari persiapan menatap persaingan Grup C melawan Iran, India dan Vietnam. “Timnas U-16 berangkat ke Malaysia 29 Agustus, dan akan beruji coba tiga kali. Tim di sana cukup lama supaya bisa beradaptasi dengan baik,” kata Tisha pada Selasa (28/8). Hingga Piala Asia 2018 pada 20 September-2 Oktober, Timnas U-16 mempunyai waktu relatif lama berlatih di Kuala Lumpur. “Kami agendakan uj coba dengan situasi uji coba terbuka, supaya mereka merasakan ‘crowd’ Malaysia. Semacam aklimatisasi (adaptasi), jadi mereka harus lama di sana. Dan duel pemanasan sebelum lawan Oman, tim ini akan melawan klub lokal,” dia menambahkan. Rencananya, tim Akademi Selangor FA U-17 menjadi kandidat lawan Timnas U-16, pada Kamis (31/8). Lalu disusul, tim Junior U-17 lokal yang masih menunggu calonnya serta jadwal tandingnya. Timnas Oman U-16, diproyeksikan bakal melawan tim merah putih remaja, pada Rabu (12/9) mendatang. Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini sudah memiliki 24 nama pemain, yang akan tampil di Piala Asia U-16. Namun, Fakhri enggan menyebut empat nama baru yang ia bawa ke Malaysia, meski mereka sudah tampak ikut berlatih di Medan. Tim Garuda Asia sebelumnya melakukan seleksi kepada sembilan pemain baru, untuk bergabung dalam skuad di Piala Asia U-16 2018. Dari sembilan pemain, empat diantaranya sudah dipastikan bergabung dalam tim untuk Piala Asia U-16, di Malaysia. David Maulana dkk akan melakoni laga pembuka Piala Asia U-16, menghadapi Iran, di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, 21 September mendatang. Selain Iran, Indonesia yang tergabung di Grup C juga bakal menantang dua kontestan lain, Vietnam dan India. (Dre) 24 Pemain Timnas U-16 TC Medan dan Kuala Lumpur Kiper 1. Ernando Ari Sutaryadi – PPLP Jateng 2. Ahludz Dzikri Fikri – ASAD 313 3. Muhammad Risky Sudirman – SSB Villa 2000 Belakang 4. Mochamad Yudha Febrian – SSB Cibinong Raya 5. Muhammad Salman – Diklat Ragunan 6. Fadillah Nur Rahman – PPLP Sumatera Barat 7. Amiruddin Bagas Kaffa – Chelsea Soccer School 8. Muhammad Reza Fauzan – FC Patriot Aceh Tengah 9. David Maulana – PPLP Medan 10. Komang Teguh Trisnanda – Diklat Ragunan 11. Muhammad Talaohu – ASAD 313 12. Hamsa Lestaluhu – ASAD 313 13. Andre Oktaviansyah – SSB Pelita Jaya Soccer School 14. Brylian Aldama – SSB Gelora Putra Delta 15. Rendy Juliansyah – SSB ASIOP APAC INTI Depan 16. Mochammad Supriadi – Diklat Ragunan 17. Amanar Abdilah – PS Tira U-17 18. Amiruddin Bagus Kahfi – Chelsea Soccer School 19. Sutan Diego Armando Ondriano Zico – Chelsea Soccer School Pemanggilan Baru 20. Ahmad Farensyah – PPLP DKI 21. Fatah Aji – PPLP DKI 22. I Komang Dedi Nova Tri Gunawan – Bali United U-16 23. I Kadek Silva Yoga Adi Wijaya – Bali United U-16 24. Subhan Fazri – Aceh Pemain yang sempat tergabung di Piala AFF U-16 tetapi tak diikutsertakan Piala Asia U-16 karena regulasi 1. Yadi Mulyadi – ASAD 313 2. Fajar Fathur Rahman – ASAD 313 3. Kartika Vedhayanto – PPLP Jawa Tengah 4. Dandi Maulana Hakim – SSB Bina Taruna

Manganang Cs Takluk 0-3 Dari Korea, Kalah Pengalaman dan Jam Terbang

Aprilia Santini Manganang (9) dan kawan-kawan, takluk 3-0 dari Timnas putri Korea Selatan, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). (Riz/NYSN)

Jakarta- Timnas putri Indonesia harus takluk dari Korea Selatan (Korsel) dengan skor 0-3, pada perempatfinal cabang bola voli, yang dihelat di Volley Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8). Aprilia Santini Manganang Cs dipaksa menyerah dalam pertarungan tiga set, 22-25, 13-25, dan 18-25 atas Negeri Ginseng, dalam waktu 76 menit. Amalia Fajrina Nabila, Kapten Tim, mengaku banyak pelajaran yang didapat dirinya dan kolega pada laga ini. Terlebih, menurut pemain bernomor punggung 7 itu, pertandingan kali ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua tim setelah beberapa tahun Indonesia absen di kejuaraan Asia. “Ini baru pertama kali lagi kami bertemu dengan mereka setelah beberapa tahun Indonesia tidak pernah ikut kejuaraan Asia. Tapi, secara keseluruhan kami sangat puas untuk pertandingan hari ini,” ujar pemain berusia 24 tahun itu usai laga. Diakuinya, level Indonesia dengan Korsel berbeda. “Di pertandingan tadi kami sudah berusaha maksimal. Di Asian Games sebelumnya mereka itu juara dengan mengalahkan Jepang. Ya, bisa dlihat perjuangan kami serta salut juga buat teman-teman yang lain,” tambahnya. “Kami tidak pernah ikut kejuaraan. Dan sekalinya ikut di Asian Games, apalagi ketemunya Korsel. Mereka tim yang konsisten ikut Grand Prix bahkan Olimpiade. Yang pasti banyak pelajaran yang didapat terutama teknik dan mental,” ungkap Amalia. Sementara itu, kendati takluk dari Korsel, namun Aprilia Manganang mengaku puas dengan dengan pertandingan yang dilakoninya bersama tim. “Sangat puas pertandingan hari ini. Apalagi tadi poinnya juga rapat terus. Kami banyak mengambil pelajaran dari mereka. Yang pasti pengalaman mereka dengan materi pemain yang bagus-bagus,” jelasnya. “Tadi juga bisa dilihat mereka mainnya tenang karena mungkin dari pengalaman dan juga jam terbang. Jadi Indonesia harus banyak bertanding di luar untuk mengimbangi permainan seperti tim Korsel,” ungkapnya. Diketahui, Indonesia melaju ke perempatfinal setelah berhasil bertahan di posisi empat besar Grup A. Srikandi Merah Putih menduduki posisi ketiga di klasemen akhir Grup A dengan poin 6, hasil dari 2 kali menang dan 2 kali kalah. Pada pertandingan terakhir di babak penyisihan Grup A, Timnas Indonesia harus menyerah saat melawan Thailand dengan skor 1-3, pada Senin (27/8). Di pertandingan ini, Timnas Indonesia hanya bisa mencuri keunggulan di set kedua dengan skor 25-20. Pada tiga set lain, Thailand menang dengan skor 19-25, 13-25 dan 13-25. Hasil ini membuat Thailand mengoleksi 12 poin dari 4 laga sekaligus merebut puncak klasemen akhir Grup A. Sedangkan Mohammad Ansor, juru racik tim, menargetkan anak didiknya bisa finish diposisi 5 besar. “Kami yakin anak-anak bisa ambil posisi 5 atau 6. Itu memang target yang ingin dicapai,” tukas Ansori. (Adt)

Remaja Asal ‘Kota Kembang’ ini Menargetkan Lampaui Prestasi Kedua Orang Tuanya di Cabor Pencak Silat

Hanifan Yudani Kusuma salah satu atlet berbakat dalam olahraga pencak silat Indonesia

