Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) mengumumkan Kota Bangkok, Tailan, sebagai...
Read Moreindonesia
Olahraga Ini Sedang Trend, Flag Football Dimainkan di Indonesia?
Sobat muda NYSN sudah tau belum, kalau belakangan ini, ada cabang olahraga baru di Indonesia nih yang sedang berkembang dan trend banget, namanya flag football. Yuk cari tau infonya biar gak ketinggalan berita, siapa tau kamu jadi tertarik.. Flag football, sesuai namanya tentu olahraga ini merupakan variasi dari permainan football. Pada dasarnya kalau di Indonesia bisa di bilang sama seperti futsal dan kalau di Amerika sendiri dikatakan seperti American Football. Hanya saja perbedaannya itu dari segi teknik, kontak fisik antar pemain, serta strategi. Olahraga Flag Football Turunan dari American Football, Apa Benar? Olahraga flag football ini faktanya merupakan olahraga turunan dari American football loh.. Perbedaannya kalau American football harus adu kontak fisik, sedangkan flag football minim akan benturan atau kontak fisik antar pemain, sehingga tidak begitu diperlukan perlengkapan pelindung seperti para pemain American football. Perbedaan dari teknik dasar yaitu dari men-tackle (menjatuhkan lawan hingga tangan atau lutut menyentuh tanah) diganti dengan deflagging (mengambil salah satu bendera lawan yang terpasang di pinggang pembawa bola). Olahraga yang cuma terdiri dari 8 orang pemain ini intinya memang cukup mudah, yaitu si pemain hanya cukup mencabut bendera yang terpasang di pinggang pemain lawan saat sedang membawa bola. Badan Kecil atau Besar Tetap Bisa Main, Begini Alasannya Flag football bisa dimainkan oleh orang bertubuh kecil ataupun besar, karena olahraga ini lebih mengandalkan otak daripada otot. Maksudnya, permainan ini lebih andalkan pikiran, prediksi, kecepatan, kekuatan, serta penguasaan teknik kamu. Jadi, siapa saja bisa asalkan fisik sehat dan kuat. Lantas, Sampai Mana Perkembangan Flag Football di Indonesia? Olahraga ini berkembang di Indonesia pada tahun 2001. Kemunculannya didorong oleh organisasi bernama Indonesian Flag Football Association (IFFA) yang berdiri sejak 14 Februari 2009. Kemudian, eksistensi flag football di Indonesia cukup berkembang, tak hanya bisa masuk ke beberapa sekolah sebagai esktrakulikuler, tetapi juga sudah mempunyai tim nasional (timnas). Dilansir dari kontan.co.id, Pelatih timnas flag football, Akbar kusuma menjelaskan bahwa rata-rata atlet flag football di Indonesia berumur 25 tahun. Sekarang ini perkembangan flag football terbesar masih berada di Pulau jawa. Sedangkan di Pulau Sumatra dan Bali hanya ada yang bermain tetapi belum ada tim yang terbentuk. Diungkapkan pelatih timnas flag football, bahwa saat ini ada beberapa kampus yang aktif mengikuti kejuaraan tim flag football, baik di tingkat regional maupun nasional. Kejuaran tersebut di bawah naungan Indonesian Flag Football Association (IFFA). Ayoo….apakah kamu tertarik mencoba olahraga yang lagi trend ini? Kalau kamu tertarik, kamu bisa nih bergabung dengan IFFA yang melakukan latihan rutin setiap Rabu malam dan Sabtu pagi di Gelora Bung Karno, Jakarta. Selamat mencoba… (kontan.co.id, cnnindonesia.com)
Yakin Lawan Termasuk ‘Ringan’, Timnas U-23 Pede Lolos Penyisihan Grup Asian Games 2018
Jakarta- Timnas U-23 memiliki peluang positif untuk lolos dari penyisihan grup ajang Asian Games 2018. Dari hasil undian pembagian grup yang dilaksanakan di Jakarta, Kamis (5/7), tim asuhan Luis Milla Aspas berada di grup yang relatif mudah. Indonesia tergabung di grup A bersama Hogkong, Laos, dan Taiwan. Pada undian in Indonesia sebagai tuan rumah ditempatkan sebagai unggulan pertama. Sekretaris Jendral PSSI Ratu Tisha Destria cukup senang dengan hasil undian itu. “Jika melihat hasil undian, tentu ini cukup bagus untuk timnas putra,” ujar Ratu. “Timnas sudah melakukan persiapan yang matang dan sudah beruji coba dengan lawan yang lebih tangguh seperti Bahrain, Uzbekistan, Korea Selatan, Korea Utara, Thailand, dan Jepang,” tambahnya. Ia berharap hasil undian itu memudahkan langkah Indonesia untuk lolos. Cabang sepak bola putra diikuti 24 peserta–bukannya 32 seperti yang selama ini diberitakan–yang terbagi dalam enam grup. Masing-masing grup terdiri atas empat tim. Dua tim terbaik otomatis lolos ke babak 16 besar ditambah tiga tim peringkat terbaik dari empat grup. “Hasil drawing ini memang kami tunggu-tunggu, karena ini akan berimbas pentng saat latihan