Jakarta- Pencak Silat adalah cabang olahraga yang dikenal sebagai olahraga tradisional asli Indonesa, selain itu, Pencak Silat juga sudah dimainkan di belahan dunia lain selain Indonesia. Hanifan Yudani Kusuma salah satu atlet berbakat dalam olahraga pencak silat, menurun dari hobby kedua orang tuanya yang juga pelatih dari Popda Jabar, Hanifan mulai menyukai pencak silat ketika duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Dani Wisnu, Ayah dari Hanifan yang juga kebetulan tergabung di Pelatnas Pencak Silat pada 2005 membuatnya tergiur untuk meneruskan perjuangan sang ayah. “Awal kali ikut perguruan saya bergabung di Perguruan Silat Tadjimalela di Bandung, kemudian baru pertama kali ikut kejuaraan pas tahun 2010 itu saya kelas 6 SD” ungkap Hanifan. Kejuaraan Pencak Silat pertama nya adalah turnamen internal Tadjimalela Cup yang diadakan dalam lingkup Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Walaupun ini kali pertama Hanifan mengikuti kejuaraan, tetapi di kejuaraan tersebut Hanifan berhasil mengalungkan medali perak. Remaja asal Kabupaten Bandung tersebut akhirnya memutuskan untuk hijrah kembali ke ‘Paris Van Java’ demi mendapatkan pembinaan yang maksimal dan juga persiapan untuk mengikuti Popwil tahun 2013. Pasca menjalani Popwil Hanifan kembali diterjunkan untuk Kejurda, Popda hingga Popnas pada tahun 2015. Sebelum Popnas dirinya sempat mengikuti O2SN di Kota Makassar. “Setelah Popnas dan O2SN saya gabung tim Pelatda untuk persiapan Pon 2016, saya seleksi di kelas C Putra 55-60Kg dan alhamdulillah saya menang telak atas senior saya sendiri, tapi beda cabang aja” pungkasnya. Berhasil juara di Pon 2016 bujang kelahiran Soreang, Kabupaten Bandung itu jalani persiapan guna perhelatan World Champion di Bali dimana Ia berhasil mendapatkan medali emas di usia yang relatif muda, yakni 18 tahun. Hanifan akhirnya berhasil untuk bergabung di Pelatnas di tahun 2017 dan kerap berlatih demi persiapan event Sea Games 2017 lalu. Sebulan pra Sea Games, tim pelatnas menjalani training camp di ‘Negri Tirai Bambu’ China. Tak sia-sia hasil kerja keras dan latihan rutinnya membuahkan sebuah medali meskipun perungu, satu hak yang membuatnya selalu termotivasi di olahraga pencak silat. “Saya ingin lebih hebat lagi dari orang tua saya, ketika orang tua saya mampu 2x juara dunia dan 2x juara Sea Games, saya harus lebih dari mereka. Itu yang membuat saya bertahan dan kebetulan pencak silat kan budaya saya sendiri” kata remaja berambut pirang tersebut. Tak hanya pencak silat, Hanifan juga pernah menjajal olahraga renang dan sepak bola meski tak bertahan lama. Sejauh menekuni olahraga, remaja berusia 21 tahun itu mengakui sempat mengalami cidera di bagian kaki yang cukup parah ketika kelas 5 SD. Mengharuskannya vakum selama 6 bulan, justru dirinya cidera saat sedang bermain bola. Rutinitas latihan yang padat ternyata berpengaruh dalam proses belajar di sekolah, terutama ketika memasuki SMA. Membagi waktu antara latihan di pelatnas dan sekolah membuatnya kewalahan. “Terutama kelas 2 sampai kelas 3 ya mas karena itu lagi sibuk-sibuknya juga sekolah. Jadi dulu pagi saya latihan dulu dari jam 9 sampai jam 1, selesai latihan langsung ke sekolah. Itu sebelumnya buat kesepakatan dengan guru” tambahnya. Namun tak disangka-sangka saat dirinya ditanya oleh NYSNMedia.com perihal target berkepanjangan, Hanifan justru menjawab akan fokus ke pendidikan. Pasalnya, dirinya masih ada tekad kuat untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat Universitas dan akan memikirkannya pasca perhelatan Asian Games 2018. (Ham) Profil Singkat Nama : Hanifan Yudani Kusumah Tempat/Tgl Lahir : Bandung, 25 Oktober 1997 Asal : Soreang, Kab. Bandung Orang Tua : Dani Wisnu (ayah) Dewi Yanti (ibu) Media Sosial : Instagram @hanifan_yk Pendidikan SD Cibogor 2 Soreang Kab. Bandung SMPIT Anni’mah Soreang SMAN 20 Bandung Prestasi 2015 Malaysia Open, Pinang (emas) 2015 Kejurnas Invitasi, Jawa Barar (emas) 2016 Malaysia Open, Sabar (emas) 2016 PON Jawa Barat, Jawa Barar (emas) 2016 World Champions, Bali (emas) 2017 Pra Sea Games, Malaysia (perak) 2017 Belgia Open, Belgia (emas) 2017 Sea Games, Malaysia (perunggu) 2017 Asian Championship, Korea (perak) 2017 Malaysia Open, Pinang (emas) 2018 Belgia Open, Belgia (emas)

Gagal Main Simple Lawan Suriah, Timnas Basket Putra Indonesia Batal Raih Posisi Kelima

Terjadi duel udara antara pemain Timnas Indonesia, Jamarr Andre Johnson (Merah/71) dan Khalil Khouri (putih/00), dalam fase play off 5-8 Asian Games 2018, Selasa (28/8), di Basket Hall Gelora Bung Karno. Indonesia akhirnya takluk 66-76. (Riz/NYSN)

Jakarta- Skor 66-76 adalah hasil akhir laga basket putra Asian Games 2018 antara Indonesia vs Suriah pada Selasa (28/8). Bermain di Basket Hall Gelora Bung Karno, Jakarta, Timnas basket putra Indonesia harus kalah dalam semifinal play-off perebutan tempat kelima. Kekalahan dari Suriah, membuat tim Merah Putih menyisakan satu partai lagi, yakni penentuan tempat ketujuh melawan Jepang, pada Jumat (31/8). Sebelumnya, Jepang dikalahkan oleh Filipina dengan skor 113-80. Sementara itu, Suriah masih memainkan partai play off 5-6 menghadapi Filipina, pada hari dan tempat yang sama. Forward Timnas Indonesia, Jamarr Andre Johnson mengaku timnya bermain sangat buruk pada laga malam ini. “Kami memulai laga dengan sangat buruk dan itu membuat kami kehilangan segalanya. Kami mencoba bangkit di akhir laga, namun gagal untuk meraih hasil terbaik”, tuturnya, penuh rasa kecewa. Indonesia kerap tertinggal pada laga melawan Suriah. Defisit terjadi ketika Xaverius Prawiro dan kawan-kawan hanya mencetak sembilan angka di kuarter kedua. Alhasil, meski unggul perolehan angka 17-14 dan 25-10 pada dua kuarter berikutnya, timnas harus menderita kekalahan. “Jujur saya tak tahu apa yang terjadi dengan akurasi tembakan kami. Beberapa kali saya dan teman-teman dalam posisi terbuka ,tapi bola tidak mau masuk. Pertandingan hari ini seharusnya berjalan sederhana, namun kami membuatnya sulit. Masalah ada di kami, bukan lawan,” terang pemain naturalisasi asal Amerika Serikat ini. Dalam laga melawan Suriah, Indonesia gagal menghambat senjata utama lawan, Tarek Aljabi, yang dalam 29 menit 40 detik mampu menghasilkan 33 poin. Sementara itu, tak ada satu saja atlet Indonesia yang mampu menghasilkan 20 poin. Arki Dikania dan Xaverius Prawiro sama-sama mengemas 14 poin. (Dre)

Ketum PSSI Harus Berdebat Soal Status Pelatih Timnas, Nama Luis Milla Lagi-lagi Dipertahankan

PSSI akhirnya memutuskan untuk memperpanjang kontrak Luis Milla Aspas. Dia bakal diproyeksikan untuk menangani Timnas Indonesia untuk Piala AFF yang bakal berlangsung pada 8 November sampai 15 Desember 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, memastikan Luis Milla Aspas tetap menjadi pelatih timnas Indonesia. Sosok pelatih asal Spanyol itu siap bertugas membawa timnas Indonesia di Piala AFF 2018, yang mulai bergulir pada 8 November sampai 15 Desember. Keputusan untuk memperpanjang kontrak Milla ini, sesuai hasil rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI, di salah satu hotel di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Selasa (28/8). Milla pun setuju untuk memperpanjang kontrak satu tahun ke depan. Kontrak Milla sebagai pelatih Timnas U-23 dan Senior, sejatinya sudah tamat sejak tersingkir di 16 besar Asian Games 2018. Saat itu, suara-suara masyarakat yang ingin PSSI mempertahankan Milla, berhembus kencang. Di bawah Milla, Indonesia menunjukkan penampilan yang membaik. Ia tak banyak merombak pemain selama satu setengah tahun. PSSI akhirnya memutuskan untuk memperpanjang kontrak Milla. Dia bakal diproyeksikan untuk menangani Timnas Indonesia, untuk Piala AFF yang bakal berlangsung pada 8 November sampai 15 Desember 2018. “Saya atas nama PSSI dan seluruh Exco meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena gagal memenuhi target di Asian Games,” kata Edy. “Kami tadi berdebat juga dengan Exco terkait keuntungan dan kerugian. Akhirnya kami putuskan mengontrak Milla lagi untuk Piala AFF. Kami mengontrak Milla selama waktu satu tahun,” sambung Edy Target terdekat, Milla akan bertanggung jawab untuk memimpin Merah-Putih untuk Piala AFF 2018. “Khusus AFF yang akan dilaksanakan Bulan November. Sehingga, kami kontrak kembali Milla dalam jangka kontrak satu tahun,” tukas Edy. Karena kontrak Milla berdurasi satu tahun ke depan, maka Milla akan menukangi Indonesia pada SEA Games 2019, di Manila, Filiphina. “Target tentu harus juara, tidak boleh tidak juara,” pungkas Edy. Kelahiran Aragon, Spanyol, 12 Maret 1966 ini menyelesaikan tugasnya bersama Timnas U-23 dan timnas senior Indonesia, selama kurang lebih satu setengah tahun. Dikutip BolaSport.com dari labbola, Milla banyak memberikan perkembangan kepada skuat Garuda Muda. Mulai dari Sea Games 2017, Timnas U-22 meraih peringkat ketiga usai menekuk Myanmar dengan skor 3-1. Kala itu, Timnas U-22 hanya mengalami satu kekalahan, tatkala bertemu Malaysia di semifinal. Kemudian, di ajang Aceh World Solidarity Cup 2017, Timnas di bawah asuhan Milla meraih gelar runner-up, dengan mengukir dua kemenangan dan satu kali kalah. Indonesia hanya kalah dari Kirgistan, pada ajang persahabatan itu. Lalu, Milla kembali tunjukkan sentuhan apik Timnas U-23, di ajang PSSI Anniversary Cup pada 27 April hingga 3 Mei 2018. Meski berada di posisi ketiga, Indonesia mampu menjadi tim dengan pertahanan kuat, yang hanya kemasukan satu gol selama tiga laga. Terakhir, karya Milla mendapatkan apresiasi meski harus terhenti di babak 16 besar Asian Games 2018. Skuat Garuda Muda mampu mencetak 14 gol, dari lima pertandingan dan hanya kemasukan lima gol. Torehan ini jelas mengungguli 12 gol yang diciptakan oleh Ferdinand Sinaga dkk pada Asian Games 2014. Secara keseluruhan, Timnas U-23 dan senior Indonesia di tangan Milla mampu mencetak 53 gol dan kemasukan 32 gol dari total 24 pertandingan. Eks gelandang Real Madrid itu pun secara total mencatatkan 14 kemenangan, sembilan kali imbang, dan 11 kali kalah. Tim pun mampu membukukan rekor 16 kali cleansheet. (Ham)

Digulung Kazakhstan 65-93, Timnas Basket Putri Masih Keluhkan Perbedaan Postur Tubuh

Pebasket Kazakhstan, Tamara Yagodkina (7) dibantu Center Anna Vinokurova (13), berusaha melewati hadangan Center Timnas Indonesia, Vonny Hantoro (15), dalam laga pemeringkatan bola basket putri Asian Games 2018 di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (INASGOC)

Jakarta- Hasil basket putri Asian Games 2018 antara Timnas Indonesia versus Kazakhstan, pada Selasa (28/8) berakhir dengan skor 65-93. Tampil di Basket Hall Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, timnas basket putri kalah di semifinal play-off perebutan tempat kelima. Kazakhstan pun melaju ke pertandingan perebutan posisi kelima. Hasil itu jadi kemenangan kedua yang diraih Kazakhstan atas Indonesia di Asian Games 2018. Sebelumnya mereka menang 85-73 di babak penyisihan Grup X. Tamara Yagodkina kembali menjadi bintang kemenangan Kazakhstan, dengan perolehan double-double lewat 20 poin dan 10 rebound, dibantu 17 poin dan 6 rebound milik Zalina Kurazova. Sementara bagi Indonesia, Natasha Debby Christaline menjadi top skor 17 poin dibantu 14 poin dari Christine Aldora Tjundawan. Dalam laga ini, Arif Gunarto, pelatih tim basket putri Indonesia masih mempermasalahkan perbedaan menyolok postur badan.”Kami kalah postur dengan Kazakhstan, meski sejak awal untuk berusaha menekan ke daerah pertahanan mereka. Namun ya itu, kami kalah postur, jadi sulit bermain leluasa,” ujarnya, Selasa (28/8). Namun, ia optimis melawan Mongolia. “Mongolia posturnya nyaris serupa dengan kita, semoga menang untuk ambil posisi ke-7,” tambahnya. Laga perebutan tempat kelima antara Thailand vs Kazakhstan, dan laga perebutan tempat ketujuh Mongolia melawan Indonesia, akan digelar di Istora GBK, Senayan, Jakarta, pada Jumat (31/8). (Dre)

Hasilkan Emas Ke-24 Kontingen Asian Games Indonesia, Dobel Kevin/Marcus Bidik Prestasi di Olimpiade Tokyo

Tundukkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, dalam final ganda putra Asian Games 2018, di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). (Riz/NYSN)

Awas Jakarta- Menyudahi laga ketat dari rekan senegara, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Duo Minions –julukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon- memenangi laga dengan skor 13-21, 21-18, dan 24-22, di partai final yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). Kemenangan itu pun mengantarkan Kevin/Marcus meraih medali emas pertamanya di ajang Asian Games. Hebatnya, ini penampilan perdana mereka di Asian Games. Tentu hasil ini juga menjadi pembuktian bagi keduanya, hingga level Asian Games, mereka berhasil bebas dari kutukan Lee Chong Wei. Chong Wei merupakan pemain Malaysia yang amat mendominasi nomor tunggal putra beberapa tahun terakhir. Bahkan berbagai gelar Superseries yang didapat Chong Wei bisa dibilang tak terhitung. Namun, pada ajang bergengsi untuk negaranya, Chong Wei selalu mengalami kegagalan. Prestasi terbaik Lee Chong Wei hanyalah meraih medali perak seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan paling tinggi Olimpiade. Pada tiga edisi terakhir Asian Games pun Chong Wei pencapaian optimal pebulu tangkis 35 tahun itu, hanyalah meraih perak pada 2010. Hal serupa sempat menghantui Kevin/Marcus. Dominasi dobel peringkat satu dunia itu terlihat pada kejuaraan Superseries sejak 2017 hingga kini. Namun, di berbagai event penting, Kevin/Marcus nihil gelar, dengan yang paling mencolok di Kejuaraan Dunia. Tampil dalam dua edisi, duet ini belum bisa berbicara banyak dan bahkan belum pernah meraih medali. Kini di Asian Games 2018, Kevin/Marcus yang melakoni debutnya mampu memecahkan kebuntuan tersebut. Raihan emas di pesta olahraga terbesar se-Asia itu, memastikan mereka tak senasib dengan Chong Wei. Guna mematahkan kutuhkan Chong Wei, adalah menjadi kampiun Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Pada Olimpiade, Kevin/Marcus belum pernah tampil. Olimpiade Tokyo 2020, bisa menjadi jalan baginya untuk membuktikan diri jadi yang terbaik setelah emas Asian Games 2018. Medali emas Kevin/Marcus ini menjadi emas kedua dari cabor bulutangkis atau yang ke-24 untuk kontingen Indonesia. Sebelumnya, medali emas disumbangkan Jonatan Christie dari nomor tunggal putra usai mengalahkan pebulutangkis Taiwan, Chou Tienchen, 21-18, 20-22, dan 21-15. Prestasi tertinggi Fajar/Rian adalah medali emas SEA Games 2017 di nomor beregu putra. Sementara Kevin/Marcus merupakan juara dunia 2018 dan juga ganda putra peringkat satu dunia. Kevin memuji penampilan Fajar/Rian yang bermain dalam performa terbaik. “Puji Tuhan atas pertandingan hari ini. Padahal, skornya tadi sempat jauh, tapi bisa menang. Mereka bermain sangat baik dan diluar ekspektasi kami,” terang Kevin. Ditambahkan Marcus, pada pertandingan tadi keberuntungan menjadi faktor mereka meraih kemenangan. “Apalagi di gim ketiga mereka unggul, tapi di poin-poin akhir, kami lebih beruntung dari mereka,” timpalnya. Sementara Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), mengaku jika semula mentargetkan bulutangkis bakal meraih emas, dari ganda campuran dan ganda putra. “Pencapaian di Asian Games 2018 disemua sektor cukup baik. Di beregu putri dan tunggal putri prestasinya sudah lumayan, meski tak mendapatkan medali. Tapi Gregoria (Mariska Tunjung) mampu mengibangi lawan pemain unggulan. Dan memang kami tidak targetkan, justru ganda campuran yang target emas, malah dapetnya perunggu,” jelas Susy. “Emas tak terduga juga dapat dari tunggal putra. Dan ganda putra diluar ekspekstasi, karena setelah 44 tahun yakni Asian Games 1974, akhirnya kembali all indonesian final,” tukas istri dari legenda bulutangkis, Alan Budikusuma itu. Saat Asian Games 1974, di Teheran, Iran, partai final cabang bulutangkis mempertemukan sesama pemain Indonesia, yakni ganda Tjun Tjun/Johan Wahjudi meraih emas setelah menagalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra. Tambahan emas dari ganda putra itu membuat total koleksi medali kontingen Indonesia di Asian Games 2018 menjadi 24 emas, 19 perak, dan 29 perunggu. Sampai berita ini dibuat, untuk sementara posisi Indonesia mantap di peringkat keempat unggul enam medali emas atas Iran. (Adt)

Lakukan Pergantian Shuttlecock 20 Kali, Jonatan Christie Rebut Emas Asian Games 2018