terakhir kami nanti di kawasan Bali,” kata manajer timnas U-23, Endri Erawan menanggapi hasil undian. “Pelatih Luis Milla akan menyiapkan menu latihan, disesuaikan dengan lawan-lawan yang dihadapi baik penyisihan grup atau babak selanjutnya,” kata Endri lagi. Mengenai peluang dalam persaingan di grup, Timnas U-23 optimistis mampu lolos dari penyisihan grup A. “Saya yakin mampu lolos dari penyisihan grup. Bukan menganggap enteng, namun sikap optimistis harus selalu ditumbuhkan dalam diri seluruh tim. Lagi pula kami sudah lama mempersiapkan tim, baik melalui latihan maupun uji coba,” ujar Endri lagi. Sementara cabang sepak bola putri, diikuti sebanyak 11 peserta yang dibagi dalam tiga grup. Indonesia tergabung di grup A bersama Korea Selatan, Taiwan, dan Maladewa. Dua tim terbaik masing-masing grup langsung lolos ke babak perempat final ditambah dua tim peringkat tiga dari grup A dan B. Pertandingan untuk sepak bola putra akan dilangsungkan di empat stadion, yakni Stadion Patriot Bekasi untuk grup A dan B, Stadion Pakansari Cibinong untuk grup C, dan Stadion Wibawa Mukti Bekasi grup D. Sementara laga grup E dan F akan digelar di Stadion Si Jalak Harupat Bandung. Untuk Semifinal dan laga Final dilangsungkan di Stadion Pakansari. Adapun pertandingan sepak bola putri akan dilangsungkan di Palembang, Sumatera Selatan. (Ham) Grup Sepak Bola Putra: Grup A 1. Indonesia 2. Hongkong 3. Laos 4. China Taipe Lokasi: Stadion Patriot Bekasi Grup B 1. Thailand 2. Uzbekistan 3. Bangladesh 4. Qatar Lokasi: Stadion Patriot Bekasi Grup C 1. Irak 2. China 3. Timor Leste 4. Syiria Lokasi: Stadion Pakansari Grup D 1. Jepang 2. Vietnam 3. Pakistan 4. Nepal Lokasi: Stadion Wibawa Mukti Bekasi Grup E 1. Korea Selatan 2. Kyrgistan 3. Malaysia 4. Bahrain Lokasi: Stadion Si Jalak Harupat Bandung Grup F 1. Korea Utara 2. Saudi Arabia 3. Iran 4. Mynamar Lokasi: Stadion Si Jalak Harupat Bandung Grup Sepak Bola Putri: Grup A 1. Indonesia 2. Korea Selatan 3. China Taipe 4. Maldives Lokasi Stadion Gelora Sriwijaya Grup B: 1. Korea Utara 2. China 3. Hongkong 4. Tajikistan Lokasi: Stadion Gelora Sriwijaya dan Bumi Sriwijaya Grup C: 1. Jepang 2. Vietnam 3. Thailand Lokasi: Stadion Bumi Sriwijaya
Daftar Unggulan Sepak Bola Asian Games 2018 Muncul, Timnas U-23 Terhitung ‘Aman’
Jakarta- Tim-tim unggulan kompetisi sepak bola Asian Games 2018 resmi diumumkan oleh Olympic Council of Asia (OCA). Sebanyak 32 negara terlibat dalam pesta olahraga yang akan digelar di Jakarta-Palembang itu, ditempatkan dalam empat pot, masing-masing pot diisi oleh 8 tim. Indonesia sebagai tuan rumah, masuk ke dalam pot tim unggulan pertama. Di pot ini, Indonesia ditemani tujuh negara kuat lainnya yakni Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, Iraq, Suriah, dan Uzbekistan. Pembagian ini dilakukan dalam pertemuan OCA yang digelar pada Senin (25/6) lalu Artinya, Indonesia dipastikan tak akan tergabung di Grup A bersama tim-tim itu seperti Korsel, yang merupakan juara bertahan atau Irak yang merupakan peraih medali perunggu. Sementara itu, Thailand yang merupakan salah satu tim kuat di Asia Tenggara, hanya ditempatkan di pot kedua. Thailand akan bergabung bersama Cina, Korea Utara, Oman, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kyrgyzstan. Dalam menentukan daftar tim unggulan, OCA mempunyai aturan tersendiri. Yakni berdasarkan rekam jejak masing-masing negara pada turnamen Asian Games edisi-edisi sebelumnya. Contohnya, seperti finalis Piala Asia U-23 2018, Vietnam. Meski jadi runner-up di Piala Asia, namun Vietnam justru ditempatkan pada pot 3. Sebab, Vietnam hanya mampu mencapai babak 16 besar pada Asian Games di Incheon empat tahun lalu. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat Piala Asia dan Asian Games digelar oleh dua badan yang berbeda yakni AFC dan OCA. Sehingga, penempatan pot ditentukan berdasarkan performa ajang terakhir, saat Vietnam hanya mampu menembus babak 16 besar Asian Games 2014. Indonesia beruntung, karena dipastikan tak akan masuk ke dalam satu grup dengan tim besar. Namun, skuad asuhan Luis Milla Aspas ini tetap harus waspada dengan kekuatan tim, dari pot dua dan tiga. Sehingga negara Cina, Korea Utara, Thailand, atau Vietnam, bakal tak berjumpa Febri Haryadi dkk. Pembagian grup cabor sepakbola Asian Games 2018 akan diundi pada 25 Juli, sebelum turnamen ini dimulai pada 15 Agustus. Setiap tim hanya dapat mendaftarkan 20 pemain, 17 