Jonatan Christie menjadi tunggal putra ke-enam Indonesia, dalam sejarah bulutangkis perorangan Asian Games, yang sanggup meraih medali emas. Jojo, sapaannya, menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Jonatan Christie sukses mengamankan medali emas kontingen Indonesia usai di partai puncak cabang bulutangkis perorangan putra Asian Games 2018 menumbangkan unggulan empat, Chou Tie Chen asal Taiwan, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8). Pebulutangkis asal PB Tangkas Specs Jakarta ini, tampil superior menghentikan perlawanan Chou, dalam drama pertarungan tiga gim selama 73 menit, dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Selain ditonton ribuan pendukung, laga ini juga mendapatkan dukungan penuh Wiranto (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia/PP PBSI), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga/Menpora), serta beberapa jajaran Menteri Kabinet Kerja. Pada laga final, Jojo, sapaan akrab penghuni Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta itu memulai pertandingan dengan kepercayaan diri penuh. Di gim pertama, Jojo sempat unggul 11-8 sebelum jeda interval. Chou tak menyerah dan mampu membuat kedudukan imbang 15-15. Jojo kembali memaksimalkan peluang. Serangan demi serangan yang ia lancarkan itu berbuah match point 20-18. Akhirnya, bola pengembalian Chou yang melebar ke sisi kiri lapangan, membuat pemuda bertinggi 179 cm ini mengunci gim, dengan skor 21-18. Sebaliknya, di gim kedua, Chou mengusai laga dengan mencuri dua poin lebih dahulu atas Jojo. Dan wakil Taiwan itu unggul 11-8 saat jeda interval. Poin kedua pemain melebar untuk keunggulan Chou menjadi 18-13 akibat kesalahan demi kesalahan yang dibuat Jojo. Perlahan dan pasti, Jojo mampu memundi poin demi poin hingga memaksa kedudukan imbang 20-20. Namun, bola pengembalian Jojo yang menyangkut di net saat poin krusial membuat Chou mampu memperpanjang nafas di gim ketiga. Chou menutup mengakhiri gim dengan skor 22-20. Pada gim penentu, duel sengit mewarnai pertandingan yang ditandai dengan rapatnya perolehan poin kedua pemain hingga kedudukan imbang 4-4. Setelah itu, perolehan poin Jojo melesat dengan unggul 8-4, dan menutup jeda interval 11-7. Selepas jeda, dominasi anak pasangan Andreas Adi Siswa (ayah) dan Marlanti Djaja (ibu) memundi poin gagal dihentikan oleh Chou. Unggul 18-12 membuat Jojo makin percaya diri. Kendatipun Chou terus berusaha mematahkan serangan lawan hingga memangkas jarak poin menjadi 15-19. Namun itu belum cukup untuk membuat Jojo mencetak match point 201-15. Jumping smash keras Jojo akhirnya mengakhiri perlawanan pemain Taiwan peraih gelar Jerman Open 2012 itu, 21-15, sekaligus memastikan meraih medali emas pesta multievent empat tahunan edisi ke-18 itu. “Yang pasti puji Tuhan, karena berkat Tuhan yang luar biasa banget. Kita semua tahu ini kejuaraan se-Asia, notabene memang banyak pebulutangkis bagus-bagus di Asia. Ada Kento Momota, Chen Long, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi dan Anthony (Sinisuka) Ginting,” ujar Jojo usai pengalungan upacara pengalungan medali. Peraih medali emas SEA Games 2017, Kuala Lumpur, Malaysia itu mengaku perjalanannya di Asian Games 2018 tidak mudah. Bahkan saat pertandingan final, tercatat kedua pemain melakukan pergantian shuttlecock sebanyak 20 kali, yakni gim pertama 11 kali, gim kedua 6 kali, dan gim penentu 3 kali. “Mungkin Chou tegang, dari pertama kali jabat tangan sebelum pertandingan dimulai, tangannya sedikit dingin, wajahnya tegang. Baru beberapa pukulan dia terlihat capek. Mungkin ada pengaruh kemarin melawan (Anthony) Ginting,” lanjut pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 ini. Menurutnya, kemenangan ini sangat luar biasa baginya. Terlebih, dirinya sempat terpuruk serta banyaknya komentar negatif yang mewarnai perjalanan karirnya di olahraga ‘tepok bulu angsa’ itu. “Tapi saya berpikir, kami sudah usaha kenapa hasilnya belum? Jadi juara di Asian Games, saya sangat senang, dan buktikan kalau saya masih bisa. Setelah Asian Games ini yang terdekat itu ada Jepang Open, tak banyak waktu untuk recovery, dan lusa sudah mulai latihan lagi,” bilang Jojo. Berkat prestasinya, Jojo, berhak disandingkan dengan legenda bulutangkis Tanah Air, yang menyumbang medali emas Asian Games. Sebelumnya, Taufik Hidayat, sukses meraih emas di Asian Games 2002, Busan, Korea Selatan (Korsel), dan Asian Games 2006, Doha, Qatar. Lalu, Hariyanto Arbi, pada 1994 saat Asian Games Hiroshima, Jepang. Dan Lim Swie King di Asian Games 1978, Bangkok, Thailand, setalah 12 tahun paska Ang Tjin Siang di Asian Games 1966, Bangkok, Thailand. Sedangkan medali emas pertama Merah Putih, diukir Tan Joe Hok, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Jakarta. (Adt)

Final Lari 100 Meter Putra Rekor Asia Pecah, Lalu Zohri ‘Cukup’ Sumbang Rekor Pribadi Tanpa Medali

Takluk dari sprinter China dan Kenya, pelari Indonesia asal Lombok, Lalu Muhammad Zohri (400), gagal meraih medali, pada final lari 100 meter putra Asian Games 2018. Ia hanya mampu berada di posisi tujuh, dari delapan finalis, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Sprinter China, Su Bingtian berhasil mencetak rekor Asian Games 100 meter dengan catatan waktu 9,92 detik pada babak final, pada Minggu (26/8), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Catatan tersebut membuat Su Bingtian meraih medali emas di nomor bergengsi atletik tersebut. Pada urutan kedua sprinter naturalisasi Qatar asal Kenya, Tosin Ogunode, berhasil mencatatkan waktu 10,00 detik dan meraih medali perak. Sementara medali perunggul diraih sprinter Jepang Ryota Yamagata dengan catatan waktu yang sama dengan Tosin yaitu 10,00 detik. Sedangkan Usain Bolt kebanggaan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri, belum berhasil menyumbang medali pada final pertandingan lari 100 meter putra Asian Games 2018. Zohri memang tidak dibebani target pada event Asian Games 2018. Di partai final ini, Zohri harus puas berada di posisi ketujuh dengan catatan waktu 10,20 detik. Hasil ini lebih baik dari dua sesi sebelumnya, yakni babak kualifikasi dan semifinal. Catatan waktu yang ditorehkan Zohri lebih baik dibanding sprinter Korea Selatan, Kokyoung Kim yang mencatat waktu 10,26 detik. Sebelumnya, pada laga semifinal, pemuda kelahiran Lombok, 1 Juli 2000 ini, meraih peringkat kedua teratas. Zohri mencatatkan waktu 10,24 detik. Torehan ini merupakan catatan waktu yang terbaik, dimiliki Zohri di pentas senior, sebelum sesi final 100 meter. Rekor terbaiknya kala menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yakni 10,18, tak dihitung, karena bukan event senior. Namun, usai diakumulasikan pencapaian waktu, Zohri menempati peringkat ketujuh terbaik. Pada Asian Games 2018, selain sprint 100 meter, Zohri juga akan berlaga di nomor lari estafet 4×100 meter putra, pada Rabu (29/8). (Dre)

Kalah Bersaing Dari Korea, Atlet Lari Gawang 100 Meter Emilia Nova Sumbang Perak

Emilia Nova (putih) tak menyangka, jika debutnya di Asian Games 2018 langsung menyabet medali perak, nomor lari gawang 100 meter putri, cabor atletik Asian Games 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia kembali menambah koleksi satu medali perunggu dan satu perak, lewat cabang olahraga atletik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (26/8). Medali perak diraih Emilia Nova, yang bertanding pada nomor lari gawang 100 meter putri. Ini menjadi perak ke-13 untuk Indonesia. Tambahan satu medali perunggu Indonesia diraih Sapwaturrahman yang turun pada nomor lompat jauh putra. Medali ini menjadi perunggu ke-25 untuk kontingen Indonesia. Dalam enam kali percobaan, Sapwaturrahaman mencatatkan jarak terjauh 8.09 meter. Ini adalah catatan terbaik Sapwaturrahaman dalam Asian Games. Sapwaturrahaman kalah dari dua wakil China, yang meraih medali emas (Wang Jianan) dan medali perunggu (Zhang Yaoguang). Wang Jianan mencatatkan jarak 8.24 meter yang menjadi rekor terjauh sepanjang sejarah Asian Games. Di peringkat kedua, Zhang Yaoguang, menorehkan jarak lompatan 8,15 meter. Sementara, Emilia berhasil menyumbang perak, usai di partai final gagal bersaing dengan wakil Korea Selatan, Jung Hye-Lim. Hye-Lim finish terdepan dengan catatan waktu 13,20 detik sekaligus memastikan meraih medali emas. Sedangkan atlet Merah Putih berusia 23 tahun itu, membukukan catatan waktu 13,33 detik dan menjadi runner up Emilia berhak atas medali perak. Sedangkan medali perunggu diperoleh wakil Hongkong Lui Lai Yu. Ia menorehkan catatan waktu 9 detik lebih lambat dari Emilia. Perak yang diraih dara kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1995, merupakan medali pertama Indonesia, dari cabang atletik di Asian Games 2018 Bagi Emilia, Asian Games 2018 merupakan debut pertamanya dan ia tak menyangka meraih medali di nomor yang jadi spesialisasinya itu. Terlebih, atletik merupakan cabang olahraga terukur, dan sulit bisa meraih medali. Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) hanya menarget satu emas pada Asian Games 2018. Ia juga mengaku bersyukur meraih medali perak. “Atletik itu olahraga terukur yang sulit mendapatkan medali. Apalagi untuk tingkat Asia seperti ini,” ungkap Emilia usai lomba. “Terima kasih seluruh masyarakat Indonesia, buat orang tua, pelatih dan pengurus PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) atas doanya,” tambahnya. (Adt)