diantaranya berusia di bawah 23 tahun, kemudian sisanya boleh diisi oleh pemain senior. Asian Games edisi tahun ini diperkirakan akan berlangsung kompetitif. Masing-masing negara telah mempersiapkan timnya dengan matang. Vietnam, salah satunya, berencana untuk mengadakan pertandingan uji coba dengan Barcelona B, Oman, dan Uzbekistan, pada awal Agustus mendatang. Sementara itu, salah satu tim kuat lainnya, Korea Selatan, dipastikan tampil maksimal usai tersingkir dari fase grup Piala Dunia pasca takluk atas Swedia dan Meksiko. Pemain bintang mereka, Son Heung-min juga tengah melakukan pembicaraan dengan klubnya, Tottenham Hotspurs, agar diizinkan berlaga di Asian Games. (Dre) Pot Tim Unggulan Asian Games 2018 Cabor Sepak Bola Pot 1 Indonesia, Jepang, Suriah, Korea Selatan, Uzbekistan, Arab Saudi, Iran, Irak Pot 2 Cina, Korea Utara, Oman, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kyrgyzstan, Thailand Pot 3 Malaysia, Laos, Vietnam, Yordania, Yaman, Bangladesh, Filipina, Hong Kong Pot 4 Nepal, India, Kamboja, Timor Leste, Tajikistan, Singapura, Myanmar, Palestina
Hajar Thailand 3-1, Timnas Voli Putra Indonesia Juara Turnamen Voli Di Vietnam
Ha Nam- Timnas Bola Voli putra Indonesia juarai Turnamen Bola Voli Internasional Piala Lienvietpostbank. Pada laga final di Ha Nam Sports Gymnasium, Vietnam, Kamis (31/5) malam, Tim Merah Putih mengalahkan musuh bebuyutan, Thailand dengan skor 3-1 (31-33, 25-18, 25-22, 25-23). Timnas Thailand sempat mengungguli Rendy Tamamilang dan kawan-kawan pada set pertama. Padahal tim besutan Samsul Jais itu sempat unggul dengan selisih empat angka atas Kitsada dan kawan-kawan. Gara-gara permainan mengendur, skor menjadi sama 20-20. Timnas Indonesia akhirnya kalah dengan skor 31-33. Beruntung, pada tiga set berikutnya Timnas selalu menang. Kemenangan ini merupakan yang kedua dibukukan Indonesia atas Thailand. Kedua tim juga bertemu pada babak penyisihan, 27 Mei 2018. Saat itu, Indonesia menundukkan Thailand 3-0 (25-23, 25-22, 25-22). “Hasil ini merupakan momentum penting untuk memberikan motivasi dan inspirasi baru bagi cabang olahraga lain. Tentunya, keberhasilan ini akan kami siapkan apresiasi,” ujar Imam Nahrawi saat menyambut kedatangan Timnas Bola Voli Putra Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (1/6). Sementara, Aji Maulana, Kapten Timnas Bola Voli Indonesia, menegaskan kemenangan ini sangat penting dan menjadi modal berharga untuk persiapan ke Asian Games 2018, pada Agustus-September nanti. “Di ajang Asian Games ini persaingan sangat ketat. Sebab ada Jepang, Korea dan China. Sedangkan di turnamen kemarin cuma ada Kazakhstan, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Dan, kami masih butuh kompetisi internasional lain untuk nambah pengalaman tanding serta jam terbang, ” cetus Aji. Pada turnamen internasional yang diikuti enam negara tersebut, timnas hanya sekali kalah, saat melawan Kazakhstan pada awal turnamen dengan skor 2-3. Namun, kekalahan itu mampu dibalas di semifinal, dengan skor telak 3-0. Empat negara lainnya, Myanmar, China Junior, Thailand, dan tuan rumah Vietnam juga berhasil dikalahkan Indonesia. Pada babak penyisihan, Thailand dilibas dengan skor 3-0. Myanmar dan Vietnam juga dikalahkan dengan tiga set tanpa balas. Sedangkan China yang datang dengan tim junior, dikandaskan dengan skor tipis 3-2. Samsul menyebut kemenangan atas Thailand ini sejatinya merupakan penantian yang cukup lama. “Terakhir Indonesia mengalahkan Thailand pada 2009. Di turnamen ini dua kali ketemu Thailand. Pertama menang 3-0, dan di final menang 3-1. Jadi menambah kepercayaan diri. Kalau dahulu ada trauma kalau ketemu Thailand,” jelasnya. “Dengan hasil yang kami capai mudah-mudahan bisa mewujudkan target cabang bola voli yang harus berada diperingkat tiga. Ini jadi motivasi semua pemain bisa menghasilkan yang terbaik,” tukas Samsul. (Adt)
Sabet Juara Asia BMX 2018 di Thailand, Modal Kuat Rio Akbar di Asian Games
Jakarta- Pebalap BMX Indonesia yang disiapkan untuk Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, Rio Akbar sukses menjadi juara Asia setelah menjadi yang terbaik pada kejuaraan Asian BMX Championships 2018 di Chainat, Thailand, Minggu (27/5). “Yes. Rio Akbar menjadi juara Asia,” kata manajer timnas balap sepeda Indonesia, Budi Saputra, saat dikonfirmasi. Untuk meraih emas, Rio harus bersaing dengan tiga pebalap tuan rumah Thailand yaitu Sitthicok Kaewsrikhao yang akhirnya finis kedua, Nonthakon Inkhoksong dan Phitchayut Kongson. Sedangkan posisi tiga adalah pebalap asal Jepang, Taichi Ikegami. Hasil pebalap asal Jawa Barat ini sesuai predikasi karena Rio tampil dominan sejak kualifikasi. Hal ini juga diuntungkan dengan tidak tampil maksimalnya Taichi, yang kerap menjadi batu sandungan. Hasil ini jelas menjadi keuntungan tersendiri bagi pebalap Indonesia mengingat hasil di kejuaraan Asia ini bakal menjadi motivasi tersendiri untuk menghadapi Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, 18 Agustus-2 September. “Semoga hasil kejuaraan Asia ini jadi motivasi meraih hasil terbaik di Asian Games,” kata Budi menambahkan. Pada Asian BMX 2018, Indonesia menurunkan tiga pebalap elit putra. Selain Rio, ada dua nama lagi yang dikirim yaitu I Gusti Bagus Saputra dan Tony Syarifudin. Ketiga pebalap ini semuanya mampu bersaing sejak kualifikasi. Namun, Tony kurang beruntung karena dua kali jatuh. Rio dan I Gusti Bagus Saputra lebih beruntung karena lolos ke final, meski harus melalui pertarungan sengit. Kerja keras Rio membuahkan hasil setelah membawa medali emas dari Negeri Gajah Putih itu. Prestasi Rio di Thailand menjadi sebuah pembuktian usai dibekali kemampuan dalam dua kejuaraan dunia di Belanda dan Belgia. Dan, sempat menjalani pemusatan latihan di Prancis. (art)
Ronald/Anissa Telan Pil Pahit, Duet Tiongkok Jadi Kampiun China Master 2018
Jakarta- Harapan untuk membawa pulang gelar juara ke Tanah Air dari negeri Tiongkok pupus. Satu-satunya wakil Merah Putih di partai puncak China Master 2018, Minggu (15/4), pasangan ganda campuran Ronald Alexander/Annisa Saufika, harus menelan pil pahit. Berlabel status unggulan satu, justru gagal mengadang duet tuan rumah non unggulan, Guo Xinwa/Liu Xuanxuan. Dobel Tiongkok itu menang dalam drama tiga gim dengan skor 21-17, 7-21, dan 21-19. Memainkan partai berdurasi 55 menit, pada gim pertama, Ronald/Anissa akhirnya tumbang. Berulang kali tekanan dilakukan, namun pertahanan dobel Tiongkok tak mudah ditembus. Meski angka kedua pasangan juga tidak berjarak jauh, namun wakil tuan rumah sukses menutup gim pertama dengan skor 21-17. Memainkan gim kedua, Ronald/Anissa membentang asa. Mereka terus memimpin perolehan angka atas pasangan Negeri Tirai Bambu itu. Hingga akhirnya mengunci kemenangan dengan skor 21-7, sekaligus memperpanjang nafas guna memainkan gim penentu. Pertarungan ketat tersaji di gim ketiga. Kedua pasangan berusaha mematahkan serangan lawan. Bahkan, angka kedua pasangan juga tak berselisih jauh. Namun, Ronald/Anissa harus mengubur impian jadi kampiun di ajang China Master 2/18. Usai melakoni pertarungan melelahkan, dobel Guo/Liu memastikan juara dan mengunci gim ketiga dengan skor ketat 21-19. Hasil ini membuat wakil Merah Putih itu harus puas menjadi runner-up. Berdasarkan catatan, partai puncak ini jadi pertemuan pertama bagi kedua pasangan. Dengan kemenangan itu, Guo/Liu memimpin rekor pertemuan menjadi 1-0 atas pasangan Ronald/Anissa. (Adt)
Sejarah Etnis Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia
Beberapa bulan yang lalu, dunia politik dikejutkan dengan isu SARA. Terbaru adalah soal pernyataan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Anies Baswedan yang kini menjabat sebagai Gubernur DKI tentang kata ‘pribumi’ menjadi polemik di tengah masyarakat. Ketika dunia politik, isu suku, ras, dan agama menjadi topik hangat, berbeda halnya dengan dunia si kulit bundar –sepak bola-. Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan semboyan dari Negara Indonesia. Frasa yang berasal dari bahasa Jawa Kuno ini diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 ketika zaman kerajaan Majapahit. Mpu Tantular menulisnya untuk mengajarkan sikap yang toleran antara umat Hindu Siwa dan Buddha. Semboyan dan makna frasa “Bhinneka Tunggal Ika” juga dapat berlaku untuk dunia sepak bola, terutama pada zaman ketika etnis Tionghoa masih aktif menjadi bagian dari timnas Indonesia. Sejarah Singkat Etnis Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia Etnis dari keturunan Tionghoa mempunyai sejarah yang sangat panjang di Indonesia, khususnya dalam bidang sepakbola. Etnis Tionghoa mulai bermunculan dan terlibat dalam sepakbola Indonesia seiring lahirnya klub sepakbola yang bernama Union Makes Strength (UMS) pada tanggal 19 Desember 1905. Memang sejatinya sepakbola bukan hanya urusan menendang bola atau mengangkat trofi