Melaju ke Semifinal, Fajar/Rian Tantang Unggulan Dua Asal China, Kevin/Marcus Duel Dengan Ganda Taiwan

Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2108, paska menyingkirkan wakil Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, dua gim langsung, 21-17 dan 21-13. (Pras/NYSN)

Jakarta- Dobel Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto berhak lolos ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games XVIII/2108. Mereka sukses membuat wakil Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi menelan kekecewaan. Wakil Negeri Jiran itu mampu tampil baik di gim pertama dengan membuat kedudukan imbang 17-17. Namun, duet Merah Putih tak membiarkan Ong/Teo merebut gim ini. Dengan memainkan bola pendek menjadi kunci Fajar/Rian mengunci gim pertama dengan skor 21-17. “Saat kedudukan 17-17 di gim pertama, saya tak berpikir gimana-gimana. Kuncinya gim pertama tak boleh angkat bola karena rawan diserang oleh lawan. Jadi kami terapkan permainan no lob, dan berhasil,” ungkap Fajar usai laga. Berlanjut ke gim kedua, Fajar/Rian makin tak terbendung. Mereka dengan mudah meraih poin atas Ong/Teo. Dan usai tampil selama 33 menit, Fajar/Rian mengunci kemenangan dengan skor 21-13. “Mereka tak bisa bermain bertahan. Sebab ada faktor menang dan kalah angin. Mungkin mereka sempat ada defense, tapi di gim kedua, mereka bisa ditembus,” timpal Rian. Kemenangan Rian/Fajar atas Ong/Teo di perempat final Asian Games 2018 sekaligus membalas kekalahan di ajang All England 2018, Maret lalu. Duet Indonesia yang menempati rangking 9 dunia itu kalah rubber game, 16-21, 21-16, dan 21-23. Di semifinal, Fajar/Rian menantang unggulan dua asal China, Li Junhui/Liu Yuchen yang menang atas wakil Srilanka, Sachin Dias/Buwaneka Goonethilleka, staright game, 21-12, 21-15. “Lawan kami besok (Senin, 27/8) juga berat. Power dan serangan mereka, karena postur mereka tinggi. Jadi harus antisipasi bola datar,” terang Fajar. Sementara itu, langkah ganda utama Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon masih belum terbendung. Mereka sukses menumbangkan Goh V Shem/Tan Wee Kiong asal Malaysia, straight game, 22-20, 21-19. Hasil itu sekaligus memperlebar rekor pertemuan kedua pasangan menjadi 3-1. Dua kemenangan Kevin/Marcus masing-masing diraih di ajang India Open 2016 (21-15, 21-17), dan Thomas & Uber Cup Finals 2018 (21-19, 20-22, 21-13). Sedangkan satu-satunya kemenangan Goh/Tan diperoleh di Swiss Open 2015 (21-10, 21-19). Menuntaskan laga selama 34 menit, Marcus mengakui bila dirinya bersama Kevin lebih siap dalam pertandingan ini, dibandingkan dengan lawan. “Kami lebih siap dan lebih yakin dari awal main. Sehingga kami bisa unggul dari mereka,” ujar Marcus. Diakui Marcus, bila penampilan Goh/Tan sangat bagus dan memiliki speed yang baik. “Jadi kami juga harus siap untuk main dengan speed juga,” tambah suami dari Agnes Amelinda Mulyadi itu. Di semifinal, Kevin/Marcus sudah ditunggu Lee Jhe Huei/Lee Yang. Wakil Taiwan ini meraih kemenangan, dari wakil Korea Selatan, Choi Solgyu/Min Hyuk Kang, staright game, 21-16, 21-16. (Adt)

Lakoni Duel Kurang Dari Satu Jam, Dua Wakil Tunggal Indonesia Lolos ke Semifinal

Anthony Sinisuka Ginting sukses menekuk wakil China, Chen Long, dua set langsung dengan skor 21-19 dan 21-11, pada laga perempat final, cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Minggu (26/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Wakil tunggal Indonesia, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting, melaju ke semifinal cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, pada Minggu (26/8). Dihadapan publik sendiri, di Istora Senayan, Jakarta, Jonatan dan Anthony memaksa lawan menyerah, lewat duel yang berlangsung kurang dari satu jam. Memainkan laga perempat final, Jonatan hanya butuh waktu 46 menit untuk memaksa wakil Hongkong, Wong Wing Ki Vincent menyerah. Di gim pertama, pemain asal PB Tangkas Specs Jakarta itu tampil dominan, bahkan tak memberikan kesempatan lawan, memundi poin dengan mudah. Jonatan yang tampil percaya diri itu kerap membuat Wong tak berkutik. Bahkan, poin yang dikumpulkan pebulutangkis Pelatnas PBSI Cipayung itu, tak mampu dikejar hingga membuat Wong pasrah. Alhasil, Jonatan mampu mengunci gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. Berlanjut di gim kedua, Wong berusaha keluar dari tekanan. Namun, pebulutangkis Merah Putih berpostur 1,79 meter itu konsisten dengan performanya. Sempat memimpin 11-9 di interval gim ini, tapi Wong berhasil menyusul serta memimpin perolehan poin 15-14. Lawan yang kerap mengangkat bola ke belakang, dibalas dengan jumping smash keras oleh Jonatan. Akibatnya, Jonatan kembali berhasil meninggalkan perolehan angka lawan sekaligus memastikan lolos ke semifinal usai membungkus kemenangan dengan skor 21-18. “Terima kasih Tuhan. Suporter yang ada di Istora membuat juga Wong sedikit tegang. Di awal Wong sering mati sendiri. Bola yang seharusnya tidak sulit, tapi tidak bisa dia kembalikan atau keluar. Ini jadi keuntungan tersendiri buat saya,” ujar Jonatan usai laga. Terkait peluang di semifinal, yang dihelat pada Senin (27/8), Jonatan mengatakan akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan Hendry Saputra (Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI). “Setelah lihat hasilnya barus bisa saya bicarakan dengan pelatih,” cetus Jonatan. Sedangkan, Anthony menorehkan hasil gemilang usai menekuk Chen Long (China) yang juga unggulan lima ini, dalam tempo 50 menit. Pertemuan kedua pemain ini berlangsung sengit sejak awal gim pertama. Sempat tertinggal 6-11 dari Chen di interval gim pertama, tak membuat Anthony mengendurkan tekanan. Jonatan dan Chen sempat membuat publik Istora tegang, saat kedudukan imbang 18-18. Namun, penampilan impresif dari pebulutangkis Tanah Air berusia 21 tahun itu membuat Chen kewalahan. Anthony memanen angka serta membungkus gim ini, dengan skor 21-19. Memulai gim kedua, Anthony langsung menggebrak dengan memimpin interval 11-6. Bahkan, poin wakil tuan rumah makin tak terkejar oleh lawan hingga match point 20-11. Dan bola kembalian Chen yang menyangkut di net memastikan Anthony merebut gim ini dengan skor terpaut jauh 21-11. “Puji Tuhan, saya bisa lewati hari ini dan dikasih kemenangan. Di gim pertama awalnya sampai interval ketinggalan, saya coba strategi seperti kemarin, lebih inisiatif menyerang serta mengembalikan kepercayaan diri lagi,” terang Anthony. “Di gim kedua, tak ada strategi khusus. Chen dapat lapangan yang ‘menang angin’, jadi dia banyak melakukan kesalahan sendiri, jadi ragu-ragu mainnya,” tambahnya. Di babak semifinal, Anthony akan berjumpa dengan Chou Tien Chen (China Taipeh) sekaligus unggulan empat. “Persiapannya tetap balik ke diri saya sendiri, dari perjalanan kemarin nggak mau terlalu banyak mikir. Sebenarnya sudah ada rancangan mau main apa, tapi fokus ke jaga badan, jaga makan, mental, kalau di lapangan semua berubah,” tegas Anthony. (Adt)

Sersan Dua TNI Berusia 20 Tahun Ini, Sumbang Keping Emas ke-11 Dari Cabor Karate

Rifki Ardiansyah Arrosyiid, seorang Sersan Dua (Serda) TNI, mempersembahkan medali emas ke-11 untuk Indonesia di Asian Games 2018, usai tampil di babak final nomor pertandingan Kumite -60 kilogram, di Plenary Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (26/8). (liputan6.com)

Jakarta- Karateka putra Indonesia, Rifki Ardiansyah Arrosyiid, mempersembahkan medali emas ke-11 untuk Indonesia di Asian Games 2018. Rifki memenangkan medali emas pada babak final nomor pertandingan Kumite -60 kilogram di Plenary Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (26/8). Medali emas diraih usai Rifki menekuk karateka asal Iran, Amir Mahdi Zadeh dengan skor akhir 9-7. Sebelumnya, tim karate Indonesia juga memastikan medali perunggu kumite -55 kg putri, atas nama Cokorda Istri Agung Sastya Rani, paska mengalahkan karateka China, Ding Jiamei, pada nomor 55 kg. Ini merupakan emas perdana dari cabang karate untuk Indonesia di Asian Games 2018. Catatan lain, Karate kembali bisa menyumbang emas Indonesia di Asian Games, sejak Busan 2002. Pada Asian Games 2002 itu, karateka Indonesia, Hasan Basri, menjadi juara pada nomor kumite putra -65 kg. Di fase penyisihan 16 besar nomor Kumite -60 kilogram, pemuda kelahiran Surabaya 24 Desember 1997 ini, mengalahkan karateka asal Thailand, Siravit Sawangsri dengan skor 5-1. Kemudian, pada babak final delapan besar, Rifki kembali menumbangkan karateka asal China, Hu Chen, dengan skor telak 8-0. Terus melaju lagi, di babak perempat final, Rifki bertemu dengan karateka asal Hong Kong, Lee Chun Ho, dan berhasil mengalahkannya dengan perolehan nilai 3-0. Usai mengalahkan Hong Kong, Rifki maju ke babak semifinal, menghadapi karateka Malaysia, Prem Kumar Selvam. Dengan skor 4-4, Rifki sukses mengalahkan karateka asal negeri Jiran itu. Kemenangan itu akhirnya mengantarkan Rifki menuju babak final dan berhadapan dengan karateka Iran, Amir Mahdi Zadeh. Sebelum pertandingan, karateka senior Indonesia, Umar Syarief, menganggap Mahdi Zadeh adalah lawan yang sulit untuk Rifki. Maklum, Mahdi Zadeh adalah peraih medali emas Asian Games Incheon 2014 lalu dalam nomor kumite 60 kg. “Iran juara dunia, dan Asian Games berapa kali juga juara. Ini pertandingan mental. Rifki masih muda, tapi memiliki teknik luar biasa, dan levelnya sudah dunia. Tinggal mentalnya mengimbangi lawan pengalaman,” ucap Umar. Sejatinya, Rifki tak setenar atlet elit Indonesia lainnya. Namanya terdengar asing, jika dibanding dengan Evan Dimas di cabor sepak bola, atau rising star di lintasan atletik, Lalu Muhammad Zohri, atau si tampan Jonatan Christie, dari cabor bulu tangkis. Dilansir dari laman resmi Asian Games 2018, pemuda bertinggi 167 centimeter dan berat 60 kilogram adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, yang bertugas di Satuan Jasmani Militer Kodam (Jasdam) KODAM V/BRAWIJAYA, Sumatra Selatan, dengan pangkat Sersan Dua (Serda). Sebelum menekuk Mahdi Zadeh (Juara Dunia Karate Kumite 60kg 2012 dan 2016), Rifki yang meniti karir karatenya sejak usai sekolah, pernah tampil di beberapa kejuaraan-kejuaraan nasional. Lalu, setelah remsi menjadi seorang tentara, Rifki turun di Kejurnas Karate Marinir Open 2014 dan Kejurnas Mendagri 2015, serta Kejuaraan Piala Panglima TNI 2017. Meski menjalani debut di Asian Games 2018, Rifky ternyata juga mengantongi beberapa prestasi tingkat Internasional, diantaranya medali perunggu pada nomor Team Kumite di SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia. Dia juga tercatat menduduki peringkat ke 15 untuk nomor -55 kilogram putra di World Junior, Cadet & U21 Championships pada 2013, di Guadalaraja, Spanyol. Selain itu, dia juga tercatat duduk di peringkat ke 66 di Karate 1 Premier League, di Dubai (2017). (Ham)

Dikalahkan Mongolia, Timnas Basket Putra Indonesia Malah Sukses Cetak Sejarah di Asian Games

Power forward Timnas basket putra Indonesia, Jamarr Andre Johnson (11), harus mengakui keunggulan tim Mongolia dengan skor 69-74, di Hall Basket, Senayan, Sabtu (25/8) malam. Namun, Indonesia tetap lolos ke perempat final Asian Games 2018. (medcom.com)

Jakarta- Timnas basket putra Indonesia tumbang dari Mongolia 69-74 pada laga pamungkas, penyisihan Grup A Asian Games 2018 di Hall Basket, Senayan, Sabtu (25/8) malam. Walau takluk dari Mongolia, anak asuh Fictor Gideon Roring tetap melaju ke perempat final sekaligus menorehkan sejarah, dan akan bertemu raksasa Asia, Cina. Indonesia unggul dalam perhitungan selisih poin memasukkan kemasukan, dari Mongolia dan Thailand. Ketiga tim sama-sama mengoleksi nilai empat, hasil satu kali menang dan dua kali kalah. Karena saling mengalahkan, maka skor pertemuan ketiganya saja yang dihitung, tanpa memasukkan hasil melawan Korea Selatan. Indonesia tertolong kemenangan dengan selisih 12 angka atas Thailand, sementara tim Negeri Gajah Putih sudah sejak awal tersingkir, karena hanya menang dua poin dari Mongolia. Korsel menjadi juara Grup A dengan tiga kemenangan tanpa kalah. Negeri Ginseng menyapu Indonesia, Thailand, dan Mongolia, dengan kemenangan besar. Tampil di hadapan pendukung sendiri, Timnas Indonesia mengawali kuarter pertama dengan baik. Layup dari Arki Dikania Wisnu membawa Indonesia memimpin 18-14 pada akhir kuarter pertama. Masuk kuarter kedua, Timnas Indonesia mendapat perlawanan sengit dari Mongolia. Indonesia pun gagal mempertahankan keunggulan ini dan berbalik tertinggal 27-38 dari Mongolia. Pada dua kuarter terakhir, Indonesia sulit membendung laju sang lawan. Sumbangan poin Arki Dikania, Valentino Wuwungan, hingga Jamarr Andre Johnson, gagal menghindarkan merah putih dari kekalahan 69-74 kontra Mongolia. Arki menjadi penyumbang poin terbanyak Timnas Indonesia dengan 15 poin dan lima rebound. Sementara, shooting guard Mongolia yag bermain untuk klub Filiphina, Barangay Ginebra San Miguel, Tungalagiin Sanchir, menjadi penampil terbaik dengan 28 poin dan 10 rebound. Meski kehadiran pendukung Indonesia memenuhi tribun penonton hingga membeludak, situasi ini menurut Fictor, seolah turut menambah beban. Meski demikian, ia mengaku cukup puas karena berhasil mencetak sejarah. “Mungkin terlalu exciting, bebannya terlalu berat. Target masuk delapan besar sangat berat. Lawan kita juga benar-benar berat. Tapi, hari ini kami cetak sejarah masuk delapan besar Asia. Apalagi tipisnya angka, benar-benar harus kita pertahankan. Jadi, ya harus disyukuri,” kata Ito -sapaan akrab Fictor. Meski melawan China di laga berikutnya, pelatih kelahiran Manado 18 Desember 1972, ini punya target di fase 8 besar. “Memang lawan kita berikutnya raksasa Asia, China, tapi saya dan tim, pasti punya target. Minumal 5 besar-lah, yang penting jangan paling dasar,” pungkas pria bertinggi badan 193 cm ini. (Dre)

Anthony Revans Tekuk Momota Dua Gim Langsung, Ganda Putra Amankan Tiket Perempat Final

Lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit, Anthony Sinisuka Ginting (putih) menang dari wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). (Tribunnews.com)