saja. Sepakbola dapat dijadikan alat pemersatu bangsa dan menunjukan identitas suatu bangsa. Pada 1938 ketika Indonesia menggunakan nama Hindia Belanda dan berhasil “mentas” pada ajang Piala Dunia yang digelar di Prancis, banyak nama-nama etnis Tionghoa yang bermunculan seperti Tan Mo Heng, Tan See Handi, dan Tan Hong Djien. Dalam ajang itu, Hindia Belanda (Indonesia) belum bisa berbicara banyak setelah dikalahkan Hungaria empat gol tanpa balas. Legenda sepakbola Indonesia keturunan Tionghoa, Tan Liong Houw pernah melontarkan kalimat seperti ini “Jangan tanyakan masalah nasionalisme orang-orang Tionghoa. Kami siap mati di lapangan demi membela Indonesia melalui sepakbola,”. Kalimat penuh semangat tersebut ternyata bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Dalam sejarah sepakbola Indonesia sendiri, penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola (2010) karya Bayu Aji, menuturkan bahwa kelompok etnis Tionghoa Surabaya sudah mendirikan sebuah klub sepak bola pada 1915. Pergerakan rintisan etnis Tionghoa pernah berperan membawa negeri ini, meski masih menenteng nama Hindia-Belanda saat itu, berlaga di Piala Dunia 1938 di Perancis. Romantisme etnis Tionghoa dengan sepak bola Indonesia mulai terkubur di awal 1960-an. Hal ini begitu memanas ketika situasi politik tahun 1965. Yang dipuncaki dengan meletusnya Gestapu dan genosida membuat etnis Tionghoa kian terpojok. Sentimen terhadap etnis Tionghoa di lapangan hijau semakin membuat mereka enggan menjadikan sepakbola sebagai pilihan utama. Setelah puluhan tahun peristiwa 1965, dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul kembali pemain etnis Tionghoa ke lapangan hijau di Indonesia, seperti Juan Revi, Kim Jeffrey Kurniawan, dan yang terbaru adalah Sutanto Tan. Kemunculan pemain keturunan etnis Tionghoa di persepakbolaan Indonesia beberapa tahun terakhir, memperlihatkan bahwasanya mampu memberi ruang kepada etnis Tionghoa mampu berbicara di kancah sepak bola Indonesia kembali seperti terdahulu mereka. Semoga ini tetap terjaga dan berlanjut. (Dre) Sumber: panditfootball.com dan fourfourtwo.com
Lima Ultras Suporter Sepakbola di Indonesia
Semua khalayak, semua kelas sosial sudah tak asing dengan sepakbola. Sepakbola adalah olahraga yang sangat populer dari zaman kolonial hingga ‘zaman now’. Berbicara dengan sepakbola, pastinya tidak bisa terpisahkan dari suporter. Tak heran, bila suporter disebut dengan pemain ke-12. Bedanya, ‘pemain ke-12’ ini hadir di sektor tribun stadion. Suporter di Indonesia sedang berada dalam periode bertumbuh dan berkembang. Dalam lima tahun terakhir ini, kehadiran kelompok suporter ini sedikit banyak merubah gaya dukung dan pola perilaku penonton di lapangan. Secara keseluruhan, berdampak pada industri sepakbola nasional yang lebih semarak dan berwarna. Tak bisa dipungkiri, aksi-aksi kreatif suporter Indonesia banyak mengadopsi gaya suporter luar negeri. Misalnya suporter dari Barras Bravas (Argentina-Amerika Latin), Die Schwarzgelben (Borussia Dortmund-Jerman), Gate 13 (Panathinaikos-Yunani), Section F (Linfeld-Irlandia Utara) dan tentunya Italian Ultras. Berbicara tentang budaya ultras di Indonesia, ada kelompok yang cukup dikenal di Indonesia bahkan luar Indonesia. Tidak hanya berasal dari tim-tim besar yang berada di kasta tertinggi lokal, beberapa justru berasal dari kasta dibawahnya. Berikut beberapa kelompok ultras klub di Indonesia: North Side Boys 12 (Bali United) North Side Boys 12 atau NSB 12 merupakan ultras dari klub Bali United. Tak pernah mati ide. Inovasi yang terus digencarkan suporter NSB 12 di tribun utara sangat membuahkan hasil dan menjadi tenaga besar bagi Bali United. Sumber foto: northsideboys12.com Curva Nord (Persija Jakarta) Pendukung tim Macan Kemayoran ini memang terkenal fanatik. Tak hanya saat bermain di kendang, pada pertandingan tandang pun mereka rutin mendampingi tim kebanggan ibukota. Aksi-aksinya pun cukup menghibur dan kerap mewarnai dukungan yang dilakukan organisasi supporter terbesar Jakarta yakni The Jak Mania. Sumber foto: google Green Nord 27 (Persebaya Surabaya) Green Nord 27 adalah kelompok ultras yang dimiliki klub Persebaya. Seperti halnya Bali United dan Perdija Jakarta, Green Nord 27 pun dikenal sebagai kelompok supporter yang militan. Dukungan penuh selalu mereka berikan acapkali Bajul Ijo bertanding, dimanapun tempatnya. Sumber foto: greennord27.blogspot.com Brigata Curva