Jakarta- Anthony Sinisuka Ginting akhirnya menuntaskan dendam, paska menekuk wakil Jepang sekaligus unggulan dua, Kento Momota, di babak 16 besar cabang bulutangkis perorangan Asian Games 2018, di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (25/8). Pemain tunggal asal klub SGS PLN Bandung itu, sebelumnya takluk dari ketangguhan Momota, pada pertemuan semifinal beregu putra, Selasa (21/8), lewat laga rubber game, 21-14, 14-21, dan 16-21, selama 84 menit. Pada laga 16 besar, memainkan gim pertama, Anthony meladeni pemain Negeri Sakura itu. Saling tekan dan serang mewarnai duel kedua pemain ini. Namun, berkat ketenangan dalam menempatkan bola membuat Anthony mampu membungkus gim pertama dengan skor 21-18. Situasi tak berubah di gim kedua. Anthony dan Momota tampil impresif. Kendati sempat tertinggal 6-11, namun penghuni Pelatnas PBSI Cipayung itu tampil tenang, bahkan bmembuat angka imbang 15-15. Skor lawan terpaku di angka 18, sedangkan Anthony memaksa Momota menelan pil pahit, usai mengunci gim kedua dengan skor 21-18. “Saya tak menyangka bisa menang dua game langsung. Rasanya plong, apalagi saya kalah di beregu. Senang bisa revans. Sebenarnya performa Momota cukup bagus. Dan di awal game dia memegang kendali. Tapi ada peribahasa, bila hasil tidak akan mengkhianati usaha,” ujar Anthony mengomentari kemenangannya atas Momota. Di perempat final, Anthony menantang Chen Long asal China, yang menempati unggulan lima. Berjumpa dengan peraih medali emas Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brasil itu, anak pasangan Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu) mengkau siap. “Harus lebih fokus sama konsentrasi di lapangan saja,” lanjutnya. Selain Anthony, wakil Indonesia di tunggal Jonatan Christie juga sukses mencatat hasil positif. Pemain berusia 20 tahun, kelahiran Jakarta, 15 September itu berhasil memulangkan Khosit Phetpradab (Thailand), rubber game, 17-21, 21-18, dan 21-18. “Sulit melawan Khosit, tetapi Tuhan bantu saya banyak hari ini. Saya merasa performa saya kurang dibandingkan kemarin. Saya nggak mau menyerah begitu saja, ini Asian Games yang empat tahun sekali,” ujar pebulutangkis asal PB Tangkas Specs itu usai laga. “Saya mau semaksimal mungkin, sampai habis, sampai saya benar-benar tak bisa jalan seperti Anthony, saya akan lakukan itu,” tambahnya. Di perempat final, Jonatan akan berduel dengan Wong Wing Ki Vincent (Hongkong) usai meraih kemenangan atas Wang Tzu Wei (China Taipeh), rubber game, 21-12, 16-21, dan 21-13. Hasil cemerlang turut diperoleh dua ganda terbaik Indonesia, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Fajar/Rian secara meyakinkan menyudahi duet Korea, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, straight game, 21-18, 21-13, dalam tempo 44 menit. Di laga perempat final nanti, Fajar/Rian akan beradu kekuatan dengan ganda Negeri Jiran Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, yang secara mengejutkan menang atas unggulan tiga Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 21-14, 21-17. Sementara itu, kompatriotnya Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon, juga melenggang ke perempat final setelah menghentikan langkah Takuto Inoue/Yuki Kaneko (Jepang), rubber game, 21-16, 19-21, dan 21-18. Selanjutnya, pasangan Indonesia peraih juara Indonesia Open 2018 itu ditantang dobel Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong, yang menaklukan Bikash Shrestha/Nabin Sharestha (Nepal), straight game, 21-9, 21-12. Ditanya mengenai pertandingan perempat final, pada Minggu (25/8), Marcus mengatakan akan mengeluarkan penampilan terbaiknya bersama Kevin. “Untuk besok, kami mau main yang bagus saja dulu,” cetus Marcus singkat. (Adt)

Tugas Timnas U-23 Berikutnya : Kualifikasi Piala Asia U-23, dan Status Luis Milla

Gelandang serang Timnas U-23 kelahiran Semarang, 2 September 1996, Septian David Maulana (14), bakal ditunggu event Piala AFF 2018 dan Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, usai tampil di Asian Games 2018. (Pras/NYSN)

Jakarta- Timnas U-23 harus mengakui keunggulan Uni Emirat Arab (UEA) di babak 16 besar Asian Games 2018, di Stadion Wibawa Mukti, Jumat (24/8). Paska gagal di Asian Games, Garuda Muda dijadwalkan mengikuti Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, dan Piala AFF 2018. Piala AFF 2018 dimulai pada 8 November hingga 15 Desember, dengan format baru. Indonesia masuk di Grup B, bersama juara bertahan Thailand, Filipina, Singapura, dan pemenang kualifikasi antara Timor-Leste kontra Brunei Darussalam. Timnas U-23 juga masuk dalam proyeksi, menjadi tim yang akan tampil di ajang ini. Usai AFF, perjuangan Timnas U-23 tampil di Olimpiade 2020, bakal dimulai dari babak kualifikasi Piala Asia U-23 2020. Fase kualifikasi dihelat 18-26 Maret 2019. Babak kualifikasi ini diikuti oleh seluruh tim anggota konfedrasi Asia (AFC). Nantinya, tim-tim ini dibagi menjadi 10 grup, dan masing-masing juara grup lolos ke putaran final, ditemani enam runner-up terbaik. Timnas U-23 dalam pembagian pot, masuk ke pot 3 zona timur. Pot ini juga dihuni oleh Kamboja, Timor-Leste, Laos, dan Singapura Setelah itu, babak putaran final Piala Asia U-23 2020, bergulir pada 8-26 Januari 2020. Empat tim semifinalis, dipastikan otomatis mendapat jatah tiket ke Olimpiade 2020, yang dihelat di Tokyo, Jepang, pada 24 Juli-9 Agustus. Timnas Indonesia dalam sejarahnya, pernah sekali tampil di Olimpiade yakni pada 1956. Lalu, sejak Olimpiade cabang sepak bola diikuti oleh Timnas U-23 masing-masing negara pada 1992, tim Merah Putih belum pernah sekalipun lolos. Kiper Timnas U-23, Andritany Ardhiyasa, meminta timnya tak berlama-lama larut dalam kesedihan, usai gagal di Asian Games 2018. Pemain Persija Jakarta ini ingin timnya menatap turnamen selanjutnya yaki Piala AFF 2018. “Kami semua kecewa karena harus tersingkir. Tapi, kekalahan ini bukan akhir timnas, masih banyak pertandingan di depan,” ujar Andritany. “Jangan pernah menyerah. Di depan masih ada AFF, dan turnamen lainnya,” sambungnya. Satu hal yang harus dipastikan PSSI saat ini adalah kursi kepelatihan. Kontrak Luis Milla bersama PSSI akan habis per tanggal 31 Agustus. PSSI harus segera mengambil keputusan apakah memperpanjang kontrak pelatih asal Spanyol ini, atau tidak. (Dre)

Tunggal Putri Indonesia Kandas, Dobel Greysia/Apriyani Wakili Tim Merah Putih di Semifinal

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16, pada laga perempat final, nomor perorangan Asian Games 2018, Sabtu (25/8). (Pras/NYSN)

Jakarta- Indonesia tanpa wakil di babak perempat final, cabang olahraga bulutangkis Asian Games 2018, untuk nomor tunggal putri, setelah langkah Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, akhirnya terhenti di babak 16 besar, di Istora Senayan, Sabtu (25/8). Fitriani yang menghadapi pebulutangkis India, Saina Nehwal, di babak 16 besar kalah dua gim langsung, 6-21 dan 14-21. Sedangkan Gregoria menyerah dari unggulan ketiga yang juga asal India, PV Sindhu, 12-21, 15-21. Dikutip dari situs Badminton Indonesia, Fitri kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat di gim pertama. Bahkan Fitri cenderung banyak melakukan kesalahan sehingga Saina menang mudah. Di gim kedua Fitri sempat memberikan perlawanan kepada Saina. Hanya saja, kesalahan-kesalahan yang dilakukan Fitriani, kembali membuat poin Saina terus bertambah dan memenangi pertandingan. “Saina lebih menekan, permainan saya tidak berkembang. Di gim kedua saya unggul di awal, tetapi terkejar lagi karena dia bisa mengatasi pola yang saya terapkan,” ujar Fitriani usai bertanding. “Mungkin (penyebab kekalahan) dari pikiran sendiri, waktu sering out jadi ragu-ragu,” tambahnya Sementara Gregoria mengaku, sulit mengembangkan permainan saat melawan Sindhu. Sindhu yang merupakan unggulan ketiga di Asian Games 2018 mendominasi permainan. Di gim kedua penampilan Gregoria sempat membaik, tetapi Sindhu selalu lebih unggul. “Saya terlalu lama mencari pola permainan, Sindhu sudah dapat puncaknya, saya terus di bawah tekanan. Waktu gim kedua saya sudah mencobaatur dia. Tapi, dia menyerang, saya ikut terus memberikan pengembalian bola panjang ke belakang, padahal itu tidak menguntungkan saya sama sekali,” ucap Gregoria paska laga. Di Asian Games 2018 nomor tunggal putri memang tak dibebani target. Medali emas diharapkan datang dari bulutangkis di sektor duet campuran dan ganda putra. Meski tanpa wakil di nomor tunggal putri, tetapi nomor perorangan cabor bulutangkis, sukses mengamankan satu medali perunggu dari ganda putri. Ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir mengamankan tiket semifinal ganda campuran Asian Games 2018, usai menekuk pasangan ranking 23 dunia wakil Hong Kong, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah, dalam permainan tiga set, 21-15, 17-21, 21-16 selama 58 menit, di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (25/8). Sementara, duet Greysia Polii/Apriyani Rahayu sukses mengalahkan pasangan Cina, Tang Jinhua/Zheng Yu, dalam pertarungan dramatis tiga gim 18-21, 24-22, dan 21-16. Dalam laga yang akan digelar pada Minggu (26/8), pasangan Indonesia ini akan berjumpa ganda asal Jepang, Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo. Hasil ini menjadi harapan bagi Indonesia untuk meraih medali emas di kategori ganda putri. Pasangan ini pun tampil cemerlang selama 2018. Saat ini mereka menempati posisi 4 dunia. Dilansir dari Bwfbadminton.com dan Asiangames2018.id., dobel andalan Indonesia ini menjadi kampiun di India Open 2018 dan Thailand Open 2018. (Adt)