Sud (PSS Sleman) Ultras milik PSS Sleman ini bisa dibilang sebagai yang terbaik di Indonesia. Selain populer di Indonesia, nama BCS juga sempat diperbincangkan di media internasional. BCS kerap identik dengan aksi koreo kreatif di tribun stadion saat tim kesayangannya bertanding, yang terus berkumandang selama 90 menit. Sumberfoto: bcsxpss.com Brajamusti (PSIM Yogyakarta) Arti sesungguh nya dari kata Brajamusti adalah Aji-ajian sakti dari Gatotkaca. Bima adalah salah satu dari pandawa lima, mempunyai anak Gatutkaca. Dia adalah raksasa di Mahabharata dan hanya muncul pada saat perang Baratayuda, dijadikan idola pahlawan yang gagah perkasa dalam pewayangan dengan berbagai cerita dan kesaktiannya dengan aji-ajian Brajamusti yang sampai saat ini masih bisa dipelajari dikalangan masyarat Jawa. Maksud dari pengambilan nama Brajamusti untuk wadah suporter PSIM adalah supaya Brajamusti menjadi senjata atau aji-ajian yang ampuh untuk PSIM untuk menghadapi lawan-lawannya dipentas sepak bola Nasional. Jadi Brajamusti selalu ada disamping PSIM dimanapun berlaga. Sumber Foto: google (Dre)
Awalnya Tegang, Pebulutangkis 19 Tahun Buka Jalan Runtuhkan Tembok China
Kedah- Tim ‘Merah Putih’ sukses meruntuhkan tim bulutangkis China 3-2 pada babak penyisihan di ajang Badminton Asia Team Championship 2018. Fitriani, yang turun di partai pertama sukses mematahkan perlawanan pebulutangkis Chen Yufei, tiga gim dengan skor 16-21, 21-12, dan 21-15, di Stadion Sultan Abdul Halim, Alor Setar, Kedah, Malaysia, Kamis (8/2). Kemenangan atlet kelahiran Garut, Jawa Barat (Jabar), 19 tahun silam itu membuka jalan bagi rekan setimnya untuk membawa ‘skuat’ Pelatnas Cipayung itu jadi pemuncak Grup Z. “Alhamdulillah, sumbang angka untuk tim. Awalnya agak tegang karena saya jadi tunggal pertama. Apalagi rekor pertemuan saya 1-3,” beber Fitri, sapaan akrabnya, seperti dilansir Badmintonindonesia.org, Kamis (8/2). Dia melanjutkan, pada gim pertama dirinya mengaku masih ragu-ragu, karena faktor tiupan angin. “Gim kedua, saya lebih berani relinya. Pukulan lawan yang susah itu bisa saya kembalikan, lama-lama dia nggak percaya diri juga sama pukulannya,” tambahnya. Di partai kedua, duet ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu menambah keunggulan tim usai menundukkan Du Yue/Li Yinhui, dua gim langsung dengan skor 21-18, 21-12. Dobel Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta di partai keempat, mengandaskan Cao Tong Wei/Yu Zheng, melalui drama tiga gim dengan skor 21-14, 19-21, dan 23-21. Sedangkan China mampu mencuri kemenangan yakni dari tunggal putri He Bingjiao dan Chen Xiaoxin. Bingjiao mengandaskan Gregoria Mariska Tunjung, dua gim langsung dengan skor 23-21, 21-10. Dan, Chen menyudahi perlawanan Ruselli Hartawan, dengan skor 21-17, 21-17. Sebelumnya, pada Selasa (6/2), Srikandi Indonesia melipat tim Singapura dengan skor 5-0. Hasil akhir 3-2 atas China ini membuat tim putri Indonesia terhindar dari para juara grup lainnya pada babak delapan besar, yang kembali bertanding pada Jumat (9/2). (adt) Hasil Babak Penyisihan Grup Z: Indonesia vs China 3-2 Indonesia vs Singapura 5-0
Yuk Intip Jejak Indonesia Di Ajang Asean Para Games
Asean Para Games merupakan ajang kompetisi olahraga bagi penyandang disabilitas di negara se-Asia Tenggara. Kompetisi ini diadakan setiap 2 tahun sekali di negara-negara Asia Tenggara. Tujuan diadakan Asean Para Games ini adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri para atlet disabilitas agar mendapatkan respons positif dari masyarakat terhadap atlet disabilitas yang sudah berjuang untuk nama bangsa. Ajang Asean Para Games pertama kali diadakan tahun 2001 di Kuala Lumpur, Malaysia. Asean Para Games dibawah naungan Asean Para Sport Federation (APSF) merupakan ajang persiapan untuk Paralimpiade. Indonesia menjadi salah satu dari 11 negara yang mengikuti Asean Para Games. Yuk kita simak bagaimana prestasi dan kontribusi Indonesia dalam Asean Para Games. Indonesia Menjadi Tuan Rumah Di Tahun 2011 Perlu diingat bahwa Indonesia sempat menjadi tuan rumah untuk ajang Asean Para Games tepatnya di Kota Solo, Jawa Tengah. Asean Para Games ke 6 ini dilaksanakan pada tanggal 15 hingga 20 Desember 2011. Sebanyak 11 cabang olahraga di pertandingkan di 11 tempat berbeda. Indonesia mengirimkan 235 atlet dari 870 atlet yang bertanding. Namun, Indonesia gagal menjadi juara umum dengan 113 medali emas, 108 medali perak dan 89 medali perunggu. Tahun 2011, menjadi tahun ke-11 bagi Thailand menjadi juara umum Asean Para Games. Indonesia mengusung slogan United & rising through sports for all atau yang memiliki arti Bersatu & bangkit melalui olahraga untuk semua. Logo yang digunakan dalam Asean Para Games 2011 adalah burung garuda yang merupakan lambang dari negara Indonesia. Maskot dalam Asean Para Games 2011 ini menggunakan hewan khas Indonesia, yaitu sepasang komodo yang diberi nama Modo dan Modi. Indonesia Sebagai Juara Umum Asean Para Games 7 Tahun 2014 Untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi juara umum kompetisi Asean Para Games setelah 11 tahun Thailand menjadi juara umum. Asean Para Games ke-7 ini diselenggarakan di Naypyidaw, Myanmar pada 14 sampai 20 Januari 2014. Indonesia berhasil mendapatkan 99 medali emas, 69 perak, dan 49 perunggu. Sebanyak 195 atlet Indonesia berpartisipasi pada kompetisi ini. 12 cabang olahraga diikuti Indonesia antara lain memanah, atletik, boccia, catur, sepakbola lima orang, sepakbola tujuh orang, goalball, angkat berat, renang, tenis meja, voli duduk dan basket dengan kursi roda. Asean Para Games 9 Tahun 2017 Setelah Asean Para Games 2015 yang diselenggarakan di Singapura, Indonesia kembali kalah dengan Thailand. Namun, Indonesia berhasil kembali menjadi juara umum di tahun 2017. Indonesia mengirimkan 196 atlet di Asean Para Games 2017 yang dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada 17 hingga 23 September lalu. Pada awalnya, Indonesia hanya menargetkan 109 medali. Namun, tak disangka Indonesia berhasil menyabet 251 medali. Bahkan, Indonesia berhasil memecahkan 36 rekor di 3 cabang olahraga yaitu Atletik, Renang dan Angkat Besi. 3 cabang olahraga yang menyumbangkan medali terbanyak adalah Atletik dengan 85 medali, Renang dengan 64 medali dan Catur dengan 28 medali. Beberapa atlet yang berhasil memecahkan rekor adalah Guntur atlet renang yang menempuh waktu 01:20.53 detik pada pertandingan renang 100 meter gaya dada, Suparni Yati dalam cabang olahraga Atletik tolak peluru dengan 11,03 meter dan Nur Jannah Kamsyah Kariem atlet angkat besi dengan nomor 41 kilogram. Di tahun 2019, Indonesia akan ikut bertanding Asean Para Games ke 10 yang diadakan di Filipina. Semoga Indonesia bisa mempertahankan juara umum dan kembali mengukir rekor dan prestasi.(put)
Penerus Keluarga Sugiarto di Bulutangkis Indonesia
Bagi para penggemar bulutangkis Indonesia, pastinya sudah tak asing dengan nama legenda hidup Icuk Sugiarto. Icuk merupakan atlet tunggal putra terbaik kepunyaan Indonesia di era 80-an. Berbagai prestasi mampu di dulangnya, untuk membawa nama harum Indonesia. Dikenal dengan staminanya yang kuat, membuat dirinya mampu memenangi Kejuaraan Dunia III di Denmark pada tahun 1983 melawan Liem Swie King. Pada tahun 1989, Icuk memutuskan pensiun sebagai atlet. Tetapi, generasi Sugiarto tak akan pernah sirna untuk membawa nama bulutangkis Indonesia berprestasi. Tommy Sugiarto dan Jauza Fadhilla Sugiarto, melanjutkan karir sang ayah sebagai pemain bulutangkis. Tommy Sugiarto – Tunggal Putra Indonesia Pria kelahiran 31 Mei 1988 ini merupakan, anak kedua dari legenda bulutangkis Indonesia. Di usiannya yang masih belia, Tommy sudah membawa klub Pelita Bakrie menjadi jawara di kejuaraan tingkat cabang PBSI Jakarta Barat. Bahkan di tahun 2008, Tommy masuk sebagai tunggal putra keempat tim Piala Thomas. Sering berjalannya waktu, Tommy mampu meraih gelar superseries pertamanya di tahun 2013 tepatnya di kejuaraan Singapura Open Superseries. Kini, prestasinya mulai sedikit meredup. Tommy masih kalah saing dengan juniornya seperti Jonatan Cristie yang menduduki peringkat 14 dunia dan Anthony Sinisuka Ginting peringkat 13 dunia. Sedangkan, Tommy hanya menduduki peringkat 25 dunia. Walaupun ia juga sempat menduduki peringkat tiga dunia pada tahun 2014. Jauza Fadhilla Sugiarto – Ganda Putri Indonesia Anak bungsu Icuk Sugiarto yakni, Jauza Fadilla Sugiarto sudah mulai menemukan prestasi bulutangkisnya di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) DKI Jakarta tahun 2017. Dimana, Jauza mendapat tiga medali emas dari kategori tunggal putri, ganda putri dan beregu. Jauza lebih memilih bermain di sektor ganda putri berpasangan dengan Ribka Sugiarto. Ada yang unik, Ribka Sugiarto yang menggunakan nama belakang Sugiarto, ternyata bukan anak dari Icuk Sugiarto. Kendati demikian, pasangan cantik ini mampu memenangi Malaysia Internasional Junior Open 2017. Jauza dan Ribka kini menduduki peringkat 217 dunia. Tentunya, bagi masyarakat Indonesia hanya bisa berdoa agar penerus Sugiarto di bulutangkis bisa menyamai pencapain sang ayah, Icuk Sugiarto.(pah/adt)