Lampaui Target, Tenis Ganda Campuran Genapkan Emas Kontingen Indonesia Menjadi 10

Ekspresi petenis ganda campuran Indonesia Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi, usai menekuk pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum pada laga final tenis ganda campuran Asian Games 2018 di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (25/8). (INASGOC)

Jakarta- Ganda campuran Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi mengakhiri puasa medali emas cabor tenis, di Asian Games yang kali terakhir diraih 16 tahun silam. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, hadir menyaksikan pertandingan kali ini. Bahkan, kursi penonton pun nyaris penuh. Melawan pasangan Thailand Sonchat Ratiwatana/Luksika Kumkhum, di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sabtu (25/8/), partai ini memang diprediksi panas. Beberapa nomor seperti ganda putri dan tunggal putri, Indonesia sudah gagal meraih emas. Ganda campuran menjadi harapan terakhir Indonesia. Dobel Indonesia menang dengan skor 2-1. Sempat unggul di set pertama 6-4, kalah di set kedua 7-5, akhirnya Christopher/Aldila menyudahi set ketiga, dengan hasil akhir 7-10. Kerja keras keduanya ini, selain mendapat medali emas, juga bakal dipromosikan menjadi pegawai negeri sipil, dan akan diganjar hadiah uang Rp 1,5 miliar dari Menpora. Usai laga, Aldila mengaku, jika prestasi Asian Games 2018 ini jadi gelar pertama, sekaligus keikutsertaan pertamanya, di pesta multievent terbesar kedua, setelah Olimpiade. “Saya persembahkan gelar ini untuk orang tua saya, yang banyak berkorban untuk saya sejak kecil, serta memberikan dukungan atas pilihan saya berkarir di tenis. Mungkin tanpa mereka, karir saya di tenis tidak berlanjut,” ujar Aldila terharu. Kendati keduanya dijagokan sejak awal meraih medali, namun peluang merebut emas dinilai sangat berat. Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) justru menargetkan Christopher/Aldila memberi satu perunggu setelah mereka menembus semifinal. Nyatanya, dobel Merah Putih ini melenggang ke final, usai menaklukkan wakil Jepang Erina Hayashi/Kaito Uesugi 7-6(3), 6-4, di babak empat besar, dan memastikan meraih medali emas Asian Games 2018. Dari statistik, Christopher/Aldila total membuat kesalahan sendiri 26 kali, sedangkan Luksika/Sonchat hingga 33 kali. Kali terakhir tenis berhasil menyumbangkan untuk Indonesia, di Asian Games pada edisi 2002, saat digelar Busan, Korea Selatan. Pada Asian Games ke-14 itu, tenis meraih emas dari nomor beregu putri. Ketika itu, tim beregu putri menang 2-1 atas Jepang. Skuat Indonesia saat itu, dihuni Liza Andriyani, Wynne Prakusya, Wukirasih Sawondari, dan Angelique Widjaja. Sementara ganda campuran, Indonesia kali terakhir berhasil meraih emas, pada edisi Asian Games 1990, melalui pasangan Yayuk Basuki dan Hary Suharyadi. Keduanya menumbangkan ganda campuran Korea Selatan, Yoo Jin-sun/Kim Il-soon. Sukses Christopher/Aldila berhasil menjadi penghapus dahaga medali emas bagi tenis Indonesia, di ajang multievent empat tahunan di Asia tersebut. Busan 2002 menjadi Asian Games terakhir tenis Indonesia, bisa menyumbangkan medali emas. Di Doha 2006, Guangzhou 2010, dan Incheon 2014, tim merah putih gagal merebut satu medali dari tenis. Hasil positif ini diharapkan menjadi pemicu prestasi cabor tenis yang kali terakhir meraih emas pada 16 tahun silam. Kemenangan ini turut mengobati kegagalan Christopher/Aldila di nomor lain. Bersama Justin Barki, Christopher langsung kalah di babak dua ganda putra. Untuk Aldila melangkah hingga perempat final tunggal putri Asian Games 2018. Hasil emas ini melebihi target pemerintah melalui Kemenpora kepada PP PELTI. Sebab, Kemenpora tak meminta medali emas dari cabor tenis di Asian Games 2018. Atas pencapaian ini, Indonesia mengumpulkan total 38 medali, yakni 10 emas, 12 perak dan 16 perunggu, dan sementara ini berada di peringkat kelima Asian Games 2018. Di atas terdapat China (1), Jepang (2), Korea Selatan (3) dan Iran (4). (Ham) Laga Christopher/Aldila Meraih Medali Emas Asian Games 2018 Babak 32 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Sarah Mahboob Khan/Muzammil Murtaza (Pakistan) : 6-3, 62 Babak 16 Besar Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Nicha Lertpitaksinchai/Sanchai Ratiwatana (Thailand) : 7-5, 61 Perempat Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Rohan Bopanna/Ankita Raina (India) : 4-6, 6-3, (10-8) Semifinal Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Uesugi Kaito/Hayashi Erina (Jepang) : 7-6 (3), 6-4 Final Christopher Rungkat/Aldila Sudjiadi vs Luksika Kumkhum/Sonchat Ratiwatana (Thailand) : 6-4, 5-7, (10-7)

Siswa Kelas XII SMA Negeri Olahraga (SMANOR) Palu, Jadi Atlet Termuda Peraih Emas AG 2018 Kontingen Indonesia

Rio Rizki Darmawan, salah satu anggota tim dayung (Rowing) Indonesia di nomor kelas ringan delapan putra, menjadi peraih emas termuda kontingen Indonesia di Asian Games 2018. Rio saat ini baru menginjak usia 15 tahun. (cnnindonesia.com)

Jakarta- Salah satu anggota tim dayung (Rowing) Indonesia di nomor kelas ringan delapan putra, Rio Rizki Darmawan, adalah atlet termuda peraih emas Asian Games 2018 kontingen Tim Merah Putih, sejauh ini. Rio bahkan masih tercatat sebagai siswa kelas XII SMA Negeri Olahraga (SMANOR) Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah. Rio yang berasal dari Kulawi, kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, masuk pelatnas dayung Asian Games, usai tampil di Pekan Olahraga Nasional 2018 di Jawa Barat. Sejak itu Rio menjadi andalan Indonesia. Saat di PON XIX Jawa Barat, Rio sebetulnya tampil biasa saja. Bukan prestasi yang mengagumkan, karena hanya medali perunggu di nomor single sculss kelas ringan (LM1x) putra, yang ia torehkan. Namun, prediksi PB Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) tidak salah. Ia lolos pelatnas dan menjadi tim dayung Indonesia di Asian Games 2018. Atlet binaan Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Pemprov Sulteng ini, bahkan kini berprestasi meraih emas pertama di cabor dayung. Salah satu yang faktor yang membuat PODSI kepincut dengan bakat Rio, karena kemampuannya yang mudah beradaptasi. Berkaca dari PON di Jawa Barat, Rio tetap bisa meraih medali perunggu, meski memakai peralatan yang belum pernah dipakainya, saat persiapan. Pada Kejuaraan Nasional Dayung dan Asian Rowing di Palembang, Sumatera Selatan, Desember 2017, Rio mulai menunjukkan prestasi, saat menyabet satu emas dan satu perak. Tahun ini, Rio membawa tim dayung Indonesia meraih dua emas di Belanda, dalam rangka TC Asian Games 2018. Masing-masing satu emas di kejuaraan di Bosban, Amsterdam, dan di Kejuaraan Holland Beker. Prestasi Rio di dayung pun terus mengalami peningkatan selama mengikuti pelatnas. Di Asian Games 2018, remaja kelahiran Kulawi, 11 Februari 2003, akhirnya mencatatkan namanya, sebagai peraih medali emas termuda sementara, dengan usia 15 tahun. Sedangkan, untuk peraih emas Indonesia tertua di Asian Games kali ini, menjadi milik atlet cabor paralayang, Hening Paradigma, yang sudah berusia 32 tahun. Selain itu, medali emas Rio, juga merupakan emas pertama bagi Indonesia dari cabang dayung, di event multi-cabor terbesar di Asia. Dalam Asian Games, prestasi terbaik tim dayung Indonesia, hanyalah meraih medali perak dari nomor single sculls putra, pada Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand, melalui Lasmin. Selebihnya, Indonesia hanya bisa meraih lima perunggu dari nomor kelas ringan coxless empat putri di Asian Games 1990, kelas ringan coxless empat putra di 2002, kelas coxless empat putra di 2006, single sculls putri di 2006, dan kelas ringan quadruple sculls, di 2014. (Ham)