Inilah Lima Sosok Gelandang Sepakbola Terbaik Versi NYSN di Liga 1 Indonesia
Sosok gelandang sangatlah berpengaruh dalam membangun serangan dan juga memutus serangan dari lawan. Meski mempunyai tugas pengatur serangan dan pemutus serangan lawan, para pemain di posisi gelandang ini bisa membuat gol yang dapat membantu timnya meraih kemenangan. Jika di luar ada Paul Pogba, Luca Modric, Andres Iniesta, yang merupakan deretan para gelandang di Liga top dunia. Di Liga 1 Indonesia juga mempunyai gelandang terbaik. Berikut nysnmedia.com berikan 5 gelandang terbaik: Willem Jan Pluim – PSM Makasar Pluim datang ke PSM Makasar dengan predikat marquee player. Bergabung dengan PSM, sejak pagelaran Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu, Wiljan Pluim merupakan mantan pemain dari Roda JC dan Vitesse klub dari Belanda. Meski memiliki postur tubuh yang bagus, Pluim mempunyai visi permainan brilian, dan kualitas individu luar biasa. Statistiknya di Liga 1 pun tak bisa dianggap remeh. Gelandang berkembangsaan Belanda ini, dapat menjadi bukti bahwa ia benar-benar susah untuk diatasi. Di Liga 1 mencetak 12 gol dan 9 assist yang merupakan terbaik dibandingkan pemain PSM lainnya. Evan Dimas Darmono Nama Evan Dimas kian mencuat ketika menjadi kapten timnas Indonesia U-19 di ajang Piala AFF U-19, dimana Indonesia keluar sebagai juara. Dibawah pelatih Indra Sjafri, Evan terus menjadi gelandang andalan bagi timnas. Tepatnya, pada saat Qualifikasi Piala Asia U-19 menghadapi Korea Selatan. Evan mencetak hattrick dan menobatkan Indonesia juara grup sekaligus lolos ke Piala Asia. Evan yang bermain di Bhayangkara FC, tetap tak tergantikan perannya. Evan pun, mampu membawa Bhayangkara FC juara Liga 1 2017. Pria kelahiran, Surabaya 13 Maret 1995 ini sudah menjadi andalan timnas U-23 dan mampu menembus skuad timnas senior. Adapaun statistik Evan selama di Liga 1 sukses menyumbangkan 1 gol dan 5 assist dengan akurasi operan mencapai 88%. Kini, Evan akan mengarungi Liga Malaysia bersama Selangor FC dan akan ditemani rekannya Ilham Udin yang juga di kontrak oleh Selangor FC. Bayu Pradana Andriatmo Bayu Pradana Andriatmo merupakan pemain dari tim berjuluk Naga Mekes yakni Mitra Kukar. Bayu sapaan akrabnya, mempunyai ketenangan yang sangat bagus dalam memotong serangan lawan dan juga kekuatan yang sangat baik untuk berduel dengan lawan. Pemain kelahiran Salatiga, 19 April 1991 ini sudah menjadi langganan mengisi sektor tengah Timnas Indonesia sejak tahun 2016. Sang Kapten Mitra Kukar ini mempunyai catatan yang baik selama putaran Liga 1 2017 berlangsung yakni 27 kali bermain, menciptakan satu gol dan satu assist. Febri Haryadi Febri Haryadi adalah pemuda asli Bandung, ia adalah jebolan SSB Pro UNI Bandung. Pada saat memperkuat Persib U-21, tak butuh waktu lama bagi Febri untuk meyakinkan Djajang Nurjaman pelatih Persib Bandung kala itu, untuk masuk ke tim senior. Pada saat ajang Sea Games di Kuala Lumpur, Febri berhasil mencetak gol cantik melalui tembakan kerasnya dari luar kotak penalti. Meski bermain di posisi sayap, kecepatan Febri hampir mirip dengan Boaz pada saat muda. Kekuataan kaki kiri dan kaki kanan, membuat pemain lawan harus mencari cara untuk menutup pergerakannya. Selama penampilannya di Persib, Febri mencatatkan 21 kali bermain, mencetak empat gol dan empat assist. Fadil Sausu – Bali United FC Bali United tengah mempersiapkan diri mengikuti kualifikasi Liga Asia 2018. Bali United yang meraih runner-up di Liga 1, mempunyai statistik operan terbaik dibandingkan klub lain yakni 10.768 operan sukses. Ini tak lepas dari peran sang jendral lini tengah yakni Fadil Sausu yang berhasil mencatatkan 1.415 operan sukses diikuti duet tengahnya. Sedangkan nama M. Taufik berhasil mencatatkan 1.315 kali operan sukses. Pria kelahiran Palu 19 April, 1985 ini sangat dominan di lini tengah Bali. Tak hanya itu, tendangan bebas dari Fadil selalu membahayakan penjaga gawang dan juga umpan-umpannya yang sangat akurat. Di lihat dari statistik Liga 1, Fadil mencatatkan 32 kali main, mencetak tiga gol dan lima assist. Tentunya, catatan ini sangat baik di usia Fadil yang sudah berkepala tiga. (pah/adt)